Anda di halaman 1dari 11

PROSES GASIFIKASI PADA BATUBARA

I.

Batubara
Batu bara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah
batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya
adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsurunsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batu bara juga adalah
batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang
dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Analisis unsur memberikan rumus formula
empiris seperti C137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit.
Pembentukan batu bara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya
terjadi pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira
340 juta tahun yang lalu (jtl), adalah masa pembentukan batu bara yang paling
produktif dimana hampir seluruh deposit batu bara (black coal) yang ekonomis di
belahan bumi bagian utara terbentuk. Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl, juga
terbentuk endapan-endapan batu bara yang ekonomis di belahan bumi bagian
selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke Zaman Tersier (70 - 13
jtl) di berbagai belahan bumi lain.

II.

Gasifikasi Batubara
Gasifikasi (gasification) adalah konversi bahan bakar karbon menjadi
produk gas gas yang memiliki nilai kalor yang berguna. Pengertian ini tidak
memasukkan istilah pembakaran (combustion) sebagai bagian daripadanya,
karena gas buang (flue gas) yang dihasilkan dari pembakaran tidak memiliki nilai
kalor yang signifikan untuk dimanfaatkan [Higman, van der Burgt, 2003]. Karena
proses ini merupakan konversi material yang mengandung karbon, maka semua
hidrokarbon

seperti

batubara,

minyak, vacuum

residue, petroleum

coke atau petcoke, Orimulsion, bahkan gas alam dapat digasifikasi untuk
menghasilkan gas sintetik (syngas).
Gasifikasi adalah proses konversi bahan bakar padat menjadi gas melalui
reaki dengan satu atau campuran reaktan udara, oksigen, uap air, karbon

diokasida. Proses gasifikasi bertujuan untuk menghasilkan produk gas yang sesuai
dengan penggunaannya baik sebagai sumber energi atau sebagai bahan baku
industri kimia. Gas gasifikasi biasa dikenal sebagai prosedur gas.
Gasifikasi adalah suatu proses perubahan bahan bakar padat secaratermo
kimia menjadi gas, dimana udara yang diperlukan lebih rendah dariudara yang
digunakan untuk proses pembakaran. Selama proses gasifikasireaksi kimia utama
yang terjadi adalah endotermis (diperlukan panas dariluar selama proses
berlangsung). Media yang paling umum digunakan pada proses gasifikasi
ialah udara dan uap. Produk yang dihasilkan dapatdikategorikan

menjadi

tiga

bagian utama, yaitu padatan, cairan (termasukgas yang dapat dikondensasikan)


dan gas permanen. Media yang palingumum digunakan dalam proses gasifikasi
adalah udara dan uap. Gas yangdihasilkan dari gasifikasi dengan menggunakan
udara mempunyai nilaikalor yang lebih rendah tetapi disisi lain proses operasi
menjadi lebihsederhana
Proses gasifikasi batubara merupakan proses konversi secara kimia dari
batubara yang berbentuk partikel atau padatan menjadi gas yang bernilai bakr atau
combustible. Pada dasarnya gasifikasi batubara adalah reaksi oksidasi parsial dari
batubara dengan oksigen atau udara. Proses gasifikasi dilakukan dalam suatu
reaktor yang disebut dengan gasifier. Proses gasifikasi batubara adalah proses
yang mengubah batu bara dari bahan bakar padat menjadi bahan bakar gas.
Dengan mengubah batubara menjadi gas, maka material yang tidak diinginkan
yang

terkandung

dalam batubara

seperti senyawa

sulfur dan

abu, dapat

dihilangkan dari gas denganmenggunakan metode tertentu sehingga dapat


dihasilkan gas bersih dandapat dialirkan sebagai sumber energi. Sebagaimana
diketahui, ketika bahan bakar dibakar, energi kimia akan dilepaskan
dalam bentuk panas.Pembakaran terjadi saat Oksigen yang terkandung dalam
udara bereaksidengan karbon dan hidrogen yang terkandung dalam batubara
danmenghasilkan CO2 dan air serta energi panas. Dalam kondisi normal,dengan
pasokan udara yang tepat akan mengkonversi semua energi kimiamenjadi energi
panas. Combustible gas yang dapat dihasilkan dari proses gasifikasi adalah CO,

H2, CH4, dan sebagainya. Gas produk gasifikasi ini dapat digunakan langsung
sebagai bahan bakar, bahan baku proses sintesa atau bahan kimia lainya.
II.1.

Teknologi Gasifikasi
Teknologi gasifikasi yang digunakan untuk konversi batubara menjadi

bahan bahan bakar gas dikenal dengan nama gasifier. Beberapa teknik yang biasa
digunakan untuk proses gasifikasi adalah :
1) Fixed bed gasification atau gasifikasi batubara secara unggun tetap,
2) Fluidized bed gasification atau gasifikasi batubara terfluidisasi,
3) Entrained bed gasification atau gasifikasi batubara tersembur.
Dari ketiga teknik tersebut, yang paling sederhana dan murah untuk aplikasi
sebagai bahan bakar adalah proses gasifikasi dengan metod fixed bed gasification.
Pada proses gasifikasi akan dihasilkan abu (ash removal) yang merupakan kotoran
dari batubara. Abu ini dapat dikeluarkan secara langsung pada operasi temperatur
rendah (non-slagging gasifier) sebagai dry ash atau dikeluarkan pada operasi
slagging gasifier pada temperatur tinggi, sebagai liquid ash dengan viskositas
rendah.
II.2.

Tahapan Proses Gasifikasi


Tahapan gasifikasi batubara meliputi pengeringan, devolatilisasi, oksidasi,

dan reduksi. Taha pengeringan bertujuan untuk mengeluarkan atau menghilangkan


kandungan air yang terdapat pada batubara. Devolatilias merupakan proses
pemanasan batubara sampai terjadi dekomposisi menjadi arang, tar, dan gas.
Tahapan oksidasi merupakan proses pembakaran zat terbang hasi devolatilisasi
untuk memanaskan arang. Pemanasan ini mengakibatkan sebagaian arang akan
teroksidasi dan sisanya mengalami proses reduksi.
Dalam gasifier, arang direduksi oleh steam atau kukus dan CO2
menghasilka gas H2 dan CO. Peningkatan jumlah atau laju steam atau kukus
mengakibatkan penurunan gas CO pada gas produk, namun akan meningkatkan
kandungan gas H2 dan CO2 melalui reaksi geser atau shift reaction. Komposisi gas
yang dihasilkan ditentukan oleh temperatur dengan mengatur laju oksigen yang
digunakan. Panas yang dihasilkan dari reaksi oksidasi digunakan untuk tahapan

yang melibatkan proses atau reaksi endotermis seperti reaksi reduksi, proses
devolatilisasi, dan tahapan pengeringan.
Skema prinsip gasifikasi batubara dalam gasifier dan zona reaksi berdasarkan temperatur dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.1. Zona Reaksi Batubara Gasifier Tipe Updraft


II.3.

Reaksi Utama pada Proses Gasifikasi Batubar


Secara umum proses gasifikasi batubara dilakukan dalam suatu reaktor

yang disebut gasifier dan prosesnya terdiri dari drying, pyrolysis, reduksi, dan
oksidasi. Reaktan utama pada proses gasifikasi batubara adalah oksigen dalam
udara dan uap air. Gas utama yang dihasilkan dari gasifikasi batubara adalah CO,
H2, dan gas lainnya seperti CH4, CO2, dan nitrogen. Reaksi-reaksi utama yang
terjadi selama proses gasifikasi batubara akan dijelaskan sebagai berikut.
1) Reaksi Drying/Moisture Release
Drying merupakan proses pemanasan batubara pada temperatur antara 100
2500C. Pemanasan ini akan menghilangkan atau menguapkan air yang terkandung
dalam batubara. Adapun mekanismenya mengikuti reaksi berikut :
Batubara + panas batubara +air (H2O, uap air)
Panas yang diperlukan untuk penghilangan kandungan air ini diperoleh dari panas
hasil reaksi pembakaran char atau reaksi oksidasi karbon dalam char dengan
oksigen. Air dalam fas auap ini dapat bereaksi dengan gas lain yang terjadi selama
proses gasifikasi.
2) Reaksi Decomposition / Pyrolysis / Devolatilization

Setelah mengalami proses penghilangan air, batubara akan mengalami proses


pyrolysis yaitu penguraian batubara pada temperatur tinggi menjadi char, tar, dan
volatile metter. Proses ini berlangsung pada tmperatur antara 200 5000C.
Mekanisme reaksi pyrolysis dapat dijelaskan sebagai berikut.
Batubara + panas char + tar + gas
Pyrolysis merupakan proses yang sifatnya endotermik. Panas yang diperlukan
untuk terjadinya proses ini diperoleh dari reaksi oksidasi karnon dalam char
dengan oksigen dari udara. Proses ini biasa juga disebut dengan devolatilisasi.
3) Reaksi Reduction / Gasification
Proses reduksi merupakan tahap utama dari proses gasifikasi. Pada tahap ini
gas mampu bakar akan dihasilkan. Gas hasil reaksi reduksi ini biasa disebut
sebagai gas producer atau syntetic gas atau syngas. Reaksi-reaksi yang terjadi
pada tahap inibersifat endotermik. Panas yang dibutuhkan dipasok dari panas hasil
reaksi oksidasi. Reaksi reaksi reduksi pada tahap ini secara stoikiometrik adalah
sebagai berikut.
a) Reaksi uap air atau steam reaction yaitu rekasi reduksi antara karbon dalam
char dengan uap air sesuai dengan reaksi berikut :
C (char) + H2O + panas CO (gas) + H2 (gas)
Reaksi ini menghasilkan produk gas yang mampu bakar (syngas). Secara
stoikiometri karbon yang bereaksi dengan uap air akan menjadi gas karbon
monoksida dan gas hidrogen. Kedua gas ini merupakan komponen utama dari
hasil gasifikasi.
b) Reaksi karbon dengan gas karbon dioksida pada tahap ini akan mengikuti
reaksi berikut :
C (char) + CO2 + panas 2 CO
Reaksi ini menghasilkan produk gas yang mampu bakar yaitu gas karbon
monoksida. Karbon dalam char yang bereaksi dengan gas karbon dioksida
akan dikonversi menjadi gas mampu bakar karbon monoksida. Reaksi ini
biasa disebut sebagai Bounourard reaction.
c) Reaksi Geser atau Shift Reaction
Uap air yang ditambahkan akan bereaksi dengan gas CO2 membentuk gas CO
sesuai dengan reaksi berikut :
CO2(gas) + H2O (uap) + panas CO (gas) + H2 (gas)
Kedua produk gas yang dihasilkan ini merupakan gas yang memiliki nilai
mampu bakar.

4) Reaksi Oxidation / Combustion


Proses oksidasi merupakan reaksi yang melibatkan reaktan oksigen sebagai
oksidatornya. Karbon dalam char akan dioksidasi menjadi gas karbon dioksida
atau karbon monoksida. Produk gas yang dihasilkan tergantung dengan jumlah
oksigen yang ditambahkan. Reaksi oksidasi yang terjadi antara karbon dengan gas
oksigen sesuai reaksi berikut.
a) Pembakaran sempurna
Pembakaran sempurna dari karbon dengan oksigen akan sesuai dengan reaksi
berikut :
C (char) + O2 (udara) CO2 (gas) + panas
Gas karbon dioaksida dihasilkan ketika reaksi oksidasi berjalan sesuai dengan
stoikiometri pembakaran sempurna. Reaksi pembakaran sempurna berjalan
ketika satu mol karbon dibakar dengan satu mol oksigen dan menghasilkan
satu mol gas karbon dioksida. Gas hasil pembakaran sempurna tidak memiliki
nilai bakar atau tidak mampu bakar, sehingga reaksi ini tidak diharapkan lagi.
b) Pembakaran tidak sempurna
Pembakaran tidak sempurna terjadi ketika jumlah oksigen kurang dari nilai
stoikiometri pembakaran sempurna. Reaksi oksidasi karbon dalam batubara
menjadi tidak sempurna jika satu mol karbon direaksikan dengan oksigen
yang jumlahnya kurang dari satu mol. Reaksi pembakaran satu mol karbon
dengan

oksigen

yang

hanya

memenuhi

separuh

dari

kebutuhan

stoikiometrinya akan menghasilkan produk berupa satu mol gas karbon


monoksida sesuai dengan reaksi berikut :
C (char) + 0,5 O2 (udara) CO (gas) + panas
Persamaan reaksi di atas merupaka reaksi yang secara stoikiometrik merubah
seluruh larbon yang bereaksi dengan oksigen menjadi produk yang hanya
terdiri dari gas karbon monoksida. Setiap kelebihan oksigen dari 0,5 mol dapat
merubah reaksi dan membentuk gas karbon diokasida. Sebaliknya, jika
oksigen
kurang dari 0,5 mol maka akan menyebabkan sebagian karbon tidak bereaksi.
Ada sisa karbon char. Gas hasil dari pembakaran tidak sempurna
menghasilkan gas yang memiliki nilai bakar atau mampu bakar. Reaksi
oksidasi atau pembakaran adalah reaksi yang menghasilkan sumber panas
yang dibutuhkan bagi proses gasifikasi secara keseluruhan. Reaksi-reaksi

lainnya merupakan reaksi yang dapat diatur untuk mendapatkan gas sesuai
dengan komposisi gas yang diinginkan.
II.4.
Operasi Utama Gasifikasi Batubara
Gasifikasi dilakukan di dalam sebuah tungku atau reaktor yang disebut
gasifier. Gasifier terdiri dari tipe updraft dan downdraft. Secara skematik gasifier
untuk batubara tipe updraft dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2.2. Tipe Gasifier pada Batubara


Unit gasifier ini dilengkapi dengan steam drum yang dapat menghasilkan uap air.
Batubara dimasukkan dari bagian atas dan bergerak ke bawah secara
gravitasi. Reaktan oksigen dalam udara dan uap air ditiup dari bagian bawah
reaktor. Reaktan beserta gas hasil reaksi lainnya akan bergerak ke bagian atas
gasifier.
1) Batubara secara gravitasi masuk ke dalam tungku / gasifier dari bagian atas,
pengumpanan menggunakan feeder otomatis.
2) Udara dan steam dimasukkan dari bagian bawah tungku yang dilengkapi
dengan pengatur laju pengumpanan.
3) Steam dan udara panas bergerak dari bagian bawah tungku melewati
tumpukan batubara yang bergerak di bagian atas.
4) Terjadi reaksi antara batubara yang bergerak ke bawah dengan udara dan
steam yang bergerak ke atas sesuai dengan lokasi dan temperaturnya.
Proses gasifikasi umumnya menggunakan 20 sampai 40 persen oksigen
dari nilai stoikiometri proses pembakaran sempurna. Jadi proses pembakarannya
akan mengikuti reaksi berikut :
C(arang)+(0,2 - 0,4)O2(udara) (0,4-0,8)CO(gas)+(0,2-0,6)C(arang)

Reaksi ini menghasilkan karbon tersisa. Sisa karbon ini dapat direaksikan dengan
uap air. Secara stoikiometrik prosesnya akan memenuhi reaksi berikut :
C ( arang) + H2O (uap air) CO (gas) + H2 (gas)
Reaksi sisa karbon dengan uap air ini dapat menghasilkan gas karbon monoksida
dan gas hidrogen. Gas hidrogen merupakan gas yang memiliki nilai pembakaran.
Namun demikian, uap air yang ditambahkan dapat pula bereaksi dengan
gas hasil proses sebelumnya. Uap air dapat bereaksi dengan gas karbon dioksida
menghasilkan gas karbon monoksida dan gas hidrogen sesuai dengan reaksi
stoikiometrik berikut :
CO2 + H2O CO + H2
Reaksi ini biasa disebut dengan shift reaction atau reaksi geser. Reaksi yang dapat
menggeser karbon dioksida dan uap air menjadi gas karbon monoksida dan
hidrogen. Selain dengan uap air, karbon sisa juga dapat berealsi dengan gas
karbon dioksida sesuai dengan reaksi stoikiometri berikut :
C (arang) + CO2 2CO
Pada reaksi ini, karbon dikonversi oleh gas CO2 menjadi gas yang memiliki nilai
mampu bakar yaitu gas CO.
III.

Aplikasi Gasifikasi Batubara


1. Bahan bakar sintetik (Coal to Liquid, CTL)
Pada pembuatan BBM sintetik, batubara digasifikasi terlebih dulu untuk
menghasilkan gas sintetik yang komposisi utamanya terdiri dari hidrogen (H 2)
dan karbon monoksida (CO), kemudian dilanjutkan dengan proses FischerTropsch (FT) untuk menghasilkan hidrokarbon ringan (paraffin). Hidrokarbon
tersebut kemudian diproses lebih lanjut untuk menghasilkan bensin dan
minyak diesel. Karena nilai oktan pada produk bensin yang dihasilkan rendah,
maka dilakukan upaya untuk menghasilkan bensin bernilai oktan tinggi dari
gas sintetik ini. Proses tersebut dilakukan dengan memproduksi metanol dari
gas sintetik terlebih dulu, kemudian metanol diproses untuk menghasilkan
bensin bernilai oktan tinggi. Metode ini disebut MTG (Methanol to
Gasoline),yang dikembangkan oleh Mobil pada tahun 1970an.
2. Pembangkit listrik (Coal to Power)

Pembangkit listrik yang memanfaatkan gas sintetik hasil gasifikasi batubara


disebut dengan IGCC (Integrated Gasification Combined Cycle). Pada IGCC,
pembangkitan listrik dihasilkan dari mekanisme kombinasi antara turbin gas,
HRSG (Heat Recovery Steam Generator), dan turbin uap. Tipikal penggas
yang digunakan pada IGCC adalah bertipe entrained flow, seperti E-Gas
(Conoco Phillips), Chevron-Texaco (GE Energy), SFG (Siemens), Mitsubishi,
dan Shell.
Secara garis besar, gas sintetik yang dihasilkan oleh penggas akan diproses di
pendingin gas (gas cooler) dan fasilitas pembersih gas (gas clean up) terlebih
dulu sebelum mengalir ke turbin gas. Setelah melewati siklus Brayton, gas
buang dari turbin gas kemudian mengalir ke HRSG, dimana panas dari gas
tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan uap air. Selain dari
turbin gas, panas buangan yang dihasilkan dari proses pendinginan gas juga
dialirkan ke HRSG pula. Uap air dari HRSG inilah yang kemudian
dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin uap melalui mekanisme siklus
Rankine. Dengan kombinasi 2 siklus ini, tidaklah mengherankan apabila
efisiensi netto pembangkitan pada IGCC lebih unggul dibandingkan dengan
efisiensi pada sistem pembangkitan konvensional (pulverized coal) yang saat
ini mendominasi.
3. Industri kimia (Coal to Chemical)
Gas sintetik hasil gasifikasi batubara juga dapat digunakan sebagai bahan baku
industri kimia, diantaranya untuk pembuatan ammonia, pupuk, metanol, DME
(Dimethyl Ether), olefin, paraffin, dan lain lain. Eastman Chemical di
Kingsport,

Tennessee, AS,

memanfaatkan

gasifikasi

batubara

untuk

memproduksi bahan baku industri kimia yaitu asam asetat. Fasilitas ini
beroperasi sejak tahun 1983, menggunakan penggas Texaco. Pada awalnya,
kapasitasnya hanya mampu memenuhi separoh dari kebutuhan asam asetat
yang diperlukan, tapi sejak tahun 1991 kapasitasnya ditingkatkan hingga
mampu memenuhi seluruh kebutuhan asam asetat untuk produksi hilir.
Perusahaan ini mengkonsumsi batubara sebanyak 1300 ton per hari untuk

gasifikasi, dan memproduksi lebih dari 400 jenis bahan kimia, serat sintetis,
serta plastik, dengan omzet sekitar US$5 miliar per tahun.[Trapp, 2001].
Di Cina yang memiliki cadangan batubara melimpah, Shell melalui
kerjasama joint

venture dengan

Sinopec

membangun

pabrik

pupuk

menggunakan mekanisme gasifikasi batubara berkapasitas 2000 ton per hari di


Yueyang, propinsi Hunan. Pembangunannya sendiri dimulai tahun 2003 dan
direncanakan beroperasi pada akhir 2006. Selain itu, Shell juga menangani
sekitar 12 proyek gasifikasi batubara lainnya di Cina, dimana hampir 70%nya
untuk keperluan industri pupuk dan sisanya untuk produksi metanol, serta
hidrogen untuk keperluan pencairan batubara secara langsung. [Chhoa, 2005].
Selain Shell, GE Energy juga menyediakan teknologi gasifikasi batubara di
Cina. Sampai dengan Oktober 2006, dari 7 proyek yang direncanakan, 3 unit
telah telah beroperasi untuk memproduksi metanol dan ammonia.[Lowe,
2006].
Dengan harga yang relatif murah dibandingkan dengan bahan bakar fosil
lainnya, kemudian ketersediaannya yang melimpah, serta penyebaran cadangan
yang relatif merata di seluruh dunia, batubara merupakan sumber energi primer
yang menjanjikan. Apabila selama ini pemanfaatan batubara terkesan terbatas
untuk pembangkitan listrik saja, maka gasifikasi batubara memberikan harapan
yang besar untuk pemanfaatan batubara secara optimal di masa mendatang.
Gasifikasi batubara tidak semata hanya dapat digunakan untuk satu tujuan
saja, misalnya untuk pembangkitan listrik, tapi dapat pula dirancang untuk tujuan
yang lain secara bersamaan. Sebagai contoh, fasilitas gasifikasi dapat didesain
untuk menghasilkan listrik, memproduksi bahan baku industri kimia, maupun
membuat

bahan

bakar

sintetis

sekaligus.

Mekanisme

dengan polygeneration (polygen) atau co-generation (co-gen).


DAFTAR PUSTAKA

ini

disebut

Adra.2013.Proses

Gasifikasi-Konversi

pada

Batubara.http://ardra.biz/sain-

teknologi/ilmu-dan-teknologi-terapan/proses-gasifikasikonversi-batubaramenjadi-gas/(Diakses pada tanggal 4 Maret 2014 pukul 19.05 WIB)


No name.2011.Gasifikasi Batubara. http://www.litbang.esdm.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=86:gasifikasi-batu-bara&catid=82:
batubara&Itemid=96 (Diakses pada tanggal 6 Maret 2014 pukul 08.35
WIB)
Roy,

Stanly.2011.Proses

Gasifikasi

Batubara.

http://stenlyroy.blogspot.

com/p/proses-gasifikasi-batubara.html (Diakse pada 5 Maret 2014 pukul


08.40 WIB)