Anda di halaman 1dari 12

ASUHAN KEPERAWATAN MIOMA UTERI

| di 4:56 PM

A. Pengertian
Mioma uteri adalah tumor jinak otot rahim, disertai jaringan ikatnya (www. Infomedika. htm,
2004).
Mioma uteri adalah Neoplasma jinak berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang
menumpangnya, sehingga dalam kepustakaan dikenal juga istilah Fibromioma, Leimioma
ataupun Fibroid (Saifuddin, 1999).

B. Etiologi
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga merupakan penyakit
multifaktorial. Dipercayai bahwa mioma merupakan sebuah tumor monoklonal yang dihasilkan
dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik tunggal. Sel-sel tumor mempunyai abnormalitas
kromosom, khususnya pada kromosom lengan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
tumor, di samping faktor predisposisi genetik, adalah estrogen, progesteron dan human growth
hormone.
1. Estrogen
Mioma uteri dijumpai setelah menarke. Seringkali terdapat pertumbuhan tumor yang
cepat selama kehamilan dan terapi estrogen eksogen. Mioma uteri akan mengecil pada
saat menopause dan pengangkatan ovarium. Adanya hubungan dengan kelainan lainnya
yang tergantung estrogen seperti endometriosis (50%), perubahan fibrosistik dari
payudara (14,8%), adenomyosis (16,5%) dan hiperplasia endometrium (9,3%).Mioma
uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan
sterilitas. 17B hidroxydesidrogenase: enzim ini mengubah estradiol (sebuah estrogen
kuat) menjadi estron (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini berkurang pada jaringan
miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak daripada
miometrium normal.
2. Progesteron

Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron menghambat


pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu: mengaktifkan 17B hidroxydesidrogenase dan
menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.
3. Hormon pertumbuhan
Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang mempunyai
struktur dan aktivitas biologik serupa yaitu HPL, terlihat pada periode ini, memberi kesan
bahwa pertumbuhan yang cepat dari leiomioma selama kehamilan mingkin merupakan
hasil dari aksi sinergistik antara HPL dan Estrogen.
Dalam Jeffcoates Principles of Gynecology, ada beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor
predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu :
1. Umur
:
Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada
wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis
antara 35 45 tahun.

2. Paritas
:
Lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanirta yang relatif infertil, tetapi sampai

saat ini belum diketahui apakan infertilitas menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya
mioma uteri yang menyebabkan infertilitas, atau apakah kedua keadaan ini saling
mempengaruhi.

3. Faktor
ras
dan
genetik
:
Pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadian mioma uteri
tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat
keluarga ada yang menderita mioma.

4. Fungsi
ovarium
:
Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana
mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah kehamilan dan mengalami
regresi setelah menopause. Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi
hipoestrogenik dapat mengurangi ukuran mioma. Efek estrogen pada pertumbuhan
mioma mungkin berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan
faktor pertumbuhan lain. Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor progesteron,
faktor pertumbuhan epidermal dan insulin-like growth factor yang distimulasi oleh
estrogen.

C. Jenis-Jenis Mioma Uteri


Jenis-jenis Mioma uteri yaitu :
1. Mioma Submukosum

Berada di bawah endometrium dan menonjol kedalam Angka kejadian rongga uterus. Paling
sering menyebabkan perdarahan yang banyak, sehingga memerlukan histerektomi walaupun
ukurannya kecil. Adanya mioma submukosa dapat dirasakan sebagai suatu Curet Bump
(benjolan waktu kuret). Kemungkinan terjadinya degenerasi sarkoma juga lebih besar pada jenis
ini.
2. Mioma Intramural
Mioma terdapat didinding uterus diantara serabut miometrium. Kalau besar atau multiple dapat
menyebabkan pembesaran uterus dan berbenjol-benjol.
3. Mioma Subserosum
Letaknya di bawah tunika serosa, kadang-kadang vena yang ada dipermukaan pecah dan
menyebabkan perdarahan intra abdominal. Dapat tumbuh diantara kedua lapisan ligamentum
latum menjadi Mioma Intra Ligamenter. Dapat tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya
ke ligametrium atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus, sehingga disebut
Wedering/Parasitik Fibroid.
D. Tanda dan Gejala Mioma Uteri
Gejala dan ciri ciri mioma uteri tergantung besar dan kecilnya tumor serta arah
pertumbuhannya. Gejala mioma uteri juga sangat dipengaruhi oleh siklus haid karena mioma
uteri sangat dipengaruhi oleh hormon estrogen. Umumnya mioma uteri tidak menimbulkan
gejala jika besarnya tumor masih kecil. Gejala akan muncul jika telah terjadi desakan tumor
mioma uteri ke organ sekitarnya. Umumnya gejala mioma uteri adalah :
1.

Hipermenore ( darah haid yang berlebihan).

2. Dismenore (nyeri haid).

3. Nyeri pada bagian bawah abdomen (perut) akibat penekanan dan terputarnya tangkal
mioma uteri.
4. Perdarahan vagina di luar masa haid dan tidak beraturan.
5. Anemia
6. Gangguan BAB dan BAK jika mioma uteri telah menekan kandung kemih, ureter
(saluran kencing), rektum (usus besar) dan organ rongga panggul lainnya.
7. Kesulitan memiliki anak karena mioma uteri menyumbat saluran tuba dan kesulitan
terjadi implantasi karena adanya mioma uteri pada dinding rahim.
8. Adanya gangguan letak bayi dan plasenta, terhalangnya jalan lahir, kelemahan kontraksi
rahim, perdarahan disertai nyeri dan resiko keguguran pada masa kehamilan
9. Perdarahan yang banyak dan gangguan pelepasan plasenta pasca melahirkan
E. Patofisiologi

F. Komplikasi
1. Pertumbuhan leimiosarkoma. Mioma dicurigai sebagai sarcoma
2. Torsi (putaran tangkai). Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami
putaran. Kalau proses ini terjadi mendadak, tumor akan mengalami gangguan sirkulasi
akut dengan nekrosis jaringan dan akan tampak gambaran klinik dari abdomenakut.
3. Nekrosis dan Infeksi. Pada myoma subserosum yang menjadi polip, ujung tumor,
kadang-kadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan dari vagina, dalam hal ini
kemungkinan gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder.
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb: turun, Albumin : turun, Lekosit : turun / meningkat,
Eritrosit : turun.
2. USG : terlihat massa pada daerah uterus.
3. Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan
ukurannya.
4. Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.

5. Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat
tindakan operasi.
6. ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi, yang dapat mempengaruhi tindakan
operasi.
H. Penatalaksanaan
1. 55% dan semua mioma tidak membutuhkan suatu pengobatan dalam bentuk apapun,
terutama
bila
:
1.
Tanpa
keluhan
2.
Menjelang
menopause
3.
Besar
mioma
<
12
minggu
kehamilan
Walaupun demikian mioma uteri memerlukan pengamatan setiap 3 6 bulan. Apabila
terlihat adanya suatu perubahan yang berbahaya dapat terdeteksi dengan cepat dan dapat
dilakukan tindakan segera.
Pengobatan mioma uteri terdiri atas terapi hormon, pengobatan herbal dan operasi.
Pengobatan hormon tidak menyembuhkan mioma uteri. Umumnya pengobatan hormon
hanya menghilangkan gejala gejala dari mioma uteri dan cenderung menimbulkan efek
samping dari penggunaan obat hormone. Operasi merupakan pilihan terakhir jika
pengobatan hormone tidak berhasil. Pengobatan herbal dapat menjadi pilihan jika

pengobatan hormon tidak berhasil dan sang penderita tidak mau menjalani operasi. Obat
herbal yang dapat digunakan untuk pengobatan mioma uteri adalah buah mengkudu,
keladi tikus, temu putih dan mahkota dewa.
2. Pengobatan Operatif

Miomektomi (Enukliasi Mioma) adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa


pengangkatan uterus.

Histerektomi adalah pengangkatan uterus yang umumnya merupakan tindakan terpilih.