Anda di halaman 1dari 17

SEMINAR USUL PENELITIAN

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
Nama
NRI
Judul

: Fitria H. Lolowang
: 111015075
: Analisis Fitokimia Dan Aktivitas Tabir Surya dari Minyak
Atsiri Kulit Lemon Cui ( Citrus microcarpa )

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang beriklim tropis karena terletak di daerah khatulistiwa
dengan paparan sinar matahari sepanjang musim. Sinar matahari yang sampai
dipermukaan bumi dibedakan menjadi sinar ultraviolet A dengan panjang gelombangnnya
adalah 320-400 nm, ultraviolet B dengan panjang gelombangnya adalah 290-320 nm dan
ultraviolet C dengan panjang gelombang 200-290 nm , ketiga jenis sinar ultraviolet
tersebut memiliki efek terhadap kulit (Hanan, 2012).
Tabir surya merupakan sediaan kosmetik yang digunakan untuk melindungi kulit
dalam hal ini berperan sebagai anti radikal bebas. Minyak atsiri merupakan suatu
komponen yang dipakai dalam pembuatan tabir surya. Minyak atsiri adalah senyawa
yang mudah menguap atau senyawa volatil yang tidak larut dalam air dan berasal dari
tanaman aromatik. Minyak atsiri ini memiliki potensi dalam berbagai bidang industri
seperti industri parfum, kosmetika, industri farmasi atau obat-obatan, industri makanan
dan minuman. Indonesia adalah negara penghasil minyak atsiri dan minyak atsiri ini
merupakan komoditi yang dapat menyumbangkan devisa yang cukup besar untuk negara
ini.
Lemon cui atau lemon Cina yang memiliki nama ilmiah Citrus microcarpa memang
masih terdengar kurang popular. Lemon cui banyak ditemui di Sulawesi Utara dan
Maluku Utara. Penggunaan lemon cui erat kaitannya dengan kebiasaan orang Manado
atau Sulawesi Utara pada umumnya yang sangat senang mengkonsumsi ikan laut,
sehingga menjadikan lemon cui ini sangat akrab dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Bentuknya bulat kecil seperti jeruk nipis namun lemon cui bisa dikupas seperti jeruk
pontianak karena kulitnya tidak setebal jeruk nipis. Rasa lemon cui asam segar dan
berbau harum, oleh sebab itu maka lemon cui sering dipakai untuk bahan masakan yang
membantu menetralisir bau amis pada ikan.
Penggunaan lemon cui sekarang hanya sebatas pada buahnya saja sedangkan kulit
yang menutupi buah tersebut dibuang. Kulit buah lemon juga memiliki bau harum yang
khas sehingga memiliki kemungkinan bahwa kulit tersebut memiliki senyawa minyak
atsiri yang berpotensi sebagai tabir surya.

Oleh karena itu, dengan penggunaan lemon cui yang berlimpah maka berlimpah
pula limbah/kulit buah yang di buang sehingga peneliti ingin memanfaatkan limbah
tersebut. Peneliti ingin memperoleh beberapa ekstrak hasil destilasi uap dari kulit buah
lemon cui untuk di uji aktivitas minyak atsirinya sebagai tabir surya.
1.2

Rumusan Masalah
Permasalahan yang diangkat dari judul diatas adalah :
Apakah ekstrak minyak atsiri hasil destilasi uap kulit lemon cui berpotensi
sebagai bahan tabir surya ?

1.3

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
Untuk menentukan aktivitas tabir surya dari minyak atsiri kulit lemon cui
yang di peroleh dari hasil destilasi uap

1.4

Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini yaitu diharapkan dapat memberikan informasi
yang ilmiah terhadap masyarakat mengenai aktivitas potensi minyak atsiri
kulit lemon cui bahan aktif tabir surya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tumbuhan Lemon Cui ( Citrus microcarpa L.)


2.1.1. Deskripsi Tanaman
Tanaman lemon cui (Citrus microcarpa) adalah tanaman yang halus dan sedikit
berduri,tinngi pohon mencapai 3-5m. daun berbentuk jorong sampai lonjong-elips. Buah
lemon cui berwarna kuning ketika matang dan hampir mempunyai bentuk yang bulat
dengan diameter 2-3,5 cm dan berkulit tipis. Kulit berwarna hijau ketika masih mentah
dan berwarna kekuningan saat sudah matang dan terdapat biji dalam daging lemon cui.
Keunggulan Jeruk Lemon Cui salah satunya mampu berbuah nonstop sepanjang musim
(Paulus,2013).
2.1.2. Klasifikasi Tanaman
Menurut Paulus (2013), klasifikasi tumbuhan lemon cui adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Tracheophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Suku

: Citreae

Genus

: Citrus

Species

: Citus microcarpa

Gambar. Lemon Cui (Citrus microcarpa).


2.1.3. Manfaat tumbuhan Lemon Cui
Buah jeruk lemon tidak hanya dapat dinikmati rasanya yang segar saja, melainkan
sebagai pelepas dahaga dan sebagai buah pencuci mulut yang dapat dimanfaatkan sebagai
obat. Sehubungan dengan tingginya kadar vitamin C pada buah jeruk, maka buah jeruk
dapat diolah menjadi tablet-tablet vitamin C atau dimakan langsung untuk
menyembuhkan penyakit ging givatis (gusi berdarah) dan penyakit influenza. Hasil
penelitian di IPB sari buah jeruk dalam kemasan tetra pak adalah 12 mg perkemasan (250
mL), dan pada kemasan botol sekitar 18 mg. Perbedaan ini terjadi karena pada proses
pengemasan dengan tetra pak digunakan pada suhu 140 0C. Sementara pada pengemasan
botol suhu pemanasannya 980C. Jadi jika seseorang memerlukan 60 mg vitamin C per
hari, maka ia memerlukan 5 kemasan tetra pak minuman sari buah jeruk untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. Selain manfaat diatas, vitamin C juga dapat mencegah infeksi telinga
yang berulang-ulang, dan juga dapat menurunkan resiko kanker usus besar karena
membantu mengusir radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan DNA (Khomsan,
2004).
Jeruk Lemon memiliki kandungan flavonoid yang berlimpah seperti flavanpis
yang berfungsi sebagai antioksidan penangkal radikal bebas penyebab kanker. Flavonoid
juga mencegah terjadinya reaksi oksidasi LDL (low density lipoprotein) yang
menyebabkan darah mengental dan mencegah pengendapan lemak pada dinding
pembuluh darah (Usman, 2012).

2.2. Tabir Surya


Sediaan tabir surya adalah sediaan kosmetika yang digunakan dengan maksud
membaurkan atau menyerap secara efektif cahaya matahari terutama pada daerah emisi
gelombang ultraviolet dan inframerah, sehingga dapat mencegah terjadinya gangguan
kulit karena cahaya matahari (Harry, 1982).
Sediaan ini dikelompokkan menjadi dua macam. Pertama, tabir surya kimia;
misalnya PABA, PABA ester, benzofenon, salisilat dan antranilat, berfungsi untuk dapat
mengabsorbsi energi radiasi dari cahaya matahari. Kedua, tabir surya fisik; misalnya
titanium dioksida, Mg silikat, seng oksida, red petrolatum dan kaolin, berfungsi untuk
dapat memantulkan cahaya matahari. Tabir surya fisik dapat menahan UV-A maupun UVB. Untuk mengoptimalkan kemampuan dari tabir surya sering dilakukan kombinasi
antara tabir surya kimia dan tabir surya fisik, bahkan ada yang menggunakan beberapa
macam tabir surya dalam satu sediaan kosmetika (Wasitaatmadja, 1997)
2.3. Minyak Atsiri
Minyak atsiri adalah salah satu kandungan tanaman yang sering disebut minyak
terbang.Minyak

atsiri

dinamakan

demikian

karena

minyak

tersebut

mudah

menguap.Selain itu, minyak atsiri juga disebut essential oil (dari kata essence) karena
minyak tersebut memberikan bau pada tanaman (Koensoemardiyah, 2010).
Minyak atsiri, minyak mudah menguap, atau minyak terbang merupakan
campuran senyawa yang berwujud cairan atau padatan yang memiliki komposisi maupun
titik didih yang beragam, penyulingan dapat didefinisikan sebagai proses pemisahan
komponen-komponen suatu campuran yang terdiri atas dua cairan atau lebih berdasarkan
perbedaan tekanan uap atau berdasarkan perbedaan titik didih komponen-komponen
senyawa tersebut (Sastrohamidjojo, 2004).
Minyak atsiri memiliki kandungan komponen aktif yang disebut terpenoid atau
terpena. Jika tanaman memiliki kandungan senyawa ini, berarti tanaman tersebut
memiliki potensi untuk dijadikan minyak atsiri. Zat inilah yang mengeluarkan aroma atau
bau khas yang terdapat pada banyak tanaman (Yuliani dan Satuhu, 2012).Minyak atsiri
bukan merupakan senyawa tunggal, tetapi tersusun dari berbagai komponen kimia seperti
alkohol, fenol, keton, ester, aldehida, dan terpena. Bau khas yang ditimbulkannya sangat
tergantung dari perbandingan komponen penyusunnya, demikian pula khasiatnya sebagai

obat. Sebagai contoh, minyak atsiri yang banyak mengandung fenol (misalnya minyak
sirih, Piper betle) berkhasiat sebagai antiseptik. Minyak sirih ini mampu membunuh
kuman seperti halnya karbol atau lisol sehingga minyak atsiri ini sering digunakan
sebagai obat cuci hama (Gunawan, 2007).
2.4. Sumber Minyak Atsiri
Minyak atsiri terdapat pada tumbuhan dan biasanya diperoleh dari bagian tertentu
dari tumbuhan seperti bunga, buah, akar, daun, kulit kayu, dan rimpang. Kandungan
minyak atsiri tidak akan selalu sama antara bagian satu dengan bagian lainnya. Misalnya
kandungan minyak atsiri yang terdapat pada kuntum bunga cengkih berbeda dengan pada
bagian tangkai bunga maupun daun.
Ditinjau dari sumber alami minyak atsiri, substansi mudah menguap ini dapat
dijadikan sebagai sidik jari atau ciri khas dari suatu jenis tumbuhan karena setiap
tumbuhan menghasilkan minyak atsiri dengan aroma yang berbeda. Dengan kata lain,
setiap jenis tumbuhan menghasilkan minyak atsiri dengan aroma yang spesifik
(Agusta,2000).
2.5. Khasiat dan Manfaat Minyak Atsiri
Kegunaan minyak atsiri sangat luas dan spesifik, khususnya dalam berbagai
bidang industri. Banyak contoh kegunaan minyak atsiri, antara lain dalam industri
kosmetik (sabun, pasta gigi, sampo, lotion), dalam industri makanan digunakan sebagai
bahan penyedap atau penambah cita rasa, dalam industri parfum sebagai pewangi dalam
berbagai produk minyak wangi, dalam industri farmasi atau obat-obatan (antinyeri,
antiinfeksi, pembunuh bakteri), dalam industri bahan pengawet bahkan digunakan pula
sebagai insektisida (Tony, 1994).
Minyak atsiri merupakan preparat antimikroba alami yang dapat bekerja terhadap
bakteri, virus, dan jamur yang telah dibuktikan secara ilmiah oleh banyak peneliti
(Yuliani dan Satuhu, 2012).Minyak daun sirih (Piper betle) adalah salah satu minyak
atsiri yang bersifat sebagai antibakteri.Minyak ini dapat menghambat pertumbuhan
beberapa jenis bakteri merugikan seperti Escherichia coli, Salmonella sp, Staphylococcus
aureus dan Pasteurella.Minyak adas, lavender (Lavandula officinalis), dan eukaliptus
(Eucalyptus globulus) dapat digunakan sebagai antiseptik (Agusta, 2000).

2.6. Destilasi Minyak Atsiri


Ada 4 jenis distilasi yang akan dibahas disini, yaitu distilasi sederhana, distilasi
fraksionasi, distilasi uap, dan distilasi vakum. Selain itu ada pula distilasi ekstraktif dan
distilasi azeotropic homogenous, distilasi dengan menggunakan garam berion, distilasi
pressure-swing, serta distilasi reaktif (Lugman, 1994).
2.6.1. Distilasi Sederhana
Pada distilasi sederhana, dasar pemisahannya adalah perbedaan titik didih yang
jauh atau dengan salah satu komponen bersifat volatil. Jika campuran dipanaskan maka
komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih dulu. Selain perbedaan
titik didih, juga perbedaan kevolatilan, yaitu kecenderungan sebuah substansi untuk
menjadi gas. Distilasi ini dilakukan pada tekanan atmosfer.Aplikasi distilasi sederhana
digunakan untuk memisahkan campuran air dan alkohol (Silberberg, 2006).
2.6.2. Distilasi Fraksionisasi
Fungsi distilasi fraksionasi adalah memisahkan komponen-komponen cair, dua
atau lebih, dari suatu larutan berdasarkan perbedaan titik didihnya.Distilasi ini juga dapat
digunakan untuk campuran dengan perbedaan titik didih kurang dari 20 C dan bekerja
pada tekanan atmosfer atau dengan tekanan rendah (Lando, 1974). Aplikasi dari distilasi
jenis ini digunakan pada industri minyak mentah, untuk memisahkan komponenkomponen dalam minyak mentah.
Perbedaan distilasi fraksionasi dan distilasi sederhana adalah adanya kolom
fraksionasi. Di kolom ini terjadi pemanasan secara bertahap dengan suhu yang berbedabeda pada setiap platnya. Pemanasan yang berbeda-beda ini bertujuan untuk pemurnian
distilat yang lebih dari plat-plat di bawahnya.Semakin ke atas, semakin tidak volatil
cairannya.

2.6.3. Distilasi Uap


Distilasi uap digunakan pada campuran senyawa-senyawa yang memiliki titik
didih mencapai 200 C atau lebih.Distilasi uap dapat menguapkan senyawa-senyawa ini

dengan suhu mendekati 100 C dalam tekanan atmosfer dengan menggunakan uap atau
air mendidih.Sifat yang fundamental dari distilasi uap adalah dapat mendistilasi
campuran senyawa di bawah titik didih dari masing-masing senyawa campurannya.
Selain itu distilasi uap dapat digunakan untuk campuran yang tidak larut dalam air di
semua temperatur, tapi dapat didistilasi dengan air. Aplikasi dari distilasi uap adalah
untuk mengekstrak beberapa produk alam seperti minyak eucalyptus dari eucalyptus,
minyak sitrus dari lemon atau jeruk, dan untuk ekstraksi minyak parfum dari tumbuhan.
Campuran dipanaskan melalui uap air yang dialirkan ke dalam campuran dan
mungkin ditambah juga dengan pemanasan (Silberberg, 2006). Uap dari campuran akan
naik ke atas menuju ke kondensor dan akhirnya masuk ke labu distilat.

2.6.4. Distilasi Vakum


Distilasi vakum biasanya digunakan jika senyawa yang ingin didistilasi tidak
stabil, dengan pengertian dapat terdekomposisi sebelum atau mendekati titik didihnya
atau campuran yang memiliki titik didih di atas 150 C. Metode distilasi ini tidak dapat
digunakan pada pelarut dengan titik didih yang rendah jika kondensornya menggunakan
air dingin, karena komponen yang menguap tidak dapat dikondensasi oleh air. Untuk
mengurangi tekanan digunakan pompa vakum atau aspirator.Aspirator berfungsi sebagai
penurun tekanan pada sistem distilasi ini ( Lando, 1974).

2.7. Kromatografi Gas Spektrometer Massa


Minyak atsiri yang mudah menguap dapat dianalisis dengan GC-MS. GC (Gas
Cromatografi berfungsi untuk memisahkan komponen-komponen minyak atsiri dan MS
(Mass Spektra) berfungsi untuk menentukan berat molekul tiap komponen berdasarkan
fragmentasi. Ketika suatu uap senyawa organik dilewatkan pada ruang ionisasi
spektrometer massa, senyawa ini akan ditembak dengan elektron berenergi tinggi dan
melemparkan elektron berenergi tinggi dan melemparkan elektron dari senyawa tersebut.
Senyawa yang kehilangan elektronnya ini akan membentuk ion positif yang disebut ion

molekul (Dachriyanus, 2004). Pada sistem GC MS yang berfungsi sebagai detektor


adalah spektrometer massa yang terdiri dari sistem analisis dan sistem ionisasi, dimana
Electron Impact (EI) adalah metode yang umum digunakan (Agusta, 2000).

Spektrometer Massa
Spektrometer massa adalah suatu alat berfungsi untuk mendeteksi masing-masing
molekul komponen yang telah dipisahkan pada sistem kromatografi gas (Agusta,2000).
Spektrometer massa adalah suatu instrument yang menghasilkan berkas ion dari suatu zat
uji, memilah ion tersebut menjadi spektrum sesuai dengan perbandingan massa terhadap
muatan (m/z) dan merekam kelimpahan relatif tiap jenis ion yang ada. Spektrometer
massa dapat digunakan untuk mengukur perbandingan massa ion terhadap muatan, untuk
menetapkan kelimpahan ion dan untuk mempelajari proses ionisasi (Depkes RI,1995).
Spektrometri massa pada umumnya digunakan untuk :menentukan massa
molekul, menentukan rumus molekul dengan menggunakan spektrum Massa Beresolusi
Tinggi (High Resolution Mass Spectra) dan untuk mengetahui informasi dari struktur
dengan melihat pola fragmentasinya (Silverstein,et al.,1986).
Dari analisis GC-MS akan diperoleh dua informasi dasar, yaitu hasil analisis
kromatografi gas yang ditampilkan dalam bentuk kromatogram dan hasil analisis
spektrometri massa yang ditampilkan dalam bentuk spektrum massa. Dari kromatogram
dapat diperoleh informasi mengenai jumlah komponen kimia yang terdapat dalam
campuran yang dianalisis yang ditunjukkan oleh jumlah puncak yang terbentuk pada
kromatogram dengan kuantitasnya masing-masing. Spektrum massa hasil analisis sistem
spektroskopi massa merupakan gambaran mengenai jenis dan jumlah fragmen molekul
yang terbentuk dari suatu komponen kimia. Setiap fragmen yang terbentuk dari
pemecahan suatu komponen kimia memiliki berat molekul yang berbeda m/z (m/e,
massa/muatan). Selanjutnya, spektrum massa komponen kimia yang diperoleh dari hasil
analisis diidentifikasi dengan cara dibandingkan dengan spektrum massa yang terdapat
dalam suatu bank data (Agusta, 2000).

III. METODOLOGI PENELITIAN


3.1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di laboratorium Terpadu Universitas Sam Ratulangi
selama 2 bulan.
3.2. Bahan Penelitian
Kulit dari buah lemon cui akan diperoleh dari Desa Kalasey dimana tanaman ini
banyak tumbuh liar di daerah itu. Adapun bahan kimia yang akan digunakan dalam
penelitian nanti adalah reagen Folin-Ciocalteu diperoleh dari Merck (Darmstadt,
Germany) dan asam galat dan 1,1-difenil-2-pikrihidrazil (DPPH) diperoleh dari Sigma
Checimal (St. Lois,MO).
3.3. Alat Penelitian
Alat yang digunakan adalah alat-alat gelas, mikropipet, vortex mixer, gelas
Erlenmeyer, rotary evaporator, botol serum, oven, timbangan analitik, seperangkat alat
destilasi uap, kromatografi gas-spektrometer massa (GC-MS) (Shimanzu GC-17 A, OP
5000).
3.4. Prosedur Penelitian
3.4.1. Preparasi Bahan
Hal pertama yang akan dilakukan yaitu dengan menganalisis kadar air pada daun
tembelekan yang segar, selanjutnya dikeringkan hingga kadar airnya sekitar 10 % dengan
waktu pengeringan yaitu 10 hari. Kemudian , setelah kering daun tembelekan akan
digiling dengan alat penggiling dan diayak sampai 40 mesh dan dianalisis kembali kadar
airnya.

3.4.2. Ekstraksi Kulit Lemon Cui dengan Cara Destilasi Uap


Dimasukkan serbuk kulit lemon cui sebanyak 500 g ke dalam labu leher tiga
berkapasitas 5 L yang telah di isi 1,5 L air, kemudian dihubungkan pada seperangkat alat
destilasi uap. Di panaskan perlahan-lahan hingga diperoleh destilat, destilat kemudian
ditampung dengan kecepatan satu tetes per detik dan selanjutnya destilat dipindahkan
kedalam corong pisah, diambil lapisan yang berminyak dan lapisan berair diekstrak
dengan eter. Pelarutnya diuapkan dengan menggunakan rotari evaporator, residunya
digabung dengan lapisan berminyak. Kemudian destilat ditimbang dan dianalisis
kandungan fenolik dan di uji aktivitas untuk tabir surya serta mengidentifikasi komponen
kimianya dengan kromatografi gas-spektrometer massa (GC-MS).
3.4.3. Identifikasi Komponen Volatil menggunakan KG-SM
Analisis menggunakan GC-MS merk Shimadzu 5000 yang telah dilengkapi
dengan kolom kapiler DB-1 dengan panjang kolom 30 m, diameter internalnya adalah
0,25 mm, ketebalan fase diam 0,25 m. Kondisi GC-MS yang digunakan adalah sebagai
berikut : Program dengan suhu 500C dipertahankan selama 5 menit, kemudian dinaikan
suhu hingga 2000C dengan kenaikan suhu 30/menit dipertahankan selama 20 menit.
Kisaran massa antara 33-350 dengan interval 0,5 detik dan resolusi sebesar 1000.
Interpretasi dari spektro massa dilakukan dengan bantuan computer, untuk
membandingkan pola spektro massa suatu senyawa dengan pola spectra massa pada
massa spectra library. Data base yang digunakan adalah data dari (NBS Library).
3.4.4. Penentuan Kandungan Total Fenolik Minyak Atsiri Kulit Lemon Cui
Kandungan dari total fenol yang berada dalam ekstrak volatile akan ditentukan
dengan metode Jeong et al. (2005). Sebanyak 1 mL sampel ekstrak ditambahkan ke
dalam tabung reaksi dengan penambahan reagen Folin-Ciocalteu (50%) dan kemudian
campuran ini akan divortex selamat 3 menit. Setelah 3 menit, akan ditambahkan 1 mL
larutan Na2CO3 2%. Selanjutnya campuran disimpan dalam ruang gelap dengan waktu
penyimpan sekitar 30 menit.Absorbansi ekstrak dibaca menggunakan spektrofotometer
pada 750 nm. Hasilnya akan dinyatakan sebagai ekuivalen asama galat dalam mg/kg

ekstrak. Kurva kalibrasi dipersiapkan pada cara yang sama menggunakan asam galat
sebagai standar.
3.3.5. Penentuan nilai SPF secara in vitro
Penentuan efektivitas tabir surya dilakukan dengan menentukan nilai SPF
secara in vitro dengan metode spektrofotometri (Sayre et al., 1979). Fraksi
diencerkan dengan konsentrasi 500 ppm. Dibuat kurva serapan uji kuvet 1 cm,
dengan panjang gelombang antara 290 dan360 nm, digunakan etanol sebagai
blanko. Serapan larutan uji menunjukkan pengaruh zat yang menyerap maupun
yang memantulkan sinar UV dalam larutan. Kemudian dibaca absorbansi setiap
interval 5 dari panjang gelombang 290 nm sampai panjang gelombang 320 nm.
Untuk menghitung nilai SPF digunakan rumus:

EE ( ) x I
320

SPF=CF+

) x absorbansi ( )

290

Ket

: CF
EE
I

= Faktor Korelasi (10),


= Efisiensi Eriterma,
= Spektrum Simulasi Sinar Surya.

DAFTAR PUSTAKA
Agusta, A. 2000. Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia.Bandung : Penerbit ITB.
Burda S., and Oleszek W. 2001. Antioxidant and anti- radical activities of flavonoids.
Food Chemistry. 49: 2774-2779
Clark J. 2005. Immiscible liquids and steam distillation. Di akses pada 16 February 2015
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi 4 . Jakarta.
Eaton,D.C. 1989. Laboratory Investigations in Organic Chemistry.USA :Mc Graw Hill.
Gritter,R.J. 1991. Pengantar Kromatografi. Terjemahan Kosasih Padmawinata. Bandung:
Penerbit ITB.
Gunawan,D.2007. Ramuan Tradisional Untuk Keharmonisan Suami Istri. Jakarta :
Penebar Swadaya.
Harry R.G., 1982. The Principle and Practice of modern Cosmetic. Leonard Hill
Book. Harrys Cosmeticologi. 6th Edition. London.
Hatan F. Sri. 2012. Aktivitas Antioksidan Dari Ekstrak Kulit Nanas ( Ananas comosus (L)
Merr). Jurnal Ilmiah Pharmacon. 2: 8-12.

Herman J.R., dan G. Blaschke. 1988. Analisis Farmasi. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Jeong-Beeman, M., Bowden, E.M., Haberman, J., Frymiare, J.L, Arambel-Liu, S.
Greenblatt, R., Reber, P.J., & Kounios, J. 2004. Neural activity observed in people
solving verbal problems with insight. Public Library of Science - Biology.
Khomsan, A. 2004. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. Jakarta: Raja grafindo
Koensoemardiyah. 2010. A to Z Minyak Atsiri untuk industri Makanan,Kosmetik dan
Aromaterapi. Yogyakarta : ANDI OFFSET
Lando, JB dan SH, Maron. 1974. Fundamentals of Physical Chemistry. New York:
Macmillan Publising
Lugman, L., dan R. Yeyet. 1994. Produksi dan Perdagangan Minyak Atsiri.Jakarta :
Penebar Swadaya.
Mochamad, A. 1997. Teknik Kromatografi Untuk Analisis Bahan Makanan. Yogyakarta:
Penerbit ANDI OFFSET
Rohman, A. 2009. Kromatografi untuk Analisis Obat. Edisi Pertama. Yogyakarta : Graha
Ilmu.
Sastrohamidjojo, H. 2004. Kimia Minyak Atsiri. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Sayre, R. M., J.R. Adams, and W.P. Wergin. 1979. Bacterial para- site of a
cladoceran: Morphology, development in vivo, and taxo- nomic relationships
with Pasteuria ramosa. International Journal of Systematic Bacteriology.
Silberberg, MS. 2006. Chemistry The Molecular Nature of Matter and Change. Ed
ke-4. New York: McGraw-Hill

Silverstein, R.M., G.C. Basster., dan T.C. Morrill. 1986. Laboratory Investigations in
Organic Chemistry.Penerjemah : Hartono,Anny Victor Purba. Penyidikan
Spektrometrik Senyawa Organik. Jakarta : Erlangga
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar Jilid 1. Bandung: Penerbit ITB.
Suparni, I., dan A. Wulandari. 2012. Herbal Nusantara 1001 Ramuan Tradisional Asli
Indonesia.Yogyakarta : Rapha Publishing.
Tjitrosoepome, G.1986. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Usman, K.2012. Manfaat Jeruk Untuk Kesehatan. Dalam
http:/www.lagalus.com.2012/02/manfaat-jeruk-.html/. Diakses pada tanggal 21
Februari 2015
Venkatachalam T, Kumar VK, Selvi PK, Maske AO, Kumar NS. 2011. Physicochemical
and preliminary phytochemical studies on the Lantana camara (L.) fruits.
International Journal ofPharmacy and Pharmaceutical Sciences, 3(1): 52-54.
Wasitaatmadja, S. M. (1997). Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia. Hal. 3,58-59, 62-63, 111-112.
Yuliani,S dan Satuhu. 2012. Panduan Lengkap Minyak Asiri. Cetakan Pertama. Jakarta :
Penebar Swadaya.