Anda di halaman 1dari 24

TANGGUNG JAWAB PERAWAT

DALAM PEMENUHAN HAK PASIEN

Disusun untuk memenuhi Tugas


Mata Kuliah: Etika dan Hukum Kesehatan

Oleh:
Rahmad Septian Reza S. Kep. Ns. (22020113410001)
Sri Purweni, S. Kep. Ns. (22020113410002)

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013

1
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

................................................................................................2

B. Permasalahan

....................................................................................................4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A.

Pengertian

....................................................................................................5

B.

Aspek Yuridis ....................................................................................................6

C.

Aspek Keperawatan

......................................................................................14

BAB III PEMBAHASAN


A.

Kasus ..............................................................................................................16

B.

Analisa Kasus ..................................................................................................17

BAB IV PENUTUP
A.

Simpulan

B.Saran

........................................................................................................22

..............................................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................................23

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini dunia keperawatan semakin berkembang, perawat dianggap sebagai salah satu profesi
kesehatan yang harus dilibatkan dalam pencapaian tujuan pembangunan kesehatan baik di
dunia.Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya kebutuhan pelayanan kesehatan
menuntut perawat saat ini memiliki pengetahuan dan keterampilan di berbagai bidang. Saat
ini perawat memiliki peran yang lebih luas dengan penekanan pada peningkatan kesehatan
dan pencegahan penyakit, juga memandang klien secara komprehensif. Perawat menjalankan
fungsi dalam kaitannya dengan berbagai peran pemberi perawatan, pembuat keputusan klinik
dan etika, pelindung dan advokat bagi klien, manajer kasus, rehabilitator, komunikator dan
pendidik.
Perawat adalah profesi yang difokuskan pada perawatan individu, keluarga, dan masyarakat
sehingga mereka dapat mencapai, mempertahankan, atau memulihkan kesehatan yang
optimal dan kualitas hidup dari lahir sampai mati.Peran perawat sangat konprehensif dalam
menangani pasien karena peran perawat adalah membimbing pasien yang merupakan bagian
integral dari bentuk pelayanan kesehatan dalam upaya memenuhi kebutuhan biologispsikologis-sosiologis-spritual, oleh karenanya perawat dituntut untuk mempunyai sifat
tanggung jawab pada profesinya.
Tanggung jawab perawat berarti keadaan yang dapat dipercaya dan terpercaya.
Sebutan ini menunjukkan bahwa perawat professional menampilkan kinerja secara hati hati,
teliti dan kegiatan perawat dilaporkan secara jujur.(Koziers 1983). Sikap tanggung jawab
merupakan salah satu karakter inti yang harus dimiliki oleh seorang perawat, agar pasien
memberikan kepercayaannya untuk perawat, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa
akan ada banyak pasien yang akan mencari tenaga dari perawat itu sendiri, baik perawat
mandiri ataupun yang bekerja dirumah sakit.
Peranan rumah sakit menjadi sangat penting dalam menunjang kesehatan
masyarakat, maju atau mundurnya rumah sakit sangat ditentukan oleh keberhasilan dari
pihak-pihak yang bekerja di rumah sakit tersebut, baik oleh dokter, perawat, maupun
orang-orang yang berada di tempat tersebut. Pihak rumah sakit diharapkan mampu
memahami konsumennya (pasien) secara keseluruhan agar dapat maju dan berkembang.Salah

3
satu aspek yang dapat mempengaruhi perkembangan rumah sakit adalah pelayanan
keperawatan yang diberikan. Pelayanan keperawatan yang bermutu adalah pelayanan yang
dapat memuaskan setiap pemakai jasa, serta penyelenggaraannya sesuai dengan standard,
kode etik profesi yang telah ditetapkan dan memenuhi hak pasien. Dalam sebuah relasi antara
pemberi pelayanan keperawatan dan penerima jasa pelayanan keperawatan, dalam hal ini
pasien, tentunya terdapat hak serta kewajiban. Hak atas perawatan dan atau pelayanan
kesehatan (right to health care) merupakan hak setiap orang. Hak atas perawatan pelayanan
kesehatan ini bertolak dari hubungan antara pemberi pelayanan kesehatan dan pasien.
Kewajiban perawat adalah menghormati hak pasien, pada kenyataannya, masih sering
terjadi pasien tidak mendapatkan haknya dengan baik, hal ini dapat terlihat dari adanya
keluhan masyarakat terhadap tenaga kesehatan yang semakin sering terdengar, antara lain
mengenai kurangnya waktu yang disediakan untuk pasien, kurang lancarnya komunikasi,
dan kurangnya informasi yang diberikan kepada pasien atau keluarganya.
Adanya permasalahan dalam hubungan antara pemberi pelayanan kesehatan dengan
penerima jasa pelayanan kesehatan ( pasien ) merupakan salah satu alasan perlu dibukanya
dimensi baru dan dikembangkannya cabang ilmu hukum baru, yaitu hukum kesehatan.
Hukum kesehatan adalah peraturan yang menyangkut pelayanan kesehatan. Hukum
kesehatan dibatasi pada hukum yang mengatur antara pelayanan kesehatan, dokter, rumah
sakit, Puskemas dan tenaga-tenaga kesehatan lain dengan pasien. Perkembangan hukum
kesehatan tidak dapat dilepaskan dari sistem hukum yang dianut oleh suatu negara atau
masyarakat. Dalam kaitannya dengan hubungan pelayanan kesehatan dalam masyarakat
modern, dikatakan pada dasarnya hubungan itu bertumpu pada 2 (dua) macam hak dasar yang
bersifat individual, yaitu hak atas informasi (the rigth to information) dan hak untuk
menentukan nasib sendiri (the rigth of self determonation).1
Peraturan yang memuat hak pasien yang harus dihormati telah diatur dalam Undang
undang kesehatan No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan , Undang-Undang UU No.29 tahun
2004 tentang praktek kedokteran,peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia
No.1691/Menkes/PER/VIII/2011 tentang keselamatan pasien rumah sakit, Undang-Undang
No.44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit , dan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang
perlindungan

konsumen

sehingga

pasien

sebagai

konsumen

kesehatan

perlindungandiri dari upaya pelayanan kesehatan yang tidak bertanggung jawab.

http://birokonsultan.wordpress.com

memiliki

4
B. Permasalahan
1.

Apa saja tanggung jawab yang dibebankan kepada perawat?

2.

Hak-hakapa yang diperoleh pasien ketika mendapatkan pelayanan dari tenaga


kesehatan?

3.

Bagaimana bentuk perlindungan hukum terhadap hak pasien selama di Rumah sakit?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN
1. Tanggung Jawab Perawat
Dalam kamus besar bahasa Indonesia edisi IV (2008)terbitan Kemdiknas,
tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatu (kalau terjadi apaapa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb). Makna istilah tanggung jawab
adalah siap menerima kewajiban atau tugas, arti tanggung jawab di atas semestinya
sangat mudah dimengerti setiap orang, akan tetapi jika kita diminta untuk
menlakukannya sesuai dengan definisi tanggung jawab tadi, maka sering kali merasa
sangat sulit, merasa keberatan, bahkan tidak sanggup jika diberikan kepadanya suatu
tanggung jawab, karena jauh lebih mudah untuk menghindari tanggung jawab
daripada menerima tanggung jawab (Wuryanto, 2007).Tanggung jawab perawat
berarti keadaan yang dapat dipercaya dan terpercaya. Sebutan ini menunjukkan bahwa
perawat professional menampilkan kinerja secara hati hati, teliti dan kegiatan
perawat dilaporkan secara jujur.(Koziers 1983)
2. Hak
Hak adalah wewenang atau kekuasaan untuk berbuat sesuatu (krn telah
ditentukan oleh undang-undang, aturan, dsb)2. Menurut CM. Fagin (1975) hak
merupakan tuntutan terhadap sesuatu, dimana seseorang mempunyai wawenang
terhadapnya, seperti kekuasaan dan hak-hak istimewa yang berupa tuntutan yang
berdasarkan keadilan, moralitas, atau legalitas.Hak dapat dipandang dari sudut
hukum dan pribadi.Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan
kebutuhan pribadinya sesuai dengan keadilan, moralitas, dan legalitas.3
3. Pasien
Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya
untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan, baik secara langsung
maupun tidak langsung di rumah sakit.4
4. Hak Pasien
Hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai pasien.5

Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV


Ermawati Dalami,Skp
4
UU No.44 tahun 2009
5
http://hukumonline.com
3

6
5. Jenis Hak6
a. Hak kebebasan
Hak mengenai kebebasan diekspresikan sebagai hak orang orang untuk hidup sesuai
pilihannya dalam batas batas yang ditentukan.
b. Hak kesejahteraan
Hak hak yang diberikan secara hukum untuk hal hal yang merupakan standard
keselamatan spesifik dalam suatu bangunan atau wilayah tertentu.
c. Hak legislative
Hak hak legislative diterapkan oleh hukum berdasarkan konsep keadilan.
6. Syarat yang Mempengaruhi Hak7
Badman dan Badman ( 1985 ) menjelaskan lima syarat yang mempengaruhi
penentuan hak hak seseorang, yaitu :
a. Kebebasan untuk menggunakan hak yang dipilih oleh seorang lain, orang yang
bersangkutan tidak dapat disalahkan atau dihukum karena menggunakan atau tidak
menggunakan hak tersebut.
b. Seseorang mempunyai tugas untuk memberikan kemudahan bagi orang lain untuk
menggunakan hak-haknya.
c. Hak harus sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan, yaitu persamaan, tidak memihak,
dan kejujuran.
d. Hak untuk dapat dilaksanakan.
e. Apabila hak seseorang bersifat membahayakakn, maka hak

tersebut dapat

dikesampingkan atau ditolak dan orang yang bersangkutan akan diberi kompensasi
atau pengganti.

B. ASPEK YURIDIS
1. Tanggung Jawab Perawat
Tanggung jawab tenaga keperawatan diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 1239/MENKES/SK/XI/2001 Tentang Registrasi dan Praktek Perawat.
Pasal 15
Perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan berwenang untuk:

6
7

Ermawati Dalami,Skp
Ermawati Dalami,Skp

7
a. Melaksanakan
diagnose

asuhan

keperawatan

yang

meliputi

pengkajian, penetapan

keperawatan, perencanaan,melaksanakan tindakan keperawatan dan

evakuasi keperawatan.
b. Tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud pada butir a meliputi: intervensi
keperawatan, observasi keperawatan, pendidikan dan konseling kesehatan.
c. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud hufur a dan b
harus sesuai dengan standar asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi
profesi.
d. Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan berdasarkan permintaan
tertulis dari dokter.
Pasal 16
Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 perawat
kerkewajiban untuk:
a. Menghormati hak pasien;
b. Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani;
c. Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
d. Memberikan informasi;
e. Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan;
f. Melakukan catatan perawatan dengan baik.
Pasal 17
Perawat dalam melakukan praktik keperawatan harus sesuai dengan kewenangan
yang diberikan, berdasarkan pendidikan dan pengalaman serta dalam memberikan
pelayanan berkewajiban mematuhi standar profesi.
Pasal 18
Perawat dalam menjalankan praktik harus membantu program pemerintahdalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Pasal 19
Perawat dalam menjalankan praktik keperawatan harus senantiasa meningkatkan
mutu pelayanan profesinya, dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya, baik
diselenggarakan oleh pemerintah maupun organisasi profesi.

8
Pasal 20
1.

Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang/pasien, perawat


berwenang

untuk

melakukan

pelayanan

kesehatan

diluar kewenangan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.


2.

Pelayanan dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat 1


ditujukan untuk penyelamatan jiwa.

Pasal 21
1.

Perawat yang menjalankan praktik perorangan harus mencantumkan SIPP


diruang praktiknya.

2.

Perawat yang menjalankan praktik perorangan tidak diperbolehkan memasang


papan praktik.

Pasal 22
1.

Perawat memiliki SIPP dapat melakukan asuhan keperawatan dalam bentuk


kunjungan rumah.

2.

Perawat dalam melakukan asuhan keperawatan dalam bentuk kunjungan


rumah harus membawa perlengkapan perawatan sesuai kebutuhan.

Pasal 23
1.

Perawat

dalam

menjalankan

praktik

perorangan

sekurang-kurangnya

memenuhi persyaratan:
a. Memiliki tempat praktik yang memnuhi syarat kesehatan;
b. Memiliki perlengkapan untuk tindakan asuhan keperawatan maupun kunjungan
rumah;
c. Memiliki perlengkapan administrasi yang

meliputi buku catatan kunjungan,

formulir catatan tindakan asuhan keperawatan serta formulir rujukan;


2.

Persyaratan perlengkapan sebagaimana dmaksud pada ayat (1), sesuai dengan


standar perlengkapan asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi
profesi.

2. Hak Pasien (AHA)


The American Hospital Association (AHA) (1992), mengembangkan Pasien
Bill of Rights yang mencakup 12 hak bagi pasien dan dapat berfungsi sebagai
modeluntuk menetapkan pedoman perawatan pasien.Pernyataan tersebut adalah :
a. Pasien mempunyai hak untuk mempertimbangkan dan menghargai asuhan
kesehatan atau keperawatan yang akan diterimanya.

9
b. Pasien berhak memperoleh informasi lengkap dari dokter yang memeriksanya
berkaitan dengan diagnosis, pengobatan, dan prognosis dalam arti pasien layak
unuk mengerti masalah yang dihadapinya.
c. Pasien berhak untuk menerima informasi penting dan memberikan suatu
persetujuan tentang dimulainya suatu pengobatan, serta resiko yang penting yang
kemungkinan akan dialaminya, kecuali dalam situasi darurat.
d. Pasien berhak menolak pengobatan sejauh

diijinkan oleh hukum

dan

diinformasikan tentang konsekuensi tindakan yang diterima.


e. Pasien berhak mengetahui setiap pertimbangan dari privasinya yang menyangkut
program asuhan medis, konsultasi dan pengobatan yang dilakukan dengan cermat
dan dirahasiakan.
f. Pasien berhak atas kerahasiaan semua bentuk komunikasi dan catatan tentang
asuhan kesehatan yang diberikan kepadanya.
g. Pasien berhak untuk mengerti bila diperlukan rujukan ke tempat lain yang lebih
lengkap dan memperoleh informasi yang lengkap tentang alasan rujukan tersebut;
rumah sakit yang ditunjuk dapat menerimanya.
h. Pasien berhak untuk memperoleh informasi tentang hubungan rumah sakit instansi
lain, seperti instansi pendidikan atau instansi terkait lainnya sehubungan dengan
asuhan yang diterimanya.
i. Pasien berhak untuk memperoleh informasi tentang pemberian

delegasi dari

dokternya kepada dokter lain, bila dibutuhkan dalam rangka asuhannya


j. Pasien berhak untuk mengetahui dan menerima penjelasan tentang biaya yang
diperlukan untuk asuhan kesehatannya.
k. Pasien berhak untuk mengetahui peraturan atau ketentuan rumah sakit yang harus
dipatuhinya sebagai pasien selama ia dirawat.
Pernyataan di atas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
a. Meningkatnya kesadaran para konsumen terhadap asuhan kesehatan dan lebih
besarnya partisipasi mereka dalam perencanaan asuhan
b. Meningkatnya jumlah malpraktek yang terjadi di masyarakat
c. Adanya legislasi yang diterapkan untuk melindungi hak hak asasi manusia
d. Konsumen menyadari tentang peningkatan jumlah pendidikan dalam bidang
kesehatan dan penggunaan klien sebagai objek atau tujuan pendidikan, dan bila
pasien tidak berpartisipasi apakah akan mempengaruhi mutu asuhan atau tidak.

10
2.

Hak Kesehatan Per-orangan (UU)


Menurut Undang Undang No.36 tahun 2009 tentang kesehatan
a. Pasal 4 Setiap orang berhak atas kesehatan
b. Pasal 5 :
1) Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas

sumber daya di bidang kesehatan


2) Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan

yang aman, bermutu, dan terjangkau.


3) Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan

sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya.


c. Pasal 6 Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi
pencapaian derajat kesehatan
d. Pasal 7 Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang
kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab.
e. Pasal 8 Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan
dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan
diterimanya dari tenaga kesehatan
f. Pasal 56 :
1) Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh

tindakan pertolongan yang akan diberikan kepadanya setelah menerima


dan memahami informasi mengenai tindakan tersebut secara
2) Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak

berlaku pada:
a) penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara cepat menular ke
dalam masyarakat yang lebih luas
b) keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri atau
c) gangguan mental berat.
g. Pasal 57:
1) Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan pribadinya yang telah
dikemukakan kepada penyelenggara pelayanan kesehatan
2) Ketentuan mengenai hak atas rahasia kondisi kesehatan pribadi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal:
a) perintah undang-undang
b) perintah pengadilan

11
c) izin yang bersangkutan
d) kepentingan masyarakat; atau
e) kepentingan orang tersebut
h. Pasal 58:
1) Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga
kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian
akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang
diterimanya.
2) Tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku
bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau
pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat.

3.

Hak Pasien (UU)


Dalam Undang-Undang No.44 Tahun 2009 tentang Rumah sakit Bab VIII
tentang kewajiban dan hak, pada bagian keempat mengenai hak pasien, pasal 32
menyebutkan hak pasien sebagai berikut :
a. memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah
Sakit
b. memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien
c. memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur dan tanpa diskriminasi
d. memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan
standar prosedur operasional
e. memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari
kerugian fisik dan materi
f. mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan
g. memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan
yang berlaku di Rumah Sakit
h. meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang
mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun diluar Rumah Sakit
i. mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data
medisnya
j.

mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan
tindakan medis,alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi,
dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan

12
k. memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh
tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya
l. didampingi keluarganya dalam keadaan kritis
m. menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal
itu tidak mengganggu pasien lainnya
n.

memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di


Rumah Sakit

o. mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya
p. menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan
kepercayaan yang dianutnya
q. menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga
memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata
ataupun pidana
r. mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan
melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan
Menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
Menurut pasal 4 Undang-Undang No. 8/1999 pasien rumah sakit adalah konsumen,
sehingga secara umum pasien dilindungi dengan, hak-hak konsumen adalah:
a. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang
dan/atau jasa
b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa
tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan
c. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa
d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan
e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan konsumen secara patut
f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen
g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif

13
h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila
barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak
sebagaimana mestinya
Menurut Undang-Undang No.29 tahun 2004 tentang praktek kedokteran
pada pasal 52 tentang hak dan kewajiban pasien disebutkan bahwa pasien, dalam
menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak :
a. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis

b. meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain


c. mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis
d. menolak tindakan medis
e. mendapatkan isi rekam medis
Apabila hak-hak pasien dilanggar, maka upaya hukum yang tersedia bagi
pasien adalah:8
a. Mengajukan gugatan kepada pelaku usaha, baik kepada lembaga peradilan umum
maupun kepada lembaga yang secara khusus berwenang menyelesaikan sengketa
antara konsumen dan pelaku usaha (Pasal 45 UUPK)
b. Melaporkan kepada polisi atau penyidik lainnya. Hal ini karena di setiap undangundang yang disebutkan di atas, terdapat ketentuan sanksi pidana atas
pelanggaran hak-hak pasien.

2.

Hak Pasien (Per-Men)


Menurut

peraturan

menteri

IndonesiaNo.1691/Menkes/PER/VIII/2011tentang
sakit.Dalam

lampiran

peraturan

menteri

kesehatan
keselamatan
kesehatan

Republik
pasien

Republik

rumah
Indonesia

No.1691/Menkes/PER/VIII/2011 tentang keselamatan pasien rumah sakit pada


standar I tentang hak pasien disebutkan bahwa pasien dan keluarganya mempunyai
hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk
kemungkinan terjadinyainsiden.9

8
9

http//:www.hukumonline.com
Permenkes No.1691/Menkes/PER/VIII/2011

14

C. ASPEK KEPERAWATAN
1. Tanggung Jawab Perawat
Menurut Iyus Yosef (2009) tanggung jawab (Responsibility) perawat dapat
diidentifikasi sebagai berikut:
a. Responsibility to God (tanggung jawab utama terhadap Tuhannya)
Dalam sudut pandang etika Normatif, tanggung jawab perawat yang paling
utama

adalahtanggung

jawab

di

hadapan

Tuhannya.

Sesungguhnya

penglihatan, pendengaran dan hati akandimintai pertanggung jawabannya di


hadapan Tuhan.
b. Responsibility to Client and Society (tanggung jawab terhadap klien dan
masyarakat)
Perawat diharapkan memandang klien sebagai mahluk unikyangkomprehensif
dalam

memberikan

perawatan.

Komprehensif

artinya

dalam

memenuhikebutuhan dasar klien, tidak hanya berfokus pada pemenuhan


kebutuhan fisiknya ataupsikologisnya saja, tetapi semua aspek menjadi
tanggung

jawab

melaksanakan

perawat.Etika

tugas-tugas

tersebut.

perawat

melandasi

Dalampandangan

perawat
etika

dalam

keperawatan

perawat memilki tanggung jawab (responsibility) terhadap-tugastugasnya


terutama keharusan memandang manusia sebagai mahluk yang utuh dan
unik. Utuhartinya memiliki kebutuhan dasar yang kompleks dan saling
berkaitan antara kebutuhan satudengan lainnya, unik artinya setiap individu
bersipat khas dan tidak bisa disamakan denganindividu lainnya sehingga
memerlukan pendekatan khusus kasus per kasus, karena klien memilikiriwayat
kelahiran, riwayat masa anak, pendidikan, hobby, pola asuh, lingkungan,
pengalamantraumatik, dan cita-cita yang berbeda.
c. Responsibility to Colleague and Supervisor (tanggung jawab terhadap rekan
sejawat dan atasan)
Ada beberapa hal yang berkaitan dengan tanggung jawab perawat terhadaprekan
sejawat atau atasan, diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Membuat pencatatan yang lengkap
2) Mengajarkan ilmu pengetahuan kepada perawat lain yang belum mampu atau
belum mahir melakukannya

15
3) Memberikan teguran bila rekan sejawat melakukan kesalahan atau menyalahi
standart
4) Memberikan kesaksian dipengadilan tentang suatu kasus yang dihadapi klien
2. Hak Pasien,10
a. Pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang
berlaku di rumah sakit.
b. Pasien berhak atas pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur.
c. Pasien berhak memperoleh pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan standar
profesi kedokteran / kedokteran gigi dan tanpa diskriminasi .
d. Pasien berhak memperoleh asuhan keperawatan dengan standar profesi
keperawatan
e. Pasien berhak memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya
dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit.
f. Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat klinis
dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar.
g. Pasien berhak meminta konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di rumah
sakit

tersebut

(second

opinion)

terhadap

penyakit

yang

dideritanya,

sepengetahuan dokter yang merawat.


h. Pasien berhak atas privacy dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk
data-data medisnya.
i. Pasien berhak mendapat informasi yang meliputi :

penyakit yang diderita tindakan medik apa yang hendak dilakukan

kemungkinan penyakit sebagai akibat tindakan tsb sebut dan tindakan untuk
mengatasinya

10

alternatif terapi lainnya

prognosanya

M.Jusuf Hanifah

16

BAB III
PEMBAHASAN

A. Kasus
Tn.W umur 45 tahun,4 hari yang lalu sudah dilakukan operasi Transurethral
Resection of the Prostat (TRUP)di Rumah Sakit K dengan diagnosa medis Post
op.Benigna Prostat Hypertrophy (BPH),TD: 120/90, N: 80, S: 36C, terdapat alat infus NS
(750cc/24jam) tangan sebelah kanan, dan masih mendapatkan terapi farmaka dari dokter.
Tn. W dirawat di ruang inap kelas ekonomi rendah, satu ruangan terdapat 6 tempat tidur,
walaupun demikian keadaannya sudah membaik bisa makan dan minum seperti sedia kala,
namun masih belum bisa BAK spontan, maka dari itu Tn. W masih menggunakan alat
bantu kencing (kateter urin).
Pada suatu waktu, Tn. W merasakan perasaan yang tidak seperti biasanya, yaitu ia
merasakan ingin BAK, lama kelamaan keinginan buang air kecil semakin meningkat, dan
merasakan sedikit sakit dibagian perut bawah.
Istri Tn.W (Ny. W) yang melihat kondisi suaminya semakin lama semakin sakit,
melaporkan hal tersebut kepada tenaga kesehatan yang sedang dinas pada waktu itu,
dengan wajah khawatir Ny. W berkata : Pak-ibuk, suami saya merasakan sakit bagian
perutnya, kata suami saya sakitnya seperti nahan kencing, kira-kira kenapa ya?, salah satu
perawat yang berjaga pada waktu itu menjawab oh ya ibu, nanti kami lihat ya, sabar ya
buk. Kejadian ini bertepatan dengan sesaat pergantian sift, karenanya petugas yang
sedang berjaga sibuk membaca dan mempersiapkan laporan dinas.
Selang waktu satu jam kemudian, petugas belum juga ada yang datang untuk
melihat keadaan Tn. W, akibatnya sakit yang tadinya ringan bisa ditahan sekarang
bertambah parah, danterlihat gelisah serta merintih kesakitan.
Melihat keadaan suaminya semakin parah, Ny. W memberanikan diri datang
kepetugas untuk melaporkan kejadian yang dialami suaminya, sesampainya ditempat jaga
dinas, tampak sebagian petugas sibuk menulis dan sebagian lagi menata alat, namun hal ini
tidak mengurungkan niat Ny. W untuk melaporkan masalah suaminya. Mohon maaf
mengganggu bapak-ibuk, sakit suami saya makin parah, minta tolong dilihat suami saya

17
karna saya takut kenapa-napa kata Ny. W sambil gemetar ketakutan, salah seorang
perawat senior yang waktu itu menulis, langsung berdiri iya ibu, nanti kita kesana,
sakitnya udah biasa seperti itu karena habis dioperasi membuang alat kelamin yang ada
didalam, sebentar lagi kita kasih obat kok ujarnya dengan nada menyakinkan.
Setelah Ny. W kembali keruangan, perawat yang berjaga bukannya langsung
merespon keluhan, namun masih membicarakan Ny. W dan keluarganya, dengan
mengatakan keluarga tersebut cerewet dan tidak sabaran.

B. ANALISA KASUS
Kasus diatas merupakan salah satu pelanggaran tanggung jawab perawat terhadap
hak pasien yang terjadi dalam menjalankan asuhan keperawatan di Rumah Sakit.
Pelanggaran yang dilakukan oleh perawat yakni mengabaikan keluhan keluarga pasien
dengan mengutamakan pekerjaan yang lain sehingga menimbulkan masalah baru, ini
termasuk salah satu kelalaian dari perawat, seharusnya perawat menghentikan
pekerjaannya, dan memeriksa pasien agar tidak terjadi komplikasi, namun kejadian
keluarga Tn. W pada kasus diatas ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula, yang
artinya pasien tidak memperoleh haknya malah ditambahi dengan perawat membicarakan
negatif (merasani) tentang keluarga Tn. W.
Praktek keperawatan yang profesional dituntut untuk menjalankan tanggung jawab
yang diamanatkan oleh undang-undang serta norma keperawatan yang sudah ditetapkan,
yang salahsatunya perawat menjaga etika dan bekerja sesuai hukum yang berlaku, apabila
tidak, maka pasien mempunyai wewenang untuk menuntut hak-nya.
Kasus di atas, beberapa hak pasien yang tidak terpenenuhi adalah:
1. Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan
standar prosedur operasional ( UU N0.44 tahun 2009 tentang rumah

sakit )

2. Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian
fisik dan materi operasional ( UU N0.44 tahun 2009 tentang rumah sakit )
3. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah
Sakit ( UU N0.44 tahun 2009 tentang rumah sakit )
4. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang
dan/atau jasa ( UU No.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen )
5. Memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau ( UU N0.36
tahun 2009 tentang kesehatan )

18

Jika dilihat dari sudut perawat, maka perawat tersebut tidak melaksankan
kewajibannya dalam hal :
1. Memenuhi ketentuan kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan
kesehatan, standar pelayanan, dan standar prosedur operasional ( UU No.36
tahun 2009 )
2. Menghormati hak hak pasien11

Terdapat beberapa hal yang memungkinkan perawat tidak melakukan tindakan


keperawatan dengan benar, diantaranya sebagai berikut:
1. Perawat tidak memiliki ilmu terhadap kasus yang ditangani
2. Perawat tidak kompeten (tidak sesuai dengan kompetensinya)
3. Perawat tidak mengetahui SAK dan SOP
4. Perawat tidak memahami standar praktek keperawatan
5. Rencana keperawatan yang dibuat tidak lengkap
6. Supervise dari ketua tim, kepala ruangan atau perawat primer tidak dijalankan
dengan baik
7. Tidak mempunyai tool evaluasi yang benar dalam supervise keperawatan
8. Kurangnya komunikasi perawat kepada pasien dan keluarga tentang segala
sesuatu yang berkaitan dengan perawatan pasien, karena kerjasama pasien dan
keluarga merupakan hal yang penting.
9. Kurang atau tidak melibatkan keluarga dalam merencanakan asuhan
keperawatan

Pelanggaran hak pasien ( Tn.W ) diatas dapat berdampak bagi perawat, pasien,
rumah sakit dan profesi, dampak yang dapat terjadi adalah :
1. Terhadap pasien
a. Terjadinya masalah keperawatan baru
b. Biaya Rumah Sakit bertambah akibat bertambahnya hari rawat
c. Kemungkinanterjadikomplikasi/munculnyamasalahkesehatan/keperawata
nlainnya.

11

Ermawati Dalami,Skp

19
d. Pencemaran nama baik keluarga pasien

2. Terhadap perawat sebagai individu/pribadi


a. perawat tidak dipercaya oleh pasien, keluarga dan juga pihak profesi
sendiri, karena telah melanggar prinsip dasar nilai :12
1)

Beneficience, yaitu tidak melakukan hal yang sebaiknya dan


merugikan pasien

2)

Manifestasi, yaitu melukai atau menimbulkan bahaya/cidera bagi


pasien.

3)

Justice, perawat tidak memberikan hak pasien untuk mendapatkan


pelayanan keperawatan yang sesuai standar.

4)

Fidelity, yaitu perawat tidak setia pada komitmennya karena perawat


tidak mempunyai rasa caring terhadap pasien dan keluarga, yang
seharusnya sifat caring ini selalu menjadi dasar dari pemberian
bantuan kepada pasien.

b. Perawat akan menghadapai tuntutan hukum dari keluarga pasien dan


ganti rugi atas kelalaiannya.
c. Terdapat unsur kelalaian dari perawat, maka perawat akan mendapat
peringatan baik dari atasannya (Kepala ruang Direktur RS) dan juga
organisasi profesinya.
3.

Terhadap rumah sakit


a. Kurangnya kepercayaan masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas
pelayanan kesehatan Rumah Sakit
b. Menurunnya kualitas keperawatan, dan kemungkinan melanggar visi misi
Rumah Sakit
c. Kemungkinan Rumah Sakit dapat dituntut karena melakukan kelalaian
terhadap pasien
d. Standarisasi pelayanan Rumah Sakit akan dipertanyakan baik secara
administrasi dan prosedural

12

Ermawati Dalami,Skp

20

4. Terhadap profesi
a. Kepercayaan masyarakat terhadap profesi keperawatan berkurang, karena
menganggap organisasi profesi tidak dapat menjamin masyarakat bahwa
perawat yang melakukan asuhan keperawatan adalah perawat yang sudah
kompeten dan memenuhi standar keperawatan.
b. Masyarakat atau keluarga pasien akan mempertanyakan mutu dan
standarisasi perawat yang telah dihasilkan oleh pendidikan keperawatan

Untuk mencegah terjadinya kasus di atas, perlu dilakukan upaya pencegahan dan
perlindungan bagi penerima pelayanan asuhan keperawatan, antara lain :
1. Perawat secara individu harus melakukan tindakan keperawatan/praktek
keperawatan dengan sesuai dengan standar.
2. Dibuatnya standarisasi praktek keperawatan yang jelas.
3. Adanya badan atau konsil keperawatan yang menyeleksi perawat yang sebelum
bekerja pada pelayanan keperawatan dan melakukan praktek keperawatan.
4. Memberlakukan

segala

ketentuan/perundangan

yang

ada

kepada

perawat/praktisi keperawatan sebelum memberikan praktek keperawatan


sehingga dapat dipertanggung jawabkan.
5. Rumah Sakit melakukan uji kompetensi sesuai standarisasi yang telah
ditetapkan oleh profesi keperawatan
6. Menyelenggarakan pelatihan atau seminar secara periodik bagi semua perawat
berkaitan dengan etik dan hukum dalam keperawatan.

Penyelesaian Kasus Tn. W dan kelalaian perawat diatas, harus memperhatikan


berbagai hal baik dari segi pasien dan kelurga, perawat secara perorangan, rumah
sakitsebagai institusi dan juga bagaimana pandangan dari organisasi profesi.
Pasien dan keluarga harus pro-aktif untuk selalu mengingatkan perawat, ditakutkan
perawat lupa dengan apa yang dikeluhkan pasien atau keluarga, sehingga tidak perlu butuh
waktu yang lama atau menunggu rasa sakit bertambah parah untuk kembali mengingatkan
atau melaporkan masalah yang di alami.
Seorang perawat harus dilihat dahulu, apakah perawat tersebut kompeten dan
sudah memiliki surat registrasi perawat, apakah perawat sudah melakukan praktek asuhan

21
keperawatan pada pasien dengan post op BPH dengan benar sesuai dengan standar, dan
ketika berbicara perawat tidak mengatakan kalimat berbau tendensius, apalagi sampai
mencemarkan

nama

baik

pasien,bagaimanapun

juga

perawat

harus

dapat

mempertanggungjawabkan kelalainnya sesuai aturan perundangan yang berlaku.


Pihak rumah sakit

harus memberikan penjelasan apakah perawat yang

dipekerjakan di rumah sakit tersebut telah memenuhi syarat-syarat yang diperbolehkan


oleh profesi untuk bekerja. Apakah rumah sakit atau ruangan tempat Tn.W dirawat
mempunyai standar (SOP) yang jelas.
Bagi organisasi profesi juga harus diperhatikan beberapa hal yang memungkinkan
perawat melakukan kelalaian tanggungjawabnya atas hak pasien, apakah organisasi sudah
mempunyai standar profesi yang jelas dan telah diberlakukan bagi anggotannya, dan
apakah profesi telah mempunyai aturan hukum yang mengikat anggotanya sehingga dapat
mempertanggung jawabkan tindakan praktek keperawatannya dihadapan hukum, moral
dan etik keperawatan.

22

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Hukum dan norma yang dibuat oleh negara ataupun profesi sudah sangat jelas tentang
apa saja yang menjadi tanggungjawab perawat dan hak-hak yang didapatkan pasien, tidak
akan terjadi suatu permasalahan apabila semuanya dilakukan sesuai dengan peraturan yang
ada.
Peraturan yang memuat hak pasien yang harus dihormati telah diatur dalam Undang
undang kesehatan No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan , Undang-Undang UU No.29
tahun 2004 tentang praktek kedokteran,peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia
No.1691/Menkes/PER/VIII/2011 tentang keselamatan pasien rumah sakit, UndangUndang No.44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit , dan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999
tentang perlindungan konsumen sehingga pasien sebagai konsumen kesehatan memiliki
perlindungan diri dari upaya pelayanan kesehatan yang tidak bertanggung jawab.
Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan

mempunyai tanggung jawab untuk

menghormati hak hak pasien dengan cara melaksanakan asuhan keperawatan sesuai
dengan standard dan peraturan perundang undangan yang berlaku.

B. Saran
1. Bagi Perawat
Melaksanakan tindakan / asuhan keperawatan sesuai dengan standar operasional
prosedur
2. Bagi Rumah Sakit
Memberlakukan segala ketentuan/perundangan yang ada kepada perawat sebelum
memberikan praktek keperawatan
3. Bagi Organisasi Profesi
Memiliki standar praktek keperawatan yang jelas dan tegas

23
DAFTAR PUSTAKA

Dalami, Ermawati,dkk.2010.Etika Keperawatan.Trans Info Media.Jakarta.


Depdiknas, 2008, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV, Balai Pustaka, Jakarta.
Fagin, CM. 1990. Nurses Value Proves It Self. AJN.
Hanafiah, Jusuf.1999.Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan.EGC.Jakarta.
Iyus, Yosep. 2009. Tanggung Jawab dan Tanggung Gugat Dalam Sudut Pandang Etik.
Widya Medika. Jakarta.
Kozier, Larbara. 1995. Fundamentals Of Nursing : Concept Proces And Practice, Ethics And
Values, Addison Wesley. California.
Sunaryo. 2002. Psikologi Untuk Keperawatan. EGC. Jakarta.
Wuryanto. 2007. The 21 Principles to Build and Develop Fighting Spirit. Gramedia. Jakarta
Permenkes No.1239/Menkes/PER/VIII/2011 tentang registrasi dan praktek perawat
Permenkes No.1691/Menkes/PER/VIII/2011 tentang keselamatan pasien rumah sakit
Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
Undang Undang N0.36 tahun 2009 tentang kesehatan
Undang-Undang No.44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
http://birokonsultan.wordpress.com.HukumKesehatan

dalam

Perspektif

Masyarakat

Modern.diakses pada tanggal 06 September 2013


http://www.hukumonline.com.Hak Pasien Atas Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit.diakses
pada tanggal 06 September 2013

Anda mungkin juga menyukai