Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Stoikiometri merupakan perhitungan kimia yang menyangkut hubungan

kuantitatif zat yang terlibat dalam reaksi. Proses kimia banyak sekali kita temui
bahkan kita rasakan, salahsatunya makanan yang kita konsumsi setiap saat setelah
dicerna diubah menjadi tenaga tubuh. Nitrogen dan hidrogen bergabung membentuk
amonium yang digunakan sebagai pupuk, serta pengaruh energi matahari, maka
peristiwa yang berkaitan dengan reaksi kimia lazim dikenal sebagai stoikiometri.
Apabila senyawa dicampur untuk bereaksi maka sering dicampur secara
kuantitatif stoikiometri, artinya semua reaktan mana yang terbatas untuk mengetahui
jumlah produk yang akan dihasilkan. Kita juga dapat mengetahui pada stokiometri
larutan dimana zat-zat yang terlibat. Reaksi sebagian atau seluruhnya berada dalam
bentuk larutan. Yang dapat diselesaikan dengan cara hitungan kimia sederhana yang
menyangkut kuantitas antara suatu komponen dengan komponen lain dalam suatu
reaksi.
1.2.

Tujuan Percobaan
Mengetahui titik maksimum dan minimum dari campuran NaOH dan
H2SO4.
Mengetahui reaksi stoikiometri, reaksi endoterm dan reaksi eksoterm.
Mengetahui pereaksi pembatas dan pereaksi sisa.

55

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Bidang kimia yang mempelajari aspek kuantitatif unsur dalam suatu senyawa
atau reaksi disebut stoikiometri (bahasa yunani : stoicheon = unsur, metrain =
mengukur). Dengan kata lain, stoikiometri adalah perhitungan kimia yang
menyangkut hubungan kuantitatif zat yang terlibat dalam reaksi. (Syukri.1999.Kimia
Dasar Jilid 1)
Ilmu kimia mempelajari tentang peristiwa kimia yang ditandai dengan
berubahnya suatu zat menjadi zat lain, seperti etanol dan oksigen berubah menjadi
karbon dioksida dan uap air. Peruibahan itu dapat dituliskan sebagai :
Etanol + Oksigen

Karbon dioksida + air

Zat mula-mula disebut pereaksi dan zat yang dibentuk disebut hasil reaksi.
Dalam reaksi di atas, etanol dan oksigen adalah pereaksi sedangkan karbon dioksida
dan air adalah hasil reaksi.
Penelitian yang cermat terhadap pereaksi dan hasil reaksi telah menghasilkan
hukum-hukum dasar kimia yang menunjukkan hubungan kuantitatif itu. Hukum
tersebut adalah :
Hukum Kekekalan Massa
Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794) melakukan beberapa penelitian
terhadap terhadap proses pembakaran beberapa zat. Dalam percobaan tersebut
diamati proses reaksi antara raksa (merkuri) dengan oksigen untuk membentuk
merkuri oksida yang berwarna merah dan diperoleh data sebagai berikut:
Logam Merkuri + gas oksigen
530 gram

merkuri oksida

42,4 gram

572, 4 gram

Jika merkuri oksida dipanaskan akan menghasilkan logam merkuri dan gas oksigen
Merkuri oksida

logam merkuri

+ gas oksigen

572,4 gram

42,4 gram

530 gram

Dari hasil percobaan itu, maka Lavoisier mengemukakan hukum kekekalan


massa atau hukum Lavoisier yang menyatakan bahwa: Didalam suatu reaksi kimia,
massa zat-zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama.
Hukum Perbandingan Tetap
Jika Lavoisier mempelajari massa zat, sedangkan Proust mempelajari unsurunsur dalam senyawa. Joseph Proust (1754-1826) melakukan eksperimen, yaitu
mereaksikan unsur hidrogen dan unsur oksigen.
Hasil eksperimen Proust
Massa

Massa oksigen

Massa air

Sisa hidrogen atau

Perbandingan

hydrogen yang

yang

yang

oksigen (gram)

Hidrogen :

direaksikan

direaksikan

terbentuk

(gram)

(gram)

(gram)

1:8

1 gram hydrogen

1:8

1 gram oksigen

1:8

16

18

1;8

oksigen

Ia menemukan bahwa unsur hidrogen dan unsur oksigen selalu bereaksi membentuk
senyawa air dengan perbandingan massa yang selalu tetap, yakni :
Massa hidrogen : massa oksigen = 1 : 8

Proust merumuskan pernyataan yang disebut hukum perbandingan tetap yang


berbunyi pada suatu reaksi kimia, massa zat yang bereaksi dengan sejumlah zat lain
tertentu selalu tetap atau suatu senyawa selalu terdiri atas unsur-unsur yang sama
dengan perbandingan massa yang tetap.
Hukum Perbandingan Ganda
Hukum Proust dikembangkan lebih lanjut oleh para ilmuwan untuk unsurunsur yang dapat membentuk lebih dari 1 jenis senyawa. Salah seorang diantaranya
adalah John Dalton (1766-1844). Dalton mengamati adanya suatu keteraturan yang
terkait dengan perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa.
Hasil percobaan Dalton
Massa senyawa yang
Jenis senyawa

Massa nitrogen

Massa oksigen yang

yang direaksikan

direaksikan

Nitrogen monoksida

0,875 gram

1,00 gram

1, 875 gram

Nitrogen dioksida

1,75 gram

1,00 gram

2,75 gram

terbentuk

Berdasarkan hasil percobaannya, Dalton menemukan Hukum Kelipatan berganda


(Hukum Dalton) yang berbunyi: Jika dua unsur bergabung membentuk lebih dari
satu jenis senyawa, dan jika massa-massa salah satu unsur-unsur dalam senyawa
tersebut sama, sedangkan massa-massa unsur lainnya berbeda, maka perbandingan
massa unsur lainnya dalam senyawa-senyawa tersebut merupakan bilangan bulat
sederhana.
Hukum Penyatuan Volume
Dikemukakan oleh Joseph Gay Lussac (1778-1850), ia berhasil melakukan
eksperimen terhadap sejumlah gas dan memperoleh data sebagai berikut:
2 liter gas hidrogen + 1 liter gas oksigen 2 liter uap air

1 liter gas nitrogen + 3 liter gas hidrogen 2 liter gas amonia


1 liter gas hidrogen + 1 liter gas hidrogen 2 liter gas hidrogen klorida
Dari percobaan ini gay Lussac merumuskan hukum perbandingan Volume yang
berbunyi: Pada suhu dan tekanan yang sama, volum gas-gas yang bereaksi dan
volum gas-gas hasil reaksi berbanding sebagai bilangan bulat sederhana.
Jika dihubungkan dengan koefisien reaksi, maka
Hidrogen

H2

oksigen
O2

uap air

H2O

Setarakan :

2 H2

O2

2H2O

Perb. Koef :

Gay lussac :

2 liter

Perb. Volum :

1 liter :
1

2 liter
:

Kesimpulan : Perb. Koef = perb. Volume


Hukum Avogadro
Hasil percobaan Gay Lussac menunjukkan:
1 Volum hidrogen + 1 volum klorin
1 liter hidrogen

2 volum hidrogen klorida,

+ 1 liter klorin

2 liter hidrogen klorida,

+ 1 atom korin

2 atom hidrogen klorida,

jika dianggap atom maka,


1 atom hidrogen

jika diterapkan pada hidrogen dan oksigen, maka


2 volum hidrogen + 1 volum oksigen

2 volum air,

2 liter hidrogen + 1 liter oksigen

2 liter air,

1 liter hidrogen + liter oksigen

1 liter air,

jika dianggap atom, maka


1 atom hidrogen + atom hidrogen

1 atom air

Konsep setengah atom bertentangan dengan teori atom dalton, untuk menghindari hal
tesebut amanda avogadro mengusulkan:
Gas hidrogen + gas oksigen air
2 molekul

1 molekul

2 molekul

1 molekul

molekul

1 molekul

Hipotesis Avogadro,Pada suhu dan tekanan yang sama semua gas yang volumnya
sama akan mengandung jumlah molekul yang sama. Menurut Avogadro unsur yang
berwujud gas umumnya merupakan molekul dwiatom atau dua atom
Gas hidrogen

1 molekul

gas oksigen

1 molekul

uap air
2 molekul

Perb. Molekul :

Perb. Koef

Kesimpulan: jika diukur pada suhu dan tekanan yang sama, perbandingan volume
gas-gas yang bereaksi dan gas-gas hasil reaksi akan sama dengan perbandingan
jumlah molekulnya dan sama pula dengan perbandingan koefisiennya
Zat-zat yang habis terlebih dahulu dalam suatu suatu reaksi kimia disebut
pereaksi pembatas. Hal ini disebabkan zat-zat yang akan direaksikan tidak sesuai
dengan perbandingan koefisien reaksinya, sehingga reaktan tertentu habis terlebih
dahulu, sementara reaktan yang lain masih tersisa.

Berikut cara menentukan pereaksi pembatas:


Persamaan kimia yang terjadi telah setarakan, jika belum, harus disetarakan
terlebih dahulu.
Tentukan jumlah MOL masing-masing pereaksi dari MASSA pereaksi.
Jumlah MOL masing-masing pereaksi yang telah ditentukan dibagi dengan
KOEFISIENNYA. Apabila harga hasil bagi yang lebih kecil merupakan
pereaksi pembatas, sedangkan jika hasil bagi sama, maka kedua pereaksi
habis bereaksi.
Dengan adanya salah satu pereaksi yang habis terlebih dahulu, maka jumlah
produk yang dihasilkan tergantung pada banyaknya zat yang habis terlebih dahulu.
Dalam proses industri, pereaksi pembatas adalah zat yang lebih mahal. Misalnya
perak nitrat yang digunakan untuk membuat perak klorida yang digunakan dalam
film fotografi. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3
Rumus Molekul
Rumus molekul adalah rumus yang menyatakan perbandingan terkecil atomatom dari unsur-unsur yang menyusun suatu senyawa. Rumus empiris suatu senyawa
dapat ditentukan apabila diketahui salah satu dari massa dan massa atom relative dari
masing-masing unsurnya, serta perbandingan massa dan massa atom relative masingmasing unsurnya. Jika suatu senyawa telah diketahui rumus empirisnya dan massa

molekul relative juga telah diketahui maka rumus molekul senyawa tersebut dapat
ditentukan. (Syukri.1999.Kimia Dasar Jilid 1)
Rumus Empiris
Rumus empiris merupakan rumus kimia yang didasarkan pada suatu rumus
atau menyatakan perbandingan bilangan bulat terkecil dari atom-atom dalam suatu
senyawa. Rumus molekul dan rumus empiris dapat identik seperti CCl 4, rumus
molekul dapat merupakan penggandaan dari rumus empiris (rumus molekul H 2O2,
adalah dua kali dari rumus empiris HO). Suatu senyawa dalam keadaan padat dapat
memiliki rumus empiris (seperti NaCl, MgCl 2, atau NaNO3) dan tidak memiliki
rumus molekul. (Ralph Petrucci.1987.Kimia Dasar)
Apabila suatu rumus telah dikenali, ini merupakan cara sederhana untuk
menentukan bobot rumus suatu senyawa. Bobot rumus adalah massa dari suatu rumus
relative terhadap massa yang ditentukan 120000 untuk atom 12C, karena bobot atom
juga relative terhadap 12C, bobot rumus dapat ditentukan dengan penjumlahan bobot
atom-atomnya. Bila suatu senyawa mengandung molekul-molekul diskrit, dapat juga
didefinisikan bobot molekulnya. Bobot molekul adalah massa dari sebuah molekul
nisbi terhadap massa yang ditentukan 120000 untuk satu atom

12

C. (Ralph

Petrucci.1987.Kimia Dasar)
Bobot satu mol suatu zat disebut bobot molar. Bobot molar dalam gram suatu
zat secara numeris sama dengan bobot molekul dalam satuan massa atom. Untuk
menafsirkan persamaan kimia dalam kuantitas zat yang dapat dipelajari di
laboratorium, mula-mula semua kuantitas dinyatakan dalam mol.
Hampir selalu tetrdapat pereaksi yang kurang banyak ketimbang yang
dibutuhkan agar semua pereaksi bersenyawa. Perteaksi pembatas adalah zat yang
bereaksi habis dan karena itu memungkinkan diperpanjang reaksi itu. Pereaksi atau
pereaksi-pereaksi lain dikatakan berlebihan karena tertinggal sejumlah yang tidak

bereaksi. Perhitungan yang didasarkan persamaan berimbang haruslah dimulai dari


banyaknya pereaksi pembatas.(Keenan.1984.Kimia Untuk Universitas)
Mol dari suatu zat adalah banyaknya suatu zat yang mengandung 6,02210 23
satuan. Bobot satu mol suatu zat disebut bobot molar. Bobot molar dalam gram suatu
zat secara numeris sama dengan bobot molekul dalam satuan massa atom.
(Keenan.1984.Kimia Untuk Universitas)
Konsep mol sangatlah penting dalam ilmu kimia karena berguna dalam
menentukan jumlah partikel zat jika diketahui massa dan massa atom relative atau
massa molekul relatifnya. Begitu juga sebaliknya, menentukan massa jika diketahui
jumlah molnya. Dalam perhitungan, hubungan antara massa dengan mol adalah :
Mol unsur = massa unsur
Ar unsur

Mol senyawa = massa senyawa


Mr senyawa

Atau

Konsep mol juga terdapat pada gas dengan suhu dan tekanan yang sama.
Persamaan ini dikenal dengan persamaan gas ideal yang dinyatakan sebagai
P . V = n . R .T
Atau
n = P .V
R.T
Dimana P adalah tekanan, V adalah volume gas, n adalah jumlah mol gas, R
adalah tetapan gas (0,082) dan T adalah suhu gas.
Jumlah mol zat dalam larutan bergantung pada konsentrasi dan volumenya.
Satuan konsentrasi yang umum digunakan adalah Molar (M). Kemolaran suatu zat
adalah jumlah mol zat dalam tiap liter larutan. (Syukri,S. 1999. Kimia Dasar 1).
Definisi lain dari molaritas (konsentrasi molar) adalah susunan atau konsentrasi
larutan dinyatakan dengan jumlah mol zat terlarut per liter larutan dapat dituliskan
sebagai :
Konsentrasi molar (M) =

jumlah mol terlarut (n)


jumlah liter larutan (v)

Prosedur yang sering digunakan di dalam laboratorium, dimana larutan yang


disimpan konsentrasinya sangat tinggi , jika dibutuhkan dapat dibuat larutan yang
lebih encer dengan konsenterasi yang sesuai dapat dilakukan dengan pengenceran
dengan menggunakan akuades. Maka :

n = M . V.
Mi . Vi = Mf . Vf

Dimana i adalah keadaan awal dan f adalah keadaan akhir. (Syukri. S, 1999, Kimia
Dasar 1)
Terdapat banyak metode untuk menentukan persentase bobot dari unsur-unsur
yang berbeda dalam suatu senyawa. Metode ini beraneka ragam tergantung pada
macam senyawa dan unsur yang menyusunnya. Dua metode klasik adalah analisis
pengendapan dan analisis pembakaran.
Metoda analisis pengedapan dapat digunakan bila terbebtuk senyawa yang
sedikit sekali larut misalnya suatu senyawa baru mengandung perak maka dapatlah
dilarutkan, contoh senyawa setelah ditimbang dan kemudian ditambahkan HCl akan
terbentuk perak klorida, AgCl, yang tidak larut, disaring kemudian ditimbang dengan
hati-hati dengan neraca analitis. Persentase perak dihitung sebagai berikut:
Bobot Ag =

Bobot molar Ag
Bobot molar
AgCl

Bobot molar Ag
% Ag = Bobot molar
AgCl

bobot AgCl

100

Metoda analisis pembakaran, digunakan secara meluas jika suatu zat


mengandung karbon dan hidrogen , contoh senyawa itu, setelah ditimbang dapat
dibakar dalam suatu tabung tertutup dalam suatu aliran oksigen, untuk menghasilkan
karbon dioksida dan air. Probuk pembakaran dikeluarkan dari tabung itu dengan

aliran oksigen ke dalam dua bahan penyerap , satu penyerap uap air lainnya menyerap
karbon dioksida. (Keenan, 1984, Kimia Untuk Universitas).
Dengan mengetahui beberapa sifat-jenis reaksi , kita dapat menerangkan
reaksi-reaksi kimia lebih mudah, dan mungkin reaksi itu menjadi lebih mudah untuk
dipahami. Jenis-jenis reaksi kimia antara lain:
Reaksi pembakaran
Reaksi pembakaran adalah suatu reaksi dimana unsur atau senyawa bergabung
dengan oksigen membentuk senyawa yang mengandung oksigen sederhana, misalnya
CO2, H2O dan SO2. reaksi propana (C3H8) dengan oksigen merupakan contoh dari
reaksi ini.
Reaksi penggabungan (sintesis)
Reaksi penggabungan (sintesis) adalah suatu reaksi dimana sebuah zat yang lebih
kompleks terbentuk dari dua atau lebih zat yang lebih sederhana (baik unsur maupun
senyawa). reaksi pembentukan methanol (CH3OH) dari CO dan H2 merupakan salah
satu contoh dari reaksi ini.
Reaksi penguraian
Reaksi penguraian adalah suatu reaksi dimana suatu zat dipecah menjadi zat zat
yang lebih sederhana. Contohnya adalah reaksi penguraian perak oksida (Ag2O)
menjadi unsur Ag dan gas O2.
Reaksi penggantian
Reaksi penggantian adalah suatu reaksi dimana sebuah unsur memindahkan unsur
lain dalam suatu senyawa. Contohnya dalam reaksi Cu memindahkan Ag + dari larutan
AgNO3 dalam air.
Reaksinya : Cu + 2Ag+

Cu2+ + 2Ag

Reaksi metatesis atau reaksi perpindahan ganda


Reaksi metatesis atau reaksi perpindahan ganda yaitu reaksi dimana terjadi
pertukaran antara dua pereaksi. Contohnya dalam reaksi antara AgNO3 dan NaCl :

AgNO3 + NaCl

AgCl + NaNO3 (Ralph Petrucci, 1987, Kimia

Dasar).
Reaksi kimia
Reaksi kimia adalah perubahan pereaksi menjadi hasil reaksi. Suatu reaksi tidak
boleh melanggar hukum kekekalan massa artinya massa jenis dan jumlah atom
sebelum dan sesudah reaksi harus sama. Contoh:
2H

O2

2H2O

Angka-angka di depan unsur dan senyawa di atas disebut koefisien

reaksi.

Sedangkan angka 1 tidak dituliskan. Pekerjaan seperti ini disebut penyetaraan reaksi.
Penyeteraan reaksi merupakan hal penting karena perhitungan kimia dapat
diselesaikan jika persamaannya benar.
(Syukri. S, 1999, Kimia Dasar 1)

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1.

Alat dan Bahan


3.1.1. Alat
-

Gelas Kimia 100 ml

Termometer

Gelas ukur 100 ml

Pipet

3.1.2. Bahan

3.2.

Larutan NaOH

Larutan H2SO4

Tissue

Aquades

Prosedur Percobaan
3.2.1. Stoikiometri Sistem NaOH H2SO4.
-

Disiapkan dua buah gelas kimia 100 ml

Pada gelas kimia pertama dimasukkan larutan NaOH sebanyak 2,5


ml, kemudian pada gelas kimia dimasukkan larutan H 2SO4 sebanyak
12,5 ml.

Di ukur suhu campuran

Pada gelas kimia pertama dimasukkan larutan NaOH sebanyak 5 ml,


kemudian pada gelas kimia dimasukkan larutan H2SO4 sebanyak 10
ml.

Di ukur suhu campuran

Pada gelas kimia pertama dimasukkan larutan NaOH sebanyak 7,5


ml, kemudian pada gelas kimia dimasukkan larutan H 2SO4 sebanyak
7,5 ml.

Di ukur suhu campuran

Pada gelas kimia pertama dimasukkan larutan NaOH sebanyak 10 ml,


kemudian pada gelas kimia dimasukkan larutan H2SO4 sebanyak 5 ml.

Di ukur suhu campuran

Pada gelas kimia pertama dimasukkan larutan NaOH sebanyak 12,5


ml, kemudian pada gelas kimia dimasukkan larutan H 2SO4 sebanyak
2,5 ml.

Di ukur suhu campuran

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
4.1.1. Stoikiometri Sistem NaOH- H2SO4 0,5 M
N

NaOH

H2SO4

Suhu Campuran

o
1.

2,5 ml

12,5 ml

29C

2.

5 ml

10 ml

29C

3.

7,5 ml

7,5 ml

31C

4.

10 ml

5 ml

32C

5.

12,5 ml

2,5 ml

29,5C

4.2. Reaksi
4.2.1.

Reaksi

NaOH + H2SO4

Na2SO4

H2O

2 NaOH + H2SO4

Na2SO4

2H2O

4.3. Perhitungan

Untuk 2,5 ml NaOH 0,5 M dan 12,5 ml H2SO4 0,5 M

4.3.1.

Diketahui : 2,5 ml NaOH


12,5 ml H2SO4
0,5 M
Ditanya : V sisa?
Jawab :
-

Mol NaOH =

2,5 x 0,5

= 1,25 mmol

Mol H2SO4 =

12,5 x 0,5

= 6,25 mmol

2 NaOH + H2SO4

Na2SO4 + 2 H2O

1,25

6,25

1,25

0,625

0,625

1,25

5,625

0,625

1,25

V H2SO4 =

5,625 / 0,5 M = 11,25 mL

Untuk 5 ml NaOH 0,5 M dan 10 ml H2SO4 0,5 M

4.3.2.

Diketahui : 5 ml NaOH
10 ml H2SO4
0,5 M
Ditanya : V sisa?
Jawab :
-

Mol NaOH =

5 x 0,5

= 2,5 mmol

Mol H2SO4 =

10 x 0,5

=5

2 NaOH + H2SO4

Na2SO4 + 2 H2O

2,5

2,5

1,25

1,25

3,75

1,25

V H2SO4 =

mmol

3,75 / 0,5 M = 7,5 mL

2,5
2,5

Untuk 7,5 ml NaOH 0,5 M dan 7,5 ml H2SO4 0,5 M

4.3.3.

Diketahui : 7,5 ml NaOH


7,5 ml H2SO4
0,5 M
Ditanya : V sisa?
Jawab :
-

Mol NaOH =

7,5 x 0,5

= 3,75 mmol

Mol H2SO4 =

7,5 x 0,5

= 3,75 mmol

2 NaOH + H2SO4

Na2SO4 + 2 H2O

3,75

3,75

3,75

1,875

1,875

3,75

2,5

1,875

1,875

3,75

V H2SO4 =

1,875 / 0,5 M = 2,5 mL

Untuk 10 ml NaOH 0,5 M dan 5 ml H2SO4 0,5 M

4.3.4.

Diketahui : 10 ml NaOH
5 ml H2SO4
0,5 M
Ditanya : V sisa?
Jawab :
-

Mol NaOH =

10 x 0,5

=5

Mol H2SO4 =

5 x 0,5

= 2,5 mmol

2 NaOH + H2SO4

mmol

Na2SO4 + 2 H2O

2,5

2,5

2,5

2,5

Tidak ada volume sisa, karena semua zat habis bereaksi.


Untuk 12,5 ml NaOH 0,5 M dan 2,5 ml H2SO4 0,5 M

4.3.5.

Diketahui : 12,5 ml NaOH


2,5 ml H2SO4
0,5 M
Ditanya : V sisa?
Jawab :
-

Mol NaOH =

12,5 x 0,5

= 6,25 mmol

Mol H2SO4 =

2,5 x 0,5

= 1,25 mmol

2 NaOH + H2SO4

Na2SO4 + 2 H2O

6,25

1,25

6,25

3,125

3,125

6,25

1,875

3,125

6,25

V H2SO4 =

1,875 / 0,5 M = 3,65 mL

Grafik hasil Campuran NaOH + H2SO4


32.5
32
31.5
31
30.5
30
29.5
29 29
28.5
28
27.5

32
31

29
Suhu Campuran

4.4. Pembahasan
Stoikiometri merupakan perhitungan kimia yang menyangkut hubungan
kuantitatif zat yang terlibat dalam reaksi kimia. Dalam percobaan ini reaksi non
stoikiometri adalah reaksi zat pereaksinya tidak habis bereaksi membentuk hasil
reaksi. Reaksi stoikiometri adalah reaksi yang pereaksi-pereaksinya habis bereaksi
membentuk produk atau hasil reaksi.
Pada saat 2,5 ml NaOH 0,5M + 12,5 ml H 2SO4 0,5M dicampurkan,
menghasilkan suhu campuran sebesar 29C, 5ml NaOH 0,5M + 10 ml H2SO4 0,5M
dicampurkan, menghasilkan suhu campuran sebesar 29C, dan 7,5 ml NaOH 0,5M +

29.5

7,5 ml H2SO4 0,5M dicampurkan, menghasilkan suhu campuran sebesar 30C. Pada
saat 10 ml NaOH 0,5M + 5 ml H2SO40,5M dicampurkan, menghasilkan suhu
campuran sebesar 31C, 12,5 ml NaOH 0,5M + 2,5 ml H 2SO4 0,5M dicampurkan,
menghasilkan suhu campuran sebesar 29C.
Titik maksimun adalah titik dimana tercapainya suhu tertinggi yang dicapai
pada reaksi kimia dalam perhitungan stoikiometri. Titik minimum adalah titik dimana
tercapainya suhu terendah yang dicapai ketika terjadi reaksi kimia dalam perhitungan
stoikiometri. Dalam praktikum yang kami lakukan kami mendapatkan data bahwa
titik maksimum berada pada suhu 32C hasil dari campuran NaOH 12,5 ml dengan
H2SO4 2,5 ml, hal ini terjadi dikarenakan NaOH dan H 2SO4 habis bereaksi. Adapun
titik minimum berada pada suhu 29 C dari campuran NaOH 12,5 ml dan H 2SO4 2,5
ml, hal ini dikarenakan Volume sisa dari H2SO4 paling banyak dibanding dengan yang
lain.
Titik stoikiometri merupakan indikasi efensiasi proses dan merupakan hal
yang sangat penting dalam menentukan kesetimbangan nilai reaksi itu. Reaksi
pembatas adalah reaksi yang habis dulu karena zat-zat yang direaksikan tidak
ekuivalen.
Pada hasil percobaan stoikiometri sistem NaOH dan H 2SO4 ada yang terjadi
reaksi nonstoikiometri dan reaksi stoikiometri, reaksi yang menunjukkan reaksi non
stoikiometri adalah percobaan 2,5 ml NaOH dan 12,5ml H 2SO4, dan 5 ml NaOH dan
10 ml H2SO4, 7,5 NaOH dan 7,5 H 2SO4, 12,5 NaOH dan 2,5 H2SO4 karena
menghasilkan volume sisa, sedangkan reaksi stoikiometri adalah percobaan 12,5
NaOH dan 2,5 H2SO4 karena keduanya habis bereaksi.
Dasar praktikum ini adalah metode variasi kontinue. Dalam metode ini
dilakukan serangkaian pengamatan yang kuantitas molar totalnya sama tetapi masingmasing molar pereaksinya berubah-ubah(bervariasi). Salah satu sifat fisik tertentu
dipilih untuk diperiksa, seperti misalnya massa, volume, suhu, atau daya serap. Oleh
karena itu kuantitas pereaksinya berlainan, maka perubahan harga sifat fisika dari

sifat ini dapat digunakan untuk meramalkan stoikiometri sistem. Bila digambarkan
grafik antara sifat fisika yang diukur terhadap kuantitas pereaksinya. Maka akan
diperoleh titik maksimum atau titik minimum sesuai dengan titik stoikiometri sistem
yaitu menyatakan perbandingan pereaksi-pereaksinya.
Dalam praktikum ini terdapat beberapa faktor kesalahan yang membuat hasil
percobaan kurang akurat yaitu, ketika pengukuran suhu menggunakan termometer,
termometer mengenai dinding gelas kimia.
Reaksi eksoterm yaitu reaksi yang membebaskan kalor, kalor mengalir dari
sistem ke lingkungan (terjadi penurunan entalpi), entalpi produk lebih kecil daripada
entalpi pereaksi. Oleh karena itu, perubahan entalpinya bertanda negatif. Pada reaksi
eksoterm umumnya suhu sistem menjadi naik, adanya kenaikan suhu inilah yang
menyebabkan sistem melepas kalor ke lingkungan. Reaksi eksoterm: DH = HP - HR <
0 atau DH = (-).
Reaksi Endoterm yaitu reaksi yang memerlukan kalor, kalor mengalir dari
lingkungan ke sistem (terjadi kenaikan entalpi), entalpi produk lebih besar daripada
entalpi pereaksi. Oleh karena itu, perubahan entalpinya bertanda positif. Pada reaksi
endoterm umumnya suhu sistem terjadi penurunan, adanya penurunan suhu inilah
yang menyebabkan sistem menyerap kalor dari lingkungan. Reaksi endoterm: DH =
HP - HR > 0 atau DH = (+).
Dalam praktikum yang kami lakukan, ternyata terbukti antara percobaan yang
kami lakukkan sesuasi dengan teori yang ada.

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
-

Reaksi stoikiometri adalah reaksi yang pereaksi pembatasnya habis bereaksi.


Reaksi non stoikiometri adalah reaksi yang pereaksi pembatasnya masih

bersisa dan tidak habis bereaksi.


Hukum kekekalan masa, hukum perbandingan tetap dan hokum

perbandingan berganda adalah salah satu rumus stoikiometri.


Reaksi pembatas adalah reaktan yang habis bereaksi dan tidak bersisa.
reaksi sisa adalah reaktan yang bila direaksikan masih bersisa.

Titik maksimun adalah titik dimana tercapainya suhu tertinggi yang dicapai

pada reaksi kimia dalam perhitungan stoikiometri.


Titik minimum adalah titik dimana tercapainya suhu terendah yang dicapai

ketika terjadi reaksi kimia dalam perhitungan stoikiometri.


Reaksi eksoterm yaitu reaksi yang membebaskan kalor, kalor mengalir dari
sistem ke lingkungan (terjadi penurunan entalpi), entalpi produk lebih kecil

daripada entalpi pereaksi.


Reaksi Endoterm yaitu reaksi yang memerlukan kalor, kalor mengalir dari
lingkungan ke sistem (terjadi kenaikan entalpi), entalpi produk lebih besar
daripada entalpi pereaksi.

5.2 Saran
-

Saat asistensi sebaiknya asisten datang tepat waktu.


Sebaiknya saat praktikum sebelum mencampurkan kedua larutan, dihitung
terlebih dahulu, suhu masing-masing larutan.

DAFTAR PUSTAKA
Keenan. 1984. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga
Petrucci, Ralph. 1987. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga
S, Syukri. 1999. Kimia Dasar 1. Bandung : ITB

Anda mungkin juga menyukai