Anda di halaman 1dari 10

JURNAL PEMETAAN GEOLOGI

GEOLOGI DAERAH MALENTENG KECAMATAN TOMBOLO PAO KABUPATEN


GOWA PROVINSI SULAWESI SELATAN

Maxy S Lapatau
Jurusan Teknik Geologi, Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan 10 Tamalanrea Makassar
email : maxy_sklgeo@yahoo.co.id

ABSTRAK
Secara administratif, daerah penelitian terletak termasuk dalam 3 kabupaten yang meliputi
Kabupaten Maros pada Kecamatan Camba, Kabupaten Bone pada daerah Kecamatan Bontocani dan
wilayah Dusun Malenteng Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan..
Secara astronomi terletak pada koordinat 119o5100 1195400 Bujur Timur dan 050400
050800 Lintang Selatan dengan luas daerah penelitian sekitar 41,07 km2. Maksud dari penelitian
ini adalah melakukan pemetaan geologi permukaan secara umum dengan menggunakan peta dasar
skala 1: 25.000. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memberikan gambaran
mengenai kondisi geologi yang meliputi geomorfologi, tatanan stratigrafi, struktur geologi, sejarah
geologi dan potensi bahan galian pada daerah penelitian yang menghasilkan peta geologi daerah
penelitian. Geomorfologi daerah penelitian terbagi menjadi tiga satuan yaitu Satuan Bentangalam
Perbukitan Aliran Lava, Satuan Bentangalam Perbukitan Piroklastik dan Satuan Bentangalam
Pegunungan Aliran Lava. Sungai yang berkembang pada daerah penelitian adalah jenis sungai
permanen dengan pola aliran subdendritik dan paralel serta tipe genetik sungai berupa konsekuen,
subsekuen dan insekuen. Berdasarkan aspek geomorfologi yang dijumpai pada daerah penelitian,
stadia daerah ini adalah Muda Menjelang Dewasa. Berdasarkan litostratigrafi tidak resmi, stratigrafi
daerah penelitian terbagi menjadi tiga (3) satuan. Urutan muda hingga ke tua yaitu satuan basal
amigdaloidal, satuan basal dan satuan tufa. Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian
antara lain lipatan homoklin, kekar sistematik dan tak sistematik dan Sesar Geser Salo Malenteng
yang bersifat mengiri (sinistral). Bahan galian yang terdapat pada daerah penelitian termasuk dalam
kelompok bahan galian batuan berupa basal.

ABSTRACT
Administratively, the research area located in 3 regency which are Maros regency Camba
district, Bone regency Bontocani district and Malenteng area Tombolo Pao district Gowa Regency
South Sulawesi Province. Astronomically, it located on 119o5100 1195400 East Longitude and
050400 059800 South Latitude with area 41,07 kilometers square. The research is objective
to make a detail surface geologic map basic from basemap with 1:25000 scale. The purpose of this
research to determine and give a description of the geological conditions that include
geomorphology, stratigraphy, structural geology, historical geology and mineral potential of the
research area that could produce a geological map. Geomorphology of the research area is divided
into three (3) units, they are lava flows hills morphology unit, pyroclastic hills unit and lava flows
mountains morphology unit. River type that developed of research area is permanent river with
subdendritic and pararel flow patterns and the river genetic types included a consequent, subsequent

Maxy S Lapatau @2014


and insequent. Based on geomorphological aspects, could be concluded the maturity level of this area
is Young to Adult. Based on unformal lithostratigraphic, stratigraphic of research area is divided into
three (3) units. The order of the young to the old, which are amigdaloidal basalt unit, basalt unit and
tuff unit. Geological structures that develop of research areas include homocline folds, systematic and
nonsystematic joint and sinistral strike slip fault of Salo Malenteng. Minerals potential of research
areas are included in the group of rocks such as basalt.

Provinsi Sulawesi Selatan. Secara astronomis


terletak
pada
koordinat
119o5100
1195400 Bujur Timur dan 050400

PENDAHULUAN
Penelitian geologi regional pada
berbagai daerah di Sulawesi Selatan
sebelumnya telah dilakukan untuk maksud dan
tujuan yang berbeda-beda yang kemudian
menghasilkan data-data geologi dan peta
geologi. Namun, hingga saat ini data-data
tersebut belum detail, sehingga sangatlah perlu
untuk terus menerus memperbaharui data-data
geologi yang telah ada sebelumnya seiring
dengan perubahan-perubahan yang terjadi.
Beberapa hal di atas merupakan faktor yang
menjadi latar belakang penulis untuk
melakukan penelitian geologi pada daerah
Malenteng
Kecamatan
Tombolo
Pao
Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan.
Hasil penelitian ini diharapkan mampu
digunakan aplikasi dalam penerapan ilmu
geologi dalam upaya pengembangan ilmu
pengetahuan terutama dalam bidang sumber
daya alam.
Maksud dari penelitian pada Daerah
Malenteng
Kecamatan
Tombolo
Pao
Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan
ini adalah melakukan pemetaan geologi
permukaan dengan skala 1: 25.000. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
dan memberikan gambaran mengenai kondisi
geologi yang meliputi aspek geomorfologi,
tatanan stratigrafi, struktur geologi, sejarah
geologi dan potensi bahan galian pada daerah
penelitian yang pada akhirnya dapat
menghasilkan peta geologi daerah penelitian.
Secara administratif daerah penelitian
termasuk dalam 3 kabupaten yang meliputi
Kabupaten Maros pada Kecamatan Camba,
Kabupaten Bone pada daerah Kecamatan
Bontocani dan wilayah Dusun Malenteng
Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa

050800 Lintang Selatan.


GEOMORFOLOGI
Penamaan satuan bentangalam daerah
penelitian didasarkan pada pendekatan
morfogenesa (Thornbury, 1969) dengan
memperhatikan bentuk topografi di lapangan.
Berdasarkan kedua pendekatan tersebut maka
daerah penelitian dapat dibagi menjadi tiga
satuan bentangalam yaitu Satuan Perbukitan
Aliran Lava, Satuan Perbukitan Piroklastik dan
Satuan Pegunungan Aliran Lava.
Satuan Bentangalam Perbukitan Aliran
Lava

Gambar1. Kenampakan Satuan bentangalam


perbukitan aliran lava.
Satuan bentangalam perbukitan
aliran lava menempati sekitar 19,89 % dari
seluruh daerah penelitian dengan luas 8,17
km2.
Arah
penyebaran
dari
satuan
bentangalam ini relatif dari Utara ke Selatan
meliputi Bulu Karopo dan Bulu Malenteng.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, satuan
bentangalam ini memiliki beda nilai
ketinggian yaitu 1050 1354 meter di atas
permukaan laut, yang disusun oleh batuan
berupa basal.
2

Geologi Daerah Malenteng Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan

Proses pelapukan yang bekerja pada


satuan bentangalam ini adalah proses
pelapukan fisika dan biologi dan tingkat
pelapukan yang terjadi pada satuan
bentangalam ini yaitu sedang tinggi.
Jenis erosi permukaan yang terjadi di
daerah penelitian berupa gully erosion (erosi
parit) dan tipe gerakan tanah (mass movement)
berupa debris fall.
Tutupan lahan relatif sedang tinggi
dengan vegetasi sedang lebat. Secara umum
tata guna lahan pada satuan ini terdiri dari
perkebunan.
Berdasarkan dari karakteristik yaitu
pengamatan langsung di lapangan dan analisis
data yang meliputi aspek-aspek geomorfologi
maka bentangalam ini dimasukkan kedalam
satuan bentangalam perbukitan aliran lava
dengan stadia muda menjelang dewasa.

Jenis erosi permukaan yang terjadi


pada satuan bentangalam ini yaitu rill erosion
(erosi alur) yang memiliki lebar 40 cm
dengan kedalaman < 10 cm. Adapun tipe
gerakan tanah (mass movement) yang terjadi
pada satuan bentangalam ini berupa debris
fall.
Tutupan lahan relatif rendah sedang
dengan vegetasi berupa alang-alang dan pohon
pinus. Secara umum tata guna lahan pada
satuan ini terdiri dari perkebunan, persawahan
dan pemukiman.
Berdasarkan dari karakteristik yaitu
pengamatan langsung di lapangan dan analisis
data yang meliputi aspek-aspek geomorfologi
maka bentangalam ini dimasukkan kedalam
satuan bentangalam perbukitan piroklastik
dengan stadia muda menjelang dewasa.

Perbukitan

Satuan Bentangalam Pegunungan Aliran


Lava

Gambar 2. Kenampakan Satuan bentangalam


Perbukitan Piroklastik.

Gambar 3. Kenampakan Satuan bentangalam


Pegunungan Aliran Lava.

Satuan
bentangalam
perbukitan
piroklastik menempati sekitar 25,56 % dari
seluruh daerah penelitian dengan luas 10,50
km2.
Arah
penyebaran
dari
satuan
bentangalam ini relatif dari timur ke barat
meliputi Bulu Lehelopu dan daerah dusun
Malenteng. Berdasarkan pengamatan di
lapangan, satuan bentangalam ini memiliki
beda nilai ketinggian yaitu 1150 1405 meter
di atas permukaan laut, yang disusun oleh
batuan berupa tufa.
Proses pelapukan yang bekerja pada
satuan bentangalam ini adalah proses
pelapukan fisika, kimia dan biologi dan tingkat
pelapukan yang terjadi pada satuan
bentangalam ini yaitu sedang tinggi.

Satuan bentangalam pegunungan


aliran lava menempati sekitar 54,55 % dari
seluruh daerah penelitian dengan luas 22,4
km2.
Arah
penyebaran
dari
satuan
bentangalam ini relatif dari selatan ke utara
meliputi Bulu Batumenteng, Bulu Diharelaju,
Bonto Rupulumuwe, Bonto Kajenorang dan
Bonto Langilagiri. Berdasarkan pengamatan di
lapangan, satuan bentangalam ini memiliki
beda nilai ketinggian yaitu 975 1622 meter
di atas permukaan laut, yang disusun oleh
batuan berupa basal amigdaloidal.
Proses pelapukan yang bekerja pada
satuan bentangalam ini adalah proses
pelapukan fisika, kimia dan biologi dan tingkat

Satuan
Bentangalam
Piroklastik

Maxy S Lapatau @2014


pelapukan yang terjadi pada satuan
bentangalam ini yaitu sedang tinggi.
Jenis erosi permukaan yang terjadi
pada satuan bentangalam ini yaitu rill erosion
berupa alur cekungan yang memiliki lebar
sekitar 30 cm dan kedalaman < 10 cm. Adapun
tipe gerakan tanah (mass movement) yang
terjadi pada satuan bentangalam ini berupa
debris slide.
Tutupan lahan relatif sedang tinggi
dengan vegetasi berupa rotan, pohon pinus dan
tumbuhan hutan lainnya. Secara umum tata
guna lahan pada satuan ini yaitu kawasan
hutan lindung.
Berdasarkan dari karakteristik yaitu
pengamatan langsung di lapangan dan analisis
data yang meliputi aspek-aspek geomorfologi
maka bentangalam ini dimasukkan kedalam
satuan bentangalam pegunungan aliran lava
dengan stadia muda menjelang dewasa.
.
Sungai

STRATIGRAFI
Pengelompokan dan penamaan satuan
batuan pada daerah penelitian didasarkan atas
litostratigrafi tidak resmi dan litodemik dengan
bersendikan pada ciri-ciri litologi, dominasi
batuan, keseragaman gejala litologi, dan
hubungan
stratigrafi,
sehingga
dapat
disebandingkan baik secara vertikal maupun
lateral dan dapat dipetakan dalam skala 1 :
25.000 (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996).
Berdasarkan pengamatan di lapangan
dan analisis petrografi, secara umum daerah
penelitian tersusun atas batuan vulkanik dan
batuan beku. Terdapat tiga satuan batuan yang
akan diuraikan secara berurutan mulai dari
yang termuda ke tertua.
Satuan tufa
Satuan tufa menempati sekitar 25,56%
dari luas keseluruhan daerah penelitian yaitu
dengan luas sekitar 10,50 km2 dan ketebalan
335 meter. Penyebaran satuan ini berada pada
bagian tengah daerah penelitian yang meliputi
dusun Malenteng dan Bulu Lehelopu.

Sungai yang mengalir pada daerah


penelitian dialiri oleh empat sungai utama
yakni Sungai Malenteng, Sungai Erelangnga,
Sungai Buataning dan Sungai Baholiang.
Terdapat beberapa anak sungai mengalir dan
berkembang pada lereng perbukitan yang
bermuara pada kedua sungai utama.
Berdasarkan kuantitas / volume air yang
mengalir pada tubuh sungai, maka sungai pada
daerah penelitian termasuk sungai permanen,
pola pengaliran berupa subdendritik dan
pararel. Tipe genetik sungai pada daerah
penelitian terbagi menjadi tiga jenis, yaitu
konsekuen, subsekuen.dan insekuen.

Gambar 4. Kenampakan lapangan satuan tufa.


Stadia Daerah Penelitian
Kenampakan lapangan (megaskopis)
dari tufa dalam keadaan segar berwarna abuabu kemerahan - kecokelatan dan dalam
keadaan lapuk berwarna coklat kehitaman,
tekstur piroklastik halus, ukuran butir pasir
halus pasir sedang, sifat kimia silikaan,
kemas tertutup, sortasi baik, dan struktur
berlapis. Adapun kenampakan mikroskopisnya

Berdasarkan
analisa
terhadap
dominasi
dari
persentase
penyebaran
karakteristik atau ciri-ciri bentukan alam yang
dijumpai dan proses proses yang terjadi,
maka stadia daerah penelitian yaitu stadia
muda menjelang dewasa.

Geologi Daerah Malenteng Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan

yang diamati pada conto sayatan dengan kode


sayatan MSL/TF/10, MSL/TF/26, MSL/TF/47
dan MSL/TF/52 memperlihatkan warna
absorbsi kecokelatan, warna interferensi abuabu kehitaman, tekstur piroklastik halus,
ukuran mineral antara < 0,02 1,1 mm,
tersusun atas mineral ortoklas (15 - 20%),
kristalit piroksin (10 - 15%), mineral opak (5 10%) dan gelas vulkanik (60 - 65%).
Sedangkan pada conto sayatan dengan kode
sayatan (MSL/TF/10 & MSL/TF/26) dan pada
sayatan dengan kode (MSL/TF/47 &
MSL/TF/52) tersusun atas mineral kristalit
piroksin (10-15%), mineral opak (5 - 10%) dan
gelas vulkanik (75 - 80%).

Kenampakan lapangan (megaskopis)


dari basal dalam keadaan segar berwarna
hitam dan dalam keadaan lapuk berwarna
coklat kehitaman, kristalinitas holohyalin,
granularitas afanitik, bentuk anhedral dengan
relasi inequigranular, struktur masif, disusun
oleh mineral piroksin, plagioklas, dan massa
dasar.

Gambar 6. Kenampakan lapangan satuan


basal.

Gambar 5. Fotomikrograf conto sayatan


batuan tufa (MSL/TF/47).
Lingkungan pengendapan satuan ini
yaitu pada lingkungan darat. Berdasarkan pada
ciri fisik litologi, letak geografis, posisi
stratigrafi, data-data lapangan, dekatnya
dengan lokasi tipe, satuan batuan ini dapat
disebandingkan dengan Batuan Gunungapi
Formasi Camba (Tmcv) yang berumur Miosen
Tengah sampai Miosen Akhir (Sukamto &
Supriatna 1982).

Gambar 7. Fotomikrograf conto sayatan


batuan basalt (MSL/BSL/05)
Adapun kenampakan mikroskopisnya
yang diamati pada conto sayatan dengan kode
sayatan
MSL/BSL/02,
MSL/BSL/05,
MSL/BSL/08
dan
MSL/BSL/49
memperlihatkan warna absorbsi coklat, warna
interferensi abu-abu kehitaman, tekstur
kristalinitas
hipokristalin,
granularitas
faneroporfiritik, bentuk subhedral - anhedral,
relasi inequigranular, struktur masif, tekstur
khusus porfiritik, ukuran mineral antara 0,02
0,5 mm, tersusun atas mineral labradorit (20 25%), piroksin (20 - 30%), mineral opak (5
%), massa dasar kristallit plagioklas (15 -

Satuan basal
Satuan basal beranggotakan basal.
Satuan ini menempati sekitar 19,89% dari luas
keseluruhan daerah penelitian atau sekitar 8,17
km2 dan tebal 304 meter. Satuan ini terletak
di bagian selatan daerah penelitian yang
meliputi Bulu Karopo dan Bulu Malenteng.

Maxy S Lapatau @2014


20%) dan kristallit piroksin (20 - 30%), serta
massa dasar gelas (5 - 10%).
Lingkungan pengendapan satuan ini
yaitu pada lingkungan darat. Berdasarkan pada
ciri fisik litologi, letak geografis, posisi
stratigrafi, data-data lapangan, dekatnya
dengan lokasi tipe, satuan batuan ini dapat
disebandingkan dengan Batuan Gunung api
Baturape Cindako (Tpbv) yang berumur
Pliosen Akhir (Sukamto & Supriatna 1982).

sayatan dengan kode sayatan MSL/AMIG/14,


MSL/AMIG/19,
MSL/AMIG/20
dan
MSL/BSL/41 memperlihatkan warna absorbsi
coklat, warna interferensi abu-abu kehitaman,
tekstur kristalinitas hipokristalin, granularitas
porfiroafanitik, bentuk subhedral - anhedral,
relasi inequigranular, struktur amigdaloidal,
tekstur khusus porfiritik, ukuran mineral antara
<0,02 1,4 mm, tersusun atas mineral
labradorit (10 - 15%), augit (10 - 15%), Zeolit
(20 - 30%), mineral opak (5 %), massa dasar
kristallit plagioklas (5 - 10%) dan kristallit
piroksin (10 - 15%), serta massa dasar gelas
(20 - 30%).

Satuan basal Amigdaloidal


Satuan
basal
amigdaloidal
beranggotakan basal amigdaloidal. Satuan ini
merupakan satuan dengan penyebaran paling
luas dengan menempati sekitar 54, 55% dari
luas keseluruhan daerah penelitian atau sekitar
22, 4 km2 dan tebal 697 meter. Satuan ini
terletak di bagian Utara daerah penelitian yang
meliputi Bulu Bualo, Bulu Batumenteng,
Bonto Kajenorang, Bulu Diharelaju, Bonto
Rupulumuwe dan Bonto Langilagiri.

Gambar 9. Fotomikrograf conto sayatan


batuan basal amigdaloidal (MSL/AMIG/20)
Lingkungan pengendapan satuan ini
yaitu pada lingkungan darat. Berdasarkan pada
ciri fisik litologi, letak geografis, posisi
stratigrafi, data-data lapangan, dekatnya
dengan lokasi tipe, satuan batuan ini dapat
disebandingkan dengan Batuan Gunung api
Baturape Cindako (Tpbv) yang berumur
Pliosen Akhir (Sukamto & Supriatna 1982).

Gambar 8. Kenampakan lapangan satuan basal


amigdaloidal.

STRUKTUR GEOLOGI
Kenampakan lapangan (megaskopis)
dari basal amigdaloidal dalam keadaan segar
berwarna hitam dan dalam keadaan lapuk
berwarna coklat kehitaman, kristalinitas
hipokristalin, granularitas porfiritik, bentuk
subhedral
euhedral
dengan
relasi
inequigranular, struktur amigdaloidal, disusun
oleh mineral piroksin, plagioklas, feldsfatoid
dan massa dasar gelas. Adapun kenampakan
mikroskopisnya yang diamati pada conto

Jenis
struktur
geologi
yang
berkembang pada daerah penelitian terdiri dari
struktur lipatan, kekar dan sesar.
Struktur lipatan
Pada daerah penelitian dihasilkan
pengukuran kedudukan yaitu pada batuan tufa
yang memperlihatkan kedudukan perlapisan
6

Geologi Daerah Malenteng Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan

batuan yang relatif hampir sama. Secara umum


pengukuran kedudukan batuan yaitu strike
antara
N 105E N 140E dengan besarnya
dip antara 11 18. Berdasarkan hasil
pengukuran
kedudukan
batuan
dan
pengamatan langsung dilapangan, maka dapat
diinterpretasi bahwa struktur lipatan yang
berkembang pada daerah penelitian yaitu
lipatan homoklin.

Gambar 11. Mekanisme pembentukan struktur


geologi daerah penelitian, membentuk Sesar
Geser Salo Malenteng yang relatif berarah
Barat Timur.

Struktur Kekar

SEJARAH GEOLOGI

Berdasarkan bentuknya kekar pada


daerah penelitian termasuk dalam kekar
sistematik dan kekar tidak sistematik.

Sejarah geologi daerah penelitian


dimulai pada Kala Miosen Tengah dimana
daerah penelitian merupakan lingkungan darat.
Terjadi aktivitas vulkanik berupa letusan
gunungapi
yang
bersifat
eksplosive
mengeluarkan material material halus berupa
debu vulkanik yang kemudian terendapkan
membentuk satuan tufa. Proses ini terus
berlanjut dan berakhir pada kala Miosen
Akhir. Selanjutnya setelah kala Miosen Akhir
terjadi proses proses erosi pada daerah
penelitian. Memasuki kala Pliosen Akhir
terjadi aktivitas vulkanik berupa letusan
gunungapi yang bersifat effusif mengeluarkan
lava. Proses deferensiasi magma menyebabkan
terjadinya
pemisahan
magma
karena
perbedaan komposisi silika. Lava dengan
kandungan silika lebih rendah kemudian
membentuk satuan basal, kemudian lava yang
memiliki kandungan silika relatif lebih tinggi
memiliki sifat magma yang relatif agak kental
menyebabkan terjadinya proses pelepasan gas
yang membentuk struktur lubang (scoria),
kemudian pada proses selanjutnya terisi oleh
mineral mineral sekunder yaitu mineral
zeolit. Lelehan lava ini kemudian membentuk
satuan basal amigdaloidal.
Memasuki Kala Post Pliosen, terjadi
aktivitas tektonik pada daerah penelitian yang
menyebabkan terjadinya deformasi batuan,
diawali dengan adanya tekanan pada batuan
meyebabkan terjadinya perubahan pada
kedudukan batuan membentuk lipatan
homoklin. Tekanan yang terus menerus
mengakibatkan batuan melewati batas
plastisitasnya mengakibatkan terjadinya kekar

Gambar 10. Kenampakan kekar sistematik dan


tak sitematik pada batuan basal.
Berdasarkan hasil analisa terhadap
data lapangan berupa data primer maupun data
sekunder serta analisis data kekar dan tektonik
regional maka sesar yang bekerja pada daerah
penelitian berupa sesar geser. Hasil analisa
kekar dengan tegasan utama yang berarah
Timur Laut Barat Daya, sehingga dapat
diketahui pergerakan sesar geser pada daerah
penelitian bersifat sinistral (mengiri) dimana
blok yang berada pada bagian Barat bergerak
ke arah Timur. Sedangkan blok yang berada
pada bagian Timur bergerak ke arah Barat.
Berdasarkan penjelasan di atas maka nama
sesar yang bekerja pada daerah penelitian
adalah Sesar Geser Salo Malenteng.

Maxy S Lapatau @2014


pada batuan. Adanya tekanan yang semakin
kuat pada batuan mengakibatkan rekahan
rekahan pada batuan mengalami pergeseran
membentuk sesar geser Salo Malenteng yang
bersifat sinistral.
Setelah terjadinya aktivitas tektonik
tersebut, daerah penelitian mengalami proses
proses geologi muda berupa proses erosi dan
sedimentasi membentuk morfologi yang
tampak pada daerah penelitian. Proses ini
masih terus berlangsung sampai sekarang.

kekar sistematik dan tak sistematik, Sesar


Geser Salo Malenteng yang bersifat sinistral
yang berarah Timur Laut Barat Daya.
Bahan galian yang terdapat pada
daerah penelitian termasuk dalam kelompok
bahan galian batuan berupa basal.
Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan
terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu sehingga penelitian ini dapat
berjalan dengan lancar hingga terselesaikannya
jurnal ini. Terkhusus kepada kedua Orangtua
dan Bapak Ir. Kaharuddin MS, MT sebagai
pembimbing pemetaan geologi.

INDIKASI BAHAN GALIAN


Berdasarkan Peraturan Pemerintah
No.23 Tahun 2010, bahan galian daerah
penelitian termasuk pertambangan mineral
golongan pertambangan batuan yaitu basal.
Berdasarkan pengamatan di lapangan,
basal sudah digunakan masyarakat sebagai
bahan pengerasan jalan.

ACUAN
Badan Standardisasi Nasional, 1998. SNI
Penyusunan Peta Geologi nomor 13
46911998. BSN, Jakarta.
Bakosurtanal, 1991. Peta Rupa Bumi Lembar
Malino nomor 201064. edisi I.
Cibinong, Bogor.
Billings, M. P., 1968. Structural Geology.
Second edition. Prentice of India
Private Limited, New Delhi.
Kerr, P.F., Ph.D., 1959. Optical Mineralogy.
Third Edition. McGraw-Hill Book
Company, New York, Toronto,
London.
Komisi Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996.
Sandi Stratigrafi Indonesia. Ikatan
Ahli Geologi Indonesia Bidang
Geologi dan Sumber Daya Mineral,
Bandung. Hal. 1-27.
Lobeck. A. K.,1939. Geomorphology, An
Introduction to the Study of
Landscape.
McGrawHill
Bool
company, Inc. New York and London.
McClay, K. R., 1987. The Mapping of
Geological Structures. University of
London, John Wiley & Sons Ltd,
Chichester, England.
Pettijohn, F. J., 1969. Sedimentary Rocks.
Second Edition. Oxford & IBH
Publisihing Co., New Delhi, Bombay,
Calcutta.

KESIMPULAN
1. Geomorfologi daerah penelitian terbagi
menjadi tiga satuan yaitu Satuan
Bentangalam Perbukitan Aliran Lava,
Satuan
Bentangalam
Perbukitan
Piroklastik dan Satuan Bentangalam
Pegunungan Aliran Lava. Sungai yang
berkembang pada daerah penelitian adalah
jenis sungai permanen dengan pola aliran
subdendritik dan pola aliran paralel serta
tipe genetik sungai berupa konsesekuen,
subsekuen dan insekuen. Berdasarkan
aspek geomorfologi yang dijumpai pada
daerah penelitian, stadia daerah ini adalah
Muda Menjelang Dewasa.
2. Stratigrafi daerah penelitian terbagi
menjadi tiga (3) satuan berdasarkan
litostratigrafi tidak resmi dan litodemik.
Urutan satuan batuan dari muda hingga ke
tua yaitu:
a. Satuan basal amigdaloidal
b. Satuan basal
c. Satuan tufa
3. Struktur geologi yang berkembang
pada
daerah penelitian antara lain lipatan homoklin,
8

Geologi Daerah Malenteng Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan

Ragan, D.M., 1973. Structural Geology : An


Introduction
to
Geometrical
Techniques. Second Edition. John
Wiley & Sons, Inc., New York.
Sukamto dan Supriatna., 1982. Geologi
Lembar Ujung Pandang, Benteng dan
Sinjai.
Pusat
Penelitian
dan
Pengembangan Geologi Direktorat
Jenderal
Pertambangan
Umum
Depatemen Pertambangan dan Energi,
Bandung.
Sukandarrumidi, 1999. Bahan Galian Industri.
Gajah Mada University Press,
Bulaksumur, Yogyakarta.
Thornburry, W. D., 1969. Principles of
Geomorphology, Second edition. John
Willey & Sons, Inc, New York, USA.
Travis, R. B., 1955. Classification Of Rocks.
Vol. 50, No. 1. Colorado School of
Minens, Goldon Colorado, USA, 1
12p.
van Zuidam, R. A., 1985. Aerial Photo
Interpretation in Terrain Analysis and
Geomorphologic Mapping. Smith
PublisherThe Hague, Enschede,
Netherlands.
Walker, J. D., and Geissman, J. W., 2009.
Geologic Time Scale. Geological
Society of America, America.
Williams,
Turner,
Gilbert.,1953.
An
Introduction to the Study of Rocks in
This
Sections.
University
of
California, Barkeley.

Maxy S Lapatau @2014

Gambar 12. Peta Lokasi Penelitian

10