Anda di halaman 1dari 5

HIPOTIROID

A. Definisi
Hipotiroidisme merupakan suatu sindroma klinis akibat penurunan produksi
dan sekresi hormon tiroid. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan laju
metabolisme tubuh dan penurunan glukosaminoglikan di interstisial terutama dikulit
dan otot.
Hipotiroidisme adalah kumpulan sindroma yang disebabkan oleh konsentrasi
hormon tiroid yang rendah sehingga mengakibatkan penurunan laju metabolisme
tubuh secara umum. Kejadian hipotiroidisme sangat bervariasi , dipengaruhi oleh
faktor geografik dan lingkungan seperti asupan iodium dan goitrogen, predisposisi
genetik dan usia.
Hipotiroidisme biasanya disebabkan oleh proses primer dimana jumlah
produksi hormon tiroid oleh kelenjar tiroid tidak mencukupi. Dapat juga sekunder
oleh karena gangguan sekresi hormon tiroid yang berhubungan dengan gangguan
sekresi Thyroid Stimulating Hormone (TSH) yang adekuat dari kelenjar hipofisis atau
karena gangguan pelepasan Thyrotropin Releasing Hormone (TRH) dari hipotalamus
(hipotiroid sekunder atau tersier). Manifestasi klinis pada pasien akan bervariasi,
mulai dari asimtomatis sampai keadaan koma dengan kegagalan multiorgan (koma
miksedema).

B. Etiologi
Hipotiroidisme

dapat

diklasifikasikan

menjadi

hipotiroidisme

primer,

sekunder, tersier, serta resistensi jaringan tubuh terhadap hormon tiroid.


Hipotiroidisme primer terjadi akibat kegagalan tiroid memproduksi hormon tiroid,
sedangkan hipotiroidisme sekunder adalah akibat defisiensi hormon TSH yang
dihasilkan oleh hipofisis. Hipotiroidisme tersier disebabkan oleh defisiensi TRH yang
dihasilkan oleh hipotalamus. Penyebab terbanyak hipotiroidisme adalah akibat
kegagalan produksi hormon tiroid oleh tiroid (hipotiroidisme primer).
Primer

Tiroiditas Hashimoto
Terapi Iodium radioaktif untuk penyakit Graves
Tiroidektomi pada penyakit Graves, nodul tiroid, atau kanker tiroid
Asupan iodida yang berlebihan (pemakaian radiokontras)

Tiroiditis sub akut


Defisiensi iodium
Kelainan bawaan sintesis hormon tiroid
Sekunde

Obat-obatan (litium, interferon alfa, amiodaron)


Hipopituitari akibat adenoma hipofisis, terapi ablatif terhadap hipofisis,

r
Tersier

serta kerusakan hipofisis


Defisiensi hipotalamus

C. Patofisiologi
Hipotiroid dapat disebabkan oleh gangguan sintesis hormon tiroid atau
gangguan pada respon jaringan terhadap hormon tiroid. Sintesis hormon tiroid diatur
sebagai berikut :
Hipotalamus

membuat Thyrotropin

Releasing

Hormone (TRH)

yang

merangsang hipofisis anterior.


Hipofisis anterior mensintesis thyrotropin (Thyroid Stimulating Hormone =

TSH) yang merangsang kelenjar tiroid.


Kelenjar tiroid mensintesis hormon

tiroid

(Triiodothyronin =

T3

dan Tetraiodothyronin = T4 =Thyroxin) yang merangsang metabolisme


jaringan yang meliputi: konsumsi oksigen, produksi panas tubuh, fungsi
syaraf, metabolisme protrein, karbohidrat, lemak, dan vitamin-vitamin, serta
kerja daripada hormon-hormon lain.
Hipotiroidisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau
hipotalamus. Apabila disebabkan oleh malfungsi kelenjar tiroid, maka kadar HT yang
rendah akan disertai oleh peningkatan kadar TSH dan TRH karena tidak adanya
umpan balik negatif oleh HT pada hipofisis anterior dan hipotalamus. Apabila
hipotiroidisme terjadi akibat malfungsi hipofisis, maka kadar HT yang rendah
disebabkan oleh rendahnya kadar TSH. TRH dari hipotalamus tinggi karena. tidak
adanya umpan balik negatif baik dari TSH maupun HT. Hipotiroidisme yang
disebabkan oleh malfungsi hipotalamus akan menyebabkan rendahnya kadar HT,
TSH, dan TRH.
Penyakit Hashimoto, juga disebut tiroiditis otoimun, terjadi akibat adanya
otoantibodi yang merusak jaringan kelenjar tiroid. Hal ini menyebabkan penurunan
HT disertai peningkatan kadar TSH dan TRH akibat umpan balik negatif yang
minimal, Penyebab tiroiditis otoimun tidak diketahui, tetapi tampaknya terdapat
kecenderungan genetik untuk mengidap penyakit ini. Penyebab yang paling sering
ditemukan adalah tiroiditis Hashimoto.Pada tiroiditis Hashimoto, kelenjar tiroid

seringkali membesar dan hipotiroidisme terjadi beberapa bulan kemudian akibat


rusaknya daerah kelenjar yang masih berfungsi. Penyebab kedua tersering adalah
pengobatan terhadap hipertiroidisme. Baik yodium radioaktif maupun pembedahan
cenderung menyebabkan hipotiroidisme. Gondok endemik adalah hipotiroidisme
akibat defisiensi iodium dalam makanan. Gondok adalah pembesaran kelenjar tiroid.
Pada defisiensi iodiurn terjadi gondok karena sel-sel tiroid menjadi aktif berlebihan
dan hipertrofik dalarn usaha untuk menyerap sernua iodium yang tersisa dalam. darah.
Kadar HT yang rendah akan disertai kadar TSH dan TRH yang tinggi karena
minimnya umpan balik.Kekurangan yodium jangka panjang dalam makanan,
menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme goitrosa).
Karsinoma tiroid dapat, tetapi tidak selalu, menyebabkan hipotiroidisme. Namun,
terapi untuk kanker yang jarang dijumpai ini antara lain adalah tiroidektomi,
pemberian obat penekan TSH, atau terapi iodium radioaktif untuk mengbancurkan
jaringan tiroid. Semua pengobatan ini dapat menyebabkan hipotiroidisme. Pajanan ke
radiasi, terutama masa anak-anak, adalah penyebab kanker tiroid. Defisiensi iodium
juga dapat meningkatkan risiko pembentukan kanker tiroid karena hal tersebut
merangsang proliferasi dan hiperplasia sel tiroid.
Karena sebab-sebab yang dijelaskan di atas maka akan terjadi gangguan
metabolisme. Dengan adanya gangguan metabolisme ini, menyebabkan produksi ADP
dan ATP akan menurun sehingga menyebabkan kelelahan serta terjadinya penurunan
fungsi pernapasan yang berujung pada depresi ventilasi dan timbul dyspneu kemudian
pada tahap lebih lanjut kurangnya jumlah ATP dan ADP dalam tubuh juga berdampak
pada sistem sirkulasi tubuh terutama jantung karena suplai oksigen ke jantung ikut
berkurang dan terjadilah bradycardia, disritrmia dan hipotensi. Gangguan pada sistem
sirkulasi juga dapat menyebabkan gangguan pada sistem neurologis yaitu berupa
terjadinya gangguan kesadaran karena suplai oksigen yang menurun ke otak. Selain
itu gangguan metabolisme juga menyebabkan gangguan pada fungsi gastrointestinal
dan pada akhirnya dapat menyebabkan menurunnya fungsi peristaltik usus sehingga
menimbulkan konstipasi. Metabolisme yang terganggu juga berdampak pada turunnya
suhu tubuh karena produksi kalor yang menurun sehingga terjadi intoleransi suhu
dingin.
D. Pathway (terlampir)
E. Manifestasi Klinis
1. Kelambanan, berfikir lambat, dan gerakan yang canggung dan lambat

2. Penurunan frekuensi jantung , pembesaran jantung (jantung miksedema) dan


penurunan curah jantung
3. Pembengkakan dan edema kulit, terutama di bawah mata dan di pergelangan kaki
4. Intoleransi terhadap suhu dingin
5. Penurunan laju metabolisme, penurunan kebutuhan kalori, penurunan nafsu
makan dan absorpsi zat gizi yang melewati usus
6. Konstipasi
7. Perubahan fungsi reproduksi
8. Kulit kering dan bersisik serta rambut kepala dan rambut tubuh yang tipis dan
rapuh
Gejala Klinis Berdasarkan Sistem Organ
Organ / Sistem Organ
Kardiovaskuler

Keluhan / Gejala / Kelainan


Bradikardia
Gangguan kontraktilitas
Penurunan curah jantung
Kardiomegali (paling banyak disebabkan oleh efusi

Respirasi

perikard)
Sesak dengan aktivitas
Gangguan respon ventilasi terhadap hiperkapnia dan
hipoksia
Hipoventilasi
Sleep Apnea

Gastrointestinal

Efusi Pleura
Anoreksia
Penurunan peristaltik usus

Ginjal (air dan elektrolit)

feses dan ileus


Penurunan laju filtrasi ginjal
Penurunan

Hematologi

konstipasi kronik, impaksi

kemampuan

eksresi

kelebihan

cairan,

intoksikasi cairan dan hiponatremia


Anemia, disebabkan:
Gangguan sintesis hemoglobin karena defisiensi tiroksin
Defisiensi besi karena hilangnya besi pada menoragia dan
gangguan absorbsi asam folat

Neuromuskular

Anemia perninosa
Kelemahan otot proksimal
Berkurangnya refleks

Gerakan otot melambat


Psikiatri

Kesemutan
Depresi
Gangguan memori

Endokrin

Gangguan kepribadian
Gangguan
pembentukan

estrogen

mengakibatkan

gangguan esksresi FSH dan LH, siklus anovulator,


infertilitas, menoragia

F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Riwayat dan pemeriksaan fisik yang baik akan membantu mendiagnosis
hipotiroidisme
2. Pemeriksaan darah yang mengukur kadar TH (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan
memungkinkan diagnosis dan lokalisasi masalah di tingkat sistem saraf pusat atau
kelenjar tiroid
G. Komplikasi
1. Koma miksedema adalah situasi yang mengancam jiwa yang ditandai dengan
eksaserbasi (perburukan) semua gejala hipotiroidisme, termasuk hipotermia tanpa
menggigil , hipotensi, hipoglikemia, hipoventilasi, dan penurunan kesadaran yang
menyebabkan koma
2. Kematian dapat terjadi tanpa pergantian TH dan stabilisasi gejala
3. Ada juga risiko yang berkaitan dengan terapi defisiensi tiroid. Risiko ini
mencakup penggantian hormon yang berlebihan , ansietas, atrofi otot, osteoporosis,
dan fibrilasi atrium.
H. Penatalaksanaan
1. Terapi selalu mencakup pergantian hormon tiroid dengan tiroksin sintetik
2. Untuk goiter endemik penggantian iodida dapat mengurangi gejala
3. Apabila penyebab hipotiroidisme berkaitan dengan tumor sistem saraf pusat,
hipotiroidisme dapat diobati dengan kemoterapi, radiasi, atau pembedahan.