Anda di halaman 1dari 32

LABORATORIUM FARMASETIKA

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

TEKNOLOGI SEDIAAN CAIR DAN SEMI PADAT


LIQUID SOAP

KELOMPOK V
GOLONGAN SENIN
ASISTEN : ANDI DIAN PERMANA S.Si.

MAKASSAR
2010

IV.

DASAR FORMULASI

IV.1. ALASAN PEMBUATAN SEDIAAN


Kosmetik adalah produk yang mempengaruhi penampilan kulit,
sementara bahan obat mempengaruhi struktur dan fungsi kulit. Jadi, kata
cosmeceutical dimaksudkan untuk menggambarkan produk perawatan
kulit yang berada diantara dua kategori ini. ( Cosmetic formulation of skin
care products : 187). Sediaan sabun termasuk pada kategori kosmetik.
Sabun adalah produk yang dihasilkan dari reaksi netralisasi dari
campuran asam lemak dengan basa dalam sebuah proses yang disebut
saponifikasi. (Pouchers : 411). Sabun memiliki banyak kegunaan yaitu :
mkenghilangkan

kuman.

(Pouchers

411).

Sabun

juga

mampu

menghilangkan bukan hanya kotoran dari kulit, tetapi juga mikroorganisme


dan bahan mikro lainnya. Meskipun begitu, bisa disimpulkan bahwa sabun
adalah germisida. Sabun umumnya digunakan sebagai agen pembersih,
untuk penggunaan industri, sabun digunakan dalam farmasi dan obat
untuk tujuan yang bervariasi. Sebagai agen aktif permukan, sabun dapat
mereduksi tegangan antarmuka antara fase cairan-padat, cairan-cairan,
dan udara-cairan. Oleh karena itu, sabun digunakan sebagai pengemulsi.
Sebagai agen pembasah, sabun dapat mendispersikan agregat dalam
fase air. Sabun juga digunakan untuk membersihkan luka akibat trauma
atau kecelakaan. (American Pharmacy : 306)
Adapun klasifikasi sabun yaitu sabun padat dan sabun cair. Sabun
padat adalah sabun yang dibuat dari reaksi saponifikasi dari lemak padat

dengan NaOH. Untuk mendapatkan sediaan yang konsisten, biasanya


digunakan lemak hewan yang kaya dalam kandungan stearin dan
kandungannya

relatif

rendah

dalam

palmitin

Pharmacy : 307). Sedangkan sabun cair adalah

dan

olein.(American

reaksi saponifikasi

menggunakan minyak dan lemak yang mempunyai kandungan asam oleat


yang tinggi, dan perbandingan yang tajam dari kalium, digunakan dalam
kombinasi dengan soda kaustik untuk memproduksi cairan yang secara
normal warnanya agak gelap dan mempunyai bau yang kuat. Sabun jenis
ini masih digunakan di industri dan pembersih, tapi dianggap tidak relevan
untuk produk konsumer saai ini, meskipun laku di pasaran (Pouchers :
464-465)

IV.2. ALASAN PENGGUNAAN BAHAN


1. Minyak zaitun
Minyak zaitun digunakan pada enema, linimen, ointment, plaster, dan
sabun. dalam kosmetik, minyak zaitun digunakan sebagai pelarut
dan juga sebagai pelembut rambut dan rambut, produk pembersih,
krim topical dan lotion, dan produk mengatasi matahari. (Exp 6th :

470)
Penggunaan luar, minyak zaitun merupakan emolien dan pelunak
pada permukaan yang radang, dan digunakan untuk melunakkan
kulit dan kerak karena penyakit kulit dan psoriasis dan sebagai
lubrikan untuk pijatan. digunakan untuk sediaan liniment, ointment,
plaster dan sabun (Martindale 35)

Beberapa minyak sayur yang digunakan untuk pembuatan sabun


yaitu minyak kelapa, jagung, kapas, zaitun, palem, biji palem,
kacang, wijen, kedelai, bunga matahari, dan tung. (American

Pharmacy : 304)
Trigliserida nabati, misalnya minyak zaitun, dapat merupakan
emolien yang asli. Mengandung jumlah asam lemak tersaturasi yang

tinggi. (Conditioning Agents for Hair and Skin : 114)


Penggunaan lain dari minyak zaitun, dimana mengandung asam
lemak omega 3. dimana asam lemak diketahui memiliki antibacterial
dan dapat membantu memperbaiki kerusakan barier lipid kulit yang
terganggu oleh kekurangan asam lemak essensial. (Delivery System
Handbook for Personal Care and Cosmetics Products Technology,

Application dan Formulation : 773)


Minyak nabati dimasukkan sebagai memelihara kulit / bahan untuk
membuat kembali berlemak (misalnya almond, gandum, minyak
zaitun) (Handbook of Cosmetics and Technology : 403)

2. -tokoferol
Vitamin E merupakan emolian yang sempurna untuk memberikan
kelembutan pada kulit yang kasar. Digunakan juga untuk menambah
kemilau pada kulit yang pigmennya terlalu dalam. (Cosmetic

Dermatology for Skin of Color :109)


Merupakan antioksidan yang menetralisir molekul oksigen yang tidak
stabil, radikal bebas sehingga dapat mencegah kerusakan kulit.
(Handbook of Cosmetic Science and Technology : 463)

3. Tetrasodium Ethylene Diamine Tetra Asetic Acid

Digunakan sebagai agen pengkhelat dengan range yang luas pada


sediaan farmasetik, meliputi mouthwash, sediaan mata, dan sediaan
topikal, biasa digunakan antara 0,005 dan 0,1% b/v. (Excipienth 6th :

243)
Merupakan bahan pengkhelat yang sempurna untuk membentuk
kompleks dengan ion kalsium dan ion magnesium dalam air untuk

mencegah kerusakan pada busa. (Balsam : 507)


EDTA merupakan agen pengkhelat dan mengganggu lapisan lipid
luar tergantung ion kalsium dan ion magnesium. Dengan demikian,
ia juga dapat meningkatkan penetrasi antimikroba kimia lainnya ke

dalam bakteri sel. (Handbook of Cosmetic : 249)


Agen pengkhelat seperti asam sitrat atau asam etilen diamin tetraasetat (EDTA) dan garamnya natrium biasanya digunakan dalam
jumlah kecil untuk mencegah ion logam, terutama besi, dari
percepatan kelarutan hidroksida. Dengan mengikat ion kapur-sabun,
agen

pengkhelat

juga

mencegah

pembentukan

buih dan dapat meningkatkan daya berbusa (Pouchers : 127)


EDTA dapat memberikan efek sinergis dengan paraben.(Cosmetic
Additives : 174)

4. Metyl Paraben dan Propil Paraben


Paraben (misalnya Metil) dan homolog propil (Propil) yang umum
digunakan, sering dikombinasi. (Pouchers Parfumes, Cosmetic, and

Soap:127)
Metil paraben banyak digunakan sebagai pengawet antimikroba di
kosmetik, produk makanan, dan formulasi farmasi. Ini dapat
digunakan baik sendiri atau dalam kombinasi dengan paraben lain

atau dengan antimikroba lain. Pada kosmetik, metil adalah pengawet

antimikroba yang paling sering digunakan. (Excipients 6th:422)


Untuk sekitar 50 tahun, paraben digunakan untuk makanan,
farmasetikal, dan kosmetik. Metil ester paling larut dalam air, bagus
penggunaan bakteri positif, dan paling biasa digunakan paraben.

(Cosmetic Additives : 176)


Pengawet digunakan untuk mencegah pertumbuhan mikroba,

termasuk dalam emulsi M/A. (Handbook of Cosmetic : 152)


Keuntungan ester asam parahidroksi benzoat : ester dari asam
benzoat

lebih

aman

parahidroksibenzoat

dibanding
sampai

bentuk
kali

lebih

asamnya,
kuat

ester

melawan

mikroorganisme dibanding bentuk asamnya. Metyl ester efektif


digunakan, jika dikombinasi dengan propil akan lebih baik. Ditegakan
memiliki

toksisitas

rendah,

termasuk

ester

metyl.

(Modern

Cosmeticology : 599)
5. KOH
Sabun cair dibuat dengan cara saponifikasi antara asam lemak

dengan kalium alkali, misalnya KOH. (Pouchers : 464-465)


Sabun KOH dan garam alkanolamin lebih cair dan juga lebih larut
daripada garam natrium. (Handbook of Cosmetic Science and

Technology : 432)
Sabun natrium lebih keras dibanding sabun KOH. (Handbook of

Cosmetic Science and Technology : 488)


Sabun Natrium umumnya digunakan untuk sabun padat, sedangkan
kalium untuk sabun cair. (Handbook of Cosmetic Science and
Technology : 501)

Sabun kalium lebih cepat larut dibanding sabun natrium dan


membantu menghasilkan busa lebih cepat. (Pouchers : 350)

6. HPMC
Kebanyakan eter selulosa, yang tersedia dalam berbagai macam
jenis, memproduksi tingkatan viskositas ketika bahan didispersikan

dalam air (Pouchers : 107)


HPMC digunakan secara luas untuk sediaan oral, ophtalmic, nasal,

dan topikal (Handbook of Excipient 6th : 314)


HPMC juga digunakan sebagai suspending dan thickening agent.
Dibandingkan metyl selulosa, HPMC memproduksi fase air lebih
jernih, lebih sedikit serat yang tidak larut. (Handbook of Excipient 6th

: 314)
Digunakan secara luas pada produk kosmetika dan makanan.
Bersifat nontoksik dan noniritan, meskipun pada penggunaan oral
menimbulkan efek laksatif. (Handbook of Excipient 6th : 314)

7. Glycol Stearate
Produk yang lembut bisa dibuat dengan penambahan sejumlah kecil
larutan glycol stearate ke formulasi yang panas dan diikuti dengan
pengocokan terkontrol. (Pouchers : 107)
8. Asam sitrat
Asam sitrat (sebagai monohidrat atau anhidrat materoal) luas
digunakan dalam produk farmasi untuk agen pengasam. (Handbook

of Excipient 6th :181 )


Dapat menyegarkan kulit. (Pouchers : 107)

9. Lanolin
Merupakan emolien natural dimana meski lebih berat dari mineral oil

tetapi membuat kulit lembut. (Pouchers : 136)


Minyak emollient meliputi cairan hidrokarbon, silicon, dan minyak

tumbuhan dan hewan ester alkil. (Balsam I : 7)


Digunakan dalam formula larut air dan minyak, jika dicampur dengan
minyak nabati

yang sesuai dengan paraffin yang lembut,

memberikan krim emollient yang dapat berpenetrasi pada kulit, dapat

mengabsorsi 30 % air. (Balsam I : 7)


Emolient adalah bahan yang digunakan untuk mencegah kekeringan
maupun untuk melindungi kulit . (Balsam Volume I : 27)
Mekanisme kerja emolient :
Flesch (78) mendeskripsikan 3 cara yang mana merupakan fungsi
emolient, melembutkan permukaan kulit, dihasilkan dari pengenalan
air ke dalam lapisan tanduk :
a. Meningkatkan difusi air dan sel hidup epidermis ke dalam lapisan
tanduk (stratum korneum) melewati barier (penghalang)
b. Dengan penambahan air secara langsung dari luar/dengan
memperkuat kerangka lipid dari stratum korneum yang menjaga
air tetap dalam jaringan.
c. Dengan occluding permukaan untuk mencegah penguapan air.
(Balsam Volume I :36)

Pembagian emolient :
Emollient memiliki bahan dalam daftar yang panjang yang dapat
diklasifikasikan kedalam beberapa tipe umum berikut ini :

1.Minyak hidrokarbon dan lilin: minyak mineral, petrolatum, paraffin,


krim azokerit, lilin microkristalin, polietilen saqualane
2.Minyak silicon. dimetil polisoxane, metil fenil polisoxane, larut air
dan polimer silicon glikol larut alkohol.
3.Ester trigliserida. minyak lemak dan sayuran dan hewan
4.Ester asetogliserida. Acetylated monogliserida
5.Ethoxylated gliserida. Ethoxylated gliseril monostearat
6.Alkil ester. Metil isopropyl, dan butyl ester sari asam lemak, hexil
laurat, isohexyl laurat, isohexyl palmitat, decil oleat, isodecil
oleat, hexadecyl (isocetyl stearat, diisopropil adipate. laurel
lakbat, dan cetyl laktat)
7.Alkenil ester. Cleil miristat, oleil stearat, dan oleil oleat
8.Asam lemak. pellargonik, laurel, myristat, palmitat, stearat,
isostearat, hiodroksistearat, oleat, linoleat, ricinoleat, arachidic,
behenk, erucic, dan aeam lanolin
9.Alkohol

lemak.

Lauryl,

myristyl,

cetyl,

hexodecyl,

stearyl,

isostearyl, oleyl, ricinoleyl, beheryl, erucyl, dan lanolin alkohol


10. Ester alkohol lemak. Etoxylated lauryl, cetyl, stearyl, isostearyl,
oleyl, kolesterol, dan alkohol lanolin, polypoxylated cetyl, oleyl,
dan lanolin alkohol.
11. Ester-ester. Ester asam lemak dari Ethoxylated lemak alkohol
12. Lanolin dan derivatnya. Lanolin, lanolin oil, lilin lanolin, lanolin
alkohol, asam lemak lanolin, isopropyl lanolate, ethoxylated

lanolin, ethoxylated lanolin alkohol, ethoeylated kolesterol,


propoxylated lanolin alkohol asetilasi lanolin, asetilasi alkohol
lanolin, bahn absorbsi lanolin semisolid
13. Alkohol

polihidrat

(polyol)

dan

polyeter

dan

derivatnya.

Propylenglikol, polypropylene glikol 2000, 4000, polyoxyethilene


polyoxipropyleneglikol, gliserol etoxylated gliserol, propoxylated
gliserol, sorbitol, ethoxylated sorbitol, cis-cis vicinal gliserol, dan
polyoxypropylene derivate dari trimethylolpropane
14. Alkohol polihidrat (ester polyol) . Etylen glikol mono, asam diester
lemak, dioetylen glikol mono- dan ester asam di-lemak;
polyethylenglikol (2000-4000) mono dan ester asam di-lemak,
propilen glikol mono dan aster asam lemak, ester asam lemak
sorbitan, dan poilyoxyethilen ester asam lemak sorbitan
15. Ester lilin. Lanolin, beewax, spermaceti, myristyl miristat, steryl
sterat
16. Derivat beewax. Polyoxyethylene sorbitol beewax, merupakan
produk dari reaksi beewax dengan ethoxylated sorbitol dari
berbagai ethylene oxide bentuk dari campuran ester-ester
17. Lilin sayur. carnauba, candililla
18. Fosfolipid. Lecithin dan derivatnya
19. Sterol. Colesterol, ester asam lemak kolesterol
20. Amida. Amida asam lemak, asam amida ethoxylated lemak,
asam lemak alkanolamides padat.

(Balsam Volume I : 28-36)

10. Sodium Laureth Sulfate


Secara luas digunakan sebagai agen foaming (pembusa) pada

produk sabun (Pouchers : 103)


Tidak mahal, tidak berwarna, hampir tidak berbau, sangat stabil pada
pH normal, mudah dalam penyimpanan, busa banyak dalam air yang
lembut dan keras, dan ketika tidak ada sabun. Dan pada saat yang
khusus memproduksi flash foam yang banyak, jumlah dari foam

meningkat saat air kurang. (Pouchers : 103)


Bercampur dengan bahan tambahan lain dalam produk dan cairan,
dengan mudah menjadi tebal, murah, dengan rendah membuat

viskositas termasuk gel (Pouchers : 122)


Fungsi dari sodium lauryl sulfat dalam sabun busa ditolak. Kurang
larut dalam air dan memproduksi busa yang kurang dibadingkan
ether sulfat. Tidak berbusa dengan sabun, terutama dalam air,

mengiritas, dan membuat kulit terasa kering. (Pouchers : 122)


Agak mengiritasi meskipun tidak sebesar Sodium Lauryl Sulfate.
(Pouchers : 122)

11. Apple Oil


Parfum ditambahkan pada level 1 sampai 10% sesuai dengan
minyak parfum dan hasil yang diinginkan. (Balsam : 503)
12. Aquadest
Merupakan pelarut yang umum digunakan (FI III)
13. Propilen glikol
Dalam hand cream tipe nonionik perbedaan antara ketiga humektan
kurang disebutkan.

Semuanya sama efektif dalam menghambat

hilangnya kelembaban maupun pada kelembaban relatif antara 30%


dan pada 2,5,10 dan 20%. Propilen glikol lebih efektif dibandingkan

yang lainnya (sorbitol atau gliserol). (Balsam : 198)


Humektan adalah bahan yang mengontrol perubahan kelembaban
antara produk dengan udara, baik dalam wadah atau pada kulit.

(Balsam Volume I : 198)


Mekanisme kerja humektan :
a. Mencegah paling tidak menghambat penyusutan krim oleh
penguapan air
b. Melembutkan permukaan kulit dan mencegah atau menghilangkan
lapisan tanduk yang kasar dan pecah
c. Memudahkan dalam pemakaian krim dan mencegah rolffect .
(Jellineck : 143)
Pembagian humektan :
a. Konsistensi handcram tipe m/a, dengan polyol yang digunakan
dalam perlakuan berikut

(a) Menghasilkan krim yang sangat

keras konsistensinya, (b) Sorbitol mengasilkan krim dengan


kekerasan sedang, (c) PG menghasilkan krim yang paling lembut
(halus)
b. Konsistensi tipe m/a, tipe sabun dihubungkan dengan polyol yang
digunakan dalam perlakuan berikut (a) gliserol menghasilkan
lotion dengan sifat aliran yang paling baik dan (b) PG dan sorbitol
menunjukkan kecenderungan membentuk gel. (Balsam Volume I :
198)

V.

URAIAN BAHAN
1.Minyak zaitun (Exp 6th : 470)
Nama resmi

: Olive Oil

Nama lain

: Gomenoleo oil; olivae oleum raffinatum; pure olive


oil; olea europaea oil; oleum olivae.

Pemerian

: cairan

jernih,

tidak

berwarna

atau

kuning,

transparan. dapat mengandung antioksidan.


Kelarutan

: sedikit larut dalam etanol 95%, bercampur dengan


eter, kloroform, petrolatum dan karbon disulfide.

Incomp

: dapat tersaponifikasi dengan alkali hidroksida.

Penyimpanan : harus disimpan di tempat sejuk dan kering, lindungi


dari cahaya
Stabilitas

: ketika dingin, minyak zaitun menjadi berawan pada


1080C dan menjadi seperti mentega pada 00C

Konsentrasi

: Memiliki bilangan saponifikasi 190-195

Fungsi

: Bahan pembentuk saponifikasi

2.Vitamin E (Martidale 35)


Nama resmi

: d-Alpha Tocopherol

Nama lain

: (+)-Alpha-Tocopherol; Natural -Tocopherol; Natural


Alpha

Tocopherol;

RRR-Tocopherol;

RRR-

Tocopherolum; RRR-Tokoferol; RRR-Tokoferoli;


RRR-Tokoferolis;

RRR-tocopherolum;

RRR-

tokoferol; d-Tocopherol; d-Alpha Tocopherol;

D-

Tocoferol
RM/BM

: C29H50O2 / 430.7

RB

Pemerian

: minyak kental, jernih, kuning atau kuning kehijauan,


praktis tidak berbau. Tidak stabil terhadap udara dan
cahaya, umumnya pada media alkali.

Kelarutan

: Tidak larut dalam air, larut dalam alkohol, bercampur


dengan aseton, dengan kloroform, dengan eter, dan
dengan minyak

Penyimpanan : Simpan dalam wadah kedap udara dengan gas yang


inert. Lindungi dari cahaya
Incomp

: dengan

garam

ferri,

perak

nitrat

dan

bahan

pengoksida lainnya. Kontak dengan timah atau besi


harus dihindari. (DOM Martin, 343)
Fungsi

: antioksidan

Konsentrasi

: 0.0010.05%

3.Tetrasodium EDTA (Exp 6th : 247)


Nama Resmi : Sodium edetate
Nama Lain
: Edetate sodium; edetic acid tetrasodium salt; EDTA
tetrasodium;N0-1,2-ethanediylbis[N(carboxymethyl)glycine] tetrasodium salt; ethylenebis
(iminodiacetic

acid)

tetrasodiumsalt;

ethylenediaminetetraacetic acid tetrasodium salt;


(ethylenedinitrilo) tetraacetic acid tetrasodium salt;
Sequestrene
tetracemin;

NA4;tetracemate
tetrasodium

tetrasodium;
edetate;

tetrasodiumethylenebis(iminodiacetate) ;tetrasodium
RM/BM
Kelarutan
Pemerian
Penyimpanan

ethylene diaminetetra acetate; Versene.


: C10H12N2Na4O8 / 380,20
: larut 1 bagian dalam 1 bagian air
: serbuk Kristal putih
: Dalam wadah tertutup baik, sejuk dan tempat yang

Incomp

kering
: bereaksi dengan ion logam trivalent dan divalent

Stabilitas

membentuk logam khelat


: Bentuk gatam edetat lebih stabil dibandingkan
dengan asam edetat. Disodium edetat higroskopis

Konsentrasi
Fungsi

dan tidak stabil pada keadaan lembab


: 0.010.1%
: Pengkhelat

4.Metil paraben (Exp 6th : 441)


Nama Resmi : Methyl Paraben
Nama Lain
: Methyl Parahidroxybenzoate; Nipagin
RM/BM
: C8H8O3 / 152,15
RB
:

Kelarutan

: 1 dalam 2 bagian etanol; 1 dalam 3 bagian


etanol(95%); 1 dalam 6 bagian etanol(50%); 1 dalam
10 bagian eter; 1 dalam 60 bagian gliserin; praktis
tidak larut dalam minyak mineral; 1 dalam 200
bagian

Pemerian

minyak

kacang;

dalam

bagian

propilenglikol; 1 dalam 400 bagian air


: Kristal tidak berwarna atau serbuk kristal putih. Tidak
berbau atau hampir tidak berbau dan memiliki sedikit

rasa terbakar
Penyimpanan : Bahan padat stabil dan dapat disimpan dalam wadah
tertutup baik, dingin, dan tempat yang kering
Incomp

: Incomp dengan bahan lain, seperti bentonit,


magnesium trisilikat, talk, tragakan, natrium alginat,
minyak esensial, sorbitol, dan atropin yang telah
dilaporkan. Bereaksi juga dengan jenis gula dan gula
alkohol.

Stabilitas

: Larutan stabil pada pH 3-6 (kurang dari 10%


dekomposisi) untuk sekitar 4 tahun pada suhu
ruangan.

Fungsi

: Pengawet

Konsentrasi

: 0.020.3 %

5. Propil Paraben (Exp 6th: 596)


Nama Resmi : Propylparaben
Nama Lain

: Propyl parahidroxybenzoate; Nipasol

RM/BM

: C10H12O3 / 180,20

RB

Pemerian

: Kristal; putih; serbuk sedikit berasa

Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam aseton dan eter; 1 dalam


250 bagian gliserin; 1 dalam 2500 bagian air; 1
dalam 3,9 bagian propilenglikol

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, dingin, dan tempat yang


kering
Incomp

: Magnesium aluminium silikat, magnesium trisilikat,


ultramarin biru dilaporkan mengurangi penyerapan
propil paraben, dimana mereduksi efek pengawet.
Propil paraben terhidrolisis oleh alkali dan asam kuat

Stabilitas

: Larutan propil paraben dapat disterilkan oleh autoklaf


pada pH 3-6, tanpa dekomposisi. Pada pH 3-6, stabil

(kurang dari 10% dekomposisi) untuk sekitar 4 tahun


pada suhu ruangan
Fungsi

: Pengawet

Konsentrasi

: 0,01-0,6%

6. Kalium Hidroksida (Exp 6th : 576-577)


Nama Resmi : Potassium Hydroxide
Nama Lain

: Caustic potash; E525; kalii hydroxidum; kalium


hydroxydatum; potash lye; potassium hydrate.

RM/BM
Pemerian

: KOH / 56.11
: Kristal; putih; serbuk sedikit berasa

Kelarutan

: Larut dalam ethanol (95%) 1 dalam 3 bagian, praktis


tidak larut dalam ether, larut dalam gliserin 1 dalam
2,5 bagian, dan 1 dalam 0,9 bagian air.

Stabilitas
: Stabil pada keadaan yang tidak mengandung logam
Penyimpanan : KOH disimpan dalam wadah kerap udara, wadah
yang tidak mengandung logam, tempat sejuk, dan
kering
Incomp

: KOH sebagai basa lemah dan tidak bercampur


dengan kandungan yang mengalami hidrolisis dan
oksidasi. Oleh karena itu, harus disimpan di gelas
dan wadah aluminum dan akan bereaksi dengan
asam, ester, eter, khususnya larutan aqua.

Fungsi
pH
Konsentrasi

: Alkalizing agent
: Acidity/alkalinity pH = 13.5
: Bergantung pada bilangan saponifikasi dari asam
lemak pada formulasi

7. HPMC (Exp 6th : 326)


Nama Resmi : Hypromellose
Nama Lain

: HPMC

RM

: CH3CHOHCH2

RB

Pemerian

: Tidak berbau, tidak berasa, putih atau putih kering,


fibrous, atau serbuk granul

Kestabilan

: Larutan stabil pada pH 3-11. Temperatur gelatin


antara 50-90 derajat celcius tergantung konsentrasi
bahan.

Incompabilitas : HPMC incom dengan beberapa agen pengoksidasi.


Karena bersifat anionik, HPMC tidak membentuk
kompleks dengan garam atau ionik organik untuk
tidak melarutkan endapan.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, sejuk, dan tempat kering
Fungsi

: Penstabil emulsi

Konsentrasi

: 0.255.0%

8. Glycol Stearate (Cosmetic Additives : 706)


Nama resmi : Glycol stearate
Pemerian
: Cairan berwarna; putih sampai krem
Fungsi
: Misselines

9. Asam sitrat (Exp 6th : 181)


Nama resmi

: Citric acid monohydrate

Nama lain
RM/BM
RB

: Acidum citricum monohydricum


: C6H8O7.H2o / 210,14
:

Kegunaan
Kestabilan

: agen pembuat asam


: menghilangkan air dari kristalisasi dalam udara

ketika suhu sekitar 40 derajat celsius.


Incompabilitas : Incomp dengan potasium tartrat, alkali, karbonat,
dan bicarbonat, asetat, dan sulfida.
Fungsi
: pengatur pH
10. Lanolin (Exp 6th : 379)
Nama Resmi : Lanolin
Nama Lain
: Wool fat; adeps lanae
Pemerian
: Kuning pucat, menyerupai salep, rapuh, bau khas
Kelarutan
: Mudah larut dalam benzene, kloroform, eter dan
minyak menguap. Sukar larut pada etanol dingin
(95%), lebih larut pada etanol hangat (95%); praktis
tidak larut pada air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya,
Incomp

sejuk, dan tempat kering. Bertahan sekitar 2 tahun


:
Lanolin
mengandung
prooksidan,
dimana

memberikan efek stabil pada obat yang aktif


Stabilitas
: mengalami autoksidasi selama penyimpanan
Fungsi
: Emolient
11. Propylen glycol (Exp 6th : 592)
Nama resmi : Propylenglycolum
Sinonim
: Propilenglikol
RM/BM
: C3H8O2/76,09
RB
:

Pemerian

: Cairan kental, jernih, tidak berwarna; rasa khas;


praktis tidak berbau; menyerap air pada udara

Kelarutan

lembab.
: Dapat bercampur dengan air, dengan aseton, dan
dengan kloroform; larut dalam eter dan dalam
beberapa

minyak

esensial;

tetapi

tidak

dapat

bercampur dengan minyak lemak


Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Fungsi
: Humektan
Konsentrasi : sekitar 15%
12. Water (Exp 6th : 766)
Nama Resmi : Purified Water
Nama Lain
: Aqua; aqua purificata; hydrogen oxide.
RM/BM
: H2O / 18.02
Pemerian
: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak
berbau
Bercampur dengan pelarut paling polar
Dalam wadah tertutup baik
Stabil dalam berbagai tempat
Dapat bereaksi dengan obat maupun

Kelarutan
Penyimpanan
Stabilitas
Incomp

:
:
:
:

Fungsi

tambahan
: Pembawa

bahan

VIII. ETIKET

Komposisi:
Tiap 250 mL mengandung :
Minyak zaitun
50 gram
Zat tambahan lain
q.s.

Bersih menyeluruh
kulit tetap sehat.

dan

menjaga

Cara pemakaian
Letakkan beberapa tetes di telapak
tangan atau shower puff lalu gosok
hingga diperoleh busa yang melimpah
cukup untuk seluruh badan.

Diproduksi oleh :
PT.PENTANIN PHARMA
Makassar-Indonesia

No. Reg : POM CD 0201010001


No. Bacth : A 10002

TEORI TAMBAHAN

Mekanisme pembersihan kotoran oleh sabun:


Bagian ini untuk penampilan berawan dari campuran air-sabun.
pengenceran larutan dari sabun dalam air memiliki tegangan
permukaan yang lebih rendah dari air, dengan hasil ini menghasilkan
rasa licin, buih dan busaketika diaduk dan kemampuan dari
emulgator minyak dan kotoran. emulgator minyak bersama-sama
dengan kemampuan dari larutan itu untuk membasahkan bahan
dimana mereka diaplikasikan, karenanya sabun disebut juga
deterjen.

Mekanisme pembersihan logam di sabun:


Sabun akan bereaksi dengan ion dari alkali logam bumi dan logam
berat jika mereka terdapat dalam air, membentukan garam yang
tidak larut dalam air dan kemudian mengendap.

Misalnya ion

kalsium dan magnesium yang ditemukan dalam air sadah maka


mengeluarkan sabun dari larutan dan menurun kemampuannya
untuk menunjukkan fungsi yang diinginkan.jika pengkatan sabun
digunakan, kemudian bahan yang mengendap akan teremulsi dan

fungsi yang diinginkan akan terpenuhi.


Misel adalah:
Hasil dari pembuatan struktur sendiri dari bahan-bahan aktif
permukaan agar mencapai suatu keadaan energi minimum. Sebagai
contoh, Na-stearat, dalam suatu larutan air jernih pada suatu

konsentrasi di atas konsentrasi misel kritis (KMK).


Mekanisme kerja :
Membentuk struktur dengan ujung nonpolar dari beberapa molekul
yang saling

berhubungan satu sama lain (ikatan hidrofobik), dan

dengan ujung polar dipaparkan ke air di sekitarnya. (Lachmann edisi


3 : 1031)
Cara memprediksi tipe-tipe emulsi
Jika amfifil adalah larutan yang essensial, biasanya membantu
pembentukan emulsi M/A. Jika surfaktan terutama larut dalam
lemak, dapat membantu pembentukan emulsi A/M jika kondisi lain

diberikan.
Bagian polar dari emulgator biasanya adlah barier yang lebih baik
untuk koalesens daripada bagian hidrokarbonnya. Oleh karena itu,
memungkinkan untuk membuat emulsi M/A dengan volume fase

internal yang relatif tinggi. Di lain pihak A/M terbatas dalam bagian
ini dan berubah denagn mudah jika jumlah air yang ada sama.
Contohnya

air,

minyak

mineral

biasanya

ditujukan

untuk

pembentukan emulsi A/M karena kurangnya unit etilenoksida


hanya mungkin jika jumlah air < 40% dari volumenya. Jumlah air

yang lebih tinggi akan membentuk emulsi M/A.


Bahkan jika airnya 20-30%, emulsi A/M akan tetap terbentuk jika
air ditambahkan pada minyak pada pencampuran. Penambahan
kedua

fase

bersama-sama

diikuti

dengan

pencampuran

menunjukkan emulsi M/A pada seluruh konsentrasi air > 10%.


Terakhir, tipe emulsi yang terbentuk dipengaruhi oleh viskositas
masing-masing fase, penambahan viskositas pada suatu fase

memudahkan fase tersebut menjadi fase luar. ( Lachman : 279)


Emulsi yang akan dibuat adalah emulsi M/A yang ditentukan dari
jumlah fase air pada sediaan kami > 40 %.
pH sediaan untuk kulit
pH emulsi sabun adalah 7,5-8.5 , garam kalium dari cetil fosfat
kadang-kadang

adalah emulgator umum sempurna yg efektif

pada pH 6-7 yang diizinkan dari pH yg seimbang atau pH dari


kulit. ( Surfaktan in personal care products and decorative
cosmetics :247). pH kulit 4 6 ( Poucher parfum cosmetics and

shoap : 408 )
Lapisan utama kulit? (penuntun ilmu kosmetik medic : 5-7)
Kulit tersusun atas 3 lapisan utama yaitu: lapis epidermis atau
kutikel, lapis dermis (korium, kutis vera, true skin) dan lapis subkutis

(hipdermis).
1. Lapis Epidermis

Lapisan epidermis ini terdiri atas stratum korneum, stratum lusidum,


stratum granulosum, stratum spinosum, dan stratum basalis. Stratum
korneum (lapisan tanduk) adalah lapisan kulit yang paling luar dan
terdiri atas beberapa lapis sel gepeng yang mati, tidak berinti, dan
protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk). Stratum
lusidum terdapat langsung di bawah stratum korneum, merupakan
lapis sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah
menjadi protein eleidin. Lapisan ini terdapat jelas di telapak tangan
dan kaki. Stratum granulosum (lapisan keratohialin) merupakan 2
~atau3 lapis sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan
terdapat inti sel di antaranya. Butir-butir kasar ini terdiri atas
keratohialin. Mukosa biasanya tidak mempunyai lapisan ini. Stratum
spinosum (sin. stratum Malpighi, lapisan sel prickle, lapis akanta)
terdiri atas beberapa lapis sel berbentuk polygonal dengan ukuran
bermacam-macam akibat proses mitosis. Stratum basalis terdiri atas
sel-sel kubus (kolumnar) yang tersusun vertikal, dan pada taut
dermoepidermal berbaris seperti pagar (palisade). Lapisan ini
merupakan dasar epidermis, berproduksi dengan cara mitosis.
2. Lapis Dermis
Lapisan ini jauh lebih tebal daripada epidermis, terbentuk oleh
jaringan elastik dan fibrosa padat dengan elemen selular, kelenjar,
dan rambut sebagai adneksa kulit. Lapisan ini terdiri atas:
a. Pars papilaris, yaitu bagian yang menonjol ke dalam epidermis,

berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah.


b. Pars retikularis, yaitu bagian bawah dermis yang berhubungan
dengan subkutis, terdiri atas serabut penunjang kolagen, elastin dan
retikulin. Kolagen muda bersifat lentur namun dengan bertambahnya
umur menjadi stabil dan keras. Retikulin mirip dengan kolagen muda,
sedangkan elastin biasanya bergelombang, berbentuk amorf, mudah
mengembang, dan elastis.
3.

Lapis Subkutis

Lapisan ini merupakan kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat


longgar berisi sel-sel lemak di dalarnnya. Sel lemak merupakan sel
bulat, besar, dengan inti terdesak ke pinggir karena sitoplasma lemak
yang bertambah .

Jenis jenis kulit


Jenis jenis kulit bervariasi tergantung pada umur, letak kulit, cuaca,
kesehatan.
Kulit kering
Kulit berminyak
Kulit normal, tidak berminyak atau kering, lembut, dan nyaman

disentuh serta pori pori yan tak tampak


Kulit kombinasi ; tipe kulit ini cenderung berminyak pada daerah T
dahi, hidung, pipi bagian tengah, dan dagu. Kulit ini pada daerah

lain (Pouchers parfum cosmetics and soap : 406-407)


Metode Pembuatan Sabun :
Langkah pertama dalam pembuatan sabun terdiri dari
1. Hidrolisis asam lemak.
Proses ini mungkin akan memenuhi sebagian dari seluruh proses dengan
hasil asam lemak murni dan kemudian dinetralkan.
2. Atau sebagai kombinasi produk dimana asam lemak dengan segera
dinetralkan dengan adanya alkali dalam reaksi :
O
R1 C

CH2

R2

CH

CH2

C
O

R3

C
O

+
H O

(1)

Pemanasan,
tekanan

katalis

O
R2 C

OH

O
R1 C

OH

R3

+
OH

C3H5(OH)
3

O
R3

OH R2

OHR+
1 C

OH

(2)

3
NaOH

O
R3 C

Na

O
R1 C

Na +

O
R1 C

CH2

R2

CH

O
R3

CH2

(3)

3
NaOH

R2 C

Na+

3 H 2O

O
R3 C

NaR2 C

+ NaR C
O
1

Na +

C3H5(OH)
2

Terdapat tiga aplikasi mengenai reaksi di atas dalam bidang industri


yang dikembangkan seperti proses ketel, proses dingin dan proses
saponifikasi berlanjut. Proses ketel digunakan secara tradisional dengan
cara pemanasan lemak dan basa bersama dalam ketel besar. Lebih
banyak sabun akan tetap diproduksi oleh proses ini dibandingkan metode
lainnya. Dalam industri sabun modern, ketel yang digunakan ukuran
sangat besar, terutama penggunaan tangki yang dapat menampung 25
hingga 50 ton minyak pada satu kali waktu produksi. Pemanasan disupply
melalui bagian bawah tangki penampung.
Proses dingin yang sederhana hanya memerlukan pemanasan
secukupnya untuk mencairkan lemak (95F) ketika larutan alkali
ditambahkan dan dicampurkan ke dalamnya. Setelah penambahan
parfume atau bahan lainnya, campuran ditempatkan dalam "cooling
frame" dimana proses saponifikasi terjadi beberapa jam, peningkatan
pemanasan yang dapat diterima atau secukupnya dapat dilakukan dari
reaksi. Setelah didiamkan selama beberapa hari, massa dingin dan padat
dihasilkan. Salah satu sisi dari frame dapat dipindahkan dan sabun dapat

dipotong menjadi batangan kecil, ditandai dan dibungkus oleh suatu mesin
khusus. Proses ini tentunya hanya membutuhkan sedikit biaya namun
sudah jarang digunakan pada saat ini karena tidak memungkinkan untuk
menggantikan bahan-bahan yang biasanya digunakan dalam produk
seperti gliserin dan derivat lemak tidak dimurnikan.
Proses saponifikasi berlanjut merupakan pengembangan yang
lebih modern sehingga dapat menutupi kelemahan dari penggunaan
waktu yang banyak dan tempat

yang dibutuhkan dalam proses ketel.

Temperatur tinggi (450F) autoklaf (600 lbs./sq. in) dilakukan pada minyak
panas dan katalistnya dimasukkan melalui bagian bawah dan air panas
dimasukkan

melalui

bagian

atasnya.

Minyak

diubah

menjadi

komponennya masing-masing yaitu asam lemak dan gliserin. Karena


asam lemak tidak larut dalam air dan lebih mengkilat daripada air, bahan
ini akan berada pada bagian atas dan dapat menarik diri dari autoklaf.
Gliserin yang larut dalam air akan berada pada bagian bawah dari autoklaf
dengan air dan dapat menarik diri berlanjut disana. Asam lemak
diproduksi dapat dilakukan secara langsung atau sebagian melalui
destilasi fraksional. Sabun dibentuk melalui penetralan asam dengan alkali
yang tepat. Melalui proses ini, sejumlah besar dari sabun dapat diproduksi
dalam

beberapa

jam

dengan

tempat

yang

kecil.

Dalam

perkembangannya, banyak jenis sabun dapat disiapkan dengan mudah


melalui seleksi asam lemak dan alkali dan melalui variasi dalam
kandungan air.

IX.

DAFTAR PUSTAKA

Rowe, Raymond dkk. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th


Edition. Great Britain : Pharmaceutical Press and American
Pharmacists Association
Butler, Hilda. 2000. Pouchers Perfumes Cosmetics and Soaps 10th
Edition. London : Kluwer Academic Publishers
Lachman, Leon, dkk. 2008. Teori dan Praktek Farmasi Industri II. Jakarta :
Penerbit Universitas Indonesia
Flick, Ernest. 1991. Cosmetic Additives. New Jersey, USA : Noyes
Publications
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Ed. III. Jakarta : Depkes RI

Paye, Marc dkk. 2001. Handbook of Cosmetic Science and Technology


Second Edition. USA : Marcel Dekker, Inc
Alam, Murad dkk. 2009.Cosmetic Dermatology for Skin of Color. USA :
The McGraw-Hill Companies, Inc.
Schueller, Randy dan Perry Romanowski. 1999. Conditioning Agents for
Hair and Skin. USA : Marcel Dekker, Inc
Rosen, Meyer. 2005. DeliverySystem Handbook for Personal Care and
Cosmetic Products Technology, Applications, and Formulations.
USA : William Andrew, Inc.