Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Kontrasepsi
1. Pengertian
Pengertian kontrasepsi yaitu pencegahan terbuahinya sel telur
oleh sel sperma (konsepsi) atau pencegahan menempelnya sel telur yang
telah dibuahi ke dinding rahim. Terdapat beberapa metode yang digunakan
dalam kontrasepsi. Metode dalam kontrasepsi tidak ada satupun yang
efektif secara menyeluruh. Meskipun begitu, beberapa metode dapat lebih
efektif dibandingkan metode lainnya. Efektivitas metode kontrasepsi yang
digunakan bergantung pada kesesuaian pengguna dengan instruksi.
Perbedaan keberhasilan metode juga tergantung pada tipikal penggunaan
(yang terkadang tidak konsisten) dan penggunaan sempurna (mengikuti
semua instruksi dengan benar dan tepat) (Medicastore, 2008).
Kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya
kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan
sel sperma tersebut (Depkes RI, 2002).
2. Macam-macam Kontrasepsi
Macam-macam metode kontrasepsi menurut Hartanto (2003)
a. Metode Sederhana
1) Tanpa alat
a) KB Alamiah

b) Coitus Interruptus
2) Dengan alat
a) Mekanis (barrier)
b) Kimiawi
b. Metode Modern
1) Kontrasepsi hormonal
a) Peroral : Pil Oral Kombinasi (POK), mini-pil, morning-after
pill
b) Injeksi

suntikan

DMPA,

NET-EN,

Microsheres,

Microcapsules
c) Sub-kutis : implant
2) Intra Uterine Devices (IUD)
3) Kontrasepsi mantap
3. Manfaat Kontrasepsi dari Segi Kesehatan
a. Untuk Ibu : dengan jalan mengatur jumlah dan jarak kelahiran, ibu
mendapat manfaat berupa :
1) Perbaikan kesehatan badan karena tercegahnya kehamilan yang
berulang kali dalam jangka waktu yang terlalu pendek.
2) Peningkatan kesehatan mental sosial yang dimungkinkan oleh
adanya waktu yang cukup untuk mengasuh anak-anak untuk
beristirahat dan menikmati waktu luang serta melakukan kegiatan
lainya.

b. Untuk anak-anak yang dilahirkan


1) Anak yang akan dilahirkan dapat tumbuh secara wajar karena ibu
yang mengandungnya berada dalam keadaan sehat.
2) Sesudah lahir anak

tersebut

akan memperoleh perhatian,

pemeliharaan dan makanan yang cukup karena kehadiran anak


tersebut memang diinginkan dan direncanakan.
c. Untuk anak-anak yang lain
1) Memberi kesempatan kepada mereka agar perkembangan fisiknya
lebih baik karena setiap anak memperoleh makanan yang cukup
dari sumber yang tersedia dalam keluarga.
2) Perkembangan mental dan sosialnya lebih sempurna karena
pemeliharaan yang lebih baik dan lebih banyak waktu yang dapat
diberikan oleh ibu untuk setiap anak.
3) Perencanaan kesempatan pendidikan yang lebih baik karena
sumber-sumber

pendapatan

keluarga

tidak

habis

untuk

mempertahankan hidup semata-mata.


d. Untuk Bapak
Memberikan kesempatan agar memperbaiki kesehatan fisik,
mental dan sosial karena kecemasan berkurang serta lebih banyak
waktu untuk keluarganya
e. Untuk seluruh keluarga
Setiap anggota keluarga mempunyai kesempatan
lebih banyak dalam memperoleh pendidikan.

yang

4. Kontrasepsi dapat digunakan


Pasangan usia subur yang ingin mencegah kehamilan,
menjarangkan kehamilan, membatasi jumlah anak, kebutuhan kesehatan.
5. Persyaratan medis dalam penggunaan Kontrasepsi
Keadaan atau kondisi yang mempengaruhi persyaratan medis
dalam penggunaan setiap metode dikelompokan dalam 4 kategori ;
a. Kondisi dimana tidak ada pembatasan apapun dalam penggunaan
metode kontrasepsi.
b. Penggunaan kontrasepsi lebih besar manfaatnya dibandingkan dengan
resiko yang diperkirakan akan terjadi.
c. Resiko yang diperkirakan lebih besar daripada manfaat penggunaan
kontrasepsi.
d. Resiko akan terjadi bila metode kontrasepsi tersebut digunakan
(Saifudin, 2003)

B. Depo Medroxy Progesteron Asetat


1. Pengertian
Depoprovera (DMPA) adalah berisi depo medroksi progesteron
asetat dan diberikan dalam suntikan tunggal 150 mg secara intramuscular
setiap 12 minggu. DMPA saat ini tersedia dalam spuit yang sebelumnya
telah diisi dan dianjurkan untuk diberikan tidak lebih dari 12 minggu dan 5
hari setelah suntikan terakhir. DMPA merupakan suspensi mikrokristal
yang membentuk depo pada tempat penyuntikan Intra Muskular (IM).

10

Kadar serum DMPA tidak begitu berfluktuasi, bila dibandingkan dengan


kadar serum noretisteron enantat, karena noritesteron enantat memiliki
sifat sifat lipofit yang tinggi, dan pada penyuntikan akan terbentuk depo
sekunder. DMPA bekerja sebagai penghambat ovulasi (Baziad, 2008).
DMPA dipakai lebih dari 90 negara. Kontrasepsi jenis DMPA telah
digunakan lebih dari 20 tahun dan sampai saat ini akseptornya berjumlah
kira-kira 5 juta wanita dan diberikan setiap 3 bulan dengan dosis 150 mg
(Hartanto, 2003).
2. Jenis KB Suntik
Dua kontrasepsi suntikan berdaya kerja lama yang sekarang
banyak dipakai adalah:
a. DMPA (Depo Medroxy Progesteron Acetat )
1) Dipakai di lebih dari 90 negara, telah digunakan selama kurang
lebih 20 tahun dan sampai saat ini akseptornya berjumlah kira-kira
5 juta wanita.
2) Diberikan sekali tiap 3 bulan dengan dosis 150 mg
b. Medroxy Progesteron Acetat dan Estrogen Sipionate
1) Dipakai lebih dari 40 negara dengan jumlah akseptor kira-kira 1,5
juta wanita.
2) Diberikan dalam dosis 25 mg medroxyprogesteron dan 5 mg
estrogen sipionate diberikan setiap bulan.Di Indonesia didapatkan
haid teratur pada 85% peserta KB suntik 1 bulan.

11

3. Cara Kerja menurut Hartanto (2007)


a. Primer : mencegah ovulasi
Kadar FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH
(Luteinizing Hormone) menurun dan tidak terjadi sentakan LH (LH
surge). Respons kelenjar hypophyse terhadap gonadotropin-releasing
hormon eksogenous tidak berubah, sehingga memberi kesan terjadi di
hipotalamus daripada di kelenjar hypophyse. Ini berbeda dengan POK,
yang tampaknya menghambat ovulasi melalui efek langsung pada
kelenjar

hypophyse.

Penggunaan

kontrasepsi

suntikan

tidak

menyebabkan keadaan hipo-estrogenik (kadar estrogen rendah).


Pada pemakaian DMPA, endometrium menjadi dangkal
dan atrofis dengan kelenjar-kelenjar yang tidak aktif. Sering stroma
menjadi oedematous. Dengan pemakaian jangka lama, endometrium
dapat menjadi sedemikian sedikitnya, sehingga tidak didapatkan atau
hanya didapatkan sedikit sekali jaringan bila dilakukan biopsi. Tetapi,
perubahan-perubahan tersebut akan kembali menjadi normal dalam
waktu 90 hari setelah suntikan DMPA yang terakhir.
b. Sekunder
1) Lendir serviks menjadi kental dan sedikit, sehingga merupakan
barier terhadap spermatozoa
2) Membuat endometrium menjadi kurang baik / layak untuk
implantasi dari ovum yang telah dibuahi

12

3) Mungkin mempengaruhi kecepatan transport ovum di dalam tuba


fallopi
4. Efektivitas
Dalam hal penekanan terhadap ovulasi ternyata DMPA
efektivitasnya

hampir

sama

dengan

pil

kombinasi.

Kehandalan

kontrasepsinya melebihi minipil maupun AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam


Rahim). Indeks Pearl untuk DMPA adalah 0-1,2. Kegagalan yang terjadi
pada umumnya dikarenakan oleh ketidakpatuhan untuk datang pada
jadwal suntikan yang telah ditetapkan, atau teknik penyuntikan yang salah.
Injeksinya harus benar-benar intragluteal (Baziad, 2008).
5. Cara pemberian
a. DMPA diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik intragluteal atau
intradeltoid. Penyuntikan ditangan menimbulkan kesan seolah-olah
wanita tersebut mendapatkan suntikan vaksinasi sehingga penyuntikan
cara ini tidak begitu disukai dan menimbulkan rasa sakit. Injeksi
pertama diberikan pada hari kelima siklud haid dengan tujuan untuk
menyingkirkan bahwa wanita tersebut sedang tidak hamil. Suntikan
berikutnya diberikan setiap 90 hari, tidak peduli, apakah wanita
tersebut haid atau tidak (Baziad, 2008).
b. Cara penggunaan kontrasepsi suntikan menurut Noviawati (2009)
1) Cara pemberian kontrasepsi DMPA dengan suntikan intramuskular
2) Kontrasepsi suntikan DMPA diberikan setiap 3 bulan dengan cara
disuntik intramuskular yang dalam di daerah pantat. Apabila

13

suntikan diberikan terlalu dangkal, penyerapan kontrasepsi


kontrasepsi suntikan akan lambat dan tidak bekerja segera dan
efektif. Suntikan diberikan setiap 90 hari. Pemberian kontrasepsi
suntikan Noristerat untuk 3 injeksi berikutnya diberikan setiap 8
minggu. Mulai injeksi kelima diberikan setiap 12 minggu
3) Bersihkan kulit yang akan disuntik dengan kapas alkohol yang
dibasahi oleh etil / isopropyl alkohol 60-90%. Biarkan kulit kering
sebelum disuntik. Setelah kulit kering baru disuntik
4) Kocok dengan baik dan hindarkan terjadinya gelembunggelembung udara. Kontrasepsi suntik tidak perlu didinginkan. Bila
terdapat

endapan

putih

pada

dasar

ampul,

upayakan

menghilangkannya dengan menghangatkannya.


5) Setelah terminasi kehamilan trimester pertama dan keguguran,
suntikan pertama biasanya diberikan dalam 5 hari pertama tanpa
dibutuhkan kewaspadaan tambahan. Wanita pascapartum harus
mulai mendapat suntikan pertama 5-6 minggu setelah melahirkan,
karena bila diberikan lebih awal, perdarahan menstruasi menghebat
dan memanjang.
6. Indikasi menurut Glasier (2005)
a. Sebagai kontrasepsi pilihan pertama, dengan sifat-sifat metode yang
menarik bagi wanita dan tidak ada kontraindikasi. Peraturan lokal
mungkin perlu dipertimbangkan di sini, sebagai contoh, DMPA masih
dilisensikan khusus untuk kontrasepsi wanita sedangkan kontrasepsi

14

lain terbukti tidak cocok. Di Inggris, DMPA didaftarkan untuk


pemasaran kontrasepsi umum pada tahun 1995.
b. Saat wanita menyatakan keinginan untuk menggunakan kontrasepsi
hormon, tetapi :
1) Estrogen dikontraindikasikan
2) Estrogen tidak dapat ditoleransi dengan baik
3) Profil efek samping atau komplikasi estrogen tidak disukai
c. Bagi Wanita
Bagi wanita berusia lebih tua dan perokok. Telah dipastikan
bahwa perokok berusia lebih dari 35 tahun mengalami peningkatan
resiko penyakit kardiovaskular dan hal ini diperberat oleh pemakaian
Kontrasepsi Oral Kombinasi (KOK). Risiko ini tampaknya tidak
meningkat oleh metode progesteron, walaupun data jangka panjang
yang ada tidak sebanyak data untuk KOK. Metode progesteron dapat
digunakan sampai menopause, dan bahkan mungkin meredakan
beberapa gejala premenopause.
d. Selama laktasi. Metode progesteron lebih dianjurkan daripada metode
yang mengandung estrogen.
e. Bagi wanita dengan :
1) Diabetes mellitus
2) Hipertensi ringan atau yang tekanan darah terkendali baik
3) Penyakit sel sabit homozigot
4) Migren, termasuk tipe fokal

15

5) Sebagal alternative untuk KOK sebelum bedah mayor efektif


6) Bagi wanita yang kurang dapat diandalkan atau kurang motivasi
dalam minum pil (sistem pemberian obat jangka panjang
merupakan kontrasepsi yang sangat efektif, tetapi reversibel.
Metode progesteron yang bekerja lama saat ini merupakan metode
yang paling efektif sekaligus reversibel dan bagi banyak wanita
merupakan alternatif yang sesuai untuk sterilisasi
7. Kontra indikasi menurut Noviawati (2009)
a. Hamil atau dicurigai hamil (risiko cacat pada janin 7 per 100.000
kelahiran)
b. Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
c. Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid, terutama amenorea
d. Menderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara
e. Diabetes mellitus disertai komplikasi
8. Keuntungan menurut Noviawati (2009)
a. Sangat efektif
b. Pencegahan kehamilan jangka panjang
c. Tidak berpengaruh pada hubungan suami-istri
d. Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap
penyakit jantung, dan gangguan pembekuan darah
e. Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI
f. Sedikit efek samping
g. Klien tidak perlu menyimpan obat suntik

16

h. Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai menopause


i. Membantu mencegah kanker payudara endrometrium dan kehamilan
ektopik
j. Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara
k. Mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul
l. Menurunkan krisis anemia bulan sabit (Sickle cell)
9. Efek samping Kontrasepsi suntik antara lain :
a. Gangguan Haid
1) Pola haid yang normal dapat berubah menjadi :
a) Amenore
b) Perdarahan ireguler
c) Perdarahan bercak
d) Perubahan dalam frekuensi, lama dan jumlah darah yang
hilang.
2) Efek pada pola haid tergantung pada lama pemakaian. Perdarahan
inter menstrual dan perdarahan bercak berkurang dengan jalannya
waktu, sedang kejadian amenore bertambah besar.
3) Insiden yang tinggi dari amenorea diduga berhubungan dengan
atrofi endometrium. Sedangkan sebab-sebab dari perdarahan
ireguler masih belum jelas, dan sepertinya tidak ada hubungan
dengan

perubahan-perubahan

endometrium.

kadar

hormon

atau

histologi

17

4) DMPA lebih sering menyebabkan perdarahan, perdarahan bercak


dan amenore di bandingkan dengan Noretisteron dan amenore pada
DMPA tampaknya lebih sering terjadipada akseptor dengan berat
badan tinggi.
5) Bila terjadi amenorea, berkurangnya darah haid sebenarnya
memberikan efek yang menguntungkan yakni berkurangnya
insiden anemia.
6) Untung bahwa perdarahan yang hebat, yang dapat membahayakan
diri akseptor jarang terjadi.
b. Berat badan bertambah.
1) Umumnya pertambahan berat badan tidak terlalu besar, bervariasi
antara kurang dari 1 kg sampai 5 kg dalam tahun pertama.
2) Penyebab bertambahnya berat badan tidak jelas. Tampaknya terjadi
karena bertambahnya lemak tubuh, dan bukan karena retensi cairan
tubuh.
3) Hipotesa para ahli : DMPA merangsang pusat pengendali nafsu
makan di hipotalamus, yang menyebabkan akseptor makan lebih
banyak dari biasanya.
c. Sakit kepala
Insiden sakit kepala pada DMPA sangat kecil.
d. Efek pada system kardiovaskuler dan penurunan High Density
Lipoprotein (HDL) kolesterol.

18

Perubahan dalam metabolisme lemak, terutama penurunan


kadar HDL kolesterol, dicurigai dapat menambah besar risiko
timbulnya

aterosclerosis.

Sedangkan

terhadap

trigliserida

dan

kolesterol total tidak di temukan efek apapun dari kontrasepsi suntikan


(Hartanto, 2006).

C. Berat Badan
1. Definisi
Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan
gambaran massa tubuh. Berat badan ideal adalah berat badan untuk tinggi
badan tertentu yang secara statistik dianggap paling tepat untuk menjamin
kesehatan dan umur panjang.
Obesitas atau kegemukan adalah ketidakseimbangan jumlah
makanan yang masuk dibanding dengan pengeluaran energi oleh tubuh.
2. Kriteria
Untuk mengklasifikasikan obesitas dipergunakan ukuran:
a. Body Mass Index (BMI)
Metode paling berguna dan banyak digunakan untuk
mengukur tingkat obesitas adalah BMI (Body Mass Index), yang
didapat dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari
tinggi badan (meter).

19

Tabel 1

Klasifikasi BMI menurut WHO (2006)

Kategori
Underweight

BMI (kg/m2)
<18.5 kg/m2

Batas normal
Overweight
Pre obese
Obese I
Obese II
Obese III

18.5 24.9 kg/m2


> 25
25.0 29.9 kg/m2
30.0 34.9 kg/m2
35.0 39.9 kg/m2
> 40.0 kg/m2

Tabel 2

Resiko comorbiditas
Rendah (tetapi resiko terhadap
masalah masalah klinis lain
meningkat)
Rata rata
Meningkat
Sedang
Berbahaya
Sangat berbahaya

Klasifikasi berat badan yang diusulkan berdasarkan


BMI pada penduduk Asia dewasa (WHO, 2000)

Kategori
Underweight

BMI (kg/m2)
< 18.5 kg/m2

Batas normal
Overweight
At Risk
Obese I
Obese II

18.5 22.9 kg/m2


> 23
23.0 24.9 kg/m2
25.0 29.9 kg/m2
> 30.0 kg/m2

Resiko comorbiditas
Rendah (tetapi resiko terhadap
masalah masalah klinis lain
meningkat)
Rata rata
Meningkat
Sedang
Berbahaya

b. Tes cermin : Jika sewaktu bercermin anda kelihatan gemuk,


kemungkinan anda memang kegemukan.
c. Tes cubit : Cobalah cubit kulit belakang lengan atas anda. Berat badan
normal jika tebal lemaknya adalah antara 1 2,5 cm. kurang atau lebih
dari itu menunjukan anda terlalu kurus atau terlalu gemuk.
d. Tes loncat : Cobalah meloncat ditempat. Jika ada bagian tubuh anda
yang seharusnya tidak ikut terguncang tapi ikut terguncang itu adalah
lemak.

20

D. Faktor yang Mempengaruhi Berat Badan


Ada beberapa kemungkinan faktor yang mempengaruhi berat
badan antara lain adalah (Anggraeni, 2008) :
1. Kelebihan makanan
Kegemukan hanya mungkin terjadi jika terdapat kelebihan
makanan dalam tubuh, terutama bahan makanan sumber energi. Dengan
kata lain, jumlah makanan yang dimakan melebihi kebutuhan tubuh.
2. Kekurangan aktifitas fisik dan kemudahan hidup
Kegemukan dapat juga terjadi bukan karena makan berlebihan,
tetapi karena aktifitas fisik berkurang, sehingga terjadi kelebihan energi.
Berbagai kemudahan hidup juga menyebabkan berkurangnya aktifitas
fisik, dan kemajuan teknologi diberbagai bidang kehidupan mendorong
masyarakat untuk menempuh kehidupan yang tidak memerlukan kerja
fisik yang berat.
3. Faktor psikologis dan genetik
Faktor psikologis sering juga disebut sebagai salah satu faktor
yang dapat mendorong terjadinya obesitas. Gangguan emosional akibat
adanya tekanan psikologi atau lingkungan kehidupan kemasyarakatan
yang dirasakan tidak menguntungkan. Saat seseorang merasa cemas, sedih,
kecewa atau tertekan, biasanya cenderung mengkonsumsi makanan lebih
banyak untuk mengatasi perasaanperasaan yang tidak menyenangkan
tadi.

21

Kegemukan dapat diturunkan dari generasi sebelumnya pada


generasi berikutnya dalam sebuah keluarga. Itulah sebabnya kita sering
menjumpai orang tua yang gemuk cenderung mempunyai anak anak
yang gemuk pula. Dalam hal ini faktor genetik telah ikut campur
menentukan jumlah unsur sel lemak dalam tubuh. Hal ini dimungkinkan
karena pada saat ibu yang obesitas sedang hamil maka unsur sel lemak
dalam tubuh yang berjumlah lebih besar dan melebihi ukuran normal,
secara otomatis akan diturunkan kepada sang bayi selama dalam
kandungan. Maka tidak heranlah bila bayi yang lahir pun memiliki unsur
lemak tubuh yang relatif sama besar.
4. Pola konsumsi makan
Pola makan masyarakat dilingkungan perkotaan yang tinggi
kalori dan lemak serta rendah serat memicu peningkatan jumlah penderita
obesitas. Masyarakat diperkotaan yang cenderung sibuk, biasanya lebih
menyukai mengkonsumsi makanan cepat saji, dengan alasan lebih praktis.
Meskipun mereka mengetahui bahwa nilai kalori yang terkandung dalam
makanan cepat saji sangat tinggi, dan didalam tubuh kelebihan kalori ini
akan dirubah dan disimpan menjadi lemak tubuh.
5. Kebudayaan
Bayibayi yang gemuk biasanya dianggap bayi yang sehat.
Banyak orang tua yang berusaha membuat bayinya sehat dengan
memberikan terlalu banyak susu yang biasanya adalah susu botol. Bayi
yang terlalu gemuk pada usia enam minggu pertama akan cenderung

22

tumbuh menjadi remaja yang gemuk. Beberapa studi menunjukkan bahwa


80% dari anak anak yang kegemukan akan tumbuh menjadi orang
dewasa yang kegemukan juga.
6. Faktor hormon
Menurut hipotesa para ahli Depo Medroxy Progesterone acetat
(DMPA) merangsang pusat pengendalian nafsu makan dihipotalamus yang
menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari pada biasanya (Hartanto,
2004).
Sistem pengontrol yang mengatur perilaku makan terletak pada
suatu bagian otak yang disebut hipotalamus. Hipotalamus mengandung
lebih banyak pembuluh darah dari daerah lain diotak, sehingga lebih
mudah dipengaruhi oleh unsur kimiawi darah. Dua bagian hipotalamus
yang mempengaruhi penyerapan makanan yaitu Hipotalamus Lateral (HL)
yang menggerakkan nafsu makan (awal atau pusat makan), Hipotalamus
Ventro Medial (HVM) yang bertugas menggerakkan nafsu makan
(pemberian atau pusat kenyang). Dari hasil suatu penelitian didapatkan
bahwa bila HL rusak/hancur maka individu menolak untuk makan dan
minum, dan akan mati kecuali bila dipaksa diberi makan dan minum
(diberi infus). Sedangkan kerusakan terjadi pada bagian HVM maka
seseorang akan menjadi rakus dan kegemukan. Pada penggunaan
progesteron yang lama (jangka panjang) menyebabkan pertambahan berat
akibat terjadinya perubahan anabolik dan stimulasi nafsu makan.

23

7. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan ternyata juga mempengaruhi seseorang
untuk menjadi gemuk. Jika seseorang dibesarkan dalam lingkungan yang
menganggap gemuk adalah simbol kemakmuran dan keindahan maka
orang tersebut cenderung untuk menjadi gemuk.

E. Kerangka Teori
Faktor yang mempengaruhi berat badan :
1. Kelebihan makan
2. Kekurangan aktifitas fisik dan
kemudahan hidup
3. Faktor psikologis dan genetik

4. Pola konsumsi makan

5. Kebudayaan

6. Faktor hormon

7. Faktor lingkungan

Bagan 2.3 Kerangka Teori


Sumber : Anggraeni (2008)

Berat Badan Naik

24

F. Kerangka Konsep
Variabel bebas

Variabel terikat

Kontrasepsi Suntik DMPA

Kenaikan Berat Badan

Bagan 2.4 Kerangka Konsep

G. Hipotesis
Ha

: Ada pengaruh kontrasepsi suntik DMPA terhadap kenaikan berat


badan