Anda di halaman 1dari 12

HUKUM TAKLIFI

PEMBAHASAN
A. Pengertan Hukum Taklifi
Menurut bahasa artinya hukum pemberian beban. Secara garis besar para ulama ushul fiqh membagi
hukum syara padadua macam, yaitu Hukum Taklifi dan Hukum Wadhi. Hukum Taklifi menurut para ahli
Ushul Fiqh adalah, ketentuan-ketentuan Allah yang berhubungan langsung dengan perbuatan orang mukallaf,
baik perintah, anjuran untuk melakukan, larangan, anjuran untuk tidak melakukan, atau dalam bentuk
memberi kebebasan memilih untuk berbuat atau tidak berbuat

[1].

Hukum Taklifi adalah firman Allah yang

menuntut manusia untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu atau memilih antara berbuat dan meninggalkan
[2].

Hal senada juga diungkapkan oleh Chaerul Uman dkk, bahwa hukum Taklifi adalah khitab/ firman Allah

yang berhubungan dengan segala perbuatan para mukallaf, baik atas dasar iqtidha atau atas dasar takhyir [3].
Untuk memperjelas pembahasan, kami akan menyajikan definisi hukum wadhi secara sekilas. Hal ini
perlu disampaikan karena antara hukum Taklifi dan Hukum Wadhi mempunyai hubungan yang sangat erat.
Hukum Wadhi adalah hukum ketentuan-ketentuan yang mengatur tetang sebab, syarat dan mani(sesuatu yang
menjadi penghalang kecakapan untuk melakukan hukum Taklifi)[4].
Jadi, jika hukum Taklifi adalah ketentuan Allah yang bersifat perintah,larangan atau pilihan antara
perintah dan larangan. Sedangkan hukum Wadhi adalah hukum yang menjelaskan hukum taklifi. Maksudnya,
jika hukum taklifi menjelaskan bahwa shalat wajib dilaksanakan umat islam, hukum Wadhi menjelaskan bahwa
waktu tenggelamnya matahari pada waktu sore hari menjadisebab tanda bagi wajibnya seseorang menunaikan
shalat maghrib.Lebih lanjut, bisa dijelaskan bahwa hukum Taklifi dalam berbagai macamnya selalu berada
dalam batas kemampuan seorang mukallaf, sedangkan hukum wadhi sebagaian ada yang di luar kemampuan
manusia dan bukan merupakan aktifitas manusia [5].
Contoh, seperti firman Allah SWT. Yang bersifat menuntut untuk melakukan sesuatu perbuatan:



Artinya : Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul (Muhammad), agar kamu diberi
rahmat. (QS. An-Nur: 56)
Ayat ini menunjukkan kewajiban shalat, menunaikan zakat dan mentaati Rasul.
B. Pembagian Hukum Taklifi
Memang di kalangan para penulis ushul fiqh terjadi perbedan penggunaanistilah dalam menjelaskan
spesifikasi hukum taklifi. Seperti rachmat Syafeimenggunakan istilah bentuk-bentuk hukum Taklifi, Chaerul
Uman dkk menggunakan pembagian atau macam-macam hukum taklifi. Sedangkan Satria Efendi lebih
menggunakan kata Pembagian untuk menunjuk spesifikasi hukum taklifi

[6].

Akan tetapi apapun istilah yang

digunakan oleh para penulis tersebut yang jelas bahwa hukum Taklifi memiliki spesifikasi-spesifikasi yang
disebutdengan pembagian. Masing-masing pembagian tersebut memiliki jenis-jenissesuai dengan klasifikasi
masing-masing.Sehingga bisa dijelaskan bahwa pembagian hukum Taklifi ada lima, yang juga disebut dengan
maqashid As-Sariah al-Khamsah yaitu:
1. I j a b ( m e w a j i b k a n ) , y a i t u a y a t a t a u h a d i t s d a l a m b e n t u k p e r i n t a h ya n g mengharuskan
untuk melakukan suatu perbuatan. Misalnya, ayat yangmengharuskan untuk shalat. Atau dengan perkataan lain,
Ijab adalahsesuatu yang berahala jika dilaksanakan dan berdosa jika ditinggalkan. Seperti firman Allah:
Contohnya solat lima waktu.
Firman Allah SWT :

(56)
"Dirikanlah solat dan keluarkan zakat dan taatilah perintah Rasul, mudah-mudahan kamu dirahmati Allah".( AnNur : 56)
Ayat di atas menjelaskan bahawa solat dan zakat itu adalah WAJIB kerana ia satu bentuk tuntutan yang pasti
(jazmun) iaitu berdasarkan dalil qat'i, al-Quran al-Kariim.
Para ulama' mazhab Hanafi membedakan di antara wajib dan fardhu. Jika tuntutan supaya melakukan sesuatu
dalam bentuk pasti (jazmun) berdasarkan al-Quran dan Hadis Mutawatir, maka ia dinamakan FARDHU. Jika
berdasarkan dalil-dalil lain, selain dari al-Quran dan Hadis, maka ia dinamakan WAJIB.
Contohnya, membaca surah dalam solat adalah FARDHU kerana ia berdasarkan dalil qat'i yaitu al-Quran.
Sementara membaca surah al-Fatihah pula adalah WAJIB kerana ia berdasarkan dalil yang zanni yaitu HADIS
AHAD.
Pembagian Wajib
Wajib ditinjau dari beberapa aspek terbagi menjadi empat :
a. Wajib ditinjau dari waktu pelaksanaanya, ada yang Muaqqat (dibatasi waktu) dan ada yang Mutlaq (tidak
dibatasi waktu)
Wajib Muaqqat adalah sesuatu yang dituntut syari untuk dilakukan secara pasti dalam waktu tertentu,
seperti shalat lima waktu. Masing-masing shalat yang lima waktu itu dibatasi waktu tertentu, arrtinya tidak
wajib shalat sebelum waktunya dan mukallaf berdosa jika mengakhirkan shalat dari wkatunya tanpa uzur. Juga
seperti puasa Ramadhan, ia tidak wajib dilaksanakan sebelum bulan Ramadhan dan tidak wajib jika Ramadhan
telah lewat. Demikian juga semua kewajiban yang oleh syari ditetpkan waktu pelaksanaanya.
Wajib yang Mutlaq (tidak dibatasi waktu) adalah sesuatu yang dituntut syari untuk dilaksanakan secara
pasti tetapi tidak

ditentukan waktu pelaksanaanya. Seperti denda yang wajibatas orang yang

bersumpahkemudian melanggar sumpah, pelaksanaan denda ini tidak ditentukan waktunya, jika ia menghendaki
bisa saja dilakukan langsung setelah melanggar sumpah atau ia tidak melaksanakan langsung pada saat itu. Juga
seperti naik haji bagi orang yang mampu, pelaksanaan kewajiban ini tidak ditentukan pada taun yang mana ia
harus menunaikan.
Diantara cabang dari pembagian wajib yang dibatasi waktu dan yang mnutlaq adalah bahwa wajib yang
ditentukan waktunya, maka seorang mukallaf berdosa jika menunda wajib itu dari wktunya tanpa uzur. Karena
wajib yang dibatasi waktu itu adalah dua kewajiban, yakni wajib dilakukan dan dilakukan pada waktunya.
Seseorang yang menunaikan wajib setelah waktunya, berarti telah menunaikan salah satu kewajiban, yaitu
menunaikan kewajiban dan meninggalkan kewajibaan yang lain, yaitu dilakukan tidak pada waktunya. Maka
mukallaf berdosa dengan meninggalkan kewajiban ini tanpa uzur.
Sedangkan wajib yang mutlak, maka tidak ada waktu tertentu dalam menunaikannya. Sehingga mukallaf
boleh menunaikan pada waktu mana saja yang ia kehendaki dan tidak berdosa di waktu manapun.
b. Wajib ditinjau daru tuntutan menunaikan, terbagi menjadi wajib aini (wajib ain) dan wajib kifai (wajib
kifayah)
Wajib ain adalah sesuatu yang dituntut syari untuk dilakukan oleh masing-masing mukallaf. Tidak cukup
seorang mukallaf menjadi wakil yang lain, seperti shalat, zakat, haji, menepati janji, menjauhi minuman khamer
dan judi.
Wajib Kifayah adalah sesuatu yang dituntut syari untuk dilakukan oleh kelompok mukallaf, tidak oleh
masing-masing mukallaf. Artinya jika sebagian mukallaf sudah berbuat maka kewajiban itu sudah ditunaikan
dan gugurlah dari dosa mukallaf yang lain. Jika tidak dilakukan oleh seorang mukallaf pun maka semua
mukallaf berdosa karena mengabaikan kewajiban itu. Seperti amar maruf (perintah berbuat baik) dan nahi
munkar (larangan berbuat mungkar), shalat jenazah, membuat rumah sakit,menyelamatkan orang yang
tenggelam, memadamkan kebakaran.
Apabila seseorang telah pasti melakukan wajib kifayah maka hal itu menjadi wajib ain baginya. Misalnya,
jika yang menyaksikan orang tenggelam dan minta tolong itu hanya orang yang pandai berenang , yang melihat

suatu peristiwa hanya seorang yang mengaku sebagai saksi, dalam suatu negeri hanya ada satu dokter yang bisa
memberikan pertolongan, maka secara pasti mereka itu harus melakukan wajib kifayah, dan kewajiban iitu bagi
mereka adalah wajib ain.
c. Wajib ditinjau dari ukurannya terbagi menjadi wajib muhaddad (yang dibatasi) dan ghairu muhaddad (yang
tidak dibatasi
Wajib muhaddad adalah kewajiban yang oleh syari telah ditentukan ukurannya. Yakni tanggungan
mukallaf atas kewajiban ini tidak hilang sebelum dilakukan sebaimana yang telah ditetapkan syari, seperti
shalat lima waktu, zakat dan hutang piutang. Setiap shalat fardhu yang lima menjadi beban mukallaf sampai
shalat fardhu itu dilaksanakan sesuai jumlah rakaat, rukun dan syaratnya. Zakat adalah kewajiban yang menjadi
beban mukallaf sampai zakat itu dikeluarkan sesuai ukuran dan diberikan kepada yang berhak. Seseorang yang
bernazar mengeluarkan suatu ukkuran terttentu, maka kewajiban sebab nadzar itu disebut wajib yang
muhaddad.
Sedangkan wajib yang tidak dibatasi adalah kewajiban yang tidak ditentukan ukurannya oleh syari, tetapi
mukallaf dituntut untuk melaksanakan kewajiban yang tidak terbatas. Seperti infak di jalan Allah, tolong
menolong pada kebaikan, bersedekah kepada para kafir, memberi makan orang yang kelaparan dan kewajiban
lain yang tidak dibatasi oleh syari.
d. Wajib ditinjau dari sifatnya, terbagi menjadi wajib muayyan (tertentu) dan wajib mukhayyar (pilihan)
Wajib muayyan adalah sesuatu yang dituntut oleh syara dengan sendirinya, seperti shalat, puasa dan
mengembalikan sesuatu yang digasab. Tanggungan mukallaf tidak hilang, kecuali dengan melakssanakan
kewajiban itu dengan sendirinya.
Wajib mukhayyar adalahsalah satu diantara beberapa hal tertentu yang dituntut oleh syari, seperti salah satu
bentuk denda tebusan. Allah swt mewajibkan kepada orang yang melanggar sumpah untuk memberi makan
sepuluh orang miskin, atau memberi mereka pakaian, atau memerdekakan budak. Yang wajib adalah salah satu
diantara tiga hal tertentu tersebut. Pilihan bagi mukallaf adalah menentukan salah satu untuk dilaksanakan,
sehungga hilanglah tanggungannya dengan melaksanakan salah satunya.
2. M a n d u b ( S u n n a h ) , ya i t u t u n t u t a n u n t u k m e l a k s a n a k a n s u a t u p e r b u a t a n yang tidak
bersifat memaksa, melainkan sebagai anjuran, sehingga seseorang tidak dilarang untuk meninggalkannya.
Misalnya, surat Al-Baqarah: 282, Allah SWT berfirman



Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang
ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. (Al-Baqarah: 282).
Lafaz di atas menunjukkan lafaz tuntutan yang pasti (jazmun) tetapi terdapat qarinah .






Artinya : Dan jika kamu berada dalam musafir (lalu kamu berhutang atau memberi hutang yang bertempoh),
sedang kamu tidak mendapati jurutulis, maka hendaklah diadakan barang gadaian untuk dipegang (oleh
orang yang memberikan hutang). Kemudian kalau yang memberi hutang percaya kepada yang berhutang
(dengan tidak payah bersurat , saksi dan barang gadaian), maka hendaklah orang (yang berhutang) yang
dipercayai itu menyempurnakan bayaran hutang yang diamanahkan kepadanya, dan hendaklah ia bertakwa
kepada Allah dan Tuhannya. Dan janganlah kamu (wahai orang-orang yang menjadi saksi) menyembunyikan
perkara yang dipersaksikan itu. Dan sesiapa yang memyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang
yang berdosa hatinya. Dan (ingatlah), Allah sentiasa Mengetahui akan apa yang kamu kerjakan. (Al-Baqarah :
283)

Nas al-Quran di atas (al-Baqarah : 283) menunjukkan bahawa tuntutan untuk menulis/mencatat hutang adalah
Sunat (Mandub) bukannya Wajib.
Pembagian Sunnah :
Sunnah dibagi menjadi tiga bagian :
a. Sunnah yang tuntutan mengerjakannya secara menguatkan. Orang yang meninggalkan sunnah ini tidak
mendapat siksa melainkan mendapat celaan.
Diantara sunah-sunah ini adalah perbuatan yang

oleh syara dianggap sebagai penyempurna kewajiban,

misalnya adzan, melakukan shalat lima waktu secara berjamaah. Juga termasuk diantaranya adalah segala
sesuatu yang ditekuni oleh Rasulullah Saw yang berupa masalah-masalah agama dan beliau tidak pernah
meninggalkannya kecuali sekali atau dua kali untuk menunjukkan ketidak pastiannya, seperti berkumur dalam
berwudhu dan membaca surat atau ayat setelah bacaan surat Al-fatihah dalam shalat. Bagian ini disebut sunnah
muakaddah atau sunnah huda.
b. Sunnah yang dianjurkan oleh syara untuk dikerjakan, pelakunya mendapat pahala dan yang meninggalkan
tidak disiksa maupun dicela.
Diantara sunnah ini adalah sesuatu yang tidak ditekuni oleh Rasulullah Saw hanya beberapa kali dikerjakan dan
hanya beberapa kali ditinggalkan. Diantaranya adalah bersedekah kepada fakir, puasa hari Kamis dalam setiap
minggu, atau shalat beberapa rakaat sebagai tambahan shalat fardhu dan sunnah muakadah. Bagian ini disebut
zaa-idah aatau naafilah
c. Sunnah tambahan, artinya dianggap sebagai pelengkap bagi mukallaf.
Diantaranya adalah mengikuti jejak Rasulullah Saw dalam hal kebiasaan beliau sebagai manusia, seperti makan,
minum, berjalan, tidur dan berpakaian menurut sifat yang dilakukan oleh Rasullullah Saw. Mengikuti jejak
Rasulullah dalam hal tersebut sifatnya adalah penyempurna, dan dianggap sebagai kebaikan dari mukallaf karen
menunjukkan kecintaanyya kepada Rasul. Tetapi bagi orang yang tidak mengikuti Rasul dalam hal tersebut
tidak dianggap orang yang jahat, karena hal itu tidak termasuk syariat Rasul. Bagian ini disebut mustahab, adab
dan fadhilah.
3. Muharram (Haram)
Haram ialah tuntutan syara supaya meninggalkan sesuatu perbuatan dengan tuntutan pasti (jazmun).
Sekiranya seseorang mukallaf itu melakukannya, dia akan berdosa. Sebaliknya jika ditinggalkan berdosa.
Contohnya :

...

Artinya : Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi.... (Q.S Al-Maidah:3)
Atau larangan berbuat itu disertai dengan sesuatu yang menunjukan kepastian, seperti firman Allah Swt :

Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan
yang buruk. (Q.S. Al-Israa :32)
Pembagian Haram
Haram terbagi menjadi dua :
a.
Haram yang menurut asalnya sendiri adalah haram. Artinyua bahwa hukum syara telah
mengharamkan keharaman itu sejak permulaan; seperti zina, mencuri, shalat tanpa bersuci, mengwini salah
satu muhrimnya dengan mengetahui keharamannya, menjual bangkau dan lain-lain yang diharamkan secara
nyata karena di dalamnya terkandung kerusakan dan bahaya. Maka keharaman itu datang sejak permulaan atas
perbuatan itu sendiri.
b.
Haram karena sesuatu yang baru. Artinya, suatu perbuatan itu pada mulanya ditetapkan oleh hukum
syara sebagai suatu kewajiban, kesunahan atau kebolehan, tetapi bersamaan dengan sesuatu yang baru yang
menjadikannya haram; seperti jual beli yang mengandung unsur penipuan, puasa yang terus menerus (siang dan
malam) dan lain-lain yang mengandung keharaman karena sesuatu yang baru, bukan haram pada realitas
perbuatannya melainkn unsur dari luar perbuatan itu. Artinya, perbuatan itu pada dasarnya tidak menunjukkan
kerusakan dan bahaya, tetapi ada sesuatu yang menyertainya yang dapat menimbulkan kerusakan dan bahaya.

4. Makruh
Makruh adalah ketentuan larangan yang lebih baik ditinggalkan daripada dilakukan.
Contohnya:-Memakan makanan berbau seperti pete ketika akan bergaul dengan orang lain.- Berjualan
ketika azan Jumat.
Contoh lainnya :




(101)
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan
kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan
diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyantun. (Q.S.Al-Maidah : 101. )
Qarinah daripada hukum Haram kepada hukum Makruh berdasarkan..
Dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah
memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (Al-Maidah : 101. )
Hukum Makruh ialah pembuatnya tidak berdosa, tetapi hanya dicela. Sesiapa yang meninggalkannya (tidak
membuat perkara tersebut) akan mendapat pahala dan pujian drp Allah SWT.
5. Mubah
Mubah adalah sesuatu yang oleh syara seseorang mukallaf diperintah untuk

memilih antara

melakukannya atau meninggalkannya. Syari tidak menuntut agar mukallaf berbuat dan tidak juga menuntut
agar mukallaf meninggalkannya.
Dikerjakan atau ditinggalkan,pelakunya tidak akan mendapat pahala,dan tidak pula dianggap
berdosa.Contohnya:-Memakan berbagai jenis makanan halal,seperti nasi,sayur-mayur,dan buah-buahan.Memilih warna pakaian untuk menutup aurat.-Berusaha mencari rezeki dengan jalan berdagang.
Kadang-kadang kebolehan berbuat (mubah) itu ditetapkan dengan nash syara, seperti jika syari
menetapkan bahwa tidak berdosa berbuat ini, maka hal ini menunjukkan kebolehan. Seperti firman Allah Swt :

...

Artinya : Dan tidak ada dosa bagimu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran... (Q.S.
Al-Baqarah:235)
Serta :




)
(5
Pada hari Ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu
halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga
kehormatan[402] diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara
orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu Telah membayar mas kawin mereka dengan
maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.
barangsiapa yang kafir sesudah beriman (Tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan
ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.( Al-Maidah ; 5)






(235)
Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu
menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan
menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara
rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf dan janganlah kamu ber'azam
(bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. dan Ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui
apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan Ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyantun. (Al-Baqarah : 235)











(61)
Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak
(pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu,
dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah
saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang lakilaki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya[1051] atau dirumah kawankawanmu. tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu
memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang
berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi
baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. (An-Nuur : 61
C. Kedudukan dan Fungsi Hukum Taklifi
Kedudukan dan fungsi hukum taklifi menempati posisi yang utama dalam ajaran Islam, karena hukum
taklifi membahas sumber hukum Islam yang utama , yaitu Al-Quran dan Hadis dari segi perintah-perintah
Allah SWT dan rasul-Nya yang wajib dikerjakan,larangan-larangan Allah SWT dan rasul-Nya yang harus
ditinggalkan serta berbentuk pilihan untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya.
D. Penerapan Hukum Taklifi dalam Kehidupan Sehari-hari
Seorang muslim/muslimah yang menerapkan hukum taklifi dalam kehidupan sehari-hari tentu selama
hidup dialam dunia ini akan senantiasa melaksanakan perintah-Nya yang hukumnya wajib, meninggalkan
segala larangan Allah SWT yang hukumnya haram dan lebih baik lagi kalau mengerjakan anjuran Allah SWT
dan Rosul-Nya yang hukumnya sunnah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya yang hukumnya
makruh.Sedangkan hal-hal yang hukumnya mubah seorang muslim/muslimah boleh mengerjakannya dan boleh
tidak,karena baginya tidak ada pahala dan tidak ada dosa .
Kedudukan hukum taklifi (dalam hukum Islam) merupakan ketetapan-ketetapan dari Allah itu sendiri.
Fungsi hukum taklifi adalah sebagai rambu-rambu bagi umat Islam mengenai berbagai perbuatan yang
boleh dan dilarang, perbuatan yang sebaiknya ditinggalkan tetapi jika dilakukan tidak berdosa, dan lain-lain

HUKUM WADHI

PEMBAHASAN
Pengertian Hukum Wadhi
Hukum wadhI ialah, firman Allah yang berbentuk ketentuan yang menjadikan sesuatu sebagai sebab atau
syarat atau halanganb dari suatu ketetapan hukum taklifi. Oleh karena itu, pada hakikatnya, hukum
wadhI sangat erat kaitannya dengan hukum taklifi, baik dalam bentuka sebab(sabab), sehingga
melahirkan akibat (musabbab) suatu huum taklifi. Atau dalam bentuk syarat (syarat), sehingga di
mungkinkan berlakunya (masyruth) suatu hukum taklifi, ataupun dalam bentuk halangan (mani),
sehingga suatu hukum taklifi menjadi tidak terlaksana (mamnu). Di samping itu, termasuk pula dalam
pembahasan hukum wadhI pembahsan yangber kaitan denganazimah (hukum yang berlaku umum dan
keadaan normal) dan rukhsah (keringanan). Ash-shihhah (sah) dan al-buthlan(batal) . Degan demikian,
pembahasa tentang hukum wadhiberkaiatan dengan tujuh hal utama yaitu, sabab, syarth, mani, azimah,
rukhsah, ash-shihhah. Dan al-buthlan. Untuk jelasnya. Dibawah ini diuraikan secara lebih terperinci

a.

Sabab

sebab (al_sabab) menurut Jumhur Ulama adalah : Sesuatu yang lahir dan jelas batas-batasnya , yang oleh Allah
(al-syari, Pembuat hukum)) dijadikan sebagau tanda bagi wujudnya hukum. Berdasarkan define ini, ada dua
esensi yang terkandung didalamnya.
Pertama suatu tidak sah dijadikan sebagai sabab kecuali Allah (Syari) sendiri yang menjadikannya saebagai
sebab. Karena hukum-taklifi merupakanpembebanan dari Allah SWT, maka yang membebani adalah Allah
SWT. Dan jika yang membebani adalah penmbuat hukum (Syari), maka Dialah menjadikan sebab-sebab
sebagai dasar hukum-hukumnya.
Kedua: bahwa sebab-sebab itu bukanlah yang mempengaruhi terhadap wujudnya hukum-hukum taklifi, akan
tetapi meruapakan tanda bagi lahirnya hukum-hukum itu. Dalam hal ini Asy-Syathiby mengatakan,
bahwa sebab bukanlah pelaku aktif denngan sendirinya, ia hanyalah menyertai terjadinya akibat
(musabbab atau hukum), bukan yang menyebabkannya
Pembagian sabab
1)Sabab hukum yang bukan pembuatan mukallaf
Sabab yang merupakan membuatatan mukallaf ialah pembuatan mukallaf yang ditetapkan asy Syari
sebagai pengenal/penanda adaaanya musabbab akibat dalam bentuk hukum syara.
2) Sabab hukum yang bukan merupakan pembuatan mukallaf
Sebab hukum yang bukan pembuatan mukallaf ialah, sesuatu yang asy-Syari menjadikannya sebagai
penanda pengenal adanya hukum syara, dalam bentuk sabab. Sedangkan ia bukan pembuatan mukallaf. Pada
umumnya, sabab yang kedua ini merpaka fenomena alam yang dijadikan sebagai sabab bagi waktuwaktupelaksaan ibadah.

b. Asy-Syarth
1) Pengertian Asy-Syarth
Asy-Syarth (syarat) adalah sesuatu yang menjadi tempat bergantung wujudnya hukum. Tidak adanya syarat
berarti tidak adanya hukum, tetapi wujudnya syarat tidak pasti wujudnya hukum. Adappun perbedaan
antara syarat dengan sabab adalah : bahwa ditemukan adanya (syarat) itu tidak memastikan adanya
hukum. Oleh karenanya, adanya wudhu yang merupakan syaratnya shalat menentukan/ tidak
mengakibatkan wajibnya shalat. Dan adanya dua orang saksi tidak menentukan /tidak mengakibatkan

adanya akad nikah, meskipun keadaannya dua orang saksi meruapakan syarat sanya akad nikah. Akan
tetapi shalat menjadi tidak sah tanpa adanya wudhu, dan akad nikah menjadi tidak sah tanpa adanya dua
orang saksi
2) Pembagian syarth
a)

syarth asy-syariyyah
Yang dimaksud dengan syarth asy-syariyyah ialah, syarth yang ditetapkan oleh asy syari(pembuat hukum)

dijadikan sebagai syarat untuk memenuhi sebab, atau untuk memenuhi musabbab.
b) Syarth jaliyyah
Adapun yang di maksud dengan Syarth jaliyyah ialah, syarth yang ditetapkan oleh muhallaf sebaga
hubungan kausal yang diakui oleh syara memilki efek hukum syara, Syarth bentuk kedua ini tidak boleh
bertentangan engan hukum syara agar efek (akibat ; musabbab)-nya dapat diakui oleh asy-Syari sebagai hukum
syara. Contohnya , seorang suaami yang mengaitkan kejtuhan talaknya dengan suatu syarat, dengan
mengatakan kepada istrinya: jika engkau mengulangi perkataan dusta itu, maka taakmu jatuh satu

c. Al-Mani
1)

Pengetian al-Mani
Al-Mani ( penghalang) ialah perkara syara yang keberadaannya menafikan tujuan yang dikehendaki oleh

sebab atau hukum. Oleh karena itu asy-Syathiby menganggapnya sebagai sebab yang merintangi ter hadap
sebab yang meruapakan tanda ujudnya hukum, atau sebai sebab yang merintangi zat hukum. Karena asyAsyathiby mendefinisikan mani sebagai : sebab yang metetapkan hukum lain karena adanya illa yamg
menafikan hikmahnya hukum
2) Pembagian Al-Mani
Sebagaimana halnya syarth, ulama ushul fiqih juga membagi mani dengan meninjaunya dari beberapa segi,
tetapi tinjauan yang terpenting ialah penbagian mani ditinjau dari segi objeknya. Dalan hal ini, mani dibagi
menjadi dua, yaitu :
A) Mani yang menghalangi adanya hukum:
b) Mani yang menghalangi adanya hubungan kausal sabab.
Yang dimaksud dengan mani yang menghalangi adannya hukum ialah, ketetapan asy-Syari yang
menegaskan bahwa sesuatu menjadi penghalang berlakunya hukum syara yang umum.
Sebagai Contoh hukum Syara yang umunm menyatakan, wajib shalat bagi setiap mukallaf, baik laki-laki
maupum wanita. Akan tetapi,syara juga menetapakan, haid dan nifas menjadi penghalang bagi wanita untuk
dikenakan kewajiban meng-qadha shalt yang tidak dilaksanakan selama haid dan nifas.
Adapun yang dimaksud dengan mani yang menghalangi hubungan kausal sabab ialah , ketetapan AsySyari yang menegaskan bahwa sesuatu menjadi penghalang bagi lahirnya musabbab/akibat hukum dari suatu
sabab syara yang berlaku umum. Sebagai Contoh, ketentuan syara yang umum menyatakan, jumlah harta yang
mencapai kadar nishab dan telah dimiliki selama sestahun

(haul) merupakan sabab bagi kewajiban

mengeluarkan zakat. Akan tetapi ketetapan syara juga menyatakan bahwa keadaan berhutang merupakan
menghalang bagi seseorang untuk dikenakan kewajiban zakat

d. Al-Azimah dan ar-rukhshah


1)

Pengertian Al-Azimah dan ar-rukhshah


Al-Azimah dan ar-rukhshah adalah dua ketentuan yang oleh sebagian besar ulama ushul fiqih dimasukan

kepada kelompok pembahasan hukum wadhI Alasan mereka. Pada hakikatnya ketentuan azimah berkaitan erat
dengan keadaan yang normal yang menjadi sebab diberlakukannya hukum-hukum syara uyang umum bagi

mukallaf. Sementara kireteria rukhshah pada umumnya berkaitan ert dengan keadaan tertentu yang menjadi
sebab berlakunya keringanan bagi mukallaf dalam melaksanakan huhum.
Dalam pada hali itu, sebagian ulama menbicarakan azimah dan rukhshah dalam kelompok hukum taklfi.
Alasan mereka, pembicaraan azimah dan rukhshah berkaitan langsung dengan cara penerapan hukum taklifi.
Bagaimanapun juga, penulis cenderung pada alasan ulama kelompok pertama, sehingga dalam uruusan ini,
pembahasan Azimah dan Rukhshah ditempatkan dalam hukum wadhi.
Kedua definisi tersebut diatas hanya berbeda dari segi redaksinya saja, namun maksudnya sama, bahwa
yang dmaksuud dengan azimah dan adalah, ketentuan syariat yang ditetapkan untukberlaku secara umum,
dalam keadaan normal, bukan dalam keadaan dan situasi tertentu yang bersifat khusus, bagi seluruh mukallaf,
bukan untuk mukallaf tertentu yang bersifat khusus.
2) Pembagian ar-Rukhshah
a) Berdasarkan segi bentuk hukum yang berlaku umum
Ditinjau dari segi bentuk hukum yang berlaku umum, rukhshah dibagi kepada dua bagian, yaitu sebagai
berikut.
(1)`Ar-rukhshah untuk melakukan perbuatan yang menuurut ketentuan syariat yang umum diharamkan, karena
darurat atau hajah.
(2)Ar-rukhshah untuk meninggalkan perbuatan yang menurut aturan syariat yang umum diwajibkan, Karena
kesulitan melaksanakannya.
b) Berdasarkan segi bentuk rukhshah (keinginan)

e. Ash-Shihhah, aaal-Buthlan, dan Al-Fasad


Yang dimaksud dengan ash-shihhah ialah, suastu perbuatan yang telah memiliki sabab, memenuhi berbagai
rukun dan perssyaratan syara, Dan terdapat mani padanya.
Dalam pada itu, suatu sabab yang disebut suatu sah ialah, sabab yang menimbulkan musabab atau dampak
hukum. Adapun yang dimaksud dengan Albuthlan(batal) ialah, kebalikan dari pengertian sah, yaitu, suatu
perbuatan yang tidak memenuhi semua kireteria yang dituntut oleh syara. Dan syarat-syarat jaliyyah yang
rusak (fasad) akan menjadikan sebab rusaknya akad pada pembagian keadaan. Sepeti halnya akad-akad maliyah
(transaksi barang) menjadi rusak disebabkan rusaknya syarat pada saat tukar-menukar. Tapi dalam keadaan
syarat-syarat yang rusak (fasad ) tidak menjadikan rusaknya suatu akad.

HUKUM WADHI DAN PENERAPANNYA DALAM ISLAM


A. Pengertian
Hukum wadI adalah khitab syarI yang menuntut untuk menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat, atau
penghalang dari sesuatu yang lain. Ketentuan hukum ini di kenal dengan istilah lain sebagai pertimbangan
hukum. Hukum wadI juga bisa dikatakan hukuman yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf yang
mengandung persyaratan sebab atau mani.
B. Macam-Macam Hukum Wadi
Para ulama usul fiqh menyatakan bahwa hukum wadI itu ada lima macam yaitu ;
1.

Sebab
Secara etimologi (al-sabab) mempunyai arti al-hablu (tali) dan sesuatu yang menghantarkan kepada maksud

atau tujuan. Secara bahasa Sebab yaitu sifat yang nyata dan dapat di ukur yang dijelaskan leh nash al-quran
atau sunnah bahwa keberadaannya menjadi petunjuk bagi hukuman syara artinya, keberadaan sebab merupakan
pertanda keberadaan suatu hukum. Contoh sebab: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak
mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku-siku. [QS. Al-Maidah (5): 6].
Kehendak melakukan shalat adalah yang menjadikan sebab diwajibkannya wudhu, tergelincirnya matahari
menjadi sebab wajibnya sholat dzuhur.
2. Syarat
Syarat ialah: suatu yang menyebabkan adanya hukum dengann adanya syarat dan bila tidak ada syarat maka
hukum pun tidak ada. Contoh syarat: Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi
orang yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya. [QS. Ali Imran (3): 97]. Kemampuan adalah menjadi
syarat diwajibkannya haji.
3. Mani
Mani yaitu sifat yang nyata yang keberadaannya menyebabkna tidak ada hukum atau tidak ada sebab.
Seperti hubungan suami istri dan hubungan kekerabatan menyebabkan terjadinya hubungan kewarisan. Contoh
mani (pencegah): Rasulullah saw. bersabda, Pena diangkat (tidak ditulis dosa) dari tiga orang, yaitu dari orang
tidur sampai ia bangun, dari anak kecil sampai ia dewasa, dan dari orang gila sampai ia sembuh (berakal).
Hadits ini menunjukkan bahwa gila adalah pencegah terhadap pembebanan suatu hukum dan menjadi pencegah
terhadap perbuatan yang sah.
4. Sah dan Batil
Lafadz sah dapat diartikan lepas tanggungjawab atau gugur kewajiban di dunia serta memperlah pahala
dan ganjaran di akhirat. Sholat diakatakan sah karena telah dilaksanakan sesuai dengan yang diperintahkan
syara dan akan mendatangkan pahala di akhirat.
Lafadz batal dapat diartikan tidak lepas diartiakn tanggungjawab tidak menggugurkan kewajiban di
dunia dan akhirat tidak memperolah pahala.
5. Aziman dan Rukhsah
Aziman dan rukhsah: adalah hukum yang disyariatkan Allah kepadaseluruh hambanya sejak semula.
Artinya belum ada hukum sebelum hukum itu disyariatkan Allah, sehingga seluruh makhluk wajib mengikuti
sejak hukum tersebut disyariatkan. Misalnya: jumlah rakaat sholat dzuhur adalah empat rakaat, jumlah rakaat
ini ditetapkan Allah sejak semula dimana sebelumnya tidak ada hukum lain yang menetapkan jumlah rakaat
sholat dzuhur, hukum tentang rakaat sholat dzuhur itu adalah empat rakaat disebut dengan aziamh, apabila ada

dalil lain yang menunjukkan bahwa orang-orang tertentu boleh mengerjakan sholat dzuhur dua rakaat seperti
orang musafir, maka hukum itu disebut rukhsah.
Adapun alasan mengapa rukhshah dan azmah bukan termasuk dalam hukum wadhe akan tetapi
masuk dalam hukum taklfe adalah karena kedua hukum tersebut mengandung kehendak atau permintaan
(iqtidh`) dalam hukum azmah dan kebebasan memilih (takhyr) dalam hukum rukhshah. Sebaliknya pendapat
yang menganggap bahwa azmah dan rukhshah merupakan bagian dari hukum wadhe dan bukan termasuk
dalam hukum taklfe mengatakan bahwa rukhshah pada hakikatnya adalah sifat yang dijadikan Syri sebagai
sebab peringanan suatu hukum syariat, sedangkan azmah adalah kelangsungan adat dan kebiasaan yang
menjadi sebab berlakunya hukum asli, seperti hukum kewajiban salat, zakat, dan lain sebagainya.
Sedangkan alasan mengapa al-shihhah dan al-buthln atau al-fsid tidak termasuk dalam hukum wadhe
akan tetapi bagian dari hukum taklfie, yaitu karena pada hakikatnya al-shihhah adalah pembo1ehan dari Syri
untuk memanfaatkan sesuatu, seperti pembolehan memanfaatkan mab (barang yang dijual) oleh pihak
pembeli. Sebaliknya al-buthln adalah keharaman memanfaatkan sesuatu, seperti larangan memanfaatkan mab
jika akad jual beli batal atau tidak sah.
C. Contoh Hukum WadI
Contoh hukum wadI menurut firman Allah swt.dan sunah Rasulullah saw.berikut
1.

Khitab Allah swt.yang Menunjukan Sesuatu Menjadi Sebab yang Lain


Allah swt.berfirman dalam Surah al-Isra Ayat 78

( (78 : )
Artinya: Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir. (QS. Al-Isr`: 78)
Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa condongnya matahari menjadi al-sabab adanya kewajiban salat dzuhur.








Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu
dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,
dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit [403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat
buang air (kakus) atau menyentuh [404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah
dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak
menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni'mat-Nya bagimu, supaya
kamu bersyukur
2.

Khitab Allah swt.yang Menunjukan Sesuatu Menjadi Syarat yang Lain

Allah berfirman dalam Surah an-Nisa Ayat 6


Setelah memperhatikan contoh di atas, di sana tidak ditemukan kesesuaian yang tampak antara adanya al-sabab
dan munculnya suatu hukum syariat, kecuali yang diketahui oleh Syri sendiri. Dalam hal seperti ini para
ulama ushl menyebutnya sebagai al-sabab dan al-illah, namun ada sebagian ulama yang menyebutnya al-

sabab saja dan bukan al-illah, karena menurut pandangan mereka al-illah adalah yang mempunyai kesesuaian
yang cocok antara hukum syariat dan al-illah.
3.

Khitab Rasullulah saw.yang Menunjukan Sesuatu Menjadi Penghalang (Mani).

Rasulullah saw.bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud yang artinya :
Tidak ditulis sebagai dosa dari tiga hal, yaitu dari orang gila sampai ia sembuh (berakal), dari orang tidur
sampai bangun, dan dari anak kecil sampai dia dewasa. ( H.R. Abu Dawud dari Ibnu Abbas : 3823)
Hadits diatas menggambarkan bahwa gila menjadi penghalang terhadap pembebanan suatu hukum dan menjadi
penghalang (Mani) terhadap perbuatan yang sah. Selain hadits diatas, terhadap pula hadits yang lain, yang
artinya :
Orang islam tidak mewarisi orang fakir dan orang kafir tidak mewarisi harta orang islam. ( H.R. al-Bukhari
dari Usamah bin Zaid : 6267 dan Muslim : 3027)
Berlainan agama antara orang yang mewariskan hartanya dan orang yang mewarisi menjadi penghalang
seseorang untuk menerima harta waris.
Berdasarkan ketentuan dan contoh-contoh tersebut, hukum wadI pada dasarnya sebagai petunjuk dalam
melaksanankan hukum taklifi. Mengenai hukum wadI para ulama berpendapat bahwa hukum wadI tidak
hanya mengandung lima hal diatas, tetapi juga mengandung rukhsah (kemurahan), dan sihah (sah).