Anda di halaman 1dari 15

Reologi adalah studi mengenai aliran materi, terutama ketika dalam kondisi cair,

namun juga benda padat dan semi padat ketika respon yang ditunjukan berupa
aliran plastis dan bukan deformasi secara elastis ketika gaya diaplikasikan. [1] Ilmu ini
mengacu pada zat yang memiliki struktur mikro yang kompleks, seperti lumpur,
suspensi, polimer, dan kaca, juga bahan lain seperti cairan tubuh (misal darah) dan
bahan biologis lainnya yang masuk ke dalam kategori benda semi-padat.

KONSISTENSI tanah didefinisikan sebagai suatu kondisi fisik dari suatu tanah berbutir halus
pada kadar air tertentu. Konsistensi menunjukkan kekuatan daya kohesi butiran tanahdan daya
adhesi butiran tanah dengan benda lain. Tanah yang memiliki konsistensi baik, umumnya mudah
dioleh dan tidak melekat pada alat pengolahan tanah.
Konsistensi merupakan bagian dari RHEOLOGI.
RHEOLOGI adalah ilmu yang mempelajari perubahan-perubahan bentuk dan aliran suatu
benda. SIFAT RHEOLOGI TANAH dipelajari dengan menentukan angka-angka ATTERBERG,
yaitu angka-angka KADAR AIR TANAH pada berbagai macam keadaan.

Reologi
fluida(http://mubarok1508.wordpress.com/20
11/06/22/reologi-fluida/)
Jun 22
Posted by az.mubarok
Bogor, 22 Juni 11 12.27

Reologi adalah ilmu tentang bagaimana fluida mengalir dan padatan berubah bentuk ketika
diberikan gaya (Ibarz et al. 2005). Sifat reologi didasarkan pada respon aliran dan deformasi
bahan ketika diberikan gaya normal atau tangensial.
Suatu fluida akan mengalir karena adanya tekanan yang diberikan. Tekanan yang diberikan pada
suatu benda dengan arah tegak lurus disebut normal stress atau pressure (P) sedangkan bila
sejajar dengan bidang, disebut gaya geser (shear stress).
Fluida yang tidak diberi gaya tidak akan mengalir karena di dalam fluida terdapat suatu
hambatan yang menahan aliran, yang disebut dengan kekentalan atau viskositas. Secara
molekuler disebabkan oleh gerakan acak dari molekul yang berpindah dari suatu lapisan ke

lapisan lain dan resultan dari gerak tersebut menghasilkan suatu hambatan (Wirakartakusumah
1989).

Secara umum terdapat dua jenis sifat aliran bahan,


yaitu newtonian dan non-newtonian.
Sifat aliran dari bahan cair dapat digambarkan dengan diagram (kurva) aliran. Kurva ini
merupakan plot antara gaya geser (shear stress) dengan laju geser (shear rate). Dimana
viskositas merupakan rasio dari gaya geser dengan laju geser pada semua titik sepanjang kurva.
Pada kurva cairan newtonian rasio dari gaya geser dengan laju geser pada semua titik nilainya
konstan, dan disebut viskositas tunggal (). Jika aliran tidak linier digunakan simbol viskositas
nyata (app), yang merupakan slope dari garis yang menghubungkan sebuah titik pada kurva
dengan titik asal (0,0).
Fluida non-newtonian merupakan fluida yang memiliki kurva aliran (shear stress versus shear
rate) tidak linier, dimana viskositas nyata (app) tidak konstan pada suhu dan tekanan yang
diberikan tetapi bergantung pada kondisi aliran seperti geometri aliran, shear rate, dan lain-lain,
dan terkadang juga dipengaruhi oleh histori kinematik elemen fluida yang diuji (Chhabra dan
Richardson 1999).

Referensi:
Chhabra RP, Richardson JF. 1999. Non-Newtonian Flow in the Process Industries:
Fundamentals and Engineering Aplications. Butterworth-Heinemann.
Ibarz A, Castell-Perez E, Barbosa-Cnovas GV. 2005. Newtonian and Non-Newtonian Flow. Di
dalam: Barbosa-Cnovas, G.V. 2005. Food Engineering: Encyclopedia of Life Support Systems.
UNESCO.
Steffe JF. 1996. Rheological Methods In Food Process Engineering. Second Edition. Freeman
Press. East Lansing, USA.

Wirakartakusumah MA. 1989. Prinsip Teknik Pangan. PAU Pangan dan Gizi IPB, Bogo

RHEOLOGI
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Rheologi berasal dari bahasa yunani mengalir (rheo) dan logos (ilmu). Digunakan
istilah ini untuk pertama kali oleh Bingham dan Croeford untuk menggunakan aliran
cairan dan deformasi dari padatan.
Rheologi erat kaitannya dengan viskositas. Viskositas merupakan suatu pernyataan
tahanan dari suatu cairan untuk mengalir; semakin tinggi viskositas, semakin besar
tahanannya untuk mengalir. Viskositas dinyatakan dalam simbol .
Prinsip dasar rheologi telah digunakan dalam penyelidikan zat,tinta,berbagai
adonan,bahan-bahan untuk pembuat jalan,kosmetik,produk hasil peternakan,serta
sediaan-sediaan farmasi.

2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah ini adalah :
1.
Rheologi
2. Penggunaan atau aplikasi rheologi

BAB II
PEMBAHASAN
1.

RHEOLOGI

Rheologi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan aliran cairan dan
deformasi dari padatan. Rheologi mempelajari hubungan antara tekanan gesek
(shearing stress) dengan kecepatan geser (shearing rate) pada cairan, atau
hubungan antara strain dan stress pada benda padat. Rheologi erat kaitannya
dengan viskositas.
Rheologi sangat penting dalam farmasi karena penerapannya dalam formulasi dan
analisis dari produk-produk farmasi seperti: emulsi, pasta, krim, suspensi, losion,
suppositoria, dan penyalutan tablet yang menyangkut stabilitas, keseragaman
dosis, dan keajekan hasil produksi. Misalnya, pabrik pembuat krim kosmetik, pasta,
dan lotion harus mampu menghasilkan suatu produk yang mempunyai konsistensi
dan kelembutan yang dapat diterima oleh konsumen. Selain itu, prinsip rheologi
digunakan juga untuk karakterisasi produk sediaan farmasi (dosage form) sebagai
penjaminan kualitas yang sama untuk setiap batch.
Rheologi juga meliputi pencampuran aliran dari bahan,pemasukan ke dalam
wadah,pemindahan sebelum digunakan,penuangan, pengeluaran dari tube, atau
pelewatan dari jarum suntik. Rheologi dari suatu zat tertentu dapat mempengaruhi
penerimaan obat bagi pasien, stabilitas fisika obat, bahkan ketersediaan hayati
dalam tubuh (bioavailability). Sehingga viskositas telah terbukti dapat
mempengaruhi laju absorbsi obat dalam tubuh.
Sifat-sifat rheologi dari sistem farmaseutika dapat mempengaruhi pemilihan alat
yang akan digunakan untuk memproses produk tersebut dalam pabriknya. Lebihlebih lagi tidak adanya perhatian terhadap pemilihan alat ini akan berakibat
diperolehnya hasil yang tidak diinginkan. Paling tidak dalam karakteristik alirannya.
Aspek ini dan banyak lagi aspek-aspek rheologi yang diterapkan dibidang farmasi.
Ada beberapa istilah dalam rheologi ini :
Rate of shear (D) dv/dr untuk menyatakan perbedaan kecepatan (dv) antara dua
bidang cairan yang dipisahkan oleh jarak yang sangat kecil (dr).
Shearing stress ( atau F ) F/A untuk menyatakan gaya per satuan luas yang

diperlukan untuk menyebabkan aliran


F/A = dv/dr
= (F/A) / (dv/dr)= F / G
Penggolongan sistem cair menurut tipe aliran dan deformasinya ada dua yaitu:
a) Sistem Newton
b) Sistem Non Newton
Pemilihan bergantung pada sifat-sifat alirannya apakah sesuai dengan hukum aliran
dari newton atau tidak.
A. Sistem Newton
Pada cairan Newton, hubungan antara shearing rate dan shearing stress adalah
linear, dengan suatu tetapan yang dikenal dengan viskositas atau koefisien
viskositas. Tipe alir ini umumnya dimiliki oleh zat cair tunggal serta larutan dengan
struktur molekul sederhana dengan volume molekul kecil. Tipe aliran yang
mengikuti Sistem Newton, viskositasnya tetap pada suhu dan tekanan tertentu dan
tidak tergantung pada kecepatan geser, sehingga viskositasnya cukup ditentukan
pada satu kecepatan geser.
B. Sistem Non Newton
Pada cairan non-Newton, shearing rate dan shearing stress tidak memiliki
hubungan linear, viskositasnya berubah-ubah tergantung dari besarnya tekanan
yang diberikan. Tipe aliran non-Newton terjadi pada dispersi heterogen antara
cairan dengan padatan seperti pada koloid, emulsi, dan suspense cair,salep. Ada 3
jenis tipe aliran dalam sistem Non-Newton, yaitu : PLASTIS, PSEUDOPLASTIS, dan
DILATAN.
Aliran Plastis
Kurva aliran plastis tidak melalui titik (0,0) tapi memotong sumbu shearing stress
(atau auakan memotong jika bagian lurus dari kurva tersebut diekstrapolasikan ke
sumbu) pada suatu titik tertentu yang dikenal dengan sebagai harga yield. Cairan
plastis tidak akan mengalir sampai shearing stress dicapai sebesar yield value
tersebut. Pada harga stress di bawah harga yield value, zat bertindak sebagi bahan
elastis (meregang lalu kembali ke keadaan semula, tidak mengalir).
U=(Ff)/G
U adalah viskositas plastis,
f adalah yield value
Aliran plastis berhubungan dengan adanya partikel-partikel yang tersuspensi dalam
suspensi pekat. Adanya yield value disebabkan oleh adanya kontak antara partikelpartikel yang berdekatan (disebabkan oleh adanya gaya van der Waals), yang harus
dipecah sebelum aliran dapat terjadi. Akibatnya, yield value merupakan indikasi
dari kekuatan flokulasi. Makin banyak suspensi yang terflokulasi, makin tinggi yield
value-nya. Kekuatan friksi antar partikel juga berkontribusi dalam yield value. Ketika
yield value terlampaui (shear stress di atas yield value), sistem plastis akan
menyerupai sistem newton

Aliran Pseudoplastis
Aliran pseudoplastis ditunjukkan oleh beberapa bahan farmasi yaitu gom alam dan
sisntesis seperti dispersi cair dari tragacanth, natrium alginat, metil selulosa, dan
natrium karboksimetil selulosa. Aliran pseudoplastis diperlihatkan oleh polimerpolimer dalam larutan, hal ini berkebalikan dengan sistem plastis, yang tersusun
dari partikel-partikel tersuspensi dalam emulsi. Kurva untuk aliran pseudoplastis
dimulai dari (0,0) , tidak ada yield value, dan bukan suatu harga tunggal
Viskositas aliran pseudoplastis berkurang dengan meningkatnya rate of shear.
Rheogram lengkung untuk bahan-bahan pseudoplastis ini disebabkan adanya aksi
shearing terhadap molekul-molekul polimer (atau suatu bahan berantai panjang).
Dengan meningkatnya shearing stress, molekul-molekul yang secara normal tidak
beraturan, mulai menyusun sumbu yang panjang dalam arah aliran. Pengarahan ini
mengurangi tahanan dari dalam bahan tersebut dan mengakibatkan rate of shear
yang lebih besar pada tiap shearing stress berikutnya.
FN = G
Eksponen N meningkat pada saat aliran meningkat hingga seperti aliran newton.
Jika N=1 aliran tersebut sama dengan aliran newton.
Aliran Dilatan
Aliran dilatan terjadi pada suspensi yang memiliki presentase zat padat terdispersi
dengan konsentrasi tinggi. Terjadi peningkatan daya hambat untuk mengalir
(viskositas) dengan meningkatnya rate of shear. Jika stress dihilangkan, suatu
sistem dilatan akan kembali ke keadaan fluiditas aslinya.
Pada keadaaan istirahat, partikel-partikel tersebuat tersususn rapat dengan volume
antar partikel pada keadaan minimum. Tetapi jumlah pembawa dalam suspensi ini
cukup untuk mengisi volume ini dan membentuk ikatan lalu memudahkan partikelpartikel bergerak dari suatu tempat ke tempat lainnya pada rate of shear yang
rendah. Pada saat shear stress meningkat, bulk dari system itu mengembang atau
memuai (dilate). Hal itu menyebabkan volume antar partikel menjadi meningkat
dan jumlah pembawa yang ada tidak cukup memenuhi ruang kosong tersebut. Oleh
karena itu hambatan aliran meningkat karena partikel-partikel tersebut tidak
dibasahi atau dilumasi dengan sempurna lagi oleh pembawa. Akhirnya suspense
menjadi pasta yang kaku
1.1 Cara Menentukan Viskositas
Cara menentukan viskositas suatu zat menggunakan alat yang dinamakan
viskometer. Ada beberapa tipe viskometer yang biasa digunakan antara lain :
a. Viskometer kapiler / Ostwald
Viskositas dari cairan newton bisa ditentukan dengan mengukur waktu yang
dibutuhkan bagi cairan tersebut untuk lewat antara 2 tanda ketika ia mengalir
karena gravitasi melalui viskometer Ostwald. Waktu alir dari cairan yang diuji

dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu zat yang viskositasnya
sudah diketahui ( biasanya air ) untuk lewat 2 tanda tersebut.
b. Viskometer Hoppler
Berdasrkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi
keseimbangan sehingga gaya gesek = gaya berat gaya archimides. Prinsip
kerjanya adalah menggelindingkan bola ( yang terbuat dari kaca ) melalui tabung
gelas yang hampir tikal berisi zat cair yang diselidiki. Kecepatan jatuhnya bola
merupakan fungsi dari harga resiprok sampel.
c. Viskometer Cup dan Bob
Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan antara dinding luar dari bob
dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan
viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang
tinggi disepanjang keliling bagian tube sehingga menyebabkan penueunan
konsentrasi. Penurunan konsentrasi ini menyebabkab bagian tengah zat yang
ditekan keluar memadat. Hal ini disebt aliran sumbat.
d. Viskometer Cone dan Plate
Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan ditengah-tengah papan,
kemudian dinaikkan hingga posisi dibawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh motor
dengan bermacam kecapatan dan sampelnya digeser didalam ruang semit antara
papan yang diam dan kemudian kerucut yang berputar.

2. PENERAPAN RHEOLOGI DALAM FARMASI


1. Cairan dapat diterapkan pada :
a. Pencampuran
b. Pengurangan ukuran partikel dari sistem sistem dispersi dengan shear
c. Pelewatan melalui mulut, penuangan, pengemasan dalam botol, pelewatan
melalui jarum suntik
d. Perpindahan cairan
e. Stabilitas fisik sistem dispersi
2. Semi solid diterapkan pada :
a. Penyebaran dan pelekatan pada kulit
b. Pemindahan dari wadah/tube
c. Kemampuan zat padat untuk bercampur dengan cairan-cairan
d. Pelepasan obat dari basisnya
3. Padatan diterapkan pada :
a. Aliran serbuk dari corong ke lubang cetakan tablet/kapsul
b. Pengemasan serbuk/granul
4. Pemprosesan diterapkan pada :
a. Kapasitas produksi alat
b. Efisiensi pemrosesan
2.1 Sifat Rheologi Dalam Suspensi

Viskositas dari suatu suspensi apabila mempengaruhi pengendapan dari partikelpartikel zat terdispersi perubahan dalam sifat-sifat aliran dari suspensi bila
wadahnya dikocok dan bila produk tersebut dituang dari botol, dan kualitas
penyebaran dari cairan ( lotio ) bila digunakan untuk suatu bagian permukaan yang
akan diobati. Pertimbangan rheologi juga penting dalam pembuatan suspensi.
Satu-satunya shear yang terjadi dalam suatu suspensi pada penyimpanan adalah
lantaran pengendapan dari partikel-partikel yang tersuspensi; Gaya ini diabaikan
dan bisa dibuang. Tetapi jika wadah dikocok dan produk dituang dari botol, terdapat
laju shearing yang tinggi. Zat pensuspensi yang ideal harus mempunyai viskositas
yang tinggi pada shear yang dapat diabaikan, yakni selama penyimpanan; dan zat
pensuspensi itu harus mempunyai viskositas yang rendah pada laju shearing yang
tinggi, yakni ia harus bebas mengalir selama pengocokan, penuangan, dan
penyebarannya ini. Gliserin yang merupakan cairan Newton termasuk dalam grafik
untuk pembanding. Viskositasnya sesuai untuk partikel-partikel yang mensuspensi,
tapi terlalu tingii untuk dituangkan dengan mudah dan untuk disebarkan pada kulit.
Lebih-lebih lagi, gliserin menunjukkan sifat melekat (tackiness stickiness) yang tidak
diinginkan dan ia terlalu higroskopik untuk digunakn dalam bentuk tidak
diencerkan. Kurva dalam gambar 1 diperoleh menggunakan viskometer Stormer
yang sudah dimodifikasi .
Shearing stress ( berat x K )
Natrium
alginat
Tragakant

gliserin

Karboksimetil
selulosa

Muatan ( gram )
Gambar 1 : Kurva aliran rheologi dari berbagai zat pensuspensi yang dianalisis
dalam viskometer Stormer yang sudah dimodifikasi

Suatu zat pensuspensi yang tiksotropik seperti juga pseudoplastik harus terbukti
berguna karena ia membentuk gel pada pendiaman dan menjadi cair jika
digoyangkan. Gambar 2 menunjukkan kurva konsistensi untuk bentonit, veegum,
dan suatu kombinasi dari bentonit dan natrium karboksimetil selulosa ( CMC ).
Bentuk histeresis dari bentonit sangat terkenal. Veegum juga menunjukkan
tiksotropi yang dapat dipertimbangkan, baik jika dites dengan membalikkan suatu
bejana yang mengandung dispersi maupun jika dianalisis dalam suatu viskometer
putar. Jika dispersi bentonit dan CMC dicampur, kurva yang dihasilkan menunjukkan
karakteristik tiksotropik maupun pseudoplastik. Kombinasi seperti ini harus
menghasilkan suatu medium pensuspensi yang sangat baik.

5% Bentonit Mikro

5% Veegum
50:50 CMC dan
Bentonitn Mikro
5%

Shearing stress ( baca Skala)


Gambar 2 : Kurva aliran untuk zat pensuspensi 5% dalam air yang memperlihatkan
tiksotropi. Kurva diperoleh dengan viskometer cone-plate Ferranti-Shirley.

2.2 Sifat Rheologi Dalam Emulsi


Produk yang diemulsikan mungkin mengalami berbagai shear-stress selama
pembuatan atau penggunaanya. Pada kebanyakan proses ini sifat aliran produk
akan menjadi sangat penting untuk penampilan emulsi yang tepat pada kondisi
penggunana dan pembuatannya. Jadi penyebaran produk dermatologik dan produk
kosmetik harus dikontrol agar didapat suatu preparat yang memuaskan. Aliran
emulsi parenteral melalu jarum hipodermik, pemindahan suatu emulsi dari botol
atau tube, dan sifat dari satu emulsi dalam berbagai proses penggilingan yang
digunakandalam pembuatan produk ini secara besar-besaran, menunjukkan
perlunya karakteristik aliran yang tepat.
Kebanyakan emulsi, kecuali emulsi encer, menunjukkan aliran non Newton yang

mempersulit interpretasi data dan perbandingan kuantitatif antara sistem-sisten


dan formulasi-formulasi yang berbeda.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan fase terdispersi meliputi perbandingan
dengan fase terdispers meliputi perbandingan volume fase, distribusi ukuran
partikel, dan viskositas dari fase dalam itu sendiri. Jadi, jika konsentrasi volume dari
fase terdispers rendah (kurang dari 0,05), sistem tersebut adalah Newton. Dengan
naiknya konsentrasi volume, sistem tersebut menjadi lebih tahan terhadap aliran
dan menujukkan karekteristik aliran pseudoplastis. Pada konsentrasi yang cukup
tinggi, terjadi aliran plastis. Jika konsentrasi volume mendekati 0,74, mungkin
terjadi inversi dengna berubahnya viskositas secara nyata. Pengurangan ukuran
partikel rata-rata akan menaikkan viskositas. Makin luas distribusi ukuran partikel,
makin rendah viskositasnya jika dibandingkan dengan sistem yang memiliki ukuran
partikel rata-rata serupa tetapi dengan distribusi ukuran partikel yang lebih sempit.
Sifat utam fase kontinu yang mempengaruhi sifat-sifat alira dari sustu emulsi
adalah bukan pada viskositasnya. Tetapi efek viskositas dari fase kontinu mungkin
lebih besar dari yang diramalkan dengan menentukan viskositas bulk dari fase
kontinu itu sendiri. Ada indikasi bahwa viskositas dari suatu lapisn cair yang tpis,
katakanlah 100 200 A adalah beberapa kali harga viskositas dari cairan bulk. Oleh
karena itu viskositas yang lebih tinggi bisa terdapat pada emulsi yang mempunyai
konsentrasi tinggi, jika ketebalan fase kontinu antara tetesan-tetesan yang
berdekatan mendekati dimensi ini. Pengurangn viskositas dengan penaikan shear
sebagian bisa disebabkan oleh penurunan viskositas dari fase kontinu karena jarak
pemisahan antara bola-bola yang meningkat.
Komponen ketiga yang mungkin mempengaruhi vskositas emulsi adalah zat
pengemulsi. Tipe zat akan mempengaruhi flokulasi partikel dan daya tarik-menarik
antarpartikel, dan ini, sebaliknya akan mengbuah aliran. Tambahan pula, untuk
sistem apa saja, makin tinggi konsentrasi zat pengemulsi, akan makin tinggi pula
viskositas produk tersebut. Sifat-sifat fisika dari lapisan dan sifat-sifat listriknya juga
merupakan faktor yang bermaknanya.
2.3 Sifat Rheologi Dalam Semisolid
Pembuat salep farmasetis dan krim kosmetik menyadari adanya keinginan untuk
mengontrol konsistensi bahan non-Newton.
Insrumen yang paling baik untuk menentukan sifat-sifat rheologi dari semisolid di
bidang farmasi adalah viskometer putar (rotational viscometer). Untuk analisis
semisolid yang berbentuk emusi dan suspensi digunakan cone-plate viscometer.
Viscometer Stormer terdiri dari cup yang stationer dan bob yang berputar, dan alat
ini juga baik untuk semisolid.
Kurva konsistensi untu basis salep yang dapat mengemulsi, petrolatum hidrofilik
dan petrolatum hidrofilik yang telah dicampur dengan air, terlihat pada gambar 3.
Akan terlihat bahwa penambahan air ke dalam petrolatum hidrifilik menunrunkan
yielpoint (perpotongan antara ekstrapolasikurva menurun dan sumbu horizontal,
muatan dalam gram). Dari 520 sampai 340 gram. Viskositas plastis (kebalikan dari

kemiringan kurva yang menurun ke bawah) dan tiksotropi ( dareah lengkung


histeresis) ditingkatkan dengan penambahan air ke dalam Petrolatum Hidrifilik.

20 gram H2O ditambahkan


Pada 100 gram petrolatum
hidrifilik

Petrolatum
hidrofilik

Kurva naik
Kurva turun

Muatan ( gram)
Gambar 3 : Kurva aliran untuk Petrolatum Hidrifilik dan Petrolatum Hidrofilik yang
mengandung air

Temperatur ( 0C )

Gambar 4 : Koefisien temperatur dari viskositas plastis dari Plastibase

Efek temperatur terhadap konsistensi dari suatu basis salep dapat dianalisis
menggunakan suatu viskometer putar yang didesain dengan tepat. Gambar 4 dan
gambar 5 menunjukkan perubahan viskositas plastis dan tiksotropi dari petrolatum
dan plastibase sebagai fungsi dari temperatur. Viskometer Stormer yang
dimodifikasi digunakan untuk memperoleh kurva-kurva ini. Seperti terlihat pada
gambar 4, kedua basis menunjukkan koefisien temperatur dari viskositas plastis
yang sama. Hasil ini merupakan suatu kenyataan bahwa basis tersebut mempunyai
derajat kelembutan (sofness) yang hampir sama jika diraba diantara dua jari. Kurva
Yield Value terhadap temperatur ternyata mengikuti pola hubungan yang hampir
sama. Kurva pada gambar 5 memperlihatkan dengan jelas perubahan tiksotropi
terhadap temperatur yang membedakan kedua basis tersebut ( Petrolatum dan
Plastibase). Karena merupakan suatu akibat dari struktur gel, gambar 5
menunjukkan bahwa matriks malam (wax) dari Petrolatum kemungkinan besar
pecah dengan naiknya temperatur, sedangkan struktur resin dari Plastibase tahan
terhadap perubahan temperatur pada percobaan tersebut.

Petrolatum

Plastibase

Temperatur ( 0C)

Gambar 5 : Koefisien temperatur tiksotropi dari Plastibase.


Berdasarkan data dan kurva seperti ini, ahli farmasi dalam laboratorium
pengembangan dapat memformulasi salep dengan karekteristik konsistensi yang
lebih diinginkan, para pekerja pada bagian produksi dapat mengontrol keseragaman
dari produk akhir yang lebih baik, dan ahli dermatologi dan pasien dapat
mengandalkan adanya suatu basis yang menyebar secara merata dan halus pada
berbagai iklim, tapi melekat baik pada daerah dimana obat itu bekerja dan tidak
sulit untuk dihilangkan sesudah obat tersebut digunakan.
2.4 Sifat Aliran Pada Serbuk
Serbuk bulk agak analog dengan cairan non Newton, menunjukkan aliran plastik
dan kadang-kadang dilatansi, partikel-partikel dipengaruhi oleh gaya tarik menarik
sampai derajat yang bervariasi. Oleh karena itu, serbuk bisa jadi mengalir bebas
(free-flowing) atau melekat. Dalam pengertian khusus yaitu ukuran partikel
porositas dan kerapatan, dan kehalusan permukaan. Sifat-sifat dari zat padat yang
menentukan besarnya interaksi partikel-partikel.
Akan halnya partikel-partikel yang relati kecil (kurang dari 10m), aliran partikel
melalui lubang dibatasi karena gaya lekat antara partikel besarnya sama dengan
gaya gravitasi. Karena gaya yang terakhir ini merupakan fungsi dari garis tengah
yang di naikkan pangkat tiga, gaya-gaya tersebut menjadi lebih bermakna apabila
ukuran partikel meningkan dan aliran dipermudah. Laju aliran maksimum dicapai
setelah aliran berkurang apabila ukuran partikel mendekati besarnya lubang
tersebut. Jika suatu serbuk mengandung sejumlah partikel-partikel kecil, sifat-sifat
aliran serbuk bisa diperbaiki dengan menghilangkan fines atau mengadsorbsinya
pada partikel-partikel yang lebih besar. Kadang kadang, aliran yang jelek bisa
diakibatkan karena adanya kelembapan dalam hal mana pengeringan partikelpartikel akan mengurangi lekatnya partikel-partikel tersebut.
Partikel-partikel panjang atau plat cenderung untuk mengepak walaupun dengan
sangat longgar sehingga memberikan serbuk yang mempunyai porositas tinggi.
Partikel-partikel dengan kerapatan tinggi dan porositas dalam rendah cenderung
untuk mempunyai sifat-sifat bebas mengalir. Ini dapat dikurangi dengan kasarnya
permukaan, yang cenderung mengakibatkan karakteristik aliran yang jelek
disebabkan oleh gesekan dan kelekatannya.
Serbuk bebas mengalir berciri khas menyerupai debu, yang disebut dustibility,
suatu batasan yang berarti kebalikan dari kelekatan (stickiness). Likopodium
menunjukkan derajat dustibility yang terbesar, jika likopodium diberi angka
dustibility (sebarang) 100%, serbuk talk mempunya harga 57%, tepung kentang
27%, arang halus 23%, kalomel yang ditumbuk halus mempunyai dustibility 0,7%.
Harga-harga ini harus berhubungan dengan keseragaman menyebarnya serbuk
yang ditaburkan bila digunakan ke kulit, dan daya lekat, suatu ukuran kekohesifan
partikel dari suatu serbuk yang dikeraskan (compacted powder), adalah penting

dalam aliran serbuk melalui mesin pengisi dan dalam pelaksanaan mesin kapsul
otomatis.
Serbuk yang mengsalir tidak baik atau granulat memberikan banyak kesulitan
pada industri farmasi. Produksi unit sediaan tablet yang seragam terbukti
bergantung pada beberapa sifat granulat. Jika ukuran granular berkurang, variasi
berat tablet pun berkurang. Variasi berat minimum dicapai pada granul yang
mempunyai garis tengah 400 sampai 800 m. Jika ukuran granul dikurangi lagi,
granul mengalir kurang bebas dan variasi berat granul meningkat. Distribusi ukuran
partikel mempengaruhi aliran dalam dan pemisahan dari suatu granulat.
Aliran dalam dan granule demixing (yakni kecendrungan serbuk untuk memisah
menjadi lapisan-lapisan dengan ukuran berbeda) selama mengalir melalui corong
(hopper) membantu penurunan berat teblet selama bagian terakhir dari periode
kompresi. Laju alirann dari suatu granulat tablet meningkat denagan meningkatnya
jumlah fines yang di tambahkan. Kenaikan jumlah pelincir juga menaikkan laju
aliran, dan kombinasi dari pelincir serta penghalus (fines) tampak mempunyai aksi
sinergistik.
Gaya gesekan pada serbuk renggang dapat diukur dengan sudut istirahat (angle
of repose), . Ini adalah sudut maksimum yang mungkin terdapat antara permukaan
dari setumpuk serbuk dan bidang horizontal. Jika ditambahkan bahan lebih
banyakketumpukan tersebut, maka serbuk tersebut akan tuyrun ke berbagai sisi
sampai gesekan timbal balik dari partikel-partikel tersebut yang menghasilkan
suatu permukaan pada sudut ada dalam keseimbangan denagn gaya gravitasi.
Tangen sudut istirahat sama dengan koefisien gesekan antara partikel-partikel
tersebut.
Tan =
Jadi, makin kasar dan makin tidak beraturan permukaan dari partrikel, akan
makin tinggi sudut istirahatnya. Sudut istirahat terutama merupakan suatu fungsi
dari kekasaran permukaan. Dengan menggunakan batch-batch pasir dengan ukuran
yang berdekatan, yang dipisahkan ke dalam ukuran yang berbeda, dibuktikan
bahwa dengan meningkatkan bentuk yang semakin jauh dari bentuk bola, sudut
istirahat meningkat sedang kerapatan bulk dan kemampuan alir (flowability)
berkurang.
Untuk memperbaiki karakteristik aliran, seringkali ditambahkan pelincir (glidant)
pada serbuk granular. Contoh glidant yang umum digunakn adalah magnesium
stearat, amilum dan talk. Dengan menggunakan suatu pencatat pengukuran aliran
serbuk, yang mengukur berat serbuk yang mengalir per satuan waktu melalui
lubang corong (hopper), konsentrasi pelincir optimum adalah 1% atau kurang. Di
atas kadar ini, biasanya teramati penurunan dalam laju aliran. Ditemukan tidak
shear cel dan tensile tester.
Sudut istirahat dari granulat sulfhatiazol sebagai suatu fungsi ukuran partikel
rata-rata, adanya pelumas, dan penambahan penghalus (fines) ke dalam campuran.
Pada umumnya sudut istirahat meningkat dengan berkurangnya ukuran partikel.
Penambahan talk dalam konsentrasi rendah mengurangi sudut istirahat, tapi pada
konsentrasi yang lebih tinggi talk akan menaikkan sudut tersebut. Penambahan

fines yakni : partikel-partikel yang lebih kecil dari mesh 100 ke dalam granul kasar
menghasilkan kenaikan sudut istirahat yang nyata.
Kemampuan serbuk untuk mengalir merupakan satu diantara faktor-faktor yang
termasuk dalam pencampuran bahan-bahan yang berbeda untuk membentuk suatu
campuran serbuk. Pencampuran, dan pencegahan ketidakcampuran, merupakan
suatu pekerjaan farmasetis yang penting dalam pembuatan bentuk-bentuk sediaan
umumnya, termasuk tablet dan kapsul. Faktor-faktorblain yang mempengaruhi
proses pencampuran adalah agregasi partikel, ukuran, bentuk, perbedaan
kerapatan, dan adanya muatan listrik statis.
(http://defiandhayani.blogspot.com/2012/10/rheologi_6.html)