Anda di halaman 1dari 68

BAB 1

KONSEP MEDIA TRANSMISI

1.1

Pendahuluan
Penyampaian informasi dari sumber informasi (komunikator) ke penerima

informasi (komunikan) hanya dapat terlaksana bila ada semacam sistem alat
penghubung (media) di antara keduanya. Sistem tersebut disebut dengan sistem
transmisi. Bila jarak antara komunikator dan komunikan saling berdekatan, maka
sistem transmisi cukup dengan penggetaran udara di sekitarnya. Tetapi bila
jaraknya cukup jauh, maka dibutuhkan sistem transmisi yang lebih kompleks.
Dalam sistem telekomunikasi, suatu sistem transmisi bisa terdiri dari lebih
dari satu media transmisi, yang secara umum dibedakan menjadi 2 (dua) bagian,
yaitu : media fisik dan media non-fisik. Yang dimaksud dengan media fisik adalah
kabel (wired), yang lebih umum disebut dengan saluran transmisi (transmision
line). Media non fisik merupakan udara (yang lebih dikenal dengan wireless).
1.1.1 Definisi Saluran Transmisi
Saluran transmisi adalah setiap bentuk hubungan secara listrik, baik
berupa kawat penghantar, kabel dan lain-lain yang menghubungkan suatu sumber
sinyal ke beban. Dalam mempelajari saluran transmisi, yang menjadi
permasalahan dari jawaban diatas adalah perhitungan yang demikian kompleks,
karena teori saluran transmisi tidak semudah teori-teori pada rangkaian listrik
lainnya; meskipun bentuk saluran itu hanya berupa sepasang kawat penghantar
yang pendek. Jika sepasang kawat penghantar itu dianggap terlalu panjang, maka
dapat mengekivalenkan penghantar tersebut sebagai sekumpulan induktor dan
kapasitor.
1.1.2 Konsep Dasar Saluran Transmisi
Pada prinsipnya, konsep dasar saluran transmisi dapat digambarkan sebagai
berikut. Apabila antara sumber sinyal dan beban dihubungkan oleh suatu saluran
transmisi, maka :
1
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

(1) Arus akan mengalir di sepanjang saluran dan akan membangkitkan


medan magnet yang menyelimuti penghantar itu sendiri dan adakalanya
medan magnet ini akan saling berimpit dengan medan magnet lain yang
berasal dari kawat penghantar lain yang berasal dari kawat penghantar
lain disekitarnya. Medan magnet yang dibangkitkan oleh kawat
penghantar berarus listrik ini merupakan suatu timbunan energi yang
tersimpan dalam kawat penghatar tersebut. Gejala tersebut menyebabkan
saluran bersifat induktif.
(2) Akan terjadi beda tegangan antara ke dua kawat penghantar sehingga
membangkitkan medan listrik. Medan ini juga merupakan timbunan
energi yang mungkin juga akan terjadi tumpang tindih dengan medan
listrik lain disekitarnya. Gejala tersebut menyebabkan saluran bersifat
kapasitip.
(3) Gejala-gejala tersebut di atas akan menyebabkan terjadinya aliran energi
gelombang elektromagnetik dalam saluran transmisi.
Ketiga hal tersebut merupakan suatu alasan, bahwa saluran transmisi tidak
dapat ditangani secara mudah seperti pada rangkaian-rangkaian listrik lainnya.
1.2 Medan Elektromagnetik
Dalam saluran transmisi, adakalanya medan listrik dan medan magnet
akan selalu saling tegak lurus satu sama lain, dan gabungan anatara kedua medan
tersebut dinamakan medan elektromagnetik.
Tegangan, arus dan medan elektromagnetik saling memiliki pengaruh
secara timbal balik satu sama lain, sehingga bila pada medan elektromagnetik
mengalir mengikuti suatu kawat penghantar, serta bila karena sesuatu hal
tegangan berubah, maka medan elektromagnetik akan mengikuti perubahan itu.
Atau

sebaliknya,

apabila

ada

sesuatu

hal yang

menyebabkan

medan

elektromagnetik itu berubah, maka tegangan dan arus akan mengikutinya.


Konsentrasi medan elektromagnetik yang paling adalah pada bagian
diantara dua penghantar tersebut. Untuk maksud tertentu, daerah ini biasanya diisi

2
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

oleh suatu bahan isolator (bahan dielektrik). Parameter penting dari bahan isolator
ini adalah konstanta dielektrik (k). Harga konstanta dielektrik dari bahan isolator
ini merupakan harga relatif terhadap harga konstanta dielektrik dari ruang hampa.
Sebagai contoh harga konstanta dielektrik suatu bahan isolator pada kabel adalah
k=4, ini berarti bahwa kekuatan medan listrik pada bahan isolator itu akan
menjadi seperempat dibanding bila bahan isolator itu diganti dengan udara (ruang
hampa).
1.2.1 Cepat Rambat
Cepat rambat medan elektromagnetik di udara mendekati cepat rambat di
ruang hampa, yaitu 299.792.462 meter/detik (sekitar 3 x 108 meter/detik). Bila
gelombang tersebut merambat dalam bahan dielektrik, maka cepat rambatnya
akan lebih kecil dari harga di atas. Semakin besar harga k suatu bahan dielektrik,
maka cepat rambat akan semakin kecil. Hubungan antara kecepatan dan harga k
dapat dituliskan sebagai :
Cepat rambat (meter/detik) =

3 x10 8
k

(1.1)
Di mana k adalah konstanta dielektrik bahan isolator. Harga k ini adalah
harga relatif dibandingkan dengan konstanta dielektrik udara (ruang hampa),
sehingga harga k disini adalah tanpa satuan. Tabel 1.1 menyajikan harga konstanta
dielektrik dari beberapa material atau bahan isolator.
Bila diketahui distribusi induktansi L dan kapasitansi C, maka cepat
rambat gelombang dalam suatu saluran transmisi tanpa rugi-rugi (lossless) dapat
dinyatakan dengan persamaan (1.2)

Cepat rambat (meter/detik) =


Di mana

1
LC

(1.2)

l = panjang potongan saluran (meter)


L = induktansi total dari saluran sepanjang l (henry)
C = kapasitansi antar saluran sepanjang l (farad)

3
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

1.2.2 Frekuensi
Frekuensi menyatakan banyaknya gelombang dalam satu detik, dan
dinyatakan dengan herzt (disingkat Hz). Dalam perambatan gelombang dalam
saluran transmisi, cepat rambat dan panjang gelombang boleh jadi akan berubah
jika memasuki medium (bahan dielektrik) yang berbeda, tetapi frekuensi
gelombang akan selalu tetap tanpa pengaruh medium yang dilewatinya.
Jika periode gelombang dinyatakan dengan T (detik), maka frekuensi gelombang
tersebut merupakan kebalikan dari T, dan dinyatakan :
Frekuensi

1
(herzt )
T

(1.3)

Tabel 1.1. Konstanta Dielektrik Dan Kecepatan


Rambat Gelombang Elektromagnetik Pada Bahan Isolator
MATERIAL

KONSTANTA
DIELKTRIK (k)

Ruang hampa
Udara
Teflon
Polyethylene
PVC
Nylon
Polystyrene

1,000
1,0006
2,100
2,270
3,300
4,900
2,500

KECEPATAN
(METER/DETIK)
300 x 106
299,2 x 106
207 x 106
199 x 106
165 x 106
136 x 106
190 x 106

1.2.3 Panjang Gelombang


Panjang gelombang dari suatu gelombang elektromagnetik berbanding
lurus dengan harga cepat rambat. Bila suatu sinyal frekuensi tinggi merambat
pada suatu saluran transmisi dengan bahan dielektrik k, maka panjang
gelombangnya akan tergantung juga pada harga k dari bahan dielektrik saluran
menurut hubungan
Panjang gelombang (meter) =

300 x10 6
kxfrekuens i ( Hz )

(1.4)

4
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

1.2.4 Impedansi Karakteristik


Parameter penting yang merupakan karakterisitik dasar suatu saluran
transmisi adalah impedansi karakteristik (dinyatakan dengan Zo).
Impedansi karakteristik saluran tanpa rugi-rugi diberikan dengan persamaan
berikut :
Zo

Dimana

L
C

(1.5)

L = induktansi per satuan panjang (H/m)


C = kapasitansi per satuan panjang (F/m)

Berdasarkan pengukuran, impedansi karakteristik dinyatakan sebagai


impedansi yang diukur di ujung suatu saluran transmisi dengan menganggap
panjang saluran itu tak berhingga. Untuk kondisi ini, maka pemasangan beban
sebesar Zo di ujung lain dari saluran dengan panjang berhingga tidak akan
menimbulkan efek. Pada kondisi ini, impedansi karakteristik saluran transmisi
dapat diperoleh dari perbandingan tegangan maju dan arus maju yang menuju ke
beban pada ujung tak berhingga.
TeganganMa ju
Impedansi karakteristik (Zo) = ArusMaju

Contoh 1.1 :
Hitunglah impedansi karakteristik saluran kawat sejajar bila induktansi
setiap kawat adalah 0,25 H per meter dan kapasitansi antar kawat sebesar 30 pF
per meter.
Jawab :
Induktansi yang telah diketahui sebesar 0,25 H per meter itu adakah untuk satu
kawat. Untuk induktansi total per meter dari saluran dua kawat, maka harga di
atas harus dikalikan dua sehingga L = 0,5 H dan C = 30pF.

Zo =

L
C

5
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

0,5 x10 6
30 x10 12

= 129
1.3 Syarat Batas Medan Elektromagnetik
Syarat batas medan elektromagnetik merupakan salah satu prasyarat dalam
mempelajari suatu waveguide. Persamaan-persamaan dasar menggambarkan
sebuah fenomena, bahwa gelombang elektromagnetik diturunkan dari persamaan
Maxwell dan dua persamaan kontinyuitas. Apabila persamaan-persamaan itu
dalam bentuk persamaan diferensial, maka syarat batas harus digunakan untuk
menyelesaikan persoalan-persoalan yang khusus.
1.3.1 Syarat Batas Dielektrik ( = 0 )
Dua buah aturan dasar digunakan pada permukaan antara dua material yang
berbeda.
(1)

Komponen tangensial dari intensitas medan listrik dan intensitas medan


magnet, E dan H harus kontinyu pada batas antara dua material.

(2)

Et1 = Et2

(1.6a)

Ht1 = Ht2

(1.6b)

Komponen normal dari kerapatan fluks listrik dan fluks magnet (D dan
B) kontinyu pada batas anatara dua material. untuk = 0.
Dn2 = Dn1

(1.7a)

Bn1 = Bn2

(1.7b)

Pernyataan di atas dibenarkan oleh pemakaian hukum Faraday, hukum Gauss dan
hukum Ampere.

1.3.2 Permukaan Konduktor ( = )

6
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Apabila diasumsikan bahwa permukaannya adalah konduktor sempurna,


maka akan terlihat bahwa Et2 adalah nol sepanjang batas antara dua material.
Et1 = Et2 =0

(1.8)

Tetapi komponen normal dari intensitas medan listrik tetap ada, seperti
diperlihatkan pada gambar 1.1(a).
Apabila tidak terdapat muatan magnetik pada permukaan, maka Bn2 adalah
nol.
Oleh karena itu garis-garis gaya magnetik digambarkan suatu rangkaian
tertutup, seperti diperlihatkan pada gambar 1.1(b).
medan listrik

konduktor
(a)

medan magnet

konduktor
(b)

Gambar 1.1. Syarat Batas Permukaan konduktor


1.4 Mode Gelombang
Mempelajari tentang persoalan transmisi energi dari suatu titik ke titik
yang lain dengan menggunakan sepasang konduktor merupakan persoalan
mendasar yang harus diketahui. Banyak jenis media transmisi yang digunakan
dalam perambatan suatu energi gelombang elektromagnetik, dimana dengan
adanya kondisi syarat batas akan menentukan mode gelombang yang
dirambatkan. Selanjutnya pada bagian ini adalah akan membahas beberapa cara
(mode) dari transmisi energi.

7
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Untuk memahami yang lebih mendalam tentang bentuk dari transmisi


energi, akan lebih mudah bila melalui pemahaman tentang saluran transmisi. Oleh
karena itu, kita harus mengenal konsep-konsep dasar dari saluran transmisi.
Sebagai langkah awal untuk memulainya, marilah kita lihat persoalan
klasik suatu medan dari saluran transmisi, dengan sudut pandang yang agak lebih
dari sekedar sebuah rangkaian. Dari dasar teori medan, telah kita ketahui bersama
bahwa akan terdapat hubungan anatara medan listrik dan medan magnit, dengan
tegangan dan arus seperti ditunjukkan pada gambar 1.2(a).

E
B

Arah rambat G.E.M

(a)

(b)

Gambar 1.2. Gelombang Berjalan pada Saluran Transmisi dari kawat terbuka
Dari sudut pandang ini, kita melihat bahwa medan listrik dan medan
magnit tampak berjalan bersama pada kecepatan yang sama dalam medium.
Sehingga kawat hanya akan membimbing gelombang dalam arah tertentu.
Gambar dari medan listrik dan medan magnit jika dilihat secara melintang dari
ujung-ujung kawat ditunjukkan dalam ganbar 1.2(b). Gelombang seperti itu,
mempunyai ciri tidak ada medan listrik dan medan magnit dalam arah rambatan
gelombang. Mode seperti ini disebut mode TEM (transverse electric and
magnetic), yaitu medan listrik dan medan magnit yang melintang dari arah
rambatan. Apabila medan listrik saja yang melintang dari arah rambatan, maka
mode seperti ini disebut mode TE (transverse electric). Dan apabila medan
magnitnya saja yang melintang dari arah rambatan, maka mode ini disebut mode

8
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

TM (transverse magnetic). Mode TE dan TM akan dapat terjadi didalam suatu


pipa berongga pemandu gelombang (waveguide), seperti pada gambar 1.3.
Z
Z

Y
X
Z
(a)
Bumbung Gelombang Bentuk Persegi
Silinder
(mode TE)

(b)
Bumbung Gelombang Bentuk
(mode TM)

Gambar 1.3. Bentuk Gelombang Terbimbing

1.5 Terminasi dan Refleksi


Jika suatu sumber (generator) mengirimkan gelombang ke beban melalui
suatu saluran transmisi, maka akan terjadi dua kemungkinan pada saat gelombang
tersebut sampai pada beban, yaitu diterminasi di beban atau direfleksi
(dipantulkan) lagi oleh beban ke sumber.
Bila impedansi beban tepat sama dengan impedansi karakteristik saluran,
maka seluruh gelombang yang datang ke beban itu akan diserap seluruhnya oleh
beban. Tetapi bila impedansi beban tidak sama dengan impedansi karakteristik
saluran, maka sebagian atau seluruh gelombang tersebut yang datang ke beban itu
akan dipantulkan menuju sumbernya semula. Besarnya sinyal yang kembali
menuju sumber ini tergantung pada bagaimana ketidaksamaan antara impedansi
karakteristik saluran terhadap impedansi beban. Perbandingan level tegangan yang
datang menuju beban dan yang kembali ke sumbernya lazim disebut koefisien
refleksi dan dinyatakan dengan simbol . Harga koefisien refleksi ini dapat

9
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

bervariasi antara 0 (tanpa pantulan) sampai 1, yang berarti sinyal yang datang ke
beban seluruhnya dipantulkan kembali ke sumbernya.

Vrefleksi
Vmaju

(tanpa satuan)

(1.9)
Hubungan antara koefisien refleksi, impedansi karakteristik dan impedansi beban
dapat ditulis
ZL Zo
ZL Zo

=
Dimana :

(1.10)

Zo = impedansi karakterisitk saluran ()


ZL = impedansi beban ()

Contoh 1.2 :
Suatu saluran transmisi mempunyai Zo = 200 , ZL = RL = 300 ,
tegangan maju (tegangan yang merambat menuju beban) V+ = 100 mV. Berapakah
koefisien refleksi, tegangan yang direfleksikan serta tegangan pada beban ?
Jawab :
Dari persamaan (1.7) :
Z L Z o 300 200

0,2
= Z L Z o 300 200

Sehingga tegangan refleksi dapat dicari dengan persamaan (1.6) seperti berikut
ini:
V- = V+
= 0,2 x 100 mV
= 20 mV
Tegangan di beban dapat dihitung :

10
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

VL = V+ + V - = 100 mV + 20 mV = 120 mV
Daya input (daya datang atau daya yang dikirimkan ke arah beban) dapat dihitung
sebagai berikut :
(V ) 2
P+ = V+ . I+ = Z o

(0,1) 2
= 200

= 0,05 mW
Daya yang dipantulkan kembali ke arah sumber dapat pula dihitung sebagai :
P- = 2 . P+
= (0,2)2 x 0,05 mW
= 0,002 mW
Sehingga daya yang diserap oleh beban adalah :
PL = P+ - P = 0,05 mW 0,002 mW
= 0,048 mW.
SOAL-SOAL :
1.

Jelaskan yang anda ketahui tentang saluran transmisi dan berilah beberapa
contoh tentang saluran transmisi yang umum digunakan dalam sistem
telekomunikasi.

2.

Hitunglah cepat rambat gelombang elektromagnetik yang merambat pada


medium dielektrik dengan k = 2,50.

3.

Hitunglah panjang gelombang di udara dari frekuensi-frekuensi berikut


ini : 45 KHz, 46 MHz, 5,8 GHz, 35,4 GHz.

4.

Ulangi soal 3, bila gelombang tersebut merambat pada bahan dielektrik


dengan k = 3,20.

5.

Saluran transmisi diketahui mempunyai induktansi total sebesar 0,50 H


per meter dan kapasitansi 40 pF per meter. Hitunglah harga impedansi
karaktersitik saluran tersebut.

11
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

6.

Suatu saluran transmisi dengan Zo = 50 , ZL = RL = 75 , tegangan


maju V+ = 12,50 volt. Hitunglah besar koefisien refleksi, tegangan yang
direfleksikan serta tegangan pada beban.

12
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

BAB 2
PRINSIP SALURAN TRANSMISI DAN WAVEGUIDE

2.1 Rangkaian Ekivalen


Rangkaian ekivalen suatu saluran transmisi tanpa rugi-rugi (lossless) dapat
digambarkan dengan terdisrtibusinya rangkaian induktansi L1, L2, L3, seri dan
kapasitansi C1, C2, C3, paralel, seperti ditunjukkan dalam gambar 2.1 di bawah.
Kedua macam komponen itu terdistribusi secara merata sepanjang saluran
transmisi. Arus yang mengalir di sepanjang saluran transmisi akan menimbulkan
suatu medan magnet di sepanjang saluran, yang kemudian karena adanya medan
magnet itu, maka akan timbul pula suatu tegangan induksi sebesar

L.di/dt.

Induktansi ini juga terdistribusi merata sepanjang saluran, dengan satuan Henry
per meter. Sedangkan kapasitansi yang terdistribusi merata sepanjang saluran itu
dapat dibayangkan sebagai kapasitansi yang timbul karena dua konduktor pada
saluran transmisi letaknya sejajar satu sama lain.
L1

L2

L3

I
C1

I
C2

C3

Gambar 2.1. Rangkaian Ekuivalen Saluran Transmisi

Jika suatu saluran transmisi dikatakan mempunyai rugi-rugi (lossy), maka


selain mempunyai memiliki L dan C, juga memiliki resistansi R yang seri dengan
L dan konduktansi G yang paralel dengan C. Resistansi R di sini dapat
digambarkan sebagai rugi-rugi konduktor sebagai bahan saluran transmisi.
Koduktansi G digambarkan sebagai rugi-rugi

bahan isolator (dielectric loss)

antara kedua buah kawat penghantar pada saluran transmisi.

13
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

2.2 Saluran Transmisi Beban Sesuai (Match)


Suatu saluran transmisi tanpa rugi-rugi (lossless) jika pada ujung beban dipasang
beban dengan impedansi RL yang harganya sama dengan impedansi karakteristik
saluran Zo, maka gelombang dari sumber (generator) yang dikirimkan ke beban
tidak akan dipantulkan oleh beban. Dengan kata lain, semua energi yang
dikirimkan oleh sumber ke baban semuanya diserap oleh beban.
Sebagai contoh saluran transmisi dengan beban sesuai (match) dapat dilihat pada
gambar 2.2 di bawah ini
RS = 50
100
V

Vinput

Z0 = 50
(a)

RL = 50

Rs = 50
100 V

Z0 = 50
(b)

50
V

Gelombang berjalan
Waktu
(c)

1A

Gelombang berjalan
Waktu
Panjang
Lintasan

(d)
Gambar 2.2. Saluran Transmisi dengan Beban Sesuai
Sumber membangkitkan gelombang sebesar 100 V dengan tahanan dalam
generator Rs = 50 . Sumber tersebut dihubungkan oleh suatu saluran transmisi
dengan impedansi karakteristik Zo = 50 ke suatu beban dengan impedansi RL =
50 . Bila rangkaian pada gambar 2.2(a) diamati, maka Zo = Rl = 50 , sehingga

14
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

dapat dikatakan bahwa saluran transmisi dalam keadaan sesuai (match).


Perhitungan selanjutnya dapat dilakukan sebagai berikut :

Zo
50

V
100V 50V
R Zo
50 50
Vinput = s

Sedangkan arus input yang mengalir dalam saluran transmisi dari sumber
dinyatakan dengan :

1
1

Vsumber
100V 1A
50 50
Iinput = 50 50

Daya yang siap dikirimkan ke beban :


Pinput = Vinput Iinput = 50 W
Sekarang gelombang yang merambat pada saluran transmisi dari sumber ke beban
V+ = Vinput sebesar 50 V atau I+ = Iinput sebesar 1 A. Koefisien pantul di ujung beban

= 0, sehingga tegangan pantul V- = 0 dan arus pantul I - = 0. Artinya tidak akan


terjadi gelombang pantul di ujung beban dan semua energi akan diserap oleh
beban.
Untuk membuktikan hal yang demikian ini, terlebih dahulu harus
menghitung daya yang diserap beban sebagai berikut.
Tegangan di beban VL dan arus di beban IL adalah :
VL = V+ + V - = 50 V, dan
IL = I+ + I - = 1A.
Maka adaya yang diserap oleh beban PL dapat dihitung :
PL = VL IL = 50 W.
Dari perhitungan di atas harga Pinput = PL, yang menunjukkan semua daya diserap
dengan oleh baban dengan sempurna.
2.3 Saluran Transmisi Beban Tidak Sesuai (Missmatch)

15
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Sekarang bagaimana jika impedansi beban yang dipasang tidak sama


dengan impedansi karakteristik saluran. Jawabannya sudah jelas sebagian energi
akan dipantulkan oleh beban.
Sebagai contoh saluran transmisi dengan beban tidak sesuai (missmatch)
dapat dilihat pada gambar 2.3 di bawah ini. Sumber membangkirkan gelombang
100 V dengan tahanan dalam generator Rs = 35 . Sumber tersebut dihubungkan
oleh suatu saluran transmisi dengan impedansi karakteristik Zo = 75 ke suatu
beban dengan impedansi juga RL = 105 .
RS = 35
100
V

Vinput

RL =105

Z0 = 75

(a)

Rs = 35
100 V

Z0 = 75

(b)
V+ = 68,2 V
(c)
V - = 11,4 V
(d)

Gambar 2.3 Saluran Transmisi Beban Tak Sesuai


Contoh di atas, bila diamati maka Zo RL, dapat dikatakan bahwa saluran
transmisi dalam keadaan tidak sesuai (missmatch). Maka selanjutnya dapat
dianalisa sebagai berikut :

Zo
R Zo
Vinput = s

75
100V 68,2V
75 35

16
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Koefisien pantul di beban adalah


Z L Z o 105 75

0,167
Z

Z
105

75
L
o
=

Sekarang gelombang V+ = Vinput sebesar 68,2 V yang ditransmisikan ke baban.


Pada saat sampai di beban tegangan pantul V- adalah
V- = V+ = (0,167)(68,2 V) = 11,4 V.
Artinya dalam saluran akan terjadi gelombang pantul 11,4 V di ujung beban dan
gelombang ini kembali ke sumber (generator)
2.4 Saluran Transmisi Beban Hubung Singkat
Suatu saluran transmisi tanpa rugi-rugi (lossless) jika pada ujung beban
dihubung singkat (short circuit), artinya impedansi RL = 0, maka gelombang dari
sumber (generator) yang dikirimkan ke beban akan dipantulkan semuanya oleh
beban. Atau dengan kata lain, semua energi yang dikirimkan oleh sumber ke
beban semuanya tidak ada yang diserap oleh beban.
Sebagai contoh saluran transmisi dengan beban hubung singkat dapat
dilihat pada gambar 2.4 di bawah ini. Sumber membangkitkan gelombang 100 V
dengan tahanan dalam generator Rs = 50 . Sumber tersebut dihubungkan oleh
suatu saluran transmisi dengan impedansi karakteristik Zo = 50 ke suatu beban
yang dihubung singkat (RL = 0).
Dan selanjutnya dapat dianalisa sebagai berikut :

ZO
R ZO
Vinput = S

50
100V 50V
50 50

1
1

Vsumber
100V 1A
50 50
Iinput = 50 50

Pinput =

Vinput I input 50W

17
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

RS = 50
100
V

Vinput

Z0 = 50
(a)

Rs = 50
100 V

Z0 = 50

(b)

50
V

V+
0

V-

50V
50V

V+ - V Panjang
Saluran
(c)

2
A

I1

I+

A
(d)
0 2.4 Saluran Transmisi Beban Hubung Singkat
Gambar

Sekarang gelombang V+ = Vinput sebesar 50 V atau I+ = Iinput sebesar 1 A yang


ditransmisikan ke baban. Besarnya koefisien pantul di beban :
RL Z o 0 75

1
R

Z
0

75

L
o
=
18
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Tegangan pantul V- dan arus pantul I - di beban adalah


V - = V+ = -50V
I - = - I+ = 1A
Untuk membukktikan bahwa semua energi dikembalikan oleh beban, maka harus
dibuktikan daya yang diserap beban PL = 0 sebagai berikut.
Tegangan di beban VL dan arus di beban IL adalah :
VL = V+ + V - = 0 , dan
IL = I+ + I - = 2A.
Maka adaya yang diserap oleh beban PL dapat dihitung :
P L = V L IL = 0
Dari perhitungan di atas harga = PL = 0, artinya tidak ada daya yang diserap oleh
baban dan semua energi dikembalikan oleh beban ke sumber.
2.5 Saluran Transmisi Beban Terbuka
Jika pada ujung suatu saluran transmisi tanpa rugi-rugi (lossless) dibuka
(open circuit), artinya impedansi RL = , maka gelombang dari sumber
(generator) yang dikirimkan ke beban juga akan dipantulkan semuanya oleh
beban.
Sebagai contoh saluran transmisi dengan beban sesuai dapat dilihat pada gambar
2.5 di bawah ini. Sumber membangkirkan gelombang 100 V dengan tahanan
dalam generator Rs = 50 . Sumber tersebut dihubungkan oleh suatu saluran
transmisi dengan impedansi karakteristik Zo = 50 dengan ujung dibuka, RL = .
Seperti pembahasan sebelumnya :
Vinput = 50 V; Iinput = 1 A, dan Pinput = 50 W

19
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Besarnya koefisien pantul di beban :


RL Z0

RL Z o

lim

x 75
1
x 75

Tegangan pantul V- dan arus pantul I - di beban adalah


V - = V+ = 50V
I - = - I+ = -1A
RS = 50
100
V

Vinput

RL = (terbuka)

Z0 = 50

(a)

Rs = 50
100 V

Z0 = 50

(b)

100
V

V+

50
V
100
V
0

V+-V-

50
V

Panjang
Saluran
(c)

10A

I+

0
-1 A

I-

1A

I+ - I -

Panjang
Jurusan Teknik Elektro Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta
Saluran

20

(d )
Gambar 2.5. Saluran Transmisi Ujung Terbuka
Tegangan di beban VL dan arus di beban IL adalah :
VL = V++ V - = 100 V, dan
IL = I + + I - = 0
Maka adaya yang diserap oleh beban PL dapat dihitung :
P L = V L IL = 0
2.6 Impedasi Imput
Suatu saluran transmisi dengan impedansi karakterisitik Zo dihubungkan
dengan beban dengan impedansi ZL seperti pada gambar 2.6, maka impedansi
terukur pada jarak l dari beban mempunyai harga tertentu. Impedansi ini disebut
dengan impedansi input saluran yang disimbulkan dengan Zin

Zin

Z0

ZL

l
Gambar 2.6 Impedansi Input

Rumusan impedansi input dapat dinyatakan dengan :

Zin =

Zo

Z L jZ o tan l
Z o jZ L tan l

(2.1)

21
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Dimana, merupakan konstanta propagasi ( = 2) dan panjang saluran l


dinyatakan dalam panjang gelombang ().

Keadaan-keadaan istimewa ditinjau dari saluran transmisi :


Z 02
1). Untuk l = /4 Zin = Z L

2). Untuk l = /2 Zin = ZL


3). Untuk l =

Zin = ZL

Keadaan-keadaan istimewa ditinjau dari beban :


1). ZL = ZO Zin = ZO
2). ZL = 0 Zin = Zin (sc) = jZO tan l

(short circuit)

3). ZL = Zin = Zin (oc) = -jZO ctg l

(open circuit)

Dari dua persamaan terakhir dapat diperoleh :


ZO2 = Zin (sc) . Zin (oc)
Contoh 2.1 :
Hitunglah impedansi input dari gambar di bawah ini, bila diketahui Zo = 50 , dan
frekuensi kerja = 3 GHz),
Untuk a) ZL = 0
b) ZL = 70 dan
c) ZL = 73 + j42

Zin

Zo

ZL

11 cmMuhammadiyah Yogyakarta
Jurusan Teknik Elektro Universitas

22

Jawab :
3.10 8
2
2
10cm l
l
11cm 2,2
9

10
= 3.10

Dinyatakan bahwa

a). Zin =
b). Zin =
c). Zin =

Zin =

Zo

Z L jZ 0 tan l
Z o jZ L l , maka :

50

0 j tan 2,2
j 36,3
50

50

70 j 50 tan 2,2
(52,6 j17)
50 j 70 tan 2,2

50

(73 j 42) j 50 tan 2,2


(87,3 j 36,7)
50 j (73 j 42) tan 2,2

2.7 Voltage Standing Wave Ratio (VSWR)


Bila saluran transmisi dengan beban tidak sesuai (missmatch), dimana Zo
RL, dan gelombang dibangkitkan dari sumber secara kontinyu, maka dalam
saluran transmisi selain ada tegangan datang V+ juga terjadi tegangan pantul V-.
Akibatnya, dalam saluran akan terjadi interferensi antara V+ dan V- yang
membentuk gelombang berdiri (standing wave).
Suatu parameter baru yang menyatakan kwalitas saluran terhadap
gelombang berdiri disebut dengan Voltage Standing Wave Ratio (VSWR).
Voltage Standing Wave Ratio (VSWR) didefinisikan sebagai perbandingan
(atau ratio) antara tegangan rms maksimum dan minimum yang terjadi pada
saluran yang tidak match, sehingga dapatlah dituliskan :
Vmaks

VSWR = Vmin

23
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

V V

V V

VSWR =

1 V

1 V

1 L
; dimana :
1 L

1 L
1 L

ZL Zo
ZL Zo

(2.2)

Untuk saluran yang match (ZO = ZL), dimana tidak terdapat gelombang pantul,
atau Vmaks = Vmin , atau juga L = 0, maka VSWR = 1.
Beberapa keadaan istimewa ditinjau dari beban :
ZL = 0 (short circuit) VSWR =
ZL = ZO (matched)

VSWR = 1

ZL = (open circuit) VSWR =


Pada suatu saluran transmisi tanpa rugi-rugi, tegangan yang dikirim dan tegangan
refleksi memiliki hubungan sebagai :
V- =
L V +
Dengan demikian perbandingan daya yang dikirimkan dengan daya pantul adalah:
DAYA.REFLEKSI
P (V ) 2 / R

DAYA. ARAH .MAJU P
(V ) 2 / R

(LV )2 / R
L2
=
(V ) 2 / R

Dari persamaan (2.2) dapatlah kita cari hubungan antara koefisien pantul dan
VSWR sebagai berikut :

L =

VSWR 1
VSWR 1

24
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Dengan menggantikan harga


L di atas, maka perbandingan antara daya kirim
dan daya pantul akan menjadi :

POWER.REFLECTED VSWR 1

POWER.INCIDENT
VSWR 1

Tabel 2.1 Hubungan antara VSWR, Daya Refleksi dan Daya Kirim

VSWR

Daya Refleksi
(%)
2
x100
=

Daya Kirim
(%)
2
1 x100
=

=
1.0
1.1
1.2
1.5
2.0
3.0
4.0
5.0
5.83
10.0

VSWR 1
X 100
VSWR 1

0.0
0.2
0.8
4.0
11.1
25.0
36.0
44.4
50.0
66.9

100.0
99.8
99.2
96.0
88.9
75.0
64.0
55.6
50.0
33.1

Contoh 2.2 :
Suatu gelombang dengan level puncak 100 Volt dihubungkan ke salah satu ujung
dari suatu saluran transmisi. Karena beban yang terpasang pada ujung yang lain
dari saluran itu ternyata tidak sesuai, maka tegangan yang diserap oleh beban
hanya 80 Volt peak, sedangkan sisanya sebesar 20 Volt peak akan dipantulkan
kembali ke saluran yang selanjutnya terus kembali ke generator. Gelombang
berdiri (Standing Wave) yang terjadi didalam saluran akan memiliki harga
maksimum sebesar :
25
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Vmaks = (100 Vpeak + 20 Vpeak) = 120 Vpeak


Sedangkan harga minimumnya adalah selisih kedua tegangan tadi, yaitu sebesar :
Vmin = (100 Vpeak - 20 Vpeak) = 80 Vpeak
Dengan demikian perbandingan gelombang berdiri (VSWR) akan menjadi
sebesar :
VSWR =

Vmax 120

1,50
Vmin
80

Contoh 2.3 :
Berapakah perbandingan gelombang berdiri (VSWR) dan koefisien pantulan, bila
suatu antenna dengan impedansi sebesar 24 dihubungkan ke suatu saluran yang
memiliki impedansi karakteristik sebesar (a) 60 ; (b) 150 .
Jawab :
(a) Koefisien pantulan adalah
Z L Z O 24 60

3
7
Z

Z
24

60
O
= L

sehingga perbandingan gelombang berdiri akan menjadi sebesar :

1
VSWR =

1 3

7 2,5
1 3
7

(b) Besarnya koefisien pantulan adalah :


Z L Z O 150 60 3

7
Z

Z
150

160
L
O
=

dan perbandingan gelombang berdiri adalah :


VSWR =.

1
1

1 3

7 2,5
1 3
7
26

Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

BAB 3
TIPE SALURAN TRANSMISI
Di era yang semakin maju dan modern ini teknologi informasi akan
semakin berkembang pesat termasuk unsur unsur pendukung dari sistem
komunikasi seperti media transmisi yang digunakan untuk menghantarkan
informasi. Dimana media transmisi mengalami kemajuan dalam hal kualitas
dalam menghantarkan informasi dari sumber informasi ke tujuan.
Internet kabel menggunakan media kabel koaksial sebagai media
aksesnya. Asalnya kabel koaksial ini hanya digunakan untuk menyalurkan signal
TV saja. Signal TV ini menggunakan alokasi frekuensi 6Mhz (standard NTSC)
atau 7 atau 8Mhz (standard PAL), sehingga dalam satu kabel dapat disalurkan
berpuluh siaran TV. Umumnya spektrum frekuensi yang digunakan untuk signal
TV berkisar antara 111Mhz - 450 Mhz, padahal kabel koaksial ini mampu
membawa frekuensi hingga 1000 Mhz. Frekuensi yang tidak terpakai inilah yang
kemudian digunakan untuk membawa signal data, dan dibawa pada frekuensi 550
Mhz.
Traffic yang terjadi pada pelanggan kabel modem umumnya bersifat
asimetrik. Trafik downstream bersifat lebih besar daripada trafik upstreamnya, hal
ini umum terjadi pada traffic Internet. Trafik downstream memakai besar
frekuensi 6 Mhz dan dimodulasi dengan 64QAM, sehingga bandwidth yang
didapat sekitar 6Mhz x 6 (banyaknya bit dlm 64QAM) x FEC x overhead =

27
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

27Mbps. Bandwidth sebesar ini dishared bersama-sama dengan pengguna lainnya.


Sedangkan di sisi upstream, besar frekuensi yang digunakan bervariasi antara
200Khz, 400, Khz, 800 Khz, 1600 Khz, dan 3200 Khz. Apabila 800Khz yang
digunakan maka besar bandwidth yang didapat sekitar 800Khz x 4 (banyaknya bit
dalam QPSK) x overhead x FEC = 2700 Kbps
I. Pengertian.
Kabel merupakan suatu media penghantar dimana umumnya data mengalir
dari satu piranti rangkaian ke satu peranti rangkaian yang lain. Terdapat beberapa
jenis kabel yang biasa digunakan di dalam Local Area Network (LAN). Terdapat
beberapa kondisi di mana rangkaian hanya mengijinkan satu jenis kabel saja yang
dapat digunakan, namun terdapat juga situasi ataupun kondisi di mana kombinasi
lebih dari satu jenis kabel dibenarkan.
Pemilihan jenis-jenis kabel adalah berhubungan erat dengan topologi,
protokol dan ukuran rangkaian. Memahami kriteria-kriteria berbagai jenis kabel
yang berlainan dan kaitannya dengan berbagai aspek lain di dalam rangkaian
adalah perlu untuk perkembangan sistem rangkaian yang modern.
Di antara jenis-jenis kabel yang digunakan di dalan rangkaian ialah seperti:
1. Kabel Berpasangan Tanpa Pelindung (Unshielded Twisted Pair - UTP)
2. Kabel Berpasangan Dengan Pelindung (Shielded Twisted Pair - STP)
3. Kabel Sepaksi (Coaxial )
4. Kabel Fiber Optik
Braided outer conductor
Kabel Koaksial (Coaxial).
Copper Core

Protective plastic covering

28
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Insulating Material

Gambar 3.1. Kabel Koaksial (Coaxial).


Kabel koaksial ini mempunyai satu kawat tembaga yang berfungsi sebagai
media penghantar elektrik yang terletak di tengah-tengah. Satu lapisan plastik
berfungsi sebagai pemisah terhadap kawat tembaga yang berada di tengah-tengah
itu dengan satu lapis pintalan besi. Pintalan besi ini berfungsi sebagai penghalang
terhadap gangguan dari cahaya florensen, komputer dan sebagainya.
Walaupun pengkabelan koaksial agak sulit untuk pemasangannya, namun
ia sangat peka terhadap datangnya sinyal. Selain itu, ia dapat menampung
pengkabelan yang lebih panjang terhadap rangkaian dengan peranti-peranti lain
dibandingkan dengan kabel lapis pasangan berpintal.
Kabel koaksial yang tipis juga dikenal sebagai thinnet.10Base2 yang
berarti memiliki spesifikasi untuk fungsi kabel koaksial tipis yang dapat
membawa sinyal Ethernet. Angka 2 berarti menerangkan panjang untuk panjang
maksimal yaitu 200 meter. Kabel koaksial yang tipis ini adalah umumnya
digunakan di dalam rangkaian yang terdapat di sekolah-sekolah.
Kabel koaksial yang tebal juga dikenal sebagai thicknet. 10Base5 yang
berarti memiliki spesifikasi untuk fungsi kabel koaksial tebal yang dapat
membawa isyarat Ethernet. Angka 5 mewakili panjang maksimal yaitu 500 meter.
Kabel koaksial ini mempunyai penutup (cover) plastik yang berfungsi sebagai
penahan kelembapan dari bahan konduktor yang berada di tengah-tengah. Hal Ini
menjadikan ia mampu menampung gelombang yang lebih besar terutama pada
topologi linear bus. Namun begitu, kekurangan kabel ini ialah ia sangat sukar
untuk dibengkokkan dan ini turut menyulitkan proses pemasangan(installasi).
Kabel koaksial terbagi menjadi :
1. Kabel koaksial Baseband.

29
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

2. Kabel koaksial Broadband.

Gambar 3.2. Kabel Sepaksial (Coaxial Cable 50 Ohm).


Kabel koaksial Baseband
Kabel koaksial memiliki perlindungan yang lebih baik dibandingkan dengan
twisted pair. Ada 2 jenis kabel koaksial :
1. 50 Ohm untuk transmisi digital.
2. 75 Ohm untuk transmisi analog.
Selain itu kabel koaksial juga memiliki noise immunity yang lebih baik di
bandingkan dengan kabel twisted pair.
Sedangkan kemampuan untuk menghantarkan data yaitu sebesar 1 ~ 2 Gbps untuk
panjang kurang lebih 1 Km
Kabel koksial Broadband
Umumnya kabel jenis ini digunakan dalam dunia telepon (bekerja dengan
frekuensi lebih besar dari 4 Khz). Sedangkan kegunaanya di dunia computer yaitu
berfunsi sebagai penyalur sinyal analog
Karena kabel jenis ini menggunakan standar kawat televisi maka dapat digunakan
hingga 300 MHz (450 MHz) dengan panjang 100 Km
Broadband berarti meliputi daerah yg luas yang berarti perlu amplifier analog
sebagai penguatnya. Sedangkan amplifier analog bekerjanya 1 arah yang berarti
perlu 2 arah pengiriman.
Penyambungan Kabel Koaksial
Penyambung yang paling sesuai digunakan dengan kabel koaksial ialah BayoneNeil-Councelman (BNC). Adapter yang berlainan disediakan untuk penyambung
BNC dan ini termasuk T-connector, barrel connector dan saklar.

30
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Penyambung kabel adalah piranti paling lemah bagi sesuatu rangkaian.


Untuk menghindari masalah di kemudian hari dengan rangkaian, cukup
menggunakan BNC yang mudah dikaitkan dan bukan dibautkan pada kabel.
II. Kabel Twisted Pair
adalah kawat tembaga yang di lilit untuk mengurangi gangguan listrik.
Kabel jenis ini biasanya digunakan untuk sistem telepon karena murah dan andal,
dimana kabel ini dapat dipasang hingga jarak beberapa Km tanpa repeater.

Gambar 3.3. Twisted Pairs


Dimana hubungan pasangan antar kabel yaitu :
Kabel 1 dan 2 terhubung berpasangan dengan ujung keluaran 3 dan 6
Kabel 3 dan 6 terhubung berpasangan dengan ujung keluaran 1 dan 2
Kabel 4 dan 5 terhubung berpasangan dengan ujung keluaran 4 dan 5
Kabel 7 dan 8 terhubung berpasangan dengan ujung keluaran 7 dan 8
Kabel Twisted Pair terbagi menjadi dua, yaitu :
Kabel twisted pair dengan lapisan pelindung
Kabel Twisted pair tanpa lapisan pelindung
II.a. Kabel Twisted Pair Tanpa Pelindung (UTP).

31
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Gambar 3.4. Kabel Twisted Pair Tanpa Pelindung (UTP)


Kabel Berpasangan (Twisted Pair) hadir di dalam dua bentuk yaitu
berlapis

(shielded)

dan tidak berlapis (unshielded).

Kabel

Berpasanan

tidak berlapis (unshielded twisted pair- UTP) merupakan jenis kabel yang paling
mudah ditemui dan umumnya digunakan pada instansi instansi pendidikan.
Kualitas kabel UTP berbeda dari kabel telepon, Kabel UTP mempunyai empat
pasang kawat di dalamnya dan setiap pasang berpinlin dengan jumlah pilinan
yang berlainan bagi setiap inci untuk membantu menyingkirkan gangguan dari
pasangan kawat yang hampir atau dari peranti bereletrik yang lain.
EIA/TIA(Electronic

Industry

Association/Telecommunication

Industry

Association) telah menyetadarkan mutu, dan standard UTP dan memberikan lima
kategori utama.
Penyambungan Kabel Tidak Belapis Berpasangan Berpintal
( Unshielded Twisted Pair Connector)
Penyambung yang paling sesuai untuk kabel berpasangan tidak berlapis
ialah RJ-45 connector. RJ berarti Registered Jack yang mana nama tersebut
diambil dari penyambungan kabel telpon. RJ-45 connector merupakan
penyambung yang dibuat dari plastik dan berguna untuk menyambung kabel
telepon. Satu slot difungsikan hanya untuk penyambungan dari satu sisi saja.

32
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Gambar 3.5. Penyambungan Kabel Tidak Belapis Berpasangan Berpintal


( Unshielded Twisted Pair Connector)
II.b. Kabel Twisted Pair Berlapis Berpintal
Satu kekurangan kabel UTP ini ialah ia mudah terpengaruh dengan
gelombang frekuensi radio dan alat elektrik yang lain. Kabel berlapis pasangan
berpintal ini sangat sesuai untuk daerah yang mempunyai banyak gelombang
frekuensi alat elektrik. Namun begitu, banyaknya gangguan akan menjadikan
kabel ini cepat rusak. Kabel jenis ini sesuai digunakan pada rangkaian yang
menjalankan topologi Gelang Token.
III. Kabel Fiber Optik
Outer PVC jacket

Kevlar Yam Streght Member

Central PVC Tube

Actual Optical Fiber

Gambar 3.6. Kabel Fiber Optik


Pendahuluan

33
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Perkembangan dan penerapan teknologi telekomunikasi dunia yang


berkembang dengan cepat, secara langsung ataupun tidak langsung akan
mempengaruhi perkembangan sistem telekomunikasi Indonesia. Beroperasinya
satelit telekomunikasi Palapa dan kemudian pemakaian SKSO (Sistem
Komunikasi Serat Optik) di Indonesia merupakan bukti bahwa Indonesia juga
mengikuti dan mempergunakan teknologi ini di bidang telekomunikasi.
Tidak disangkal lagi bahwa serat optik akan memberikan kemungkinan
yang lebih baik bagi jaringan telekomunikasi. Serat optik adalah salah satu media
transmisi yang dapat menyalurkan informasi dengan kapasitas besar dengan
keandalan yang tinggi. Berlainan dengan media transmisi lainnya, maka pada
serat optik gelombang pembawanya tidak merupakan gelombang elektromagnet
atau listrik, akan tetapi merupakan sinar/cahaya laser.
Sistem telekomunikasi ini sebenarnya sudah diteliti sejak lama, tetapi
karena banyaknya kesulitan atau hambatan yang timbul terutama di dalam usaha
menghilangkan kotoran dalam pembuatan serat optik. Kotoran di dalam serat
optik dapat mengakibatkan rugi-rugi transmisi dan dispersi yang tidak sempurna.
Sebagaimana namanya maka serat optik dibuat dari gelas silika dengan
penampang berbentuk lingkaran atau bentuk-bentuk lainnya. Pembuatan serat
optik dilakukan dengan cara menarik bahan gelas kental-cair sehingga dapat
diperoleh serabut/serat gelas dengan penampang tertentu. Proses ini dikerjakan
dalam keadaan bahan gelas yang panas. Yang terpenting dalam pembuatan serat
optik adalah menjaga agar perbandingan relatif antara bermacam lapisan tidak
berubah sebagai akibat tarikan. Proses pembungkusan seperti pemberian bahan
pelindung atau proses pembuatan satu ikat kabel yang terdiri atas beberapa buah
hingga ratusan kabel pengerjaannya tidak berbeda dengan pembuatan kabel biasa.
Para peneliti Lucent hari Kamis (28/06) menemukan bahwa sehelai serat optik
ternyata mampu mengirimkan informasi 10 kali lebih banyak dari yang selama ini
diperkirakan. Tim di Bell Labs mengungkapkan bahwa secara teori ternyata
dimungkinkan mengirimkan sekitar 100 terabit data, atau sekitar 20 milyar e-mail
satu halaman, secara simultan lewat sehelai serat optik. Sebagai pembanding,
sistem optik komersial saat ini hanya mampu mengirim data di bawah 2 terabit

34
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

per detik. Sedangkan percobaan di laboratorium menunjukkan laju transmisi yang


dapat dicapai adalah sebesar 10 Terabytes per second (Tbps).
Sejauh ini para ilmuwan kesulitan menghitung seberapa besar informasi,
secara teoritis, yang dapat dikirimkan melalui serat optik karena bentuk optik-nya
sendiri membuat pengiriman data mudah sekali mengalami ketidakteraturan.
Dalam melakukan risetnya, Bell Laps meneliti sistem telekomunikasi yang
menggunakan

wavelength

division

multiplexing

--suatu

teknik

untuk

meningkatkan kapasitas sehelai serat-- dan memperkirakan seberapa banyak


informasi yang dapat dikirim dari transmitter ke receiver. Menurut Lucent, bila
signal yang dikirim memiliki tenaga terlalu kecil, maka signal itu akan terganggu
atau dikalahkan "keramaian" sistem, sebaliknya bila signal terlalu kuat, maka dia
akan berbaur dan mengganggu signal lain. Namun dengan kekuatan dan panjang
gelombang tertentu, para peneliti memastikan bahwa, secara teoritis, serat optik
dapat mengirim 100 terabit data per detik tanpa mengalami gangguan atau
mengganggu.
Kabel Fiber Optik memiliki suatu inti yang dibuat daripada kaca yang
terletak di tengah-tengah. Ia dikelilingi oleh beberapa lapisan bahan pelindung. Ia
menghantarkan cahaya dan bukannya sinyal elektronik dan mengurangi masalah
gangguan gelombang frekuensi bahan elektrik.
Ini menjadikan ia amat ideal bagi daerah yang memiliki gelombang
frekuensi yang tinggi. Ia juga merupakan bahan yang paling bermutu bagi
sambungkan rangkaian antara bangunan terutama kelebihannya yang tahan pada
kerosakan yang disebabkan oleh suhu kelembapan dan cahaya.
Kabel fiber optik mampu mengantarkan sinyal di dalam daerah yang luas
dibanding kabel koaksial dan Twisted pair. Serat Optik juga mempunyai
kemampuan membawa informasi dengan jumlah yang besar. Kapasitas membawa
informasi yang besar ini berarti menambah kemampuan berkomunikasi termasuk
acara interaktif dan tatap muka dengan video (video conferencing).
Harga kabel fiber optik berbeda jauh dibandingkan kabel tembaga namun kabel
serat optic juga sulit untuk dipasang(install) dan dimodifikasi. Harus
memperhatikan sudut tekukan pada saat pemasangan.

35
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Jenis Jenis Kabel Koaksial Dengan Karakteristik


A. Untuk jenis RG tahanan 50 ohm
Makna RG pada kabel koaksial yaitu tipe-tipe kabel koaksial dilihat dari keadaan
fisik dan kegunaan kabel koaksial menurut American Askery Standarty MIL-C-17
.

B. Untuk Jenis RG tahanan 75 ohm

36
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Perbandingan kabel koaksial dengan Serat optis


Kabel Coaxial

Kabel Serat Optik

Delay

0.005 ms/km

0.048 ms/km

Keamanan

- aman dari
penyadapan
- tidak dapat di
jamming

- aman dari
penyadapan
- tidak dapat di
jamming

memasang kabel
baru
sedang-besar
baik, tidak ekonomis
tidak dapat
baik, tidak praktis
lebih dari 25 tahun
10 tahun

memasang kabel baru

Penambahan kanal
Kapasitas kanal
Transmisi TV
Broadcast
Transmisi data
Umur sistem
MTBF

sedang-besar sekali
baik dan ekonomis
tidak dapat
baiksekali
lebih dari 25 tahun
10 tahun

Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO)


A. Pendahuluan
Perkembangan dan penerapan teknologi dunia yang berkembang dengan
cepat, secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan
sistem telekomunikasi Indonesia. Beroperasinya satelit telekomunikasi Palapa dan
kemudian pemakaian SKSO (Sistem Komunikasi Serat Optik) di Indonesia
merupakan bukti bahwa Indonesia juga mengikuti dan mempergunakan teknologi
ini di bidang telekomunikasinya.
Tak disangkal lagi bahwa serat optik akan mmberikan kemungkinan yang lebih
baik bagi jaringan telekomunikasi. Serat optik adalah salah satu media transmisi
yang mampu menyalurkan informasi dengan kapasitas besar dengan keandalan
yang tinggi. Berlainan dengan media transmisi lainnya, maka pada serat optik
gelombang

pembawanya

bukan

gelombang

listrik

ataupun

gelombang

37
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

elektromagnetik akan tetapi cahaya, baik cahaya tampak maupun cahaya tak
tampak.
Sistem telekomunikasi ini sebenarnya sudah diteliti sejak lama,tetapi
karena banyaknya kesulitan atau hambatan yang timbul terutama didalam usaha
menghilangkan kotoran dalam pembuatan serat optik. Kotoran dalam serat optik
dapat mengakibatkan rugi-rugi transmisi dan disperse yang tidak sempurna.
Sebagaimana namanya maka serat optik dibuat dari gelas silika dengan
penampang berbentuk lingkaran atau berbentuk lainnya. Pembuatan serat optic
dilakukan dengan cara menarik bahan gelas kental cair sehingga dapat diperoleh
serabut/serat gelas dengan penampang tertentu.Proses ini dikerjakan dalam
keadaan bahan gelas yang panas. Yang penting dalam pembuatan serat optic
adalah menjaga agar perbandingan relatifantara bermacam lapisan tidak berubah
sebagai akibat tarikan.Prosespembungkusan seperti pemberian bahan pelindung
atau prosespembuatan satu ikat kabel yang terdiri atas beberapa buah hingga
ratusan kabel pengerjaannya tidak berbeda dengan pembuatan kabel biasa.
B. Pembuatan serat optik
Serat optik dapat dibuat dari silika (SiO2), polimer1 (Plastic Optical Fiber,
POF), atau campuran keduanya. Pada dasarnya serat optik disusun oleh bagianbagian:

Bagian dalam silinder yang memiliki indeks bias tinggi yaitu inti (core);

Bagian tengah silinder yang memiliki indeks bias lebih rendah yaitu
selimut (cladding);

Bagian pelindung terluar (biasanya terbuat dari Polyurethane atau PVC),


yaitu pelindung (jacket).
Untuk serat optik umumnya diameter core berkisar 10 600 mikron,

ketebalan cladding berkisar 125 630 mikron, dan jaketnya bervariasi antara 250
1040 mikron. Sedangkan untuk POF diameter keseluruhannya berkisar antara
1

Polimer merupakan bahan hasil turunan dari minyak bumi. Hasil jadi dari polimer antara lain
karet sintetis dan plastik.

38
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

750 2000 mickron. Dengan adanya perbedaan diameter tersebut membuat serat
optik POF lebih mudah ditangani daripada serat optik yang berasal dari silika.

Gambar 3.7 Struktur dasar serat optik.


Pembuatan serat optik apakah menggunakan silika, plastik, ataupun
kombinasi keduanya mempertimbangkan berbagai faktor seperti kualitas dan
harga. POF memiliki keuntungan pada harga yang lebih murah dan
penggunaannya pada spektrum cahaya tampak. Akan tetapi kelemahannya adalah
besarnya rugi-rugi. Oleh karena itu POF hanya digunakan pada jarak yang
pendek. Pada aplikasinya POF umum digunakan pada bidang medis dan
instrumen industri. Dan menurut penelitian terakhir, serat jenis ini digunakan pada
sistem transmisi data pada mobil.
Kemudian jika bahan yang digunakan adalah kaca silika maka bahan
tersebut harus memiliki tingkat kemurnian yang tinggi supaya rugi-rugi cahaya
yang melewati serat tersebut minimal. Mungkin timbul pertanyaan mengenai
bagaimana kaca silika murni diperoleh, sebagaimana diketahui, bahwasanya kaca
terbuat dari pasir? Bagaimana cara membuat indek bias core dan cladding
berbeda, padahal berasal dari bahan yang sama?
Untuk pertanyaan pertama, terdapat reaksi kimia yang dapat menerangkan
cara pembuatan kaca selain dengan jalan meleburkan pasir untuk mendapatkan
benih kaca yan terkandung di dalamnya. Dimulai dengan SiO 4 dan O2 dalam
keadaan gas, kemudian digunakan panas atau katalis agar terjadi reaksi:
SiCl4 + O2

SiO2 + 2Cl2
39

Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Sedangkan untuk pertanyaan kedua, ada prosedur sederhana untuk


memperoleh indek bias core lebih tinggi dari cladding. Seperti kita ketahui bahwa
dengan menambahkan sejumlah kecil substansi ke substansi lain akan
menghasilkan perubahan atau peningkatan sifat dari substansi yang ditambahi.
Dalam kasus pembuatbedaan indek bias core dan cladding ini, ditambahkan
germanium tetrachloride dalam wujud gas ke dalam kaca silika murni.
Germanium yang memiliki 18 elektron lebih banyak daripada silika bertindak
sebagai dopan. Sebagai hasilnya, indek bias dari inti akan menjadi lebih tinggi.
Dan untuk cladding, dari silika murni ditambahkan boron atau flourine untuk
mengurangi indek biasnya. Peningkatan perbedaan itulah yang menentukan baik
tidaknya transmisi cahaya.
Ada berbagai macam serat optik menurut mode transmisi dan profil indek
bias. Hal tersebut tidak akan dibahas secara detail di sini, namun pada dasarnya
dalam merancang serat optik bergantung kepada kebutuhannya. Parameterparameter seperti atenuasi, bandwidth, dispersi, dan kekuatan tarik harus menjadi
pertimbangan dalam perancangan tersebut. Juga mengenai perlindungan terhadap
faktor-faktor eksternal seperti kelembaban, panas, dingin, dan air harus
diperhatikan. Itulah mengapa lembaran plastik digunakan. Biasanya kabel serat
optik tersebut juga harus memenuhi kebutuhan seperti fleksibilitas, ketahanan
terhadap ikatan dan benturan serta ringan. Berikut diilustrasikan desain serat optik
untuk menggambarkan banyaknya polimer yang digunakan dalam pembuatan
serat optik.
Sebagai contoh, serat optik disusun sebagai suatu sistem multilayer
dimana serat pertama kali dikelilingi oleh tabung penyangga. Tabung penyangga
ini biasanya berupa lapisan silikon atau epoxy resin yang lebih lembut dari jaket
luar dan tidak memiliki fungsi optik. Lapisan ini menjaga serat dari microbend
(bengkokan mikro) karena adanya kontak fisik dengan komponen lain dalam
susunan kabel.

40
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Gambar 3.8 Contoh desain serat optik.


Sebagai benda yang mudah putus, serat memerlukan penguat secara
mekanik. Banyak bahan yang biasanya berbentuk benang / filamen digunakan
untuk melakukan fungsi tersebut. Salah satunya adalah fiberglass, dan dalam
contoh ini dapat dilihat benang-benang fiberglass mengelilingi tabung penyangga.
Karena serat optik adalah bahan yang kaku maka ditambahkan lapisan
polyurethane sebagai bantalan.
Jika kabel tersebut diinginkan untuk memiliki kekuatan regang yang baik
maka dapat digunakan lapisan Kevlar . Biasanya Kevlar disusun dalam kabel
dalam bentuk filamen / benang-benang halus. Lingkungan pemasangan kabel juga
harus dipertimbangkan, misalnya dipasang di udara, dalam air, atau bawah tanah.
Pertimbangan tersebut membuat penambahan lapisan luar / jaket menjadi sangat
diperlukan. Untuk keperluan tersebut biasanya digunakan PVC dan polyurethane.
PVC merupakan bahan yang lebih baik dari polyurethane, jika dibutuhkan
ketahanan terhadap air, api, asam, alkalis, hidrokarbon, dan alkohol. Sebaliknya,
polyurethane lebih baik dari PVC apabila dibutuhkan ketahanan terhadap abrasi,
radiasi nuklir, dan temperatur yang rendah.
Proses pembuatan serat optik sendiri melalui tiga langkah dasar yaitu:
pembuatan bahan dasar, penarikan serat dari bahan dasar, dan pengujian.
1. Pembuatan bahan dasar

41
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Pembuatan bahan kaca ini melalui proses yang disebut dengan modified chemical
vapor deposition (MCVD).

Gambar 3.9 Proses MCVD.


Dalam MCVD, oksigen ditiupkan dalam senyawa silikon klorida (SiCl 4),
germanium klorida (GeCl4) dan senyawa-senyawa lainnya. Keluaran dari
peniupan senyawa-senyawa tersebut kemudian masuk ke tabung pembentuk.
Dalam tabung berputar yang dipanasi tersebut terjadi dua hal:

Silikon dan germanium bereaksi dengan oksigen, membentuk silikon


dioksida (SiO2) dan germanium dioksida (GeO2).

Silikon dioksida dan germanium dioksida melebur membentuk kaca silika.

Hasil dari proses ini adalah kaca silika yang berbentuk batangan / tabung panjang
sebagai bahan untuk proses selanjutnya.
2. Penarikan serat dari bahan dasar
Setelah bahan diuji kemudian bahan tersebut dimasukkan ke menara
penarikan serat untuk dibentuk menjadi serat optik.

42
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Gambar 3.10 Penarikan serat dari bahan dasar


Bahan dasar yang diperoleh dari proses sebelumnya dimasukkan ke
tungku (furnace) grafit yang dipanasi hingga 1900 2200 derajat Celcius. Karena
panas itu bahan (preform) meleleh dan jatuh karena tarikan gravitasi. Dalam
proses tersebut pula terjadi pendinginan sehingga membentuk benang dan ukuran
diameter benang diukur oleh mikrometer laser. Kemudian

benang tersbut

dimasukkan ke tungku pelapis pertama (Coating Cup I) untuk dilapisi dengan


lapisan penyangga dan dipanaskan pada UV Curing Oven I. Selanjutnya serat
melalui Coating Cup 2 dan UV Curing Oven 2 untuk lapisan selanjutnya.
Sedangkan Tracktor digunakan untuk menggulung serat optik yang dihasilkan
dengan kecepatan 10 20 m/s.
Pengujian

43
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Setelah proses pembuatan serat selesai, diperlukan pengujian terhadap


serat tersebut. Pengujian yang dilakukan adalah:
1. Kekuatan tarik / rentang, setidaknya harus memenuhi 100.000 lb/in2.
2. Profil indek bias, untuk menentukan tingkap (aperture) numeris.
3. Geometri serat, yaitu mengenai keseragaman diameter core, ukuran
cladding, dan diameter pelapis.
4. Atenuasi, yaitu nilai pelemahan sinyal / cahaya dari berbagai panjang
gelombang cahaya.
5. Kapasitas informasi yang dapat dibawa (Bandwith), jumlah sinyal yang
dapat dibawa pada satu waktu (serat multimode).
6. Dispersi kromatik, penyebaran berbagai panjang gelombang saat melalui
core, hal ini berpengarung pada bandwidth.
7. Temperatur dan kelembaban operasi.
8. Ketergantungan atenuasi terhadap temperatur.
9. Kemampuan untuk menyalurkan cahaya dalam air.
Setelah melalui pengujian tersebut, barulah serat optik dapat digunakan
sesuai rancangan penggunaannya, misalnya dalam air, di udara, ataupun dalam
tanah.
3. Bagaimana Serat Optik Bekerja?
Adanya perbedaan indek bias antara core (n1) dan cladding (n2) merupakan
kunci utama dalam pemanduan sinar yang masuk ke serat optik.

Gambar 3.11 Perambatan sinar dalam serat optik.

44
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Seperti gambar di atas, jika ada sinar yang masuk ke core serat optik maka
sebenarnya sinar tersebut akan dipantul-pantulkan oleh lapisan antara core dan
cladding sehingga sinar tetap pada core. Kejadian tersebut akan terjadi jika sudut
datang lebih besar dari sudut kritis. Jika sudut datang kurang dari sudut kritis 2
maka sinar akan dibiaskan ke cladding, kejadian tersebut membuat atenuasi yang
sangat besar pada kuantitas sinar yang dilewatkan. Besarnya sudut kritis
dirumuskan:
C cos 1

n2
n1

Misalkan jika n1=1,446 dan n2=1,430 maka diperoleh sudut kritis 8,53 derajat.
Jika sinar datang berasal dari udara (tidak langsung ke core) maka indek bias
udara harus dilibatkan dalam perhitungan sudut kritis sinar datang dari luar /
udara. Sudut datang luar yang dapat diterima dirumuskan:
n1

sin C
n0

ext cos 1

Karena n0=1 maka melanjutkan contoh di atas diperoleh ext=12,4 derajat. Berikut
digambarkan kedatangan sinar dari berbagai sudut:

Gambar 3.12 Tanggapan lapisan core-cladding terhadap sinar dari berbagai


sudut.
4. Berapa banyak sinar yang dapat dilewatkan core?
2

Perlu dicatat bahwa sudut kritis pada serat optik mengacu pada sumbu serat optik, hal ini berbeda
dengan fisika umum dimana pengukuran sudut bias / kritis diacukan pada garis normal.

45
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Faktor-faktor dominan yang berpengaruh terhadap kemampuan tampung sinar


adalah ukuran serat optik, komposisi serat optik, dan mode perambatan sinar. Jika
yang diacu adalah ukuran, maka semakin besar ukuran core maka semakin besar
kemampuan tampung sinar. Namun dengan besarnya ukuran tersebut juga
membawa masalah saturasi pada penerima. Ukuran serat optik dinyatakan dalam
diameter core/diameter cladding, dalam satuan mikron (10-6). Misalnya, serat
optik 50/125, berarti diameter core 50 mikron dan diameter cladding adalah 125
mikron. Berikut diilustrasikan ukuran-ukuran serat optik yang umum digunakan:

Gambar 3.13 Penampang lintang ukuran serat optik yang umum, dalam mikron.
Jika yang diacu adalah bahan, maka yang dipertimbangkan adalah atenuasi
dan harga. Serat optik yang umum dipakai adalah berasal dari kaca silika, plastik,
dan Plastic Clad Silica (PCS). Serat optik dari kaca silika memiliki atenuasi
terendah tetapi paling mahal. Serat optik dari plastik memiliki atenuasi terbesar
tetapi paling murah. Kelemahannya adalah ketahanannya terhadap panas dan api.
Serat Optik PCS memiliki atenuasi dan harga diantara kedua macam serat
sebelumnya.
Sedangkan menurut mode propagasinya, serat optik dibedakan menjadi
dua tipe yaitu single mode dan multi mode. Untuk multi mode sendiri dibedakan
menjadi multi mode step index dan multi mode graded index. Berikut
digambarkan pola propagasi sinar dalam ketiga jenis mode tersebut:

46
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Gambar 3.14 Macam-macam mode propagasi pada serat optik


Keterangan mode propagasi pada serat optic dari gambar diatas:
Multi mode step index
Pada jenis ini cahaya merambat dalam beberapa mode.Ukuran diameter
core antara 50-250m yang dilapisi cladding yang sangat tipis.Penyambungannya
lebih mudah karena diameter core lebih besar.Jenis ini hanya digunakan untuk
jarak pendek.
Multi mode graded index
Core terdiri dari sejumlah lapisan gelas yang memiliki index bias berbeda,
index bias yang tertinggi terdapat pada pusat core dan berangsur-angsur turun
sampai kebatas core dan cladding.Ukuran diameter core antara 30-60m.Cahaya
merambat karena refaraksi yang terjadi pada core, sehingga rambatan cahaya
sejajar dengan sumbu serat.Jenis ini digunakan untuk jarak menengah.
Singlemode step index
Cahaya merambat hanya dalam satu mode yaitu sejajar dengan sumbu
serat optic.Ukuran diameter core antara 2-10m.Cladding lebih besar dari
inti(core).Digunakan untuk jarak jauh, dan mampu menyalurkan data dengan
kecepatan bit rate yang tinggi.
Propagasi cahaya dalam banyak mode
Total mode Mn meningkat dengan naiknya apentur numeric (NA)
Jumlah mode dapat didekati dengan
MN = V2/2
Dimana:
V: Frekuensi normalisasi
V=2a N12-N22

47
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta


=2d x NA

=[2a] x n1 x (2 x )

= Radius inti

= panjang gelombang operasi

N1 =indeks gas inti

= indeks kias relative

Banyaknya mode kayu mengakibatkan naiknya dispersi.


Contoh
Diketahui serat optik dengan =820 nm
n1 = 1,41
n2 = 1,4
diameter inti = 50 nm
= 0,0071
hitung:
NA
Jumlah mode
Jawab
1. NA = (1,412 1,42) = 0,1676
V = (2 x x 25.10-6) x 0,1676
820.10-9
=32,1
2. Jumlah mode
MN = V2/2 = 32,1/2 =515
Catatan
MN harus integer dengn pembulatan kebawah
Material serat optik.

48
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Serat optic - seluruh gelas


-

inti gelas, selubung plastic

seluruhnya plastik

Serat optic:
Bahan dasar : silica (SiO2), indeks bias =1,458 pada =850nm
Modifikasi indeks bias dicapai dengan pemberian dopant: GeO2, P2O5 dsb.
1,48

Ga
O2

Indeks
1,46
Bias

F2O5

1,44
0

5
10
15
Penambahan dopant (x mol)

20

Keunggulan serat gelas : absorpsi sangat rendah


Kelemahan : fabrikasi sukar
1000
Atenuasi
(db/km)

100
10
1
0,1
1960

1970

1900

1990

Atenuasi 0,3 db/km berarti perbandingan daya setiap km diberikan oleh:


0,3

= 10 log Po/Pi

Po/Pi 1,07
Setiap km, daya cahaya hanya berkurang 57%
Inti gelas,selubungplastik.

49
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Bahan selubung:

- resin silicon,indeks bias=1,405 pada = 850nm.


- Teflon FEP,indeks bias = 1,338

Kegunaan: - link jarak agak pendek (~102m)


-

Cahaya lebih efisien

Sumber cahaya murah dapat digunakan

Serat Plastik
Untuk jarak pendek: sampai 100m
NA sampai 0,6
Sudut penerima sampai 70
Diameter inti 110 1400 m
Contoh:
1. Inti polysterene (n1 = 1,60)
Selubung methyl methacrylate (n2=1,47)
NA = 0,60
2. Inti polymethyl methacrylate (n1=1,49) selubung copolymer NA = 0,50
Tabel. Karekteristik atenuasi dan bandwidth pada berbagai macam serat optik.

Mode
Multi-mode
Multi-mode
Multi-mode
Multi-mode
Multi-mode
Multi-mode
Multi-mode
Multi-mode
Multi-mode
Multi-mode
Multi-mode
Multi-mode
Multi-mode
Multi-mode

Material
Glass
Glass
Glass
Glass
Glass
Glass
Glass
Glass
Glass
Glass
Glass
Glass
Plastic
Plastic

Index of

Size
Refraction
(microns)
Profile microns
Step
800
62.5/125
Step
850
62.5/125
Graded
850
62.5/125
Graded
850
50/125
Graded
1300
62.5/125
Graded
1300
50/125
Graded
850
85/125
Graded
1300
85/125
Graded
1550
85/125
Graded
850
100/140
Graded
1300
100/140
Graded
1550
100/140
Step
650
485/500
Step
650
735/750

Atten. Bandwidth
dB/km MHz/km
5.0
4.0
3.3
2.7
0.9
0.7
2.8
0.7
0.4
3.5
1.5
0.9
240
230

6
6
200
600
800
1500
200
400
500
300
500
500
5 @ 680
5 @ 680

50
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Multi-mode
Multi-mode

Plastic
PCS

Step
Step

650
790

Single-mode

Glass

Step

650

Single-mode
Single-mode
Single-mode

Glass
Glass
Glass

Step
Step
Step

850
1300
1550

980/1000
200/350
3.7/80 or
125
5/80 or 125
9.3/125
8.1/125

220
10

5 @ 680
20

10

600

2.3
0.5
0.2

1000
*
*

* Tidak dapat diukur dengan cermat, diperkirakan tak berhingga.

Karakteristik Fiber
1.Rugi-rugi fiber
2.Dispersi
3.Pemilihan panjang gelombang
Rugi-rugi fiber disebabkan oleh
a) Material absorsi oleh material karena ketidak murnian
b) Light scattering karena ketidak sempurnaan material
c) Rugi-rugi belokan karena deformasi struktur dan Wave Guide
Loss =

Pout
Pin

Los| = 10 log

Pout
(db)
Pin

Elading
Core
Pin

Pout

Contoh:
Fiber dengan panjang 100m memiliki Pin = 10 w dan P out = 9 w .
Hitung rugi-rugi dalam db /km.
Jawab :
Pout
db = 10 log 9/10 = - 0,458 db
Pin

51
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

db/km = 0,458/ 0,1 = - 4,58 db/km


rugi-rugi = 4,58 db/km
Contoh-contoh :
1. Ditemukan rugi-rugi absobs absorsi 3% dari daya masukan ke fiber dengan
panjang daya masukan ke fiber dengan panjang 10M . Hitung rugi-rugi dalam
db/km
Jawab :
10 m

Pin

0,97 Pin
0,03 Pin

Pout
0,97Pin
(db) = 10 log
Pin
Pin

= - 0,132 db / 10 m
= - 13,2 db/km
rugi-rugi = 13,2 db/km
2. Sistem komunikasi serat optic memiliki panjang 10 km dan rugi-rugi 2,5
db/km. Hitung daya keluaran jika daya masukan 400 m
10 m

400 m

P out
L = 25 db

10 log

Pout
(db) = - 25
Pin
Pout
Pin

= anti log -2,5 = 0,00316

52
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

P out = 0,00316 x 400 m


P out = 1,264 m
Dispersi
Dispersi digunakan untuk menjelaskan 2 fak pelebaran pulsa.Jika lebar
pulsa input tp1 , lebar pulsa tp2 dispersi t dapat didefinisikan sebagai berikut: t
= (tp2 - tp1 )
Dispersi diukur dalam unit waktu umumnya orde monoseconds ( 10 -9 s)
atau pikoscon (10 -12 s)
Total dispersi dari fiber tergantung kepada panjang , file yang panjang
akan menyebabkan pelebaran pulsa yang lebih panjang. Jika dalam pabrikasi
disebutkan disperse kesatuan panjang ( s/km )maka dapat dihitung disperse total
t = L x ( disperse / km )
dimana:
t = disperse fiber
L = panjang fiber
Dispersi terbagi dalam dua kategori :
1.Dispersi Intermodal

Dispersi yang disebabkan oleh delay perbedaan antar mode

Waktu perjalanan untuk mode nol

Tdo =

L
Ln1
=
--- delay propagasi minimum
c/nl
c

dimana :
L = panjang fiber
n 1= indeks bias inti
c = kecepatan cahaya
c/n1= Kal cahaya dalam fiber
Waktu perjalanan ujntuk mode kritis

53
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Tdc=

L/Cosc
L n1

--- delay propagasi maksimum


c/n1
Cos c c

dimana sin c = cos c = n2 / n1


maka
t = tdc tdo
= [ ( L n1 )/c ) [ ( n1 - n2 ) / n2 ]
Untuk << 1 dimana =

n1 n2
n1

Didapat
t = (L x n1 / c) x
dengan menggunakan NA
t = [ L x (NA)] / (2xn1xc)
C. Sistem Jaringan
Serat optik digunakan untuk menggantikan jenis penghantar data yang
lain. Oleh karena itu serat optik dapat digunakan untuk transmisi data, dengan
berbagai topologi jaringan seperti star, ring, dan bus. Struktur dasar penggunaan
serat optik dalam komunikasi end-to-end ditunjukkan gambar berikut:

Gambar3.15 Model pemakaian serat optik sederhana.

Pada pemancar (transmitter) diperlukan pengubah isyarat listrik ke isyarat


cahaya, sedangkan pada penerima (receiver) diperlukan pengubah dari isyarat
cahaya ke isyarat listrik. Pada transmisi jarak jauh, digunakan repeater untuk
menguatkan kembali sinyal / sinar yang lemah karena rugi-rugi transmisi. Dalam
repeater itupun terjadi pengubahan ke bentuk isyarat listrik untuk dikuatkan,
karena penguatan cahaya tidak dapat dilakukan.

54
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Karena kemampuan tampung sinyal oleh serat optik sangat besar maka
seringkali serat optik digunakan untuk menggantikan beberapa kabel untuk akses
dari satu tempat ke tempat lain dengan cara multiplexing.

Gambar 3.16 Pemaksimalan bandwidth serat optik dengan multiple access.


D. Keuntungan dan Kerugian Atas Pemakaian Serat Optik
Keuntungan atas pemakaian serat optik antara lain:
1. Mempunyai lebar pita frekuensi (bandwidth) yang lebar, sehingga jumlah
informasi yang dibawa akan lebih banyak.
2. Dapat mentransmisikan sinyal digital dengan kecepatan data yang sangat
tinggi dari beberapa Mbit/s sampai dengan Gbit/s.
3. Kebal terhadap interferensi gelombang elektromagnetik, seperti gangguan
petir, transmisi RF, dan sentakan elektromagnetik yang disebabkan oleh
ledakan benda.
4. Memiliki redaman yang sangat kecil dibandingkan dengan kabel tembaga.
5. Serat optik memiliki ukuran fisik yang relatif kecil dan ringan.
6. Serat optik terbuat dari bahan yang tidak menghantarkan listrik, sehingga
resiko hubungan pendek arus listrik yang mengakibatkan kebakaran tidak
terjadi.

55
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Kerugian atas pemakaian serat optik:


1. Serat optik tidak dapat menyalurkan energi listrik, sehingga repeater harus
melakukan pengubahan dari besaran optis ke besaran elektris baru dapat
menguatkan sinyal dan kemudian harus mengubahnya kembali ke besaran
optis.
2. Karena umumnya yang dipancarkan adalah sinar infra merah dengan
intensitas tertentu jika mengenai mata dapat merusak mata.
3. Konstruksi serat optik cukup lemah / rapuh.

E. Kesimpulan
1. Pada dasarnya serat optik tersusun atas tiga lapisan yaitu
i. Core (inti)
ii. Cladding (pelindung)
iii. Coat (jaket)
2. Jenis serat optik menurut mode rambatan sinarnya adalah
iv. Single mode
v. Multi mode, terbagi dalam dua macam
1. multi mode step index
2. multi mode graded index
3.Keuntungan terbesar dengan pemakaian serat optik adalah besarnya
bandwidth
yang tersedia dan kecilnya atenuasi selama perambatan sinyal.

56
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

BAB 4
SMITH CHART (PETA SMITH)
Pendahuluan
Metode Grafis lazim digunakan pada pemecahan persoalan transmisi,
karena munculnya bilangan kompleks sering mengakibatkan perhitungan menjadi
lama dan sulit. Dengan metode grafis diharapkan kelambanan dan kesulitan
perhitungan dapat jauh dikurangi dengan ketelitian hasil yang cukup memadai,
yaitu dengan mengunakan chart saluran transmisi yang paling popular adalah
dengan mengunakan smith char.
Smith Chart pada dasarnya merupakan kumpulan kurva-kurva untuk resistansi
konstans yang dapat menyatakan impedansi beban, impedansi input, bahkan
impedansi pada tiap titik pada saluran tersebut, dinyatakan dalam fraksi/pecahan
panjang gelombang relative terhadap tempat terjadinya tegangan maxsimum atau
titik tegangan minimum. Juga dapat dengan mudah diturunkan ||< dan VSWR.
Smith char dibangun didalm lingkaran dengan radius sebesar satu, pada
koordinat polar yang mengunakan variable radius || dan variable sudut
berlawanan arah jarum jam, sehingga suatu ttik menunjuk koordinat = ||<
dapat dipandang dalam suatu system koordinat Rectampular komplek, bahwa
koofisien pantul terdiri dari bagian real dan bagian imajiner. Tetapi informasi
tentang koefisien pantul malah tidak dicakup didalam smith chart, hal ini
menghindari keruetan jika harus ditampilkan bertumpukan dengan kurva-kurva
impedansi.

57
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Matching impedance
Sebuah system saluran transmisi direfresentasikan oleh gambar berikut :

Syarat agar tak terjadi gelombang pantul atau gelombang tegak (standing wave)
maka impedansi karakteristik saluran haruslah setara dengan nilai impedansi
beban (adanya matching impedance).
Rs + jXs = RL - jXL

Diagram Smith
Diagram smith merupakan grafik = f (Zo,Zr) pada sumbu r tegak lurus sumbu
i.

Bagaimana melukis Diagram smith ?

58
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Sebuah system saluran transmisi:

Koefisien pantul pada titik beban, jika beban ZL dihubungkan dengan saluran
yang mempunyai karakteristik Z0 ;

Vrefl Z 0 Z L

r i
Vin
Z0 Z L

Karena harga atau nilai dari komponen pasif itu tidak tetap maka impedansi
komponen biasanya dinormalisasikan.

Z L R jX

r jx
Z0
Z0

(pers.1)

Sehingga koefisien pantul :

L r i

Z 0 Z L Z 0 Z L / Z 0 Z 1 r jx 1

Z 0 Z L Z 0 Z L / Z 0 Z 1 r jx 1

(pers.2)

dari persamaan 1 dan 2 diperoleh ;

59
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Z r jx

1 L 1 r i

1 L 1 r i

dari persamaan ini dengan memisahkan harga normalisasi resistansi dan reaktansi,
maka diperoleh :
-

Bagian Real ;
r

1 r 2 i 2

1 r 2 i 2

Bagian Imajiner ;
x

2.i

1 r 2 i 2

Manipulasi terhap persamaan diatas (bagian real dan bagian imajiner) akan
menghasilkan bentuk yang menyatakan sifat kurva-kurva dalam koordinat
rektanguler-komplek dengan sumbu-sumbu r dan i.
1). Bagian real
r

1 r 2 i 2

1 r 2 i 2

Ini adalah persamaan lingkaran dalam system koordinat r,i dimana

60
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Berpusat dititik :
Dan Berradius

,0
1 r

: 1/(1 + r).

Sebagai contoh :
-

jika r = 0 maka lingkaran mempunyai radius = 1 dengan pusat (r,i)

= (0,0). Ini sesuai dengan sifat pembebanan reaktif murni yang


menyebabkan koefisien pantul = 1.
-

Jika r = 00 , maka lingkaran mempunyai radius = 0 dengan pusat (r,i)

= (1,0). Ini sesuai dengan sifat beban terbuka yang menyebabkan koefisien
pantul || = 0.
-

Jika r = 1 , maka lingkaran mempunyai radius = 1/2 dengan pusat

(r,i) = (1/2,0).
-

Dan seterusnya.

Diperoleh pola kurpa :

2). Bagian imajiner.


x

2.i

1 r 2 i 2

61
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Persamaan lingkaran dalam system koordinat r,i dimana;


Berpusat dititik

: (1,1/x)

Berradius

: 1/x

Sebagai contoh ;
-

Jika x = 0, Maka radius = 00 dan pusatnya (r,i) = (1,00). Membentuk garis


lurus yang equivalent dengan sumbu r.

Jika x = 00, maka radius = 0 dan pusatnya (r,i) = (1,0).

Jika x = 1, Maka radius = 1 dan pusatnya (r,i) = (1,1). Simetris terhadap


sumbu r untuk x = 1.

Dan seterusnya.

62
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Pada kurva-kurva, r = konstan dan x = konstans kemudian digabungkan


sehingga dapat menyatakan sembarang harga-harga ZL [ZL ternormalisasi terhadap
Z0] dan Zin [Zin ternormalisasi terhadap Z0) disepanjang saluran yaitu pada suatu
titik potong antara sumbu r = constant dengan suatu x = constant.

Peta Smiht
VSWR
Pada smith chart disediakan pula skala khusus VSWR = (1 + | |) / (1 - |
|), sehingga dalam penentuan suatu swr disuatu titik dapat mengambil jarak
radial antara titik Zin pada chart dengan Z = r = 1 (titik pusat chart) kemudian
menyelesaikan jarak tersebut.

1 | |
1 | |
| rin.Ro Ro | | rin.Ro Ro |
VSWR
| rin.Ro Ro | | rin.Ro Ro |
VSWR

Jika rin > 1 atau rin > Ro, maka VSWRin = 1/rin = Rin/Ro,
Jika rin < 1 atau rin < Ro, Maka VSWRin = 1/Rin = ro/Rin.
Dimana :
-

rin = Zin = Nilai impedansi masukan bagian Real.

Ro = Zo = nilai impedansi saluran bagian real.


63

Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Smith Chart juga dapat dipergunakan sebagai chart admitansi, biasanya


dalam penyelesaian persoalan praktis untuk analisis rangkain / hubunganhubungan pararel agar lebih mudah. Dibandingkan kegunaanya sebagai chart
impedansi. Analogi dan perbedaannya sebagai chart acmitansi :
-

admitansi ternormalisasi : y = 1/z = Y/Yo = 1/(r+jx) = g + Jb

lingkaran r = constant ----- g = constant


lingkaran X = constant ---- b = constant

untuk dan sudut yang terbaca diskala pingiran chart harus ditambah
dengan 1800

Aturan aturan Peta smith :


a. Aturan lingkaran.
-

Garis mendatar yang melalui pusat (centrum) 1.0 menyatakan nilai


resistansi Normalisasi (R/Z0) atau Konduktasi Normalisasi ( G/Y0).

Separuh lingkaran diatas garis menyatakan nilai reaktansi induktif


normalisasi ( +JX/Z0 ) atau suseptansi induktif normalisasi ( +JB/Y0 ).
Separuh lingkaran dibawah garis menyatakan nilai rekatansi kapasitif
Normalisasi ( -JX/Z0 ) atau nilai suseptansi Kapasitif normalisasi (
-JB/Z0 ).

Jika yang diketahui adalah impedans masukan saluran transmisi (Zi) maka
untuk mencari impedans beban (ZB) harus diperhatikan lingkaran paling
luar dengan skala yang ada didalam lingkaran yang pembacaannya
berlawanan arah dengan jarum jam, yang diistilahkan panjang gelombang
menuju beban. Sebaliknya jika yang diketahui adalah impedans beban
(ZB) maka untuk mencari impedans masukan (Zi) diperhatikan lingkaran
paling luar dengan skala paling luar, pembacaanya mengikuti arah arum
jam, yang diistilahkan panjjang beban menuju generator.

Lingkaran yang paling dalam menyatakan koepisien sudut pantul yang


dinyatakan dalam derajat.

b. Aturan skala garis.

64
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

skala sebelah kanan menyangkut angka-angka pantulan koepisien pantul


(atas), bagiaan bawah menyangkut nilai rugi-rugi pantulan.

Skala disebelah kiri, menyangkut masalah gelombang tegak (SWR) bagian


bawah, sedangkan bagian atas menyangkut masalah rugi-rugi trasmisi.

c. Skala derajat pada lingkaran dengan r = 0 pada peta smith mengambarkan nilai
koefisien sudut pantul ().
d. Penentuan Nilai Vswr dan Koefisien pantul.
-

Vswr, dalam penentuan suatu swr disuatu titik dapat mengambil jarak
radial antara titik Zin pada chart dengan Z = r = 1 (titik pusat chart)
kemudian menyesuaikan jarak tersebut. Atau mengambil jarak yang sama
pada Z = r = 1 tetapi berlawanan arah dan dari titik tersebut ditarik garis
tegak lurus ke ruler VSWR dan pada titik perpotongan antara garis dan
ruler adalah nilai Vswr.

Koefisien pantul (k), dalam penentuan suatu swr disuatu titik dapat
mengambil jarak radial antara titik Zin pada chart dengan Z = r = 1 (titik
pusat chart) kemudian menyelesaikan jarak tersebut. Dari titik swr tersebut
ditarik garis lurus kebawah hingga memotong ruler koefisien pantul.
Pertemuan titik potong tersebut merupakan nilai koefisien pantul.

Contoh Soal:
1. Panjang saluran transmisi 84,96o
Yo = 0,02 siemens
YB = (0,022 + j0,024) siemens
Tentukan : a) Yi
b) Zi
Jawab:
a) Yi (normalisasi) = 0,45 - j0,55
Yi
= (0,45 j 0,55) 0,22 siemens
= 0,009 j0,011) siemens
b) Zi (normalisasi) = 0,9 + j1,1
1

= (0,9 + j1,1) Y = (0,9+j 1,1) 0,02


o
= (45 + j55)

65
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

2. Suatu Proyek pembangunan jaringan telepon yang membentangkan saluran


koaksial sepanjang 15 Km. Kabel koaksial yang digunakan mempunyai nilai
Vf = 0,8 . Frekuensi operasional 3 Khz. Tegangan sumber 15 Volt. Tahanan
dalam (Rd) = 200 Ohm. Beban berupa resistansi murni sebesar 450 Ohm.
Diameter luar koaksial mempunyai ukuran 6mm, sedangkan diameter dalam
mempunyai ukuran 2,09 mm dengan konstanta dielektrik 1,6. Jika redaman
sebesar 0,005 watt/Km. Tentukan:
a) Daya sumber
b) Daya beban
Jawab
Diketahui:
Vf = 0,8
f = 3 Khz
Vs= 15 Volt
Rd= 200 Ohm
Ri = 450 Ohm
D = 6 mm
d = 2,09 mm
k = 1,6
= 0,005 watt/Km
138
D
138
6.10 3
log

log
d
2,09.10 3
k
1,6
138
= 1,26 log 2,87 109,52 0,457

Zo =

= 50,05 Ohm

c
3.108
Vf
0,8 0,8.10 5
f
3.10 3

norm

15.10 3
0,1875
0,8.10 5

ZB(norm) =

R Jx 450 J 0

8,9
Zo
50,05

Zi(norm) = 0,125 j 0,41


Zi
= (0,125 j 0,41) 50,05
= 6,26 j 20,52 Ohm
2

Vs
15

6,26 0,0287 Watt


Ps = I .R=
Ri
Rd Zi
200 21,45
2

66
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Dari Peta smith diperoleh SWR = 9


9=

1 k
maka diperoleh nilai k = 0,8
1 k

Zi =

6,26 2 ( j 20,52) 2 21,45

Sehingga Pb = Ps (1-k2)e -2l


= 0,0287(1-0,82) e 2.0 , 005.10
= 8,899 mWatt

.15.103

3. Diketahui panjang saluran = 120,96o


Zo = 303,0303 Ohm
Admitansi masukan (Yi) = (0,00726 j 0,00066) siemens
Tentukan a) YB
b) ZB
Jawab:
1

Yo = Z 303,0303 0,0033 siemens


o
Normalisasi panjang saluran:
Yi (norm) =

120,96 o
0,336
360

Yi 0,00726 j 0,00066

2,2 j 0,2 siemens


YO
0,0033

YB (norm) = (0,55 j 0,41) siemens ; dari persamaan YB = YB(norm).Yo


Maka diperoleh YB = (0,55 j 0,41). 0,0033 = (0,001815 j 0,001353) siemens
ZB(norm) = bertolak belakang 180o dengan YB(norm), maka diperoleh
ZB(norm) = 1,18 + j 0,85
ZB = ZB(norm) . ZO = (1,18 + j 0,85) . 303,0303
ZB = (357,58 + j 257,58) Ohm
4. Diketahui panjang saluran lnorm = 0,104
Zi(norm) = 1,2 + j 0,4 Ohm
Yi

= (0,0125 j 0,004167) siemens

Tentukan nilai YB. ?

67
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Jawab:
ZB (norm) = 0,75 + j 0,25 Ohm
Zi(norm) = bertolak belakang 180o dengan Yi(norm) maka di peroleh = 0,75 j 0,25
ZB(norm) = bertolak belakang 180o dengan YB(norm) maka di peroleh = 1,2 j 0,4
Yo =

Yi
Yi(norm)

(0,0125 j0,004167)
0,0166 siemens
(0,75 j0,25)

YB = YB(norm) . YO = (1,2 j 0,4) . 0,0166


YB = (0,01992 j 0,00664) siemens

68
Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta