Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH TENTANG WARISAN

Disusun guna Memenuhi Tugas Mata Pelajaran Fiqih


Guru Mapel : Ibu Hanik Rahmawati, S.Ag

Disusun Oleh :
1. Moh Habibi
2. Moh Ainul Yaqin
3. Moh Nur Rozaq
4. Rochmatul Hidayah
5. Sari Maesaroh
6. Silvia Tina M
Kelas : XI IPS 1

MA MATHOLIUL HUDA SOKOPULUHAN


TAHUN AJARAN 2013 / 2014

KATA PENGANTAR
Dengan segala kerendahan dan keikhlasan hati, Penulis memanjatkan puji syukur
kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat dan rahim-Nya yang telah dilimpahkan, taufiq
dan hidayah-Nya dan atas segala kemudahan yang telah diberikan sehingga penyusunan
makalah tentang Warisan ini dapat terselesaikan.
Shalawat terbingkai salam semoga abadi terlimpahkan kepada sang pembawa risalah
kebenaran yang semakin teruji kebenarannya baginda Muhammad SAW, keluarga dan
sahabat-sahabat, serta para pengikutnya. Dan Semoga syafaatnya selalu menyertai
kehidupan ini.
Dalam kesempatan kali ini,penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1.
Ibu Hanik Rahmawati, S.Ag selaku Guru Mata Pelajaran Fiqh yang telah
membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
2.
Media massa, dan media lainnya yang artikelnya kami gunakan dalam penulisan
Makalah ini
3.
Semua pihak yang telah memberi bantuan dan dukungan yang tidak dapat kami
sebutkan satu persatu.
Setitik harapan dari penulis, semoga makalah ini dapat bermanfaat serta bisa menjadi
wacana yang berguna. Penulis menyadari keterbatasan yang penyusun miliki. Untuk itu,
penulis mengharapkan dan menerima segala kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.

Pati , Januari 2014


Penulis

v
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ..

Daftar isi ........

vi

BAB I ( PENDAHULUAN )
A. Latar Belakang ...
B. Rumusan Masalah ..................................................................
C. Tujuan ....................................................................................

1
1
1

BAB II ( PEMBAHASAN )
A. Furudhul Muqaddarah ..........................................................
B. Dzawi Furud ..........................................................................
C. Dzawil Ashobah ....................................................................
D. Hijab (Penghalang) Dalam Menerima Harta Waris ..............
E. Bagian-bagian Ahli Waris (Hukum Islam) ...........................
F. Cara pembagian Warisan ......................................................
G. Aul Rad dan cara pembagian sisa harta ...............................
H. Beberapa masalah khusus dalam pembagian warisan ..........

2
3
4
5
6
7
9
11

BAB III ( PENUTUP )


A. Kesimpulan ...........................................................................
B. Saran .........................

15
15

Daftar Pustaka ..

16

vi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Syariat Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan
adil. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia, baik laki-laki
maupun perempuan dengan cara yang legal. Syariat Islam juga menetapkan hak
pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya, dari
seluruh kerabat dan nasabnya, tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan, besar
atau kecil.
Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan
dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun. Bagian yang harus diterima
semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris, apakah dia sebagai anak,
ayah, istri, suami, kakek, ibu, paman, cucu, atau bahkan hanya sebatas saudara seayah
atau seibu.
Oleh karena itu, Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan
pembagian waris, sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits
Rasulullah saw. dan ijma' para ulama sangat sedikit. Dapat dikatakan bahwa dalam
hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum secara
detail dan rinci, kecuali hukum waris ini. Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan
salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT. Di samping bahwa
harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok
masyarakat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam
pembuatan tugas makalah ini akan membahas mengenai :
a. Furudh Al Muqaddarah
b. Dzawil Furudh
c. Dzawil Ashobah
d. Hijab
e. Bagian masing-masing ahli waris
f. Cara pembagian harta waris
g. Masalah Aul, Rad dan cra pembagian sisa harta
h. Beberapa masalah khusus dalam pembagian warisan
C. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini pada hakekatnya merupakan sesuatu yang hendak
dicapai dan dapat memberikan arahan dan penjelasan yang akan dilakukan. Berpijak
pada rumusan masalah diatas, maka tujuan yang akan dicapai dalam makalah ini adalah
untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan warisan yang sesuai dengan ketentuan hukum
islam.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Furudhul Muqaddarah
Kata al-furud adalah bentuk jamak dari kata fard artinya bagian (ketentuan). AlMuqaddarah artinya ditentukan. Jadi al-furud al-muqaddarah adalah bagian-bagian yang
telah ditentukan oleh syara bagi ahli waris tertentu dalam pembagian harta peninggalan.
Bagian itulah yang akan diterima ahli waris menurut jauh dekatnya hubungan
kekerabatan.
Furudul Muqaddarah ada enam macam:
1. Dua pertiga (2/3)
2. Setengah (1/2)
3. Sepertiga (1/3)
4. Seperempat (1/4)
5. Seperenam (1/6)
6. Seperdelapan (1/8).
Dasar hukumnya adalah firman Allah surat an-Nisa ayat 11-12, yang artinya
''Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.Yaitu :
bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan
jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari
harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh
separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari
harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang
meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya
mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka
ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi
wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan
anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak)
manfaatnya bagimu.Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(11) Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta
yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteriisterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang
ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar
hutangnya.Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu
tidak mempunyai anak.Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh
seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat
atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu.Jika seseorang mati, baik laki-laki
maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi
mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan
(seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam
harta.Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu
dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah
dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris).(Allah
menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun(12)''. (Q.S. An-Nisa:11-12).

B. Dzawil furud (Ashabul Furud)


Furudlu menurut istilah fiqih mawarits, ialah saham yang sudah ditentukan
jumlahnya untuk warits pada harta peninggalan, baik dengan nash maupun dengan ijma.
Secara bebas, arti lugowi zawi al-furud adalah orang-orang yang mempunyai
saham (bagian) pasti. Secara istilahi zawi al-furud adalah ahli waris yang sahamnya telah
ditentukan secara terperinci (seperdua, sepertiga, seperempat, seperenamatau
seperdelapan dari warisan ).
Ashabul furud ada dua macam:
1. Ashabul furudh sababiyyah
Yaitu ahli waris yang disebabkan oleh ikatan perkawinan. Yakni:
- Suami
- Isteri
2. Ashabul furudh nasabiyyah
Yaitu ahli waris yang telah ditetapkan atas dasar nasab. Yakni:
- Ayah
- Ibu
- Anak perempuan
- Cucu perempuan dari garis laki-laki
- Saudara perempuan sekandung
- Saudara perempuan seayah
- Saudara laki-laki seibu
- Saudara perempuan seibu
- Kakek shahih
- Nenek shahih.
Adapun pembagiannya adalah sebagai berikut:
a. Yang mendapat dua pertiga (2/3)
a) Dua anak perempuan atau lebih, bila tidak ada anak laki-laki.
b) Dua anak perempuan atau lebih dari anak laki-laki, bila anak perempuan tidak
ada
c) Saudara perempuan sebapak, dua orang atau lebih.
b. Yang mendapat setengah (1/2)
a) Anak perempuan kalau dia sendiri
b) Anak perempuan dari anak laki-laki atau tidak ada anak perempuan
c) Saudara perempuan seibu sebapak atau sebapak saja, kalau saudara
perempuansebapak seibu tidak ada, dan dia seorang saja
d) Suami bila isteri tidak punya anak
c. Yang mendapat sepertiga (1/3)
a) Ibu, bila tidak ada anak atau cucu (anak dari anak laki-laki), dan tidak ada pula
dua orangsaudara
b) Dua orang saudara atau lebih dari saudara seibu.
d. Yang mendapat seperempat (1/4)
a) Suami, bila istri ada anak atau cucu
b) Isteri, bila suami tidak ada anak dan tidak ada cucu. Kalau isteri lebih dari satu
makadibagi rata.

3
e. Yang mendapat seperenam (1/6)
a) Ibu, bila beserta anak dari anak laki-laki atau dua orang saudara atau lebih.

b) Bapak, bila jenazah mempunyai anak atau anak dari laki-laki.


c) Nenek yang shahih atau ibunya ibu/ibunya ayah.
d) Cucu perempuan dari anak laki-laki (seorang atau lebih) bila bersama seorang
anakperempuan. Bila anak perempuan lebih dari satu maka cucu perempuan
tidak mendapatharta warisan.
e) Kakek, bila bersama anak atau cucu dari anak laki-laki, dan bapak tidak ada.
f) Saudara perempuan sebapak (seorang atau lebih), bila beserta saudara
perempuanseibu sebapak. Bila saudara seibu sebapak lebih dari satu, maka
saudara perempuansebapak tidak mendapat warisan.
f. Yang mendapat seperdelapan (1/8)
a) Isteri (satu atau lebih), bila ada anak atau lebih
C. Dzawil Ashabah
Asabah adalah bagian sisa setelah diambil oleh ahli waris ashab al-furud. Sebagai
penerima bagian sisa, ahli waris ashabah terkadang menerima bagian banyak (seluruh
harta warisan), terkadang menerima sedikit, tetapi terkadang tidak menerima bagian
sama sekali, karena habis diambil ahli waris ashab al-furud
Di dalam pembagian sisa harta warisan, ahli waris yang terdekatlah yang lebih
dahulumenerimanya. Konsekuensi cara pembagian ini, maka ahli waris ashabah yang
peringkat kekerabatanya berada dibawahnya tidak mendapatkan bagian.Dasar pembagian
ini adalah perintah Rasulullah SAW:

berikanlah bagian-bagian tertentu kepada ahli waris yang berhak, kemudian sisanya
untuk ahli waris laki-lakiyang utama (Muttafaq alaih).
Didalam kitab ar-Rahbiyyah, ashobah adalah setiap orang yang mendapatkan
semua harta waris, yang terdiri dari kerabat daan orang yang memerdekakan budak, atau
yang mendapatkan sisa setelah pembagian bagian tetap.
Para fuqoha telah menyebutkan tiga macam kedudukan ashobah, yaitu:
1. Ashobah binafsihi
Ialah orang yang menjadi asabah karena dirinya sendiri.Jumlah mereka adalah: Anak
laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki dan generasi dibawahnya, bapak dan
kakek serta generasi diatasnya, saudara kandung, saudara sebapak, anak laki-laki
saudara kandung, anak laki-laki saudara sebapak dan generasi dibawahnya, paman
kandung, paman sebapak, anak laki-laki paman kandung, anak laki-laki paman
sebapak.
2. Ashobah bighairihi
Ialah orang (perempuan) yang menjadi asabah karena dibawa oleh orang (laki-laki)
lain yang sederajat dan seusbah. Mereka adalah:
a. Satu anak perempuan atau lebih, yang ada bersama anak laki-laki.
b. Satu cucu perempuan dari anak laki-laki atau lebih, yang ada bersama cucu lakilaki dari anak laki-laki.
c. Satu orang perempuan kandung atau lebih yang ada bersama saudara kandung.
d. Satu orang saudara perempuan sebapak atau lebih yang ada bersama saudara
laki-laki sebapak.
4
3.

Ashobah maa ghairihi


Ialah saudara perempuan kandung atau sebapak yang menjadi asabah karena
didampingi oleh keturunan perempuan.mereka adalah:

a. Seorang saudara perempuan kandung atau lebih, yang ada bersama anak
perempuanatau cucu perempuan dari anak laki-laki.
b. Seorang saudara perempuan sebapak atau lebih, yang ada bersama anak
perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki.
D. Hijab (Penghalang) Dalam Menerima Harta Waris
Hijab (penghalang), yaitu seseorang dapat menghalangi orang lain untuk memperoleh
bagian yang sebenarnya atau sama sekali tidak memperoleh.
Daftar hijab diantaranya :
Orang yang terhlang
1. Kakek
2. Nenek
3. Cucu (laki-laki/perempuan)
4. Saudara laki-laki sekandung
5. Saudara perempuan sekandung
6. Saudara laki-laki se-ayah
7. Saudara laki-laki se-ibu
8. Anak laki-laki saudara laki-laki sekandung
9. Anak laki-laki saudara laki-laki se-ayah
10. Paman sekandung dengan ayah
11. Paman se-ayah dengan ayah
12. Anak laki-laki paman sekandung dengan ayah
13. Anak laki-laki paman se-ayah dengan ayah
14. Cucu perempuan dari anak laki-laki seorang atau lebih

Orang yang menghalangi :


1. Ayah
2. Ibu
3. Anak laki-laki
4. Ayah; anak laki-laki; cucu laki-laki
5. Ayah; anak laki-laki; cucu laki-laki
6. Ayah; anak laki-laki; cucu laki-laki; saudara laki-laki/perempuan sekandung
7. Ayah; anak laki-laki; cucu laki-laki; saudara laki-laki/perempuan sekandung
8. Ayah; anak laki-laki; cucu laki-laki; kakek, saudara laki-laki sekandung; saudara lakilaki se-ayah; saudara perempuan sekandung; saudara perempuan se-ayah.

9. Ayah; anak laki-laki; cucu laki-laki; kakek, saudara laki-laki sekandung; saudara lakilaki se-ayah; saudara perempuan sekandung; saudara perempuan se-ayah; anak lakilaki saudara laki-laki sekandung.

5
10. Ayah; anak laki-laki; cucu laki-laki; kakek, saudara laki-laki sekandung; saudara lakilaki se-ayah; saudara perempuan sekandung; saudara perempuan se-ayah; anak lakilaki saudara laki-laki sekandung; anak laki-laki saudara laki-laki sekandung.
11. Ayah; anak laki-laki; cucu laki-laki; kakek, saudara laki-laki sekandung; saudara lakilaki se-ayah; saudara perempuan sekandung; saudara perempuan se-ayah; anak lakilaki saudara laki-laki sekandung; anak laki-laki saudara laki-laki sekandung; paman
sekandung dengan ayah.
12. Ayah; anak laki-laki; cucu laki-laki; kakek, saudara laki-laki sekandung; saudara lakilaki se-ayah; saudara perempuan sekandung; saudara perempuan se-ayah; anak lakilaki saudara laki-laki sekandung; anak laki-laki saudara laki-laki sekandung; paman
sekandung dengan ayah; anak laki-laki paman sekandung dengan ayah.
13. Ayah; anak laki-laki; cucu laki-laki; kakek, saudara laki-laki sekandung; saudara lakilaki se-ayah; saudara perempuan sekandung; saudara perempuan se-ayah; anak lakilaki saudara laki-laki sekandung; anak laki-laki saudara laki-laki sekandung; paman
sekandung dengan ayah; anak laki-laki paman sekandung dengan ayah
14. Dua orang atau lebih anak perempuan.
Orang-orang yang terkena hijab hirman tidak memperoleh harta warisan bila masih ada
orang menghalanginya, atau orang yang menghalangi masih hidup, serta masih berhak
menerima harta warisan.
E. Bagian-Bagian Ahli Waris (Hukum Islam)
Bagian bagian ahli waris menurut hukum waris islam
Ayah :
Ashobah, bila tidak ada anak laki-laki. Bagiannya yaitu, sisa dari harta waris
setelah dikurangi bagian ahli waris dzawil furud.
jika ada anak laki-laki (pasal 177 KHI).
Ibu:
bila ada anak, atau ada 2 saudara atau lebih (pasal 178 ayat (1) KHI).
bila tidak ada anak, atau tidak ada 2 saudara (pasal 178 ayat (1) KHI).
dari sisa setelah dikurangi bagian janda atau duda dan anak perempuan, bila
ibu mewaris bersama ayah dan tidak ada anak laki-laki (pasal 178 ayat (2) KHI).
Janda :
bila mewaris bersama dengan anak (pasal 180 KHI).
4 bila tidak ada anak (pasal 180 KHI).
Apabila janda lebih dari satu orang maka bagian janda adalah dibagi
banyaknya janda, ditambah bagian dari harta bersama pada perkawinan masing
masing (pasal 94 ayat (1) dan (2), pasal 96 ayat (1), dan pasal 97 KHI).
Duda :
bila pewaris tidak meninggalkan anak (pasal 179 KHI).

4 bila pewaris meninggalkan anak (pasal 179 KHI).


Anak laki-laki :
Ashobah, yaitu mendapat sisa harta waris setelah bagian ahli waris dzawil furud
diperhitungkan. Jadi apabila ada anak laki-laki maka ayah bukanlah ashobah.

6
Anak perempuan :
bila hanya ada satu anak perempuan saja (pasal 176 KHI).
bila ada 2 anak perempuan atau lebih (pasal 176 KHI)
Sebagai ashobah, bila mewaris bersama-sama dengan anak laki-laki, yaitu dengan
perbandingan (laki-laki 2 : 1 perempuan), (pasal 176 KHI).
Anak angkat :
Wasiat wajibah maximal dari harta warisan orang tua angkatnya (pasal 209
ayat (2) KHI).
Demi keadilan tidak boleh melebihi bagian dari anak kandung. Dengan
kesimpulan, apabila ada anak perempuan maka bagian anak angkat maximal
sebesar anak perempuan. Karena anak angkat pada prinsipnya bukanlah ahli
waris (Al-quran Surat An-nisa ayat 12 yang terjemahannya adalah sebagai
berikut ; , sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar
hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)).
Mawali (ahli waris pengganti) :
Tidak boleh melebihi bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti (pasal
185 ayat (2) KHI).
Saudara pewaris :
Baru berhak apabila tidak ada anak dan ayah.
Bagian saudara kandung/ saudara seayah = bagian anak, jadi saudara laki-laki
sekandung /seayah = bagian anak laki-laki, sedangkan bagian saudara perempuan
sekandung /seayah = bagian anak perempuan (pasal 182 KHI).
Saudara seibu pewaris :
untuk saudara seibu pewaris, baik laki-laki ataupun perempuan (tidak
dibedakan), (pasal 181 KHI).
bila lebih dari 2 orang (pasal 181 KHI).
F. Cara pembagian warisan
Peraktek cara pembagian warisan, hanya bisa dilaksankan jika
memahami ketentuan dalam fiqih mawaris, seperti siapa saja yang
menjadi ahli waris, disertai bagian masing-masing; terpenuhinya
syarat dan rukun waris, serta adanya kepastian tidak adanya halangan
(mawani') menerima waris. Disamping itu, kita perlu mengetahui ilmu
berhitung atau cara menghitung harta warisan. Ada kaidah-kaidah
perhitungan yang harus diketahui, sehingga selain memudahkan cara
pembagiannya, juga dapat membagi harta warisan dengan benar.
a. Asal masalah
Diantara cara menghitung bagian masing-masing ahli waris adalah
dengan cara dicari dahulu asal masalahnya, yaitu bilangan bulat

yang digunakan untuk membagi harta warisan, atau dalam istilah


matematika disebut sebagai "Kelipatan persekutuan terkecil" (KPT),
yang dapat dibagi oleh setiap penyebut al-furudl al-muqaddarah
(bagian tertentu) para ahli waris yang ashabul furudl.

7
Caranya adalah sebagai berikut :
1. Jika ahli waris hanya terdiri dari ahli waris 'ashabah binafsih
maka asal masalahnya adalah sejumlah ahli waris yang ada :
contoh :
Ahli waris terdiri dari 6 orang anak laki-laki. Maka asal
masalahnya adalah 6. Cara pembagian warisannya langsung
dibagi 6, dan masing-masing ahli waris mendapat satu bilangan.
2. Jika ahli waris hanya terdiri dari ahli waris 'ashabah laki-laki dan
perempuan, maka untuk laki-laki dua kali lipat perempuan,
dengan cara dikalikan dua.
Contoh :
Ahli waris terdiri dari 3 orang anak laki-laki dari 3 orang anak
perempuan. Cara mencari asal masalahnya : (3x2)+3=9. Cara
pembagian harta warisannya: Harta dibagi 9; untuk anak lakilaki masing-masing 2 bagian dan masing-masing anak
perempuan satu bagian.
3. Jika ahli waris hanya satu orang ahli waris ashabul furudl, atau
satu orang ahli waris ashabul furudl dan satu orang 'ashabah
maka asal masalahnya adalah angka "penyebut" bagian ahli
waris yang bersangkutan.
Contoh :
Ahli waris hanya seorang anak perempuan. Bagian seorang
anak perempuan adalah 1/2. Maka asal masalahnya adalah 2.
Cara pembagian harta warisan adalah : harta warisan :2=
bagian anak perempuan.
Atau anak perempuan bersama bapak. Bagian seorang anak
perempuan adalah 1/2, sedangkan sisanya untuk bapak.
4. Jika ahli waris terdidri ahli waris ashabul furudl dua orang atau
lebih, baik ada ahli waris 'ashabah atau tidak, maka mencari
asal masalahnya dengan mencari (KPT) dari angka penyebut
bagian masing-masing ahli waris.
Contoh:
Seseorang meninggal dunia, meninggalkan harta sebanyak Rp.
96 juta. Ahli warisnya terdiri dari istri, ibu dan 2 anak lak-laki.

Maka hasinya :
Bagian istri 1/6, bagian ibu 1/8, 2 anak laki-laki adalah
'ashabah / sisa. Sehingga, asal masalah antara 1/6 dan 1/8
(kelipatan perasekutuan terkecil dari bilangan penyebut, 6 dan
8) adalah 24. Maka pembagiannya adalah.
Ibu = 1/6 x 24 = 4
Istri = 1/8 x 24 = 3
2 anak lk = 24-(4+3)= 17
Langkah akhir pembagian harta warisannya :
Ibu = 4/24 x Rp. 96 Juta = Rp. 16 Juta
Istri = 3/24 x Rp. 96 Juta = Rp. 12 Juta
2 anak lk = 17/24 x Rp. 96 Juta = 68 Juta
@ Rp. 68 Juta : 2 = 34 Juta
Jumlah semuanya Rp. 96 Juta
8

b. Tashihhu al- masalah


Pada contoh yang ke empat diatas, jumlah anak laki-lakinya 2
orang, tentunya disamping membagi hasil akhir menjadi dua, ada
penyelesaian lain, yakni menemukan bilangan pembagi yang sama
sebelum mengalikan dengan harta peninggalan. Hal ini, mengingat
angka 17 (pada bilangan untuk 2 anak lk) tidak dapat dibagi
dengan
dua
(yang
hasilnya
bilangan
bulat).
Untuk itu, agar bagian mereka tetep ekuivalen (sama nilainya),
maka saham yang lain serta asal masalahnya harus disesuaikan
dengan
dikalikan
dua.
Jadi dalam contoh diatas, saham istri yang semula 4 menjadi 8. Ibu
yang semula 3 menjadi 6, dan 2 anak yang semula 17 menjadi 34,
sementara, asal masalah yang semula 24 menjadi 48. Perubahan
asal masalah agar memudahkan pembagian dengan bilangan bulat
inilah yang disebut tashihhu al-masalah.

Contoh :
Seseorang meninggal dunia, meninggalkan harta sebanyak Rp. 96
Juta. Ahli warisnya terdiri dari istri, ibu dan 2 anak laki-laki.

Penyelesaiannya :
Bagian istri 1/6, bagian ibu 1/8, 2 anak laki-laki adalah 'ashabah.
Sehingga, asal masalah antara 1/6 dan 1/8 (kelipatan persekutuan

terkecil dari bilangan penyebut, 6 dan 8) adalah 24. Maka


pembagiannya :
ibu =1/6 x 24=4
istri =1/8 x 24=3
2 anak lk =24-(4+3)=17
Karena anak laki-lakinya berjumlah dua, maka untuk memudahkan,
semua saham dan asal masalah dikalikan 2, menjadi :
ibu =4 x 2=8
istri =3 x 2=6
2 anak lk =17 x 2=34
asal masalah 24 x 2 = 48
Langkah akhir pembagian harta warisannya :
ibu = 8/24 x Rp. 96 Juta = Rp. 16 Juta
istri = 6/48 x Rp. 96 Juta = Rp. 12 Juta
2 anak lk = 34/48 x Rp. 96 Juta = 68 Juta
@ = 17/48 x Rp. 96 Juta = Rp. 34 Juta
Jumlah = Rp. 96 Juta

G. Aul dan Rad dan cara pembagian sisa harta


a. Al-Aul
Al-Aul artinya bertambah. Dalam ilmu Faraidh istilah Al-Aul diartikan bagianbagian yang harus diterima oleh ahli waris lebih banyak dari pada asal masalahnya,
sehingga asal masalahnya harus ditambah atau diubah. Sebagai contoh untuk masalah
ini adalah :

9
Ahli waris terdiri dari istri, ibu, dua saudara perempuan kandung dan seorang
saudara seibu. Harta peninggalan Rp 45.000.000,-. Maka bagian masing-masing ahli
waris tersebut adalah istri 1/4 ; ibu 1/6, dua saudara perempuan kandung 2/3 dan
saudara saibu 1/6. asal masalahnya 12
Istri
Ibu
2 saudara (pr) kandung
Seorang saudara seibu
Jumlah

= 1/4 x 12
= 1/6 x 12
= 2/3 x 12
= 1/6 x 12

=
=
=
=

3
2
8
2
15

Asal masalahnya 12, sedangkan jumlah bagian 15, maka asal masalah dinaikkan
menjadi 15. cara penghitungan akhirnya :
Istri
Ibu
2 saudara (pr) kandung

= 3/15 x 45.000.000,= 2/15 x 45.000.000,= 8/15 x 45.000.000,-

=
=
=

9.000.000,6.000.000,24.000.000,-

1 saudara seibu
Jumlah

= 2/15 x 45.000.000,-

6.000.000,45.000.000,-

b. Ar-Radd
Ar-Radd (ar-raddu) yaitu : mengembalikan. Menurut istilah faraidh ialah
membagi sisa harta warisan kepada ahli waris menurut pembagian masing-masing
mnerima bagiannya. Ar-Radd dilakukan karena setelah harta diperhitungkan untuk
ahli waris ternyata masih terdapat sisa, sedangkan tidak ada ashobah. Maka harta
yang tersisa tersebut dibagikan kepada ahli-waris yang ada kecuali suami atau isteri.
Sebagai contoh untuk masalah ini adalah sebagai berikut :
Ahli waris terdiri dari seorang anak perempuan dan ibu. Bagian anak perempuan
adalah 1/2 dan ibu 1/6. asal masalahnya berarti 6.
Anak perempuan
= 1/2 x 6
=3
Ibu
= 1/6 x 6
=1
Jumlah
4
Asal masalah (KPT/KPK) adalah 6, sedangkan jumlah bagian 4. maka penyelesaian
dengan radd asal masalahnya dikembalikan kepada 4. sehingga cara penyelesaian
akhirnya adalah :
Anak perempuan
= 3/4 x harta warisan =
Ibu
= 1/4 x harta warisan =
Cara penyelesaian diatas adalah apabila tidak ada suami atau istri. Apabila ada suami
atau istri, cara penyelesaiannya adalah sebagai berikut;
Seseorang meninggal dengan meninggalkan harta sebesar Rp 18.000.000,-. Ahli
warisnya terdiri dari istri, dua orang saudara seibu dan ibu. Bagian istri 1/4, dua orang
saudara seibu 1/3 dan ibu 1/6. asal masalahnya adalah 12.

Istri
Dua saudara seibu
Ibu
Jumlah bagian

10
= 1/4 x 12
= 1/3 x 12
= 1/6 x 12

=3
=4
=2
9

Karena ada istri, maka sebelum siswa warisan dibagikan, hak untuk istri diambil dulu
dengan menggunakan asal maslah sebagai pembagi.
Maka untuk istri = 3/12 x Rp. 18.000.000,- = Rp 4.500.000,-.
Sisa warisan setelah diambil adalah 18.000.000 - 4.500.000 = 13.500.000 dibagi
kepada dua saudara seibu dan ibu, dengan cara bilangan membaginya adalah jumlah
perbandingan kedua pihak ahli aris, maka 4+2 = 6. jadi bagian masing-masing adalah:
Dua sudara seibu
Ibu
Jumlah

= 4/6 x Rp. 13.500.000,= 2/6 x Rp. 13.500.000,-

= Rp. 9.000.000,= Rp. 4.500.000,= Rp. 13.500.000,-

Maka dapat diketahui bagian masing masing ahli waris tersebut.


c. Cara Pembagian Sisa Harta
Yang dimaksud dengan sisa harta warisan adalah :
1. Sisa harta setelah semua ahli waris menerima bagiannya
2. Sisa harta karena orang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris
Didalam menyelesaikan masalah diatas menurut para ulama dalah sebagai berikut :
1. Jumhur sahabat, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dan ulama Syiah
berpendapat :
a. dibagikan kembali kepada dzawil furudh selain suami/istri dengan jalan radd.
b. Bila tidak ada ahli waris, maka harta warisan diberikan kepada dzawil arham.
c. Bila dzawil arham pun tidak ada, maka harta peniggalan diserahkan ke baitul
mall.
2. Imam Malik, Iamam Syafei, Al-Auzai dan lain-lain berpendapat bahwa sisa
harta warisan, baik setelah ahli waris mendapatkan bagiannya maupun karena
tidak ada ahli waris, tidak boleh diselesaikan dengan jalan radd maupun
diserahkan ke dzawil arham, tetapi harus diserahkan ke baitul mall untuk
kepentingan umat islam.
H. Beberapa masalah khusus dalam pembagian warisan
1. Gharawain
Gharawain artinya dua yang terang, yaitu dua masalah yang terang cara
penyelesaiannya yaitu :
1. Pembagian warisan jika ahli warisnya suami, ibu dan bapak
2. Pembagian warisan jika ahli warisnya istri, ibu dan bapak

11
dua masalah tersebut berasal dari Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Tsabit.
Kemudian disepakati oleh jumhur fuqaha. Dua hal tersebut diatas dianggap sebagai
masalah karena jika di bagi dengan perhitungan yang umum, bapak memperoleh
lebih kecil dari pada ibu. Untuk itu dipakai pedoman penghitungan khusus
sebagaimana dibawah ini :
untuk masalah pertama maka bagian masing-masing adalah suami 1/2, ibu 1/3
sisa (setelah diambil suami) dan bapak ashobah. Misalkan harta peninggalannya
adalah Rp. 30.000.000,-. Maka cara pembagiannya dalah sebagai berikut :
suami 1/2 x Rp. 30.000.000,= Rp. 15.000.000,- sisanya adalah Rp. 15.000.000,ibu 1/3 x Rp.15.000.000,= Rp. 5.000.000,Bapak (ashobah)
= Rp. 10.000.000,Jumlah
= Rp. 30.000.000,(dan begitu pula untuk pembagian pada masalah ke-2 yakni dengan ahli waris istri
1/4, ibu 1/3 sisa (setelah diambil hak istri) dan bapak ashobah )
2. Masalah Musyarakah

Musyarakah atau Musyarikah ialah yang diserikatkan. Yaitu jika ahli waris
yang dalam perhitungan mawaris memperolah warisan akan tetapi tidak
memperolehnya, maka ahli waris tersebut disyarikatkan kepada ahli waris lain yang
memperolah bagian.
Masalah ini terjadi pada ahli waris terdiri dari suami, ibu, 2 orang saudara
seibu dan saudara laki-laki sekandung, yang jika dihitung menurut perhitungan
semestinya mengakibatkan saudara laki-laki sekandung tidak memperoleh warisan.
Dalam masalah ini. Menurut Umar, Utsman, dan Zaid yang diiuti oleh Imam Tsauri,
Syafei dan lain-lain, pembagian tersebut tidak adil.
Maka, untuk pemecahannya saudara kandung disyarikatkan dengan saudara
seibu didalam baigiannya yang 1/3. sehingga penyelesaian tersebut dapat diketahui
dalam pembagian berikut :
Suami 1/2
Ibu
1/6
Dua orang saudara seibu dan saudara (lk) sekandung 1/3
Jumlah

= 3/6 = 3
= 1/6 = 1
= 2/6 = 2
= 6.

Bagian saudara seibu dan saudara laki-laki sekandung dibagi rata, meskipun diantara
mereka ada ahli waris laki-laki maupun perempuan.
3. Masalah Akdariyah
Akdariyah artinya mengeruhkan atau menyusahkan, yaitu kakek menyusahkan
saudara perempuan dalam pembagian warisan. Masalah ini terjadi jika ahli waris
terdiri suami, ibu, saudara perempuan kandung/sebapak dan kakek.
Bila diselesaikan dalam kaidah yang umum, maka dapat diketahui bahwa
kakek bagian lebih kecil dari pada saudara perempuan. Padahal kakek dan saudara
perempuan mempunyai keduduka yang sama dalam susunan ahli waris. Bahakn
kakek adalah garis laki-laki, yang biasanya memperoleh bagian lebih besar dari pada
perempuan, maka dalam masaah ini terdapat tiga pendapat dalam penyelesaiannya,
yaitu :
12
1) Menurut pendapat Abu Bakar ra. Saudara perempuan kandung/sebapak mahjub
oleh kakek. Sehingga bagia yang diperoleh oleh masing-masing ahli waris adalah
suami 1/4, ibu 1/3, kakek ashobah, dan saudara perempuan terhijab hirman.
2) Menurut pandangan Umar bin Khatib dan Ibn Masud, untuk memecahkan
masalah diatas, amak bagian ibu dikurangi dari 1/3 menjadi 1/6, untuk
menghindari agar bagian ibu dikurangi dari 1/3 menjadi 1/6, untuk menghindari
agar bagian ibu tidak lebih besar dari pada bagian kakek. Sehingga bagian yang
doioerolah masing-masing ahli waris adalah suami 1/2, ibu 1/6, saudara
perempuan dan kakek 1/6. diselesaikan dengan Aul.
3) Menurut pendapat Zaid bin Tsabit, yaitu dengan cara menghimpun bagian
saudara perempuan dan kakek, lalu membaginya dengan prinsip laki-laki
memperolah dua kali bagian perempuan. Sebagaimana jatah pembagian umum,
saudara perempuan 1/2 dan kakek 1/6. 1/2 dan 1/6 digabungkan lalu dibagikan
untuk berdua dengan perbandingan pembagian saudara perempuanndan kakek =
2 : 1.

4. Hal-hal yang berkenaan dengan harta Peninggalan


Beberapa masalah yang berkaitan dengan harta yang terlebih dahulu wajib
ditunaikan oleh ahli waris sepeninggal seorang muslim yang meniggalkan harta,
yaitu:
1) Biaya penyelenggaratan Jenazah
2) Pelunasan hutang
3) pelaksanaan wasiat
5. Penetapan Ahli Waris yang Mendapat Bagian (Itsbatul Waris)
Dalam Itsabatul Waris ini harus dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah berikut
ini :
1) Meneliti siapa saja yang menjadi ahli waris, baik karena hubungan kerabat,
pernikahan maupun karena sebab lainnya.
2) Meneliti siapa saja yang terhalang menerima warisan. Misalnya karena
membunuh atau atau beda agama.
3) Meneliti ahli waris yang dapat terhijab.
4) Menetapkan ahli waris yang berhak menerima warisan, setelah melakukan
perhitungan yang tepat tentang jumlah harta peniggalan almarhum/almarhumah.
6. Bagian Anak dalam Kandungan
Beberapa permasalahan yang menyangkut dengan anak yang masih berada dalam
kandungan yaitu :
1. Apakah janin yang masih dalam kandungan tersebut ada hubungan kekrabatan
yang sah dengan si mati, maka perlu diperhatikan tenggang waktu anara akad
nikah dengan usia kandungan.
2. Belum bisa dipastikan jenis keamin dan jumlah bayi yang ada dalam kandungan
tersebut.

13
3. Belum bisa dipastikan, apakah janin tersebut akan lahir dalam keadaan hidup atau
mati.
4. Jika harta warisan dibagikan maka akan menimbulkan kemungkinankemungkinan yang bisa saja terjadi.
Bayi yang lahir dalam keadaan hidup, mempunyai hak warisan dari ayahnya yang
meninggal. Sabda Rasulullah saw. :Jika anak yang dilahirkan berteriak, mak ia
diberi warisan
Jalan Keluar dalam masalah ini adalah :

1. para ahli waris yang ada boleh mengambil bagian dengan jumlah paling
minimal dari kemungkinan-kemngkinan yang bisa terjadi.
2. Apabila harta warisan dapat dijaga dan pembagianya tidak mendesak, maka
pembagian warisan ditunda sampai bayi lahir.
7. Bagian Orang Yang Hilang
Yang dimaksud dengan orang yang hilang disini ialah yang tidak diketahui
keberadaannya dalm jangka waktu yang relatif lama. Orang yang hilang tersebut bisa
sebagai muwaris maupun ahli waris, maka dapat ilaksanakan sebagai berikut :
Apabila kedudukannya sebagai Muwarits
1. Harta yang hilang sebaiknya ditahn sampai ada kepastian keberadaannya atau
kepastian tentang hidup atau matinya
2. Ditunggu sampai batas usia manusia pada umumnya. Menurut Adul Hakim
ditunggu sampai batas usia kurang 70 tahun.
Apabila kedudukannya sebagai ahli waris
Harta warisan dibagikan, dan ia (orang yang hilang) diberikan bagian sebagaimana
bagian semestinya dan diberikan bila ia masih hidup atau datang. Dan diserahkan
kepada ahli waris lain bila ia sudah meninggal.
8. Bagian orang yang meninggal bersama-sama
Orang yang meninggal secara bersamaan yang disebabkan oleh penyebabpenyebab tertentu, tidak saling waris mewarisi baik ada hubungan kekerabatan
maupun pernikahan. Sebab adanya saling waris mewarisi ialah adanya al muwarits
yang sudah meninggal dunia dan al-Warits yang masih hidup.
Pendapat ini dipegang oleh Abu Bakar dan Umar, lalu diikuti oleh jumhur
Fuqaha. Antara lain Imam Malik, Imam Syafei, Imam Abu Hanifah dan lain-lain.

14

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
al-furud al-muqaddarah adalah bagian-bagian yang telah ditentukan oleh syara
bagi ahli waris tertentu dalam pembagian harta peninggalan. Secara istilahi zawi al-furud
adalah ahli waris yang sahamnya telah ditentukan secara terperinci (seperdua, sepertiga,
seperempat, seperenamatau seperdelapan dari warisan ).

Asabah adalah bagian sisa setelah diambil oleh ahli waris ashab al-furud. Sebagai
penerima bagian sisa, ahli waris ashabah terkadang menerima bagian banyak (seluruh
harta warisan),
Hijab (penghalang), yaitu seseorang dapat menghalangi orang lain untuk
memperoleh bagian yang sebenarnya atau sama sekali tidak memperoleh.
Praktek cara pembagian warisan, hanya bisa dilaksankan jika memahami
ketentuan dalam fiqih mawaris, seperti siapa saja yang menjadi ahli waris, disertai bagian
masing-masing; terpenuhinya syarat dan rukun waris, serta adanya kepastian tidak
adanya halangan (mawani') menerima waris.
Al-Aul artinya bertambah Ar-Radd (ar-raddu) yaitu : mengembalikan. Beberapa
masalah khusus dalam pembgian warisan diantaranya adalah Gharawain, Masalah
Musyarakah, Masalah Akdariyah , Hal-hal yang berkenaan dengan harta Peninggalan,
Penetapan Ahli Waris yang Mendapat Bagian (Itsbatul Waris), Bagian Anak dalam
Kandungan
B. Saran
Demikianlah makalah yang saya buat untuk memenuhi tugas Mata Pelajaran
Fiqh. Makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saya mohon
maaf atas segala kekurangannya. Dan kami berharap adanya kritik dan saran yang dapat
membantu dalam penyempurnaan makalah ini. Semoga dengan adanya makalah ini dapat
memberikan

15
DAFTAR PUSTAKA
Abu Bakar, Alyasa. Ahliwaris Sepertalian Darah, Jakarta: INIS, 1998
Asepidris.blogspot.com/2009_12_01_archive.html
Ash-Shidieqy, T.M. Hasbi.Fiqih Mawaris (Hukum-hukum Warisan dalam Syariat Islam),
Jakarta: Bulan Bintang, 1967.
Rafiq, Ahmad. Fiqh Mawaris, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995.
Thalib, Sajuti. Hukum Kewarisan Islam Di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 2000.
http://hanajadeh.blogspot.com/2012/09/hijab-penghalang-dalam-menerima-harta.html

http://johanbahtera.blogspot.com/2012/11/bagian-bagian-ahli-waris-hukum-islam.html
http://kitab-fiqih.blogspot.com/2011/06/peraktek-cara-pembagianwarisan.html#.UtycDycxWt8
http://mufdil.wordpress.com/2009/08/06/permasalahan-dalam-pelaksanaan-pembagianwarisan-dan-wasiat%C2%B7/
http://mufdil.wordpress.com/2009/08/06/permasalahan-dalam-pelaksanaan-pembagianwarisan-dan-wasiat%C2%B7/

16