Anda di halaman 1dari 15

PANDUAN DAN MACAM TEST

PSIKOLOGI BESERTA CONTOH


Istilah psikotes (psychological testing) sering digambarkan sebagai aktivitas dalam
proses seleksi yang menggunakan pendekatan psikologis. Padahal psikotes itu
sendiri hanyalah salah satu bagian dari proses yang disebut asesmen psikologis
atau pemeriksaan psikologis.
Terlepas dari persoalan pemahaman atas terminologi itu, saya akan berbicara dulu
tentang fungsi psikotes itu secara umum. Secara singkat, psikotes digunakan untuk
memilih orang terbaik dari sekian banyak calon, sesuai kriteria jabatan maupun
tugas yang harus dilakukan.
Keunikan dari tes ini adalah pada ketidakpastiannya. Mengapa? Karena faktor ini
dapat memutarbalikan perhitungan logis potensi seseorang. Sebagai contoh,
seseorang lulusan perguruan tinggi terbaik di negeri ini dengan IPK : 3 koma dan
berpengalaman sebagai asisten dosen, tidak dapat lolos dari lobang jarum ujian
psikotes sehingga akhirnya harus berwirausaha karena belum pernah mampu
melewati psikotes untuk diterima bekerja di sebuah perusahaan. Memang ini ironi,
namun ini fakta. Psikotes memang merupakan fenomena tersendiri bagi para
pelamar kerja.
Dengan demikian, kalau anda gagal dalam psikotes, bukan berarti anda adalah
orang bodoh atau orang yang tidak pantas mendapat pekerjaan. Hanya saja, dalam
konteks pekerjaan yang anda lamar, anda memang bukan orang yang pas.
Sebagai contoh, kalau berdasar hasil psikotes diketahui anda adalah orang yang
cenderung single fighter, tidak bisa bekerja sama dengan orang lain, perfectionist,
apalagi kalau anda menyebutkan punya hobi membaca, maka anda bukan orang
yang pas untuk direkrut sebagai staf marketing, staf public relations, atau petugas
front office. Orang dengan karakter seperti anda barangkali sangat pas untuk
perusahaan yang sedang mencari staf peneliti atau bagian riset, akuntan, atau staf
keuangan.
Orang perfectionist memang hasil kerjanya sempurna, tetapi cenderung tertutup,
tidak mau berimprovisasi atau berkreasi, bekerja setahap demi setahap sesuai
prosedur dan dalam bekerja tidak suka campur tangan orang lain, atau
sebaliknya, tidak suka mencampuri pekerjaan orang lain. Nah, kalau seorang
perfectionist ditempatkan sebagai staf PR atau marketing, maka dia tidak akan bisa
bekerja secara maksimal karena petugas PR atau marketing dituntut bekerja cepat,
penuh kreasi dalam menanggapi berbagai keadaan, juga harus senang bergaul dan
bekerja tim.
Sebaliknya, kalau anda adalah pekerja cepat (yang bersemboyan nggak sempurna
nggak apa-apalah yang penting segera selesai), penuh kreasi, senang bergaul dan
pekerja tim, penuh perhatian terhadap pekerjaan atau persoalan orang lain, maka
anda tidak pas untuk menjadi pertugas riset, akuntan atau staf keuangan. Kalau jadi
petugas riset, anda akan tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Kalau menjadi staf
keuangan, anda cenderung mudah memberi kasbon.
Alasannya sederhana. Kalau anda memang orang yang punya kecenderungan
sebagai pribadi yang tertutup, perfectionist, tidak mau diganggu dan mengganggu,
bukan pekerja tim, maka anda tidak akan bertahan lama pada pekerjaan itu. Kalau
tidak stres ya dipindahtugaskan karena gagal bertugas dengan baik.
Jenis Alat Psikotest yang Digunakan untuk Tes Masuk Kerja
Pada umumnya model psikotest ini relatif tidak berubah karena memang dibuat
secara standar tidak hanya nasional tetapi juga internasional.

Untuk memasuki lembaga media massa juga psikotest memiliki standar hampir
sama dengan perusahaan lainnya. Tulisan ini masih akan berkembang, namun ada
beberapa prinsip yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi psikotest ini.
Pertama-tama tentu kita harus tahu jenis-jenis psikotest itu.
1. Tes Intelegence Question (IQ)
Biasanya contoh soal-soal ini dapat mudah didapatkan di toko buku. Tes kecerdasan
ini melibatkan serangkaian soal matematika dalam istilah tesnya tes verbal dan non
verbal. Angka dan bahasa merupakan bagian dari tes ini. Jika Anda senang dengan
teka teki silang dan hitungan secara cepat maka Anda beruntung bisa lulus. Namun
tes IQ memang dibuat standar agar bisa dilakukan setiap orang.
Tes Intelektual, terdiri dari :
CFIT (Culture Fair Intelegence Test) : tes untuk mengungkap kemampuan mental
umum
TIU (Tes Intelegensi Umum) : tes untuk mengungkap kemampuan mental umum
TKD (Tes Kemampuan Dasar) : tes untuk mengukur kemampuan dasar individu
AA (Army Alpha) : tes untuk mengetahui daya tangkap / daya konsentrasi orang
ADKUDAG (Administrasi dan Keuangan) : tes untuk mengetahui kemampuan
administrasi
dan
keuangan
IST (Tes Inteligensi) : tes yang terdiri dari 9 subtes didasarkan pada anggapan
bahwa struktur intelegensi tertentu cocok dengan pekerjaan atau profesi tertentu
2. Tes Kepribadian
Di dalam tes ini Anda akan dihadapkan kepada serangkaian pertanyaan mengenai
berbagai dilema dalam pekerjaan, seperti bagaimana menghadapi konflik,
bagaimana bekerja sama dan bagaimana solusi jika menghadapi suatu dilema. Dari
sini dapat dikaji, seberapa jauh kemampuan Anda bekerja dalam tim dan apakah
Anda termasuk orang yang hangat dalam pergaulan dan tidak kaku.
Tes Kepribadian, terdiri dari :
EPPS (Edwards Personal Preference Schedule) : tes untuk mengukur kepribadian
orang dilihat dari kebutuhan-kebutuhan yang mendorongnya (16 faktor) atau motif
seseorang
DAM & BAUM ( Draw A Man Tes / Tes Gambar Orang) : tes menggambar untuk
mengetahui tanggung jawab, kepercayaan diri, kestabilan dan ketahanan kerja
WARTEGG TEST : tes menggambar untuk mengetahui emosi, imajinasi, intelektual
dan
aktifitas
subjek.
TES PAULI : tes untuk mengukur sikap kerja dan prestasi kerja (daya tahan,
keuletan, sikap terhadap tekanan, daya penyesuaian, ketekunan, konsistensi,
kendali diri)
KRAEPLIEN TEST : tes untuk mengungkap ketelitian, kecepatan, kestabilan dan
ketahanan
kerja
RM (The Rothwell Miller) : tes untuk mengetahui minat seseorang terhadap jenis
pekerjaan
tertentu

PAPI Kostick : tes untuk menjabarkan kepribadian dalam 20 aspek yang masingmasing mewakili need atau role tertentu, tinggi rendahnya need atau role tertentu
mempunyai arti yang spesifik. Konfigurasi yang diperoleh adalah gambaran dari
pilihan testee yang bermuatan need atau role, dan dibandingkan dengan need atau
role lain dalam keseluruhan sistem kepribadian berdasarkan persepsi testee atas
dirinya sendiri.
3. Tes Kemampuan
Anda akan diuji serangkaian tugas di bawah tekanan tinggi, apakah
bisa melakukannya. Biasanya tes kemampuan ini mengkondisikan
suasana penuh tekanan tetapi harus menyelesaikan soal dengan
bentuknya angka atau permainana kata-kata. Bisa pula berupa grafik
bentuk tiga dimensi.

Anda masih
Anda dalam
cepat. Bisa
dan bentuk-

4. Tes Kreatifitas
Biasanya Anda akan diminta menulis atau menggambarkan sesuatu. Pada salah
satu tes Anda diminta melanjutkan gambar dari enam kotak yang sudah ada.
Lanjutkan dengan ilustrasi yang baik semaksimal mungkin. Satu lagi tes final
biasanya Anda diminta menggambar. Saya sarankan gambarlah orang yang sedang
aktif bertindak, misalnya sedang lari sehingga terlihat aktif. Kata psikolog, orang
yang seperti itu termasuk dinamis dan kreatif. Itu pendapat psikolog.
Pekerjaan yang cocok
Pertanyaannya adalah, pekerjaan apakah yang cocok untuk anda? Untuk keperluan
ini, bisa jadi anda perlu mem-psikotes-kan diri sendiri. Anda bisa datang ke
lembaga jasa psikologi. Kalau di Solo, biayanya berkisar di angka 100 ribu rupiah.
Ini akan sangat membantu anda mengetahui karakter diri sendiri.
Para psikolog punya pakem yang baku untuk mengetahui apakah anda termasuk
atau tidak termasuk orang yang terbuka, punya sifat kepemimpinan yang baik,
kreatif, mampu bekerja sama dan sebagainya. Pernahkah anda ketika mengikuti
psikotes diminta menggambar pohon atau menggambar rumah? Atau diminta
menyelesaikan gambar berdasar titik dan garis tertentu yang sudah ada? Nah,
itulah salah satu perangkatnya.
Kunci jawaban atas soal atau tugas seperti itu hanya dimiliki oleh para psikolog.
Kalau saya kebetulan tahu, ya itu karena saya diberitahu oleh teman saya, seorang
psikolog yang tidak erat memegang etika profesi. Kenapa? Ya sebab itu adalah
rahasia etik profesi yang sebenarnya tidak boleh diketahui orang non-psikolog.
Kalau saat ini banyak kita temui buku-buku atau tulisan di internet mengenai cara
menembus soal psikotes, maka biasanya hanya menyentuh masalah kecerdasan
dan daya nalar. Kalau sampai menyangkut masalah kepemimpinan misalnya, atau
kecenderungan psikologis lain, maka saya yakin penulisnya sama dengan psikolog
yang memberi bocoran ke saya, yakni sama-sama psikolog yang tidak tahu etika.
Penulis juga pernah menghadapi hal serupa, untuk kemudian harus bangkit melalui
proses learning by doing. Penulis bukan seorang psikiater maupun phsicology
tester, namun beberapa tips yang akan di-share berikut ini, berdasarkan
pengalaman penulis ketika menghadapi psikotes, diharapkan mampu membantu
mengurangi kegagalan psikotes Anda:
1. Test Pemahaman

Ada beberapa cara untuk mengukur kemampuan anda dalam test ini, antara lain :
a. Test Analogi Verbal (korelasi makna), test ini untuk melihat pemahaman anda
terhadap hubungan antar kata. Dampak positifnya adalah mengukur kemampuan
anda dalam memahami suatu permasalahan. Contoh soal :
Kepala Pusing = Perut a. Batuk b. Pilek c. Mules d. Ngilu
Air Haus = Nasi a. Goreng b. Lapar c. Beras d. Rames
b. Test Antonim (lawan kata), test ini ditujukan untuk mengukur kemampuan
melihat kebenaran secara terbalik (kemampuan seseorang untuk mengetahui
sesuatunya benar atau salah tidak hanya secara fenomenologis tetapi juga secara
dialektis), sekaligus melihat wawasan anda. Contoh soal :
Asli >< a. Orisinil b. Tiruan c. Autentik d. Murni
Insidental >< a. Khusus b. Tertentu c. Rutin d. Istimewa
c. Test Sinonim (persamaan/padanan makna/kata), test ini untuk mengukur tingkat
kewaspadaan dan kecermatan anda terhadap suatu indikasi yang sama/mirip.
Maksudnya yaitu seseorang akan lebih cepat, lebih efektif, dan lebih efisien dalam
mengambil keputusan/kebijakan, ketika dihadapkan pada permasalahan yang
memiliki prinsip serta tipe yang sama dengan permasalahan yang pernah
dihadapinya. Contoh :
Kreasi = a. Rencana b. Pemikiran c. Ciptaan d. Program
Implisit = a. Tersirat b. Terbuka c. Kedalaman d. Penggandaan
d. Test Penalaran dan Pemahaman, test ini untuk melihat pemahaman anda dan
tindakan yang akan anda ambil bilamana dihadapkan pada suatu situasi tertentu.
Dalam test ini anda akan diberikan sejumlah narasi/cerita singkat dan anda disuruh
menjawab soal-soal yang berkaitan dengan narasi/cerita tersebut.
2. Tes Logika Aritmatika
Tes ini terdiri atas deret angka. Yang diukur dalam tes ini adalah kemampuan
analisa anda dalam memahami pola-pola/kecenderungan tertentu (dalam wujud
deret angka) untuk kemudian memprediksikan hal-hal lain berdasarkan pola
tersebut. Selain deret angka, bentuk tes aritmatika yang diujikan yaitu bentuk
penjumlahan, pengurangan, pembagian, perkalian, pensentase dan pecahan angka
(40 soal).
Contoh:
16 8 4 2 1 1/2
45 15 18 6 9 3
Tipsnya:
Jangan terpaku pada deret hitung atau deret ukur perhitungan matematika saja
yaitu jangan terpaku pada 3 -4 angka terdepan dalam deret namun adakalanya
anda melihat deret secara keseluruhan karena pola bisa berupa urutan,
pengelompokan
berurutan
maupun
pengelompokan
loncat
Ingat keterbatasan waktu. Jangan terlalu asyik dan terpaku hanya pada sebuah soal

yang penasaran ingin anda pecahkan, lompati ke soal berikutnya karena terkadang
soal di bawahnya lebih mudah dipecahkan dibandingkan soal sebelumnya
Anda bisa melatih kemampuan anda ini dari buku-buku tes UMPTN/SPMB untuk
materi deret hitung/deret ukur
3. Tes Logika Penalaran
Tes ini terdiri atas deret gambar baik 2 maupun 3 dimensi. Anda disuruh memilih
gambar selanjutnya yang akan muncul (50 soal). Yang ingin diukur dalam tes ini
adalah kemapuan anda dalam memahami pola-pola/kecenderungan tertentu (dalam
wujud gambar) untuk kemudian melakukan prediksi berdasarkan pola anda
tersebut.
Tipsnya: konsetrasi, hati-hati dan teliti. Karena bentuk-bentuk yang ditawarkan
hampir serupa walau tak sama.
Contoh:
4. Kraeplien atau Pauli Tes
Ke dua tes ini terdiri atas gugusan angka-angka yang tersusun secara membujur
(atas-bawah) dalam bentuk lajur-lajur dalam sebuah kertas besar. Yang
membedakan hanya cara dan jumlah isinya, Kraeplien tes memiliki jumlah deret
angka yg lebih banyak (27 bujur, 50 kolom). Anda akan diminta untuk
menjumlahkan dua angka yang berdekatan dalam waktu tertentu di setiap kolom
dan menuliskan disampingnya. Biasanya sang psikolog hanya menginstruksikan
pindah pada waktu tertentu dan berbeda-beda untuk melihat daya tahan otak
dan konsistensi anda. Yang diukur dalam tes ini adalah konsistensi, ketahanan, sikap
terhadap tekanan, kemampuan daya penyesuaian diri, ketelitian sekaligus
kecepatan dalam mengerjakan suatu pekerjaan.
Tipsnya :
Jangan sekalipun menggunakan pensil mekanis dalam tes ini melainkan pensil biasa
atau pulpen saja, karena tes ini sangat terikat dengan waktu. Pensil mekanis
membutuhkan di-reload ketika ujung granitnya habis, mekanisme ini membutuhkan
waktu sekitar 0.5-1 detik. Apabila anda melakukan reload dalam 10 lajur berarti
anda telah kehilangan waktu 5-10 detik
Usahakan jumlah angka yang dijumlahkan di masing-masing kolom stabil. Hasilnya
akan lebih baik jika dibandingkan anda memaksakan diri di awal tes namun
tergopoh-gopoh di pertengahan dan akhir tes. Kendalikan diri anda untuk
menghemat tenaga. Akan lebih baik hasilnya bila saat ditarik garis lurus tingkat
teratas penjumlahan terbentuk grafik penjumlahan yang stabil syukur-syukur
meningkat
Jangan sekalipun melakukan cheating terhadap waktu maupun hasil penjumlahan.
Hal ini akan merugikan anda sendiri karena justru untuk cheating anda akan
membutuhkan waktu sekian detik untuk memutuskan dan itu berarti justru
membuang waktu dan memubuat grafik penjumlahan anda tidak alami

Hal yang paling penting dari keseluruhan tes kraeplein adalah konsentrasi.
Terkadang anda akan merasa blank pada pertengahan tes, namun anda harus bisa
bangkit & fokus lagi pada tes. Untuk itu kondisi fisik sangat berpengaruh. Usahakan
tidak begadang dan sarapan dahulu sebelum berangkat tes karena model tes ini
sangat menyedot energi anda.
5. Wartegg Test
Tes Wartegg pada dasarnya adalah tes menggambar. Tes menggambar ini (wartegg)
tidak memerlukan kemampuan menggambar, melainkan hal ini hanya suatu cara
bagi seorang penguji/psikolog untuk mengetahui kepribadian anda dari cara anda
menggambar dan apa yang anda gambar. Menurut informasi yang didapat juga
menyatakan, dari cara Anda menggambar akan terlihat apakah Anda seorang yang
keras kepala, tidak terorganisir,dll. Semuanya terlihat dari kebersihan, kerapian,
tekanan pensil dan sebagainya. Test ini juga mampu untuk mengungkapkan
kemampuan IQ anda, dari hasil apa yang Anda gambar. Yang diukur dalam tes ini
adalah emosi, imajinasi, intelektual dan aktifitas subjek. Tes ini terdiri atas 8 kotak
di selembae kertas yang berisi bentukan-bentukan tertentu seperti titik, garis kurva,
3 garis sejajar, kotak, dua garis saling memotong, dua garis terpisah, tujuh buah
titik tersusun melengkung dan garis melengkung. Anda akan diminta membuat
suatu gambar dari pola tersebut, kemudian menuliskan urutan gambar yang telah
anda buat, judul gambar dalam setiap kotak sesuai urutan, lalu menuliskan nomor
gambar mana paling disukai, tidak disukai, sulit dan mudah menurut anda.
Delapan kotak tersebut adalah sebagai berikut :
Makna dari masing-masing gambar adalah :gbr 1. berupa titik ditengah kotak : ini
menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan penyesuaian diri yaitu bagaimana
seseorang menempatkan diri dlm lingkungangbr 2. berupa ~ tp berada di kotak
sebelah kiri : menunjukkan fleksibilitas perasaan.gbr 3. berupa 3 garis horisontal dr
pendek, sedang tinggi sejajar: mengukur hasrat untuk maju/ambisigbr 4. berupa
kotak kecil di sebelah kanan : mengukur bagaimana seseorang mengatasi
kesulitangbr 5. seperti huruf T tp miring (susah gambarin nya) : mengukur
bagaimana cara bertindak.gbr 6. berupa garis horisontal & vertikal : mengukur cara
berpikir/analisa & sintesagbr 7. berupa titik2 : menyangkut kehidupan dan perasaan
(apakah sudah stabil, kekanakan)gbr 8. berupa lengkungan : mengenai kehidupan
sosial/ hubungan social
Berikut ini adalah contoh pengerjaan yang pernah digunakan penulis untuk
melewati tahap psikotes ini:
Tipsnya :
Tes Wartegg mengharuskan peserta untuk melengkapi gambar yang terdiri dari 8
gambar, 4 diantaranya berupa garis lurus (Gambar III, IV, V, dan VI) dan empat
lainnya berupa garis lengkung (Gambar I, II, VII, VIII). Yang perlu anda ingat adalah
untuk garis lengkung sebaiknya anda menggambar benda hidup dan untuk garis
lurus yang kaku sebaiknya anda menggambar benda mati. Jika anda menggambar
terbalik, misal garis lurus digambar dengan bunga, hewan dan sebagainya atau
garis lengkung digambar dengan mobil, mesin dan sebagainya, hal ini menandakan
ada yang salah dengan jiwa atau kepribadian anda

Urutan menggambar sebaiknya anda buat kombinasi antara sesuai nomor dan acak.
Misalnya 1,2,3,4 kemudian 8,7,6,5. Karena apabila anda menggambar berdasarkan
urutan 1,2,3,4,5,6,7,8 anda dipandang HRD sebagai orang yang kaku/konservatif
sedangkan apabila anda menggambar secara acak misalnya 5,7,6,8,3,2,4,1 anda
akan dipandang HRD sebagai orang yang terlalu kreatif, inovatif dan cenderung
suka akan breaking the low
Kalau anda bergender lelaki jangan mulai dengan nomor 5, karena beberapa
anggapan menyebutkan hal ini berpengaruh terhadap orientasi seks anda
Ada beberapa versi jawaban untuk tes yang ini. Waktu itu saya sempat baca
beberapa buku, dan saya menggunakan cara menyelesaikan gambar dengan
gambar yang dinamis (bergerak). Misalkan ada garis lengkung setengah lingkaran,
saya buat jadi gambar jembatan yang dibawahnya ada air mengalir. Ada juga
lengkungan yang jadi burung yang sedang terbang. Pada prinsipnya saya
mengusahakan semua gambar adalah gambar dinamis
Selanjutnya dari cara menggambar pun bisa kelihatan kepribadian seseorang
misal : jika saat mengambar anda terlalu sering menghapus atau kotor menandakan
bahwa anda adalah orang yang peragu atau tidak terencana dan jika anda
menggambar terlalu kuat untuk garis yang seharusnya lembut berarti anda
termasuk orang yang keras kepala
Apa yang anda gambarpun juga menunjukan kepribadian atau kemampuan IQ anda.
Jika anda menggambar sesuatu yang biasa saja dan umum tentu penilaian tingkat
kecerdasannya akan berbeda dibanding jika anda menggambar sesuatu yang tidak
terpikirkan oleh orang lain dan berwawasan (disini kreativitas kita diuji, apakah kita
mampu mengembangkan hal yang sudah ada menjadi suatu ide baru; atau sifat
mengekor yang terlalu besar)
Bila diminta membuat gambar dari lingkaran-lingkaran, ketegasan kita dilihat;
apakah menggambar lingkaran secara langsung dan tegas; atau terputus-putus dan
pelan-pelan, sifat perfeksionis bisa terlihat disini
Kalo titik di tengah (gbr.1) di respon dengan menggambar mobil adalah tidak tepat
karena kurang adaptif. Sebaiknya responlah setiap simbol berdasarkan sifat simbol
itu.
Ada baiknya anda sudah mulai berkreasi dengan titik/garis tersebut agar saat
pelaksanaan sudah lancer
6. BAUM TEST (Menggambar Pohon)
Tes dimana anda diberi kertas kosong dan diminta untuk menggambar pohon
dengan kriteria : berkambium (dicotyl), bercabang dan berbuah, sehingga kelihatan
akar, batang (dahan dan ranting), daun dan buah. Otomatis anda tidak
diperbolehkan menggambar pohon jenis bambu, pisang, semak belukar ataupun
jenis tanaman monocotyl lainnya. Yang dinilai bukan bagus atau tidaknya gambar
tersebut, melainkan besar-kecil gambar, tarikan garis (tegas atau tidak atau patahpatah), letak gambar (kanan-kiri, atas-bawah, atau center). Dari sini akan terlihat
kesabaran kita, apakah kita akan gambar dahan semua dulu baru daun, atau
sekaligus semuanya, daunnya juga dilihat apakah satu-satu atau semuanya
sekaligus menjadi satu objek. Konon etos kerja kita bisa terlihat disini, tukang nyicil
atau tidak sabaran. Dibawah gambar, anda harus mencantumkan nama pohonnya
.
Tipsnya :

Pada setiap tes menggambar pohon yang pernah dilalui, penulis selalu
menggambar pohon nangka. Karena pohon tersebut mewakili jenis tanaman
dicotyl / berkambium
Walaupun anda tidak begitu pandai dalam hal menggambar, usahakan
menggambar secara detil dan rinci setiap komponen dari pohon tersebut seperti
tangkai, bentuk daun, kerapatan daun, buah, akar bahkan alur pohon
Gambar pohon, batangnya ada kroaknya maka ada kemungkinan trauma di masa
lalu
Untuk hasil yang lebih maksimal, fotolah pohon tersebut, pelajari karakter jenis
pohonnya, kemudian latihlah kemampuan menggambar anda dengan mengacu
pada foto tersebut
Sifat yang diperoleh dari gambar-gambar, bersifat interpretasi. Jadi pasti akan
dikonfirmasi dengan hasil tes yang lain dan juga wawancara
7. Draw A Man Test (DAM)
Draw A Man Tes yaitu Tes Gambar Orang. Tes dimana anda diberi kertas kosong dan
diminta untuk menggambar seorang manusia, untuk kemudian anda deskripsikan
usia, jenis kelamin, bagaimana sifat kesehariannya dan aktifitas orang tersebut. Tes
ini dipergunakan untuk mengatahui tanggung jawab, kepercayaan diri, kestabilan
dan ketahanan kerja.
Tipsnya:
Gambarlah orang tersebut secara utuh semua anggota tubuh di luar pakaian mulai
dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, termasuk detil muka seperti mata, hidung,
mulut dan telinga. Kalau gambar orang tidak kelihatan jarinya maka ada
kecenderungan bermasalah secara sosial (kemampuan adaptasinya kurang baik)
Gambarlah orang tersebut dalam keadaan sedang melakukan aktifitas, misalnya
pak tani sedang membawa cangkul, eksekutif muda sedang menenteng koper dsb.
Konon dengan melihat ekspresi wajah yang berhasil digambar oleh kita; ekspresi
dan detil wajah mampu menggambarkan sifat utama kita.
Gambar orang membelakangi/ tidak terlihat mukanya diartikan introvert, kurang
bisa menghadapi realitas, asocial
Contoh : Bila anda ingin menggambar petani yang sedang memegang cangkul,
berarti gambarnya harus laki-laki, usia biasanya sudah dewasa, sikapnya harus siap
berjuang di sawah, pakaiannya juga harus mencerminkan seorang petani
8. Test Menggambar Rumah, Pohon, dan Orang
Dalam test ini anda akan diberi kertas kosong dan diminta untuk menggambar
rumah, pohon, dan orang dalam satu obyek gambar, serta diminta untuk
mencantumkan aktivitas apa yang sedang terjadi pada gambar. Dari test ini akan
terlihat perbandingan tinggi dalam anda menggambar pohon, rumah, dan orang.
Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara anda menerapkan keserasian dalam
hubungan dengan orang lain yang kedudukkanya lebih tinggi dari anda.
Tipsnya :

Gambar orang tidak boleh lebih tinggi dari rumah, dan gambar rumah tidak boleh
lebih tinggi dari pohon (sesuai dengan kehidupan nyata to?)
Gambarlah suatu aktifitas yang dinamis, syukur-syukur dapat menggabungkan
ketiga komponen dalam suatu alur aktifitas yang sama
9. PAPI Kostick Test
PAPI Kostick adalah tes untuk menjabarkan kepribadian dalam 20 aspek yang
masing-masing mewakili need atau role tertentu, tinggi rendahnya need atau role
tertentu mempunyai arti yang spesifik (90 soal). Konfigurasi yang diperoleh adalah
gambaran dari pilihan testee yang bermuatan need atau role, dan dibandingkan
dengan need atau role lain dalam keseluruhan sistem kepribadian berdasarkan
persepsi testee atas dirinya sendiri. Anda akan disuruh memilih (melingkari) satu
dari dua pernyataan yang sama-sama menyenangkan atau sama-sama tidak
menyenangkannya. Ikon pemilihan jawaban bukan berupa huruf A dan B, tetapi
berupa simbol panah mendatar ( ) dan miring ke atas ( ) atau kebawah ( ).
Tipsnya :
Jawablah semua pertanyaan secara jujur dan santai. Bayangkanlah jawaban yang
akan dipilih saat anda dihadapkan pada pekerjaan atau profesi
Jawaban sebisa mungkin disinkronkan dengan jawaban pada Edwards Personal
Preference Schedule (EPPS) karena kemungkinan jawaban pada kedua test ini akan
dibandingkan
Seimbangkanlah jawaban-jawaban yang mengarah pada need dan role. Karena bila
terlalu memilih need, berarti anda adalah orang yang terlalu bebas dan tidak
mengindahkan aturan. Tetapi bila terlalu memilih jawaban role, berarti anda adalah
orang
yang
terlalu
kaku
dan
terpaku
pada
aturan.
Pada lembar jawab ada garis menyerong dari kanan atas menuju kiri bawah yang
membagi lembar jawab menjadi dua bagian, sebisa mungkin anda melingkari tanda
panah-tanda panah tersebut sesuai garis yang ada, karena kepribadian manusia
secara umum tercermin dalam jawaban-jawaban dari tanda panah yang
membentuk garis tersebut (ini asumsi pribadi penulis lho)
10. Edwards Personal Preference Schedule (EPPS)
Tes ini terdiri atas pilihan-pilihan jawaban yang paling mencerminkan diri anda
positif dan negative (225 soal). Mulai dari pertanyaan yang gampang sampe
pertanyaan yang aneh-aneh (jenis kepribadian yang kita sukai dan tidak sukai). Tes
ini dipergunakan untuk mengetahui seberapa besar motivasi, kebutuhan dan motif
seseorang.
Tipsnya:
Jawablah setiap pertanyaan dengan jujur sesuai dengan kondisi anda, setidaknya
yang paling mendekati, karena pertanyaan akan berulang di nomor-nomor
berikutnya, sehingga apabila jawaban anda tidak sinkron, hal ini akan merugikan
Anda. Kejujuran anda terkait dengan cerminan kesesuaian diri anda terhadap
lowongan pekerjaan yang anda lamar
Secara keseluruhan, tes EPPS ini memang paling sulit untuk di-adjustment (diakali),

namun setidaknya ada beberapa pertanyaan yang bisa di-adjustment untuk


disesuaikan dengan lowongan pekerjaan yang anda pilihan. Misalnya ketika anda
melamar menjadi pegawai Bank, pilihlah jawaban-jawaban yang mencerminkan
kejujuran, keteraturan, kedisiplinan dan mampu bekerja dalam teamwork
Karena sulitnya proses adjusment tehadap tes ini, jalan paling praktis yang dapat
ditempuh adalah memperbaiki diri (self improvement) anda dalam segala hal, setup
diri anda menjadi seakan-akan seseorang profesional dalam setiap tingkah laku
keseharian anda seperti: jujur, tepat janji, tanggung jawab dan disiplin. Karena
cerminan pola pikir dan tingkah laku positif diri anda, akan tertuang tanpa anda
sadari dalam hasil tes
Contoh soalnya:
A. Saya suka memuji orang yang saya kagumi
B. Saya ingin merasa bebas untuk melakukan apa saja yang saya kehendaki
A. Saya merasa bahwa dalam banyak hal saya kalah dibandingkan orang lain
B. Saya suka mengelakkan tanggung jawab dan kewajiban-kewajiban
11. Army Alpha Intelegence Test (AA)
Tes ini terdiri atas 12 soal yang berisi kombinasi deretan angka dan deretan bentuk.
Soal satu soal kadang terkait dengan soal sebelumya. Yang diukur dalam tes ini
adalah kemampuan daya tangkap Anda dalam menerima dan melaksanakan
instruksi dengan cepat dan tepat.
Tipsnya :
Konsentrasilah kepada apa yang dikatakan narator, karena narator tidak akan
mengulang instruksi tersebut dan waktu yang diberikan sangat terbatas
Sabar, jangan terburu menjawab, sebelum narator selesai memberikan instruksi
Contoh: Narator akan mediktekan soal sebagai berikut : Coretlah angka ganjil
dalam kotak dan coretlah angka genap yang berhuruf dalam lingkaran, kerjakan!
dan pada lembar jawaban akan diberikan gambar sebagai berikut:
12. Wawancara dalam Tes Psikologi (Psikotes)
Berbohong saat tes wawancara bukan hanya tak berguna, tapi juga bisa membuat
Anda tidak diterima. Lebih bijaksana bila pertanyaan dijawab apa adanya, spontan,
langsung ke pokok persoalan, tidak mengada-ada, tidak menggurui, dan sopan.
Padahal tinggal wawancara lo, kok gagal. Dulu juga begitu, selalu kandas di tahap
ini. Keluhan macam itu banyak kita dengar dari mereka yang tak lolos dalam
wawancara psikologi untuk melamar kerja. Sebuah kenyataan yang menyesakkan,
apalagi kebanyakan tahapan wawancara berada diakhir proses seleksi. Lolos di sini
berarti si calon diterima di tempat kerja yang baru.
Wawancara psikologi punya banyak makna. Ada beberapa versi, salah satunya,
menurut Bingham dan Moore, wawancara adalah conversation directed to define
purpose other than satisfaction in the conversation it self. Sedangkan menurut
Weiner, The term interview has a history of usage going back for centuries. It was

used normally to designate a face to face meeting of individual for a formal


conference on some point.
Dari kedua definisi itu didapatkan kondisi bahwa wawancara adalah pertemuan
tatap muka, dengan menggunakan cara lisan, dan mempunyai tujuan tertentu.
Jangan dibayangkan wawancara itu sama dengan interogasi karena tujuan
utamanya memang berbeda, meskipun sedikit serupa dalam hal menggali dan
mencocokkan data. Yang pasti, cara yang dipergunakan dalam kedua hal itu
berlainan.
Interogasi lebih menekankan pada tercapainya tujuan, dengan berbagai cara dan
akibat, baik secara halus maupun kasar. Posisi interogator lebih tinggi dan bebas
daripada yang diinterogasi, serta lebih langsung.
Bandingkan dengan wawancara psikologi, di mana kedudukan antara pewawancara
dan yang diwawancarai relatif setara. Kondisinya pun berbeda, karena tidak ada
penekanan serta tidak menggunakan kekuasaan. Bahkan dalam kondisi ekstrem,
seorang calon karyawan yang diwawancarai bisa saja tidak menjawab,
pewawancara pun tidak akan memaksa. Namun, hal itu tentu akan sangat
mempengaruhi penilaian dalam pengambilan keputusan seorang psikolog.
Cocok berbobot
Wawancara dalam tes psikologi (psikotes) sebenarnya satu paket dengan tes
tertulisnya. Tes ini bertujuan mencari orang yang cocok dan pas, baik dari tingkat
kecerdasan, serta sifat dan kepribadian. Istilah kerennya mendapatkan the right
man in the right place.
Dasar pemikiran lain kenapa perlu diadakan seleksi, yaitu adanya perbedaan
potensi yang dimiliki setiap individu. Perbedaan itu akan menentukan pula
perbedaan dalam pola pikir, tingkah laku, minat, serta pandangannya terhadap
sesuatu. Kondisi itu juga akan berpengaruh terhadap hasil kerja. Bisa jadi suatu
pekerjaan atau jabatan akan lebih berhasil bila dikerjakan oleh individu yang
mempunyai bakat serta kemampuan seperti yang dituntut oleh persyaratan dari
suatu pekerjaan atau jabatan itu sendiri.
Ada beberapa tujuan spesifik dari wawancara psikologi. Pertama, observasi. Dalam
hal ini calon karyawan dilihat dan dinilai. Mulai dari penampilan, sikap, cara
menjawab pertanyaan, postur tubuh terutama untuk pekerjaan yang memang
membutuhkannya, seperti tentara, polisi, satpam, dan pramugari. Penilaian juga
menyangkut bobot jawaban dan kelancaran dalam menjawab.
Demikian pula perilaku dan sikap-sikap yang akan muncul secara spontan bila
berada dalam situasi yang baru dan mungkin menegangkan. Misalnya, mata
berkedip-kedip atau memutar jari-jemari yang dilakukan tanpa sadar.
Dalam hal bobot jawaban, misalnya, si calon bisa dinilai apakah ia memberikan
jawaban yang dangkal atau tidak, atau malah berbelit-belit. Jawaban berupa Ingin
naik pesawat atau Ingin ke luar negeri merupakan contoh jawaban yang dinilai

dangkal
atas
pertanyaan
alasan
menjadi
pramugari.
Sedangkan kelancaran dalam menjawab biasanya dinilai dari berapa lama waktu
yang dibutuhkan oleh seorang calon karyawan untuk menjawab pertanyaan.
Dalam wawancara psikologi yang diperlukan sebenarnya jawaban spontan dan tidak
mengada-ada. Misalnya, apabila ditanya alamat, sebut saja alamat kita. Tidak usah
ditambah-tambahi atau malah berlagak sok pintar.
Tujuan berikutnya dalam tes wawancara adalah menggali data yang tidak
didapatkan dari tes tertulis. Misalnya, apakah istri bekerja, anak bersekolah di
mana, masih tinggal bersama orangtua atau tidak, serta apa judul skripsi dan
berapa nilai yang didapat.
Yang tidak kalah penting dalam mempengaruhi penilaian adalah kecocokan data.
Benarkah data yang ditulis oleh sang calon?
Atas dasar itu seorang psikolog sering melontarkan pertanyaan untuk menilai
tingkat pemahaman dan intelegensi si calon. Misalnya, calon mengaku
berpendidikan S2, maka diajukan pertanyaan yang sesuai dengan tingkat
pendidikan itu. Bila jawabannya kurang bermutu, dapat saja diambil kesimpulan
bahwa calon memiliki intelegensi yang kurang atau dianggap tidak serius selama
menjalani proses pendidikan.
Sering juga terjadi hasil tes tulis bagus, tapi hasil wawancaranya kurang
meyakinkan. Hal ini bisa terjadi karena mungkin ia telah beberapa kali mengikuti
psikotes atau pernah mengikuti bimbingan psikotes. Tes ulang dapat menjadi alat
untuk mengatasi keraguan itu.
Perhatikan juga cara berpakaian, sebaiknya sesuaikan dengan situasi dan suasana.
Misalnya, dalam wawancara untuk calon pramugari sebaiknya tidak mengenakan
pakaian yang tidak selayaknya, seperti celana panjang berbahan jins. Atau
menggunakan
sepatu
sandal,
meskipun
sedang
mode.
Kerapian dan kesopanan berpakaian juga dipertimbangkan. Misalnya, tidak
mengenakan kemeja yang lengan panjangnya dilipat, atau hanya mengenakan
kaus,
atau
kemeja
tidak
dimasukkan.
Sikap pun memberikan nilai penting. Yang dimaksud dengan sikap ialah bagaimana
si calon karyawan dapat menempatkan diri pada posisi yang tepat. Sebaiknya
bersikap wajar saja, tidak dibuat-buat, tetapi juga tidak tegang atau gugup.
Selain itu, biasanya dinilai pula kesopanan yang sesuai dengan norma. Misalnya,
tidak tampak menjilat, mengetuk pintu bila akan masuk ruangan, atau kalau belum
dipersilakan duduk, ya, jangan duduk dulu. Dalam menjawab pertanyaan tidak
bertele-tele, langsung pada inti masalah. Kemudian menjawab secara jujur, tidak
perlu ditutup-tutupi. Misalnya, pernah tidak naik kelas atau pernah gagal pada tes di
perusahaan lain.
Selain itu, dalam menjawab tidak usah menggurui, meskipun si calon sudah
memiliki pendidikan yang cukup tinggi, pengalaman cukup banyak, atau dari segi
usia
lebih
tua
daripada
si
pewawancara.
Jangan pula menjawab dengan sombong, misalnya mengaku sebagai atlet yang

sudah keliling ke banyak negara dan memiliki segudang prestasi. Bangga bolehboleh saja, tetapi kalau hasil psikologi tertulisnya kurang baik, tetap saja tidak lulus.
Yang tidak kalah penting, tidak usah bertanya. Meski merasa optimistis dengan hasil
tes tulis dan merasa bisa mengerjakan, calon tidak perlu bertanya mengenai
hasilnya. Pada dasarnya wawancara adalah tes juga sehingga hal ini akan
mempengaruhi penilaian. Selain itu, situasi yang dihadapi saat itu adalah situasi
tes, bukan konsultasi psikologi. Pertimbangkan pula banyak calon lain yang
menunggu.
Pemahaman yang lebih baik tentang wawancara psikologi akan membuat kita lebih
mudah mempersiapkan diri menghadapi jenis wawancara ini. Yang pasti,
wawancara psikologi tidak perlu ditakuti dan tidak bisa dibohongi.
Dalam konteks di atas, tidaklah mungkin seorang calon membohongi psikolog.
Riskan pula bila dia tidak menjawab dengan sebenarnya. Terbuka sudah
kepribadiannya yang tidak jujur, padahal kejujuran merupakan prasyarat penting
untuk perusahaan.
Pada wawancara untuk evaluasi karyawan atau promosi jabatan biasanya data
curiculum vitae (CV) dari instansi atau perusahaan sudah diberikan semua dari
Bagian
Personalia.
Manfaat lain wawancara adalah melengkapi data yang terlupakan atau tidak tertulis
secara lengkap. Misalnya, sudah pernah mengalami psikotes atau belum. Kalau
sudah, berapa kali? Untuk apa? Lulus atau tidak? Mungkin juga minat ataupun gaji
yang diinginkan. Yang terakhir, manfaat wawancara yaitu untuk membuat
keputusan.
Dari hasil pemeriksaan psikologi tertulis dan wawancara, dibuatlah kesimpulan,
apakah calon ini memenuhi syarat seperti job description yang diberikan oleh
perusahaan
atau
tidak.
Terkadang ada psikotes yang tidak menggunakan wawancara. Semua itu tergantung
tujuan pemeriksaan, ketersediaan data yang mungkin sudah lengkap, serta tidak
begitu mensyaratkan penampilan atau postur. Misalnya, bila yang diperlukan
operator komputer, yang penting dia bisa komputer dan inteligensinya cukup.
13. Learning By Doing
Pengalaman memang guru yang paling baik. Lakukan perbaikan-perbaikan secara
continue baik terhadap diri anda maupun terhadap kemampuan anda, di setiap
psikotes yang anda hadapi. Misalnya seperti : melatih diri terhadap
kesalahan/kesulitan yang dihadapi pada psikotes sebelumnya, membaca kembali
materi psikotes secara keseluruhan semalam sebelum menghadapi psikotes
(refreshment) dan mempersiapkan fisik sebaik-baiknya karena pada dasarnya
psikotes akan selalu Anda kerjakan dalam keadaan tegang dan tekanan. Karena
dengan mekanisme tersebut, psikotes bukan merupakan momok yang harus anda
hindari, namun anda akan lambat laun berteman dan akrab dengan psikotes.
Namun demikian, psikotes hanyalah merupakan suatu alat buatan manusia untuk
mengetahui kepribadian seseorang secara umum saja. Kesimpulan yang
dihasilkannya boleh jadi berbeda dengan kepribadian yang sesungguhnya. Hal ini

diakui oleh para psikolog sendiri bahwa tidak ada satu pun tes di jagad raya ini yang
benar-benar akurat dapat menilai kemampuan dan kepribadian seseorang.
Pada saat Anda menjalankan test ini pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana
para psikolog itu memeriksa hasil test ? Karena tulisan yang dibuat mungkin kecil,
berantakan, dan banyak. Ternyata dari informasi yang didapat dari buku, internet
dan orang-orang psikolog bahwa mereka mempunyai teknik tertentu dalam
memeriksa hasil test ini, yaitu dengan mengabaikan kolom-kolom tertentu dan
mengecek kolom-kolom tertentu juga.
Intinya adalah bahwa gagal lulus psikotes bukan berarti gagal segala-galanya. Jika
dinyatakan tidak lulus, berarti kita memang tidak memenuhi persyaratan yang
seharusnya dimiliki untuk melakukan pekerjaan tertentu menurut ukuran
perusahaan tersebut. Namun ukuran setiap perusahaan belum tentu sama. Ini
berarti kita dapat mencoba melamar pada perusahaan lain bukan? Namun kalau
berkali-kali gagal melamar untuk satu jenis pekerjaan, kemungkinan besar
pekerjaaan tersebut tidak cocok untuk kita. Karena itu sebaiknya di masa
mendatang
kita
harus
melamar
jenis
pekerjaan
yang
berbeda.
Mengapa gagal?
Banyak calon karyawan gagal dalam psikotes, termasuk di dalamnya wawancara.
Mengapa?
Sesungguhnya, hasil pemeriksaan psikologi bersifat rahasia, dalam arti tidak setiap
orang dapat menerjemahkan dalam bahasa sehari-hari. Jadi, yang berhak adalah
psikolog
yang
berkompeten.
Hal itu berbeda dengan tes kesehatan, di mana jenis kegagalan dapat disebutkan
dengan jelas dan biasanya dapat pula dilihat. Sementara hasil psikotes masih
merupakan data kasar berupa angka-angka sehingga perlu dijelaskan dalam bahasa
awam
oleh
psikolog,
untuk
dijadikan
data
kualitatif.
Pada dasarnya psikotes bukan ujian. Psikotes tidak mengukur prestasi melainkan
potensi dasar setiap individu. Dalam tes prestasi ada materi yang dapat dipelajari,
misalnya bahasa Inggris. Bila seseorang mendapat nilai B dalam pelajaran itu,
berarti
penguasaan
materi
Bahasa
Inggrisnya
baik.
Sedangkan psikotes mengukur potensi dasar yang dimiliki tiap individu. Seseorang
yang memang pada dasarnya cerdas, dites seperti apa pun tetap akan baik
hasilnya. Asalkan dia serius pada saat mengerjakan dan tidak terganggu
konsentrasinya
sehingga
dapat
bekerja
secara
optimal.
Untuk mengurangi risiko gagal, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Yang
pertama, penampilan fisik. Perhatikan dengan saksama apalagi bila profesi yang
akan dimasuki mensyaratkan penampilan menarik seperti pramugari, teller bank,
atau sekretaris. Sedangkan tentara/polisi lebih menitik-beratkan pada postur ideal
antara tinggi dan bobot badan, serta ada persyaratan minimal tinggi badan.
Umumnya, untuk memperoleh informasi penting dari calon karyawan digunakan
metode
FACT,
yaitu:
F: Feeling. Tentang apa yang dirasakan oleh orang itu. Ditanyakan minatnya,
gambaran pekerjaan, apakah juga sudah terbayang.
A: Action. Mengenai tindakan-tindakan apa yang telah dilakukan.
C: Condition. Kondisi/situasi/keadaan di mana kejadian itu berlangsung.

T: Thinking. Mengenai apa yang dipikirkan atau yang diinginkan oleh orang pada
saat itu.
Pemahaman yang lebih baik tentang wawancara psikologi akan membuat kita lebih
mudah mempersiapkan diri menghadapi jenis wawancara ini. Yang pasti,
wawancara psikologi tidak perlu ditakuti dan tidak bisa dibohongi.