Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Rongga mulut setiap harinya dibasahi oleh 1000 hingga 1500 ml


saliva. Kesehatan lapisan mukosa mulut dan faring serta fungsi penguyahan,
deglutisi (proses pencernaan makanan sejak masuk ke rongga mulut hingga
mencapai esophagus), bergantung pada cukupnya aliran saliva. Saliva berasal
dari 3 pasang glandula saliva mayor, yaitu glandula parotis, glandula
sublingualis dan glandula submandibularis dan sejumlah glandula saliva
minor pada mukosa dan submukosa bibir, palatum dan lidah (Gordon W.
Pedersen).
Glandula parotis terletak pada bagian samping, di atas musculus
masseter. Ductus parotis, misalnya ductus stensen, dengan panjang 5 sampai 6
cm, bermula dari aspek anterior glandula, melintasi masseter, menembus
musculus buccinators dan memasuki rongga mulut pada regio molar pertama
atau molar kedua rahang atas (Gordon W. Pedersen).
Glandula submandibularis terletak di bawah corpus mandibula dan
menempati segitiga yang dibentuk oleh venter posterior dan anterior musculi
digastrici. Ductus-nya keluar dari perluasan glandula submandibularis yang
melintasi batas posterior dari musculus mylohyoideus dan memasuki rongga
atau ruang sublingual. Ductus Wharton dengan panjang kurang lebih 6 cm,
melintas di bagian anterior dan berakhir dalam lubang saluran di dasar mulut,
tepat di samping frenulum lingualis (Gordon W. Pedersen).
Glandula sublingualis menempati rongga sublingual bagian anterior
dan karena itu hampir memenuhi dasar mulut. Aliran dari sublingualis
memasuki rongga mulut melalui sejumlah muara yang terdapat sepanjang
plica sublingualis, yaitu suatu lingir mukosa anteroposterior di dasar mulut
yang menunjukkan alur dari ductus submandibularis, atau melalui ductus
utama

(yaitu

ductus

Bartholin)

yang

berhubungan

dengan

ductus

submandibularis (Gordon W. Pedersen).

Glandula saliva minor terletak dalam jumlah besar pada submukosa


atau mukosa bibir, permukaan lidah bagian bawah, bagian posterior palatum
durum dan mukosa bukal (Gordon W. Pedersen).
Dalam keadaan normal glandula saliva

ini

terus

menerus

mengeluarkan saliva melalui saluran yang bermuara di dalam rongga mulut


sesuai dengan kebutuhan. Bilamana karena suatu sebab, terjadi hambatan
maupun penyumbatan baik sebagian maupun total, maka akan terjadi
bendungan atau stagnasi saliva yang merupakan retensi saliva dan pada suatu
saat akan berubah menjadi kista.
Mengingat kista ini terjadinya karena retensi saliva di dalam saluran
saliva yang abnormal, maka kista jenis ini digolongkan sebagai kista retensi.
Bila terjadi pada ductus glandula saliva mayor, kista ini disebut ranula.
Ranula dapat terjadi pada semua umur dan lebih sering terjadi pada wanita
daripada pria (drg. Iskandar Atmadja).
Ranula jarang sekali terjadi. Dalam salah satu penelitian terhadap 1303
kista pada glandula saliva, hanya ada 42 ranula yang terjadi. Perbandingan
laki-laki dan perempuan dalam hal terjadinya ranula adalah 1:1,3. Umumnya
yang sering terkena pada dekade kedua dan ketiga kehidupan, dengan rentang
usia 3-61 tahun (Ryan L Van De Graaff).

BAB II

PEMBAHASAN
A. Definisi
Ranula adalah bentuk kista akibat obstruksi glandula saliva mayor
yang terdapat pada dasar mulut. Dan akan berakibat pembengkakan di bawah
lidah yang berwarna kebiru-biruan (drg. Sugito, MH).
Ranula

merupakan

fenomena

retensi

duktus

pada

glandula

sublingualis (yang kadang-kadang menunjukkan adanya lapisan epitel),


dengan gambaran khas pada dasar mulut. Mukosa di atasnya terlihat tipis,
meregang dan hampir transparan. Pembesaran yang disebabkan oleh cairan ini
kadang menyebabkan terangkatnya lidah khususnya pada anak-anak (Gordon
W. Pedersen).
Ranula berasal dari kata latin : Rana, yang berarti katak. Dinamakan
ranula, karena ranula tersebut menonjol mirip perut katak. Bila kista tersebut
menjadi sangat besar pada dasar mulut, suara penderita dapat menjadi
croacking seperti suara katak (Aswin Rahardja).
Istilah ranula digunakan untuk menggambarkan mucocele yang timbul
pada dasar mulut. Biasanya unilateral dan menyebabkan pembengkakan biru
translusens yang mirip dengan perut katak (Mervyn Shear).

B. Klasifikasi Ranula
Ranula diklasifikasikan menjadi 2 tipe, yaitu :
1. Ranula superficial atau simple ranula
Merupakan kista retensi yang sesungguhnya. Besarnya terbatas pada
dataran oral musculus mylohyoideus (Aswin Rahardja).
Tampak sebagai suatu pembengkakan lunak, dapat ditekan, timbul dari
dasar mulut. Kista ini dindingnya dilapisi epitel dan terjadi karena
obstruksi ductus glandula saliva (Robert P. Langlais & Craig S. Miller).

Gambar Simple Ranula

2. Ranula dissecting atau plunging ranula atau ranula profunda


Merupakan pseudokista, terjadinya karena ekstravasasi (kebocoran) saliva
pada jaringan, pada sepanjang otot dan lapisan fasia dasar mulut dan leher.
Ekstravasasi (kebocoran) tersebut disebabkan karena trauma yang kecil,
dimana tidak pernah diingat oleh penderita (Aswin Rahardja).
Kista ini menerobos di bawah musculus mylohyoideus dan menimbulkan
pembengkakan submental. Kista jenis ini dindingnya tidak dilapisi epitel
(Robert P. Langlais & Craig S. Miller).

Gambar Plunging ranula

C. Etiologi dan Patofisiologi Ranula


Ranula telah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Banyak teori yang
diajukan untuk mengetahui asalnya. Hippocrates dan Celcius mengatakan
bahwa kista berasal dari proses inflamasi yang sederhana. Pare mensugestikan
berasal dari glandula pituitary yang menurun dari otak ke lidah. Ada juga
yang mensugestikan bahwa kista tersebut berasal dari degenerasi myxomatous
glandula saliva. Teori yang terakhir mengatakan bahwa kista terjadi karena
Obstruksi ductus saliva dengan pembentukan kista atau ekstravasasi
(kebocoran) saliva pada jaringan yang disebabkan karena trauma. Obstruksi
ductus tersebut dapat disebabkan karena calculus atau infeksi (Aswin
Rahardja).
Pada tahun 1973 Roediger dan rekannya dapat membuktikan bahwa
terjadinya ranula oleh adanya penyumbatan ductus glandula saliva sehingga
terjadi penekanan sepanjang dinding saluran. Bila ada daerah yang lemah akan
pecah dan terjadi lagunar (bulatan-bulatan kecil), yang merupakan retensi
saliva yang lambat laun menjadi kista ekstravasasi (kebocoran) pada ductus
glandula sublingualis atau submandibularis, yang kadang-kadang dapat
ramifikasi (percabangan) secara difus ke leher (Mervyn shear).
Menurut Robert P. Langlais & Craig S. Miller, Ranula terbentuk
sebagai akibat terhalangnya ductus saliva yang normal melalui ductus

ekskretorius mayor yang membesar atau terputus dari glandula sublingualis


(ductus Bartholin) atau glandula submandibularis (ductus Wharton), sehingga
melalui rupture ini saliva keluar menempati jarigan disekitar ductus tersebut.
Walau terjadinya ranula yang ditulis dalam literature hingga saat ini
masih simpang siur, namun diperkirakan karena :
1. Adanya penyumbatan sebagian atau total sehingga terjadi retensi saliva
sublingualis atau submandibularis
2. Karena suatu trauma
3. Adanya peradangan atau myxomatous degenerasi ductus glandula
sublingualis
(drg. Iskandar Atmadja).

D. Gambaran Klinis Ranula

Tanda dan Gambaran Klinis ranula adalah sebagai berikut :


Adanya benjolan simple pada dasar mulut, mendorong lidah ke atas.

Umumnya unilateral, jarang bilateral.


Benjolan berdinding tipis transparan, berwarna biru kemerah-merahan.
Benjolan tumbuh lambat, gambaran seperti perut katak.

Gambar Ranula besar yang mengangkat lidah

Gambar Ranula seperti mata katak

Pembengkakan selain intra oral dapat juga extra oral.


Tidak ada rasa sakit kecuali meradang atau infeksi.
Bila benjolan membesar dapat mengganggu bicara, makan
maupun menelan.

Benjolan oleh karena suatu sebab dapat pecah sendiri,


cairan keluar, mengempes kemudian timbul atau kambuh

kembali.
Pada simple ranula benjolan terletak superficial sedangkan
plunging

ranula

benjolan

terletak

lebih

dalam,

bisa

menyebar ke dasar otot mylohyoid, daerah submandibular,


ke leher bahkan ke mediastinum
(drg. Iskandar Atmadja).

E.Diagnosis Ranula
Langkah-langkah yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis ranula:
1. Melakukan anamnesa lengkap dan cermat
Secara visual
Bimanual palpasi intra dan extra oral
Punksi dan aspirasi
2. Melakukan pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan radiologis dengan kontras media, tanpa kontras media

tidak berguna
Pemeriksaan mikroskopis, pemeriksaan biopsi
(drg. Iskandar Atmadja)

Simple Ranula gambaran kliniknya relatif lebih khas sehingga


diagnosa mudah ditegakkan. Tampak sebagai suatu tonjolan berdinding tipis,
licin, kebiruan dan transparan. Pada palpasi terasa lunak dan fluktuasi. Kista
ini terletak dibawah lidah, pada bagian depan mulut (Aswin Rahardja).
Plunging ranula lebih sulit menegakkan diagnosanya, karena
gambarannya mirip dengan banyak struktur kistik atau pembengkakan
glandula yang lain pada leher. Tidak ada tes diagnostik khusus untuk
membedakan lesi-lesi tersebut. Maka diagnosa plunging ranula hanya
tergantung pada adanya hubungan anatomi kista dengan glandula saliva dan
gambaran histopatologis dinding kista sesudah eksisi (Quick & Lowell, 1977).
Gambaran histopatologis simple ranula yaitu dinding kista dilapisi
epitel, sedangkan plunging ranula dinding kista tanpa dilapisi epitel (Aswin
Rahardja).

F. Differential Diagnosis Ranula

1. Differential Diagnosis Ranula superficial atau simple ranula


a. Batu kelenjar liur (Sialolith)
Pembentukan batu terjadi karena pengerasan kompleks kalsium
di dalam glandula saliva yang dapat menyumbat ductus saliva
sehingga menyebabkan pembengkakan di dasar mulut. Penyumbatan
aliran saliva oleh batu akan mengakibatkan pembengkakan dasar
mulut yang keras, nyeri dan sakit (Robert P. Langlais & Craig S.
Miller).
Gejala klinis yang khas adalah rasa sakit yang hebat pada saat
makan, menelan dan disertai adanya pembengkakan glandula saliva
dan sangat peka jika di palpasi. (Dona Sari Nasution).

Gambar Sialolith

b. Kista Dermoid

Terjadi akibat pembengkakan jaringan lunak yang berasal dari


degenerasi kistik dari epitel yang terjebak selama perkembangan
embrionik. Kista dermoid dapat dijumpai di mana saja di kulit, tetapi
mempuyai kecenderungan timbul di dasar mulut. Secara klasik tampak
seperti kubah, tidak sakit, muncul di dasar mulut. Mukosa di atasnya
merah muda, lidah sedikit terangkat dan palpasi memberi konsistensi
seperti adonan. Pasien mengeluh sukar makan dan bicara (Robert P.
Langlais & Craig S. Miller).

Gambar Kista dermoid

c. Hemangioma
Hemangioma adalah tumor jinak vaskuler yang sering terjadi
pada rongga mulut. Etiologinya diduga berhubungan dengan
abnormalitas proliferasi dari sel-sel endotelium (Steven Brett Sloan).
Gambaran Hemangioma menyerupai kista ranula yang
menunjukkan adanya pembuluh darah (Gordon W. Pedersen).

Gambar Hemangioma

2. Differential Diagnosis Ranula dissecting atau plunging ranula atau ranula


profunda
a. Laryngocele
Laryngocele adalah penonjolan selaput lendir laring (kotak
suara). Terjadi karena tekanan intralaringeal meningkat. Laryngocele
yang menonjol ke arah luar (Laryngocele eksterna) menyebabkan
benjolan di leher. Penderita juga bisa mengalami disfagia (gangguan
menelan), batuk atau merasakan adanya sesuatu di tenggorokannya.
Pada CT scan, Laryngocele tampak licin dan berbentuk seperti telur.
(Raden Fahmi).

Gambar Laryngocele

b.

Sialadenitis
Terjadi karena peradangan dari glandula saliva dengan
gambaran klinis :
Malnutrition
Mulut terasa kering
Rasa sakit pada mulut atau wajah, terutama ketika makan
Kulit kemerahan di samping wajah atau leher
Pembengkakan pada wajah terutama di depan telinga, di bawah
rahang, atau di bawah lidah.
(damayanti,dkk)

Gambar Sialadenitis

c.

Abses leher
Abses leher merupakan kumpulan nanah dari infeksi di ruang
antara struktur leher. Terjadi karena infeksi bakteri atau virus dikepala
atau leher.
Gejala yang ditimbulkan yaitu :
a. Demam
b. Merah, bengkak tenggorokan, sakit, kadang-kadang hanya satu
sisi.
c. Tonjolan di bagian belakang tenggorokan
d. Nyeri leher
e. Sakit telinga
f. Tubuh sakit
g. Panas dingin
h. Kesulitan menelan, berbicara atau bernapas
(Anonim, http://www.chp.edu)

Gambar Abses leher

Kista Kelenjar Paratiroid atau Tiroid


Kista ini berisi cairan bening atau darah dan biasanya

d.

bermanifestasi sebagai massa leher tanpa gejala. Epitel kista ini


berbentuk kubus atau kolumnar (Sachin Wani & Ziyun Hao).

Gambar Kista Tiroid

H. Penatalaksanaan Ranula
Dalam kasus ranula, ahli bedah mulut dapat merekomendasikan
marsupialisasi atau eksisi, dimana ranula diincisi untuk membuat outlet pada
kista retensi kelenjar liur sehingga cairan dapat dikeluarkan (S. E. Smith).
Berikut

ini

penjelasan

tentang

prosedur

marsupialisasi

serta

komplikasi yang ditimbulkan.


1. Tehnik Operasi :
a. Menjelang operasi
Penjelasan kepada penderita dan keluarganya mengenai tindakan
operasi yang akan dijalani serta resiko komplikasi disertai dengan
tandatangan persetujuan dan permohonan dari penderita untuk
dilakukan operasi. (Informed consent).
Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi.

Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi.

Antibiotika profilaksis, Cefazolin atau Clindamycin kombinasi


dengan Garamycin, dosis menyesuaikan untuk profilaksis.

b. Tahapan operasi

10

Dilakukan dalam kamar operasi, penderita dalam narkose umum


dengan intubasi nasotrakheal kontralateral dari lesi, atau kalau
kesulitan bisa orotrakeal yang diletakkan pada sudut mulut serta
fiksasi-nya kesisi kontralateral, sehingga lapangan operasi bisa
bebas.

Posisi penderita telentang sedikit head-up (20-25 0 ) dan kepala


menoleh kearah kontralateral, ekstensi (perubahan posisi

kepala

setelah didesinfeksi).

Desinfeksi intraoral dengan Hibicet setelah dipasang tampon steril di


orofaring.

Desinfeksi lapangan operasi luar dengan Hibitane-alkohol 70%


1:1000

Mulut dibuka dengan menggunakan spreader (alat pembuka) mulut,


untuk memudahkan mengeluarkan lidah maka bisa dipasang teugel
(alat penyangga) untuk pada lidah dengan benang sutera 0/1.

Lakukan eksisi bentuk elips pada mukosa dasar mulut dan pilih
yang

paling sedikit vaskularisasi-nya, kemudian rawat perdarahan

yang terjadi, lakukan sondase atau palpasi, sebab kadang ada


sialolithiasis, atau sebab lain sehingga menimbulkan sumbatan pada
saluran kelenjar liur sublingual. Tepi eksisi dijahit dengan Dexon 0/3
agar tidak menutup lagi.

Apabila masih teraba kista maka bisa dilakukan memecahkan septa


yang ada sehingga isinya bisa ter-drainase. Pada kista yang cukup
besar setelah dievaluasi tidak ada kista lagi maka bisa dipasang
tampon pita sampai keujungnya dipertahankan sampai 5 hari sebagai
tuntunan epitelialisasi pada permukaan kista tadi dan tidak obliterasi
lagi.

Apabila didapat sebagian ranula dibawah musculus mylohyoid, maka


memerlukan pendekatan yang lebih bagus dari ekstra oral. Dan yang
perlu diperhatikan adalah nervus hipoglossus, nervus lingualis.
Evaluasi ulang untuk perdarahan yang terjadi.

11

Lapangan operasi dicuci dengan kasa-PZ steril, luka operasi yang


diluar ditutup dengan kasa steril dan di hipafiks (perekat).

Tampon orofaring diambil, sebelum ekstubasi.


(Anonim, http://bedahunmuh.wordpress.com)

2. Komplikasi operasi yang dapat terjadi, yaitu :


a. Perdarahan
b. Kerusakan nervus hipoglosus atau nervus lingualis
c. Infeksi
d. Fistel orokutan pada operasi yang pendekatannya intra dan extra oral
e. Residif
Residif ketika kelenjar saliva yang terlibat tidak terpotong mecapai
50%. Angka ini menurun jika kelenjar saliva tersebut dipotong.
(Ryan L Van De Graaff; Anonim, http://bedahunmuh.wordpress.com)
Pada pasien langka yang tidak dapat mentoleransi pembedahan, terapi
radiasi adalah terapi alternatif. (Ryan L Van De Graaff).

12

BAB III
CASE REPORT
Laporan Kasus : RANULA
Oleh :
Dr. Suman Jaishankar, Dr. Manimaran, Dr. Kannan, Dr. Christeffi Mabel
JIADS VOL -1 Issue 3 July - September,2010

ABSTRAK:
Menurut definisi ranula adalah rongga yang berisi mukus dan merupakan
mucocele yang terletak di dasar mulut yang berhubungan dengan kelenjar
sublingual. Nama "ranula" telah berasal dari kata latin "Rana" yang berarti
"katak". Pembengkakan menyerupai perut atau kantung udara pada katak. Ranula
memiliki karakteristik besarnya (> 2 cm) dan muncul sebagai pembengkakan
berbentuk kubah tegang berfluktuasi, biasanya di lantai lateral rongga mulut.
Makalah ini mebahas tentang laporan kasus ranula di dasar mulut yang telah
berhasil dilakukan perawatan dengan eksisi ranula bersama dengan kelenjar
sublingual.
PENDAHULUAN:
Menurut Hippocrates dan Celcius, melaporkan bahwa ranula ialah : 1)
Secara teoritis, pembentukan ranula terjadi akibat dari obstruksinya saluran
ekskresi yang disertai dengan ekstravasasi dan akumulasi saliva ke dalam
jaringan. 2) akumulasi mukos dalam jaringan ikat disekitarnya membentuk
pseudokista yang tidak memiliki epitel lining. 3) analisis membuktikan terdapat
konsentrasi protein dan amylase yang tinggi terhadap sekresi dari asini musinous

13

pada kelenjar sublingual. Kandungan protein yang tinggi dapat menimbulkan


reaksi inflamasi yang intens dan mediator dalam pembentukan pseudokista.
Banyak metode pada penatalaksanaan untuk ranula. Telah dijelaskan
dalam literatur, ranula dapat dilakukan eksisi ranula saja, eksisi ranula beserta
kelenjar sublingual , marsupialisa dan cryosurgery.
Perawatan definitif ranula sekarang ialah eksisi beserta kelenjar sublingual
yang didukung dengan studi terbaru.
LAPORAN KASUS:
Seorang pasien pria berusia 22 tahun datang ke departemen rawat jalan
dengan keluhan utama pembengkakan tanpa rasa sakit di bawah lidah di sisi
kanan, selama satu bulan terakhir. Pasien mengungkapkan bahwa pembengkakan
secara bertahap meningkat. Tidak ada rasa sakit dan terdapat riwayat perawatan
endodontik pada gigi 46.
Pada pemeriksaan terdapat pembengkakan berwarna kebiruan dan
berfluktuasi dengan ukuran 1x2 cm yang terlihat di dasar mulut berdekatan
dengan gigi 46 dan 47. Pembengkakan berkonsistensi lunak dan tidak ada debit
yang ditimbulkan.
Pada pemeriksaan, seorang 1x 2 cm kebiruan pembengkakan berfluktuasi
terlihat di dasar mulut berdekatan dengan 46, 47 wilayah. Pembengkakan itu tidak
lembut, lembut konsistensi dan tidak ada pembuangan yang ditimbulkan.
Pada hubungan temauan klinis, kasus ini sementara di diagnose sebagai
ranula. Pasien melakukan pemeriksaan radiografi dan mengungkapkan bahwa
tidak ada obstruksi. Setelah pemeriksaan pra operasi selanjutnya dilakukan eksisi
ranula beserta kelenjar sublingul dengan menggunakan anestesi lokal. pasien
timbul paresthesi. Pasien tetap dibawah pengawasan dan diberikan resep renerve
tab (1 OD) serta ditindak lanjuti setiap minggu dan secara bertahap sensasi dari
parasthesi berkurang.

14

DISKUSI :
Ranula adalah pembengkakan yang terjadi didasar mulut. Umumnya
berbatas jelas, kenyal, kista berwarna kebiruan yang ditutupi oleh lapisan
epithelium yang tipis.
Penyebab pembentukan ranula ialah trauma pada dasar mulut, operasi
daerah leher yang dapat membuat pecah kelenjar sublingual atau menyebabkan
penyumbatan saluran kelenjar sublingual yang menghasilkan mucus.

15

Ranula diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu simple ranula dan


plunging ranula. Simple ranula lebih umum terjadi daripada plunging ranula.
Simple ranula terbentuk akibat terkumpulnya mucus secara lokal pada dasar
mulut. Pada plunging ranula mucus terkumpul pada daerah leher antara
submandibula dan submentale dengan atau tanpa hubungan intra oral yang terkait.
Perlu dipertimbangkan kemungkinan plunging ranula pada pasien dengan
ambang rasa nyeri tinggi yang terdapat pembengkakan servikal yang ukurannya
semakin membesar secara bertahap, terutama jika ada riwayat trauma lisan,
termasuk prosedur bedah mulut atau lainnya.
Diagnosis ranula didasarkan terutama pada pemeriksaan klinis dan
terkadang pada komputerisasi tomografi atau temuan pencitraan resonansi
magnetik untuk lesi plunging. Jika ada keraguan tentang diagnosis, aspirasi mucus
dari lesi dan penentuan laboratorium konten amilase harus membuat diagnosis
ranula jelas.
Diagnosis banding dari ranula termasuk abses, kista dermoid, dan lesi
vaskular. Diagnosis banding dari plunging ranula termasuk kista branchial,
tiroglosus saluran kista, kista epidermal, Higroma kistik, malformasi arteri,
limfadenopati, abses atau tumor jaringan lunak.
Berikut adalah beberapa metode yang berbeda dari perawatan untuk
ranula. Ini termasuk eksisi ranula melalui pendekatan intraoral atau servikal,
marsupialisasi, eksisi intra oral kelenjar sublingual dan drainase lesi, dan eksisi
lesi dengan kelenjar sublingual.
Modalitas pengobatan terbaru seperti OK-432 di uji pada beberapa pasien.
Tapi, karena obat ini tidak tersedia secara luas dan efek samping seperti demam
dan rasa sakit ditemui pada tempat bekas suntikan, obat ini menjadi tidak populer.
Inovatif, metode lain yang sederhana non-bedah adalah penggunaan toksin
botulinum tipe A untuk mengobati ranula.
Sialoendoscopy adalah metode baru yang menjanjikan untuk digunakan
dalam diagnosis, pengobatan dan manajemen pasca operasi dari sialadenitis,

16

sialolithiasis dan penyakit kelenjar ludah obstruktif lainnya.


KESIMPULAN
Pengobatan yang efektif gangguan kelenjar ludah memerlukan diagnosis
yang akurat dari penyakit tertentu. Kemajuan baru di bidang imaging, membantu
dokter dalam membuat diagnosa yang tepat. Karena cedera pada saraf lingual dan
saluran sublingual adalah komplikasi potensial yang terkait dengan prosedur
bedah, pencarian modalitas pengobatan alternatif terus.

17

KESIMPULAN
Ranula merupakan suatu kista retensi dengan gambaran khas pada dasar
mulut.
Dikenal dua tipe klinik ranula, yaitu ranula superficial atau simple
ranula dan plunging ranula atau ranula dissecting atau ranula
profunda. Simple ranula letaknya terbatas pada dataran oral musculus
mylohyoideus, sedangkan plunging ranula menerobos di bawah musculus
mylohyoideus dan bisa menyebar ke daerah submandibular, ke leher
bahkan ke mediastinum
Ranula terbentuk sebagai akibat terhalangnya ductus glandula saliva
mayor, bisa akibat dari penyumbatan, trauma atau adanya peradangan.
Gambaran klinis ranula yaitu adanya benjolan simple pada dasar mulut
berwarna biru kemerah-merahan, berdinding tipis transparan, gambaran seperti
perut katak. Tidak ada rasa sakit kecuali meradang atau infeksi. Bila benjolan
membesar dapat menganggu bicara, makan maupun penelanan. Pada simple
ranula benjolan terletak superficial sedangkan pada plunging
ranula benjolan terletak lebih dalam sehingga dapat menimbulkan
pembengkakan submental
Untuk menegakkan diagnosis ranula perlu dilakukan beberapa langkah
yaitu anamnesa lengkap dan cermat secara visual, bimanual palpasi intra dan
extra oral, punksi dan aspirasi. Kemudian dilakukan juga pemeriksaan penunjang
yang terdiri dari pemeriksaan radiologis dan mikroskopis untuk mendukung
diagnosis ranula.
Differential Diagnosis Ranula superficial atau simple ranula :
1.
2.
3.

Batu kelenjar liur (Sialolith)


Kista dermoid
Hemangioma
Differential Diagnosis Ranula dissecting atau plunging ranula atau ranula

profund :
1. Laryngocele
2. Sialadenitis
3. Abses leher
4. Kista Kelenjar Paratiroid atau Tiroid

18

Penatalaksanaan ranula biasanya dilakukan tindakan bedah yang


dinamakan marsupialisasi.

DAFTAR PUSTAKA
19

Acevedo, Jason L; Shah, Rahul K. Cystic Hygroma. Diakses tanggal 16 Januari


2015. Online: www.emedicine.medscape.com
Anonim. 2008. Neck abscess. Diakses tanggal 16 Januari 2015. Online: .
http://www.chp.edu/CHP/P02051.
Anonim. 2010. Eksisi dan Marsupialisasi Ranula. Diakses tanggal 17 Januari
2015. Online: http://www.bedahunmuh.wordpress.com.
Atmadja, Iskandar. Marsupialisasi Ranula. Forum Ilmiah 1984 FKG Universitas
Trisakti. Jakarta. 1984. h: 567-569.
Damayanti; Husodo, Noto; Setijono. Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut. Jakarta.
Fahmi, Raden. 2010. Laringokel. Diakses tanggal 17 Januari 2015. Online:
http://community.um.ac.id/showthread.php?61160-Laringokel.
Graaff, Ryan L Van De. 2010. Ranulas and Plunging Ranulas. Diakses tanggal 17
Januari 2015. Online: http://www.emedicine.com.
Langlais, Robert P; Mille, Craig S. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut Yang
Lazim. Hipokrates. Jakarta. 1984. h: 40.
Nasution, Dona Sari. 2008. Dukungan Radiografi Dalam Menegakkan Diagnosa
Sialolitiasis Pada Anak-Anak. Diakses tanggal 17 Januari 2015. Online:
http://www.repository.usu.ac.id/handle/123456789/7972.
Pedersen, Gordon W. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. EGC. Jakarta. 1996. h:
279-280, 284-289.
Quick, AC; Lowell, SH. 1977. Ranula and the Sublingual salivary glands,. Arch.
Otolaryngol 103 : 397-400.
Rahardja, Aswin. Dua Tipe Ranula: Diagnosis dan Terapi. Kongres Nasional xvii.
Ujung Pandang. 1989. h: 567-568.
Shear, Mervyn. Kista Rongga Mulut. Edisi ke-2. EGC. Jakarta. 1998. h: 196-197.
Sloan, Steven Brett. 2010. Oral hemangioma. Diakses tanggal 18 Januari 2015.
Online: http://www.emedicine.medscape.com.
Smith, S E. 2010. What is Ranula. Diakses tanggal 18 Januari 2015. Online:
http://www.wisegeek.com.
Sugito, MH. Kista. Dental Study Club. FKG. UGM. Jogjakarta. 1981. h: 6.
Wagner, Andrew L. 2010. Pleomorphic Parotid Adenoma Imaging. Diakses
tanggal 18 Januari 2015. Online: http://www.emedicine.com.

20

Wani, Sachin; Hao, Ziyun. 2005. Atypical cystic adenoma of the parathyroid
gland. Diakses tanggal 18 Januari 2015. Online: http://www.medscape.com.

21