Anda di halaman 1dari 17

Hukum Pidana

1. Jelaskan oleh saudara apa yang menjadi ruang lingkup hukum pidana, dan hukum pidana
mengatur apa saja, serta diberlakukan untuk siapa saja?
2. Mengapa hukum pidana dikategorikan sebagai hukum public, dan dalam hal apa saja
hukum pidana mengatur mengenai persoalan privasi?
3. Jelaskan oleh saudara pengertian hukum pidana menurut pandangan minoritis dan
dualistis?
4. Jelaskan oleh saudara mengapa hukum pidana mempunyai fungsi sebagai Ultimum
Remedium?
5. Jelaskan oleh saudara masalah-masalah yang diatur dalam Pasal I, Pasal V, Pasal VI, dan
Pasal VIII, serta Pasal XVIII, disertai pandangan ahli (Doktrin) dan atau teori?
6. Jelaskan oleh saudara kedudukan KUHP sebagai sumber hukum pidana dalam hukum
pidana nasional dalam kerangka pembaharuan hukum pidana?
7. Kemukakan pendapat saudara apa yang menjadi batas-batas, problematic implementasi
berlakunya hukum pidana, baik menurut waktu (tempus) maupun menurut tempat
(Locus), disertai pula teori, doktrin dan contoh?
8. Jelaskan oleh saudara mengenai tindak pidana:
a. Pengertian, pandangan, Doktrin;
b. Unsur-unsur dan penerapannya;
c. Unsur yang selalu melekat dalam suatu tindak pidana, disertai ajaran/prinsip,
teori, doktrin dan yurisprudensi.
9. Jelaskan oleh saudara konsep ajaran melawan hukum dan bagaimana ajaran melawan
hukum materil dalam praktik?
10. Jelaskan oleh saudara teori-teori kausalitas dalam praktik dan apa permasalahanpermasalahannya?
11. Uraikan jawaban saudara mengenai subjek tindak pidana menurut KUHP, diluar KUHP
dan konsep Rancangan KUHP?
12. Jelaskan oleh saudara mengenai pertanggungjawaban pidana :
a. Unsur-unsur dan konsekwensinya;
b. Bentuk-bentuk kesalahan termasuk teori, doktrin dan permasalahannya.
13. Jelaskan oleh saudara mengenai alasan pembenar dan alasan pemaaf dan apa kaitannta
dengan pidana dan pemidanaan?
14. Jelaskan oleh saudara tujuan, teori pidana dan pemidanaan?
15. Berikan komentar saudara kasus dilihat dari perspektif hukum pidana?

Jawaban :

1. Hukum Pidana mempunyai ruang lingkup yaitu apa yang disebut dengan peristiwa pidana
atau delik ataupun tindak pidana, dan Sikap tindak yang dapat dihukum/dikenai sanksi .
Menurut Simons peristiwa pidana ialah perbuatan salah dan melawan hukum yang
diancam pidana dan dilakukan seseorang yang mampu bertanggung jawab. Hukum
pidana merupakan hukum publik yang mengatur tentang perbuatan-perbutan yang
dilarang oleh undang-undang beserta ancaman hukuman yang dapat dijatuhkan terhadap
pelanggarnya. Hukum pidana sekalipun memberikan sanksi hukuman yang bersifat
pembatasan maupun kenestapaan bagi orang yang melanggarnya, namun pada sisi lain
penegakan hukum pidana bertujuan untuk menegakkan nilai kemanusiaan (hak asasi
manusia) demi kepentingan yang lebih luas (umum).
Orang = Subekti dalam bukunya yang berjudul Pokok-Pokok Hukum Perdata (hal. 1921) mengatakan bahwa dalam hukum, orang (persoon) berarti pembawa hak atau subyek
di dalam hukum. Sebagaimana kami sarikan, seseorang dikatakan sebagai subjek hukum
(pembawa hak), dimulai dari ia dilahirkan dan berakhir saat ia meninggal. Bahkan, jika
diperlukan (seperti misalnya dalam hal waris), dapat dihitung sejak ia dalam kandungan,
asal ia kemudian dilahirkan dalam keadaan hidup.
Badan Hukum = Subekti (Ibid, hal 21) mengatakan bahwa di samping orang, badanbadan atau perkumpulan-perkumpulan juga memiliki hak dan melakukan perbuatan
hukum seperti seorang manusia. Badan-badan atau perkumpulan-perkumpulan itu
mempunyai kekayaan sendiri, ikut serta dalam lalu lintas hukum dengan perantara
pengurusnya, dapat digugat, dan dapat juga menggugat di muka hakim.

2. Van Hamel mellihat hukum pidana termasuk pidana sebagai hukum publik dikarenakan
yang menjalankan hukum pidan itu sepenuhnya terletak di tangan pemerintah.
Sedangkan Simons berpendapat hukum pidana sebagai hukum publik karena hukum
pidana tersebut mengatur hubungan individu dengan masyarakatnya sebagai warga
masyarakat. Hukum pidana dijalankan untuk kepentingan masyarakat dan juga dijalankan
hanya dalam hal kepentingan masyarakat itu benar-benar memerlukannya.

3. A.

Pandangan Monistis
Pandangan monistis adalah suatu pandangan yang melihat keseluruhan syarat

untuk adanya pidana itu kesemuanya merupakan sifat dari perbuatan. Pandangan ini
memberikan prinsip-prinsip pemahaman, bahwa didalam pengertian perbuatan atau
tindak pidana sudah tercakup didalamnya perbuatan yang dilarang (criminal act) dan
pertanggung-jawaban pidana atau kesalahan (Criminal responbility).
Pada dasarnya pandangan ini tidak memisahkan antara unsur-unsur mengenai
perbuatan dengan unsur-unsur mengenai orangnya.

Ada beberapa batasan atau

pengertian tidak pidana dari para sarjana yang menganut pandangan Monistis. Misalnya
menurut Simon. Dimana menurutnya tindak pidana adalah tindakan melanggar hukum
yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja oleh seseorang yang
dapat dipertanggungjawabkan atas tindakanya dan yang oleh undang-undang telah
dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum. Dengan batasan seperti ini, maka
menurut Simon, untuk adanya suatu tindak pidana harus dipenuhi unsur-unsur sebagai
berikut:
1) Perbuatan manusia, baik dalam arti perbuatan positif (berbuat) maupun
2)
3)
4)
5)

perbuatan Negatif (tidak beruat)


diancam dengan pidana
melawan hukum
dilakukan dengan kesalahan
oleh orang yang mampu bertanggungjawab.

Dengan penjelasan seperti tersebut diatas, maka tersimpul, bahwa keseluruhan syarat
adanya pidana telah melekat pada perbuatan pidana. Simon tidak memisahkan antara
criminal act dan Criminal responbility.

B. Pandangan Dualistis
Berbeda dengan pandangan Monistis yang melihat kesalahan syarat adanya pidana
telah melekat pada perbuatan pidana, pandangan dualistis memisahkan antara perbuatan
pidana dan pertanggungjawaban pidana. Apabila menurut pandangan Monistis dalam
pengertian tindak pidana sudah tercakup di dalamnya baik usur perbuatan maupun unsur
orangnya. Menurut pandangan dualistis dalam tindak pidana hanya mencakup

perbuatannya saja. Sedangkan pertanggung jawaban pidana tidak menjadi unsur tindak
pidana. Menurut pandangan dualistis, untuk adanya pidana tidak cukup hanya apabila
telah terjadi perbuatan pidana, tetapi dipersyaratkan juga adanya kesalahan atau
pertanggungjawab pidana. Gambaran tentang bagaimana pandangan dualistis dapat
terlihat dari pandangan Moeljatno yang menyatakan perbuatan pidana adalah perbuatan
yang diancam dengan pidana, barangsiapa melanggar larangan tersebut, Dengan penjelan
untuk terjadinya perbuatan atau tindak pidana harus dipenuhi unsur-unsur sebagai
berikut:
1) Adanya perbuatan (manusia) yang memenuhi rumusana dalam undangundang (hal ini merupakan syarat formil, terkait dengan berlakunya pasal 1
(1) KUHP )
2) bersifat melawan hukum (hal ini merupakan syarat materiil, terkait dengan
ikutnya ajaran sifat melawan hukum materiil dalam fungsinya yang
Negatif)
Disamping pengertian tersebut, Moelyatno juga menegaskan bahwa untuk adanya
pidana tidak cukup hanya dengan telah terjadinya tindak pidana, tanpa mempersoalkan
apakah orang yang melakukan perbuatan itu mampu bertanggungjawab atau tidak. Jadi
peristiwanya adalah tindak pidana, tetapi apakah orang yang telah melakukan perbuatan
itu benar-benar dipidana atau tidak, akan dilihat bagaimana keadaan bathin orang itu dan
bagaimana hubungan bathin antara perbuatan yang terjadi dengan orang itu. Apabila
perbuatan yang terjadi itu dapat dicelakan kepada orang itu, yang berarti dalam hal ini
ada kesalahan dalam diri orang itu, maka orang itu dapat dijatuhi pidana, demikian
sebaliknya.

4. Dalam hukum pidana, kita mengenal istilah ultimum remidium. Artinya bahwa sanksi
pidana dipergunakan manakala sanksi-sanksi yang lain sudah tidak berdaya. Dengan
perkataan lain, dalam suatu undang-undang sanksi pidana dicantumkan sebagai sanksi
yang terakhir,setelah sanksi perdata, maupun sanksi administratif.

Mengapa mekanisme ini dipergunakan. Agar selain memberikan kepastian hukum juga
agar proses hukum pidana yang cukup panjang dapat memberikan keadilan baik terhadap
korban maupun terhadap pelaku itu sendiri.
Dalam perkembangan ilmu hukum pidana yang sudah jauh maju, upaya ultimum
remedium merupakan senjata terakhir dipergunakan. Senjata terakhir (ultimum
remedium) merupakan upaya-upaya lain sudah ditempuh. Baik gugatan perdata, sanksi
administrasi maupun upaya -upaya lain.
Tindak pidana korupsi juga memberikan ruang untuk menerapkan ketentuan ini. Baik
diatur didalam Keppres No. 80 Tahun 2003 maupun didalam Perpres No. 54 tahun 2010.
Pasal-pasal yang mengatur tentang upaya pidana dilakukan ditandai dengan teguran
kepada pejabat, penggantian kerugian negara dalam periode waktu dan kemudian
barulah diserahkan kepada penegak hukum.
Mekanisme ini didasarkan selain agar tercapainya hukum menciptakan keadilan,
memudahkan penagihan kerugian negara maupun menghemat biaya persidangan yang
cenderung lama-lama, rumit bahkan ketika akan dijatuhi eksekusi seringkali harus
bertete-tele, juga dengan prinsip hukum itu sendiri yaitu memberikan kepastian hukum
baik kepada negara maupun kepada pelaku itu sendiri.

5.
6. Kedudukan KUHP Nasional
Kehadiran Kitab Undang-undang Hukum Pidana Nasional yang ideal sangat
ditunggu oleh seluruh masyarakat Indonesia, karena sebagian dari pasal-pasal KUHP
yang dipakai sekarang, tidak cocok dan sesuai lagi dengan kultur dan budaya kita. Oleh
karenanya, upaya pembaharuan dan penyempurnaan KUHP tersebut terus dilakukan
untuk mengganti KUHP warisan kolonial Belanda. Namun, upaya ini tidaklah mudah dan
membutuhkan bahan kajian komperatif yang kritis dan konstruktif.

Menurut sejarahnya, KUHP yang kini berlaku di Indonesia berasal dari Wet Boek
van Strafrecht Belanda tahun 1915 dan mulai berlaku sejak 1918. Setelah Indonesia
merdeka, buku tersebut tetap berlaku berdasarkan aturan peralihan UUD 1945 dan
dikukuhkan dengan UU No. 1 Tahun 1946. Dalam perjalanannya, ia mengalami
perubahan, baik penambahan maupun pengurangan. Sejak tahun 1977, pemerintah
Indonesia telah membentuk sebuah tim yang bertugas menyusun konsep RUU KUHP
Nasional. Konsep RUU KUHP tersebut berasal dari KUHP lama, KUHP negara-negara
lain, hasil simposium, seminar, lokakarya, serta masukan dari berbagai kalangan.

7.
8. A. trafbaar feit merupakan istilah asli bahasa Belanda yang diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia dengan berbagai arti diantaranya yaitu, tindak pidana, delik, perbuatan
pidana, peristiwa pidana maupun perbuatan yang dapat dipidana. Kata Strafbaar
feit terdiri dari 3 kata, yakni straf, baar dan feit. Berbagai istilah yang digunakan sebagai
terjemahan dari strafbaar feit itu, ternyata straf diterjemahkan sebagai pidana dan hukum.
Perkataan baar diterjemahkan

dengan

dapat

dan

boleh,

sedangkan

untuk

kata feit diterjemahkan dengan tindak, peristiwa, pelanggaran dan perbuatan.


Menurut Pompe, sebagaimana yang dikemukakan oleh Bambang Poernomo,
pengertian strafbaar feitdibedakan menjadi :
1) Defenisi menurut teori memberikan pengertian strafbaar feit adalah suatu
pelanggaran terhadap norma, yang dilakukan karena kesalahan si pelanggar dan
diancam dengan pidana untuk mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan
kesejahteraan umum ;
2) Definisi menurut hukum positif, merumuskan pengertian strafbaar feit adalah
suatu kejadiaan (feit) yang oleh peraturan perundang-undangan dirumuskan
sebagai perbuatan yang dapat dihukum.
Sejalan dengan definisi atau pengertian menurut teori dan hukum positif di atas,
J.E Jonkers juga telah memberikan defenisi strafbaar feit menjadi dua pengertiaan,
sebagaimana yang dikemukakan Bambang Pornomo yaitu :

1) Definisi pendek memberikan pengertian strafbaar feit adalah suatu kejadian


(feit) yang dapat diancam pidana oleh Undang-Undang.
2) Definisi panjang atau lebih dalam memberikan pengertian strafbaar feit adalah
suatu kelakuan yang melawan hukum berhubung dilakukan dengan sengaja atau
alfa oleh orang yang dapt dipertanggungjawabkan.
Menurut definisi pendek pada hakekatnya menyatakan bahwa pastilah untuk
setiap delik yang dapat dipidana harus berdasarkan Undang-Undang yang dibuat oleh
pembentuk Undang-Undang, dan pendapat umum tidak dapat menentukan lain daripada
apa yang telah ditetapkan dalam Undang-undang. Definisi yang panjang lebih
menitikberatkan kepada sifat melawan hukum dan pertanggung jawaban yang merupakan
unsur-unsur yang telah dirumuskan secara tegas didalam setiap delik, atau unsur yang
tersembunyi

secara

diam-diam

dianggap

ada. Simons dalam

Roni

Wiyanto mendefinisikan tindak pidana sebagai suatu perbuatan (handeling) yang diancam
dengan pidana oleh undang-undang, bertentangan dengan hukum (onrechtmatig)
dilakukan dengan kesalahan (schuld) oleh seseorang yang mampu bertanggung jawab.
Van Hmamel juga sependapat dengan rumusan tindak pidana dari simons, tetapi
menambahkan adanya sifat perbuatan yang mempunyai sifat dapat dihukum. Jadi,
pengertian tindak pidana menurut Van Hamael meliputi lima unsur, sebagai berikut :
1)
2)
3)
4)
5)

Diancam dengan pidana oleh hukum


Bertentangan dengan hukum
Dilakukan oleh seseorang dengan kesalahan (schuld)
Seseorang itu dipandang bertanggung jawab atas perbuatannya.
Sifat perbuatan yang mempunyai sifat dapat dihukum.

9. Salah satu unsur utama tindak pidana yang bersifat objektif adalah sifat melawan hukum.
Hal ini dikaitkan pada asas legalitas yang tersirat pada pasal 1 KUHP.Sifat melawan
hukum

materiil

Suatu perbuatan itu melawan hukum atau tidak, tidak hanya yang terdapat dalam undangundang (yang tertulis) saja, akan tetapis harus dilihat berlakunya azas-azas hukum yang
tidak tertulis. Sifat melawan hukumnya perbuatan yang nyata-nyata masuk dalam

rumusan delik itu dapat hapus berdasarkan ketentuan undang-undang dan juga
berdasarkan aturan-aturan yang tidak tertulis (uber gezetzlich). Jadi menurut ajaran ini
melawan hukum sama dengan bertentangan dengan undang-undang (hukum tertulis) dan
juga

bertentangan

dengan

hukum

yang

tidak

tertulis

termasuk

tata

susila

Dalam sifat melawan hukum yang materiil itu perlu dibedakan :


1. Fungsi negative
Ajaran sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang negatif
mengakui kemungkinan adanya hal-hal yang ada di luar undang-undang
melawan hukumnya perbuatan yang memenuhi rumusan undang-undang,
jadi hal tersebut sebagai alasan penghapus sifat melawan hukum.
Contoh : Kasus pencurian nasi bungkus seharga Rp 1.500,- oleh seorang
ibu yang karena keadaan terpaksa melakukan perbuatan tersebut dengan
alasan anaknya sudah tidak makan dalam 3 hari dan anaknya itu sedang
sakit. Perbuatan ibu tersebut secara formil memenuhi unsur pasal 362
KUHP (WvS) tantang pencurian, namun ibu tersebut dapat dibebaskan
dari jeratan pasal tersebut karena adanya alasan pembenaran dari hukum
yang tidak tertulis yang bersifat materiil. Karena dalam situasi dan kondisi
tersebut, jika ibu tersebut tidak melakukan perbuatan melawan hukum,
dapat berakibat hilangnya nyawa anak dari ibu tersebut. Yang berhak
menentukan alasan pembenaran diluar peraturan perundang-undangan
adalah Hakim, namun aparat penegak hukum lainnya juga harus
memperhatikan dan mempertimbangkan adanya fungsi negatif dari sifat
melawan hukum materiil ini.
2. Fungsi positif
Pengertian sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang
positif menganggap sesuatu perbuatan tetap sebagai sesuatu delik,
meskipun tidak nyata diancam dengan pidana dalam undang-undang,
apabila bertentangan dengan hukum atau ukuran-ukuran lain yang ada di
luar undang-undang. Jadi disini diakui hukum yang tak tertulis sebagai
sumber hukum yang positif.
Contoh : Peristiwa adat carok di Madura, yang merupakan jalan terakhir
penyelesaian konflik antar warga Madura dengan cara bertarung saling

membunuh dengan menggunakan alat sabit, dianggap sebagai perbuatan


yang wajar dilakukan untuk di lingkungan masyarakat Madura. Peristiwa
ini pasti akan membawa kematian bagi salah satu pihak yang bersengketa,
meski perbuatan membunuh dibenarkan oleh masyarakat setempat, namun
orang yang melakukan pembunuhan tersebut tetap dapat dijerat dengan
pasal 338 KUHP (WvS). Dilain sisi, hukum carok yang berlaku di
masyarakat tersebut hanya dapat sebagai alas an pembenaran untuk
mendapatkan keringanan.
10. Suatu akibat tertentu terkadang ditimbulkan oleh serangkaian perbuatan yang saling
terkait yang menjadi faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya akibat. Yang menjadi
permasalahan adalah kepada siapa akan dipertanggungjawabkannya suatu akibat tersebut.
Dalam hal ini para ahli hukum berbeda pendapat. Berikut adalah teori-teori kausalitas
menurut para sarjana hukum :
A. Teori conditio sine qua non
Teori ini pertama kali dicetuskan pada tahun 1873 oleh Von Buri, ahli hukum dari
Jerman. Beliau mengatakan bahwa tiap-tiap syarat yang menjadi penyebab suatu
akibat yang tidak dapat dihilangkan (weggedacht) ) dari rangkaian faktor-faktor
yang menimbulkan akibat harus dianggap causa (akibat). Tiap faktor tidak
diberi nilai, jika dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor penyebab serta
tidak ada hubungan kausal dengan akibat yang timbul. Tiap factor diberi nilai, jika
tidak dapat dihilangkan (niet weggedacht) dari rangkaian faktor-faktor penyebab
serta memiliki hubungan kausal dengan timbulnya akibat.
Teori conditio sine qua non disebut juga teori equivalen (equivalent theorie),
karena tiap factor yang tidak dapat dhilangkan diberi nilai sama dan sederajat,
dengan demikian teori Von Buri ini menerima beberapa sebab (meervoudige
causa).
Sebutan lain dari teori Von Buri ini adalah bedingungs theorie (teori syarat),

disebut demikian karena dalam teori ini antara syarat (bedingung) dengan sebab
(causa) tidak ada perbedaan.
Dalam perkembangan teori Von Buri banyak menimbulkan kontra dari para ahli
hukum, sebab teorinya dianggap kurang memperhatikan hal-hal yang sifatnya
kebetulan terjadi ). Selain itu teori ini pun tidak digunakan dalam hukum pidana
karena dianggap sangat memperluas dasar pertanggungjawaban (strafrechtelijke
aansprakelijheid).
Van Hamel adalah satu penganut teori Von Buri. Menurut Von Hamel teori
conditio sine qua non adalah satu-satunya teori yang secara logis dapat
dipertahankan. Teori conditio sine qua non baik untuk digunakan dalam hukum
pidana,

asal

saja

didampingi

atau

dilengkapi

dengan

teori

tentang

kesalahan (schuldleer) yang dapat mengkorigir dan meregulirnya). Teori Van


Hamel disebut teori sebab akibat yang mutlak (absolute causaliteitsleer) teori
yang d ikemukakan Van Hamel yaitu Tindak pidana merupakan kelakuan orang
yang dirumuskan dalam undang-undang (wet), yang bersifat melawan hukum,
yang patut dipidana dan dilakukan dengan kesalahan. Jadi perbuatan itu
merupakan perbuatan yang bersifat dapat dihukum dan dilakukan dengan
kesalahan.

B. Teori der meist wirksame bedingung


Teori ini berasal dari Birkmeyer. Teori ini mencari syarat manakah yang dalam
keadaan tertentu yang paling banyak berperan untuk terjadinya akibat (meist
wirksame) diantara rangkaian syarat-syarat yang tidak dapat dihilangkan untuk
timbulnya akibat. Jadi, teori ini mencari syarat yang paling berpengaruh diantara
syarat-syarat lain yang diberi nilai.
Teori ini mengalami kesulitan untuk menjawab permasalahan yang muncul yakni,
bagaiman cara menentukan syarat yang paling berpengaruh itu sendiri atau

dengan kata lain bagaimana mengukur kekuatan suatu syarat untuk menentukan
mana yang paling kuat, yang paling membantu pada timbulnya akibat). Apalagi
jika syarat-syarat itu tidak sejenis).

C. Teori gleichewicht atau uebergewicht


Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Karl Binding, teori ini mengatakan
bahwa musabab adalah syarat yang mengadakan ketentuan terhadap syarat positif
untuk melebihi syarat-syarat negative). Menurut Binding, semua syarat-syarat
yang menimbulkan akibat adalah sebab, ini menunjukkan bahwa ada persamaan
antara teori ini dengan teori conditio sine qua non.
D. Teori die art des werden
Teori ini dikemukakan oleh Kohler, yang menyatakan bahwa sebab adalah syarat
yang menurut sifatnya (art) menimbulkan akibat. Ajaran ini merupakan variasi
dari ajaran Birkmeyer). Syarat-syarat yang menimbulkan akibat tersebut jika
memiliki nilai yang hampir sama akan sulit untuk menentukan syarat mana yang
menimbulkan akibat.

E. Teori Letze Bedingung


Dikemukakan oleh Ortman, menyatakan bahwa factor yang terakhir yang
mematahkan keseimbanganlah yang merupakan factor, atau menggunakan istilah
Sofyan

Sastrawidjaja

bahwa

sebab

adalah

syarat

penghabisan

yang

menghilangkan keseimbangan antara syarat positif dengan syarat negative,


sehingga akhirnya syarat positiflah yang menentukan.

F. Teori Adequate (keseimbangan)


Dikemukakan oleh Von Kries. Dilihat dari artinya, jika dihubungkan dengan delik,
maka perbuatan harus memiliki keseimbangan dengan akibat yang sebelumnya
dapat diketahui, setidak-tidaknya dapat diramalkan dengan pasti oleh pembuat.
Teori ini disebut teori generaliserend yang subjektif adaequaat, oleh
karenanya Von Kries berpendapat bahwa yang menjadi sebab dari rangkaian
faktor-faktor yang berhubungan dengan terwujudnya delik, hanya satu sebab saja
yang dapat diterima, yakni yang sebelumnya telah dapat diketahui oleh pembuat) .

G. Teori objective nachtraglicher prognose (teori keseimbangan yang objektif)


Teori ini dikemukakan oleh Rumelin, yang menyatakan bahwa yang menjadi
sebab atau akibat, ialah factor objektif yang ditentukan dari rangkaian faktorfaktor yang berkaitan dengan terwujudnya delik, setelah delik terjadi.
Tolak ukur teori ini adalah menetapkan harus timbul suatu akibat. Jadi, walau
bagaimanpun akibat harus tetap terjadi dengan cara mengingat keadaan-keadaan
objektif setelah terjadinya delik, ini merupakan tolak ukur logis yang dicapai
melalui perhitungan yang normal.
H. Teori adequate menurut Traeger
Menurut Traeger, akibat delik haruslah in het algemeen voorzienbaar artinya pada
umumnya dapat disadari sebagai sesuatu yang mungkin sekali dapat terjadi. Van
Bemmelen mengomentari teori ini bahwa yang dimaksud dengan in het algemeen
voorzienbaar ialah een hoge mate van waarschijnlijkheid yang artinya, disadari
sebagai sesuatu yang sangat mungkin dapat terjadi.

I. Teori Relevantie

Dikemukakan oleh Mezger. Menurut teori ini dalam menentukan hubungan sebab
akibat tidak mengadakan pembedaan antara syarat dengan sebab, melainkan
dimulai dengan menafsirkan rumusan tindak pidana yang memuat akibat yang
dilarang itu dicoba menemukan perbuatan manakah kiranya yang dimaksud pada
waktu undang-undang itu dibuat. Jadi, pemilihan dari syarat-syarat yang relevan
itu berdasarkan kepada apa yang dirumuskan dalam undang-undang.

J. Teori perdata
Teori ini berdasarkan Pasal 1247 dan 1248 KUHP Perdata (BW),yang
menyatakan bahwa pertanggungjawaban hanya ada, apabila akibat yang timbul
itu mempunyai akibat yang langsung dan rapat sekali dengan perbuatan-perbuatan
yang terdahulu atau dapat dibayangkan lebih dahulu. Teori ini boleh dikatakan
sama dengan teori adequate dari Von Kries. Beberapa sarjana hukum berpendapat
bahwa teori perdata ini dapat juga dipergunakan dalam hukum pidana.

K. Simon
Tindak pidana yaitu kelakuan yang dapat diancam dengan pidana, bersifat
melawan hukum, behubungan dengan melakukan kesalahan, dan dilakukan oleh
orang yang mampu bertanggung jawab.
Straftbar feit berisikan:
1) perbuatan bertentangan atau dilarang oleh hukum
2) diancam dengan hukuman
3) dilakukan oleh seseorang yang dapat dipertanggung jawabkan dengan
demikian dapat dipersalahkan
L. Prof. Moeljatno S.H

Ia menggunakan istilah perbuatan tindak pidana. Yaitu perbuatan yang dilarang


oleh suatu aturan hukum, larangan tersebut disertai sanksi atau hukuman, yang
berupa pidana tertentu bagi barangsiapa yang melanggar larangan tersebut.
Larangan ditujukan kepada perbuatannya. Suatu keadaan atau kejadian yang
ditimbulkan oleh kelakuan orang. Sedangkan ancaman pidana ditujukan pada
orang yang menimbulkan kejadian itu.
Memisahkan antara perbuatan dan pertanggung jawaban, perbuatan menunjuk
pada adanya kejadian tertentu dan adanya orang yang berbuat yang menimbulkan
adanya kejadian itu. Tindak pidana merupakan perbuatan baik yang aktif atau
pasif yang dilarang dan diancam hukuman apabila dilanggar.
- Contoh perbuatan pasif : pasal 164, 242, 522 KUHP
- Perbuatan aktif: pasal 338, 362, 351, 340, 406 KUHP

Dapat ditarik kesimpulan bahwa suatu pebuatan akan menjadi suatu tindak
pidana apabila perbuatan itu :
1) melanggar hukum
2) merugikan masyarakat
3) dilarang oleh undang-undang
4) pelakunya diancam dengan pidana
11. a
12. A. Menurut Prof. Moeljatno orang tidak mungkin dipertanggungjawabkan (dijatuhi
pidana)

kalau

tidak

melakukan

perbuatan

pidana.

Agar

dapat

dimintai

pertanggungjawaban pidana harus memenuhi 3 unsur, yaitu :


1) Adanya kemampuan bertanggung jawab.
2) Mempunyai suatu bentuk kesalahan yang berupa kesengajaan atau kealpaan.
3) Tidak adanya alasan penghapus kesalahan (alasan pemaaf).

B. KESALAHAN DALAM HUKUM PIDANA


dalam arti luas: memiliki pengertian yang sama dengan pertanggungjawaban dalam
hukun pidana. dalam arti sempit: kesalahan berarti ke-alpaan
dalam arti bentuk kesalahan:
kesalahn disengaja (dolus/opzet): Prinsip dari kesengajaan dalam MvT adalah
mengetahui (weten) dan menghendaki (willen). kesalahan karena ke alpaan: Kealpaan
terjadi bila pelaku mengetahui tetapi secara tidak sempurna karena dalam kealpaan
seseorang mengalami sifat kekurangan (kurang hati-hati, kurang teliti dsb.)
Bentuk-bentuk kesengajaan
kesengajaan sebagai tujuan/sebagai maksud, akibatnya memang dikehendaki, atau
sebagai tujuan dari pelaku. kesengajaan dengan keinsyafan kepastian (sadar
kepastian),pelaku menyadari bahwa perbuatannya pasti akan menimbulkan akibat lain,
tapi demi tercapainya tujuan utama pelaku mengambil resiko terjadinya akibat lain itu
kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan (dolus eventualis),

pelaku menyadari

bahwa perbuatan yang dilakukannya mungkin akan membawa akibat lain selain akibat
utama.
Bentuk-bentuk kealpaan
kealpaan yang disadari (bewuste), seseorang melakukan sesuatu perbuatan yang sudah
dapat di bayangkan akibat buruk akan terjadi, tapi tetap melakukannya, kealpaan yang
tidak disadari, bila pelaku tidak dapat membayangkan sama sekali akibat yang
ditimbulkan oleh perbuatannya yang seharusnya di bayangkan.
Unsur-unsur kesalahan atau syarat seseorang dapat di ertanggungjawabkan dalam hukum
pidana:
1) adanya kemampuan bertanggungjawab
2) adanya hubungan bathin antara pelaku dengan perbuatannya (dolus atau ulpa)
3) tidak adanya alasan-alasan penghapus kesalahan (schuld uitsluitsground)
13. Dalam teori hukum pidana biasanya alasan-alasan yang menghapuskan pidana dibedakan
menjadi tiga;
A. Alasan pembenar

yaitu alasan yang menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuataan sehingga


apa yang dilakukan oleh terdakwah menjadi perbuatan yang patut dan benar.
B. Alasan pemaaf
yaitu alasan yang menghapuskan kesalahan terdakwa. Yakni perbuatan yang
dilakukan oleh terdakwa tetap bersifat melawan hukun dan tetap merupakan
perbuatan pidana akan tetapi terdakwa tidak dipidana karena tidak ada kesalahan.
C. Alasan menghapus penuntutan
yang dimaksudkan disini bukan ada alasan pembenar atau pemaaf. Jadi tidak ada
pikiran mengenai sifatnya perbuatan maupun sifatnya orang yang melakukan
perbuatan, akan tetapi pemerintah menganggap bahwa atas dasar kemanfaatannya
kepada

masyarakat,

sebaiknya

tidak

dijadikan

penuntutan.

Yang

menjadi penimbang disini adalah kepentingan umum.


Setelah kita mengetahui secara global tentang bahasan ini marilah kita akan lebih
memahami dan membahas secara mendalam berkaitan dengan hal Pembenaran,
pemaaf, dan penghapus penuntutan.
14. Di indonesia sendiri, hukum positif belum pernah merumuskan tujuan
pemidanaan. Selama ini wacana tentang tujuan pemidanaan tersebut masih
dalam tataran yang bersifat teoritis. Namun sebagai bahan kajian, Rancangan
KUHP Nasional telah menetapkan tujuan pemidanaan pada Buku Kesatu
Ketentuan Umum dala Bab II dengan judul Pemidanaan, Pidana dan Tindakan.
Tujuan pemidanaan menurut Wirjono Prodjodikoro (1989 : 16), yaitu :
a. Untuk menakut-nakuti orang jangan sampai melakukan kejahatan baik secara menakutnakuti orang banyak (generals preventif) maupun menakut-nakuti orang tertentu yang
sudah melakukan kejahatan agar dikemudian hari tidak melakukan kejahatan lagi
(speciale preventif), atau
b. Untuk mendidik atau memperbaiki orang-orang yang melakukan kejahatan agar
menjadi orang-orang yang baik tabiatnya sehingga bermanfaat bagi masyarakat.
Tujuan pemidanaan itu sendiri diharapkan dapat menjadi sarana perlindungan
masyarakat, rehabilitasi dan resosialisasi, pemenuhan pandangan hukum adat, serta
aspek psikologi untuk menghilangkan rasa bersalah bagi yang bersangkutan. Meskipun
pidana merupakan suatu nestapa tetapi tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan
merendahkan martabat manusia.

Pemidanaan bisa diartikan sebagai tahap penetapan sanksi dan juga tahap
pemberian sanksi dalam hukum pidana. Kata pidana pada umumnya diartikan sebagai
hukum,

sedangkan

pemidanaan

diartikan

sebagai

penghukuman.

Doktrin

membedakan hukum pidana materil dan hukum pidana formil. J.M. Van Bemmelen
(Leden Marpaung, 2005 : 2) menjelaskan kedua hal tersebut sebagai berikut :
Hukum pidana materil terdiri atas tindak pidana yang disebut berturut-turut, peraturan
umum yang dapat diterapkan terhadap perbuatan itu, dan pidana yang diancamkan
terhadap perbuatan itu. Hukum pidana formil mengatur cara bagaimana acara pidana
seharusnya dilakukan dan menentukan tata tertib yang harus diperhatikan pada
kesemptan itu.