Anda di halaman 1dari 11

Tidak Sadarkan Diri Akibat Cedera pada Serebellum,

Batang Otak serta Saraf Kranial


Erlin Efrina Winata
102013117/E8
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510
Telephone: (021) 5694-2061 (hunting), Fax: (021) 563-1731
Email: erlin_lixiaofen@ymail.com

Pendahuluan
Banyak kecelakaan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang mengakibatkan cedera
pada serebellum, batang otak dan saraf-saraf kranial. Serebellum adalah manajer bagi otak
kita. Semua signal dari pancaindera sebelum dicerna oleh limbic sistem harus melewati
cerebellum dulu. Akibatnya kalau cerebellum bermasalah, kita sulit mencerna stimulasi yang
datang dari pancaindera, Lebih jauh lagi, kita jadi sulit meningkatkan kemampuan di otak
frontal (otak yang mengatur cara berpikir, mengambil keputusan, konsentrasi, dan segala
macam kemampuan canggih manusia). Jika kerusakan yang terjadi di batang otak seringkali
berakibat fatal karena batang otak mengatur fungsi-fungsi dasar tubuh seperti bernafas dan
denyut jantung. Orang yang terkena stroke atau perlukaan di daerah ini bisa berakibat koma
dan bahkan meninggal.

Serebellum
Serebelum adalah bagian otak yang seukuran dengan bola kasti dan sangat berlipat serta
terletak di bawah lobulus oksipitalis korteks dan melekat ke punggung bagian atas batang
otak. (Sherwood Lauralee. Fisiologi Manusia, Dari Sel ke Sistem. Ed.6. Jakarta: EGC, 2009)

Gambar 1: Serebelum (Sloane Ethel. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC;
1995)
Di serebelum ditemukan lebih banyak neuron individual daripada di bagian otak lainnya, dan
hal ini menunjukan pentingnya struktur ini. Serebelum terdiri dari tiga bagian yang secara
fungsional berbeda beda dengan peran berbeda yang terutama berkaitan dengan kontol bawah
sadar aktivitas motorik. Secara spesifik, bagian- bagian serebelum tersebut ialah yang
pertama vestibuloserebelum penting untuk mempertahankan keseimbangan dan kontrol
gerakan mata. Kedua yaitu spinoserebelum meningkatkan tonus otot dan mengkoordinasikan
gerakan volunter terampil. Bagian otak ini sangat penting dalam memastikan waktu yang
tepat kontraksi berbagai otot untuk mengkoordinasi gereakan yang melibatkan banyak sendi.
Seperti contoh gerakan sendi bahu, siku, dan pergelangan tangan kita harus sinkron. Ketika
daerah- daerah korteks motorik mengirimkan pesan ke otot- otot untuk mengeksekusi
gerakan tertentu, spinoserebelum diberi informasi tentang perintah motorik yang diinginkan.
Bagian ini juga menerima masukan dari reseptor- reseptor perifer tentang gerakan tubuh dan
posisi yang sebenernya terjadi. Dan yang ketiga yaitu serebroserebelum berperan dalam
perencanaan dan inisiasi aktivitas volunter dengan memberikan masukan ke daerah motorik
korteks. Ini juga merupakan bagian serebelum yang menyimpan ingatan prosedural.
(Sherwood Lauralee. Fisiologi Manusia, Dari Sel ke Sistem. Ed.6. Jakarta: EGC, 2009)

Serebelum bertanggung jawab untuk mengkoordinasi dan mengendalikan ketepatan gerakan


otot dengan baik. Bagian ini memastikan bahwa gerakan yang dicetuskan disuatu tempat di
SSP berlangsung dengan halus bukannya mendadak dan tidak terkoordinasi. Serebelum juga
berfungsi untuk mempertahankan postur tubuh. Bagian ini membantu mempertahankan
ekulibrium tubuh. Informasi sensorik dari telinga dalam dibawa ke lobus serebelum. (Sloane
Ethel. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC; 1995)
Selain itu juga, Serebelum berfungsi sebagai modulator latihan dan kerja motorik untuk
membantu memperhalus gerakan. Secara anatomis serebelum dibagi menjadi vermis di garis
tengah dan dua hemisfer. Suplai darah ke serebelum berasal dari sistem vertebrobasilar
melalui arteri serebelaris posterior, arteri serebralis anteinferior dan arteri serebralis superior.
(Davey Patrick. Medicine at a Glance. Jakarta: Erlangga, 2005.)
Gejala- gejala penyakit serebelum berikut dapat mengarah pada hilangnya fungsi motorik
serebelum: gangguan keseimbangan, nistagmus (gerakan mata osilatif ritmik), penurunan
tonus otot tetapi bukan paralisis, ketidak mampuan melakukan gerakan- gerakan cepat
dengan lancar, dan ketidakmampuan melakukan gerak- gerakan cepat dengan kontraksi otot
secara tepat. Yang terkahir ini menyebabkan intention tremor yang ditandai dengan gerakan
maju- mundur osilatif anggota badan ketika anggota badan tersebut mendekati suatu temoat
yang dituju. Sewaktu orang dengan kerusakan serebelum mencoba mengambil sebuah pensil,
ia mungkin melakukan gerakan tangan melebihi sasaran (over shoot) lalu menarik kembali
secara berlebihan, mengulang gerakan maju mundur ini sampai ia berhasil memegang pensil
tersebut. (Sherwood Lauralee. Fisiologi Manusia, Dari Sel ke Sistem. Ed.6. Jakarta: EGC,
2009).

Batang Otak
Batang otak terdiri dari otak tengah, pons, dan medulla oblongata. Struktur ini merupakan
pusat stuktur anatomi yang penting dalam area yang sempit, sehingga sebagian besar lesi
batang otak merupakan lesi yang kompleks. (Davey Patrick. Medicine at a Glance. Jakarta:
Erlangga, 2005.)

Otak tengah (midbrain) merupakan bagian atas batang otak. Aqueduktus serebri yang
menghubungkan ventrikel ketiga dan keempat melintasi melalui otak tengah ini. Otak tengah
dapat juga terbagi dalam 2 tingkat yaitu yang pertama atap yang mengandung banyak pusatpusat refleks yang penting untuk pengelihatan dan pendengaran. Dan yang kedua yaitu jalur
motorik yang besar, yang turun dari kapsula interna melalui bagian dasar otak tengah,
menurun terus melalui pons dan medula oblongata menuju sumsum tulang belakang.
Jalur lintas sensorik, dalam perjalannanya dari sumsum tulang belakang, medula dan pons,
mendaki melalui bagian otak tengah ini sebelum memasuki talamus atau kapusla interna,
guna mencapai penyebaran akhirnya dalam korteks sensori hemisfer serebri. Otak tengah
mengandung pusat- pusat yang mengendalikan keseimbangan dan gerakan- gerakan mata.
( Pearce EC. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT GRAMEDIA; 2009)

Pons merupakan bagian tengah batang otak dan karena itu memiliki jalur lintas naik dan
turun seperti pada otak tengah. Selain itu juga terdapat banyak serabut yang berjalan
menyilang pons untuk menghubungkan kedua lobus serebelum, dan menghubungkan
serebelum dengan korteks serebri.
Medula oblongata, panjangnya sekitar 2,5 cm dan menjulur dari pons sampai ke medulla
spinalis dan terus memanjang. Bagian ini akan berakhir pada area foramen magnum
tengkorak.
Medulla anterior atau ventral terdiri dari tonjolan subtansi putih yang disebut piramid, yang
merupakan lanjutan dari akson pada pendunkulus serebral. Medulla dorsal atau posterior
terdiri dari sebagian lanjutan trakrus sensorik. Nuklei berperan sebagai pusat pemancar
informasi yang dikirim ke pusat otak yang lebih tinggi atau ke serebelum. Pusat medula
(vital) adalah nuklei yang berperan dalam pengendalian fungsi seperti frekuensi jantung,
tekanan darah, pernafasan, batuk, menelan dan muntah. Nuklei yang merupakan asal saraf

kranial IX, X, XI, XII terletak dalam medula. (Sloane Ethel. Anatomi dan Fisiologi untuk
Pemula. Jakarta: EGC; 1995)
Fungsi batang otak yaitu sebagian besar dari 12 pasang saraf kranialis berasal dari batang
otak. Saraf ini menyarfai sturuktur- struktur di kepala dan leher dengan serat sensorik dan
motorik. Saraf- saraf ini penting dalam pengelihatan, pendengaran, pengecapan, penghidu,
sensasi wajah, dan kulit kepala, gerakan mata, mengunyah, menelan, ekspresi wajah, dan
salivasi. Kecuali pada saraf kranialis X, saraf vagus. Karena saraf vagus adalah saraf utama
sistem parasimpatis. Pusat respiratori, pusat kardiak dan pusat vasomotor (kontraksi otot- otot
polos dan pembuluh darah). (Sherwood Lauralee. Fisiologi Manusia, Dari Sel ke Sistem.
Ed.6. Jakarta: EGC, 2009).

Saraf-Saraf Kepala (Nervi Craniales)

Gambar 9. Nervus-nervus cranial


Saraf-saraf kepala terdiri dari 12 pasang saraf kepala yang meninggalkan permukaan ventral
otak. Sebagian besar saraf-saraf kepala ini mengkontrol fungsi sensoris dan motorik dibagian
kepala dan leher. Dari 12 pasang saraf otak itu ada yang cuma memiliki serat penerima
(sensorik), yaitu saraf I, II, dan VIII. Ada yang cuma mengandung serat perintah (motorik),
yaitu saraf IV, VI, XI dan XII. Sisanya, mengandung serat saraf penerima dan pemerintah,
yaitu saraf III, V, VII, dan X. Yang mengandung serat penerima saja berarti ribuan seratnya
hanya membawa masukan ke otak. Yang memerintah berarti hanya mengandung serat-serat
yang meninggalkan otak. Sementar yang mengandung kedua penerima dan pemerintah
berarti tersusun dari serat yang menuju dan meninggalkan otak.merah
Salah satu dari duabelas pasang saraf tersebut adalah saraf vagus (saraf yang berkelana), yang
merupakan saraf nomor sepuluh yang mengatur fungsi-fungsi organ tubuh di bagian dada dan
perut. Disebut vagus atau saraf yang berkelana karena cabang-cabang sarafnya mencapai
rongga dada dan perut.biru

Tabel 1. Ringkasan Saraf Otak dan Fungsinya.merah


No
1
2
3
4
5

Nama
Olfactorius
Opticus
Occulomotorius
Trochlearis
Trigeminus

Komponen
Sensoris
Sensoris
Motoris
Motoris
Sensoris, motoris

6
7

Abducent
Facialis

Motoris
Sensoris, motoris

Vestibulocochlearis

Sensoris

Glossopharyngeus

Sensoris, motoris

10

Vagus

Sensoris, motoris

11
12

Accessorius
Hypoglosus

Motoris
Motoris

Fungsi
Penciuman
Penglihatan
Penggerak bola mata
Penggerak bola mata
Penerima sensasi dari wajah dan
penggerak otot-otot lidah, telinga, dan
pengunyah
Penggerak bola mata
Penerima sensasi dari wajah dan
penggerak otot lidah, wajah dan kepala
Penerima sensasi dari telinga, pengatur
keseimbangan
Penerima sensasi lidah dan penggerak
otot untuk menelan
Sensasi dari alat pencernaan dan otot
dari saluran pencernaan
Penggerak faring
Penggerak lidah

Paisak T. Unlimited potency of the brain. Edisi ke-1. Bandung: Penerbit Mizan; 2009. h. 334.
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/psikologi_faal/bab5_anatomi_sistem_saraf_perife
r.pdf
beberapa saraf kranial hanya tersusun dari serabut sensorik, tetapi sebagian besar tersusun
dari serabut sensorik dan serabut motorik, klasifikasi saraf ini meliputi yang pertama saraf
olfaktori (N I) adalah saraf sensorik. Saraf ini berasal dari epitelium olfaktori mukosa nasal.
Berkas serabut sensorik mengarah ke bulbus olfaktori dan menjalar melalu traktus olfaktori
sampai ke ujung lobus temporal (girus olfaktori), tempat persepsi indera penciuman berada.
Yang kedua yaitu saraf opticus (N II) adalah saraf sensorik (a) impuls dari batang dan kerucut
retina mata dibawa ke badan sel akson yang membentuk saraf optik. Setiap saraf optik keluar
dari bola mata pada bintik buta dan masuk ke rongga kranial melalui foramen optik. (b)
serabut dari bagian nasal pada setiap mata menyilang dibagian anterior hipotalamus untuk
membentuk kiasma optik; serabut pada bagian temporal setiap mata lewat tanpa bersilangan.
(c) seluruh serabut memanjang saat traktus optik, bersinapsis pada sisi lateral nuklei
genikulasi talamus, dan menonjol keatas sampai ke area visual lobus oksipital untuk persepsi
indera penglihatan.
Yang ketiga yaitu saraf okulomotorik (N III) merupakan saraf gabungan, tetapi sebagian
besar terdiri dari saraf motorik. Neuron motorik berasal dari otak tengah dan membawa
impuls ke seluruh otot bola mata (kecuali otot oblik superior dan rektus lateral), ke otot yang

membuka kelopak mata, dan ke otot polos tertentu pada mata. Serabut sensorik membawa
informasi indera otot (kesadaran proprioperatif dari otot mata yang terinervasi ke otak.
Yang keempat yaitu saraf troklear (N IV) adalah saraf gabungan, tetapi sebagian besar terdiri
dari saraf motorik dan merupakan saraf terkecil dalam saraf kranial. Neuron motorik berasal
dari langit-langit otak tengah dan membawa impuls ke otot oblik superior bola mata. Serabut
sensorik dari spindel otot menyampaikan informasi indera otot dari otot oblik superior ke
otak.
Yang kelima yaitu saraf trigeminus (N V), merupakan saraf kranial terbesar dan saraf
gabungan tetapi sebagian besar terdiri dari saraf sensorik. Bagian ini membentuk saraf
sensorik utama pada wajah dan rongga nasal serta rongga oral. Neuron motorik berasal dari
pons dan menginervasi otot mastikasi kecuali otot buksinator. Badan sel neuron sensorik
terletak dalam ganglia trigeminal (semilunar). Serabut bercabang ke arah distal menjadi tiga
divisi. Divisi yang pertama yaitu cabang optalmik, membawa informasi dari kelopak mata,
bola mata, kelenjar air mata, sisi hidung, rongga nasal, dan kulit dahi serta kepala. Yang
kedua yaitu cabang maksilar, membawa informasi dari kulit wajah, rongga oral (gigi atas,
gusi dan bibir) dan langit-langit mulut (palatum). Dan yang terakhir yaitu cabang mandibular,
membawa informasi dari gigi bawah, gusi, bibir, kulit rahang dan area temporal kulit kepala.
Radiks motorik saraf trigeminal menjalar bersama cabang mandibular.
Yang keenam yaitu saraf abdusen (N VI) merupakan saraf gabungan, tetapi sebagian besar
terdiri dari saraf motorik. Neuron motorik berasalah dari sebuah nukleus pada pons yang
menginervasi otot rectus lateral mata. Serabut sensorik membawa pesan proprioseptif dari
otot rektus lateral ke pons.
Yang ketujuh yaitu saraf facial (N VII) merupakan saraf gabungan. Neuron motorik terletak
dalam nuklei pons. Neuron ini menginervasi otot ekspresi wajah, termasuk kelenjar air mata,
dan kelenjar saliva. Neuron sensorik membawa informasi dari reseptor pengecap pada dua
pertiga bagian anterior lidah.
Yang kedelapan yaitu saraf vestibulokoklear (N VIII) hanya terdiri dari saraf sensori dan
memiliki dua divisi yaitu cabang koklear atau auditori menyampaikan informasi dari reseptor
untuk indera pendengaran dalam organ corti telinga dalam ke nuklei koklear pada medula, ke
kolikuli inferior, ke bagian medial nuklei genikulasi pada talamus, dan kemudian ke area
auditori pada lobus temporal. Dan cabang vestibular membawa informasi yang berkaitan
dengan ekuilibrium dan orientasi kepala terhadap ruang yang diterima dari reseptor sensorik
pada telinga dalam. Impuls menjalar sampai ke nuklei vestibular dalam medula dan dikirim
kembali ke serebelum.
Yang kesembilan yaitu saraf glossopharyngeus (N IX) adalah saraf gabungan. Neuron
motorik berawal dari medula dan menginervasi otot untuk wicara dan menelan serta kelenjar
saliva parotid. Neuron sensorik membawa informasi yang berkaitan dengan rasa dari
sepertiga bagian posterior lidah dan sensai umum dari faring dan laring; neuron ini juga
membawa informasi mengenai tekanan darah dari reseptor sensorik dalam pembuluh darah
tertentu.

Yang kesepuluh yaitu saraf vagus (N X) adalh saraf gabungan. Neuron motorik berasal dari
dalam medula dan menginerbasi hampir semua organ toraks dan abdomen. Neuron sensorik
membawa informasi dari faring, laringm trakea, esofagus, jantung, dan visera abdominal ke
medula dan pons.
Yang kesebelas yaitu saraf accesorius (N XI) adalah saraf gabungan, tetapi sebagian besarr
terdiri dari serabut motorik. Neuron motorik berasal dari dua area yaitu bagian kranial
beeawal dari medula dan menginervasi otot volunter faring dan laring. Yang kedua bagian
spinal muncul dari medulla spinalis serviks dan menginervasi otot trapezius dan
sternokleidomastoid. Neuron sensorik membawa informasi dari otot yang sama yang
terinervasi oleh saraf motorik; misalnya otot laring, faring, trapezius dan otot
sternokleidomastoid.
Yang keduabelas yaitu saraf hipoglosus (N XII) termasuk saraf gabungan, tetapi sebagian
besar terdiri dari saraf motorik. Neuron motorik berawal dari medula dan mensuplai otot
lidah. Neuron sensorik membawa informasi dari spindel otot di lidah.
Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Alih bahasa, James Veldman; editor edisi
bahasa indonesia, Palupi Widyastuti. Jakarta: EGC; 2003. h.176-8.

Mekanisme Impuls Saraf


Sel-sel di dalam tubuh dapat memiliki potensial membran akibat adanya distribusi tidak
merata dan perbedaan permeabilitas dari Na+, K+ dan anion besar intrasel. Potensial istirahat
merupakan potensial membran konstan ketika sel yang dapat tereksitasi tidak
memperlihatkan potensial cepat. Sel saraf dan otot merupakan jaringan yang dapt tereksitasi
karena dapat mengubah permeabilitas membran sehingga mengalami perubahan potensial
membran sementara jika tereksitasi.
Ada dua macam perubahan potensial membran. Yang pertama yaitu potensial berjenjang
yakni sinyal jarak dekat yang cepat menghilang. Potensial berjenjang bersifat lokal yang
terjadi dalam berbagai derajat. Potensial ini dipengaruhi oleh semakin kuatnya kejadian
pencetus dan semakin besarnya potensial berjenjang yang terjadi. Kejadian pencetus dapat
berupa stimulus, interaksi ligan-reseptor permukaan sel saraf dan otot, dan perubahan
potensial yang spontan.
Apabila potensial berjenjang secara lokal terjadi pada membran sel saraf atau otot, terdapat
potensial berbeda di daerah tersebut. Arus (secara pasif) mengalir antara daerah yang terlibat
dan daerah di sekitarnya (didalam maupun diluar membran). Potensial berjenjang dapat
menimbulkan potensial aksi jika potensial didaerah trigger zone di atas ambang. Sedangkan
jika potensial dibawah ambang tidak akan memicu potensial aksi.
Daerah-daerah di jaringan tempat terjadinya potensial berjenjang tidak mempunyai bahan
insulator sehingga terjadi kebocoran arus dari daerah aktif membran ke cairan ekstrasel
(CES) sehingga potensial semakin jauh semakin berkurang. Contoh potensial berjenjang
yaitu potensial pasca sinaps, potensial reseptor, potensial end-plate dan potensial alat pacu.

Yang kedua adalah potensial aksi. Potensial aksi merupakan pembalika cepat potensial
membran akibat perubahan permeabilitas membran. Potensial aksi berfungsi sebagai sinyal
jarak jauh. Terdapat istilah-istilah dalam potensial aksi yaitu pertama polarisasi (potensial
istirahat) adalah membran memiliki potensial dan terdapat pemisah muatan berlawanan.
Kedua yaitu depolarisasi adalah potensial lebih kecil daripada potensial istirahat (menuju 0
mV). Ketiga yaitu hiperpolarisasi adalah potensial lebih besar daripada potensial istirahat
(potensial lebih negative dan lebih banyak muatan yang dipisah dibandingkan dengan
potensial istirahat).
Selama potensial aksi, depolarisasi membran ke potensial ambanh menyababkan serangkaian
perubahan permeabilitas akibat perubahan konformasi saluran-saluran gerbang-voltase.
Perubahan permeabilitas ini menyebabkan pembalikkan potensial membran secara singkat,
dengan influks Na+ (fase naik; dari -70mV ke +30mV) dan efluks K+ (fase turun: dari puncak
ke potensial istirahat). Sebelum kembali istirahat, potensial aksi menimbulkan potensial aksi
baru yang identik di dekatnya melalui aliran arus sehingga daerah tersebut mencapai ambang.
Potensial aksi ini menyebar keseluruh membran sel tanpa menyebabkan penyusutan. Terdapat
dua cara perambatan potensial aksi, yang pertama adalah hantaran oleh aliran arus lokal pada
serat tidak bermielin adalah potensial aksi menyebar di sepanjang membran. Dan yang kedua
yaitu hantaran saltatorik yang lebih cepat di serat bermielin dan impuls melompati bagian
saraf yang diselubung mielin.
Pompa Na+-K+ memulihkan ion-ion yang berpindah selama perambatan potensial aksi ke
lokasi semula secara bertahap untuk mempertahankan gradien konsentrasi. Bagian membran
yang baru saja dilewati oleh potensial aksi tidak mungkin dirangsang kembali sampai bagian
tersebut pulih dari periode refrakternya. Periode refrakter memastikan perambatan satu arah
potensialaksi menjahi tempat pengaktifan semula. Potensial aksi timbul secara maksimal
sebagai respon terhadap rangsangan atau tidak sama sekali (all or none). Variasi kekuatan
rangsang dilihat dari variasi frekuensi, bukan dari variasi kekuatan (besarnya) potensial aksi.

Mekanisme Neurotransmitter
Proses neurotransmitter berawal dari neuron menyintesis zat kimia yang akanberfungsi
sebagai neurotransmitter. Kemudian neuron menyintesis neurotransmitter yangberukuran
lebih kecil pada ujung-ujung akson dan menyintesis neurotransmitter yangberukuran lebih
besar (peptida) pada badan sel. Selanjutnya neuron mentransportasineurotransmitter peptida
kearah ujung-ujung akson (Neuron tidak mentransportasikanneurotransmitter yang berukuran
kecil karena ujung-ujung akson adalah tempatpembuatannya). Potensial aksi berkonduksi
disepanjang akson. Potensial aksi padaterminal postsinaptik meyebabkan ion kalsium dapat
memasuki neuron. Ion kalsiummelepaskan neurotransmitter dari terminal postsinaptik ke
celah sinaptik (rongga antara neuron prasinaptik dan neuron postsinaptik).
Molekulneurotransmitter yang telah dilepaskan, berdifusi lalu melekat dengan
reseptorsehinggamengubah aktifitas neuron postsinaptik. Selanjutnya, neurotrasmiter
melepaskandiri dari reseptor. Neurotrasmitter dapat diubah menjadi zat kimia yang tidak aktif
tergantung pada zat kimia penyusunnya. Molekul neurotransmitter dapat dibawa kembalike

neuron prasimatik untuk didaur ulang atau dapat berdifusi dan hilang.pada beberapakasus,
vesikel yang kosong akan di transportasi kembali kebadan sel. Meskipun belumada penelitian
yang benar benar memberi jawaban, tetapi neuron postsinaptik mungkinmelepaskan pesan
pesan umpan balik negatif yang akan memperlambat pelepasanneurotransmitter baru oleh
neuron prasinaptik.

Histologi Cerebellum
Cortex cerebellum memiliki gambaran yang agak khas. Pemeriksaan mikroskopik
memperlihatkan suatu lapisan molecular yang paling luar dan lapisan granular yang paling
dalam. Lapisan molecular mengandung beberapa sel saraf dan pada sayatan melintang,
terlihat gambaran punctata yang halus. Sel-selnya kecil dan tersusun dalam bagian luar dan
bagian dalam. Sel-sel keranjang (basket cells) pada bagian dalam berjalan melewati lapisan
molecular pada sebuah bidang tegak lurus terhadap sumbu panjang folium dan mengeluarkan
banyak collateral dengan arborizasi di sekitar sel-sel purkinje. Sel-sel stellata serupa dengan
sel-sel keranjang, tetapi letaknya superficial. Sel-sel purkinje membentuk sehelai lapisan selsel besar pada hubungan antara lapisan molecular dan granular. Serabut-serabut pemanjat
(climbing fibers) merupakan serabut saraf afferent dari nuclei olivarius inferior yang berakhir
pada lapisan molecular di dekat sel-sel purkinje. Lapisan granular mempunyai ciri khas
dengan banyaknya sel-sel granula yang kecil. Setiap sel granula mengirimkan sebuah akson
ke lapisan molecular, dimana akson ini bercabang membentuk huruf T yang kedua lengannya
(serabut paralel)berjalan lurus serta memanjang, membuat hubungan synaptik dengan pohonpohon dendrit sel purkinje.2,4

Sel-sel golgi dalam lapisan sel granula memprojeksikan dendrit-dendritnya ke dalam lapisan
molecular, jadi menerima input dari serabut-serabut parallel sememntara tubuh sel golgi
menerima input dari collateral serabut-serabut pemanjat dan sel-sel purkinje. Akson-aksonnya

diroyeksikan ke dendrit sel-sel granula. Serabut-serabut mossy merupakan serabut afferent


dari nuclei batang otak dan medulla spinalis dengan tambahan (appendages) yang mirip
sejenis lumut (moss) dan berakhir secara profuse dalam lapisan granular. Serabut mossy
berakhir pada dendrit sel-sel granula dengan hubungan sinaps yang rumit dan disebut
glomeruli, yang juga menerima ujung serabut inhibisi dari sel-sel golgi.
Serabut-serabut pemanjat menimbulkan pengaruh eksitasi yang kuat pada sel-sel purkinje
saja, sedangkan serabut mossy menerbitkan pengaruh eksitasi yang lemah pada banyak sel
purkinje melalui sel-sel granula. Sel-sel keranjang dan sel-sel stellata dirangsang oleh
serabut-serabut paralel sel granula dan menghambat implus dari sel purkinje. Sel-sel golgi
dieksitasikan oleh colateral sel purkinje dan serabut-serabut paralel, serta menghambat
transmissi dari mossy fibers ke sel-sel granula. Nuclei cerebellaris yang dalam mengalami
inhibisi oleh sel-sel purkinje dan eksitasi oleh collateral dari serabut mossy, climbing fibers
dan lintasan lainnya.