Anda di halaman 1dari 10

Laporan Praktikum

Hari/ Tanggal : Senin, 24 November 2014

Biokimia Umum

PJP

: Syaefudin, S.Si, M.Si

Asisten

: Cindy Swastiratu
Ema Lindawati
Desi Amaliawati

MINERAL
(Uji Identifikasi Mineral pada Abu Tulang)
Kelompok 15

Azima Rahtu Yunida C34130028


Nur Indah Sari

C34130057

Akhmad Khoeron

C34130063

Khairani Nabila

C34130095

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

PENDAHULUAN
Tulang merupakan jaringan pengikat yang sangat khusus bentuknya. Tulang
dibentuk dalam dua proses yang terpisah, yaitu pembentukan matriks dan
penempatan mineral ke dalam matriks tersebut. Tiga jenis komponen seluler
terlibat di dalamnya dengan fungsi yang berbeda-beda yaitu osteoblast dalam
pembentukan tulang, osteosit dalam pemeliharaan tulang, dan osteoklast dalam
penyerapan kembali tulang (Winarno 1992).
Tulang merupakan jaringan kuat pembentuk kerangka tubuh manusia,
pnunjang berat badan, pelindung organn-organ vital, serta pelekat otot-otot yang
menyebabkan pergerakan tubuh. Tulang terdiri dari senyawa organik, anorganik,
dan air, senyawa anorganik tulang mangandung senyawa kalsium fosfat.
Kandungan mineral dalam tulang cukup tinggi, berdasarkan penelitian kandungan
mineral tulang sebesar 46.89% (Dahlan et al 2011). Penggunana

tulang

dipercobaan ini adalah karena kandungan mineral yang tinggi pada tulang.
Tulang mengandung sekitar 60% garam anorganik P dan 40% garam
organik, terutama dalam bentuk osein. Selain itu dalam tulang ada berbagai unsur
mineral lain, yaitu Ca, Mg, Na, K, Str, dan Fe. Mineral dalam tulang berupa apatit,
garam Ca-fosfat, dan kapur (CaCO3). Gigi juga banyak mengandung P. Lapisan
email dan dentin mengandung Ca-fosfat berkadar tinggi, tetapi lebih rendah kadar
CaCO3 dibanding tulang. Mineral tulang, termasuk garam fosfat, terus menerus
mengalami

perombakan-penumpukan,

sesuai

dengan

kebutuhan

dalam

metabolisme tubuh (Siswono 2001).


Praktikum ini bertujuan mengamati peran mineral melalui keberadaannya
dalam tubuh dan mengetahui berbagai jenis mineral yang terkandung dalam abu
tulang secara kualitatif melalui pengamatan berdasarkan adanya perubahan warna
dan pembentukan endapan.
METODE
Waktu dan Tempat
Praktikum Mineral ini dilaksanakan di Laboratorium Pendidikan Biokimia,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB
November 2014 pukul 13.00-16.00 WIB.

pada tanggal 24

Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, pipet
tetes, pipet Mohr 1 mL, 5 mL, dan 10 mL, bulb, corong gelas, batang pengaduk,
gelas piala 100 mL, dan 250 mL, pembakar Bunsen, kaki tiga, kawat kassa, kertas
lakmus dan botol semprot.
Bahan-bahan yang digunakan adalah filtrat tulang sapi, NH4OH(p),
HNO3 10%, AgNO3 2%, HCl 10%, BaCl2, asam asetat 10%, ammonium oksalat
1%, urea 1%, pereaksi Molibdat, FeSO4, Kristal NH4CO3, NH4Cl, Kristal
dinatriumhidrogen posfat, ammonium tiosianat, dan kalium ferosianida.
Prosedur Percobaan
Pengujian filtrat. Uji filtrat terdiri dari uji klorida dan uji sulfat. Tabung
reaksi kering dan bersih disiapkan untuk uji klorida. Sebanyak 1 mL filtrat
dimasukkan ke dalam tabung dan diasamkan dengan 1 mL HNO3 10% lalu
ditambah 1 mL AgNO3 2%. Pengamatan dilakukan dengan timbulnya endapan
putih menunjukkan adanya klor (Cl).
Uji sulfat. Sebuah tabung reaksi kering dan bersih disiapkan untuk uji
sulfat. Sebanyak 1 mL filtrat dimasukkan ke dalam tabung dan diasamkan dengan
HCl 10% lalu ditambah 1 mL larutan BaCl2. Pengamatan dilakukan dengan
timbulnya endapan putih, menunjukkan adanya sulfat (S).
Uji endapan. Uji endapan terdiri dari uji kalsium, uji fosfat, uji
magnesium, dan uji besi. Sebanyak 10 mL asam asetat 10% dimasukkan ke dalam
gelas piala berisi endapan abu tulang. Larutan disaring (tetesan pertama dibuang).
Endapan yang tidak larut tidak dibuang. Sebuah tabung reaksi kering dan bersih
disiapkan untuk uji kalsium. Sebanyak 2 mL filtrat dimasukkan ke dalam tabung
reaksi, dan ditambahkan 1 mL larutan ammonium oksalat 1% dan dikocok.
Pengamatan dilakukan dengan timbulnya endapan putih, menunjukkan adanya
kalsium oksalat.
Uji fosfat. Sebuah tabung reaksi kering dan bersih disiapkan untuk uji
fosfat. Sebanyak 1 mL filtrat dimasukkan ke dalam tabung kemudian
ditambahkan 1 mL larutan urea 1% dan 1 mL pereaksi Molibdat. Tabung dikocok

dan ditambahkan 1 mL FeSO4. Pengamatan dilakukan dengan timbulnya


perubahan warna menjadi biru pekat, menunjukkan adanya fosfat.
Uji magnesium. Sebuah tabung reaksi disiapkan. Sebanyak 1 mL filtrat
dimasukkan ke dalam tabung dan dipanaskan pada penangas air selama 5 menit.
Larutan dalam tabungg selanjutnya ditambahkan seujung sudip

kristal

NH4CO3 dan NH4Cl. Larutan disaring dan filtratnya dipisahkan ke dalam tabung
reaksi yang lain. Seujung sudip kristal dinatriumhidrogen fosfat dimasukkan ke
dalam tabung yang berisi filtrat dan ditambah larutan NH4OH (sampai basa).
Pengamatan dilakukan dengan timbulnya endapan putih menunjukkan adanya
magnesium (Mg). Endapan hasil penyaringan pada uji magnesium digunakan
untuk uji besi.
Uji besi. Endapan pada kertas saring ditetesi dengan HCl 10%. Sebanyak
1 mL filtrat HCl dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang kering dan
bersih.Larutan dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 1 mL ammonium
tiosianat (timbulnya warna merah pada larutan diamati). Sebanyak 1 mL kalium
ferosianida dimasukkan ke dalam tabung dan perubahan warna (biru/hijau)
diperhatikan. Perubahan warna merah, biru atau hijau menunjukkan adanya besi
(Fe).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 1. Hasil uji mineral pada abu tulang
Jenis uji

Hasil (+/-)

Klorida (Cl-)

Pengamatan

Filtrat

Terbentuk endapan
putih

Gambar

Sulfat (SO42-)

Terbentuk endapan
putih

Endapan

Kalsium (Ca2+)

Fosfat (PO43-)

Magnesium (Mg2+)

Besi ammonium tiosoinat

Terbentuk endapan
putih

Warna larutan
menjadi biru

Terbentuk endapan
putih

Warna larutan
menjadi merah

Besi kalium ferosianida

Warna larutan
menjadi biru

Mineral merupakan zat anorganik yang terdapat didalam tubuh manusia


untuk memelihara fungsi tubuh, mengaturan kerja enzim-enzim, memelihara
keseimbangan asam-basa dan membantu pembentukan ikatan yang memerlukan
mineral seperti pembentukan hemoglobin. Berdasarkan kegunaannya dalam
aktifitasnya hidup, mineral dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu golongan
essensial dan non essensial, sedangkan berdasarkan jumlahnya, mineral dapat pula
dibagi atas mineral makro, mineral mikro dan mineral renik. Mineral makro
adalah mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah lebih dari 100 mg sehari,
sedangkan mineral mikro dibutuhkan tubuh kurang dari 100 mg sehari. Mineral
makro diantaranya yaitu Ca, P, K, Mg, N dan S. Mineral mikro terdiri dari Fe, I,
Cu, Zn, Mn, Co dan Se, sedangkan kelompok renik terdiri dari unsur F, Mo, As,
Cr, dan Si (Almatsier, 2004).
Banyak unsur mineral yang sangat dibutuhkan tubuh yang berbeda jenisnya
yang diperlukan manusia agar memiliki kesehatan dan pertumbuhan yang optimal.
Mineral yang digunakan oleh tubuh ialah Fe (ferum, zat besi), Ca (calsium, zat
kapur), Na (natrium), K (kalium), Cl (chlor), Mg (magnesium), P (phosphor,
fosfor), S (sulfur, belerang), Zn (zink, seng), I (iodium), F (flor), Co (cobalt) dan
St (strontium) (Parakasi 1986).
Mineral yang masuk kedalam tubuh lewat makanan sebagian diabsorpsi
oleh dinding usus. Makanan yang masuk kedalam tubuh terdiri dari bahan organik
dan air sebesar 96 % dan sisanya terdiri dari unsur mineral. Mineral dikenal
sebagai zat anorganik atau kadar abu. Dalam proses pembakaran, bahan-bahan
organik terbakar, tetapi zat anorganik tidak terbakar, karena itu bahan anorganik
disebut abu (Winarno 1992). Abu merupakan bahan komponen yang penting
untuk menentukan kadar mineral (Handayani dkk, 2004).

Tulang yang digunakan pada percobaan ialah tulang sapi. Komposisi


utama jaringan tulang jumlahnya bergantung pada spesies, umur, jenis kelamin,
jenis tulang dan posisi dalam tulang. Komposisi tulang secara umum terdiri dari
55% material anorganik (mineral tulang), 30% organik dan 15% air. Tepung
tulang mengandung klorida, kalsium, fosfat, magnesium, dan besi, sedangkan
sulfat ditemukan dalam jumlah sangat kecil (Siswono 2001). Abu tulang dapat di
sebut juga dengan garam anorganik ataupun mineral, karena abu tulang terdiri dari
bahan anorganik yang berbentuk garam-garamnya.
Uji klorida pada filtrat menunjukan hasil positif karena menghasilkan
endapan berwarna putih. Pengujian klorida menggunakan pereaksi asam nitrat
sebagai katalisator dan AgNO3. Pereaksi ini kemudian akan bereaksi dengan
klorida membentuk AgCl sebagai endapan berwarna putih. Endapan berwarna
menunjukkan adanya klorida, berikut reaksi yang terjadi pada uji klorida :
AgNO3 AgCl + NO3- (Underwood 1999)
Uji sulfat pada filtrat menunjukan hasil positif karena menghasilkan
endapan berwarna putih. Asam klorida hasil uji digunakan untuk uji sulfat
bertindak sebagai katalisator dan barium klorida akan bereaksi bila ada sulfat
membentuk barium sulfat, berikut reaksi yang terjadi pada uji klorida :
AgNO3 AgCl + NO3-. (Underwood 1999)
Endapan yang dihasilkan dari uji sebelumnya diuji dengan kalsium, fosfat
dan magnesium dengan penambahan asam asetat untuk melarutkan kalsium,
magnesium, dan fosfat, sedangkan endapan yang terbentuk dari sisa penambahan
asam akan diuji terhadap besi. Kalsium dalam tubuh manusia terdapat pada
plasma darah dalam bentuk ion dan bergabung dengan protein. Kalsium
merupakan komponen penyusun tulang dan gigi serta sangat penting bagi
kontraksi dan rileksasi otot (Suhardjo 1986). Hasil uji kalsium menunjukkan
positif karena timbulnya endapan berwarna putih akibat penambahan pereaksi
ammonium oksalat. Reaksi yang terjadi :
Ca + K4[Fe(CN)6] Fe4[Fe2(CN)6]3 (Underwood 1999)

Uji fosfat pada endapan akan menunjukan hasil positif dan menghasilkan
warna biru akibat adanya fosfat. Fosfor dalam tubuh digunakan untuk
pembentukan tulang dan gigi serta penyimpanan dan pengeluaran energi
(perubahan antara ATP dengan ADP). Berikut reaksi yang terjadi pada uji fosfat :
FeSO4 + PO4-3 Fe3(PO4)2 + SO4-2 (Underwood 1999)
Magnesium merupakan mineral makro yang sangat penting dengan total
sekitar 70% berada dalam tubuh yakni dalam tulang atau kerangka (Underwood
1981), sedangkan 30% lainnya tersebar dalam berbagai cairan tubuh dan jaringan
lunak (Tillman 2003). Mg sebagian besar digunakan sebagai sistem enzim dalam
metabolisme karbohidrat dan memperbaiki fungsi sistem saraf (Perry 2000 ).
Magnesium juga berperan sebagai sintesis protein, asam nukleat, nukleotida, dan
lipid (Girindra 1988). Uji magnesium menunjukan hasil positif karena
terbentuknya endapan berwarna putih yang menunjukkan adanya magnesium,
berikut ini reaksi yang terjadi pada uji magnesium :
Mg + NaHPO4 MgHPO4 +2Na (Underwood 1999)
Percobaan uji besi terhadap endapan sisa penambahan asam yang kemudian
ditambahkan dengan larutan HCl. Filtrat yang diperoleh dari penyaringan endapan
diuji dengan larutan ammonium tiosianat dan kalium ferosianida. Filtrat yang
diuji dengan ammonium tiosianat akan menunjukan hasil positif karena
terbentuknya warna merah, sedangkan dengan kalium ferosianida akan
menunjukan hasil positif jika terbentuk warna biru atau hijau.
Hasil percobaan menunjukkan hasil yang positif pada setiap uji. Hal ini
menunjukkan tulang sapi mengandung mineral klorida, sulfat, kalsium,
magnesium, fosfat, dan besi. Hasil ini sesuai dengan literatur bahwa tulang sapi
mengandung klorida, sulfat, kalsium, magnesium, dan besi. Perbedaan banyaknya
endapan putih pada uji klorida, sulfat, magnesium, dan kalsium menunjukkan
kadar mineral-mineral tersebut pada tulang sapi berbeda. Kandungan mineral
yang paling banyak terdapat pada tulang sapi yaitu kalsium, sedangkan yang
paling sedikit yaitu sulfat.

Simpulan
Mineral dalam tubuh sangat beragam, diantaranya klorida (Cl), kalsium
(Ca), fosfor (P), sulfur (S), dan magnesium (Mg). Mineral tersebut sebagai
mineral makro. Besi (Fe) merupakan mineral mikro. Fosfor dan kalsium banyak
terdapat dalam tulang. Keberadaan mineral dapat diketahui melalui uji mineral
fosfat dan kalsium pada filtrat abu tulang. Kalsium pada tulang ditandai dengan
adanya endapan berwarna putih, sedangkan kandungan fosfor ditandai dengan
warna biru kehijauan. Adanya klorida dan sulfur ditandai dengan adanya endapan
putih. Hasil pada besi menghasilakn reaksi positif ditandai larutan berwarna hijau
dan merah.

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2004.Prinsip Dasar Ilmu Gizi.Jakarta (ID): Gramedia Pustaka.
Dahlan et al. 2011. Termogavimatri-differential analysis pada mineral tulang
manusia. Jurnal Biofisika. 7(1): 49-57.
Girindra A. 1998. Biokimia Patologi Hewan. Bogor(ID): Pusat Antar Universitas
Institut Pertanian Bogor.
Handayani T, Sutarno, Setyaman A.D. 2004. Analiss Komposisi Rumput Laut
Sargassum crassifolium J. Agardh. Jurnal Biofarmasi 2, Surakarta.
Parakkasi, A. 1986. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogarstrik Vol IB .
Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
Perry TW, AE Cullison, dan RS Lowrey. 2003. Feeds and Feeding. Sixth Edition.
New Jersey (US): Pearson Education Inc Upper Saddle River.
Siswono.2001. Mineral dalam kehidupan [terhubung berkala]. http//www.gizi.net.
[26 November 2014].
Suharjdo et al. 1986. Pangan, Gizi, dan Pertanian. Jakarta (ID): Universitas
Indonesia
Tillman A D, H Hartadi, S Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo, dan S.
Lebdosukujo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan Ke- 6. Fakultas
Peternakan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada
University Press.
Underwood E J dan N. F. Suttle. 1999. The Mineral Nutrition of Livestock Third
Edition. London: CABI Publishing.
Winarno F.G.1992. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta (ID): PT Gramedia Pustaka
Utama.