Anda di halaman 1dari 12

Laporan Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan

Kasus Difteri di Desa Pucak, Kec. Tompobulu, Kab. Maros


11-25 Januari 2012

1. Pendahuluan
a. Latar Belakang
Difteri adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae.
Defenisi kasus suspek Difteri adalah demam di atas 38C, sakit menelan, sesak napas disertai bunyi
(stridor) dan ada tanda selaput putih keabu-abuan (pseudomembran) di tenggorokan dan pembesaran
kelenjar leher. Difteri biasanya menyerang kelompok umur anak-anak (balita dan anak usia sekolah)
karena kondisi tubuhnya yang labil sehingga rentan akan suatu penyakit. Faktor risiko Difteri antara
lain kurangnya cakupan imunisasi (DPT), lingkungan yang penuh sesak, kebersihan yang buruk,
kontak dengan penderita dan pembawa (carrier). Difteri adalah penyakit langka dengan angka
kematian diperkirakan 10 persen. Kasus Difteri (suspek maupun positif) tidak pernah ditemukan di
Kabupaten Maros beberapa tahun terakhir ini. Kasus Difteri di Provinsi Sulawesi Selatan juga sangat
jarang terjadi, walaupun ada beberapa Kabupaten yang pernah terjangkit (Kota Makassar, Kab. Gowa,
Kab. Pangkep, Kab. Takalar). Pada tanggal 11 Januari 2012, diterima laporan dari petugas surveilans
RSUD Salewangang Maros, bahwa ada kasus suspek Difteri di RS. Dari informasi yang diperoleh
tersebut, maka diadakan Penyelidikan Epidemiologi dan penanggulangan pada kasus yang dimaksud.

b. Tujuan
Tujuan Umum : Untuk Memperoleh Gambaran Epidemiologi KLB Difteri dan Penanggulangannya
serta pencegahan terjadinya kembali KLB serupa dimasa akan datang.
Tujuan Khusus :
- Untuk memastikan terjadinya KLB Difteri
- Mengetahui penyebab terjadinya KLB
- Mendapatkan gambaran epidemiologi kejadian penyakit tersebut, berdasarkan waktu, tempat dan
orang - Mengetahui besaran masalah KLB di lokasi
- Pemetaan faktor risiko KLB Difteri

- Mengetahui gambaran cakupan imunisasi di lokasi tersebut


- Melakukan penyelidikan dan penanggulangan di lokasi kejadian
- Memberikan rekomendasi upaya pencegahan dan penanggulangan KLB Difteri
2. Metode Penyelidikan dan Penanggulangan
Metode penyelidikan epidemiologi yang dilakukan dalam penyelidikan ini adalah penelitian
kuantitatif dan kualitatif.
1. Penelitian kuantitatif berupa penelitian diskriptif dengan menggunakan data sekunder laporan STP,
W1 dan W2 Puskesmas.
2. Penelitian kualitatif dilakukan dengan pendekatan Rapid Assesment Procedure (RAP), yaitu dengan
mengumpulkan data primer melalui :
a. Wawancara dengan penderita dan keluarganya, dengan menggunakan kuesioner yang telah
disiapkan
b. Wawancara dengan petugas kesehatan, baik yang menangani penderita secara langsung maupun
yang berkaitan dengan variabel lain yang dicurigai.
c. Observasi terhadap faktor faktor risiko yang dapat memicu terjadinya penyakit KLB.
Metode penanggulangan kasus adalah dengan melaksanakan tatalaksana kasus sbb :
1. Pengobatan kasus
2. Vaksinasi
3. Pemeriksaan Laboratorium
4. Penatalaksanaan kontak untuk pengambilan usap nasofaring dan profilaksis
5. Upaya peningkatan cakupan imunisasi (<7 tahun DT dan >7 tahun dT) melalui sweeping
6. Meningkatkan imunisasi DPT rutin
3. Pengolahan Data
Data yang dikumpulkan diolah dalam bentuk tabel/grafik dan narasi dan hasilnya dianalisis kemudian
dituangkan dalam bentuk laporan hasil penyelidikan KLB.
4. Hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE)
a. Kronologis Kejadian
Kejadian bermula hari Jumat, tanggal 6 Januari 2012, salah seorang anggota keluarga (anak ke 2

bernama Musdalifah, umur 13,5 tahun, perempuan) pasangan bapak Mursalim dan Mantasia
menderita sakit yang berdomisili di dusun Batulotong desa Pucak, Kec. Tompobulu, Kab. Maros.

Gejala yang diderita adalah Sakit leher, Sakit menelan, Demam, Sakit Kepala, Menggigil dan

terdapat selaput putih di tenggorokan. Kondisi ini berlangsung sampai tanggal 9 Januari 2012
tanpa mendapatkan pengobatan. Hari Senin, tanggal 9 Januari 2012, penderita dibawa ke sarana pelayanan yaitu puskesmas

Tanralili. Puskesmas Tanralili adalah puskesmas yang berada dalam wilayah Kecamatan Tanralili,
namun jarak lokasi kejadian dengan Puskesmas Tompobulu di dusun Puncak pada saat musim
hujan lebih mudah dijangkau.
Hari Selasa tanggal 10 Januari 2012 pasien dirujuk ke RS Salewangang Kab. Maros, dengan

pengantar rujukan gejala demam 4 hari, sakit menelan 5 hari, batuk, muntah, flu, bengkak leher,
pseudomembran, ludah bercampur darah dengan nanah. Hari Selasa jam 11.00 wita petugas surveilans RS melaporkan adanya kasus suspek difteri ke

Dinas Kesehatan Kab. Maros. Dinkes Kab. Maros melaporkan kejadian tersebut ke Dinas Kesehatan Provinsi melalui SMS Gate

Way jam 14.30 wita, dan ditindaklanjuti dengan merespon informasi tersebut ke Dinkes Kab.
Maros.
Karena keterbatasan obat di RS Salewangeng kab. Maros, khususnya ADS, maka disarankan agar

petugas kabupaten untuk mengambil obat (ADS) di Provinsi. Hari Selasa, tanggal 11 Januari 2012,
Musdalifah diberi ADS (2 ampul). Hari Rabu, tanggal 12 Januari 2012, tim dari provinsi (Dinkes dan BBLK Makassar) ke RS dan

Lokasi kejadian untuk melakukan penyelidikan dan pengambilan spesimen swab tenggorokan dan
hidung penderita dan kontak. Pada saat pengambilan swab tenggorokan penderita masih jelas adanya pseudomembran. - Jumlah

kontak yang diambil swab tenggorokan dan hidung sebanyak 9 orang (kontak erat dan
sepermainan)
Hari Selasa, 17 Januari 2012, Hasil Laboratorium BBLK Makassar secara lisan, 2 positif Difteri

atas nama Musdalifah dan Rifal Hari Rabu, 18 Januari 2012, Positif Difteri atas nama Rifal dirujuk ke RS. Rifal diberi ADS (4

ampul), Musdalifah diberi ADS tambahan (2 ampul) Mulai hari Kamis, 19 Januari 2012, dilakukan Vaksinasi di SMP Tompobulu, SMU Tompobulu,

SD Baloro, dan Dusun Batulotong Hari Senin, 23 Januari 2012, Musdalifah dan Rifal pulang paksa dari RS. - Hari Selasa, 24 Januari

2012, Hasil Laboratorium BBLK Surabaya secara lisan, 5 positif Difteri atas nama Rifal,
Mantasia, Mira, Firman, dan Saiful. -

Hari Rabu, 25 Januari 2012, tim dari provinsi (Dinkes dan BBLK Makassar), kabupaten (Dinkes

dan Puskesmas) ke Lokasi kejadian untuk melakukan penyelidikan lanjutan dan pengambilan
spesimen swab tenggorokan penderita dan kontak. Jumlah yang diambil swab tenggorokan
sebanyak 11 orang (positif, kontak sepermainan, dan kontak sekelas)

b. Gambaran Umum Lokasi Kejadian


Wilayah Kecamatan Tompobulu terletak di bagian timur kabupaten Maros. Kecamatan Tompobulu
cukup terisolir, jauh dari pusat kabupaten (25 km) dan akses jalan rusak. Desa Pucak terletak di
tengah wilayah Kecamatan Tompobulu (Ibukota Kecamatan). Jarak puskesmas Tompobulu ke Lokasi
KLB berjarak sekitar 4 km dengan akses jalan yang rusak. Apabila musim hujan maka akses jalan ke
puskesmas terhalang oleh derasnya aliran air sungai. Masyarakat dusun Batulotong apabila musim
hujan, maka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan lebih memilih ke Puskesmas yang terletak di
wilayah kecamatan Tanralili karena lebih mudah diakses walaupun agak jauh. Akses ke lokasi KLB
dari pusat kota dapat ditempuh dengan mobil (1 jam) ataupun motor (45 menit).
Batas Desa Pucak :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Toddopulia
- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Tompobulu.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Belabori, Kab. Gowa
- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Benteng Gajah dan Purnakarya.
Kasus difteri terjadi di Desa Pucak, Kec. Tompobulu, merupakan salah satu desa dari wilayah kerja
Puskesmas Tompobulu yang terdiri dari 8 Desa. Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas
Tompobulu sebanyak 14.104 jiwa terdiri laki-laki 6.940 jiwa dan perempuan 7.164 jiwa. Desa Pucak
sebanyak 2.492 jiwa, yang terdiri 1.238 jiwa laki-laki dan 1.254 jiwa perempuan. Jumlah Dusun di
Desa Pucak sebanyak 4 (empat) dusun, antara lain :
- Dusun Puncak (pusat pemerintahan desa)
- Dusun Bontosunggu
- Dusun Pangembang
- Dusun Batulotong
Dusun Batulotong memiliki 116 Rumah tangga, 68 Pasangan Usia Subur, 104 Kepala Keluarga
(dengan 21 KK miskin), Ibu hamil 14 orang, bayi berusia kurang dari 1 tahun sebanyak 14 orang, dan
balita 1 sampai 5 tahun sebanyak 46 orang. Jarak antar rumah di dusun Batulotong sekitar 5 sampai

50 meter dan berkelompok (1 sampai 4 rumah). Khusus di lokasi kejadian rumah yang berdekatan
hanya 3 (tiga) rumah dengan jumlah jiwa sebanyak 16 orang.
c. Identifikasi Penderita dan Kontak
1. Penderita (kasus pertama) Penderita awal difteri yang menjalani perawatan di RSUD Salewangang
2. Data kontak Adapun kontak serumah pasien adalah orangtua, saudara, nenek, dan teman
sepermainan. Tidak ada kontak dengan teman sekolah karena saat mulai sakit hingga sekarang pasien
masih libur sekolah. Dari hasil PE, tidak ada keluarga atau tetangga yang menderita gejala yang sama
dengan pasien. Tidak ada kontak dengan suspek difteri sebelumnya. Kontak yang diambil swab
tenggorokan pada tanggal 12 Januari 2012 sebanyak 9 orang sedangkan tanggal 24 Januari 2012
ditambah 5 orang. Jadi total keseluruhan 15 orang termasuk kasus.
d. Penegakan Diagnosis
Berdasarkan informasi hasil wawancara orang tua dan penderita, gejala yang dialami penderita adalah
demam, sakit menelan, batuk, bengkak di leher (Bull neck), muncul selaput putih di rongga mulut
(pseudomembran), maka sesuai dengan definisi operasional kasus difteri, maka dipastikan secara
klinis menderita penyakit difteri. Dilakukan pengambilan specimen untuk difteri (swab
tenggorokan) dilakukan terhadap kontak kasus (ayah, ibu, dan kakak dan adiknya). Sedangkan untuk
pengambilan specimen kontak lainnya dilakukan terhadap (tetangga dan teman bermain). Spesimen
yang diambil berupa swab hidung dan tenggorokan oleh petugas laboratorium dari BLK Makassar.
Selain diperiksa oleh BLK Makassar, specimen juga diperika di BBLK Surabaya.
Dari pemeriksaan tanggal 12 Januari 2012, BBLK Makassar mendapatkan hasil positif difteri
sebanyak 2 orang, sedangkan BBLK Surabaya mendapatkan hasil 5 orang positif difteri. Total positif
difteri sebanyak 6 orang (ada specimen yang sama positif antara Makassar dan Surabaya sebanyak 1
specimen).

e. Penetapan KLB
Berdasarkan hasil analisis laporan mingguan puskesmas dan laporan mingguan Puskesmas
Tompobulu dan Kabupaten Maros, kejadian penyakit dengan gejala seperti diatas baru terjadi, untuk
itu kondisi awal tersebut dikategorikan KLB penyakit suspek difteri. Namun karena telah ada hasil
laboratorium awal (12 Januari 2012) yang menyatakan positif difteri, maka kondisi ini telah
dikategorikan sebagai KLB penyakit difteri.

Deskripsi KLB
a. Berdasarkan Waktu Kejadian
Hasil wawancara dengan orang tua dan penderita menyatakan bahwa penderita mulai
merasakan (sakit) hari Jumat tanggal 6 Januari 2012. Orang tuanya menganggap bahwa ini
merupakan demam biasa, namun selama 2 (dua) hari penyakitnya tidak sembuh, akhirnya hari
senin tanggal 9 Januari di bawa ke Puskesmas Tanralili untuk mendapatkan pengobatan. Di
puskesmas bermalam 1 (satu) malam dengan diagnosis Farotitis. Hari selasa tanggal 10

Januari 2012 dari puskesmas di rujuk ke RS Salewangeng Kab. Maros. (Jelasnya dapat dilihat
kronologis)
b. Menurut Tempat Kejadian
kasus di dusun Batulotong, desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kab. Maros. Desa Pucak
merupakan salah satu desa dari 8 desa/kel yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas
Tompobulu. Desa Pucak mempunyai 4 dusun salah satunya adalah Dusun Batulotong (lokasi
kejadian). Jarak lokasi dengan pustu Batulotong 1,5 km, dan jarak pustu dengan puskesmas
Tompobulu 4 Km. Namun dalam kondisi musim hujan akses ke Puskesmas Tompobulu
sangat sulit, sehingga untuk pemeriksaan penderita di bawa ke puskesmas Tanralili untuk
mendapatkan pengobatan kemudian di rujuk ke RS Salewangeng Kab. Maros.
c. Menurut Orang
Penderita Positif Difteri Menurut Jenis Kelamin di Desa Pucak, Kec. Tompobulu Periode Januari
2012 . Sebanyak 3 Laki-laki dan 3 perempuan positif difteri. Sehingga Attack Rate (AR) Difteri
di Desa Pucak dengan jumlah penduduk laki-laki 1.238 jiwa, perempuan 1.254 jiwa adalah
0,24%.
f. Data Faktor Risiko
Salah satu faktor risiko/pemicu terjadinya penyakit difteri adalah status imunisasi anak, khususnya
DPT. Data cakupan imunisasi penyakit difteri jauh dari target yang diharapkan, hanya tahun 2008
cakupan imunisasi puskesmas Tompobulu mencapai 80% dan lainnya dibawah 80%. Cakupan
imunisasi DPT-1, DPT-2, DPT-3 khususnya di desa Pucak jauh dari harapan (target 90%), ini
disebabkan karena selain sulitnya jangkauan ke lokasi tersebut dan rumah penduduk yang tersebar
(berjauhan antar rumah) juga karena masih adanya pemahaman masyarakat bahwa anak yang telah
imunisasi akan menderita sakit.
5. Analisis
Definisi kasus suspek Difteri adalah demam di atas 38C, sakit menelan, sesak napas disertai bunyi
(stridor) dan ada tanda selaput putih keabu-abuan (pseudomembran) di tenggorokan dan pembesaran
kelenjar leher. Kriteria KLB Difteri adalah 1 (satu) kasus suspek Difteri. Berdasarkan gejala klinis
pasien dan diagnosa dokter, yang ditindaklanjuti hasil laboratorium diketahui terdapat 6 (enam) kasus
positif difteri dengan 2 diantaranya mengalami sakit dengan gejala klinis yang khas dan 4 yang
lainnya sehat namun dikategorikan carrier (pembawa penyakit) di Dusun Batulotong, Desa Pucak,
Kecamatan Tompobulu sehingga telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di Kecamatan

Tompobulu, Kabupaten Maros. Faktor risiko kasus Difteri antara lain kurangnya cakupan imunisasi
(DPT), lingkungan yang penuh sesak, kontak dengan pembawa (carrier), dan kebersihan yang buruk.
Untuk kasus ini, diperkirakan status imunisasi dan kontak dengan pembawa (carrier) menjadi faktor
utama penyebab Difteri. Cakupan imunisasi dapat menjadi faktor risiko paling utama seandainya
ingatan responden (orang tua kasus) tidak valid. Vaksinasi harus diberikan pada orang yang negatif
Difteri namun pernah kontak dengan penderita atau pembawa untuk kekebalan, pernah ataupun belum
pernah mendapatkan vaksinasi. Siapapun yang telah kontak dengan orang yang telah terinfeksi Difteri
(carrier) harus menerima pengobatan antibiotik erytromicin.
a. Risiko Tinggi
Yang berisiko tinggi terkena difteri adalah orang yang pernah kontak erat dengan positif difteri :
1) Keluarga yang serumah dengan positif difteri
2) Petugas Kesehatan yang pernah kontak dengan positif difteri : - Petugas RSUD Salewangang
Maros yang menangani pasien - Petugas Puskesmas Tanralili yang menangani pasien - Petugas
Puskesmas Tompobulu yang menangani pasien dan yang kontak dengan positif difteri yang
melaksanakan PE dan penanggulangan KLB - Petugas Dinas Kesehatan Kab. Maros yang kontak
dengan positif difteri yang melaksanakan PE dan penanggulangan KLB - Petugas Dinas Kesehatan
Prov. Sulawesi Selatan yang kontak dengan positif difteri yang melaksanakan PE dan penanggulangan
KLB
3) Teman sekelas positif difteri
4) Teman sepermainan positif difteri
5) Tetangga samping kiri-kanan rumah positif difteri
b. Risiko Sedang
Yang berisiko sedang terkena difteri adalah orang yang pernah kontak dengan positif difteri :
1) Teman sekolah positif difteri
2) Tetangga rumah positif difteri
6. Kegiatan Penanggulangan
Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri telah ditanggulangi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Maros
dengan bantuan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan untuk mencegah penyebaran kasus.
Adapun kegiatan penanggulangan yang telah dan akan dilakukan antara lain :
Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan Sekitar

Yang telah dilakukan :


1) Laporan kepada petugas kesehatan setempat: Laporan awal kasus telah diterima dari RSUD
Salewangang Maros. Adapun masyarakat yang menderita gejala yang sama diharapkan segera
melapor ke Posko Penanggulangan KLB Difteri di Puskesmas Tompobulu dengan koordinasi dari
Dinas Kesehatan Kabupaten Maros. Instruksi pelaporan ini telah disosialisasikan di Desa Pucak
dan sekolah penderita (SMU, SMP, dan SD) melalui penyuluhan singkat.
2) Isolasi: Isolasi ketat telah dilakukan terhadap penderita (Musdalifah dan Rifal) di RSUD
Salewangang. Namun kamar isolasi yang kurang memenuhi syarat dikhawatirkan dapat
memperluas penyebaran penyakit di RS. Sebaiknya pasien positif difteri diisolasi hingga hasil
pemeriksaan laboratorium negatif, namun pasien pulang paksa oleh keluarga tanggal 23 Januari
2012. Jika pemeriksaan laboratorium secara kultur tidak mungkin dilakukan, maka tindakan isolasi
dapat diakhiri 14 hari setelah pemberian antibiotika eritromicin dan tidak ada lagi gejala klinis
pada pasien.
3) Manajemen Kontak: Tidak semua kontak dengan penderita diambil sampel tenggorakannya karena
keterbatasan media laboratorium. Hanya diambil sampel bagi sebagian kontak erat dengan cara
acak. Telah diberikan antibiotik berupa Erythromycin selama 7 hari kepada semua orang yang
tinggal serumah, tetangga sepermainan, dan teman kelas penderita difteri tanpa melihat status
imunisasi mereka. Sementara dilakukan boster imunisasi di Dusun Batulotong dan sekolah di Desa
Pucak.
4) Investigasi kontak dan sumber infeksi dilakukan dengan Pencarian carrier dengan memeriksa usap
nasofaring dilakukan terhadap kontak yang sangat dekat.
5) Pengobatan spesifik telah dilakukan dengan pemberian anti difteri serum pada penderita positif
yang menderita sakit (Musdalifah dan Rifal). Diberikan erythromycin oral selama 7 hari kepada
penderita dan kontak erat kasus dengan dosis 2000 mg per hari untuk orang dewasa dan 1000 mg
per hari untuk anak-anak.
Yang belum dilakukan (terkait sumberdaya dan pendanaan yang kurang memenuhi syarat) :
1) Desinfeksi serentak: Seharusnya dilakukan terhadap semua barang yang dipakai oleh/untuk
penderita dan terhadap barang yang tercemar dengan discharge penderita. Seharusnya dilakukan
pencucihamaan menyeluruh. Hal ini tidak dilakukan karena identifikasi barang penderita belum
dilakukan. Alat dan bahan pencucihamaan juga tidak ada.
2) Karantina: Tidak sampai dilakukan karantina orang dan wilayah, karena lokasi cukup terpencil.
Karantina penderita dan kontak erat penderita dilakukan tanpa aturan tegas, hanya diberi

pengertian kepada penderita dan kontak erat penderita agar tidak melakukan perjalanan keluar
lokasi KLB hingga dinyatakan bebas difteri dan mereka bukan carrier lagi.
Penanggulangan Wabah
1) Imunisasi : - Boster imunisasi dilakukan di Dusun Batulotong dan sekolah penderita difteri (SD,
SMP, dan SMU) - Sweeping imunisasi dilakukan khususnya di Desa Pucak dan Desa tetangganya
(Desa Tompobulu, Desa Toddopulia, Desa Benteng Gajah)
2) Telah dilakukan identifikasi terhadap mereka yang kontak dengan penderita dan mencari orangorang yang berisiko. Telah dilakukan penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dilaporkan
untuk menetapkan diagnosis dari kasus-kasus tersebut (melalui pemeriksaan laboratorium) dan
untuk mengetahui biotipe dan toksisitas dari C. diphtheriae. Diketahui bahwa kasus positif difteri
mengandung toksin.
7. Kesimpulan dan Rekomendasi
a. Kesimpulan
- Telah terjadi KLB Difteri di Dusun Batulotong, Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu
- Faktor risiko terjadinya KLB adalah cakupan imunisasi yang rendah, dan kontak dengan penderita
dan atau pembawa.
- Manajemen Imunisasi (rantai dingin, kualitas vaksin) diduga kurang bagus disebabkan listrik di
Puskesmas sering padam, disamping pencatatan suhu harian tidak dilakukan.
- Dusun Batulotong, Desa Pucak merupakan daerah terpencil (tidak ada kendaraan umum), sehingga
akses petugas maupun penduduk ke Posyandu ataupun sebaliknya tidak lancar.
- Cakupan imunisasi baik di Puskesmas maupun di Desa Pucak (lokasi KLB) sangat rendah, yang
merupakan pemicu terjadinya KLB difteri.
- Pemahaman masyarakat (orang tua) tentang pentingnya imunisasi bagi bayi dan balita masih
kurang.
- Telah dilakukan penanggulangan KLB berupa tatalaksana kasus dengan perawatan penderita
(pemberian ADS dan pengobatan), pemberian antibiotic, dan imunisasi.
b. Saran / Rekomendasi
- Isolasi pasien selama perawatan oleh RS
- Pelacakan kontak penderita/carrier
- Pengambilan usap nasofarings dan profilaksis kontak penderita /carrier
- Surveilans ketat di lokasi KLB
- Vaksinasi pada anak-anak beresiko tinggi (Belum Vaksinasi Difteri) di lokasi sekitar KLB

- KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi) ke masyarakat - Meningkatkan imunisasi DPT rutin Imunisasi pada daerah risiko tinggi (dusun dan sekolah)
- Pembatasan wilayah, penggunaan masker bila ada pendatang ke lokasi KLB
- Perlu peningkatan kemampuan petugas dalam hal manajemen imunisasi (rantai dingin, pencatatan
suhu).
- Perlu dilakukan surveilans ketat selama 10 (sepuluh) hari di lokasi, mengingat ada anak balita yang
sakit di lokasi (tetangga) penderita sakit.
- Perlu pengikut sertaan masyarakat dalam melaporkan adanya kasus penyakit diwilayahnya, dengan
melakukan peningkatan kemampuan kader dalam bidang surveilans penyakit (CBS).
- Perlu keikutsertaan tokoh masyarakat, tokoh agama dalam mensosialisasikan pentingnya imunisasi
pada bayi dan balita serta dampak yang ditimbulkan.