Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
1. A
1.1.
Anatomi dan Fisiologi
1.1.1. Kornea
Kornea adalah jaringan transparan yang merupakan selaput bening mata yang tembus
cahaya dan menutup bola mata sebelah depan dan terdiri dari 5 lapisan. lapisan tersebut antara
lain lapisan epitel (yang bersambung dengan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman,
stroma, membran Descement dan lapisan endotel. Batas antara sklera dan kornea disebut limbus
kornea. Kornea juga merupakan lensa cembung dengan kekuatan refraksi sebesar + 43 dioptri.
Jika terjadi oedem kornea akan bertindak sebagai prisma yang dapat menguraikan sinar sehingga
penderita akan melihat halo.1,8
Lapisan epitel
Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih;
satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel,
sel muda terdorong kedepan menjadi lapisan sel poligonal dan semakin maju ke depan
menjadi sel gepeng. Sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel
poligonal didepannya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat
pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier. Sel basal menghasilkan
membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan menghasilkan

erosi rekuren. Epitel berasal dari ektoderm permukaan.


Membran bowman
Terletak dibawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun
tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapis ini tidak

mempunyai daya regenerasi.


Jaringan sroma
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan yang
lainnya. Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur, sedang dibagian perifer serat
kolagen ini bercabang. Terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu yang
kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan
fibroblast yang terletak diantara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk

bahan dasar serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.
Membran Descement
Merupakan membran aseluler dan merupakan batas belakang stroma kornea yang bersifat
sangat elastis dan tebalnya sekitar 40 m.

Endotel
Berasal dari mesotelium, bentuk heksagonal, besar 20-40 m. Endotel melekat pada
membran descement melalui hemidoson dan zonula okluden.
Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar longus,

saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma
kornea, menembus membran bowman melepaskan selubung schwannya. Bulbus krause untuk
sensasi dingin ditemukan diantaranya. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus
terjadi dalam waktu 3 bulan. Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus,
humour aquos dan air mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari
atmosfir. Transparansi kornea dipertahankan oleh strukturnya yang seragam, avaskularitas dan
deturgensinya.8

Gambar 1. Anatomi Kornea


Gambar 2. Anatomi Konjungtiva

1.1.2. Konjungtiva
Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus
permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera
(konjungtiva bulbaris). Konjungtiva

bersambungan

dengan kulit pada tepi

kelopak

(persambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea di limbus. Konjungtiva terdiri dari tiga
bagian:8
1. Konjungtiva palpebralis (menutupi permukaan posterior dari palpebra).
2. Konjungtiva bulbaris (menutupi sebagian permukaan anterior bola mata).
3. Konjungtiva forniks (bagian transisi yang membentuk hubungan antara bagian posterior
palpebra dan bola mata)

Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan melekat erat ke
tarsus. Di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat ke posterior (pada fornices
superior dan inferior) dan membungkus jaringan episklera dan menjadi konjungtiva bulbaris.
Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbitale di fornices dan melipat berkali-kali.
Pelipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva
sekretorik. (Duktus-duktus kelenjar lakrimalis bermuara ke forniks temporal superior.) Kecuali di
limbus (tempat kapsul Tenon dan konjungtiva menyatu sejauh 3 mm), konjungtiva bulbaris
melekat longgar ke kapsul tenon dan sklera di bawahnya. Struktur epidermoid kecil semacam
daging (karunkula) menempel superfisial ke bagian dalam plika semilunaris dan merupakan zona
transisi yang mengandung elemen kulit dan membran mukosa.8
Konjungtiva forniks struktumya sama dengan konjungtiva palpebra. Tetapi hubungan
dengan jaringan di bawahnya lebih lemah dan membentuk lekukan-lekukan. Juga mengandung
banyak pembuluh darah. Oleh karena itu, pembengkakan pada tempat ini mudah terjadi bila
terdapat peradangan mata. Jika dilihat dari segi histologinya, lapisan epitel konjungtiva terdiri
dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder bertingkat, superfisial dan basal. Lapisan epitel
konjungtiva di dekat limbus, di atas karunkula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi
kelopak mata terdiri dari sel-sel epitel skuamosa. Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel
goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus. Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan
diperlukan untuk dispersi lapisan air mata secara merata di seluruh prekornea. Sel-sel epitel basal
berwarna lebih pekat daripada sel-sel superfisial dan di dekat limbus dapat mengandung
pigmen.8
Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisial)dan satu lapisan
fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan di beberapa tempat dapat
mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan adenoid tidak
berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa
konjungtivitis inklusi pada neonatus bersifat papiler bukan folikuler dan mengapa kemudian
menjadi folikuler. Lapisan fibrosa tersusun dari Jaringan penyambung yang melekat pada
lempeng tarsus. Hal ini menjelaskan gambaran reaksi papiler pada radang konjungtiva. Lapisan
fibrosa tersusun longgar pada bola mata. Kelenjar airmata asesori (kelenjar Krause dan
Wolfring), yang struktur dan funginya mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma.

Sebagian besar kelenjar Krause berada di forniks atas, dan sedikit ada di forniks bawah. Kelenjar
Wolfring terletak di tepi atas tarsus atas. 8
1.2.

Definisi
Keratokonjungtivitis adalah peradangan ("-itis") dari kornea dan konjungtiva. Ketika

hanya kornea yang meradang, hal itu disebut keratitis, ketika hanya konjungtiva yang meradang,
hal itu disebut konjungtivitis.1,8
1.3.

Etiologi
Konjungtivitis dapat diakibatkan oleh virus, bakteri, fungal, parasit, toksik, chlamydia,

kimia dan agen alergik. Konjungtivitis viral lebih sering terjadi daripada konjungtivitis bakterial.
Insidensi konjungtivitis meningkat pada awal musim semi. Etiologi konjungtivitis dapat
diketahui berdasarkan klinis pasien. Pada tingkat seluler terdapat infiltrat seluler dan eksudat
pada konjungtiva. Etiologi keratitis superfisial antara lain adalah infeksi (bakteri, viral, dan
fungal), degeneratif (dry eye, defek neurotropik atau berhubungan dengan penyakit sistemik),
toksik dan alergi. Morfologi dan distribusi lesi pada kornea dapat membantu mengetahui
penyebab keratitis. Ada beberapa penyebab potensial keratokonjungtivitis yaitu kekeringan,
infeksi virus, manifestasi dari atopi atau allergen maupun trauma mekanik.
1.4.

Klasifikasi
Keratokonjunctivitis sicca digunakan ketika peradangan karena kekeringan. ("Sicca"
berarti "kering" dalam konteks medis.) Hal ini terjadi dengan 20% pasien RA.

Istilah

" Vernal

keratokonjunctivitis "(VKC)

digunakan

untuk

merujuk

keratokonjungtivitis terjadi di musim semi, dan biasanya dianggap karena alergen.

Atopik keratokonjunctivitis adalah salah satu manifestasi dari atopi.

Epidemi keratokonjunctivitis disebabkan oleh adenovirus infeksi.

Keratokonjungtivitis limbus superior diduga disebabkan oleh trauma mekanik

1.5.

Patofisiologi
Konjungtivitis alergika disebabkan oleh respon imun tipe 1 terhadap alergen. Alergen

terikat dengan sel mast dan reaksi silang terhadap IgE terjadi, menyebabkan degranulasi dari sel
mast dan permulaan dari reaksi bertingkat dari peradangan. Hal ini menyebabkan pelepasan
histamin dari sel mast, juga mediator lain termasuk triptase, kimase, heparin, kondroitin sulfat,

prostaglandin, tromboksan, dan leukotrien. histamin dan bradikinin dengan segera menstimulasi
nosiseptor, menyebabkan rasa gatal, peningkatan permeabilitas vaskuler, vasodilatasi,
kemerahan, dan injeksi konjungtiva.2,5,8
Konjungtivitis infeksi timbul sebagai akibat penurunan daya imun penjamu dan
kontaminasi eksternal. Patogen yang infeksius dapat menginvasi dari tempat yang berdekatan
atau dari jalur aliran darah dan bereplikasi di dalam sel mukosa konjungtiva. Kedua infeksi
bakterial dan viral memulai reaksi bertingkat dari peradangan leukosit atau limfositik
meyebabkan penarikan sel darah merah atau putih ke area tersebut. Sel darah putih ini mencapai
permukaan konjungtiva dan berakumulasi di sana dengan berpindah secara mudahnya melewati
kapiler yang berdilatasi dan tinggi permeabilitas.2,3,5
Pertahanan tubuh primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel yang menutupi
konjungtiva. Rusaknya lapisan ini memudahkan untuk terjadinya infeksi. Pertahanan sekunder
adalah sistem imunologi (tear-film immunoglobulin dan lisozyme) yang merangsang lakrimasi.2
1.6.

Diagnosis
Gejala penting konjungtivitis adalah sensasi benda asing, yaitu tergores atau panas,

sensasi penuh di sekitar mata, gatal dan fotofobia. Sensasi benda asing dan tergores atau terbakar
sering berhubungan dengan edema dan hipertrofi papiler yang biasanya menyertai hiperemi
konjungtiva. Sakit pada iris atau corpus siliaris mengesankan terkenanya kornea. Tanda penting
konjungtivitis adalah hiperemia, berair mata, eksudasi, pseudoptosis, hipertrofi papiler, kemosis
(edem stroma konjungtiva), folikel (hipertrofi lapis limfoid stroma), pseudomembranosa dan
membran, granuloma, dan adenopati pre-aurikuler.8
Hiperemia adalah tanda paling mencolok pada konjungtivitis akut. Kemerahan paling
nyata pada forniks dan mengurang ke arah limbus disebabkan dilatasi pembuluh-pembuluh
konjungtiva posterior. Warna merah terang mengesankan konjungtivitis bakteri dan keputihan
mirip susu mengesankan konjungtivitis alergika. Berair mata (epiphora) sering mencolok,
diakibatkan oleh adanya sensasi benda asing, terbakar atau gatal. Kurangnya sekresi airmata
yang abnormal mengesankan keratokonjungtivitis sicca. Eksudasi adalah ciri semua jenis
konjungtivitis akut. Eksudat berlapis-lapis dan amorf pada konjungtivitis bakterial dan dapat pula
berserabut seperti pada konjungtivitis alergika, yang biasanya menyebabkan tahi mata dan saling
melengketnya palpebra saat bangun tidur pagi hari, dan jika eksudat berlebihan agaknya
disebabkan oleh bakteri atau klamidia. Pseudoptosis adalah turunnya palpebra superior karena

infiltrasi ke muskulus muller (M. Tarsalis superior). Keadaan ini dijumpai pada konjungtivitis
berat. Misalnya Trachoma dan keratokonjungtivitis epidemika.8
Hipertrofi papila adalah reaksi konjungtiva non-spesifik yang terjadi karena konjungtiva
terikat pada tarsus atau limbus di bawahnya oleh serabut-serabut halus. Ketika berkas pembuluh
yang membentuk substansi papila (selain unsur sel dan eksudat) sampai di membran basal epitel,
pembuluh ini bercabang-cabang di atas papila mirip jeruji payung. Eksudat radang mengumpul
di antara serabut-serabut dan membentuk tonjolan-tonjolan konjungtiva. Pada penyakit yang
mengalami nekrosis (mis.,trachoma), eksudat dapat digantikan oleh jaringan granulasi atau
jaringan ikat.8
Bila papilanya kecil, konjungtiva umumnya tampak licin mirip beludru. Konjungtiva
papiler merah mengesankan penyakit bakteri atau klamidia (mis.,konjungtiva tarsal merah mirip
beludru adalah khas untuk trachoma akut). Infiltrasi nyata ke konjungtiva menghasilkan papilla
besar dengan atap rata, poligonal, dan berwarna merah-keputihan. Pada tarsus superior papilla
seperti ini mengesankan keratokonjungtivitis vernal dan konjungtivitis papiler besar dengan
sensitivitas lensa kontak; pada tarsus inferior, mengesankan keratokonjungtivitis atopik. Papila
besar dapat pula timbul di limbus, terutama di daerah yang biasanya terpapar saat mata dibuka
(antara pukul 2 dan 4 dan antara pukul 8 dan 10). Di sini papila tampak berupa tonjolan-tonjolan
gelatinosa yang dapat meluas sampai ke kornea. Papila limbus khas untuk keratokonjungtivitis
vernal tetapi jarang pada keratokonjungtivitis atopi.8
Kemosis dari konjungtiva sangat memberi kesan konjungtivitis alergik akut tapi dapat
juga timbul pada konjungtivitis gonococcal atau meningococcal akut dan terutama pada
konjungtivitis adenoviral. Kemosis dari konjungtiva bulbar terlihat pada pasien dengan
trichinosis. Kadang-kadang, kemosis dapat muncul sebelum infiltrat seluler atau eksudasi
terlihat.8
Folikel terlihat pada kebanyakan kasus konjungtivitis virus. Pada semua kasus
konjungtivitis klamidia kecuali konjungtivitis inklusi pada neonatus, pada beberapa kasus
konjungtivitis parasitik, dan pada beberapa kasus konjungtivitis toksik yang disebabkan obatobatan topikal seperti idoxuridine, dipivefrin, dan miotic. Foikel pada forniks inferior dan pada
batas tarsus mempunyai nilai diagnostik yang rendah, tapi saat terletak pada tarsus (terutama
tarsus atas), konjungtivitis klamidial, viral, atau toksik (yang menyertai obat-obatan topikal)
harus dicurigai. Folikel terdiri dari hiperplasia limfoid fokal berada dalam lapisan limfoid
konjungtiva dan biasanya mengandung sentrum germinativum. Secara klinis, folikel dapat

dikenali sebagai struktur bulat, putih atau abu-abu avaskuler. Dengan pemeriksaan slitlamp,
pembuluh darah kecil dapat terlihat timbul dari batas folikel dan mengelilingi folikel.8
Pseudomembran dan membran adalah hasil proses eksudatif dan berbeda derajatnya.
Sebuah pseudomembran adalah pengentalan di atas permukaan epitel. Bila diangkat, epitel tetap
utuh. Sebuah membran adalah pengentalan yang meliputi seluruh epitel dan jika diangkat akan
meninggalkan permukaan yang kasar dan berdarah. Pseudomembran atau membran dapat
menyertai keratokonjungtivitis epidemika, konjungtivitis herpes simplex virus primer,
konjungtivitis streptokokal, difteri, cicatrical pemphigoid, dan eritema multiforme mayor. Juga
mungkin timbul sebagai akibat buruk luka bakar kimiawi, khususnya basa.8
Granuloma konjungtiva selalu mengenai stroma dan yang paling sering adalah chalazia.
Penyebab endogen lain termasuk sarcoid, sifilis, cat-scratch disease, dan, yang jarang
koksidiomikosis. Parinauds oculoglandular syndrome meliputi granuloma konjungtival dan
nodus limfe periaurikuler yang menonjol, dan kelompok penyakit ini memerlukan pemeriksaan
biopsy untuk menegakkan diagnosa.8
Limfadenopati periaurikuler adalah tanda penting dari konjungtivitis. Nodus periaurikuler
yang terlihat mencolok tampak pada Parinauds oculoglandular syndrome dan, yang jarang, pada
epidemic keratoconjunctivitis. Nodus periaurikuler yang besar maupun kecil, kadang sedikit
nyeri tekan, muncul pada konjungtivitis herpes simplex primer, keratokonjungtivitis epidemika,
konjungtivitis inklusi, dan trachoma. Nodus periaurikuler yang kecil dan tidak nyeri tekan
muncul pada demam faringokonjungtival dan konjungtivitis hemoragik akut. Kadang-kadang
limfadenopati periaurikuler dapat terlihat pada anak dengan infeksi kelenjar meibomian.8
Pemeriksaan mata awal termasuk pengukuran ketajaman visus, pemeriksaan eksternal
dan slit-lamp biomikroskopi. Pemeriksaan eksternal harus mencakup elemen berikut ini:8
Limfadenopati regional, terutama sekali preaurikuler
Kulit: tanda-tanda rosacea, eksema, seborrhea
Kelainan kelopak mata dan adneksa: pembengkakan, perubahan warna, malposisi,

kelemahan, ulserasi, nodul, ekimosis, keganasan


Konjungtiva: bentuk injeksi, perdarahan subkonjungtiva, kemosis, perubahan sikatrikal,
simblepharon, massa, secret

Slit-lamp biomikroskopi harus mencakup pemeriksaan yang hati-hati terhadap:

Margo palpebra: inflamasi, ulserasi, sekret, nodul atau vesikel, sisa kulit berwarna darah,

keratinisasi
Bulu mata: kerontokan bulu mata, kerak kulit, ketombe, telur kutu
Punctum lacrimal dan canaliculi: penonjolan, secret

Konjungtiva tarsal dan forniks: Adanya papila, folikel dan ukurannya; perubahan sikatrikal,
termasuk penonjolan ke dalam dan simblepharon; membran dan psudomembran, ulserasi,

perdarahan, benda asing, massa, kelemahan palpebra


Konjungtiva bulbar/limbus: folikel, edema, nodul, kemosis, kelemahan, papila, ulserasi,

luka, flikten, perdarahan, benda asing, keratinisasi


Kornea: Defek epithelial, keratopati punctata dan keratitis dendritik, filament, ulserasi,

infiltrasi, termasuk infiltrat subepitelial dan flikten, vaskularisasi, keratik presipitat


Bilik mata depan: rekasi inflamasi, sinekia, defek transiluminasi
Corak pewarnaan: konjungtiva dan kornea

Gambar 3. Keratokonjungtivitis epidemika

Gambar 4. Keratokonjungtivitis alergi

Gambar 5. Keratokonjungtivitis limbus superior

Gambar 6. Keratokonjungtivitis vernalis

1.7.

Diagnosis Banding

Gejala subyektif
dan obyektif
PenurunanVisus
Nyeri
Fotofobia
Halo
Eksudat
Gatal
Demam
Injeksi siliar
Injeksi konjungtiva
Kekeruhan kornea
Kelainan pupil
Kedalaman COA
Tekanan
intraokular
Sekret
Kelenjar
preaurikular

1.8.

Glaukoma
akut
+++
++/+++
+
++
+
++
+++
Midriasis
nonrekatif
Dangkal
Tinggi
-

Uveitis
akut
+/++
++
+++
++
++
Miosis
iregular
N
Rendah
+
-

Keratitis

K Bakteri

K. virus

K. alergi

+++
++
+++
-/++
+++
++
+/++
Normal/
miosis
N
N

+++
+++
N

++
-/++
++
-/+
N

+
++
+
N

N
N

N
N

N
N

+
-

++/+++
-

++
+

+
-

Komplikasi
Kebanyakan konjungtivitis dapat sembuh sendiri, namun apabila konjungtivitis tidak

memperoleh penanganan yang adekuat maka dapat menyebabkan komplikasi:1


a. Blefaritis marginal hingga krusta akibat konjungtivitis akibat staphilococcus
b. Jaringan parut pada konjungtiva akibat konjungtivitis chlamidia pada orang dewasa yang
tidak diobati adekuat
c. Keratitis punctata akibat konjungtivitis viral

d. Keratokonus (perubahan bentuk kornea berupa penipisan kornea sehingga bentuknya


menyerupai kerucut) akibat konjungtivitis alergi.
e. Ulserasi kornea marginal, perforasi kornea hingga endoftalmitis dapat terjadi pada infeksi
N. gonorrhoeae, N. kochii, N. meningitidis, H. aegypticus, S. aureus dan M. catarrhalis.
f. Pneumonia terjadi 10-20 % pada bayi yang mengalami konjungtivitis chlamydia
g. Meningitis dan septikemia akibat konjungtivitis yang diakibatkan meningococcus.
1.9.
Penatalaksanaan
Masing-masing

jenis

konjungtiva

memberikan

gejala

klinis

yang

berbeda.

Penatalaksanaan keratokonjungtivitis tergantung pada berat ringannya gejala klinik. Pada kasus
ringan sampai sedang, cukup diberikan obat tetes mata tergantung jenis penyebabnya seperti
pada KKV dapat diberikan anti histamin topikal dan dapat ditambahkan vasokontriktor,
kemudian dilanjutkan dengan stabilasator sel mast. Pada kasus yang berat dapat dikombinasi
dalam pengobatannya ataupun dilakukan pembedahan.1,8
Pada konjungtivitis virus yang merupakan self limiting disease penanganan yang
diberikan bersifat simtomatik serta dapat pula diberikan antibiotic tetes mata (chloramfenikol)
untuk mencegah infeksi bakteri sekunder. Steroid tetes mata dapat diberikan jika terdapat lesi
epithelial kornea, namun pemberian steroid hanya berdasarkan pengawasan dokter spesialis mata
karena bahaya efek sampingnya cukup besar bila digunakan berkepanjangan, antara lain infeksi
fungal sekunder, katarak maupun glaucoma.9,10
Penanganan primer keratokonjungtivitis epidemika ialah dengan kompres dingin dan
menggunakan tetes mata astrigen. Agen antivirus tidak efektif. Antibiotic topical bermanfaat
untuk mencegah infeksi sekunder. Steroid topical 3 kali sehari akan menghambat terjadinya
infiltrate kornea subepitel atau jika terdapat kekeruhan pada kornea yang mengakibatkan
penurunan visus yang berat, namun pemakaian berkepanjangan akan mengakibatkan sakit mata
yang berkelanjutan. Pemakaian steroid harus di tapering off setelah pemakaian lebih dari 1
minggu.1,11,12
Penanganan konjungtivitis bakteri ialah dengan antibiotika topical tetes mata (misalnya
kloramfenikol) yang harus diberikan setiap 2 jam dalam 24 jam pertama untuk mempercepat
proses penyembuhan, kemudian dikurangi menjadi setiap empat jam pada hari berikutnya.
Penggunaan salep mata pada malam hari akan mengurangi kekakuan pada kelopak mata di pagi
hari. Antibiotik lainnya yang dapat dipilih untuk gram negative ialah tobramisin, gentamisin dan
polimiksin; sedangkan untuk gram positif icefazolin, vancomysin dan basitrasin.10

Penanganan infeksi jamur ialah dengan natamisin 5 % setiap 1-2 jam saat bangun, atau
dapat pula diberikan pilihan antijamur lainnya yaitu mikonazol, amfoterisin, nistatin dan lainlain.1
1.10.

Prognosis
Prognosis pada kasus keratokonjungtivitis tergantung pada berat ringannya gejala klinis

yang dirasakan pasien, namun umumnya baik terutama pada kasus yang tidak terjadi parut atau
vaskularisasi pada kornea.8

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas DSM, Sidarta,. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta. 2006.
2. American Academy of Ophthalmology. Preferred practice pattern: conjunctivitis, 2nd ed. San
Francisco, CA: American Academy of Ophthalmology; 2003.
3. Stenson S, Newman R, Fedukowicz H. Laboratories studies in acute conjunctivitis. Arch
Opthalmology. 1982; 100: 1275-1277.
4. Weiss A, Brinser J, Nasae-Stewart V. Acute conjunctivitis in childhood. J Pediatr Med. 1993;
122:10-14.
5. Gigliotti F, Williams WT, Hayden FG. Etiology of acute conjunctivitis in children. J. Pediatr.
1981;98: 531-536.
6. Fitch CP, Rapoza PA, Owens S. Epidemiology and diagnosis of acute conjunctivitis at an
inner-city hospital. Opthalmology. 1989;96:1215-1220.
7. Sambursky RP, Fram N, Cohen Ej. The prevalence of adenoviral conjunctivitis at the Wills
Eye Hospital emergency room. Optometry. 2007;78:236-914.
8. Vaughan, Daniel G. dkk. Oftalmologi Umum. Widya Medika. Jakarta. 2000.
9. Scott IU and Luu K. Conjunctivitis, viral.
http://www.emedicine.medscape.com/article/1197851. [Online] Emedicine, April 2012.
10. Khaw PT, Shah Pand Elkington AR. ABC of Eyes. Fourth edition. BMJ Publishing Group,
2004.
11. Bawazeer A and Hodge WG. Keratoconjunctivitis Epidemic.
http://emedicine.medscape.com/article/1192751-print. [Online] Emedicine. January 7, 2008.
12. Yanoff, Myron, Duker JS and Augsburger JJ. Opthalmology 2nd edition: Mosby, 2003.