Anda di halaman 1dari 12

Penyakit Oxyuriasis pada Anak Laki-laki

Ivander Benedict H
102011287
Ivander.benedict@yahoo.com
Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta

Skenario
Anak laki-laki usia 3 tahun dibawa oleh ibunya ke puskesmas dengan keluhan kalau
malam tidur gelisah, selalu menggaruk daerah anusnya sejak 5 hari yang lalu. Tanda-tanda vital
tidak ada kelainan, tidak nafsu makan. Pada pemeriksaan tinja terlihat telur cacing dengan
dinding asimetris.

Pendahuluan
Oxyuriasis merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh golongan nematode usus
yang adalah kelompok penting bagi masyarakat Indonesia karena masih banyak yang menderita
penyakit yang disebabkan oleh nematode usus.1 Hal ini berkaitan dengan banyak factor yang
berperan sebagai penunjang hidupnya cacing parasite ini diantaranya social ekonomi dan
pendidikan. Oxyuriasis merupakan implikasi social terhadap anak dan keluarganya dibanding
masalah medis.2 Karena secara klinis infeksi cacing ini tidak berbahaya. Oxyuris vermicularis
termasuk dalam kelompok non-soil transmitted disease bersama dengan Trichinella spiralis.
Pembahasan selengkapnya mengenai oxyuriasis akan dilanjutkan pada bagian- bagian berikut.

Anamnesis
Anamnesis merupakan suatu proses pengambilan data yang dilakukan oleh seorang
dokter dengan cara melakukan serangkaian wawancara. Anamnesis bertujuan untuk mengetahui
keluhan yang dialami oleh pasien serta faktor-faktor pencetus yang menyebabkan keluhan
tersebut terjadi.
Anamnesis terdiri dari :
1.
Identitas
Meliputi nama lengkap, jenis kelamin, tempat tanggal lahir, umur, status perkawinan,
agama, pekerjaan, suku bangsa, alamat dan pendidikan
2.
Keluhan utama

Merupakan factor pencetus yang menyebabkan pasien datang ke dokter. Sebagai contoh
dengan scenario diatas maka keluhan utama yang dialami oleh pasien ialah malam tidur gelisah
dan selalu menggaruk daerah anusnya. Keluhan utama dapat mengarahkan dokter untuk
mendiagnosis penyakit yang diderita pasien. Beberapa penyakit memiliki keluhan utama yang
spesifik sehingga dengan anamnesis yang baik dan teliti maka akan sepenuhnya memberikan
dokter petunjuk mengenai diagnosis yang sebenarnya
3.
Riwayat penyakit sekarang
Merupakan rincian secara lebih jelas lagi dari penyakit yang sedang diderita oleh pasien.
Pada kasus diatas dapat ditanyakan mengenai berapa lama anak itu mengalami gangguan yaitu
selalu gelisah pada malam hari dan menggaruk daerah anusnya, apakah terjadi penurunan berat
badan, bagaimana nafsu makan anak tersebut, apakah ada keluhan lain yang ikut menyertai
keluhan utama pasien seperti mual, muntah, atau demam. 3 Apakah pada saat anak merasa gatal
orang tua melihat di daerah yang gatal tersebut terdapat cacing atau tidak. Rasa gatal juga harus
dibedakan dengan gatal yang disebabkan oleh jamur atau parasite lainnya
4.
Riwayat penyakit dahulu
Dapat ditanyakan pada orang tua pasien apakah sebelummnya anak tersebut pernah
menderita sakit seperti ini, sebelumnya pasien pernah sakit apa
5.
Riwayat penyakit dalam keluarga
Ditanyakan dalam keluarga apakah ada yang mengalami hal serupa. Ataukah dalam
keluarga terdapat riwayat penyakit yang berhubungan dengan penyakit sekarang yang diderita
pasien
6.
Riwayat pribadi
Ditanyakan mengenai kebersihan lingkungan, kebiasaan mandi, kebiasaan mencuci
tangan. Untuk kasus diatas dapat ditanyakan bagaimana keseharian anak tersebut, bagaimana
kondisi lingkungan tempat dia paling sering bermain, bagaimana teman-teman sepermainanya.

Pemeriksaan Penunjang
Menggunakan alat anal swab : yaitu menemukan cacing atau telur cacing enterobius
vermicularis. Sering tanda-tanda infeksi awal adalah ditemukan cacing dewasa dalam tinja
setelah enema atau disektiar anus. Telur jarang ditemukan di dalam tinja, hanya 5 % saja telur

ditemukan dalam tinja pada orang yang menderita infeksi ini. Telur paling mudah ditemukan
dengan menghapus daerah sekitar anus dengan scotch adhesive tape swab menurut graham.4 Tes
ini member hasil positif yang tinggi serta dapat menemukan telur cacing dalam jumlah besar.
Dengan cara ini sepotong scoth tape ditempelkan pada daerah sekitar anus, diambil dan diratakan
di atas kaca sediaan dan dibubuhi sedikit dengan toluol untuk pemeriksaan mikroskopik.
Pemeriksaan harus dilakukan beberapa kali. Sekali pemeriksaan dengan swab hanya menemukan
kira-kira 50% dari hasil pemeriksaan, 3 kali pemeriksaannya kira-kira keberhasilannya 90 % dan
pemeriksaan 7 hari berturut-turut diperlukan untuk menyatakan seseorang bebas infeksi cacing
kremi. Swab untuk menemukan telur sebaiknya dibuat pada pagi hari sebelum mandi atau
defekasi. Kira-kira spertiga anak yang terinfeksi parasit ini, dapat ditemukan telurnya dikuku
jari. Telur dapat dikenal karena bentuknya asimetris dan isinya berupa embrio dalam stadium
lanjut.4

Diagonsis Differential
Ascariasis
Asacariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh ascaris lumbricoides. Pada stadium
larva, Ascaris dapat menyebabkan gejala ringan di hati dan di paru-paru akan menyebabkan
sindrom Loeffler. Sindrom Loeffler merupakan kumpulan tanda seperti demam, sesak nafas,
eosinofilia, dan pada foto Roentgen thoraks terlihat infiltrat yang akan hilang selama 3 minggu.
Pada stadium dewasa, di usus cacing akan menyebabkan gejala khas saluran cerna seperti tidak
nafsu makan, muntah-muntah, diare, konstipasi, dan mual. Bila cacing masuk ke saluran empedu
makan dapat menyebabkan kolik atau ikterus. Bila cacing dewasa kemudian masuk menembus
peritoneum badan atau abdomen maka dapat menyebabkan akut abdomen.
Diagnosis askariasis dilakukan dengan menemukan telur pada tinja pasien atau ditemukan
cacingdewasa pada anus, hidung, atau mulut.3,4

Working Diagnosis
Oksiuriasis

Pengertian

Infeksi cacing kremi (oksiuriasis, enterobiasis) adalah infeksi parasit yang disebabkan
Enterobius vermicularis. Parasit ini terutama menyerang anak anak; cacing tubuh dan
berkembang baik di dalam usus.

Epidemiologi
Penyebaran cacing kremi luas daripada cacing lainya. Penularan dapat terjadi pada keluarga
atau kelompok yang hidup dalam satu lingkungan yang sama ( asarama, rumah piatu ). Telur
cacing dapat di isoloasi dari debu di ruangan sekolah atau kafetaria sekolah dan menjadi sumber
infeksi bagi anak-anak di sekolah. Di berbagai rumah tangga dengan beberapa anggota keluarga
yang mengandung cacing kremi, telur cacing ditemukan 92% di lantai, meja, kursi, buffet,
tempat duduk kakus, pakaian dan tilam. Penelitian di daerah Jakarta timur melaporkan bahwa
kelompok usia terbanyak menderita enterobiasis adalah kelompok usia 5-9 tahun yaitu pada 46
anak. Peniularan dapat dipengaruhi oleh:
-

Penularan dari tangan ke mulut sesudah mengaruk perianal atau tangan dapat
menyebarkan telur kepada orang lain maupun kepada diri sendiri karena memegang

benda-benda maupun pakaian yang terkontaminasi.


Debu merupakan sumber infeksi karena diterbangkan oleh angin sehingga telur melalui

debu dapat tertelan.


Retroinfeksi melalui anus. Larva yang menetas di sekitar anus kembali masuk ke usus.

Anjing dan kucing tidak mengandung cacing kremi tetapi dapat menjadi sumber infeksi oleh
karena telur dapat menempel di bulunya. Frekuensi di Indonesia tinggi terutama pada anak dan
lebih banyak ditemukan pada golongan ekonomi lemah, frekuensi orang kulit putih lebih tinggi
dibandingakan orang kulit negro. Kebersihan perorangan penting untuk pencegahan. Kuku
hendaknya pendek , tangan dicuci bersih sebelum makan. Anak yang mengandung cacing kremi
sebaiknya memakai celana panjang jika hendak tidur supaya kasur tidak terkontaminasi dan
tangan tidak dapat menggaruk daerah perianal. Makanan hendaknya dihindarkan debu dan
tangan yang mengandung telur. Pakaian dan alas kasur hendaknya dicuci bersih dan diganti
setiap hari.1,4

Etiologi

Enterobius vermicularis. Nama lain Oxyuris vermicularis, cacing kremi, pinworm, seatworm,
threadworm.
Etiologi dari penyakit infeksi ini (enterobiasis atau oksiuriasisi) adalah Enterobius
vermicularis,atau dalam bahasa awam disebut cacing kremi. Cacing betinanya berukuran 8-13
mm sedangkan jantan 2-5 mm. Cacing dewasa hidup di sekum, usus besar dan di usus halus yang
berdekatandengan sekum. Mereka memakan isi usus penderitanya. Perkawinan (atau
persetubuhan) cacing jantan dan betina kemungkinan terjadi di sekum. Cacing jantan mati
setelah kawin dan cacing betina mati setelah bertelur. Cacing betina yang mengandung 11.00015.000 butir telur akan bermigrasi ke daerah sekitar anal (perianal) untuk bertelur. Migrasi ini
berlangsung 15 40 harisetelah infeksi. Telur akan matang dalam waktu sekitar 6 jam
setelah dikeluarkan, pada suhutubuh. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13
hari.4,5

Morfologi dan Siklus Hidup


Cacing dewasa merupakan cacing kecil, berwarna keputih putihan. Pada ujung anterior
terdapat pelebaran menyerupai sayap yang disebut ala cephalic lateral. Mulutnya dikelilingi tiga
buah bibir yaitu sebuah bibir dorsal dan dua buah bibir lateroventral. Dari rongga mulut, masuk
ke dalam esofagus yang terlihat jelas.
Cacing betina berukuran ( 8 13) mm x (0,3-0,5) mm, bagian posterior pada lebih kurang
1/5 panjang tubuh, tampak ujungnya runcing seperti duri yang terdiri atas jaringan hialin. Vulva
terletak antara 1/3 bagian anterior tubuh. Pada cacing hamil, uterus penuh berisi telur hampir
mengisi seluruh tubuh kecuali bagian ekor. Alat genital berpasangan (duplex) serta anus terletak
pada 1/3 posterior tubuh. Cacing jantan, berukuran (2-5)mmx(0,1-0,3)mm, bagian ekor tumpul,
menggulung, memiliki sebuah spikulum yang jarang terlihat.6
Telur, berukuran (50-60)x(20-30)mm, bentuk lonjong asimetris, salah satu sisi rata
sedangkan sisi lainnya cembung. Dinding telur bening, agak lebih tebal dari telur cacing
tambang, di dalamnya berisi embrio yang terlipat. Telur ini merupakan telur matang (infektif).

Seekor cacing betina sehari dapat menghasilkan 11.000 telur. Cacing jantan mati setelah
kopulasi, sedangkan cacing betina akan terus melanjutkan siklusnya. Cacing betina yang hamil
dan mau bertelur, malam hari bermigrasi menuju anus. Karena suhu di luar lebih rendah, uterus
dan vagina berkontraksi, telur keluar berkelompok di daerah perianal dan perinium. Cacing
betina mati setelah bertelur.
Beberapa jam kemudian telur telah menjadi matang dan infektif, selanjutnya terjadi salah
satu hal di bawah ini :
1.

Autoinfeksi, karena daerah perianal gatal, digaruk, telur menempel pada


tangan atau di bawah kuku, kemudian telur ini termakan oleh hospes yang
sama.

2.

Telur tersebar pada kain tempat tidur, pakaian bahkan pada debu dalam kamar
yang mengontaminasi makanan atau minuman sehingga dapat menginfeksi
orang lain. Seorang dapat pula terinfeksi dengan menghirup udara yang
tercemar

3.

(infeksi

aerogen/per

inhalasi)

Retrograd infeksi atau retrofeksi, mungkin telah ada larva yang menetas
setelah cacing betina meletakkan telur di perianal, larva masuk kembali ke
usus melalui anus sehingga akan terjadi infeksi baru.

Telur yang tertelan menetas di dalam duodnum, keluar larva untuk menjadi dewasa dalam
caecum dan sekitarnya. Waktu yang dibutuhkan sejak menelan telur infektif sampai cacing betina
menghasilkan telur lebih kurang 2 4 minggu. Cacing ini berumur pendek, maksimum 2,5
bulan.6

Patofisiologi
Cacing Enterobius vermicularis menyebabkan infeksi cacing kremi yang disebut juga
enterobiasis atau oksiuriasis. Infeksi biasanya terjadi melalui 2 tahap. Pertama, telur cacing
pindah dari sekitar anus penderita ke pakaian, seprei atau mainan. Kemudian melalui jari jari

tangan, telur cacing juga dapat terhirup dari udara kemudian tertelan. Setelah telur cacing
tertelan, lalu larvanya menetas di dalam usus kecil dan tumbuh menjadi cacing dewasa di dalam
usus besar (proses pematangan ini memakan waktu 2 6 minggu).
Cacing dewasa betina bergerak ke daerah di sekitar anus (biasanya pada malam hari)
untuk menyimpan telurnya di dalam lipatan kulit anus penderita. Telur tersimpan dalam suatu
bahan yang lengket. Bahan ini dan gerakan dari cacing betina inilah yang menyebabkan gatal
gatal. Telur dapat bertahan hidup di luar tubuh manusia selama 3 minggu pada suhu ruangan
yang normal. Tetapi telur bisa menetas lebih cepat dan cacing muda dapat masuk ke dalam
rektum dan usus bagian bawah.5,6
Sebagian besar jenis cacing parasit termasuk cacing kremi merupakan soil transmited
infection yang penularannya harus diperantarai oleh tanah. Telur cacing parasit baru akan
menjadi bentuk infektif (bisa menginfeksi) jika sudah berada di tanah, kemudian masuk lewat
saluran pencernaan.
Penularan cacing harus melalui tanah, terutama tanah liat. Bahkan tinja sekalipun kalau langsung
dijilat tidak akan menularkan cacing. Telur cacing yang terbang ke udara juga hanya akan
menular jika hinggap di makanan, jadi tidak menular lewat pernapasan. Penyakit ini sama seperti
penyakit kulit yang bisa menular. Penularan cacing kremi terjadi autoinfeksi karena telurnya
bisa nempel dimana aja, di pakaian, sprei or debu , sehingga akibat tidak hygienisnya tangan /
kuku sehingga bersama makanan masuk ke mulut dari tangannya yang penuh telur/debu.
Penyakit kremian ini sering pula disebut penyakit enterobiasis /oksiuriasis penyakit yang sangat
sering ditemukan terutama pada anak-anak.4,6
Infeksi ini dapat terjadi akibat tertelannya telur cacing enterobius vermicularis (oxyuris
vermicularis). Setelah telur cacing tertelan, larvanya akan menetas di usus duabelas jari
(duodenum) dan tumbuh menjadi bentuk dewasa di usus besar. Cacing betina yang hamil (dapat
mengandung 11.000-15.000 telur) akan berpindah ke daerah sekitar anus (perianal) untuk
mengeluarkan telur-telurnya disekitar anus. Proses berpindahnya cacing ini akan menimbulkan
sensasi gatal pada daerah sekitar anus penderita. Keadaan ini sering terjadi pada waktu malam
hari sehingga penderita sering terganggu tidurnya dan menjadi lemah. Selain gatal-gatal Gejala
lain yang dapat dirasakan oleh penderita infeksi cacing kremi adalah : Kurang nafsu makan,

berat badan menurun, aktivitas meningkat, sering mengompol, sepat marah, sulit tidur, dll.
Penularan cacing kremi dapat terjadi pada satu keluarga atau kelompok-kelompok yang hidup di
lingkungan yang sama, seperti asrama, rumah piatu, dll. Proses penularannya dapat terjadi
melalui :
-Penularan dari tangan ke mulut sesudah menggaruk darerah sekitar anus.
-Penularan dari tangan dapat menyebarkan telur kepada orang lain karena memegang bendabenda lain yang terkontaminasi telur cacing ini.
-Telur cacing dapat ditemukan di debu ruangan sekolah, asrama, kavetaria, dan lainnya. Telur
cacing di debu ini akan mudah diterbangkan oleh angin dan dapat tertelan.
- Telur yang telah menetas di sekitar anus dapat berjalan kembali ke usus besar melalui anus.
Penularan dapat dipengaruhi oleh :
1. Penularan dari tangan ke mulut sesudah menggaruk daerah perianal (autoinfeksi) atau tangan
dapat menyebarkan telur kepada orang lain maupun kepada diri sendiri karena memegang bendabenda maupun pakaian yang terkontaminasi.
2. Debu merupakan sumber infeksi oleh karena mudah diterbangkan oleh angin sehingga telur
melalui debu dapat tertelan.
3. Retrofeksi melalui anus : larva dari telur yang menetas di sekitar anus kembali masuk ke usus.
Anjing dan kucing bukan mengandung cacing kremi tetapi dapat menjadi sumber infeksi oleh
karena telur dapat menempel pada bulunya. Frekuensi di Indonesia tinggi, terutama pada anak
dan lebih banyak ditemukan pada golongan ekonomi lemah. Frekuensi pada orang kulit putih
lebih tinggi darpada orang negro. Kebersihan perorangan penting untuk pencegahan. Kuku
hendaknya selain dipotong pendek, tangan dicuci sebelum makan. Anak yang mengandung
cacing kremi sebaiknya memakai celana panjang jika hendak tidur supaya alat kasur tidak
terkontaminasi dan tangan tidak menggaruk daerah perianal. Makanan hendaknya dihindarkan
dari debu dan tangan yang mengandung parasit. Pakaian dan als kasur hendaknya dicuci bersih
dan diganti setiap hari.

Gejala Klinis
Entrobiasis relatif tidak berbahaya, jarang menimbulkan lesi yang berarti. Gejala klinis
yang menonjol disebabkan iritasi disekitar anus, perineum dan vagina oleh cacing betina gravid

yang bermigrasi kedaerah anus dan vagina sehingga menyebabkan pruritus lokal.. Oleh karena
cacing bermigrasi kedaerah anus dan menyebaban pruritus ani maka penderita menggaruk daerah
sekitar anus sehingga timbul luka garuk disekitar anus.
Keadaan ini sering terjadi pada waktu malam hari hingga penderita terganggu tidurnya dan
menjadi lemah. Kadang-kadang cacign dewasa muda dapat bergerak ke usus halus bagian
proksimal sampai ke lambung, esofagus dan hidung sehingga menyebabkan gangguan didaerah
tersebut. Cacing betina gravid mengembara dan dapat bersarang di vagina dan di tuba falopi
sehingga menyebabkan radang disaluran telur. Cacing sering ditemukan diapendiks tetapi jarang
menyebabkan appendisitis.
Beberapa gejala karena infeksi cacing Enterobiasis vermicularis dikemukakan oleh beberapa
penyelidik yaitu kurang nafsu makan, berat badan turun, aktifitas meninggi, enuresis, cepat
marah, gigi menggeretak, insomnia dan masturbasi, tetapi kadang sukar untuk membuktikan
hubungan sebab dengan cacing kremi.
Infeksi cacing kremi ringandengan hanya sejumlah kecil cacing dewasa dalam tubuhtidak ada
gejala. Gejala-gejala muncul dengan moderat atau infeksi berat. Beberapa minggu setelah
menelan telur cacing kremi, cacing betina dewasa bermigrasi dari usus ke daerah sekitar anus, di
mana mereka bertelur. Migrasi biasanya terjadi pada malam hari. Migrasi ini menyebabkan:
-Gatal-gatal di daerah anal atau vaginal.
-Insomnia.
-lekas marah dan gelisah Gejala saluran pencernaan yang samar-samar, seperti sebentar-sebentar
sakit perut dan mual.
Gejala umum terjangkiti oleh cacing kremi biasanya pada bagian dubur terasa gatal, berat badan
penderita menurun, terkadang juga mengalami diare. Apabila gejala gejala tersebut sudah
nampak jangan menggaruk dubur yang gatal dengan jari karena bila lecet dapat mengakibatkan
infeksi. Hindari makan makanan berlemak, kemudian olesi pada sekitar dubur dengan minyak
zaitun atau air garam.
Gejala lainnya berupa:
- Rasa gatal hebat di sekitar anus
- Rewel (karena rasa gatal dan tidurnya pada malam hari terganggu)
- Kurang tidur (biasanya karena rasa gatal yang timbul pada malam hari ketika cacing betina
dewasa bergerak ke daerah anus dan menyimpan telurnya disana)

- Nafsu makan berkurang, berat badan menurun (jarang terjadi, tetapi bisa terjadi pada infeksi
yang berat)
- Rasa gatal atau iritasi vagina (pada anak perempuan, jika cacing dewasa masuk ke dalam
vagina)
- Kulit di sekitar anus menjadi lecet atau kasar atau terjadi infeksi (akibat penggarukan).

Tatalaksana
Infeksi keremi ringan atau mereka yang tanpa gejala tidak membutuhkan pengobatan.
Jika seseorang memiliki gejala, perlu obat anti-parasit. Untuk gejala infeksi, obat-obatan hampir
selalu efektif dalam menghilangkan parasit. Karena anak-anak begitu mudah menyebar cacing
kremi kepada keluarga mereka, dokter akan meresepkan obat untuk seluruh anggota keluarga
mencegah agar terhindar dari infeksi dan reinfeksi.6,7
Cara terbaik untuk menghindari penyakit cacingan adalah dengan upaya pencegahan berupa
melaksanakan pola hidup bersih dan sehat, karena walau bagaimanapun upaya pencegahan lebih
baik daripada pengobatan.
Menjaga kebersihan perorangan berperan penting untuk pencegahan penyakit ini, antara lain
dengan :
- Kuku hendaknya selalu dipotong pendek
- Tangan hendaknya selalu dicuci sebelum makan
- Makanan sebaiknya dihindarkan dari debu dan tangan yang mengandung parasit
- Pakaian dan alas kasur hendaknya dicuci bersih dan diganti setiap hari.
Jika salah satu anggota keluarga terinfeksi cacing kremi, sebaiknya pengobatan diberikan kepada
seluruh keluarga, agar penyebaran cacing ini dapat dihentikan secara menyeluruh.
Seluruh anggota keluarga sebaiknya diberi pengobatan bila ditemukan salah seorang anggota
mengandung cacing kremi. Obat piperazin dosis tunggal 3-4 gram (dewasa) atau 25 mg/kg berat
badan (anak-anak), sangat efektif bial diberikan pagi hari diikuti minum segelas air sehingga
obat sampai ke sekum dan kolon. Efek samping yang mungkin terjadi adalah mual dan muntah.
Obat lain yang juga efektif adalah pirantel pamoat dosis 10 mg/kg berat badan atau mebendazol
dosis tunggal 100 mg atau albendazol dosis tunggal 400 mg. Mebendazol efektif terhadap semua

stadium perkembangan cacing kremi, sedangkan pirantel dan pipreazin dosis tunggal tidak
efektif terhadap stadium muda. Pengobatan sebaiknyadiulang 2-3 minggu kemudian. Pengobatan
secara periodik memberikan prognosis yang baik.7
Infeksi cacing kremi dapat disembuhkan melalui pemberian dosis tunggal obat anti-parasit
mebendazole, albendazole atau pirantel pamoat. Seluruh anggota keluarga dalam satu rumah
harus meminum obat tersebut karena infeksi ulang bisa menyebar dari satu orang kepada yang
lainnya.
Untuk mengurangi rasa gatal, bisa dioleskan krim atau salep anti gatal ke daerah sekitar anus
sebanyak 2-3 kali/hari.
Meskipun telah diobati, sering terjadi infeksi ulang karena telur yang masih hidup terus dibuang
ke dalam tinja selama seminggu setelah pengobatan. Pakaian, seprei dan mainan anak sebaiknya
sering dicuci untuk memusnahkan telur cacing yang tersisa.7
Langkah-langkah umum yang dapat dilakukan untuk mengendalikan infeksi cacing kremi
adalah:
- Mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar
- Memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku
- Mencuci seprei minimal 2 kali/minggu
- Mencuci jamban setiap hari
- Menghindari penggarukan daerah anus karena bisa mencemari jari-jari tangan dan setiap benda
yang dipegang/disentuhnya
- Menjauhkan tangan dan jari tangan dari hidung dan mulut.

Komplikasi
- salpingitis (peradangan saluran indung telur)
- vaginitis (peradangan vagina) dan infeksi ulang.

Prognosis
Pengobatan secara periodic memberikan prognosis yang baik.

Daftar Pustaka

1. Rusmartini T. Penyakit parasit pada usus. Enterobiasis. Dalam : Natadisastra D,


Agoes R. Parasitologi kedokteran ditinjau dari organ tubuh yang diserang. Edisi ke-1.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.h.88-90.
2. Widyono.
Penyakit
topis, epidemiologi, penularan,

pencegahan

dan

pemberantasannya. Penyakit cacing. Edisi ke-1. Jakarta: Penerbit Erlangga;


2008.h.132-4.
3. Dany F, Jaya DP. Pemeriksaan fisik dan anamnesis klinis. Gejala-gejala abdomen.
Edisi ke-1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2010.h.77-9.
4. Mandal, Wilkins, Dunbar, White M. Lecture notes penyakit infeksi. Helmintiasis.
Edisi ke-6. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2008.h.282-3.
5. Widodo H. Parasitologi kedokteran. Dasar-dasar parasitology kedokteran. Edisi ke-1.
Jogjakarta: Penerbit D-Medika; 2013.h.52-4.
6. Margono SS. Oksiuriasis. Dalam : Hadijadja P, Margono SS. Dasar parasitologi
klinik. Edisi ke-1. Jakarta: Penerbit FKUI;2011.h.155-8.
7. Pohan HT. Penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah. Dalam : Sudoyo AW,
Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi
ke-5. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI;
2009.h.2938-40.

Anda mungkin juga menyukai