Anda di halaman 1dari 10

Pendarahan pada Kehamilan Muda Akibat Abortus

Anesty Claresta (Nim: 102011223)


Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana.
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510. A_resta21@yahoo.com

Pendahuluan
Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup diluar kandungan. Sampai saat ini janin yang terkecil, yang dilaporkan dapat
hidup diluar kandungan, mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. Akan tetapi, karena
jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat badan dibawah 500 gram dapat hidup terus,
maka abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500
gram atau kurang dari 20 minggu.1
Diperkirakan di seluruh dunia abortus terjadi pada sekitar 42 juta orang, 20 juta orang
di antaranya melakukan aborsi karena terapeutik dan 22 juta orang lagi melakukan aborsi
karena kehamilan tidak diinginkan. Di antara orang yang melakukan aborsi karena kehamilan
yang tidak diinginkan mengalami kematian karena komplikasi yang serius sebanyak 13 %.
Skenario
Ny. B dan suaminya adalah pasangan yang baru menikah 6 bulan lalu. Suatu hari
ketika suaminya sedang bekerja, perut Ny. B mules dan keluar darah dari kemaluannya.
Sebenarnya ia sudah terlambat bulan tetapi belum memberitahu suaminya karena akan
memberi surprise pada suami tercinta. Haid terakhir tanggal 1 April 2012. HCG (+).
Pada pemeriksaan didapat TD 110/70, N 72/m, P 22/m. dari vagina tampak bercak darah.
Anamnesis

Menanyakan identitas ibu (nama pasien, nama suami, alamat, agama, pendidikan

terakhir, pekerjaan, suku bangsa)


Menyakan keluhan utama, sudah berapa lama dirasakan, dan adakah hubungannya
dengan kehamilannya saat ini, apakah pada kehamilan terdahulu (jika sudah pernah

melahirkan sebelumnya) keluhan ini dirasakan juga.


Sekarang sudah hamil berapa bulan? Sudah kehamilan yang ke berapa? Adakah
komplikasi selama kehamilan terdahulu? Pernah keguguran atau tidak?

Apakah ada keluhan lain seperti demam, hemoroid, kelelahan, pusing, cepat lelah,

nafsu makan berkurang, dll?


Apakah pernah ada pendarahan sebelumnya? Bila ada, apakah disertai jaringan?
Apakah memiliki penyakit kronis seperti gagal ginjal kronis, SLE, dll?
Bagaimana kebiasaan makan sehari-hari? Apakah mengonsumsi makanan dengan gizi

seimbang?
Apakah pernah mengonsumsi obat-obatan selama kehamilan? Obat apa?
Apakah pernah ada trauma selama kehamilan
Apakah ada keluarga yang menderita penyakit hemolitik?2

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum pasien, kesadaran dan tanda-tanda vital.


Mengukur tinggi badan dan berat badan pasien.
Konjungtiva anemis
Pemeriksaan obstetrik dan ginekologik: maneuver Leopold, denyut jantung janin, dan
inspeksi ostium serviks.3

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
Darah lengkap

Kadar haemoglobih rendah akibat anemia haemorrhagik.

LED dan jumlah leukosit meningkat tanpa adanya infeksi.

Tes kehamilan
Penurunan atau level plasma yang rendah dari -hCG adalah prediktif. terjadinya
kehamilan abnormal (blighted ovum, abortus spontan atau kehamilan ektopik).4
Ultrasonografi
USG transvaginal dapat digunakan untuk deteksi kehamilan 4 5 minggu. Detik
jantung janin terlihat pada kehamilan dengan CRL > 5 mm (usia kehamilan 5 6 minggu).
Dengan melakukan dan menginterpretasi secara cermat, pemeriksaan USG dapat digunakan
untuk menentukan apakah kehamilan viabel atau non-viabel. Pada abortus imimnen, mungkin
terlihat adanya kantung kehamilan dan embrio yang normal.4
Prognosis buruk bila dijumpai adanya :

Kantung kehamilan yang besar dengan dinding tidak beraturan dan tidak adanya kutub
janin.
2

Perdarahan retrochorionic yang luas ( > 25% ukuran kantung kehamilan).

Frekuensi DJJ yang perlahan ( < 85 dpm ).

Pada abortus inkompletus, kantung kehamilan umumnya pipih dan iregular serta
terlihat adanya jaringan plasenta sebagai masa yang echogenik dalam cavum uteri.

Pada abortus kompletus, endometrium nampak saling mendekat tanpa visualisasi


adanya hasil konsepsi.

Pada missed abortion, terlihat adanya embrio atau janin tanpa ada detik jantung janin.

Pada blighted ovum, terlihat adanya kantung kehamilan abnormal tanpa yolk sac atau
embrio.5

Working diagnosis : Abortus


Definisi

: Keluarnya hasil pembuahan sebelum mampu bertahan hidup.4

Klasifikasi Aborsi :
1. Abortus spontan (terjadi dengan sendiri, keguguran) merupakan 20% dari semua
abortus. Abortus spontan terdiri dari 7 macam, diantaranya :
a. Abortus imminens (keguguran mengancam) adalah Abortus ini baru mengancam
dan ada harapan untuk mempertahankan.
b. Abortus incipiens (keguguran berlangsung) adalah Abortus sudah berlangsung
dan tidak dapat dicegah lagi.
c. Abortus incomplete (keguguran tidak lengkap) adalah Sebagian dari buah
kehamilan telah dilahirkan tetapi sebagian (biasanya jaringan plasenta) masih
tertinggal di rahim.
d. Abortus completus (keguguran lengkap) adalah Seluruh buah kehamilan telah
dilahirkan lengkap. Kontraksi rahim dan perdarahan mereda setelah hasil konsepsi
keluar.
e. Missed abortion (keguguran tertunda) adalah Missed abortion ialah keadaan
dimana janin telah mati sebelum minggu ke 22 tetapi tertahan di dalam rahim
selama 2 bulan atau lebih setelah janin mati.
f. Abortus habitualis (keguguran berulang ulang) adalah abortus yang telah
berulang dan berturut turut terjadi sekurang kurangnya 3 kali berturut turut.

g. Abortus septik adalah Abortus incompletus atau abortus incipiens yang disertai
infeksi.
2. Abortus provocatus (disengaja, digugurkan) merupakan 80% dari semua abortus.
Abortus provocatus terdiri dari 2 macam, diantaranya :
a. Abortus provocatus artificialis atau abortus therapeutics adalah Pengguguran
kehamilan dengan alat alat dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan
membawa maut bagi ibu, misal ibu berpenyakit berat. Indikasi pada ibu dengan
penyakit jantung (rheuma), hypertensi essensialis, carcinoma cerviks.
b. Abortus provocatus criminalis Adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan
medis yang syah dan dilarang oleh hukum.5
Differential Diagnosis
Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik adalah implantasi ovum yang sudah dibuahi di luar kavum uteri.
Kehamilan ektopik yang tidak ruptur ditandai oleh amnore singkat, nyeri tekan adneksa
unilateral dan perasaan penuh. Rasa nyeri tajam unilateral pada abdomen bagian bawah atau
pelvis atau keduanya (mungkin juga nyeri punggung) setelah amnore singkat dan perdarahan
tidak teratur adalah keluhan-keluhan umum pada kehamilan ektopik akut (yang sedang ruptur
atau baru saja ruptur). Kolaps dan syok akibat perdarahan seringkali dipicu oleh pemeriksaan
vagina, terjadi pada paling sedikit 10% kasus . Riwayat menstruasi abnormal atau infertilitas
dapat ditemui pada sekitar 60% pasien ini.
Kehamilan ektopik kronis (sekarang jarang). Rasa tidak nyaman pada pelvis
bervariasi. Warna kebiruan pada atau sekitar umbilikus (tanda hematoperitoneum Cullen)
dapat muncul pada kasus-kasus yan terabaikan. Pada saat ini, kehamilan biasanya sudah
berakhir tetapi rasa nyeri menetap dan terdapat infeksi.6
Mola Hidatidosa
Mola hidatidosa adalah plasenta dengan vili korialis yang berkembang tidak sempurna
dengan gambaran adanya pembesaran, edema, dan vili vesikuler sehingga menunjukan
berbagai ukuran trofoblas profileratif tidak normal. Biasanya terjadi amenorea 1 sampai 2
bulan. Mungkin terdapat mual dan muntah yang signifikan. Akhirnya terjadi perdarahan
uterus pada hampir semua kasus, yang mungkin bervariasi dari sekedar bercak hingga
perdarahan hebat. Perdarahan dapat berawal tepat sebelum abortus mola spontan atau yang
lebih sering, berlangsung secara intermiten selama beberapa minggu sampai bulan. Pada mola
tahap lanjut, mungkin terjadi perdarahan uterus yang tersamar disertai anemia defisiensi besi
derajat sedang.6
4

Epidemiologi
Rata-rata terjadi 114 kasus abortus perjam. Sebagian besar studi menyatakan kejadian
abortus spontan antara 15-20% dari semua kehamilan. Kalau dikaji lebih jauh abortus
sebenarnya bisa mendekati 50%. Hal ini dikarenakan tingginya angka chemical pregnancy
loss yang tidak bisa diketahui pada 2-4 minggu setelah konsepsi.7
WHO memperkirakan diseluruh dunia, dari 46 juta kelahiran pertahun terdapat 20 juta
kejadian abortus. Sekitar 13% dari jumlah total kematian ibu diseluruh dunia diakibatkan oleh
komplikasi abortus. 800 wanita diantaranya meninggal karena komplikasi abortus dan
sekurangnya 95% (19 dari setiap 20 abortus) diantaranya terjadi di negara berkembang. Di
Amerika Serikat angka kejadian abortus spontan berkisar 90-20% dari kehamilan.
Etiologi
Kelainan telur
Kelainan telur menyebabkan kelainan pertumbuhan yang sedinikian rupa
hingga janin tidak mungkin hidup terus, misalnya karena faktor endogen seperti
kelainan chromosom (trisomi dan polyploidi).
Penyakit ibu
Berbagai penyakit ibu dapat menimbulkan abortus, yaitu:
a. Infeksi akut yang berat: pneumonia, thypus dapat mneyebabkan abortus dan
partus prematurus.
b. Kelainan endokrin, misalnya kekurangan progesteron atau disfungsi kelenjar
gondok.
c. Trauma, misalnya laparatomi atau kecelakaan langsung pada ibu.
d. Gizi ibu yang kurang baik.
e. Kelainan alat kandungan:

Hypoplasia uteri.

Tumor uterus

Cerviks yang pendek

Retroflexio uteri incarcerata

Kelainan endometrium

f. Faktor psikologis ibu.


Faktor suami
5

Terdapat kelainan bentuk anomali kromosom pada kedua orang tua serta
faktor imunologik yang dapat memungkinkan hospes (ibu) mempertahankan
produk asing secara antigenetik (janin) tanpa terjadi penolakan.
Faktor lingkungan
Paparan dari lingkungan seperti kebiasaan merokok, minum minuman
beralkohol serta paparan faktor eksogen seperti virus, radiasi, zat kimia,
memperbesar peluang terjadinya abortus.5,6
Patofisiologi
Kebanyakan aborus spontan terjadi segera setelah kematian janin yang kemudian
diikuti sengan perarahan kedalam desidua basalis, lalu terjadi perubahan-perubahan nekrotik
pada daerah implantasi,infiltrasi sel-sel peradangan akut, dan akhirnya perdarahan
pervaginam. Buah kehamilan terlepas seluruhnya atau sebagian yang diinterpretasikan
sebagai benda asing dalam rongga rahim. Hal ini menyebabkan kontraksi uterus dimulai, dan
segera setelah itu terjadi perdorongan bendaasing keluar dari rongga rahim (ekspulsi). Perlu
ditekannkan bahwa abortus spontan, kematian embrio nbiasanya terjadi paling lama 2 minggu
sebelum perdarahan. Oleh karena itu mempertahankan janin tidak layak dilakukan jika terjadi
perdarahn banyak karena abortus tidak dapat dihindari.4
Sebelum minggu ke 10 hasil konsepsi biasanya dikeluarkan dengan lengkap. Hal ini
disebabkan sebelum minggu ke-10 villi korialis belum menanamkan diri dengan erat kedalam
desidua hingga telur mudah terlepas keseluruhannya. Antara minggu ke10-12 korion tumbuh
dengan cepat dan hubungan korialis dengan desidua makin erat hingga mulai saat tersebut
sering sisa-sisa korion (plasenta) tertinggal kalau terjadi abortus.5
Gejala Klinis
1. Abortus immines (keguguran mengancam): abortus ini baru mengancam dan masih
ada harapan untuk mempertahankannya, ostium uteri tertutup uterus sesuai dengan
kehamilan
2. Abortus insipien (keguguran berlangsung ) abortus ini sedang berlangsung dan tidak
dapat dicegah lagi, ostium terbuka, teraba ketuban, berlangsung hanya beberapa jam
saja.

3. Abortus inkompletus (keguguran tidak lengkap) sebagian dari buah kehamilan telah
dilahirkan, tetapi sebagian (biasanya jaringan plasenta) masih tertinggal didalam
rahim, ostium terbuka teraba jaringan
4. Abortus kompletus (keguguran lengkap) seluruh buah kehamilan elah dilahirkan
dengan lengkap, ostium tertutup uterus lebih kecil dari umur kehamilan atau ostium
terbuka kavum uteri kosong.
5. Abortus tertunda (missed abortion) keadaan dimana jani telah mati sebelm minggu
ke-20, tetapi tertahan didalam rahim selama beberapa minggu setelah janin mati.
Batasan ini berbeda dengan batasan ultrasonografi.
6. Abortus habitualis (keguguran berulang) abortus yang telah terulang dan berturut-turut
terjadi sekurang-kurangnya 3 kali berturut-turut.6
Penatalaksanaan
Abortus imminens
Karena ada harapan bahwa kehamilan dapat dipertahankan, maka pasien:
a. Istirahat rebah (tidak usah melebihi 48 jam).
b. Diberi sedativa misal luminal, codein, morphin.
c. Progesteron 10 mg sehari untuk terapi substitusi dan mengurangi kerentanan otototot rahim (misal gestanon).
d. Dilarang coitus sampai 2 minggu.
Abortus incipiens
Kemungkinan terjadi abortus sangat besar sehingga pasien:
a. Mempercepat pengosongan rahim dengan oxytocin 2 satuan tiap jam sebnayak
6 kali.
b. Mengurangi nyeri dengan sedativa.
c. Jika ptocin tidak berhasil dilakukan curetage asal pembukaan cukup besar.
Abortus incompletus
Harus segera curetage atau secara digital untuk mengehntikan perdarahan.

Abortus septik
a. Evakuasi uterus dan antibiotik parenteral (sebelum, selama, dan sesudah
pembersihan jaringan nekrosis dengan kuretase.
b. Terapi suportif : infus cairan, pemasangan kateter urin, pemberian tetanus toksoid
7

c. Pemeriksaan Gram, kultur bakteri.


Missed abortion
a. Diutamakan penyelesaian missed abortion secara lebih aktif untuk mencegah
perdarahan dan sepsis dengan oxytocin dan antibiotika. Segera setelah kematian
janin dipastikan, segera beri pitocin 10 satuan dalam 500 cc glucose.
b. Untuk merangsang dilatasis erviks diberi laminaria stift.7
Komplikasi
Komplikasi yanag berbahaya pada abortus ialah perdarahan, perforasi, infeksi dan syok.5
1. Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan
jka perlu pemberian tranfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila
pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
2. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamati dengan teliti. Jika ada tanda
bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi,
penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi. Perforasi uterus pada abortus yang
dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persoalaan gawat karena perlukaan uterus
biasanya luas, mungkin pula terjadi perlukaan kandung kemih atau usus. Degan adanya
dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk
menentukan luasnya cidera, untuk selanjutnya mengambil tindakan seperlunya guna
mengatasi komplikasi.
3. Infeksi
Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi biasanya
ditemukan pada abortus inkomletus dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan
tanpa memperhatikan asepsis. Umumnya pada abortus infeksius infeksi terbatas pada desidua.
4. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi
berat (syok endoseptik).
8

Prognosis
Pada abortus iminens, janin biasanya masih dapat diselamatkan, bergantung pada
jumlah pendarahan yang dialami sang ibu. Prognosis ibu pada abortus iminens juga baik.
Pada abortus insipien, inkomplit, dan komplit, prognosis sang ibu baik,
Pencegahan dan Edukasi
Sebagian abortus dapat dicegah dengan mengobati defisiensi atau gangguan pada ibu
sebelum atau selama kehamilan. Misal, diabetes melitus dan hipertensi. Penutupan serviks
yang inkompeten akan mencegah abortus tertentu. Teknik perbaikan inkompetensi serviks
yang umum, pemasangan cincin serviks, menggunakan benang jahitan atau mersilene yang
tidak dapat diserap atau benang pita atau tali yang sebanding, dibawah mukosa dan fasia
periserviks pada sambungan servikouteri. Teknik ini dapat dikerjakan selama kehamilan unuk
memperbaiki inkompetensi serviks atau dikerjakan antara dua kehamilan. Dokter kemudian
harus memutuskan apakah akan melepas ikatan tersebut saat persalinan sehingga
memungkinkan persalinan per vaginam atau melakukan sectio cesarean ketika mendekati
cukup bulan.1
Anjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan awal kehamilan. Perlindungan terhadap
paparan zat-zat kimia/lingkungan yang berbahaya bagi kehamilan. Edukasi untuk mencegah
terjadinya infeksi yang dapat membahayakan kehamilan. Kontrol kondisi seperti hipertensi
dan diabetes melitus juga diperlukan.
Kesimpulan
Masa kehamilan terpenting adalah pada trisemster I, karena pada saat ini fetus masih
sangan rentan oleh karena fetus dalam fase pertumbuhan dan perkembangan organ. Abortus
sebagai pengakhiran kehamilan sebelum masa gestasi 20 minggu atau sebelum janin
mencapai berat 500 gram. Kelainan dalam kehamilan ada beberapa macam yaitu abortus
spontan, abortus buatan, dan terapeutik. Biasanya abortus spontan dikarenakan kelainan
kromosom, infeksi pada ibu hamil, kelaianan endokrin pada ibu atau bisa saja oleh faktor dari
luar seperti terjadinya trauma.
Daftar Pustaka
1. Cunningham FG, et al. Williams obstetrics. Edisi ke-23.Jakarta: EGC; 2010.h.226-46.
9

2. Sastrawinata S, Martaadisoebrata D, Wirakusumah FF. Ilmu kesehatan reproduksi obstetri


patologi. Edisi 2. Jakarta: EGC; 3004.h.1-9.
3. Bickley LS, Szilagyi PG. Bates guide to physical examination and history taking. Edisi
ke-11. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins; 2013.h.893-915.
4. Prawirohardjo S. Ilmu kebidanan. Edisi ke-4. Jakarta; Bina pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2010.h.774-80.
5. Manuaba IBG. Penuntun kepaniteraan klinik obstetri & ginekologi. Edisi ke-2. Jakarta:
EGC; 2004.h.40-3.
6. Benson RC, Martin L, Pernnoll. Buku saku obstetri dan ginekologi. Edisi 9. Jakarta:
EGC;2008.h. 294-305.
7. Morgan G, Hamilton C. Obstetri dan ginekologi. Edisi 2. Jakarta: EGC; 2009.h. 303.

10