Anda di halaman 1dari 57

PENGOLAHAN DATA ENGINERING

PERSIAPAN SIMULASI RESERVOIR


Oleh: Joko Pamungkas

Referensi Utama:
Acuan Studi Reservoir (Simulasi dan Decline Analysis): BPMIGAS 2008

SISTIMATIKA
1. Data Produksi dan Tekanan
Format Data
Plot Data Produksi
Bubble Map
Plot Data Tekanan
2. Data Scal
Data Input (Format)
End Point data Scal
Normalisasi Relative Permeability Curve
Rekontruksi Relative Permeability
Kurva Relative Permeability untuk Fracture
3. Data PVT
Data (Format)
Analisa Data
Perhitungan
4. Penentuan Rock Region
Data Swi
Data Permeabilitas
5. Mekanisme Pendorong

SISTIMATIKA
1. Data Produksi dan Tekanan
Format Data
Plot Data Produksi
Bubble Map
Plot Data Tekanan
2. Data Scal
Data Input (Format)
End Point data Scal
Normalisasi Relative Permeability Curve
Rekontruksi Relative Permeability
Kurva Relative Permeability untuk Fracture
3. Data PVT
Data (Format)
Analisa Data
Perhitungan
4. Penentuan Rock Region
Data Swi
Data Permeabilitas
5. Mekanisme Pendorong

1. Data Produksi dan Tekanan


Dalam mengolah data produksi hal-hal yang perlu disiapkan :
Data yang tersedia.
Data Sumuran :
Total jumlah sumur, Status sumur (jumlah sumur masih
produksi, jumlah sumur sudah shutin atau abandon dan
jumlah sumur injeksi dll)

Jelaskan penyebab status sumur yang sudah shutin atau


abandon dalam bentuk matrik.
Sejarah komplesi untuk tiap-tiap sumur.
Data produksi
lapangan.

per

sumur,

per

reservoar/lapisan

dan

Data tes sumur dan summary hasil analisa well testing


Data tekanan
Data laporan sumur (well report) termasuk masalahmasalah sumur seperti kepasiran dll
Data artificial
kapasitas)

well

(sumur

flowing,

pompa

termasuk

1. Data Produksi dan Tekanan


(Format Data)
Contoh data produksi untuk lapangan :
DATA PRODUKSI
PRODUCTION
DATE

INJECTION

CUMULATIVE PROD.

CUM. INJEC.

GOR

OIL WATER GAS WATER GAS


OIL WATER GAS WATER GAS stb/
bopd bwpd mscfpd bwpd mscfpd mstb
mstb mmscf mstb mmscf scf

WELL
WC
%

PRODUCER
INJECTION
Active Total Active Total

Contoh data produksi per sumur :


DATA PRODUKSI
PRODUCTION
WELL

DATE

OIL
bopd

WATER
GAS
LIQUID
bwpd mscfpd blpd

DATA INJEKSI
WELL

DATE

CUM. INJEC.
INJECTION
WATER
GAS
WATER GAS
bwpd
mscfpd
mstb mmscf

Copyright Dadang Rukmana (BPMIGAS)

CUMULATIVE PROD.
OIL
mstb

GOR

GLR

stb/
WATER GAS
stb/ scf
scf
mstb mmscf

WC
%

WOR
mmscf

1. Data Produksi dan Tekanan


(Plot Data Produksi)
Buat Plot sejarah produksi untuk Lapangan :
Grafik 1 => Sumbu Y1 : Oil rate, Y2 : WC dan Sumbu X : Date dan Grafik
2 => Jika jumlah sumur producer lebih dari 20 sumur plot Sumur aktif vs
Date dan apabila jumlah sumur kurang dari 20 sumur buatkan barchart
sumur active vs Date.
Grafik 1 => Sumbu Y1 : Liquid rate, Y2 : GLR dan Sumbu X : Date dan
Grafik 2 => Pressure vs Date
Grafik 1 => Sumbu Y1 : Np & Wp, Y2 : Gp dan Sumbu X : Date dan Grafik
2 => Pressure vs Date
Plot Sumbu Y1 : GOR, Y2 : WOR dan Sumbu X : Date
Jika lapangan sudah ada injeksi water misalkan: Grafik 1 => Sumbu Y1 :
Oil rate & Injection rate, Y2 : WC dan Sumbu X : Date dan Grafik 2 => Jika
jumlah sumur injector lebih dari 20 sumur plot Sumur injeksi aktif vs
Date dan apabila jumlah sumur kurang dari 20 sumur buatkan barchart
sumur injeksi active vs Date.
Note :
o

Grafik 1 dan grafik 2 dalam lembar yang sama, usahakan skala sumbu x untuk
kedua grafik tsb harus sama.

Semua data pressure harus sudah di konversi pada suatu datum.

Copyright Dadang Rukmana (BPMIGAS)

1. Data Produksi dan Tekanan


(Plot Data Produksi)
Contoh Sejarah produksi dengan barchart sumur aktif :
Grafik 1

WC belum
ditampilkan

Grafik 2

Sumur Aktif

1. Data Produksi dan Tekanan


(Plot Data Produksi)
Buat Plot sejarah produksi untuk Sumuran :
Grafik 1 => Sumbu Y1 : Oil rate, Y2 : WC dan Sumbu X : Date dan
Grafik 2 => plot barchart sejarah komplesi vs Date
Grafik 1 => Sumbu Y1 : Liquid rate, Y2 : GLR dan Sumbu X : Date dan
Grafik 2 => Pressure vs Date (Jika ada)
Grafik 1 => Sumbu Y1 : Np & Wp, Y2 : Gp dan Sumbu X : Date dan Grafik
2 => Pressure vs Date (Jika ada)
Plot Sumbu Y1 : GOR, Y2 : WOR dan Sumbu X : Date
Note :
o

Grafik 1 dan grafik 2 dalam lembar yang sama, usahakan skala sumbu x untuk
kedua grafik tsb harus sama.

Semua data pressure harus sudah di konversi pada suatu datum.

1. Data Produksi dan Tekanan


(Plot Data Produksi)
Contoh Sejarah produksi dengan barchart lapisan yg di komplesi :

Grafik 1
WC belum
ditampilkan

Grafik 2

Skala pada
sumbu X
belum sama

1. Data Produksi dan Tekanan


(Bubble Map)
Buat bubble map produksi dengan frekwensi Np tiap-tiap 5 tahun jika
lapangan telah berproduksi lebih dari 10 tahun atau per 2.5 tahun jika
lama produksi dibawah 10 tahun dan akhir produksi :
Bubble map untuk Kumulatif Oil dan overlay dengan :
Peta HPT (So x H x Por) pada total lapangan dan lapisan yang paling
dominan produksinya.
Peta Facies pada lapisan yang paling dominan produksi oil.
Peta iso permeability pada lapisan yang paling dominan produksi oil.
Peta rock region pada lapisan yang paling dominan produksi oil.
Peta struktur dan telah dibatasi contact.

Bubble map untuk Kumulatif Water dan overlay dengan :


Peta HPT (So x H x Por) pada total lapangan dan lapisan yang paling
dominan produksinya.
Peta Facies pada lapisan yang paling dominan produksi water.
Peta iso permeability pada lapisan yang paling dominan produksi water.
Peta rock region pada lapisan yang paling dominan produksi water.
Peta struktur dan telah dibatasi contact.

1. Data Produksi dan Tekanan


(Bubble Map)
Bubble map untuk Pressure (jika data mencukupi) dan overlay dengan :
Peta HPT (So x H x Por) pada total lapangan dan lapisan yang paling
dominan produksinya.
Peta Facies pada lapisan yang paling dominan produksi water.
Peta iso permeability pada lapisan yang paling dominan produksi oil.
Peta rock region pada lapisan yang paling dominan produksi oil.
Peta struktur dan telah dibatasi contact.

Jika ada, bubble map untuk Kumulatif Water/Gas Injeksi dan overlay
dengan :
Peta iso permeability pd lapisan yang paling dominan produksi oil.
Peta Facies pada lapisan yang paling dominan produksi oil.
Peta struktur dan telah dibatasi contact.

1. Data Produksi dan Tekanan


(Bubble Map)

Hydrocarbon Pore Volume (HCPV)

1. Data Produksi dan Tekanan


(Bubble Map)

Overlay Peta Top Struktur


dan Buble Map Np

Overlay Peta Buble Map Np


dan Oil Cut

1. Data Produksi dan Tekanan


(Bubble Map)

Perbandingan Distribusi Water Cut Sebelum (kiri) dan Sesudah


(kanan) Injeksi Air

1. Data Produksi dan Tekanan


(Plot Tekanan)

Perilaku Tekanan Reservoir

SISTIMATIKA
1. Data Produksi dan Tekanan
Format Data
Plot Data Produksi
Bubble Map
Plot Data Tekanan
2. Data Scal
Data Input (Format)
End Point data Scal
Normalisasi Relative Permeability Curve
Rekontruksi Relative Permeability
Kurva Relative Permeability untuk Fracture
3. Data PVT
Data (Format)
Analisa Data
Perhitungan
4. Penentuan Rock Region
Data Swi
Data Permeabilitas
5. Mekanisme Pendorong

2. Data SCAL (INPUT DATA)


Format Data Scal (Water-Oil Relative Permeability), sbb :
RINGKASAN WATER-OIL RELATIVE PERMEABILITY DATA
Contoh
Sumur

Sample
Number

Sumur X-1
Sumur X-2

19
20
21
29
23 B
16

Sumur X-3

Ka
(mD)

Por
(frac.)

605.75
116.00
28.00
2.20
4162
1743
236

Swc
(frac.)

0.258
0.253
0.220
0.170
0.277
0.261
0.215

Kro@Swc
(frac.)

0.2370
0.2890
0.3640
0.4800
0.2090
0.2230
0.2600

0.8600
0.7400
0.6290
0.4045
0.7640
0.7400
0.7288

Krw@Sor
(frac.)
0.3600
0.2330
0.1840
0.1160
0.3090
0.2990
0.2910

Sor
(frac.)
0.364
0.343
0.348
0.295
0.424
0.412
0.404

Format Data Scal (Gas-Oil Relative Permeability), sbb :


RINGKASAN GAS-OIL RELATIVE PERMEABILITY DATA
CONTOH
Sumur

Sample
Number

Ka
(mD)

Por
(frac.)

Swc
(frac.)

Sor
(frac.)

Slr
(frac.)

Kro@Swc
(frac.)

Krg@Slr
(frac.)

Sumur X

29
23 B

4162
1743

0.277
0.261

0.094
0.117

0.352
0.328

0.446
0.445

0.605
0.618

0.286
0.352

16

236

0.215

0.203

0.269

0.472

0.583

0.263

2. Data SCAL (End Point data Scal)


Pengolah data scal dimulai dari pengumpulan data yang ada, kemudian
menentuka korelasi hubungan parameter satu dengan parameter yang
lain. Korelasi ini akan menentukan flow fluida didalam model simulasi.
Jika data scal cukup banyak end point dapat dipisahkan per facies atau
per reservoar/formasi.
Jika data-data scal lebih dari 2 data dapat dibuat hubungan :
Water-Oil Relative Permeability
Swc vs log (Permeabilitas) atau Swc vs Permeabilitas
Swc vs Sor
Swc vs Kro@Sor
Swc vs Krw@Swc
Gas-Oil Relative Permeability
Swc vs Slr
Slr vs Kro@Swc
Slr vs Krg@Slr

2. Data SCAL (End Point data Scal)


Gas-Water Relative Permeability untuk Lapangan Gas
Swc vs Permeability
Swc vs Krg@Swc
Swc vs Krw@Sgr
Swc vs Sgr

2. Data SCAL

End Point data Scal (Water-Oil Relative Permeability)


Contoh hubungan Swc vs Permeabilitas.
Contoh Hubungan Swc vs K,
tergambar bahwa kurva
mempunyai trend yang sama
secara lapangan. Tidak perlu
dipisahkan baik secara facies
atau formasi/reservoar.

Facies A
Contoh Hubungan
Swc vs K, Trend
kurva yang tidak
sama, harus
dipisahkan secara
facies.

Facies B

2. Data SCAL

End Point data Scal (Water-Oil Relative Permeability)


Contoh hubungan Sor vs Swc, Kro@Swc vs Swc, Krw@Sor vs Swc

2. Data SCAL

End Point data Scal (Gas-Oil Relative Permeability)


Contoh hubungan Slr vs Swc, Kro@Swc vs Slr, Krg@Slr vs Slr

2. Data SCAL

End Point data Scal (Gas-Oil Relative Permeability)


Contoh Plot Swc vs K, Sgr vs Swc, Krg@Swc vs Swc, Krw@Sgr vs Swc

2. Data SCAL
(Normalisasi Relative Permeability Curve)
Pada umumnya kurva relatif permeabilitas mempunyai bentuk yang
berbeda pada suatu lapangan yang sama, untuk menentukan bentuk
kurva yang akan digunakan, dapat dilakukan dengan cara normalisasi.
Jika data scal cukup banyak dan trend dari normalisasi berbeda secara
facies atau per reservoar/formasi, maka normalisa agar dipisahkan.
Persamaan sederhana dalam menentukan normalisasi :
Water-Oil Relative Permeability
Sw* = (Sw - Swc) / (1 Swc Sor)
Krow* = Krow / Krow@Swc
Krw* = Krw@Sorw
Gas-Oil Relative Permeability
Sg* = (Sg Sgc) / (1 Sgc Swc Sorg)
Krg* = Krg / Krg@Slr
Krog* = Krog / Krog@Sgc
Copyright Dadang Rukmana (BPMIGAS)

2. Data SCAL
Normalisasi Relative Perm. Curve (Water-Oil System)
Contoh Normalisasi kurva
Relative permeability.
Trend dari beberapa data
hampir sama, maka tidak
perlu dipisahkan baik
secara facies atau
formasi/reservoar.

Contoh Normalisasi
Relative Permeability.
Trend yang tidak sama,
harus dipisahkan
secara facies/formasi.

2. Data SCAL
Normalisasi Relative Perm. Curve (Gas-Oil System)

2. Data SCAL
Normalisasi Relative Perm. Curve (Gas-Water System)
Contoh hasil Normalisasi untuk Lapangan Gas

2. Data SCAL
Rekontruksi Relative Permeability (Water-Oil System)
Contoh Hasil Rekontruksi dengan 5 jenis kurva relatif permeabilitas
untuk berbagai Swc, Kro, Krw dan Sor (Lapangan Minyak)

2. Data SCAL
Rekontruksi Relative Permeability (Gas-Water System)
Contoh Hasil Rekontruksi dengan 5 jenis kurva relatif permeabilitas
untuk berbagai Swc, Krg, Krw dan Sgc (Lapangan Gas)

2. Data SCAL
Relative Permeabilitas untuk Fracture
Dari data Pc menunjukkan Swc adalah fungsi dari permeabilitas.
Dengan menggunakan korelasi maka Permeabilitas di fracture dapat
ditentukan, sehingga swc di fracture dapat dihitung.
Relatif Perm. Di Fracture untuk Kf < 10 D

2. Data SCAL
Capillary Pressure J-Function
Untuk mengolah Capillary Pressure dapat dilakukan berbagai cara :
1). Dengan Metode J-Funtion

2). Normalisasi Pc

Hal-hal yang perlu diperhatian dalam pembuatan J-Funtion / Normalisasi Pc :


Pisahkan berdasarkan Facies/ flow unit (jika data mendukung)
Jika bentuk kurva scatter pisahkan/kelompokkan.

J(Sw)

Sw*

1.0

SISTIMATIKA
1. Data Produksi dan Tekanan
Format Data
Plot Data Produksi
Bubble Map
Plot Data Tekanan
2. Data Scal
Data Input (Format)
End Point data Scal
Normalisasi Relative Permeability Curve
Rekontruksi Relative Permeability
Kurva Relative Permeability untuk Fracture
3. Data PVT
Data (Format)
Analisa Data
Perhitungan
4. Penentuan Rock Region
Data Swi
Data Permeabilitas
5. Mekanisme Pendorong

3. Data PVT
(Analisa Fluida Reservoar)
Masalah dalam pengolahan PVT :
1. Jumlah lapisan banyak, tetapi data PVT hanya pada lapisan tertentu,
bagaimana mengambil/membuat PVT pada lapisan yang tidak ada data ??
2. Data PVT lebih dari satu sample, mana yang mau diambil ??

Ada Data
Data PVT
PVT

3. Data PVT
(Analisa Fluida Reservoar)
Pengolahan Data PVT untuk kasus 1 dapat dilakukan, sbb :
Buatkan tabel PVT semua parameter-parameter data PVT
Cari hubungan beberapa parameter dengan cara plot :
Kedalaman vs Tek.Saturasi (Pb)
Pb vs T, Pb vs Rs, Pb vs Bo@Pb (Bob), Pb vs Sg(gas)
dan Pb vs API
Tentukan datum untuk masing-masing lapisan
Dari masing-masing datum akan diperoleh Tekanan Saturasi
(Pb)
Dari Pb dapat menentukan Temperatur reservoar, Bob, API,
Sg dan RS
Untuk membuat hubungan P vs Bo, P vs RS, P vs viskositas
(minyak) dan untuk gas P vs Z, P vs Bg & P vs viskositas gas
bisa menggunakan metode standing, vasquez, glaso dan
Trijana K.
Tentukan metode mana yang akan digunakan dengan cara
menghitung paramter Pb dan sebagai input Sg atau Rs.

3. Data PVT
(Format Data)
Data PVT baik dari laboratorium atau berasal dari hasil well test
dikumpulkan dalam format yang sama untuk memudahkan dalam
analisa lanjut.
Contoh Format Data PVT :
Lap. / Sumur Tanggal
Res.
X1

X2

X3
X4

X5

S-19
S-37
S-42
S-13
S-31
S-35
S-46
S-99
S-7
S-21
S-24
S-6
S-18
S-90
S-6
S-2

2-11-84
3-7-92
12-7-92
9-10-83
24-9-85
16-2-79
15-2-79
28-8-85
29-7-84
22-5-85
4-4-80
14-12-80
11-9-79
3-2-85
16-10-75
19-8-75

Interval Datum
Produksi
ft
ftss

Pi

Pr

Pb

psi

psi

psi

4260-4275
2962-2972
2816-2822
5716-5718
7140-7157
6779-6782
3410-3416
2980-2990
8768-8774
8293-8297
8850-8866
9768-9776
3480-3490

2035
1160
2882
1454
1246
3820
3600
3833
4164
532
1517

1796
2721
1262
1139
2412
2855
2880
1159
3820
3600
3833
4164
511
1267

1792
2243
2035
1262
1022
2350
2802
2554
1448
1246
3770
3498
3325
3720
684
1438

4268
6330
4580
2972
2816
5680
7110
6779
3405
2990
8600
8295
8815
9686
1286
3406

T
o

API

173
211
205
140
131
165
191
190
157
132
180
185
195
217
120
142

38.6
33.7
35.9
41.4
22.2
32.4
31.9
36.5
40.7
42.7
28.5
33.1
29.3
30.8
36.5
27.0

Den.
Bob
Rs
Gas
Oil
gm/cc bbl/stb scf/stb Gravity
0.745
0.729
0.698
0.745
0.874
0.748
0.735
0.703
0.704
0.661
0.746
0.748
0.734
0.749
0.804
0.834

1.265
1.353
1.399
1.237
1.075
1.256
1.290
1.402
1.343
1.633
1.348
1.355
1.294
1.407
1.107
1.145

440
598
600
379
152
498
527
695
615
1024
654
724
616
957
200
280

0.820
0.813
0.740
0.694
0.668
0.659
0.560
0.688
0.725
0.841
0.679
0.897
0.637
0.922
0.913
0.923

3. Data PVT
(Perhitungan)
Setelah data-data PVT terkumpul dan hasil plot beberapa parameter PVT
mempunyai trend yang bagus, maka PVT dapat ditentukan untuk
masing-masing lapisan/reservoar.
Untuk memilih metode mana yang cocok dan parameter apa saja
sebagai dasar perhitungan, dapat dilakukan dengan dua cara :

Rs data sebagai input dan Sg gas yang akan dihitung dengan


cara coba-coba sehingga akan diperoleh harga Pb, kemudian di
matching dengan Pb data. Jika Pb belum cocok maka Sg di coba
lagi. Rs data dan Pb data adalah hasil dari korelasi-korelasi.

Caranya sama, hanya Sg data sebagai input dan Rs gas yang


dihitung.

3. Data PVT
(Perhitungan)
Contoh hasil perhitungan dengan berbagai metode dimana Rs sebagai
input dan harga Sg dicoba-coba :
Sg Dihitung
METHOD

RS
(SCF/STB)

SGgas

Pb
(psig)

Bobm Bobc
(V/VR)

Perbedaan
(%)

Keterangan

STANDING

286.60

0.788

1153.3

1.166

1.1733

0.626

SGgas dihitung

VASQUEZ &
BEGGS

286.60

0.882

1153.0

1.166

1.1348

2.676

SGgas dihitung

286.60

0.892

1153.9

1.166

1.153

1.115

SGgas dihitung

Oil Gravity = 36.56 ( API


o

@ 60 F )
Bob @Pb = 1.166 (V/VR)
Rsi
Psep
Tsep
Sggas

= 286.6 (scf/stb) GLASO


= 35 (psig)
o

= 84 ( F)
= 0.8326

Harga API, Bob,


Rsi dan Sg(gas)
pada lapisan/
reservoar tertentu
dan dihasilkan dari
plot data PVT

TRIJANA K.

Harga Rs
sebagai
input
data

286.60

Harga Sg hasil
coba-coba
sehingga Pb
hitungan = Pb data
(hasil dari plot)

1.166

SGgas tidak dapat


dihitung

Perbedaan Bob hasil cobacoba Sg dengan Bob dari


data, diperoleh perbedaan yg
kecil 0.626% metode
Standing dg parameter Sg
gas = 0.788

3. Data PVT
(Perhitungan)
Contoh hasil perhitungan dengan berbagai metode dimana Sg sebagai
input dan harga Rs dicoba-coba :
RS Dihitung
METHOD

RS
(SCF/STB)

SGgas

Pb
(psig)

Bob
(V/VR)

Perbedaan
(%)

Keterangan

STANDING

302.90

0.833

1153.0

1.166

1.1856

1.681

Rs dihitung

VASQUEZ &
BEGGS
GLASO

272.20

0.833

1153.3

1.166

1.1281

3.250

Rs dihitung

267.50

0.833

1153.2

1.166

1.1385

2.358

Rs dihitung

TRIJANA K.

332.40

0.833

1153.3

1.166

1.1663

0.026

Rs dihitung

Oil Gravity = 36.56 ( API


o

@ 60 F )
Bob @Pb = 1.166(V/VR)
Rsi
= 286.6 (scf/stb)
Psep
= 35 (psig)
Tsep
Sggas

= 84 ( F)
= 0.8326

Harga API, Bob,


Rsi dan Sg(gas)
pada lapisan/
reservoar tertentu
dan dihasilkan dari
plot data PVT

Harga Rs hasil
coba-coba
sehingga Pb
hitungan = Pb data
(hasil dari plot)

Harga Sg
sebagai
input
data

Perbedaan Bob hasil cobacoba Rs dengan Bob dari


data, diperoleh perbedaan yg
kecil 0.026% metode Trijana
dg parameter Rs = 332.4

3. Data PVT
(Analisa Data)
Contoh dalam menganalisa data PVT dengan membuat hubungan
Tekanan Saturasi dengan Kedalaman.

3. Data PVT
(Analisa Data)
Contoh hubungan tekanan saturasi dengan temperatur reservoar dan
faktor volume minyak pada tekanan saturasi.

3. Data PVT
(Analisa Data)
Contoh hubungan tekanan saturasi dengan Rs dan Sg.

3. Data PVT
(Analisa Data)
Setelah hasil perhitungan PVT selesai dengan kedua cara tsb
kemudian bandingkan mana perbedaan bob yang kecil, kemudian
tentukan paramter Rs, Bo, Viskositas oil, Bg dan viskositas gas untuk
berbagai tekanan dan berbagai lapisan/reservoar.

3. Data PVT
(Analisa Data)
Pengolahan Data PVT untuk kasus 2, dimana ada dua data PVT atau
lebih dan pengambilan sample pada kedalaman yang sama.
Untuk menentukan data PVT mana yg akan diambil, dapat dengan cara :
Plot performance GOR dan Tekanan reservoar vs Waktu
Amati performance GOR dan pada saat GOR naik tentukan tekanan
reservoar. Tekanan reservoar pada saat GOR eqivalen dengan tekanan
saturasi (Pb)

Contoh Kasus-2 :
Dari pengukuran ada 2
data PVT dari 2
sumur .

Trend Pr

PVT (1) : Pb = 2485 psi


PVT (2) :Pb = 2155 psi

Pb = 2485
psi
GOR
mulai naik

3. Data PVT
(Analisa Data)
Untuk reservoar gas, komposisi gas yang harus di plot terhadap
kedalaman.
Contoh hasil analisa untuk PVT reservoar gas untuk berbagai zone.

SISTIMATIKA
1. Data Produksi dan Tekanan
Format Data
Plot Data Produksi
Bubble Map
Plot Data Tekanan
2. Data Scal
Data Input (Format)
End Point data Scal
Normalisasi Relative Permeability Curve
Rekontruksi Relative Permeability
Kurva Relative Permeability untuk Fracture
3. Data PVT
Data (Format)
Analisa Data
Perhitungan
4. Penentuan Rock Region
Data Swi
Data Permeabilitas
5. Mekanisme Pendorong

4. Penentuan Rock Region


Rock Region didalam model simulasi reservoar diperlukan untuk
membagi atau memisahkan antara property yang bagus dengan
property yang jelek.
Penentuan Rock Region, dapat berfungsi :
Mengelompokkan produksi yang memiliki performance yang sama atau
performance tekanan yang sama.
Dapat membantu mempercepat dalam proses history matching.
Hasil prediksi dari simulasi tidak over/under estimate.
Akan membantu dalam menentukan skenario pengembangan lapangan.

Contoh
Rock Region
secara
Lateral

4. Penentuan Rock Region


Penentuan Rock Region dapat dilakukan dengan dua cara :
Berdasarkan data Swi.
Data Sw diambil dari hasil distribusi 3D property model
Urutkan data Swi dari nilai yang kecil ke nilai besar, usahakan
untuk membagi berdasarkan Reservoar atau Formasi.

Plot Swi vs Number of Sample (Cumulative Data)

Bagi beberapa interval, dimana setiap interval mempunyai trend


yang sama. Tiap-tiap interval dapat mewakili rock region.

Swi setiap rock region dapat dicari dengan mengambil rata-rata


harga Swi pada tiap-tiap interval.

Metode ini dapat dilakukan, jika :

Dari data resistivity log tidak menunjukkan adanya transisi zone. Pc = 0

Dari data produksi dimana pada awal produksi air belum keluar
walaupun dengan Sw cukup tinggi.

Dari data Scal harga Swir sama dengan data Sw hasil interpretasi log.
Swi eqivalen Swc (Swirr)

Note : Inplace antara hasil dari Initialisasi simulasi dg 3D model umumnya kurang dari 10%.
Copyright Dadang Rukmana (BPMIGAS)

4. Penentuan Rock Region


(Berdasarkan Swi)
Contoh penentuan rock region untuk seluruh lapangan X1.
Contoh Input Data Swi
dari 3D Property model

ET-1

ST-025
ST-058

ET-2

ST-13

4. Penentuan Rock Region


(Berdasarkan Swi)
Contoh penentuan rock region pada lapangan X2, dimana
penentuan rock region dibagi berdasarkan reservoar.

4. Penentuan Rock Region


(Berdasarkan Swi)
Contoh penentuan rock region pada lapangan X3, dimana
penentuan rock region dibagi berdasarkan formasi.
Formasi T

Formasi D

4. Penentuan Rock Region


(Berdasarkan Permeabilitas)
Berdasarkan data Permeabilitas.
Prosedure hampir sama dengan data Swi.
Data Permeabilitas diambil dari hasil distribusi 3D property model
Urutkan data Permeabilitas dari nilai yang kecil ke nilai besar,
usahakan untuk membagi berdasarkan Reservoar atau Formasi
atau Zonasi.

Plot Permeabilitas vs Number of Sample (Cumulative Data)

Bagi beberapa interval, dimana setiap interval mempunyai trend


yang sama. Tiap-tiap interval dapat mewakili rock region.

Tentukan permeabilitas dari setiap rock region dengan cara


mengambil rata-rata harga permeabilitas pada tiap-tiap interval.

Setelah mendapatkan harga permeabilitas rata-rata tiap-tiap rock


region maka dapat menentukan Swc.

Tentukan Swc tiap-tiap rock region dengan menggunakan


korelasi hubungan Swc vs Permeabilitas.

Copyright Dadang Rukmana (BPMIGAS)

4. Penentuan Rock Region


(Berdasarkan Permeabilitas)
Metode ini dapat dilakukan, jika :

Data resistivity log menunjukkan adanya transisi zone. Pc > 0

Dari data produksi dimana pada awal produksi air sudah keluar, terutama
yang dekat dengan contact.

Dari data Scal dan data Sw hasil interpretasi log terutama dekat contact
harga Swi selalu lebih besar dari harga Swc. Swi > Swc (Swirr)

Jika rock region menggunakan data permeabilitas :

Inplace antara hasil dari Initialisasi simulasi dengan 3D model umumnya


lebih dari 10%.

Untuk me-matching inplace dapat menggunakan data kapiler pressure.

4. Penentuan Rock Region


(Berdasarkan Permeabilitas)
Contoh penentuan rock region untuk seluruh lapangan X1.
Nomor Sample vs Permeabilitas
10000.0

Permeabilitas, (mD)

1000.0
Rock-1
100.0

Rock-2

Rock-4
Rock-3

10.0
Rock-1 : PermeabilitasK > 800
Rock-2 : 105 < Permabilitas < 800
Rock-3 : 45 < Permabilitas < 105
Rock-4 : 12 < Permabilitas < 45
Rock-5 : Permabilitas < 12

Rock-5

1.0

0.1
0

100

200

300

400

500

Nomor Sample

600

700

800

900

4. Penentuan Rock Region


(Berdasarkan Permeabilitas)
Contoh 3D Model untuk rock region
Rock-2
10 < K < 100
mD

Rock-1
K > 100 mD

Rock-3
K < 10 mD

SISTIMATIKA
1. Data Produksi dan Tekanan
Format Data
Plot Data Produksi
Bubble Map
Plot Data Tekanan
2. Data Scal
Data Input (Format)
End Point data Scal
Normalisasi Relative Permeability Curve
Rekontruksi Relative Permeability
Kurva Relative Permeability untuk Fracture
3. Data PVT
Data (Format)
Analisa Data
Perhitungan
4. Penentuan Rock Region
Data Swi
Data Permeabilitas
5. Mekanisme Pendorong

5. Mekanisme Pendorong

T A F

B R F

ZONE/ RESERVOIR
FORMATION
LAYER CLASSIFIKATION

Pi*
avg.

SATURATION GAS CAP


SIZE
PRESSURE
Pb
Pd
m

( psia )

( psia )

FVF
OIL
Boi

GAS
Bgi

SOL.
GOR
Rsi

ORIGINAL IN PLACE
OIL

GAS

SOL. GAS

DRIVE MECHANISM

( psia ) ( fraction ) ( bbl/stb) ( bbl/scf) ( scf/stb ) ( MM stb ) ( MMM scf ) ( MMM scf )

BRF-1 GAS (condensate) 914.48

1764.70

0.00368

9.45

BRF-2 GAS (condensate) 2940.6

1705.67

0.00113

3.37

BRF-3 GAS (condensate) 86.864

1954.76

0.04153

0.00334

2985.00

0.00196

2.31

B2

GAS (condensate) 1605.7

C1

OIL (two-phase) 2571.849 2972.25

0.12

1.73583 0.00118 1006.87

0.07

0.01241

C2

OIL (two-phase) 1845.4 3004.7

0.35

1.66444 0.00175 775.35

46.92

15.63

D1

OIL (two-phase) 2334.3 2820.57

0.13

1.65969 0.00124 927.42

36.85

6.43

D2

OIL (two-phase) 2525.9 2820.35

0.09

1.70173 0.00115 996.90

167.14

22.32

OIL (two-phase) 684.03 2523.75

0.7

1.27092 0.00452 338.99

1.60

0.31487

Comb. Gas (Depletion) & Water Drive with


dominant Depletion Drive.
Comb. Gas (Depletion) & Water Drive with
dominant Depletion Drive.
Comb. Gas (Depletion) & Water Drive with
dominant Depletion Drive.
Comb. Gas (Depletion) & Water Drive with
dominant Water Drive in early period.
Comb. Depletion, Gas Cap & Water Drive
0.07048
with dominant Water Drive.
Comb. Depletion, Gas Cap & Water Drive
36.38
with dominant Depletion (Solution Gas) Drive.
Comb. Depletion, Gas Cap & Water Drive
34.18
with dominant Depletion (Solution Gas) Drive.
Comb. Depletion, Gas Cap & Water Drive
166.62
with dominant Depletion (Solution Gas) Drive.
Comb. Depletion, Gas Cap & Water Drive
0.54239
with dominant Water Drive in late period.

5. Mekanisme Pendorong
1.20

Driving Index (DI), fraction

Driving Index (DI), fraction

1.20
1.00
0.80
0.60
Water Drive Index (WDI)

0.40

Segregation (Gas Cap) Drive Index (SDI)


0.20

Depletion Drive Index (DDI)

Segregation (Gas Cap) Drive Index (SDI)


Depletion Drive Index (DDI)

0.80
0.60
0.40
0.20
0.00

0.00
0

50

100

150

200

250

300

1.20
1.00
0.80
0.60

Gas Drive Index (GDI)


Water Drive Index (WDI)
Compressibility Drive Index (CDI)

0.40
0.20
0.00
0

400

800

1200

Cumulative Gas Production (Gp), MM scf

2000

4000

6000

8000

Cumulative Oil Production (Np), M stb

Cumulative Oil Production (Np), M stb

Driving Index (DI), fraction

Water Drive Index (WDI)

1.00

1600

10000