Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hampir seluruh negara di dunia saat ini memiliki pasar modal / capital market
sebagai wadah perkembangan ekonomi negaranya. Selain dapat dijadikan sebagai
acuan untuk melihat bagaimana dinamisnya bisnis suatu negara, pasar modal juga
dapat menggerakan berbagai kebijakan ekonominya seperti kebijakan fiskal dan
moneter.1 Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar
Modal (kemudian disebut UU PM) menjelaskan bahwa pasar modal adalah kegiatan
yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan
publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya serta lembaga dan profesi yang
berkaitan dengan efek.
Di negara Indonesia pasar modal mempunyai peran yang strategis dalam
pembangunan nasional yakni perannya sebagai salah satu sumber pembiayaan dunia
usaha dan wahana investasi bagi masyarakat. Melalui pasar modal, para pemodal dapat
berinvestasi dan mencari sumber pembiayaan bagi usahanya melalui kepemilikan
berbagai surat-surat berharga di pasar modal. Selain itu Pasar modal juga menyediakan
fasilitas untuk memindahkan dana dari lender (pemilik dana) kepada borrower dengan
harapan akan mendapat imbalan dari penyertaan dana tersebut2.

1 Irham Fahmi, Pengantar Pasar Modal, Bandung : Alfabeta, 2012, hlm.


54
2 M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Aspek Hukum Pasar Modal,
Jakarta: Prenada Media, 2004, hal. 13

Indonesia sebagai negara hukum mengatur kegiatan pasar modal di Indonesia


dengan berbagai hukum positif yang cukup luas. Selain UU PM yang mengatur
kegiatan di pasar modal secara khusus, pasar modal diatur secara umum oleh Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata), Undang-Undang Nomor 40 tahun
2007 Tentang Perseroan Terbatas (UU PT) dan banyak peraturan lainnya seperti
Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Presiden, Keputusan Menteri Keuangan.
Kegiatan di pasar modal juga diatur dalam peraturan self regulatory organization
(SRO)3 terkait, seperti Peraturan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan (BAPEPAM-LK LK), Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan
(OJK). Badan yang terakhir kali disebut baru berjalan secara efektif pada tahun 2013,
sejak dialihkannya fungsi pengaturan dan pengawasan kegiatan di pasar modal yang
sebelumnya berada pada BAPEPAM-LK, dan kini dipegang oleh sebuah lembaga baru
yang disebut OJK.
Ditinjau dari fungsinya, pasar modal terbagi menjadi pasar perdana dan pasar
sekunder. Pasar perdana adalah tempat atau sarana dalam pasar modal dimana efek
suatu perseroan untuk pertama kalinya ditawarkan di pasar modal dalam waktu
tertentu sebelum efek tersebut dicatatkan di bursa atau pasar sekunder.4 Kegiatan ini
biasanya disebut dengan penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO).
Sedangkan pasar sekunder adalah pasar dimana pemodal dapat melakukan jual beli
efek setelah efek tersebut dicatatkan di bursa. 5 Pasar ini merupakan tempat
3 Self Regulatory Organization adalah organisasi regulator mandiri atau
organisasi yang melaksanakan tingkat tertentu dari kewenangan
penerapan aturan atas suatu industri atau profesi.
4 Sumantoro, Aspek-Aspek Hukum dan Potensi Pasar Modal Di
Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1988, hlm. 27.
5 Warkum Sumitro, Asas-Asas Perbankan dan Lembaga-Lembaga Terkait,

perdagangan efek setelah penjualan dalam kegiatan penawaran umum perdana


berakhir. Pasar sekunder adalah titik sentral kegiatan pasar modal karena banyaknya
aktivitas perdagangan yang terjadi dalam pasar sekunder.
Adapun efek yang dimaksud dalam UU PM adalah efek atau surat berharga
yang terbagi ke dalam dua kelompok utama, yaitu: 6
1.
2.

Efek bersifat ekuitas (contoh: saham)


Efek bersifat utang (contoh: obligasi)

Selain dua kelompok tersebut, dikenal pula produk-produk derivatif (turunan) di pasar
modal, dan dalam hal ini instrumen pasar modal yang paling umum diperdagangkan
adalah efek yang bersifat ekuitas atau saham.
Dari kedua kelompok utama tersebut, saham merupakan instrumen pasar modal
yang paling umum untuk diperdagangkan. Saham adalah tanda bukti memiliki
perusahaan dimana pemiliknya disebut sebagai pemegang saham (shareholder atau
stockholder).7 Menurut Pasal 1 angka (22) UU PM, sebuah perseroan bisa dikatakan
perusahaan publik apabila sahamnya telah dimiliki sekurang-kurangnya oleh 300
pemegang saham dan memiliki modal disetor sekurang-kurangnya tiga miliar rupiah.
Lebih dari 300 pemegang saham tersebutlah yang kemudian disebut sebagai pemegang
saham publik dan memiliki hak untuk mentransaksikan sahamnya di pasar sekunder.

dikutip dari Adrian Sutedi, Segi-Segi Hukum Pasar Modal, Jakarta; Ghalia
Indonesia, 2009, hal. 21
Ibid
6 Iswi Hariyani dan R Serfianto Dibyo Purnomo, Buku Pintar Hukum Bisnis
Pasar Modal, Jakarta: Visimedia, 2010, hlm. 197
7 Mohamad Samsul, Pasar Modal & Manajemen Portofolio, Jakarta:
Erlangga, 2006, hlm. 45

Istilah transaksi di hukum pasar modal pada dasarnya merupakan bagian dari
istilah perjanjian di hukum perdata, oleh karena itu pengertian dan prinsip dasar dalam
hukum perjanjian dapat menjadi dasar untuk menganalisis transaksi di pasar modal. 8
Perjanjian dalam sebuah transaksi di pasar modal merupakan perjanjian obligatoir,
yang artinya perjanjian jual beli yang disepakati baru meletakkan hak dan kewajiban
kepada para pihak, namun hak miliknya belum dapat dialihkan. Pemindahan hak milik
baru terjadi setelah adanya penyerahan atau levering. Levering atau penyerahan adalah
pemindahan hak milik atas suatu benda yang berasal dari seseorang yang berhak
memindahkannya kepada orang lain, yang mengakibatkan orang lain menjadi pemilik
benda tersebut.9
Pasal 1313 KUH Perdata mendefinisikan perjanjian sebagai suatu perbuatan
dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau
lebih. Prof. Subekti dalam bukunya menjelaskan bahwa dalam suatu perjanjian, kedua
belah pihak harus mempunyai kemauan yang bebas untuk mengikatkan diri dan
kemauan itu harus dinyatakan baik secara tegas maupun diam-diam. 10 Suatu perjanjian
baru akan berlaku dalam arti memiliki akibat hukum dan mengikat para pihak apabila
perjanjian tersebut memenuhi syarat sahnya suatu perjanjian. Berdasarkan Pasal 1320
KUH Perdata, terdapat beberapa syarat sahnya suatu perjanjian, yaitu:
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
8 Lastuti Abubakar, Transaksi Derivatif di Indonesia, Jakarta: Book Terrace
& Library, 2009, hlm. 63-66
9 Frieda Husni Hasbullahm Hukum Kebendaan Perdata Hak-Hak Yang
Memberi Kenikmatan, Cet.1, Jakarta: Ind Hill Co, 2002, Hlm. 113
10 Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Jakarta: PT Intermasa, 2001,
hlm. 134

3. Suatu hal tertentu; dan


4. Suatu sebab yang halal
Syarat pertama dan kedua berkaitan dengan subyeknya, sehingga disebut syarat
subyektif yang apabila tidak dipenuhi berakibat perjanjian dapat dibatalkan. Syarat
ketiga dan keempat berkaitan dengan obyek perjanjian, sehingga disebut syarat
obyektif yang apabila tidak dipenuhi berakibat batal demi hukum.11 Keempat syarat di
atas merupakan ketentuan yang bersifat memaksa (dwingend recht / mandatory law),
yang apabila tidak dipenuhi dapat mengakibatkan suatu perjanjian menjadi tidak
berlaku, termasuk perjanjian dalam transaksi efek di pasar modal.12
Salah satu transaksi efek di pasar modal yang akan diulas dalam penelitian ini
adalah transaksi short selling. Pertama kali ditemukan di bursa efek Belanda, transaksi
short selling adalah transaksi penjualan efek dimana efek dimaksud tidak dimiliki oleh
penjual pada saat transaksi dilaksanakan.13 Kegiatan penjualan efek short selling
dilakukan shortseller ketika shortseller tidak atau belum memiliki efek yang
dimaksud.14 Setelah transaksi dilakukan, shortseller akan mencari saham yang dijual
untuk dibeli kembali dengan harapan harga saham yang dijual lebih besar daripada
saham yang dibeli.
11 Ibid
12 Idem
13 Lampiran Keputusan Ketua Bapepam-lk No. Kep.258/BL/2008 Tahun
2008 Tentang Peraturan Bapepam-LK Nomor V.D.6 Tentang Pembiayaan
Transaksi Efek oleh Perusahaan Efek bagi Nasabah dan Transaksi Short
Selling oleh Perusahaan Efek
14 Definisi dari The Securities and Exchange Commision, dalam: Taulli,
Tom, What is short selling?, The McGraw-Hill Companies, Inc., Newyork,
2004, hlm. 3. Terjemahan bebasnya: ..penjualan suatu saham yang tidak
dimiliki, atau dimiliki, akan tetapi tidak diserahkan oleh penjual saham
tersebut. Untuk menyerahkan kepada pembeli, pelaku short selling akan
meminjam saham dari investor perorangan atau investor kelembagaan

Secara umum short selling dapat diartikan dari dua kata, yaitu short dan
selling. Short artinya pihak yang menjual memiliki kewajiban untuk memenuhi
kewajiban penyerahan, sedangkan selling artinya ada penjualan.15 Transaksi short
selling diatur oleh Peraturan Bursa Efek Nomor II-H yang mendefinisikan transaksi ini
sebagai transaksi penjualan efek yang tidak dimiliki oleh penjual pada saat transaksi
dilaksanakan.
Short seller biasanya memanfaatkan ketentuan T+3 (istilah penyelesaian
transaksi pada hari ke-3 setelah transaksi dilakukan di pasar modal) untuk
melaksanakan kewajiban penyerahannya dalam mencari efek yang telah dijual untuk
dibeli kembali. Mengacu pada ketentuan tersebut, KUH Perdata mendefinisikan benda
yang menjadi objek perjanjian dalam transaksi pasar modal sebagai benda yang akan
datang karena benda atau efek tersebut baru dapat diserahkan pada hari ke-3 setelah
transaksi dilaksanakan. Ketentuan inilah yang kemudian menjadi motif investor dalam
melakukan transaksi short selling dengan memanfaatkan jangka waktu 3 hari untuk
penyelesaian transaksinya.
Sesuai dengan prinsip negative income investment strategy16, keuntungan akan
diraih short seller ketika short seller mampu melaksanakan kewajiban penyerahan
setelah harga efek yang dijual turun. Selisih harga jual dan harga beli tersebut yang
kemudian menjadi sasaran utama dari strategi transaksi ini. Meskipun demikian,

15 Adler Haymans Manurung, Berani Bermain Saham, Jakarta: Buku


Kompas, 2009, hlm. 223
16 Negative Investment Strategy Istrategi investasi pemasukan negatif)
adalah strategi di pasar modal dimana investor akan mendapat
keuntungan setelah terjadinya perubahan harga saham setelah
dilakukannya transaksi.

strategi ini dapat menimbulkan risiko terjadinya gagal serah17 atau kegagalan
penyerahan dalam short selling.
Penyebab utama gagal serah efek dalam perdagangan tanpa warkat (scripless
trading) adalah karena adanya akitivitas transaksi short selling dimana anggota bursa
dapat melakukan penjualan efek tanpa ada persediaan efek di rekening efeknya,
sehingga pada hari penyelesaian T+3 tidak dapat menyerahkan efeknya tepat waktu
dan jumlah yang telah disepakati kepada anggota bursa.18

Selain itu, pada tahun 2008 Bursa Efek Indonesia pernah melakukan suspend /
penghentian sementara aktivitas perdagangan saham yang disebabkan adanya
permintaan dari PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI). Permintaan dari KPEI
disebabkan karena telah terjadi penurunan harga-harga secara tajam dan menyeluruh di
bursa yang menyebabkan kerugian bagi para pelaku pasar modal, padahal pada saat itu
tidak ada fakta material yang secara fundamental mengakibatkan harga-harga saham
turun.19 Bursa Efek Indonesia kemudian meminta Bapepam-lk untuk melakukan
pemeriksaan dan penyidikan pada transaksi bursa karena adanya dugaan bahwa
transaksi short selling yang menyebabkan penurunan harga saham-saham tersebut.

17 Gagal serah adalah peristiwa dimana anggota kliring tidak memenuhi


kewajibannya untuk menyerahkan efek dalam jumlah dan waktu yang
telah ditentukan yaitu (T+3) kepada KPEI.
18 Leo Herlambang, Gagal Serah Kemelut Pasar Modal Kita, Surabaya:
Grafindo Persada, 2008, hlm. 42
19 Hukumonline, http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol20476/dibalik-suspend-bei , diunggah pada tanggal 12 November 2009, dikutip
pada tanggal 25 September 2014

Fasilitas Transaksi short selling kemudian dihentikan sementara waktu hingga


akhirnya dibuka kembali pada bulan Januari 2009.
Menurut Direktur Pengawasan Bapepam-lk kepada hukumonline menjelaskan
bahwa pihaknya melakukan suspend pasar di bulan Oktober 2008 karena terjadi
penurunan harga-harga yang sangat tajam secara menyeluruh di bursa yang diduga
disebabkan isu panic selling dan short selling.20 Hal tersebut menimbulkan pertanyaan
besar bagi penulis, bahwa short selling yang pada dasarnya merupakan perdagangan
yang legal bisa saja membuat pasar turun apabila digunakan di saat yang tidak tepat.
Yanuar Rizky dan Robert JS Nayoan dan Alex Marco, para pengamat pasar modal
tersebut mengatakan bahwa spekulan selalu memanfaatkan kondisi pasar yang sedang
melemah dengan melakukan transaksi short selling secara besar-besaran sehingga
memperburuk keadaan bursa. Meskipun demikian, pada tahun 2009, fasilitas short
selling kembali disediakan oleh BEI.
Baik buruknya perkembangan pasar modal suatu negara sangat ditentukan oleh
kefektifan pengawasan lembaga hukum terkait terhadap peraturan di pasar modal.
Terutama ketika mempunyai peran dan fungsi untuk mendorong dan memaksa emiten
mematuhi peraturan-peraturan di pasar modal. Apabila sebuah transaksi dalam pasar
modal sudah dipagari secara highly regulated dan para pihak yang berada dalam ruang
lingkup regulator dan self regulatory organisation (SROs) dapat mendukung peraturan
tersebut, maka tinggal menunggu waktu saja pasar modal Indonesia dapat mengikuti
jejak pasar modal di negara maju lainnya.

20 Ibid

Sebelumnya, telah ada beberapa penelitian terkait yang membahas mengenai


short selling, diantaranya sebagai berikut:
1.

Dicky Eka Kurniawan, berbentuk skripsi dengan judul ANALISIS


HUKUM

PERJANJIAN

DAN

PASAR

MODAL

TERHADAP

PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM EFEK DALAM TRANSAKSI


SHORT SELLING DI BURSA EFEK JAKARTA, Fakultas Hukum
Universitas

Padjadjaran,

2007.

Skripsi

ini

mengangkat

pokok

permasalahan mengenai hubungan hukum para pihak dan jaminan efek


yang terdapat dalam transaksi short selling ditinjau dari hukum perjanjian
dan
2.

hukum

pasar

modal

yang

berlaku

di

Indonesia.

Alieta Lestariwandari, berbentuk skripsi dengan judul KAJIAN HUKUM


TERHADAP PENJAMINAN PENYELESAIAN TRANSAKSI EFEK
OLEH PT KPEI DIHUBUNGKAN DENGAN PERLINDUNGAN
TERHADAP PERUSAHAAN EFEK DAN INVESTOR, Fakultas
Hukum Universitas Padjadjaran, 2013. Skripsi ini mengangkat pokok
permasalahan mengenai bagaimana perlindungan hukum terhadap
pelaksanaan penjaminan penyelesaian transaksi efek dan bagaimana model
keanggotaan kliring yang paling sesuai untuk diterapkan di Indonesia
dihubungkan dengan pelaksanaan penjaminan penyelesaian transaksi efek
oleh PT KPEI selaku Central Counter Party.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merasa tertarik untuk


mengkaji dan meneliti lebih lanjut mengenai praktik transaksi short selling dan

perlindungan hukumnya terhadap investor di Pasar Modal Indonesia, dengan skripsi


yang berjudul :
Kajian Hukum Pasar Modal Indonesia Terhadap Transaksi Short Selling
Menurut Peraturan Bursa Efek Indonesia Nomor II-H Dan Peraturan BapepamLK Nomor V.D.6 Dihubungkan Dengan Perlindungan Hukum Terhadap
Investor

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka untuk
membatasi ruang lingkup pembahasan materi dalam skripsi ini

dirumuskan permasalahan sebagai berikut :


1. Bagaimana pelaksanaan transaksi short selling di Pasar Modal Indonesia
ditinjau berdasarkan Peraturan Bursa Efek Indonesia Nomor II-H dan
Peraturan Bapepam-lk Nomor V.D.6?
2. Bagaimana perlindungan hukum terhadap perusahaan efek dan investor
dalam hal terjadinya kerugian pada transaksi short selling ditinjau
berdasarkan hukum pasar modal Indonesia?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dengan dilaksanakannya penelitian ini adalah
sebagai berikut:

1.

Untuk mengetahui dan menganalisis pelaksanaan transaksi short selling di


Pasar Modal Indonesia ditinjau berdasarkan Peraturan Bursa Efek

2.

Indonesia Nomor II-H dan Peraturan Bapepam-lk Nomor V.D.6.


Untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana perlindungan hukum
terhadap investor dalam hal terjadinya kerugian pada transaksi short
selling ditinjau berdasarkan hukum pasar modal ?

D. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan suatu manfaat dan kegunaan
baik ditinjau dari segi teoritis maupun dari segi praktis, yaitu:
1. Secara Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumbangan
pemikiran dan pengetahuan kepada para pembaca, khususnya mahasiswa,
mengenai

perkembangan

ilmu

hukum

pada

umumnya

maupun

perkembangan hukum ekonomi, khususnya mengenai hukum pasar modal


dan nasional
2. Secara Praktis
a. Memberikan sumbangan pemikiran terhadap perkembangan ilmu
hukum pada umumnya, khususnya berkaitan dengan transakitransaksi yang diperdagangkan investor dalam BEI, ditinjau dari
UU Pasar Modal dan peraturan terkait lainnya.
b. Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan
serta bahan literatur untuk penelitian sejenis di masa yang akan
datang.

E. Kerangka Pemikiran
Sebagai negara hukum (rechtstaat), Indonesia bersandar pada keyakinan bahwa
kekuasaan negara harus dijalankan atas dasar hukum yang adil dan baik. Indonesia
menerima hukum sebagai ideologi untuk menciptakan ketertiban, keamanan, keadilan
serta kesejahteraan bagi warga negaranya sehingga hukum mengikat setiap tindakan
yang dilakukan oleh warga Indonesia. Hal tersebut secara tegas disebutkan dalam
penjelasan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 (UUD 1945).
Kedudukan hukum dalam sebuah negara dijelaskan lebih lanjut oleh Mochtar
Kusumaatmadja bahwa hukum berkedudukan sebagai perangkat asas asas dan
kaidah yang mengatur kehidupan masyarakat termasuk didalamnya lembaga-lembaga
dan proses-proses yang mewujudkan hukum itu dalam kenyataan. 21 Sebagai perangkat
asas dan kaidah untuk mengatur kehidupan masyarakat, hukum berfungsi tidak hanya
sebagai sarana pengendali sosial, namun dapat juga berperan sebagai alat perubahan
sosial (social engineering) terhadap masyarakat yang bersifat dinamis.22 Lebih lanjut
Mochtar Kusumaatmadja mengemukakan bahwa kekuasaan tunduk pada hukum dan
semua orang sama di hadapan hukum.23 Berdasarkan hirearki peraturan perundangundangan yang paling tinggi, landasan dan nilai-nilai fundamental Indonesia terletak
pada Pancasila dan UUD 1945 sebagai sebuah konstitusi negara.

21 Mochtar Kusumaatmadja, Hukum, Masyarakat dan Pembinaan Hukum


Nasional, Bandung, Bina Cipta, 1976, hlm. 14.
22 Ibid, hlm 2
23 Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Ilmu Hukum, Bandung, PT
Alumni, 2009, hlm 43.

Pancasila maupun UUD 1945 tidak hanya mengatur struktur pemerintahan dan
lembaga negara saja, namun lebih dari itu, layaknya ideologi sebuah negara, konstitusi
juga memiliki dimensi pengaturan ekonomi dan kesejahteraan sosial yang tertuang
pada Pasal 33 UUD 1945 24 yang berisi sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

5.

Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas


kekeluargaan.
Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai
hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.
Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh
Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi
dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan,
berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga
keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam
undang-undang

Sistem ekonomi yang dianut oleh Indonesia adalah Sistem Ekonomi Pancasila
yang bersumber langsung dari pancasila khususnya sila kelima, yaitu keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia serta amanah dari Pasal 27 ayat (2), Pasal 33-34 UUD
1945. Sila kelima ini menjelaskan bahwa semua orientasi berbangsa dan bernegara,
politik, ekonomi, hukum, sosial dan budaya harus dijiwai semangat keadilan
menyeluruh dan diperuntukkan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sistem Ekonomi
Pancasila dapat disebut sebagai sebuah sistem ekonomi pasar dengan pengendalian
pemerintah atas ekonomi pasar terkendali.25 Demi mencapai keseimbangan dalam
24 Kuntana Magnar, Inna Junaenah, dan Giri Ahmad Taufk, Tafsir MK Atas
Pasal 33 UUd 1945: (Studi Atas Putusan MK Mengenai Judicial Review
UU No. 7/2004, UU No. 22/2001, dan UU No. 20/2002), Jurnal Konstitusi,
Volume 7, Nomor 1, Februari 2010, Hlm, 112.
25 Dawam Rahardjo, Ekonomi Pancasila dalam Tinjauan Filsafat Ilmu,
http://www.ekonomikerakyatan.ugm.ac.id.,, diunggah pada tanggal 27

sistem ekonomi tersebut, dewasa ini pembangunan dan perkembangan hukum dalam
aspek ekonomi menjadi sasaran utama negara Indonesia sebagai negara berkembang.
Adapun yang dimaksud dengan upaya pembangunan adalah upaya yang
dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan
bernegara.26 Pembangunan nasional merupakan suatu usaha dalam meningkatkan
kualitas baik infrastruktur maupun masyrakat suatu bangsa, sedangkan pembangunan
ekonomi merupakan salah satu misi dalam pembangunan nasional. Landasarn hukum
dari pembangunan hukum dan ekonomi Indonesia terdapat pada Pasal 33 UUD 1945
yang menjelaskan bahwa perekonomian yang berada di Indonesia disusun sebagai
usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan, dan diselenggarakan berdasarkan asas
demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan,
berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan kemajuan dan
kesatuan ekonomi nasional.
Berdasarkan Pasal 1 butir (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25
Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dijelaskan bahwa
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara
perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam
jangka panjang, jangka menengah dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur
penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah. Dijelaskan lebih
lanjut bahwa pembangunan nasional tumbuh dari perencanaan jangka panjang, jangka

April 2014
26 Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta: Sekertariat
Negara, 2014, Pasal 1 ayat (2)

menengah dan tahunan. Oleh karena itu, segala perencanaan negara yang dirangkum
dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) merupakan satu kesatuan
dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah (RPJM).
Adapun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJPMN) tahun
2010-2014 yang masih berjalan ketika penelitian ini dlakukan, memiliki visi
Terwujudnya Indonesia yang sejahtera, demokratis dan berkeadilan. 27 Visi tersebut
bermaksud untuk mengutamakan kesejahteraan rakyat yang kemudian diaplikasikan
ke dalam beberapa agenda rencana pembangunan. Salah satu agendanya adalah
pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat yang dicapai melalui
bentuk pembangunan ekonomi yang tertuang dalam RPJMN yakni pembangunan
investasi.28
Dilihat dari Bab V dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5
Tahun 2010 Tentang RPJMN, investasi memiliki peran yang cukup besar dalam upaya
pembangunan ekonomi nasional. Investasi dapat dibagi menjadi investasi langsung
(direct investment) dan investasi tidak langsung (portofolio investment). Investasi
tidak langsung (portofolio investment) adalah investasi yang dilakukan di pasar uang

27 Republik Indonesia, Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014,
Jakarta: Presiden, BAB IV I-28.
28 Investasi berasal dari kata invest yang berarti menanam atau
menginvestasikan uang atau modal. Istilah investasi atau penanaman
modal merupakan istilah yang dikenal dalam kegiatan bisnis di
masyarakat, sedangkan penanaman modal lazim digunakan dalam
perundang-undangan. Namun pada dasarnya kedua istilah tersebut
mempunyai pengertian yang sama, sehingga kadangkala digunakan
secara interchangeable.

dan di pasar modal. Pasar uang adalah pasar yang menyediakan sarana pengalokasian
dan pinjaman dana jangka pendek, sedangkan pasar modal berkaitan dengan surat
berharga jangka panjang.29 Dalam RPMJMN tahun 2010-2014 diharapkan lembaga
pasar modal diharapkan dapat memegang teguh prinsip transparansi, akuntabilitas,
independen dan berintegritas, serta mampu menjadi penggerak ekonomi nasional
dengan berdaya saing global.
Bentuk pembangunan ekonomi yang diwujudkan Lembaga Pasar Modal
sebagai alternatif berinvestasi di Indonesia sudah terlihat sejak zaman Kolonial
Belanda. Periode pertama Pasar Modal ada di Indonesia sejak Tahun (1912-1942),
dengan dibentuknya asosiasi 13 broker di Jakarta pada tanggal 14 Desember 1912
bernama Veringin voor Effectenchandel yang merupakan cikal bakal pasar modal
pertama Indonesia.30 Pasal 1 butir (13) UU PM, Pasar Modal adalah kegiatan yang
bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik
yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang
berkaitan dengan efek.
Sebagai wadah investasi jangka panjang, pasar modal merupakan tempat
memperdagangkan berbagai instrumen keuangan jangka panjang (lebih dari satu
tahun) yang bisa diperjual belikan, misalnya saham (ekuiti / penyertaan), obligasi,
reksadana, produk derivatif (warrant, right, option), maupun instrumen lainnya. Pasar
modal dalam hal ini berfungsi sebagai sarana pendanaan bagi perusahaan maupun
institusi pemerintah sekaligus sebagai sarana bagi masyarakat untuk melakukan
29 Ana Rokhmatussadyah dan Suratman, Hukum Investasi & Pasar
Modal, Jakarta, Sinar Grafika, 2011, hlm 25
30 Ibid

kegiatan investasi. Dengan demikian, pasar modal memfasilitasi berbagai sarana dan
prasarana kegiatan jual beli surat-surat berharga dan kegiatan terkait lainnya.31
Sebagai tempat pertemuan pembeli dan penjual, dalam pasar modal dibedakan
antara pasar perdana (primer) dan pasar sekunder. Pasar perdana adalah pasar yang
digunakan oleh perusahaan yang akan menjual surat berharganya untuk pertama
kalinya di pasar modal.32 Pada pasar inilah, perusahaan-perusahaan tertutup mendapat
kesempatan untuk memperoleh pendanaan dari publik, yang kemudian disebut sebagai
perusahaan terbuka. Kegiatan ini seringkali disebut sebagai penawaran umum perdana
atau initial public offering. Penawaran umum itu sendiri tercakup atas beberapa
kegiatan, meliputi:33
1. Periode pasar perdana, yaitu ketika efek ditawarkan kepada pemodal oleh
penjamin emisi melalui para agen penjual yang ditunjuk;
2. Penjatahan saham, yakni pengalokasian efek pesana para pemodal sesuai
dengan jumlah efek yang tersedia;
3. Pencatatan efek di bursa, yaitu saat efek tersebut mulai

dapat

diperdagangkan di bursa.
Pasar sekunder adalah pasar yang merupakan tempat perdagangan surat
berharga yang sudah beredar.34 Pasar sekunder merupakan kelanjutan perdagangan
surat berharga setelah dilakukannya penawaran umum dalam pasar perdana. Pada
pasar inilah efek-efek dapat diperdagangkan dari satu investor ke investor lainnya atas
31 Ibid., hlm 8
32 Jogiyanto, Teori Portofolio dan Analisa Investasi, Yogyakarta: BPFE,
2003, hlm. 15
33 Tjiptono Darmadji, Pasar Modal di Indonesia, Jakarta: Penerbit
Salemba Empat, 2000, hlm. 40
34 Jogiyanto, Ibid

dasar penyesuaian antara penawaran dan permintaan melalui sistem yang dibuat oleh
bursa efek dan tidak lagi ditentukan oleh emiten dan penjamin emisi sebagaimana
halnya di pasar perdana.. Turun naiknya harga saham di pasar sekunder disebabkan
adanya unsur permainan yang dilakukan oleh spekulan untuk mendapatkan
keuntungan (capital gain) dalam waktu singkat disamping juga ditentukan oleh
prospek perusahaan yang menerbitkan saham.35
Adapun agar dapat melakukan transaksi di pasar sekunder, terlebih dahulu
investor harus menjadi nasabah di salah satu atau beberapa perusahaan efek yang
mempunyai izin dari Bapepam-LK sesuai dengan Pasal 8 UU PM. Biasanya
perusahaan efek mewajibkan kepada nasabahnya untuk mendepositkan uang dalam
jumlah tertentu sebagai jaminan bahwa nasabah tersebut layak untuk melakukan jual
beli saham. Jumlah yang diperjual belikan dalam satuan perdagangan saham disebut
dengan istilah lot.36
Sejak tahun 2000, pasar modal Indonesia telah menerapkan sistem
perdagangan

tanpa

warkat

atau

scripless

trading

system

sebagai

sistem

perdagangannya.37 Sistem scripless trading adalah tata cara perdagangan efek tanpa
adanya fisik efek berupa sertifikat saham, sertifikat obligasi, dan lainnya, serta
perdagangan sahamnya dilakukan secara elektronik yang ditindaklanjuti dengan
penyelesaian transaksi secara pemindahbukuan yaitu perpindahan efek maupun dana
hanya melalui mekanisme debit kredit atau suatu rekening efek (securities account)
35 Yasso Winarto, Pasar Modal Indonesia, Jakarta : Pustaka Sinar
Harapan, 1997, hlm. 425
36 Irsan Nasrudin dan Indra Surya, Aspek Hukum Pasar Modal, Jakarta :
Kencana Prenada Media, 2004, hlm. 134
37 Lastuti Abubakar, Op.cit, hlm. 237

yang tanda bukti kepemilikan efeknya tidak lagi akan berbentuk fisik seperti sertifikat
efek, melainkan diwujudkan dalam rekening efek pada PT Kustodian Sentral Efek
Indonesia (KSEI).38
Keadaan di atas tentunya berbeda dengan ketentuan hukum jual beli menurut
KUHP Perdata yaitu dalam Pasal 1458 KUH Perdata yang menyatakan bahwa jual beli
itu dianggap telah terjadi diantara kedua belah pihak seketika setelahnya orang-orang
ini mencapai kata sepakat tentang kebendaan tersebut dan harganya meskipun
kebendaan itu belum diserahkan, maupun harganya belum dibayar.
Transaksi saham dalam sistem scripless trading dikatakan sah apabila terjadi
match order antara penawaran dan permintaan. Pengalihan kepemilikan saham
tersebut dilakukan dengan melakukan pemindahbukuan saham dari rekening efek
anggota bursa selaku penjual kepada rekening efek anggota bursa pembeli melalui
suatu jaringan komputer, tanpa diikuti dengan penyerahan efek secara fisik (scripless
transaction) yang tanda bukti kepemilikan efeknya diwujudkan dalam rekening efek
pada KSEI. Keadaan ini berbeda dengan prinsip jual beli saham menurut prinsip jual
beli saham menurut KUH Perdata yang masih menganut prinsip penyerahan secara
nyata sehingga harus ada saham dalam bentuk riil yang dialihkan.39
Terkait hal diatas, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) memegang
peranan penting. Pada dasarnya KPEI merupakan kelanjutan dari kegiatan bursa efek
dalam rangka penyelesaian transaksi bursa. Disamping memiliki fungsi kliring, KPEI
juga menjamin penyelsaian transaksi di bursa yang pelaksanaannya dengan
38 Tjiptono Darmadji, Op.cit., hlm. 167
39 Ibid

menempatkan KPEI sebagai counter party dari anggota bursa yang melaksanakan
transaksi.
Proses penyelesaian transaksi dalam scripless trading dilakukan secara
elektronik berupa pemindahbukuan efek pada dan/atau dari pihak-pihak yang
bertransaksi. Berbeda dengan KUH Perdata, sistem scripless trading tidak mengenal
adanya pembuatan akta baik otentik maupun akta di bawah tangan. Melalui
perdagangan efek di pasar sekunder, investor dapat berinvestasi dan memperoleh
keuntungan yang besar dalam jangka waktu yang singkat (capital gain), oleh karena
itu transaksi perdagangan di pasar sekunder tidak pernah sepi peminatnya. Strategi
berinvestasi seperti inilah yang pada dasarnya mengharapkan suatu hasil (dividen atau
capital gain) atas efek yang dibeli.40 Salah satu kegiatan perdagangan efek yang
dikenal mampu memberikan keuntungan dalam jangka waktu yang singkat adalah
transaksi short selling.
Transaksi short selling merupakan salah satu bentuk kegiatan jual beli saham
yang dilakukan oleh investor dimana investor tidak memiliki saham..41 Transaksi short
selling ini berbeda dengan transaksi jual-beli biasa, tansaksi ini dilakukan ketika
seorang penjual melihat bahwa harga suatu efek akan turun, maka penjual
memperkirakan bahwa harga efek tersebut akan turun terus, sehingga ia mengambil
kesempatan untuk menjual efek itu sekarang dan sesaat kemudian membeli lagi
dengan harga yang lebih rendah. Transaksi ini diatur dalam Peraturan Bapepam-lk No.
V.D.6 yang mengatur tentang pembiayaan transaksi efek oleh perusahaan efek dari

40 Jusuf Anwar, Op.cit., 2008, hlm 4


41 Joko Salim, op.cit., hlm. 22

nasabah dan transaksi short selling oleh perusahaan efek serta peraturan pelaksana
yang dibuat oleh bursa yakni Peraturan No. II-H tentang Persyaratan dan Perdagangan
Efek dalam Transaksi Marjin dan Transaksi Short Selling (Peraturan No. II-H). Semua
transaksi short selling yang dilakukan harus tunduk pada peraturan-peraturan diatas.
Transaksi short selling seringkali digunakan investor maupun perusahaan efek
karena mekanisme penyelesaian transaksi di pasar modal diselesaikan 3 hari setelah
transaksi (T+3), Hal ini memudahkan investor untuk melakukan penjualan terlebih
dahulu kemudian mencari efek yang untuk dibeli untuk dikembalikan kembali dalam
waktu 3 hari.
Apabila dalam waktu 3 hari tersebut pelaku short selling tidak dapat menyerahkan
efek yang ditransaksikan, maka dapat dikatakan telah terjadi gagal serah efek. Gagal
serah efek dapat terjadi apabila efek yang hendak dibeli pada penutupan pasar ternyata
tidak tersedia akibat adanya pihak yang berusaha menahan efek atau tidak ada
penawaran sehingga berisiko mengalami gagal serah. 42 KPEI sebagai lembaga kliring
penjaminan dalam hal ini dapat membantu anggota bursa yang membutuhkan
pinjaman efek dalam rangka mengatasi kegagalan penyelesaian transaksi, fasilitas ini
disebut sebagai Fasilitas Pinjam Meminjam Efek (PME) yang dimiliki KPEI dalam
rangka mencegah terjadinya gagal serah dalam penyelesaian transaksi di pasar modal.
Fungsi pinjam meminjam efek oleh KPEI bertujuan untuk mengamankan
kegiatan perdagangan efek dari resiko penyelesaian transaksi. 43 Bagi pemilik efek /
lender, fasilitas pinjam meminjam efek memberikan manfaat berupa peningkatan daya
42 Ibid
43 Booklet KPEI, Pinjam Meminjam Efek, hlm. 5

guna efek yang disimpannya, sedangkan bagi peminjam / borrower, fasilitas ini dapat
menghindarkan diri dari kerugian denda akibat gagal serah pada waktu jatuh tempo
(T+3). Terlepas dari hal tersebut, pengelolaan pinjam meminjam efek secara terpusat
oleh KPEI menjadikan fasilitas pinjam meminjam berlangsung secara aman, wajar
teratur dan efisien di pasar modal.
Mengingat beragamnya transaksi efek dan pentingnya pengawasan yang harus
dilakukan terhadap berbagai macam transaksi efek tersebut termasuk transaksi short
selling, berinvestasi di pasar modal Indonesia tidak dapat terlepas dari pengawasan
pemerintah. Maka dari itu terdapat suatu lembaga sebagai pengatur dan pengawas di
bidang pasar modal yaitu BAPEPAM-LK. BAPEPAM-LK adalah sebuah badan
pemerintah yang berada dibawah Menteri Keuangan Republik Indonesia. BAPEPAMLK merupakan lembaga yang bertanggung jawab dalam melakukan pembinaan,
pengaturan dan pengawasan sehari-hari kegiatan pasar modal.44
Fungsi tersebut kemudian dialihkan pada lembaga baru bernama Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) sesuai dengan Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun
2011 Tentang OJK yang berisikan tentang:
Sejak tanggal 31 Desember 2012, fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan
dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal, Perasuransian,
Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya
beralih dari Menteri Keuangan dan Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan ke Otoritas Jasa Keuangan.

Dengan lahirnya UU OJK, wewenang pengaturan dan pengawasan seluruh


kegiatan jasa keuangan kini dipegang oleh OJK.OJK yang memiliki tugas pengaturan
44 Pasal 1 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1995 Tentang Pasar Modal

dan pengawasan terhadap kegiatan pasar modal di Indonesia 45, diberi wewenang
khusus untuk mengatur dan mengawasi kegiatan bursa efek di pasar modal. Sebagai
bentuk pengaturan yang dimiliki OJK, OJK berwenang untuk menetapkan peraturan
dan keputusan OJK serta menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan sanksi
sesuai dengan ketentuan peratuan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.
Sebagai bentuk pengawasan, OJK memiliki wewenang untuk melakukan pengawasan,
pemeriksaan, penyidikan, perlindungan konsumen dan tindakan lain terhadap lembaga
jasa keuangan, pelaku, dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana
dimaksud dalam peraturan perundangan di sektor jasa keuangan, serta dapat
menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang melakukan pelanggaran terhadap
peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.46
Peran pengawasan di bidang investasi oleh pemerintah yang dalam hal ini
dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan lembaga-lembaga lainnya dilakukan guna
melindungi investor dan para penyelenggaran investasi yang akan memberikan
dampak yang lebih baik dalam kelangsungan aktifitas ekonomi Indonesia. Jika pasar
yang bersangkutan tidak memiliki perangkat aturan dan pengawasan dari pemerintah
yang menjamin perlindungan, kepastian hukum dan keadilan, para penyelenggara
investasi tentu akan merasa enggan untuk mengeinvestasikan modalnya di pasar
modal.47

45 Pasal 6 Undang Undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas


Jasa Keuangan
46 Ibid, Pasal 8 , 9
47 M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Aspek Hukum Pasar Modal
Indonesia, Bandung: PT Citra Adytia Bhakti, 2001, hal 6-7

F.

Metode Penelitian
Metode penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Spesifikasi Penelitian
SpesifikasiPenelitian ini bersifat deskriptif analitis, yaitu penelitian yang
bertujuan untuk membuat secara sistematis, faktual dan akurat mengenai
fakta-fakta

yang

ada.

Dengan

demikian

penelitian

ini

akan

menggambarkan masalah hukum, fakta dan gejala lainnya yang berkaitan


dengan transaksi short selling ditinjau dari aturan yang berlaku, kemudian
menganalisisnya

sehingga

dapat

dipergunakan

untuk

menjawab

permasalahan-permasalahan yang timbul.


2. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian hukum ini adalah
dengan menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, yaitu
penelitian hukum terhadap asas-asas hukum dan data sekunder melalui
inventarisasi hukum positif.48 Penelitian hukum nomatif yang diteliti hanya
bahan pustaka atau data sekunder berupa bahan hukum primer, sekunder,
dan tersier yang mempunyai hubungan dengan pembahasan permasalahan
dalam skripsi ini.49 Data kepustakaan yang dipergunakan terutama yang
menyangkut pada teori dan praktik transaksi short selling di bursa efek,
serta aturan terkait yang terdapat pada peraturan perundang-undangan di
48 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif,
Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2003, hlm. 62.
49 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, Universitas
Indonesia, 2012, hlm. 52.

bidang pasar modal dan KUH Perdata. Pendekatan ini dimaksudkan untuk
membahas aspek-aspek hukum yang berhubungan dengan perlindungan
investor terhadap transaksi shortselling di bursa efek.

3. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti dalam skripsi ini
adalah melalui studi kepustakaan yang bertujuan untuk memperoleh data
sekunder, yaitu terkait landasan hukum dan teori-teori mengenai
perdagangan efek. Data sekunder tersebut antara lain mencakup dokumendokumen resmi, buku-buku, hasil penelitian yang berwujud laporan, buku
harian, dan seterusnya.50
4. Tahap Penelitian
Tahapan penelitian yang dilakukan dalam penelitian hukum ini meliputi
tahapan-tahapan sebagai berikut:
a.

Penelitian Kepustakaan

Sebuah teknik yang mengumpulkan data sekunder dengan cara


mempelajari dan menganalisis bahan-bahan hukum dalam penelitian. Data
yang diteliti dapat berupa data yang diperoleh melalui bahan-bahan
kepustakaan dan/atau secara langsung dari masyarakat. Penelitian
kepustakaan ini terdiri dari:

50 Soerjono Soekanto, Ibid, hlm. 12.

1) Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum mengikat yang


terdiri dari :
a) UndangUndang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945;
b) Kitab UndangUndang Hukum Perdata;
c) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 Tentang Pasar
Modal;
d) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan
Terbatas;
e) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta
f) Peraturan Presiden nomor 5 Tahun 2010 Tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 20102014
g) Peraturan KPEI Nomor II-5 Tentang Penyelenggaraan
Kliring dan Penyelesaian Transaksi Bursa Bersifat Ekuitas
h) Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia Nomor Kep00071/BEO/11/2013 Tentang Perdagangan Efek Bersifat
Ekuitas (Peraturan Nomor II-A)
i) Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan Nomor KEP-326/BL/2012 Tentang Sub

Rekening

Efek

Pada

Lembaga

Penyimpanan

dan

Penyelesaian
j) Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan Nomor KEP-258/BL/2008 Tentang
Pembiayaan Transaksi Efek oleh Perusahaan Efek bagi
Nasabah dan Transaksi Short Selling oleh Perusahaan Efek
(Peraturan Nomor V.D.6)
k) Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor
Kep-00009/BEI/01-2009

Tentang

Persyaratan

dan

Perdagangan Efek dalam Transaksi Marjin dan Transaksi


Short Selling (Peraturan Nomor II-H)
l) Surat

Edaran

8/SEOJK.04/2014

Otoritas
Tentang

Jasa

Keuangan

Pencabutan

Surat

Nomor
Edaran

Otoritas Jasa Keuangan Nomor 1/SEOJK.04/2013 Tentang


Kondisi Lain Sebagai Kondisi Pasar Yang Berfluktuasi
Secara Signifikan Dalam Pelaksanaan Pembelian Kembali
Saham Yang Dikeluarkan Oleh Emiten Atau Perusahaan
Publik
2) Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan-bahan hukum penunjang
yang menjelaskan lebih lanjut terkait bahan hukum primer, seperti
jurnal hukum pasar modal, buku-buku yang ditulis oleh para ahli,
makalah-makalah seminar, dan lain-lain.

3) Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan hukum yang baik memberikan


petunjuk maupun penjelasan lebih lanjut terhadap bahan hukum
primer dan sekunder, seperti kamus terjemahan maupun kamus
hukum, artikel, majalah, dan bahan lain yang dapat menunjang
penelitian.
b. Penelitian Lapangan
Penelitian lapangan dilakukan dengan cara observasi dan wawancara
sebagaimana dimaksud untuk mendapatkan data sebagai pendukung
analisis dengan responden PT Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia
(KPEI), PT Bursa Efek Indonesia (PT. BEI), Otoritas Jasa Keuangan
(OJK), investor bursa serta pakar Pasar Modal yang bernama Adler
Haymans Manurung, yang dapat memberikan penjelasan terkait praktik
transaksi short selling di BEI.
5. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
yuridis kualitatif. Dari ketiga bahan hukum yang sudah dipaparkan diatas
yaitu bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum
tersier dianalisis secara yuridis normatif dengan metode analisis data
secara kualitatif sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan.
6. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah:

a.

Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Jalan Dipati


Ukur No. 35 Bandung;

b.

Perpustakaan CISRAL/Pusat Universitas Padjadjaran, Jalan Dipati


Ukur No. 46 Bandung;

c.

Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM), Jalan Jenderal Sudirman Kav


52-53 Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta;

d.

PT. Adler Manurung Press, Komplek Mitra Matraman A1/ 17, Jl


Matraman Raya No. 148, Jakarta Timur.

Anda mungkin juga menyukai