Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit TORCH merupakan kelompok infeksi beberapa jenis virus yaitu
parasit Toxoplasma gondii, virus Rubella, CMV (Cytomegalo Virus), virus
Herpes Simplex (HSV1 HSV2) dan kemungkinan oleh virus lain yang
dampak klinisnya lebih terbatas (misalnya Measles, Varicella, Echovirus,
Mumps, Vassinia, Polio dan Coxsackie-B).
Penyakit TORCH ini dikenal karena menyebabkan kelainan dan berbagai
keluhan yang bisa menyerang siapa saja, mulai anak-anak sampai orang
dewasa, baik pria maupun wanita. Bagi ibu yang terinfeksi saat hamil dapat
menyebabkan kelainan pertumbuhan pada bayinya, yaitu cacat fisik dan
mental yang beraneka ragam.
Infeksi TORCH juga dapat menyerang semua jaringan organ tubuh,
termasuk sistem saraf pusat dan perifeir yang mengendalikan fungsi gerak,
penglihatan, pendengaran, sistem kadiovaskuler serta metabolisma tubuh.
Infeksi Torch pada kehamilan berbahaya bagi janin. TORCH adalah istilah
untuk menggambarkan gabungan dari empat jenis penyakit infeksi yaitu
Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakit
infeksi ini, sama-sama berbahaya bagi janin bila infeksi diderita oleh ibu
hamil.
Kini, diagnosis untuk penyakit infeksi telah berkembang antar lain ke arah
pemeriksaan secara imunologis.
Prinsip dari pemeriksaan ini adalah deteksi adanya zat anti (antibodi) yang
spesifik terhadap kuman penyebab infeksi tersebut sebagai respon tubuh
TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 1

terhadap adanya benda asing (kuman). Antibodi yang terbentuk dapat berupa
Imunoglobulin M (IgM) dan Imunoglobulin G (IgG).

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan TORCH?
2. Apa penyebab TORCH?
3. Bagaimana cara pencegahan dan pengobatan TORCH?
4. Bagaimana cara pemeriksaan TORCH?
5. Bagaimana pembuatan vaksin?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
a. Mengetahui tentang TORCH serta penyebab dan gambaran
klinisnya.
2. Tujuan Khusus
a. Melengkapi tugas yang telah diberikan guru mata pelajaran
Virologi
b. Melengkapi nilai mata pelajaran Virologi.

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 2

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
TORCH adalah sebuah istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat
jenis penyakit infeksi yang menyebabkan kelainan bawaan, yaitu Toxoplasma,

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 3

Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakit infeksi ini


sama-sama berbahaya bagi janin bila infeksi diderita oleh ibu hamil.
Prinsip dari pemeriksaan ini adalah deteksi adanya zat anti (antibodi) yang
spesifik taerhadap kuman penyebab infeksi tersebut sebagai respon tubuh
terhadap adanya benda asing (kuman. Antibodi yang terburuk dapat berupa
Imunoglobulin M (IgM) dan Imunoglobulin G (IgG).
Penyakit TORCH ini dikenal karena menyebabkan kelainan dan berbagai
keluhan yang bisa menyerang siapa saja, mulai anak-anak sampai orang
dewasa, baik pria maupun wanita. Bagi ibu yang terinfeksi saat hamil dapat
menyebabkan kelainan pertumbuhan pada bayinya, yaitu cacat fisik dan
mental yang beraneka ragam.
1. Toxoplasma
Toxoplasmosis
penyakit

zoonosis

yaitu penyakit pada


hewan yang dapat
ditularkan
manusia.

ke
Penyakit

ini disebabkan oleh


sporozoa yang dikenal dengan nama Toxoplasma gondii. Toxoplasma
gondii yaitu suatu parasit intraselluler yang menginfeksi pada manusia dan
hewan. Tboxoplasma gondii termasuk spesies dari kelas sporozoa
(Cocidia), pertama kali ditemukan pada binatang pengerat Ctenodactylus
gundi di Afrika Utara (Tunisia) oleh Nicolle dan Manceaux tahun 1908.
Tahun 1928 Toxoplasma gondii ditemukan pada manusia pertama kali oleh
Castellani.

2. Rubella

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 4

Penyakit

ini

disebabkan oleh virus


Rubella

yang

termasuk

famili

Togaviridae dan genus


Rubivirus,

infeksi

virus ini terjadi karena


adanya kontak dengan
sekret orang yang terinfeksi; pada wanita hamil penularan ke janin secara
intrauterin. Masa inkubasinya rata-rata 16-18 hari. Periode prodromal
dapattanpa gejala (asimtomatis), dapat juga badan terasa lemah,demam
ringan, nyeri kepala, dan iritasi konjungtiva. Penyakit ini agak berbeda
dari toksoplasmosis karena rubela hanya mengancam janin.
Penyakit yang juga disebabkan oleh virus yang menimbulkan demam
ringan dengan ruam yang menyebar dan kadang-kadang mirip dengan
campak. Rubella menjadi penting karena penyakit ini dapat menimbulkan
kecacatan pada janin. Sindroma rubella congenital terjadi pada 90% bayi
yang dilahirkan oleh wanita yang terinfeksi rubella selama trimester
pertama kehamilan, resiko kecacatan ini menurun hinggga kira-kira 1020% pada minggu ke 16 dan lebih jarang terjadi bila ibu terkena infeksi
pada usia kehamilan 20 minggu.
3. Cyto Megalo Virus (CMV)
Penyakit ini disebabkan
oleh Human cytomegalovirus,
subfamili
famili

betaherpesvirus,
herpesviridae.

Penularannya lewat paparan


jaringan,

sekresi

maupun

ekskresi tubuh yangterinfeksi


(urine, ludah, air susu ibu, cairan vagina, dan lainlain). Masa inkubasi

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 5

penyakit ini antara 3-8 minggu. Pada kehamilan infeksi pada janin terjadi
secara intrauterin. Pada bayi, infeksi yang didapat saat kelahiran akan
menampakkan gejalanya pada minggu ke tiga hingga ke dua belas; jika
didapat pada masa perinatal akan mengakibatkan gejala yang berat.
Infeksi virus ini dapat ditemukan secara luas di masyarakat; sebagian
besar wanita telah terinfeksi virus ini selama masa anak-anak dan tidak
mengakibatkan gejala yang berarti. Tetapi bila seorang wanita baru
terinfeksi pada masa kehamilan maka infeksi primer ini akan
menyebabkan manifestasi gejala klinik infeksi janin bawaan sebagai
berikut:

hepatosplenomegali,

ikterus,

petekie,

meningoensefalitis,

khorioretinitis dan optic atrophy, mikrosefali, letargia, kejang, hepatitis


dan jaundice, infiltrasi pulmonal dengan berbagai tingkatan, dan
kalsifikasi intrakranial. Jika bayi dapat bertahan hidup akan disertai
retardasi psikomotor maupun kehilangan pendengaran.
4. Herpes Simplek
Penyakit
simplex
tipe

gejala

ini

disebabkan

infeksi

Herpes

virus (HSV); ada 2 tipe HSV yaitu


dan 2. Tipe 1 biasanya mempunyai
ringan dan hanya terjadi pada bayi

karena adanya

kontak dengan lesi genital yang


infektif;

sedangkan

HSV

tipe

merupakan herpes genitalis yang menular lewat hubungan seksual. HSV


tipe 1 dan 2 dapat dibedakan secara imunologi. Masa inkubasi antara 2
hingga 12 hari.
Infeksi herpes superfisial biasanya mudah dikenali misalnya pada kulit
dan membran mukosa juga pada mata.
Penyakit infeksi virus yang ditandai dengan lesi primer terlokalisir,
laten dan adanya kecenderungan untuk kambuh kembali. Ada 2 jenis virus
yaitu virus herpes simpleks (HSV) tipe 1 dan 2 pada umumnya

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 6

menimbulkan gejala klinis yang berbeda, tergantung pada jalan masuknya.


Dapat menyerang alat-alat genital atau mukosa mulut.

B. Penyebab TORCH
Penyebab utama dari virus dan parasit TORCH (Toxoplasma, Rubella,
CMV, dan Herpes) adalah hewan yang ada di sekitar kita, seperti ayam,
kucing, burung, tikus, merpati, kambing, sapi, anjing, babi dan lainnya.
Meskipun tidak secara langsung sebagai penyebab terjangkitnya penyakit
yang berasal dari virus ini adalah hewan, namun juga bisa disebabkan oleh
karena perantara (tidak langsung) seperti memakan sayuran, daging setengah
matang dan lainnya.
1. Toxoplasma Gondii
Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma
gondi. Pada umumnya infeksi Toxoplasma terjadi tanpa disertai gejala
yang spesifik. Kira-kira hanya 10-20% kasus infeksi Toxoplasma yang
disertai gejala ringan, mirip gejala influenza, bisa timbul rasa lelah,
malaise, demam, dan umumnya tidak menimbulkan masalah.
2. Rubella
Infeksi Rubella ditandai dengan demam akut, ruam pada kulit dan
pembesaran kelenjar getah bening. Infeksi ini disebabkan oleh virus
Rubella, dapat menyerang anak-anak dan dewasa muda.
3. Cyto Megalo Virus (CMV)
Infeksi CMV disebabkan oleh virus Cytomegalo, dan virus ini temasuk
golongan virus keluarga Herpes. Seperti halnya keluarga herpes lainnya,
virus CMV dapat tinggal secara laten dalam tubuh dan CMV merupakan
TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 7

salah satu penyebab infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi yang
berbahaya bagi janin bila infeksi terjadi saat ibu sedang hamil.
4. Herpes Simplek
Infeksi herpes pada alat genital (kelamin) disebabkan oleh Virus
Herpes Simpleks tipe II (HSV II). Virus ini dapat berada dalam bentuk
laten, menjalar melalui serabut syaraf sensorik dan berdiam diganglion
sistem syaraf otonom.

C. Etiologi TORCH
1. Toxoplasma Gondii
Infeksi Toxoplasma berbahaya bila terjadi saat ibu sedang hamil atau
pada orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu (misalnya penderita
AIDS, pasien transpalasi organ yang mendapatkan obat penekan respon
imun).
Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang dapat
terjadi adalah abortus spontan atau keguguran (4%), lahir mati (3%) atau
bayi menderita Toxoplasmosis bawaan. pada Toxoplasmosis bawaan,
gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya kelinan mata dan telinga,
retardasi mental, kejang-kejang dn ensefalitis.
2. Rubella
Infeksi Rubella berbahaya bila tejadi pada wanita hamil muda, karena
dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan
pertama kehamilan maka risiko terjadinya kelainan adalah 50%,
TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 8

sedangkan jika infeksi tejadi trimester pertama maka risikonya menjadi


25% (menurut America College of Obstatrician and Gynecologists, 1981).
3. Cyto Megalo Virus (CMV)
Jika ibu hamil terinfeksi. maka janin yang dikandung mempunyai
risiko tertular sehingga mengalami gangguan misalnya pembesaran hati,
kuning, pekapuran otak, ketulian, retardasi mental, dan lain-lain.
4. Herpes Simplek
Infeksi TORCH yang terjadi pada ibu hamil dapt membahayakan janin
yang dikandungnya. Pada infeksi TORCH, gejala klinis yang ada searing
sulit dibedakan dari penyakit lain karena gejalanya tidak spesifik.
Walaupun ada yang memberi gejala ini tidak muncul sehingga
menyulitkan dokter untuk melakukan diagnosis. Oleh karena itu,
pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk membantu mengetahui
infeksi TORCH agar dokter dapat memberikan penanganan atau terapi
yang tepat.

D. Tanda dan Gejala


1. Toxoplasma
Gejala yang diderita biasanya dengan mirip gejala influenza, bisa
timbul rasa lelah, malaise, demam disertai hepatomegali, dan umumnya
tidak menimbulkan masalah,
2. Herpes Simpleks
Penderita biasanya mengalami demam, salivasi, mudah terangsang dan
menolak untuk makan,. Dengan dilakukan pemeriksaan menunjukan
TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 9

adanya ulkus dangkal multiple yang nyeri pada mukusa lidah, gusi, dan
bukal denganvesikel pada bibir dan sekitarnya.
3. Cyto Megalo Virus (CMV)
a. Demam,
b. Penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia)
c. Letih
d. Lesu
e. Kulit berwarna kuning,
f. Pembesaran hati dan limpa,
g. Kerusakan atau hambatan pembentukan organ tubuh seperti mata,
otak, gangguan mental, dan lain-lain tergantung organ janin mana
yang diserang
h. Umumnya janin yang terinfeksi cmv lahir prematur dan berat
badan lahir rendah
4. Rubella
Tanda dan gejala yang muncul biasanya bertahan dalam dua hingga
tiga hari dan mungkin melibatkan:
a. Demam ringan 38,9 derajat Celcius atau lebih rendah
b. Sakit kepala
c. Hidung tersumbat atau pilek
d. Peradangan, mata merah

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 10

e. Pembesaran, pelunakan kelenjar getah bening di dasar tengkorak,


leher bagian belakang dan di belakang telinga
f. Muncul ruam warna merah muda/pink di wajah dan dengan cepat
menyebar ke pundak, lengan, kaki sebelum menghilang di sekuens
yang sama.
g. Nyeri pada persendian, khususnya pada perempuan muda.
E. Patofisiologi TORCH
1. Toxoplasma
Toxoplasma gondii adalah parasit protozoa yang merupakan salah satu
penyebab kelainan kongenital yang cukup dominan dibandingkan
penyebab lainnya yang tergolong dalam TORCH. Hospes primernya
adalah kucing. Kucing ini telah mempunyai imunitas, tetapi pada saat
reinfeksi mereka dapat menyebarkan kembali sejumlah kecil ookista.
Ookista ini dapat menginfeksi manusia dengan cara memakan daging,
buah-buahan, atau sayuran yang terkontaminasi atau karena kontak dengan
faeces kucing. Dalam selsel jaringan tubuh manusia, akan terjadi
proliferasi trophozoit sehingga selsel tersebut akan membesar. Trophozoit
akan berkembang dan terbentuk satu kista dalam sel, yang di dalamnya
terdapat merozoit. Kista biasanya didapatkan di jaringan otak, retina, hati,
dan lain-lain yang dapat menyebabkan kelainan pada organ-organ tersebut,
seperti microcephali, cerebral kalsifikasi, chorioretinitis, dll. Kista
toksoplasma ditemukan dalam daging babi atau daging kambing.
Sementara itu, sangat jarang pada daging sapi atau daging ayam. Kista
toksoplasma yang berada dalam daging dapat dihancurkan dengan
pembekuan atau dimasak sampai dagingnya berubah warna. Buah atau
sayuran yang tidak dicuci juga dapat menstranmisikan parasit yang dapat
dihancurkan dengan pembekuan atau pendidihan. Infeksi T.gondii
biasanya tanpa gejala dan berlalu begitu saja. Setelah masa inkubasi
selama lebih kurang 9 hari, muncul gejala flu seperti lelah, sakit kepala,

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 11

dan demam yang dapat muncul hampir bersamaan dengan limpadenopati,


terutama di daerah serviks posterior.

2. Rubella
Kematian pada post natal rubella biasanya disebabkan oleh
enchepalitis. Pada infeksi awal, virus akan masuk melalui traktus
respiratorius yang kemudian akan menyebar ke kelenjar limfe sekitar dan
mengalami multiplikasi serta mengawali terjadinya viremia dalam waktu 7
hari. Janin dapat terinfeksi selama terjadinya viremia maternal. Saat ini,
telah diketahui bahwa infeksi plasenta terjadi pada 80% kasus dan risiko
kerusakan jantung, mata, atau telinga janin sangat tinggi pada trisemester
pertama. Jika infeksi maternal terjadi sebelum usia kehamilan 12 minggu,
60% bayi akan terinfeksi. Kemudian, risiko akan menurun menjadi 17%
pada minggu ke-14 dan selanjutnya menjadi 6% setelah usia kehamilan 20
minggu. Akan tetapi, plasenta biasanya terinfeksi dan virus dapat menjadi
laten pada bayi yang terinfeksi kongenital selama bertahun-tahun.
3. Cytomegalovirus (CMV)
Penyakit yang disebabkan oleh Cytomegalovirus dapat terjadi secara
kongenital saat bayi atau infeksi pada usia anak. Kadang-kadang, CMV
juga dapat menyebabkan infeksi primer pada dewasa, tetapi sebagian besar
infeksi pada usia dewasa disebabkan reaktivasi virus yang telah didapat
sebelumnya. Infeksi kongenital biasanya disebabkan oleh reaktivasi CMV
selama kehamilan. Di negara berkembang, jarang terjadi infeksi primer
selama kehamilan, karena sebagian besar orang telah terinfeksi dengan
virus ini sebelumnya. Bila infeksi primer terjadi pada ibu, maka bayi akan
dapat lahir dengan kerusakan otak, ikterus dengan pembesaran hepar dan
TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 12

lien, trombositopenia, serta dapat menyebabkan retardasi mental. Bayi


juga dapat terinfeksi selama proses kelahiran karena terdapatnya CMV
yang banyak dalam serviks. Penderita dengan infeksi CMV aktif dapat
mengekskresikan virus dalam urin, sekret traktus respiratorius, saliva,
semen, dan serviks. Virus juga didapatkan pada leukosit dan dapat menular
melalui tranfusi.

4. Herpes Simpleks (HSV)


HSV merupakan virus DNA yang dapat diklasifikasikan ke dalam
HSV 1 dan 2. HSV 1 biasanya menyebabkan lesi di wajah, bibir, dan mata,
sedangkan HSV 2 dapat menyebabkan lesi genital. Virus ditransmisikan
dengan cara berhubungan seksual atau kontak fisik lainnya. Melalui
inokulasi pada kulit dan membran mukosa, HSV akan mengadakan
replikasi pada sel epitel, dengan waktu inkubasi 4 sampai 6 hari. Replikasi
akan berlangsung terus sehingga sel akan menjadi lisis serta terjadi
inflamasi lokal. Selanjutnya, akan terjadi viremia di mana virus akan
menyebar ke saraf sensoris perifer. Di sini virus akan mengadakan
replikasi yang diikuti penyebarannya ke daerah mukosa dan kulit yang
lain.
Dalam tahun-tahun terakhir ini, herpes genital telah mengalami
peningkatan. Akan tetapi, untungnya herpes neonatal agak jarang terjadi,
bervariasi dari 1 dalam 2.000 sampai 1 dalam 60.000 bayi baru lahir.
Tranmisi terjadi dari kontak langsung dengan HSV pada saat melahirkan.
Risiko infeksi perinatal adalah 35--40% jika ibu yang melahirkan
terinfeksi herpes genital primer pada akhir kehamilannya.
F. Cara Penularan TORCH
TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 13

Penularan TORCH pada manusia dapat melalui 2 (dua) cara. Pertama,


secara aktif (didapat) dan yang kedua, secara pasif (bawaan). Penularan secara
aktif disebabkan antara lain sebagai berikut :
1. Makan daging setengah matang yang berasal dari hewan yang
terinfeksi (mengandung sista), misalnya daging sapi, kambing, domba,
kerbau, babi, ayam, kelinci dan lainnya. Kemungkinan terbesar
penularan TORCH ke manusia adalah melalui jalur ini, yaitu melalui
masakan sati yang setengah matang atau masakan lain yang dagingnya
diamsak tidak semnpurna, termasuk otak, hati dan lainnya.
2. Makan makanan yang tercemar oosista dari feses (kotoran) kucing
yang menderita TORCH. Feses kucing yang mengandung oosista akan
mencemari tanah (lingkungan) dan dapat menjadi sumber penularan
baik pada manusia maupun hewan. Tingginya resiko infeksi TORCH
melalui tanah yang tercemar, disebabkan karena oosista bisa bertahan
di tanah sampai beberapa bulan ( Howard, 1987).
3. Transfusi darah (trofozoid), transplantasi organ atau cangkok jaringan
(trozoid, sista), kecelakaan di laboratorium yang menyebabkan
TORCH masuk ke dalam tubuh atau tanpa sengaja masuk melalui luka
(Remington dan McLeod 1981, dan Levine 1987).
4. Hubungan seksual antara pria dan wanita juga bisa menyebabkan
menularnya TORCH. Misalnya seorang pria terkena salah satu
penyakit TORCH kemudian melakukan hubungan seksual dengan
seorang wanita (padahal sang wanita sebelumnya belum terjangkit)
maka ada kemungkinan wanita tersebut nantinya akan terkena
penyakit TORCH sebagaimana yang pernah diderita oleh lawan
jenisnya.
5. Ibu hamil yang kebetulan terkena salah satu penyakit TORCH ketika
mengandung maka ada kemungkinan juga anak yang dikandungnya
terkena penyakit TORCH melalui plasenta.

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 14

6. Air Susu Ibu (ASI) juga bisa sebagai penyebab menularnya penyakit
TORCH. Hal ini bisa terjadi seandainya sang ibu yang menyusui
kebetulan terjangkit salah satu penyakit TORCH maka ketika
menyusui penyakit tersebut bisa menular kepada sang bayi yang
sedang disusuinya.
7. Keringat yang menempel pada baju atau pun yang masih menempel di
kulit juga bisa menjadi penyebab menularnya penyakit TORCH. Hal
ini bisa terjadi apabila seorang yang kebetulan kulitnya menmpel atau
pun lewat baju yang baru saja dipakai si penderita penyakit TORCH.
8. Faktor lain yang dapat mengakibatkan terjadinya penularan pada
manusia, antara lain adalah kebiasaan makan sayuran mentah dan
buah - buahan segar yang dicuci kurang bersih, makan tanpa mencuci
tangan terlebih dahulu, mengkonsumsi makanan dan minuman yang
disajikan tanpa ditutup, sehingga kemungkinan terkontaminasi oosista
lebih besar.
9. Air liur juga bisa sebagai penyebab menularnya penyakit TORCH.
Cara penularannya juga hampir sama dengan penularan pada
hubungan seksual.
Berdasarkan kenyataan di atas, penyakit TORCH ini sifatnya menular.
Oleh karena itu dalam satu keluarga biasanya kalau salah satu anggota
keluarga terkena penyakit tersebut maka yang lainnya pun juga bisa terkena.
Malah ada beberapa kasus dalam satu keluarga seluruh anggota keluarganya
mulai dari kakek - nenek, kakak - adik, bapak - ibu, anak - anak semuanya
terkena penyakit TORCH.
G. Cara Menghindari TORCH
Untuk menghindari sedini mungkin penyakit TORCH yang sangat
membahayakan ini, ada beberapa hal sebagai solusi awal yang bisa dilakukan
antara lain sebagai berikut :

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 15

1. Bila mengkonsumsi daging seperti daging ayam, sapi, kambing,


kelinci, babi dan lainnya terlebih dahulu dimasak dengan matang
hingga suhu mencapai 66 derajat Celcius, agar oosista - oosista yang
mungkin terbawa di dalam daging tersebut bisa mati.
2. Kucing peliharaan di rumah hendaknya diberi daging matang untuk
mencegah infeksi yang masuk ke dalam tubuh kucing. Tempat makan,
minum dan alas tidur harus selalu dicuci / dibersihkan.
3. Hindari kontak dengan hewan - hewan mamalia liar, seperti rodensia
liar (tikus, bajing, musang dan lain - lain) serta reptilia kecil seperti
cecak, kadal, dan bengkarung yang kemungkinan dapat sebagai hewan
perantara TORCH.
4. Penanganan kotoran kucing sebaiknya dilakukan melalui sarung
tangan yang disposable (dibuang setelah dipakai).
5. Bagi wanita yang sedang hamil, terutama yang dinyatakan secara
serologis sudah negatif, jangan memelihara atau menangani kucing
kecuali dengan sarung tangan.
6. Bila sedang memegang daging, bekerja di tempat atau perusahaan
daging atau organ yang masih mentah, hindari untuk tidak menyentuh
mata, mulut, dan hidung dan peralatan dapur setelah selesai sebaiknya
dicuci dengan sabun.
7. Bagi yang senang berkebun atau bekerja di kebun, sebaiknya
menggunakan sarung tangan, mencuci sayuran atau buah sebelum
dimakan.
8. Darah penderita seropositif tidak boleh ditransfusikan pada penderita
yang menderita imunosupresif, demikian pula transplantasi organ pada
penderita seronegatif harus dari orang dengan seronegatif TORCH.
9. Pemberantasan terhadap lalat dan kecoa sebagai pembawa oosista
perlau dilakukan.
10. Penggunaan desinfektan komersial yang ada di toko - toko dapat
berguna untuk membasmi oosista.
11. Memeriksakan hewan peliharaan secara kontinyu ke dokter hewan atau
poliklinik hewan agar supaya hewan keanyangan selalu dalam keadaan
sehat.
H. Cara Pencegahan TORCH
Mengingat bahaya dari TORCH untuk ibu hamil, bagi Anda yang sedang
merencanakan kehamilan atau yang saat ini sedang hamil, dapat

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 16

mempertimbangkan saran-saran berikut agar bayi Anda dapat terlahir dengan


baik dan sempurna.
1. Makan makanan bergizi
Saat hamil, sebaiknya Anda mengkonsumsi banyak makanan bergizi.
Selain baik untuk perkembangan janin, gizi yang cukup juga akan
membuat tubuh tetap sehat dan kuat. Bila tubuh sehat, maka tubuh dapat
melawan berbagai penyakit termasuk TORCH sehingga tidak akan
menginfeksi tubuh.
2. Lakukan pemeriksaan sebelum kehamilan
Ada baiknya, Anda memeriksakan tubuh sebelum merencanakan
kehamilan. Anda dapat memeriksa apakah dalam tubuh terdapat virus atau
bakteri yang dapat menyebabkan infeksi TORCH. Jika Anda sudah
terinfeksi, ikuti saran dokter untuk mengobatinya dan tunda kehamilan
hingga benar-benar sembuh.
3. Melakukan vaksinasi
Vaksinasi bertujuan untuk mencegah masuknya parasit penyebab
TORCH. Seperti vaksin rubela dapat dilakukan sebelum kehamilan. Hanya
saja, Anda tidak boleh hamil dahulu sampai 2 bulan kemudian.
4. Makan makanan yang matang
Hindari memakan makanan tidak matang atau setengah matang. Virus
atau parasit penyebab TORCH bisa terdapat pada makanan dan tidak akan
mati apabila makanan tidak dimasak sampai matang. Untuk mencegah
kemungkinan tersebut, selalu konsumsi makanan matang dalam keseharian
Anda.
5. Periksa kandungan secara terartur
Selama masa kehamilan, pastikan juga agar Anda memeriksakan
kandungan secara rutin dan teratur. Maksudnya adalah agar dapat
dilakukan tindakan secepatnya apabila di dalam tubuh Anda ternyata
terinfeksi TORCH. Penanganan yang cepat dapat membantu agar kondisi
bayi tidak menjadi buruk.
6.

Jaga kebersihan tubuh

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 17

Jaga higiene tubuh Anda. Prosedur higiene dasar, seperti mencuci


tangan, sangatlah penting.
7. Hindari kontak dengan penderita penyakit
Seorang wanita hamil harus menghindari kontak dengan siapa pun
yang menderita infeksi virus, seperti rubela, yang juga disebut campak
Jerman.
Dengan mencari lebih banyak informasi tentang kehamilan serta merawat
dirinya sebelum dan selama masa kehamilan maupun dengan memikirkan
masak-masak jauh di muka tentang berbagai aspek melahirkan, seorang wanita
akan melakukan sebisa-bisanya untuk memastikan kehamilan yang lebih aman.
Maka, bagi seorang wanita hamil, cobalah untuk selalu waspada terhadap
berbagai penyakit seperti TORCH agar bayi Anda terlahir sehat.

I. Pengobatan TORCH
Adanya infeksi-infeksi ini dapat dideteksi dari pemeriksaan darah.
Biasanya ada 2 petanda yang diperiksa untuk tiap infeksi yaitu Imunoglobulin
G (IgG) dan Imunoglobulin M (IgM). Normalnya keduanya negatif.
Jika IgG positif dan IgMnya negatif,artinya infeksi terjadi dimasa lampau
dan tubuh sudah membentuk antibodi. Pada keadaan ini tidak perlu diobati.
Namun, jika IgG negatif dan Ig M positif, artinya infeksi baru terjadi dan
harus diobati. Selama pengobatan tidak dianjurkan untuk hamil karena ada
kemungkinan infeksi ditularkan ke janin. Kehamilan ditunda sampai 1 bulan
setelah pengobatan selesai (umumnya pengobatan memerlukan waktu 1
bulan). Jika IgG positif dan IgM juga positif,maka perlu pemeriksaan lanjutan
yaitu IgG Aviditas. Jika hasilnya tinggi,maka tidak perlu pengobatan, namun
jika hasilnya rendah maka perlu pengobatan seperti di atas dan tunda
kehamilan. Pada infeksi Toksoplasma,jika dalam pengobatan terjadi
kehamilan, teruskan kehamilan dan lanjutkan terapi sampai melahirkan.Untuk
Rubella dan CMV, jika terjadi kehamilan saat terapi, pertimbangkan untuk

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 18

menghentikan kehamilan dengan konsultasi kondisi kehamilan bersama dokter


kandungan anda.
Pengobatan TORCH secara medis diyakini bisa dengan menggunakan
obat-obatan seperti isoprinocin, repomicine, valtrex, spiromicine, spiradan,
acyclovir, azithromisin, klindamisin, alancicovir, dan lainnya. Namun tentu
pengobatannya membutuhkan biaya yang sangat mahal dan waktu yang cukup
lama. Selain itu, terdapat pula cara pengobatan alternatif yang mampu
menyembuhkan penyakit TORCH ini, dengan tingkat kesembuhan mencapai
90 %.
Pengobatan TORCH secara medis pada wanita hamil dengan obat
spiramisin (spiromicine), azithromisin dan klindamisin misalnya bertujuan
untuk menurunkan dampak (resiko) infeksi yang timbul pada janin. Namun
sayangnya obat-obatan tersebut seringkali menimbulkan efek mual, muntah
dan nyeri perut. Sehingga perlu disiasati dengan meminum obat-obatan
tersebut sesudah atau pada waktu makan.
Berkaitan dengan pengobatan TORCH ini (terutama pengobatan TORCH untuk
menunjang kehamilan), menurut medis apabila IgG nya saja yang positif
sementara IgM negative, maka tidak perlu diobati. Sebaliknya apabila IgM nya
positif (IgG bisa positif atau negative), maka pasien baru perlu mendapatkan
pengobatan.
J. Diagnosa TORCH
Proses diagnosa medis merupakan langkah pertama untuk menangani suatu
penyakit. Tetapi diagnosa berdasarkan pengamatan gejala klinis sering sukar
dilaksanakan, maka dilakukan diagnosa laboratorik dengan memeriksa serum
darah, untuk mengukur titer-titer antibodi IgM atau IgG-nya.
Penderita TORCH kadang tidak menunjukkan gejala klinis yang spesifik,
bahkan bisa jadi sama sekali tidak merasakan sakit. Secara umum keluhan yang
dirasakan adalah mudah pingsan, pusing, vertigo, migran, penglihatan kabur,
pendengaran terganggu, radang tenggorokan, radang sendi, nyeri lambung, lemah
lesu, kesemutan, sulit tidur, epilepsi, dan keluhan lainnya.

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 19

Untuk kasus kehamilan: sulit hamil, keguguran, organ tubuh bayi tidak
lengkap, cacat fisik maupun mental, autis, keterlambatan tumbuh kembang anak,
dan ketidaksempurnaan lainnya.
Namun begitu, gejala diatas tentu belum membuktikan adanya penyakit
TORCH sebelum dibuktikan dengan uji laboratorik.
K. Pemeriksaan TORCH
1. Cara Pemeriksaannya
a. Toxoplasma
Tes ini mempergunakan antigen Toxoplasma yang diletakkan pada
penyangga padat, mula-mula di inkubasi dengan serum penderita
kemudian dengan antibodi berlabel enzim. Kadar antibodi dalam
serum penderita sebanding dengan intertitas warna yang timbul setelah
ikatan antigen antibodi dicampur dengan substrat. Uji aviditas pada
ELISA bermanfaat untuk determinasi prediktif kapan seseorang atau
individu tersebut diperkirakan terinfeksi Aviditas ELISA juga dapat
digunakan untuk menentukan status infeksi serta kekuatan ikatan
intrinsik antara antibodi dengan antigen. Apabila ikatan intrinsiknya
lemah maka daya proteksinya juga lemah meskipun titernya cukup
tinggi. Sebaliknya apabila ikatan intrinsik antigen-antibodinya cukup
tinggi maka daya proteksinya cukup baik meskipun titernya tidak
terlalu tinggi. Cara Kerja :
1) Lokasi Pengambilan Sampel
a) Vena mediana cubiti ( dewasa )
b) Vena jugularis superficialis ( bayi )
2) Cara kerja pengambilan sampel :
a) Bersihkan daerah vena mediana cubiti dengan alcohol 70%
dan biarkan menjadi kering kembali
b) Pasang ikatan pembendung/torniquit diatas fossa cubiti.
c) Mintakan pasien yang akan diambil darahnya untuk
mengepal dan membuka tangannya beberapa kali agar vena
jelas terlihat. Pembendungan vena tidak boleh terlalu kuat.
d) Tegangkan kulit diatas vena dengan jari tangan kiri agar
vena tidak bergerak.
e) Tusuk kulit diatas vena dengan jarum/nald dengan tangan
kanan sampai menembus lumen vena.

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 20

f) Lepaskan pembendungan dan ambillah darah sesuai yang


dibutuhkan.
g) Taruh kapas diatas jarum/nald dan cabut perlahan.
h) Mintakan agar pasien menekan bekas tusukan dengan kapas
tadi.
i) Alirkan darah dari syringe kedalam tabung melaluji dinding
tabung.
j) Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan
jenis specimen.
k) Sampel dapat di simpan pada suhu 2 - 8 C bertahan
sampai 7 hari atau dibekukan sampai 6 bulan.
l) Hindari pembekuan berulang jika untuk pemeriksaan.
3) Cara kerja Toxolisa IgG dan IgM
a) Siapkan pengenceran 1:40 test sampel, negatif control,
positif control dan calibrator dengan jalan menambahkan
masing-masing 5 ul bahan dengan 100 ul sampel diluents,
goyang hingga homagen.
b) Ambil 100 ul masing-masing hasil pengenceran, masukkan
ke dalam wells goyang agar tercampur rata, inkubasi
selama 30 menit pada suhu 37oC. Cuci 4 dengan diluents
Wash Buffer (1) dilanjutkan cuci 1 dengan aquabidest
Wash buffer (1) = encerkan volume Wash Buffer (20)
dengan 19 volume aquabidest contoh : larutkan 50ml Wash
Buffer (20) kedalam aquabidest untuk membuat 1000ml
Wash Buffer (1).
c) Masukan 100 ul Enzyme Conjugate ke masing-masing
well, inkubasi 30 menit pada suhu 37oC.
d) Cuci 4 dengan diluents Wash Buffer (1) dilanjutkan cuci
dengan aquabidest.
e) Masukan 100 ul TMB ke masing-masing well, goyang
hingga merata.
f) Inkubasi 15 menit pada suhu 37oC.
g) Tambahkan 100 ul Stop Solution (1N HCl) ke masingmasing well.
h) Goyang 30 detik agar merata.
i) Baca pada Elisa Reader dengan 450nm.
b. Rubella
TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 21

Dengan tes ELISA, HAI,Pasif HAatau tes LA, atau dengan adanya
IgM spesifik rubella yang mengindikasikan infeksi rubella telah
terjadi.
Pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan
Anti-Rubella IgG dana IgM. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat
digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat sebelum
hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan, dianjurkan untuk
divaksinasi. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama sangat
berguna untuk diagnosis infeksi akut pada kehamilan < 18 minggu dan
risiko infeksi rubella bawaan.
c. Cyto Megalo Virus
Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui
infeksi akut atau infeski berulang, dimana infeksi akut mempunyai
risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang silakukan
meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG.
d. Herpes Simpleks
Pemeriksaan laboratorium, yaitu Anti-HSV II IgG dan Igm sangat
penting untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya
infeksi oleh HSV II dan mencaegah bahaya lebih lanjut pada bayi bila
infeksi terjadi pada saat kehamilan
2. Dan cara untuk membaca hasilnya adalah sebagai berikut :
a. Periksalah serum untuk mencari ada tidaknya IgG spesifik untuk
parasit/virus TORCH. Bila hasilnya Negatif, berarti Anda tidak
pernah terinfeksi TORCH. Bila Positif, berarti pernah terinfeksi.
Note: [periksa Anti-Toxoplasma IgG, Anti-Rubella IgG, Anti-CMV
IgG, Anti-HSV2 IgG]. Tes IgG itu untuk meriksa apakah pada
masa lalu si pasien pernah kena infeksi.
b. Bila IgG Positif, maka untuk menentukan kapan infeksi tersebut,
Anda harus melakukan pemeriksaan serum untuk mencari ada
tidaknya IgM parasit/virus TORCH. Tes IgM ini fungsinya untuk
memeriksa apakah saat ini si pasien terinfeksi TORCH.
c. Bila IgG Positif dan IgM Negatif : Anda telah terinfeksi lebih dari
setahun yang lalu. Saat ini anda mungkin telah mengembangkan

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 22

kekebalan terhadap parasit itu. Anda tidak perlu khawatir untuk


hamil.
d. Bila IgG Positif dan IgM juga Positif: Anda tengah mengalami
infeksi dalam 2 tahun terakhir, [mungkin pula ada false pada hasil
IgM]. Anda harus catat berapa angka IgM tersebut.
e. Selanjutnya Anda harus melakukan lagi pemeriksaan IgM [kalau
perlu sekalian IgG] setelah 2 minggu dari pemeriksaan pertama.
Bila IgM tetap Positif atau malah naik angkanya, berarti anda
sedang terinfeksi TORCH. Sebaiknya anda sembuhkan dulu infeksi
ini baru kemudian mulai hamil.
3. Siapa & kapan perlu melakukan pemeriksaan TORCH yaitu
a. Wanita yang akan hamil atau merencanakan segera hamil
b. Wanita yang baru/sedang hamil bila hasil sebelumnya negatif atau
belum diperiksa, idealnya dipantau setiap 3 bulan sekali
c. Bayi baru lahir yang ibunya terinfeksi pada saat hamil
L. Pembuatan Vaksin
Produksi vaksin antivirus saat ini merupakan sebuah proses rumit bahkan
setelah tugas yang berat untuk membuat vaksin potensial di laboratorium.
Perubahan dari produksi vaksin potensial dengan jumlah kecil menjadi
produksi bergalon-galon vaksin yang aman dalam sebuah situasi produksi
sangat dramatis, dan prosedur laboratorium yang sederhana tidak dapat
digunakan untuk meningkatkan skala produksi.
1. Benih Virus
Produksi vaksin dimulai dengan sejumlah kecil virus tertentu (atau
disebut benih). Virus harus bebas dari kotoran, baik berupa virus yang
serupa atau variasi dari jenis virus yang sama. Selain itu, benih harus
disimpan dalam kondisi ideal, biasanya beku, yang mencegah virus
menjadi lebih kuat atau lebih lemah dari yang diinginkan. Benih disimpan
dalam gelas kecil atau wadah plastik. Jumlah yang kecil hanya 5 atau 10
sentimeter kubik, mengandung ribuan hingga jutaan virus, nantinya dapat
dibuat menjadi ratusan liter vaksin. Freezer dipertahankan pada suhu
tertentu. Grafik di luar freezer akan mencatat secara terus menerus suhu
freezer. Sensor terhubung dengan alarm yang dapat didengar atau alarm
komputer yang akan menyala jika suhu freezer berada di luar suhu yang
seharusnya.
TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 23

2. Pertumbuhan Virus
Setelah mencairkan dan memanaskan benih virus dalam kondisi
tertentu secara hati-hati (misalnya, pada suhu kamar atau dalam bak air),
sejumlah kecil sel virus ditempatkan ke dalam pabrik sel, sebuah mesin
kecil yang telah dilengkapi sebuah media pertumbuhan yang tepat
sehingga sel memungkinkan virus untuk berkembang biak.
Setiap jenis virus tumbuh terbaik di media tertentu, namun semua
media umumnya mengandung protein yang berasal dari mamalia,
misalnya protein murni dari darah sapi. Media juga mengandung protein
lain dan senyawa organik yang mendorong reproduksi sel virus.
Penyediaan media yang benar, pada suhu yang tepat, dan dengan jumlah
waktu yang telah ditetapkan, virus akan bertambah banyak.
Selain suhu, faktor-faktor lain harus dipantau adalah pH. pH adalah
ukuran keasaman atau kebasaan, diukur pada skala dari 0 sampai 14. dan
virus harus disimpan pada pH yang tepat dalam pabrik sel. Air tawar yang
tidak asam atau basa (netral) memiliki pH 7. Meskipun wadah di mana selsel tumbuh tidak terlalu besar (mungkin ukuran pot 4-8 liter), terdapat
sejumlah katup, tabung, dan sensor yang terhubung dengannya. Sensor
memantau pH dan suhu, dan ada berbagai koneksi untuk menambahkan
media atau bahan kimia seperti oksigen untuk mempertahankan pH,
tempat untuk mengambil sampel untuk analisis mikroskopik, dan
pengaturan steril untuk menambahkan komponen ke pabrik sel dan
mengambil produk setengah jadi ketika siap.
Virus dari pabrik sel ini kemudian dipisahkan dari media, dan
ditempatkan dalam media kedua untuk penumbuhan tambahan. Metode
awal yang dipakai 40 atau 50 tahun yang lalu yaitu menggunakan botol
untuk menyimpan campuran, dan pertumbuhan yang dihasilkan berupa
satu lapis virus di permukaan media. Peneliti kemudian menemukan
bahwa jika botol itu berubah posisi saat virus tumbuh, virus bisa tetap

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 24

dihasilkan karena lapisan virus tumbuh pada semua permukaan dalam


botol.
Sebuah penemuan penting dalam tahun 1940-an adalah bahwa
pertumbuhan sel sangat dirangsang oleh penambahan enzim pada medium,
yang paling umum digunakan yaitu tripsin. Enzim adalah protein yang
juga berfungsi sebagai katalis dalam memberi makan dan pertumbuhan
sel.
Dalam praktek saat ini, botol tidak digunakan sama sekali. Virus yang
sedang tumbuh disimpan dalam wadah yang lebih besar namun mirip
dengan pabrik sel, dan dicampur dengan manik-manik, partikel
mikroskopis dimana virus dapat menempelkan diri. Penggunaan manikmanik memberi virus daerah yang lebih besar untuk menempelkan diri,
dan akibatnya, pertumbuhan virus menjadi yang jauh lebih besar. Seperti
dalam pabrik sel, suhu dan pH dikontrol secara ketat. Waktu yang
dihabiskan virus untuk tumbuh bervariasi sesuai dengan jenis virus yang
diproduksi, dan hal itu sebuah rahasia yang dijaga ketat oleh pabrik.
3. Pemisahan Virus
Ketika

sudah

tercapai jumlah virus


yang cukup banyak,
virus dipisahkan dari
manik-manik dalam
satu atau beberapa
cara.

Kaldu

kemudian
melalui

ini

dialirkan
sebuah

filter

dengan

bukaan

yang

cukup

besar

yang

memungkinkan virus untuk melewatinya, namun cukup kecil untuk


mencegah manik-manik dapat lewat. Campuran ini sentrifugasi beberapa
kali untuk memisahkan virus dari manik-manik dalam wadah sehingga
virus kemudian dapat dipisahkan. Alternatif lain yaitu dengan mengaliri
campuran manik-manik dengan media lain sehingga mencuci manikmanik dari virus.

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 25

4. Memilih Strain Virus


Vaksin

bisa

dibuat baik dari virus


yang
atau

dilemahkan
virus

yang

dimatikan. Pemilihan
satu dari yang lain
tergantung
sejumlah

pada
faktor

termasuk kemanjuran
vaksin yang dihasilkan dan efek sekunder. Virus yang dibuat hamper setiap
tahun sebagai respon terhadap varian baru virus penyebab, biasanya
berupa virus yang dilemahkan. Virulensi virus bisa menentukan pilihan;
vaksin rabies, misalnya, selalu vaksin dari virus yang dimatikan.
Jika vaksin dari virus dilemahkan, virus biasanya dilemahkan sebelum
dimulai proses produksi. Strain yang dipilih secara hati-hati dibudidayakan
(ditumbuhkan) berulang kali di berbagai media. Ada jenis virus yang
benar-benar menjadi kuat saat mereka tumbuh. Strain ini jelas tidak dapat
digunakan untuk vaksin attenuated. Strain lainnya menjadi terlalu lemah
karena dibudidayakan berulang-ulang, dan ini juga tidak dapat diterima
untuk penggunaan vaksin. Seperti bubur, kursi, dan tempat tidur yang
disukai Goldilocks, hanya beberapa virus yang tepat mencapai tingkat
atenuasi yang membuat mereka dapat diterima untuk penggunaan vaksin,
dan tidak mengalami perubahan dalam kekuatannya. Teknologi molekuler
terbaru telah memungkinkan atenuasi virus hidup dengan memanipulasi
molekul, tetapi metode ini masih langka.
Virus ini kemudian dipisahkan dari media tempat dimana virus itu
tumbuh. Vaksin yang berasal dari beberapa jenis virus (seperti kebanyakan
vaksin) dikombinasikan sebelum pengemasan. Jumlah aktual dari vaksin
yang diberikan kepada pasien akan relatif kecil dibandingkan dengan

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 26

jumlah medium yang dengan apa vaksin tersebut diberikan. Keputusan


mengenai apakah akan menggunakan air, alkohol, atau solusi lain untuk
injeksi vaksin, misalnya, dibuat setelah tes berulang-ulang demi
keselamatan, steritilitas, dan stabilitas.
5. Pengontrolan Kualitas
Untuk melindungi kemurnian vaksin dan keselamatan pekerja yang
membuat dan mengemas vaksin, kondisi kebersihan laboratorium diamati
pada seluruh prosedur. Semua transfer virus dan media dilakukan dalam
kondisi steril, dan semua instrumen yang digunakan disterilisasi dalam
autoklaf (mesin yang membunuh organisme dengan suhu tinggi, dan yang
berukuran sekecil kotak perhiasan atau sebesar lift) sebelum dan sesudah
digunakan. Pekerja yang melakukan prosedur memakai pakaian pelindung
yang meliputi gaun Tyvek sekali pakai, sarung tangan, sepatu bot, jaring
rambut, dan masker wajah. Ruangan pabrik sendiri memakai AC yang
khusus sehingga jumlah partikel di udara minimal.
6. Proses Perizinan
Dalam rangka untuk peresepan obat untuk dijual di Amerika Serikat,
produsen obat harus memenuhi persyaratan lisensi yang ketat yang
ditetapkan oleh hukum dan diberlakukan oleh Food and Drug
Administration (FDA). Semua obat yang diresepkan harus menjalani tiga
tahap pengujian, meskipun data dari fase kedua kadang-kadang dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan tahap ketiga.
Tahap 1 pengujian harus membuktikan bahwa obat aman, atau
setidaknya tidak ada efek yang tidak diinginkan atau tak terduga akan
terjadi dari pemberiannya. Jika obat dapat melewati tahap 1 pengujian, di
samping harus diuji efektivitasnya (obat harus memiliki efek apa yang
seharusnya). Obat-obatan yang tidak berguna tidak dapat dijual, atau yang
membuat klaim untuk efek yang sebenarnya tidak dimiliki. Akhirnya,
tahap 3 pengujian ini dirancang untuk mengukur efektivitas obat.
Meskipun vaksin diharapkan memiliki efektivitas hampir 100%, obat-obat
tertentu mungkin dapat diterima bahkan jika mereka mempunyai
efektivitas yang minimal, asalkan dokter yang meresepkan mengetahuinya.

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 27

Seluruh proses produksi ditelaah dengan hati-hati oleh FDA dengan


mempelajari catatan prosedur serta mengunjungi tempat produksi itu
sendiri. Setiap langkah dalam proses produksi harus didokumentasikan,
dan produsen harus menunjukkan suatu kontrol yang tetap untuk proses
produksi. Ini berarti bahwa prsedur yang teliti harus terjaga untuk setiap
langkah dalam proses, dan harus ada instruksi tertulis untuk setiap langkah
dari proses. Kecuali dalam kasus-kasus kesalahan yang memilukan, FDA
tidak menentukan apakah setiap langkah dalam proses benar, tetapi hanya
bahwa itu aman dan cukup terdokumentasi dengan baik untuk dilakukan,
seperti yang ditetapkan oleh produsen.
7. Masa Depan Vaksin
Memproduksi vaksin antivirus yang aman dan dapat dimanfaatkan
melibatkan sejumlah besar langkah yang, sayangnya, tidak selalu dapat
dilakukan pada setiap virus. Masih banyak yang harus dilakukan dan
dipelajari. Metode baru dari manipulasi molekul telah menyebabkan lebih
dari satu ilmuwan meyakini bahwa teknologi vaksin baru sekarang
memasuki zaman keemasan. Perbaikan vaksin sangat mungkin
dilakukan di masa depan. vaksin Rabies, misalnya, menghasilkan efek
samping yang membuat vaksin tidak memuaskan untuk imunisasi masal,
di Amerika Serikat, vaksin rabies sekarang digunakan hanya pada pasien
yang telah tertular virus dari hewan yang terinfeksi dan mungkin bila
tanpa imunisasi, menjadi penyakit yang fatal.

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 28

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
TORCH adalah singkatan dari Toxoplasma gondii (Toxo), Rubella, Cyto
Megalo Virus (CMV), Herpes Simplex Virus (HSV) yang terdiri dari HSV1
dan HSV2 serta kemungkinan oleh virus lain yang dampak klinisnya lebih
terbatas (Misalnya Measles, Varicella, Echovirus, Mumps, virus Vaccinia,
virus Polio, dan virus Coxsackie-B).
Penyakit ini sangat berbahaya bagi ibu hamil karena dapat mengakibatkan
keguguran, cacat pada bayi, juga pada wanita belum hamil bisa akan sulit
mendapatkan kehamilan.
B. Saran
Untuk selalu waspada terhadap penyakit TORCH dengan cara mengetahui
media dan cara penyebaran penyakit ini kita dapat menghindari kemungkinan
tertular. Hidup bersih dan makan makanan yang dimasak dengan matang.

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 29

DAFTAR PUSTAKA

http://ernabaharuddin.blogspot.com/2013/06/makalah-torch-toxoplasmosisrubella.html
http://spesialis-torch.com/cyto-megalo-virus-cmv.htm
http://spesialis-torch.com/toxo.htm
http://spesialis-torch.com/rubella.htm
http://spesialis-torch.com/herpes-simplex-virus-hsv.htm
http://myhealing.wordpress.com/2010/12/02/proses-pembuatan-vaksi/

TORCH Virologi Kelas XII Analis Kesehatan | 30