Anda di halaman 1dari 31

CASE RECORD GIGI TIRUAN CEKAT

KEPANITERAAN KLINIK
BLOK 3

Nama Pasien
No RM
Operator
NIM
Pembimbing

: Umi Qulsum
: 4396
: Yoeliani
: 112090104
: drg. Helmi Fathurrahman

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN

Kebutuhan penggantian gigi yang hilang pada regio anterior atau posterior mempunyai
peranan yang sama penting karena gigi berada pada keseimbangan yang dinamis dan gigi saling
mendukung antara satu gigi dengan yang lain. Apabila kehilangan gigi tidak segera digantikan
dapat menyebabkan gigi tetangga atau gigi antagonis bergeser ke ruang kosong, sehingga akan
terjadi susunan baru. Hal tersebut akan menyebabkan gangguan fungsi fonetik, mastikasi, estetik
serta menyebabkan resorbsi tulang alveolar, perubahan dimensi vertikal, status kesehatan gigi
dan mulut. Jika keadaan ini terus berlanjut, akan terjadi disorientasi dari sendi temporomandibula
yang dapat menimbulkan rasa nyeri.
Kehilangan gigi dapat digantikan dengan gigi tiruan yang secara umum dapat dibedakan
sebagai gigi tiruan lepasan dan gigi tiruan cekat. Gigi tiruan cekat (GTC) adalah gigi tiruan yang
menggantikan satu atau lebih gigi yang hilang dan tidak dapat dilepas oleh pasiennya sendiri
maupun dokter gigi karena dipasangkan secara permanen pada gigi asli yang merupakan
pendukung utama dari restorasi. Tujuan utama perawatan gigi dengan GTC adalah
mempertahankan dan memelihara kesehatan gigi geligi yang masih ada beserta seluruh sistem
pengunyahan supaya dapat berfungsi dengan baik dan tetap sehat. Oleh sebab itu, agar suatu
GTC dapat bertahan untuk jangka waktu yang lama di dalam mulut, maka pemeliharaan jaringan
periodontal harus dilakukan agar gigi alami yang digunakan sebagai gigi penyangga juga dapat
dipertahankan.
Agar perawatan GTC berhasil, maka harus mempertimbangkan beberapa faktor, diantaranya
kondisi periodontal dari gigi-gigi penyangga. Jaringan penyangga gigi terdiri dari gingiva, tulang
alveolar, ligamentum periodontal dan sementum. Hal ini harus diperhatikan oleh dokter gigi
untuk membuat diagnosis dan rencana perawatan yang tepat untuk gigi dan jaringan
penyangganya.

BAB II
2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Gigi tiruan jembatan adalah gigi tiruan yang menggantikan kehilangan satu atau lebih
gigi-geligi asli yang dilekatkan secara permanen dengan semen serta didukung sepenuhnya
oleh satu atau beberapa gigi, akar gigi atau implan yang telah dipersiapkan.1
2.2. Tujuan Pemakaian
Kegunaan pemakaian gigi tiruan jembatan antara lain:2
a. Memperbaiki penampilan
Pada pasien dengan kehilangan gigi, terutama gigi anterior, tentu saja penampuilan haru
diperhatikan.
b. Kemampuan mengunyah
Banyak pasien tidak bisa makan dengan baik karena banyaknya gigi yang hilang.
c. Stabilitas Oklusal
Stabilitas oklusal dapat hilang karena adanya gigi yang hilang. Kehilangan gigi dapat
menyebabkan gigi disekitarnya ekstrusi, migrasi dan merusak stabilitas oklusi pasien.
d. Memperbaiki pengucapan
Kehilangan gigi insisivus atas dapat menganggu pengucapan seseorang.
e. Sebagai splinting periodontal
Kehilangan gigi dapat menyebabkan gigi tetangganya goyang, jadi gigi tiruan jembatan
dapat berfungsi juga sebagai splinting.
f. Membuat pasien merasa sempurna
Pasien percaya jika penggunaan gigi tiruan dapat memberikan banyak keuntungan
terhadap kesehatannya secara umum.
2.3. Indikasi dan Kontraindikasi
Indikasi pembuatan gigi tiruan jembatan adalah sebagai berikut.
1. Kehilangan satu atau lebih gigi geligi asli
2. Gigitan dalam (deep bite)
3. Gigi penyangga memerlukan restorasi
4. Diastema abnormal, besarnya ruangan protesa kurang dari normal
5. Gigi penyangga memerlukan penanggulangan berupa stabilisasi atau splint
6. Terdapat diastema pasca perawatan.
Kontraindikasi untuk embuatan gigi tiruan jembatan adalah:
- OH yg tdk terpelihara
- Physical handicap
- Indeks karies yg tinggi
- Cross-bite, malposisi, progeni
- Migrasi atau ekstrusi yg parah
3

2.4.

Komponen-komponen Gigi Tiruan

1.
2.
3.
4.

Gigi tiruan jembatan terdiri dari dari beberapa komponen, yakni sebagai berikut.
Retainer
Konektor
Pontik
Penyangga (abutment)

Gambar 1.Komponen-komponen Gigi Tiruan.

Gambar 2. Gigi Tiruan Jembatan (Bridge).

1. Retainer
Merupakan bagian dari gigi tiruan jembatan yg menghubungkan gigi tiruan tersebut dengan
gigi penyangga.Fungsinya:
a. Memegang/menahan (to retain) supaya gigi tiruan tetap stabil di tempatnya.
b. Menyalurkan beban kunyah (dari gigi yang diganti) ke gigi penyangga.
Macam-macam retainer:
4

a. Extra Coronal Retainer


Yaitu retainer yang meliputi bagian luar mahkota gigi, dapat berupa:
1) Full Veneer Crown Retainer
Indikasi:
Tekanan kunyah normal/besar
Gigi-gigi penyangga yang pendek
Intermediate abutment pasca perawatan periodontal
Untuk gigi tiruan jembatan yang pendek maupun panjang
Keuntungan
Indikasi luas
Memberikan retensi dan resistensi yg terbaik
Memberikan efek splinting yg terbaik
Kerugian:
Jaringan gigi yg diasah lebih banyak
Estetis kurang optimal (terutama bila terbuat dari all metal)

Gambar 3. Extra Coronal Retainer

2) Partial Veneer Crown Retainer


Indikasi :
Gigi tiruan jembatan yang pendek
Tekanan kunyah ringan/normal
Bentuk dan besar gigi penyangga harus normal
Salah satu gigi penyangga miring

Gambar 4. Partial Veneer Crown Retainer


Keuntungan
Pengambilan jaringan gigi lebih sedikit
Estetis lebih baik daripada FVC retainer
Kerugian:
Indikasi terbatas
Kesejajaran preparasi antar gigi penyangga sulit
Kemampuan dalam hal retensi dan resistensi kurang
Pembuatannya sulit (dlm hal ketepatan).

b. Intra Coronal Retainer


Yaitu retainer yang meliputi bagian dalam mahkota gigi penyangga.
Bentuk:
Onlay
Inlay MO/DO/MOD
Indikasi:
Gigi tiruan jembatan yang pendek
Tekanan kunyah ringan atau normal
Gigi penyangga dengan karies kelas II yang besar
Gigi penyangga mempunyai bentuk/besar yang normal
Keuntungan:
Jaringan gigi yang diasah sedikit
Preparasi lebih mudah
Estetis cukup baik
Kerugian:
Indikasi terbatas
Kemampuan dlm hal retensi resistensi kurang
6

Mudah lepas/patah

Gambar 5.Intra Coronal Retainer Bentuk Onlay.


c. Dowel retainer
Adalah retainer yang meliputi saluran akar gigi, dengan sedikit atau tanpa jaringan
mahkota gigi dengan syarat tidak sebagai retainer yang berdiri sendiri.
Indikasi:
a. Gigi penyangga yang telah mengalami perawatan syaraf
b. Gigi tiruan pendek
c. Tekanan kunyah ringan
d. Gigi penyangga perlu perbaikan posisi/inklinasi
Keuntungan:
Estetis baik
Posisi dapat disesuaikan
Kerugian:
Sering terjadi fraktur akar

Gambar 6. Dowel Retainer.


2. Pontik
7

Merupakan bagian dari gigi tiruan jembatan yang menggantikan gigi asli yang hilang
dan berfungsi untuk mengembalikan:
Fungsi kunyah dan bicara
Estetis
Comfort (rasa nyaman)
Mempertahankan hubungan antar gigi tetangga mencegah migrasi / hubungan
dengan gigi lawan ektrusi
Berikut adalah klasifikasi pontik, antara lain:
a. Berdasarkan bahan
Berdasarkan bahan pembuatan pontik dapat diklasifikasikan atas:3
1) Pontik logam
Logam yang digunakan untuk membuat pontik pada umumnya terdiri dari alloy,
yang setara dengan alloy emas tipe III.Alloy ini memiliki kekuatan dan kelenturan
yang cukup sehingga tidak mudah menjadi patah atau berubah bentuk (deformasi)
akibat tekanan pengunyahan. Pontik logam biasanya dibuat untuk daerah-daerah
yang kurang mementingkan faktor estetis, namun lebih mementingkan faktor
fungsi dan kekuatan seperti pada jembatan posterior.
2) Pontik porselen
Pontik jenis ini merupakan pontik dengan kerangka dari logam sedangkan seluruh
permukaannya dilapisi dengan porselen.Pontik ini biasanya diindikasikan untuk
jembatan anterior dimana faktor estetis menjadi hal yang utama.Pontik porselen
mudah beradaptasi dengan gingival dan memberikan nilai estetik yang baik untuk
jangka waktu yang lama.
3) Pontik akrilik
Pontik akrilik adalah pontik yang dibuat dengan memakai bahan resin akrilik.
Dibandingkan dengan pontik lainnya, pontik akrilik lebih lunak dan tidak kaku
sehingga membutuhkan bahan logam untuk kerangkanya agar mampu menahan
daya kunyah / gigit.Pontik ini biasanya diindikasikan untuk jembatan anterior dan
berfungsi hanya sebagai bahan pelapis estetis saja.
4) Kombinasi Logam dan Porselen
Pontik ini merupakan kombinasi logam dan porselen dimana logam akan
memberikan kekuatan sedangkan porselen pada jenis pontik ini memberikan
estetis. Porselen pada bagian labial/bukal dapat dikombinasikan dengan logam
yang bertitik lebur tinggi (lebih tinggi dari temperature porselen). Tidak berubah
warna jika dikombinasikan dengan logam, sangat keras, kuat dan kaku dan
mempunyai pemuaian yang sama dengan porselen. Porselen ditempatkan pada
8

bagian labial/bukal dan daerah yang menghadap linggir, sedangkan logam


ditempatkan pada oklusal dan lingual.Pontik ini dapat digunakan pada jembatan
anterior maupun posterior.
5) Kombinasi Logam dan Akrilik
Pada kombinasi logam dan akrilik ini, akrilik hanya berfungsi sebagai bahan
estetika sedangkan logam yang memberi kekuatan dan dianggap lebih dapat
diterima oleh gingival sehingga permukaan lingual/palatal dan daerah yang
menghadap gusi dibuat dari logam sedangkan daerah labial/bukal dilapisi dengan
akrilik.
b. Berdasarkan hubungan dengan Jaringan Lunak
1) Pontik Sanitary
Pada pontik ini, dasar pontik tidak berkontak sama sekali dengan linggir alveolus
sehingga terdapat ruangan/jarak antara dasar pontik dengan linggir alveolus (1-3
mm), dan permukaan dasar pontik cembung dalam segala aspek. Tujuan
pembuatan dasar pontik ini adalah agar sisa-sisa makanan dapat dengan mudah
dibersihkan. Adanya bentuk pontik yang demikian mengakibatkan kekurangan
dalam hal estetis sehingga hanya diindikasikan untuk pontik posterior rahang
bawah.4

Gambar 7. Pontik Sanitary


2) Pontik Ridge Lap

Bagian labial/bukal dari dasar pontik berkontak dengan linggir alveolus


sedangkan bagian palatal menjauhi linggir ataupun sedikit menyentuh mukosa
dari linggir.Hal ini mengakibatkan estetis pada bagian labial/bukal lebih baik, dan
mudah dibersihkan pada bagian palatal.Walaupun demikian menurut beberapa
hasil penelitian, sisa makanan masih mudah masuk ke bawah dasar pontik dan
sulit untuk dibersihkan. Pontik jenis ini biasanya diindikasikan untuk jembatan
anterior dan posterior.4

Gambar 8. Pontik Ridge Lap


3) Pontik Conical Root

Pontik conical root biasanya diindikasikan untuk jembatan imediat yang


dibuatkan atas permintaan pasien yang sangat mengutamakan estetis dalam
kegiatan sehari-hari. Pontik ini dibuat dengan cara bagian dasar pontik masuk ke
dalam soket gigi yang baru dicabut kira-kira 2 mm. pontik ini dipasang segera
setelah dilakukannya pencabutan dan pada pembuatan ini tidak menggunakan
restorasi provisional.4

Gambar 9.Pontik Conical Root.


3. Konektor (Connector)

Merupakan bagian dari gigi tiruan jembatan yang menghubungkan pontik dengan
retainer, pontik dengan pontik atau retainer dengan retainer sehingga menyatukan bagianbagian tersebut untuk dapat berfungsi sebagai splinting dan penyalur beban kunyah.
Terdapat 2 macam konektor, yakni:
1. Rigid connector
2. Non Rigid Connnector

4. Penyangga (Abutment)

Persyaratan gigi penyangga


Perbandingan mahkota akar.
Merupakan perbandingan antara jarak oklusal gigi ke alveolar crest dan panjang akar
yang tertanam didalam tulang alveolar. Jika terdapat resorpsi alveolar, maka gaya
lateral pada gigi dapat menyebabkan rusaknya ligamen periodontal gigi goyang.
Perbandingan mahkota-akar yg optimal untuk gigi penyangga GTJ adalah 2:3 atau
minimal 1:1.
10

Konfigurasi akar
Gigi penyangga yg memiliki akar dengan dimensi fasiolingual lebih lebar daripada
mesiodistal lebih baik daripada gigi penyangga yg berakar bulat. Sedangkan gigi
posterior yg memiliki bentuk akar yg menyebar/divergen akan mendapatkan
dukungan periodontal lebih baik daripada bentuk akar yg konvergen atau berfusi.

Luas ligamen periodontal.


Perlekatan ligamen periodontal yg baik berawal dari cemento-enamel junction dan
kedalaman sulkusnya adalah 1,8-3mm. Penggantian kehilangan gigi dengan gtj harus
sesuai dgn hukum ante yaitu luas permukaan akar gigi penyangga harus sama atau
lebih besar daripada gigi yg akan digantikan.

Sesuai dgn jumlah, letak dan fungsinya dikenal istilah:


1. Single abutment hanya mempergunakan satu gigi penyangga
2. Double abutment bila memakai dua gigi penyangga
3. Multiple abutment bila memakai lebih dari dua gigi penyangga
11

4.
5.
6.
7.

Terminal abutment
Intermediate/pier abutment
Splinted abutment
Double splinted

Gambar 10.Contoh Gambar Double Abutment dan Terminal Abutment.

Gambar 11. Contoh Gambar Intermediet/ Pier Abutment


2.5. Tipe Jenis-jenis Bridge
a) Gigi tiruan jembatan konvensional
Rigid fixed bridge
Sesuai namanya, GTJ jenis ini secara fixed terhubung satu sama lain, baik
melalui solder masing-masing mahkota maupun sebagai satu kesatuan casting (GTJ
logam tuang).Dengan kata lain, tekanan yang diterima GTJ ini akan terdistribusi
12

secara merata ke semua unit mahkota. GTJ jenis ini sering digunakan untuk GTJ
yang long span, namun jarang digunakan untuk yang short span, karena diperlukan
retensi yang sangat baik dari kedua retainer.Jika gagal risiko lepas sangat tinggi.
Dengan kata lain, dalam pembuatan GTJ jenis ini perlu preparasi gigi abutment
yang cukup ekstensif.
All acrylic GTJ sementara, tekanan kunyah ringan
All metal tidak memerlukan estetis, gigi penyangga pendek
All porcelain ukuran abutment besar dan tekanan kunyah ringan
Kombinasi indikasi luas, kekuatan dan estetis baik
Indikasi Penggantian 1 3 gigi yang saling bersebelahan; Pasien yang punya
tekanan kunyah normal kuat; Gigi penyangga tidak terlalu besar.;
Gigi penyangga derajat goyangnya 1 (normal).
Kontra-Indikasi Pontics/span yang terlalu panjang; Gigi penyangga memiliki
kelainan periodontal atau karies esktensif; Pasien yang masih muda
dengan ruang pulpa besar.
Keuntungan Memiliki indikasi terluas dari semua jenis GTJ; Punya efek
splinting terbaik dan karenanya sering digunakan sebagai perawatan
penunjang periodontal.
Kerugian Jika span terlalu panjang terjadi resiko adanya gaya ungkit/bent/efek
flexural. Hal ini terjadi pada saat makan, bolus makanan berada baik
di gigi penyangga atau berada di tengah span/pontics.

Semi fixed bridge


Pada GTJ jenis ini distribusi tekanan dibagi ke masing-masing unit pontik &
retainer.Disini GTJ dibagi menjadi 2 bagian, yaitu satu retainer dan gabungan
pontik & retainer menggunakan desain dovetail & slot (minor & major retainer
male & female counterpart). Jarang sekali menggunakan mahkota tiruan penuh dan
lebih kepada inlay atau onlay. GTJ ini lebih diindikasikan untuk yang short span di
regio posterior dikarenakan pada GTJ ini tidak perlu preparasi yang ekstensif (sifat
abutmentnya inlay/onlay).Disini bagian yang bersifat non-rigid diletakkan pada
bagian distal unit GTJ dengan tujuan untuk mencegah tertariknya kunci (yang
menghubungkan minor & major retainer) ke arah anterior akibat adanya efek
Anterior Component Force saat terjadi oklusi.Hal ini membuat tekanan oklusal
diberikan pada masing-masing pontik/retainer.
Syarat : Tekanan kunyah normal/ringan dan ukuran abutment normal.
13

Konstruksi :Non-rigid Connector di mesial diastema untuk mencegah tertariknya


key karna gaya ACF.
Indikasi Salah satu abutment miring >20 atau intermediate abutment;
Kehilangan 1 atau 2 gigi dengan salah satu gigi penyangga vital;
Kehilangan 2 gigi dengan gigi penyangga intermediate.
Keuntungan Adanya konektor non-rigid mencegah terjadinya gaya ungkit
sebagaimana yang terjadi pada GTJ rigid-fixed; Preparasi tidak
terlalu ekstensif sehingga pasien yang ruang pulpanya besar tidak
menjadi masalah; Prosedur sementasi bertahap sehingga jika terjadi
kesalahan tidak semua unit harus diulang.
Kerugian Pembuatan relatif sulit, terutama keakuratan kedua unit retainer;
Harganya relatif lebih mahal; Efek splinting kurang; Risiko fraktur
pada kunci tinggi.

Cantilever bridge
GTJ ini merupakan jenis yang paling sederhana karena hanya punya satu
abutment/retainer. Meskipun demikian, apabila proses dan preparasinya dilakukan
dengan baik, desain ini memiliki kesuksesan tertinggi. Bentuk desainnya adalah pontic
secara langsung terhubung/disangga oleh 1 gigi abutment.Hal ini menyebabkan tekanan
yang diterima jaringan periodonsium menjadi lebih besar daripada jenis lainnya sehingga
area akar dari gigi penyangga harus cukup lebar untuk menyerap tekanan
tersebut.Indiaksinya untuk gigi anterior yang memiliki daya gigi ringan seperti I2,
sedangkan untuk C harus menggunakan semi rigid atau rigid-fixed. Di regio posterior
jaranga digunakan karena beban oklusalnya terlalu tinggi dan berisiko terjadi gaya
mengungkit.
Syarat : tekanan kunyah ringan, abutment sehat, dukungan tulang baik.
Keuntungan Desain sederhana, pembuatannya mudah namun hasil maksimal;
Jaringan yang rusak tidak banyak; Estetika paling baik karena
kesederhanaan desainnya serta menggunakan full-porcelain crown.
Indikasi Regio anterior, khususnya gigi I2 yang beban oklusal kecil.
Kontra-Indikasi Regio posterior, kecuali pada P2 bawah yang beban
oklusalnya tidak terlalu besar.

14

Kerugian Punya daya mengungkit yang dapat merusak jaringan periodonsium


(baik tulang maupun mukosa); Terjadi rotasi palato-labial, namun hal
ini jarang terjadi karena adanya keseimbangan jaringan mukosa
bibir, pipi, dan lidah; Indikasi sangat terbatas.

Spring Bridge
Disini pontics teerhubung dengan retainer melalui palatal bar yang panjang dan
fleksibel, dengan kata lain GTJ ini merupakan kombinasi antara retainerp oleh dan
potesa jaringan dimana tekanan mastikasi yang seharusnya diterima oleh pontic akan
diserap oleh mukoperiosteum via palatal bar tersebut. Hal ini sangat menguntungkan
terutama bagi pasien yang memiliki beban oklusal dan daya gigit yang kuat serta
menginginkan estetika tertinggi (full-porcelain). Selain itu, preparasi gigi hanya perlu
satu karena retainer yang akan digunakan hanya 1 serta faktor diastema bukan
menjadi persoalan sebagaimana pada GTJ jenis lainnya. Namun, pembuatannya
sangat sulit dan perlu keakuratan yang tinggi.
Indikasi Dimana estetika merupakan hal utama, GTJ jenis ini menjadi pilihan
terbaik karena letak gigi penyangga tidak tepat disebelah pontics
sehingga tidak terlalu terlihat jika menggunakan logam; Gigi dalam 1
regio tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai gigi penyangga,
baik karena faktor anatomis (akar & periodontal) maupun karena
faktor fisik retainernya; Jika diperlukan adanya diastema (umumnya
faktor estetik).
Kontra-Indikasi Pasien muda yang mahkota klinisnya terlalu pendek sehingga
kurang retentif untuk dijadikan penyangga; Pada gigi di mandibula;
Bentuk palatal tidak memungkinkan, entah karena adanya torus atau
bentuknya yang terlalu dangkal/dalam.Selain alasan fungsional, faktor
estetik juga menjadi masalah; Gigi penyangga tidak memiliki kontak
proksimal, menyebabkan gigi berisiko bergerak.
Keuntungan Mendapat hasil estetika yang sangat baik; Waktu kunjungan relatif
lebih singkat; Desain umumnya disambut baik oleh pasien karena
faktor estetika dan kekuatan yang tahan lama; Tingkat kegagalan
rendah selama preparasi dan pembuatannya benar.
Kerugian Palatal bar dapat membengkok/patah suatu saat jika ada gaya yang
cukup besar seperti trauma atau sering bergerak atau bahkan secara
alami; Meskipun waktu kunjungan singkat, waktu pembuatan cukup
lama dan kompleks serta butuh keahlian.
15

Compound Bridge
Merupakan kombinasi dari 2 jenis GTJ atau lebih dengan tujuan untuk
membuat suatu unit yang dapat saling membagi/mendistribusi tekanan kunyah
diantara pontik ke retainernya. Beberapa jenisnya antara lain: rigid-fixed & semirigid, rigid-fixed & spring, rigid-fixed & cantilever. GTJ ini digunakan karena tidak
mungkin hanya menggunakan 1 jenis/unit GTJ saja pada satu kasus disebabkan oleh
banyaknya gigi yang hilang (flexural effect).Keuntungan utama dari GTJ ini adalah
mampun memecah 1 unit GTJ yang kompleks menjadi beberapa unit fungsional dan
mencegah kegagalan restorasi seperti contoh diatas.
Telecospic Bridge Gigi tiruan jembatan yang umumnya dibuat pada gigi
yang miring (drifting). Preparasi tetap sesuai dengan sumbu giginya tetapi pada
pembuatan coping di sisi mesialnya sejajar dengan sumbu gigi penyangga lain dengan
kombinasi backing-facing metal-porselen.

b) Gigi tiruan jembatan sophisticated


Resin bonded prostheses / adhesive bridge

Retainer hanya berupa pelat metal yang dilekatkan pada bagian lingual/oklusal
dengan sistem etsa tanpa/sedikit preparasi.
Rochette bridge
Maryland bridge
Implant bridge
Removable bridge

Tujuan : menanggulangi masalah sulitnya membersihkan periodonsium di bawah


pontik dan antara gigi penyangga dengan pontik. GTJ ini dapat dilepas namun
kelemahannya tidak tahan lama.
2.6.

Keuntungan dan Kerugian


Keuntungan dari pemakaian gigi tiruan jembatan adalah sebagai berikut.
1. Karena dilekatkan pada gigi asli maka tidak mudah terlepas atau tertelan.
2. Dirasakan sebagai gigi sendiri oleh pasien.
3. Tidak mempunyai klamer yang dapat menyebabkan keausan pada permukaan email
gigi, karena tiap kali dilepas dan dipasang kembali di dalam mulut.
4. Dapat mempunyai efek splint yang melindungi gigi terhadap stress.
5. Menyebarkan tekanan fungsi ke seluruh gigi sehingga menguntungkan jaringan
pendukungnya.
Namun, gigi tiruan juga memiliki beberapa kerugian dalam pemakaiannya, yakni:
16

a. Kerusakan gigi dan pulpa


Dalam preparasi gigi penyangga untuk gigi tiruan sebagian yang tepat
mungkin diperlukan pengambilan jaringan gigi yang sehat.Kerusakan ini meskipun
diindikasikan namun sebaiknya tidak diabaikan.Masalahnya tidak terlalu serius jika gigi
yang digunakan untuk mendukung jembatan yang telah direstorasi atau dimahkotai.
Jika sebuah gigi dipreparasi, dapat berbahaya terhadap pulpa meskipun
pendinginan bur telah dilakukan.2 Ada beberapa perlakuan tambahan terhadap pulpa saat
gigi dipreparasi untuk jembatan. Beberapa desain preparasi untuk dua atau lebih gigi
yang dibuat paralel terhadap satu sama lainnya dan jika giginya berbeda tipis dengan
kesejajaran posisi, usaha untuk preparasi paralel bisa melibatkan pengurangan lebih
banyak dalam satu bagian gigi daripada jika preparasi tersebut untuk mahkota dan sangat
membahayakan pulpa.
Dengan insiden karies yang terjadi pada banyak negara dan pendekatan
yang konservatif terhadap restorasi kedokteran gigi, situasi meningkat lebih lazim dalam
hal gigi penjangkar untuk jembatan yang tidak direstorasi atau yang hanya sedikit
direstorasi.
b. Karies sekunder
Gigi tiruan jembatan dapat membawa resiko kebocoran mikro dan karies.2 Resiko
ini secara signifikan meningkat pada pasien dengan insidensi karies yang tinggi.
2.6. Hal-hal yang Harus Diperhatikan
Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan gigi tiruan jembatan adalah sebagai berikut.
1. Oklusi gigi
Bila pasien kehilangan satu atau beberapa gigi dalam satu area di dalam rongga
mulut, bila tidak dibuatkan fixed bridge, maka gigi-gigi yang ada di antara gigi yang
hilang tersebut akan bergerak ke daerah yang kosong, sedangkan gigi lawannya
(oklusinya) akan cenderung memanjang karena tidak ada gigi yang menopangnya pada
saat oklusi. Bergeraknya gigi kedaerah yang kosong dinamakan shifting/drifting,
sedangkan gigi yang memanjang dinamakan elongation/extrusion.

Gambar 12.Gigi Bergerak ke Daerah yang Kosong (Shifting/drifting.)

17

Gambar 13.Gigi yang Memanjang (elongation/extrusion).

Bila kondisi ini berlanjut, maka akan menyebabkan :


a. Sakit pada rahang (terutama pada TMJ/Temporo Mandibular Joint)
b. Retensi sisa-sisa makanan diantara gigi-gigi (food Impaction) dan dapat
menyebabkan penyakit periodontal .
c. Berakhir dengan pencabutan pada gigi-gigi dan juga gigi lawannya. Beban
fungsional pada oklusal pontik terutama gigi posterior dapat dikurangi dengan
mempersempit lebar buko-lingual atau buko-palatal untuk mengurangi beban
oklusi yang dapat merusak gigi tiruan pada pasien-pasien tertentu.
2. Oral hygiene
3. Jaringan periodontal
Hukum Ante menyatakan bahwa daerah membran periodontal pada akar-akar dari
gigi abutment harus sekurang-kurangnya sama dengan daerah membran periodontal
yang ada pada gigi-gigi yang akan diganti.
4.

Posisi gigi dan kesejajaran gigi


Abutment yang melibatkan gigi anterior hanya gigi gigi insisivus biasanya mempunyai
inklinasi labial yang serupa dan tidak terlalu sulit untuk menyusun kesejajarannya.
Apabila abutment melibatkan gigi anterior seperti caninus dan gigi posterior seperti
premolar kedua atas supaya diperoleh kesejajaran, kaninus harus dipreparasi pada arah
yang sama seperti premolar (D.N Allan & P.C foreman. 1994:101).

5.

Jumlah dan lokasi kehilangan gigi

6.

Kegoyangan gigi

18

7.

Keadaan kesehatan, kedudukan, kondisi dan tempatnya dirahang dari gigi posterior
atau gigi anterior yang masih ada yang akan dipakai sebagai gigi penyangga.

8.

Frekwensi karies

9. Discoloration
10. Jumlah gigi yang akan diganti.
11. Umur penderita.
12 Indeks karies.
13 Keadaan atau posisi gigi lawan (antagonis).

19

BAB III
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama
No. rekam medis
Jenis kelamin
Tempat tanggal lahir
Umur
Bangsa
Alamat
Pekerjaan
Agama

: Umi Qulsum
: 4396
: Perempuan
: Lampung, 29 Agustus 1994
: 20 tahun
: Indonesia
: Jln.Kaligawe KM 4, Semarang.
: Mahasiswa
: Islam

INFORMASI MEDIS
Golongan darah
Penyakit jantung
Penyakit diabetes
Haemofilia
Hepatitis
Penyakit lainnya
Alergi terhadap obat
Alergi terhadap makanan

: (tidak diketahui)
:Diketahui tidak ada kelainan
:Diketahui tidak ada kelainan
:Diketahui tidak ada kelainan
:Diketahui tidak ada kelainan
:Diketahui tidak ada kelainan
:Diketahui tidak ada kelainan
:Diketahui tidak ada kelainan

PEMERIKSAAN SUBYEKTIF
Motivasi

: Pasien ingin dibuatkan gigi tiruan untuk menggantikan giginya


yang telah dicabut.

20

Chief Complaint

: Pasien datang dengan keluhan terdapat gigi atas kanan yang


hilang setelah dicabut beberapa bulan yang lalu. Pasien ingin
membuat gigi tiruan supaya mudah mengunyah makanan.

Present Illness

: Gigi yang dilalukan pencabutan karena terdapat lubang yang


besar dan sakit tiba-tiba dan terkadang mengeluarkan darah.

Past Medical History : Ditemukan tidak ada kelainan


Family History

: Tidak ditemukan penyakit sistemik pada keluarga

PEMERIKSAAN OBYEKTIF
General
Jasmani
Rohani

: sehat
: komunikatif dan kooperatif

Pemeriksaan Fisik
Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 80 X/menit

Berat badan

: 55 Kg

Respiration rate

: 24 X/menit

Temperatur

: TDL

Tinggi badan

: 150 cm

Personal history
: tidak ada
PEMERIKSAAN KLINIS EKSTRAORAL
Profil muka pasien : Oval
Bentuk wajah
: Cembung
Mata
: Normal
Bibir
: Normal
Telinga
: Normal
Warna rambut
: Hitam
Warna mata
: Hitam
Kelenjar limfe
Kanan
: Normal
Kiri
: Normal
Sendi
: Normal
Kebiasaan buruk
: Tidak Ada
PEMERIKSAAN KLINIS INTRAORAL
a.

Missing pada gigi 16


21

b.

Karies superfisial kelas 1 pada gigi 18,17, 38,37,46,48

c.

Terdapat tambalan resin komposit pada gigi 46

ODONTOGRAM
18

17

16

15

14

13

12

11 21

22

48

47

46

45

44

43

42

41

32

31

23

33

24

25

34

35

26

36

27

37

28

38

FOTO KLINIS

FOTO RONSENT

STUDI MODEL

22

RENCANA PERAWATAN
Gigi tiruan cekat PFM pada 15,16 dan 17 dengan pontik sanitary

23

BAB IV
RENCANA PERAWATAN
Kunjungan I

Mouth preparation sebelum dilakukan pembuatan GTC, yang berupa pembersihan


karang (scaling).

Evaluasi foto rontgen untuk mengetahui kondisi gigi abutment dan jaringan
periodontal.

Pencetakan rahang atas dan bawah untuk study model dengan menggunakan sendok
cetak no. 1 dengan menggunakan alginat dan teknik mukostatik.

Kunjungan II

Preparasi gigi 15 dan 17 untuk retainer.


o Reduksi oklusal. Pengurangan bagian oklusal sebesar 1,5 mm pada cusp
fungsional dan 1 mm pada cusp non fungsional. Pengurangan dilakukan
dengan menggunakan round-end tappered diamond.

o Reduksi bukal / lingual. Pengurangan bagian ini dilakukan dengan


menggunakan torpedo diamond.

24

o Reduksi proksimal. Pada awal pengurangan bagian proksimal, dilakukan


pengurangan dengan menggunakan short needle diamond. Jika sudah
didapatkan ruang yang cukup, maka selanjutnya digunakan torpedo diamond,
yang akan membentuk fiinsh line berupa chamfer.
o Reduksi axial. Semua permukaan axial dihaluskan dengan torpedo carbide
finishing, yang akan membuat finish line berupa chamfer. Perlu dilakukan
penghalusan sudut-sudut yang tajam pada permukaan bukal atau lingual.
Tahap terakhir adalah pembuatan seating groove pada tonjolan yang paling
besar (bukal pada gigi RB, lingual pada gigi RA). Pembuatan seating groove
akan membantu mencegah kemungkinan rotasi selama sementasi, dan akan
membantu memandu casting pada tempatnya.

Pencetakan model kerja dengan menggunakan sendok cetak no. 2 dengan bahan
elastomer dan teknik mukostatik. Hasil cetakan kemudian diisi dengan stone gips.

Model kerja yang telah dicetak kemudian dikirim ke laboratorium.

Pembuatan mahkota sementara. Cara pembuatan:


o
o
o
o

Cetak gigi sebelum preparasi (I)


Preparasi gigi abutment
Cetak gigi sesudah preparasi (II)
Isi cetakan (I) dengan self curing acrylic
25

o Masukkan cetakan (II) ke hasil cetakan (I)


o Fiksasi sampai cetakan mengeras
o Dilakukan pengurangan pada mahkota sementara dan pasang provisoris.
Kunjungan III
Try in coping dari laboratorium. Disesuaikan sesuai gigi abutment yang telah
dipreparasi, bagian servikal retainer harus masuk ke subgingiva dan pontik sesuai dengan
desain yang diinginkan.
Kunjungan IV
Try in atau pengepasan GTC dengan sementasi menggunakan Freegenol (GC)
selama 1 minggu. Freegenol merupakan temporary Luting Cement Luting bebas eugenol
untuk mahkota dan bridge sementara. Keuntungan freegenol antara lain:
1. Tidak mengiritasi jaringan mulut, rasa dapat diterima
2. Tidak mengganggu polimerisasi bahan berdasar resin
3. Setting time pendek
4. Konsistensi bahan dapat diatur
5. Mudah dalam pelepasan mahkota dan bridge sementara
Yang harus diperhatikan adalah kontak proksimal antara GTC dengan gigi sebelahnya,
pemeriksaan tepi GTC dimana tepi GTC tidak boleh menekan gingiva, pemeriksaan kontak
oklusal. Diperhatikan juga retensi dan stabilisasi GTC.
Kunjungan V
Satu minggu setelah pengepasan kemudian dilakukan insersi GTC dengan
sementasi menggunakan GIC tipe I. Sebelumnya dilakukan pemeriksaan subjektif.,
ditanyakan apakah ada keluhan dari pasien setelah GTC dipasang dan dipakai.
Pemeriksaan objektif dilihat dari keadaan jaringan lunak di sekitar daerah GTC apakah
ada peradangan atau tidak, periksa retensi dan oklusi pasien. Tahap sementasi GTC:
a.
Bridge dibersihkan dan disterilkan lalu dikeringkan, gigi yang akan
dipasangi bridge juga dikeringkan.
b.
Semen diaduk sesuai konsistensinya dan dioleskan pada gigi yang
dipreparasi dan bagian dalam bridge.
c.
Lakukan pemompaan pada GTC sebanyak tiga kali untuk menghilangkan
gelembung udara yang terjebak pada adonan semen.
d.
Bridge dipasang dengan tekanan maksimal, gulungan kapas diletakkan
diatas bridge dan pasien disuruh menggigit beberapa menit.
e.
Pemeriksaan oklusi dan estetis.

26

f.
Instruksi pada pasien untuk menjaga kebersihan mulutnya dan diminta
untuk tidak makan atau menggigit makanan yang keras dahulu. Bila ada keluhan rasa
sakit segera dikontrol.

Kunjungan VI
Kontrol : dilakukan pemeriksaan subyektif dan pemeriksaan obyektif
a. Pemeriksaan subyektif :
Ditanyakan apakah ada keluhan dari pasien setelah GTC dipasang dan dipakai.
b. Pemeriksaan obyektif :
Dilihat keadaan jaringan lunak di sekitar daerah GTC apakah ada peradangan atau
tidak, diperiksa retensi dan oklusinya.

SKEMA TAHAP RENCANA PERAWATAN


27

TAHAP KLINIK
Kunjungan I

Anamnesa, indikasi, pemeriksaan subyektif & obyektif


Evaluasi rontgen panoramik & periapikal
Pencetakan study model dengan alginat

Kunjungan II

Preparasi gigi 15 dan 17


Pencetakan model kerja dengan double impression
Pembuatan mahkota sementara, semen dengan freegenol

Kunjungan III

Try in coping GTC 3 unit

Kunjungan IV

Try in GTC 3 unit, semen dengan freegenol,

Kunjungan V
Kunjungan VI

selama 1 minggu
Sementasi permanen dengan GIC tipe I (luting)
Kontrol, GTC 3 unit PFM

TAHAP LABORATORIS
Pembuatan coping dan malam GTC 3 unit
Pembuatan GTC 3 unit PFM

BAB V
28

PROGNOSA

Prognosa dari pembuatan gigi tiruan ini diperkirakan baik, dengan mempertimbangkan :
1) Oral hygiene pasien baik
2) Jaringan pendukung sehat
3) Kesehatan umum pasien baik
4) Pasien kooperatif dan komunikatif

LEMBAR NILAI TAHAPAN PEKERJAAN


Gigi Tiruan Cekat
29

Nama Mahasiswa
NIM
Tanggal

: Yoeliani Budisidharta
: 112090104
Tahapan

Nilai

Paraf
Dosen

Paraf
DGM

Anamnesa, pemeriksaan intral oral dan


ekstraoral
2. Indikasi dan persetujuan pembimbing
(diskusi dengan pembimbing)
3. Pencetakan pasien untuk digunakan
sebagai studi model
4. Pembuatan laporan terkait dengan
desain, prosedur perawatan, dan diskusi
dengan pembimbing
5. Melakukan simulasi preparasi pada
model gigi
6. Persetujuan pembimbing atas rencana
perawatan,
kesiapan
teori
dan
keberhasilan simulasi preparasi pada
model gigi
7. Pembuatan contoh gigi tiruan cekat
menggunakan model malam, dan acc
pembimbing dalam bentuk anatomi gigi
dan bentuk gigi tiruan cekat
8. Melakukan pencetakan untuk membuat
Bridge sementara ( Provisory bridge)
9. Melakukan anestesi infiltrasi pada gigi
disekitar abutment dan meretraksi
gingival bebas
10. Melakukan preparasi gigi sesuai
langkah- langkahnya
11. Melakukan pencetakan dengan teknik
double impression dan pembuatan model
kerja untuk pembuatan coping logam di
dental laboratorium
12. Melakukan
sementasi
mahkota
sementara
pada
gigi
abutment
menggunakan semen sementara
13. Try in coping logam pada gigi abutment
1.

14. Pengiriman kembali coping ke dental


laboratorium untuk pembuatan facing
porcelain
15. Try in GTC dengan menggunakan
30

semen sementara
16. Pemeriksaan pasien berupa anamnesis,
pemeriksaan intra oral dan ekstra oral
pada saat evaluasi GTC
17. Pelepasan GTC dengan menggunakan
crown remover dan pembersihan semen
sementara pada GTC atau gigi abutment
18. Retraksi
gingival
bebas
dengan
menggunakan benang retractor atau
kapas yang dibasahi adrenalin, sementasi
GTC
secara
permanen
dengan
menggunakan GIC tipe Luting Semen
19. Kontrol selama satu minggu
TOTAL PENILAIAN

Rata-rata nilai = total nilai =


19

=
19

31