Anda di halaman 1dari 26

REFERAT RADIOLOGI

FOTO THORAX

OLEH:
Febri Fendi
08700015
PEMBIMBING:
dr. Iriawati, Sp.Rad

KEPANITERAAN KLINIK RADIOLOGI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SIDOARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
rahmat dan karuniaNya lah penulis mampu menyeselesaikan tugas referat yang berjudul
Foto Thorax dengan tepat pada waktunya. Referat ini diajukan untuk memenuhi tugas
dalam rangka menjalani kepaniteraan klinik di SMF Radiologi.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. dr. Agustina, Sp.Rad, dr. Ririn, Sp.Rad, dr. Iriawati, Sp.Rad, dr. Tuty, Sp.Rad selaku
dokter pembimbing di SMF Radiologi RSUD Sidoarjo.
2. dr.Agustina, Sp.Rad selaku dokter pembimbing referat di SMF Radiologi RSUD Sidoarjo.
3. Kepada teman-teman sejawat dokter muda yang sudah memberikan masukan dan
membantu dalam menyelesaikan referat ini.
4. Kepada tenaga paramedis yang telah membantu penulis selama menjalankan kepaniteraan
klinik di SMF Radiologi RSUD Sidoarjo, dan semua pihak yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu yang telah membantu terwujudnya referat ini.
Penulis sangat menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu penulis
mengharapkan kritis serta saran yang membangun guna kemajuan karya penulis dimasa yang
akan datang. Semoga referat ini bermanfaat untuk dokter muda yang melaksanakan
kepaniteraan klinik di SMF Radiologi RSUD Sidoarjo, serta pembaca umum. Akhir kata
penulis mengucapkan terima kasih.
Sidoarjo, 7 Mei 2014

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman judul..........................................................................................................................1
Kata Pengantar....................................................................................................................... 2
Daftar Isi..................................................................................................................................3
BAB I. PENDAHULUAN.......................................................................................................4
1.1. Latar belakang................................................................................................................4
1.2. Tujuan.............................................................................................................................5
1.3. Manfaat...........................................................................................................................5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................................6
2.1 Macam macam cara pemeriksaan............................................................................. 6
2.2. Indikasi dilakukan foto thorax........................................................................................7
2.3.Pemilihan proyeksi pada foto thorax...............................................................................8
2.4. Kriteria Kelayakan foto thorax......................................................................................10
2.5. Interpretasi foto thorax..................................................................................................13
2.6. Syarat foto thorax normal.............................................................................................14
2.7. Kelainan Radiologi thorax............................................................................................15
BAB III. KESIMPULAN ......................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................26

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang
Foto thorax atau sering disebut chest x-ray (CXR) adalah suatu proyeksi radiografi

dari thorax untuk mendiagnosis kondisi-kondisi yang mempengaruhi thorax, isi dan
struktur-struktur di dekatnya. Foto thorax menggunakan radiasi terionisasi dalam bentuk
x-ray. Dosis radiasi yang digunakan pada orang dewasa untuk membentuk radiografi
adalah sekitar 0.06 mSv.
Foto thorax digunakan untuk mendiagnosis banyak kondisi yang melibatkan dinding
thorax, tulang thorax dan struktur yang berada di dalam kavitas thorax termasuk paruparu, jantung dan saluran-saluran yang besar. Pneumonia dan gagal jantung kongestif
sering terdiagnosis oleh foto thorax. CXR sering digunakan untuk skrining penyakit paru
yang terkait dengan pekerjaan di industri-industri seperti pertambangan dimana para
pekerja terpapar oleh debu.
Secara umum kegunaan Foto thorax/CXR adalah :
-

untuk melihat abnormalitas congenital (jantung, vaskuler)

untuk melihat adanya trauma (pneumothorax, haemothorax)

untuk melihat adanya infeksi (umumnya tuberculosis/TB)

untuk memeriksa keadaan jantung

untuk memeriksa keadaan paru-paru

1.2.

Tujuan

Adapun tujuan penulisan referat ini adalah:


1. Mengetahui pengertian foto thorax.
2. Mengetahui macam macam cara pemeriksaan
3. Mengetahui indikasi dilakukan foto thorax.
4. Mengetahui pemilihan proyeksi pada foto thorax.
5. Mengetahui kriteria kelayakan foto thorax
6. Mengetahui interpretasi foto thorax
7. Mengetahui syarat foto thorax normal
8. Mengetahui syarat foto thorax pa
9. Mengetahui thorax normal
10. Mengetahui kelainan radiologi thorax

1.3.
1.
2.
3.
4.

Manfaat
Mengetahui jenis pemeriksaan foto thorax
Mengetahui indikasi dilakukan foto thorax
Mengetahui jenis posisi foto thorax
Mengetahui mendeskripsikan aatau menginterpretasikan foto thorax normal dengan
sistematis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Macam-Macam Pemeriksaan
5

1. Fluoroscopy Thorax
Adalah cara pemeriksaan yang mempergunakan sifat tembus sinar rontgen
dan suatu tabir yang bersifat fluorosensi bila terkena sinar tersebut. Umumnya
cara ini tidak dipakai lagi, hanya pada keadaan tertentu yaitu bila kita ingin
menyelidiki pergerakan suatu organ / system tubuh seperti dinamika alat-alat
peredaran darah, misalnya jantung dan pembuluh darah besar, serta pernapasan
berupa diafragma dan aerasi paru-paru.
2. Rontgenography
Adalah pembuatan foto rontgen thorax agar distorsi dan magnifikasi yang
diperoleh menjadi sekecil mungkin, maka jarak antara tabung dan film harus 1,80
meter dan foto dibuat sewaktu penderita sedang bernapas dalam (inspirasi
maksimal).
3. Tomography
Istilah

lainnya

adalah

Plannigrafi,

Laminagrafi,

atau

Stratigrafi.

Pemeriksaan lapis demi lapis dari rongga dada, biasanya untuk evaluasi adanya
tumor atau atelektase yang bersifat padat.
4. Computerized Tomography (Ct-Scan)
Adalah tomography tranversal, dengan X-ray dan computer. Pemeriksaan
ini terutama pada daerah mediastinum.
5. Bronchography
Adalah pemeriksaan percabangan bronkus, dengan cara mengisi saluran
bronchial dengan salah satu bahan kontras yang bersifat opaque (menghasilkan
bayangan putih pada foto). Bahan kontras tersebut biasanya mengandung jodium
(lipiodol, dionosil, dsb).
Indikasi pemeriksaan ini misalnya pada bronkiektasis untuk meneliti letak,
luas, dan sifat bagian-bagian bronkus yang melebar dan pada tumor yang terletak
dalam lumen bronkus (space occupying lesions), yang mungkin mempersempit
bahkan menyumbat sama sekali bronkus bersangkutan.

6. Arteriography
Mengisi kontras pada pembuluh darah pulmonale, sehingga dapat
diketahui vaskularisasi pada mediastinum atau pada paru.
7. Angiocardiography
Adalah pemeriksaan untuk melihat ruang-ruang jantung dan pembuluh
darah besar dengan sinar rontgen (fluoroskopi atau rontgenografi), dengan
menggunakan suatu bahan kontras radioopaque, misalnya Hypaque 50%
dimasukkan dalam salah satu ruang jantung melalui kateter secara intravena.

2.2.

Indikasi Pemeriksaan Foto Thorax


Indikasi dilakukan antara lain :
1. Infeksi traktus respirasi bawah (TBC Paru, Bronkitis, Pneumonia)
2. Batuk kronis / berdarah
3. Trauma dada
4. Tumor
5. Nyeri dada
6. Metastase neoplasma
7. Penyakit paru kerja
8. Aspirasi benda asing
9. Persiapan pasien pre-operasi
10. Pemeriksaan berkala (follow up) yang objektif

2.3.

Pemilihan Proyeksi Pada Posisi Foto Thorax

1. Posisi PA (Postero Anterior)


7

Pada posisi ini film diletakkan di depan dada, siku ditarik kedepan supaya scapula
tidak menutupi parenkim paru.
2. Posisi AP (Antero Posterior)

Dilakukan pada anak-anak atau pada pasien yang tidak koorperatif. Film diletakkan
dibawah punggung, biasanya scapula menutupi parenkim paru. Jantung juga terlihat lebih
besar daripada posisi PA.

3. Posisi lateral dextra & sinistra

Posisi ini hendaknya dibuat setelah posisi PA diperiksa. Buatlah proyektil lateral kiri
kecuali semua tanda dan gejala klinis terdapat di sebelah kanan, maka dibuat proyeksi lateral
kanan, berarti sebelah kanan terletak pada film. Foto juga dibuat dalam posisi berdiri
4. Posisi lateral decubitus

Foto ini hanya dibuat pada keadaan tertentu, yaitu bila klinis diduga ada cairan bebas
dalam cavum pleura, tetapi tidak terlihat pada posisi PA atau lateral. Penderita terbaring pada
satu sisi (kanan atau kiri). Film diletakkan di punggung penderita dan diberikan sinar dari
depan arah horizontal.
5. Posisi apical (lordotik)

Foto ini dibuat pada foto PA bila menunjukkan kemungkinan adanya kelainan pada
daerah kedua apex paru. Proyeksi tambahan ini hendaknya hanya dibuat setelah foto rutin
diperiksa dan bila ada kesulitan menginterpretasikan suatu lesi di apex.
6. Foto Oblique Iga
Hanya dibuat bila pada PA menunjukkan kemungkinan adanya kelainan pada daerah
apeks kedua paru. Proyeksi tambahan ini hendaknya hanya dibuat setelah foto rutin diperiksa
dan bila ada kesulitan dalam menginterpretasikan suatu lesi di apeks paru.
7. Posisi ekspirasi
Adalah foto thorax PA atau AP yang diambil pada saat penderita dalam ekspirasi
penuh. Hanya dibuat bila foto rutin gagal menunjukkan adanya pneumothorax yang diduga
secara klinis atau suatu benda asing yang terinhalasi.

2.4.

Kriteria Kelayakan Foto

Foto thorax harus memenuhi beberapa criteria tertentu sebelum dinyatakan layak baca. Di
antara lain :
1. Faktor Kondisi
Yaitu factor yang menentukan kualitas sinar-X selama di kamar rontgen (tempat
expose). Factor kondisi meliputi hal-hal berikut yang biasa dinyatakan dengan menyebut
satuannya.

Waktu / lama exposure milliseconds (ms)

10

Arus listrik tabung mili Ampere (mA)

Tegangan tabung kilovolt (kV)

Ketiga hal di atas akan menentukan kondisi foto apakah

Cukup / normal

Kurang bila foto thorax terlihat putih (samar-samar)

Lebih bila foto thorax terlihat sangat hitam

Dalam membuat foto thorax ada dua kondisi yang dapat sengaja dibuat, tergantung
bagian mana yang ingin diperiksa yaitu :
a. Kondisi pulmo (kondisi cukup) foto dengan kV rendah
Inilah kondisi standard pada foto thorax, sehingga gambaran parenkim dan
corakan paru dapat terlihat. Cara mengetahui apakah suatu foto rontgen pulmo
kondisinya cukup atau tidak :
1. Melihat lusensi udara (hitam) yang terdapat di luar tubuh
2. Memperhatikan vertebrae thorakalis :

a. Pada proyeksi PA kondisi cukup : tampak VTh I-IV


b. Pada proyeksi PA kondisi kurang : hanya tampak VTh I
b. Kondisi kosta (kondisi keras / tulang) foto dengan kV tinggi
Cara mengetahui apakah suatu pulmo kondisinya keras atau tidak :

1. Pada foto kondisi keras, infiltrate pada paru tidak terlihat lagi. Cara
mengetahuinya adalah dengan membandingkan densitas paru dengan jaringan
lunak. Pada kondisi keras densitas keduanya tampak sama.

2. Memperhatikan vertebra thorakalis

Proyeksi PA kondisi keras : tampak VTh V-VI

11

Proyeksi PA kondisi tulang : yang tampak VTh I-XII selain itu densitas
jaringan lunak dan kosta terlihat mirip

2. Inspirasi Cukup
Foto thorax harus dibuat dalam keadaan inspirasi cukup. Cara mengetahuinya
adalah :

a. Foto dengan inspirasi cukup :

Diafragma setinggi VTh X (dalam keadaan expirasi diafragma


setinggi VTh VII-VIII)

Kosta VI anterior memotong dome diafragma

b. Foto dengan inpirasi kurang :

Ukuran jantung dan mediastinum meningkat sehingga dapat


menyebabkan salah interpretasi

Corakan bronkovesikuler meningkat sehingga dapat terjadi salah


interpretasi

3. Posisi Sesuai
Seperti telah diterangkan di atas, posisi standard paling banyak dipakai adalah PA
dan lateral. Foto thorax biasanya diambil dalam posisi erect.
Cara membedakan foto thorax posisi AP dan PA adalah :

Pada foto AP scapula terletak dalam bayangan thorax sementara pada foto PA
scapula terletak di luar bayangan thorax

Pada foto AP clavicula terlihat lebih tegak dibandingkan foto PA

Pada foto PA jantung biasanya terlihat lebih jelas

Pada foto AP gambaran vertebrae biasanya terlihat lebih jelas

12

Untuk foto PA label terletak sebelah kiri foto sementara pada foto AP label
terletak di sebelah kanan foto

Cara membedakan foto posisi erect dengan supine :


Erect

Di bawah hemidiafragma sinistra terdapat gambaran udara dalam fundus


gaster akibat aerofagia. Udara ini samar-samar karena bercampur dengan
makanan. Jarak antara udara gaster dengan permukaan diafragma adalah 1 cm

atau kurang. Udara di fundus gaster ini disebut Magenblase.


Terdapat gas di flexura lienalis akibat bakteri komensal yang hidup di tempat
itu. Warna lebih gelap.

Supine

Udara magenblase bergerak ke bawah (corpus gaster) sehingga jarak udara


magenblase dengan diafragma kurang lebih 3 cm. Jadi pada posisi supine
udara magenblase jarang terlihat.

4. Simetris
Jarak antara sendi sternoklavikularis dekstra dan sinistra terhadap garis median
adalah sama. Jika jarak antara foto kanan dan kiri berbeda maka foto tidak simetris.
5. Foto thorax tidak boleh terpotong.

2.5.

Interpretasi Foto Thorax

Cara sistematis membaca foto thorax antara lain :


Cek apakah sentrasi foto sudah benar dan foto dibuat saat penderita inspirasi penuh.
Foto yang dibuat pada waktu ekspirasi bisa menimbulkan keraguan karena bisa
menyerupai suatu penyakit misalnya kongesti paru, kardiomegali, atau mediastinum
melebar. Kesampingkan bayangan yang terjadi karena rambut, pakaian, atau lesi kulit.

13

Cek apakah eksposure sudah benar (bila sudah diperoleh densitas yang benar, maka
jari yang diletakkan di belakang daerah hitam pada foto tepat dapat terlihat). Foto
yang pucat karena underexposed harus diinterpretasikan dengan hati-hati, gambaran
paru dapat memberi kesan ada edema paru atau konsolidasi. Foto yang hitam karena
underexposed bisa memberikan kesan emfisema.
Cek apakah tulang-tulang (iga, clavicula, scapula, dll) normal.
Cek jaringan lunak yaitu kulit , subcutan fat, musculi seperti pectoralis mayor,
trapezius, dan sternocleidomastoideus. Pada wanita terlihat mamae serta nipple.
Cek apakah posisi diafragma normal : diafragma kanan biasanya 2,5 cm lebih tinggi
dibanding kiri. Normalnya pertengahan costae VI depan memotong pada pertengahan
hemidiafragma kanan.
Cek sinus costophrenicus baik pada foto PA maupun lateral.
Cek mediastinum superior apakah melebar, ataukah ada massa abnormal, dan carilah
trakea.
Cek adakah kelainan pada jantung dan pembuluh darah besar. Lebar jantung pada
orang dewasa (posisi berdiri) harus kurang dari separuh lebar dada. Atau dapat
ditentukan melalui CTR (Cardio Thoracalis Ratio).
Cek hilus dan bronkovaskular pattern. Hilus adalah bagian tengah pada paru dimana
tempat masuknya pembuluh darah, bronkus, syaraf dan pembuluh limfe. Hilus kiri
normal lebih tinggi daripada hilus kanan.

2.6.

Syarat Foto Thorax Normal

1. Posisi penderita simetris


Hal ini dapat dievaluasi dengan melihat apakah proyeksi tulang korpus vertebra toracal
terletak di tengah sendi sternoclaviculer kanan dan kiri.
kondisi sinar x sesuai.
jumlah sinar dan kualitas sinar cukup
3. Film meliputi seluruh kavum thorax, mulai dari puncak cavum thorax sampai sinus
2.

phrenicocostalis kanan dan kiri dapat terlihat pada film tersebut.

14

2.7.

Kelainan Foto Thorax

Berikut ini kelainan radiologi thorax :


1. Kesalahan teknis saat pengambilan foto sehingga mirip suatu
penyakit.
-

Sendi sternoclavicula sama jauhnya dari garis tengah


Diafragma letak tinggi,
Corakan meningkat pada kedua lobus bawah,
diameter jantung bertambah.

2. Pada jantung : Cardiomegali

Setelah dibuat garis-garis seperti di atas selanjutnya kita hitung menggunakan rumus
perbandingan :
CTR= A+B/C x 100%
Ketentuan :
Jika nilai perbandingan di atas nilai 50% dapat dikatakan telah terjadi
pembesaran jantung (cardiomegali).
-

Apex cordis tergeser ke bawah kiri pada pembesaran ventrikel kiri

Apex cordis terangkat lepas dari diafragma pada pembesaran ventrikel kanan

15

3. Pada Mediastinum : Massa Mediastinum

4. Pada Pulmo :
a. Oedema Paru

Bayangan dengan garis tidak tegas

Terdapat suatu bronkogram udara

Tanda Silhouette yaitu hilangnya visualisasi bentuk diafragma atau


mediastinum berdekatan

16

b. Pemadatan Paru, Misalnya Tbc Paru, Pneumonia

TB Paru

Pneumonia

Terlihat pemadatan bercak-bercak dengan bayangan tidak jelas

Terlihat adanya kavitas (pembentukan abses)

c. Kolaps Paru / Atelektasis

Tampak perselubungan homogen pada lapangan paru sebelah kiri yang menutupi
batas kiri jantung, diafragma, dan sinus disertai dengan shift midline ke kiri.
-

Terdapat bayangan lobus yang kolaps

Ditemukan tanda Silhouette


17

Pergeseran struktur untuk mengisi ruangan yang normalnya ditempati lobus


kolaps

Pada kolaps keseluruhan paru tampak opaque dan ada pergeseran hebat pada
mediastinum dan trakea

d. Massa paru, misal : abses paru, kista hydatid


- Ditemukan lesi uang logam (coin lesion) / nodulus
- Terdapat bayangan sferis

e. Bayangan kecil tersebar luas


- Bayangan cincin 1 cm bersifat diagnostic bagi bronkiektasis
- Kalsifikasi paru yang kecil tersebar luas dapat timbul setelah infeksi
paru oleh TB
- Area pemadatan kecil berbatas tidak jelas menunjukkan adanya
bronkiolitis

f. Bayangan garis

18

- Biasanya tidak lebih tebal dari garis pensil, yang terpenting adalah
garis

septal,

dapat

terlihat

pada

limfangitis

Ca.

g. Sarkoidosis
- Terlihat limfadenopati hilus dan paratrachealis
- Bayangan retikulonodularis pada paru.

h. Fibrosis paru
- Bayangan kabur pada basis paru yang menyebabkan kurang jelasnya
garis bentuk pembuluh darah,kemudian terlihat nodulus berbatas tak
jelas dengan garis penghubung.
- Volume paru menurun, sering jelas, dan translusensi sirkular terlihat
memberikan pola yang dikenal sebagai paru sarang tawon, kemudian

19

jantung dan arteria pulmonalis membesar karena semakin parahnya


hipertensi pulmonalis.

i. Neoplasma

Bayangan bulat dengan tepi tak beraturan berlobulasi dan tepi infiltrasi

Terdapat kavitas dengan massa

5. Pada Pleura :
a. Efusi Pleura

20

Terlihat cairan mengelilingi paru, lebih tinggi di lateral daripada medial,


juga dapat berjalan ke dalam fissure terutama ke ujung bawah fissure
oblique

b. Fibrosis Pleura
- Penampilannya serupa dengan cairan pleura, tetapi selalu lebih kecil
daripada bayangan asli. Sudut costophrenicus tetap terobliterasi.

c. Kalsifikasi Pleura
- Plak kalsium tak teratur, dapat terlihat dengan atau tanpa disertai
penebalan pleura
d. Pneumothorax

21

Garis pleura yang membentuk tepi paru yang terpisah dari dinding dada,
mediastinum, atau diafragma oleh udara

e.

Tidak ada bayangan pembuluh darah di luar garis ini

Hematothorax

Hematothorax adalah adanya darah dalam rongga pleura. Sumber darah mungkin
dinding dada, parenkim paru, jantung, atau pembuluh darah besar. Meskipun beberapa
penulis menyatakan bahwa nilai hematokrit setidaknya 50% diperlukan untuk
membedakan hematotoraks dari efusi pleura berdarah, sebagian besar tidak setuju
pada setiap perbedaan yang spesifik. Biasanya akibat dari trauma tumpul atau
penetrasi. Lebih jarang, mungkin merupakan komplikasi dari penyakit, dapat induksi
iatrogenik, atau mungkin berkembang secara spontan.
22

BAB III
KESIMPULAN

23

1. Foto thorax atau sering disebut chest x-ray (CXR) adalah suatu proyeksi radiografi
dari thorax untuk mendiagnosis kondisi-kondisi yang mempengaruhi thorax, isi dan
struktur-struktur di dekatnya.
2. Secara umum kegunaan Foto thorax/CXR adalah :
-

untuk melihat abnormalitas congenital (jantung, vaskuler)

untuk melihat adanya trauma (pneumothorax, haemothorax)

untuk melihat adanya infeksi (umumnya tuberculosis/TB)

untuk memeriksa keadaan jantung

untuk memeriksa keadaan paru-paru

3. Macam-Macam Pemeriksaan: Fluoroscopy Thorax, Rontgenography, Tomography,


Computerized

Tomography

(Ct-Scan),

Bronchography,

Arteriography,

Angiocardiography
4. Indikasi Pemeriksaan Foto Thorax: Infeksi traktus respirasi bawah (TBC Paru,
Bronkitis, Pneumonia), Batuk kronis / berdarah, Trauma dada, Tumor, Nyeri dada,
Metastase neoplasma, Penyakit paru kerja, Aspirasi benda asing, Persiapan pasien
pre-operasi, Pemeriksaan berkala (follow up) yang objektif.
5. Pemilihan Proyeksi Pada Posisi Foto Thorax: Posisi PA (Postero Anterior)AP (Antero
Posterior), lateral dextra & sinistra, lateral decubitus, apical (lordotik), Foto Oblique
Iga, ekspirasi.
6. Kriteria Kelayakan Foto : Faktor Kondisi,Inspirasi Cukup,Posisi Sesuai,Simetris,Foto
thorax tidak boleh terpotong.
7. Interpretasi Foto Thorax

Cek apakah sentrasi foto sudah benar dan foto dibuat saat penderita inspirasi

penuh
Cek apakah eksposure sudah benar (bila sudah diperoleh densitas yang benar
Cek apakah tulang-tulang (iga, clavicula, scapula, dll) normal
Cek jaringan lunak yaitu kulit , subcutan fat, musculi
Cek apakah posisi diafragma normal
Cek sinus costophrenicus baik pada foto PA maupun lateral

24

Cek mediastinum superior apakah melebar, ataukah ada massa abnormal, dan

carilah trakea
Cek adakah kelainan pada jantung dan pembuluh darah besar
Cek hilus dan bronkovaskular pattern
8. Syarat Foto Thorax Normal: Posisi penderita simetris, kondisi sinar x sesuai, Film
meliputi seluruh kavum thorax, mulai dari puncak cavum thorax sampai sinus
phrenicocostalis kanan dan kiri dapat terlihat pada film tersebut.
9. Kelainan Foto Thorax: Kesalahan teknis saat pengambilan foto sehingga mirip suatu
penyakit, Pada jantung : Cardiomegali, Pada mediastinum : Massa Mediastinum. Pada
pulmo :Oedema paru, Pemadatan paru, misalnya TBC Paru, Pneumonia, Kolaps
Paru / Atelektasis, Massa paru, Bayangan kecil tersebar luas, Bayangan garis,
Sarkoidosis, Fibrosis paru, Neoplasma. Pada pleura : Efusi pleura, Fibrosis Pleura,
Kalsifikasi Pleura, Pneumothorax, Hematothorax. Pada Diafragma: Paralisis
Diafragma, Eventrasi Diafragma

DAFTAR PUSTAKA

25

1. Sjahriar, Rasad . 2005. Radiologi Diagnostik. Edisi ke-2. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.
2. Rusdi Gazali,Malueka.2008. Radiologi Diagnostik. Yogyakarta: Pustaka Cendekia
Press
3. Amstrong Peter, L.Wastie Martin. 1989. Pembuatan Gambar Diagnostik. Jakarta :
EGC.
4. Palmer et al. 1995. Petunjuk Membaca Foto untuk Dokter Umum. Jakarta:EGC

26