Anda di halaman 1dari 28

PELIPUTAN MEDIA TELEVISI DALAM PENCITRAAN PARTAI POLITIK MENJELANG PEMILIHAN UMUM

2014
October 31, 2013 | | Lecturers Journals | 0
PELIPUTAN MEDIA TELEVISI DALAM PENCITRAAN PARTAI POLITIK MENJELANG PEMILIHAN UMU
M 2014
(Rahmat Edi Irawan, Yusa Djuyandi, dan Marta Sanjaya)
Universitas Bina Nusantara

ABSTRAK

Pengaruh media dalam kehidupan politik sangat besar, media mempunyai kemampuan
untuk mempengaruhi opini publik dan perilaku masyarakat, karenanya keberadaa
n media massa bagi partai politik menjadi sesuatu yang sangat strategis
dan teramat penting. Sebagai media yang paling banyak dikonsumsi di In
donesia, televisi punya pengaruh paling besar terhadap masyarakat, termasuk
membentuk opini masyarakat terhadap partai politik. Dalam melakukan penel
itian ini, peneliti menggunakan teori agenda setting dan analisis frame. Sedang
kan metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, melalui penggunaa
n data primer (observasi dan wawancara) serta data sekunder (media dan dokumen-d
okumen). Hasil penelitian menunjukkan bahwa partai politik menyadari bahwa telev
isi masih menjadi media yang paling efektif di dalam proses penyampaian pe
san politik, termasuk di dalam melakukan pencitraan. Cara yang digu
nakan partai dalam melakukan pencitraan selain dengan kerjasama dan kreatif
itas, adalah juga dengan mengatur dan memaksa agenda setting pemberitaan stasiun
televisi. Salah satu yang kini menjadi sorotan dan diperkirakan akan menjadi ma
salah dalam demokrasi di Indonesia, adalah masalah penguasaan kepemilikan beb
erapa stasiun televisi nasional oleh elite partai politik. Kesimpulan peneli
tian ini adalah Televisi masih dianggap sebagai media massa yang paling efektif
dalam menyampaikan pesan, tidak terkecuali pesan politik yang selalu disampaik
an oleh partai politik. Akan tetapi masalah kepemilikan beberapa stasiun tele
visi oleh unsur pimpinan partai politik yang akan bertanding di pemilu m
endatang, menjadi permasalahan tersendiri dalam pesta demokrasi tahun 2014 na
nti.

Kata Kunci: Media Televisi, Partai Politik, dan Pectiraan.

PENDAHULUAN

Sikap masyarakat terhadap partai politik saat ini khususnya terhadap kemunculan

partai politik baru tidak semeriah pada saat arus reformasi baru dibuk
a, bahkan banyak kritik keras dan serius yang kemudian muncul terhadap partai p
olitik karena dianggap banyak memberikan permasalahan ketimbang solusi unt
uk memecahkan persoalan bangsa. Partai politik terkadang bertindak dengan lantan
g untuk dan atas nama kepentingan rakyat, tetapi dalam kenyataannya di lapan
gan justru berjuang untuk kepentingan kelompoknya sendiri.

Mengelola persoalan berupa kepercayaan masyarakat bukan tugas yang sederhana dan
mudah. Mempublikasikan dan mensosialisasikan nilai-nilai serta citra partai
membutuhkan penanganan yang khusus mengingat bahwa parpol memiliki dinamika ya
ng tidak mudah diduga. Oleh sebab itulah, keberadaan media massa bagi
partai politik menjadi sesuatu yang sangat strategis dan teramat penting.
Kebutuhan akan eksistensi media dalam mempertahankan dan menjaga kesinambunga
n hubungan yang saling menguntungkan antara parpol dan masyarakat sangat rele
van dengan kepentingan parpol agar memperoleh dukungan masyarakat secara lebih b
erkelanjutan.
Pengaruh media dalam kehidupan politik sangatlah besar, media mempunyai kema
mpuan yang cukup besar untuk mempengaruhi opini publik dan perilaku masyarakat.
Cakupan yang luas dalam masyarakat membuat media massa dianggap sebagai
salah satu cara yang efektif dalam pembentukan image partai. Sebuah informasi ya
ng dihasilkan oleh media massa, khususnya yang berkaitan dengan sebuah parpol
, setidaknya mempunyai fungsi untuk membentuk citra partai politik kepada kh
alayak.
Dalam karya klasiknya Walter Lippmann menyebutkan bahwa berita media mer
upakan sumber utama yang membentuk alam pikir kita terhadap persoalan-persoalan
publik yang lebih luas yang berada di luar jangkauan, pandangan dan pikiran keb
anyakan warga negara biasa. Apa yang kita ketahui tentang dunia itulah apa yang
media sampaikan kepada kita.1 Bahkan, apa yang menjadi agenda utama media secar
a sangat kuat mempengaruhi agenda utama publik. Ringkasnya, apa yang dianggap pe
nting oleh media menjadi penting pula
bagi publik.2

Dalam beberapa tahun ini pandangan masyarakat terhadap partai poltik menunjukkan
adanya penurunan kepercayaan yang signifikan, seperti halnya yang menim
pa partai demokrat, dimana pemberitaan di media terkait kader Partai Dem
okrat yang disebut-sebut dalam sejumlah kasus dugaan korupsi mengakibatkan popul
aritas partai ini semakin terjun bebas.3
Urgensi

atau

keutamaan

dalam

penelitian

ini adalah

terletak

pada

peranan
dengan

media
tetap

televisi

dalam

mencitrakan

partai

politik

1 W alter Lippmann, Public opinion. New York: Macmillan, 1922, h.29.


2 Lihat lebih dalam pembahasan tentang ini dalam tulisan Maxwell McCombs, the A
genda-Setting of the Mass
Media in the Shaping of Public Opinion. tt.
3 http://www.sindonews.com/read/2012/01/24/435/562620/demokrat-gerah-jadi-pembic
araan-di-publik

berlandaskan kepada fungsi media massa yaitu bagaimana media televisi memberikan
informasi kepada khalayak tentang aktvitas partai politik dalam menjalankan p
eranannya sebagai organisasi yang mewadahi kepentingan rakyat. Sebaga
i media yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia, maka televisi punya
pengaruh paling besar dalam memberikan informasi kepada khalayak atau
masyarakatnya. Selain itu, sebagai media audio visual, televisi punya kek
uatan yang sangat besar dalam mempengaruhi penontonnya, terutama dalam menyampa
ikan pesannya kepada khalayak. Maka tidak heran, televisi banyak dilirik
banyak pihak yang ingin produknya dikenal atau meningkatkan citra produknya di k
alangan masyarakat.
Kondisi yang sama juga terjadi di kalangan partai politik yang merasa pe
rlu memperbaiki citranya untuk meningkatkan daya jual partai politik tersebut di
kalangan masyarakat. Apalagi menjelang pemilu 2014, semua parpol tentu
berupaya untuk meraih pemilih sebanyak mungkin. Upaya tersebut tentu jug
a harus didukung pencitraan partai politik tersebut di benak masyarakat.
Selain kerja politik selama lima tahun terakhir, menjelang pemilu nanti
, parpol juga merasa perlu untuk meingkatkan citranya di kalangan masyarakat m
elalui media. Dan pasti, media televisi yang paling banyak dikonsumsi masyarak
at, menjadi pilihan yang paling banyak dipilih. Dengan bantuan pencitraan di t
elevisi, maka partai politik berupaya meningkatkan citra baiknya di kalan
gan masyarakat, sehingga menjadi pilihan utama masyarakat di pemilu mendatang.
Meski demikian, pencitraan partai politik melalui iklan televisi juga bukan hal
yang murah. Sebagai gambaran, pertama diungkapkan peneliti Istiyani Pra
tiwi, uang yang paling banyak digelontorkan partai politik dan para ca
lon adalah untuk beriklan di televisi. Sebagai gambaran, di tahun 2009 harga ikl
an di televisi swasta nasional yang ditayangkan pada jam-jam prime time di progr

am unggulan, tarifnya antara Rp 6 juta


Rp 10 juta. Ini hanya untuk satu kali tay
ang durasi 30 detik. Ya, cuma 30 detik. Jika tayangan satu menit, berarti mencap
ai 12 juta 20 juta rupiah.
Lebih lanjut, jika rata-rata biaya beriklan secara masif di sebuah stasiun TV pe
r harinya adalah Rp 500 juta, maka per bulan adalah Rp 15 milyar. Bisa dibayangk
an berapa biaya yang harus dikeluarkan seorang figur yang wajahnya selalu ada di
jam-jam prime time, yang dalam sehari bisa muncul 5 sampai 10 kali. Sekjen P3
I (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia) Irfan Ramli

menyampaikan, pada Pemilu 2004, belanja iklan parpol secara total (saat
itu diikuti 24 parpol) on gross menyentuh angka Rp 3 triliun.
Berdasarkan jumlah erputaran uang pada pemilu 2009 secara total bisa mencapai le
bih dari Rp 5 triliun, karena jumlah parpol lebih banyak. Hingga akhir
2008, Nielsen Company Indonesia mencatat belanja iklan politik dan pemerintah me
ncapai Rp 2,2 triliun atau naik 66 %. Sedangkan pada 2007 hanya mencapai Rp 1,3
triliun. Belanja iklan politik dan pemerintah mendominasi koran dan tel
evisi. Tapi, belanja paling besar ada di koran, yang mencapai Rp 1,3 triliun a
tau meningkat 73 persen dibanding tahun 2007 yang sebanyak Rp 758 miliar. Sedang
kan iklan televisi hanya Rp 862 miliar atau meningkat 58 persen dari be
lanja 2007 yang sebanyak Rp 545 miliar. Biaya ratusan milyar rupiah tersebut hab
is hanya dalam beberapa bulan saja. Jadi bisa dibayangkan dalam satu t
ahun berapa biaya yang dikeluarkan oleh seorang calon pemimpin di negeri ini. Bi
aya yang dikeluarkan oleh lima orang calon saja, bisa mencapai satu trilyun
rupiah.

Semakin mendekati momentum pemilu legislatif, Pilkada atau Pilpres, semakin bany
ak partai politik dan calon kepala daerah, caleg dan capres menggelontorkan dan
a mereka untuk membuat iklan politik. Data yang didapatkan Istiyani, menje
lang Pemilu 2009, Partai Golkar menempati posisi teratas dengan belanja ik
lan Rp 185,2 miliar, dengan sekitar 15 ribu spot iklan. Lalu, Partai Demokrat Rp
123 miliar dalam 11 ribu spot, dan Partai Gerindra Rp
66,7 miliar lewat 4 ribu spot iklan.

Tentu saja melihat mahalnya pembelian iklan tersebut, maka partai politik kita j
uga mencoba cara lain, dengan menghadirkan dirinya di tengah televisi,
yaitu melalui sebuah berita. Untuk itu, secara kreatif mereka membuat atau menga
ngkat issu-issu yang strategis, supaya selalu ada dalam pemberitaan. Memang car

a tersebut, tidak menjamin bahwa mereka akan terus ada di tayangan tele
visi, disbanding dengan iklan yang pasti tayang, selama tetap membayar. Pencitra
an partai politik lewat pemberitaan televisi juga dianggap sebagai langkah yang
lebih cerdas, terutama untuk menggaet pemilih-pemilih di perkotaan yang relative
lebih berpendidikan.
Namun cara lain yang terbilang lebih superior adalah penguasaan media sendiri ol
eh politisi atau partai politik tertentu. Kondisi ini sebenarnya bukan hal yang
baru dalam kancah perpolitikan di Indonesia, namun akan lebih terliha
t

dengan dimilikinya beberapa stasiun televisi nasional oleh beberapa konglomerat


yang juga adalah tokoh politik atau ketua umum partai politik tertentu. Dengan p
enguasaan media yang seperti itu, maka dijamin aktifitas yang dilakukan partai p
olitik akan cukup terekspose di stasiun televisi yang dikuasainya.
Untuk melihat itu semua, maka perlu sebuah adanya pengkajian meng
enai bagaimana peranan media televisi dalam pencitraan partai politik berdasarka
n telaah normatif atas peranan media televisi. Dengan demikian, akan terlihat ba
gaimana televisi memegang peran yang cukup kuat bagi parpol untuk mencapai tujua
nnya dalam pemilu 2014 mendatang. Penelitian ini pada intinya adalah melihat bag
aimana strategi yang dilakukan partai politik untuk melakukan pencitraan melalu
i media televisi menjelang pemilu tahun 2014 mendatang.

TINJAUAN PUSTAKA

1.

Penelitian Sebelumnya

Penelitian tentang penggunaan media televisi untuk pencitraan politik bukanlah s


esuatu yang baru. Tingginya konsumsi penggunaan televisi dibanding media massa l
ainnya, membuat masalah penggunaan televisi untuk memperbaiki citra politik menj
adi sebuah kajian yang menarik untuk terus diamati. Di Amerika Serikat misalnya,
studi tentang kemenangan Presiden John F. Kennedy atas lawannya Richard Nixon
di tahun 1960, selalu dikaitkan dengan keberhasilan sang presiden mempop
ulerkan dirinya melalui televisi. Dalam bukunya Media Impact , yang terbit pa
da tahun 2010, pakar komunikasi Shirley Biagi, menyatakan bahwa ber
ita-berita di televisi dan penampilan Kennedy pada saat debat kampanye berla
ngsung melalui televisi, telah membuat jutaan rakyat Amerika Serikat be

rbondong-bondong datang ke tempat pemungutan suara untuk memberikan piliha


n mereka pada Kennedy.
Saat ini, hampir tidak ada, pencitraan partai politik atau tokoh politik yang ak
an mengikuti sebuah pemilihan jabatan politik yang tidak menggunakan media telev
isi. Karenanya, makin banyak kajian-kajian yang berkaitan dengan hal t
ersebut dilakukan banyak pakar komunikasi politik. Werner J Severin dan James W.
Tankard Jr dalam bukunya Teori Komunikasi, Sejarah, Metode dan Terapan di Dala
m Media Massa, yang terbit pada tahun 2008, menyatakan bahwa dampak da
n manfaat media massa sudah sangat menjadi perhatian yang luas di kalangan pene
liti media massa. Tidak heran banyak teori-teori yang lahir dari

pemanfaatan media massa, terutama televisi untuk pencitraan partai poli


tik maupun tokoh politik, seperti teori agenda setting, yang sudah dike
nal luas hingga saat ini.
Di Indonesia, riset tentang pemanfaat media televisi untuk pencitraan

partai politik atau tokoh politik juga sudah menjadi kajian riset tersendiri. Me
ski hanya menyorot makna interaksi politik yang khas diperlihatkan anggota DPR,
penelitian Lely Arriane yang akhirnya dibukukan dengan judul Komunikasi P
olitik, Politisi dan Pencitraan di Panggung Politik yang terbit pada tahun 2010,
juga mengangkat bagaimana keterlibatan televisi amat diperhitungkan pa
ra politisi untuk meningkatkan citra politiknya. Dalam buku yang diambil dari di
sertasinya ini, Lely menyorot bahwa akan sangat berbeda penampilan seorang polit
isi, ketika ada kamera dengan pada saat tidak ada kamera televisi. Hal itu jelas
menunjukkan bahwa, kehadiran media televisi amat diperhitungkan untuk meningkat
kan citra politisi tersebut.
Masih dalam kajian yang sama, Adman Nursal, secara tajam melihat pencitraan dala
m sebuah langkah politik sudah menjadi kewajiban bagi seorang yang ingin terjun
dalam jabatan politik publik. Dalam penelitian yang juga telah dibukukan dengan
judul Political Marketing
pada tahun 2004, Adman Nursal melihat bahwa peng
gunaan media televisi sudah amat luas dan harus diperhitungkan oleh para po
litisi untuk meraih dukungan dari masyarakat. Bahkan Nursal, secara spesif
ik, melihat perlunya strategi yang tepat dalam penggunaan media telavisi, seh
ingga punya dampak positif yang kuat untuk dapat sukses dalam sebuah pemil
ihan jabatan politik publik tertentu tersebut.
Secara umum, hasil penelitian tentang media dan pemilu baik pada tahun

2004 maupun 2009 juga telah dibukukan dengan judul Media dan Pemilu 2004

dan

Media

dan Pemilu 2009


memuat banyak penelitian tentang penggunaan media pada masa pe
milihan umum tersebut. Beberapa penelitiannya juga menyangkut bagaimana media te
levisi mengangkat citra konstestan pemilu, baik partai politik maupun para polit
isi. Buku yang ditulis oleh Lukas Luwarso dkk ini banyak menyorot secara kriti
s, bagaimana media berperan dalam mengangkat citra partai politik atau politisi
pada pemilu di era reformasi tersebut. Kajian kritis ini bahkan telah membuka b
ahwa, selain punya dampak positif, banyak dampak negatif akibat penggunaan media
, terutama televisi yang amat massif dalam pencitraan partai politik atau politi
si tersebut.

Penggunaan media massa, terutama televisi bagia kegiatan politik tetap akan me
njadi kajian yang menarik, karena di masa mendatang, akan makin banyak
aktifitas tersebut dilakukan. Meski sekarang mulai berkembang aktifitas sosial
media, namun penggunaan televisi, baik tidak berbayar maupun televisi berbayar,
akan tetap menjadi media utama kunci sukses seseorang dalam sebuah pem
ilihan
politik. Seperti yang dikatakan pakar komunikasi politik, Jalla
ludin Rahmat dalam pengantar buku Dan Nimmo, Komunikasi Politik yang terbitt pada
tahun 2004, menyatakan bahwa pesan politik melalui media massa, terutama televis
i, akan berperan penting dalam pembahasan kajian pencitraan politik, baik di Ind
onesia maupun di dunia.

2.

Kerangka Teoritis

Teori utama yang digunakan dalam penelitian ini, terutama yang menyangkut isi p
emberitaan adalah teori agenda setting yang dikemukakan oleh Maxwell E. Combs
dan Donald Shaw pada tahun 1972. Menurut keduanya, dalam agenda settin
g akan terlihat bahwa dalam memilh dan menampilkan berita, editor, st
af dan penyiar memainkan peranan yang peting dalam membentuk reali
tas politik. Pembaca sebenarnya tidak hanya disodorkan tentang sebuah issu terte
ntu, tetapi pembaca juga diikat dalam issu-issu tersebut sesuai dengan yang diin
ginkan oleh media. Media massa menentukan issu mana yang penting, media menga
tur agenda dan berita yang akan diberikan kepada pembaca atau penonton
nya. (Stanley J. Baran dan Dennis K Davies; 2010, hal
354-355)

Jika dikaitkan dengan penelitian ini, maka jelas bahwa pencitraan partai politik
yang dilakukan melalui pemberitaan yang ada di media televisi

, merupakan langkah strategis untuk bisa menjadikan partai politik yang


bersangkutan masuk dalam issu-issu strategis seperti yang diberitakan ol
eh media. Artinya, semakin banyak ditampilkan berita-berita bagus tentang
suatu partai politik akan semakin dekat partai-partai politik te
rsebut pada para pemilihanya. Permasalahannya adalah tinggal bagaimana mengem
as issu atau aktifitas partai politik hingga dibicarakan atau menjadi agenda set
ting dari media massa. Hal tersebut menjadi lebih mudah, jika partai politik ter
sebut punya akses kepemilikan pada media massa, termasuk stasiun televisi nasion
al.

Teori lainnya yang juga digunakan dalam penelitian, ini terutama menyangkut ik
lan adalah teori analisis frame yang dikemukakan oleh Erving Goffman pada tahun
1974. Goffman menganggap iklan sebagai hyperritualized representation dari tin
dakan sosial. Hal itu terjadi karena menurutnya, iklan hanya menampilkan
bagian-bagian tertentu saja yang sudah diedit hingga hanya menampilkan tindakan
yang paling bermakna saja. Teori dari Goffman ini akan memberikan sebuah cara
yang menarik dalam mengukur bagaimana media massa secara detail akan m
endorong dan menguatkan budaya publik yang dominan. (Stanley J. Baran dan D
ennis K. Davis, 2010, halaman 394-395)
Jika dikaitkan dengan penelitian ini maka akan terlihat bahwa melalui i
klan politik yang ditayangkan di stasiun televisi nasional akan mendorong atau m
enggiring opini publik seperti apa yang partai diinginkan partai politik yang me
mbuat atau menanyangkan iklan politik tersebut. Bagi partai politik yan
g punya modal besar atau punya akses terhadap kepemilikan stasiun televisi, tent
u punya kesempatan yang lebih besar untuk menggiring opini atau sikap penonton t
erhadap citra partai politik mereka. Bukan tidak mungkin, juga secara signifikan
akan meningkatkan popularitas atau elektabilitas partai politik tersebut.
Sementara teori lainnya yang juga digunakan dalam penelitian ini adalah teori pe
ncitraan politik yang dikemukakan oleh Dan Nimmo pada tahun 2004. Dan meny
atakan bahwa pencitraan politik itu seperti kapstok, yang sebenarnya bukan menya
jikan realitas politik yang sebenarnya. Menurut Dan, realitas politik bukanlah
seseuatu yang kita alami sekarang, karena apa yang kita alami sekarang
sudah melalui kegiatan simbolik yang disampaikan melalui kegiatan simbolik. Apal
agi, jika dikaitkan dengan media massa, maka kegiatan simbolik tersebut adalah
sebenanya hanya merupakan aktifitas yang tertangkap dan diangkat oleh med
ia massa saja. (Dan Nimmo, 2004, halaman 114-115)
Jika dikaitkan dengan penelitian ini maka akan terlihat bahwa media mas
sa televisi adalah media yang amat tepat untuk melakukan pencitraan politik sepe
rti yang dilakukan partai-partai politik menjelang pemilu tahun 2014 mendatang
. Melalui isi pemberitaan dan melalui iklan yang ditayangkan stasiun televisi na
sional, yang sebagian dimiliki oleh partai politik tersebut juga, mereka dapat m
enampilkan sebuah realitas politik yang kemungkinan bukan sebenarnya, yang merup
akan langkah awal mereka untuk melakukan pencitraan partai politik

mereka, untuk
014 mendatang.

meningkatkan

elektabilitasnya

dalam

pemilu

tahun

METODE PENELITIAN

Berdasarkan karakteristik penelitian yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan p


enelitian tentang deskripsi perananan media massa, khususnya televisi, dal
am pencitraan partai politik pada tahapan awal Pemilu 2014 melalui teknik observ
asi dan wawancara mendalam maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kua
litatif.

1.

Sumber Data

Sumber data ini terbagi menjadi dua jenis sumber data yaitu sumber data primer
dan sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung
melalui observasi di lapangan dan wawancara dengan informan. Data sekunder yan
g dijaring adalah melalui studi dokumentasi, yaitu data yang diperoleh
melalui dokumentasi yang relevan dengan penelitian ini.
Sebagai tuntutan penelitian kualitatif, data primer dikumpulkan melalui observas
i berdasarkan kegiatan-kegiatan dan peristiwa di lapangan. Bersamaan dengan obs
ervasi, data primer dilengkapi dengan hasil wawancara mendalam dengan informan
yang dipilih berdasarkan posisi atau status sosialnya yang relevan denga
n masalah yang diteliti.
Melalui informan, diharapkan dapat diperoleh informasi kualitatif dengan deskrip
si yang penuh arti. Pertimbangan pemilihan informan ini juga didasarkan pada
subjek dan objek penelitian yang benar-benar menguasai masalah, mem
iliki data yang lengkap dan akurat serta bersedia memberikan data dengan jujur d
an objektif. Informan yang dipilih dalam penellitian ini adalah beberapa
politisi dari empat partai politik pememang pemilu tahun 2009, yaitu
Partai Demokrat, Partai Golongan Karya (Partai Golkar), Partai Demokrasi Indones
ia Perjuangan (PDIP), Partai Kesejahteraan Sosial (PKS) dan sebuah partai poli

tik baru yaitu Partai Nasional Demokrat (Partai Nasdem).


Sementara data sekunder dalam penelitian ini terutama adalah isi pemberitaan pro
gram berita di 3 stasiun televisi nasional, yaitu Metro Hari Ini di Metro TV, Redak
si Sore di Trans7 dan Kabar Petang di TV One, selama 3 bulan, yaitu sejak awal A
gustus hingga akhir November lalu. Pemilihan ketiga

stasiun televisi nasional tersebut berdasarkan afiliasi kepemilikan stasiun tele


visi tersebut terhadap partai politik yang akan bertarung di pemilu tahun 2014 m
endatang. Metro TV adalah stasiun televisi yang didirikan Surya Paloh dan sebagi
an besar sahamnya dimiliki konglomerat Harry Tanusoedibyo, yang saat keduanya ad
alah pimpinan di Partai Nasdem. Sementara TV One adalah satsiun televisi yang di
miliki keluarga Bakrie, di mana Abrurizal Bakrie yang tertua dari Dinasti Bakrie
saat ini menjadi Ketua Umum Partai Golkar dan sudah digadang- gadang menjadi
calon presiden dari Partai Golkar di pemilihan presiden mendatang
. Sementara, Trans7 adalah stasiun televisi milik pengusaha Chairul Tanjung, yan
g sampai saat ini dianggap netral atau tidak mewakili partai politik tertentu.
Selain isi pemberitaan, data sekunder lainnya dalam pemberitaan ini adal
ah jumlah tayangan iklan politik dari lima partai politik tersebut di atas yang
ditayangkan di ketiga stasiun televisi tersebut, selama periode waktu yang juga
sama, Agustus hingga November 2012.. Terakhir, data sekunder lainnya yang
juga digunakan dalam penelitian ini adalah dokumen resmi dari kelima parta
i politik tersebut di atas, data-data statistik, pedoman umum, hasil st
udi dari berbagai literatur dan penelitian-penelitian terdahulu yang relevan de
ngan tema penelitian untuk mempertajam kredibilitas penelitian.

2.

Teknik Pengumpulan Data

Adapun alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini berupa daftar wawancara se
bagai uraian lebih lanjut dari pertanyaan penelitian, pedoman observasi, dan dok
umentasi. Teknik ini dipilih untuk memberi kemudahan dalam kegiatan penelitian
tidak dimaksudkan untuk membatasi tingkat fleksibilitas peneliti sebaga
i instrumen di lapangan.
Wawancara dilakukan terhadap pengurus partai politik di tingkat pusat. Observasi
dan dokumentasi dilakukan terhadap berbagai kegiatan yang terkait dengan pera
nan media televisi dalam pencitraan partai politik. Analisis dokumentasi
lainnya dilakukan terhadap berbagai dokumen yang terkait dengan penelitian ini.

Lebih lanjut, proses pengumpulan data pada penelitian ini disesuaikan dengan jen
is penelitian. Data yang dihimpun dalam penelitian ini, yaitu berupa kata-kata
, tindakan, dokumen, situasi, dan peristiwa yang dapat diobservasi.

Sumber data yang dimaksud adalah kata-kata diperoleh secara langsung atau tid
ak langsung melalui observasi dan wawancara dan dokumen berupa catatan kegiatan
yang tersimpan dalam dokumentasi.

3.

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian mengenai kebijakan perintisan dilakukan melalui beberapa tah


ap yaitu :
(1) Tahap

pralapangan

yaitu

kegiatan

menyusun

rancangan

penelitian,

penentuan lokasi, pengurusan perizinan, penjajakan atau penilaian ko


ndisi lapangan, penentuan informan, penyiapan perlengkapan penelitian serta
persiapan diri peneliti untuk beradaptasi dengan objek penelitian.
(2) Pengolahan data dilakukan melalui pemrosesan dan pengolahan data dilakukan
dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber (wawanca
ra, pengamatan, studi/dokumen) kemudian dibuat abstraksi yaitu membuat rangku
man inti, proses dan pernyataan yang diperlukan dijaga sehingga tetap didala
mnya guna penghalusan pencatatan data. Kedua dengan melakukan kategorisasi yai
tu menyusun kategori atas dasar pilihan, intuisi, pendapat atau kri
teria tertentu terhadap data yang diperoleh. Selanjutnya menempatkan d
ata pada ketegori masing-masing.
Tahap analisis data dimulai sejak memasuki lapangan untuk melakukan penelitian.
Analisa data adalah proses penyusunan data agar dapat ditafsirkan (Nasution 1996
: 126). Menyusun data dilakukan dengan menggolongkan data kedalam pola, tema ata
u kategori sehingga dapat memberi makna pada analisis, menjelaskan pola atau kat
egori dan mencari hubungan antara berbagai konsep yang mencerminkan perspektif
atau pandangan peneliti dan bukan kebenaran. Untuk menganalisis data maka dil
akukan proses mengatur urutan data, mengorganisasikan kedalam suatu pola, k
ategori dan satuan uraian dasar (Moleong, 2001). Dalam proses ini data dise
derhanakan sehingga lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan sehingga mampu
menggali informasi yang lebih luas, mendetail, dan mendalam. Data yan

g berwujud kata-kata dan bukan rangkaian angka dikumpulkan melalui observasi


, wawancara, dokumen, dan pita rekaman.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.

Hasil Penelitian

Sebagai informasi awal dari hasil penelitian ini adalah gambaran


bagaimana gambaran awal dari isi berita yang disajikan dari tiga stasiun televis
i tentang isi pemberitaan dan iklan politik yang mereka tayangkan sepan
jang periode waktu Agustus hingga November 2012. Pada stasiun televisi Metro TV,
tercatat dari 2025 item berita yang ditayangkan Metro Hari Ini , terdapat sekitar
164 berita tentang Partai Nasional Demokrat, diikuti 142 item berita t
entang Partai Demokrat, lalu 95 iitem berita Golkar, 82 item berita PDIP dan 24
berita PKS. Jumlah tersebut menunjukkan betapa banyaknya durasi yang digunak
an untuk Partai Nasdem, yang kebetulan pemilik stasiun televisi tersebut
, Surya Paloh merupakan orang di balik layar Partai Nasdem. Hal itu t
erlihat dari sebagian bsar berita Nasdem yang muncul berisi acara seremonial pe
mbentukan Partai Nasdem dan organisasi sayapnya di berbagai dearah.
Sementara tingginya berita tentang Partai Demokrat lebih banyak diisi
tentang terungkkapnya kasus sual yang dilakukan para politisi dari partai terse
but. Selain pengaruh dalam isi berita, Metro TV juga menerima dan menay
angkan iklan Partai Nasdem yang cukup banyak, yaitu sebanyak 110 spot iklan dal
am periode waktu Agustus hingga November 2012 lalu.
Sementara, saingan Metro TV baik sebagai televisi berita maupun dari sisi
kepemilikannya, yaitu TV One, tercatat menayangkan 1712 item pada prog
ram Kabar Petang . Dari jumlah tersebut, item berita tentang Partai Golkar sebanyak
102 item, disusul Partai Demokrat 95 item, 72 item tentang PDIP dan masing-masi
ng 30 item berita tentang PKS dan Nasdem. Banyaknya item berita tentang Golkar p
asti disebabkan kepemilikan stasiun televisi tersebut yang sepenuhnya dimiliki k
eluarga Bakrie, yang dipimpin Abrurizal Bakrie, yang juga merupakan Ketua Umum
Partai Golkar dan calon presiden dari partai tersebut untuk pemilu tahun 2014 me
ndatang. Sebagian besar item berita tentang Golkar memang merupakan berbagai hal
yang dilakukan Aburizal Bakrie dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Golka
r dan calon presiden dari parpol tersebut. Sementara untuk item berita tent
ang Partai Demokrat, sama seperti di pemberitaan Metro TV juga lebih banyak diis
i dengan berita kasus suap yang dilakukan pengurus partai yang didirikan Pr
esiden SBY tersebut. Berbanding sama dengan isi pemberitaan, TV One juga terc
atat menayangkan 82 iklan politik

Partai Golkar dan Aburizal Bakrie dalam berbagai versi sepanjang kurun waktu ti
ga bulan tersebut.
Terakhir, stasiun Trans7 yang tidak berafiliasi dengan partai politik
manapun, tercatat menayangkan 1008 item berita di Redaksi Sore sepanjang period
e waktu Agustus hingga November mendatang. Dari jumlah tersebut, tercata
t 42 item berita tentang Partai Demokrat, 20 item berita tentang PDIP, 18 item b
erita Partai Golkar, 15 item berita PKS dan 5 item berita tentang Partai Nasdem.
Catatan tersebut menunjukkan tidak terlalu dominannya berita tentang partai pol
itik di tayangan program berita di Trans7. Jumlah terbesar ada di Partai Demokra
t, yang sebagian besar isinya memang tentang kejahatan korupsi yang dilakukan po
litisi partai tersebut.
Melihat data isi pemberitaan media maupun iklan televisi yang menjadi salah sa
tu alat untuk melakukan pencitraan bagi partai politik tersebut, informan yang b
erasal dari Partai Demokrat, PKS, dan PDI Perjuangan menyadari bahwa peranan dan
keberadaan televisi saat ini khususnya dalam bidang politik sangat besar, banya
k pengaruh politik yang diberikan media televisi. Bahkan seorang informan mengun
gapkan bahwa Televisi dapat menjadi alat untuk membantu pencitraan partai polit
ik, terutama partai politik yang baru. Bentuk pencitraan tersebut bermaca
m-macam, bisa melalui iklan dan diskusi sehingga memberikan
gambaran kepada masyarakat. 4

Sebagaimana dikatakan Kabid Humas DPP PKS bahwa


Penetrasi televisi menc
apai 100%, televisi paling tinggi pengaruhnya di masyarakat dan karenanya kekuat
an televisi bisa mengganti mesin politik, misal dalam Pemilihan Kepala Daerah (P
ilkada). Meskipun saat ini mulai bermunculan berbagai media alternatif dengan t
ekologi yang lebih modern seperti internet, namun televisi masih dianggap
sebagai media massa yang paling efisien dan berpengaruh di masyarakat. Berita
dan informasi yang disebarkan oleh televisi lebih cepat sampai ke masyar
akat.
Saat ini banyak pemberitaan tentang partai politik di berbagai media, termasuk t
elevisi, yang cenderung menyudutkan sehingga berpengaruh negatif terhadap citr
a partai politik. Persepsi masyarakat terhadap partai akibat
pemberitaan tersebut adalah Parpol tidak lebih dari sekedar sekumpulan orang

4 Hasil wawancara dengan Dr. Nicodemus R. Toun (Partai Demokrat).

yang haus akan kekuasaan, kekayaan materi, dan parpol tidak perduli terhadap nas
ib rakyat. Banyak parpol juga dianggap memanfaatkan kesempatan untuk meraup keun
tungan dari kader-kader mereka di eksekutif dan legislatif sehingga muncul poten
si korupsi.
Terkait dengan berbagai pemberitaan yang cenderung menyudutkan tersebut, seluruh
informan menganggap bahwa pemberitaan media massa saat ini cenderung kebablas
an dan tidak objektif sehingga merugikan. Bahkan muncul adagium di media
bad
news is a good news . Media saat ini memiliki kecendrungan untuk mencari
hal yang menarik untuk dipublikasikan karena menyangkut juga rating yang ter
kait dengan industri media yang bertujuan
mencari keuntungan, jadi bukan lagi ideologis.5

Peranan televisi dalam membentuk opini masyarakat dirasakan betul oleh seluruh i
nforman dari kalangan partai politik, televisi memberikan masyarakat pandangan
langsung terhadap fenomena politik yang mereka lihat bahkan dengan perk
embangan teknlogi yang ada saat ini masyarakat dapat langsung menyampaikan panda
ngan politik mereka di televisi.
Anggota DPP Partai Demokrat merasakan bahwa pemberitaan tentang Partai Dem
okrat di berbagai televisi merugikan demokrat. Seperti dengan adanya pemberitaan
kasus korupsi yang melibatkan anggota partai demokrat, padahal media harus
memisahkan antara oknum dengan partai. PKS dan PDIP meskipun menganggap bahwa
pemberitaan media televisi tidak dianggap merugikan mereka, tetapi a
da beberapa kasus pemberitaan yang dianggap misleading.
PKS misalnya, banyak melihat salah persepsi wartawan dalam menangkap maks
ud sebuah pernyataan Seperti Fachri Hamzah pernah mengungkapkan Bubarkan saja K
PK, padahal maksudnya adalah kalau kinerja KPK selama ini tidak maksimal, tidak
bisa mengungkap kasus besar dan lebih menghabiskan anggaran maka untuk apa dipe
rtahankan. Pernyataan itu juga maksudnya agar KPK termotivasi untuk bekerja lebi
h keras. Ketika muncul berita bubarkan KPK akhirnya ada opini bahwa anggota PKS
tidak mendukung pemberantasan korupsi, padahal maksud bukan seperti itu. Ada ka
sus lain yang diekspos oleh media seperti PKS anggota koalisi yang
nakal dan harus
dikeluarkan oleh koalisi.

5 Hasil wawancara dengan Nicodemus (Partai Demokrat), Mardani (PKS), dan Meilian
a (PDI-P).
PDI-P juga pernah merasakan dari pemberitaan televisi yang misleading yaitu wakt
u tahun 2004 ketika ada kasus Ibu Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono. Bapak
Taufik Kiemas bilang SBY seperti anak-anak, oleh media berita tersebut d
iangkat berlebihan seolah-olah SBY di dzolimi akhirnya masyarakat menilai neg
atif kepemimpinan Ibu Mega dan Pak Taufik.
Ada beberapa hal yang dilakukan partai politik untuk menanggapi atau menyikapi p
emberitaan media di masyarakat, khususnya jika terkait dengan citra partai. Part
ai Demokrat akan menjadikan berita tersebut sebagai catatan dan evaluasi interna
l partai, namun disisi lain juga menghimbau kepada media televisi agar lebih men
jalankan fungsi utamanya sebagai alat pendidikan dan sosialisasi politik, dan bu
kan menjadi corong kekuasaan atau kepentingan politik kelompok tertentu sebab
televisi harus netral. Dalam beberapa hal PKS dan PDI Perjuanga
n juga melakukan evaluasi internal klarifikasi terhadap pemberitaan telev
isi jika berita tersebut dianggap tidak sesuai dengan fakta, menjelaska
n
masalah yang sebenarnya kepada media.6

Sementara itu, Ketua Umum DPP Partai Nasdem, Patrice Rio Capella, menyangkal pih
aknya menafaatkan Metro TV untuk menjadi corong partai yang dipimpinannya. Mesk
i dimiliki oleh Surya Palon dan Harry Tanosoedibjo, redaksi Metro TV adalah in
dependen, yang tidak bisa didikte dalam pemberitaannya. Lebih lanjut Rio j
uga mengatakan bahwa iklan Partai Nasdem yang ditayangkan Metro TV adalah iklan
yang harga spot penayangannya sama dengan harga iklan komersial biasa. Menututny
a, hal yang sama juga bisa dilakukan partai politik lainnya, karena Metro TV tid
ak menutup dan memasang harga tinggi bagi iklan partai politik lainnya yang akan
ditayangkan oleh partai politik lainnya. Artinya, tidak ada keistimewaan dan
perlakukan Metro TV terhadap partai politik-partai politik manapun, termasuk P
artai Nasdem.
Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, dan PDI Perjuangan pada prinsipnya
selalu menjalin komunikasi yang baik dengan berbagai media termasuk
media televisi. Akan tetapi mereka tidak melakukan komunikasi politik secara kh
usus, sebab mereka menyadari bahwa media harus netral, objektif dan
profesional.7
menjalin

Berbagai cara yang dilakukan oleh partai politik untuk

6 Hasil wawancara dengan Nicodemus (Partai Demokrat), Mardani (PKS), dan Meilian
a (PDI-P).
7

Ibid.

komunikasi yang baik dengan media diantaranya melalui kunjungan, diskusi


,

family gathering, tanding futsal, dan lain sebagainya.

Partai Demokrat dan PDI Perjungan menganggap ada media televisi yang menjadi co
rong bagi kekuasaan kelompok kepentingan tertentu, diantaranya Metro TV da
n TV One. Menurut kedua informan dari partai tersebut pemberitaan kedua stasiun
televisi tersebut tidak objektif, karena menjadi corong kekuasaan kelompok tert
entu. Sedangkan yang masih objektif ada RCTI, SCTV, Indosiar,
ANTV, dan Trans TV atau TV Tujuh.8

Sedangkan PKS berdasarkan penilaian internal masih menganggap seluruh


media televisi bersifat objektif dan belum ada yang konspiratif.9 Hal yang sama
juga diungkapkan oleh Lalu Mara Satria Wangsa, yang menganggap bahwa
semua pemberitaan televisi saat ini masih bersikap adil dan tidak memi
hak. Meski begitu, Lalu memberikan catatan tersendiri terhadap Metro TV yang s
ering dianggap berat sebelah ketika memberitakan tentang Golkar dan Abrurizal Ba
krie. Metro TV lebih sering memberitakan berita yang jelek terhadap apa yang dil
akukan Aburizal Bakrie dan Golkar, seperti yang terlihat dalam kasus Lumpur Lapi
ndo, dimana stasiun televisi tersebut sangat getol menyalahkan keluarga Bakrie s
ebagai penyebab terjadinya danau lumpur tersebut. Bahkan menganggap tidak ada sa
tupun yang dilakukan Bakrie untuk menanggulangi permasalahan akibat bencana alam
tersebut.
Menanggapi semakin menurunnya citra partai politik di mata masyarakat sebagai ak
ibat dari adanya pemberitaan media televisi, informan dari Partai Demokrat dan
PDI Perjuangan melihat hal ini sebagai akibat dari pemberitaan yang terus mener
us memojokan dan tidak objektif sehingga masyarakat menganggap partai politik
sebagai lembaga yang korup. Lebih lanjut informan dari Partai Demokrat me
ngatakan
Harus dapat dipisahkan antara oknum anggota dengan partai seba
gai organisasi.
Sedangkan Kepala Bidang Humas DPP PKS menganggap menurunnya citra partai l
ebih disebabkan partai sampai dengan saat ini belum bisa memuaska
n masyarakat. Apa yang diberitakan media bahwa partai merupakan sarang penyamun
merupakan hal yang harus dijadikan bahan intropeksi diri.
Bahwa partai juga saat ini belum memuaskan

masyarakat.

Meskipun PKS

Hasil wawancara dengan Nicodemus (Partai Demokrat) dan Meiliana (PDI-P).

Hasil wawancara dengan Mardani (PKS).

mendapatkan dampak negatif dari pemberitaan media namun bukan berarti PKS melaku
kan kompromi dengan media untuk memberitakan hal positif yang boh
ong. Tidak ada dalam program kita untuk melakukan kompromi politik dengan
media untuk membohongi masyarakat dengan berita-berita bohong. 10

Meskipun pemberitaan media televisi saat ini cenderung menyudutkan namun Partai
Demokrat dan PDI Perjuangan tidak mempunyai sarana media lain untuk mengimbangi
berita yang ada. Akan tetapi ada keinginan untuk membuat sebuah stasiun televis
i, namun kendalanya adalah soal dana.
Sedangkan PKS lebih memanfaatkan media internal seperti website PKS, buku dan bu
lletin yang diterbitkan oleh DPP, DPW dan DPD untuk mengimbangi pemberitaan medi
a massa. PKS juga saat ini sudah mulai merintis media radio lokal di beberapa da
erah namun tidak secara khusus untuk PKS.
Dalam menciptakan iklim politik yang demokratis, pola hubungan dan komunikasi an
tara stasiun televisi dengan partai harus berimbang, saling menghormati, menduku
ng dalam hal yang positif, serta bergerak sesuai dengan jalur dan ketentuannya m
asing-masing. Media tidak boleh memberitakan dan memvonis sesuatu yang belum ten
tu benar, dan karenanya undang-undang pers
dan media harus dipatuhi.11

2.

Pembahasan

Televisi merupakan salah satu media massa yang memiliki peran penting dalam peny
ebarluasan informasi, pendidikan, dan hiburan bagi masyarakat, saat ini jangkaua
n siaran televisi semakin luas dan hampir seluruh masyarakat dapat melihat berba
gai macam program atau tayangan televisi hal ini tidak lain karena adanya perkem
bangan teknologi. Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap peran atau fungsi t

elevisi juga menjadi alasan bahwa saat ini hampir seluruh masyarakat memiliki
televisi. Salah satu kebutuhan masyarakat di negara demokratis adalah
tercukupinya segala informasi dalam bidang politik yang mencakup tentang segala
aktivitas pemerintahan, dan karenanya televisi perlu memenuhi kebutuhan tersebu
t.
Menurut Mc Quail (2011: 46) salah satu hal yang terkait dengan peranan

media massa adalah dimensi politik, televisi diharapkan dapat menggunaka


n

10

Ibid

11 Hasil wawancara dengan Nicodemus (Partai Demokrat), Mardani (PKS), dan Meil
iana (PDI-P).

kemampuan informatif mereka untuk mendukung proses demokratis dan


melayani kebutuhan publik. Tugas demokratik pers, termasuk media televis
i, dalam memberikan informasi politik sangat diakui, informasi politik yang dis
ampaikan kepada masyarakat dapat berupa kontrol politik terhadap kekuasaa
n maupun pendidikan politik. Sebagian kalangan partai politik di I
ndonesia pun menyadari bahwa peranan dan keberadaan televisi saat ini
khususnya dalam bidang politik sangat besar, banyak pengaruh politik ya
ng diberikan media televisi.
Media massa termasuk televisi terkadang dipuji karena kegunaannya di bidang pen
didikan dan kebudayaan, namun juga ditakuti karena pengaruhnya yang men
gganggu. Media massa menurut Mc Quail (2011: 59) memiliki kemampu
an untuk mengubah kecendrungan opini publik, seperti protes dan demo pol
itik yang rusuh atau bahkan menurunnya demokrasi dan meningkatnya apatisme poli
tik. Karena kemampuannya itulah media massa terkadang mendapat perhatian d
ari para pelaku politik dan pemerintahan, baik yang negatif dengan adanya kontro
l dan kritik terhadap media maupun perilaku positif dengan adanya pemanfaatan te
rhadap media massa.
Apabila melihat kepada munculnya apatisme politik masyarakat terhadap partai pol
itik maka hal tersebut tidak dapat dilepaskan juga dari adanya peran media mas
sa dalam memberikan berbagai macam informasi tentang kelemahan atau keburukan
partai politik termasuk para anggotanya, karena itu terkadang partai politi
k melihat media massa, khususnya televisi, sebagai sesuatu yang negatif.

Peranan media televisi dalam membentuk opini masyarakat dirasakan betul


oleh seluruh informan dari kalangan partai politik, dimana menurut para informan
bahwa televisi memberikan masyarakat pandangan langsung terhadap fenomena polit
ik yang mereka lihat bahkan dengan perkembangan teknlogi yang ada saat ini ma
syarakat dapat langsung menyampaikan pandangan politik
mereka di televisi.12

Banyak pemberitaan media televisi yang terkadang dapat dianggap cenderung menyud
utkan partai politik sehingga pada akhirnya merubah persepsi masyarakat terhada
p partai politik, dan yang paling buruk adalah munculnya
apatisme politik masyarakat. Berbagai pemberitaan tentang perilaku korup dan

12

Ibid.

tidak bermoral sebagian anggota partai di Dewan Perwakilan Rakyat telah mendoron
g asumsi publik bahwa partai politik tidak lebih dari sekedar
sekumpulan orang yang hanya mengincar kekuasaan, kekayaan materi, dan ti
dak perduli terhadap nasib rakyat kecil. Banyak partai politik juga dianggap mem
anfaatkan kesempatan ketika berkuasa untuk meraup keuntungan sehingga muncul pot
ensi korupsi.
Terkait dengan dampak berbagai pemberitaan yang cenderung menyudutkan ters
ebut, seluruh informan menganggap bahwa pemberitaan media massa saat ini cende
rung kebablasan dan tidak objektif sehingga merugikan. Bahkan muncul adag
ium di media bad news is a good news . Media saat ini memiliki kecendrungan untu
k mencari hal yang menarik untuk dipublikasikan karena menyangkut juga
rating yang terkait dengan industri media yang bertujuan mencari k
euntungan, jadi bukan lagi ideologis.13
Jika halnya pandangan para informan yang menyebutkan bahwa media

saat ini sudah terkait dengan industri dan bertujuan lebih mencari keuntungan da
ripada memunculkan sisi ideologis media maka hal tersebut menurut peneliti merup
akan sebuah kemunduran bagi perkembangan media massa. Bahwasanya media massa mem

ang membutuhkan dana atau ongkos untuk operasionalnya, namun hal tersebut tidak
bisa dilakukan dengan membuat penulisan berita yang dramatis dan sensasional han
ya untuk mendapatkan rating atau porsi perhatian yang besar dari penonton s
ehingga berdampak pada besarnya penghasilan iklan. Connell (1998) sebagai
mana dikutip oleh McQuail (2011: 34) mengungkapkan bahwa media massa semaca
m itu adalah dangkal dan tidak bertanggungjawab.
Media televisi terkadang dianggap dapat memberikan dampak negatif bagi pa
rtai politik, namun hal tersebut tidak menyurutkan beberapa partai politik untuk
tetap menjalin komunikasi yang baik dan profesional dengan media tel
evisi. Dari apa yang peneliti amati dilapangan bahwa diantaranya keduanya t
etap memiliki keterikatan hubungan yang tidak bisa dilepaskan begitu saja, sebag
aimana contohnya iklan dan kampanye partai politik di media televisi tidak hanya
dapat dilihat dari sisi kepentingan partai saja tetapi juga dapat dilihat dari
sisi kepentingan media televisi, sebab media massa saat ini dapat dikat
akan

13 Ibid.

sebagai sebuah industri, dimana menurut McQuail


n semacam ini pada dasarnya bersifat komersial.

(2011: 34) perusahaa

Berbagai macam bentuk atau pola kerjasama dan komunikasi yang dilakukan
partai politik dengan media televisi, diantaranya dilakukan melalui keg
iatan formal seperti kunjungan dan diskusi, serta kegiatan non-formal seperti ta
nding futsal, family gathering, dan lain sebagainya. Hal tersebut menunjukkan ba
hwa pada dasarnya partai politik dan media televisi tetap saling membutuhkan seh
ingga perlu ada komunikasi.
Kerjasama dan komunikasi antara media televisi dengan partai politik dianggap ti
dak hanya sebagai salah satu cara yang efektif dan efisien dalam meminimalisir
persepsi negatif masyarakat terhadap partai politik, tetapi juga dalam me
naikan citra partai atau popularitas kader partai. Adalah dalam Pilkada DKI Jaka
rta sebagaimana diungkapkan oleh informan di atas bahwa sosok Joko Widodo (Jokow
i) dapat diangkat karena media. Peranan media dalam mempopulerkan Jokowi sebagai
Walikota Solo dan kader PDI Perjuangan yang sederhana dan merakyat, pada ak
hirnya dapat mendorong Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta terpilih di Tahun
2012.14

Televisi juga dapat menjadi alat untuk membantu pencitraan partai politik,

terutama partai politik yang baru. Bentuk pencitraan tersebut bermacam-macam, bi


sa melalui iklan dan diskusi sehingga memberikan gambaran kepada masyarakat
. Terkait tentang bentuk pencitraan politik melalui televisi peneliti me
lihat bahwa pemberitaan juga merupakan iklan, yang dapat dianggap sebagai iklan
non-konvensional, karena tidak dikhususkan tayang dalam kurun waktu tert
entu dan tidak langsung menunjukan kepada atribut tertentu, sedangkan ik
lan-iklan pada umumnya ditayangkan pada kurun waktu tertentu dan lebih
langsung menonjolkan atribut atau simbol. Untuk membuat suatu pemberitaan ya
ng baik maka diperlukan juga komunikasi yang baik.
Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan media massa tidak dapat dilepaskan dari
peranan dan fungsinya dalam bidang sosial dan politik, karena penetrasinya yang
begitu luas maka banyak media televisi telah dilirik oleh beberapa pa
rtai politik untuk digunakan sebagai alat melakukan sosialisasi
politik.

14 Hasil wawancara dengan Meiliana (PDI-P)

Meskipun saat ini mulai bermunculan berbagai media alternatif dengan tekologi y
ang lebih modern seperti internet, namun televisi masih dianggap sebagai
media massa yang paling efisien dan berpengaruh di masyarakat. Berita dan infor
masi yang disebarkan oleh televisi lebih cepat sampai ke masyarakat.
Strategi komunikasi yang tepat memang harus dilakukan oleh partai politi
k untuk menyiasati agar aktivitas dan pencitraan partai politik mereka tetap men
jadi agenda setting dalam isi pemberitaan yang dilakukan media massa, terutama t
elevisi. Sebab, jika hanya mengandalkan upaya membayar iklan politik di televisi
, pasti membutuhkan dana yang tidak sedikit. Terbukti, selama tahapan awal pemil
u 2014, tercatat hanya Partai Golkar dan Partai Nasdem yang menayangkan iklan
politik mereka di televisi. Iklan politik kedua partai politik tersebut
juga hanya tayang di TV One dan Metro TV, yang kepemilikannya ada di tangan pimp
inan kedua partai politik tersebut di atas. Dengan demikian, kemungkinan tidak
membayar atau mendapatkan harga yang jauh dari rate normal, dapat dilak
ukan kedua partai politik tersebut, saat menayangkan iklan politik mereka d
i kedua stasiun televisi tersebut. Suatu hal, yang dibantah oleh Ketua Umum Part

ai Nasdem, Rio Capella.


Penetrasi televisi yang begitu luas jangkauannya dan juga efisien menjadi pertim
bangan bagi beberapa partai politik dengan modal yang besar untuk merap
at ke media atau bahkan secara tersembunyi memiliki media televisi itu send
iri, sedangkan bagi sebagian partai politik lainnya hanya bisa memanfaatkan tele
visi untuk kegiatan-kegiatan tertentu seperti pemilihan umum atau pemilihan kep
ala daerah. Akan tetapi kepemilikian media televisi oleh partai politik
atau tokoh politik dari sebuah partai dapat memunculkan adanya potensi
ketidaknetralan atau tidak independennya media, baik dari sisi pemberitaan yang
kemungkinan akan condong ke arah kebijakan salah satu partai ataupun yang s
elalu menyerang dan mencari kesalahan partai politik lainnya.
Terkait dengan hal tersebut di atas dua orang informan, yaitu dari Partai Demokr
at dan PDI Perjungan menganggap ada media televisi yang menjadi corong
bagi kekuasaan kelompok kepentingan tertentu, diantaranya Metro TV dan T
V One. Menurut kedua informan dari partai tersebut pemberitaan kedua stasi
un televisi tersebut tidak objektif, karena menjadi corong kekua
saan

kelompok tertentu. Sedangkan yang masih objektif ada RCTI, SCTV, Indosiar,
ANTV, dan Trans TV atau TV Tujuh.15
Memang hal tersebut dibantah oleh pengurus Partai Nasdem dan Partai Golkar, yan
g merasa tidak melakukan intervensi dalam kebijakan redaksional yang ada
di stasiun televisi Mero TV dan TV One, yang kepemilikannya memang dikuasai uns
ur pimpinan dari kedua partai politik tersebut di atas. Namun, bantahan
kedua pengurus partai politik tersebut ternyata tidak sesuai dengan rea
lita yang terjadi. Pada kedua stasiun televisi tersebut, data menunjukkan banyak
nya item berita tentang partai politik yang berafiliasi dengan kedua stasiun tel
evisi tersebut. Porsi yang demikian besar itu masih ditambahkan dengan
adanya kecenderungan berita yang selalu menonjolkan kebaikan atau keberha
silan partai politik atau pimpinan partai politik yang dekat dengan pemilik kedu
a stasiun televisi tersebut. Dengan demikian, rasanya adanya tudingan yang menya
takan bahwa Metro TV dan TV One memiliki kecenderungan menyajikan berita yang me
mihak salah satu konstestan pemilu mendatang, dapat dibenarkan adanya.
Dalam menciptakan iklim politik yang demokratis, pola hubungan dan komunikasi an
tara stasiun televisi dengan partai harus berimbang, saling menghormati, menduku
ng dalam hal yang positif, serta bergerak sesuai dengan jalur dan ketentuannya m
asing-masing. Media tidak boleh memberitakan dan memvonis sesuatu yang belum ten
tu benar, dan karenanya undang-undang pers
dan media harus dipatuhi.16

SIMPULAN

Pemanfaatan media televisi dalam pencitraan partai politik sudah menjadi bahan
kajian menarik, terutama dalam setiap penyelengaraan pemilihan, ter
masuk pada tahapan awal pemilu tahun 2014. Televisi masih dianggap seba
gai media massa yang paling efektif dalam menyampaikan pesan, tidak terkecuali
pesan politik yang selalu disampaikan oleh partai politik, terutama dala
m kapasitas mereka sebagai konstentan pemilihan umum. Meski sudah
banyak alternative media massa lainnya, termasuk media sosial yang kian ramai

15

Hasil wawancara dengan Nicodemus (Partai Demokrat) dan Meiliana (PDI-P).

16 Hasil wawancara dengan Nicodemus (Partai Demokrat), Mardani (PKS), dan Meil
iana (PDI-P).

digunakan dewasa ini, pemanfaatan televisi untuk pencitraan partai politik pad
a saat penyelenggaraan pemilu, tetap dianggap paling signifikan.
Meski demikian, untuk bisa masuk dalam isi pemberitaan atau menjadi bagian dala
m agenda setting redaksi pemberitaan stasiun televisi, tentu tidak mudah
bagi setiap partai politik. Apalagi, jika menginginkan issu pemberitaan
yang diangkat memberikan kontribusi positif dalam pencitraan partai politik yan
g bersangkutan. Perlu strategi tersendiri dan kreatifitas yang tinggi da
ri setiap partai politik untuk dapat mewujudkan hal tersebut. Kerjasama dan k
omunikasi yang intensif wajib dilakukan partai politik dengan redaksi pemberitaa
n stasiun televisi. Bahkan, keunikan dalam setiap melakukan kegiatan
politik, perlu dilakukan agar dapat terekspose media, termasuk televisi.
Langkah tersebut di atas mutlak dilakukan, mengingat cara lain untuk meningkatka
n pencitraan partai politik melalui iklan di televisi, terbilang berbiaya mahal
. Pilihan menayangkan iklan partai politik memang belum banyak dilakukan para p
eserta pemilu di tahapan awal pemilu 2014. Waktu pencoblosan suara yang
dianggap masih lama, menjadi dasar pertimbangan, langkah memasang iklan t
elevisi yang tidak murah itu, tidak menjadi pilihan utama. Jikapun ada pemasanga
n iklan oleh beberapa partai politik, seperti Partai Golkar dan Partai Nasdem, d
isebabkan stasiun televisi seperti TV One dan Metro TV yang menayangkan iklan ke
dua partai tersebut, dimiliki unsur pimpinan Partai Golkar dan Partai Nasdem.

Memang, masalah kepemilikan beberapa stasiun televisi oleh unsur pimpina


n partai politik yang akan bertanding di pemilu mendatang, menjadi permasalahan
tersendiri dalam pesta demokrasi tahun 2014 nanti. Saat ini saja, sudah ada tudi
ngan dan kecaman karena tidak berimbangnya pemberitaan yang dilakukan TV One dal
am pemberitaannya tentang Partai Golkar dan pencalonan Ketua Umum Partai
Golkar, Aburizal Bakrie sebagai presiden di pemilu mendatang yang ju
ga pemilik Group Bakrie yang menguasai saham TV One. Begitu pula dengan p
emberitaan Metro TV yang amat besar untuk aktifitas yang dilakukan Partai Nasdem
maupun unsur pimpinan partai tersebut, Surya Paloh dan Harry Tanoesudibjo,
yang juga menjadi pemilik Metro TV. Penguasaan media oleh politisi sudah m
enjadi strategi lain yang dilakukan dalam pencitraan partai politik dewasa ini.

Pencitraan partai politik melalui media televisi pada tahapan lanjutan p


emilu tahun 2014, tentu akan semakin marak dan beragam. Bukan tidak mu
ngkin, kegiatan tersebut akan menyebabkan timbulnya ketegangan atau k
onflik di antara partai politik peserta pemilu. Selain itu, persaingan
tersebut bukan tidak mungkin juga akan merugikan masyarakat atau penonton, teru
tama dalam kenyamanan mereka mendapatkan informasi dan hiburan dari tele
visi. Tentu, permasalahan itu, kian menarik untuk diamati dan dilakukan peneliti
annya di tahun-tahun mendatang, sebagai langkah lanjut dari penelitian yang dila
kukan saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Buku
Arriane, Lely. 2010. Komunikasi Politik, Politisi dan Pencitraan di Pan
ggung

Politik. Bandung: Widya Padjajaran.

Baran, J. Stanley & Dennis K. Davis. 2010. Teori Komunikasi


Massa; Dasar,Pergolakan dan Masa Depan. Jakarta: Salemba Humanika.

Biagi, Shirley, Media/Impact. 2010. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.

Bungin, Burhan. 2008.


jakan

Penelitian Kualitatif, Komunikasi, Ekonomi, Kebi

Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.

Creswell, John. Research Design; Qualitative dan Quantitative


,

Approaches

2001. Jakarta: UI Press.

Denzin, Noorman K & Yvonna S. Lincoln. 2009. Handbook

of Qualitative

Reasearch. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lippmann, Walter. 1922. Public opinion. New York: Macmillan. Luwarso, Lukas, dkk
. 2004. Media dan Pemilu 2004. Jakarta: SEAPA.
McQuail, Denis. 2011. Teori Komunikasi Massa (Buku 1). Jakarta: Salemba

Humanika.

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya.
Mufid, Muhamad. 2007. Komunikasi & Regulasi Penyiaran. Jakarta: Kencana. Mulyan
a, Deddy & Solatun. 2007. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT

Remaja Rosdakarya.

Severin, Werner J. & James W. Tankard 2008. Teori Komunikasi, Sejarah

Metode dan Terapan di Dalam Mediia Massa. Jakarta: Kencana. Vivian, John. 2008.
Teori Komunikasi. Jakarta, Kencana.
West, Richard & Lynn H Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi 1. Jakarta: Sal
emba Humanika.

West, Richard & Lynn H Turner. 2008.


nerbit Salemba Humanika.

Pengantar Teori Komunikasi 2. Jakarta: Pe

Artikel

McCombs, Maxwell.

The Agenda-Setting of the Mass Media in the Shaping of

Public Opinion. University of Texas at Austin.

RIWAYAT PENULIS

1.

Rahmat Edi Irawan, S.Pd., M.Ikom.

Pekerjaan: Dosen Jurusan Marketing Communication Universitas Bina Nusantara unt


uk mata kuliah Broadcasting dan Praktisi Penyiaran di salah satu stasiun telev
ise swasta nasional.
Pendidikan: S1 Jurusan Pendidikan Sejarah IKIP Jakarta, dan S2 Ilmu

Komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta.

2.

Yusa Djuyandi, S.IP., M.Si.

Pekerjaan: Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi (marketing communication) Universitas B


ina Nusantara, Peneliti di Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indones
ia (Lesperssi), dan Anggota Kajian Strategis IKA Universitas Padjadjaran.
Pendidikan: S1 dari Jurusan Ilmu Pemerintahan, Universitas Padjadjaran; S2 da
ri Jurusan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran.

3.

Marta Sanjaya, S.IP., M.Si.

Pekerjaan: Dosen Jurusan Marketing Communication untuk mata kuliah Politi


k dan Public Relation serta Praktisi PR di salah satu perusahaan swasta di Jakar
ta.
Pendidikan;

S1 Ilmu Politik Universitas

Nasional

dan S2 Ilmu Politik

Universitas Nasional.
http://marcomm.binus.ac.id/lecturers-journals/peliputan-media-televisi-dalam-pen
citraan-partai-politik-menjelang-pemilihan-umum-2014/