Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Trakeomalasia adalah kondisi dengan karakteristik kelemahan pada kartilago yang


menyokong trakea. Biasanya ditemukan ketika pada endoskopi menunjukkan pengecilan
trakea lebih besar dari 50% obstruksi trakea saat ekspirasi. Trakeomalasia dapat
diklasifikasikan menjadi primer dan sekunder. Pada trakeomalasia sekunder lesi biasanya
terbatas pada satu segmen, sedangkan pada trakeomalasia primer (tracheal dyskinesia) lebih
panjang pada seluruh jalur pernapasan.5
Semua tipe trakeomalasia jarang terjadi. Tidak ada angka insidensi pasti yang
tercatat.Berdasarkan suatu survei, dari 512 bronkoskopi yang dilakukan, didapatkan diagnosa
malasia saluran pernafasan pada 160 anak, 94 diantaranya laki-laki. Insidensi malasia saluran
nafas diperkirakan sekitar 1 dalam 2100 orang. Trakeomalasia merupakan kelainan
kongenital paling sering pada trakea (45,7%).5
Pada kasus ini umumnya tidak perlu tindakan, oleh karena pada kebanyakan kasus
dapat sembuh sendiri dalam pertumbuhannya, tetapi pada kegawatan dapat dilakukan
trakeostomi, sebagai penyangga (steint) pada trakea, selama pertumbuhannya.9

Trakeomalasia Sheinyla Lunjingga Febionza


Pembimbing : dr. Magdalena Hutagalung Sp,THT-KL

Page 1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI TRAKEA


Trakea merupakan suatu tabung berongga yang di sokong oleh cincin kartilago
( elastin ) yang tidak penuh di bagian posterior. Trakea berawal dibawah kartilago krikoid
yang berbentuk cincing stempel dan meluas ke anterior pada esofagus, panjangnya kurag
lebih 12,5 cm (5 inci), turun kedalam toraks dimana dia membelah menjadi dua bronkus
utama pada karina. Karina mempunyai banyak serabut saraf dan dapat menyebabkan
bronkospasme dan batuk apabila dirangsang. Permukaan posterior trakea agak lebih pipih
dibandingkan dengan sekelilingnya karena cincing tulang rawan di bagian itu tidak sempurna.
Pembuluh besar pada leher berjalan sejajar dengan trakea di sebelah lateral dan terbungkus
kedalam selubung karotis. Kelenjar tiroid terletak diatas trakea di sebelah depan dan lateral.
Ismus melintas trakea ke sebelah anterior, biasanya setinggi cincin trakea kedua dan kelima.
Saraf laringeus rekurens terletak pada sulkus trakeoesofagus. Dibawah jaringan subkutan dan
menutupi trakea di bagian depan adalah otot otot leher suprasternal, yang melekat pada
kartilago tiroid dan hioid.1,2

Gambar1. Anatomi Trakea


Trakeomalasia Sheinyla Lunjingga Febionza
Pembimbing : dr. Magdalena Hutagalung Sp,THT-KL

Page 2

II.2 TRAKEOMALASIA
II.2.1 DEFINISI
Trakeomalasia merupakan keadaan kelemahan trakea yang disebabkan karena atropi
dan atau berkurangnya serat elastis longitudinal pars membranasea, atau akibat gangguan
integritas kartilago sehingga jalan napas menjadi lemah dan mudah kolaps, terutama saat
terjadi peningkatan aliran udara, misalnya saat batuk,menangis, atau menyusui.3
II.2.2 EPIDEMIOLOGI

Pada penelitian Holinger pada 219 pasien dengan stridor, kelainan kongenital pada
laring dan trakea menempati urutan pertama (60,3%) dan kedua (16%). Penyebab tersering
keadaan stridor pada bayi ialah laringomalasia dan trakeomalasia sebagai dua kelainan
kongenital yang tersering pada laring (59,8%) dan trakea(45,7%) pada neonatus, bayi dan
anak-anak. Kejadian laringomalasia pada laki-laki dua kali lebih banyak daripada
perempuan.4

II.2.3 ETIOLOGI

Berdasarkan

penyebabnya,

trakeomalasia

terbagi

yaitu

trakeomalasia

primer/kongenital dan sekunder/didapat. Pada trakeomalasia primer,abnormalitas terjadi


hanya pada dinding trakea, sedangkan pada trakeomalasia sekunder, penyebabnya adalah
adanya penekanan dari luar trakea yang menyebabkan melemah dan kolapsnya trakea.
Trakeomalasia primer relatif jarang dibanding sekunder. Penyempitan dapat terjadi secara
umum atau lokal.4,7

Trakeomalasia Sheinyla Lunjingga Febionza


Pembimbing : dr. Magdalena Hutagalung Sp,THT-KL

Page 3

Terjadinya trakeomalasia primer/kongenital diduga berhubungan dengan proses


pemisahan trakea dari esofagus pada masa embrional, dimana trakea terlalu banyak menerima
jaringan. Pada pemeriksaan patologi rasio antara kartilago trakea dan membran posterior
menurun menjadi 2:1, sedangkan pada trakea normal rasio ini sekitar 4:1 atau 5:1. 4
Beberapa kondisi yang berhubungan dengan trakeomalasia primer antara lain fistel
trakeoesofageal, atresia esofagus, polychondritis, chondromalasia, dan kelainan kongenital
lainnya. 4
Trakeomalasia sekunder /didapat, lesi biasanya berbatas pada satu segmen atau
bersifat lokal.

disebabkan oleh beberapa kondisi seperti intubasi lama, trakeostomi,

trakeobronkitis, kelainan kardiovaskuler, abnormalitas pembuluh darah yang menyebabkan


penekanan eksternal saluran nafas. Penekanan dari anterior trakea ini biasanya oleh arteri
inominata atau arkus aorta atau adanya penekanan oleh massa atau tiroid, serta penekanan
pada trakea karena kelainan tulang (skoliosis, pektus excavatum) dan adanya massa (goiter,
abses dan kista). 4
Trakeomalasia lokal dapat terjadi oleh beberapa penyebab,diantaranya adalah
Trakeomalasia lokal dapat pula terjadi setelah trakeostomi,biasanya mengenai bagian
superior dari stoma trakea.Hal ini dapat terjadi akibat penggunaan kanul trakeostomi yang
lama,ukuran terlalu besar atau bersudut tajam,sehingga kanul bergesekan dengan cincin
trakea diatas trakeostomi,menekannya ke posterior dan dapat merusak kartilago.5,7
Kolaps ekspiratori

pada jalan nafas terjadi karena adanya defek sokongan pada

struktur kartilago di thoraks.Pada fase ekspirasi,tekanan dalam thoraks adalah relatif positif
berbanding lumen saluran nafas menyebabkan kolaps dinamik dari struktur dengan
deformitas anatomis seperti pada trakeomalasia.5

Trakeomalasia Sheinyla Lunjingga Febionza


Pembimbing : dr. Magdalena Hutagalung Sp,THT-KL

Page 4

II.2.4 PATOGENESA
Trakeomalasia

merupakan

gangguan

keutuhan

struktur

dari

trakea

yang

mengakibatkan obstruksi dari aliran udara. Penurunan rigiditas dan elastisitas dari cincin
trakea yang rusak yang disebabkan oleh kolaps nya segmen yang melemah semala ekshalasi.
Pembesaran dari memberan trakea saat terjadi trakeomegali atau emfisema juga
menyebabkan obstruksi pada fungsi pernafasan.8
Kelainan bawaan, yang berhubungan dengan trakeomalasia adalah

fistula

trakeoesophageal. Penyebab dari trakeomalasia juga termasuk trauma ( terutama cidera pasca
intubasi, kompresi eksternal kronis, empisema, dan polikondritis berulang. Kelenturan
patologis dari kartilago trakea terbagi menjadi dua, sementara dalam kasus trauma atau
kompresi, kelemahan hanya terbatas pada kerusakan segmental saja.8

II.2.5 KLASIFIKASI
Trakeomalasia diklasifikasikan menjadi 3 tipe berdasar sistem klasifikasi kolapsnya
jalan nafas utama, gambaran histologi dan gambaran pada endoskopi.
a. Tipe I

: Kongenital atau kelainan trakeal intrinsik menunjukkan trakea kolaps

akibat abnormalitas trakea kongenital, bukan akibat kompresi jalan napas dari luar
trakea.Contoh nya : fistula trakeoesofagus atau atresia esofagus.
b. Tipe II
: Defek ektrinsik yang menyebabkan trakea kolaps Contohnya :
kompresi dari cincin vaskular, hygroma kistik atau tumor, akibat anomali
pembuluh darah, pembesaran timus, gondok yang mengakibatkan penekanan
trakea.
c. Tipe III

: Didapat (acquired) akibat proses iritasi atau inflamasi.Contohnya:

Intubasi yang lama, infeksi kronis trakea, relaps polykondritis.5


Trakeomalasia Sheinyla Lunjingga Febionza
Pembimbing : dr. Magdalena Hutagalung Sp,THT-KL

Page 5

Trakeomalasia dapat juga diklasifikasikan menjadi dua berdasarkan penyebabnya


yaitu trakeomalasia primer (penyakit kongenital) dan sekunder (penyakit didapat).

II.2.6 MANIFESTASI KLINIS


Keadaan trakeomalasia akan memberikan gejala bila kolapsnya anteroposterior lumen
trakea menyebabkan penyempitan sampai lebih 40%. Kesukaran bernafas tergantung dari
luasnya kelainan. Gejala dari trakeomalasia dapat berupa gangguan pernafasan yang di
tunjukkan dengan adanya wheezing, stridor dan batuk. Suara akan tetap normal bila tidak
disertai dengan laringomalasia 4,6,8,9
Pada trakeomalasia dapat terjadi stridor inspirasi, ekspirasi atau bifasik. Stridor
inspirasi terjadi pada trakeomalasia ekstratorak, stridor ekspirasi pada trakeomalasia
intratoraks dan bifasik jika mencakup intra dan ekstratorak. Namun pada umumnya stridor
ekspirasi yang sering ditemui.4
Munculnya stridor dapat terjadi saat lahir, tetapi biasanya baru terdengar setelah bayi
lebih aktif atau terdapat infeksi saluran nafas. Stridor juga dapat dicetuskan bila menangis,
batuk dan makan. Pada keadaan yang berat stridor terdengar bahkan saat beristirahat. 4
Pada pemeriksaan endoskopi akan tampak gerakan trakea dan bronkus yang
berlebihan saat bernafas, dimana dinding membran posterior saluran trakeobronkial tampak
mendekati dinding anterior. Dan bila dibutuhkan ekspirasi paksa, seperti saat menangis atau
batuk, dinding dapat saling mendekat. 4
Penyempitan lumen trakea dapat bersifat ringan sampai berat. Berdasarkan beratnya
obstruksi, Mair dan Parson membagi kelainan ini menjadi obstruksi ringan, bila obstruksi
kurang dari 70%, sedang bila obstruksi 70-90% dan berat bila lebih dari 90%.4
Trakeomalasia Sheinyla Lunjingga Febionza
Pembimbing : dr. Magdalena Hutagalung Sp,THT-KL

Page 6

Berdasarkan gejala klinis, trakeomalasia terbagi 3 yaitu ringan, sedang dan berat.
Pada trakeomalasia ringan, penderita mengalami kesulitan pernafasan yang terkait dengan
proses infeksi seperti croup atau bronkitis, dan kesulitan mengeluarkan dahak. Pada penderita
trakeomalasia sedang terdapat stridor, wheezing, infeksi pernafasan berulang dan kadangkadang ditemukan sianosis. Sedangkan trakeomalasia berat jika didapatkan gejala stridor
pada saat istirahat, retensi sputum, obstruksi jalan nafas atas dan henti jantung. 4
Trakeomalasia yang terjadi akibat penekanan arteri inominata, pada pemeriksaan
endoskopi akan tampak sebagai penekanan trakea di anterior kanan di atas karina. Pada
penekanan trakea oleh arkus aorta dobel yang melingkari trakea dan cabang utama bronkus
akan tampak gambaran penekanan konsentrik atau segitiga. 4
Trakeomalasia ringan-sedang masih dapat diharap membaik sejalan dengan
perkembangan traktus trakeobronkial yang makin membesar, dan biasanya menghilang
setelah usia 1-2 tahun. 4

II.2.7 DIAGNOSIS
Diagnosis trakeomalasia ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan pencitraan.3
a. Trakeoskopi
Pada trakeoskopi akan tampak dinding trakea bagian anterior kolaps dan setelah
trakeoskopi melewati bagian yang lemah stridor akan menghilang.6
b. Ct-Scan
Kolaps jalan napas dinamis tampak terlihat baik dengan menggunakan ultrafast
CT scan. Gambaran CT scan yang didapatkan saat akhir ekspirasi dan selama

Trakeomalasia Sheinyla Lunjingga Febionza


Pembimbing : dr. Magdalena Hutagalung Sp,THT-KL

Page 7

pernapasan dinamis merupakan suatu metoda yang akurat dan tidak invasif dalam
mendiagnosis trakeomalasia.3,8
c. MRI
MRI lebih dipilih pada anak. MRI tidak menggunakan radiasi pengion, suatu
pencitraan yang ideal untuk mendeteksi cincin atau jeratan paratrakea yang menekan
jalan napas, dan tidak memerlukan pemakaian bahan kontras iodin, sehingga ini
merupakan pilihan pada pasien dengan kontraindikasi penggunaan bahan kontras
iodin, untuk melihat massa di daerah paratrakea.3
d. Foto rontgen
Pada pemeriksaan foto dada tampak gambaran hiperinflasi, penyempitan
segmen trakea yang panjang lebih dari 50%, maka dapat dicurigai adanya
trakeomalasia.3,4

Gambar 2: Gambaran radiologis trakeomalasia


e. Bronkoskopi
Pada bronkoskopi didapatkan hilangnya bentuk semisirkular normal bentuk
lumen trakea, bentukan seperti balon ke arah depan dinding membran posterior, dan
penyempitan anteroposterior lumen trakea yang dikenal sebagai triad klasik. 3
Pemeriksaan lain yang diperlukan antara lain pemeriksaan fungsi paru dan kurva
volume aliran, yang lebih banyak dikerjakan pada orang dewasa. Pada pemeriksaan ini
didapatkan kurva inspirasi normal tetapi dengan ekspirasi yang terpotong-potong. Diagnosis
Trakeomalasia Sheinyla Lunjingga Febionza
Pembimbing : dr. Magdalena Hutagalung Sp,THT-KL

Page 8

definitif ditegakkan melalui anamnesis dan endoskopi yang baik. Jalan napas divisualisasikan
langsung selama pernapasan spontan dengan menggunakan laringoskop ventilasi dan
bronkonskopi teleskop.3

II.2.8 PENATALAKSANAAN
Pendekatan

penanganan

trakeomalasia

tergantung

pada

penyebab

yang

melatarbelakanginya.4
a.

Konservatif
Kebanyakan pasien trakeomalasia primer tanpa kelainan kongenital lain dapat sembuh

sendiri dalam waktu 1-2 tahun tanpa membutuhkan tindakan bedah. Bila anak sangat sesak
dapat di pasang pipa endotrakea. Pasien hanya diberikan terapi konservatif berupa terapi
oksigen yang dilembabkan, pemberian makanan yang pelan dan bertahap, dan terapi terhadap
infeksi saluran nafas. Orang tua pasien harus diberikan dukungan serta informasi dan diajari
mengenai resusitasi jika anaknya mempunyai riwayat apnea. Resusitasi yang dapat diajarkan
adalah memberikan tekanan positif pada trakea, melalui pernafasan mulut ke mulut atau
dengan sungkup (mask) atau balon (ambubag).4,6
b. Tindakan Operasi
Pada trakeomalasia yang disebabkan penekanan oleh arteri inominata perlu dipikirkan
untuk melakukan arteriopeksi yang dapat disertai dengan trakeopeksi. Aortopeksi yaitu
pengikatan dinding luar aorta ke sternum merupakan tindakan yang dipilih pada penekanan
oleh arkus aorta. Prosedur ini hanya diperbolehkan bila derajat obstruksinya berat. 4
Penggunaan kanul trakeostomi yang agak besar efektif menyangga trakeomalasia
yang terjadi di bagian tengah, namun kurang efektif bila kolaps trakea terjadi di bagian
Trakeomalasia Sheinyla Lunjingga Febionza
Pembimbing : dr. Magdalena Hutagalung Sp,THT-KL

Page 9

bawah atau bronkus. Dengan adanya trakeostomi akan mempermudah pemberian ventilasi
dan menaikkan tekanan pada saluran nafas. Kanul yang panjang dengan bagian ujung yang
rata bukan miring dapat diletakkan di atas karina, namun beresiko terjadinya stenosis pada
daerah ujung kanul. 4
keadaan trakeomalasia karina atau bronkomalasia, pemberian tekanan udara positif
yang terus menerus (continous positive airway pressure = CPAP) dapat digunakan seperti
pada pasien sindroma apnea saat tidur. Mesin ini dapat dihubungkan dengan sungkup atau
kanul trakeostomi. 4
Pada trakeomalasia yang disebabkan oleh trakeostomi, dimana biasanya daerah kolaps
terletak suprastoma maka cukup dilakukan dekanulasi dan luka stoma ditutup. Jahitan
dilakukan ke arah lateral sternokleidomastoideus untuk meyangga kolaps, dan pasien
diintubasi selama 24-48 jam. Jika kolaps terlalu berat maka diperlukan tandur tulang rawan. 4
Tindakan operasi lainnya pada keadaan yang berat adalah pemasangan bidai eksternal
atau internal, reseksi segmen dan tandur kartilago. 4
II.2.9 DIAGNOSA BANDING
Setiap kelainan yang menyebabkan obstruksi trakea merupakan diagnosis banding
dari trakeomalasia baik akibat kelainan kongenital, infeksi, trauma, benda asing, tumor,
paralisis pita suara, laringomalasia, Asma, bronkiolitis, kista bronkogenik, kistik fibrosis, dan
benda asing pada jalan napas.3,4

II.2.10 PROGNOSIS
Sebagian besar trakeomalasia primer akan membaikpada usia 6-12 bulan, dan
biasanya menghilang secara spontan pada usia 18-24 bulan karena terjadi perbaikan integritas
struktural trakea secara bertahap, namun pada pasien trakeomalasia dengan kelainan jaringan
Trakeomalasia Sheinyla Lunjingga Febionza
Pembimbing : dr. Magdalena Hutagalung Sp,THT-KL

Page 10

penunjang atau penyakit dengan sindrom kongenital, trakeomalasia yang diakibatkan oleh
kelainan tersebut akan tetap ada dan bahkan dapat berakibat fatal. Pada trakeomalasia
sekunder yang disebabkan karena kompresi struktur abnormal paratrakea, walaupun telah
dilakukan koreksi bedah terhadap struktur abnormal tersebut, kelemahan dan kolapsnya
dinding trakea tetap ada dan memerlukan evaluasi serta penatalaksanaan tambahan lebih
lanjut. Pada trakeomalasia yang mengancam jiwa, angka kematiannya cukup tinggi yaitu
sebesar 80%.3,5
Trakeostomi dilakukan untuk mempertahankan jalan napas sampai terjadi maturasi
dari kartilago secara alamiah. Tetapi hal ini menimbulkan komplikasi yang serius pada anak.
Karena itu terapi alternatif harus di cari.5
Aortopeks merupakan pilihan terapi yang lebih aman dan memiliki morbiditas jangka
panjang yang lebih kecil dibanding trakeostomi dengan keberhasilan sekitar 75% pasien
kegagalan terapi Aortopeks hanya terjadi pada pasien dengan kelainan trakea difus atau
proksimal. 5
BAB III
KESIMPULAN

Trakeomalasia merupakan suatu keadaan kelemahan trakea yang disebabkan


karena kurang dan atau atrofi serat elastis longitudinal pars membranasea, atau
gangguan integritas kartilago sehingga jalan napas menjadi lebih lemah dan mudah

kolaps.
Trakeomalasia dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu trakeomalasia primer

(penyakit kongenital) dan sekunder (penyakit didapat).


Untuk menegakkan diagnosis trakeomalasia dapat dilakukan dengan anamnesis,

pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan pencitraan.


Manifestasi klinis trakeomalasia antara lain riwayat stridor ekspirasi, kesulitan
minum,

suara

parau,

afonia,

riwayat

breath

Trakeomalasia Sheinyla Lunjingga Febionza


Pembimbing : dr. Magdalena Hutagalung Sp,THT-KL

holding,

riwayat

intubasi

Page 11

berkepanjangan, trakeostomi, trauma dada, trakeobronkitis berulang, penyakit

kartilago (polikondritis relaps), dan reseksi paru.


Terapi bedah diperlukan jika terapi konservatif tidak mencukupi atau jika terjadi
refleks apnue, mengalami pneumonia atau apne berulang, menunjukkan obstruksi
jalan napas yang memerlukan dukungan jalan napas kronik. Gejala klinis akan
menghilang secara spontan pada usia 18-24 bulan.

DAFTAR PUSTAKA

1. George L. Adam dkk. Bioes Buku Ajar Penyakit THT. 1997. Jakarta EGC.
2. Price A. Sylvia dkk. Patofisologi Edisi keenam volume 2. 2005. Jakarta EGC.
3. Pratiwi Eka dkk. Trakeomalasia pada anak. Avaliable from :
http//saripediatri.idai.or.id/pdfile/9-4-2.pdf
4. Novialdi dkk. Diagnosis dan Penatalaksanaan Laringomalasia dan Trakeomalasia.
Avaliable from:
http://respiratory.unand.ac.id/17089/1/Diagnosis_dan_Penatalaksanaan_Laringomalas
ia_dan_Trakeomalasia_-Copy.pdf
5. Schwartz DS. Tracheomalacia. (Update mar 23, 2014: cited Feb 25, 2015). Available
from: http://www.emedicine.medscape.com/article/426003.
6. Soepardi EA dkk. Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung
Tenggorokan. 2003. Jakarta.Gaya Baru.
7. Van de water RT. Otolaryngology Basic Science and Clinical Review. 2006. United
State of America. Thieme Medical Publishers, Inc.

Trakeomalasia Sheinyla Lunjingga Febionza


Pembimbing : dr. Magdalena Hutagalung Sp,THT-KL

Page 12

8. Lalwani KA. Current Diagnosis and Treatment in Otolaryngology Head and Neck
Surgery. 2008. United States of America. The McGraw-Hill Companies, Inc.
9. Soepardi EA dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala
dan Leher. Edisi keenam. 2007. Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Trakeomalasia Sheinyla Lunjingga Febionza


Pembimbing : dr. Magdalena Hutagalung Sp,THT-KL

Page 13