Anda di halaman 1dari 52

WRAP UP

BLOK SARAF DAN PERILAKU


SKENARIO 3
SAKIT KEPALA MENAHUN

KELOMPOK A-16
KETUA

: Dita Evita Hersafitri

1102012069

SEKRETARIS

: Alifa Umami

1102012016

ANGGOTA

: Citra Nurul Aviandari

1102011067

Fazelia Berlianthi S

1102011103

Akbar Palmaesaza

1102012014

Alifia Amanda C

1102012017

Anum Sasmita

1102012025

Ilham Noeryosan

1102012119

Lia Taradipa

1102012143

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


2014/2015

SKENARIO 3

SAKIT KEPALA MENAHUN


Perempuan, 35 tahun berkonsultasi dengan dokter keluarga dengan keluhan sakit kepala berulang sejak 2 tahun
lalu. Sakit kepala seperti tertimpa beban berat dan nyeri pada tengkuknya. Sakit kepala ini disertai insomnia. Sakit
kepala berawal sejak pasien diceraikan oleh suaminya 2 tahun yang lalu dan harus berpisah dari kedua orang
anaknya. Oleh dokter pasien disarankan untuk berkonsultasi lebih lanjut ke neurolog dan psikiater. Neurolog
mengatakan bahwa pasien mengalami nyeri kepala tipe tegang , sedangkan psikiater menyimpulkan bahwa
pasien mengalami nyeri somatoform (psikogenik). Walaupun ia sudah bercerai, ia tetap bertanggung jawab untuk
membimbing anaknya sesuai dengan prinsip keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.

KATA SULIT

1. Nyeri somatoform : suatu kelompok gangguan ditandai oleh keluhan tentang masalah atau
symptom fisik yang tidak dapat dijelaskan oleh penyebab kerusakan fisik.
2. Insomnia : gangguan waktu tidur.
3. Nyeri kepala tipe tegang : serangan nyeri kepala berulang yang berlangsung dalam
beberapa menit sampai beberapa hari dengan nyeri berupa rasa tertekan, tidak dipicu
aktivitas.

PERTANYAAN

1. Apa hubungan antara perceraian pasien dengan penyakit yang dialami pasien?
Jawab :
Pasien mengalami gangguan cemas menyeluruh karena ada 2 kriteria yang mendukung :
insomnia dan nyeri kepala onsetnya > 6 bulan.
2. Apa penyebab insomnia?
Jawab :
- Stress
- Depresi
- Cemas
- Obat-obatan dan zat-zat kimia
3. Apa gejala insomnia dan berapa jenis insomnia?
Jawab :
Gejala : sulit tidur, bangun terlalu pagi, terlalu sering bangun.
Klasifikasi : primer (sulit tidur) dan sekunder (karena penyakit penyerta)
4. Apa saja klasifikasi nyeri kepala?
Jawab :
- Migraine
- Tension type headache
- Vertigo
5. Apa yang menyebabkan nyeri somatoform?
Jawab :
- Faktor biologis
- Faktor sosial
- Faktor perilaku
- Faktor emosi-kognitif
6. Mengapa pasien disarankan untuk konsultasi ke neurolog dan psikiater?
Jawab :
Neurolog : karena ada gangguan pada sistem saraf.
Psikiater : karena ada gangguan emosional.
7. Apa yang menyebabkan onset berulang pada nyeri kepala?
Jawab :
Karena stress masalah yang tidak terselesaikan.
8. Mengapa pasien bisa mengalami nyeri kepala?
Jawab :
Karena adanya rangsang pada traktus spinothalamicus lateralis.
9. Mengapa pasien merasakan nyeri pada tengkuknya?
Jawab :
3

Karena terjadi ketegangan otot pada tengkuk.


Karena pelebaran pembuluh darah dan kontraksi otot rangka kepala, leher, dan wajah.

10. Bagaimana penatalaksanaan untuk nyeri kepala?


Jawab :
1. Diberi AINS
2. Diberikan analgesik AINS + ajuvan (antidepressan, antikonvulsan)
3. Opiat lemah + AINS + ajuvan
4. Opiat kuat + AINS + ajuvan
11. Apa hukum Islam dalam hal membimbing anak?
Jawab :
Hukumnya wajib.
12. Pemeriksaan apa saja yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis?
Jawab :
Pemeriksaan pada nyeri somatoform : anamnesis, dan pemeriksaan lab.
Pemeriksaan pada TTH : anamnesis, dan tes distraksi.

HIPOTESIS

Permasalahan pasien seperti stress, depresi, cemas, obat-obatan, faktor biologis, faktor
sosial, faktor perilaku, dan faktor emosi kognitif menyebabkan timbulnya gejala psikis seperti
insomnia dan neurologis seperti nyeri kepala yang disebabkan rangsang pada traktus
spinothalamicus lateralis, sehingga dilakukan pemeriksaan psikis dan neurologis. Pasien
didiagnosis terkena TTH (Tension Type Headache) karena ada nyeri pada tengkuk dan gangguan
somatoform, kemudian diberikan tatalaksana berupa obat AINS, ajuvan, opiate lemah, dan kuat,
serta diberikan psikoterapi. Dalam agama Islam, hukum membimbing anak adalah wajib.

SASARAN BELAJAR

1. Memahami dan Menjelaskan Pusat dan Jaras Nyeri


2. Memahami dan Menjelaskan Gangguan Nyeri Kepala
2.1 Menjelaskan Definisi Nyeri Kepala
2.2 Menjelaskan Epidemiologi Nyeri Kepala
2.3 Menjelaskan Etiologi Nyeri Kepala
2.4 Menjelaskan Klasifikasi Nyeri Kepala
2.5 Menjelaskan Patofisiologi Nyeri Kepala
2.6 Menjelaskan Manifestasi Klinis Nyeri Kepala
2.7 Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Nyeri Kepala
2.8 Menjelaskan Penatalaksanaan Nyeri Kepala
2.9 Menjelaskan Komplikasi Nyeri Kepala
2.10
Menjelaskan Pencegahan Nyeri Kepala
2.11
Menjelaskan Prognosis Nyeri Kepala
3. Memahami dan Menjelaskan Gangguan Somatoform
3.1 Menjelaskan Definisi Gangguan Somatoform
3.2 Menjelaskan Epidemiologi Gangguan Somatoform
3.3 Menjelaskan Etiologi Gangguan Somatoform
3.4 Menjelaskan Klasifikasi Gangguan Somatoform
3.5 Menjelaskan Manifestasi Klinis Gangguan Somatoform
3.6 Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Gangguan Somatoform
3.7 Menjelaskan Penatalaksanaan Gangguan Somatoform
3.8 Menjelaskan Komplikasi Gangguan Somatoform
3.9 Menjelaskan Pencegahan Gangguan Somatoform
3.10
Menjelaskan Prognosis Gangguan Somatoform
4. Memahami dan Menjelaskan Cara Membina Keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan
Warahmah

SASARAN BELAJAR

1. Memahami dan Menjelaskan Pusat dan Jaras Nyeri


Jaras spesifik Nyeri

Traktus spinotalamikus Lateralis


o Axon dari neiron orde pertama (ganglion spinalis) memasuki ujung cornu posterius
substantia grissea medulla spinalis dan segera bercabang menjadi serabut yang naik
dan yang turun.
o Sesudah memasuiki satu atau dua segmen medulla spinalis membentuk tractus
posterolateral (lissaueri) , serabut ini segera bersinapsis dengan neuron orde kedua
yang terletak pada kelompok sel substantia gelatinosa cornu posterius.
o Axon dari neuron orde kedua berjalan menyilang garis tengah pada comissura
anterior substantia grissea dam substantia alba kemudian naik keatas pada sisi kontra
lateral sebagai anterius. Sewaktu berjalan keatas, serabut saraf baru terus bertambah
sesuai dengan banyaknya segmen medulla spinalis, demikian rupa sehingga pada
bagian atas cervical terdapat :
Serabut sraf yang datang dari sacral terletak posterolateral
Serabut saraf yang datang dari cervical terletak anteromedial (serebut saraf yang
menghantarkan rasa sakit terletak didepan yang menghantarkan sensasi suhu)
o Pada Medulla oblongata tractus tersebut terletak pada dataran lateral antara nucleus
olivarius inferius dengan nucleus tractus spinalis N.Trigeminus. disini ia bergabung
dengan
Tractus spinothalamicus anterius
Tractus spinotectalis

Yang kemudian gabungan dari ketiganya disebut lemniscus spinalis


o Pada pons kemudian naik keatas dibagian belakang pons
o Pada mesencephalon kemudian lemniscus medialis berjalan pada tegmentum , lateralis
dari lemniscus medialis
o Pada diencephalon serabut saraf dari tractus spinothalamicus lateralis akan bersinapsis
dengan neuron orde ketiga yaitu nucleus posterolateral dari keolompok ventral thalamus
(bagian dari nucleus lateralis thalamus), dimana disini akan terjadi penilaian kasar sensasi
sakit dan suhu dan reaksi emosi mulai timbul.
o Axon dari neuron orde ketiga jalan memasuki crus posterior capsula interna dan corona
radiata untuk berakhi pada gyrus postcentralis (brodmann 3 2 1) . dari sini informasi rasa
sakit dan suhu akan diteruskan ke area motorik dan area asosiasi di cortex lobus
parietalis.
o Cortex cerevri gyrus psotcentralis berfungsi untuk menafsirkan suhu dan sakit sehingga
akan muncul kesadaran terkait sensasi tersbut.
o Pembagian secara fisiologis
Sewaktu memasuki medulla spinalis , sinyal rasa nyeri melewati dua jalur ke otak yaitu:

Traktus neospinotalamikus
Traktus neospinotalamisu bergfungsi utnuk menyalurkan nyeri secara cepat.
Terutama terdiri atas serabut A-Delta yang tyerutama dilalui oleh rasa nyeri mekanik
dan nyeri suhu akut. Serabut perifer jalur ini berakhir pada lamina I kornu dorsalis.
Dan dari sini akan merangsang neuron orde dua dari tractus neospinotalamicus.
Neuron ini akan mengirimkan sinyal ke serabut panjang yang terletak di dekat sisi
lain medulla spinalis dalam komisura anterior dan selanjutnya berbelok naik ke otak
dalam kolumna anterolateralis.
Hanya sebagian kecil saja serabut neopinotalamikus berakhir di daerah retikularis
batang otak, sisaya melewati batang otak dan langsung berakir di kompleks
ventrobasal thalami.
Nyeri cepat dapat dilokalisasi dengan mudah di dalam tubuh
Neurotransmiter A delta umumnya adalah glutamate

Traktus paleospinotalamikus
Jalur ini befungsi untuk menjalarkan nyeri lambat-kronik , sebagian serabutnya
adalah tipe C, sebagian kecil A-delta. Dalam jaras ini, serabut-serabut perifer
berakhri pada lamina II dan II kornu dorsalis yang secara bersama-sama disebut
substansi gelatinosa, serabut C terletak lebih lateral dari A-delta. Setelah itu akan
berlanjut ke lamina V dan neuron-neuronnya merangsang akson-akson panjang (yang
juga menjadi penghantar nyeri cepat) yang mula-mula melewati komisura anterior ke
sisi berlawanan dari medulla spinalis ,kemudian naik ke otak melalui jaras
anterolateral
Neotransmiter nya adalah glutamat dan Substansi P, substansi P bersifat lebih lambat
dari Glutamat yang memungkinkan glutamat untuk sampai terlebih dahulu. Yang
menjelaskan suatu fenomena rasa sakit ganda
Jaras paleospinotalamikus berakhir kebanyakan di
o Nucleus retikularis medula, pons dan mesensefalon
o Area tektal mesensefalon sampai kolukulus usperior dan inferior
o Daerah periakuaduktus substansia grisea yang mengelilingi aquaductus sylvii
Kemampuan lokalisasi rasa nyeri pada jalur lambat sangatlah buruk dan kebanyakan
hanya dapat dilokalisasi di bagian tubuh yang luas
Formasio retikularis berfungsi untuk menimbulkan persepsio nyeri yang disadari

Mekanisme penghantaran nyeri


Rasa nyeri merupakan suatu mekanisme perlindungan, yang dicetuskan oleh suatu
kerusakan jaringan, yang akan memnyebabkan individu untuk bereaksi memindahkan
stimulus nyeri.
8

Rasa nyari dapat dibagi atas

Rasa nyeri cepat


o Rasa nyeri tertusuk, tajam, akut, dan tersetrum
Rasa nyeri lambat
o Rasa nyeri terbakar lambat, pegal, berdenyut, mual dan kronik. Rasa nyeri
ini umumnya dikaitkan dengan kerusakan jaringan.

Reseptor nyeri
Reseptor nyeri merupakan ujung saraf bebas, terdapat tiga jenis stimulasi yang dapat
merangsanganya yaitu rangsang mekanis, suhu dan kimiawi. Pada umumnya rasa nyeri cepat
diakibatkan mekanik dan suhu, sedangkan rasa lambat diakibatkan stimulan kimia
Reseptor nyeri memiliki sedikit sekali kemampuan untuk beradaptasi , dan bahkan pada
beberapa keadaan dapat terjadi peningkatan intesitas rasa nyeri yang disebut hiperalgesia .
intensitas rasa nyeri juga berhubungan erat dengan derajat kerusakan jaringan. Ada beberapa
stimulus terkait kerusakan jaringan (bukan secara langsung, dapat timbul sebagai adanya
kerusakan jaringan) yang dapat menyebabkan nyeri

Bradikinin dari jaringan rusak yang memnyebabkan pelepasan enzim proteolitik dan
menyerang langsung ujung saraf dengan membuat saraf lebih permeabel terhadap ion-ion
Asam laktat yang terakumulasi sebagai akibat dari iskemia

Apapun bentuknya, pada nantinya hal tersebut akan menyebabkan perubahan permeabilitas
neurong sehingga dapat terjadi suatu potensial aksi dengan perpindahan ion-ion yang timbul.
2. Memahami dan Menjelaskan Gangguan Nyeri Kepala
2.1 Menjelaskan Definisi Nyeri Kepala
Nyeri kepala adalah rasa sakit atau tidak nyaman antara orbita dengan kepala yang
berasal dari struktur sensitif terhadap rasa sakit (Kenneth, 2004). Struktur cranium yang
peka nyeri kepala adalah semua jaringan ekstrakranium, termasuk kulit kepala, otot, arteri,
dan periosteum tengkorak; sinus kranialis; sinus vena intrakranium dan vena-vena
cabangnya; bagian dari dura di dasar otak dan arteri di dalam dura; dan nervus kranialis
trigeminus, fasialis, vagus, dan glosofaringeus serta nrvus cervicalis ( C2 dan C3).
Apabila nyeri kepala melibatkan struktur-struktur di daerah infratentorium, nyeri
tersebut dari daerah oksipitalis kepala dan leher oleh akar saraf cervical atas. Nyeri
supratentorium dirasakan di bagian anterior kepala (daerah oksipital, temporalis, dan
parietalis) dan terutama diperantai oleh nervus trigeminus.
2.2 Menjelaskan Epidemiologi Nyeri Kepala

Prevalensi migren adalah 18,2% diantaranya wanita dan 6,5% pria, dengan 23% rumah
tangga memiliki paling sedikit 1 anggotanya yang mengidap migren. Sebelum usia 12 tahun
migren lebih sering terjadi pada anak laki-laki, namun setelah pubertas migren sering
dijumpai pada perempuan dengan rasio 2:1.
Faktor resiko terjadinya sakit kepala adalah gaya hidup, kondisi penyakit, jenis
kelamin, umur, pemberian histamin atau nitrogliserin sublingual dan faktor genetik.
Prevalensi sakit kepala di USA menunjukkan 1 dari 6 orang (16,54%) atau 45 juta orang
menderita sakit kepala kronik dan 20 juta dari 45 juta tersebut merupakan wanita. 75 % dari
jumlah di atas adalah tipe tension headache yang berdampak pada menurunnya konsentrasi
belajar dan bekerja sebanyak 62,7 %. Menurut IHS, migren sering terjadi pada pria dengan
usia 12 tahun sedangkan pada wanita, migren sering terjadi pada usia besar dari 12 tahun.
IHS juga mengemukakan cluster headaache 80 90 % terjadi pada pria dan prevalensi
sakit kepala akan meningkat setelah umur 15 tahun.
2.3 Menjelaskan Etiologi Nyeri Kepala
Sebagian besar nyeri kepala terjadi karena tegangan (kontraksi otot) dapat disebabkan oleh

Stress emosional, kelelahan, menstruasi, rangsangan dari lingkungan (bunyi berisik,


kerumunan banyak orang, cahaya yang terang).
Keadaan lain yang dapat menjadi penyebab: glaukoma, inflamasi pada mata atau
mukosa nasal atau sinus paranasal, penyakit pada kulit kepala, gigi, arteri ekstrakranial,
pemakaian obat-obat vasodilator (nitrat, alkohol dan histamin), penyakit sistemik,
hipertensi, peningkatan tekanan intracranial, trauma/tumor kepala, perdarahan, abses
atau aneurisma intrakranial.

Nyeri kepala dapat dibagi kepada tiga kelompok berdasarkan onsetnya yaitu :

Nyeri kepala akut ini biasanya disebabkan oleh subarachnoid haemorrhage, penyakitpenyakit serebrovaskular, meningitis atau encephalitis dan juga ocular disease. Selain
itu, nyeri kepala ini juga bisa timbul disebabkan kejang, lumbar punksi dan karena
hipertensi ensefalopati.
Bagi nyeri kepala subakut, nyerinya biasa timbul karena giant cell arteritis, massa
intrakranial, neuralgia trigeminal, neuralgia glossofaringeal dan hipertensi.
Nyeri kronik timbul karena migren, nyeri kepala klaster, nyeri kepala tipetegang,
cervical spine disease, sinusitis dan dental disease.

Dalam buku Disease of the Nervous System , dinyatakan bahwa nyeri kepala juga
disebabkan oleh penyakit pada tulang kranium, neuritis dan neuralgia, irritasi meningeal, lesi
di intracranial, trauma dan penurunan tekanan intracranial.
Sakit kepala bisa disebabkan oleh kelainan: (1) vaskular, (2) jaringan saraf, (3) gigi - geligi,
(4) orbita, (5) hidung dan (6) sinus paranasal, (7) jaringan lunak dikepala, kulit, jaringan
subkutan, otot, dan periosteum kepala. Selain kelainan yangtelah disebutkan diatas, sakit
kepala dapat disebabkan oleh stress dan perubahanlokasi (cuaca, tekanan, dll.).
a. Intrakranial
10

1.Inflamasi
Meningismus
Meningitis
Ensefalitis
Poliomielitis
Malaria
Abses Serebral
ArtritisKrania
2.Non-Inflamasi
Migrain
Nyeri Kepala Kluster
Gegar Otak
Perdarahan Ekstra Dural
Perdarahan Subdural
Perdarahan Subarakhnoid
Stroke
Neoplasma
Hipertensi Benigna Intrakranial

2.4 Menjelaskan Klasifikasi Nyeri Kepala


Nyeri kepala menurut The International Headache Society (IHS-2) 2004 dibagi atas 2
golongan besar yaitu
Nyeri kepala primer
Nyeri kepala primer merupakan nyeri kepala dimana tidak dijumpai kelainan
patologis pada organ, dan nyeri kepala terjadi murni karena faktor intrinsic
Pembagian nyeri kepala primer adalah migren, nyeri kepala kluster, nyeri kepala
tipe tension, serta nyeri kepala akibat sebab yang lain, seperti setelah berolahraga,
hypnic headache dan lain-lain.
a. Migraine
Migraine adalah headache primer yang sering menyebabkan disabilitas.
Menurut WHO, migraine adalah penyakit ke-19 yang menyebabkan disabilitas.
Migraine dibagi menjadi 2 subtipe yaitu:
o Migraine tanpa aura
Nama lain : common migraine/hemicrania simplex
Kriteria diagnosis :
Minimal 5 serangan memenuhi syarat criteria B-D
Serangan headache berlangsung 4-72 jam (tidak diterapi atau gagal
diterapi)
Headache dengan minimal 2 karakteristik berikut .
1. Lokasi unilateral,
2. Kualitas pulsating,
3. Intensitas moderate atau severe,

11

4. Memberat dengan atau menyebabkan menghindari aktivitas fisik


(e.g. berjalan, naik tangga)
Selama headache minimal ada 1 tanda berikut.
1. Nausea dan/atau vomiting,
2. Photophobia dan phonophobia
Tidak masuk kategori lain.

o Migraine dengan aura


Nama lain : opthalmoplegic migraine/ classic migraine/ hemiparesthetic
migrain/ hemiplegic atau aphasic migraine/ migraine accompagnee/
complicated migraine
Deskripsi : kelainan rekuren yang termanifestasi berupa serangan gejala
neurologis fokal reversible yang biasanya muncul gradual 5-20 menit dan
berlangsung <60 menit.
kriteria diagnosis :
Minimal 2 serangan memenuhi kriteria B
Migraine aura memenuhi kriteria :
1. Aura berupa 1 dari berikut (bukan kelemahan otot)
Gejala visual yang fully reversible bentuk positif (kerlip
cahaya. bintik, garis) atau bentuk negative (loss of vision)
Gejala sensoris yang fully reversible bentuk positif (rasa
tertusuk jarum) atau bentuk negative (kebas)
Gangguan bicara disfasik yang fully reversible
2. Minimal 2 dari berikut
Gejala visual homonym dan/atau gejala sensoris unilateral
Minimal 2 gejala aura muncul gradual >5menit
Berlangsung > 5 menit dan <60 menit
Tidak masuk kategori lain
Sub sub type :
Typical aura dengan migraine headache
Typical aura dengan non-migrain headache
Typical aura tanpa headache
Familial hemiplegic migraine (FHM)
Hemiplgic migraine sporadic
Migraine tipe basilar
b.

Tension-type headache (TTH)


Nama lain : tension headache, muscle contraction headache, psychomyogenic
headache, stress headache, ordinary headache, essential headache, idiopathic
headache, psychogenic headache
Kriteria diagnosis :
12

Minimal 10 episode terjadi dengan frekuensi tergantung sub sub-tipe


masing-masing dan memenuhi criteria B-D
Headache berlangsung dari 30 menit sampai 7 hari
Headache dengan 2 ciri berikut :
1. Lokasi bilateral
2. Kualitasnya pressing/thinghting (non-pulsating)
3. Intensitas tergantung sub-subtipe
4. Tidak diperparah oleh aktivitas fisik rutin seperti jalan atau naik
tangga
Ada 2 ciri berikut
1. Tidak ada nausea atau vomiting (bisa ada anorexia)
2. Tidak >1 photophobia atau phonophobia

Ada 2 sub-subtipe yaitu yang diperberat dengan manual palpasi pericranial &
yang tidak. Berikut ini klasifikasi dari TTH. Setiap macam ini harus memenuhi
criteria diagnosis TTH diatas dulu kecuali keterangan yang disampaikan di
bawahnya.
Infrequent episodic tension-type headache
1. Setiap episode terjadi < 1 hari/bulan rata-rata (<12 hari/tahun)
2. Intensitas moderat sampai severe
Frequent episodic tension-type headache
1. Setiap episode terjadi >1 tapi <15 hari/bulan selama minimal 3 bulan
(>12 dan <180 hari/tahun)
2. Intensitas mild sampai moderate
Chronic tension-type headache
1. Setiap episode terjadi >15 hari/bulan selama minimal 3 bulan (>180
hari/tahun)
2. Intensitas mild sampai moderat
3. Berlangsung dalam beberapa jam atau bisa berlanjut
Probable tension-type headache
1. Memenuhi criteria tension type headache tapi kurang salah satu ciri
wajibnya
c.

Cluster headache and other trigeminal autonomic cephalalgia


Nama lain: hemicranias continua, cilliary neuralgia, erythro-melalgia of the
head, erythroprosopalgia of Bing, hemicranias angioparalitica, hemicranias
neuralgiformis chronica, histaminic cephalalgia, Hartons headache, HarrisHartons headache, petrosal neuralgia (of Gardner), migranous neuralgia (of
Harris).
Kriteria diagnosis
Headache berlangsung minimal 5 serangan memenuhi criteria B-D
Nyeri orbital, supraorbital dan atau temporal yang severe atau very
severe berlangsung 15-180 menit tanpa terapi
Ada minimal 1 tanda berikut:
13

d.

1. Injeksi konjungtiva ipsilateral dan atau lakrimasi


2. Kongesti nasal ipsilateral dan atau rhinorrhea
3. Edema kelopak mata ipsilateral
4. Keringat facial & dahi ipsilateral
5. Miosis dan atau ptosis ipsilateral
6. Rasa restlessness atau agitasi
Serangan berfrekuensi dari 1 perhari sampai 8 kali/hari
Disebut episodic kalau minimal periode antara 2 headache berlangsung
dalam 7-365 hari dan ada periode remisi bebas nyeri antara serangan >1
bulan. Kalau rekurensi >1 tahun tanpa periode remisi atau periode remisi
<1 bulan maka disebut kronis.

Other primary headache


Primary stabbing headache
Primary cough headache
Primary exertional headache
Primary headache associated with sexual activity (preorgasmic &
orgasmic headache)
Hypnic headache
Primary thunderclap headache
Hemicranias continua
New daily persistent headache (NDPH)

Nyeri kepala sekunder


Pada nyeri kepala sekunder dijumpai kelainan pada organ.
Nyeri kepala sekunder dibagi berdasarkan penyebabnya, seperti nyeri kepala akibat
trauma kepala, penyakit vaskular, infeksi susunan saraf pusat, tumor dan gangguan
metabolik.
Sub sub tipenya :
Headache karena trauma kepala dan leher (post traumatic headache akut &
kronis, whiplash injury, traumatic intracranial hematom, post craniotomy)
Headache karena kelainan vascular cranial atau cervical (iskemik stroke/TIA,
nontraumatic intracranial hemorrhage, malformasi vascular unruptur, arteritis,
nyeri arteri carotis/vertebral, thrombosis vena)
Headache karena kelainan intracranial non vascular (tekanan CSF
tinggi/rendah, inflamasi non infeksi, neoplasma intracranial, injeksi intratechal,
epileptic seizure, chiari malformation)
Headache karena substansi atau withdrawalnya (acute substance use,
medication overuse, advers event dari medikasi kronis, withdrawal substansi)
Headache karena infeksi (infeksi intracranial, infeksi sistemik, HIV/AIDS, post
infeksi)

14

Headache karena gangguan homoeostasis (hipoksia, hipercapnea, dialysis,


hipertensi arteri, hipotiroid, puasa, cardiac cephalalgia)
Headache atau nyeri facial karena kelainan cranium, leher, mata, telinga, sinus,
hidung, gigi, mulut atau struktur cranial lainnya (disorser tulang cranial, mata,
telinga. Rhinosinus, gigi rahang, TMJ)
Headache karena kelainan psikiatrik (somatisasi, psikotik)

Klasifikasi Nyeri
Nyeri dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria antara lain :

Klasifikasi nyeri berdasarkan waktu, dibagi menjadi nyeri akut dan nyeri kronis
1. Nyeri Akut adalah Nyeri yang terjadi secara tiba-tiba dan terjadinya singkat
contoh nyeri trauma
2. Nyeri Kronis adalah nyeri yang terjadi atau dialami sudah lama contoh kanker
Klasifikasi nyeri berdasarkan Tempat terjadinya nyeri
1. Nyeri Somatik adalah Nyeri yang dirasakan hanya pada tempat terjadinya
kerusakan atau gangguan, bersifat tajam, mudah dilihat dan mudah ditangani,
contoh Nyeri karena tertusuk
2. Nyeri Visceral adalah nyeri yang terkait kerusakan organ dalam, contoh nyeri
karena trauma di hati atau paru-paru.
3. Nyeri Reperred : nyeri yang dirasakan jauh dari lokasi nyeri, contoh nyeri
angina.
Klasifikasi Nyeri Berdasarkan Persepsi Nyeri
1. Nyeri Nosiseptis adalah Nyeri yang kerusakan jaringannya jelas
2. Nyeri neuropatik adalah nyeri yang kerusakan jaringan tidak jelas.

2.5 Menjelaskan Patofisiologi Nyeri Kepala


Beberapa mekanisme umum yang tampaknya bertanggung jawab memicu nyeri kepala
adalah sebagai berikut(Lance,2000) : (1) peregangan atau pergeseran pembuluh darah;
intrakranium atau ekstrakranium, (2) traksi pembuluh darah, (3) kontraksi otot kepala dan
leher ( kerja berlebihan otot), (3) peregangan periosteum (nyeri lokal), (4) degenerasi spina

15

servikalis atas disertai kompresi pada akar nervus servikalis (misalnya, arteritis vertebra
servikalis), defisiensi enkefalin (peptida otak mirip- opiat, bahan aktif pada endorfin).
2.6 Menjelaskan Manifestasi Klinis Nyeri Kepala
Selama serangan migrain, fungsi fisiologik terganggu:

Gangguan pemprosesan sensorik menyebabkan disfungsi penglihatan dan


pendengaran (fotofobia dan fonofobia).
Gangguan motilitas GI dapat menyebabkan mual dan muntah serta kesulitan
mengkonsumsi obat antimigren oral.
Gangguan autonom dapat menimbulkan berbagai gejala seperti diare.
Gangguan serebrum dapat menyebabkan perubahan kognitif dan suasana hati.

Tipe
Tanda dan Gejala
Migrain tanpa aura ( migrain biasa)
Durasi 4 sampai 72 jam apabila tidak Gejala prodromal yang meliputi rasa lelah,
diobati
nausea, vomitus, dan ketidakseimbangan
cairan yang mendahului serangan sakit
kepala.
16

Sensitive terhadap cahaya dan bunyi


berisik.
Nyeri tipe sakit kepala (rasa pegal atau
nyeri berdenyut yang bias unilateral atau
bilateral).
Migrain dengan aura (klasik)
Biasanya
terjadi
pada
kepribadian
kompulsif.

Migrain hemiplegik dan oftalmoplegik


Biasanya terjadi pada dewasa muda

Migrain arteri basilaris


Terjadi pada wanita muda periode haid

Gejala prodromal yang meliputi gangguan


penglihatan seperti penampakan garis zig
zag dan cahaya yang terang, gangguan
sensorik (kesemutan pada wajah, bibir serta
tangan), gangguan motorik.
Sakit kepala yang periodik dan rekuren.
Nyeri unilateral
Kelumpuhan otot ekstraokuler (N. cranial
III) dan psitosis.
Migrain hemiplegic terdapat gangguan
neurologi (hemiparesis, hemiplagia) yang
dapat bertahan meskipun sakit kepala
sudah mereda.
Gejala prodromal yang meliputi gangguan
penglihatan parsial dengan keluhan vertigo,
ataksia, tinnitus, kesemutan jari-jari tangan
serta kaki.
Nyeri kepala yang berupa nyeri berdenyut
di daerah oksipital dn vomitus.

Membedakan Nyeri Kepala


Jenis atau Penyebab
Ketegangan otot

Migren

Ciri Khas
Sakit kepala sering terjadi, nyeri hilang
timbul, tidak terlalu berat dan dirasakan
di kepala bagian depan dan belakang
atau dirasakan kekakuan menyeluruh.
Nyeri dimulai di dalam dan di sekitar
mata atau pelipis, menyebar ke satu atau
kedua sisi kepala, biasanya mengenai
seluruh kepala, berdenyut dan disertai
dengan hilangnya nafsu makan, mual
dan muntah.
Serangannya singkat (sekitar 1 jam),
dirasakan di satu sisi kepala, serangan

Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan
untuk
menyingkirkan penyakit fisik
serta penilaian faktor psikis
& kepribadian.
Jika diagnosisnya masih
meragukan dan sakit kepala
baru terjadi, dilakukan CT
scan atau MRI/diberikan obat
migren
untuk
melihat
efeknya.
Obat migren diberikan untuk
melihat
efeknya
17

Nyeri Kepala
Cluster

Hipertensi

Kelainan
mata
(iritis, glaukoma).

Kelainan sinus

Tumor otak

Infeksi otak

Meningitis

Hematoma
subdural

terjadi secara periodik, menyerang pria


yang disertai dengan pembengkakan
mata, hidung meler & mata berair pada
sisi yang sama dengan nyeri.
Nyerinya berdenyut dan dirasakan di
kepala bagian belakang atau di puncak
kepala.
Nyeri dirasakan di kepala bagian depan
atau di dalam dan di seluruh mata,
bersifat sedang sampai berat dan
seringkali memburuk jika mata dalam
keadaan lelah.
Nyeri bersifat akut atau subakut,
dirasakan di kepala bagian depan,
bersifat tumpul atau berat, biasanya
memburuk di pagi hari, membaik di
siang hari dan memburuk dalam
keadaan dingin atau lembab.
Nyeri hilang-timbul, bersifat ringan
sampai berat, dirasakan di satu titik atau
di seluruh kepala. Kelemahan di salah
satu sisi tubuh semakin meningkat,
kejang,
gangguan
penglihatan,
kemampuan berbicara hilang, muntah
dan perubahan mental.
Nyeri hilang-timbul, bersifat ringan
sampai berat, dirasakan di satu titik atau
di seluruh kepala. Sebelumnya penderita
pernah mengalami infeksi telinga, sinus
atau paru-paru, penyakit jantung rematik
atau penyakit jantung bawaan.
Nyeri baru dirasakan, menetap, berat
dan dirasakan di seluruh kepala serta
menjalar ke leher. Sakit disertai demam,
muntah dan sebelumnya mengalami
nyeri
tenggorokan
atau
infeksi
pernafasan dan leher sulit ditekuk.
Nyeri hilang-timbul atau terus menerus,
bersifat ringan sampai berat, bisa
dirasakan di satu titik atau di seluruh
kepala, menjalar ke leher. Biasanya
sebelumnya telah terjadi cedera pada
penderita yang disertai penurunan

(sumatriptan, metisergid/obat
vasokonstriktor,
kortikosteroid,indometasin)
atau menghirup O2.
Analisa kimia darah dan
pemeriksaan ginjal.
Pemeriksaan mata.

Rontgen sinus

MRI atau CT scan

MRI atau CT scan

Pemeriksaan darah, pungsi


lumbal.

MRI atau CT scan.

18

Perdarahan
subaracnoid
Sifilis,
tuberculosis,
kriptococcus,
kanker.

kesadaran.
Nyeri baru dirasakan, menyebar, hebat
dan menetap, kadang dirasakan di dalam
dan di sekitar mata, kelopak mata turun.
Nyeri bersifat tumpul sampai berat dan
dirasakan di seluruh kepala atau di
puncak kepala, menderita demam meski
tidak terlalu tinggi dan terdapat riwayat
sifilis,
tuberkulosis,
kriptokokosis,
sarkoidosis atau kanker pada pasien.

MRI atau CT scan, jika


hasilnya
negatif
maka
dilakukan pungsi lumbal.
Pungsi lumbal.

2.7 Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Nyeri Kepala

1.

2.

3.

4.
5.

1.
2.
3.
4.

Amanmesis
Pertanyaan umum pada anamnesa keluhan nyeri kepala:
Apakah nyeri kepala itu merupakan nyeri kepala biasa?
Istilah biasa disini berarti nyeri kepala yang terjadi kadang-kadang tanpa sebab yang jelas
dan lazim diderita banyak orang. Namun kemungkinan adanya gangguan biokimiawi dibalik
nyeri tersebut juga tidak dapat disingkirkan.
Apakah pasien pernah mengalami gangguan cedera kepala yang terjadi segera, beberapa
minggu bahkan beberapa bulan sebelum timbulnya nyeri kepala untuk pertama kali?
Nyeri kepala semacam ini bisa merupakan suatu gejala sisa setelah seseorang mengalami
kontusio cerebri atau perdarahan subdural.
Apakah disertai gejala demam?
Jika ya, penyebabnya harus dipikirkan. Pada penyakit-penyakit infeksi tertentu, terutama
demam tifoid dan infeksi yang disebabkan oleh arbovirus, nyeri kepala dapat dirasakan
sangat hebat sehingga menutupi keluhan demamnya.
Bagaimana pasien menjelaskan nyeri kepala (lokasi, frekuensi, waktu, durasi, kualitas,
faktor pemicu, faktor pereda)?
Apakah nyeri kepala timbul tersendiri atau disertai kelainan lain (mual, muntah, pusing,
fotofobia, penglihatan kabur)?
Pertanyaan diagnostik spesifik:
Apakah nyeri kepala menggangu kehidupan anda?
Apakah ada perubahan pola nyeri kepala selama 6 bulan terakhir?
Seberapa sering anda mengalami nyeri kepala tipe apapun?
Seberapa sering anda menggunakan obat untuk mengatasi nyeri kepala?
Kriteria diagnostik Migrain Tanpa Aura
Sekurang-kurangnya terjadi 5 serangan.
Serangan nyeri kepala berlangsung selama 4-72 jam (tidak diobati atau tidak berhasil
diobati).
Nyeri kepala mempunyai sedikitnya 2 diantara karakteristik berikut:
1. Lokasi unilateral
2. Kualitas berdenyut
19

1.
2.
3.
4.
5.

3. Intensitas nyeri sedang atau berat


4. Keadaan bertambah berat oleh aktifitas fisik atau pasien menghindari aktivitas fisik rutin
(seperti berjalan atau naik tangga).
Selama nyeri kepala disertai salah satu dibawah ini:
1. Nausea dan atau muntah
2. Fotofobia dan fonofobia.
Tidak berkaitan dengan kelainan yang lain.
Kriteria diagnostik Migrain dengan Aura
Sekurang-kurangnya terjadi 2 serangan.
Minimal memenuhi 3 dari 4 kriteria berikut ini :
1. Satu atau lebih gejala aura yang reversibel yang mengindikasikan gejala fokal kortikal
atau disfungsi batang otak.
2. Minimal gejala aura muncul secara gradual dalam waktu > 4 menit.
3. Gejala aura tidak berlangsung dalam waktu > 60 menit.
4. Sakit kepala yang diikuti dengan aura disertai interval 60 menit.
Tidak dijumpai adanya kelainan organik.
Kriteria diagnostik Tension type headache
Minimal ada 10 serangan nyeri kepala dengan frekuensi < 15 x/bulan atau < 180 x/tahun.
Nyeri kepala berlangsung dari 30 menit 7 hari.
Minimal ada 2 kriteria nyeri sebagai berikut :
1. Rasa seperti ditekan/berat di kepala (non pulsating, tidak berdenyut).
2. Intensitas nyeri ringan sedang.
3. Lokasi bilateral.
4. Tidak teragregasi oleh aktifitas fisik.
Tidak dijumpai nausea, vomitus, photophobia, phonophobia jarang dijumpai.
Pemeriksaan penunjang
Foto Rontgen kepala.
Elektroenchelpalograph/Elektro Enselo Grafi (EEG).
CT-SCAN.
Arteriografi, Brain Scan Nuklir.
Pemeriksaan laboratorium (tidak rutin atas indikasi).
Pemeriksaaan psikologi (jarang dilakukan)
2.8 Menjelaskan Penatalaksanaan Nyeri Kepala
Sasaran penatalaksanaan tergantung lama dan intensitas nyeri, gejala penyerta, derajat
disabilitas serta respon awal dari pengobatan dan mungkin pula ditemukan penyakit lain
seperti epilepsi, ansietas, stroke, infark miokard. Karena itu harus hati-hati memberikan
obat. Bila ada gejala mual/muntah, obat diberikan rektal, nasal, subkutan atau intra vena.
Tatalaksana pengobatan migren dapat dibagi kepada 4 kategori
a. Langkah umum
20

b. Terapi abortif
c. Langkah menghilangkan rasa nyeri
d. Terapi preventif
A. Langkah Umum
Perlu menghindari pencetus nyeri, seperti perubahan pola tidur, makanan, stres dan rutinitas
sehari-hari, cahaya terang, kelap kelip, perubahan cuaca, berada ditempat yang tinggi seperti
gunung atau di pesawat udara.
B. Terapi Abortif
Pada serangan ringan sampai sedang atau serangan berat. Analgesik ringan aspirin (drug of
choice). Bila tidak respon terhadap NSAIDs, dipakai obat spesifik. seperti: Triptans
(naratriptans, rizatriptan, sumatriptan, zolmitriptan), Dihydro ergotamin (DHE), obat
kombinasi (aspirin dengan asetaminophen dan kafein), obat golongan ergotamin.
Tabel obat spesifik
Jenis obat
1. Ergotamin

2. Caffeine
Ergotamine

plus

3. Dihydroergotamine
(DHE)

Triptans
1. Sumatriptan

Dosis : 1-2 mg oral/jam, maksimal 3 dosis sehari,


gunakan dosis efektif terkecil.
Suppos : 1 mg, dosis maks, 2-3/ hr dan 12/bulan
Kontra indikasi : pengguna triptans, hamil,
menyusui, hipertensi, sepsis, coronary, cerebral,
peripheral vascular disease.
Adverse react: Increased incidence of migraines,
daily headaches, tachycardia,arterial spasm,
numbness and tingling, vomiting, diarrhea,
dizziness, abdominal cramps.
Dosis: 2 tablet (100 mg caffeine/1mg ergot) pada
saat onset, kemudian 1 tab tiap 30 menit, dapat naik
sampai 6 tab.(jangan lebih
10 tab/minggu nya).
Suppos (2 mg ergot/100 mg caff).
Dosis: 1 mg IM, SC Max initial dose: 0.5 to 1.0 mg;
dapat diulang tiap jam sampai dosis max 3 mg IM
atau 2 mg IV per hari, dan 6 mg per minggu.
Intranasal: 0.5-mg spray pada tiap nostril, dosis
maksimal 4 spray (2 mg) per hari.
Dosis: 6 mg SC, dapat diulang dalam 1 jam, dosis
maksimal 12 mg/hr. 25 -100 mg oral /2 jam, dosis
maks: 200 mg/hari
Max initial dose: 100 mg.
Intranasal: 5 -10 mg (1-2 spray) pada satu nostril;
21

dapat diulang sesudah 2 jam, dosis maksimal 40


mg/hari.
Kontraindikasi : Ergotamine, hemiplegic atau basilar
migraine, hamil, gangguan fungsi hepar, CAD,
MAOI
Adverse react : vomiting, vertigo, headache, chest
pressure and heaviness.
2. Naratriptan
Dosis: 1.0 - 2.5 mg ooral/4 jam, dosis max 5 mg per
hari.
Kontra indikasi : Ergot-type medications,
kontrasepsi oral, merokok, CAD.
Adverse react : Dizziness, nausea, fatigue.
3. Rizatriptan
Dosis: 5 - 20 mg oral/2jam, dosis maks 30 mg per
hari.
Kontra indikasi : Ergot-type medications, other
triptans, propranolol, cimetidine, CAD
Adverse react : Tachycardia, throat tightness.
4. Zolmitriptan
Dosis: 2.5-5.0 mg oral/2 jam, dosis maks 10 mg per
hari.
Kontra indikasi: Ergot-type medications, other
triptans, CAD.
C. Langkah Menghilangkan Rasa Nyeri
Terapi abortif mungkin belum mengatasi nyeri secara komplit, dibutuhkan analgesik
NSAIDs. Obat OTCs yang direkomendasikan FDA ialah kombinasi aspirin 250 mg,
acetaminophen 250 mg dan caffein 65 mg. Ketoralac tromethamin non narcotic, non
habituating dapat dipakai, efek sampingnya minim, dosis 60 mg i.m.
Analgesik narkotik, antiemetik, pheno-tyhiazines, dan kompres dingin bisa mengurangi
nyeri. Analgesik narkotik (codein, meperidine HCL , methadone HCL) diberikan parenteral,
efektif menghilangkan nyeri. Anti emetik diberikan parenteral atau suppositoria (phenergan,
chlopromazine dan prochlorperazine) mempunyai efek sedatif dan anti mual. Transnasal
butorphanol tartrate diberikan parenteral. Pemberian nasal efektif karena sifat mukosa
hidung lebih cepat mengabsorbsi.
D. Terapi preventif
Prinsip umum terapi preventif :
Mengurangi frekuensi berat dan lamanya serangan.
Meningkatkan respon pasien terhadap pengobatan.
Meningkatkan aktivitas sehari-hari, serta pengurangan disabilitas.
Formula Prevensi Migren.

Pemakaian obat: dosis rendah yang efektif dinaikkan pelan-pelan sampai dosis efektif.
Efek klinik tercapai setelah 2-3 bulan.

22

Pendidikan terhadap penderita: teratur memakai obat, perlu diskusi rasional tentang
pengobatan, efek samping.
Evaluasi : Headache diary merupakan suatu gold standart evaluasi serangan,
frekuensi, lama, beratnya serangan, disabilitas dan respon obat.
Kondisi penyakit lain : pedulikan kelainan yang sedang diderita seperti stroke, infark
myocard, epilepsi dan ansietas, penderita hamil (efek teratogenik), hati-hati interaksi
obat-obat.

Tabel Obat profilaksis Migren


Jenis Obat
-blokers
Atenolol
Metaprolol
Nadolol
Propanolol
Calcium
channel
blockers
Flunarizine
Verapamil
Serotonin
receptor
antagonists
Methysergide
Pizotyline
(pizotifen)
Tricyclic
analgesics
Amitriptiline
Nortriptiline

Anti-epileptik
Divalproex
Sodium
valproate
Valproic acid

Gabapentin

Dosis

Efek Samping

Kontraindikasi

50-150mg/hr
100-200 mg/hr
20-160 mg/hr
40-240 mg/hr

Fatigue, bronchospasm,
bradikardi, hipotensi,
depresi, congestive heart
failure, impotensi,
gangguan tidur.

Pasien asma, DM,


peny.vaskuler
perifer, heart block,
ibu hamil.

5-10 mg/hr
240-320 mg/hr

Fatigue, depresi,
bradikardi, hipotensi,
konstipasi, nausea,
edema.

ibu hamil,
hipertensi, aritmia.

Retroperitoneal,cardiac
and
pulmonary fibrosis
Weight gain, Fatigue.

hipertensi,
kehamilan,
tromboflebitis.

10-150 mg
10-150 mg

Mulut kering, konstipasi,


weight gain, drowsiness,
reduced seizure
threshold,
cardiovascular effects.

kelainan liver,
ginjal, paru,
jantung,
glaukoma,
hipertensi.

500-1500
mg/d
500-1500
mg/d
500-1500
mg/d
900-1800

Nausea, tremor, weight


gain,
alopecia, increased liver
enzyme levels.

2 mg
(max8mg/hr)
0.5 mg (max
3-6 mg/hr)

Dizzines, fatique, ataxia,


23

mg/hr (max
2400)

nausea, tremor.

Tatalaksana Nyeri Kepala Tension

Terapi Non-farmakologi
Melakukan latihan peregangan leher atau otot bahu sedikitnya 20 sampai 30 menit.
Perubahan posisi tidur.
Pernafasan dengan diafragma atau metode relaksasi otot yang lain.
Penyesuaian lingkungan kerja maupun rumah.
Pencahayaan yang tepat untuk membaca, bekerja, menggunakan komputer, atau saat
menonton televisi.
Hindari eksposur terus-menerus pada suara keras dan bising.
Hindari suhu rendah pada saat tidur pada malam hari.
Terapi farmakologi
Menggunakan analgesik atau analgesik plus ajuvan sesuai tingkat nyeri. Seperti obat-obat
OTC: aspirin, acetaminophen, ibuprofen atau naproxen sodium. Produk kombinasi dengan
kafein dapat meningkatkan efek analgesik.
Untuk sakit kepala kronis, perlu assesment yang lebih teliti mengenai penyebabnya,
misalnya karena anxietas atau depresi.
Pilihan obatnya adalah antidepresan, seperti amitriptilin atau antidepresan lainnya. Hindari
penggunaan analgesik secara kronis memicu rebound headache.
Tatalaksana Cluster headache
Sasaran terapi : menghilangkan nyeri (terapi abortif), mencegah serangan (profilaksis).
Strategi terapi : menggunakan obat NSAID, vasokonstriktor cerebral.
- Obat terapi abortif: oksigen, ergotamin, sumatriptan (dosis sama dengan dosis migren).
- Obat terapi profilaksis: verapamil, litium, ergotamin, metisergid, kortikosteroid, topiramat.
2.9 Menjelaskan Komplikasi Nyeri Kepala
Komplikasi TTH adalah rebound headache yaitu nyeri kepala yang disebabkan oleh
penggunaan obat - obatan analgesia seperti aspirin, asetaminofen, dllyang berlebihan.
Tension type headache episodik dapat berkembang menjadi tipe kronik, dan depresi akibat
gejalanya dapat terjadi sebagai suatu komplikasi pada pasien. Komplikasi Migren adalah
rebound headache, nyeri kepala yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan analgesia
seperti aspirin, asetaminofen, dll yang berlebihan.
2.10

Menjelaskan Pencegahan Nyeri Kepala

24

Pencegahan nyeri kepala adalah dengan mengubah pola hidup dengan cara mengatur
pola tidur yang sama setiap hari, berolahraga secara rutin, makan makanan sehat dan teratur,
kurangi stress, menghindari pemicu nyeri kepala yang telah diketahui.
2.11 Menjelaskan Prognosis Nyeri Kepala
Prognosis nyeri kepala bergantung pada jenis sakit kepalanya sedangkan indikasi merujuk
keadaan :
1. Sakit kepala yang tiba-tiba dan timbul kekakuan di leher,
2. Sakit kepala dengan demam dan kehilangan kesadaran,
3. Sakit kepala setelah terkena trauma mekanik pada kepala,
4. Sakit kepala disertai sakit pada bagian mata dan telinga,
5. Sakit kepala yang menetap pada pasien yang sebelumnya tidak pernah mengalami
serangan,
6. Sakit kepala yang rekuren pada anak.
E. Memahami dan Menjelaskan Gangguan Somatoform
3.1 Menjelaskan Definisi Gangguan Somatoform
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik
(sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan
medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan
penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien
untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan
somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu
penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah
tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.
Gambaran yang penting dari gangguan somatoform adalah adanya gejala fisik, dimana
tidak ada kelainan organik atau mekanisme fisiologik. Dan untuk hal tersebut terdapat bukti
positif atau perkiraan yang kuat bahwa gejala tersebut terkait dengan adanya faktor
psikologis atau konflik. Karena gejala tak spesifik dari beberapa sistem organ dapat terjadi
pada penderita anxietas maupun penderita somatoform disorder, diagnosis anxietas sering
disalah diagnosiskan menjadi somatoform disorder, begitu pula sebaliknya. Adanya
somatoform disorder, tidak menyebabkan diagnosis anxietas menjadi hilang.
Pada DSM-IV ada 4 kategori penting dari somatoform disorder, yaitu hipokhondriasis,
gangguan somatisasi, gangguan konversi dan gangguan nyeri somatoform (Iskandar Y,
2009).
Pada gangguan ini sering kali terlihat adanya perilaku mencari perhatian (histrionik),
terutama pada pasien yang kesal karena tidak berhasil membujuk dokternya untuk menerima
bahwa keluhannya memang penyakit fisik dan bahwa perlu adanya pemeriksaan fisik yang
lebih lanjut.
3.2 Menjelaskan Epidemiologi Gangguan Somatoform
25

Prevalensi migren adalah 18,2% diantaranya wanita dan 6,5% pria, dengan 23% rumah
tangga memiliki paling sedikit 1 anggotanya yang mengidap migren. Sebelum usia 12 tahun
migren lebih sering terjadi pada anak laki-laki, namun setelah pubertas migren sering
dijumpai pada perempuan dengan rasio 2:1.
Pada nyeri kepala cluster lebih sering pada laki-laki (80% s/d 90%). Dalam sebuah
studi, nyeri kepala cluster memiliki insidensi 1/25 kali dibandingkan dengan nyeri migren.
90% keluhan nyeri kepala bersifat vaskuler, timbul karena kontraksi otot atau kombinasi
keduanya; 10% yang lain terjadi karena gangguan intracranial, sistemik ataupun psikologis.
Gaya hidup, kondisi penyakit, jenis kelamin, umur, pemberian histamin atau nitrogliserin
sublingual dan faktor genetik berpengaruh terjadinya nyeri kepala.
3.3 Menjelaskan Etiologi Gangguan Somatoform
Gangguan Somatisasi : Substitusi instiktual yang direpresi, pengajaran parental, kondisi
rumah tidak stabil, penyiksaan fisik, penurunan metabolisme lobus frontalis dan hemisfer
nondominan, genetika, regulasi abnormal sitokin.
Gangguan Konversi : Represi konflik intrapsikis bawah sadar dan konversi kecemasan ke
dalam suatu gejala psikis, hipometabolisme hemisfer dominan, hipermetabolisme hemisfer
nondominan, gangguan komunikasi hemisferik.
Hipokondriasis : Mis-interpretasi gejala-gejala tubuh, model belajar sosial, varian gangguan
depresif dan kecemasan, harapan agresif dan permusuhan terhadap orang lain.
Gangguan Dismorfik Tubuh : Melibatkan metabolisme serotonin, pengaruh kultural dan
sosial.
Gangguan Nyeri : Ekspresi simbolik intrapsikis melalui tubuh (aleksitimia), perilaku sakit,
manipulasi untuk mendapat keuntungan hubungan interpersonal, melibatkan serotonin,
defisiensi endorfin.Terdapat faktor psikososial berupa konflik psikologis di bawah sadar
yang mempunyai tujuan tertentu. Pada beberapa kasus ditemukan faktor genetik dalam
transmisi gangguan ini. Selain itu, dihubungkan pula dengan adanya penurunan metabolism
(hipometabolisme) suatu zat tertentu di lobus frontalis dan hemisfer non dominan.
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab dikelompokkan sebagai berikut (Nevid dkk,
2005) :
a. Faktor-faktor Biologis
Faktor ini berhubungan dengan kemungkinan pengaruh genetis (biasanya pada
gangguan somatisasi).
b. Faktor Lingkungan Sosial
Sosialisasi terhadap wanita pada peran yang lebih bergantung, seperti peran sakit
yang dapat diekspresikan dalam bentuk gangguan somatoform.
c. Faktor Perilaku
Pada faktor perilaku ini, penyebab ganda yang terlibat adalah:
26

i. Terbebas dari tanggung jawab yang biasa atau lari atau menghindar dari situasi
yang tidak nyaman atau menyebabkan kecemasan (keuntungan sekunder).
ii. Adanya perhatian untuk menampilkan peran sakit
iii. Perilaku kompulsif yang diasosiasikan dengan hipokondriasis atau gangguan
dismorfik tubuh dapat secara sebagian membebaskan kecemasan yang
diasosiasikan dengan keterpakuan pada kekhawatiran akan kesehatan atau
kerusakan fisik yang dipersepsikan.
d. Faktor Emosi dan Kognitif
Pada faktor penyebab yang berhubungan dengan emosi dan kognitif, penyebab ganda
yang terlibat adalah sebagai berikut:
i. Salah interpretasi dari perubahan tubuh atau simtom fisik sebagai tanda dari adanya
penyakit serius (hipokondriasis).
ii. Dalam teori Freudian tradisional, energi psikis yang terpotong dari impulsimpuls
yang tidak dapat diterima dikonversikan ke dalam simtom fisik (gangguan
konversi).
iii. Menyalahkan kinerja buruk dari kesehatan yang menurun mungkin merupakan
suatu strategi self-handicaping (hipokondriasis).
3.4 Menjelaskan Klasifikasi Gangguan Somatoform
Gangguan Somatoform berdasarkan PPDGJ III dibagi menjadi :
gangguan somatisasi
gangguan somatoform tak terperinci
gangguan hipokondriasis
disfungsi otonomik somatoform
gangguan nyeri somatoform menetap
gangguan somatoform lainnya
gangguan somatoform yang tidak tergolongkan
DSM-IV, ada tujuh kelompok, lima sama dengan klasifikasi awal dari PPDGJ ditambah
dengan gangguan konversi, dan gangguan dismorfik tubuh.
Pada bagian psikiatri, gangguan yang sering ditemukan di klinik adalah gangguan
somatisasi dan hipokondriasis.
Gangguan Somatisasi
Definisi
Gangguan somatisasi (somatization disorder) dicirikan dengan keluhan somatik yang
beragam dan berulang yang bermula sebelum usia 30 tahun (namun biasanya pada usia
remaja), bertahan paling tidak selama beberapa tahun, dan berakibat antara menuntut
perhatian medis atau mengalami hendaya yang berarti dalam memenuhi peran sosial atau
pekerjaan.
Keluhan-keluhan yang diutarakan biasanya mencakup sistim-sistim organ yang berbeda
seperti nyeri yang samar dan tidak dapat didefinisikan, problem menstruasi/seksual, orgasme
terhambat, penyakit-penyakit neurologik, gastrointestinal, genitourinaria, kardiopulmonar,
27

pergantian status kesadaran yang sulit ditandai dan lain sebagainya. Jarang dalam setahun
berlalu tanpa munculnya beberapa keluhan fisik yang mengawali kunjungan ke dokter.
Orang dengan gangguan somatisasi adalah orang yang sangat sering memanfaatkan
pelayanan medis. Keluhan-keluhannya tidak dapat dijelaskan oleh penyebab fisik atau
melebihi apa yang dapat diharapkan dari suatu masalah fisik yang diketahui. Keluhan
tersebut juga tampak meragukan atau dibesar-besarkan, dan orang itu sering kali menerima
perawatan medis dari sejumlah dokter, terkadang pada saat yang sama.
Etiologi
Belum diketahui. Teori yang ada yaitu teori belajar, terjadi karena individu belajar untuk
mensomatisasikan dirinya untuk mengekspresikan keinginan dan kebutuhan akan perhatian
dari keluarga dan orang lain
-

Epidemiologi
Wanita : pria = 10 :1, bermula pada masa remaja atau dewasa muda
Rasio tertinggi usia 20- 30 tahun
Pasien dengan riwayat keluarga pernah menderita gangguan somatoform (berisiko 10-20
kali lebih besar dibanding yang tidak ada riwayat)
Gangguan Somatoform Tak Terinci
Etiologi
Tidak diketahui
Epidemiologi
Bervariasi, di USA 10%-12% terjadi pada usia dewasa dan 20 % menyerang wanita.
Gangguan Hipokondrik
Definisi
Hipokondriasis adalah keterpakuan (preokupasi) pada ketakutan menderita, atau
keyakinan bahwa seseorang memiliki penyakit medis yang serius, meski tidak ada dasar
medis untuk keluhan yang dapat ditemukan. Berbeda dengan gangguan somatisasi dimana
pasien biasanya meminta pengobatan terhadap penyakitnya yang seringkali menyebabkan
terjadinya penyalahgunaan obat, maka pada gangguan hipokondrik pasien malah takut untuk
makan obat karena dikira dapat menambah keparahan dari sakitnya.
Ciri utama dari hipokondriasis adalah fokus atau ketakutan bahwa simptom fisik yang
dialami seseorang merupakan akibat dari suatu penyakit serius yang mendasarinya, seperti
kanker atau masalah jantung. Rasa takut tetap ada meskipun telah diyakinkan secara medis
bahwa ketakutan itu tidak berdasar. Gangguan ini paling sering muncul antara usia 20 dan
30 tahun, meski dapat terjadi di usia berapapun.
Orang dengan hipokondriasis tidak secara sadar berpura-pura akan simptom fisiknya.
Mereka umumnya mengalami ketidaknyamanan fisik, seringkali melibatkan sistem
pencernaan atau campuran antara rasa sakit dan nyeri. Berbeda dengan gangguan konversi
yang biasanya ditemukan sikap ketidakpedulian terhadap simptom yang muncul, orang
dengan hipokondriasis sangat peduli, bahkan benar-benar terlalu peduli pada simptom dan
hal-hal yang mungkin mewakili apa yang ia takutkan.

28

Pada gangguan ini, orang menjadi sangat sensitif terhadap perubahan ringan dalam
sensasi fisik, seperti sedikit perubahan dalam detak jantung dan sedikit sakit serta nyeri.
Padahal kecemasan akan simptom fisik dapat menimbulkan sensasi fisik itu sendiri,
misalnya keringat berlebihan dan pusing, bahkan pingsan. Mereka memiliki lebih lanjut
kekhawatiran akan kesehatan, lebih banyak simptom psikiatrik, dan mempersepsikan
kesehatan yang lebih buruk daripada orang lain. Sebagian besar juga memiliki gangguan
psikologis lain, terutama depresi mayor dan gangguan kecemasan.
Etiologi
Masih belum jelas
Epidemiologi
Biasanya terjadi pada usia dewasa, rasio antara wanita dan pria sama
Gangguan Nyeri Somatoform Menetap
Definisi
Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan
faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis. Pasien sering
wanita yang merasa mengalami nyeri yang penyebabnya tidak dapat ditemukan. Munculnya
secara tiba-tiba, biasanya setelah suatu stres dan dapat hilang dalam beberapa hari atau
berlangsung bertahun-tahun. Biasanya disertai penyakit organik yang walaupun demikian
tidak dapat menerangkan secara adekuat keparahan nyerinya (Tomb, 2004).
Individu yang merasakan nyeri akibat gangguan fisik, menunjukkan lokasi rasa nyeri
yang dialaminya dengan lebih spesifik, lebih detail dalam memberikan gambaran sensoris
dari rasa nyeri yang dialaminya, dan menjelaskan situasi dimana rasa nyeri yang dirasakan
menjadi lebih sakit atau lebih berkurang (Adler et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).
Sedangkan pada nyeri somatoform, pasien malah bertindak sebaliknya.
Etiologi
Tidak diketahui
Epidemiologi
Terjadi pada semua tingkatan usia, di USA 10-15% pasien datang dengan keluhan nyeri
punggung.
Gangguan Konvensi
Definisi
Adalah suatu tipe gangguan somatoform yang ditandai oleh kehilangan atau kendala
dalam fungsi fisik, namun tidak ada penyebab organis yang jelas. Gangguan ini dinamakan
konversi karena adanya keyakinan psikodinamika bahwa gangguan tersebut mencerminkan
penyaluran, atau konversi, dari energi seksual atau agresif yang direpresikan ke simptom
fisik. Simptom-simptom itu tidak dibuat secara sengaja atau yang disebut malingering.
Simptom fisik biasanya muncul tiba-tiba dalam situasi yang penuh tekanan. Tangan seorang
tentara dapat menjadi lumpuh saat pertempuran yang hebat, misalnya.
29

Dinamakan gangguan konversi karena adanya keyakinan psikodinamika bahwa


gangguan tersebut mencerminkan penyaluran, atau konversi, dari energi seksual atau agresif
yang direpresikan ke simptom fisik. Gangguan ini sebelumnya disebut neurosis histerikal
atau histeria dan memainkan peranan penting dalam perkembangan psikoanalisis Freud.
Menurut DSM, simptom konversi menyerupai kondisi neurologis atau medis umum
yang melibatkan masalah dengan fungsi motorik (gerakan) yang volunter atau fungsi
sensoris. Beberapa pola simptom yang klasik melibatkan kelumpuhan, epilepsi, masalah
dalam koordinasi, kebutaan, dan tunnel vision (hanya bisa melihat apa yang berada tepat di
depan mata), kehilangan indra pendengaran atau penciuman, atau kehilangan rasa pada
anggota badan (anastesi).
Simptom-simptom tubuh yang ditemukan dalam gangguan konversi sering kali tidak
sesuai dengan kondisi medis yang mengacu. Misalnya konversi epilepsi, tidak seperti pasien
epilepsi yang sebenarnya, dapat mempertahankan kontrol pembuangan saat kambuh;
konversi kebutaan, orang yang penglihatannya seharusnya mengalami hendaya dapat
berjalan ke kantor dokter tanpa membentur mebel; orang yang menjadi tidak mampu
berdiri atau berjalan di lain pihak dapat melakukan gerakan kaki lainnya secara normal.
-

Etiologi
Teori psikoanalisis, (1895/1982), Breuer dan freud: disebabkan ketika seseorang mengalami
peristiwa yang menimbulkan peningkatan emosi yang besar, namun afeknya tidak dapat
diekspresikan dan ingatan tentang peristiwa tersebut dihilangkan dari kesadaran.
Teori behavioral, Ullman & Krasner (dalam Davidson, Neale, Kring, 2004), terjadi karena
individu mengadopsi simptom untuk mencapai suatu tujuan. Individu berusaha untuk
berperilaku sesuai dengan pandangan mereka mengenai bagaimana seseorang dengan
penyakit yang mempengaruhi kemampuan motorik atau sensorik, akan bereaksi.
Epidemiologi
Terjadi pada 11-500 per 100.000 penduduk. Biasanya terjadi pada usia anak-anak (akhir)
hingga dewasa (awal). Jarang terjadi sebelum usia 10 tahun dan setelah 35 tahun
Gangguan Dismorfik Tubuh
Definisi
Gangguan dismorfik tubuh (body dismorphic disorder) ditandai oleh kepercayaan palsu
atau persepsi yang berlebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat. Orang dengan
gangguan ini terpaku pada kerusakan fisik yang dibayangkan atau dibesar-besarkan dalam
hal penampilan mereka. Mereka dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk
memeriksakan diri di depan cermin dan mengambil tindakan yang ekstrem untuk mencoba
memperbaiki kerusakan yang dipersepsikan, seperti menjalani operasi plastik yang tidak
dibutuhkan, menarik diri secara sosial atau bahkan diam di rumah saja, sampai pada pikiranpikiran untuk bunuh diri. Orang dengan gangguan dismorfik tubuh sering menunjukkan pola
berdandan atau mencuci, atau menata rambut secara kompulsif, dalam rangka mengoreksi
kerusakan yang dipersepsikan. Contoh lain, seseorang merasa wajahnya seperti piringan,
terlalu rata, sehingga tidak mau difoto. Mereka dapat melakukan apa saja untuk
memperbaiki keadaan yang rusak tersebut.
Pada gangguan dismorfik tubuh, individu diliputi dengan bayangan mengenai
kekurangan dalam penampilan fisik mereka. Membuatnya bisa berlama-lama berkaca di
30

depan cermin memandang bentuk tubuh yang dianggapnya kurang, sering pasien
mendatangi spesialis bedah dan kecantikan.
Etiologi
Tidak Diketahui

Epidemiologi
Muncul kebanyakan pada wanita, biasanya dimulai pada akhir masa remaja, dan
biasanya berkaitan dengan depresi, fobia sosial, gangguan kepribadian (Phillips & McElroy,
2000; Veale et al.,1996 dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).
3.5 Menjelaskan Manifestasi Klinis Gangguan Somatoform
Manifestasi klinis gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang
berulang disertai permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti
hasilnya negatif dan juga telah dijelaskan dokter bahwa tidak ada kelainan yang mendasari
keluhannya (Kapita Selekta, 2001). Beberapa orang biasanya mengeluhkan masalah dalam
bernafas atau menelan, atau ada yang menekan di dalam tenggorokan. Masalah-masalah
seperti ini dapat merefleksikan aktivitas yang berlebihan dari cabang simpatis sistem
saraf otonomik, yang dapat dihubungkan dengan kecemasan. Kadang kala, sejumlah
simptom muncul dalam bentuk yang lebih tidak biasa, seperti kelumpuhan pada tangan atau
kaki yang tidak konsisten dengan kerja sistem saraf. Dalam kasus-kasus lain, juga dapat
ditemukan manifestasi di mana seseorang berfokus pada keyakinan bahwa mereka menderita
penyakit yang serius, namun tidak ada bukti abnormalitas fisik yang dapat ditemukan
(Nevid, 2005).
Pada gangguan ini sering kali terlihat adanya perilaku mencari perhatian (histrionik),
terutama pada pasien yang kesal karena tidak berhasil membujuk dokternya untuk menerima
bahwa keluhannya memang penyakit fisik dan bahwa perlu adanya pemeriksaan fisik yang
lebih lanjut (PPDGJ III, 2003).
Gambaran keluhan gejala somatoform
Neuropsikiatri: kedua bagian dari otak saya tidak dapat berfungsi dengan baik ; saya
tidak dapat menyebutkan benda di sekitar rumah ketika ditanya
Kardiopulmonal: jantung saya terasa berdebar debar. Saya kira saya akan mati
Gastrointestinal: saya pernah dirawat karena sakit maag dan kandung empedu dan belum
ada dokter yang dapat menyembuhkannya
Genitourinaria:saya mengalami kesulitan dalam mengontrol BAK, sudah dilakukan
pemeriksaan namun tidak di temukan apa-apa
Musculoskeletal: saya telah belajar untuk hidup dalam kelemahan dan kelelahan sepanjang
waktu
Sensoris: pandangan saya kabur seperti berkabut, tetapi dokter mengatakan kacamata
tidak akan membantu

31

Beberapa tipe utama dari gangguan somatoform adalah gangguan konversi,


hipokondriasis, gangguan dismorfik tubuh, dan gangguan somatisasi (PPDGJ, 2003)
Gangguan somatisasi
1. Adanya beberapa keluhan fisik (multiple symptom) yang berulang, dimana ketika
diperiksa secara fisik/medis, tidak ditemukan adanya kelainan tetapi ia tetap kontinyu
memeriksakan diri.
2. Gangguan tidak muncul karena penggunaan obat. Keluhan yang umumnya, misalnya
sakit kepala, sakit perut, sakit dada, mestruasi tidak teratur.
3. Pasien menunjukkan keluhan dengan cara histrionik, berlebihan, seakan tersiksa/merana.
4. Berulang kali memeriksa diri ke dokter, kadang menggunakan berbagai obat, dirawat di
RS bahkan dilakukan operasi.
5. Sering ditemukan masalah perilaku atau hubungan personal seperti kesulitan dalam
pernikahan.
Gangguan konversi
1. Kondisi dimana panca indera atau otot-otot tidak berfungsi walaupun secara fisiologis,
pada sistem saraf atau organ-organ tubuh tersebut tidak terdapat gangguan/kelainan.
2. Secara fisiologis, orang normal dapat mengalami sebagian atau kelumpuhan total pada
tangan, lengan, atau gangguan koordinasi, kulit rasanya gatal atau seperti ditusuk-tusuk,
ketidakpekaan terhadap nyeri atau hilangnya kemampuan untuk merasakan sensasi
(anastesi), kelumpuhan, kebutaan, tidak dapat mendengar, tidak dapat membau, suara
hanya berbisik, dll.
3. Biasanya muncul tiba-tiba dalam keadaan stres, adanya usaha individu untuk
menghindari beberapa aktivitas atau tanggungjawab.
4. Konsep Freud: energi dari insting yang di refleks berbalik menyerang dan menghambat
fungsi saluran sensorimotor.
5. Kecemasan dan konflik psikologik diyakini diubah dalam bentuk simptom fisik.
Hipokondriasis
1. Meyakini/ketakutan atau pikiran yang berlebihan dan menetap bahwa dirinya memiliki
suatu penyakit fisik yang serius.
2. Adanya reaksi fisik yang berlebihan terhadap sensasi fisik/tubuh (salah interpretasi
terhadap gejala fisik yang dialaminya), misalnya otot kaku, pusing/sakit kepala, berdebardebar, kelelahan.
3. Melakukan banyak tes lab, menggunakan banyak obat, memeriksakan diri ke banyak
dokter atau RS.
4. Keyakinan ini terus berlanjut, tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dokter,
walaupun hasil pemeriksaan medis tidak menunjukkan adanya penyakit dan sudah
diyakinkan.
5. Keyakinan ini menyebabkan adanya distress atau hambatan dalam fungsi sosial,
pekerjaan atau aspek penting lainnya.
Gangguan dimorfik tubuh
1. Keyakinan akan adanya masalah dengan penampilan atau melebih-lebihkan kekurangan
dalam hal penampilan (misalnya : keriput di wajah, bentuk atau ukuran tubuh).
32

2. Keyakinan/perhatian berlebihan ini meyebabkan stres, menghabiskan banyak waktu,


menjadi mal-adaptive atau menimbulkan hambatan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau
aspek penting lainnya (menghindar/tidak mau bertemu orang lain, keluar sekolah atau
pekerjaan), juga menyebabkan dirinya sering harus konsultasi untuk operasi plastik
3. Bagian tubuh yang diperhatikan sering bervariasi, kadang dipengaruhi budaya.

Gangguan nyeri
1. Gangguan dimana individu mengeluhkan adanya rasa nyeri yang sangat dan
berkepanjangan, namun tidak dapat dijelaskan secara medis (bahkan setelah pemeriksaan
yang intensif).
2. Rasa nyeri ini bersifat subyektif, tidak dapat dijelaskan, bersifat kronis, muncul di satu
atau beberapa bagian tubuh.
3. Rasa nyeri ini menyebabkan stress atau hambatan dalam fungsi sosial, pekerjaan dan
aspek penting lainnya.
4. Faktor-faktor psikologis sering memainkan peranan penting dalam memunculkan,
memperburuk rasa nyeri.
3.6 Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Gangguan Somatoform
Kriteria diagnosis menurut DSM-IV
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi
A. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama
periode beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan bermakna
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
B. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada
sembarang waktu selama perjalanan gangguan:
1. Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat tempat
atau fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak,
dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi).
2. Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain nyeri
(misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare, atau intoleransi
terhadap beberapa jenis makanan)
3. Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif selain dari
nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak
teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).
4. Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang
mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi
seperti gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat,
sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi, hilangnya
sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang;gejala disosiatif seperti
amnesia; atau hilangnya kesadaran selain pingsan).
C. Salah satu (1) atau (2):

33

1. Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yangdikenal atau efek langsung dan suatu
zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol).
2. Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan
yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yangdiperkirakan dan riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium.
D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau
pura-pura).
A.
B.
C.
D.
E.
F.

A.
B.
C.
D.
E.
F.

Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi


Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atau sensorik yang
mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.
Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit karena awal atau
eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor lain.
Gejala atau defisit tidak ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura).
Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan sepenuhnya
oleh kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai perilaku atau
pengalaman yang diterima secara kultural.
Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan pemeriksaan
medis.
Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi semata-mata
selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan dengan lebih baik oleh
gangguan mental lain.
Sebutkan tipe gejala atau defisit:
Dengan gejata atau defisit motorik
Dengan gejala atau defisit sensorik
Dengan kejang atau konvulsi
Dengan gambaran campuran
Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis
Preokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatu penyakit serius
didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejala-gejala tubuh.
Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan
penentraman.
Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti gangguan delusional,
tipe somatik) dan tidak terbatas pada kekhawatiran tentang penampilan (seperti pada
gangguan dismorfik tubuh).
Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara kilnis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum, gangguan
obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas perpisahan, atau
gangguan somatoform lain.

34

Sebutkan jika:
Dengan tilikan buruk: jika untuk sebagian besar waktu selama episode berakhir, orang
tidak menyadari bahwa kekhawatirannya tentang menderita penyakit serius adalah
berlebihan atau tidak beralasan.
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh
A. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit anomali
tubuh, kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyata.
B. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
C. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya,
ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa).
A.
B.
C.
D.
E.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri


Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan cukup
parah untuk memerlukan perhatian klinis.
Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset, kemarahan, eksaserbasi
atau bertahannnya nyeri.
Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan
buatan atau berpura-pura).
Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau gangguan
psikotik dan tidak memenuhi kriteria dispareunia.
Tuliskan seperti berikut:
Gangguan nyeri berhubungan dengan faktor psikologis: faktor psikologis dianggap
memiliki peranan besar dalam onset, keparahan, eksaserbasi, dan bertahannya nyeri.
Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan
Kronis: durasi 6 bulan atau lebih
Gangguan nyeri berhubungan baik dengan faktor psikologls maupun kondisi medis umum
Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan
Kronis: durasi 6 bulan atau lebih
Catatan: yang berikut ini tidak dianggap merupakan gangguan mental dan dimasukkan
untuk mempermudah diagnosis banding.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan


A. Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan
gastrointestinal atau saluran kemih).
B. Salah satu (1) atau (2)
1. Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi
medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat (misalnya efek
cedera, medikasi, obat, atau alkohol).

35

C.
D.
E.
F.
A.
B.

2. Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau gangguan
sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan
menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratonium.
Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.
Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan
somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau
gangguan psikotik).
Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan
atau berpura-pura).
Kriteria Diagnostik Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Kondisi Medis
Adanya suatu kondisi medis umum (dikodekan dalam Aksis III).
Faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis umum dengan salah satu cara berikut:
1. Faktor yang mempengaruhi perjalanan kondisi medis umum ditunjukkan oleh hubungan
erat antara faktor psikologis dan perkembangan atau eksaserbasi dan, atau
keterlambatan penyembuhandan, kondisi medis umum.
2. Faktor yang mengganggu pengobatan kondisi medis umum.
3. Faktor yang membuat risiko kesehatan tambahan bagi individu.
4. Respons fisiologis yang berhubungan dengan stres menyebabkan atau mengeksaserbasi
gejala-gejala kondisi medis umum.
Pilihlah nama bendasarkan sifat faktor psikologis (bila terdapat lebih dan satu faktor,
nyatakan yang paling menonjol).
Gangguan mental mempengaruhi kondisi medis (seperti gangguan depresif berat
memperlambat pemulihan dan infark miokardium). Gejala psikologis mempengaruhi kondisi
medis (misalnya gejala depresif memperlambat pemulihan dan pembedahan; kecemasan
mengeksaserbasi asma). Sifat kepribadian atau gaya menghadapi masalah mempengaruhi
kondisi medis (misalnya penyangkalan psikologis terhadap pembedahan pada seorang
pasien kanker, perilaku bermusuhan dan tertekan menyebabkan penyakit kandiovaskular).
Perilaku kesehatan mal-adaptif mempengaruhi kondisi medis (misalnya tidak olahraga,
seks yang tidak aman, makan berlebihan). Respon fisiologis yang berhubungan dengan stres
mempengaruhi kondisi medis umum (misalnya eksaserbasi ulkus, hipertensi, aritmia, atau
tension headache yang berhubungan dengan stres).

Diagnosis menurut PPDGJ :


Gangguan Somatoform
Ciri utama gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang-ulang
disertai permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya
negatif dan sudah dijelaskan dokternya bahwa tidak ditemukan keluhan yang menjadi dasar
keluhannya. Penderita juga menyangkal dan menolak untuk membahas kemungkinan kaitan
antara keluhan fisiknya dengan problem atau konflik dalam kehidupan yang dialaminya
bahkan meskipun didapatkan gejala-gejala anxietas dan depresi.
Tidak adanya saling pengertian antara dokter dan pasien mengenai kemungkinan penyebab
keluhan-keluhannya yang menimbulkan frustasi dan kekecewaan pada kedua belah pihak
36

Gangguan Somatisasi
Pedoman diagnostik
Diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut :
Adanya banyak keluhan-keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak dapat dijelaskan
atas dasar kelainan fisik yang sudah berlangsung sedikitnya 2 tahun
Tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ada kelainan
fisik yang dapat menjelaskan keluhannya
Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga yang berkaitan dengan sifat
keluhan-keluhannya dan dampak dari perilakunya
a. Gangguan Somatoform Tak Terinci
Pedoman diagnostik
Keluhan-keluhan fisik bersifat multipel, bervariasi dan menetap, akan tetapi gambaran klinis
yang khas dan lengkap dari gangguan somatisasi tidak terpenuhi
Kemungkinan ada ataupun tidaknya faktor penyebab psikologis belum jelas, akan tetapi
tidak boleh ada penyebab fisik dan keluhan-keluhannya
b. Gangguan Hipokondrik
Pedoman diagnostik
Untuk diagnostik pasti, kedua hal ini harus ada :
Keyakinan yang menetap adanya sekurang0kurangnya satu penyakit fisik yang serius yang
dilandasi keluhan-keluhannya, meskipun pemeriksaan yang berulang-ulang tidak
menunjang adanya alasan fisik yang memadai, ataupun adanya preokupasi yang menetap
kemungkinan deformitas atau perubahan bentuk penampakan fisik
Tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak
ditemukan penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi keluhannya.
c. Gangguan Otonomik Somatoform
Pedoman diagnostik
Diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut :
Adanya gejala-gejala bangkitan otonomik seperti palpitasi, berkeringat, tremor, muka
panas/flushing, yang menetap dan mengganggu
Gejala subjektif tambahan mengacu pada sistem atau organ tertentu (gejala tidak khas)
Preokupasi dengan dan penderitaan (distress) mengenai kemungkinan adanya gangguan
yang serius (sering tidak begitu khas) dari sistem atau organ tertentu, yang tidak terpengaruh
oleh hasil pemeriksaan berulang, maupun penjelasan dari dokter
Tidak terbukti adanya gangguan yang cukup berarti pada struktur/fungsi dari sistem atau
organ yang dimaksud.
Karakter kelima : F45.30 = jantung dan sistem kardiovaskuler
37

F45.31 = saluran pencernaan bagian atas


F45.32 = saluran pencernaan bagian bawah
F45.33 = sistem pernafasan
F45.34 = sistem genito-urinaria
F45.35 = sistem atau organ lainnya

d. Gangguan Nyeri Somatoform Menetap


Pedoman diagnostik
Keluhan utama adalah nyeri hebat, menyiksa, menetap, yang tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya atas dasar proses fisiologik maupun adanya gangguan fisik
Nyeri timbul dalam hubungan dengan adanya konflik emosional atau problem psikososial
yang cukup jelas untuk dapat dijadikan alasan dalam mempengaruhi terjadinya gangguan
tersebut
Dampaknya adalah meningkatnya perhatian dan dukungan, baik personal maupun medis,
untuk yang bersangkutan.
e. Gangguan Somatoform Lainnya
Pedoman diagnostik
Pada gangguan ini keluhan-keluhannya tidak sistem saraf otonom dan terbatas secara
spesifik pada bagian tubuh atau sistem tertentu
Tidak ada kaitannya dengan kerusakan jaringan
Diagnosis Banding Gangguan Somatofom

a. Gangguan Somatisasi
Klinisi harus selalu menyingkirkan kondisi medis non-psikiatrik yang dapat menjelaskan
gejala pasien. Gangguan medis tersebut adalah sklerosis multiple, miastenia gravis, lupus
eritematosus sistemik kronis. Selain itu juga harus dibedakan dari gangguan depresi berat,
gangguan kecemasan (anxietas), gangguan hipokondrik dan skizofrenia dengan gangguan
waham somatik.
b. Hipokondriasis
Kondisi medis nonpsikiatrik: khususnya gangguan yang tampak dengan gejala yang tidak
mudah didiagnosis. Penyakit-penyakit tersebut adalah AIDS, endokrinopati, miastenia
gravis, skerosis multiple, penyakit degeneratif pada sistem saraf, lupus eritematosus
sistemik, dan gangguan neoplastik yang tidak jelas.
c. Gangguan Konversi
Gangguan neurologis (seperti demensia, penyakit degeneratif), tumor otak, penyakit ganglia
basalis harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding.
d. Gangguan Dismorfik Tubuh
Pada distorsi citra tubuh terjadi pada anoreksia nervosa, gangguan identitas jenis kelamin,
gangguan depresif, gangguan kepribadian narsistik, skizofrenia dan gangguan obsesifkumpulsif.
e. Gangguan Nyeri
Gangguan nyeri harus dibedakan dari gangguan somatoform lain, seperti nyeri pada
hipokondrial, nyeri pada konversi.
38

3.7 Menjelaskan Penatalaksanaan Gangguan Somatoform


Gangguan Somatisasi
Tujuan pengobatan
1. Mencegah adopsi dari rasa sakit, invalidasi (tidak membenarkan pemikiran/meyakinkan
bahwa gejala hanya ada dalam pikiran tidak untuk kehidupan nyata
2. Meminimalisir biaya dan komplikasi dengan menghindari tes-tes diagnosis, treatment, dan
obat-obatan yang tidak perlu
3. Melakukan kontrol farmakologis terhadap sindrom komorbid (memperparah kondisi)
Strategi dan teknik psikoterapi dan psikososial
1. Pengobatan yang konsisten, ditangani oleh dokter yang sama
2. Buat jadwal regular ddengan interval waktu kedatangan yang memadai
3. Memfokuskan terapi secara gradual dari gejala ke personal dan ke masalah sosial
Strategi dan teknik farmakologikal dan fisik
1. Diberikan hanya bila indikasinya jelas
2. Hindari obat-obatan yang bersifat adiksi
3. Anti anxietas dan antidepressant
Gangguan Somatoform Tak Terinci
Tujuan pengobatan
1. Mencegah adopsi dari rasa sakit, invalidasi (tidak membenarkan pemikiran/meyakinkan
bahwa gejala hanya ada dalam pikiran tidak untuk kehidupan nyata
2. Meminimalisir biaya dan komplikasi dengan menghindari tes-tes diagnosis, treatment, dan
obat-obatan yang tidak perlu
3. Melakukan kontrol farmakologis terhadap sindrom komorbid (memperparah kondisi)
Strategi dan teknik psikoterapi dan psikososial
1. Pengobatan yang konsisten, ditangani oleh dokter yang sama
2. Buat jadwal regular dengan interval waktu kedatangan yang memadai
3. Memfokuskan terapi secara gradual dari gejala ke personal dan ke masalah sosial
Strategi dan teknik farmakologikal dan fisik
1. Diberikan hanya bila indikasinya jelas
2. Hindari obat-obatan yang bersifat adiksi
3. Anti anxietas dan antidepressant (kalau perlu)
Gangguan Hipokondrik
Tujuan pengobatan
1. Mencegah adopsi dari rasa sakit, invalidasi (tidak membenarkan pemikiran/meyakinkan
bahwa gejala hanya ada dalam pikiran tidak untuk kehidupan nyata
2. Meminimalisir biaya dan komplikasi dengan menghindari tes-tes diagnosis, treatment, dan
obat-obatan yang tidak perlu
3. Melakukan kontrol farmakologis terhadap sindrom komorbid (memperparah kondisi)
39

1.
2.
3.
4.
1.

1.
2.
3.
4.
5.

Strategi dan teknik psikoterapi dan psikososial


Pengobatan yang konsisten, ditangani oleh dokter yang sama
Buat jadwal regular dengan interval waktu kedatangan yang memadai
Memfokuskan terapi secara gradual dari gejala ke personal dan ke masalah sosial
Therapi kognitif-behaviour
Strategi dan teknik farmakologikal dan fisik
Hindari obat-obatan yang bersifat adiksi
Usahakan untuk mengurangi gejala hipokondriasis dengan SSRI (Fluoxetine 60-80 mg/ hari)
dibandingkan dengan obat lain
Gangguan nyeri somatoform menetap
Tujuan pengobatan
Mencegah adopsi dari rasa sakit, invalidasi (tidak membenarkan pemikiran/meyakinkan
bahwa gejala hanya ada dalam pikiran tidak untuk kehidupan nyata
Meminimalisir biaya dan komplikasi dengan menghindari tes-tes diagnosis, treatment, dan
obat-obatan yang tidak perlu
Melakukan kontrol farmakologis terhadap sindrom komorbid (memperparah kondisi)
Jika nyerinya akut (< 6 bulan), tambahkan obat simptomatik untuk gejala yang timbul
Jika nyeri bersifat kronik (>6 bulan ), fokus pada pertahankan fungsi dan motilitas tubuh
daripada fokus pada penyembuhan nyeri

1.
2.
3.
4.

Strategi dan teknik psikoterapi dan psikososial


Pengobatan yang konsisten, ditangani oleh dokter yang sama
Buat jadwal regular dengan interval waktu kedatangan yang memadai
Memfokuskan terapi secara gradual dari gejala ke personal dan ke masalah sosial
Nyeri kronik: pertimbangkan terapi fisik dan pekerjaan, serta terapi kognitif-behavioural

1.
2.
3.
4.
5.

Strategi dan teknik farmakologikal dan fisik


Diberikan hanya bila indikasinya jelas
Hindari obat-obatan yang bersifat adiksi
Akut: acetaminophen dan NSAIDS (tidak dicampur) atau sebagai tambahan pada opioid
Kronik: Trisiklik anti depresan, acetaminophen dan NSAID
Pertimbangkan akupunktur

Gangguan Konvensi
Tujuan pengobatan
1. Mencegah adopsi dari rasa sakit, invalidasi (tidak membenarkan pemikiran/meyakinkan
bahwa gejala hanya ada dalam pikiran tidak untuk kehidupan nyata
2. Meminimalisir biaya dan komplikasi dengan menghindari tes-tes diagnosis, treatment, dan
obat-obatan yang tidak perlu
3. Melakukan kontrol farmakologis terhadap sindrom komorbid (memperparah kondisi)
Strategi dan teknik psikoterapi dan psikososial
1. Pengobatan yang konsisten, ditangani oleh dokter yang sama
2. Buat jadwal regular dengan interval waktu kedatangan yang memadai
40

3.
4.
5.
6.

Memfokuskan terapi secara gradual dari gejala ke personal dan ke masalah sosial
Akut: yakinkan, sugesti pasien untuk mengurangi gejala
Pertimbangkan narcoanalisis (sedatif hipnotik), hipnoterapi, behavioural terapi
Kronik: Eksplorasi lebih lanjut mengenai konflik yang bersifat interpersonal pada pasien

Strategi dan teknik farmakologikal dan fisik


1. Diberikan hanya bila indikasinya jelas
2. Hindari obat-obatan yang bersifat adiksi
3. Pertimbangkan narcoanalisis (sedatif hipnotik)

3.
4.

Gangguan Dismorfik Tubuh


Tujuan pengobatan
Mencegah adopsi dari rasa sakit, invalidasi (tidak membenarkan pemikiran/meyakinkan
bahwa gejala hanya ada dalam pikiran tidak untuk kehidupan nyata
Meminimalisir biaya dan komplikasi dengan menghindari tes-tes diagnosis, treatment, dan
obat-obatan yang tidak perlu
Melakukan kontrol farmakologis terhadap sindrom komorbid (memperparah kondisi)
Khususnya menghindari pembedahan

1.
2.
3.
4.

Strategi dan teknik psikoterapi dan psikososial


Pengobatan yang konsisten, ditangani oleh dokter yang sama
Buat jadwal regular dengan interval waktu kedatangan yang memadai
Memfokuskan terapi secara gradual dari gejala ke personal dan ke masalah sosial
Terapi kognitif-behavioural

1.
2.

Strategi dan teknik farmakologikal dan fisik


1. Diberikan hanya bila indikasinya jelas
2. Hindari obat-obatan yang bersifat adiksi
3. Usahakan untuk mengurangi gejala hipokondriacal dengan SSRI (Fluoxetine 60-80 mg/
hari) dibandingkan dengan obat lain
PENATALAKSANAAN
Pendekatan terapi
a) Berhubungan dengan primary care practitioner memonitoring gejala yang dialami
pasien, apakah ada gejala baru, dan pengobatan yang diberikan. Diperlukan juga untuk
berkonsultasi dengan psikiatri.
b) Medikamentosa
c) Pasien dengan somatoform disorder terkadang diperlukan obat anti-anxietas atau obat
antidepresan jika ada mood atai anxietas disorder. Tricyclic antidepresant dan selective
serotonin reuptake inhibitors (SSRI) mungkin bisa membantu.
d) Psikoterapi.
Cognitif-behavioural therapy

41

Terapis behavioral dapat mengajarkan anggota keluarga untuk menghargai usaha


memenuhi tanggung jawab dan mengabaikan tuntutan dan keluhan. Teknik kognitif
behavioral, paling sering pemaparan terhadap pencegahan respons dan restrukturisasi
kognitif, juga mencapai hasil yang memberikan harapan dalam menangani gangguan
dismorfik tubuh (BDD). Pencegahan respons berfokus pada pemutusan ritual kompulsif
seperti memeriksa di depan cermin (dengan menutup semua cermin) dan berdandan
berlebihan. Dalam restrukturisasi kognitif, terapis menantang keyakinan pasien dengan cara
menyemangati mereka untuk mengevaluasi keyakinan mereka dengan bukti yang jelas.
Perhatian akhir-akhir ini beralih pada penggunaan anti depressan terutama fluoxetine
(Prozac) dalam menangani beberapa tipe gangguan somatoform. Meski kita kekurangan
terapi obat yang spesifik untuk gangguan konversi, sebuah penelitian terhadap 16 pasien
hipokondriasis menunjukkan penurunan yang berarti terhadap keluhan-keluhan hipokondrial
setelah percobaan selama 12 minggu dengan Prozac.
Hipnosis
Tujuan terapi medis adalah membangun keadaan fisik pasien sehingga pasien dapat
berperan dengan berhasil, serta psikoterapi untuk kesembuhan totalnya. Tujuan akhirnya
adalah kesembuhan, yang berarti resolusi gangguan struktural dan reorganisasi kepribadian.
Psikoterapi kelompok dan terapi keluarga. Terapi keluarga menawarkan harapan suatu
perubahan dalam hubungan keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari
hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik. Keluarga dan anak,
mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan
gangguan psikosomatik.

motivasi: perlu motivasi dari orang lain, karena pasien sering kali berpikir bahwa mereka
tidak memerlukan terapi.
konfrontasi: merespon dengan cara mendukung melalui konfrontasi terhadap akibat dari
pemikiran dan pola perilaku. Lebih efektif bila dilakukan oleh teman sebaya, psikoterapis.
peran keluarga dan kelompok.
dorongan dan partisipasi sangat efektif bagi pasien.
bila terdapat cemas dan depresi maka berikan anti-depresan namun terkadang tidak efektif.
Terapi jangka panjang
Terapi wicara: psikoterapi yang dimaksudkan untuk membantu pasien mengerti apa
penyebab kecemasan dan mengenal perilakunya yang tidak pantas, sebagai landasan untuk
pengobatan lainnya. Psikoanalisis: bila ditemukan gangguan kepribadian seperti,
narsis/obsesif kompulsif.
Medikamentosa
Golongan

Mekanisme Kerja

Contoh
42

Anti
depresan
trisiklik

SSRIs (selective
serotonin
reuptake
inhibitors)
Mixed
reuptake

DA/NE

Menghambat
reuptake

Amitriptilin,
imipramin,

5-HT/NE secara tidak


selektif

desipramin,
nortriptilin,
klomipramin

Menghambat secara

Fluoksetin, paroksetin,

selektif reuptake 5HT

sertralin, fluvoksamin

Menghambat
reuptake

Trazodon, nefazodon,

Inhibitor

DA/NE secara tidak


selektif

MAO inhibitors

Menghambat aktivitas
enzim MAO

mirtazapin, bupropion,
maprotilin,
venlafaksin
Phenelzine,
tranylcypromine

Dosis
Depresi ringan sampai dengan sedang 25 mg 1-3 x sehari atau 25-75 mg 1 x sehari
tergantung dari beratnya gejala.
Depresi berat 25 mg 3 x sehari atau 75 mg 1 x sehari. Maksimal: 150 mg/hari dalam
dosis tunggal atau terbagi.
Lansia Awal 10 mg 3 x sehari atau 25 mg 1 x sehari. Bila perlu tingkatkan bertahap
sampai 25 mg 3 x sehari atau 75 mg 1 x sehari.
Efek Samping
Reaksi SSP, antikolinergik ringan, sinus takikardi, hipotensi pustural, reaksi alergi pada
kulit, kejang, aritmia, gangguan hantaran jantung, alveolitis alergi, hepatitis.
Kontraindikasi
epilepsi atau ambang rangsang lebih rendah, intoksikasi akut oleh alkohol, gangguan
hantaran jantung, glaukoma sudut sempit, retensi urin, hepatitis berat, gangguan ginjal.
pengguanaan bersama obat analgesik, hipnotik, atau psikotropik.
Perhatian pada pasien dengan:
Insufisiensi hati & ginjal, retensi urin, riwayat peningkatan tekanan intra okular, hamil,
laktasi,
skizofrenia,gangguan
afektik
siklik,dapat
mengganggu
kemampuan
mengemudi/menjalankan mesin.

43

Rujukan: penanganan pada kasus ini juga membutuhkan dukungan dari berbagai bidang
ilmu misalnya psikiatri, ahli penyakit dalam, keluarga, serta para ulama (bila perlu).
3.8 Menjelaskan Komplikasi Gangguan Somatoform
1.
2.
3.
4.

Komplikasi iatrogenik akibat prosedur diagnostik invasif / prosedur prosedur operasi.


Ketergantungan pada substansi- substansi pengontrol yang diresepkan.
Kehidupan yang bergantung pada orang lain.
Suicide.

3.9 Menjelaskan Pencegahan Gangguan Somatoform


Pertama, mulai berolah raga dengan baik dan teratur serta menjaga pola makan dengan
asupan gizi yang seimbang. Hal ini berguna untuk menjaga metabolism tubuh. Sehingga
menjadi prima.
Kedua, Apabila gangguan serangan cemas akan rasa sakit menyerang, katakan pada diri
anda stop, lalu lakukan relaksi dengan cara mengatur aliran nafas anda.
Ketiga, Lakukan lah medical check up 1 tahun 1 kali, secara rutin. Dengan harapan dapat
mengetahui kondisi fisikyang sebenarnya (membuat anda tenang), dan melakukan langkah
pencegahan jika ditemukan penyakit dalam diri.
Self talk Tubuh saya sehat, dan saya baik-baik saja (katakan pada diri anda, setiap hari
saat anda bercermin setiap saat, dan katakan juga indahnya hari ini, saya bersyukur karena
tuhan masih mengijinkan saya menikmati setiap karuniaNya.

3.10

Menjelaskan Prognosis Gangguan Somatoform

Prognosis pada gangguan somatoform sangat bervariasi, tergantung umur pasien dan
sifat gangguannya (kronik atau episodik). Umumnya, gangguan somatoform prognosisnya
baik, dapatditangani secara sempurna. Sangat sedikit sekali yang mengalami eksarsebasi,
dapat bervariasi dari mild-severe dan kronis. Pengobatan yang lebih awal dan menjadikan
prognosis menjadilebih baik. Secara independen tidak meningkatkan risiko kematian.
Kematian lebih disebabkan karena upaya bunuh diri. (Kaplan, 1999)
4. Memahami dan Menjelaskan Cara Membina Keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan
Warahmah

44

Semua ibadah dalam Islam mengandung hikmah yang baik bagi manusia, baik yang
sudah dapat diketahui atau belum bisa diketahui. Sikap seorang mukmin ketika sudah jelas
datang aturan dari Allah dan Rasul Nya.
Begitupun dengan syari'at pernikahan, di dalamnya mengandung hikmah dan tujuan yang
baik bagi manusia, antara lain adalah :
1. Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi
Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, tidak bertentangan dengan
perkara-perkara yang asasi bagi manusia, seperti marah, malu, cinta, ini semua adalah
contoh sifat fitrah manusia, dalam Islam tidak boleh dimatikan, tetapi di atur agar
menjadi ibadah kepada Allah ta'ala.
Menikah juga merupakan fitrah manusia (ghorizah insaniyah) yang tidak boleh dibunuh
sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada diri dan masyarakat, maka ghorizah
insaniyah/ insting manusiawi ini harus diatur dengan nikah, kalau tidak maka dia akan
mencari jalan setan yang menjerumuskan manusia ke lembah hitam. Oleh karena itu
dalam Islam tidak ada doktrin kerahiban, "tidak menikah dan mengklaim mensucikan
diri". Juga tidak dibiarkan saja menghambur nafsu syahwatnya tanpa aturan, sehingga
menimbulkan berbagai penyakit moral dalam masyarakat.
2. Untuk membentengi akhlak yang luhur
Menikah merupakan jalan yang paling bermanfaat dan paling afdhol dalam upaya
merealisasikan dan menjaga kehormatan. Dengan menikah seseorang dapat
menundukan pandangannya dan menjaga kemaluannya, sehingga tidak terjatuh dalam
berbagai bentuk kemaksiatan dan perzinahan, dengan menikah seseorang dapat menjaga
kehormatan dan akhlaknya, tidak mengikuti nafsu syahwat.
Dari Ibnu Mas'ud RA telah bersabda Rosulullah SAW : "Wahai para pemuda barang
siapa diantara kalian yang sudah mampu maka segeralah menikah, karena hal ini
dapat menundukan pandangan dan menjaga kemaluan, barangsiapa yang belum
mampu, maka hendaklah dia berpuasa karena hal ini dapat menjadi tameng baginya. "
(Muttafaqun 'alaihi).
3. Untuk menegakkan rumah tangga yang Islami
Merupakan salah satu tujuan pernikahan dalam Islam, yang semestinya setiap mukmin
memperhatikannya. Maka Islam sedemikian rupa mengatur urusan pernikahan ini agar
pasangan suami istri dapat bekerja sama dalam merealisasikan nilai-nilai Islam dalam
rumah tangga.
4. Untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT
Bersabda Rosulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam
" ..Sesoorang diantara kalian yang bergaul dengan istrinya adalah sedekah!"
Mendengar sabda Rosulullah SAW tersebut para sahabat bertanya: "Wahai Rosulullah,
apakah seseorang dari kita yang melampiaskan syahwatnya terhadap istrinya akan
mendapatkan pahala?" Rosulullah SAW menjawab: "Bagaimana menurut kalian jika
sesorang bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah dia berdosa?, Begitu pula jika
45

dia bersetubuh dengan istrinya maka dia akan mendapatkan pahala." (HR. Bukhori
Muslim)
5. Untuk memperoleh banyak keturunan yang sholeh dan sholehah
Firman Allah ta'ala dalam surat An Nahl ayat 72 :
Artinya:
"Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan
bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari
yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan
mengingkari nikmat Allah ?"
Melalui menikah dengan izin Allah SWT, seseorang akan mendapatkan keturunan yang
sholeh sehingga menjadi aset yang sangat berharga, karena anak yang sholeh senantiasa
akan mendoakan kedua orang tuanya ketika masih hidup atau sudah meninggal dunia,
hal ini menjadi amal jariyah bagi kedua orang tua. Dengan banyak anak juga akan
memperkuat barisan kaum muslimin.

6. Untuk mendatangkan ketenangan dalam hidupnya


Merupakan salah satu tujuan dalam pernikahan, yakni membentuk keluarga yang
sakinah, mawaddah warohmah.
Firman Allah ta'ala dalam Al Qur'an surat Ar Rum ayat 2:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri


dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."
Rasulullah SAW menyebutkan beberapa indikasi keluarga sakinah, mawaddah,
warohmah dalam sabdanya :
Dari Anas RA, telah bersabda Rosulullah SAW : "Apabila Allah SWT ingin
menghendaki kebaikan pada sebuah rumah tangga, maka Allah akan mengkaruniakan
keluarga tersebut kepahaman terhadap agamanya, orang yang kecil dikeluarga akan
menghormati yang besar, Allah akan mengkaruniakan kepada mereka kemudahan
dalam penghidupan mereka dan kecukupan dalam nafkahnya, dan Allah akan
menampakkan aib dan keburukan keluarga tersebut kemudian mereka semua bertaubat
dari keburukan tersebut. Jika Allah tidak menginginkan kebaikan pada sebuah
keluarga, maka Allah akan biarkan begitu saja keluarga tersebut (tanpa bimbingan
Nya). (HR Ad Daruquthni).

46

Sakinah merupakan pondasi dari bangunan rumah tangga yang sangat penting.
Tanpanya, tiada mawaddah dan warahmah. Sakinah itu meliputi kejujuran, pondasi
iman dan taqwa kepada Allah SWT.
Dalam hadits yang mulia ini ada beberapa indikator keluarga sakinah, yakni :
- At tafaqquh fid diin : Indikasinya adalah, anggota keluarga tersebut rajin dan penuh
semangat dalam menuntut ilmu agama, menjadikan rumah sebagai tempat ibadah dan
majelis ilmu, cinta kepada orang-orang sholeh dan pejuang Islam serta mereka berupaya
menerapkan nilai-nilai Islam itu pada seluruh anggota keluarganya.
- Al ihtiroom al mutabaadil lilhuquuq baina ash shighoor wal kibaar (ada
penghormatan yang timbal balik dalam kewajiban antara orang tua dan anakanak) : Indikasinya anak-anak berbakti kepada orang tuanya dan mereka pun
mendapatkan pendidikan dan kebutuhan dari kedua orang tuanya, serta lingkungan
keluarga yang kondusif dan Islami.
- Ar rifqu fil ma'iisyah (Allah SWT mudahkan penghidupannya) : Indikasinya selalu
berusaha mencari nafkah dengan jalan yang halal, berinfak dan membantu yatim piatu
serta orang-orang yang membutuhkan bantuan.
- Al qoshdu fin nafaqoot (merasa cukup dengan rezeki yang Allah SWT
karuniakan) : Indikasinya anggota keluarga tersebut mempunyai sikap qona'ah dan
hatinya tidak tergantung dan terbuai dengan kehidupan dunia.
- Tabshiirul 'uyuub at taubah 'anhaa (Allah SWT tampakkan aibnya dan mereka
bertaubat dari aib tersebut) : Indikasinya mereka selalu muhasabah dalam hidup,
menghindarkan hal-hal yang dapat merugikan anggota keluarga, menjaga kehormatan
keluarga dan tidak menyebarkan rahasia-rahasia keluarga.
Mawaddah adalah berupa cinta dan harapan. Setiap mahluk Allah SWT kiranya diberikan
sifat ini, mulai dari hewan sampai manusia. Dalam konteks pernikahan, contoh mawaddah itu
berupa kejutan suami untuk istrinya, begitu pun sebaliknya. Misalnya suatu waktu si suami
bangun pagi-pagi sekali, membereskan rumah, menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Dan
ketika si istri bangun, hal tersebut merupakan kejutan yang luar biasa.
Warahmah merupakan kasih sayang yang merupakan suatu kewajiban. Kewajiban seorang
suami menafkahi istri dan anak-anaknya, mendidik, dan memberikan contoh yang baik.
Kewajiban seorang istri untuk menaati suaminya. Intinya warahmah ini kaitannya dengan
segala kewajiban.
1.
2.
3.
4.

Hak bersama suami istri


Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah.
Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya.
Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis.
Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan.
Kewajiban suami kepada istri
1. Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama.
2. Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah clan Rasul-Nya.
3. Hendaknya senantiasa berdoa kepada Allah meminta istri yang sholehah.
47

4.

15.
16.
17.
18.

Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: membayar mahar, memberi nafkah
(makan, pakaian, tempat tinggal), menggaulinya dengan baik, berlaku adil jika beristri
lebih dari satu.
5. Jika istri berbuat Nusyuz, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara
berurutan: memberi nasehat, pisah kamar, memukul dengan pukulan yang tidak
menyakitkan. Nusyuz adalah: kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan kepada
Allah.
6. Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya dan
paling ramah terhadap istrinya/keluarganya.
7. Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.
8. Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya.
9. Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya
terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan.
10. Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya.
11. Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang,
tanpa kasar dan zhalim.
12. Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak
memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah
sendiri.
13. Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan
menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
14. Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukumhukum haidh, istihadhah,dll).
Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri.
Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun.
Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib
mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa.
Jika suami hendak meninggal dunia, maka dianjurkan berwasiat terlebih dahulu kepada
istrinya.
Kewajiban istri kepada suami
1. Hendaknya istri menyadari dan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-Iaki adalah
pemimpin kaum wanita.
2. Hendaknya istri menyadari bahwa hak (kedudukan) suami setingkat lebih tinggi daripada
istri.
3. Istri wajib mentaati suaminya selama bukan kemaksiatan.
4. Diantara kewajiban istri terhadap suaminya, ialah: menyerahkan dirinya, entaati suami,
tidak keluar rumah, kecuali dengan ijinnya, inggal di tempat kediaman yang disediakan
suami, menggauli suami dengan baik.
5. Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya, walaupun sedang dalam
kesibukan.
6. Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk menggaulinya, lalu sang
istri menolaknya, maka penduduk langit akan melaknatnya sehingga suami meridhainya.
7. Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya. Allah SWT mengampuni
dosa-dosa seorang istri yang mendahulukan hak suaminya daripada hak orang tuanya.

48

8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang meninggal dunia dalam
keridhaan suaminya akan masuk surga.
Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi saw: Seandainya
dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada
suaminya. (Timidzi)
Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya.
Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan suami.
Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di belakangnya (saat
suami tidak di rumah).
Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: banyak anak, sedikit harta, tetangga
yang buruk, istri yang berkhianat.
Wanita Mukmin hanya dibolehkan berkabung atas kematian suaminya selama empat
bulan sepuluh hari.
Wanita dan laki-laki mukmin, wajib menundukkan pandangan mereka dan menjaga
kemaluannya.

Prinsip yang harus dilakukan untuk mencapai rasa tenteram, kasih dan sayang dalam
rumah tangga:
Sikap yang santun dan bijak (Muasyarah bil Maruf), merawat cinta kasih dalam keluarga.
Rasulullah saw menyatakan bahwa : Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang
paling baik terhadap isterinya, dan aku (Rasulullah) adalah orang yang paling baik
terhadap isteriku.
Saling mengingatkan dalam kebaikan. Di antara bentuk ketakwaan suami istri dalam
mempererat serta mengokohkan rumah tangga adalah dengan saling nasehat menasehati
untuk menjalankan sunnah Nabi.
"Allah merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk melaksanakan shalat
(malam/tahajjud) lalu dia juga membangunkan istrinya hingga shalat. Jika istrinya enggan
untuk bangun dia percikan air kewajahnya. Dan Allah merahmati seorang istri yang
bangun dimalam hari untuk melaksanakan shalat (malam/tahajjud) lalu dia membangunkan
suaminya hingga shalat. Jika suaminya enggan untuk bangun dia percikan air ke wajahnya"
(HR. Ahmad, Nasai, dan Ibnu Majah dan derajatnya hasan shohih).
Lebih mengutamakan untuk melaksanakan kewajiban daripada menuntut hak. Dalam
membangun rumah tangga, suami dan istri memiliki hak dan kewajiban yang saling sinergi
satu sama lain. Untuk menghadirkan ketentraman, hendaknya setiap individu lebih
mengedepankan kewajiban daripada hak. Hal ini akan menumbuhkan sikap saling
pengertian dan rasa tanggung jawab. Sebaliknya, tuntutan yang muncul dalam kehidupan
rumah tangga dapat menyulut api perpecahan diantara pasangan suami-istri.
Saling menutupi kekurangan pasangannya. Setiap suami pasti memiliki kekurangan, begitu
juga dengan sang istri. Dengan saling menutupi kekurangan diri masing-masing,
harmonisasi dalam rumah tangga akan terjaga. Prinsip saling menutupi ini didasari oleh
Surat Al Baqarah ayat 187, "..mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian
bagi mereka..". Fungsi pakaian adalah menutup aurat, sehingga dapat dipahami bahwa
suami-istri hendaknya saling menutupi kekurangannya satu sama lain.
Saling tolong menolong. Itulah kata kunci pasangan samara dalam mengelola keluarga.
Suami-istri itu akan berbagi peran dan tanggung jawab dalam mengelola keluarga mereka.
49

Suami penuh rasa tanggung jawab, istri mampu menjaga kehormatan diri dan pandai
menempatkan diri.

DAFTAR PUSTAKA

Kaplan, H.I., Sadock B.J. (1997). Sinopsis Psikiatri Jilid II Edisi ke-7. Jakarta. Binarupa
Aksara.
Mansjoer, A.A.,etc. (2004). Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta. Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. (2003). Pedoman
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta.
Maslim, R. (2001). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III.
Jakarta.
Kowalak, Jennifer P., William Welsh. (2011). Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Uddin, Jurnalis. (2009). Anatomi Susunan Saraf Manusia. Jakarta. Fakultas Kedokteran
Universitas Yarsi.
Price.Sylvia A.,Wilson.Lorraine M, (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit., Edisi 6. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Sherwood, Lauralee. (2004). Fisiologi Manusia dari sel ke sistem Edisi 2. Jakarta. EGC.
Gunawan , Sulistis Gan et all. (2007). Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta. FKUI.
Maramis, W.F. (1997). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi VI. Surabaya. Airlangga
University Press.

Lindsay, Kenneth W. (2004). Headache. Neurology and Neurosurgery. London. Churchill


Livingstone.

Yutzy SH. (2006). Somatization. In: Blumenfield M, Strain JJ, penyunting. Psychosomatic
Medicine. 1st ed. New York: Lippincott Williams & Wilkins.

50

Khan AA, Khan A, Harezlak J, Tu W, Kroenke K. (2003). Somatic symptoms in primary


care: Etiology and outcome. Psychosomatics.

http://www.akhlaqulkharimah.com

51