Anda di halaman 1dari 50

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses belajar-mengajar saat ini sangatlah beragam. Baik dari segi
model, strategi, maupun metode yang digunakan oleh guru sebagai bentuk
inovasi agar siswa mudah memahami apa yang dijelaskan oleh guru.
Namun, dalam kenyataannya terkadang masih banyak model, strategi dan
metode yang digunakan tidak tepat dengan apa yang diharapkan oleh guru
yaitu pemahaman siswa mengenai materi. Umumnya, untuk mencapai
proses belajar mengajar yang efektif ada dua pokok yang perlu
diperhatikan dan dilaksanakan guru pada saat pengajaran berlangsung.
Pengolahan pelajaran dalam kelas bisa tercipta karena adanya inovasi dan
kreativitas dari guru. Guru bisa membuat perangkat yang sesuai dengan
materi yang akan disampaikan. Sedangkan pengelolahan kelas bisa
terbentuk karena adanya kontrol yang baik oleh guru dalam setiap kegiatan
belajar-mengajar.
Menurut Suprijono (dalam Budiawan) dunia pendidikan kita
ditandai oleh disparitas antara pencapaian academic standard dan
performance standard1. Faktanya banyak peserta didik menyajikan
tingkat hafalan yang baik terhadap materi ajar yang diterimanya, namun
1 Made Budiawan dan Ni Luh Kadek. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Jigsaw Dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Ilmu Fisiologi Olahraga. Jurnal
Pendidikan Indonesia Edisi 2. (April, 2013), 139.

pada kenyataannya mereka tidak memahaminya. Sebagian besar dari


peserta didik tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka
pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan atau
dimanfaatkan2.
Menurut Sanjaya (dalam Budiawan) pembelajaran seharusnya
menjadi aktivitas bermakna yakni pembebasan untuk mengaktualisasi
seluruh potensi kemanusiaan,bukan sebaliknya3. Lebih lanjut Sanjaya
(dalam Budiawan) mengatakan proses belajar merupakan proses
perubahan seseorang yang dapat dinilai hasilnya dari perubahan yang
dilakukan. Dalam proses belajar yang baik dibutuhkan suatu strategi
pembelajaran yang tepat sehingga proses belajar dapat dikatakan berhasil
dengan baik4.
Sejalan dengan Ausubel (dalam Andi) bahwa pembelajaran
bermakna terjadi dalam diri manusia melalu proses yang bermakna, yakni
dengan mempertalikan peristiwa atau hal baru dengan konsep kognitif atau
dalil-dalil yang sudah ada dalam benak seseorang5.
Menurut Rusaman, peranan guru meliputi: guru berperan sebagai
pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan belajar,

2 Ibid., 139.
3 Budiawan, Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dan Motivasi
Belajar Terhadap Prestasi Belajar Ilmu Fisiologi Olahraga. Jurnal Pendidikan Indonesia,
139.
4 Ibid; 139.
5 Andi Prastowo., Pengembangan Bahan Ajar Tematik, (Yogyakarta: Diva Press, 2013),
23.

perencana pembelajaran, supervior, motivator, dan juga sebagai evaluator6.


Dari peranan guru tersebut maka guru dituntut untuk mengembangkan
inovasi-inovasi yang dapat mengembangkan kegiatan belajar-mengajar
agar pembelajaran lebih bermakna. Jika kegiatan belajar-mengajar menjadi
menyenangkan, mudah dipahami siswa, siswa aktif dalam pembelajaran,
serta dapat meningkatkan prestasi maka perlu ada pembaharuan yang
nyata. Namun materi yang diajarkan memiliki cakupan materi yang sangat
luas, sehingga memungkinkan bagi siswa mengalami kesulitan dalam
memahami materi pembelajaran yang berdampak pada hasil belajar siswa,
seperti pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang cakupan materinya
sangat luas.
Ilmu Pengetahuan Sosial adalah salah satu mata pelajaran yang
diajarkan di sekolah, mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai
pendidikan menengah. Pemberian mata pelajaran tersebut dimaksudkan
untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan kemampuan praktis, agar
mereka dapat menelaah, mempelajari dan mengkaji fenomena-fenomena
serta masalah sosial yang ada di sekitar mereka7.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara penulis dengan guru
kelas V di SDN Magersari Sidoarjo menemukan beberapa permasalahan
antara lain adalah: (1) Siswa yang kurang mampu berbicara dan
mengungkapkan pendapat tidak mau bertanya apabila mereka belum
6 Rusman, Model-Model Pembelajaran, (Jakarta: PT. Raja Gravindo Persada, 2010), 58.
7 Syarifudin Nurdin, Model Pembelajaran Yang Memperhatikan Keragaman Individu
Siswa Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Ciputat: Quantum Teaching, 2005), 22.

mengerti tentang materi yang diajarkan, (2) Kurangnya perhatian dari


orang tua sehingga mengakibatkan motivasi belajar siswa sangat kurang,
(3) Kurangnya antusias dan kerjasama dari siswa yang kurang mampu
apabila dibentuk sebuah kelompok karena lebih mengandalkan siswa yang
lebih pandai, (4) Siswa cenderung mengandalkan penjelasan dari guru, hal
ini menyebabkab siswa tidak mau mencoba hal-hal baru seperti mengulas
dan mempelajari sendiri di rumah materi yang sudah diajarkan di dalam
kelas karena siswa malas untuk belajar sehingga guru harus menjelaskan
berulang-ulang agar siswa paham. Permasalahan-permasalahan tersebut
bukan hanya penulis yang menyimpulkan bahwa kelas V banyak
permasalahan, tetapi guru kelasnya juga mengeluh dengan permasalahan
yang sama. Sudah beberapa tindakan yang dilakukan oleh guru kelas V
untuk mengobati permasalahan yang muncul seperti: (1) Memanggil dan
memberikan

penjelasan

kepada

orang

tua

siswa

yang

kurang

memperhatikan anaknya sehingga mengakibatkan kurangnya hasil belajar


siswa agar orang tua lebih memperhatikan perkembangan belajar anak
untuk meningkatkan hasil belajar, (2) Memberikan les tambahan, (3)
Selalu mengulas pelajaran sebelum pulang agar siswa mengingat kembali
pelajaran yang sudah diajarkan. Tetapi usaha guru kelas V untuk
mengubah kelasnya menjadi lebih baik belum ada hasilnya.
Ketika menerapkan kurikulum 2013, guru semakin sulit untuk
menjelaskan kepada siswa terhadap tema-tema yang ada karena belum
terbiasa dengan kurikulum 2013 dan siswa juga kurang bisa memahami

tema-tema yang ada karena dianggap membingungkan. Tetapi pada saat ini
SDN Magersari Sidoarjo kembali menerapkan kurukulum KTSP sehingga
guru yang sudah terbiasa dengan kurikulum KTSP bisa dengan mudah
mengajar dan tidak kebingungan lagi, termasuk mengajarkan pelajaran
Ilmu Pengetahuan Sosial kepada siswa. Kesulitan untuk memahami dan
kurangnya hasil belajar siswa terlihat menonjol pada pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial karena pada pelajaran tersebut banyak baacaan yang
harus dibaca siswa untuk mengetahui dan memahami pelajaran dan
mengerjakan soal, banyak tanggal dan peristiwa penting yang harus siswa
ingat, dan metode yang digunakan adalah metode ceramah sehingga
banyak siswa yang tidak memperhatikan dan kurang paham dengan
pelajaran yang diajarkan.
Kesulitan yang dialami siswa pada pelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial yaitu pada BAB 9 tentang Perjuangan Mempertahankan
Kemerdekaan. BAB itu dianggap susah karena banyak materi tentang
perjuangan bangsa Indonesia ketika mempertahankan kemerdekaan
dengan banyaknya pertempuran-pertempuran yang terjadi. Siswa kesulitan
untuk mengingat siapa saja tokoh yang memimpin pertempuran, tanggal
dan tempat terjadinya pertempuran, dan hal yang menyebabkan
pertempuran itu terjadi sehingga siswa sering salah menyebutkan dan
mudah lupa untuk mengingatnya dengan benar karena sering tertukar
penyebutannya. Bukan hanya ada pertempuran yang dilakukan bangsa
Indonesia

untuk memperjuangkan kemerdekaan,

ada juga usaha

perdamaian dan agresi militer, dan menghargai jasa tokoh perjuangan


mempertahankan kemerdekaan. Sama halnya dengan pertempuran untuk
memperjuangkan kemerdekaan, usaha perdamaian dan agresi militer dan
menghargai jasa tokoh perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga
ditemukan permasalahan yang sama pada siswa.
Dari uraian di atas perlu diperhatikan bahwa dalam pembelajaran
Ilmu Pengetahuan Sosial sangat diperlukan model pembelajaran yang
sesuai dengan kondisi siswa agar siswa dapat berpikir kritis, logis, dan
inovatif. Salah satu model pembelajaran yang mendukung terlaksananya
aktivitas belajar siswa adalah model pembelajaran Talking Stick atau
tongkat

berbicara. Alasan

peneliti

memilih

menggunakan

model

pembelajaran Talking Stick adalah karena model pembelajaran ini


menyenangkan,

tidak

membuat

siswa

jenuh

dan

belajar

tidak

membosankan. Model ini dapat diterapkan untuk meningkatkan motivasi


belajar siswa yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar siswa.
Talking Stick merupakan model pembelajaran kelompok dengan
bantuan tongkat. Kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib
menjawab pertanyaan dari guru setelah mereka mempelajari materi
pokoknya. Kegiatan ini diulang terus-menerus sampai semua kelompok
mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru8. Model ini
bermanfaat karena mampu menguji kesiapan siswa, melatih keterampilan
siswa dalam membaca dan memahami materi pelajaran dengan cepat, dan
8 Miftahul Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-Isu Metodis dan
Paradigmatis (Yogyakarta: Pustaka Pelaja, 2013), 224

mengajak siswa untuk terus sisap dalam situasi apapun 9. Dengan


menerapkan Talking Stick, siswa diharapkan tidak hanya memperoleh hasil
belajar optimal, tetapi juga dampak pengiringnya siswa mampu menggali
kemampuannya dan mendapatkan motivasi belajar secara langsung agar
siswa giat belajar dan hasil belajarnya juga meningkat. Talking Stick juga
sangat bermanfaat untuk melatih keterampilan sosial siswa dengan
kelompoknya dan kelompok lain. Dengan dibentuknya kelompok secara
heterogen, siswa juga bisa saling berkomunikasi secara aktif untuk
bekerjasama dalam penyelesaian masalah dan menjawab soal yang
diberikan oleh guru melalui tongkat berbicara atau Talking Stick.
Berdasarkan

penelitan

terdahulu

yang

ditulis

oleh

Titis

Prihaningtiyas, Camdani dan Wahyudi dengan judul, Penerapan Model


Kooperatif Model Talking Stick Disertai Bahan Ajar Handout Dalam
Peningkatan Pembelajaran IPS Pada Siswa Kelas V SDN 2 Kajoran Tahun
Ajaran 2013/2014 menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa
dengan presentase siklus I yaitu 76,4%, pada siklus II yaitu 82,6%, dan
pada siklus III meningkat lagi menjadi 88,9%. Jadi, berdasarkan hasil
penilaian evaluasi siswa dapat disimpulkan bahwa siswa sudah memahami
pembelajaran IPS dengan baik. Data hasil observasi menunjuk-kan bahwa
terjadi peningkatan persentase pada semua variabel, baik dari penerapan

9 Ibid., 225

langkah model kooperatif metode Talking Stick disertai bahan ajar


Handout, penilaian proses, dan hasil belajar10.
Oleh karena itu, berdasarkan pengalaman dan kenyataan tersebut,
maka penulis tertarik untuk meneliti tentang kesulitan siswa pada BAB 9
tentang Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan, dengan judul
Penelitian Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick
Terhadap Hasil Belajar Kognitif Siswa Pada Pelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial Kelas V Di SDN Magersari Sidoarjo.
B. Rumusan Masalah
Dari uaraian di atas, permasalahan-permasalahan tersebut dapat
dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah ada pengaruh model pembelajaran Talking Stick terhadap hasil
belajar siswa Kognitif Siswa pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
kelas V di SDN Magersari Sidoarjo?
2. Seberapa besar pengaruh model pembelajaran Talking Stick terhadap
Hasil Belajar Kognitif Siswa pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
kelas V di SDN Magersari Sidoarjo.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Khusus
a. Untuk meningkatkan daya ingat siswa mengenai hal-hal yang
berhubungan Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan melalui
model pembelajaran Talking Stick

10 Titis Prihaningtiyas et. Al., Penerapan Model Kooperatif Model Talking Stick Disertai
Bahan Ajar Handout Dalam Peningkatan Pembelajaran IPS Pada Siswa Kelas V SDN 2
Kajoran Tahun Ajaran 2013/2014 (Januari, 2014), 4.

b. Untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang Perjuangan


Mempertahankan Kemerdekaan melalui model pembelajaran
Talking Stick
2. Tujuan Umum
a. Untuk membantu siswa meningkatkan motivasi belajar dengan
model

pembelajaran

yang

menyenangkan

melalui

model

pembelajaran Talking Stick.


b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendorong siswa untuk
meningkatkan hasil belajar yang positif tentang Perjuangan
Mempertahankan Kemerdekaan sehingga mencapai hasil yang
optimal.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Peneliti ingin mendapatkan pengalaman dalam menerapkan
model pembelajaran Talking Stick yang diterapkan pada BAB 9
tentang Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
2. Bagi Pembaca
Manfaat yang didapat oleh pembaca adalah bertambahnya
pengetahuan dan wawasan tentang tentang cara meningkatkan
kemampuan siswa dalam memahami dan memotivasi siswa untuk
meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, pembaca juga bisa model
apa yang efektif untuk BAB 9 tentang Perjuangan Mempertahankan
Kemerdekaan.
3. Bagi Institusi
Manfaat bagi institusi yakni dapat dijadikan sebagai bahan ajar
atau sumber ajar dan atau referensi untuk lebih persepektif dalam
meningkatkan pemahaman siswa terhadap model pembelajaran yang

10

sesuai

pada

BAB

tentang

Perjuangan

Mempertahankan

Kemerdekaan.

4. Bagi Siswa
Manfaat bagi siswa yakni dapat meningkatkan hasil belajar pada
BAB 9 tentang Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan ada
perubahan pada diri siswa dari segi kognitif.
E. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
Ruang lingkup dan batasan masalah penilitian ini adalah sebagai berikut :
1. Obyek penelitian pengembangan adalah model pembelajaran
Talking Stick dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada
BAB 9 : Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan di kelas V
SDN Magersari Sidoarjo.
2. Standart Kompetensi (SK) dalam penelitian adalah sebagai berikut :
2 Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam
mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
3. Kompetensi Dasar (KD) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
2.3Menghargai Jasa dan peranan tokoh dalam
memproklamasikan kemerdekaan
2.4 Menghargai perjuangan para tokoh dalam mempertahankan
kemerdekaan
4. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran
Talking Stick dengan menggunakan tongakat sebagai media belajar
untuk memahami materi dengan cepat.
5. Talking Stick atau tongkat berbicara yang dimaksud adalah
penugasan yang diberikan oleh guru untuk mengetahui hasil belajar
kognitif C1 (pengetahuan), C2 (pemahaman), dan C3 (penerapan)
siswa.
A. Hipotesis Penelitian

11

Berdasarkan kajian berbagai teori dan hasil penelitian, hipotesis


penelitian yaitu:
Ho : Tidak ada pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe Talking Stick terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan
Sosial kelas V di SDN Magersari Kecamatan Sidoarjo.
Ha : Ada pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
Talking Stick terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial
kelas V di SDN Magersari Kecamatan Sidoarjo
B. Definisi Operasional
Agar tidak menimbulkan adanya salah pengertian atau perbedaan
penafsiran dari pembaca mengenai maksud dari proposal ini, maka perlu
dijelakan secara terperinci istilah yang ada dalam judul proposal ini, antara
lain :
1. Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat
digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka
panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing
pembelajaran di kelas atau yang lain11.
2. Talking Stick model pembelajaran kelompok dengan bantuan tongkat
sebagai media belajar12.

11 Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru


(Depok: Rajagrafindo Persada, 2012),132
12 Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran, 224.

12

3. Hasil belajar adalah merupakan akibat dari suatu proses belajar, hasil
belajar siswa yang optimum bergantung pada proses belajar siswa dan
proses mengajar guru13.
4. Ilmu Pengetahuan Sosial adalah merupakan studi yang mengkaji dan
menelaah

gejala-gejala

serta

masalah-masalah

sosial

yang

berhubungan dengan perkembangan dan struktur kehidupan manusia.


Studi sosial juga lebih menekankan pada pendidikan kewarganegaraan
yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, keahlian, nilainilai serta partisipasi sosial14.
C. Sistematika Pembahasan
Sistematika dalam penelitian ini terdiri dari tiga bab, yakni sebagai
berikut :
1. BAB I PENDAHULUAN, terdiri dari: latar belakang, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup dan
keterbatasan penelitian, hipotesis penelitian, definisi operasional, dan
sistematika pembahasan.
2. BAB II KAJIAN TEORI, terdiri dari: deskripsi dari obyek yang diteliti,
meliputi: model pembelajaran, model pembelajaran kooperatif, model
Talking Stick, pengertian hasil belajar, hakikat pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial.

13 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: Rosdakarya.


2011), 65.
14 Nurdin, Model Pembelajaran Yang Memperhatikan Keragaman Individu Siswa
Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, 19.

13

3. BAB III METODE PENELITIAN, terdiri dari: rancangan penelitian,


populasi dan teknik sampling, sumber dan jenis data, instrument
penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data
4. BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA, terdiri dari: penyajian
data dan analisis data.
5. BAB V PENUTUP, terdiri dari: simpulan dan saran.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

14

A.

Hakekat Belajar dan Pembelajaran


Menurut Asep Jihad dan Abdul Haris belajar adalah kegiatan
berproses dan merupakan unsur yang fundamental dalam penyelenggaraan
jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti keberhasilan pencapaian tujuan
pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di
sekolah dan lingkungan sekitarnya 15. Dalam hal ini belajar dapat diartikan
suatu kegiatan yang berproses, keberhasilan bergantung proses belajar
siswa dan lingkungan sekitar.
Belajar diharapkan terjadi perubahan pada individu yang belajar.
Perubahan itu tidak hanya pada pengetahuan saja akan tetapi dalam
kecepatan, penguasaan diri, sikap, kebiasaan, dan ketrampilan yang didapat
dari hasil proses belajar yang diberikan. Guru diharapkan selalu ingat
bahwa tugasnya adalah membuat siswa dapat belajar untuk mencapai hasil
yang optimum.
Menurut Darsono (dalam Ismawati dan Hindarto) pembelajaran
adalah kegiatan yang secara sadar dan sengaja dilakukan guru, sehingga
tingkah laku siswa yang meliputi aktivitas dan pola pikir siswa berubah ke
arah yang lebih baik, proses ini bertujuan untuk membantu siswa
dalam memperoleh berbagai pengalaman dan dari pengalaman tersebut
kualitas tingkah laku siswa akan meningkat16.

15 Asep Jihad dan Abdul Haris. Evaluasi Pembelajaran. (Jakarta: Multi Presindo, 2013),
1.
16 Ismawati Dan Hindarto, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Dengan
Pendekatan Struktural Two Stay Two Stray Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas
X SMA, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia. Edisi 7 (Januari, 2011), 39.

15

Berdasarkan dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat


disimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha sadar guru untuk
membantu siswa atau anak didik, agar mereka dapat belajar sesuai dengan
kebutuhan dan minatnya.
B.

Model Pembelajaran
Menurut Joyce (dalam Trianto) model pembelajaran adalah suatu
perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan
untuk

menentukan

perangkat-perangkat

pembelajaran

termasuk

di

dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain17.


Menurut Winataputra (dalam Sri Astutik) menyatakan bahwa
model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan
prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar
untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman
bagi

para

perancang

pembelajaran

dan

para

pengajar

dalam

merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar18.


Dari semua pendapat tersebut dapat dipahami bahwa pengertian dari
model pembelajaran adalah sebuah perencanaan sistematis sebagai
pedoman dalam pembelajaran.
Menurut Trianto model pembelajaran memiliki ciri-ciri khusus,
yaitu: 1) Istilah model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model
pembelajaran yang luas dan menyeluruh. 2) Model-model pembelajaran
17 Trianto. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. (Jakarta:
Kakilangit Kencana, 2011), 5.
1812 Sri Astutik. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Model Siklus Belajar (Learning
Cycle 5e) Berbasis Eksperimen Pada Pembelajaran Sains Di Sdn Patrang I Jember, Jurnal Ilmu
Pendidikan Sekolah Dasar, Edisi 1 (September, 2012), 145.

16

dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks (pola


urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. 3) Sintaks (pola urutan) dari
suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur
tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian
kegiatan pemelajaran. 4) Tiap-tiap model pembelajaran membutuhkan
sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda19.
Menurut Arends (dalam Trianto) bahwa tidak ada satu model
pembelajaran yang paling baik diantara yang lainnya, karena masingmasing model pembelajaran dapat dirasakan baik, apabila telah
diujicobakan untuk mengajarkan materi pelajaran tertentu20.
C.

Model Pembelajaran Kooperatif


Model pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas
meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang yang
lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru 21. Secara umum
pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru
menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahanbahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik
membantu menyelesaikan masalah yang diberikan guru. Guru biasanya
menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugaas22.

19 Trianto. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. 6-8.


20 Ibid; 9.
21 Agus Suprijono, Cooperatif Learning, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), 45
22 Ibid

17

Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran


dimana peserta didik belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang
memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas
kelompok, setiap anggota saling kerja sama dan membantu untuk
memahami suatu bahan pembelajaran23.
Mengenai definisi model pembelajaran kooperatif di atas, maka
model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran
yang dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi
akademik,

toleransi,

menerima

keragaman,

dan

pengembangan

keterampilan sosial. Untuk mencapai hasil belajar tersebut, model


pembelajaran kooperatif menuntut kerja sama dan interdependensi peserta
didik dalam struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur reward.
Pembelajaran kooperatif memiliki karakteristik diantaranya adalah: (a)
pembelajaran secara tim, (b) didasarkan pada menejemen kooperatif, (c)
kemauan untuk bekerja sama, (d) keterampilan bekerja sama24.
D.

Pengertian Talking Stick


Carol Locust ( 2006; dalam Christian Hogan, 2007: 209) pernah
berkata:
The talking stick has been used for centuries by many Indian tribes
as a means of just and impartial hearing. The talking stick was commonly
used in council circles to decide who had the right to speak. When matters
of great concern would come before the council, the leading elder would
come before the council, the leading elder would finish what he had to say,
he would hold out the talking stick, and whoever would speak ofter him

23 Amri dan Iif Khoiru Ahmadi, Proses Pembelajaran Inovatif dan Kreatif dalam Kelas,
(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2010), 67.
24 Rusman, Model-Model Pembelajaran, 204.

18

would take it. In this manner, the stick would be passed from one
individual to another until all who wanted to speak had done so. The stick
was then passed back to the elder for safe keeping.
Jadi, pada mulanya, Talking Stick (tongkat berbicara) adalah
metode yang digunakan oleh penduduk asli amerika untuk mengajak
semua orang berbicara atau menyampaikan pendapat dalam satu forum
(pertemuan antar suku), kini metode itu sudah digunakan sebagai model
pembelajaran

ruang kelas. Sebagaimana namanya,

Talking Stick

merupakan model pembelajaran kelompok dengan bantuan tongkat.


Kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab
pertanyaan dari guru setelah mereka mempelajari materi pokoknya.
Kegiatan ini diulang terus-menerus sampai semua kelompok mendapat
giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru25.
Dalam penerapan model talking stick ini, guru membagi kelas
menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa yang
heterogen. Kelompok dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban,
kecerdasan, persahabatan, atau minat yang berbeda. Model ini cocok
digunakan untuk semua kelas dan semua tingkatan umur26.
E.

Prosedur atau Langkah-Langkah Talking Stick


Adapun sintak model Talking Stick adalah sebagai berikut: (1) guru
menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya kurang lebih 20 cm, (2) guru
menyampaikan materi pokok yang dipelajari, kemudian memberikan
kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi

25 Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran, 224.


26 Ibid., 224-225

19

pelajaran, (3) siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat dalam


wacana, (4) setelah siswa selesai membaca materi pelajaran dan
mempelajari isinya, guru mempersilahkan siswa untuk menutup isi bacaan,
(5) guru mengambil tongkat dan memberikannya kepada salah satu siswa,
setelah itu guru member pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat
tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar
siswa mendapat pertanyaan dari guru, (6) guru memberikan kesimpulan,
(7) guru melakukan evaluasi/ penilaian, (8) guru menutup pelajaran27.
Model ini bermanfaat karena ia mampu menguji kesiapan siswa,
melatih keterampilan mereka dalam membaca, dan memahami materi
pelajaran dengan cepat, dan mengajak mereka untuk terus siap dalam
situasi apapun. Sayangnya, bagi siswa-siswa yang secara emosional belum
terlatih untuk bisa berbicara di hadapan guru, model ini mungkin kurang
sesuai28.
F.

Kelebihan Model Pembelajaran Talking Stick


Setiap model pembelajaran tidak ada yang sempurna, karena
masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihannya tersendiri. Oleh
karena itu, peran pendidik penting dalam menyesuaikan model mana yang
sesuai untuk diterapkan dalam menyampaikan materi tertentu. Adapun
kelebihan dari model pembelajaran Talking Stick diantaranya adalah: (1)
menguji kesiapan siswa, (2) Melatih siswa memahami materi dengan
cepat, (3) Agar siswa lebih giat belajar (belajar dahulu sebelum pelajaran

27 Ibid., 225
28 Ibid., 225-226

20

di mulai), (4) Mengajarkan mengeluarkan pendapat sendiri, (5) Agar siswa


berpikir sendiri apa jawaban dari pertanyaan tersebut, (6) mengasah
pengetahuan dan pengalaman siswa29.

G.

Kelemahan Model Pembelajaran Talking Stick


Setiap kelebihan tentunya pasti ada kelemahan yang tidak akan
pernah terlepas dari apapun. Adapun kelemahan dari model pembelajaran
Talking Stick ini adalah: (1) Mmembuat siswa tegang karena takut
menjawab pertanyaan yang harus dijawab, (2) Membuat siswa ragu-ragu
dan gugup, (3) Jika siswa tidak memahami pelajaran tidak akan bisa
menjawab pertanyaan30.

H.

Hakekat Hasil Belajar


1. Pengertian Hasil Belajar
Abdurrahman (dalam Asep Jihad) Hasil belajar adalah kemampuan
yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar31. Catharina (dalam
Ismawati dan Hindarto) menjelaskan bahwa hasil belajar merupakan
perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami
aktivitas belajar32. Hasil belajar diperoleh dari hasil tes. Tes hasil belajar

29 Ni Putu Lisdayanti et. al, Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Talking Stick
Berbantuan Media Gambar Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SD Gugus 4 Baturiti, eJournal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD. Vol: 2 No: 1 Tahun
2014, (Januari, 2014), 4.

30 Ibid.
31 Asep Jihad dan Abdul Haris. Evaluasi Pembelajaran. (Jakarta: Multi Presindo, 2013),
14.
32 Ismawati Dan Hindarto, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Dengan
Pendekatan Struktural Two Stay Two Stray Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas

21

merupakan proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui kegiatan


penilaian dan atau mengetahui tingkat keberhasilan siswa, setelah
mengikuti suatu kegiatan pembelajaran. Tingkat keberhasil tersebut
kemudian ditandai dengan nilai berupa huruf atau kata atau symbol.
Menurut Dimyati dan Mudjiono hasil dari kegiatan evaluasi hasil
belajar pada akhirnya akan difungsikan dan ditujukan untuk keperluan
berikut: 1) Untuk diagnosis, 2) untuk kenaikan kelas, 3) untuk seleksi, dan
4) untuk penempatan33.
Menurut Lindrigen hasil pembelajaran meliputi kecakapan,
informasi, pengertian, dan sikap yang harus diingat, hasil belajar adalah
perubah perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek
kemanusiaan saja34.
Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada
objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Penilaian hasil belajar
adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai
siswa dengan kriteria tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang
dinilai adalah hasil belajar peserta didik. Hasil belajar peserta didik pada
hakekatnya adalah perubahan pada perilaku yang mencakup bidang
kognitif, afektif, dan psikomotor. Oleh sebab itu, dalam penilaian hasil
belajar peranan tujuan instruksional yang berisikan rumusan kemampuan

X Sma, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia. Edisi 7 (Januari, 2011), 39.


33 Dimyati dan Mudjiono. Belajar dan Pembelajaran. (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), 200.
34 Suprijono, Cooperatif Learning, 7.

22

dan tingkah laku yang diinginkan dikuasai peserta didik menjadi unsure
penting sebagai dasar dan acuan penelitian35.
Penilaian hasil belajar juga dipengaruhi dengan proses belajar,
proses belajar merupakan upaya memberikan nilai-nilai terhadap kegiatan
belajar mengajar yang dilakukan oleh peserta didik dan guru dalam
mencapai tujuan-tujuan pengajaran36.
2. Sasaran Tes Hasil Belajar
Menurut Dimyati evaluasi hasil belajar memiliki sasaran berupa
ranah yang terkandung dalam tujuan37. Benjamin Bloom (dalam Asep
Jihad) Ranah tujuan pendidikan berdasarkan hasil belajar siswa secara
umum dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yakni; ranah kognitif, ranah
afektif, dan ranah psikomotorik38. Tujuan ranah pendidikan tersebut
merupakan hal yang penting diketahui oleh guru sebelum melaksanakan
evaluasi.
Bloom

(dalam

Arikunto)

mengemukakan

taksonomi

atau

penggolongan tujuan ranah kognitif terdapat 6 (enam) tingkat yakni:


a. Pengetahuan (C1), merupakan tingkat terendah tujuan ranah kognitif
berupa penegtahuan dan pengingatan kembali terhadap pengetahuan
tentang fakta, istilah, dan prinsip.

35 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1989), 3
36 Ibid.
37 Ibid; 201.
38 Jihad, Evaluasi Pembelajaran. 14.

23

b. Pemahaman (C2), berupa kemampuan memahami atau mengerti


tentang isi pelajaran tanpa perlu menghubungkannya dengan isi
pelajaran lainnya.
c. Penggunaan atau

penerapan

(3),

merupakan

kemampuan

menggunakan generalisasi atau abstraksi lainnya yang sesuai dalam


situasi konkrit dan atau situasi baru.
d. Analisis (C4), merupakan kemampuan menjabarkan isi pelajaran
kebagian

yang

menjadi

unsur

pokok, siswa diminta

untuk

menganalisis hubungan atau situasi yang kompleks atau konsepkonsep dasar.


e. Sintesa (C5), merupakan kemampuan menggabungkan unsur-unsur
pokok kedalam struktur yang baru. Siswa diminta untuk melakukan
generalisasi.
f. Evaluasi (C6) Merupakan kemapuan menilai isi pelajaran untuk suatu
maksud atau tujuan tertentu. Siswa diminta untuk menerapkan
pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki untuk menilai suatu
kasus39.
Bloom (dalam Arikunto) juga menjelaskan mengenai kognitif, yaitu:
a. Pandangan atau pendapat
Apabila guru mau mengukur aspek afektif yang berhubungan dengan
pandangan siswa maka pertanyaan yang disusun menghendaki
respons yang melibatkan ekspresi, perasaan atau pendapat pribadi
siswa terhadap hal-hal yang relatif sederhana tetapi bukan fakta.
b. Sikap atau nilai

39 Arikunto. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan edisi 2, 131-133.

24

Siswa ditanya mengenai responnya yang melibatkan sikap atau nilai


telah mendalam disanubarinya, dan guru meminta dia untuk
mempertahankan pendapatnya40.
c. Ranah psikomotor berhubungan erat dengan kerja otot sehingga
geraknya tubuh atau bagian-bagiannya41 Lebih lanjut menurut
Arikunto penentuan kriteria untuk mengukur keterampilan terhadap
ranah psikomotorik, harus dalam jangka waktu 30 menit. Kurang
dari itu diperkirakan penilai belum dapat menangkap gambaran
tentang pola keterampilan yang mencerminkan kemampuan siswa42.
I.

Hakikat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)


1. Pengertian Pembelajaran IPS
IPS merupakan studi sosial konsep-konsepnya merupakan konsep
pilihan

dari

berbagai

ilmu

lalu

dipadukan

dan

diolah

secara

diktatispedagogis sesuai dengan perkembangan siswa43. IPS adalah satu


mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, mulai dari jenjang pendidikan
dasar sampai pendidikan menengah, pemberian mata pelajaran IPS
dimaksudkan untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan dan
kemampuan praktis, agar mereka dapat menelaah, mempelajari, dan

40 Ibid; 134-135.
41 Ibid; 135.
42 Ibid; 136.
43 Rudy Gunawan, Pendidikan IPS, (Bandung: Alfabeta, 2011), 17.

25

mengkaji fenomena-fenomena serta masalah sosial yang ada di sekitar


mereka44.
2. Tujuan Pembelajaran IPS
Menurut Somantri, tujuan pendidikan IPS diantaranya untuk
membantu tumbuhnya berpikir ilmuan sosial dan memahami konsep
konsepnya, serta membantu tumbuhnya warga Negara yang baik, dan
tujuan pendidikan IPS bervariasi mulai dari menekankan pada: (a)
pendidikan kewarganegaraan, (b) pemahaman dan penguasaan konsepkonsep ilmu-ilmu sosial, (c) bahan dan masalah yang terjadi dalam
masyarakat dikembangkan secara reflektif45.
Mata pelajaran IPS yang diberikan kepada peserta didik sekolah
dasar memiliki tujuan seperti yang dicantumkan dalam Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar yaitu: (1) mengenal konsep-konsep
yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya, (2)
memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu,
inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial,
(3) memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan
kemanusiaan, (4) memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, dan
berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal, nasional,
dan global46.
44 Nurdin, Model Pembelajaran Yang Memperhatikan Keragaman Individu Siswa
Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, 22.
45 Gunawan, Pendidikan IPS, 21
46 Standar Kompetensi Dan Kompetensi Dasar

26

3.

Materi Pembelajaran IPS


Dalam penelitian ini, pemateri memfokuskan materi, standar

kompetensi, dan kompetensi dasar pada mata pelajaran IPS sebagai


berikut:
a. Standar Kompetensi:
2. Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam
mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
a. Kompetensi Dasar:
2.3Menghargai
Jasa

dan

peranan

tokoh

dalam

memproklamasikan kemerdekaan
2.4 Menghargai perjuangan para tokoh dalam mempertahankan
kemerdekaan
1) Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
a. Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya
Tentara Sekutu mendarat untuk pertama kali di Surabaya pada
tanggal 25 Oktober 1945. Komandan pasukan Sekutu yang mendarat
di Surabaya adalah Brigjen A.W.S Mallaby. Tentara Sekutu bertugas
melucuti tentara Jepang dan membebaskan interniran (tawanan
perang). Awalnya, pemerintah dan rakyat Indonesia menyambut
kedatangan tentara Sekutu tersebut dengan tangan terbuka. Namun,
Sekutu mengabaikan uluran tangan tersebut. Pada tanggal 27 Oktober
1945,

Sekutu

menyerbu

penjara

Kalisosok.

Mereka

berhasil

membebaskan Kolonel Huiyer. Kolonel Huiyer ialah seorang perwira


angkatan laut Belanda yang ditawan Jepang. Pada tanggal 28 Oktober
1945, pos-pos Sekutu di seluruh kota Surabaya diserang oleh rakyat
Indonesia. Dalam berbagai serangan itu, pasukan Sekutu terjepit. Pada
tanggal 29 Oktober 1945, para pemuda dapat menguasai tempat-

27

tempat yang telah dikuasai Sekutu. Komandan Sekutu menghubungi


Presiden Sukarno untuk menyelamatkan pasukan Inggris dari bahaya
kehancuran. Presiden Sukarno bersama Moh. Hatta, Amir Syarifudin,
dan Jenderal D.C. Hawthorn tiba di Surabaya untuk menenangkan
keadaan.
Akhirnya, pada tanggal 30 Oktober 1945 dicapai kesepakatan
untuk menghentikan tembak-menembak. Namun, pada sore harinya
terjadi pertempuran di gedung Bank International, tepatnya di
Jembatan Merah. Dalam peristiwa itu, Brigjen Mallaby tewas.
Menanggapi peristiwa ini, pada tanggal 9 November 1945, pimpinan
Sekutu di Surabaya mengeluarkan ultimatum. Isi ultimatum itu adalah:
Semua pemimpin dan orang-orang Indonesia yang bersenjata harus
melapor dan meletakkan senjatanya di tempat-tempat yang telah
ditentukan, kemudian menyerahkan diri dengan mengangkat tangan.
Batas waktu ultimatum tersebut adalah pukul 06.00 tanggal 10
November 1945. Jika sampai batas waktunya tidak menyerahkan
senjata, maka Surabaya akan diserang dari darat, laut, dan udara.
Batas waktu itu tidak diindahkan rakyat Surabaya.
Oleh karena itu, pecahlah pertempuran Surabaya pada tanggal 10
November 1945. Tentara Sekutu berjumlah kira-kira 10 sampai 15 ribu
orang. Mereka terdiri dari pasukan darat, laut, dan udara. Pasukan
Sekutu ini merupakan gabungan dari tentara Gurkha, Inggris, dan
Belanda. Dalam pertempuran yang berjalan sampai awal bulan
Desember 1945 itu telah gugur beribu-ribu pejuang. Perjuangan rakyat

28

Surabaya ini mencerminkan tekad perjuangan seluruh rakyat


Indonesia. Untuk memperingati kepahlawanan rakyat Surabaya itu,
pemerintah menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan.
b. Pertempuaran Ambarawa
Pertempuran Ambarawa diawali diawali oleh mendaratnya
tentara Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Bethel di
Semarang. Tentara Sekutu mendarat di Semarang pada tanggal 20
Oktober 1945. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk mengurus
tawanan perang dan tentara Jepang di Jawa Tengah. Kedatangan
Sekutu semula disambut baik oleh rakyat Semarang. Bahkan,
Gubernur Jawa Tengah menawarkan bantuan bahan makanan dan
keperluan-keperluan lainnya. Pihak Sekutu pun berjanji untuk tidak
mengganggu kedaulatan Republik Indonesia.
Bentrokan bersenjata mulai timbul di Magelang. Bentrokan itu
mulai meluas menjadi pertempuran antara pasukan Sekutu dengan
pejuang Indonesia. Penyebabnya adalah tentara Sekutu diboncengi
NICA. NICA adalah singkatan dari Netherlands Indies Civil
Administration, yaitu pemerintahan peralihan Belanda. NICA hendak
membebaskan tawanan perang Belanda di Magelang dan Ambarawa.
Setelah diadakan perundingan antara Presiden Sukarno dengan
Brigadir Jenderal Bethel, tentara Sekutu kemudian meninggalkan
Magelang menuju Ambarawa pada tanggal 21 November 1945. Para
pejuang Indonesia yang dipimpin Letnan Kolonel M. Sarbini mengejar
pasukan Sekutu yang mundur ke Ambarawa. Di desa Jambu, pasukan

29

Sekutu dihadang pejuang Angkatan Muda yang dipimpin oleh


Sastrodiharjo. Di desa Ngipik, pasukan Sekutu diserang pejuang
Indonesia yang dipimpin oleh Suryosumpeno. Pada saat mundur,
pasukan Sekutu mencoba menduduki dua desa di sekitar Ambarawa.
Dalam pertempuran untuk membebaskan kedua desa tersebut, Letnan
Kolonel Isdiman gugur. Letnan Kolonel Isdiman adalah Komandan
Resimen Banyumas.
Dengan gugurnya Letnan Kolonel Isdiman, Kolonel Sudirman
turun langsung ke medan pertempuran Ambarawa. Kolonel Sudirman
adalah Panglima Divisi Banyumas. Kehadiran Kolonel Sudirman
member semangat baru bagi pejuang Indonesia. Pasukan Indonesia
mengepung kota Ambarawa dari berbagai jurusan. Siasat yang dipakai
adalah mengadakan serangan serentak dari berbagai jurusan pada saat
yang sama. Pasukan Indonesia mendapat bantuan dari Yogyakarta,
Surakarta, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang, dan lain-lain.
Pada tanggal 12 Desember 1945 pasukan Indonesia melancarkan
serangan serentak ke Ambarawa. Pada tanggal 15 Desember 1945
pasukan Sekutu berhasil dipukul mundur ke Semarang. Dalam
pertempuran di Ambarawa ini banyak pejuang yang gugur.

c. Pertempuran Medan Area

Pasukan Inggris di bawah pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D.


Kelly mulai mendarat di Medan (Sumatera Utara) pada tanggal 9
Oktober 1945. Tentara NICA yang telah dipersiapkan untuk

30

mengambil alih pemerintahan ikut membonceng pasukan Inggris itu.


Mereka menduduki beberapa hotel di Medan. Pasukan Inggris bertugas
untuk membebaskan tentara Belanda yang ditawan Jepang. Para
tawanan dari daerah Rantau Prapat, Pematang Siantar, dan Brastagi
dikirim ke Medan atas persetujuan Gubernur Moh. Hasan. Ternyata
kelompok tawanan itu dibentuk menjadi Medan Batalyon KNIL.
Mereka ini bersikap congkak.
Para pemuda dipelopori oleh Achmad Tahir, seorang mantan
perwira Tentara Sukarela (Giyugun) membentuk Barisan Pemuda
Indonesia. Mereka mengambil alih gedung-gedung pemerintahan dan
merebut senjata dari tangan tentara Jepang. Kemudian pada tanggal 10
Oktober 1945 dibentuklah TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Sumatera
Timur. Anggotanya para pemuda bekas Giyugun dan Heiho Sumatera
Timur yang dipimpin oleh Ahmad Tahir. Pada tanggal 13 Oktober 1945
terjadi insiden di sebuah hotel di Jalan Bali, Medan. Seorang anggota
NICA menginjak-injak bendera merah putih yang dirampas dari
seorang pemuda. Pemuda-pemuda Indonesia marah.
Pada tanggal 1 Desember 1945 pihak Inggris memasang papanpapan pengumuman bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area.
Dengan cara itu, Inggris menetapkan secara sepihat batas-batas
kekuasaan mereka. Sejak saat itulah dikenal istilah Pertempuran
Medan Area.
d. Bandung Lautan Api
Pada bulan Oktober 1945, tentara Sekutu memasuki Kota
Bandung. Ketika itu para pejuang Bandung sedang melaksanakan

31

pemindahan kekuasaan dan merebut senjata dan peralatan dari tentara


Jepang. Tentara Sekutu menduduki dan menguasai kantor-kantor
penting. Tentara NICA membonceng tentara Sekutu itu. NICA
berkeinginan mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Para
pe-juang yang tergabung dalam TKR, laskar-laskar, dan badan-badan
pejuang mengadakan perlawanan terhadap tentara Sekutu dan Belanda.
Pada tanggal 21 November 1945, tentara Sekutu mengeluarkan
ultimatum (peringatan) pertama agar kota Bandung bagian utara
dikosongkan oleh pihak Indonesia selambat-lambatnya tanggal 29
November 1945. Para pejuang kita harus menyerahkan senjata yang
dirampas dari tentara Jepang. Alasannya untuk menjaga keamanan.
Apabila tidak diindahkan, tentara Sekutu akan menyerang habishabisan. Peringatan ini tidak dihiraukan oleh para pejuang Indonesia.
Sejak saat itu sering terjadi bentrokan senjata. Kota Bandung terbagi
menjadi dua, Bandung Utara dan Bandung Selatan. Karena
persenjataan yang tidak memadai, pasukan TKR dan para pejuang
lainnya tidak dapat mempertahankan Bandung Utara. Akhirnya
Bandung Utara dikuasai oleh Sekutu.
Pada tanggal 23 Maret 1946 tentara Sekutu mengeluarkan
ultimatum kedua. Mereka menuntut agar semua masyarakat dan para
pejuang TRI (Tentara Republik Indonesia) mengosongkan kota
Bandung bagian selatan. Perlu diketahui bahwa sejak 24 Januari 1946,
TKR telah berubah namanya menjadi TRI. Rakyat diungsikan ke luar
kota Bandung. Pasukan TRI dan para pejuang lainnya dengan berat

32

hati meninggalkan Bandung Selatan. Sebelum ditinggalkan, Bandung


Selatan dibumihanguskan oleh para pejuang. Bumi hangus adalah
memusnahkan dengan pembakaran semua barang, bangunan, gedung
yang mungkin akan dipakai oleh musuh. Pertempuran terus berlanjut.
Para anggota TKR dan pemuda kita menggunakan taktik perang
gerilya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 23 Maret 1946 dan terkenal
dengan sebutan Bandung Lautan Api. Dalam peristiwa tersebut, gugur
seorang pejuang Mohammad Toha.
Pertempuran yang telah kita bahas di atas hanyalah sebagian
dari

pertempuran

yang

terjadi.

Masih

banyak

pertempuran

mempertahankan kemerdekaan yang terjadi di tempat-tempat lain.


Pertempuran-pertempuran lainnya dalam rangka mempertahankan
kemerdekaan yang terkenal antara lain sebagai berikut.
1. Pertempuran Margarana yang dipimpin Letkol I Gusti Ngurah Rai
di Bali pada tanggal 12 November 1946
2. Pertempuran di Sulawesi Selatan yang dipimpin Robert Wolter
Mongisidi pada tanggal 3 November 1946.
3. Pertempuran lima hari lima malam di Palembang pada awal bulan
Januari 1947.
4. Pertempuran laut di Teluk Cirebon yang menenggelamkan Kapal
Perang RI, Gajah Mada, pada tanggal 5 Januari 1947.
5. Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta yang dipimpin oleh
Letkol Suharto.
2) Usaha Perdamaian dan Agresi Militer Belanda
a. Perjanjian Linggajati
Pimpinan tentara Inggris menyadari, sengketa Indonesia
dengan Belanda tidak mungkin diselesaikan melalui peperangan.

33

Inggris berusaha mempertemukan kedua belah pihak di meja


perundingan. Melalui meja perundingan diharapkan konflik bisa
diatasi. Pada tanggal 10 November 1946 diadakan perundingan
antara Indonesia dan Belanda. Perundingan ini dilaksanakan di
Linggajati. Linggajati terletak di sebelah selatan Cirebon. Dalam
perundingan itu delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri
Sutan Syahrir. Sementara delegasi Belanda dipimpin oleh Van
Mook.
Pada tanggal 15 November 1946, hasil perundingan
diumumkan dan disetujui oleh kedua belah pihak. Secara resmi,
naskah

hasil

perundingan

ditandatangani

oleh

Pemerintah

Indonesia dan Belanda pada tanggal 25 Maret 1947. Hasil


Perjanjan Linggajati sangat merugikan Indonesia karena wilayah
Indonesia menjadi sempit.
Berikut ini isi perjanjian Linggajati.
1. Belanda hanya mengakui kekuasaan Republik Indonesia atas
Jawa, Madura, dan Sumatera.
2. Republik Indonesia dan Belanda

akan

bersama-sama

membentuk Negara Indonesia Serikat yang terdiri atas:


a. Negara Republik Indonesia,
b. Negara Indonesia Timur, dan
c. Negara Kalimantan.
3. Negara Indonesia Serikat dan Belanda akan merupakan suatu
uni (kesatuan) yang dinamakan Uni Indonesia-Belanda dan
diketuai oleh Ratu Belanda.
b. Agresi Militer Belanda I
Meskipun sudah ada Perjanjian Linggajati, Belanda tetap
berusaha untuk menjajah Indonesia. Pada tanggal 21 Juli 1947,

34

Belanda menyerang wilayah Republik Indonesia. Tindakan ini


melanggar Perjanjian Linggajati. Belanda berhasil merebut
sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Akibatnya
wilayah kekuasaan Republik Indonesia semakin kecil. Serangan
militer Belanda ini dikenal sebagai Agresi Militer Belanda I.
Peristiwa tersebut menimbulkan protes dari negara-negara tetangga
dan dunia internasional. Wakil-wakil dari India dan Australia
mengusulkan kepada PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) agar
mengadakan sidang untuk membicarakan masalah penyerangan
Belanda ke wilayah Republik Indonesia.
c. Perjanjian Renville (17 Januari 1948)
Pada tanggal 1 Agustus 1947, Dewan Keamanan PBB
memerintahkan agar pihak Indonesia dan Belanda menghentikan
tembak-menembak. Akhirnya pada tanggal 4 Agustus 1947,
Belanda mengumumkan gencatan senjata. Gencatan senjata adalah
penghentian tembak-menembak di antara pihak-pihak yang
berperang. PBB membantu penyelesaian sengketa antara Indonesia
dan Belanda dengan membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) yang
terdiri atas:
1. Australia, dipilih oleh Indonesia
2. Belgia, dipilih oleh Belanda
3. Amerika Serikat, dipilih oleh Australia dan Belanda.
Komisi Tiga Negara (KTN) memprakarsai perundingan
antara Indonesia dan Belanda. Perundingan dilakukan di atas kapal
Renville, yaitu kapal Angkatan Laut Amerika Serikat. Oleh karena

35

itu, hasil perundingan ini dinamakan Perjanjian Renville. Dalam


perundingan itu Negara Indonesia, Belanda, dan masing-masing
anggota KTN diwakili oleh sebuah delegasi.
1.
2.
3.
4.
5.

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Mr. Amir Syarifuddin.


Delegasi Belanda dipimpin oleh R. Abdul Kadir Wijoyoatmojo.
Delegasi Australia dipimpin oleh Richard C. Kirby.
Delegasi Belgia dipimpin oleh Paul van Zeeland.
Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Frank Porter Graham.
Isi perjanjian Renville adalah sebagai berikut.
1. Belanda hanya mengakui daerah Republik Indonesia atas Jawa
Tengah, Yogyakarta, sebagian kecil Jawa Barat, dan Sumatera.
2. Tentara Republik Indonesia ditarik mundur dari daerah-daerah
yang telah diduduki Belanda.
Hasil Perjanjian Renville sangat merugikan Indonesia.
Wilayah kekuasaan Republik Indonesia menjadi semakin sempit.
d. Agresi Militer Belanda II
Belanda terus berusaha menguasai kembali Indonesia. Pada
tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan serangan atas
wilayah Republik Indonesia. Penyerangan Belanda ini dikenal
sebagai Agresi Militer Belanda II.
Ibu kota Republik Indonesia waktu itu, Yogyakarta,
diserang Belanda. Perlu diketahui bahwa sejak 4 Januari 1946, lbu
kota Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta.
Belanda mengerahkan angkatan udaranya. Lapangan Udara
Maguwo tidak dapat dipertahankan. Akhirnya Yogyakarta direbut
Belanda.
Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Sutan
Syahrir, dan Suryadarma ditangkap Belanda. Presiden Sukarno dan

36

Wakil Presiden Mohammad Hatta ditawan dan diasingkan ke Pulau


Bangka. Sebelum tertangkap, Presiden Sukarno telah mengirim
mandat lewat radio kepada Menteri Kemakmuran, Mr. Syaffiruddin
Prawiranegara yang berada di Sumatera. Tujuannya ialah untuk
membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)
dengan ibu kota Bukit Tinggi.
Agresi Militer Belanda II menimbulkan reaksi dunia,
terutama negaranegara di Asia. Negara-negara di Asia seperti India,
Myanmar, Afganistan, dan lain-lain segera mengadakan Konferensi
New Delhi pada bulan Desember 1949. Mereka bersimpati kepada
perjuangan rakyat Indonesia, dan mendesak agar:
1. Pemerintah RI segera dikembalikan ke Yogyakarta, dan
2. Serdadu Belanda segera ditarik mundur dari Indonesia.
Belanda tidak memperdulikan desakan itu. Belanda baru
bersedia berunding setelah Dewan Keamanan PBB turun tanga
3) Usaha Diplomasi dan Pengakuan Kedaulatan
Komisi PBB untuk Indonesia atau UNCI (United Nations
Commission for Indonesia) berhasil mempertemukan pihak Indonesia dan
Belanda dalam meja perundingan. Dalam perundingan-perundingan itu,
delegasi dari Indonesia berjuang secara diplomasi supaya kedaulatan
Indonesia diakui. Perundingan-perundingan itu antara lain, Perundingan
Rum-Royen dan Konferensi Meja Bundar (KMB).
1.

Perjanjian Rum-Royen
Perjanjian Rum-Royen disetujui di Jakarta pada tanggal 7 Mei
1949. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Mr. Moh. Rum, sedangkan
pihak Belanda dipimpin oleh Dr. van Royen. Anggota delegasi

37

Indonesia lainnya ialah Drs. Moh. Hatta dan Sri Sultan Hamengku
Buwono lX.
Isi Perjanjian Rum-Royen adalah sebagai berikut.
1.
Pemerintah Republik Indonesia dikembalikan ke Yogyakarta.
2.
Menghentikan gerakan-gerakan militer dan membebaskan semua
3.

tahanan politik.
Belanda menyetujui adanya Republik Indonesia sebagai bagian

4.

dari Negara Indonesia Serikat.


Akan diselenggarakan perundingan lagi, yaitu KMB, antara
Belanda dan Indonesia setelah Pemerintah Republik Indonesia

kembali ke Yogyakarta.
2. Konferensi Meja Bundar (KMB)
Sebagai tindak lanjut Perjanjian Rum-Royen, pada tanggal 23
Agustus sampai dengan 2 November 1949 diadakan Konferensi Meja
Bundar (KMB) di Den Haag. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Drs.
Moh. Hatta, delegasi BFO (Bijeenkomst Voor Federal Overleg) atau
Badan Musyawarah Negaranegara Federal dipimpin oleh Sultan
Hamid II. Delegasi Belanda dipimpin oleh Mr. van Maarseveen.
Sedangkan UNCI dipimpin oleh Chritchley.
Hasil-hasil persetujuan yang dicapai dalam KMB adalah sebagai
berikut.
1. Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Belanda
akan menyerahkan kedaulatan kepada RIS pada akhir bulan
Desember 1949.
2. RIS dan Belanda akan tergabung dalam Uni Indonesia Belanda.
3. Irian Barat akan diserahkan setahun setelah pengakuan kedaulatan
oleh Belanda.
Kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan dalam KMB sangat
memuaskan rakyat Indonesia. Akhirnya kedaulatan negara Indonesia

38

diakui oleh pihak Belanda. Seluruh rakyat Indonesia menyambut hasil


KMB dengan suka cita.

3. Pengakuan Kedaulatan
Sesuai hasil KMB, pada tanggal 27 Desember 1949 diadakan
upacara

pengakuan

kedaulatan

dari

Pemerintah

Belanda

kepada

Pemerintah RIS. Upacara pengakuan kedaulatan dilakukan di dua tempat,


yaitu Den Haag dan Yogyakarta secara bersamaan. Dalam acara
penandatanganan peng akuan kedaulatan di Den Haag, Ratu Yuliana
bertindak sebagai wakil Negeri Belanda Belanda dan Drs. Moh. Hatta
sebagai wakil Indonesia. Sedangkan dalam upacara pengakuan kedaulatan
yang dilakukan di Yogyakarta, pihak Belanda diwakili oleh Mr. Lovink
(wakil tertinggi pemerintah Belanda) dan pihak Indonesia diwakili Sri
Sultan Hamengkubuwono IX.
Dengan pengakuan kedaulatan itu berakhirlah kekuasaan Belanda
atas Indonesia dan berdirilah Negara Republik Indonesia Serikat. Sehari
setelah pengakuan kedaulatan, ibu kota negara pindah dari Yogyakarta ke
Jakarta. Kemudian dilangsungkan upacara penurunan bendera Belanda dan
dilanjutkan dengan pengibaran bendera Indonesia.

39

4) Menghargai Jasa Tokoh-tokoh Perjuangan dalam Mempertahankan


Kemerdekaan
1. Ir. Sukarno
Sukarno adalah proklamator kemerdekaan Indonesia. Didampingi
Drs. Moh. Hatta beliau membacakan teks proklamasi kemerdekaan pada
tanggal 17 Agustus 1945. Beliau adalah presiden pertama Republik
Indonesia. Sebagai presiden, beliau turut berjasa dalam perjuangan
mempertahankan

kemerdekaan

Indonesia.

Beliau

mulai

merintis

pemerintahan Indonesia dalam masa-masa yang sangat sulit. Sebagai


presiden, beliau memberikan semangat kepada Bangsa Indonesia untuk
tetap berjuang. Beliau ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka ketika
Belanda melakukan agresi militer pada tanggal 19 Desember 1948.
Sebelumnya,

beliau

telah

mengirimkan

mandat

kepada

Menteri

Kemakmuran Syafrudin Prawiranegara yang berada di Sumatera untuk


membentuk dan memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia
(PDRI).

2. Drs. Mohammad Hatta


Drs. Mohammad Hatta juga dikenal sebagai Proklamator
Kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau memimpin kabinet di awal
pembentukan

Negara

Indonesia.

Jasa

beliau

dalam

perjuangan

mempertahankan kemerdekaan sangatlah besar. Beliau dikenal sebagai


delegasi Indonesia yang handal. Pada tanggal 23 Agustus - 2 November
1949, beliau memimpin delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja

40

Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Hasil KMB sangat memuaskan


Bangsa Indonesia. Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Republik
Indonesia. Upacara pengakuan kedaulatan dilakukan di dua tempat, yaitu
di Yogyakarta dan di Den Haag pada tanggal 27 Desember 1949.

3. Jenderal Sudirman
Peranan Jenderal Sudirman dalam perjuangan mempertahankan
kemerdekaan Indonesia sangat besar. Sebagai Panglima TKR, Divisi V
Banyumas, Sudirman memimpin Pertempuran Ambarawa dan berhasil
mengusir tentara Inggris. Pada tanggal 18 Desember 1945, Sudirman
diangkat oleh menjadi Panglima Besar TKR dengan pangkat jenderal.
Sudirman tetap memimpin perang gerilya meskipun beliau dalam keadaan
sakit.
4. Bung Tomo
Sutomo atau Bung Tomo dilahirkan di Surabaya. Pada zaman
pergerakan beliau bekerja di Surat Kabar Suara Umum dan menjadi
redaktur mingguan Pembela Rakyat. Beliau mendirikan dan memimpin
Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia. Beliau mengobarkan semangat
rakyat Surabaya dalamperang melawan pasukan Sekutu pada tanggal 10
November 1945.
5. Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Sri Sultan Hamengku Buwono IX berperan besar dalam perjuangan
mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sebagai bangsawan, beliau

41

membaur berjuang bersama rakyat biasa. Sri Sultan Hamengku Buwono


merupakan tokoh pejuang diplomatic Indonesia. Beliau menjadi anggota
delegasi Indonesia dalam Perundingan Rum-Royen yang dilakukan di
Jakarta pada tanggal 2 Mei 1949.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Ditinjau dari aspek tujuan, penelitian ini merupakan pendekatan
penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono penelitian kuantitatif dapat
diartikan sebagai metode penelitian berlandaskan filsafat positivisme,
digunakan

untuk

meneliti

pada

populasi

atau

sampel

tertentu,

pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data


bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang
ditetapkan47. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Penelitian
ini di implementasikan dengan rancangan penelitian one group pretestposttest design berikut gambar design penelitiannya48:
Keterangan :
O1: Nilai Pre-Test sebelum perlakuan.
X
: Treatmen yang di berikan atau perlakuan menggunakan
Model pembelajaran Talking Stick

O1 X O2

47 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung; Alfabeta,


2011), 8.
48 Ibid., 75

42

O2

: Nilai Post-Test Hasil belajar siswa setelah perlakuan.

Prosedur pelaksanaan sebagai berikut :


a) O1 yaitu nilai pre-test untuk mengetahui hasil belajar siswa
sebelum diberikan perlakuan.
b) Subyek dikenal perlakuan (X), yaitu kegiatan belajar mengajar
diterapkan model pembelajaran Talking Stick.
c) O2 yaitu nilai post-test untuk mengetahui hasil belajar siswa
setelah pembelajaran di terapkan model pembelajaran Talking
Stick.
Penelitian ini meliputi dua variabel, yaitu model Talking Stick (X),
dan hasil belajar kognitif siswa (Y). Peneliti mencari efek dari eksperimen
yang terkait dengan variabel X, yaitu media papan flanel terhadap variabel
Y, yaitu hasil belajar kognitif siswa.
B. Populasi penelitian
Menurut Arikunto populasi adalah keseluruhan obyek penelitian49.
Populasi penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Magersari Kecamatan
Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo.
C. Teknik Sampel Penelitian
1. Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel.
Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian,
terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan. Teknik sampling

49 Arikunto. Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktik. (Jakarta: Rhineka Cipta,


2010) 173,

43

pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu Probability


Sampling dan Nonprobability Sampling.50
Probability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang
memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi
untuk dipilih menjadi anggota sampel.

51

Nonprobability Sampling

adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau


kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk
dipilih menjadi sampel.52
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik sampel
jenuh.

Sampling

jenuh

merupakan

salah

satu

teknik

dari

nonprobability Sampling. Sampling jenuh adalah teknik penentuan


sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal
ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30
orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan
kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus,
di mana semua anggota populasi dijadikan sampel.53
Menurut Arikunto sampel adalah sebagian atau wakil
populasi yang akan di teliti54, teknik pengambilan sampel dalam
penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik sampling purposive,
50 Sugiyono, Statistika untuk Penelitian (Bandung: Alfabeta, 2013), 62.
51Ibid., 63.
52Ibid., 66.
53Ibid., 68.
54 Ibid,. 174,

44

menurut Sugiyono sampling purposive adalah teknik penentuan


sampel dengan pertimbangan tertentu55. Jumlah sampel penelitian ini
adalah 42 siswa kelas V SDN Magersari Kecamatan Sidoarjo
Kabupaten Sidoarjo.
D. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah SDN Magersari Kecamatan Sidoarjo
Kabupaten Sidoarjo. Alasan penelitian menentukan lokaasi di SDN
Magersari Sidoarjo adalah sebagai berikut.
1. Peneliti ingin mengaitkan kemampuannya dengan bidang ilmu yang
diteliti. Peneliti adalah mahasiswa jurusan PGSD

Universitas

Muhammadiyah Sidoarjo.
2. SDN Magersari merupakan salah satu sekolah dasar di Sidoarjo yang
terbuka dengan upaya-upaya pengembangan pembelajaran terhadap
upaya

pembaharuan

kegiatan

belajar

mengajar

yang

bersifat

konstruktifis.
E. Variabel Penelitian
Menurut Arikunto variabel adalah objek penelitian atau apa yang
menjadi titik perhatian suatu penelitian 56, sedangkan menurut Sugiyono
variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi57. berikut
variabel dalam penelitian ini:
55 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, 85.
56 Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, 161.
57 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, 38.

45

1.

Variabel Bebas (Independent)


Variabel yang diuji pengaruhnya terhadap variabel terikat adalah
Model pembelajaran Talking Stick.

2.

Variabel terikat (Dependent)


Variabel terikat dalam penelitian ini adalah mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial BAB 9 tentang Perjuangan Mempertahankan
Kemerdekaan yang diimplementasikan dalam model pembelajaran
Talking Stick.

F. Instrumen Penelitian
Instrumen adalah alat pada waktu penelitian menggunakan sesuatu
metode58. Penelitian ini menggunakan instrument sebagai berikut:
1.
Check-list, yaitu daftar variabel yang akan dikumpulkan
datanya. Dalam hal ini, peneliti tinggal memberikan tanda setiap
pemunculan gejala yang dimaksud.59
2.
Angket, sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden, dalam arti laporan tentang
pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui.60
3.
Soal tes, soal tes terdiri atas butir-butir soal. Setiap butir
soal mewakili satu jenis variabel yang diukur.61

58 Arikunto, Prosedur Penelitian, 192.


59Ibid., 202.
60Ibid., 194.
61Trianto, Pengantar Penelitian Pendidikan: Bagi Pengembangan Profesi Pendidikan
dan Tenaga Kependidikan (Jakarta: Kencana, 2010), 264.

46

4.

Dokumen, untuk memuat garis-garis besar atau kategori

yang akan dicari datanya62.


5.
Lembar Penilaian Hasil Belajar Siswa
Instrumen ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar
siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial BAB 9 tentang
Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan saat diterapkan Model
pembelajaran Talking Stick.
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Validasi Perangkat Pembelajaran
Validasi perangkat pembelajaran dilakukan untuk memperoleh
perangkat pembelajaran yang valid sehingga dapat diimplementasikan
dengan model pembelajaran, perangkat pembelajaran terdiri dari
silabus dan RPP, validasi dilakukan oleh 2 (dua) orang ahli.
2. Observasi
Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data penelitian
keterlaksanaan

proses

pembelajaran

menggunakan

model

pembelajaran Talking Stick melalui keterlaksanaan RPP.


Penilaian
Penilaian dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa dengan

3.

menggunakan lembar penilaian hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa


dinilai dengan lembar penilaian hasil belajar siswa.
Penggunaan Tes, metode ini dapat digunakan untuk mengukur

4.

kemampuan dasar dan pencapaian atau prestasi63.


5.
Penggunaan angket , metode ini bertujuan untuk memperoleh
informasi dari responden tentang apa yang ia alami64.

62Ibid., 201.
63Ibid., 266.

47

6.

Penggunaan metode dokumentasi yang diamati bukan benda hidup


tetapi benda mati65.

H. Teknik Analisis Data


1. Uji Validitas, Reliabilitas dan Normalitas
a. Uji Validitas
Arikunto validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan
tingkatan-tingkatan kevalidan atau kesahihan suatu instrument66.
Menurut Sugiono validitas penelitian dapat menggunakan pendapat
dari ahli (judgment expert)67, validitas model pembelajaran Talking
Stick penelitian dan perangkat pembelajaran terdiri dari silabus, dan
rencana pelaksanaan pembelajaran, dan tes hasil belajar divalidasi
oleh 2 (dua) ahli.

b. Uji Reliabilitas

64 Trianto, Pengantar Penelitian, 265.


65 Arikunto, Prosedur Penelitian, 274.
66 Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, 211,
67 Sugiyono. Statistik untuk Penelitian. (Bandung: Alfabeta, 2013), 352.

48

Reliabilitas menurut Arikunto merujuk pada suatu pengertian


bahwa sesuatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan
sebagai pengumpul data karena instrument tersebut cukup baik68.
c. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menentukan penggunaan
statistik uji parametrik dan non-parametrik. Uji parametrik apabila
menunjukkan data berdistribusi normal, sedangkan apabila data
menjukkan data berdistribusi normal, sedangkan apabila data
menunjukkan berdistribusi tidak normal, maka menggunakan uji nonparametrik. Untuk melakukan uji normalitas dalam penelitian ini
menggunakan rumus chi-square (X2), dengan criteria apabila
probabilitas (sig) lebih besar dari (0,05), maka hasil tes dikatakan
berdistribusi normal69.
Rumus untuk menghitung chi-square adalah sebagai berikut:
(f 0f h)
X =
fh
Keterangan :
X2=
Chi Kuadrat
Fo =
Frekuensi atau jumlah data hasil observasi
Fh =
Frekuensi atau jumlah yang diharapkan
2. Pengaruh Diterapkan Model Pembelajaran Talking Stick terhadap Hasil
Belajar Kognitif Siswa.

68 Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. (Jakarta: Rhineka Cipta,


2010) 161,
69 Sugiyono. Statistik Untuk Penelitian. (Bandung: Alfabeta, 2012), 81.

49

Analisis data pengaruh diterapkan model pembelajaran project


based learning terhadap hasil belajar dalam penelitian ini menggunakan uji
t, menurut Arikunto untuk mengetahui efek treatment atau eksperimen
pada desain one group pretest-posttest design yang dilakukan dapat
digunakan uji t dengan rumus sebagai berikut70:

t=

Md

x2 d
N ( N1)

Keterangan:
t=

Harga t

Md = Mean dari deviasi (d) antara post-test dan pre-test


Xd

= Perbedaan deviasi dengan Mean deviasi

= Banyaknya Subjek

Df

= atau db adalah N-1

Daftar Pustaka

70 Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Praktik. (Jakarta: Rineka Cipta, 2010) 124.

50

Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Edisi 2. Bandung:


Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian
Jakarta: Rhineka Cipta.

Suatu Pendekatan Praktik.

Dimyati dan Mudjiono.2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.


Jihad, Asep dan Abdul Haris. 2013. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Multi
Presindo.
Prastowo, Andi. Pengembangan Bahan Ajar Tematik. Yogyakarta: Diva Press.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung;
Alfabeta.
Sugiyono. 2013. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Trianto. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.
Jakarta: Prestasi Pustaka Raya.
Wena, Made. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan
Konseptual
Operasional.
Huda, Miftahul. 2013. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-Isu
Metodis dan
Paradigmatis. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.