Anda di halaman 1dari 41

TUGAS ASUHAN KEPERAWATAN KOLESISTITIS DAN

KOLELITIASIS

TUGAS

oleh
Kelompok 5

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2014

TUGAS ASUHAN KEPERAWATAN KOLESISTITIS DAN


KOLELITIASIS
TUGAS

diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Klinik III A


dosen pengampu Ns. Wantiyah, M.Kep.

oleh
Kelompok 3
Amadea Yollanda
122310101009
Rizky Meidwigita Paradis 122310101010
Erna Dwi Putri Cahyani
122310101012
Listya Pratiwi
122310101017
Helda Puspitasari
122310101018
Alifia Rizqi Pratama D.
122310101025
Sungging Pandu Wijaya
122310101026
Rasita Siam Windira 122310101030
Sintara Ekayasa
122310101036
Rini Novitasari
122310101040
Sofiatul Mafuah
122310101042
Dwi Nida Dzusturia
122310101045
Myta Kirana Dewi
122310101056
Firman Adi Wijaya
122310101059
M. Tutus Prasetyo
122310101071

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS JEMBER
2014
PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan


karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Tugas Asuhan Keperawatan Kolesistitis Dan Kolelitiasis.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah KK III A.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai
pihak. Oleh karena itu, kami menyampaikan terima kasih kepada:
1. Ns. Wantiyah, M.Kep. selaku dosen mata kuliah KK III A;
2. Rekan kerja kelompok satu pada mata kuliah KK III A;
3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Kami juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak
demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah imi dapat berguna
dan bermanfaat dengan baik khususnya dalam pembelajaran KK III A.

Jember, April 2014


Penulis

KOLESISTITIS KOLELITIASIS
Tugas KK 3A (14 April 2014)
Kasus 1:
Seorang pasien perempuan usia 45 tahun dibawa ke UGD karena
mengalami nyeri hebat pada perut sebelah kanan atas. Nyeri kadang
dirasakan pada daerah baru. Pasien juga merasakan demam sejak 1
hari yang lalu. Berdasarkan berbagai pemeriksaan yang dilakukan
pasien didiagnosa kolesistitis.
Jawaban:
1. Pengertian Kolisistitis Dan Jenis Kolesistitis Pasien
Kolesistitis yang dialami oleh pasien tersebut adalah kolesistitis
akut. Kolesistitis merujuk pada inflamasi akut dari kandung mepedu.
Ini biasanya mengiritasi lapisan kandung mepedu. Ini dapat menjadi
padat dalam duktus sistik yang menyebabkan obstruksi dan inflamasi
dinding kandung empedu, mencetus infeksi. Kandung empedu
terlatak di bawah lobus kanan hepar. Fungsi utamanya adalah
mengkonsentrasikan dan menyimpan empedu yang diproduksi poleh
hepar.

Empedu

diperlukan

untuk

mengemulsikan

lemak-lemak.

Kandung empedu berkontraksi dan melepaskan empedu ke dalam


duodenum bila makanan berlemak masuk ke usus. Penyakit kandung
empedu adalah akut atau kronis. Bentuk di karakteristikkan dengan
nyeri hebat dari awitan tiba-tiba.
Kolesistisis akut merupakan inflamasi akut pada kandung
empedu, faktor presipitasi yang paling sering memicu keadaan ini
adalah obstruksi batu empedu. Sepuluh persen kasus kolesistisis akut
tanpa obstruksi batu empedu biasanya ditemukan pada pasien-pasien
yang sakit berat seperti misalnya keadaan pascabedah, trauma
beray, luka bakar berat, kegagalan organ multisistem, sepsis,

hiperalimentasi yang lama atau keadaan postpartum. Gejalanya


meliputi nyeri abdomen kuadran kanan atas atau nyeri epigastrium,
demam yang ringan, anoreksia, takikardia, daforesis dan nause serta
vomitus. Gejala ikterus menunjukkan obstruksi duktus koledokus.
Dikerjakan oleh : Amadea Yollanda (122310101009)
Rini Novitasari (122310101040)
Daftar pustaka
Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal
Bedah Vol.3. Jakarta: EGC
Mitchel, Richard N. 2008. Buku saku dasar keperawatan
patologis Robbins & Cotran Ed.7. Jakarta: EGC
2. Etiologi Kolesistitis
Penyebab terjadinya kolesistitis adalah statis cairan empedu,
infeksi kuman dan iskemia dinding kandung empedu. Bagaimana
stasis di duktus sistitis dapat menyebabkan kolesistitis dalam belum
jelas. Banyak faktor yang berpengaruh seperti kepekatan cairan
empedu, kolesterol, lisolesitin dan prostaglandin yang merusak
lapisan mukosa dinding kandung empedu diikuti oleh reaksi inflamasi
dan supurasi. Selain factor-faktor di atas kolesistitis dapat terjadi juga
pada pasien yang dirawat cukup lama dan mendapat nutrisi secara
parentesal pada sumbatan karena keganasan kandung empedu, batu
disaluran emepedu atau merupakan salah satu komplikasi penyakit
lain seperti demam tipoid dan IOM (Prof. dr. H.M. Sjaifaoellah Noer).
Menurut (Ignatavicius, 2006) kasus kolelitiasis terjadi lebih
banyak pada wanita dibandingkan pria karena wanita memiliki
beberapa faktor resiko, diantaranya kehamilan, obesitas, pemakaian
KB dan genetik. Tampaknya ada beberapa hal yang menyebabkan
keluarga menjadi faktor terhadap perkembangan kolelitiasis, tapi ini
mungkin terkait dengan kebiasaan makan keluarga (asupan kolesterol
berlebihan dalam makanan) dan gaya hidup menetap di beberapa

keluarga. Batu empedu terlihat lebih sering pada orang obesitas,


mungkin sebagai akibat gangguan metabolisme lemak. Kehamilan
cenderung memperburuk pembentukan batu empedu. Kehamilan dan
obat-obatan seperti pil estrogen dan pil KB yang mengubah kadar
hormon dan menunda kontraksi otot kandung empedu, menyebabkan
tingkat penurunan mengosongkan empedu. Sekitar 95% penderita
peradangan kandung empedu akut, memiliki batu empedu.Kadang
suatu infeksi bakteri menyebabkan terjadinya peradangan. Kolesistitis
akut tanpabatu merupakan penyakit yang serius dan cenderung
timbul setelah terjadinya:
1.
2.
3.
4.

cedera;
pembedahan;
luka bakar;
sepsis (infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh) biasanya
disebabkan oleh bakteri E. Coli, salmonella typhosa, cacing

askaris, atau karena pengaruh enzimenzim pankreas;


5. penyakit-penyakit yang parah (terutama penderita

yang

menerima makanan lewat infus dalam jangka waktu yang


lama);
Sebelum pasien merasakan nyeri yang luar biasa secara tibatiba di perut bagian atas, penderita biasanya tidak menunjukan
tanda-tanda penyakit kandung empedu. Kolesistitis kronis terjadi
akibat serangan berulang dari kolesistitis akut, yang menyebabkan
terjadinya

penebalan

dinding

kandung

empedu

dan

penciutan

kandung empedu. Pada akhirnya kandung empedu tidak mampu


menampung empedu. Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita
dan angka kejadiannya meningkat pada usia diatas 40 tahun. Faktor
resiko terjadinya kolesistitis kronis adalah adanya riwayat kolesistitis
akut sebelumnya.
Dikerjakan oleh : Amadea Yollanda (122310101009)
Rini Novitasari (122310101040)

Daftar Pustaka
Brunner & Suddart.2001. Keperawatan Medikal Bedah Vol 2.Jakarta :
EGC
Ignatavicius, Donna D. & Workman M.L. 2006. Medical-Surgical
Nursing, Critical Thinking

for Collaborative Care. St. Louis:

Elsevier Saunders.
Noer, Sjaifoellah. 1996. Ilmu Penyakit Dalam. HKUI: Jakarta

3. Tanda dan gejala kolesistitis


Keluhan yang agak khas untuk serangan kolesistitis akut adalah
kolik perut sebelah kanan atau atas epigastrium dan nyeri tekan serta
kenaikan suhu tubuh. Kadang kadang rasa sakit menjalar ke pundak
atau skapula kanan dan dapat berlangsung sampai 60 menit tanpa
reda. Berat ringannya keluhan sangat bervariasi tergantung dari
adanya kalainan inflamasi yang ringan sampai dengan ganggren atau
perforasi kandung empedu.
1. Nyeri perut bagian kanan atas
2. Mual,muntah dan perut terasa kembung.
3. Suhu badan tinggi
4. Ikterus (apabila batu empedu menghalangi saluran empedu)
5. Rasa sakit menjalar ke pundak / scapula kanan
6. Leukostesis
7. Koledokolitiasis (tidak menimbulkan gejala pada fase tenang)
8. Nyeri 30-60 menit pasca krandial kuadran kanan atas.
9. Teraba masa kandung Empedu.
10.
Kemungkinan peninggalan serum transaminase dan
fostatase alkali.
11.
Perubahan warna urine dan feses.
12.
Terjadi otolisis serta edema.
13.
Terganggunya suplay vaskuler.
Dikerjakan oleh : Amadea Yollanda (122310101009)
Rini Novitasari (122310101040)

Daftar Pustaka
Noer, Sjaifoellah. 1996. Ilmu Penyakit Dalam. HKUI: Jakarta
Smeltzer, Suzanne c, dkk. 2001. Keperawatan medical bedah. EGC:
Jakarta

4. Patofisiologi Kolesistitis
Faktor yang mempengaruhi timbulnya serangan kolesistitis akut
adalah

stasis cairan empedu, infeksi kuman dan iskemia dinding

kandung empedu.

Penyebab utama kolesistitis akut adalah batu

kandung empedu (90%) sedangkan

sebagian kecil kasus (10%)

timbul tanpa adanya batu empedu (kolesistitis akut

akalkulus)

(Huffman, et al dalam Dian, 2011). Batu biasanya menyumbat duktus


sistikus yang menyebabkan stasis cairan empedu dan terjadi distensi
kandung empedu. Distensi kandung empedu menyebabkan aliran
darah dan limfe menjadi terganggu sehingga terjadi iskemia

dan

nekrosis dinding kandung empedu (Gambar 2.1). Walaupun demikian,


mekanisme

pasti

menyebabkan

bagaimana

stasis

di

duktus

dapat

kolesistitis akut, sampai saat ini masih belum jelas.

Diperkirakan banyak faktor

yang dapat mencetuskan respon

peradangan pada kolesistitis, seperti kepekatan


kolesterol,

sistikus

lisolesitin

dan

prostaglandin

yang

cairan empedu,
merusak

lapisan

mukosa dinding kandung empedu yang diikuti oleh reaksi inflamasi


dan supurasi. (Donovan dalam Dian, 2011).
Peradangan yang disebabkan oleh bakteri mungkin berperan
pada 50-85% pasien kolesistitis akut. Organisme yang paling sering
ditemukan pada pasien

dengan kolesistitis adalah E. Coli, spesies

Klebsiella, Streptococcus grup D, spesies Staphylococcus dan spesies


Clostridium. Endotoxin yang dihasilkan oleh

organisme-organisme

tersebut dapat menyebabkan hilangnya lapisan mukosa, perdarahan,


perlekatan

fibrin,

yang

akhirnya

menyebabkan

iskemia

dan

selanjutnya nekrosis dinding kandung empedu (Cullen, et al dalam


Dian, 2011).
Kolesistitis

akut

Peningkatan resiko

akalkulus

terdapat

pada

10

kasus.

terhadap perkembangan kolesistitis akalkulus

terutama berhubungan dengan trauma atau luka bakar yang serius,


dengan periode pascapersalinan yang

menyertai persalinan yang

memanjang dan dengan operasi pembedahan besar

nonbiliaris

lainnya dalam periode pascaoperatif. Faktor lain yang mempercepat


termasuk

vaskulitis,

mengobstruksi,

adenokarsinoma

kandung

empedu

yang

diabetes mellitus, torsi kandung empedu, infeksi

bakteri kandung empedu

(misalnya Leptospira, Streptococcus,

Salmonella atau Vibrio cholera) dan infeksi parasit kandung empedu.


Kolesistitis akalkulus mungkin juga tampak bersama dengan berbagai
penyakit sistemik lainnya (sarkoidosis, penyakit kardiovaskuler, sifilis,
tuberkulosis, aktinomises) (Isselbacher, K.J, et al, 2009).
Selain itu, dapat timbul juga pada pasien yang dirawat cukup
lama yang mendapat nutrisi secara parenteral. Hal ini dapat terjadi
karena

kandung

empedu

tidak

mendapatkan

kolesistokinin (CCK) yang berfungsi untuk

stimulus

dari

mengosongkan kantong

empedu, sehingga terjadi statis dari cairan empedu. (Sitzmann, et al


dalam Dian, 2011).

Dikerjakan oleh : Amadea Yollanda (122310101009)


Rini Novitasari (122310101040)
Daftar Pustaka
Dian,

Syahrul.

2011.

Kolesistitis

Akut.

http://www.scribd.com/doc/61115589/

Diakses

melalui

Kolesistitis-Akut

[ 13 April 2014]

Tixson,

Rorica.

2011.

Kolesistitis.

Diakses

melalui

http://www.scribd.com/doc/80911328/ kolesistitis [13 April


2014]
Utama, Herry. 2012. Kolelitiasis, Kolesistitis, dan Kolestasis.
Diakses

melalui

http://www.slideshare.net/yudhasetya01/kolelitiasiskolesta
siskolesistitis. [13April2014]
5. Pemeriksaan Yang Diperlukan

dan Hasil Pemeriksaan

Kolesistitis
Test diagnostik
Pemeriksaan untuk mengetahui adanya radang pada kandung
empedu atau kolesistitis adalah :
1.
Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
Sebaiknya dilakukan secara rutin dan sangat bermanfaat untuk
memperlihatkan besar, bentuk, penebalan dinding kandung empedu,
batu dan saluran empedu ekstra hepatic. Nilai kepekatan dan
ketetpatan USG mencapai 90 95%.
2.
Skintigrafi saluran empedu
Mempergunakan zat radioaktif HIDA atau ggn TC6 Iminodiaretic
acid mempunyai niai sedikit lebih rendah dari USG tapi teknik ini tidak
mudah.

Terlihatnya

gambaran duktus

koledokus

tenpa

adanya

gambaran kandung empedu pada pemeriksaan kolesistografi oral


atau scintigrafi sangat menyokong kolesistitis akut.
3.
Pemeriksaan CT scan abdomen.
Kurang
sensitive
dan
biayanya

mahal

tapi

mampu

memperlihatkan adanya abses perikolestik yang masih kecil yang


mungkin tidak terlihat pada pemeriksaan USG.
Dikerjakan oleh : M. Tutus Prasetyo (122310101071)
Daftar Pustaka

10

Dian,

Syahrul.

2011.

Kolesistitis

Akut.

http://www.scribd.com/doc/61115589/

Diakses

melalui

Kolesistitis-Akut

[ 13 April 2014]
6. Penatalaksaan Medis
a)
b)
c)
d)

Istirahat yang cukup


Intervensi bedah harus ditunda sampai gejala akut mereda.
Berikan diit makanan cair rendah lemak dan karbohidrat
Pemberian buah yang masak, nasi / ketela, daging tanpa lemak,
kentang yang dilumatkan, sayuran yang tidak membentuk gas,

roti,kopi atau teh.


e) Hindari telur, krim, daging babi, gorengan, keju dan bububumbu berlemak.
2.

Farmakoterapi
a) Diberikan asam ursodeoksikolat (uradafalk) dan kerodeoksikolat
(chenodical,

chenofalk

digunakan

untuk

melarutkan

batu

empedu radiolusen yang berukuran kecil terutama terbentuk


dari kolesterol
b) Mekanisme kerja ursodeoksikolat dan konodeoksikolat adalah
menghambat sintesis kolesterol dalam hati dan sekresinya
sehingga terjadi desaturasi getah empedu
c) Diperlukan terapi selama 6 hingga 12 bulan untuk melarutkan
batu empedu dan selama terapi keadaan pasien dipantau terus.
d) Dosis yang efektif bergantung pada berat pasien, cara terapi ini
umumnya dilakukan pada pasien yang menolak pembedahan
atau

yang

dianggap

terlalu

beresiko

untuk

menjalani

pembedahan.
e) Obat-obatan tertentu lainnya seperti estrogen, kontrasepsi oral,
klofibrat dan kolesterol makanan dapat menimbulkan pengaruh
merugikan terhadap cara terapi ini.
Dikerjakan oleh : M. Tutus Prasetyo (122310101071)
Daftar Pustaka

11

Dian,

Syahrul.

2011.

Kolesistitis

Akut.

http://www.scribd.com/doc/61115589/

Diakses

melalui

Kolesistitis-Akut

[ 13 April 2014]

7.Asuhan Keperawatan Kolesistitis


Pengkajian
1. Anamnesa
a. Identitas Klien: Nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin,umur,
pekerjaan, nama ayah/ibu, pekerjaan, alamat, agama, suku
bangsa, pendidikan terakhir
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama:
Nyeri hebat pada perut sisi kanan atas, nyeri yang
berpindah-pindah menjalar kadang sampai pundak, mual,
muntah, perut terasa kembung, kulit berwarna kuning
(apabila batu empedu menghalangi saluran empedu), suhu
badan tinggi (demam) sejak 1 hari yang lalu.
2) Riwayat kesehatan sekarang:
Dapatkan data mengenai kronologis kejadian sehingga
muncul

keluhan

utama

yang

menyebabkan

pasien

datang ke tempat pelayanan kesehatan.


a) Bagaimana gejalanya? (mendadak, perlahan-lahan, terusmenerus, serangan hilang timbul, berubah-ubah dalam
waktu tertentu).
b) Tempat
dan
sifat

gejala

(menjalar,

menyebar,
12

berpindah-pindah, atau menetap).


c) Berat
ringannya
keluhan
dan

perkembangannya

(menetap, cenderung bertambah, atau berkurang).


d) Berapa lama keluhan berlangsung?
e) Kapan dimulainya?
f) Upaya apa saja yang telah dilakukan untuk meringankan.
3) Riwayat kesehatan dahulu: Dapatkan data mengenai
a) Riwayat pemakaian obat-obatan: jenis obat, dosis yang
dikonsumsi, cara pemakaian dan lain-lain.
b) Pengalaman masa lalu tentang kesehatan: riwayat sakit
dengan gejala yang sama, pengalaman tindakan bedah
(operasi), pengalaman kecelakaan dan lain-lain.
4) Riwayat kesehatan keluarga: Dapatkan data mengenai
penyakit menular atau menurun yang dimiliki keluarga
seperti TBC, Diabetes, Hipertensi dan lain-lain.
a) Apakah terdapat keluarga yang mengalami keluhan yang
sama seperti pasien?
5) Riwayat kesehatan lingkungan: Dapatkan data mengenai
lingkungan rumah tempat tinggal pasien sekarang.
a) Apakah sedang terjadi wabah penyakit di lingkungan
rumah tempat tinggal pasien?
b) Apakah merupakan daerah industri (rawan polusi)?
c) Lingkungan yang kurang sehat?
d) Kondisi rumah (ventilasi, jendela, kamar mandi/MCK)
yang memadai?
6) Riwayat psikososial
Dapatkan data mengenai masalah-masalah psikologis yang
dialami pasien.
dengan

Seperti

lingkungan

beban

pekerjaan,

sosial (keluarga dan

hubungan

masyarakat),

segalah hal yang menyebabkan stress psikis pada pasien


yang berhubungan dengan kontak sosial
2. Data Dasar
a. Aktivitas dan istirahat:
-

Subyektif : kelemahan

Obyektif : kelelahan, gelisah

b. Sirkulasi :

13

Obyektif : Takikardia, Diaphoresis

c. Eliminasi :
-

Subektif : Perubahan pada warna urine dan feces

Obyektif : Distensi abdomen, teraba massa di abdomen


atas/quadran kanan atas, urine pekat

d. Makan / minum (cairan) :


-

Subyektif: Anoreksia, Nausea/vomit, tidak ada toleransi


makanan lunak dan mengandung gas, regurgitasi ulang,
eruption, flatunasi, rasa seperti terbakar pada epigastrik
(heart burn), ada peristaltik, kembung dan dyspepsia.

Obyektif : Kegemukan, kehilangan berat badan (kurus).

e. Nyeri/ Kenyamanan :
-

Subyektif : Nyeri abdomen menjalar ke punggung sampai ke


bahu, nyeri apigastrium setelah makan, nyeri tiba-tiba dan
mencapai puncak setelah 30 menit.

Obyektif : Nyeri lepas, otot tegang atau kaku biala kuadran


kanan atas ditekan; tanda murphy positif

f. Respirasi :
-

Obyektif : Pernafasan panjang, pernafasan pendek, nafas


dangkal, rasa tak nyaman.

g. Keamanan :
-

Obyektif : demam menggigil, ikterik, kulit kering dan gatal


(pruritus) , cenderung perdarahan (defisiensi Vit K ).

3. Pemeriksaan Fisik
a. Kaji keadaan umum pasien: Meliputi kesan secara umum pada
keadaan sakit termasuk ekspresi wajah (cemberut, grimace,
lemas) dan posisi pasien. Kesadaran yang meliputi penilaian
secara

kualitatif

(komposmentis,

apatis,

somnolen,

sopor,

soporokoma, koma) dapat juga menggunakan GCS. Lihat juga


keadaan status gizi secara umum (kurus, ideal, kelebihan berat
badan)
14

b. Kaji kondisi fisik pasien: pemeriksaan tanda-tanda vital, adanya


kelemahan hingga sangat lemah, takikardi, diaforesis, wajah
pucat dan kulit berwarna kuning, perubahan warna urin dan
feses.
c. Kaji adanya nyeri abdomen atas berat, dapat menyebar ke
punggung atau bahu kanan, mual dan muntah, gelisah dan
kelelahan. Palpasi pada organ hati, limpa, ginjal, kandung
kencing untuk memeriksa ada atau tidaknya pembesaran pada
organ tersebut
d. Integumen

periksa ada tidaknya oedem, sianosis,icterus,

pucat, pemerahan luka pembedahan pada abdomen sebelah


kanan atas.
e. Kaji

perubahan

anoreksia,

gizi-metabolik:

penurunan

berat

badan,

intoleransi lemak, mual dan muntah, dispepsia,

menggigil, demam, takikardi, takipnea, terabanya kandung


empedu.
f. Ekstremitas: Apakah ada keterbatasan dalam aktivitas karena
adanya nyeri yang hebat, juga apakah ada kelumpuhan atau
kekakuan
Analisa Data
No
1.

Problem
Nyeri

Etiologi
Symptom
Spasme dutus, Nyeri
hebat
Proses

pada perut sisi

implamasi

kanan atas

istemik
jaringan/naktosi
2.

3.

kekurangan

s
gangguan

Mual,

volume cairan

proses

wajah pucat

Nutrisi
dari

pembekuan
kurang anoreksia,

kebutuhan muntah

muntah,

Berat

badan

akibat menurun,

15

No
.
1.

Diagnosa

Tujuan dan

Keperawat

Intervensi

kriteria hasil

an
Nyeri

Rasional

Tujuan: nyeri
1 Observasi Mengetah
berhubung pasien
tandaui
tubuh berkurang kolesistitis.
regurgitasi
atau
an dengan
tanda
perubaha
bahkan hilang
ulang, eruption
/ spasme
vital.
n
tanda
4.
Kurang Kriteria Hasil:
Kurang
tahu Pasien
dan
Setelah tentang
dutus.
tanda tidak
pengetahuan
keluarga
.
diberikan
Proses
vital yang
penyakitnya
mengerti
tindakan
b)
implamasi keperawatan
diakibatk
tentang
c)
selama 2x24
istemik
an
oleh
penyakitnya
jam maka
nyeri
Rasionalnya
:
jaringan /
nyeri
yang dirasakan
naktosis.
d
pasien
berkurang
Rasionalnya :
dengan criteria
e)
hasil:
mambant
1 ekspresi wajah 2 Observasi
dan catat
u
rileks
2

klien tidak

lokasi

membed

mengeluh

(skala 0

akan

kesakitan dan

10) dan

penyebab

memegangi

karakter

nyeri

perut bagian

nyeri

kanan atas.
Klien

Tingkatkan Tirah

melaporkan

tirah

baring

bahwa nyeri

baring,

atau

sedah

berikan

posisi

berkurang.

pasien

fawler

posisi

rendah

yang

menurun

nyaman.

kan
tekanan
intra
abdomen
.

Lakukan
teknik
distraksi
untuk

Teknik
nonfarma
kologi

16

Dikerjakan Oleh: Myta Kirana D. (122310101056)


Sofiatul M. (122310101042)
Refrensi:
Carpenito, L.J. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Alih
Bahasa Ester M. Jakarta: EGC
Nanda. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda Definisi dan
Klasifikasi 2005 -2006.Editor Budi Sentosa. Jakarta : Prima
Medika
Evaluasi
N
o
1

Diagnosa

Evaluasi

Keperawatan
Nyeri berhubungan

S : Pasien mengatakan Sus, nyeri saya

dengan spasme

sudah sedikit berkurang

dutus, proses

O : Pasien tidak tampak menyeringai lagi,

implamasi istemik

muka pasien tidak nampak pucat

jaringan/naktosis

A : Tujuan tercapai sebagian

P : Lanjutkan tindakan keperawatan


cairan S : Pasien mengatakan Badan saya

Volume
kurang

dari terasa lebih segar,sus.

kebutuhan

tubuh O : Membran mukosa nampak lembab

berhubungan
dengan
3

A : Tujuan telah tercapai

gangguan P : Hentikan tindakan keperawatan

proses pembekuan
Nutrisi kurang dari

S : Pasien mengatakan Saya sudah tidak

kebutuhan tubuh

mual dan nafsu makan saya meningkat,

berhubungan

sus.

dengan anoreksia

O : Berat badan meningkat

dan muntah

A : Tujuan telah tercapai

Kurang

P : Hentikan tindakan keperawatan.


S : Pasien berkata, Sus, saya sekarang

pengetahuan

mulai tidak merasa cemas

berhubungan

O : Pasien terlihat tidak gelisah

kurang tahu tentang

A : Tujuan telah tercapai

penyakitnya

P : Hentikan tindakan keperawatan

17

Discharge Planning
a. Perawat

mengajarkan

pada

pasien

mengenai

penggunaan

manajemen nyeri, terapi diet, pembatasan aktivitas dan perawatan


kesehatan tindak lanjut.
b. Perawat memberikan instruksi ke pasien atau anggota keluarga,
termasuk:

perawatan

lanjutan,

tanda-tanda

kekurangan

gizi

kateter, infeksi, rawat jalan dan janji kolangiografi berikutnya.


c. Perawat memberikan informasi kepada pasien untuk melakukan
diet rendah lemak dan menghindari makanan berlemak tinggi
seperti susu, gorengan, alpukat, mentega dan cokelat.
d. Perawat mengingatkan pasien untuk meminum obat-obatan harian
yang diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan.
e. Ajarkan pasien tentang bagaimana cara perawatan diri di rumah
dan semua hal yang diperlukan untuk perawatan di rumah.

Dikerjakan oleh : Rizky Meidwigita Paradis (122310101010)

Kasus 2:
Seorang pasien

laki-laki usia 50 tahun periksa ke poli interna RS

Sehat karena sering mengalami nyeri pada perut sebelah kanan atas.
Nyeri berlangsung agak lama sekitar 30 menit. Berdasarkan berbagai
pemeriksaan yang dilakukan pasien didiagnosa kolelitiasis.

Pertanyaan:
1.

Jelaskan: definisi, etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala,


pemeriksaan

penunjang,

penatalaksanaan

kolelitiasis,

dan

komplikasi yang bisa terjadi


18

Jawaban:
Definisi kolelitiasis
Kolelitiasis merupakan terbentuknya batu empedu yang dapat
ditemukan di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu,
atau pada keduanya. Batu empedu merupakan endapan satu atau
lebih

komponen

empedu:

kolesterol,

bilirubin,

garam

empedu,

kalsium, protein, asam lemak, dan fosfolipid. Kolesterol hampir tidak


dapat larut dalam air dan bilirubin sukar larut dalam air. Batu empedu
memiliki komposisi yang terutama terbagi atas tiga jenis: pigmen,
kolesterol, dan batu campuran (Price: 2005)
1) Batu pigmen
Terdiri atas garam kalsium dan salah satu dari keempat anion
ini: bilirubinat, karbonat, fosfat, atau asam lemak rantai panjang.
Penampilan batu kalsium bilirubinat yang disebut juga batu
lumpur atau batu pigmen, tidak banyak bervariasi. Sering
ditemukan berbentuk tidak teratur, kecil-kecil, dapat berjumlah
banyak, warnanya bervariasi antara coklat, kemerahan, sampai
hitam, dan berbentuk seperti lumpur atau tanah yang rapuh.
Batu pigmen terjadi karena bilirubin tak terkonjugasi di saluran
empedu (yang sukar larut dalam air), pengendapan garam
bilirubin kalsium dan akibat penyakit infeksi. Batu pigmen
berwarna

hitam

berkaitan

dengan

hemolisis

kronis.

Batu

berwarna coklat berkaitan dengan infeksi empedu kronis.


2) Batu kolesterol
Batu kolesterol murni biasanya berukuran besar, soliter,
berstruktur bulat atau oval, bewarna kuning pucat dan sering kali
mengandung kalsium dan pigmen. Batu kolesterol mengandung
paling sedikit 70% kolesterol, dan sisanya adalah kalsium
karbonat, kalsium palmitit, dan kalsium bilirubinat. Bentuknya
lebih bervariasi dibandingkan bentuk batu pigmen. Terbentuknya
hampir selalu di dalam kandung empedu, dapat berupa soliter
atau multipel. Permukaannya mungkin licin atau multifaset,

19

bulat, berduri, dan ada yang seperti buah murbei. Batu kolesterol
terjadi kerena konsentrasi kolesterol di dalam cairan empedu
tinggi. Ini akibat dari kolesterol di dalam darah cukup tinggi. Jika
kolesterol dalam kantong empedu tinggi, pengendapan akan
terjadi dan lama kelamaan menjadi batu. Penyebab lain adalah
pengosongan cairan empedu di dalam kantong empedu kurang
sempurna, masih adanya sisa-sisa cairan empedu di dalam
kantong setelah proses pemompaan empedu sehingga terjadi
pengendapan.
3) Batu empedu campuran
Merupakan yang paling sering ditemukan, batu ini memiliki
gambaran batu pigmen maupun batu kolesterol, majemuk,
berwarna cokelat tua, dan terdiri atas kolesterol, pigmen
empedu, dan berbagai garam kalsium. Batu empedu campuran
sering dapat terlihat dengan pemeriksaan radiografi, sedangkan
batu komposisi murni tidak terlihat.

Etiologi Kolelitiasis
Etiologi batu empedu masih belum diketahui sempurna. Namun
beberapa penelitian menunjukkan wanita yang meminum obat
kontrasepsi oral dalam jangka panjang atau yang hamil akan lebih
berisiko menderita batu empedu, bahkan pada usia remaja dan usia
dua puluhan. Faktor ras dan familial tampaknya berkaitan dengan
semakin tingginya insiden

terbentuknya batu empedu. Insiden

sangat tinggi pada orang Amerika asli diikuti oleh orang kulit putih
dan akhirnya orang Afro-Amerika. Kondisi klinis yang dikaitkan dengan
semakin meningkatnya insidensi batu empedu adalah diabetes
melitus dengan kadar kolesterol darah yang tinggi, obesitas, dan
penyakit

hemolitik

(Brooker:

2008).

Faktor

risiko

lain

yang

berhubungan dengan timbulnya batu empedu adalah sirosis hati,


pankreatitits, kanker kandung empedu, multiparitas, penyakit atau
infeksi ileum pertambahan usia, jenis kelamin perempuan, dan ingesti

20

segala makanan yang mengandung kalori rendah atau lemak rendah


(puasa).
Wanita mempunyai risiko dua kali lipat untuk terkena kolelitiasis
dibandingkan dengan pria. Ini dikarenakan oleh hormon esterogen
berpengaruh terhadap peningkatan eksresi kolesterol oleh kandung
empedu. Faktor risiko lain yaitu makanan, konsumi makanan yang
mengandung lemak terutama lemak hewani berisiko untuk menderita
kolelitiasis. Kolesterol merupakan komponen dari lemak. Jika kadar
kolesterol yang terdapat dalam cairan empedu melebihi batas normal,
cairan empedu dapat mengendap dan lama kelamaan menjadi batu.
Intake

rendah

klorida,

kehilangan

berta

badan

yang

cepat

mengakibatkan gangguan terhadap unsur kimia dari empedu dan


dapat menyebabkan penurunan kontraksi kandung empedu.
Batu empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu
dan jarang dibentuk pada bagian saluran empedu lain. Etiologi batu
empedu masih belum diketahui sepenuhnya akan tetapi tampaknya
faktor predisposisi terpenting adalah gangguan metabolisme yang
menyebabkan

terjadinya

perubahan

komposisi

empedu,

stasis

empedu dan infeksi kandung empedu.


Perubahan komposisi empedu kemungkinan merupakan faktoir
terpenting dalam pembentukan batu empedu. Sejumlah penyelidikan
menunjukkan

bahwa

hati

penderita

batu

empedu

kolesterol

menyekresi empedu yang sangat jenuh dengan kolesterol. Kolesterol


yang berlebihan ini mengendap dalam kandung empedu (dengan
cara yang belum dimengerti sepenuhnya) untuk membetuk batu
empedu.
Statis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan
super

saturasi

progresif,

perubahan

komposisi

kimia,

dan

pengendapan unsur tersebut. gangguan kontraksi kandung empedu


atau spasme sfingter Oddi atau keduanya dapat menyebabkan
terjadinya statis. Faktor hormonal (terutama) selama kehamilan dapat

21

dikaitkan dengan perlambatan pengosongan kandung empedu dan


menyebabkan tingginya insidensi dalam kelompok ini.
Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat berperan dalam
pembentukan batu. Mukus meningkatkan viskositas empedu dan
unsur sel atau bakteri dapat berperan sebagai pusat resipitasi. Akan
tetapi infeki mungkin akan lebih sering timbul sebagai akibat dari
terbentuknya

batu

empedu

dibandingkan

sebagai

akibat

terbentuknya batu empedu (Price: 2005)


Patofisiologi Kolelitiasis
Pembentukan batu empedu dibagi menjadi tiga tahap yaitu
pembentukan

empedu

yang

supersaturasi,

nukleasi

atau

pembentukan inti batu, dan berkembang karena bertambahnya


pengendapan.

Kelarutan

kolesterol

merupakan

masalah

yang

terpenting dalam pembentukan semua batu, kecuali batu pigmen.


Supersaturasi empedu dengan kolesterol terjadi bila perbandingan
asam empedu dan fosfolipid (terutama lesitin) dengan kolesterol
turun di bawah harga tertentu. Secara normal kolesterol tidak larut
dalam media yang mengandung air. Empedu dipertahankan dalam
bentuk cair oleh pembentukan koloid yang mempunyai inti sentral
kolesterol, dikelilingi oleh mantel yang hidrofilik dari garam empedu
dan lesitin. Jadi sekresi kolesterol yang berlebihan, atau kadar asam
empedu rendah, atau terjadi sekresi lesitin, merupakan keadaan yang
litogenik (Schwartz: 2000). Pembentukan batu dimulai hanya bila
terdapat suatu nidus atau inti pengendapan kolesterol. Pada tingkat
supersaturasi

kolesterol,

kristal

kolesterol

keluar

dari

larutan

membentuk suatu nidus, dan membentuk suatu pengendapan. Pada


tingkat saturasi yang lebih rendah, mungkin bakteri, fragmen parasit,
epitel sel yang lepas, atau partikel debris yang lain diperlukan untuk
dipakai sebagai benih pengkristalan (Schwartz:2000).
Batu empedu bisa terbentuk di dalam saluran empedu jika
empedu mengalami aliran balik karena adanya penyempitan saluran.

22

Batu empedu di dalam saluran empedu bisa mengakibatkan infeksi


hebat saluran empedu (kolangitis). Jika saluran empedu tersumbat,
maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera menimbulkan infeksi
di dalam saluran. Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan
menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya.
Adanya infeksi dapat menyebabkan kerusakan dinding kandung
empedu, sehingga menyebabkan terjadinya statis dan dengan
demikian menaikkan batu empedu. Infeksi dapat disebabkan kuman
yang berasal dari makanan. Infeksi bisa merambat ke saluran empedu
sampai ke kandung empedu. Penyebab paling utama adalah infeksi di
usus. Infeksi ini menjalar tanpa terasa menyebabkan peradangan
pada saluran dan kantong empedu sehingga cairan yang berada di
kantong empedu mengendap dan menimbulkan batu. Infeksi tersebut
misalnya tifus. Kuman tifus apabila bermuara di kantong empedu
dapat menyebabkan peradangan lokal yang tidak dirasakan pasien,
tanpa gejala sakit ataupun demam. Namun, infeksi lebih sering timbul
akibat dari terbentuknya batu dibanding penyebab terbentuknya
batu.

Dikerjakan oleh: Listya Pratiwi (122310101017)


Daftar Pustaka:
Brooker, Chris. 2008. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Jakarta: EGC.
Schwartz S, Shires G, Spencer F. 2000. Prinsip-prinsip Ilmu Bedah.
Edisi 6. Jakarta: EGC.

Tanda dan Gejala

23

Menurut Price (2005, hlm 503) Sebanyak 75% orang yang


memiliki batu empedu tidak memperlihatkan gejala. Sebagian besar
gejala timbul bila batu menyumbat aliran empedu, yang seringkali
terjadi karena batu yang kecil melewati ke dalam duktus koledokus.
Penderita batu empedu sering memiliki gejala kolesistitis akut atau
kronis.
a.

Gejala Akut
1. Nyeri

hebat

mendadak

pada

epigastrium

atau

abdomen

kuadran kanan atas, nyeri dapat menyebar ke punggung dan


bahu kanan.
2. Penderita dapat berkeringat banyak dan Gelisah
3. Nausea dan muntah sering terjadi.
4. Ikterus, dapat di jumpai di antara penderita penyakit kandung
empedu dengan persentase yang kecil dan biasanya terjadi
pada obstruksi duktus koledokus. Obstruksi pengaliran getah
empedu ke dalam duodenum akan menimbulkan gejala yang
khas, yaitu getah empedu yang tidak lagi di bawa ke dalam
duodenum akan di serap oleh darah dan penyerapan empedu
ini membuat kulit dan membran mukosa bewarna kuning.
Keadaan ini sering di sertai dengan gejala gatal-gatal yang
mencolok pada kulit.
5. Perubahan warna urine dan feses. Ekskresi pigmen empedu
oleh ginjal akan membuat urine bewarna sangat gelap. Feses
yang tidak lagi di warnai oleh pigmen empedu akan tampak
kelabu, dan biasanya pekat.
b.

Gejala kronis
Gejala kolelitiasis kronis mirip dengan gejala kolelitiasis akut,

tetapi beratnya nyeri dan tanda-tanda fisik kurang nyata. Pasien


sering memiliki riwayat dispepsia, intoleransi lemak, nyeri ulu hati,
atau flatulen yang berlangsung lama.
Menurut Reeves (2001) tanda dan gejala yang biasanya terjadi
adalah:
1. Nyeri di daerah epigastrium kuadran kanan atas

24

2.
3.
4.
5.
6.

Pucat biasanya dikarenakan kurangnya fungsi empedu


Pusing akibat racun yang tidak dapat diuraikan
Demam
Urine yang berwarna gelap seperti warna teh
Dispepsia yang kadang disertai intoleransi terhadap makanan-

makanan berlemak
7. Nausea dan muntah
8. Berkeringat banyak dan gelisah
9. Nausea dan muntah-muntah
10.
Defisiensi Vitamin A,D,E,K
Pemeriksaan Penunjang
1. USG atau Pemeriksaan Ultrasonografi
USG ini merupakan pemeriksaan standard, yang sangat baik
untuk menegakkan diagnosa Batu Kantong Empedu. Kebenaran
dari USG ini dapat mencapai 95% di tangan Ahli Radiologi.
2. CT Scanning
Pemeriksaan dengan CT Scanning dilakukan bila batu berada di
dalam saluran empedu.
3. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Kadang-kadang

diperlukan

pemeriksaan

ini

apabila

ada

komplikasi sakit kuning.


4. Pemeriksaan laboratorium
Batu kandung empedu yang asimptomatik, umumnya tidak
menunjukkan kelainan laboratorik. Kenaikan ringan bilirubin
serum terjadi akibat penekanan duktus koledokus oleh batu,
dan penjalaran radang ke dinding yang tertekan tersebut.

Dikerjakan oleh: Rasita Siam Windira (122310101030)


Daftar Pustaka:
Price, A. Sylvia dan Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi konsepkonsep klinis proses-proses penyakit, edisi 6, volume 1. Jakarta: EGC

25

Reeves, Charlene J, dkk. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 1.


Jakarta: Salemba Medika.
Komplikasi
Komplikasi

yang

dapat

terjadi

pada

penderita

kolelitiasis

(Sjamsuhidajat,2005)
1. Asimtomatik
2. Obstruksi duktus sistikus
3. Kolik bilier
4. Kolesistitis akut
5. Perikolesistitis
6. Peradangan pankreas (pankreatitis)-angga
7. Perforasi
8. Kolesistitis kronis
9. Hidrop kandung empedu
10. Empiema kandung empedu
11. Fistel kolesistoenterik
12. Batu empedu sekunder (Pada 2-6% penderita, saluran menciut
kembali dan batu empedu muncul lagi)
13. Ileus batu empedu (gallstone ileus)
Kolesistokinin yang disekresi oleh duodenum karena adanya
makanan menghasilkan kontraksi kandung empedu, sehingga batu
yang tadi ada dalam kandung empedu terdorong dan dapat menutupi
duktus sistikus, batu dapat menetap ataupun dapat terlepas lagi.
Apabila batu menutupi duktus sitikus secara menetap maka mungkin
akan dapat terjadi mukokel, bila terjadi infeksi maka mukokel dapat
menjadi suatu empiema, biasanya kandung empedu dikelilingi dan
ditutupi oleh alat-alat perut (kolon, omentum), dan dapat juga
membentuk suatu fistel kolesistoduodenal. Penyumbatan duktus
sistikus dapat juga berakibat terjadinya kolesistitis akut yang dapat
sembuh atau dapat mengakibatkan nekrosis sebagian dinding (dapat
ditutupi

alat

sekiatrnya)

dan

dapat

membentuk

suatu

fistel

kolesistoduodenal ataupun dapat terjadi perforasi kandung empedu


yang

berakibat

terjadinya

peritonitis

generalisata.

(Sjamsuhidajat,2005)
Batu kandung empedu dapat maju masuk ke dalam duktus
sistikus pada saat kontraksi dari kandung empedu. Batu ini dapat

26

terus maju sampai duktus koledokus kemudian menetap asimtomatis


atau kadang dapat menyebabkan kolik. Batu yang menyumbat di
duktus

koledokus

juga

berakibat

terjadinya

ikterus

obstruktif,

kolangitis, kolangiolitis, dan pankretitis. (Sjamsuhidajat,2005)


Batu kandung empedu dapat lolos ke dalam saluran cerna
melalui terbentuknya fistel kolesitoduodenal. Apabila batu empedu
cukup besar dapat menyumbat pad bagian tersempit saluran cerna
(ileum

terminal)

dan

menimbulkan

ileus

obstruksi.

(Sjamsuhidajat,2005)
Penatalaksanaan Kolelitiasis
Jika

tidak

ditemukan

gejala,

maka

tidak

perlu

dilakukan

pengobatan. Nyeri yang hilang-timbul bisa dihindari atau dikurangi


dengan

menghindari

(Sjamsuhidajat,2005)
Jika batu kandung

atau

mengurangi

empedu

makanan

menyebabkan

berlemak.

serangan

nyeri

berulang meskipun telah dilakukan perubahan pola makan, maka


dianjurkan

untuk

menjalani

pengangkatan

kandung

empedu

(kolesistektomi). Pengangkatan kandung empedu tidak menyebabkan


kekurangan zat gizi dan setelah pembedahan tidak perlu dilakukan
pembatasan makanan. (Sjamsuhidajat,2005)
Pilihan penatalaksanaan antara lain : (Schwartz,2000)
1. Kolesistektomi terbuka
Operasi ini merupakan standar terbaik untuk penanganan pasien
denga kolelitiasis simtomatik. Komplikasi yang paling bermakna
yang dapat terjadi adalah cedera duktus biliaris yang terjadi
pada 0,2% pasien. Angka mortalitas yang dilaporkan untuk
prosedur ini kurang dari 0,5%. Indikasi yang paling umum untuk
kolesistektomi adalah kolik biliaris rekuren, diikuti oleh kolesistitis
akut. (Schwartz,2000)
2. Kolesistektomi laparaskopi
Kolesistektomi laparoskopik mulai diperkenalkan pada tahun
1990 dan sekarang ini sekitar 90% kolesistektomi dilakukan
secara laparoskopi. 80-90% batu empedu di Inggris dibuang

27

dengan cara ini karena memperkecil resiko kematian dibanding


operasi

normal

mengurangi

(0,1-0,5%

komplikasi

untuk

pada

operasi

jantung

normal)

dan

dengan

paru.2 Kandung

empedu diangkat melalui selang yang dimasukkan lewat sayatan


kecil di dinding perut. (Schwartz,2000)
Indikasi awal hanya pasien dengan kolelitiasis simtomatik tanpa
adanya

kolesistitis

akut.

Karena

semakin

bertambahnya

pengalaman, banyak ahli bedah mulai melakukan prosedur ini


pada pasien dengan kolesistitis akut dan pasien dengan batu
duktus koledokus. Secara teoritis keuntungan tindakan ini
dibandingkan prosedur konvensional adalah dapat mengurangi
perawatan di rumah sakit dan biaya yang dikeluarkan, pasien
dapat cepat kembali bekerja, nyeri menurun dan perbaikan
kosmetik. Masalah yang belum terpecahkan adalah kemanan dari
prosedur ini, berhubungan dengan insiden komplikasi 6r seperti
cedera duktus biliaris yang mungkin dapat terjadi lebih sering
selama kolesistektomi laparaskopi. (Schwartz,2000)
3. Disolusi medis
Masalah umum yang mengganggu semua zat yang pernah
digunakan adalah angka kekambuhan yang tinggi dan biaya
yang

dikeluarkan. Zat

disolusi

hanya

memperlihatkan

manfaatnya untuk batu empedu jenis kolesterol. Penelitian


prospektif acak dari asam xenodeoksikolat telah mengindikasikan
bahwa disolusi dan hilangnya batu secara lengkap terjadi sekitar
15%. Jika obat ini dihentikan, kekambuhan batu tejadi pada 50%
pasien. (Schwartz,2000)
Kurang dari 10% batu empedu dilakukan cara ini sukses. Disolusi
medis sebelumnya harus memenuhi kriteria terapi non operatif
diantaranya batu kolesterol diameternya < 20 mm, batu kurang
dari 4 batu, fungsi kandung empedu baik dan duktus sistik
paten. (Beckingham,2001)
4. Disolusi kontak

28

Meskipun pengalaman masih terbatas, infus pelarut kolesterol


yang

poten

(Metil-Ter-Butil-Eter (MTBE))

ke

dalam

kandung

empedu melalui kateter yang diletakkan per kutan telah terlihat


efektif dalam melarutkan batu empedu pada pasien-pasien
tertentu. Prosedur ini invasif dan kerugian utamanya adalah
angka

kekambuhan

yang

tinggi

(50%

dalam

tahun).

(Schwartz,2000)
5. Litotripsi Gelombang Elektrosyok (ESWL)
Sangat populer digunakan beberapa tahun yang lalu, analisis
biaya-manfaat pad saat ini memperlihatkan bahwa prosedur ini
hanya

terbatas

pada

pasien

yang

telah

benar-benar

dipertimbangkan untuk menjalani terapi ini. (Schwartz,2000)


6. Kolesistotomi
Kolesistotomi yang dapat dilakukan dengan anestesia lokal
bahkan di samping tempat tidur pasien terus berlanjut sebagai
prosedur yang bermanfaat, terutama untuk pasien yang sakitnya
kritis. (Schwartz,2000)
Dikerjakan oleh : Dwi Nida Dzusturia (122310101045)
Daftar Pustaka
Schwartz S, Shires G, Spencer F. 2000. Prinsip-prinsip Ilmu Bedah.
Edisi 6. Jakarta: EGC.
Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005.hal: 570-579

29

ASUHAN KEPERAWATAN KOLELITIASIS


a. Pengkajian
1. Data umum
a) Nama

: nama lengkap klien yang mengalami

kolelitiasis
b) Usia

Resiko

untuk

terkena

Kolelitiasis

meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Orang


dengan usia > 60 tahun lebih cenderung untuk terkena
Kolelitiasis dibandingkan dengan orang yang usia lebih
muda
c) Jenis kelamin: Wanita mempunyai resiko 3 kali lipat
untuk terkena Kolelitiasis dibandingkan dengan pria, ini
dikarenakan

oleh

hormon

Estrogen

berpengaruh

terhadap peningkatan ekskresi kolestrol oleh kandung


empedu,
hormon
dalam

penggunaan
(Estrogen)

kandung

pil

dapat

empedu

kontrasepsi

dan

meningkatkan
dan

penurunan

terapi

kolestrol
aktifitas

pengosongan kandung empedu


d) Keluhan utama
: Keluhan utama pasien dengan
kolelitiasis biasanya nyeri pada abdomen kanan
atas.
2. Riwayat Kesehatan

30

a) Riwayat

kesehatan

kolelitiasis

dulu:

kemungkinan

Pasien

dengan

pernah

menderita

penyakit diabetes mellitus, kolesterol tinggi.


b) Riwayat kesehatan sekarang: Biasanya

pasien

datang ke rumah sakit setelah pasien merasakan


adanya nyeri pada abdomen kanan atas, demam,
mual,

dan

muntah

sehingga

nafsu makannya

berkurang.
c) Riwayat kesehatan keluarga: kolelitiasis

dapat

terjadi karena penyakit diabetes mellitus dengan


kadar kolesterol tinggi dalam darah sehingga pada
riwayat

kesehatan

keluarga pasien

pernah

ada yang

menderita

kemungkinan

penyakit

diabetes

mellitus.
3. Pemeriksaan Fisik
a) Aktivitas/istirahat
Biasanya ditandai dengan kelemahan, dan gelisah.
b) Sirkulasi
Ditandai dengan takikardi, berkeringat
c) Eliminasi
Ditandai dengan perubahan warna urin dan feses,
distensi abdomen, teraba masa pada kuadran kanan
atas. Urin gelap, pekat.
d) Makanan/cairan
Anoreksia, mual/muntah, tidak toleran terhadaplemak
dan

makanan

pembentukan

gas,

regurgitasi

berulang, nyeri epigastrium, tidak dapat makan, flatus,


dispepsia.
e) Nyeri/keamanan
Nyeri abdomen atas, dapat menyebar ke punggung
atau

bahu

kanan,

kolik

epigastrium

tengah

sehubungan dengan makan, nyeri mulai tiba-tiba dan


biasanya memuncak dalam 3 menit

nyeri lepas, otot

tegang aau kaku bila kuadran kanan atas ditekan,


tanda murphy positif.
f) Pernapasan

31

Peningkatan

frekuensi

pernapasan,

pernapasan

tertekan ditandai oleh napas pendek, dangkal


g) Keamanan
Demam menggigi, ikterik dengan kuit berkeringat dan
gatal (pruritus), kecendrungan pendarahan
(kekurangan Vit. K)

b. Analisa Data
PROBLEM

ETIOLOGI

SYMPTOMP

Gangguan rasa

proses inflamasi

Ds : klien

nyaman nyeri.

kandung empedu,

mengatakan

obstruksi/spasme

nyeri pada

duktus

abdomen atas
dapat menyebar
kepunggung atau
bahu kanan Nyeri
mulai tiba-tiba
dan biasanya
memuncak
dalam 30 menit.
Do :
Klien tampak
gelisah.
Klien tampak
memegangi
perut bagian
atas. Skala nyeri
klien 3

32

Resiko tinggi

gangguan

Ds : klien

perubahan nutrisi:

pencernaan lemak

mengatakan

kurang dari

intake yang tidak

tidak nafsu

kebutuhan tubuh

adekuat.

makan.
Do :
Berat badan
menurun.
Klien hanya
menghabiskan
porsi makanan.
Klien tampak
lemah.

Kurang pengetahuan

Kurang informasi

Ds: klien

tentang penyakit

mengatakan
tidak mengerti
tentang penyakit
yang dialami
Do: pasien tidak
mampu untuk
menjawab
pertanyaan
perawat tentang
penyakit yang

dialami
c. Diagnosa Keperawatan
1.
Nyeri
Akut b/d proses inflamasi kandung empedu,
obstruksi/spasme duktus

33

2.

Resiko tinggi perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan


tubuh b/d gangguan pencernaan lemak intake yang tidak

adekuat.
3. Kurang pengetahuan b/d kurang informasi tentang penyakit
d. Intervensi
Tujuan
dan

Diagnosa

Kriteria

Intervensi

Rasional

Nyeri b/d

Hasil
Tujuan:

1. Observasi1. Memberikan

proses

Nyeri

dan catat

informasi

inflamasi

Teratasi

lokasi,

tentang

kandung

setelah

beratnya

kemajuan/perb

empedu,

dilakukan

(skala 0-10)

aikan penyakit,

obstruksi/sp

perawatan

dan

komplikasi dan

asme

selama

karakter

keefektifitan

duktus,

2x24 jam.

nyeri

Intervensi.

iskemia

Krieria

(menetap,

jaringan/ne

hasil

hilang,

krosis

Pasien

timbul atau

yang tidak

akan:

kolik ).

hilang dapat

Melaporka
n nyeri
hilang/
terkontrol
Menunjukk
an
pengguna
an

2.

2. Nyeri berat

Catat

repons
terhadap

menunjukkan
adanya
komplikasi

obat dan
laporkan
bila nyeri
3. Posisi yang
tidak hilang.
nyaman fowler
3. Tingkatk
an tirah

rendah
menurunkan

34

ketrampila

baring,

tekanan

n relaksasi

biaran

intraabdomen.

dan

pasien

aktivitas

melakukan

hiburan

posisi yang
nyaman.

4. Menurunkan
iritasi kulit dan

4. Gunaka

sensasi gatal.

n sprei yang
halus/katun;
minyak
kelapa;
minyak

5. Meningkatkan

mandi(alpha
keri).

istirahat dan
memusatkan
kembali

5. Berikan
teknik
relaksasi

perhatian,
dapat
menurunkan
nyeri.

6. Kolabora
si dengan
dokter

6.
Membantu
dalam
mengatasi
nyeri yang
hebat.

dalam
pemberian
obat anti
nyeri.
Resiko

Tujuan : 1. Kaji distensi

1.

tinggi

Setelah

ketidaknyaman

perubahan

dilakukan

abdomen

Adanya

an karna
35

nutrisi:

perawatan

gangguan

kurang dari

selama

percernaan,nyer
2. Timbang BB

kebutuhan

3x24 jam

tubuh b/d

Pemenuha

gangguan

pencernaan

kebutuhan

3.

lemak

nutrisi

Diskusikan

intake yang

pasien

dengan

tidak

adekuat.

klien

adekuat

Kriteria

makanan

hasil:

kesukaan

Pasien

dan jadwal

akan :

makan yang

tiap hari
2.
Mengidentifikasi
kekurangan/keb

n
mual/mun
tah hilang.
Menunjukk
an
kemajuan
mencapai
BB
individu
yang
tepat.

habis
sesuai

Melibatkan klien
dalam
perencanaan,
klien memiliki
rasa kontrol dan
mendorong

4.

untuk makan

Berikan
suasana

4.

Untuk

meningkatkan

yang
menyenang
kan pada
saat makan,

nafsu makan/
menurunkan
mual

hilangkan
ransangan
yang
berbau.

5.

Oral yang

bersih
5.

Jaga

kebersihan
Makanan

utuhan nutrisi
3.

disukai
Melaporka

i gaster.

meningkatkan
nafsu makan

oral
sebelum
makan

porsi yang

6.

Berguna

untuk
merencanakan

6.

Konsul
36

diberikan.

dengan ahli

kebutuhan

diet/ tim

nutrisi

pendukung

individual

nutrisi

melalui rute

sesua

yang paling

indikasi

tepat

7.

7.

Berikan diet

kebutuhan

sesuai

nutrisi dan

toleransi

meminimalkan

biasanya

ransangan pada

rendah

kandung

lemak,

empedu.

Memenuhi

tinggi serat.

Kurang
pengetahua
n b/d
kurang
informasi

Tujuan : 1. berikan
1.
Setelah
penjelasan/
diberi
alasan tes
penjelasan
dan
2-3 kali
persiapanny
selama 10
a
menit
pasien

2. kaji ulang

dapat
mengerti
dan
memaham
i penyakit

program

yang
dialaminy
3. anjurkan
a
pasien
Kriteria

penyakit
sehingga dapat
menurunkan
cemas dan
rangsang

merupakan

kemungkina
samping

informasi terkait

simpatis
2. batu empedu

obat ,
n efek

untuk memberi

penyakit yang
dapat berulang
sehingga perlu
terapi jangka

panjang
3. mencegah atau
membatasi
37

Hasil:
- pasien
mengat
akan
sudah
tahu
terkait

untuk

terulangnya

makan/minu serangan batu


m makanan

empedu

dan
minuman
yang tinggi
lemak

penyakit
nya
- pasien
dan
keluarga
melakuk
an
perubah
an pola
hidup
dan
berparti
sipasi
dalam
program
pengoba
tan

e. Implementasi

38

N
o.
1.

Diagnosa

Implementasi

Nyeri Akut b/d a. Telah dilakukan Observasi dan pencatatan


proses

lokasi

inflamasi

dan

karakter

nyeri

(menetap,

hilang, timbul, kolik)


dilakukan pencatatan

b. Telah

kandung

respons

terhadap obat, dan melaporkan pada

empedu,
obstruksi atau
spasme
duktus

dokter bila nyeri hilang


c. Telah ditingkatkan tirah

baring,

dan

berikan posisi nyaman pada pasien.


digunakan
sprei
halus,

dan

d. Telah

dilakukan kompres dingin sesuai indikasi


e. Telah di kontrol suhu lingkungan
f. Telah diajarkan teknik relaksasi
g. Telah dilakukan kolaborasi dengan dokter

dalam pemberian obat anti nyeri sesuai


indikasi.
2.

Resiko

tinggi a. Telah dikaji distensi abdomen


b. Telah diperkirakan atau dihitung
perubahan
pemasukan kalori.
nutrisi:
c. Telah ditimbang sesuai indikasi
kurang darike
d. Telah di diskusikan dengan klien makanan
butuhan
tubuh

kesukaan dan jadwal makan yang disukai

b/d

gangguan
pencernaan
lemak

e. Telah diberikan suasana yang

menyenangkan pada saat makan, dan

intake

menghilangkan rangsangan yang berbau.

yang
tidakadekuat.
f.

Telah di jaga kebersihan oral sebelum


makan

g. Telah dilakukan konsultasi dengan ahli

diet atau tim pendukung nutrisi sesua


indikasi
3.

Kurang

a. Telah diberikan penjelasan atau alasan

pengetahuan
b/d

kurang

informasi
tentangpenya
kit

tes dan persiapannya


b. Telah dikaji ulang program obat ,

kemungkinan efek samping


c. Telah dianjurkan pasien untuk makan
atau minum makanan dan minuman yang
tinggi lemak

39

f. Evaluasi
NO

Diagnosa

Evaluasi

Keperawatan
1.

Nyeri Akut b/d proses


inflamasi kandung

S: Pasien mengatakan sus, nyeri yang


saya rasakan sudah sedikit berkurang.

empedu, obstruksi

O: Pasien terlihat tidak menyeringai sangat

atau spasme duktus

diberikan respon terhadap nyerinya.


A: Tujuan tercapai
P: Intervensi dihentikan

2.

Resiko

tinggi S: Pasien mengatakan saya sudah tidak

perubahan
kurang
butuhan

nutrisi: mual sus


darike

tubuh

b/d

gangguan
pencernaan

peningkatan

lemak A: Tujuan tercapai

intake
3.

O: Berat badan pasien tampak mengalami

yang

P: Intervensi dihentikan
tidakadekuat.
Kurang pengetahuan S: Pasien mengatakan saya sudah tidak
b/d kurang informasi cemas sus,
tentangpenyakit

O: Pasien tampak tidak gelisah


A: Tujuan tercapai
P: Intervensi dihentikan

Dikerjakan oleh:
(Erna Dwi (12-12), Helda P (12-18), Alifia R (12-25), Sungging P (1226) )
Refrensi:

40

Carpenito, L.J. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Alih


Bahasa Ester M. Jakarta: EGC
Nanda. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda Definisi dan
Klasifikasi 2005 -2006.Editor Budi Sentosa. Jakarta : Prima
Medika

41