Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA IKAN

GINOGENESIS , HIBRIDISASI DAN TRIPLOIDISASI


Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Genetika Ikan

Disusun Oleh:

Perikanan B
Kelompok 10

Nama

NPM

Arvilia Humsari

230110120097

Ondi Kautsar

230110120104

M. Fiqi Fadillah

230110120121

Riri Aflisna

230110120122

Attindrya Nur Maldhania

230110120135

Muhammad Fajar

230110120143

PROGRAM STUDI PERIKANAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2013

Comment [A1]: unpad dulu, fpik, prodi

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. yang telah
memberikan Rahmat dan Karunia- Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan
penyusunan

tugas

Laporan

Praktikum

Ginogenesis,

Hibridisasi

dan

Triploidisasi. Tugas berupa laporan praktikum yang telah terselesaikan ini


merupakan salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Genetika Ikan.
Proses penyelesaian laporan ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak,
oleh karena itu pada kesempatan ini penyusun menyampaikan terima kasih
sebanyak-banyaknya kepada pihak yang telah terlibat dalam penyusunan makalah
kali ini. Semoga bantuan, kebaikan dan dukungan yang telah diberikan kepada
penyusun selama penyelesaian makalah ini mendapat balasan yang tiada terkira
dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan
sangat jauh dari kata sempurna. Akhir kata, kami penyusun berharap semoga
laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Jatinangor, Desember 2013

Penyusun

DAFTAR ISI
Bab

KATA PENGANTAR

Halaman

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................
1.2 Identifikasi Masalah ........................................................................................
1.3 Tujuan .............................................................................................................
1.4 Manfaat ...........................................................................................................

II.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biologi Ikan Komet ........................................................................................
2.2 Biologi Ikan Baster ........................................................................................
2.3 Reproduksi Ikan Mas dan Baster ....................................................................
2.4 Spermatozoa ...................................................................................................
2.5 Pemijahan Buatan ...........................................................................................
2.5.1 Ginogenesis (Miotik dan Mitotik) ...............................................................
2.5.2 Hibridisasi ...................................................................................................
2.5.3 Triploidisasi ................................................................................................
2.6 Embriogenesis ................................................................................................

III.

METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum ........................................................................
3.2 Alat dan Bahan Praktikum ..............................................................................
3.3 Prosedur Kerja Praktikum ...............................................................................
3.3.1 Persiapan Alat ..............................................................................................
3.3.2 Pemijahan Buatan.........................................................................................
3.3.3 Hibridisasi ....................................................................................................
3.3.4 Ginogenesis ..................................................................................................
3.3.5 Triploidisasi .................................................................................................
3.3.6 Embriogenesis ..............................................................................................
3.3.7 Pemeliharaan Larva......................................................................................
3.4 Metode Praktikum ...........................................................................................
3.5 Rancangan Praktikum .....................................................................................
3.5.1 FR .................................................................................................................
3.5.2 HR ................................................................................................................
3.5.3 SR Larva ......................................................................................................

3.6 Analisis Data


IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Pemijahan Buatan ...........................................................................................
4.2 Hibridisasi.......................................................................................................
4.3 Ginogenesis ....................................................................................................
4.4 Triploidisasi ....................................................................................................
4.5 Embriogenesis ................................................................................................
4.6 Keberhasilan Pemijahan .................................................................................

V.

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan .....................................................................................................
5.2 Saran
.........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................
LAMPIRAN .........................................................................................................

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Judul

1.
2.
3.
4.
5.

Ikan Komet ..
Ikan Baster ...
Sperma .
Perkembangan sperma
Perkembangan anak ikan yang baru menetas

Halaman

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Akuakultur memegang peranan penting untuk mensuplai kebutuhan pangan

masa depan. Perkembangan produksi budidaya perikanan sangat pesat dibanding


sektor lainnya. Pengembangan akan pengetahuan diperlukan untuk mengimbangi
keadaan demikian guna mengembangkan potensi tersebut. Salah satunya adalah
dengan bioteknologi.
Bioteknologi memiliki cakupan manfaat yang luas bagi dunia perikanan dan
budidaya ikan. Manfaat tersebut diantaranya, meningkatkan tingkat pertumbuhan
ikan budidaya, meningkatkan nilai gizi pada pakan ikan, meningkatkan kesehatan
ikan, membantu memperbaiki dan melindungi lingkungan, memperluas cakupan
jenis ikan, meningkatkan pengelolaan dan konservasi ketersediaan benih di alam.
Bioteknologi sederhana sudah diterapkan sejak lama seperti pemupukan kolam
untuk meningkatkan ketersediaan pakan, sedangkan yang lain merupakan
teknologi maju yang memanfaatkan pengetahuan biologi molekul dan genetik
seperti rekayasa genetik.
Rekayasa genetik ikan ini cenderung merupakan alternatif pengembangan
budidaya perikanan masa depan dengan pertumbuhan yang lebih cepat dari ikan
alami dan penggunaan pakan yang lebih efisien. Rekayasa genetik juga
merupakan salah satu cara untuk menyediakan benih unggul yang dapat
menentukan keberhasilan pengembangan budidaya. Rekayasa genetik ini dapat
melalui proses seperti ginogenesis, hibridisasi dan poliploidisasi.
Ginogenesis adalah proses pemurnian dengan mengambil genetik murni
yang berasal dari induk betina dengan cara merangsang terjadinya proses
pembuahan tanpa adanya sumbangan bahan genetik jantan (sperma yang telah di
non-aktifkan dan digunakan untuk memacu terjadinya perkembangan sel telur
menjadi larva). Proses ginogenesis dapat dilakukan dengan dua cara yaitu proses
mitosis dan miosis.
Hibridisasi merupakan perkawinan silang antara dua spesies individu yang
masih memiliki hubungan kekerabatan yang dekat (dalam hal ini adalah tingkat

famili). Hibridisasi bertujuan untuk mendapatkan benih dengan sifat lebih baik
dari yang dipunyai tertuanya terutama dalam pertumbuhan, kematangan gonad,
ketahanan terhadap penyakit serta lingkungan burukdan efesiensi pemanfaatan
makanan.
Poliploidisasi adalah usaha, proses atau kejadian yang menyebabkan
individu berkromosom lebih dari satu set. Poliploidisasi merupakan salah satu
metode manipulasi kromosom untuk perbaikan dan peningkatan kualitas genetik
ikan guna menghasilkan benih-benih ikan yang mempunyai keunggulan, antara
lain pertumbuhan cepat, toleransi terhadap lingkungan dan resisten terhadap
penyakit. Triploidisasi merupakan salah satu bagian dari ploidisasi yaitu salah
satu teknik untuk menghambat berkembangnya organ reproduksi, sehingga
pertumbuhan ikan tidak terhambat karena energi metabolisme yang digunakan
untuk

perkembangan

gonad

dapat

dimanfaatkan

untuk

meningkatkan

pertumbuhan sel-sel somatik.

1.2

Identifikasi Masalah
Semakin berkembangnya teknik dalam rekayasa genetika membuat hasil

perikanan di Indonesia semakin beraneka ragam. Dalam melakukan rekayasa


genetika banyak juga faktor-faktor yang akan mempengaruhi dari perkembangan
ikan tersebut. Teknik rekayasa genetika yang umum dilakukan adalah hibridisasi,
seleksi, inbreeding dan lain-lain. Dalam praktikum kali ini akan mempelajari
tentang teknik rekayasa genetika menggunakan hibridisasi, ginogenesis dan
triploidisasi.

1.3

Tujuan

1. Mempelajari teknik ginogenesis untuk memproduksi populasi ikan betina


2. Mempelajari teknik triploidisasi untuk memproduksi ikan yang memiliki
kromosom sebanyak 3 set (triploid).
3. Mempelajari teknik hibridisasi untuk memproduksi ikan yang lebih unggul
dari induknya

1.4

Manfaat

1. Praktikan diharapkan mendapatkan informasi mengenai cara melakukan


ginogenesis, triplodisasidan hibridisasi
2. Praktikan mampu mengaplikasikan teknik ginogenesis, triplodisasi dan
hibridisasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Biologi Ikan Komet


Klasifikasi ikan komet di dalam sistematika menurut Goenarso (2005)

adalah sebagai berikut :


Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Pisces

Sub kelas

: Teleostei

Ordo

: Ostariphisysoidei

Sub ordo

: Cyprinoidea

Famili

: Cyprinidae

Genus

: Carassius

Spesies

: Carassius auratus

Gambar 1. Ikan Komet


(Sumber : http://tropicalfishandaquariums.com/Goldfish/Goldfish.asp)

Ikan komet termasuk dalam famili Cyprinidae dalam genus Carassius. Ikan
komet merupakan salah satu jenis dari Cypridae yang banyak dikenal dikalangan
masyarakat karena memiliki warna yang indah dan eksotis serta bentuk yang
menarik. Bentuk tubuh ikan komet agak memanjang dan memipih tegak dimana
mulutnya terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Bagian ujung mulut
memiliki dua pasang sungut. Diujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan
yang tersusun atas tiga baris dan gigi geraham secara umum. Hampir seluruh
tubuh ikan komet ditutupi oleh sisik kecuali beberapa varietas yang memiliki

beberapa sisik. Sisik ikan komet termasuk sisik sikloid dan kecil. Sirip punggung
memanjang dan pada bagian belakangnya berjari keras. Letak sirip punggung
bersebrangan dengan sirip perut. Garis rusuk atau line literalis pada ikan mas
komet tergolong lengkap berada di pertengahan tubuh dan melentang dari tutup
insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor (Practical Fish Keeping 2011).

2.1.1 Siklus hidup


Siklus hidup ikan komet dimulai dari perkembangan di alam gonad
(ovarium pada ikan betina yang menghasilkan telur dan testis pada ikan jantan
yang menghasilkan sperma), kemudian telur akan dibuahi oleh sperma dan
menetas dalam waktu 2-3 hari. Setelah itu menjadi larva dan menjadi dewasa .
Sebenarnya pemijahan ikan komet dapat terjadi sepanjang tahun dan tidak
tergantung pada musim namun di habitat aslinya ikan komet memijah pada awal
musim hujan karena adanya rangsangan dari aroma tanah kering yang tergenang
air.

2.1.2 Habitat Ikan Komet


Ikan komet hidup di daerah sungai, danau dan perairan dengan kedalaman
20 m. Di habitat aslinya ikan komet tinggal di iklim subtropis pada perairan tawar
dengan pH 6,0-8,0, kesadahan air sebesar 5,0-19,0 dGH dan rentang temperatur
32-106oF (0-41oC). Makanan yang biasa dikonsumsi ikan komet adalah krustasea,
serangga, tanaman dan detritus. Ikan Komet merupakan ikan euryhaline yang
mampu hidup pada salinitas 17 ppt, tetapi tidak mampu bertahan lama pada
perairan dengan salinitas diatas 15 ppt.

2.1.3 Reproduksi Ikan Komet


Secara alami, pemijahan

pada ikan komet terjadi pada tengah malam

sampai akhir fajar. Menjelang memijah, induk-induk ikan mas aktif mencari
tempat yang rimbun, seperti tanaman air atau rerumputan yang menutupi
permukaan air. Substrat inilah yang nantinya akan digunakan sebagai tempat
menempel telur sekaligus membantu perangsangan ketika terjadi pemijahan

(Gusrina 2008). Sifat telur ikan Komet adalah menempel pada substrat. Telur ikan
Komet berbentuk bulat, berwarna bening, berdiameter 1,5-1,8 mm dan berbobot
0,17-0,20 mg. Ukuran telur bervariasi, tergantung dari umur dan ukuran atau
bobot induk. Embrio akan tumbuh di dalam telur yang telah dibuahi oleh
spermatozoa. Antara 2-3 hari kemudian, telur-telur akan menetas dan tumbuh
menjadi larva. Larva ikan Komet mempunyai kantong kuning telur yang
berukuran relatif besar sebagai cadangan makanan bagi larva. Kantong kuning
telur tersebut akan habis dalam waktu 2-4 hari (Gusrina 2008).
Larva ikan Komet bersifat menempel dan bergerak vertikal. Ukuran larva
antara 0,5-0,6 mm dan bobotnya antara 18-20 mg. Larva berubah menjadi kebul
(larva stadia akhir) dalam waktu 4-5 hari. Pada stadia kebul ini, ikan Komet
memerlukan pasokan makanan dari luar untuk menunjang kehidupannya. Pakan
alami kebul terutama berasal dari zooplankton, seperti rotifera, moinadan daphnia.
Kebutuhan pakan alami untuk kebul dalam satu hari sekitar 60-70% dari
bobotnya. Setelah 2-3 minggu, kebul tumbuh menjadi burayak yang berukuran 13 cm dan bobotnya 0,1-0,5 gram. Antara 2-3 minggu kemudian burayak tumbuh
menjadi putihan (benih yang siap untuk didederkan) yang berukuran 3-5 cm dan
bobotnya 0,5-2,5 gram. Putihan tersebut akan tumbuh terus. Setelah tiga bulan
berubah menjadi gelondongan yang bobot per ekornya sekitar 100 gram.

2.2

Biologi Ikan baster

2.2.1 Ikan baster


Ikan baster (Carassius carracius) pertama kali dibudidayakan oleh
masyarakat Cina pada tahun 960-1729. Awalnya bentuk ikan baster seperti ikan
mas (Cyprinus carpio), perbedaannya adalah ikan baster tidak memiliki sepasang
sungut di mulutnya (Bachtiar 2002). Pada masa dinasti Ming (tahun 1368-1644)
ikan baster mempunyai bentuk tubuh yang lebih bervariasi dan unik. Umumnya,
bentuk tubuh ikan baster unik, bermata besar agak menonjol ke luar dan warna
sisik yang menarik. Ikan baster memiliki sifat cukup adaptif terhadap lingkungan
yang baru (Bachtiar 2002).

Comment [A2]: ikan komet, huruf K nya kecil a

Ikan ini memiliki keunikan yang terletak pada kepalanya yang berjambul
dan memiliki sirip punggung (Iskandar dan Sitanggang 2003). Ikan baster
merupakan ikan hias air tawar yang hidup di perairan dengan air yang mengalir
tenang serta berudara sejuk (Bachtiar 2002). Ikan ini merupakan hewan omnivora
(Watson et al 2004) dan bukan hewan kanibal sehingga dapat dipelihara secara
koloni dalam satu lingkungan pemeliharaan (Iskandar dan Sitanggang 2003).

Gambar 2. Ikan Baster


(Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Crucian_carp)

2.2.2 Klasifikasi Ikan Baster


Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Class

: Actinopterygii

Order

: Cypriniformes

Family

: Cyprinidae

Genus

: Carassius

Species

: Carassius carassius

2.2.3 Morfologi Ikan baster


Bentuk tubuh ikan baster agak memanjang dan memipih tegak. Mulutnya
terletak di bagian tengah ujung kepala terminal dan dapat disembulkan atau
protaktil. Di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan pharyngeal teeth
yang terbentuk atas tiga baris gigi geraham.
Sirip

punggungnya

(dorsal)

memanjang

dengan

bagian

belakang

berjarikeras dan di bagian akhir (sirip ketiga dan keempat) bergerigi. Letak sirip

punggung berseberangan dengan permukaan sisip perut (ventral). Sirip duburnya


(anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung, yaitu berjari keras dan bagian
akhirnya bergerigi. garis rusuknya (linea lateralis atau gurat sisi) tergolong
lengkap, berada di pertengahan tubuh dengan bentuk melintang dari tutup insang
sampai ke ujung belakang pangkal ekor (Khairul Amri 2008).

2.2.4 Habitat Ikan Baster


Suhu optimal air untuk hidup ikan baster adalah 18-24C. Mempertahankan
suhu untuk terus berada dalam kisaran suhu optimal perlu dilakukan. Karena
pemeliharaan di luar suhu optimal dapat menekan sistem kekebalan tubuh ikan
dan akan menyebabkan penurunan nafsu makan serta gangguan pada
pertumbuhan ikan. Ikan baster dapat hidup dalam air yang memiliki kandungan
oksigen minimal 5 mg/L, pH 7-7.8, tingkat amoniak terlarut maksimal0,05 mg/L
dan tingkat nitrit terlarut maksimal 0,05 mg/L (Watson et al 2004). Ikan baster
dianggap sebagai ikan yang tangguh karena dapat bertahan hidup di air berkualitas
buruk. Walaupun demikian, kualitas air penting di perhatikan agar pertumbuhan,
reproduksi dan kesehatan ikan berjalan optimal (Watson et al 2004). Ikan baster
dapat hidup hingga umur 30 tahun dengan panjang mencapai 23 inci (58 cm) dan
berat mencapai 2,7 kg.

2.3

Reproduksi Ikan Mas dan Baster


Ikan Mas merupakan kelompok hewan teleostei, ikan betina dan ikan jantan

tidak memiliki alat kelamin luar. Ikan betina tidak mengeluarkan telur yang
bercangkang, namun mengeluarkan ovum yang tidak akan berkembang lebih
lanjut apabila tidak dibuahi oleh sperma. Ovum tersebut dikeluarkan dari ovarium
melalui oviduk dan dikeluarkan melalui kloaka. Saat akan bertelur, ikan betina
mencari tempat yang rimbun oleh tumbuhan air atau diantara bebatuan di dalam
air. Bersamaan dengan itu, ikan jantan juga mengeluarkan sperma dar testis yang
disalurkan melalui saluran urogenital (saluran kemih sekaligus saluran sperma)
dan keluar melalui kloaka, sehingga terjadi fertilisasi di dalam air (fertilisasi
eksternal). Peristiwa ini terus berlangsung sampai ratusan ovum yang dibuahi

Comment [A3]: miring ya

melekat pada tumbuhan air atau pada celah-celah batu. Telur-telur yang telah
dibuahi tampak seperti bulatan-bulatan kecil berwarna putih. Telur-telur ini akan
menetas dalam waktu 24-40 jam. Anak ikan yang baru menetas akan mendapat
makanan pertamanya dari sisa kuning telurnya, yang tampak seperti gumpalan di
dalam perutnya yang masih jernih. Dari sedemikian banyaknya anak ikan, hanya
beberapa saja yang dapat bertahan hidup.
Letak gonad betina ikan mas membesa rmengisi dua pertiga rongga perut
atau hampir menutupi organ-organ tubuh saat melakukan pengamatan sebelum
dilakukan pemburaian dan berwarna kuning kecoklatan. Organ-organ yang
teramati yaitu gelembung renang, hatidan lambung. Sehingga gonad ikan mas dari
pengamatan yang dilakukan pada tingkat kematangan gonad (TKG) IV
(Khairuman dan Amri 2007). Seperti pada gonad betina, gonad jantani kan mas
besar dan panjang, mengisi dua pertiga rongga perut atau hampir menutupi organorgan yang lain sebelum dilakukan pemburaian. Gonad mengembung, memanjang
kedepan dan berwarna putih jernih. Sehingga gonad ikan mas dari pengamatan
yang dilakukan pada tingkat kematangan gonad (TKG) IV (Khairuman dan Amri
2007).

2.4

Spermatozoa
Spermatozoa adalah sel dari sistem reproduksi jantan. Sel sperma akan

membuahi ovum untuk membentuk zigot. Zigot adalah sebuah sel dengan
kromosom lengkap yang akan berkembang menjadi embrio. Menurut Erans
(1993), spermatozoa ikan biasanya immotile dan tidak aktif ketika berada di dalam
testis. Motilitas dari sperma dimulai setelah spermaiasi di dalam lingkungan air
atas di dalam sistem reproduksi betina dengan demikian aktivitas dari sperma
mungkin terjadi ketika faktor tekanan dicairkan, pH menjadi alkalin dan
osmolalitas menjadi hipotonik, secara berturut-turut.Proses spermatogenik dapat
dibagi menjadi 3 tingkatan utama. Spermatosiyenesis adalah perkembangan dari
spermatogonium menjadi spermatosik primer dan sekunder. Dua tahap terakhir
meiosis, yang mana pembagian dua sel terjadi dan jumlah dari kromosom di
spermatid adalah perbedaan dari spermatid menjadi spermatozoa. Waktu yang

dilewati dari pembuatan sperma menjadi ejakulasnya biasanya sekitar 59 hari


(Svendsen and Anthony 1974).
Bentuk sel sperma pada berbagai hewan bervariasi, tetapi pada prinsipnya
dapat dibedakan menjadi bagian kepala, bagian tengah dan ekor. Pada kepala
sperma bagian depan terhadap akrosama, yang mengandung enzim untuk
melisiskan bungkus telur (pada sperma manusia enzim tersebut dinamakan
hialuronidase). Di pusat kepala sperma terdapat inti sperma, yang menyimpan
mitokondria. Mitokondria sangat penting dalam pembentukan ATP yang
merupakan sumber energi bagi sperma. Sementara bagian ekor sangat diperlukan
untuk membantu pergerakan sperma (Isnaeni 2006). Sebuah sel sperma terdiri atas
(1) kepala, yang mengandung kromosom suatu keadaan kompak dominaktif, (2)
dua sentriol dan (3) ekor. Salah satu dari sentriol, merupakan badan dari flogelum
dan menyediakan energi untuk gerakan pukulan cambuk (Kimball 1983).

Gambar 3. Sperma
(Sumber : www.wikipedia.com)

Pembentukan spermatozoa dari spermatogenia di dalam testes disebut


spermatogenesis.

Proses

ini

meliputi

proliferasi

spermatogenia

melalui

pembelahan mitosis yang berulang dan tumbuh membentuk spermatosit sekunder.


Spermatosit sekunder membelah menjadi gamet yang dinamakan spermatozoa.
Proses metamorfosis spermatid sering dinamakan spermatogenesis (Hoarm 1969
dalam Rachman 2003). Proses pembentukan spermatozoa terjadi di dalam testis.
Testes ikan berbentuk memanjang dalam rongga badan di bawah gelembung
renang di atas usus, jaringan mengikat yang disebut mesenterium (mesorchium)
menempelkan testes ini pada rongga badan di bagian depan gelembung renang
(Sumantadinata 1981 dalam Rustidja 2000).

Gambar 4. Perkembangan Sperma


(Sumber : http://advancetutorsirhenry.blogspot.com/2011/07/spermatogenesis.html)

2.5

Pemijahan Buatan
Pemijahan ikan secara buatan adalah pemijahan ikan yang terjadi dengan

memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad serta


proses ovulasinya dilakukan secara buatan dengan teknik stripping/ pengurutan.
Jenis ikan yang sudah dapat dilakukan pemijahan secara buatan antara lain ikan
Patin, ikan Mas dan ikan Lele.

2.5.1 Ginogenesis
Manipulasi kromosom mungkin dilakukan selama siklus nucleus dalam
pembelahan sel, dasarnya adalah penambahan atau pengurangan sel haploid atau
diploid (Purdom 1993). Salah satu metode manipulasi kromosom adalah
ginogenesis.
Ginogenesis adalah proses terbentuknya zigot dari gamet betina tanpa
kontribusi dari gamet jantan. Dalam ginogenesis gamet jantan hanya berfungsi

Comment [A4]: hapus

untuk merangsang perkembangan telur dan sifat-sifat genetisnya tidak diturunkan.


Ginogenesis dapat terjadi secara alami dan buatan (Nagy et al 1978),
menyebutkan ginogenesis adalah terbentuknya zigot 2n (diploid) tanpa peranan
genetik gamet jantan. Jadi gamet jantan hanya berfungsi secara fisik saja,
sehingga prosesnya hanya merupakan perkembangan partenogenesis betina
(telur). Untuk itu sperma diradiasi. Radiasi pada ginogenesis bertujuan untuk
merusak kromososm spermatozoa, supaya pada saat pembuahan tidak berfungsi
secara genetik (Sumantadinata 1981).
Ginogenesis secara alami jarang terjadi pada pembuahan, karena nucleus
sperma yang masuk kedalam telur yang dalam keadaan tidak aktif jarang
didapatkan, pada beberapa populasi ikan karper krusia (Carrasius auratus gibelio)
dan beberapa spesies dari famili Poecilidae di Meksiko terjadi ginogenesis secara
alami.
Sedangkan ginogenesis buatan dilakukan melalui beberapa perlakuan pada
tahapan pembuahan dan awal perkembangan embrio. Perlakuan ini bertujuan 1)
Membuat supaya bahan genetik jantan menjadi tidak aktif 2) Mengupayakan
terjadinya diploisasi agar telur dapat menjadi zigot. Bahan genetik dalam
spermatozoa dibuat tidak aktif dengan radiasi sinar gama, sinar X dan sinar
ultraviolet (Purdom 1993)

Comment [A5]: periksa lagi antar kalimat


nyambung ngga ..

Untuk mendapatkan benih ikan yang monosex secara ginogenesis ada


beberapa perlakuan yang dapat dilakukan yakni antara lain:
1.

Penyinaran sperma dengan sinar ultraviolet


Sebelum sperma dicampur dengan sel telur (pemijahan buatan) sperma

tersebut diberi perlakuan penyinaran dengan sinar ultraviolet. Hal ini dilakukan
untuk merusak bahan genetik sperma (Gusrina 2008).
Sinar ultraviolet dengan panjang gelombang di bawah 300 nm dapat diserap
secara kuat oleh bahan biologi tertentu, terutama asam nukleat, proteindan
koenzim.Tetapi sinar ini tidak sampai mengionisasi atom-atom dan molekulnya
disamping itu kemampuan sinar ultraviolet untuk menembus bahan sangat
terbatas. Hal ini berarti efisiensi penyerapan sinar ultraviolet oleh bahan- bahan
biologi sangat tinggi. Pada panjang gelombang hingga 260 nm sinar UV dapat
merusak fungsi pirimidin AND yang merupakan bahan genetik sperma. Walapun
sperma diradiasi namun tidak sampai merusak kemampuannya untuk bergerak dan
membuahi telur (Gusrina 2008).
2.

Perlakuan Kejut Suhu


Setelah sperma diberi perlakuan penyinaran kemudian dicampur dengan

seltelur dan dilepaskan dalam air agar terjadi pembuahan. Setelah pembuahan
terjadi kemudian telur yang terbuahi tersebut diberi kejutan lingkungan. Hal ini
dapat berupa kejut suhu atau dengan tekanan hidrostatis. Kejut suhu lebih praktis
dalam penggunaannya sehingga bisa diterapkan pada jumlah yang banyak.Kejut
suhu dimaksudkan untuk pencegahan keluarnya polar body II telur pada saat
terjadi pembelahan miosis kedua atau pencegahan pembelahan sel setelah
duplikasi kromosom pada saat terjadi pembelahan mitosis pertama sehingga
jumlah kromosom telur mengganda lagi pada awal perkembangan zigot (Nagy et
al 1978).
Ginogenesis hanya akan menghasilkan anakan yang sama dengan sifat
induknya jika metode ini berhasil. Ginogenesis dapat digunakan untuk pemurnian
ikan menggantikan teknik perkawinan sekerabat. Menurut Rohadi, D. S, (1996)
dengan ginogenesis buatan dapat menghasilkanikan bergalur murni dengan sifat

homozigositas. Keberhasilan dari metode ini ditentukan oleh umur zigot, lama
waktu kejutan dan suhu kejutan panas yang digunakan.

2.5.2 Hibridisasi
Hibridisasi merupakan perkawinan antar jenis (dalam satu famili), atau antar
strain. Pada ikan nila, teknik hibridisasi dapat digunakan untuk menghasilkan
benih hibrida yang lebih cepat pertumbuhannya daripada kedua induknya
(hibrid vigor) atau untuk menghasilkan turunan yang dominan jantan. Namun
demikian, heterosis tidak selalu terjadi bila dilakukan hibridisasi dan efeknya
hanya dapat diketahui melalui serangkaian praktikum. Strain nila yang
memungkinkan untuk dilakukan hibridisasi adalah nila hitam (Oreochromis
niloticus) dengan Aureus (Oreochromis aureus). Menurut Popma and Lovshin
(1994), pola gonosom ikan nila hitam adalah XX (betina) dan XY (jantan). Hal ini
sama dengan pola pada nila hitam (Wolfarth and Wedekind 1991) dan nila merah
(Sucipto 1997). Sedangkan Aureus memiliki pola WZ (betina) dan ZZ (jantan)
(Wolfarth

and

aureus bertujuan

Wedekind
untuk

1991).

menghasilkan

Persilangan
turunan

antara O.niloticus dan O.


dominan

jantan

tanpa

penggunaan hormon. Popma and Lovshin (1994) menyatakan bahwa persilangan


ikan tersebut dapat menghasilkan nisbah kelamin jantan sebanyak 85-99%
(Sucipto et al 2007).
Hibridisasi Seksual, dimana Inti haploid dari jenis kelamin berbeda
bergabung dalam satu sel (kariogami) membentuk inti diploid selajutnya
mengalami miosis dan selama miosis terjadi penyusunan ulang dan reorganisasi
kromosum yang mengakibatkan terjadi rekombinasi elemen genetik. Hibridisasi
Paraseksual yaitu proses rekombinasi terjadi pada sel vegetative yang dapat terjadi
pada 6 proses yaitu konjugasi, transduksi, transformasi, rekombinasi mitosisdan
uji protoplas.
Hibridisasi mempunyai tujuan memperbaiki kualitas benih, seperti
perbaikan terhadap laju pertumbuhan, penundaan kematangan gonad agar tercapai
pertumbuhan maksimal serta meningkatkan ketahanan terhadap penyakit dan
lingkungan yang kurang baik. Perbaikan tersebut diperoleh karena adanya sifat

Comment [A6]: nama species miring

yang dihasilkan (Gustiano 1991:1995). Menurut Hickling (1968) hibridisasi


intraspesifik dapat dibedakan menjadi intraspesifik (spesies yang sama),
interspesifik (antar spesies, genus sama) dan intergenerik (genus berbeda).

2.5.3 Triploidisasi
Tripliodisasi merupakan salah satu teknik manipulasi set kromosom dengan
cara menggagalkan pembelahan sel miosis II melalui penggunaan kejutan suhu
panas atau heat shock. Heat shock dilakukan setelah sel telur dibuahi oleh sperma.
Heat shock, umumnya dilakukan pada menit ke-1 hingga ke-3 setelah pembuahan.
Gagalnya "lompatan" polar body II akan memungkinkan bahwa embrio yang

Comment [A7]: miring

dihasilkannya akan memilik tiga set kromosom.


Individu triploid seringkali dijadikan pilihan untuk diproduksi karena
umumnya bersifat steril. Dengan sifat ini, maka energi yang diperlukan untuk
perkembangan gonad akan dihasilkan menjadi pertumbuhan somatikdan pada
akhirnya akan menjadi individu yang hemat untuk dibudidayakan. Triploidisasi
dalam usaha budidaya dilakukan karena dua alasan yaitu pertumbuhannya lebih
cepat dan karena ikan triploid umumnya steril. Kesterilan ini dapat mencegah
gametogenesis dan menghemat pemakaian energi dan materi (Huisman
1976 dalam Emilda 2003).
Triploidisasi juga merupakan usaha untuk meningkatkan efektifitas ikan.
Beberapa cara triploidisasi adalah dengan heat shock (kejutan suhu), tekanan dan
pembekuan dengan menggunakan bahan kimia yaitu sitokolasin B (Thorgaard
1979) dari semua perlakuan tersebut heat shock lah yang sangat mudah dilakukan
dan cocok untuk memproduksi benih triploid dalam jumlah yang besar (Chourraut
1980).
Teknik triploidisasi dapat mengunakan dua pelakuan, yaitu perlakuan fisika
dan kimia. Menurut Arai (2001) dalam Risnandar (2001) penggunaan perlakuan
fisika dan kimia sesaat setelah dimulainya pembuahan merupakan cara yang
relatif mudah dalam triploidisasi. Namun, yang biasa dilakukan adalah perlakuan
fisika. Perlakuan kimia menggunakan sitokalasin B atau bahan kimia lain jarang
dilakukan.

Comment [A8]:

Kejutan suhu telah digunakan secara luas (Carman 1990 dalam Risnandar
2001). Hal ini disebabkan karena kejutan suhu mempunyai kelebihan jika
dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Kejutan suhu ini bisa berupa kejutan
yang lebih dingin dari suhu normal. Menurut Chourrout (1986) dalam Risnandar
(2001), kejutan panas mempunyai kepraktisan yaitu dapat dilakukan untuk telur
dalam jumlah yang besar, untuk usaha komersil. Di samping itu kejutan panas
mudah dilakukan dan tidak membutuhkan keahlian khusus.
Purdom (1983) dalam Risnandar (2001) menambahkan bahwa kejutan panas
juga memerlukan waktu yang lebih singkat daripada kejutan dingin. Thorgaard
(1983) dalam Mukti (2001) menjelaskan, pendekatan praktis untuk induksi
poliploidi melalui kejutan panas merupakan perlakuan aplikatif sesaat setelah
fertilisasi (untuk induksi triploidi) atau sesaat setelah pembelahan pertama (untuk
induksi tetraploidi) pada suhu lethal. Kejutan suhu selain murah dan mudah juga
efisien dapat dilakukan dalam jumlah banyak (Rustidja 1991 dalam Mukti 2001).
Prinsip pemberian kejutan suhu pada telur yang telah dibuahi adalah
mencegahnya keluarnya badan kutub II pada saat pembelahan meiosis II. Dengan
demikian kromosom telur yang telah diploid ditambah seperangkat (Purdom 1983
dalam Risnandar 2001), sehingga menjadi tiga perangkat.

2.6

Embriogenesis
Embriogenesis adalah proses pembentukan dan perkembangan embrio.

Proses ini merupakan tahapan perkembangan sel setelah mengalami pembuahan


atau fertilisasi. Embriogenesis meliputi pembelahan sel dan pengaturan di tingkat
sel. Sel pada embriogenesis disebut sebagai sel embriogenik. Secara umum, sel
embriogenik tumbuh dan berkembang melalui beberapa fase antara lain:
1.

Sel tunggal (yang telah dibuahi)

2.

Blastomer

3.

Blastula

4.

Gastrula

5.

Neurula

6.

Embrio / Janin

Comment [A9]: mirinh

Awal perkembangan dimulai saat pembuahan (fertilisasi) sebuah sel telur


oleh sel sperma yang membentuk zygot (zygot). Gametogenesis merupakan fase

Comment [A10]: apa bedanya yang diluar kur


sama di dalam kurung?

akhir perkembangan individu dan persiapan untuk generasi berikutnya. Proses


perkembangan yang berlangsung dari gametogenesis sampai dengan membentuk
zygot disebut progenesis. Proses selanjutnya disebut embriogenesis (blastogene)
yang mencakup pembelahan sel zigot (cleavage), blastulasi, gastrulasi dan
neurulasi.
Proses selanjutnya adalah organogenesis, yaitu pembentukan alat-alat
(organ) tubuh. Embriologi mencakup proses perkembangan setelah fertilisasi
sampai dengan organogenesis sebelum menetas atau lahir.
Proses perkembangan embrio pada telur ikan mas (Ciprinus carpio)
menurut Nelsen (1953) adalah sebagai berikut:

Cleavage:
Pembelahan zigot secara cepat menjadi unit-unit sel yang lebih kecil yang di

sebut blastomer.

Blastulasi :
Proses yang menghasilkan blastula, yaitu sel-sel blastomer yang

membentuk rongga penuh cairan yang di sebut blastocoels.

Gastrulasi :
Proses kelanjutan blastulasi. Hasil proses ini adalah terbentuknya tiga

lapisan, yaitu ektoderrm, modeterm dan entoderm.

Organogenesis :
Tahapan dimana terjadi pembentukan organ-organ tubuh dari tiga lapisan

diatas, yaitu ektoderm, metoderm dan entoderm. Setiap lapisan membentuk organ
yang berbeda. Ektoterm membentuk lapisan epidermis pada gigi, mata dan saraf
pendengaran. Mesoderm membentuk sistem respirasi, pericranial, peritonial, hati
dan tulang. Sedangkan entoterm membentuk sel kelamin dan kelenjar endokrin.

Comment [A11]: cek lagi

Gambar 5. Perkembangan Anak Ikan yang Baru Menetas


(Sumber : http://mencarisoal.blogspot.com/2012/07/komponene-reproduksivertebrata.html)

Antara 2-3 hari setelah terjadi fertilisasi, telur-telur akan menetas dan
tumbuh menjadi larva. Larva ikan mas mempunyai kantong kuning telur yang
berukuran relatif besar sebagai cadangan makanan bagi larva. Kantong kuning
telur tersebut akan habis dalam waktu 2-4 hari. Larva ikan mas bersifat menempel
dan bergerak vertikal. Ukuran larva antara 0,5-0,6 mm dan bobotnya antara 18-20
mg.
Larva berubah menjadi kebul (larva stadia akhir) dalam waktu 4-5 hari.
Pada stadia kebul ini, ikan mas memerlukan pasokan makanan dari luar untuk
menunjang kehidupannya. Pakan alami kebul terutama berasal dari zooplankton,
seperti rotifera, moinadan daphnia. Kebutuhan pakan alami untuk kebul dalam
satu hari sekitar 60-70% dari bobotnya.
Setelah 2-3 minggu, kebul tumbuh menjadi burayak yang berukuran 1-3 cm
dan bobotnya 0,1-0,5 gram. Antara 2-3 minggu kemudian burayak tumbuh
menjadi putihan (benih yang siap untuk didederkan) yang berukuran 3-5 cm dan
bobotnya 0,5-2,5 gram. Putihan tersebut akan tumbuh terus. Setelah tiga bulan
berubah menjadi gelondongan yang bobot per ekornya sekitar 100 gram.

Gelondongan akan tumbuh terus menjadi induk. Setelah enam bulan


dipelihara, bobot induk ikan jantan bisa mencapai 500 gram. Sementara itu, induk
betinanya bisa mencapai bobot 1,5 kg setelah berumur 15 bulan. Induk-induk ikan
mas tersebut mempunyai kebiasaan mengaduk-aduk dasar perairan atau dasar
kolam untuk mencari makanan

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1

Waktu dan Tempat


Praktikum genetika ikan mengenai hibridisasi, triploidisasi dan ginogenesis

dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis, tanggal 18 Oktober 2013-19 Oktober
2013. Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Akuakultur Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran pada pukul 13.00-06.00 WIB.

3.2

Alat dan Bahan

3.2.1 Alat
1.

Alat suntik berfungsi untuk menyuntikkan hormon ovaprim ke dalam bagian


tubuh ikan uji

2.

Ember berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan ikan

3.

Lap berfungsi untuk menutup kepala ikan saat akan disuntik agar ikan tidak
mengalami stress

4.

Akuarium berfungsi sebagai tempat menyimpan induk

5.

Instalasi aerasi (blower, batu aerasi, dan selang) berfungsi sebagai penyedia
oksigen bagi ikan di dalam akuarium

6.

Water bath berfungsi sebagai tempat untuk melakukan heat shock terhadap
telur

7.

Kotak UV berfungsi sebagai tempat untuk melakukan radiasi terhadap telur

8.

Termometer berfungsi untuk mengatur suhu pada saat melakukan heat


shock di dalam water bath

9.

Cawan petri berfungsi sebagai tempat menyimpan sel telur

10. Akuarium berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan telur yang sudah
dibuahi dan tempat telur menetas
11. Mikroskop berfungsi untuk melihat dan mengamati perkembangan sel telur

3.2.2 Bahan
1.

Ikan Komet berfungsi sebagai sampel ikan yang akan diuji

2.

Ikan Baster berfungsi sebagai sampel ikan yang akan diuji

3.

NaCl fisiologis 0,9 berfungsi sebagai cairan untuk mengencerkan sperma

4.

Hormon ovaprim berfungsi untuk merangsang terjadinya ovulasi telur oleh


indukan yang dipijahkan dan untuk indukan jantan berfungsi untuk
meningkatkan produksi sperma yang akan dikeluarkan

3.3 Prosedur
3.3.1 Persiapan Alat
1.

Mencuci akuarium hingga bersih

2.

Memasangkan instalasi aerasi agar berfungsi dengan baik

3.3.2 Pemijahan Buatan


1.

Menyeleksi indukan yang akan digunakan dalam praktikum.

2.

Memisahkan indukan jantan dan indukan betina

3.

Menyuntikan ovaprim pada indukan betina

4.

Melakukan stripping sperma pada indukan jantan

5.

Melakukan stripping sel telur pada indukan betina

3.3.3 Hibridisasi
1.

Mengencerkan sperma yang telah dihasilkan oleh indukan jantan


menggunakan larutan NaCl.

2.

Sperma diletakkan di cawan petri.

3.

Melakukan fertilisasi atau penyatuan sel telur ikan betina yakni ikan komet
dan sperma ikan jantan yakni ikan baster.

4.

Menebarkan sel telur di akuarium yang telah disediakan

5.

Melakukan pengamatan.

3.3.4 Ginogenesis
3.3.4.1 Ginogenesis Miotik
1.

Mengencerkan sperma yang telah dihasilkan oleh indukan jantan


menggunakan larutan NaCl.

2.

Sperma diletakkan di cawan petri.

3.

Sperma yang telah diencerkan diradiasi selama 1,5 menit.

4.

Melakukan fertilisasi atau penyatuan sel telur ikan betina yakni ikan
komet dan sperma ikan jantan yakni ikan baster.

5.

Hasil fertilisasi didiamkan selama 2 menit.

6.

Sel telur dan sperma yang telah difertilisasi kemudian diheat shock pada
sterofoam berisi air yang suhunya 40o C selama 2 menit.

7.

Menebarkan sel telur di akuarium yang telah disediakan

8.

Melakukan pengamatan

3.3.4.2 Ginogenesis Mitotik


1. Mengencerkan sperma yang telah dihasilkan oleh indukan jantan
menggunakan larutan NaCl.
2. Sperma diletakkan di cawan petri.
3. Sperma yang telah diencerkan diradiasi selama 1,5 menit.
4.

Melakukan fertilisasi atau penyatuan sel telur ikan betina yakni ikan
komet dan sperma ikan jantan yakni ikan baster.

5.

Hasil fertilisasi didiamkan selama 30 menit.

6.

Sel telur dan sperma yang telah difertilisasi kemudian diheat shock pada
sterofoam berisi air yang suhunya 40o C selama 2 menit.

7.

Menebarkan sel telur di akuarium yang telah disediakan

8.

Melakukan pengamatan

3.3.4 Triploidisasi
1.

Mengencerkan

sperma yang telah dihasilkan oleh indukan jantan

menggunakan larutan NaCl.


2.

Sperma diletakkan di cawan petri.

3.

Melakukan fertilisasi atau penyatuan sel telur ikan betina yakni ikan komet
dan sperma ikan jantan yakni ikan baster.

4.

Hasil fertilisasi didiamkan selama 2 menit.

5.

Sel telur dan sperma yang telah difertilisasi kemudian diheat shock pada
sterofoam berisi air yang suhunya 40o C selama 2 menit.

6.

Menebarkan sel telur di akuarium yang telah disediakan.

7.

Melakukan pengamatan

3.3.6 Embriogenesis
Mengamati sel telur yang sudah difertilisasi menggunakan mikroskop.
Pengamatan dilakukan untuk mengamati perubahan atau perkembangan yang
terjadi untuk pada sel telur. Pengamatan dilakukan setiap 15 menit sekali selama 8
jam.

3.3.7 Pemeliharaan Larva


Sel telur mengalami kematian dan tidak berkembang menjadi larva setelah
di tebar karena tidak terjadi perubahan setelah dilakukan pengamatan selama
kurang lebih 16 jam.

3.4 Metode Praktikum


Metode yang digunakan dalam praktikum ini berupa eksperimental dengan
menggunakan beberapa perlakuan. Perlakuan yang diberikan diantaranya adalah
striping, pengenceran, radiasi dan kejut suhu (heat shock).

3.5 Parameter Pengamatan


3.5.1 FR
FR atau fertilization rate adalah derajat pembuahan telur. Pengamatan
derajat pembuahan telur (FR) yang dilakukan setelah pembuahan telur pada
proses ginogenesis, hibridisasi, dan triploidisasi selesai dilakukan.

Effendie (1979) menyebutkan bahwa untuk mengetahui derajat fertilisasi


telur ikan dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
FR (%) =

x 100 %

Keterangan :
FR

: Derajat fertilisasi telur (%)

: Jumlah telur sampel

Po

: jumlah telur yang dibuahi

3.5.2 HR
HR atau hatching rate adalah derajat penetasan telur. Pengamatan derajat
penetasan telur dilakukan ketika embrio berumur 17-20 jam dari proses
pembuahan telur.
Effendie (1979) menyebutkan bahwa untuk mengetahui derajat penetasan
telur ikan dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
HR (%) =

x 100 %

Keterangan :
HR : Derajat penetasan telur
Pt

: Jumlah telur yang menetas

Po

: Jumlah telur yang dibuahi

3.5.3 SR LARVA
SR atau survival rate adalah derajat kelangsungan hidup ikan. Pengamatan
derjat kelangsungan hidup ikan dilakukan hanya untuk proses ginogenesis,
hibridisasi, dan triploidisasi setelah larva ikan berumur tujuh hari.
Effendie

(1979)

menyebutkan

bahwa

untuk

mengetahui

kelangsungan hidup ikan dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

derajat

SR (%) =

x 100 %

Keterangan :
SR

: Kelangsungan hidup ikan selama praktikum

Nt

: Jumlah ikan pada akhir praktikum

No

: Jumlah ikan pada awal praktikum

3.6 Analisis Data


Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk perhitungan dan dianalisis
secara deskriptif, yaitu dengan membandingkan hasil percobaan dengan
literature yang berkaitan dengan hibridisasi, triploidisasi dan ginogenesis.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pemijahan Buatan


Kelompok kami tidak berhasil melakukan proses pemijahan buatan. Hal ini
disebabkan karena tidak ada telur yang berhasil dibuahi. Ikan nila yang kami
jadikan sampel sudah matang gonadnya karena memiliki ciri-ciri badan yang
gemuk dan kelamin yang berwarna merah. Kematangan gonad ikan nila tersebut
mempercepat proses ovulasi ikan ketika disuntikkan hormon ovaprim sehingga
saat setelah ikan betina disuntik oleh hormon ovaprim ikan mengalami ovulasi
terlalu cepat dari waktu yang ditentukan sehingga telur dari ikan tersebut keluar
sebelum waktunya sehingga kami tidak dapat melakukan stripping/pengurutan.
Oleh sebab itu, pemijahan buatan tidak dapat dilakukan karena tidak tersedianya
sel telur untuk dibuahi oleh sperma agar menghasilkan individu ikan nilem hibrid.

4.2 Hibridisasi
4.2.1 Hasil
Jumlah telur yang kelompok kami dapatkan untuk proses triploidisasi ini
sebanyak 225 telur. Tetapi hanya sekitar 209 telur yang berhasil terbuahi. Hal ini
dapat terlihat dari warna telur yang berwarna lebih kuning, yang berarti telur
berhasil terbuahi. Sedangkan sel telur yang tidak terbuahi berwarna putih (telur
tidak matang). Sehingga didapatkan derajat fertilisasi sebesar :
FR =

x 100 %

= 92.89 %
Sedangkan derajat penetasan dan derajat kelangsungan hidup tidak dapat
kami hitung karena tidak ada telur yang menetas dan berhasil hidup.

4.2.2 Pembahasan
Hibridisasi dalam pengembangbiakan ikan sudah dikenal serta dilakukan
orang untuk memperbaiki sifat genetik ikan tertentu. Hibridisasi pada ikan dapat

Comment [A12]: liat lagi rumusnya coba. past


bisa dihitung

dilakukan antara ikan ras dalam satu spesies, antara ras dalam satu genus, anatara
genus dalam ras satu famili atau berbeda famili. Tujuan hibridisasi mendapatkan
benih dengan sifat lebih baik dari yang dipunyai tertuanya terutama dalam
pertumbuhan, kematangan gonad, ketahanan terhadap penyakit serta lingkungan
buruk, dan efesiensi pemanfaatan makanan.
Data hasil pengamatan praktikum didapatkan hasil derajat pembuahan 92.89
% . Hasil tersebut dapat diperoleh dengan melakukan prosedur yang telah ada ,
misalnya dari saat sperma di stripping lalu kemudian ditambahkan dengan sel
telur untuk difertilisasi agar mendapatkan telur yang menetas sesuai dengan
keinginan. Lalu manajemen waktu juga penting saat melakukan praktikum
hibridisasi ini karena telur dan sperma yang terlalu lama dibiarkan diluar setelah
difertilisasi akan menyebabkan telur yang terbuahi menjadi sedikit dan telur yang
menetasnya pun akan sedikit. Kontaminasi tangan dari luar juga dapat
menyebabkan kegagalan pada hibridiasi ini mengapa karena proses praktikum ini
sangat rentan terhadap kontaminasi tangan dari manusia yang akhirnya
menyebabkan telur tidak terbuahi secara maksimal.

4.3 Ginogenesis
4.3.1 Hasil
Jumlah sel telur untuk proses ginogenesis yang didapatkan oleh kelompok
kami adalah 322 telur untuk ginogenesis mitotik dan 160 telur untuk ginogenesis
miotik. Hal ini dapat terlihat dari warna telur yang berwarna lebih kuning, yang
berarti telur berhasil terbuahi. Sedangkan sel telur yang tidak terbuahi berwarna
putih (telur tidak matang). Sehingga didapatkan derajat fertilisasi sebesar :
FR ginogenesis mitotik
FR =

x 100 %

= 85.09 %
FR ginogenesis miotik
FR =

x 100 %

= 74.37 %

Sedangkan derajat penetasan dan derajat kelangsungan hidup tidak dapat


kami hitung karena tidak ada telur yang menetas dan berhasil hidup.

4.3.2 Pembahasan
Ginogenesis adalah proses terbentuknya zigot dari gamet betina tanpa
kontribusi dari gamet jantan. Gamet jantan hanya berfungsi untuk merangsang
perkembangan telur sedangkan sifat-sifat genetisnya tidak ikut diturunkan.
Ginogenesis terbagi menjadi dua macam yaitu ginogenesis miotik dan ginogenesis
mitotik. Serangkaian perlakuan yang diberikan pada kedua ginogenesis ini sama,
yaitu radiasi dan kejut suhu (heat shock). Radiasi dilakukan dengan menggunakan
sinar ultraviolet yang bertujuan untuk merusak kromosom spermatozoa, agar pada
saat pembuahan tidak berfungsi secara genetik sehingga semua anakan yang
didapatkan berjenis kelamin betina. Radiasi dilakukan selama 1,5 menit dengan
ketebalan sperma 1 mm. Perbedaan perlakuan untuk ginogenesis miotik dan
mitotik berada pada tahap selanjutnya, yaitu heat shock. Pada ginogenesis miotik,
sel telur harus didiamkan terlebih dahulu selama 2 menit agar heat shock
berlangsung pada saat pembelahan miosis kedua sehingga mencegah keluarnya
badan polar II, sedangkan untuk mitotik lebih lama yaitu 30 menit yaitu ketika
fase gastrula berlangsung.. Setelah didiamkan pada waktu yang sudah ditentukan,
heat shock dilakukan selama 2 menit dengan suhu 40oC. Kejut suhu dimaksudkan
untuk pencegahan keluarnya badan polar II telur pada saat terjadi pembelahan
miosis kedua atau pencegahan pembelahan sel setelah duplikasi kromosom pada
saat terjadi pembelahan mitosis pertama sehingga jumlah kromosom telur
mengganda lagi pada awal perkembangan zigot (Nagy et al. 1978).
Setelah

beberapa

proses

ginogenesis

dilakukan,

kami

melakukan

pengamatan selama kurang lebih 8 jam menggunakan alat bantu mikroskop.


Berdasarkan pengamatan tersebut, kami melihat telur-telur tersebut berbentuk
bulat dengan inti berwarna gelap. Keadaan seperti ini tidak berubah hingga
pengamatan selesai dilakukan. Kami menyimpulkan bahwa telur-telur tersebut
mengalami kematian. Banyak faktor yang mungkin menyebabkan hal ini bisa
terjadi, seperti sperma yang telah diencerkan menggunakan larutan NaCl terlalu

lama dibiarkan di udara sebelum dilakukan radiasi. Sel telur yang sudah disiapkan
setelah melalui proses striping mungkin saja terkontaminasi oleh media seperti
cawan petri yang basah, tangan manusia, ataupun sendok yang digunakan untuk
mengambil sel telur untuk dicampurkan dengan sperma. Jumlah sel telur yang
terlalu banyak dibandingkan dengan jumlah sperma, menyebabkan tidak semua
sel telur dapat terbuahi. Sebelum dilakukan kejut suhu, telur didiamkan terlebih
dahulu sehingga memungkinkan adanya kontaminasi melalui udara terhadap telurtelur tersebut.
Kesalahan juga dapat terjadi karena media yang digunakan kurang
maksimal. Akuarium yang digunakan hanya satu untuk beberapa cawan petri
berisi telur yang siap ditetaskan. Pengamatan dilakukan dengan cara mengambil
lalu menyimpan cawan petri tersebut dari akuarium menggunakan tangan secara
bergantian dan terus menerus selama 8 jam setiap 15 menit sekali. Hal demikian
dilakukan pula oleh kelompok lain yang telurnya berada pada akuarium yang
sama. Telur yang harusnya berada dalam keadaan tenang agar dapat menetas
dengan baik, menjadi terganggu sehingga perkembangannya tidak baik dan
menyebabkan kematian.

4.4 Triploidisasi
4.4.1 Hasil
Jumlah telur yang kelompok kami dapatkan untuk proses triploidisasi ini
sebanyak 250 telur. Tetapi hanya sekitar 130 telur yang berhasil terbuahi. Hal ini
dapat terlihat dari warna telur yang berwarna lebih kuning, yang berarti telur
berhasil terbuahi. Sedangkan sel telur yang tidak terbuahi berwarna putih (telur
tidak matang). Sehingga didapatkan derajat fertilisasi sebesar :
FR =

x 100 %

= 52 %
Sedangkan derajat penetasan dan derajat kelangsungan hidup tidak dapat
kami hitung karena tidak ada telur yang menetas dan berhasil hidup.

4.4.2 Pembahasan
Triploidisasi merupakan salah satu teknik manipulasi set kromosom dengan
cara menggagalkan pembelahan sel miosis II melalui penggunaan kejutan suhu
panas atau heat shock. Heat shock dilakukan setelah sel telur dibuahi oleh sperma.
Heat shock umumnya dilakukan pada menit ke-1 hingga ke-3 setelah pembuahan.
Gagalnya "lompatan" polar body II akan memungkinkan bahwa embrio yang
dihasilkannya akan memilik tiga set kromosom.
Semua telur hasil dari proses triploidisasi kelompok kami tidak menetas dan
mengalami kematian. Hal ini disebabkan karena sel telur yang dicampurkan untuk
fertilisasi dengan sperma terlalu banyak sedangkan sperma yang didapat sangat
sedikit sehingga saat ditaruh di cawan petri banyak telur yang menumpuk. Hal ini
memungkinkan adanya penghambatan proses fertilisasi. Faktor kontaminasi yang
ada pada media pengambilan sampel dan tangan manusia yang masuk ke dalam
aquarium secara terus menerus serta kondisi air yang menjadi kotor juga
merupakan faktor penyebab gagalnya proses triploidisasi ini.
Sperma yang sudah diencerkan dan terlalu lama di udara merupakan faktor
eksternal yang juga dapat menyebabkan gagalnya telur untuk menetas.
Seharusnya sperma yang sudah di fertilisasi segera dimasukkan ke dalam
aquarium untuk di fertilisasi. Manajemen waktu yang kurang tepat dapat
menghambat proses triploidisasi.

4.5 Embriogenesis
Embriogenesis adalah proses pembentukan dan perkembangan embrio. Proses
ini merupakan tahapan perkembangan sel setelah mengalami pembuahan atau
fertilisasi.
Setelah melakukan pengamatan kurang lebih 8 jam melalui mikroskop kami
dapat melihat telur-telur hasil hibridisasi, ginogenesis dan triploidisasi dengan
lebih jelas. Telur-telur hasil ketiga perlakuan diatas tidak jauh berbeda. Baik telur
hibridisasi, ginogenesis maupun triploidisasi berbentuk bulat dengan inti berwarna
gelap.

Kami melakukan pengamatan pada masing-masing telur di cawan petri setiap


15 menit sekali untuk melihat perubahan bentuk (perkembangan) yang terjadi.
Beberapa jam melakukan pengamatan, keadaan telur masih sama. Ternyata, tidak
terjadi perubahan apapun pada semua telur hingga akhir waktu pengamatan.
Telur-telur tersebut masih berbentuk bulat dan berwarna gelap, tidak ada
perubahan bentuk ataupun terbentuknya lapisan-lapisan pada telur. Oleh karena
itu, kelompok kami menyimpulkan bahwa tidak terjadi proses embriogenesis
secara lebih lanjut pada telur-telur tersebut dan dapat dikatakan bahwa telur-telur
tersebut mengalami kematian.

4.6 Keberhasilan Pemijahan


Keberhasilan pemijahan dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor
diantaranya adalah seleksi induk, penyuntikan, striping, dan juga faktor eksternal
seperti kondisi air serta faktor internal seperti kematangan gonad induk.
Seleksi induk harus dilakukan agar individu yang nantinya akan dihasilkan
memiliki keunggulan dan kualitas yang lebih baik dari induknya. Kelompok kami
memilih ikan nilem betina yang terlihat sudah siap untuk dipijahkan dengan ciriciri seperti perut gendut dan kelaminnya berwarna kemerahan.
Setelah memilih induk yang baik, proses selanjutnya adalah penyuntikan
menggunakan hormon ovaprim. Penyuntikan dilakukan di bagian otot punggung
ikan nilem, kemudian didiamkan untuk terjadi ovulasi. Striping tidak dapat
kelompok kami lakukan karena ikan nilem sudah mengeluarkan telur terlebih
dahulu sebelum waktunya.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum mengenai hibridisasi, triploidisasi dan
ginogenesis ini dapat disimpulkan bahwa ketiga proses rekayasa genetika tersebut
memiliki fungsi yang berbeda dalam menghasilkan individu-individu baru. Fungsi
dari setiap proses tersebut dapat digunakan oleh para pembudidaya untuk
menghasilkan suatu populasi ikan yang sesuai dengan keinginannya.
Hibridisasi digunakan ketika populasi yang diinginkan nantinya memiliki
sifat-sifat yang lebih unggul dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Triploidisasi digunakan untuk menghasilkan populasi yang pertumbuhannya lebih
cepat sehingga dapat memenuhi kebutuhan ikan yang semakin meningkat.
Ginogenesis digunakan agar dapat menghasilkan suatu populasi ikan yang
berjenis kelamin betina sehingga dapat diperoleh telur-telur yang lebih banyak.

5.2 Saran
Praktikum selanjutnya dilakukan dengan lebih teliti dan serius agar dapat
meminimalisir

kesalahan-kesalahan

yang

kemungkinan terjadinya kegagalan praktikum.

terjadi

sehingga

memperkecil

DAFTAR PUSTAKA
Amri, K dan Khairuman. 2007. Bisnis dan Produksi Massal Ikan Balita. Gramedia
Pustaka Utama. Cetakan ke-1. Jakarta.
Bachtiar. 2002. Mencemerlangkan Warna Koi. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Carman O. 1990. Ploidy Manipulation in Some Warm Water. Fish. Master's
Thesis. Departement of Aquatic Biosciences. Tokyo. University of Fisheries.
Japan.
Chourrout, D. 1980. Thermal induction of diploid gynogenesis and triploidy in the
eggs of the rainbow trout (Salmo gairdneri Richardson). Reproduction,
Nutrition, Development 20, 727-733.
Erans.D.H 1993. The Physiology of Fishes . CRC. Press London.
Goenarso, 2005. Feeding Activity And Growth Efficiency Of Common Carp
(Cyprinus Carpio Lin. Vol 1, No 1 (2002): Biotika Juni 2002.
Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen
Pendidikan.
Gustiano, R. 2009. Ikan Nila BEST. Trobos. Badan Riset Kelautan dan Perikanan.
Hickling CF. 1962. Fish Culture. Faber and Faber Publishing London. 295 pp.
http://advancetutor-sirhenry.blogspot.com/2011/07/spermatogenesis.html. Diakses
pada tanggal 3 Desember 2013 pukul 20.00 WIB
http://en.wikipedia.org/wiki/Crucian_carp. Diakses pada tanggal 3 Desember
2013 pukul 20.00 WIB
http://mencarisoal.blogspot.com/2012/07/komponene-reproduksi-vertebrata.html.
Diakses pada tanggal 3 Desember 2013 pukul 20.00 WIB
http://tropicalfishandaquariums.com/Goldfish/Goldfish.asp. Diakses pada tanggal
3 Desember 2013 pukul 20.00 WIB
http://www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 3 Desember 2013 pukul 20.00
WIB
Huisman EA. 1987. Principles of Fish Production. Department of Fish Culture
and Fisheries, Wageningen Agriculture University, Wageningen, Netherland.
170p.

Iskandar, Sitanggang M. 2003. Memilih dan Merawat Maskoki Impor Berkualitas.


Agromedia Pustaka. Jakarta.
Isnaeni. 2006. Fisiologi Hewan. Carnisius. Yogyakarta.
Khairul Amri 2008. Buku Pintar Budi Daya 15 Ikan Konsumsi. Agromedia
Pustaka. Jakarta.
Kimball, John W. 1983. Bilogi Jilid 2 Edisi ke 6. Erlangga. Jakarta.
Nagy, A., K. Rajki. L. Horvart dan V. Csanyi. 1978. Investigation on carp
(Cyprinus carpio L) ginogenesis. Jour. Fish. Biol. 13 : 215 224.
Popma, T.J., and L.L. Lovshin. 1994. Worldwide prospects for commercial
production of tilapia. International Center for Aquaculture and Aquatic
Environments. Department of Fisheries and Allied Aquacultures. Auburn
University, Alabama. 43p.
Popma T, Lovshin LL. 1996. Worldwide Prospect for Commercial Production of
Tilapia. Research and Development Series No. 41. Department of Fisheries
and Allied Aquacultures Auburn University. Alabama.

Practical Fish Keeping, 2011. A risk analysis


(Hypophthalmichthys sp.) in the Netherlands.

of

bigheaded

carp

Purdom. E.C. 1993. Genetics and Fish Breeding. Chapman and Hall. Fish and
Fisheries Series. 277p
Rachman, A. 2003 Sistem Organ Pernafasan, Peredaran Darah, Ekskresi,
Reproduksi, Syaraf dan Hormon. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya.
Malang.
Risnandar, D. 2001. Pengaruh umur zigot pada saat kejutan panas terhadap tingkat
keberhasilan triploidisasi serta kelangsungan hidup embrio dan larva ikan
jambal siam (Pangasius lzypophthalmus). Slwipsi. Departemen Budadaya
Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Rohadi, D.S, 1996. Pengaruh Berbagai Waktu Awal Kejutan Panas Terhadap
Persentase Larva Diploid Mitoandrogenetik Ikan Mas (Cyprinus carpio L).
Universitas Padjadjaran, Fakultas Pertanian, Jurusan Perikanan, Jatinangor,
Bandung.
Rustidja. 1997. Kromosom Ikan Lele Dumbo (Clarias
Polyploid.Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.

gariepinus)

Rustidja. 1989. Artificial induced breeding and triploidy in the Asian catfish
(Clarias batlirncus Linn.). Tesis. Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian
Bogor.
Sucipto, A. 1997. Karyotipe ikan nila merah (Oreochromis sp). Skripsi. Program
Studi Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan IPB. Bogor. 37 hal.
Sumantadinata, Komar, 1981. Pengembangan Ikan-Ikan Peliharaan di Indonesia.
Sastra Hudaya. Bogor.
Svendsen and Anthony MC. 1984 An Introduction to Animal. Phsycology. MTP
Press. Limited USA.
Thorgaard, G.H. 1983. Chromosome set manipulation and sex control in fish. In
"fish physiology" (W. S. Hoar, D. J. Randall and E. M. Donaldson, eds.) Vol.
IXB. Academic Press, New York. p.405-434.
Thorgaard, G. and Gall, G.A.E. 1979. Adult triploids in a rainbow trout family.
Genetics 93, 961973.
Watson A, Craig H, Pouder EJ, Debora B. 2004. Species Profile: Koi and
Goldfish. SRAC Publication; 7201.
Wolfarth, G.W. and H. Wedekind. 1991. The heredity of sex determination in
tilapia, Aquaculture, 92: 143156.

Anda mungkin juga menyukai