Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

REGULASI DAN HOMEOSTASIS


DALAM TUBUH

OLEH:
PENDIDIKAN BIOLOGI A/ KELOMPOK 4
1. AGUSTINA SEKAR PUSPITA

14304241020

2. FITRI FERBRIANI

14304241021

3. NENY ANDRIYANI

14304241022

4. SENJA FITRIANA

14304241023

5. DHIAS KARTIKA NINGRUM

14304241024

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Semua makhluk hidup mempunyai sistem-sistem yang ada dalam tubuhnya. Baik
makhluk hidup uniseluler (bersel tunggal), hingga makhluk hidup yang multiseluler
(bersel banyak). Hanya saja pada makhluk hidup uniseluler sangatlah sederhana
dibandingkan dengan makhluk hidup multiseluler.
Pada organisme multiseluler khususnya hewan tingkat tinggi dan manusia,
terdapat pengaturan (regulasi) dalam lingkungan internal, sehingga dipertahankan
kemantabannya. Pemeliharaan kemantaban ini sering dikenal dengan homeostasis.
Homeostasis menganduung pengertian pemeliharaan komposisi yang relatif tetap
terhadap glukosa, O2, CO2, H2O, Na+, Ca+dan sebagainya dalam cairan ekstraseluler.
Namun pada perkembangannya, homeostasis diarahkan lebih pada kemantaban suhu
tubuh, kemantaban pH darah dan sebagainya yang memang sebenarnya juga merupakan
perluasan dari makna cairan ekstraseluler tersebut.
Pada organisme multiseluler, khususnya manusia, pasti selalu melakukan aktivitas.
Aktivitas tersebut dapat berupa aktivitas ringan seperti berbicara, maupun aktivitas berat
berupa lari dan menaiki tangga. Misal dengan melakukan aktivitas berat, manusia
menjadi mengeluarkan keringat. Menggunakan telepon genggam menyebabkan syarafsyaraf yang bekerja pada indra peraba, gerak otot jari dan perintah dari syaraf otak.
Pada praktikum kali ini, kami melakukan percobaan tentang regulasi dan
homeostasis agar dapat mengetahui apa yang dimaksud regulasi dan homeostasis, dapat
mengetahui contoh faktualnya dalam kehidupan manusia dan dapat menjelaskan
mekanisme dari proses tersebut.
B. Tujuan
1. Menyebutkan contoh regulasi dalam tubuh manusia.
2. Menjelaskan mekanisme regulasi dalam rangka homeostasis dalam tubuh
manusia.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Tubuh manusia terdiri dari empat tingkat organisasi, yaitu organisasi tingkat sel,
jaringan, organ, dan sistem organ. Sel-sel yang memiliki struktur dan fungsi yang sama
diorganisasi menjadi jaringan. Terdapat empat jenis jaringan utama, yaitu jaringan
epitel, jaringan ikat, jaringan otot, dan jaringan saraf. Jaringan-jaringan akan
diorganisasi menjadi organ, dan organ-organ diorganisasi menjadi sistem organ.
Didalam

tubuh,

setiap

sel

memerlukan

homeostasis

untuk

mempertahankan

kelangsungan hidupnya. Selanjutnya setiap sel melalui aktivitas yang khusus sebagai
bagian dari sistem tubuh menyumbang terhadap pemeliharaan homeostasis bersamasama semua sel yang lain (Soewolo, 2005: 1).
Sel-sel tubuh hewan multiseluler hanya dapat hidup dan berfungsi dengan baik
bila dibasahi oleh cairan ekstraseluer yang sesuai untuk menunjang kelangsungan
hidupnya. Ini berarti bahwa komposisi kimiawi dan keadaan fisik dari lingkungan
internal sel harus konstan, dan hanya boleh menyimpang dalam batas-batas sempit saja.
Jadi apabila sel-sel mengambil zat-zat makanan

dan oksigen dari lingkungan

internalnya, maka zat-zat esensial tersebut harus secara konstan ditambahkan agar
kelangsungan hidup sel-sel dapat terjamin. Demikian pula zat-zat sampah harus secara
kontinyu dipindah dari lingkungan internal, sehingga tidak mencapai tingkat yang
bersifat racun. Zat-zat lain dalam lingkungan internal yang penting untuk pemeliharaan
kehidupan juga harus dipertahankan relatif konstan. Pemeliharaan lingkungan internal
relatif konstan ini disebut homeostasis (homeo=ama; stasis=tetap/ mantap) (Soewolo,
2005: 6).
Seperti kebanyakan hewan, manusia menunjukkan homeostasis untuk sejumlah
sifat fisik dan kimia. Misalnya, tubuh manusia mempertahankan suhu tubuh yang
lumayan konstan sekitar 370C dan pH darah serta cairan interstisial didalam kisaran 0,1
unit dari pH 7,4. Tubuh manusia juga meregulasi konsentrasi zat terlarut glukosa di
dalam aliran darah sehingga tidak berfluktuasi lama dari sekitar 90 mg glukosa per 100
ml darah (Campbell, 2008: 13).

Homeostasis adalah kesetimbangan dinamis, timbal balik antara faktor-faktor


eksternal yang cenderung mengubah lingkungan internal

dan mekanisme kontrol

internal yang melawan perubahan-perubahan semacam itu. Perhatikan bahwa respons


fisiologis terhadap rangsangan tidak instan, sama seperti menyalakan pendiangan yang
tidak langsung menghangatkan rumah. Akibatnya, homeostasis mengurangi namun tidak
melenyapkan perubahan-perubahan di lingkungan internal. Fluktuasi tambahan terjadi
ketika suatu variabel memiliki kisaran normal (normal range) -batas atas dan batas
bawah- ketimbang satu titik setelan tunggal (Campbell, 2008: 13)
Fluktuasi kecil sekitar tingkat optimal untuk setiap faktor dalam lingkungan
internal secara normal dijaga dalam batas yang sempit sesuai dengan kehidupan melalui
mekanisme regulasi. Berbagai aktivitas sistem harus diregulasi (diatur) dan dikoordinasi
untuk memelihara keadaan yang relatif stabil dalam lingkungan internal melawan
perubahan yang terus menerus mengancam dan mengganggu kondisi optimal yang
esensial untuk menunjang kehidupan. Selanjutnya, beberapa perubahan pada faktor yang
diregulasi yang terjadi selama olahraga misalnya, dianggap normal di bawah kondisi
tersebut, namun akan menjadi abnormal apabila perubahan-perubahan tadi terjadi pada
orang yang sedang istirahat (Soewolo, 2005: 7).
Faktor-faktor lingkungan internal yang harus dijaga secara homeostatik menurut
Soewolo (2005), adalah:
1. Kondisi molekul-molekul zat makanan
Sel-sel memerlukan pasok zat makanan yang konstan untuk memenuhi
kebutuhan bahan bakar untuk menghasilkan energi metabolik yang diperlukan
guna menunjang kehidupan dan aktivitas selular yang khusus.
2. Konsentrasi O2 dan CO2
Sel memerlukan O2 untuk keperluan oksidasi molekul-molekul zat makanan
guna menghasilkan energi yang digunakan oleh sel. Sedangkan CO 2 yang
diproduksi selama reaksi kimia tersebut harus diimbangi dengan pengeluaran
CO2 oleh paru-paru, sehingga pembentukan asam dari CO2 tidak meningkatkan
keasaman lingkungan internal.
3. Konsentrasi zat sampah

Berbagai reaksi kimia menghasilkan produk akhir yang tidak dikehendaki dan
memiliki efek racun pada sel-sel tubuh bila zat sampah tersebut terakumulasi
sampai diatas batas-batas tertentu.
4. pH
Perubahan keasaman dalam lingkungan internal akan mempengaruhi aktivitas
sel, misalnya mempengaruhi mekanisme sinyal listrik pada sel saraf dan
aktivitas enzim dari semua sel.
5. Konsentrasi garam dan elektrolit yang lain
Konsentrasi yang tepat garam-garam lingkungan internal sangat penting untuk
memelihara volume sel secara tepat. Bila konsentrasi garam-garam di dalam
cairan interstisial relatif tinggi, maka air dalam sel cenderung berdifusi keluar
sehingga sel menjadi mengkerut. Kejadian sebaliknya akan menyebabkan sel
menggelembung.
menggelembung

Sel-sel
atau

tidak

mengkerut.

berfungsi
Elektrolit

secara
yang

normal
lain

bila

sel

menampilkan

bermacam-macam fungsi vital. Misalnya, denyut jantung yang teratur


tergantung konsentrasi Kalium (K+) dalam cairan ekstraseluler.
6. Suhu
Sel-sel tubuh akan berfungsi secara optimal di dalam rentangan suhu yang
sempit. Fungsi sel sangat menurun bila berada dalam lingkungan yang sangat
dingin, dan menjadi rusak (struktur protein dan enzimatiknya) apabila berada
dalam lingkungan yang sangat panas.
7. Volume dan tekanan
Sirkulasi komponen lingkungan internal, yaitu plasma darah, harus dijaga pada
volume dan tekanan darah yang pasti, untuk menjamin distribusinya yang luas
antara lingkungan internal dan sel.
Hewan berdarah panas mempertahankan suhu tetap secaara sungguh-sungguh,
walaupun bervariasinya suhu lingkungan. Secara normal, suhu tubuh mengalami
lonjakan suhu harian tidak lebih dari 20F, sedangkan dalam keadaan sakit variasi
suhunya dapat mencapai beberapa derajat. Agar terjadi keseimbangan maka harus ada
keseimbangan antara panas yang dihasilkan dan yang dilepaskan oleh tubuh.
Produksi panas tubuh dihasilkan dari oksidasi atau katabolisme. Karena otot dan
dan kelenjar (terutama hati) merupakan jaringan yang paling aktif, maka kedua organ
ini menghasilkan panas yang lebih banyak daripada jaringan lain. Jumlah panas yang
dihasilkan tergantung pada jumlah kerja otot yang dilakukan. Misalnya gemetaran dan

olahraga mampu menaikkan produksi panas, karena ketidakaktifan menurunkan jumlah


panas yang diturunkan (Soedjono, 1998: 391).
Untuk menjaga suhu tetap konstan, badan menghilangkan panas melalui kulit,
panas yang hilang dari kulit bisa melalui konduksi, konveksi, maupun penguapan
keringat. Kira-kira 80%-85% panas yang hilang dari tubuh melalui kulit. Pada suhu
sedang penguapan air menyebabkan kira-kira separuh panas hilang, tetapi pada suhu
tinggi penguapan panas merupakan satu-satunya cara lepasnnya panas. Kelembapan
atmosfer cukup menghambat penguapan, sehingga menghambat pendinginan tubuh,
artinya derajat suhu yang sama terasa lebih panas pada keadaan lembab daripada kering
(Soedjono, 1998: 392).
Termostat fisiologik atau pusat pengatur panas terletak didalam hipotalamus.
Melalui pengaruhnya pada berbagai pusat yang lebih rendah (terutama vasomotor dan
muskular), mereka mengatur jumlah panas tubuh yang dihasilkan dan yang dihilangkan.
Pusat pengaturan panas dikendalikan oleh mekanisme reflek dan oleh stimulasi langsung
atau inhibisi oleh suhu darah. Kendali reflex. Impuls aferen dari reseptor panas dan
dingin kulit ditransmisi ke pusat pengatur panas. Misalnya stimulasi reseptor dingin
pada kulit, mengarah pada stimulasi neuron pada hipotalammus posterior (pusat
penaikan suhu). Pusat ini memberikan impuls eferen, menurunkan jumlah panas yang
lepas dari tubuh dan menaikan jumlah yang dihasilkan. Misalnya impuls untuk
vasokontrixi pembuluh darah permukaan untuk mengurangi jumlah panas yang lepas
karena radiasi maupun konduksi, impuls untuk inhibisi kelenjar peluh mencegah
hilangnya panas karena penguapan, dan impuls pada otot arrectopilli rambut serta
berbagai otot kerangka menyebabkan rambut berdiri dan menggigil yang berpengaruh
pada produksi panas yang lebih besar. Stimulasi reseptor panas pada kulit untuk
merangsang neuron pada hipotalamus anterior (pusat penurunan suhu) dan inhibisi pusat
penaik suhu. Akibatnya, reflex dilatasi pembuluh darah permukaan dan terjadi
peningkatan sekresi keringat (Soedjono, 1998: 392-393).
Kendali langsung. Suhu darah secara langsung memengaruhi kegiatan pusat
pengatur panas. Bila suhu darah naik, misalnya pada latihan otot, maka pusat penurun
suhu dirangsang, berakibat pada vasodilatasi dan berkeringat. Vasokon strixi permukaan,

yang dihambat sekresi keringat, dan akibatnya kontraksi otot bertambah (Soedjono,
1998: 393).
Mekanisme keseimbangan asam-basa diatur oleh otak terutama hipotalamus, yang
bila terangsang akan merangsang koordinasi tubuh. Proses ini akan terjadi terus menerus
hingga lingkungan dinamis dalam tubuh akan berada pada jumlah yang normal (Guyton,
1996). Beberapa proses-proses yang terlibat dalam keseimbangan asam basa menurut
campbell (2008: 13-14) ialah:
1. Umpan balik negatif (negative feedback)
Sistem umpan balik negatif yaitu respons yang mengurangi, atau membungkam
rangsangan. Misalnya, ketika anda berolahraga berat, Anda menghasilkan panas,
yang meningkatkan suhu tubuh. Sistem saraf Anda mendeteksi peningkatan ini dan
memicu pembetukan keringat. Saat Anda berkeringat, evaporasi kelembapan dari
kulit Anda mendinginkan tubuh, membantu mengembalikan suhu tubuh Anda ke
titik setelan.
2. Umpan balik positif (positive feedback)
Peristiwa yang terjadi pada sistem umpan balik positif yaitu berlawanan dengan
umpan balik negatif. Sistem umpan balik positif memicu mekanisme-mekanisme
yang memperbesar, bukan mengurangi rangsangan. Walaupun umpan balik positif
juga terjadi pada hewan, sirkuit-sirkuit ini biasanya tidak berkontribusi terhadap
homeostasis. Selama kelahiran anak, misalnya, tekanan kepala bayi ke reseptorreseptor di dekat bukaan uterus, membuat kontraksi makin hebat sehingga
menghasilkan tekanan yang lebih besar lagi, hingga sang bayi pun terlahir. Dengan
cara ini, umpan balik positif membantu mendorong proses itu hingga tuntas.
Karena beraneka asam dan basa yang terus menerus memasuki darah dari
makanan, maka bila pH darah harus tetap konstan diperlukan beberapa mekanisme
untuk menetralkan atau mengeliminasi substansi tersebut. Sebenarnya ada tiga sarana
yang berbeda dalam mempertahankan konstannya pH. Ketiga sarana tersebut menurut
Soedjono (1998 : 421) adalah:
1. Mekanisme buffer bagi pengendalian pH cairan tubuh
Buffer adalah substansi yang mencegah adanya perubahan pH larutan bila suatu
asam atau basa ditambahkan pada larutan. Darah mengandung pasangan buffer,

sehingga lonjakan pHnya sedikit sekali. Kegitan buffer pottasium hemoglobin


(KHb), maka asam yang lebih lemah (HHb) menggantikan asam yang lebih kuat
H2CO3 dan karenanya konsentrasi ion hidrogen darah bertambah sedikit sekali
daripada

bila asam karbonat tidak buffer. Pembufferan saja tida mampu

mempertahankan homeostasis pH. Kelebihan ion hidrogen akan terus masuk pada
kapiler darah, meskipun ada pembufferan. Dengan demikian pH akan terus turun,
oleh karena itu harus ditambah dengan respirasi dan urinari yang bersama buffer
akan mempertahankan pH.
2. Mekanisme respirasi dalam pengendalian pH
Respirasi memainkan peran vital dalam pengendalian pH. Ekspirasi
mengeliminasi beberapa CO2 darah dan dari tubuh yang masuk darah dalam
jaringan (kapiler) serta bergabung dengan air membentuk asam karbonat yang
meskipun ada pembufferan tetap menambah ion hidrogen dalam jumlah cukup,
kenyataanya untuk menurunkan pH darah dari sekitar 7,41, suatu rata-rata khas
untuk darah arteri, menuju sekitar 7,36 suatu rata-rata khas untuk darah vena.
Karena CO2 meninggalkan darah dari kapiler paru, konsentrasi ion hidrogen darah
turun lagi dan pH darah naik dari vena ke tingkat arteri.
3. Mekanisme urinari dalam mengendali pH
Bila pH darah turun dibawah normal, tubulus ginjal membuang kelebihan ion
hidrogen dari darah menuju urine dan mereabsorbsi ion sodium lebih dari urine
kembali ke darah, sehingga menurunkan pH urine tetapi menaikkan pH darah
kembali normal.
Didalam tubuh makhluk hidup terdapat sistem regulasi yang akan mengatur semua
sistem organ di dalam tubuhnya agar semua sistem tersebut dapat bekerja secara
seimbang. Sistem regulasi itu bekerja untuk menerima rangsangan, mengolahnya, dan
kemudian meneruskannya untuk menanggapi rangsangan tersebut. Sistem regulasi yang
dimiliki oleh hewan termasuk manusia meliputi sistem saraf, sistem indera dan sistem
endokrin. (Subahar, 2009: 67).
1. Sistem Saraf
Sistem saraf adalah suatu struktur yang terdiri dari komponen-komponen sel
saraf (neuron). Fungsi sistem saraf adalah mengkoordinasi seluruh kegiatan organ
diseluruh tubuh seperti denyut jantung, pernapasan, pergerakan, sekresi kelenjar dan
lain-lain. Sel saraf mempunyai kemampuan dalam konduksi impuls atau melakukan

impuls. Fungsi impuls adalah sebagai pembawa informasi yakni tentang perubahanperubahan yang terjadi di lingkungan, misalnya perubahan temperatur dari panas ke
dingin, perubahan cahaya dari gelap ke terang (Irianto, 2013: 240-250).
Sebagai alat pengatur dan pengendali alat-alat tubuh, maka menurut Irianto
(2013: 241-242) sistem saraf mempunyai tiga fungsi utama, yaitu:
1. Sebagai Alat Komunikasi
Sebagai alat komunikasi antara tubuh dengan dunia luar, hal ini dilakukan oleh
alat indera, yang meliputi: mata, hidung telinga, kulit, lidah. Dengan adanya alatalat ini, maka kita akan dengan mudah mengetahui adanya perubahan yang
terjadi di sekitar tubuh kita.
2. Sebagai Alat Pengendali
Sebagai alat pengendali atau pengatur kerja alat alat tubuh, sehingga dapat
bekerja serasi sesuai dengan fungsinya. Dengan pengaturan oleh saraf, semua
organ tubuh akan bekerja dengan kecepatan dan ritme kerja yang akurat.
3. Sebagai Pusat Pengendali Tanggapan
Saraf merupakan pusat pengendali atau reaksi tubuh terhadap perubahan keadaan
sekitar. Karena saraf sebagai pengendali atau pengatur kerja seluruh alat tubuh,
maka jaringan saraf terdapat pada seluruh alat-alat tubuh kita. Jaringan saraf itu
tersusun atas sel-sel saraf neuron. Jaringan saraf inilah yang menghantarkan
rangsangan atau impuls saraf dari bagian tubuh yang satu ke bagian yang lain.
2. Sistem Indera
Organ-organ indera merupakan satu-satunya saluran komunikasi antara dunia
luar dengan sistem saraf pusat. Proses mengindera dimulai dari organ-organ indera,
lebih tepatnya pada sel reseptor di dalam organ indera tersebut. Suatu reseptor
berfungsi sebagai pengubah (transducer) bentuk energi, yaitu mengubah energi
stimulus khususnya menjadi energi elektrokimia impuls saraf, atau sebagai
pembangkit potensial aksi. Apabila stimulus yang mengenai reseptor tidak cocok,
maka reseptor tidak akan merespon, artinya tidak akan ada potensial reseptor yang
selanjutnya tidak terjadi potensial aksi yang dirambatkan pada saraf aferen
(Soewolo, 2005: 131)
Berdasarkan bentuk energi stimulus khususnya, maka reseptor menurut
Soewolo diklasifiasikan menjadi:
1. Kemoreseptor, yaitu reseptor yang sensitif terhadap zat-zat kimia khusus.
Termasuk di dalamnya reseptor untuk bau dan rasa, reseptor untuk konsentrasi
O2 dan CO2 di dalam darah.

2. Mekanoreseptor, yaitu reseptor yang sensitif terhadap energi mekanik.


Termasuk di dalamnya reseptor untuk gelombang bunyi, reseptor tekanan darah
(baroreseptor), reseptor regangan otot, reseptor rabaan, dan reseptor untuk
tekanan.
3. Fotoreseptor, yaitu reseptor yang sensitif terhadap energi cahaya.
4. Termoreseptor, yaitu reseptor yang sensitif terhadap suhu (panas dan dingin).
5. Nosiseptor, yaitu reseptor yang sensitif terhadap kerusakan jaringan, seperti
kerusakan kerusakan jaringan akibat tertusuk, terbakar, tercubit, dsb.
3. Sistem endokrin
Sistem saraf bersama sistem endokrin mengkoordinasi seluruh sistem tubuh.
Sistem saraf mengendalikan homeostasis melalui impuls saraf yang dihantarkan
sepanjang akson neuron. Pada terminal akson, impuls memicu lepasnya transmiter.
Hasilnya adalah eksitasi (pembangkitan) atau inhibisi neuron lain, serabut otot,
atau sel kelenjar. Sistem endokrin melepas molekul kurir yang disebut hormon ke
dalam aliran darah. Kemudian menghantarkannya keseluruh sel sasaran di seluruh
tubuh. Tubuh tidak dapat mempertahankan homeostasis bila dua sistem ini berada
pada arah yang berlawanan. Sistem saraf dan sistem endokrin dikoordinasi sebagai
suatu sistem yang saling berhubungan, sering disebut sebagai sistem neuroendokrin.
Bagian tertentu sistem saraf merangsang atau menghambat lepasnya hormon.
Sebaliknya, hormon dapat mendorong atau menghambat pembangkitan impuls
saraf. Beberapa molekul bertindak sebagai hormon pada suatu tempat, serta sebagai
neurotransmiter pada tempat lain (Soewolo, 2005: 161).

BAB III
MATERI DAN METODE
A. Alat dan Bahan
1. Stopwatch
2. Tisue
3. Termometer badan
B. Prosedur Kerja
Tentukan 4 orang anggota kelompok sebagai objek
percobaan dan 1 orang sebagai kontrol
Ukur dan catat suhu tubuh, frekuensi nadi dan frekuensi
respirasi per menit sebagai data awal

Lakukan aktivitas ringan, seperti berjalan santai selama


15 menit

Ukur dan catat kembali suhu tubuh, frekuensi nadi dan


frekuensi respirasi per menit sebagai data kedua

Lakukan aktivitas berat seperti lari dan naik-turun


tangga selama 15 menit

Ukur dan catat kembali suhu tubuh, frekuensi nadi dan


frekuensi respirasi per menit sebagai data ketiga

BAB IV
TABULASI DATA DAN PEMBAHASAN
N
o

Probandous

Agustina
sekar puspita

Fitri febriani

Neny
andriyani

Senja fitriana

Aktivitas

Suhu

Frekuensi

Laju

Warna

Jumlah

respirasi
19/menit
23/menit

kulit
Normal
Memerah

keringat
+

Base line
Mild

36,8C
36,85C

nadi
105/menit
113/menit

exercise
Moderate

36,9C

125/menit

50/menit

Merah

++

exercise
Base line
Mild

36,9C
36,8C

96/menit
98/menit

25/menit
30/menit

Normal
Memerah

exercise
Moderate

37C

128/menit

51/menit

Merah

++

exercise
Base line
Mild

36,9C
36,8C

89/menit
84/menit

19/menit
19/menit

Normal
Memerah

exercise
Moderate

36,8C

102/menit

47/menit

Merah

++

exercise
Base line
Mild

36,9C
37C

75/menit
81/menit

38/menit
45/menit

Normal
Memerah

exercise
Moderate

37C

105/menit

54/menit

Merah

++

exercise

Dhias kartika
ningrum *)

Base line
Base line
Base line

36,9C
36,7C
36,7C

90/menit
87/menit
86/menit

25/menit
26/menit
23/menit

Normal
Normal
Normal

Keterangan:
*) = Objek kontrol

Pada percobaan ini bertujuan untuk mengetahui contoh sistem regulasi dalam
tubuh manusia dan mengetahui mekanisme termoregulasi. Bentuk kegiatan yang
dilakukan adalah eksperimen dengan alat termometer badan, stop watch, dan tisu.
Sedangkan objek pengamatan pada eksperimen adalah lima orang objek dan satu
diantaranya sebagai objek kontrol. Dalam percobaan ini hal yang harus dilakukan
adalah mendapatkan data mengenai parameter yang berhubungan dengan regulasi
tubuh (suhu, frekuensi denyut nadi, frekuensi respirasi, produksi keringat dan warna
kulit). Data tersebut diperoleh dari objek percobaan kemudian dibandingkan
mengenai sistem regulasi tubuh yang terjadi. Regulasi tubuh yang dibandingkan
adalah pada saat tubuh tidak beraktivitas, beraktivitas ringan dan beraktivitas berat.
Percobaan ini dilakukan oleh 4 objek yang melakukan aktivitas tubuh dan 1
objek sebagai kontroler, objek 1 yaitu Agustina, objek 2 Fitri, objek 3 Neny, dan
objek 4 Senja, dan Dhias sebagai kontroler. Langkah pertama yang dilakukan dalam
percobaan ini adalah dengan pengukuran parameter pada saat tidak beraktivitas yang
dilanjutkan dengan pengukuran saat beraktivitas ringan dan beraktivitas berat. Untuk
aktivitas ringan objek melakukan kegiatan dengan jalan berjalan santai di sekitar
laboratorium biologi. Sedangkan untuk aktivitas berat objek melakukan kegiatan lari
mengitari halaman laboratorium selama kurang lebih 15 menit.
Dari percobaan yang dilakukan diperoleh hasil untuk masing masing objek
adalah sebagai berikut:
1. Objek 1
Suhu tubuh objek 1 yang terukur pada keadaan base line adalah 36,8C,
setelah melakukan kegiatan ringan suhu meningkat menjadi 36,85C, dan setelah
melakukan kegiatan berat suhu tubuh naik menjadi 36,9C. Frekuensi nadi pada
keadaan istirahat 105/menit, setelah melakukan kegiatan ringan 113/menit dan

setelah melakukan kegiatan berat menjadi 125/menit. Laju pernapasan pada


keadaan istirahat 19/menit, setelah melakukan kegiatan ringan menjadi 23/menit
dan setelah melakukan kegiatan berat 50/menit. Warna kulit pada keadaan
istirahat terlihat normal, setelah beraktifitas ringan kulit menjadi agak merah,
dan setelah melakukan kegiatan berat kulit menjadi merah. Pada keadaan
istirahat objek belum mengelarkan keringat, setelah melakukan aktifitas ringan
mulai mengeluarkan sedikit keringat dan setelah melakukan kegiatan berat
keringat yang keluar banyak.
2. Objek 2
Suhu tubuh objek 2 yang terukur pada keadaan base line adalah 36,9C,
setelah melakukan kegiatan ringan suhu turun menjadi 36,8C, dan setelah
melakukan kegiatan berat suhu tubuh naik menjadi 37C. Frekuensi nadi pada
keadaan istirahat 96/menit, setelah melaukan kegiatan ringan 98/menit dan
setelah melakukan kegiatan berat menjadi 128/menit. Laju perapasan pada
keadaan istirahat 25/menit, setelah melakukan kegiatan ringan menjadi 30/menit
dan setelah melakukan kegiatan berat 51/menit. Warna kulit pada keadaan
istiraat terlihat normal, setelah beraktifitas ringan kulit menjadi agak merah, dan
setelah melakukan kegiatan berat kulit menjadi merah. Pada keadaan istirahat
objek belum mengelarkan keringat, setelah melakukan aktifitas ringan mulai
mengeluarkan sedikit keringat dan setelah melakukan kegiatan berat keringat
yang keluar banyak.
3. Objek 3
Suhu tubuh objek 3 yang terukur pada keadaan base line adalah 36,9C,
setelah melakukan kegiatan ringan suhu turun menjadi 36,8C, dan setelah
melakukan kegiatan berat suhu tubuh naik menjadi 36,8C. Frekuensi nadi pada
keadaan istirahat 89/menit, setelah melaukan kegiatan ringan 98/menit dan
setelah melakukan kegiatan berat menjadi 102/menit. Laju pernapasan pada
keadaan istirahat 19/menit, setelah melakukan kegiatan ringan menjadi 19/menit
dan setelah melakukan kegiatan berat 47/menit. Warna kulit pada keadaan
istirahat terlihat normal, setelah beraktifitas ringan kulit menjadi agak merah,

dan setelah melakukan kegiatan berat kulit menjadi merah. Pada keadaan
istirahat objek belum mengeluarkan keringat, setelah melakukan aktifitas ringan
mulai mengeluarkan sedikit keringat dan setelah melakukan kegiatan berat
keringat yang keluar banyak.

4. Objek 4
Suhu tubuh objek 4 yang terukur pada keadaan base line adalah 36,9C,
setelah melakukan kegiatan ringan suhu meningkat menjadi 37C, dan setelah
melakukan kegiatan berat suhu tubuh tetap 37C. Frekuensi nadi pada keadaan
istirahat 75/menit, setelah melaukan kegiatan ringan 81/menit dan setelah
melakukan kegiatan berat menjadi 105 menit. Laju pernapasan pada keadaan
istirahat 38/menit, setelah melakukan kegiatan ringan meningkat menjadi
45/menit dan setelah melakukan kegiatan berat 54/menit. Warna kulit pada
keadaan istiraat terlihat normal, setelah beraktifitas ringan kulit menjadi agak
merah, dan setelah melakukan kegiatan berat kulit menjadi merah. Pada keadaan
istirahat objek belum mengeluarkan keringat, setelah melakukan aktifitas ringan
mulai mengeluarkan sedikit keringat dan setelah melakukan kegiatan berat
keringat yang keluar banyak.
5. Objek 5
Objek 5 merupakan kontroler pada praktikum kali ini, parameter yang diukur
merupakan parameter dalam keadaan stabil, dimana tubuh sedang dalam keadaan
istirahat.
Dari percobaan yang dilakukan diperoleh rata-rata masing-masing parameter yang
diukur sebagai berikut:
1. Suhu
Base line
Mild exercise
Moderate exercise

: 36,88C
: 36,86C
: 36,92C

suhu
36.95
suhu

36.9
36.85
36.8
base line

2. Frekuesi nadi
Base line
Mild exercise
Moderate exercise

mild exercise

moderate exercise

: 91/menit
: 94/menit
: 115/menit

frekuensi nadi
140
120
100
80
60
40
20
0

3. Laju respirasi
Base line
Mild exercise
Moderate exercise

frekwensi nadi

: 25/menit
: 29/menit
: 50/menit

laju respirasi
60
40
20
0
base line

4. Warna kuit
Base line

laju
respirasi

: normal

Mild exercise
Moderate exercise
5. Jumlah keringat
Base line
Mild exercise
Moderate exercise

: mulai memerah
: merah
: tidak ada
: sedikit
: sangat banyak

Berdasarkan hasil rata-rata data percobaan untuk masing-masing objek terdapat


perbedaan saat istirahat, beraktivitas ringan (mild exercise) dan beraktivitas berat
(moderate exercise). Perubahan suhu tubuh, banyaknya frekuensi nadi dan frekuensi
respirasi serta perubahan warna kulit dan banyaknya keringat menunjukan bahwa
aktifitas tubuh merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi sistem regulasi
manusia.
a. Suhu tubuh dan produksi kerigat
Panas tubuh dihasilkan dari oksidasi atau katabolisme makanan. Otot yang
bekerja berat saat moderat exercise memerlukan energi dari hasil katabolisme lebih
banyak dari pada saat base line dan mild exercise. Oleh karena itu pada saat
moderate exercise suhu tubuh menjadi lebih panas. Untuk menjaga suhu tubuh tetap
stabil pada pada kisaran suhu normal (homeostatis), maka tubuh akan merespon
perubahan suhu tersebut dengan mengeluarkan keringat. Pengeluaran keringat
dirangsang oleh pengeluaran impuls dipeptik anterior hipotalamus melalui jalur saraf
simpatik ke seluruh tubuh dan rangsangan pada saraf simpatis ke seluruh kulit tubuh.
Hal ini menyebabkan rangsangan pada saraf kolinergik ke kelenjar keringat dapat
merangsang produksi keringat. Jika kita terlalu panas karena pengaruh dari dalam
tubuh kita, maka thermoreseptor akan mengirimkan impuls saraf ke hipotalamus.
Selanjutnya Hipothalamus akan mengirimkan pesan respon ke efektor seperti kulit
untuk meningkatkan hilangnya panas dari permukaan dengan :

Peningkatan suhu tubuh direspon dengan berdirinya bulu rambut

(piloereksi) karena kontraksi otot-otot kulit.


Kelenjar-kelenjar di bawah kulit akan mensekresi keringat ke permukaan
kulit untuk meningkatkan hilangnya panas dengan evaporasi jika suhu
tubuh meningkat. Sekresi keringat akan berhenti jika suhu tubuh sudah
kembali normal.

Pembuluh darah yang mengaliri kulit akan melebar untuk membawa


lebih banyak panas keluar tubuh (vasodilatasi) jika suhu tubuh
meningkat, dan pembuluh darah akan mengkerut (vasokonstriksi) untuk
meminimalkan hilangnya panas lewat kulit jika suhu tubuh sudah normal

kembali.
Pengukuran suhu yang dilakukan pada objek 2 dan objek 3 setelah
melakukan aktivitas ringan (mild exsercise) justru menunjukan penurunan suhu
dibandingkan saat keadaan istirahat (baseline). Yaitu suhu yang terukur pada saat
istirahat 36,9C dan setelah melakukan kegiatan ringan suhu turun

0,1C

menjadi 36,8C. Hal ini dimungkinkan karena pengukuran suhu dilakukan pada
selang waktu yang agak lama setelah melakukan kegiatan ringan tersebut,
sehingga keringat yang muncul telah menurunkan suhu tubuh.
b. Frekuensi denyut nadi
Setelah melakukan aktivitas, frekuensi denyut nadi pada masing-masing
objek mengalami kenaikan. Dan kenaikan ini menghasilkan perbedaan jumlah
denyut nadi yang terhitung selama satu menit. Ini menandakan bahwa semakin
berat aktivitas yang dilakukan, maka semakin tinggi frekuensi denyut nadi. Hal
ini sesuai dengan teori umpan balik negatif dimana untuk menjaga homeostatis
tubuh harus mampu menditeksi faktor-faktor penyimpangan dalam lingkungan
internal yang perlu diatasi dengan cepat, dan harus mampu mangontrol berbagai
sistem tubuh yang bertanggung jawab mengatur sistem-sistem tersebut.
Mekanisme teori umpan balik negatif yang dilakukan adalah sebagai
berikut. Otot yang aktif dengan cepat memerlukanO 2 dan menghasilkan CO2
serta manghasilkan energi untuk menunjang aktifitas kontraktilnya. Aktifitas otot
tersebut cenderug menurunkan konsentrasi O2 dan meningkatkan konsentrasi
CO2 di dalam otot. Keadaan tersebut akan mempengaruhi secara langsung pada
otot polos dinding pembuluh darah yang memasok O2 kepada otot. Kemudian
perubahan zat kimia (CO2 dan O2) menyebabkan otot polos relaksasi dan
pembuluh darah melebar menyebabkan peningkatan aliran darah ke daerah otot
yang aktif tadi. Mekanisme setempat (lokal) tersebut menyumbang memelihara
tingkat optimal O2 dan CO2 dalam lingkungan cairan internal disekitar sel-sel

otot yang aktif tadi. Sehingga semakin berat aktivitas yang dilakukan, denyut
nadi untuk menyuplai oksigen ke otot yang aktif akan semakin cepat berdetak
(Soewolo, 2005:10).
c. Laju respirasi
Pada perhitungan laju respirasi juga terjadi peningkatan frekuensi respirasi
dari keadaan istirahat, kemudian melakukan aktivitas ringan dan aktivitas berat
bagi masing masing objek.Kenaikan frekuensi inspirasi ditandai dengan objek
yang bernafas terengah-engah dan semakin cepatnya jeda antara menghirup
udara dan melepaskan kembali udara. Kejadian ini bertujuan agar tubuh tetap
terpelihara dalam homeostasisnya. Dari hasil percobaan tersebut menunjukkan
bahwa semakin berat aktivitas yang kita lakukan maka akan semakin cepat
frekuensi respirasi yang kita hirup (inspirasi) maupun yang dikeluarkan atau
dihembuskan (ekspirasi).
Stimulasi kimia tertentu menentukan seberapa cepat kita bernapas. Tujuan
pokok sistem respirasi adalah menjaga derajat karbon dioksida dan oksigen yang
tepat. Sistem ini sangat responsi terhadap perubahan dalam darah. Sama halnya
dengan peningkatan frekuensi detak nadi, peningkatan laju respirasi juga
dipengaruhi oleh aktifitas otot, otot yang aktif dengan cepat memerlukanO 2 dan
menghasilkan CO2 serta manghasilkan energi untuk menunjang aktifitas
kontraktilnya. CO2 yang dihasilkan akan bereaksi dengan air menghasilkan asam
karbonat. Pengendalian kedalaman dan frekuensi pernapasan diatur oleh pusat
pernapasan yang berada dalam batang otak. Pusat pernapasan ini sangat peka
terhadap perubahan keasaman darah, keasaman darah ini diantaranya
dipengaruhi oleh kadar karbondioksida dari hasil pembakaran didalam jaringan
(Soedjono, 1988: 338).
Didalam medulla ada area kemosensitive yang peka terhadap konsentrasi
CO2 dalam darah dan kemoreseptor yang peka terhadap konsentrasi CO 2 dan O2.
Peningkatan kadar CO2 dalam darah akan menjadi stimulus pada area
kemosintetis dan kemoreseptor. Sehingga menyebabkan area-area inspiratori
sangat aktif dan laju respirasi meningkat (Irianto, 2013: 221).

d. Warna Kulit
Setelah melakukan aktivitas, warna kulit pada masing-masing objek
mengalami perubahan. Pada aktivitas ringan (Mild exercise) objek 1-4
mengalami perubahan warna kulit menjadi agak kemerahan, sementara warna
kulit objek kontrol tetap. Pada aktivitas berat (Moderate exercise) warna kulit
objek 1-4 mengalami perubahan menjadi kemerahan, sementara objek 5 yang
merupakan objek kontrol tidak mengalami perubahan warna kulit.
Warna kulit dihasilkan oleh dua faktor, yaitu jumlah produksi melanin dan
tingkat oksigensi darah. Seseorang dengan tingkat produksi melanin tinggi
memiliki kulit bersifat coklat, pada orang yang berkulit lebih cerah, memiliki
lebih sedikit melanin, darah dermal memasok warna merah memasok warna
melalui sel-sel lapisan lebih atas yang agak transparan, sehingga kulit berwarna
merah. Bila darah dermal kekurangan oksigen atau tidak bersirkulasi dengan
baik, kulit akan menjadi kebiruan atau disebut sianotik (Soewolo, 2005: 283).
Pada hasil pengukuran diatas menunjukan suatu perubahan yang disebabkan oleh
aktivitas tubuh. Pada saat tubuh tidak melakukan aktivitas suhu tubuh, frekuensi
pernapasan, frekuensi detak nadi, dalam keadaan normal, serta tidak menghasilkan
keringat dan warna kulit normal. Setelah melakukan aktivitas sistem regulasi tubuh
mulai menyesuaikan agar tubuh dalam kodisi dimana tubuh dapat melakukan aktivitas
secara optimal dengan menaikan suhu, meningkatkan frekuensi respirasi dan denyut
nadi serta mengeluarkan keringat. Sistem ini disebut sistem regulasi dan homeostatis.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan, kami dapat menyimpulkan:
1. Pengaturan (regulasi) pada manusia terdapat bermacam-macam antara lain:
a. Regulasi suhu tubuh
Setiap individu memiliki mekanisme pengaturan suhu tubuh yang
berbeda-beda hal ini dibuktikan dengan adanya variasi pada pengukuran
suhu tubuh dari masing-masing individu. Suhu tubuh manusia
mempunyai rentang yang sempit, sehingga pengaturan suhu tubuh
diperlukan untuk menjaga agar sel-sel tubuh tetap dapat berfungsi dengan
optimal.
Fungsi sel dapat rusak bila dalam kondisi suhu yang ekstrem.
Aktivitas yang kita lakukan dapat memicu peningkatan suhu tubuh,
karena saat kita beraktivitas jantung akan memompa darah lebih cepat
sehingga suhu tubuh akan naik.
b. Regulasi kadar O2 dan CO2 dalam darah
Pada mekanisme respirasi terjadi pertukaran O2 dan CO2 dalam
darah. Frekuensi respirasi dipengaruhi oleh keadaan tubuh individu. Hal
ini terlihat pada perbandingan frekuensi respirasi pada kondisi tubuh
rileks, sesudah melakukan aktivitas ringan dan sesudah beraktivitas berat.
Frekuensi respirasi semakin bertambah seiring dengan aktivitas yang
dilakukan.
2. Mekanisme regulasi homeostasis dalam tubuh manusia menekankan pada
pengaturan kemantaban atau kekonstanan dari suatu keadaan lingkungan
internal. Saat kita pada kondisi normal atau rileks, maka saat itulah terjadi
homeostasis. Sedangkan saat kita melakukan aktivitas tubuh akan
memberikan berbagai respon yang dapat diamati secara fisiologis, seperti

kenaikan suhu tubuh, peningkatan frekuensi nadi dan peningkatan laju


respirasi. Selain itu kita juga dapat mengamati perubahan warna kulit dan
peningkatan jumlah keringat.
B. SARAN
Pada percobaan regulasi dan homeostasis, kita harus melakukan aktivitas
fisik untuk mengetahui perubahan seperti suhu tubuh, denyut nadi dan laju
respirasi yang terjadi pada tubuh sebagai respon dari aktivitas yang kita lakukan
sehingga kita harus menyiapkan tubuh dalam kondisi yang bugar. Oleh karena itu
kita harus sarapan terlebih dahulu. Saat melakukan aktivitas fisik kita tidak boleh
terlalu memaksakan jika tidak kuat. Selain itu kita harus teliti dalam melakukan
pengukuran dan pengamatan pada perubahan kondisi tubuh.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, NA dan Reece, JB. (2008). Biologi Jilid 3 Edisi Kedelapan (Alih Bahasa:
Damaring Tyas Wulandari, S. Si). Jakarta: Penerbit Erlangga
Drs. Kus

Irianto. (2013). Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis.

Bandung: Yrama Widya

Drs. Soedjono Basoeki, M.Pd. (1998). Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jakarta:
P2LPTK Jakarta
Drs. Soewolo, M.Pd, dkk. (2005). Fisiologi Manusia. Malang: UM Press
Guyton.A.C. (1996). Textbook of Medical Physiology. Philadelpia: Elsevier saunders.
(Diakses dari: http:// Homeostasis,%20Patologi%20Sirkulasi%20Darah%20_%
20Diary%20Veteriner. Tanggal 4 November 2014, Jam 9:17:32).
Syaifuddin. (2009). Fisiologi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan edisi 2.
Jakarta: Penerbit Salemba Medika
Syamsudin Subahar, ST. (2009). Biologi 2. Jakarta: Quadra

LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai