Anda di halaman 1dari 10

1.

Instruksi Kontrol Plak


Pengunyahan makanan dalam bentuk kasar dan banyak tidak dapat mencegah
pembentukan plak.Oleh karena itu pencegahan dan pengontrolan terhadap pembentukan plak
gigi harus didasarkan atas usaha pemeliharaan hiegene oral secara aktif.
Keberadaan karbohidrat menjadi sumber bakteri menghasilkan Polisakarida Ekstra
Selular (PES). Bersama dengan protein saliva dan aktivitas bakteri dapat terbentu plak gigi.
PES menjadi bahan perekat pada matriks plak. Dari dasar pemikiran tersebut usaha yang
dapat dilakukan adalah mencegah dan mengontrol pembentkan plak yang meliputi,
1. Mengatur pola makanan
2. Tindakan secara kimiawi terhadap bakteri dan terhadap polisakarida ekstraselular
3. Tindakan secara mekanis berupa pembersihan rongga mulut

1. Mengatur pola makan


Dengan membatasi makanan yang banyak mengandung karbohidrat terutama sukrosa.
Berdasarkan bukti-bukti ilmiah bahwa karbohidrat merupakan bahan utama dalam
pembentukan matriks plak, selain sebagai sumber energi untuk bakteri dalam
membentuk plak.
2. Tindakan secara kimiawi
Tindakan secara kimiawi terhadap bakteri dapat dengan menggunakan obat kumur
sebanyak 10 ml 2dd 1. Seperti penggunaan obat kumur yang mengandung klorhexidin
dapat membunuh bakteri gram posittif maupun negatif dan merupakan zat antijamur.
3. Tindakan secara mekanis (Fisioterapi oral)
Sikat gigi
Sikat Gigi merupakan salah satu alat fisioterapi oral yang digunakan secara luas untuk
membersihkan gigi dan mulut. Di pasaran dapat ditemukan beberapa macam sikat
gigi, baik manual maupun elektrik dengan berbagai ukuran dan bentuk.
Teknik menyikat gigi:
1. Scrub Brush Technique
Letak bulu sikat tegak lurus pada permukaan labil, bukal, palatinal, lingual,

dan oklusal.
Gerak sikat : gigi anterior ke kiri-ke kanan, gigi posterior ke depan- ke
belakang.

2. Roll Technique
Letak bulu sikat pada margin gingiva, sejauh mungkin dari permukaan

oklusal, ujung sikat mengarah ke apikal.


Gerak sikat :

a. Membentuk lengkungan, sehingga bulu sikat akan melalui permukaan gigi.


b. bulu sikat hampir tegak lurus pada permukaan enamel.
3. Charters Technique
Permukaan labial dan bukal :
a. Letak bulu sikat membentuk sudut 900 dengan sumbu gigi, tidak diletakkan pada
gingiva.
b. Gerak sikat : sikat ditekan sehingga ujung bulu sikat masuk interproksimal, sisi
bulu sikat menekan tepi gusi, dan digerakkan secara sirkula dengan ujung bulu
sikat tetap pada tempat semula.
c. Untuk membersihkan permukaan interproksimal, fixed bridges, around fixed
orthodontic appliances.
4. Stillman Mc Call Technique
Posisi sikat seperti pada teknik roll, namun bulu sikat lebih dekat dengan mahkota
gigi. sikat digetarkan dengan cepat dan digerakkan sedikit maju mundur. Gerakan ini
yang akan menekan bulu sikat ke arah interproksimal, membersihkan dan memijat.
Teknik ini baik untuk memijat gingiva.
5. Physiology Technique
Letak sikat lurus dengan permukaan gigi, bulu sikat halus, tangkai sikat horizontal,
gerakan sikat dari mahkota ke apikal. Gerakan ini dilakukan untuk memijat gingiva.
Gerakan ini memiliki efek yang buruk, karena dapat menyebabkan retraksi gingiva.
6. Bass Technique
a. Kegunaan : untuk membersihkan plak dan debris di daerah sulkus gingiva, dan
pasien pasca tindakan bedah.
b. Caranya : pegang sikat gigi secara horizontal dan letakkan kepala sikat gigi pada
permukaan gigi, lebih tepatnya di margin gingiva, tempat plak menumpuk.
Miringkan kepalasikat kira-kira 450 menghadap apeks gigi. Tujuannya agar bulu
sikat dapat masuk ke saku gusi. Gerakan sikat secara horisontal dengan jarak yang
sangat pendek maj-mundur seperti suatu getaran dan dengan tekanan yang lembut.
Permukaan oklusal maju mundur seperti teknik scrub.
7. Fones Technique
Pada teknik ini gigi dalam keadaan oklusi, bulu sikat ditekankan pada gigi dan
jaringan gingiva, kemudian sikat digerakkan melingkar seluas mungkin. Permukaan
lingual oklusal digosok maju mundur. Metode ini efektif untuk anak yang memiliki
gigi lengkap dengan oklusi yang baik.
Dalam menyikat gigi juga dikelompokkan berdasarkan arah gerakannya, yaitu :
1. Roll : Roll ataupun modifikasi dari teknik Stillman.
2. Vibrasi : Teknik Stillman, Charters, dan Bass.
3. Sirkuler : Teknik Fones.
4. Vertikal : Teknik Leonard.
5. Horizontal : Teknik Scrub.

Alat bantu sikat gigi


Perlu ditambahkan penggunaan alat bantu sikat gigi yang dapat membantu
membersihkan ruang interproximal dengan baik.
a) Dental Flossing :
Pembersihan dengan menggunakan benang yang diarahkan untuk
mengeliminasi plak gigi. Terbagi menjad dua yakni Floshing dengan tanpa
menggunakan pemegang khusus dan floshing yang menggunakan pemegang
khusus.

Dental Flosh tanpa pemegang khusus, dental flosh dengan pemegang khusus
b) Interdental Tip
Cara mengaktivasinya adalah dengan memasukkannnya ke dalam ruang
interproximal dari arah bukal dengan sudut kurang lebih 45 derajat. Ujung
tip mengarah ke oklusal dan bagian lateralnya mengenai gingiva dengan
gerakan rotasi, kurang lebih 10 lingkaran per interdental area.

Gambar Interdental Tip


c) Interdental Brush
Yang umumnya digunakan adalah yang berbentuk conical dan silindris.
Kapan kita harus menggunakan Dental Flosh, Interdental Tip, dan
Interdental Brush ?

Pada kondisi tidak terdapat resesi gingiva menggunakan denal flosh,


pada kondisi terbukanya area interproximal dengan bagian akar yang
sedikit tampak dapat menggunakan interproximal brush atau interproximal
tip, sedangkan pada kondisi kehilangan interpapill dapat menggunakan
single-stuffed brush.

Gambar 44-11. Penggunaan Dental Flosh, Interdental Brush dan SingleTufted


Gambar 44-12. Berbagai macam bentuk interdental tip, Interdental Brush
dan Single-Tufted
2. Eliminasi Kalkulus Supra dan Subgingival
Menurut Krismariono (2009) terdapat faktor-faktor yang yang berperan dan
mempengaruhi dalam efektifitas perawatan periodontal fase 1 khususnya perawatan
tahap eliminasi kalkulus supragingiva dan sub gingiva, namun faktor-faktor tersebut
juga berkaitan dengan perawatan root planing yang tidak terlepas dari perawatan
scaling, antara lain sebagai berikut:
1.

Asesibilitas
Faktor ini menetukan efektifitas perawatan, yang berhubungan dengan posisi

operator terhadap pasien. Hal ini penting karena berkaitan pula dengan kenyamanan
dan ketahanan fisik operator selama perawatan. Scaling dan root planing merupakan
tindakan perawatan yang dilakukan pada seluruh gigi, sehingga membutuhkan waktu
dan energi yang cukup, oleh karena itu perlu dipertimbangkan faktor kenyamanan
posisi.
2.
Visibilitas, iluminasi dan retraksi
Pandangan langsung dibantu dengan penerangan mutlak diperlukan. Jika
pandangan tidak bisa secara langsung tertuju pada area perawatan (misalnya distal
gigi molar), maka pandangan dapat dibantu dengan kaca mulut. Kaca mulut ini juga
berfungsi sebagai pemantul cahaya ke area perawatan. Kaca mulut dalam hal ini
juga berfungsi sebagai retraktor lidah sehingga operator dapat mencapai area
perawatan tanpa adanya halangan.
3.
Kondisi Alat
Sebelum digunakan, hendaknya alat dalam keadaan baik, bersih dan steril.
Bagian cutting edge seharusnya tajam agar memudahkan pengambilan kalkulus
(Gambar 1). Alat yang tumpul cenderung tidak dapat memberikan hasil yang baik,
karena kalkulus tidak terambil secara menyeluruh serta kepekaan operator terhadap
adanya kalkulus dengan bantuan alat yang tumpul menjadikan hasil dari perawatan
tidak optimal. Alat yang tumpul juga cenderung merusak jaringan karena adanya
kekuatan yang berlebihan dan gerakan cenderung tidak terkontrol sebagai akibat
kompensasi dari penggunaan alat yang tumpul.
4.
Stabilisasi alat
Stabilitas alat diperlukan agar penggunaan alat dapat dikendalikan dengan
baik oleh operator, sehingga tergelincirnya alat (cutting edge) dari permukaan gigi
dapat dicegah. Selain itu juga mencegah injuri pada tangan operator. Stabilisasi alat
terdiri dari: instrument grasp dan finger rest.

Instrumentasi Dalam Perawatan Periodontal Fase 1


1. Kuret
Kuret merupakan alat yang digunakan untuk scalling, bentuknya seperti sendok yang
membengkok sesuai dengan bentuk permukaan gigi. Kuret dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Kuret Universal
Dapat digunakan diseluruh rongga mulut
Memiliki 2 cutting edge
Desain dari blade dengan sudut 80-90 derajat
b. Kuret Gracey

Hanya dapat digunakan untuk daerah yang spesifik


Memiliki 1 cutting edge
Desain blade dengan sudut 60-70 derajat

2. Hoe
Hoe merupakan alat yang digunakan untuk meratakan dan menghaluskan
permukaan akar gigi serta menghilangkan sisa kalkulus dan sementum yang rusak.
Hoe memiliki blade bengkok dengan sudut 99-100 derajat.
3. Sicle scaler
Sicle scaler merupakan alat yang digunakan untuk membersihkan kalkulus
supra gingiva, permukaannya datar dan mempunyai 2 cutting edge yang menyatu
membentuk ujung yang runcing. Desain alat ini hanya digunakan untuk penyingkiran
kalkulus supra gingiva. Sicle scaler tidak dapat digunakan untuk kalkulus sub gingiva
karena ujungnya yang runcing dapat mengakibatkan cedera pada jaringan periodontal.
4. File scaler
File scaler memiliki desain mirip dengan Hoe tidak banyak digunakan untuk
scalling dan root planing karena ukurannya dan menyebabkan permukaan akar
menjadi kasar. Terkadang digunakan untuk menghilangkan margin restorasi yang
overhanging.
5. Ultrasonik Instrumen
Digunakan untuk scalling root planing, kuretase, dan menghilangan stain.
Efektif untuk membersihkan kalkulus dan dinding epitel poket. Alat ini dapat
menyebabkan permukaan akar menjadi kasar dan menghilangkan substansi gigi lebih
banyak. Tetapi dapat dikurangi dengan memperkecil kecepatan instrumen sehingga
kekuatannya lebih rendah dan digunakan dengan sentuhan yang ringan.

Gambar macam-macam alat scaller manual

Gambar Perbedaan adaptasi sickle dan kuret pada permukaan gigi


Teknik Skeling Supragingiva dan Subgingiva
Teknik skeling supragingiva dikerjakan dengan cara:
a. Alat dipegang dengan modifikasi pegangan pena (pen graps)
b. Sandaran jari dilakukan pada gigi tetangga atau tempat tumpuan lainnya
c. Sisi pemotong (cuting edge) mata skeler ditempatkan pada tepi apikal kalkulus.
Mata skeler diadaptasikan ke permukaan gigi membentuk angulasi 45-90
d. Dengan tekanan lateral yang kuat, dilakukan serangkaian tarikan skeler yang
pendek bertumpang tindih ke koronal dalam arah vertikal dan oblik
e. Tekanan lateral berangsur-angsur dikurangi sampai diperoleh permukaan gigi
yang terbebas dari kalkulus.

Teknik skeling subgingiva dan rootplaning dikerjakan dengan cara:


1. Alat dipegang dengan modifikasi pegangan pena (pen graps)
2. Sandaran jari dilakukan pada gigi tetangga atau tempat tumpuan lainnya
3. Pilih sisi pemotong yang sesuai
4. Sisi pemotong diadaptasikan ke permukaan gigi dengan angulasi 0 , diselipkan
dengan hati-hati ke epitel penyatu
5. Setelah sisi pemotong mecapai dasar saku dibentuk angulasi 45-90
6. Dengan tekanan lateral yang kuat, dilakukan serangkaian sapuan penskeleran yang
pendek secara terkontrol, bertumpang tindih dalam arah vertikal dan oblik

7. Instrumentasi dianjurkan dengan serangkaian sapuan penyerutan akar yang panjang


bertumpang tindih dimulai dengan tekanan lateral sedang dan diakhiri dengan
tekanan lateral ringan
8. Instrumentasi pada permukaan proksimal di bawah daerah kontak harus dilakukan
dengan cara mengatur bagian bawah tangkai kuret sejajar dengan sumbu gigi.
3. Koreksi Restorasi mahkota yang cacat
Keberadaan restorasi yang kasar, overcontured, lokasinya subgingivalmeskipun halus
akan diikuti oleh penumpukan plak yang banyak, inflamasi gingiva, kehilangan tulang dan
kehilangan perlekatan. Seperti halnya kalkulus, restorasi yang demikian dapat
menghalangi akses pembersihan atau kontrol plak. Cara mendeteksi tepi restorasi yang
cacat adalah dengan menggeser-geserkan ujung eksplorer yang halus naik-turun sepanjang
tepi restorasi. Koreksi restorasi dan mahkota yang cacat dapat menggunakan bur atau hand
instrument untuk memperbaiki restorasi.

4. Management Lesi Karies


Penghilangan lei karies dan memberi tumpatan sementara. Penyembuhan jaringan
periodontal akan berjalan maximal dengan mengeliminasi reservoir bakteri pada lesi
tersebt sehingga tidak terjadi repopulasi dari mikrobial plak.
5. Re evaluasi Jaringan
Setelah scalling dan root planning, jarigan periodontal membutuhkan kira kira 4
minggu untuk melakukan penyembuhan. Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan seluruh
anatomi fisik secara detail untuk mengetahui diperlukan atau tidaknya perawatan lanjutan
seperti bedah periodontal.

Jaringan periodonsium diperiksa kembali untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan


perawatan lanjutan. Saku diprobing kembali untuk menentukan apakah bedah periodontal
masih diindikasikan.

1. Krismariono, Agung. 2009. Prinsip-prinsip Dasar Scalling dan Root Planing


dalam Perawatan Periodontal. Jurnal Periodontic, Vol 1 (30-34)
2. Newman, Takei, Klokkvold, Carranza. 2012. ClinicalPeriodontology, 11th ed.
Saunders Elsevier Inc, St. Louis.

Anda mungkin juga menyukai