Anda di halaman 1dari 34

SKENARIO 2

Sakit Pada Telinga


Seorang anak usia 3 tahun pilek batuk dan demam sudah 3 hari yang lalu. Keluhan
telinganya kanan sakit, mengeluarkan sedikit cairan seperti air susu dan bercampur
sedikit warna merah seperti darah. Lalu dibawa ibunya ke UGD. Setelah liang telinga
dibersihkan, diperiksa kendang telinga tampak merah dan mengeluarkan cairan. Ibu
pasien bertanya pada dokter, apakah penyakit anaknya bisa sembuh.

PERTANYAAN
1. Apa penyebab gendang telinga merah ?
2. Mengapa telinga keluar cairan seperti air susu dan berdarah ?
3. Apa hubungan pilek, batuk, dan demam dengan penyakit?
4. Bagaimana cara membersihkan daun telinga?
5. Faktor resiko apa saja yang ada ?
6. Klasifikasi gangguan pendengaran apa?
7. Fungsi pendengaran terganggu atau tidak?
8. Apakah diagnosis dan etilogi pada skenario ?
9. Apa yang menyebabkan telinga nyeri ?
10. Kenapa hanya terjadi pada salah satu telinga?
11. Apakah penyakit ini dapat relaps ?

JAWAB
1. Karena reaksi imun tubuh terhadap adanya antigen sehingga mengalami
inflamasi dan menjadi merah.
2. Karena adanya bakteri yang kemudian akan difagositosis oleh sel darah putih
sehingga keluar sekret putih.
3. ISPA -> bakteri ke tuba eustachius -> terinfeksi -> menyebar ke telinga
tengah.
Memakai tetes telinga H2O2
Umur, jenis kelamin, lingkungan, lifestyle
Tuli konduktif karena gangguan belum ke telinga bagian dalam.
Terganggu.
Diagnosis : otitis media akut
Etiologi : bakteri dan virus
9. Karena proses inflamasi dan juga akibat peningkatan tekanan dalam yang
4.
5.
6.
7.
8.

lebih besar dari tekanan diluar.


10. Karena kebiasaan posisi tidur jadi ke salah satu sisi.
11. Bisa

HIPOTESIS
Faktor resiko seperti jenis kelamin, usia, lingkungan dan lifestyle dapat menjadi
pemicu yang menyebabkan terjadinya ISPA oleh karena bakteri dan virus. Bakteri dan
virus menyebabkan reaksi imun tubuh teraktivasi. Hal ini menyebabkan terjadinya
proses peradangan pada tuba eustachius sehingga membengkak dan menyumbat.
Penyumbatan dan pembengkakan ini membuat drainase terganggu sehingga tekanan
di dalam telinga lebih besar dari tekanan luar telinga. Terjadi juga peningkatan sekret.

Semua hal ini menyebabkan membran timpani ruptur dan terjadi gangguan
pendengaran.
SASARAN BELAJAR
1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Telinga
1.1 Anatomi Makroskopis Telinga
1.2 Anatomi Mikroskopis Telinga
2. Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Telinga
3. Memahami dan Menjelaskan Gangguan Pendengaran
4. Memahami dan Menjelaskan Otitis Media Akut
4.1 Definisi dan Epidemiologi Otitis Media Akut
4.2 Etiologi Otitis Media Akut
4.3 Patofisiologi Otitis Media Akut
4.4 Manifestasi Otitis Media Akut
4.5 Diagnosis dan Diagnosis Banding Otitis Media Akut
4.6 Tatalaksanan Otitis Media Akut
4.7 Komplikasi Otitis Media Akut
4.8 Prognosis Otitis Media Akut
4.9 Pencegahan Otitis Media Akut
5. Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Telinga
6. Memahami dan Menjelaskan Cara Menjaga Telinga dan Pendengaran dari
Sudut Pandang Islam

1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANATOMI TELINGA


1.1 Anatomi Makroskopik Telinga
Secara anatomis, telinga dibagi menjadi tiga bagian: luar, tengah dan dalam.

Gambar 1 : Telinga
TelingaLuar

: Aurikula & Meatus akustikus externus


Tengah

: Tulang pendengaran (ossicle) & Cavum timpani

Dalam : organ vestibulokoklear

TELINGA LUAR & TENGAH


Telinga luar dan tengah utamanya berperan mentransmisikan suara ke telinga dalam.
Telinga luar terdiri dari aurikula (pinna) dan meatus akustikus eksternus.

Gambar 2 : Telinga luar


Aurikula tersusun dari tulang rawan elastis yang irreguler dan dilapisi oleh lapisan
kulit tipis yang berfungsi mengumpulkan suara. Meatus akustikus eksternus adalah
kanal yang terdapat pada bagian timpani dari tulang temporal. Panjangnya 2-3 cm
4

pada orang dewasa dan berfungsi menghantarkan suara dari aurikula ke membran
timpani.
Telinga tengah adalah rongga berisi udara yang didalamnya terdapat tulang-tulang
pendengaran.

Gambar 3 : Telinga Tengah


Tampak pada gambar tulang-tulang pendengaran yaitu maleus, inkus dan stapes
menghubungkan membran timpani dengan membran lain yang menutupi foramen
ovale, pintu menuju telinga dalam. Pintu lain di antara telinga tengah dan dalam yang
juga ditutupi membran adalah foramen rotundum. Terdapat dua otot di telinga tengah
yaitu tensor timpani yang berfungsi mengurangi getaran berlebihan dari membran
timpani dan tulang pendengaran untuk mencegah kerusakan pada telinga tengah. Otot
kedua adalah stapedius yang juga berfungsi mengurangi getaran berlebihan pada
tulang pendengaran terutama stapes.
TELINGA DALAM
Pada telinga dalam terdapat organ verstibulokoklear yang memiliki fungsi penting
dalam penerimaan suara dan pengaturan keseimbangan.

Gambar 4 : Organ vestibulokoklearis

Tampak pada gambar organ vestibulokoklear yang disebut juga labirin karena
bentuknya yang kompleks di dalam os pertrosus tulang temporal.
Telinga dalam terdiri dari 2 bagian yaitu:
1. Labirin tulang (bony labyrinth) yang berisi cairan perilimfatik.
2. Labirin membranosa (membranous labyrinth) yang berisi cairan endolimfatik.

Gambar 5 : Telinga Dalam

Tampak pada gambar struktur telinga tengah dan dalam. Labirin tulang merupakan
salah satu tulang terkeras dalam tubuh dan terdiri dari vestibulum, kanalis
semirkularis dan koklea.
LABIRIN TULANG
Labirin tulang merupakan rongga yang dilapisi periosteum. Rongga ini terbagi
menjadi tiga bagian yaitu vestibulum, kanalis semisirkularis dan koklea. Vestibulum
adalah ruangan kecil berbentuk oval berukuran sekitar 3 x 5 mm berisikan utrikulus
6

dan sakulus. Di tengah labirin tulang, vestibulum memisahkan koklea dan kanalis
semisirkularis. Terdapat 10 lubang pada dinding tulang vestibulum, yaitu 5 untuk
kanalis semisirkularis dan masing-masing satu untuk vestibular aqueduct, cochlear
aqueduct, foramen oval dan rotundum dan saraf.
Kanalis semisirkularis terdiri dari 3 bagian; posterior, anterior dan lateral yang
membentuk sudut 90 satu sama lain dan terletak di belakang vestibulum. Masingmasing berdiameter 0,8-1,0 mm dengan ujung yang berdilatasi membentuk bony
ampulla. Vestibulum dan kanalis semisirkularis berperan dalam pengaturan
keseimbangan. Koklea adalah struktur berbentuk spiral yang berputar sebanyak 2,5
sampai 2 2/3 putaran seperti rumah siput. Axis dari koklea adalah modiulus berupa
saluran untuk pembuluh darah arteri vertebralis dan serabut-serabut saraf. Pada
proksimal dari koklea terdapat cochlear aqueduct yang menghubungkan labirin tulang
dengan ruang subarachnoid yang terletak superior terhadap jugular foramen dan round
windows yang ditutupi oleh membran timpani sekunder.
LABIRIN MEMBRANOSA
Labirin membranosa adalah rongga yang dilapisi epitel berisi cairan endolimfatik
yang dikelilingi oleh cairan perilimfatik di dalam labirin tulang. Labirin membranosa
dibagi menjadi dua bagian yaitu cochlear labyrinth dan vestibular labyrinth.

Gambar 6 : Vestibular labyrinth

Tampak pada gambar, pada vestibular labyrinth terdapat kantung oval yang disebut
utrikulus dan kantung yang lebih kecil disebut sakulus yang berisikan cairan
endolimfatik (utriculosaccular duct). Pada dinding sakulus dan utricle terdapat
daerah-daerah kecil terbatas, disebut macula, terdiri dari epitel sensoris khusus yang
disarafi oleh cabang-cabang vestibular nerve. Cochlear labyrinth dinamakan juga
7

duktus koklearis dikelilingi oleh cairan perilimfatik di dalam koklea. Duktus koklearis
ditopang oleh ligamentum spiralis ke dinding lateral dari koklea dan oleh oseus
lamina spiralis ke modiolus.

Gambar 7 : Coclea

Tampak pada gambar

struktur dalam koklea. Di bagian dalam duktus koklearis

membentuk saluran longitudinal yaitu skala media yang membagi kanalis koklearis
menjadi dua saluran, skala vestibuli dan skala timpani. Skala media dipisahkan dari
skala vestibuli oleh membrana vestibular (Reissners). Sedangkan skala timpani
dipisahkan dari skala media oleh membran basilaris. Di atas membran basilaris
terdapat spiral organ atau organ Corti yang merupakan organ ujung dari saraf
pendengaran. Pada spiral organ terdapat sebarisan sel rambut dalam (inner hair cells)
dan tiga baris sel rambut luar (outer hair cells). Kedua jenis sel rambut adalah
silindris dengan inti di basal dan banyak mitokondria, serta terdapat stereosilia pada
permukaannya. Stereosilia dilapisi oleh membran tektorial dan berfungsi penting
dalam transduksi sensoris.
PERSARAFAN TELINGA DALAM
Nervus koklearis tersusun oleh sekitar 30.000 sel-sel saraf eferen yang mempersarafi
15.000 sel rambut pada spiral organ di setiap cochlea. Serabut saraf dari nervus
koklearis berjalan sepanjang meatus akustikus internus bersama serabut saraf dari
nervus vestibularis membentuk nervus vestibulokoklearis (CN VIII). Pada ujung
medial dari meatus akustikus internus, CN VIII menembus lempengan tulang tipis
8

bersama CN V (nervus fasialis) dan pembuluh darah menuju dorsal dan ventral
coclear nuclei di batang otak. Sebagian besar serabut saraf dari kedua nuclei naik
menuju inferior colliculus secara kontralateral, dan sebagian lainnya secara ipsilateral.
Selanjutnya, dari inferior colliculus, saraf-saraf pendengaran berjalan menuju medial
geniculate body dan akhirnya menuju korteks auditorius di lobus temporalis.

VASKULARISASI TELINGA DALAM


Telinga dalam diperdarahi oleh arteri auditori interna cabang dari arteri cerebellaris
anterior inferior dan arteri basilaris. Arteri auditori interna membentuk dua cabang
yaitu arteri vestibularis anterior yang memperdarahi utrikulus dan sakulus bagian
superior, serta bagian superior dan horizontal dari kanalis semisirkularis. Cabang lain
dari arteri auditori interna adalah arteri koklearis komunis yang bercabang menjadi
arteri koklearis dan arteri vestibulokoklearis. Arteri koklearis memperdarahi semua
bagian koklea kecuali sepertiga bagian basal yang diperdarahi oleh rami koklearis,
cabang dari arteri vestibulokoklearis. Cabang lain dari arteri vestibulokoklearis adalah
arteri vestibular bagian posterior yang memperdarahi utrikulus dan sakulus bagian
inferior, serta kanalis semisirkularis bagian posterior.
Vena dialirkan ke vena auditori interna yang diteruskan ke sinus sigmoideus atau
sinus petrosus inferior. Vena-vena kecil melewati vestibular aqueduct dan bermuara di
sinus petrosus inferior dan superior

1.2 Anatomi Mikroskopis Telinga


Telinga luar terdiri atas daun telinga (auricle/pinna), liang telinga luar (meatus accusticus externus) dan gendang telinga (membran timpani)

Daun telinga /aurikula disusun oleh tulang rawan elastin yang ditutupi oleh kulit tipis
yang melekat erat pada tulang rawan. Dalam lapisan subkutis terdapat beberapa
lembar otot lurik yang pada manusia rudimenter (sisa perkembangan), akan tetapi
pada binatang yang lebih rendah yang mampu menggerakan daun telinganya, otot
lurik ini lebih menonjol. Liang telinga luar merupakan suatu saluran yang terbentang
dari daun telinga melintasi tulang timpani hingga permukaan luar membran timpani.
Bagian permukaannya mengandung tulang rawan elastin dan ditutupi oleh kulit yang
mengandung folikel rambut, kelenjar sebasea dan modifikasi kelenjar keringat yang
dikenal sebagai glandula seruminosa.. Sekret kelenjar sebacea bersama sekret kelenjar
serumen merupakan komponen penyusun serumen.
Telinga Tengah

Membran timfani terdiri dari bagian :


Pars flaccida (membran sharpnell) terdapat 2 lapis yaitu
Lapisan luar : lanjutan kulit liang telinga, epitel squamosa
Lapisan dalam: sel kubis bersilia
Pars tensa (lamina propia) terdapat 3 lapis :
Lapisan luar : lanjutan kulit liang telinga, epitel squamosa
Lapisan tengah : serat kolagen dan sedikit serat elastin
Lapisan dalam : sel kubus bersilia

Tuba auditiva (Eustachius) menghubungkan rongga timpani dengan


nasofarings lumennya gepeng, dengan dinding medial dan lateral bagian tulang rawan
10

biasanya saling berhadapan menutup lumen. Epitelnya bervariasi dari epitel


bertingkat, selapis silindris bersilia dengan sel goblet dekat farings. Dengan menelan
dinding tuba saling
terpisah
sehingga
lumen terbuka dan
udara dapat masuk ke
rongga telinga tengah.
Dengan
demikian
tekanan udara pada
kedua sisi membran
timpani
menjadi
seimbang.
Di
bagian
dalam
rongga telinga tengah
terdapat 3 jenis tulang
pendengaran
yaitu
tulang maleus, inkus
dan stapes. Ketiga
tulang ini merupakan
tulang kompak tanpa
rongga sumsum tulang. Tulang maleus melekat pada membran timpani. Tulang
maleus dan inkus tergantung pada ligamen tipis di atap ruang timpani. Lempeng dasar
stapes melekat pada tingkap celah oval (fenestra ovalis) pada dinding dalam. Ada 2
otot kecil yang berhubungan dengan ketiga tulang pendengaran. Otot tensor timpani
terletak dalam saluran di atas tuba auditiva, tendonya berjalan mula-mula ke arah
posterior kemudian mengait sekeliling sebuah tonjol tulang kecil untuk melintasi
rongga timpani dari dinding medial ke lateral untuk berinsersi ke dalam gagang
maleus. Tendo otot stapedius berjalan dari tonjolan tulang berbentuk piramid dalam
dinding posterior dan berjalan anterior untuk berinsersi ke dalam leher stapes. Otototot ini berfungsi protektif dengan cara meredam getaran-getaran berfrekuensi tinggi.
Telinga Dalam
Labirin bertulang atau labyrinthus osseus cochlearis berputar mengelilingi sumbu
pusat tulang spongiosa disebut modiolus. Di dalam modiolus terdapat ganglion
spirale, yang terdiri dari banyak aferen bipolar. Dendrit dari neuron bipolar ini
menjulur dan menyarafi sel rambut yang terletak di aparatus pendengeran yaitu Organ
Corti.
Labirin bertulang telinga dalam dibagi menjadi dua rongga utama oleh lamina spiralis
dan membran basilar. Kanal koklea dibagi menjadi skala timpani sebelah bawah dan
skala vestibuli di atas. Skala timpani dan skala vestibuli berhubungan di apeks koklea
melalui sebuah lubang kecil yaitu helicotrema. Membarana Reissner (vestibularis)
memisahkan skala vestibuli dan skala media. Sel-sel sensorik untuk deteksi suara
terletak di organ corti, yang terletak di atas membran basilar skala media. Membrana
tectoria menutupi sel-sel di organum spirale.

ORGAN CORTI

11

12

Organ Corti terdiri atas sel-sel penyokong dan sel-sel rambut. Sel-sel yang terdapat di
organ Corti adalah
1. Sel tiang dalam merupakan sel berbentuk kerucut yang ramping dengan bagian
basal yang lebar mengandung inti, berdiri di atas membran basilaris serta bagian leher
sempit dan agak melebar di bagian apeks.
2. Sel tiang luar mempunyai bentuk yang serupa dengan sel tiang dalam hanya lebih
panjang. Di antara sel tiang dalam dan luar terdapat terowongan dalam.
3. Sel falangs luar merupakan sel berbentuk silindris yang melekat pada membrana
basilaris. Bagian puncaknya berbentuk mangkuk untuk menopang bagaian basal sel
rambut luar yang mengandung serat-serat saraf aferen dan eferen pada bagian
basalnya yang melintas di antara sel-sel falangs dalam untuk menuju ke sel-sel rambut
luar. Sel-sel falangs luar dan sel rambut luar terdapat dalam suatu ruang yaitu
terowongan Nuel. Ruang ini akan berhubungan dengan terowongan dalam.
4. Sel falangs dalam terletak berdampingan dengan sel tiang dalam. Seperti sel
falangs luar sel ini juga menyanggah sel rambut dalam.
5. Sel batas membatasi sisi dalam organ corti
6. Sel Hansen membatasi sisi luar organ Corti. Sel ini berbentuk silindris terletak

antara sel falangs luar dengan sel-sel Claudius yang berbentuk kuboid. Sel-sel
Claudius terletak di atas sel-sel Boettcher yang berbentuk kuboid rendah. Permukaan
organ Corti diliputi oleh suatu membran yaitu membrana tektoria yang merupakan
suatu lembaran pita materi gelatinosa. Dalam keadaan hidup membran ini menyandar
di atas stereosilia sel-sel rambut.
Labyrinth Membranosa merupakan kantong-kantong dan saluran yang terdapat di
dalam labyrinth osea, berisi cairan endolymph. Labyrinth membranosa terdiri dari
labyrinth vestibularis dan labyrinth cochlearis.
13

Labyrinth vestibularis terdiri dai dua kantong yaitu utriculus dan sacculus dan tiga
buah ductus semicircularis. Pada dinding lateral utriculus terdpat penebalan horizontal
berbentuk oval disebut macula utriculi. Pada dinding medial sacculus terdapat
penebalan vertikal disebut macula sacculi. Ductus semicircularis membranosa yang
pangkalnya melebar disebut ampulla membranosa. Pada dasra masing-masing
ampulla terdapat crista ampullaris berupa penebalan transversal.
Aparatus Vestibular :
Terdiri dari utikulus, sakulus, dan kanalis semisirkularis. Organ-organ yang sensitif ini
berespons terhadap percepatan linier atau angular atau gerkan kepala. Input sensorik
dari aparatus vestibular melalui jalur persarafan mengaktifkan otot-otot rangka
tertentu untuk mengoreksi keseimbangan, dan mengembalikan tubuh ke posisi yang
normal.

2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN FISIOLOGI TELINGA


Gelombang suara ialah getaran udara yang merambat yang terdiri dari daerahdaerah bertekanan tinggi akibat kompresi molekul udara bergantian dengan
daerah bertekanan rendah akibat perenggangan uadara. Suara di tindai oleh :
Nada suatu suara ditentukan oleh frekuensi getaran. Telinga manusia dapat
mendengar darei frekuensi 20-20.000 siklus perdetik.
Intensitas atau kekuatan suara, bergantung pada amplitodu gelombang suara.
Semakin besar amplitudo semakin keras suara. Kekuatan suara diukur dalam
desibel (dB) yaitu ukuran logaritmik intensitas dibandingkan dengan suara
paling lemah yang masih terdengar (ambang pendengaran). Suara yang lebih
besar dari 100 dB dapat merusak perangkat sensorik di koklea secara
permanen.
Warna suara atau kualitas, tergantung pada overtone yaitu frekuensi tambahan
yang mengenai nada dasar. Nada tambahan juga berperan menyebabkan
perbedaan karekteristik suatu orang.
Mekanisme Pendengaran
Gelombang suara >> getaran membran timpani >> getaran tulang telinga
tengah >> getaran jendela oval >> gerakan cairan di dalam koklea (>> geteran
jendela bundaar >> pembuyaran energi) >> getaran membran basilaris >>
menekuknya rambut di reseptor sel rambut dalam organ corti sewaktu
membran basilaris menggeser rambut ini secara relatif terhadap membran
tektorium di atasnya >> perubahan potensial berjenjang (reseptor) di sel
14

reseptor >> perubhan frekuensi potensial aksi yang dihasilkan nervus


cochlearis >> perambatan potensial aksi ke korteks pendengaran di lobus
temporalis.
Fungsi dari Membran Timpani dan Tulang-tulang Pendengaran
Dalam menanggapi perubahan tekanan yang dihasilkan oleh gelombang suara
pada permukaan eksternal, membran timpani bergerak masuk dan keluar.
Membran itu berfungsi sebagai resonator yang mereproduksi getaran dari
sumber suara. Membran akan berhenti bergetar segera ketika berhenti
gelombang suara. Gerakan dari membran timpani yang diteruskan kepada
manubrium maleus. Maleus bergerak pada sumbu yang melalui prosesus
brevis dab longusnya, sehingga mentransmisikan getaran manubrium ke inkus.
Inkus bergerak sedemikian rupa sehingga getaran ditransmisikan ke kepala
stapes. Pergerakan dari kepala stapes mengakibatkan ayunan ke sana kemari
seperti pintu berengsel di pinggir posterior dari jendela oval. Ossicles
pendengaran berfungsi sebagai sistem tuas yang mengubah getaran resonansi
membran timpani menjadi gerakan stapes terhadap skala vestibuli yang berisi
perilymph di koklea. Sistem ini meningkatkan tekanan suara yang tiba di
jendela oval, karena tindakan tuas dari maleus dan inkus mengalikan gaya 1,3
kali dan luas membran timpani jauh lebih besar daripada luas kaki stapes dari
stapes. Terdapat kehilangan energi suara sebagai akibat dari resistensi tulang
pendengaran, tetapi dalam penelitian didapatkan bahwa pada frekuensi di
bawah 3000 Hz, 60% dari insiden energi suara pada membran timpani
diteruskan ke cairan di dalam koklea
Refleks Timpani
Saat otot-otot telinga tengah berkontraksi (m.tensor tympani dan m.stapedius),
mereka akan menarik manubrium mallei kedalam dan kaki-kaki dari stapes
keluar. Hal ini akan menurukan transmisi suara. Suara keras akan menginisiasi
refleks kontraksi dari otot-otot ini yang dinamakan refleks tympani. Fungsinya
adalah protektif, yang akan memproteksi dari suara keras agar tidak
menghasilkan stimulasi yang berlebihan dari reseptor auditori. Tapi, refleks ini
memiliki waktu reaksi untuk menghasilkan refleks selama 40-160 ms,
sehingga tidak akan memberikan perlindungan pada stimulasi yang cepat
seperti tembakan senjata.
Mekanisme Keseimbangan
Kanalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselarasi kepala rotasioanal
atau angular, misalnya ketika kita mulai atau berhenti berputar, jungkir balik
atau menengok. Sel rambut resptif terletak di ampula, sel rambut terbenam di
dalam lapisan gelatinosa di atasnya, kupula yang menonjol ke dalam
endolimfe di dalam ampula.
Sewaktu kita menggerakkan kepala , tulang kanalis dan sel-sel rambut yang
terbenam di dalam kupula bergerak bersama kepala. Namun, pada awalnya
cairan di dalam kanalis, tidak bergerak searah dengan rotasi tetapi tertinggal di
belakang akibat inersia. Ketika endolimfe tertinggal dibelakang , cairan dalam
bidang yang sama dengan arah gerakan bergeser dalam arah berlawanan
dengan gerakan. Gerakan ini menyebabkan kupula miring dalam arah
berlawanan dengan gerakan kepala sehingga rambut menekuk. Jika gerakan
kepala berlanjut dengan kecepatan dan arah yang sama, makan endolimfe akan
menyusul dan bergerak bersama dengan kepala sehingga sel rambut kembali
15

ke posisi tidak melengkung. Ketika kepala melambat dan berhenti, endolimfe


sesaat melanjutkan gerakan ke arah rotasi sementara kepala melambat untuk
berhenti. Akibatnya kupula dan rambut-rambut melengkung ke arah putaran
sebelumnya.
Rambut-rambut di sel rambut vestibularis terdiri dari satu silium yaitu
kinosilium. Sterosilia berhubungan dengan ujung-ujungnya oleh tautan ujung.
Ketika sterosilia terdefleksi oleh gerakan endolimfe, tegangan yang terjadi
menarik saluran ion berpintu mekanis di sel rambut. Sel rambut mengalami
depolarisasi atau hiperpolarisasi, tergantung saluran ion terbuka atau tertutup.
Sel rambut mengalami depolarisasi ketika sterosilia menekuk ke arah
konosilium, penekukan ke arah berlawanan menyabakan hiperpolarisasi.
Depolarisai meningkatkan pelepasan neurotransmiter menyebabkan
peningkatan frekuensi lepas muatan saraf aferen. Sel-sel rambut membentuk
sinaps dengan ujung terminal neuron aferen yang aksonnya menyatu dengan
akson vestibular lain dan membentuk nervus vestibularis.
Kanalis semisirkularis tidak berespons ketika kepala tidak bergerak dan ketika
kepala berputar dalm lingkaran dengan kecepatan yang tetap.
Peran organ otolit
Organ otolit yaitu utrikulus dan sakulus. Ketika seseorang dalam posisi tegak,
rambut-rambut di dalam utrikulus berorientasi vertikal dan rambut sakulus
berjajar horizontal.
Utrikulus :
Ketika memiringkan kepala ke suatau arah selain vertikal, rambut akan
menekuk sesuai arah kemiringan karena gaya gravitasi yang mengenai
lapisan gelatinosa. Penekukan ini menimbulkan depolarisasi atau
hiperpolarisasi tergantung pada miringnya kepala.
Rambut utrikulus juga bergerak oleh perubuhan gerakan linier horizontak
(berjalan ke depan, belakang , samping). Sewaktu mulai berjalan maju
membran otolit mula-mula tertinggal di belakang endolimfe dan sel rambut
karena inersianya yang lebih besar. Karena itu rambut menekuk ke
belakang, berlawanan dengan arah gerak maju. Ketika kecepatan langkah
sama maka lapisan gelatinosa akan segera menyamai dan bergerak dengan
kecepatan yang sama dengan kepala sehingga rambut tidak defleksi. Ketika
berhenti berjalan, otolit bergerak maju sesaat sewaktu kepala melambat dan
berhenti, menekuk rambut ke depan.
Sakulus
Bersepons terhadap gerakan miring kepala menjauhi posisi horizontal (loncat
atau naik tangga).

3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN GANGGUAN PENDENGARAN


Tuli atau hilangnya pendengaran diklasifikasikan menjadi dua , yaitu :

Tuli hantaran atau konduktif


Tuli hantaran terjadi jika grlombang suara tidak secara adekuat dihantarkan
melalui telinga bagian luar dan bagian tengah untuk menggetarakan cairan
bagian dalam. Kemungkinan penyebabnya adalah penyumbatan fisik saluran
telinga oleh serumen, pecahnya gendang telinga, infeksi telinga tengah disertai
16

penimbunan cairan, atau restriksi gerakan osikulus akibat perlekatan tulang


antar stapes dan oval window.

Tuli sensorineural atau perseptif


Pada tuli sensorinueral gelombang suara di hantarkan ke tilnga bagian dalam,
tetapi tidak diterjamahkan menjadi sinyal saraf yang dapat diinterpretasikan
oleh otak sebagai sensasi suara. Defeknya dapat terletak di organ corti atau
nervus auditorius atau di jalur auditorius ascendens atau korteks auditorius.
Tuli sensorineural koklea disebabkan oleh aplasia (kongenital), labirintitis
(oleh bakteri/virus), intoksikasi obat streptomisin, kanamisin, garamisin,
neomisin, kina, asetosal, atau alkohol. Selain itu juga dapat disebabkan oleh
tuli mendadak (sudden deafness), trauma kapitis, trauma akustik, dan pajanan
bising.
Tuli sensorineural retrokoklea disebabkan oleh neuroma akustik, tumor sudut
pons serebelum, mieloma multipel, cedera otak, perdarahan otak, dan kelainan
otak lainnya.
Kerusakan telinga oleh obat, pengaruh suara keras, dan usia lanjut akan
menyebabkan kerusakan pada penerimaan nada tinggi di bagian basal koklea.
Presbikusis ialah penurunan kemampuan mendengar pada usia lanjut.
Pada trauma kepala dapat terjadi kerusakan di otak karena hematoma,
sehingga terjadi gangguan pendengaran.

Derajat ketulian ISO:


0-25 dB
:
>25-40 dB
:
>40-55 dB
:
>55-70 dB
:
>70-90 dB
:
>90 dB
:

normal
tuli ringan
tuli sedang
tuli sedang berat
tuli berat
tuli sangat berat

4. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN OTITIS MEDIA AKUT


4.1 Definisi dan Epidemiologi Otitis Media Akut
Definisi :
Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah,
tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media berdasarkan
gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif, di mana
masing-masing memiliki bentuk yang akut dan kronis. Selain itu, juga terdapat jenis
otitis media spesifik, seperti otitis media tuberkulosa, otitis media sifilitika. Otitis
media yang lain adalah otitis media adhesiva (Djaafar, 2007).
Otitis media akut (OMA) adalah peradangan telinga tengah dengan gejala dan tandatanda yang bersifat cepat dan singkat. Gejala dan tanda klinik lokal atau sistemik
dapat terjadi secara lengkap atau sebagian, baik berupa otalgia, demam, gelisah, mual,
muntah, diare, serta otore, apabila telah terjadi perforasi membran timpani. Pada
17

pemeriksaan otoskopik juga dijumpai efusi telinga tengah (Buchman, 2003).


Terjadinya efusi telinga tengah atau inflamasi telinga tengah ditandai dengan
membengkak pada membran timpani atau bulging, mobilitas yang terhad pada
membran timpani, terdapat cairan di belakang membran timpani, dan otore
(Kerschner, 2007).
Epidemiologi :
Otitis media lebih sering timbul di musim dingin daripada musim semi. Di beberapa
penelitian disebutkan penyakit ini banyak diderita laki-laki, sementara diantara anakanak Amerika kulit putih dan kulit hitam tidak ada perbedaan. Insidens tertinggi otitis
media akut (OMA) pada kelompok umur 6-11 bulan dan 75% anak mengalami
episode ini dalam umur 12 bulan. Anak-anak yang menderita pertama sekali episode
OMA kurang dari umur 12 bulan secara signifikan akan lebih mudah mendapatkan
OMA rekuren.
Data epidemiologi OMSK bervariasi, prevalensi tertinggi didapatkan pada anak- anak
Eskimo, Indian Amerika, dan Aborigin Australia (7-46%). Negara industri seperti
Amerika Serikat dan Inggris prevalensinya kurang 1% (Chole dan Nason, 2009).
Secara umum, prevalensi OMSK di Indonesia adalah 3,8% dan pasien OMSK
merupakan 25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT rumah sakit di
Indonesia (Aboet, 2007). Tahun 2008 kunjungan baru penderita OMSK sebanyak 208
dengan perbandingan laki-laki dan perempuan hampir sama.
4.2 Etiologi Otitis Media Akut
1. Bakteri
Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA yang tersering. Menurut penelitian, 6575% kasus OMA dapat ditentukan jenis bakteri piogeniknya melalui isolasi bakteri
terhadap kultur cairan atau efusi telinga tengah. Kasus lain tergolong sebagai nonpatogenik karena tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Tiga jenis bakteri
penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae (40%), diikuti oleh
Haemophilus influenzae (25-30%) dan Moraxella catarhalis (10-15%). Kira-kira 5%
kasus dijumpai patogen-patogen yang lain seperti Streptococcus pyogenes (group A
beta-hemolytic), Staphylococcus aureus, dan organisme gram negatif. Staphylococcus
aureus dan organisme gram negatif banyak ditemukan pada anak dan neonatus yang
menjalani rawat inap di rumah sakit. Haemophilus influenzae sering dijumpai pada
anak balita. Jenis mikroorganisme yang dijumpai pada orang dewasa juga sama
dengan yang dijumpai pada anak-anak.
2. Virus
Virus juga merupakan penyebab OMA. Virus dapat dijumpai tersendiri atau
bersamaan dengan bakteri patogenik yang lain. Virus yang paling sering dijumpai
pada anak-anak, yaitu respiratory syncytial virus (RSV), influenza virus, atau
adenovirus (sebanyak 30-40%). Kira-kira 10-15% dijumpai parainfluenza virus,
rhinovirus atau enterovirus. Virus akan membawa dampak buruk terhadap fungsi tuba
Eustachius, menganggu fungsi imun lokal, meningkatkan adhesi bakteri, menurunkan
efisiensi obat antimikroba dengan menganggu mekanisme farmakokinetiknya
(Kerschner, 2007). Dengan menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR)
dan virus specific enzyme-linked immunoabsorbent assay (ELISA), virus-virus dapat
diisolasi dari cairan telinga tengah pada anak yang menderita OMA pada 75% kasus.

18

Faktor Risiko
Faktor risiko terjadinya otitis media adalah umur, jenis kelamin, ras, faktor genetik,
status sosioekonomi serta lingkungan, asupan air susu ibu (ASI) atau susu formula,
lingkungan merokok, kontak dengan anak lain, abnormalitas kraniofasialis kongenital,
status imunologi, infeksi bakteri atau virus di saluran pernapasan atas, disfungsi tuba
Eustachius, inmatur tuba Eustachius dan lain-lain (Kerschner, 2007).
Faktor umur juga berperan dalam terjadinya OMA. Peningkatan insidens OMA pada
bayi dan anak-anak kemungkinan disebabkan oleh struktur dan fungsi tidak matang
atau imatur tuba Eustachius. Selain itu, sistem pertahanan tubuh atau status imunologi
anak juga masih rendah. Insidens terjadinya otitis media pada anak laki-laki lebih
tinggi dibanding dengan anak perempuan. Anak-anak pada ras Native American, Inuit,
dan Indigenous Australian menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi dibanding
dengan ras lain. Faktor genetik juga berpengaruh. Status sosioekonomi juga
berpengaruh, seperti kemiskinan, kepadatan penduduk, fasilitas higiene yang terbatas,
status nutrisi rendah, dan pelayanan pengobatan terbatas, sehingga mendorong
terjadinya OMA pada anak-anak. ASI dapat membantu dalam pertahanan tubuh. Oleh
karena itu, anak-anak yang kurangnya asupan ASI banyak menderita OMA.
Lingkungan merokok menyebabkan anak-anak mengalami OMA yang lebih
signifikan dibanding dengan anak-anak lain. Dengan adanya riwayat kontak yang
sering dengan anak-anak lain seperti di pusat penitipan anak-anak, insidens OMA juga
meningkat. Anak dengan adanya abnormalitas kraniofasialis kongenital mudah
terkena OMA karena fungsi tuba Eustachius turut terganggu, anak mudah menderita
penyakit telinga tengah. Otitis media merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat
infeksi saluran napas atas, baik bakteri atau virus.
4.3 Patogenesis Otitis Media Akut
Pathogenesis OMA pada sebagian besar anak-anak dimulai oleh infeksi saluran
pernapasan atas (ISPA) atau alergi, sehingga terjadi kongesti dan edema pada mukosa
saluran napas atas, termasuk nasofaring dan tuba Eustachius. Tuba Eustachius
menjadi sempit, sehingga terjadi sumbatan tekanan negatif pada telinga tengah. Bila
keadaan demikian berlangsung lama akan menyebabkan refluks dan aspirasi virus
atau bakteri dari nasofaring ke dalam telinga tengah melalui tuba Eustachius. Mukosa
telinga tengah bergantung pada tuba Eustachius untuk mengatur proses ventilasi yang
berkelanjutan dari nasofaring. Jika terjadi gangguan akibat obstruksi tuba, akan
mengaktivasi proses inflamasi kompleks dan terjadi efusi cairan ke dalam telinga
tengah. Ini merupakan faktor pencetus terjadinya OMA dan otitis media dengan efusi.
Bila tuba Eustachius tersumbat, drainase telinga tengah terganggu, mengalami infeksi
serta terjadi akumulasi sekret di telinga tengah, kemudian terjadi proliferasi mikroba
patogen pada sekret. Akibat dari infeksi virus saluran pernapasan atas, sitokin dan
mediator-mediator inflamasi yang dilepaskan akan menyebabkan disfungsi tuba
Eustachius. Virus respiratori juga dapat meningkatkan kolonisasi dan adhesi bakteri,
sehingga menganggu pertahanan imum pasien terhadap infeksi bakteri. Jika sekret
dan pus bertambah banyak dari proses inflamasi lokal, perndengaran dapat terganggu
karena membran timpani dan tulang-tulang pendengaran tidak dapat bergerak bebas
terhadap getaran. Akumulasi cairan yang terlalu banyak akhirnya dapat merobek
membran timpani akibat tekanannya yang meninggi.
Obstruksi tuba Eustachius dapat terjadi secara intraluminal dan ekstraluminal. Faktor
intraluminal adalah seperti akibat ISPA, dimana proses inflamasi terjadi, lalu timbul
edema pada mukosa tuba serta akumulasi sekret di telinga tengah. Selain itu, sebagian
19

besar pasien dengan otitis media dihubungkan dengan riwayat fungsi abnormal dari
tuba Eustachius, sehingga mekanisme pembukaan tuba terganggu. Faktor
ekstraluminal seperti tumor, dan hipertrofi adenoid.
Penyebab-penyebab Anak Mudah Terserang OMA
Dipercayai bahwa anak lebih mudah terserang OMA dibanding dengan orang dewasa.
Ini karena pada anak dan bayi, tuba lebih pendek, lebih lebar dan kedudukannya lebih
horizontal dari tuba orang dewasa, sehingga infeksi saluran pernapasan atas lebih
mudah menyebar ke telinga tengah. Panjang tuba orang dewasa 37,5 mm dan pada
anak di bawah umur 9 bulan adalah 17,5 mm (Djaafar, 2007). Ini meningkatkan
peluang terjadinya refluks dari nasofaring menganggu drainase melalui tuba
Eustachius. Insidens terjadinya otitis media pada anak yang berumur lebih tua
berkurang, karena tuba telah berkembang sempurna dan diameter tuba Eustschius
meningkat, sehingga jarang terjadi obstruksi dan disfungsi tuba. Selain itu, sistem
pertahanan tubuh anak masih rendah sehingga mudah terkena ISPA lalu terinfeksi di
telinga tengah. Adenoid merupakan salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang
berperan dalam kekebalan tubuh. Pada anak, adenoid relatif lebih besar dibanding
orang dewasa. Posisi adenoid yang berdekatan dengan muara tuba Eustachius
sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya tuba Eustachius. Selain
itu, adenoid dapat terinfeksi akibat ISPA kemudian menyebar ke telinga tengah
melalui tuba Eustachius (Kerschner, 2007).
Perbedaan Antara Tuba Eustachius pada Anak-anak dan Orang Dewasa

4.4 Manifestasi Otitis Media Akut


1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Pada stadium ini, terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai oleh retraksi
membran timpani akibat terjadinya tekanan intratimpani negatif di dalam telinga
tengah, dengan adanya absorpsi udara. Retraksi membran timpani terjadi dan posisi
malleus menjadi lebih horizontal, refleks cahaya juga berkurang. Edema yang terjadi
pada tuba Eustachius juga menyebabkannya tersumbat. Selain retraksi, membran
timpani kadang-kadang tetap normal dan tidak ada kelainan, atau hanya berwarna
keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sulit
dibedakan dengan tanda dari otitis media serosa yang disebabkan oleh virus dan
alergi. Tidak terjadi demam pada stadium ini.
2. Stadium Hiperemis atau Stadium Pre-supurasi
20

Pada stadium ini, terjadi pelebaran pembuluh darah di membran timpani, yang
ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis, edema mukosa dan adanya
sekret eksudat serosa yang sulit terlihat. Hiperemis disebabkan oleh oklusi tuba yang
berpanjangan sehingga terjadinya invasi oleh mikroorganisme piogenik. Proses
inflamasi berlaku di telinga tengah dan membran timpani menjadi kongesti. Stadium
ini merupakan tanda infeksi bakteri yang menyebabkan pasien mengeluhkan otalgia,
telinga rasa penuh dan demam. Pendengaran mungkin masih normal atau terjadi
gangguan ringan, tergantung dari cepatnya proses hiperemis. Hal ini terjadi karena
terdapat tekanan udara yang meningkat di kavum timpani. Gejala-gejala berkisar
antara dua belas jam sampai dengan satu hari.
3. Stadium Supurasi
Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen atau bernanah di
telinga tengah dan juga di sel-sel mastoid. Selain itu edema pada mukosa telinga
tengah menjadi makin hebat dan sel epitel superfisial terhancur. Terbentuknya eksudat
yang purulen di kavum timpani menyebabkan membran timpani menonjol atau
bulging ke arah liang telinga luar. Pada keadaan ini, pasien akan tampak sangat sakit,
nadi dan suhu meningkat serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Pasien selalu
gelisah dan tidak dapat tidur nyenyak. Dapat disertai dengan gangguan pendengaran
konduktif. Pada bayi demam tinggi dapat disertai muntah dan kejang.
Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan
iskemia membran timpani, akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa
membran timpani. Terjadi penumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum
timpani dan akibat tromboflebitis vena-vena kecil, sehingga tekanan kapiler membran
timpani meningkat, lalu menimbulkan nekrosis. Daerah nekrosis terasa lebih lembek
dan berwarna kekuningan atau yellow spot.
Keadaan stadium supurasi dapat ditangani dengan melakukan miringotomi. Bedah
kecil ini kita lakukan dengan menjalankan insisi pada membran timpani sehingga
nanah akan keluar dari telinga tengah menuju liang telinga luar. Luka insisi pada
membran timpani akan menutup kembali, sedangkan apabila terjadi ruptur, lubang
tempat perforasi lebih sulit menutup kembali. Membran timpani mungkin tidak
menutup kembali jikanya tidak utuh lagi.
4. Stadium Perforasi
Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa
nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar.
Kadang-kadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi (berdenyut). Stadium ini sering
disebabkan oleh terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman.
Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu tubuh menurun dan
dapat tertidur nyenyak.
Jika mebran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret atau nanah tetap
berlangsung melebihi tiga minggu, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif
subakut. Jika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih satu setengah
sampai dengan dua bulan, maka keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik.
5. Stadium Resolusi
Keadaan ini merupakan stadium akhir OMA yang diawali dengan berkurangnya dan
berhentinya otore. Stadium resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur normal
hingga perforasi membran timpani menutup kembali dan sekret purulen akan
21

berkurang dan akhirnya kering. Pendengaran kembali normal. Stadium ini


berlangsung walaupun tanpa pengobatan, jika membran timpani masih utuh, daya
tahan tubuh baik, dan virulensi kuman rendah.
Apabila stadium resolusi gagal terjadi, maka akan berlanjut menjadi otitis media
supuratif kronik. Kegagalan stadium ini berupa perforasi membran timpani menetap,
dengan sekret yang keluar secara terus-menerus atau hilang timbul.
Otitis media supuratif akut dapat menimbulkan gejala sisa berupa otitis media serosa.
Otitis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum timpani tanpa mengalami
perforasi membran timpani.
4.5 Diagnosis dan Diagnosis Banding Otitis Media Akut
Menurut Kerschner, kriteria diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut, yaitu:
1. Penyakitnya muncul secara mendadak dan bersifat akut.
2. Ditemukan adanya tanda efusi. Efusi merupakan pengumpulan cairan di telinga
tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut, seperti
menggembungnya membran timpani atau bulging, terbatas atau tidak ada gerakan
pada membran timpani, terdapat bayangan cairan di belakang membran timpani, dan
terdapat cairan yang keluar dari telinga.
3. Terdapat tanda atau gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan
adanya salah satu di antara tanda berikut, seperti kemerahan atau erythema pada
membran timpani, nyeri telinga atau otalgia yang mengganggu tidur dan aktivitas
normal.
Menurut Rubin et al. (2008), keparahan OMA dibagi kepada dua kategori, yaitu
ringan-sedang, dan berat. Kriteria diagnosis ringan-sedang adalah terdapat cairan di
telinga tengah, mobilitas membran timpani yang menurun, terdapat bayangan cairan
di belakang membran timpani, membengkak pada membran timpani, dan otore yang
purulen. Selain itu, juga terdapat tanda dan gejala inflamasi pada telinga tengah,
seperti demam, otalgia, gangguan pendengaran, tinitus, vertigo dan kemerahan pada
membran timpani. Tahap berat meliputi semua kriteria tersebut, dengan tambahan
ditandai dengan demam melebihi 39,0C, dan disertai dengan otalgia yang bersifat
sedang sampai berat.
Perbedaan Otitis Media Akut dengan Efusi Timpani
Gejala dan tanda
Otitis Media Akut
Nyeri telinga (otalgia), menarik
telinga (tugging)
Inflamasi akut, demam
Efusi telinga tengah
Membran
timpani
membengkak
(bulging), rasa penuh di telinga
Gerakan membran timpani berkurang
atau tidak ada
Warna membran timpani abnormal
seperti menjadi putih, kuning, dan
biru
Gangguan pendengaran

Otitis
Efusi
-

+
+
+/-

+
-

Media

dengan

22

Otore purulen akut


Kemerahan
membran
erythema

+
timpani, +

4.6 Tatalaksanan Otitis Media Akut


Penatalaksanaan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada
stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian
antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik. Tujuan pengobatan pada
otitis media adalah untuk menghindari komplikasi intrakrania dan ekstrakrania yang
mungkin terjadi, mengobati gejala, memperbaiki fungsi tuba Eustachius, menghindari
perforasi membran timpani, dan memperbaiki sistem imum lokal dan sistemik.
Pada stadium oklusi tuba, pengobatan bertujuan untuk membuka kembali tuba
Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Diberikan obat tetes
hidung HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologik untuk anak kurang dari 12 tahun
atau HCl efedrin 1 % dalam larutan fisiologis untuk anak yang berumur atas 12 tahun
pada orang dewasa. Sumber infeksi harus diobati dengan pemberian antibiotik.
Pada stadium hiperemis dapat diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan analgesik.
Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Jika terjadi
resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin.
Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di
dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran
sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Bila
pasien alergi tehadap penisilin, diberikan eritromisin. Pada anak, diberikan ampisilin
50-100 mg/kgBB/hari yang terbagi dalam empat dosis, amoksisilin atau eritromisin
masing-masing 50 mg/kgBB/hari yang terbagi dalam 3 dosis.
Pada stadium supurasi, selain diberikan antibiotik, pasien harus dirujuk untuk
melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat
hilang dan tidak terjadi ruptur.
Pada stadium perforasi, sering terlihat sekret banyak keluar, kadang secara berdenyut
atau pulsasi. Diberikan obat cuci telinga (ear toilet) H2O2 3% selama 3 sampai
dengan 5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan
hilang dan perforasi akan menutup kembali dalam 7 sampai dengan 10 hari.
Pada stadium resolusi, membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada
lagi, dan perforasi menutup. Bila tidak terjadi resolusi biasanya sekret mengalir di
liang telinga luar melalui perforasi di membran timpani. Antibiotik dapat dilanjutkan
sampai 3 minggu. Bila keadaan ini berterusan, mungkin telah terjadi mastoiditis.
Sekitar 80% kasus OMA sembuh dalam 3 hari tanpa pemberian antibiotik. Observasi
dapat dilakukan. Antibiotik dianjurkan jika gejala tidak membaik dalam dua sampai
tiga hari, atau ada perburukan gejala. Menurut American Academy of Pediatrics
(2004) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi
dengan antibiotik sebagai berikut:
Usia
Diagnosis pasti (certain)
Diagnosis
meragukan
(uncertain)
Kurang dari 6 bulan
Antibiotik
Antibiotik
6 bulan sampai 2 tahun
Antibiotik
Antibiotik jika gejala
berat, observasi jika gejala
ringan
2 tahun ke atas
Antibiotik jika gejala Observasi
berat, observasi jika gejala
23

ringan

Menurut American Academic of Pediatric (2004), amoksisilin merupakan first-line


terapi dengan pemberian 80mg/kgBB/hari sebagai terapi antibiotik awal selama lima
hari. Amoksisilin efektif terhadap Streptococcus penumoniae. Jika pasien alergi
ringan terhadap amoksisilin, dapat diberikan sefalosporin seperti cefdinir. Second-line
terapi seperti amoksisilin-klavulanat efektif terhadap Haemophilus influenzae dan
Moraxella catarrhalis, termasuk Streptococcus penumoniae
Terdapat beberapa tindakan pembedahan yang dapat menangani OMA rekuren, seperti
miringotomi dengan insersi tuba timpanosintesis, dan adenoidektomi.
1. Miringotomi
Miringotomi ialah tindakan insisi pada pars tensa membran timpani, supaya terjadi
drainase sekret dari telinga tengah ke liang telinga luar. Syaratnya adalah harus
dilakukan secara dapat dilihat langsung, anak harus tenang sehingga membran
timpani dapat dilihat dengan baik. Lokasi miringotomi ialah di kuadran posteriorinferior. Bila terapi yang diberikan sudah adekuat, miringotomi tidak perlu dilakukan,
kecuali jika terdapat pus di telinga tengah. Indikasi miringostomi pada anak dengan
OMA adalah nyeri berat, demam, komplikasi OMA seperti paresis nervus fasialis,
mastoiditis, labirinitis, dan infeksi sistem saraf pusat. Miringotomi merupakan terapi
third-line pada pasien yang mengalami kegagalan terhadap dua kali terapi antibiotik
pada satu episode OMA. Salah satu tindakan miringotomi atau timpanosintesis
dijalankan terhadap anak OMA yang respon kurang memuaskan terhadap terapi
second-line, untuk menidentifikasi mikroorganisme melalui kultur.
2. Timpanosintesis
Menurut Bluestone (1996) dalam Titisari (2005), timpanosintesis merupakan pungsi
pada membran timpani, dengan analgesia lokal supaya mendapatkan sekret untuk
tujuan pemeriksaan. Indikasi timpanosintesis adalah terapi antibiotik tidak
memuaskan, terdapat komplikasi supuratif, pada bayi baru lahir atau pasien yang
sistem imun tubuh rendah. Menurut Buchman (2003), pipa timpanostomi dapat
menurun morbiditas OMA seperti otalgia, efusi telinga tengah, gangguan pendengaran
secara signifikan dibanding dengan plasebo dalam tiga penelitian prospertif,
randomized trial yang telah dijalankan.
3. Adenoidektomi
Adenoidektomi efektif dalam menurunkan risiko terjadi otitis media dengan efusi dan
OMA rekuren, pada anak yang pernah menjalankan miringotomi dan insersi tuba
timpanosintesis, tetapi hasil masih tidak memuaskan. Pada anak kecil dengan OMA
rekuren yang tidak pernah didahului dengan insersi tuba, tidak dianjurkan
adenoidektomi, kecuali jika terjadi obstruksi jalan napas dan rinosinusitis rekuren.
4.7 Komplikasi Otitis Media Akut
Sebelum adanya antibiotik, OMA dapat menimbulkan komplikasi, mulai dari abses
subperiosteal sampai abses otak dan meningitis. Sekarang semua jenis komplikasi
tersebut biasanya didapat pada otitis media supuratif kronik. Mengikut Shambough
(2003) dalam Djaafar (2005), komplikasi OMA terbagi kepada komplikasi
24

intratemporal (perforasi membran timpani, mastoiditis akut, paresis nervus fasialis,


labirinitis, petrositis), ekstratemporal (abses subperiosteal), dan intracranial (abses
otak, tromboflebitis).
4.8 Prognosis Otitis Media Akut
Apabila ditangani dengan cepat prognosis akan baik.
4.9 Pencegahan Otitis Media Akut
Terdapat beberapa hal yang dapat mencegah terjadinya OMA. Mencegah ISPA pada
bayi dan anak-anak, menangani ISPA dengan pengobatan adekuat, menganjurkan
pemberian ASI minimal enam bulan, menghindarkan pajanan terhadap lingkungan
merokok, dan lain-lain.
5.

MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PEMERIKSAAN TELINGA


Alat-alat :
- Lampu kepala
- Corong telinga
- Otoskop
- Pelilit kapas
- Pengait serumen
- Pinset telinga
- Garputala

Cara umum
Pasien duduk dengan posisi badan condong sedikit kedepan dan
kepala lebih tinggi sedikit dari kepala pemeriksa untuk memudahkan
melihat liang telinga dan membrane tympani.
Mula-mula dilihat keadaan dan bentuk daun telinga, daerah belakang
daun telinga,
apakah terdapat tanda peradanagn atau sikatriks bekas operasi.
Daun telinga ditarik ketas dan kebelkanag sehingga liang telinga
menjadi lebih lurus dan akan mempermudah untuk melihat keadaan
liang telinga dan membrane tympani.
Untuk lebih jelas pakailah otoskop. Otoskop dipegang dengan
tangan kanan untuk memeriksa telinga kanan dan sebaliknya. Untuk
stabil, jari kelingking diletakkan pada pipi pasien.
Bila terdapat serumen dalam liang telinga yang menyumbat maka
harus dikeluarkan.
Jenis-jenis Tes Pendengaran
1. Tes berbisik
Syarat:
25

Tempat : ruangan sunyi dan tidak ada echo (dinding dibuat rata
atau dilapisi soft board / gorden) serta ada ajarak sepanjang 6
meter
- Penderita (yang diperiksa) :
Mata ditutup atau dihalangi agar tidak membaca gerak bibir.
Telinga yang diperiksa dihadapkan ke arah pemeriksa.
Telinga yang tidak diperiksa ditutup (bisa ditutupi kapas yang dibasahi
gliserin).
Mengulang dengan keras dan jelas kata-kata yang dibisikkan
- Pemeriksa
Kata-kata dibisikkan dengan udara cadangan paru-paru,
sesudah ekspirasi biasa.
Kata-kata yang dibisikkan terdiri dari 1 atau 2 suku kata
yang dikenal penderita, biasanya kata-kata benda yang ada
di sekeliling kita.
Pemeriksaan :
Mula-mula penderita pada jarak 6 m dibisiki beberapa kata. Bila tidak menyahut
pemeriksa maju 1 m (5 m dari penderita) dan tes ini dimulai lagi. Bila masih belum
menyahut pemeriksa maju 1 m, demikian seterusnya sampai penderita dapat
mengulangi 8 kata-kata dari 10 kata-kata yang dibisikkan. Jarak dimana penderita
dapat menyahut 8 dari 10 kata disebut sebagai jarak pendengaran. Cara pemeriksaan
yang sama dilakukan untuk telinga yang lain sampai ditemukan satu jarak
pendengaran
Hasil tes :
Pendengaran dapat dinilai secara kuantitatif (tajam pendengaran) dan secara kualitatif
(jenis ketulian)

KUANTITATIF
FUNGSI
PENDENGARAN
Normal
Dalam batas normal
Tuli ringan
Tuli sedang
Tuli berat

KUALITATIF
SUARA
BISIK
6m
5m
4m
3-2m
1m

TULI SENSORINEURAL
Sukar
mendengar
huruf
desis
(frekuensi tinggi), seperti huruf s sy
c
TULI KONDUKTIF
Sukar
mendengar
huruf
lunak
(frekuensi rendah), seperti huruf m n
w

Pemeriksaan audiometri

Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. Alat ini menghasilkan
nada-nada murni dengan frekuensi melalui aerphon. Pada sestiap frekuensi ditentukan
intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari
26

pendengaran normal. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif derajat ketulian dan
gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh.
Definisi
Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur
(uji pendengaran). Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman
pendengaran, tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan
anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran.
Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level pendengaran
seseorang. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri, maka derajat
ketajaman pendengaran seseorang dapat dinilai. Tes audiometri diperlukan bagi
seseorang yang merasa memiliki gangguan pendengeran atau seseorang yag akan
bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendngaran.

Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara, audiologis dan


pasien yang kooperatif. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah :
Audiometri nada murni
Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat
menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500, 1000-2000,
4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB). Bunyi yang dihasilkan
disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa
pendengarannya. Masing-masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui
hntaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang, sehingga akan
didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara. Dengan membaca audiogram ini
kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. Gambaran
audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar
20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada muri.
Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwuensi 2020.000 Hz. Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami
percakapan sehari-hari.
Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran

27

Kehilangan
dalam Desibel

Klasifikasi

0-15
>15-25
>25-40
>40-55
>55-70
>70-90
>90

Pendengaran normal
Kehilangan pendengaran kecil
Kehilangan pendengaran ringan
Kehilangan pendengaran sedang
Kehilangan pendenngaran sedang sampai berat
Kehilangan pendengaran berat
Kehilangan pendengaran berat sekali

Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran psien pada stimulus
nada murni. Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda. Secara kasar
bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. Grafiknya terdiri dari skala
decibel, suara dipresentasikan dengan aerphon (air kondution) dan skala skull vibrator
(bone conduction). Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL.
Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL.
Audiometri tutur
Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih
yang telah dibakukan, dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi, untuk
mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. Prinsip audiometri tutur hampir
sama dengan audiometri nada murni, hanya disni sebagai alat uji pendengaran
digunakan daftar kata terpuilih yang dituturkan pada penderita. Kata-kata tersebut
dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan
dengan audiometri tutur, kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang
diperiksa pendengarannya, atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam
atau pita rekaman, kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer
tutur.
Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setip kata yang didengar, dan apabila
kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena intensitasnya makin dilemahkan,
pendengar diminta untuk mnebaknya. Pemeriksa mencatata presentase kata-kata yang
ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. Hasil ini dapat
digambarkan pada suatu diagram yang absisnya adalah intensitas suara kata-kata yang
didengar, sedangkan ordinatnya adalah presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan
benar.
Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu :
o Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari
sejumlah kata-kata yang dituturkan pada suatu intensitas
minimal dengan benar, yang lazimnya disebut persepsi tutur
atau NPT, dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB).
o Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan
tiap satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang
dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT. Satuan
28

pengukuran NDT itu adalah persentasi maksimal kata-kata yang


ditirukan dengan benar, sedangkan intensitas suara barapa saja.
Dengan demikian, berbeda dengan audiometri nada murni pada
audiometri tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja
pada tingkat nilai ambang (NPT), tetapi juga jauh diatasnya.
Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar kata-kata yang jelas
artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50% tidak dapat
menirukan kata-kata dengan tepat.

Kriteria orang tuli :


o
o
o
o

Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB


Sedang masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB
Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB
Berat sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB

Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi, apabila seseorang masih


memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat bantu dengar
(ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi, dikeraskan oleh ABD sehingga bisa
terdengar. Prinsipnya semua tes pendengaran agar akurat hasilnya, tetap harus pada
ruang kedap suara minimal sunyi. Karena kita memberikan tes paa frekuensi tertetu
dengan intensitas lemah, kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian.
Pada audiometri tutur, memng kata-kata tertentu dengan vocal dan konsonan tertentu
yang dipaparkan kependrita. Intensitas pad pemerriksaan audiomatri bisa dimulai dari
20 dB bila tidak mendengar 40 dB dan seterusnya, bila mendengar intensitas bisa
diturunkan 0 dB, berarti pendengaran baik. Tes sebelum dilakukan audiometri tentu
saja perlu pemeriksaan telinga : apakah congok atau tidak (ada cairan dalam telinga),
apakah ada kotoran telinga (serumen), apakah ada lubang gendang telinga, untuk
menentukan penyabab kurang pendengaran.
Tujuan
Mediagnostik penyakit telinga
Mengukur kemampuan pendengaran dalam menagkap percakpan sehari-hari, atau
dengan kata lain validitas sosial pendengaran : untuk tugas dan pekerjaan, apakah
butuh alat pembantu mendengar atau pndidikan khusus, ganti rugi (misalnya
dalam bidang kedokteran kehkiman dan asuransi).
Skrinig anak balita dan SD
Memonitor untuk pekerja-pekerja dinetpat bising.
Tes Penala
Test Rinne

29

Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara hantaran tulang
dengan hantaran udara pada satu telinga pasien.

Ada 2 macam tes rinne , yaitu :


Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan
tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang
meatus akustikus eksternus). Setelah pasien tidak mendengar
bunyinya, segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus
akustikus eksternus pasien. Tes Rinne positif jika pasien masih
dapat mendengarnya. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak
dapat mendengarnya
Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan
tangkainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Segera
pindahkan garputala didepan meatus akustikus eksternus. Kita
menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan
meatus akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang
meatus skustikus eksternus (planum mastoid). Tes rinne positif jika
pasien mendengar didepan maetus akustikus eksternus lebih keras.
Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus
akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang.
Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne :
Normal : tes rinne positif
Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui
tulang lebih lama)
Tuli persepsi, terdapat 3 kemungkinan :
o Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu
tala.
o posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-)
o Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi
pada posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal
sehingga mula-mula timbul.

30

Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa
maupun pasien. Kesalah dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak
lurus, tangkai garputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai
aurikulum pasien. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal.
Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah
tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid
pasien. Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan
garputala kedepan meatus akustukus eksternus.
Test Weber
Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang
antara kedua telinga pasien. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan
garputala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal.
Menurut pasien, telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. Jika
telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi
lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Jika kedua pasien sama-sama tidak mendengar atau
sam-sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi.
Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak, sehingga akan
terdengar diseluruh bagian kepala. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum
timpani missal:otitis media purulenta pada telinga kanan. Juga adanya cairan atau pus
di dalam cavum timpani ini akan bergetar, biala ada bunyi segala getaran akan
didengarkan di sebelah kanan.
Interpretasi:

o
o
o
o
o

Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan


disebut lateralisai ke kanan, disebut normal bila antara sisi kanan
dan kiri sama kerasnya.
Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya:
Tuli konduksi sebelah kanan, missal adanya ototis media disebelah
kanan.
Tuli konduksi pada kedua telinga, tetapi gangguannya pada telinga
kanan ebih hebat.
Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu,
maka di dengar sebelah kanan.
Tuli persepsi pada kedua teling, tetapi sebelah kiri lebih hebat dari
pada sebelah kanan.
Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kanan jarang terdapat.

Test Swabach
Tujuannya untuk membandingkan daya transport melalui tulang mastoid
antara pemeriksa (normal) dengan probandus.
Dasar gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh getaran yang
datang melalui udara. Getaran yang datang melalui tengkorak, khususnya osteo
temporale
Cara kerjanya yaitu penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah
digetarkan pada puncak kepala probandus. Probandus akan mendengar suara
31

garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar suara
garputala lagi. Pada saat garputala tidak mendengar suara garputala, maka penguji
akan segera memindahkan garputala itu, ke puncak kepala orang yang diketahui
normal ketajaman pendengarannya (pembanding). Bagi pembanding dua
kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara, atau tidak mendengar suara.
Tes Rinne
Tes Weber
Tes Schwabach
Diagnosis
Positif
Tidak
ada
Normal
Sama
dengan
lateralisasi
pemeriksa
Lateralisasi
ke
Negatif
Tuli konduktif
telinga yang sakit Memanjang
Lateralisasi
ke
telinga
yang Memendek
sehat

Positif

Tuli
sensorineural

Catatan: Pada tuli konduktif <30 dB, Rinne bisa masih positif

6.
MEMAHAMI DAN MENJELASKAN CARA MENJAGA TELINGA
DAN PENDENGARAN DARI SUDUT PANDANG ISLAM
Pendengaran adalah benteng pertahanan kedua dari segi bahayanya setelah lisan.
Yaitu,yang kedua dalam mempengaruhi hati dan menguasainya. Oleh karena itu,AlHaris Al-Muhasibi berkata,"tidak ada luka yang lebih berbahaya bagi seorang hamba
setelah lisannya selain pendengarannya,karena pendengaran itu utusan yang lebih
cepat pada hati dan lebih mudah jatuh kedalam fitnah.
Pendengan hati terhadap kebenaran itu ada 3 macam, ketiganya ada dalam Al-Quran :

MENDENGARKAN UNTUK MENGETAHUI.

Derajat ini muncul ketika seseorang hanya menggunakan indera pendengaran.


Sebagaimana yang diberitakan oleh Al-Qur'an ketika menceritakan tentang jin-jin
yang beriman, mereka berkata,"Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an
yang menakjubkan". (QS.Al-Jin [72]:1)

MEMPERDENGARKAN UNTUK MEMAHAMI.

Adapun memperdengarkan untuk memahami dalam menafikan orang yang suka


berpaling dan lalai, sebagaimana firman Allah, "Maka sungguh,engkau tidak akan
sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar dan menjadikan
orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka berpaling
kebelakang. (Ar-Rum [20]:52).
Demikian juga firman Allah,"Sungguh Allah memberi pendengaran kepada siapa
yang dia kehendaki dan engkau (Muhammad) tidak akan sanggup menjadikan orang
yang didalam kubur dapat mendengar". (Al-Fathir [35]:22)
32

Kekhususan ini adalah untuk memperdengarkan pemahaman dan pengetahuan.


Demikian juga firman Allah,"Dan sekiranya Allah mengetahui ada kebaikan pada
mereka,tentu dia jadikan mereka dapat mendengar. Dan jika Allah menjadikan
mereka dapat mendengar,niscaya mereka berpaling,sedang mereka memalingkan
diri".(Al-Anfal [8]:23)
Dengan kata lain,jika seandainya Allah mengetahui orang-orang kafir itu terdapat
penerimaan dan ketundukan,tentu Allah akan menjadikan mereka dapat memahami.
Jika tidak,berarti mereka telah mendengar dengan pendengaran pengetahuan.
Seandainya Allah menjadikan mereka dapat memahami,niscaya mereka tidak akan
tunduk dan tidak mengambil manfaat dari apa yang dipahaminya. Karena didalam
hati mereka terdapat faktor yang menolak dan menghalang-halangi mereka untuk
mengambil manfaat dari apa yang mereka dengar

MENDENGARKAN UNTUK MENERIMA DAN MEMENUHI


PANGGILAN.

Adapun mendengarkan untuk menerima dan memenuhi panggilan,dalam firman Allah


yang menceritakan tentang hamba-hamba-Nya yang beriman,mereka berkata, "kami
mendengar, dan kami taat". (QS.An-Nur [24]:51)
Inilah bentuk mendengarkan untuk menerima dan memenuhi panggilan yang berbuah
ketaatan. Mendengarkan untuk menerima dan memenuhi panggilan ini mencakup 2
macam sebelumnya,yaitu mendengarkan untuk mengetahui dan memperdengarkan
untuk memahami.
Mendengarkan untuk mengetahui sedikitpun tidak berguna,karena binatang juga
mendengar sebagaimana orang kafir dapat mendengar. Mendengarkan untuk
memahami juga,sedikitpun tidak berguna,karena orang-orang yang hatinya membatu
juga dapat memahami,tapi mereka tidak mengamalkan.
Adapun mendengarkan untuk menerima dan memenuhi panggilan saja yang dapat
memberatkan timbangan amal kebaikan anda dan menunjukkan pada kehidupan hati
anda serta beredarnya denyutan didalamnya.
Mendengarkan untuk menerima dan memenuhi panggilan ini akan hadir ketika
perkataan yang didengar itu bertemu dengan sekejap kekhusyukan,atau ketika dalam
kondisi bertaubat, atau ketika merasa terpukul dengan dosanya,atau hanya dengan
pertolongan Allah yang tersembunyi, atau juga dengan kelembutan yang jelas,dengan
sebab ataupun tanpa sebab.
Ketika itulah,anda akan dapati pori-pori hati terbuka,sehingga terjadilah pengaruh
yang luar biasa dan kondisi hati menjadi berubah seluruhnya,dari hati yang mati
menuju hati yang hidup, dari hati yang rapuh menuju hati yang kuat.

33

DAFTAR PUSTAKA
Eroschencko, Victor P. 2010. Atlas histologi diFiore : dengan Korelasi Fungsional.
Jakarta : EGC.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25640/4/Chapter%20II.pdf
Soepardi, Efiaty Arsyad. 2009. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
Kepala & Leher, Edisi Keenam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Sherwood, Laralee. 2011. Fisiologi Manusia : Dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC.

34