Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI PERAIRAN
(M10A104)

Disusun Oleh:
KELOMPOK 10/PERIKANAN C
Rizal Firdaus
230110130162
M. Salsabil
230110130198
Jumaidi Efendi
230110130200
Ruth Maria
230110130174
Christoper
230110130199
Rury Ratnafuri
230110130228

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya akhirnya
kami dari pihak penyusun dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Mikrobiologi
Perikanan dengan membahas Isolasi Mikroba dalam bentuk makalah. Makalah
ini disusun guna memenuhi tugas sebagai bahan pertimbangan nilai.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak lupa pula kami mengucapkan
banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu khususnya dari
rekan-rekan sekelompok kami sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan
baik, walaupun ada beberapa hambatan yang kami alami dalam penyusunan
makalah ini. Namun, berkat motivasi yang disertai kerja keras dan bantuan dari
berbagai pihak akhirnya dapat teratasi.
Semoga makalah ini, dapat bermanfaat dan menjadi sumber pengetahuan
bagi pembaca. Dan apabila dalam pembuatan makalah ini terdapat kekurangan
kiranya pembaca dapat memakluminya. Akhir kata dengan kerendahan hati,
kritik dan saran sangat kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini. Sekian
dan terima kasih.
Jatinangor, 25 September 2014

Penyusun

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

vi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Tujuan
1.3 Manfaat

1
2
2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Kembung

2.1.1 Reproduksi Ikan Kembung

2.1.2 Ciri-ciri Seksual Primer dan Sekunder Ikan

2.2 Bakteri

2.2 Mikroba Saluran Pencernaan Ikan

2.3 Isolasi Mikroba

2.4 Identifikasi Bakteri

12

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM

10

3.1 Waktu dan Tempat

10

3.2 Alat dan Bahan

10

3.2.1 Alat yang digunakan

10

3.2.2 Bahan yang digunakan

13

3.2.3 Prosedur Kerja

14

BAB IV HASIL PEMBAHASAN

16

4.1 Hasil

16

4.2 Pembahasan

17

BAB V PENUTUP

20

5.1 Kesimpulan

20

5.2 Saran

20

DAFTAR PUSTAKA

vii

iii

iv

LAMPIRAN

ix

Lampiran 1 Tugas Pendalaman

ix

Lampiran 2 Hasil Pengamatan Kelompok

xi

Lampiran 3 Dokumentasi Kelompok

xviii

DAFTAR TABEL

Tabel

hal.

Tabel 1. Alat yang digunakan dalam praktikum

10

Tabel 2. Bahan yang digunakan dalam praktikum

13

Tabel 3. Hasil pengamatan mikroba

19

Tabel 4. Hasil pengamatan kelompok

19

DAFTAR GAMBAR

Gambar

hal.

Gambar 1. Ikan Kembung

Gambar 2. Morfologi koloni mikroba

12

Gambar 3. Lembar kerja Christoper

ix

Gambar 4. Lembar kerja Rizal Firdaus

ix

Gambar 5. Lembar kerja Jumaidi Efendi

Gambar 6. Lembar kerja Ruth Maria

Gambar 7. Lembar kerja Rury Ratnafuri

xi

Gambar 8. Lembar Kerja M. Salsabil

xi

Gambar 9. Lembar kerja kelompok 1


Gambar 10. Lembar kerja kelompok 2
Gambar 11. Lembar kerja kelompok 3
Gambar 12. Lembar kerja kelompok 4
Gambar 13. Lembar kerja kelompok 5
Gambar 14. Lembar kerja kelompok 6
Gambar 15. Lembar kerja kelompok 7
Gambar 16. Lembar kerja kelompok 8
Gambar 17. Lembar kerja kelompok 9

xii
xii
xiii
xiii
xiv
xiv
xv
xv
xvi

Gambar 18. Natrium agar

xviii

Gambar 19. Mikroba yang telah diinkubasi

xviii

Gambar 20. Proses penggoresan

xviii

vi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Populasi mikroorganisme yang ada di alam sekitar kita ini sangatlah
besar dan cukup kompleks. Beratus spesies mikroba berada di setiap bagian
tubuh kita. Mereka terdapat dalam jumlah yang cukup basar. Sebagai contoh,
sekali kita bersin dapat menebarkan beribu- ribu mikroorganisme. Satu gram
tinja dapat mengandung jutaan bakteri. Alam di sekitar kita, baik itu tanah, air,
maupun udara juga dihuni oleh kumpulan mikroorganisme. Penelitian yang
layak mengenai mikroorganisme dalam berbagai habitat ini memerlukan teknik
untuk memisahkan populasi campuran yang rumit ini, atau yang biasanya
dikenal dengan istilah biakan campuran, menjadi spsies yang berbeda- beda
yang biasa kenal dengan istilah biakan murni. Biakan murni ini terdiri dari satu
populasi sel yang semuanya berasal dari satu sel induk (Pelczar, 1986).
Untuk memisahkan satu populasi mikroba dari populasi campuran maka
diperlukan suatu teknik yang disebut dengan isolasi mikroba. Isolasi mikroba
adalah mengambil mikroorganisme yang terdapat di alam dan menumbuhkannya
dalam suatu medium buatan. Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu
jenis mikroba dengan mikroba lainnya yang berasal dari campuran bermacammacam mikroba. Untuk melakukan hal ini, haruslah di mengerti jenis- jenis
nutrien yang disyaratkan bakteri dan juga macam ligkungan fisik yang
menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhan bakteri tersebut (Pelczar,
1986). Isolasi mikroba ini dilakukan untuk berbagai tujuan terutama untuk
penelitian misalnya untuk mengisolasi DNA mikroba sehingga dapat mendeteksi
mikroba yang telah resisten terhadap suatu antibiotik atau untuk mengetahui
mikroba yang dipakai untuk bioremediasi holokarbon (Ferdiaz, 1992), selain itu
juga untuk menemukan manfaat berbagai macam mikroba yang mungkin
berguna untuk kesejahteraan manusia, dan untuk berbagai keperluan lain. Dalam
makalah ini akan dibahas tentang bagaimana cara untuk melakukan isolasi
mikroba dengan baik dan benar sehingga dapat berguna untuk kedepannya.
1

1.2 Tujuan
Praktikum

ini

bertujuan

untuk

meningkatkan

pemahaman

dan

keterampilan praktikan dalam mengisolasi mikroba.


1.3 Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat lebih memahami
dan lebih terampil dalam melakukan isolasi mikroba sehingga dapat menjadi
ilmu yang bermanfaat di masa depan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Kembung


Klasifikasi ikan kembung banyar berdasarkan Saanin (1994) adalah
sebagai berikut :
Phylum
Subphylum
Kelas
Subkelas
Ordo
Sub Ordo
Famili
Genus
Species

: Chordata
: Vertebrata
: Pisces
: Teleostei
: Percomorphi
: Scombroidea
: Scombroidae
: Rastrelliger
: Rastrelliger kanagurta

Gambar 1. Ikan Kembung


(massal2003.wordpress.com)
Ciri-ciri tubuh dari ikan kembung adalah bentuk badan seperti torpedo
badan agak langsing panjang kepala lebih tinggi dari tinggi kepala. Seluruh
tubuh tertutup sisik halus dan terdapat corselet di belakang sirip dada. Terdapat
selaput lemak pada kelopak mata. Usus 1,3-3,7 kali panjang badan. Tapisan
insang panjang jelas tampak bila mulut dibuka dengan jumlah sebanyak 30-46
buah, sisik garis rusuk berjumlah 120-150 buah, sirip punggung kedua berjari-

jari keras berjumlah 10 buah, sirip punggung kedua berjari- jari lemah 11-12
sirip dubur berjari-jari lemah lemah sebanyak 11-12 buah.
Di belakang sirip punggung dan dubur terdapat 5-6 buah finlet (Murniati
2004). Ikan kembung banyar memiliki warna biru kehijauan di bagian atas dan
bagian bawah berwarna putih kekuningan. Dua baris totol-totol hitam pada
punggung, satu totol hitam dekat sirip dada. Ban warna gelap memanjang di atas
garis rusuk, dua ban warna keemasan di bawah garis rusuk. Sirip punggung abuabu kekuningan. Sirip ekor dan dada kekuningan. Sirip-sirip lain bening
kekuningan. Ikan ini memiliki panjang maksimum 35 cm dengan panjang ratarata 20-25 cm (Murniati 2004).
2.1.1 Reproduksi Ikan Kembung
Ikan kembung R.kanagurta jantan pertama kali matang gonad pada
ukuran panjang cagak (fork length) 200,3 mm pada jantan dan ukuran 191,6 mm
pada betina. Hasil yang didapat dari penelitian ini berbeda dengan hasil
penelitian sebelumnya, dimana ukuran pertama kali matang gonad ikan
kembung (R.kanagurta) di Laut Jawa dicapai pada panjang cagak 19,2 cm untuk
jantan dan 20,4 cm untuk betina. Panjang pada pertama kali matang dari ikan
kembung (R.kanagurta) di India tercatat antara 19,0 - 22,4 cm. Kebanyakan
ikan-ikan kembung (R.kanagurta) matang pada ukuran sekitar 22 cm.
Panjang pada pertama kali matang adalah bervariasi antara jenis maupun
dalam jenis itu sendiri, dengan demikian individu yang berasal dari satu kelas
umur ataupun dari kelas panjang yang sama tidak selalu mencapai panjang
pertama kali matang pada ukuran yang sama. Hal ini diperkuat dengan hasil
penelitian bahwa ukuran ikan kembung pertama kali matang gonad adalah 20,4
cm untuk jantan dan 19,2cm untuk betina pada trimester kedua tahun 1991,
kemudian meningkat menjadi an 21,7 cm untuk jantan dan 20,2 cm untuk betina
pada trimester ketiga tahun 1991, dan menurun menjadi 18,6 cm untuk jantan
pada trimester kedua tahun 1992.

Pembuahan ikan kembung terjadi secara eksternal yaitu di keluarkan


telur di lingkungan perairan. Biasanya fekunditas telur ikan kembung banyak
dan telurnya tidak dicaga oleh induknya (Effendi, 2002). Ikan-ikan yang telah
dewasa dari suatu populasi terdiri dari ikan jantan dan ikan betina. Selain itu,
pada populasi ikan tertentu terdapat juga ikan hermaprodite.
Sumantadinata (1983) menyatakan gonad ikan adalah sebagai kelenjar
biak. Gonad ikan betina dinamakan ovari dan gonad ikan jantan dinamakan
testes. Ovari dan testes ikan dewasa biasanya terdapat pada individu yang
terpisah, kecuali pada beberapa ikan, kadang-kadang gonad jantan dan betina
ditemukan dalam satu individu (ovotestes).
2.1.2 Ciri-Ciri Seksual Primer Dan Skunder Ikan
Effendie (1997) menyatakan bahwa sifat seksual primer pada ikan
ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses
reproduksi yaitu ovarium dan pembuluhnya. Sifat seksual sekunder ialah tandatanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina. Apabila
suatu spesies ikan mempunyai sifat morfologi yang dapat dipakai untuk
membedakan jantan dan betina maka spesies ikan mempunyai seksual
dimorphisme. Apabila yang menjadi tanda itu warna maka ikan itu mempunyai
seksual dichromatisme dimana pada ikan jantan biasanya warnanya agak lebih
cerah dan menarik daripada ikan betina.
Ciri seksual ikan dapat dibagi menjadi dua, yaitu ciri seksual primer dan
ciri seksual sekunder. Ciri seksual primer adalah alat organ yang berhubungan
langsung dengan proses reproduksi. Testes dan salurannya pada ikan jantan
merupakan ciri seksual primer. Untuk melihat perbedaannya diperlukan
pembedahan. Ciri seksual sekunder berguna dalam membedakan ikan jantan
dengan ikan betina dan dapat dilihat dari luar, meskipun kadang kala tidak
memberikan hasil yang positif (nyata).
Gonad adalah organ reproduksi yang berfungsi menghasilkan sel kelamin
(gamet). Gonad yang terdapat pada tubuh ikan jantan tersebut disebut testes
yang berfungsi menghasilkan spermatozoa, sedangkan yang terdapat pada i

Individu ikan betina disebut ovari berfungsi menghasilkan telur (Pulunga et. al,
2005). Selanjutnya dikatakan juga bahwa gonad yang terdapat didalam tubuh
mengalami perkembangan dari bentuk sehelai benang yang berisi cairan bening
kemudian berkembang dan membesar sesuai dengan kapasitas rongga perut yang
dimiliki individu ikan. Perkembangan gonad ini dipengaruhi oleh adanya
perkembangan gamet yang diproduksi oleh gonad itu sendiri. Semakin matang
gonad suatu in-dividu ikan maka semakin besar bentuk dan berat gonad serta
tubuh individu ikan.
2.2 Bakteri
Bakteri adalah domain yang terdiri dari makhluk hidup yang tidak
memiliki membrane inti (prokariota). Bakteri dulu terbagi menjadi Bacteria dan
Archaebacteria, namun sekarang Archaebakteria memiliki domain sendiri yang
disebut Archaea. Bakteri memiliki ciri-ciri antara lain tidak memiliki membrane
inti, tidak memiliki organel bermembran, memiliki dinding sel peptidoglikan,
dan materi asam nukleatnya berupa plasmid (Postlethwait dan Hopson, 2006).
Bakteri berkembang biak membelah diri dan karena begitu kecil maka
hanya dapat dilihat menggunakan mikroskop. Bakteri mempunyai beberapa
organel yang dapat melaksanakan beberapa fungsi hidup (Waluyo, 2004).
1. Ukuran bakteri
Ukuran bakteri sangat kecil, umumnya bentuk tubuh bakteri dapat dilihat
dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 1000x atau lebih. Satuan
ukuran tubuh bakteri adalah micrometer atau micron. Satu micron () sama
dengan 1/1000 milimeter (mm). Lebar tubuh umumnya antara 1-2 , sedangkan
panjangnya antara 2-5 .
Bakteri berbentuk kokus mempunyai diameter 0,5 ada pula yang
berdiameter 2,5 . Sedangkan bakteri berbentuk basil mempunyai diameter 0,22,0 . Ukuran-ukuran yang menyimpang dari ukuran tersebut diatas cukup
banyak pula. Oleh karena itu, pengukuran besar kecilnya bakteri perlu
didasarkan pada standar yang sama. Bakteri yang berumur 2-6 jam pada

umumnya lebih besar daripada bakteri yang berumur lebih dari 24 jam Waluyo,
2004).
2. Bentuk bakteri
Bakteri memiliki beragam variasi bentuk, seperti coccus, basil, dan spiral.
Bakteri dapat hidup soliter maupun berkoloni dan berkembang biak dengan cara
membelah diri. Bakteri memiliki habitat yang bervariasi, dari air, tanah, udara,
hingga dalam tubuh hewan, misalnya dalam usus manusia. Bakteri ada yang
dapat hidup secara anaerob murni dan akan mati dengan adanya oksigen, ada
yang bersifat aerob dan memerlukan oksigen untuk metabolismenya. Ada yang
bersifat aerob fakultatif yaitu dapat hidup pada kondisi anaerob, tapi bila ada
oksigen metabolismenya bersifat aerob (Betsy dan Keogh, 2005).

2.2 Mikroba saluran pencernaan ikan


Mikroflora saluran pencernaan ikan yang berhasil diisolasi ada 18 isolat
yang terdiri atas 4 isolat mikroba amilolitik (Moraxella sp.,Aeromonas
hydrophila, Citrobakter sp. dan Carnobacterium sp.), 3 jenis mikroba amilolitik
anaerob (Staphylococcus sp. Flavobacterium sp. dan Vibrio sp.), 5 jenis mikroba
proteolitik aerob (Streptococcus sp.,Bacillus sp.,Micrococcus sp., Pseudomonas
sp. dan Proteus sp.), 2 jenis mikroba proteolitik anaerob (Vibrio alginoliticus dan
jenis tidak teridentifikasi), 2 jenis mikroba lipolitik aerob (Planococcus sp. dan
Plesiomonas sp.) dan 2 jenis mikroba lipolitik anaerob (Kurthia sp. dan Serratia
sp.)
2.3 Isolasi Mikroba
Isolasi adalah mengambil mikroorganisme yang terdapat di alam dan
menumbuhkannya dalam suatu medium buatan. Prinsip dari isolasi mikroba
adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya yang berasal dari
campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan
menumbuhkannya dalam media padat sel-sel mikroba akan membentuk suatu

koloni sel yang tetap pada tempatnya. Isolasi bakteri atau biakan yang terdiri dari
satu jenis mikroorganisme (bakteri) dikenal sebagai biakan murni atau biakan
aksenik. Biakan yang berisi lebih dari satu macam mikroorganisme (bakteri)
dikenal sebagai biakan campuran, jika hanya terdiri dari dua jenis
mikroorganisme, yang dengan sengaja dipelihara satu sama lain dalam asosiasi,
dikenal sebagai biakan dua-jenis
Persyaratan utama bagi isolasi dan kultivasi fage adalah harus adanya
kondisi optimum untuk pertumbuhan organisme inangnya. Sumber bakteriofage
yang paling baik dan paling utama adalah habitat inang. Sebagai contoh fage
koli yang di jumpai di dalam pencernaan dapat diisolasi dari limbah atau pupuk
kandang. Hal ini dilakukan dengan sentifugasi atau filtrasi bahan sumbrnya dan
penambahan kloroform untuk membunuh sel-sel bakterinya.
Ada beberapa cara yang digunakan untuk bakteri, fungi, dan khamir
dengan metode garis, metode tuang, metode sebar, metode penuangan, serta
micromanipulator. Dua diantaranya yang paling sering banyak digunakan adalah
teknik cawan tuang dan cawan gores. Kedua metode ini didasarkan pada prinsip
yang sama yaitu mengencerkan organisme sedemikian rupa sehingga individu
species dapat dipisahkan (plezar, 2006)
Mikroorganisme dibiakkan di laboratorium pada medium yang terdiri
dari bahan nutrient. Biasanya pemilihan medium yang dipakai bergantung
kepada banyak faktor seperti seperti apa jenis mikroorganisme yang akan
ditumbuhkan.Perbenihan

untuk

pertumbuhan

bakteri

agar

dapat

tetap

dipertahankan harus mengandung semua zat makanan yang diperlukan oleh


organisme tersebut. Faktor lain seperti PH, suhu, dan pendinginan harus
dikendalikan dengan baik.
Selain untuk tujuan diatas medium juga memiliki fungsi lain, seperti
tempat untuk mengisolasi, seleksi, evaluasi dan diferensiasi biakan yang
didapatkan. Agar tiap-tiap medium memilki karakteristik yang sesuai dengan
tujuan sehingga seringkali digunakan beberapa jenis zat tertentu yang
mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba

(Suriawiria,

2005).

Beberapa

indikasi

pembiakan

pada

laboratorium

mikrobiologi meliputi:
1.

Pengasingan (isolasi) mikroba pada biakan bakteri

2.

Menunjukan sifat khas mikroba.

3.

Untuk menentukan jenis mikroba yang diisolasi dengan cara-cara


tertentu.

4.

Untuk mendapatkan bahan biakan yang cukup untuk membuat


antigen dan percobaan serologi lainnya.

5.

Menentukan kepekaan kuman terhadap antibiotik.

6.

Menghitung jumlah kuman

7.

Mempertahankan biakan mikroba.


Mikroorganisme

tidak

memerlukan

banyak

ruangan

untuk

perkembangannya, sebab itu media buatan (agar) dapat dimasukkan ke dalam


sebuah tabung percobaan labu atau cawan Petri. Pada permulaannya tabung atau
cawan Petri harus dalam keadaan steril (bebas dari setiap mikroorganisme hidup)
lalu setelah itu dimasukkan mikrobia yang diinginkan, tabung atau cawan harus
dilindungi terhadap kontaminasi dari luar. Sumber utama pencemaran dari luar
adalah udara, yang banyak mengandung mikroorganisme yang berterbangan.
Bentuk cawan petri, dengan tutup yang saling menyelubungi, dirancang untuk
mencegah pencemaran udara. Pencemaran tabung atau labu dihindari dengan
cara menyumbat mulutnya dengan penutup yang cocok, biasanya dengan kapas.
Permukaan luar cawan biakan yang menjadi sasaran pencemaran, dan
bagian dalam labu atau tabung akan tercemar bila dibuka untuk memasukkan
atau mengeluarkan bahan. Bahaya ini dapat dihindari dengan cara membakar
bibir atau pinggiran cawan, tabung atau labu dalam api, segera setelah penutup
dibuka dan dibakar sekali lagi pada waktu akan ditutup.
Dalam mengisolasi bekteri dikenal empat cara, cara isolasi bakteri
tersebut yaitu :
a. Pour plate atau shake culture

Beberapa ml suspensi bakteri dicampur dengan mediaum yang masih cair


(belum membeku) dengan demikian akan diperoleh piaraan adukan. Digunakan

10

untuk mengencerkan atau mengisolasi yang terdapat pada contoh. Setelah


inkubasi pada suhu dan waktu tertentu, koloni akan tumbuh pada permukaan dan
bagian bawah agar.
b. Streak Plate atau culture

Ujung kawat imokulasi yang membawa bakteri digesekkan atau


digoreskan dengan bentuk zig-zag pada permukaan agar-agar dalam cawan Petri
sampai meliputi seluruh permukaan. Untuk memperoleh hasil yang baik
diperlukan keterampilan, yang biasanya diperoleh dari pengalaman. Metode
cawan gores yang dilakukan dengan baik kebanyakan akan menyebabkan
terisolasinya mikroorganisme yang diinginkan. Dua macam kesalahan yang
umum sekali dilakukan adalah tidak memanfaatkan permukaan medium dengan
sebaik- baiknya untuk digores sehingga pengenceran mikroorganisme menjadi
kurang lanjut dan cenderung untuk menggunakan inokulum terlalu banyak
sehingga menyulitkan pemisahan sel - sel yang digores.
c. Slant culture
Ujung kawat yang membawakan bakteri digesekkan pada permukaan
agar-agar miring dalam tabung reaksi. Dapat dilakukan dengan cara
menggoreskan secaa zig-zag pada permukaan agar miring menggunakan
jarum ose yang bagian atasnya dilengkungkan. Cara ini juga dilakukan pada agar
tegak untuk meminimalisir pertumbuhan mikroba dalam keadaan kekurangan
oksigen. (Rusdimin, 2003)
d. Stab culture
Ujung kawat yang membawakan bakteri ditusukkan pada media padat
(agar-agar) dalam tabung reaksi, berbeda dengan slant culture permukaan agaragar ini tidak miring. Media agar setengah padat dalam tabung reaksi, digunakan
untuk menguji gerak bakteri secara makroskopis

2.4 Identifikasi bakteri


Identifikasi bakteri meliputi pemeriksaan morfologi, pewarnaan gram,
dan uji biokimia antara lain : uji O/F, uji oksidase, uji katalase, uji motilitas,

11

produksi indol, uji TSIA, uji gula. Identifikasi bakteri dilakukan dalam beberapa
uji antara lain :
a) Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
Pengamatan morfologi koloni bakteri dilakukan setelah mendapatkan
biakan murni. Pengamatan ini meliputi warna, bentuk, tepian koloni, elevasi atau
permukaan koloni dan struktur dalam koloni.

Gambar 2. morfologi koloni mikroba


(http://sakamboy.wordpress.com/)
b) Pewarnaan Gram
Pewarnaan gram bertujuan untuk menentukan apakah bakteri tersebut
termasuk di dalam kelompok bakteri gram positif atau kelompok bakteri gram
negatif. Cara kerja dari pewarnaan gram yaitu suspensikan bakteri dengan ose,
kemudian letakkan pada obyek dan difiksasi, tetesi dengan larutan gram A yang
mengandung kristal violet, kemudian tetesi dengan larutan gram B yang
mengandung lugol, tetesi dengan larutan gram C yang mengandung alkohol, dan
yang terakhir tetesi dengan larutan gram D yang mengandung safranin.
c) Uji Katalase
Tujuan uji katalase adalah untuk mengetahui sifat bakteri dalam
menghasilkan enzim katalase. Cara kerja dari uji katalase yaitu larutan H2O2 3%
diteteskan pada obyek, kemudian suspensikan koloni bakteri dengan ose.
d) Uji Oksidase

12

Tujuan uji oksidase adalah untuk mengetahui ada tidaknya enzim


oksidase pada bakteri dengan menggunakan paper oksidase yang dapat dilihat
perubahan warna yang terjadi pada paper oksidase.
e) Uji O/F (Oksidatif/Fermentatif)
Uji O/F medium (Oksidatif/Fermentatif) bertujuan untuk mengetahui
sifat oksidasi atau fermentasi bakteri terhadap glukosa dengan menggunakan dua
tabung media yang salah satunya ditutup dengan parafin, sehingga diharapkan di
dalam media tidak terdapat udara yang dapat mendukung terjadinya fermentasi.
f) Uji Motilitas dan Produksi Indol
Uji motilitas bertujuan untuk mengetahui apakah bakteri tersebut motil
atau tidak dan untuk mengetahui produksi indol dari Tryptophane. Uji ini
menggunakan media MIO (Motility Indole Ornitin).
g) Uji TSIA (Triple Sugar Iron Agar)
Uji TSIA (Triple Sugar Iron Agar) bertujuan untuk membedakan jenis
bakteri berdasarkan kemampuan memecahkan dextrose, laktosa, sukrosa dan
pembebasan sulfida, selain itu uji TSIA berfungsi untuk mengetahui apakah
bakteri tersebut menghasilkan gas, H2S atau tidak. Media yang digunakan
mempunyai dua bagian, yaitu slant (miring) dan butt (tusuk).
h) Uji Gula
Uji gula bertujuan untuk mendeterminasi kemampuan bakteri dalam
mendegradasi gula dan menghasilkan asam organik yang berasal dari tiap-tiap
jenis gula, yaitu glukosa, sukrosa, maltosa, arabinosa, manitol dan inositol.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Pelaksanaan praktikum mengenai isolasi mikroba ini dilaksanakan pada:
Waktu
: Kamis, 20 November 2014
Tempat
: Laboratorium TIHP Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjadjaran-Jatinangor
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat yang Digunakan
Tabel 1. Alat yang digunakan dalam praktikum
No.

Alat

Fungsi

Ose

Mengambil sampel
mikroba

Lampu bunsen

Mengsterilkan alat

Inkubator

Menginkubasi mikroba
pada suhu yang
ditentukan

13

Gambar

14

Tabung reaksi

Wadah sampel

Beaker glass

Wadah untuk
pencampuran sampel
dengan akuades

Cawan petri

Wadah sampel

Pipet tetes

Mengambil larutan
dalam jumlah sedikit

15

Hot plate

Membantu
mempercepat
homogenisasi larutan

Colony
counter

Mempermudah
penghitungan mikroba

10

Labu
erlenmeyer

Wadah
menghomogenkan
larutan

11

Oven

Tempat mensterilkan
alat

12

Gelas ukur

Wadah pengenceran

16

13

Mortar

Wadah menghaluskan
sampel

3.2.2 Bahan yang Digunakan


Adapun bahan utama yang dibutuhkan pada proses inolasi mikroba
adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Bahan yang digunakan dalam praktikum
No.

Bahan

Fungsi

Alkohol

Media sterilisasi

Ikan

Sampel sumber
mikroba

Gambar

17

Nutrien agar

Medium biakan

3.2.3 Prosedur Kerja


Untuk menghasilkan kultur murni melalui proses isolasi mikroba dapat
dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :
Disiapkan ikan yang akan dijadikan sumber mikroba.

Dicuci bagian luar ikan dengan 50 ml akuabides dan ditampung


air hasil pencucian.

Insang ikan dikeluarkan dan diletakkan pada cawan petri steril.


Ditambahkan 10 ml akuabides. Lalu diaduk hingga rata.

Diambil 10 mg saluran pencernaan ikan dan diletakkan pada


mortal steril. Dilumatkan dan ditambahkan 10 ml akuabides.
Diaduk hingga rata.

Dilakukan serial pengenceran 10-1 sampai 10-6.

Diambil 1 ml dari masing-masing hasil pengenceran di atas


(luar tubuh ikan, insang dan saluran pencernaan), Dimasukan
secara aseptik ke cawan petri.

Dinginkan
beberapa
saat
dengan
cara
menggerakInokulasikan
mikroba
yang
menempel
pada
oseuntuk
ke
Siapkan
media
kultur
steril
yang
akan
digunakan
gerakan
ose
di
udara.
Tempelkan
ose
tersebut
ke
Ambil
ose
dan
lakukan
sterilisasi
panas
dengan
media kulturmenginokulasi
steril yang telah
disediakan dengan
mikroba.
populasi
mikroba
terpilih
secara
menggunakan
lampu
bunsen/spirtus.
menggunakan
metode
gores
(streakaseptic.
methods).

18

Ditambahkan 15 ml media agar yang masih hangat dan aduk


dengan diggerakan cawan petri di atas meja hingga membentuk
pola angka delapan.
Dilakukan inkubasi selama 2 x 24 jam

Dilakukan isolasi tahap kedua hingga didapatkan populasi


sejenis (biakan murni).

Disiapkan media kultur yang telah berisi inokulan. Ditentukan


dua jenis populasi mirkoba yang akan dipilih. Pemilihan
mikroba sebaiknya didasarkan pada karakter bentuk atau warna
yang khas.

Dimasukan media kultur yang telah diinokulasi mikroba terpilih


ke dalam inkubator. Dilakukan proses inkubasi selama dua hari.

Diamati populasi mikroba yang tumbuh. Apabila telah didapat


populasi sejenis, dilakukan identifikasi.

BAB IV
HASIL PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 3. Hasil pengamatan mikroba
FISIK
(MORFOLOGIS)

Gambar

BENTUK
KOLONI 1
KOLONI 2

Bentuk
Koloni
Mikroba

Irregular

Irregular

Bentuk Tepi
Koloni
Mikroba

Smooth

Lobate

Bentuk
Permukaan
Koloni

Smooth

Smooth

Tabel 4. Hasil Pengamatan Kelompok


Kel.

Sampel

Pengenceran

Air cucian
ikan

10-1

19

Koloni 1

Koloni 2

Bentuk

Irreguler

Irreguler

Tepi

Lobate

Wavy

20

Air cucian
ikan

10-2

Permuk
aan

Smooth

Smooth

Bentuk

Round

Puncform

Tepi

Lobate

Wavy

Permuk
aan

Concentric

Countured

Puncform

Puncform

Irreguler

Round

Tepi

Smooth,
Wavy

Smooth,
Filamentous

Permuk
aan

Smooth,
Wrinkled

Smooth,
Wrinkled

Bentuk

Round

Irreguler

Tepi

Curied,
lobate,
smooth

Lobate

Permuk
aan

Smooth

Smoot

Bentuk

Round,
Ireguler

Irreguler

Tepi

Smooth,
Lobate

Lobate

Permuk
aan

Smooth,
Countured

Smooth

Bentuk

Irreguler

Round

Tepi

Lobate

Curved

Permuk
aan

Countured

Smooth

Bentuk

Filamentous,
Irreguler

Filamentous
, Irreguler

Filamentous,
Lobate

Filamentous
, Lobate

Bentuk
3

Air cucian
ikan

Air cucian
insang

Air cucian
insang

Air cucian
insang

Air cucian
insang
Air cucian
insang

10-3

10-2

10-3

10-4

10-5

Tepi

21

Air cucuian
saluran
pencernaan

Air cucuian
saluran
pencernaan

10-4

10-5

Permuk
aan

Countered,
Smooth

Countered,
Smooth

Bentuk

Puncform,

Round

Tepi

Smooth

Lobate

Permuk
aan

Smooth

Smooth

Bentuk

Irreguler

Irreguler

Tepi

Smooth

Lobate

Permuk
aan

Smooth

Smooth

4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini mengenai isolasi mikroba, yaitu menumbuhkan
mikroba pada suatu medium. Medium biakan yang digunakan adalah medium
padat berupa nutrien agar. Agar digunakan sebagai medium biakan karena agar
tidak dapat diuraikan oleh mikroba. Sebelum melakukan isolasi mikroba, terlebih
dahulu kita harus menjaga agar semua alat-alat yang akan digunakan untuk
inokulasi dan isolasi mikroba dalam keadaan steril. Ini dilakukan untuk
menghindari terjadinya kontaminasi, yaitu masuknya mikroba-mikroba lain yang
tidak diinginkan sehingga biakan mikroba di dalam medium akan tumbuh sesuai
yang diinginkan.
Memisahkan mikroba satu dengan lainnya disebut inokulasi. Dalam
praktikum ini dilakukan inokulasi dengan cara pengenceran. Adapun mikroba
yang akan diinokulasi adalah mikroba yang berasal dari air cucian ikan, mikroba
pada insang ikan, mikroba pada saluran pencernaan ikan. Akuades disemprotkan
pada ikan dan airnya tersebut yang akan digunakan untuk sebagai sumber
mikroba. Insang ikan dikeluarkan dari operkulumnya dan diletakkan didalam
beaker glass, ditambahkan akuades dan diaduk hingga sekiranya mikroba yang
ada pada insang tercampur dengan akuadesnya. Penambahan akuades ini

22

bertujuan untuk melarutkan atau melepaskan mikroba dari substratnya ke dalam


air.Lalu untuk bagian pencernaan, ikan dibedah dan bagian saluran pencernaannya
diambil dan ditaruh diatas cawan petri, ditambahkan akuades, dan kemudian
ditumbuk atau dihancurkan. Penghancuran saluran pencernaan ini dapat
menggunakan mortar dan pestle sehingga mikroba yang ada di permukaan atau
didalam dapat terlepas kemudian dilarutkan ke dalam air.
Untuk kelompok kami melakukan sumber mikroba dari saluran
pencernaan dengan pengenceran sebanyak 10-6. 1 ml air saluran pencernaan yang
tadi sudah ditumbuk diencerkan dengan menambahkan 9 ml akuades. Lalu
diencerkan kembali sebanyak enam kali. Pengenceran yang dilakukan adalah
pengenceran bertingkat. Tujuannnya memperkecil atau mengurangi jumlah
mikroba yang tersuspensi dalam cairan. Setelah selesai disiapkan cawan petri
yang sudah dalam keadaan steril dan tidak dibuka terlebih dahulu. Dituangkan
pengenceran mikroba tadi kedalam cawan petri didekat lampu bunsen sambil
cawan petri tersebut diputar sehingga semua bagiannya steril. Ini dimaksudkan
untuk menghindari adanya kontaminasi.
Dimasukan pula medium pembiakan yaitu natrium agar ke dalam cawan
petri yang berisi mikroba, natrium agar yang digunakan sebanyak 15 ml.
Kemudian didekatkan ke lampu bunsen agar tidak terjadi kontaminasi juga.
Natrium agar (NA) yang dituangkan tidak boleh dalam keadaan panas karena akan
membunuh mikroba, tetapi tidak juga dalam keadaan dingin karena agar bisa jadi
akan mengeras. Setelah itu untuk menghomogenkannya dilakukan pengandukan
dengan cara menggerakan cawan petri membentuk angka delapan. Tujuan
menggerakan membentuk angka dalam supaya mikroba tersebar keseluruh
permukaan cawan petri tidak hanya pada permukaan natrium agar saja melainkan
mikroba terendam didalam natrium agar tersebut. Sehingga terdapat sel mikroba
yang tumbuh di permukaan natrium agar yang kaya akan O2 dan ada yang tumbuh
didalam natrium agar yang tidak begitu banyak mengandung oksigen. Selanjutnya
cawan petri tersebut dibungkus kembali menggunakan sampul coklat dan diikat
lalu di inkubasi.

23

Cawan petri yang yang berisi mikroba dan akan di inkubasi harus dalam
keadaan kebalik (tutup cawan petri berada dibagian bawah). Ini bertujuan untuk
mencegah air kondensasi jatuh diatas permukaan yang ditumbuhi mikroba
sehingga dapat terjadi penyebaran koloni. Dilakukan inkubasi bertujuan untuk
menumbuhkan mikroba dengan suhu yang konstan, sehingga pertumbuhan
mikroba diharapkan akan optimum. Penginkubasian dilakukan selama 2x24 jam
setelah itu diamati kembali.
Cawan petri yang telah diinkubasi diambil dan diamati pertumbuhan
mikrobanya. Keadaan tempat untuk panen mikroba harus tetap dalam keadaan
steril dengan cara menyemprotkan alkohol 70%. Setelah itu disiapkan kembali
natrium agar pada cawan petri. Natrium agar sudah dalam keadaan padat
(membeku). Setelah itu dilakukan teknik penanaman dengan metode gores,
tujuannya untuk mengisolasi mikroorganisme dari campurannya atau meremakan
kultur ke dalam medium baru. Metode ini dilakukan karena memiliki 2
keuntungan, yaitu menghemat bahan dan waktu.
Jarum ose bulat dipanaskan diatas api bunsen tujuannya agar jarum ose
yang digunakan untuk mengambil dan menggoreskan mikroba dalam keadaan
steril. Dengan menggunakan jarum ose diambil mikroba dari biakan murni,
kemudian digoreskan pada medium natrium agar. Pada cawan petri yang berisi
natrium agar, dibagi dua menjadi dua bagian menggunakan spidol. Sebelumnya
cawan petri tersebut didekatkan pada lampu bunsen sambil diputar. Dibuka secara
perlahan agar tidak banyak pengaruh dari udara luar. Jarum ose yang sudah
terdapat mikrobanya digoreskan pada medium natrium agar secara zigzag.
Kemudian jarum ose dipanaskan kembali, dan diambil mikroba di tempat yang
berbeda dari yang pertama dilakukan, kemudian digoreskan kembali pada bagian
yang lainnya. Setelah itu cawan petri kembali disterilkan dan dibungkus
menggunakan sampul coklat dan kembali diinkubasi.
Setelah beberapa hari diinkubasi, mikroba sudah dapat dipanen dan
diamati. Mikroba yang dihasilkan pada koloni satu berbentuk irregular dengan
memiliki bentuk tepi koloni berbentuk smooth, dan pada permukaanya berbentuk
smooth. Sedangkan pada koloni kedua mikroba yang dihasilkan berbentuk

24

irreguler juga teteapi bentuk tepi mikroba tersebut yaitu lobate dan permukaan
mikrobanya adalah smooth. Dari hasil mikroba yang didapatkan menunjukkan
isolasi mikroba yang dilakukan berhasil mendapatkan biakan murni, karena yang
mikroba yang diidentifikasi pada kolono 1 dan koloni 2 sejenis.
Hasil isolasi mikroba kelompok 1 pada koloni 1 adalah berbentuk
irreguler, dengan tepi mikroba lobate, dan permukaannya smooth, sedangkan pada
koloni 2 mikroba yang didapatkan berbentuk irreguler juga tetapi tepinya bentuk
wavy dan permukaannya pun smooth. Kelompok 1, 2, dan 3 menggunakan sampel
mikroba yang berasal dari air cucian ikan. Rata-rata mikroba yang dihasilkan dari
air cucian ikan berbentuk irreguler, round, dan punctiform. Sedangkan tepinya
rata-rata berbentuk wavy. Serta permukaan koloni mikrobanya smooth.
Untuk sampel yang dihasilkan dari air cucian insang ikan, kelompok 4, 5,
6, dan 7 mereka mendapatkan biakan mikroba yang tidak murni. Ini karena dapat
dilihat dari hasil pengamatannya pada satu koloni terdapat beberapa bentuk
mikroba, sehingga belum didapatkan biakan murni. Kegagalan ini bisa saja terjadi
diakibatkan karena kurang steril dalam melakukan isolasi mikroba. Ataupun
karena kurang mengefisiensikan tempat media untuk penggoresan sehingga sulit
mendapatkan biakan murni.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Isolasi adalah mengambil mikroorganisme yang terdapat di alam dan
menumbuhkannya dalam suatu medium buatan. Prinsip isolasi mikroba adalah
memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya yang berasal dari
campuran bermacam-macam mikroba. Isolasi mikroba dapat dilakukan dengan
metode tuang dan metode gores dengan bantuan medium nutrien agar.
Ada beberapa cara yang digunakan untuk bakteri, fungi, dan khamir
dengan metode garis, metode tuang, metode sebar, metode penuangan, serta
micromanipulator. Dua diantaranya yang paling sering banyak digunakan adalah
teknik cawan tuang dan cawan gores. Kedua metode ini didasarkan pada prinsip
yang sama yaitu mengencerkan organisme sedemikian rupa sehingga individu
species dapat dipisahkan.
5.2 Saran
Dalam melakukan isolasi mikroba harus dipastikan semua dalam keadaan steril,
baik alat-alat praktikum maupun praktikan yang melakukan kegiatan praktikum
untuk mengurangi adanya kontaminasi dari luar (udara). Selain itu praktikan
sebaiknya lebih memperhatikan dan lebih teliti lagi dalam setiap metode yang
dilakukan, supaya hasilnya bisa sesuai dengan yang diharapkan

25

DAFTAR PUSTAKA

Aslamyah, Siti. 2012. Seleksi Mikroflora Saluran Pencernaan Ikan Bandeng


Sebagai Kandidat Prebiotik. Makasa. Universitas Hasanidun.
Badjoeri, Muhammad. 2007. Identifikasi Bakteri Patogen pada Sistem Karamba
Jaring Apung (KJA) di Danau Maninjau, Sumatra Barat. Padang. Pusat
Penelitian Limnologi LIPI.
Betsy dan Keogh. 2005. Microbiology Demystifed. McGraw-Hill Publisher.
USA.
EffendI, M. I. 1997. Metodologi Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
122 hal.
Kottelat, M., et al. 1993. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi
(Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi). Periplus Edition
Limited. Munich. Germany. 293 hal.
Murniati, Nunuk A, 2004. Getar Gender. Magelang : Indonesia Tera.
Nurcholis, Muchamad. 2013.Teknik Isolasi Mikroba. Malang. Universitas
Brawijaya.
Plezar. 2006. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press
Postlethwait dan Hopson. 2006. Modern Biology. Holt, Rinehart and
Winston.Texas.
Pulungan, C. P., et al. 2005. Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Univesitas Riau. Pekanbaru. 80 hal. (tidak diterbitkan. Hanya
untuk kalangan sendiri).
Putra, R. M., et al. 2004. Penuntun Praktikum Ichthyology. Laboratorium
Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Univesitas
Riau. Pekanbaru. 74 hal. (tidak diterbitkan. Hanya untuk kalangan
sendiri).
Rizvica, Aftria R.. 2012. Perbandingan Prevalensi Parasit Pada Insang dan
Usus Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) yang Tertangkap di

vii

Sungai Aloo dan Tambak Kedung Peluk, Kecamatan Tanggulangin,


Sidoarjo. Surabaya. Universitas Hang Tuah.
Saanin, H. 1995. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan.Bina Cipta. Bandung.
262 hal.
Sumantadinata K. 1983. Pengembangan Ikan-Ikan Peliharaan di Indonesia.
Jakarta, Satra Hudaya.
Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar Sinanti, Jakarta.
Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. Penerbit Universitas. Muhamadiyah
Press, Malang.
Yulvizar, Cut. 2013. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Probiotik pada Rastrelliger
sp.

viii

LAMPIRAN
Lampiran 1. Tugas Pendalaman
1. Jelaskan oleh Anda, kemungkinan apa yang dapat menyebabkan kegagalan
pembuatan biakan murni mikroba.
Jawab: tidak memanfaatkan permukaan medium dengan sebaik- baiknya
untuk digores sehingga pengenceran mikroorganisme menjadi kurang
lanjut dan cenderung untuk menggunakan inokulum terlalu banyak
sehingga menyulitkan pemisahan sel- sel yang digores dan bisa saja
karena kurang teliti dan hati-hati dalam melakukan teknik pembuatan
biakan murni, seperti penggunaan jarum ose dan media seperti cawan
petri yang kurang didekatkan dengan lampu Bunsen sehingga
keadaannya tidak steril.
2. Mengapa tidak dilakukan proses pengenceran inokulan pada saat melakukan
isolasi mikroba?
Jawab: Karena pada pengenceran inokulan, kemungkinan besar akan
didapatkan beberapa koloni yang akan tumbuh dalam medium
tersebut, akan tetapi mungkin juga kita hanya akan memperoleh satu
koloni saja. Kemungkinan ini menyebabkan koloni yang dihasilkan
bukan merupakan biakan murni seperti yang diinginkan dari tujuan
isolasi mikroba.
3. Apakah hasil isolasi yang Anda lakukan belum berhasil mendapatkan biakan
murni. Jelaskan alasan Anda?
Jawab: Hasil isolasi mikroba yang dilakukan berhasil, karena dapat dilihat
dari hasil mikroba yang berada pada cawan petri warnanya putih
semua, itu menandakan hasil isolasi mendapatkan biakan murni
(mikroba sejenis).
4. Menurut Anda, apakah isolasi mikroba hanya dilakukan pada media agar
lempeng, tidak bisa dilakukan pada media agar tegak atau agar miring?
Jawab: Isolasi mikroba juga dapat dilakukan pada media agar tegak atau agar
miring. Pada media agar tegak, dilakukan untuk meminimalisir
pertumbuhan mikroba dalam keadaan kekurangan oksigen. Pada

ix

media agar miring, digunakan untuk menguji gerak mikroba secara


makroskopis.
5. Mengapa pada proses inokulasi mikroba, ose hanya ditempelkan pada
populasi mikroba terpilih?
Jawab: Agar nantinya biakan murni yang dihasilkan adalah jenis mikroba
yang benar-benar kita inginkan tanpa adanya kontaminasi mikroba
lainnya.

xi

Lampiran 2. Hasil Pengamatan Kelompok

Gambar 3. Lembar kerja Christoper


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 4. Lembar kerja Rizal Firdaus


(sumber: dokumentasi pribadi)

xi

Gambar 5. Lembar kerja Jumaidi Efendi


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 6. Lembar kerja Ruth Maria


(sumber: dokumentasi pribadi)

xii

Gambar 7. Lembar kerja Rury Ratnafuri


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 8. Lembar Kerja M. Salsabil


(sumber: dokumentasi pribadi)

xiii

Gambar 9. Lembar kerja kelompok 1


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 10. Lembar kerja kelompok 2


(sumber: dokumentasi pribadi)

xiv

Gambar 11. Lembar kerja kelompok 3


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 12. Lembar kerja kelompok 4


(sumber: dokumentasi pribadi)

xv

Gambar 13. Lembar kerja kelompok 5


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 14. Lembar kerja kelompok 6


(sumber: dokumentasi pribadi)

xvi

Gambar 15. Lembar kerja kelompok 7


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 16. Lembar kerja kelompok 8


(sumber: dokumentasi pribadi)

xvii

Gambar 17. Lembar kerja kelompok 9


(sumber: dokumentasi pribadi)

xviii

Lampiran 3. Dokumentasi Kelompok

Gambar 18. Nutrium agar


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 19. Mikroba yang telah diinkubasi


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 20. Proses penggoresan


(sumber: dokumentasi pribadi)