Anda di halaman 1dari 17

Trauma Tumpul Abdomen

BAB 1
1.1 PENDAHULUAN
Trauma adalah keadaan yang disebabkan oleh luka atau cedera. Trauma abdomen adalah
keadaan di mana abdomen bagian dalam atau pun luar mengalami trauma yang disebabkan
oleh luka atau cidera. Trauma tumpul abdomen dapat diakibatkan oleh pukulan, benturan,
ledakan, deselarasi, kompresi, atau sabuk pengaman. Trauma tumpul abdomen sering kali
ditemui pada unit gawat darurat. Pasien dengan trauma tumpul abdomen memerlukan
penatalaksanaan yang cepat dan efisien. Pada multiple trauma, abdomen merupakan bagian
yang tersering mengalami cedera. Seorang pasien yang terlibat kecelakaan serius harus
dianggap cedera abdominal sampai terbukti lain.
Sampai saat ini cedera abdomen yang dapat di diagnosis masih merupakan penyebab
kematian yang dapat dicegah (preventable death) pada penderita dengan dengan trauma
batang tubuh (trunk). Kurangnya data mengenai riwayat kesehatan pasien, kronologis
kejadian, luka atau trauma lain yang dapat mengalihkan perhatian, dan perubahan status
mental sebagai akibat dari cedera kepala atau intoksikasi, membuat trauma tumpul abdomen
sulit untuk didiagnosis dan ditatalaksana. Pasien dengan trauma tumpul abdomen biasanya
datang dengan cedera abdominal dan extraabdominal yang memerlukan perawatan lanjut
yang rumit.

SITI AMALINA AWANG (112013172)

Trauma Tumpul Abdomen

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. ANATOMI ABDOMEN
2.1.1 Abdomen Anterior
Abdomen berhubungan juga dengan thorax bagian bawah. Anterior abdomen adalah bagian
yang dibatasi di superior oleh garis antara papilamamae, di bagian inferior oleh ligamentum
inguinale dan simfisis pubis, dan di lateral oleh garis aksilaris anterior.1
2.1.2 Pinggang (Flank)
Daerah ini berada antara linea axilaris anterior dan linea aksilaris posterior, dan pada bagian
superior dibatasi oleh sela iga (ICS) ke 6 dan inferior dibatasi oleh krista iliaka. Berbeda
dengan dinding abdomen depan yang tipis, otot-otot dinding abdomen di bagian pinggang
lebih tebal dan dapat merupakan barrier terhadap luka tembus (penetrating wounds),
khususnya luka tusuk.1
2.1.3 Punggung
Daerah ini bertempat di belakang linea axilaris posterior dari ujung scapula sampai krista
iliaka. Sama dengan otot-otot dinding abdomen di samping, otot punggung dan paraspinal
bertindak sebagian sebagai barrier luka tembus.1
2.1.4 Thoracoabdominal
Daerah ini adalah bagian bawah dari bagian thorax yang bertulang, meliputi diafragma, hati,
lien, colon transversum. Adanya tulang costae membuat daerah ini sulit untuk dicapai dengan
palpasi dan pemeriksaan lengkap. Karena diafragma naik ke sela iga ke 4 saat ekspirasi
penuh, patah costa bawah atau atau luka tembus di daerah itu dapat mencederai isi abdomen.
Abdomen bawah berisikan usus halus dan usus besar, uterus (jika gravid), dan VU (jika
distended). Perforasi organ-organ ini berhubungan dengan penemuan pada pemeriksaan fisik
dan biasanya selalu bermanifestasi dengan nyeri dari peritonitis.1

SITI AMALINA AWANG (112013172)

Trauma Tumpul Abdomen

2.1.5 Rongga pelvis


Rongga pelvis yang dikelilingi tulang pelvis, berada di bagian bawah ruang retroperitoneum
dan berisikan VU, urethra, pembuluh-pembuluh iliaka, rectum, usus halus dan genitalia
interna wanita (ovarium, tuba falopii, dan uterus). Sama seperti daerah thoracoabdominal,
pemeriksaan untuk mengetahui cedera pada struktur pelvis dipersulit oleh tulang-tulang di
atasnya.

Gambar 1: Anatomi Abdomen


Sumber: Advanced Trauma and Life Support
2.1.6 Rongga Retroperitoneum
Daerah ini meliputi aorta abdominalis, vena cava
inferior, sebagian besar dari duodenum, pankreas,
ginjal, dan saluran kencing, sebagian colon ascenden
dan colon descenden posterior. Cedera
pada

daerah

ini

sulit

dikenali

dengan

pemeriksaan fisik maupun DPL.


Gambar 2: Peritoneal Cavity
Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Peritoneum#mediaviewer/File:Gray1035.png

SITI AMALINA AWANG (112013172)

Trauma Tumpul Abdomen

2.2 MEKANISME TRAUMA


Trauma tumpul abdomen paling sering mengakibatkan cedera pada lien (40-55%), kemudian
diikuti cedera pada hepar (35-45%) dan usus halus (5-10%). Selain itu, 15% mengalami
hematoma retroperitoneal.1
2.2.1 Direct Blow
Direct blow dapat terjadi saat kontak dengan tepi yang lebih rendah dari steering wheel atau
pintu dalam kendaraan bermotor sehingga menyebabkan kompresi dan menghancurkan untuk
visera abdomen dan pelvis. Selain itu direct blow dapat berupa tumbukan, atau kompresi
terhadap objek yang tidak elastis. Kekuatan tabrakan ini merusak organ berongga maupun
padat mengakibatkan organ tersebut pecah. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan
intralumen atau peningkatan tekanan internal. Direct blow ini dapat menyebabkan terjadinya
perdarahan sekunder, kontaminasi oleh isi visceral, dan peritonitis.1
2.2.2 Shearing Injuries
Shearing injuries adalah bentuk dari cedera yang diakibatkan oleh alat yang tidak dipakai
dengan baik, misalnya sabuk pengaman. Sabuk pengaman dapat mengurangi kematian 65%70% dan mengurangi trauma berat sampai 10 kali sekiranya dipakai dengan baik. Bila tidak
dipakai dengan benar, sabuk pengaman dapat menimbulkan trauma. Agar berfungsi dengan
baik, sabuk pengaman harus dipakai di bawah spina iliaka
anterior superior, dan di atasfemur, tidak boleh mengendur
saat tabrakan dan harus mengikat penumpang dengan
baik. Bila dipakai terlalu tinggi (di atas SIAS) maka hepar,
lien, pankreas, usus halus,diodenum, dan ginjal akan
terjepit di antara sabuk pengaman dan tulang belakang,
dan timbul shearing injuries.1,2

Gambar 2: Cedera Akibat Pemakaian Sabuk Pengaman


Yang Tidak Benar2
Sumber: The Atlas of Emergency Medicine
2.2.3 Cedera Deselerasi.

SITI AMALINA AWANG (112013172)

Trauma Tumpul Abdomen

Trauma deselerasi terjadi bila bagian yang menstabilasi organ, seperti pedikel ginjal,
ligamentum teres berhenti bergerak, sedangkan organ yang distabilisasi tetap bergerak. Pasien
terluka dalam akibat tabrakan kenderaan mungkin mengalami cedera deselerasi, dimana ada
gerakan diferensial fixed dan nonfixed pada bagian tubuh. Contohnya termasuk laserasi dari
hati dan limpa (movable organ), di daerah ligamen mereka yang fixed. Bucket handle injury
ke usus kecil adalah contoh cedera deselerasi.1

Gambar 3: Small Bowel Bucket Handle Injury


Sumber: Advanced Trauma and Life Support
2.3. RIWAYAT TRAUMA
Riwayat trauma sangat penting untuk menilai keadaan penderita. Keterangan ini dapat
diberikan oleh penderita, penumpang lain, polisi atau petugas medis gawat darurat di
lapangan. Keterangan mengenai tanda-tanda vital, cedera yang kelihatan, dan respon terhadap
perawatan pre-hospital juga harus diberikan oleh para petugas yang memberikan perawatan
pre-hospital.3
Pada trauma tumpul abdomen terutama yang merupakan akibat dari kecelakaan lalu
lintas, petugas medis harusmenanyakan hal-hal sebagai berikut: fatalitas dari kejadian? Tipe
kendaraan dan kecepatan? Apakah kendaraan terguling, ditabrak dari lateral, frontal dan
belakang? Bagaimana kondisi penumpang lainnya? Lokasi pasien dalam kendaraan? Tingkat
keparahan rusaknya kendaraan? Deformitas setir? Apakah korban menggunakan sabuk
pengaman? Tipe sabuk pengaman?-apakah airbag di samping dan depan korban berfungsi
SITI AMALINA AWANG (112013172)

Trauma Tumpul Abdomen

ketika kejadian? Apakah ada riwayat pengunaan alkohol dan obat-obatan sebelumnya?
Parahnya cedera pada pejalan kaki bervariasi tergantung pada kecepatan dan ukuran
kendaraan yang menabraknya.1,3
2.4. EVALUASI PRIMER DAN PENATALAKSANAAN
Initial resuscitation dan penatalaksanaan pasien trauma dilakukan berdasarkan pada protokol
Advanced Trauma Life Support (ATLS). Penilaian awal (Primary survey) mengikuti pola
ABCDE, yaitu Airway, Breathing, Circulation, Disability (status neurologis), dan Exposure.
2.4.1 Initial Assessment
Trauma tumpul abdomen akan muncul dalam manifestasi yang sangat bervariasi, mulai dari
pasien dengan vital sign normal dan keluhan minor hingga pasien dengan shock berat. Bisa
saja pasien datang dengan gejala awal yang ringan walaupun sebenarnya terdapat cedera
intraabdominal yang parah. Jika didapati bukti cedera extraabdominal, harus dicurigai adanya
cedera intraabdominal, walaupun hemodinamik

pasien stabil dan tidak ada keluhan

abdominal. Pada pasien dengan hemodinamik yang tidak stabil, resusitasi dan penilaian harus
dilakukan segera. Pemeriksaan fisik abdomen harus dilakukan secara teliti dan sistematis,
dengan urutan inspeksi, auskultasi, perkusi, dan palpasi. Penemuannya positif dan negatif
harus dicatat dengan teliti dalam rekam medik.1,3,4
A. Inspeksi
Baju penderita harus dibuka semua untuk memudahkan penilaian. Abdomen anterior
dan posterior, dan juga bagian bawah dada dan perineum, harus diperiksa apakah ada
abrasi, kontrusi akibat sabuk pengaman, ekomosis, luka tembus, benda asing yang
tertancap, keluarnya omentum atau usus kecil, dan status hamil.1,3
Seat belt sign dengan tanda konstitusi atau abrasi pada abdomen bagian
bawah, biasanya sangat berhubungan dengan cedera intraperitoneal. Adanya distensi
abdominal, yang biasanya berhubungan dengan pneumoperitoneum, dilatasi gaster,
atau ileus sebagai akibat dari iritasi peritoneal merupakan hal penting yang harus
diperhatikan. Adanya kebiruan yang melibatkan daerah flank, punggung bagian bawah
(Grey Turner sign) menandakan adanya perdarahan retroperitoneal yang melibatkan
pankreas, ginjal, atau fraktur pelvis. Kebiruan di sekitar umbilicus (Cullen sign)
menandakan adanya perdarahan peritoneal biasanya selalu melibatkan perdarahan
SITI AMALINA AWANG (112013172)

Trauma Tumpul Abdomen

pankreas, akan tetapi tanda-tanda ini biasanya baru didapati setelah beberapa jam atau
hari. Fraktur costa yang melibatkan dada bagian bawah, biasanya berhubungan
dengan cedera lien atau liver.1,3

Gambar 4 & 5: Grey Turner dan Cullen Sign2

Sumber: The Atlas


of Emergency
Medicine

B. Auskultasi
Melalui auskultasi ditentukan apakah bising usus ada atau tidak. Penurunan suara usus
dapat berasal dari adanya peritonitis kimiawi karena perdarahan atau ruptur organ
berongga. Cedera pada struktur berdekatan seperti tulang iga, tulang belakang atau
tulang panggul juga dapat mengakibatkan ileus meskipun tidak ada cedera
intraabdominal, sehingga tidak adanya bunyi usus bukan berarti pasti ada cedera
intrabdominal. Adanya suara usus pada thorax menandakan adanya cedera pada
diafragma.1,3

C. Perkusi
Manuver ini menyebabkan pergerakan peritoneum, dan dapat menunjukkan adanya
peritonitis yang masih meragukan. Perkusi juga dapat menunjukkan adanya bunyi

SITI AMALINA AWANG (112013172)

Trauma Tumpul Abdomen

timpani di kuadran atas akibat dari dilatasi lambung akut atau bunyi redup bila ada
hemoperitoneum.1
D. Palpasi
Kecenderungan untuk mengeraskan dinding abdomen (voluntary guarding) dapat
menyulitkan pemeriksaan abdomen. Sebaliknya defans muskuler (involuntary
guarding) adalah tanda yang andal dari iritasi peritoneum. Tujuan palpasi adalah
untuk mendapatkan apakah didapati nyeri serta menentukan lokasi nyeri tekan
superficial, nyeri tekan dalam, atau nyeri lepas tekan. Nyeri lepas tekan biasanya
menandakan adanya peritonitis yang timbul akibat adanya darah atau isi usus.1,3
Pada trauma tumpul abdomen perlu juga disertai kecurigaan adanya fraktur
pelvis. Untuk menilai stabilitas pelvis, yaitu dengan cara menekankan tangan pada
tulang-tualng iliaka untuk membangkitkan gerakan abnormal atau nyeri tulang yang
menandakan adanya fraktur

pelvis. Walaupun melalui pemeriksaan fisik dapat

dideteksi cedera intraperitoneal, keakuratan pemeriksaan fisik pada pasien dengan


trauma tumpul abdomen hanya berkisar antara 5565%. Tidak adanya tanda dan
gejala yang ditemukan dalam pemeriksaan fisik tidak menyingkirkan adanya cedera
yang serius, sehingga diperlukan pemeriksaan yang lebih spesifik lagi untuk
menghindarkan missed injury.1,4

Gambar 6: Evaluasi Stabilitas Pelvis. Sumber: Advanced Trauma Life Support


Hipotensi pada trauma tumpul abdomen sering terjadi akibat dari perdarahan organ
padat abdomen atau cedera vasa abdominal. Walaupun sumber perdarahe xtraabdominal
(misalnya, laserasi kulit kepala, cedera dada, atau fraktur tulang panjang) harus segera diatasi,
SITI AMALINA AWANG (112013172)

Trauma Tumpul Abdomen

tapi evaluasi cavitas peritoneal juga tidak boleh diabaikan. Pemeriksaan rectal jarang
menunjukkan adanya darah atau subcutaneous emphysema, tapi jika didapati, tanda tersebut
berkaitan dengan cedera abdomen. Evaluasi tonus rectal merupakan bagian yang sangat
penting untuk pasien dengan kecurigaan cedera spinal. Palpasi high-riding prostate
mengarahkan indikasi pada cedera uretra.
2.4.2 Studi Laboratorium
Blood typing
Pada pasien trauma harus dilakukan pengecekan golongan darah dan cross-match ,sebagai
antisipasi jika sewaktu-waktu diperlukan transfusi, terlebih pada pasien dengan perdarahan
yang mengancam jiwa.1,3
Hematocrit
Hematocrit dapat berguna sebagai dasar penilaian pada pasien trauma abdomen, terlabih
untuk jika diukur secara berkala untuk melihat perdarah yang terus berlangsung.4
Hitung Leukosit
Pada trauma tumpul abdomen akut, hitung leukosit tidak spesifik. Epinefrin yang dilepaskan
tubuh pada saat trauma dapat menyebabkan demarginasi dan dapat meningkatkan jumlah
leukosit mencapai 12000-20000/mm3 dengan pergeseran ke kiri yang moderat.4
Enzim Pankreas
Kadar amilase dan lipase dalam serum tidak terlalu memiliki arti penting untuk menunjang
diagnostik. Kadar amilase dan lipase yang normal dalam serum tidak daptmenyingkirkan
kecurigaan adanay trauma pankreas. Peningkatan mungkin mengarah pada cedera pankreas,
tapi juga mungkin dari cedera abdomen non pankreas. Jika ada kecurigaan cedera pankreas,
masih diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, misal CT scan.4

Tes Fungsi Hati

SITI AMALINA AWANG (112013172)

Trauma Tumpul Abdomen

Cedera hepar bisa meningkatkan kadar transaminase dalam serum, akan tetapi peningkatan
ini tidak akan terjadi pada konstitusi minor. Pasien denagn komorbid seperti pada pasien
dengan alcohol induced liver disease bisa memiliki kadar transaminase yang abnormal.4
Analisis Toksikologi
Skrining rutin penyalahgunaan obat dan alkohol belum dilakukan pada penatalaksanaan
trauma tumpul abdomen, terlebih pada pasien dengan status mental normal.4
Urinalisis
Gross hematuri mengarah pada adanya cedera ginjal serius dan membutuhkan investigai yang
lebih lanjut. Diperlukan juga pemeriksaan terhadap adanya hematuri mikro yang dapat
mengindikasikan cedera serius. Oleh karena itu, penting dilakukan pemeriksaan mikroskopik
atau urinalisis dipstick pada semua pasien trauma tumpul abdomen. Adanya nyeri abdomen
dan hematuri memiliki tingkat sensitifitas 64% dan94% spesifik untuk cedera intraabdominal
yang telah dibuktilkan melalui CT scan.4

2.5. STUDI DIAGNOSTIK KHUSUS


2.5.1 Radiologi
Tes radiologi dapat menyampaikan informasi penting untuk penatalaksanaan pasien trauma
tumpul abdomen. Pemeriksaan radiologi diindikasikan pada pasien stabil, jika dari
pemeriksaan fisik dan lab tidak bisa disimpulkan diagnosik. Rontgen untuk screening adalah
Ro-foto cervical lateral, thorax AP, dan pelvis AP dilakukan pada pasien trauma tumpul
dengan multitrauma. Rontgen foto abdomen 3 posisi (telentang, setengah tegak dan lateral
dekubitus) berguna untuk melihat adanya udara bebas di bawah diafragma ataupun udara di
luar lumen di retroperitoneum, yang kalau ada pada keduanya menjadi petunjuk untuk
dilakukannya laparotomi. Hilangnya bayangan psoas menunjukkan adanya kemungkinan
cedera retroperitoneal. Foto polos abdomen memiliki kegunaan yang terbatas, dan sudah
digantikan oleh CT-scan dan USG

2.5.2 Computed Tomography ( CT-scan )

SITI AMALINA AWANG (112013172)

10

Trauma Tumpul Abdomen

CT merupakan prosedur diagnostik yang memerlukan transport penderita kescanner,


pemberian kontras oral maupun intravena, dan scanning dari abdomen atas, bawah dan juga
panggul. Proses ini makan waktu dan hanya digunakan pada penderita dengan hemodinamik
normal. CT-scan mampu memberikan informasi yang berhubungan dengan cedera organ
tertentu dan tingkat keparahannya, dan juga dapat mendiagnosis ceder aretroperitoneum dan
organ panggul yang sukar diakses melalui pemeriksaan fisik maupun DPL.4,5
Keuntungan CT-scan adalah : 4,5
1. Non invasive
2. Mendeteksi cedera organ dan potensial untuk penatalaksanaan non operatif,
3. Mendeteksi adanya perdarahan dan mengetahui dimana sumber perdarahan
4. Retroperitoneum dan columna vetebra dapat dilihat
5. Imaging tambahan dapat dilakukan jika diperlukan
Kelemahan CT-scan
1. Kurang sensitif untuk cedera pankreas, diafragma, usus, dan mesenterium
2. Diperlukan kontras intra vena
3. Mahal
4. Tidak bisa dilakukan pada pasien yang tidak stabil
2.5.3 Ultrasound
Ultrasound digunakan untuk mendeteksi adanya darah intraperitonum setelah terjadi trauma
tumpul. US difokuskan pada daerah intraperitoneal dimana sering didapati akumulasi darah,
yaitu pada: kuadran kanan atas abdomen (Morison's space antara liver ginjal kanan, kuadran
kiri atas abdomen (perisplenic dan perirenal kiri), Suprapubic region (area perivesical) dan
Subxyphoid region (pericardiumhepatorenal space). Daerah anechoic karena adanya darah
dapat terlihat paling jelas jika dibandingkan dengan organ padat di sekitarnya.
Penggunaan Focused Assessment with Sonography in Trauma (FAST)

untuk

diagnostik akan menghasilkan hasil perawatan yang lebih baik.4,5

SITI AMALINA AWANG (112013172)

11

Trauma Tumpul Abdomen

Keuntungan Ultrasound:1,4,5
1. Portabel
2. Dapat dilaksanakan dengan cepat
3. Tingkat sesitifitas sebesar 65-95% dalam mendeteksi paling sedikit 100 ml
cairanintraperitoneal.
4. Spesifik untuk hemoperitoneum
5. Tanpa radiasi atau kontras
6. Mudah dilakuakn pemeriksaan serial jika diperlukan
7. Tekniknya mudah dipelajari
8. Non invasif
9. Lebih murah dibandingkan CT-scan atau peritoneal lavage
Kelemahan Ultrasound:1,4,5
1. Cedera parenkim padat, retroperitoneum, atau diafragma tidak bisa dilihat dengan
baik
2. Kualitas gambaran akan dipengaruhi pada pasien yang tidak kooperatif, obesitas,
adanya gas usus, dan udara subkutan
3. Darah tidak bisa dibedakan dari ascites
4. Tidak sensitif untuk mendeteksi cedera usus.
Tujuan primer dari FAST adalah mengidentifikasi adanya hemoperitonium pada pasien
dengan kecurigaan cidera intra-abdomen. Indikasi FAST adalah pasien yang secara
hemodinamik tidak stabil dengan kecurigaan cedera abdomen dan pasien-pasien serupa yang
juga mengalami cedera ekstra-abdominal signifikan (ortopedi, spinal, thorax, dll.) yang
memerlukan bedah non-abdomen emergensi. FAST sebaiknya dilakukan oleh ahli bedah yang
hadir pada saat itu di IGD/ ICUsebagai prosedur.1,4,5

SITI AMALINA AWANG (112013172)

12

Trauma Tumpul Abdomen

Gambar 7: Pemeriksaan Focused Assessment with Sonography in Trauma (FAST).


Pericardial sac (1), hepatorenal fossa (2), splenorenal fossa (3), dan pelvis (4) or pouch of
Douglas
Sumber: Advanced Trauma Life Support
2.5.4 Diagnostic Peritoneal Lavage
Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL) memiliki peran besar pada penatalaksanaan trauma
tumpul abdomen. DPL paling berguna pada pasien yang memiliki resiko tinggi cedera organ
berongga, terutama jika dari CT-scan dan USG hanya terdeteksi sedikit cairan, dan pada
pasien dengan demam yang nyata, peritonitis, atau keduanya. Keadaan ini berlangsung
selama 6-12 jam setelah cedera organ berongga.4-6
Secara tradisional, DPL dilakukan melalui 2 tahap, tahap pertama adalah aspirasi
darah bebas intraperitoneal (diagnostic peritoneal tap,DPT). Jika darah yang teraspirasi 10
ml atau lebih, hentikan prosedur karena hal ini menandakan adanya cedera intraperitoneal.
Jika dari DPT tidak didapatkan darah, lakukan peritoneal lavage dengan normal saline dan
kirim segera hasilnya ke lab utuk dievaluasi. Pasien yang memerlukan laparotomy segera
merupakan satu-satunya kontra indikasi untuk DPL atau DPT. Riwayat operasi abdomen,
infeksi abdomen, koagulopati, obesitas dan hamil trimester 2 atau 3 merupakn kontra indikasi
relatif.1,4-6
Keuntungan DPL/DPT4
1. Triase pasien trauma multisistem dengan hemodinamik yang tidak stabil,melalui
pengeluaran perdarahan intapertoneal
SITI AMALINA AWANG (112013172)

13

Trauma Tumpul Abdomen

2. Dapat mendeteksi perdarahan minor pada pasien dengan hemodinamik stabil.


Kelemahan dan komplikasi DPL / DPT
1. Infeksi lokal atau sistemik ( pada kurang dari 0,3% kasus)
2. Cedera intaperitoneal
3. Positif palsu karena insersi jarum melalui dinding abdomen denganhematoma atau
pada gangguan hemostasis
Interpertasi DPL
Pada trauma tumpul abdomen, aspirasi darah sebanyak 10 ml atau lebih pada DPT
menunjukkan kecurigaan lebih dari 90% terhadap adanya cedera intaperitoneal. Jika hasil
lavage pasien yang dikirim ke lab menunjukkan RBC lebih dari 100.000/mm3 maka dapat
dikatakan positif untuk cedera intraabdominal. Jika hasil aspirasi positif dan adanya
peningkatan RBC pada lavage menunjukkan adanya cedera, terutama viscera padat dan
struktur vaskular, namun hal ini tidak cukup untuk mengindikasikan laparotomi.
Pada pasien dengan fraktur pelvis, harus diwaspadai adanya positif palsu pada DPL.
Walaupun demikian pada lebih dari 85% kasus, pasien fraktur pelvis dengan aspirasi positif
pada DPT mengindikasikan adanya cedera
intraperitoneal. Aspirasi negatif pada pasien
fraktur pelvis dengan hemodinamik yang tidak
stabil

menunjukkan

adanya

perdarahan

retroperitoneal, jika demikian perlu dilakukan


angiography dengan embolisasi. Peningkatan
WBC baru terjadi setelah 36 jam setelah cedera,
sehingga tidak terlalu penting pada interpretasi
DPL.

Gambar 8: Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL)


Sumber: Advanced Trauma Life Support

SITI AMALINA AWANG (112013172)

14

Trauma Tumpul Abdomen

2.6. PENATALAKSANAAN LANJUTAN


Pasien trauma tumpul abdomen harus dievalusi lanjut apakah diperlukan perawatan operatif
atau tidak. Setelah melakukan resusitasi dan penatalaksanaan awal berdasarkan protokol
ATLS, harus dipertimbangkan indikasi untuk laparotomi melalui pemeriksaan fisik,
ultrasound (US), computed tomography (CT), dan DPT/DPL4,5
2.6.1 Pasien Dengan Hemodinamik Yang Tidak Stabil
Pada pasien dengan hemodinamik yang tidak stabil, penatalaksanaan bergantung pada ada
tidaknya perdarahan intraperitoneal. FAST dilakukan secepatnya setelah primary survey, dan
biasanya dilakukana bersamaan dengan primary survey, sebagai bagian dari C(Circulation)
pada ABC. Jika tersedia ultrasound, sangat disarankan penggunaan FAST pada semua pasien
dengan trauma tumpul abdomen. Jika FAST menunjukkan adanya hemoperitoneum, maka
diperlukan laparotomi emergensi.4
Hemoperitoneum pada pasien yang tidak stabil secara klinis, tanpa cedera lain
yangterlihat, juga mengindikasikan untuk dilakukan laparotomi. Jika melalui FAST tidak
didapati adanya hemoperitoneum, harus dilakukan investigasi lebih lanjut terhadap lokasi
perdarahan.4,5,6
2.6.2 Pasien Dengan Hemodinamik Yang Stabil
Penilaian klinis pada pasien trauma tumpul abdomen dengan kondisi sadar dan bebas dari
intoksikasi, pemeriksaan abdomen saja biasanya akurat tapi tetap tidak sempurna. FAST dan
CT sering digunakan untuk mengevaluasi pasien trauma tumpulabdomen yang stabil. Jika
pada FAST awal tidak terdeteksi adanya perdarahan intraperitoneal, maka perlu dilakukan
pemeriksaan fisik, FAST, dan CT secara serial.4,5
Jika FAST awal mendeteksi adanya darah di intraperitoneal, makakemudian
dilakukan CT scan untuk memperoleh gambaran cedera intraabdominal dan menaksir jumlah
hemoperitoneum. Keputusan apakah diperlukan laparotomi segera atau hanya terapi non
operatif tergantung pada cedera yang terdetaksi danstatus klinis pasien. CT abdominal harus
dilakukan pada semua pasien dengan hemodinamik stabil, tapi tidak untuk pasien dengan
perubahan sensoris dan statusmental karena cedera kepala tertutup, intoksikasi obat dan
alkohol, atau cedera lain yang mengganggu.4,5,6

SITI AMALINA AWANG (112013172)

15

Trauma Tumpul Abdomen

Gambar 9: Algoritme untuk Evaluasi Pasien Suspek Trauma Tumpul Abdomen


Sumber: Schwartzs Principal of Surgery

2.6.3 Indikasi Klinis Laparotomi


Laparotomi segera diperlukan setelah terjadinya trauma jika terdapat indikasi klinis sebagai
berikut:1,4
1. Kehilangan darah dan hipotensi yang tidak diketahui penyebabnya, dan pada
pasien yang tidak bisa stabil setelah resusitasi, dan jika ada kecurigaan kuat
2.
3.
4.
5.

adanya cedera intrabdominal


Adanya tanda - tanda peritonitis
Bukti radiologi adanya pneumoperitoneum konsisten
Terbukti adanya ruptur diafragma
Jika melalui nasogastic drainage atau muntahan didapati adanya GI bleeding
yang persisten dan bermakna

BAB 3

SITI AMALINA AWANG (112013172)

16

Trauma Tumpul Abdomen

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Trauma tumpul abdomen adalah trauma yang dapat mengakibatkan kematian
sekiranya tidak dapat dikenalpasti dari awal. Pada pasien dengan cedera intraabdominal perlu
dilakukan konsultasi segera dengan ahli bedah. Bila fungsi vital pasien bisa diperbaiki, maka
evaluasi dan penanganan akan bervariasi sesuai dengan cederanya. Semua pasien trauma
tumpul dengan hemodinamik yang tidak stabil harus segera dinilai kemungkinan perdarahan
intraabdominal maupun kontaminasiGI tract dengan melakukan DPL, ataupun FAST. Indikasi
untuk laparotomi ditegakkan melalui pemeriksaan fisik, ultrasound(US), computed
tomography (CT), dan DPT/DPL.
Daftar Pustaka
1. Abdominal and pelvic trauma in Advanced Trauma Life Support Student Course
Manual. 9th Ed. United State of America. American College of Surgeon; 2012.p.12239
2. Knoop KJ [et al]. Chest and abdomen in Atlas of emergency medicine. 3rd Ed. McGraw Hill; 2010.p.158-87
3. Legome EL. Abdominal Blunt Trauma. 28 March 2014. Medscape. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/1980980-overview, 3 August 2014
4. Brunicardi FC [et al]. Schwartzs principle of surgery. 9th Ed. Mc-Graw Hill; 2010
5. Cho Y [et al].Blunt Abdominal Trauma. Advisory comittee on trauma. July 2012.p.1-8
6. Hoff WS [et all]. Practice Management Guidelines for the Evaluation of Blunt

Abdominal Trauma: The EAST Practice Management Guidelines Work Group. The
journal of trauma; 2002.p.602-14

SITI AMALINA AWANG (112013172)

17