Anda di halaman 1dari 9

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Setiap makhluk hidup didunia ini memerlukan bernafas, secara tidak

langsung memerlukan oksigen untuk sistem respirasinya. Respirasi sendiri


merupakan proses mobilisasi energi yang dilakukan jasad hidup melalui
pemecahan senyawa berenergi tinggi untuk digunakan dalam menjalankan fungsi
hidup. Dalam

pengertian kegiatan kehidupan sehari-hari, respirasi dapat

disamakan dengan

pernapasan. Namun demikian, istilah respirasi mencakup

proses-proses yang juga tidak tercakup pada istilah pernapasan. Respirasi terjadi
pada semua tingkatan organisme hidup, mulai dari individu hingga satuan terkecil
yaitu sel. Apabila pernapasan diasosiasikan dengan penggunaan oksigen sebagai
senyawa pemecah, semua respirasi tidak melibatkan oksigen (Adnan, 2009).
Metabolisme yaitu keseluruhan proses-proses kimiawi yang terjadi di dalam
tubuh makhluk hidup. Proses metabolisme disebut juga reaksi enzimatis, karena
seluruh proses metabolisme selalu menggunakan katalisator enzim. Berdasarkan
prosesnya metabolisme dibagi menjadi dua, yaitu anabolisme dan katabolisme.
Anabolisme adalah suatu peristiwa perubahan senyawa sederhana menjadi
senyawa kompleks, sementara katabolisme adalah reaksi pemecahan/pembokaran
senyawa kimia kompleks yang mengandung energi tinggi menjadi senyawa
sederhana yang mengandung energi lebih rendah ( Campbell, 2004).
Metabolisme merupakan aktivitas hidup yang selalu terjadi pada setiap sel
hidup. Oksigen atau zat asam yaitu unsur kimia dalam sistem tabel periodik yang
mempunyai lambang O dan nomor atom 8. Ia merupakan unsur golongan
kalkogen dan dapat dengan mudah bereaksi dengan hampir semua unsur lainnya
(utamanya menjadi oksida). Menurut massanya, oksigen merupakan unsur kimia
paling melimpah di biosfer, udara, laut, dan tanah bumi. Oksigen merupakan
unsur kimia paling melimpah ketiga di alam semesta, setelah hidrogen dan
helium. Oksigen mengisi sekitar 49,2% massa kerak bumi dan merupakan
komponen utama dalam samudera (88,8% berdasarkan massa) (Irianto, 2004).
Termoregulasi merupakan proses yang terjadi dalam tubuh hewan untuk
mengatur suhu tubuhnya supaya tetap konstan, supaya suhu tubuhnya tidak

Universitas Sriwijaya

mengalami perubahan yang drastis. Mekanisme termoregulasi yaitu mengatur


keseimbangan antara perolehan panas dengan pelepasan panas. Keseimbangan
suhu tubuh hewan dapat dipengaruhi oleh suhu lingkungan luar. Namun, hidup
secara normal hewan memilih kisaran suhu yang lebih sempit dari kisaran suhu
tersebut yang ideal yang dikuasai agar proses fisiologis optimal. Kisaran toleransi
termal yaitu kisaran suhu yang lebih luas dan dapat diterima hewan. Suhu optimal
sesuai keadaan tubuh suhu tubuh yaitu inti konstan (Wulangi, 1993).
Respirasi yaitu suatu proses pembebasan energi yang tersimpan dalam zat
sumber energi melalui proses kimia dengan menggunakan oksigen. Dari respirasi
akan dihasilkan energi kimia ATP untuk kegiatan kehidupan, seperti sintesis
(anabolisme), gerak, pertumbuhan. Produk sampingan respirasi tersebut pada
akhirnya dibuang ke luar tubuh melalui stomata pada tumbuhan dan melalui paru
pada peristiwa pernafasan hewan tingkat tinggi (Anonim, 2014)
Pernafasan yakni proses ganda, yaitu terjadinya pertukaran gas di dalam
jaringan (pernafasan dalam), yang terjadi di dalam paru-paru atau respirasi
eksternal, oksigen dihisap melalui hidung dan mulut. Pada waktu bernafas,
oksigen masuk melalui batang tenggorok atau trakea dan pipa bronchial ke alveoli
dan erat hubungannya dengan darah di dalam kapiler pulmonalis (Irianto, 2004).
Oksigen diperlukan semua organisme karena berfungsi sebagai akseptor
hidrogen dan akseptor elektron terakhir dalam proses pernafasan sel. Tanpa
oksigen produksi oksigen pada organisme yang aerob akan berhenti.
Karbondioksida merupakan salah satu sampah metabolisme terbesar yang berasal
dari oksidasi hidrat arang, protein dan lemak. Gas yang bersifat asam ini harus
dibuang dari dalam tubuh organisme. Hewan bernafas dengan mengambil oksigen
dari lingkungannya dan hasil karbon dioksida dilepaskan ke lingkungannya
(Adnan, 2009).
1.2.

Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk membuktikan oksigen (O2) sebagai faktor yang

sangat penting dalam kehidupan.

BAB 2

Universitas Sriwijaya

TINJAUAN PUSTAKA
Oksigen terlarut merupakan tingkat saturasi udara di air yang dinyatakan
dalam kadar mg per liter air atau part per million. Oksigen terlarut dibutuhkan
oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran
zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan.
Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan
anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan
berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme
yang hidup dalam perairan tersebut (Irianto, 2004).
Konsumsi oksigen dapat dipengaruhi oleh temperatur yang tinggi, proses
respirasi, dekomposisi materil organik yang dapat menyebabkan konsumsi
oksigen lebih besar. Suhu dan arus air juga mempengaruhi konsumsi oksigen.
Semakin tinggi suhu perairan semakin besar konsumsi oksigennya, begitu pula
dengan arus yang deras dapat menyebabkan

besarnya konsumsi oksigen.

Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung dari beberapa faktor, seperti
kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus,
gelombang dan pasang surut (Adnan, 2009).
Konsumsi oksigen sebagai indikator respirasi juga menunjukkan metabolisme
energetik. Pengertian dari metabolisme dasar itu sendiri adalah kuantitas oksigen
yang dikonsumsi ketika makhluk hidup berada pada kondisi istirahat, tidak
makan, dan dalam lingkungan yang netral. Metabolisme dasar pada ikan lebih
rendah dibandingkan dengan binatang lainnya karena ikan adalah hewan
poikilotermal dan energi untuk menopang tubuhnya sangat sedikit sedangkan
energi yang dibuang lewat ekskresi sangat rendah (Anonim, 2014).
Pernafasan yaitu proses ganda, yaitu terjadinya pertukaran gas di dalam
jaringan (pernafasan dalam), yang terjadi di dalam paru-paru atau respirasi
eksternal, oksigen dihisap melalui hidung dan mulut. Pada waktu bernafas,
oksigen masuk melalui batang tenggorokan atau trakea dan pipa bronchial ke
alveoli dan erat hubungannya dengan darah di dalam kapiler pulmonalis. Respirasi

Universitas Sriwijaya

dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu respirasi luar, pengangkutan gas O2 dan CO2
dan respirasi dalam (Gadjahnata, 1989).
Bernafas dapat terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara antara udara
diluar dan udara di dalam paru-paru. Perbedaan ini timbul karena terjadinya
kontraksi otot pernafasan yang diatur oleh pusat nafas di medulla oblongata. Yang
dimaksud dengan satu kali bernafas adalah satu kali menghirup udara dan satu
kali melepaskan dengan jumlah oksigen rata-rata yang terhirup adalah 500 cc
(Adnan, 2009).

3
Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya

oksigen yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini
memungkinkan karena oksidasi dari bahan makanan memerlukan oksigen (dalam
jumlah yang diketahui) untuk menghasilkan energi yang dapat diketahui
jumlahnya juga. Akan tetapi, laju metabolisme biasanya cukup diekspresikan
dalam bentuk laju konsumsi oksigen. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju
konsumsi oksigen antara lain temperatur, spesies hewan, ukuran badan, dan
aktivitas (Bresnick, 2003).
Laju konsumsi oksigen dapat ditentukan dengan berbagai cara, antara lain
dengan menggunakan mikrorespirometer, metode Winkler, maupun respirometer
Scholander. Penggunaan masing-masing cara didasarkan pada jenis hewan yang
akan diukur laju konsumsi oksigennya. Mikrorespirometer dipakai untuk
mengukur konsumsi oksigen hewan yang berukuran kecil seperti serangga atau
laba-laba. Metode Winkler merupakan suatu cara untuk menentukan banyaknya
oksigen yang terlarut di dalam air (Anonim, wikipedia.org). Dalam metode ini,
kadar Oksigen dalam air ditentukan dengan cara titrasi (Wulangi, 1993).
Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah dingin dan hewan
berdarah panas. Ektoterm artinya hewan yang panas tubuhnya berasal dari
lingkungan. Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada
suhu lingkungan contohnya invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia. Sedangkan
endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari hasil metabolisme.
Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm umum dijumpai pada kelompok
burung (Aves), dan mamalia. Pengaruh suhu pada lingkungan, hewan dibagi
menjadi dua golongan, yaitu poikiloterm dan homoiterm. Poikiloterm suhu
tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungan (Campbell, 2004).

Universitas Sriwijaya

Mekanisme pertukaran zat dalam sel dengan cairan eksternal melalui lima
cara, yaitu difusi, osmosis, transport aktif, endositosis, dan eksositosis. Bahan
yang terdapat dalam cairan sel dapat digunakan sebagai bahan baku gula, asam
lemak, gliserol dan asam aminoyang kemudian disusun menjadi makromolekul sel
seperti polisakarida, lipid dan protein asam nukleat. Tubuh merubah kalori
menjadi energi untuk memenuhi kebutuhan setiap sel. Kalori digunakan sebagai
bahan bakar untuk setiap fungsi tubuh. Kita memperbaharui persediaan energi sel
kita setiap hari melalui makanan (Isnaeni, 2003).
Hewan menggunakan oksigen dan menghasilkan karbondioksida selama
proses respirasi sel. Organisme yang diameternya lebih kecil dari 0,5 mm dapat
mengunakan difusi saja untuk pertukaran gas. Seiring dengan bertambah besarnya
organisme, jarak difusi meningkat dan rasio daerah permukaan terhadap volume
mengecil. Sistem sirkulasi dan respirasi pada hewan yang lebih besar berkembang
untuk mempermudah pertukaran gas (Bresnick, 2003).
Suhu di perairan dapat mempengaruhi kelarutan dari oksigen. Apabila suhu
meningkat maka kelarutan oksigen berkurang. Oksigen terlarut yang biasanya
dihasilkan oleh fitoplankton dan tanaman laut, keberadaannya sangat penting bagi
organisme yang memanfaatkannya untuk kehidupan, antara lain pada

proses

respirasi dimana oksigen dibutuhkan untuk pembakaran bahan organik sehingga


terbentuk energi yang diikuti dengan pembentukan CO2 dan H2O. Oksigen
sebagai bahan pernafasan dibutuhkan oleh sel untuk berbagai reaksi metabolisme
(Anwar, 2009).
Bernapas yaitu melakukan petukaran gas yaitu mengambil oksigen dan
mengeluarkan karbokdioksida. Perbandingan antara luas dan permukaan tubuh
terlalu kecil untuk melakukan hal serupa karena diperlukan suatu permukaan
tubuh yang khusus untuk bernapas dan pertukaran gas. Pada hewan yang tingkat
tropiknya lebih tinggi memiliki peralatan khusus untuk menangkap O2 dan CO2.
Alat-alat ini dapat berbentuk insang atau paru-paru atau trakea atau bentuk lain
yang dapat melangsungkan pertukaran O2 dan CO2 (Wulangi, 1993).

BAB 3
METODE PRAKTIKUM

Universitas Sriwijaya

3.1. Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 5 Februari 2015, pada
pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai, bertempat di Laboratorium Fisiologi
Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah dua gelas beker atau
erlenmeyer 500 cc, dua lembar kantong plastik, karet gelang, satu gelas ukur satu
liter, dan satu timbangan analitik, sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah
beberapa katak kecil (anakan) dan seekor katak dewasa (Rana sp).
3.3. Cara Kerja
Ditera volume dari gelas beker atau erlenmeyer dengan diisi air sepenuhnya,
kemudian air tersebut dituangkan ke dalam gelas ukur. Diukur volume katak
dewasa dengan memasukkannya ke dalam gelas ukur yang telah diisi air.
Kemudian ditimbang katak dewasa. Dikumpulkan dan ditimbang beberapa katak
kecil (anakan) bersamaan hingga diperoleh berat yang sama dengan satu katak
dewasa. Diukur volume seluruh katak kecil yang telah ditimbang tersebut dengan
cara seperti mengukur volume katak dewasa. Lalu dimasukkan katak dewasa dan
sekumpulan katak kecil masing-masing ke dalam gelas beker atau erlenmeyer
yang terpisah, kemudian masing-masing mulut gelas tersebut ditutup rapat dengan
plastik yang diikat karet gelang. Diamati dan dicatat aktifitas masing-masing
individu katak besar dan katak kecil mulai dari gelas ditutup hingga semuanya
mati.

4.2. Pembahasan
6 dilakukan mengenai kebutuhan oksigen
Berdasarkan praktikum yang telah
pada Rana sp maka dapat disimpulkan bahwa katak dewasa membutuhkan

Universitas Sriwijaya

oksigen yang lebih banyak dibandingkan katak anakan. Hal ini terbukti karena
katak dewasa lebih cepat mati saat berada dalam ruang tanpa oksigen
dibandingkan katak anakan. Berdasarkan Adnan (2009) setiap makhluk hidup
didunia ini memerlukan bernafas, secara tidak langsung memerlukan oksigen
untuk sistem respirasinya. Respirasi sendiri merupakan proses mobilisasi energi
yang dilakukan jasad hidup melalui pemecahan senyawa berenergi tinggi untuk
digunakan dalam menjalankan fungsi hidup.
Katak dan manusia perlu bernapas untuk alasan yang sama yaitu untuk
membawa oksigen ke dalam tubuh dan mengeluarkan karbon dioksida. Keduanya
memiliki paru-paru untuk melakukan pernafasan, tapi itu di mana sebagian besar
kesamaan sistem pernafasan berakhir. Katak hidup di lingkungan yang berbeda
dari manusia, dan perbedaan dalam sistem pernapasan mereka mencerminkan hal
itu. Berdasarkan Anonim (2015) katak menggunakan paru-paru mereka hanya
bagian dari respirasi mereka. Paru-paru katak memiliki dinding tipis dan hampir
seperti balon. Katak mengisi paru-paru untuk membantunya tetap mengapung saat
berenang. Kedua spesies memiliki tabung bronkial yang mengarah ke paru-paru,
tetapi sistem bronkial pada manusia lebih rumit, dengan banyak percabangan
bronkiole.
Katak memiliki organ lain yang mereka gunakan untuk bernapas yaitu kulit.
Katak dapat melakukan pertukaran oksigen dengan karbon dioksida melalui kulit
mereka, tetapi hanya bisa dilakukan saat kulit mereka lembab. Itulah sebabnya
mengapa katak selalu berada di dekat air atau bersembunyi di tanah lembab. Kulit
katak adalah mesin pernapasan yang efisien. Berdasarkan Bresnick (2003) faktor
yang mempengaruhi oksigenasi yakni tahap perkembangan, lingkungan, gaya
hidup, status kesehatan, perubahan/gangguan pada fungsi pernapasan, perubahan
pola nafas, dan obstruksi jalan napas.
Kulit luar katak (Rana sp) selalu basah karena adanya kelenjar sekresi lendir
yang sangat banyak. Selain bernapas dengan selaput rongga mulut, katak bernapas
juga dengan paru-paru. Menurut Wulangi (1993) katak mempunyai sepasang
paru-paru yang berbentuk gelembung tempat bermuaranya kapiler darah.
Permukaan paru-paru diperbesar oleh adanya bentuk- bentuk seperti kantung
sehingga gas pernapasan dapat berdifusi. Paru-paru dengan rongga mulut

Universitas Sriwijaya

9
8

dihubungkan oleh bronkus yang pendek. Selain bernapas dengan selaput rongga
mulut dan paru-paru, katak bernapas pula dengan kulit, ini dimungkinkan karma
kulitnya selalu dalam keadaan basah dan mengandung banyak kapiler sehingga
gas pernapasan mudah berdifusi.
Respirasi dapat diartikan sebagai proses peningkatan oksigen dan
pengeluaran karbondioksida oleh darah melalui permukaan alat pernafasan
organisme dengan lingkungannya atau merupakan proses yang dilakukan oleh
organisme untuk menghasilkan energi dari hasil metabolisme. Berdasarkan
Triastuti (2009) ada dua macam respirasi yaitu, respirasi eksternal (luar) dan
respirasi internal (dalam). Respirasi luar meliputi proses pengambilan O2 dan
pengeluaran CO2 dan uap air antara organisme dengan lingkungannya. Respirasi
internal disebut juga pernapasan seluler karena pernapasan ini terjadi di dalam sel,
yaitu di dalam sitoplasma dan mitokondria.
Respirasi bertujuan untuk menghasilkan energi. Energi hasil respirasi tersebut
sangat diperlukan untuk aktivitas hidup, seperti mengatur suhu tubuh, pergerakan,
pertumbuhan dan reproduksi. Berdasarkan Villee (1984) beberapa faktor yang
mempengaruhi laju konsumsi oksigen antara lain temperatur, spesies hewan,
ukuran badan, dan aktivitas laju konsumsi oksigen dapat ditentukan dengan
berbagai cara, antara lain dengan menggunakan mikrorespirometer, metode
winkler, maupun respirometer scholander. Penggunaan masing-masing cara
didasarkan pada jenis hewan yang akan diukur laju konsumsi oksigennya.
Bernapas adalah proses memasukkan serta mengeluarkan udara ke dan dari
dalam tubuh. Udara yang dimasukkan itu mengandung oksigen, sedangkan udara
yang dikeluarkan mengandung karbon dioksida serta uap air. Menurut Irianto
(2004) oksigen yang masuk digunakan tubuh untuk melakukan proses respirasi,
yaitu proses pemecahan zat makanan untuk menghasilkan energi. Energi tersebut
digunakan makhluk hidup untuk melakukan seluruh aktivitas kehidupannya.
Respirasi bertujuan untuk menghasilkan energi.

10

BAB 5
KESIMPULAN

Universitas Sriwijaya

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:


1. Katak dewasa membutuhkan oksigen yang lebih banyak dibandingkan katak
anakan. Hal ini terbukti karena katak dewasa lebih cepat mati saat berada
dalam ruang tanpa oksigen dibandingkan katak anakan.
2. Katak dapat melakukan pertukaran oksigen dengan karbon dioksida melalui
kulitnya, tetapi hanya bisa dilakukan saat kulitnya lembab.
3. Kulit luar katak (Rana sp) selalu basah karena adanya kelenjar sekresi lendir
yang sangat banyak.
4. Oksigen yang masuk kedalam tubuh digunakan oleh tubuh untuk melakukan
proses respirasi, yaitu proses pemecahan zat makanan untuk menghasilkan
energi.
5. Respirasi merupakan proses mobilisasi energi yang dilakukan jasad hidup
melalui pemecahan senyawa berenergi tinggi untuk digunakan dalam
menjalankan fungsi hidup.

10

Universitas Sriwijaya