Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Stroke merupakan suatu gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh karena
gangguan peredaran darah otak yang timbul secara mendadak, dalam beberapa detik
atau secara cepat dalam beberapa jam dengan gejala dan tanda yang sesuai dengan
daerah otak yang terganggu.
Delapan puluh persen penderita stroke mempunyai defisit neuromotor
sehingga memberikan gejala kelumpuhan sebelah badan dengan tingkat kelemahan
bervariasi dari yang ringan hingga berat, kehilangan sensibilitas, kegagalan
keseimbangan. Hal ini mempengaruhi kemampuannya untuk melakukan aktivitas
hidup sehari-hari.
Neurorestorasi adalah cabang ilmu penyakit saraf (neurologi) yang
mempelajari perbaikan kecacatan akibat penyakit saraf melalui aktivasi sistem saraf
pusat. Neurorestorasi pada stroke merupakan sebuah program terkoordinasi yang
memberikan suatu perawatan restoratif untuk memaksimalkan pemulihan dan
minimalisir impairment, disabilitas dan handikap yang disebabkan oleh karena
stroke. Neurorestorasi pada stroke telah terbukti dapat mengoptimalkan pemulihan
sehingga penyandang stroke mendapat keluaran fungsional dan kualitas hidup yang
lebih baik.
Salah satu terapi pada Neurorestorasi yang sering dipergunakan adalah
program latihan gerak. Dalam teknik ini dilakukan latihan fungsional dan identifikasi
kunci utama suatu tugas-tugas motorik, seperti duduk, berdiri atau berjalan. Selain
tugas motorik dianalisis, ditentukan komponen-komponen yang tidak dapat
dilakukan, melatih penderita untuk hal-hal tersebut serta memastikan latihan ini
dilakukan pada aktifitas sehari-hari pasien.
Latihan motorik harus dilakukan dalam bentuk aktifitas fungsional karena
tujuan dari Neurorestorasi tidak hanya sekedar mengembalikan suatu pergerakan
akan tetapi juga mengembalikan fungsi. Proses latihan harus meningkatkan
kemudahan mobilisasi, rawat diri dan aktifitas kehidupan sehari-hari yang lain bagi
penderita stroke.
1.2. Identifikasi Masalah
1. gangguan fungsi sensorik
2. gangguan fungsi motorik
1

3. gangguan fungsi ADL


4. Gangguan mobilisasi/transver
5. gangguan fungsi vegetative dan otonom (blader dan bowel)
6. gangguan psikologis
7. gangguan seksual
8. menurunnnya rasa percaya diri
9. gangguan berinteraksi
10. gangguan berkomunikasi
11. gangguan visual
1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, identifikasi masalah dan pembatasan
masalah yang ada, maka kami merumuskan masalah-masalah yang akan dikaji dan
dilaporkan adalah sebagai berikut :
a) Gangguan fungsi motorik pada bagiantubuhsebelahkanan.
b) Gangguansensorik : gangguansensitivitaspadabagiantubuhsebelahkanan
c) mobilisasi/transfer :Transfer dari bed ke kursi roda, dan dari kursi roda ke
beddenganpengawasanatau partial support.
d) Masalah dalam ADL yaitu membutuhkan partial support menggunakan kursi
roda untuk jalan yang jauh.
e) gangguan berinteraksi dan gangguan berkomunikasi karena mengalami afasia
motorik.
1.4 Tujuan Penulisan
1) Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh asuhan fisioterapi diterapkan pada kasus pasca
stroke.
2) Tujuan Khusus
Untuk mengetahui teknik assesment yang efektif dan efisien dalam

menetapkan hipotesis serta diagnosa fisioterapi pasca stroke.


Untuk mengetahui program latihan yang efektif dan efisien dalam kasus pasca

stroke
Untuk mengetahui metode dan teknik intervensi yang efektif dan efisien dalam

kasus pasca stroke.


Untuk menilai hasil intervensi dalam kajian akademik dan profesional.
Untuk meningkatkan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional pasien
secepatnya

1.5 Manfaat Penulisan


1) Bagi pendidikan
diharapkan dengan adanya hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan
tentang fisioterapi pada kasuspasca stroke.
2) Bagi profesi fisioterapi
2

Dalam praktek pelayanan fisioterapi sendiri, diharapkan dapat membantu rekanrekan seprofesi dalam memberikan pelayanan fisioterapi pada kasuspasca stroke.
3) Bagi pasien
Pasienbisamengerti dan memahamitentangapaitu stroke serta akibatnya pada
tubuh, danpenatalaksanaan atau penanganan secara sederhana.

BAB II
KAJIAN TEORI
2.1. Pengertian Stroke
Menurut WHO, stroke adalah suatu gangguan fungsional otak yang terjadi
secara mendadak dengan tanda dan gejala klinis baik fokal maupun global yang
berlangsung lebih dari 24 jam, atau dapat menimbulkan kematian, disebabkan oleh
gangguan peredaran darah otak.
Stroke adalah penyakit gangguan fungsional akut, fokal maupun global, akibat
gangguan aliran darah ke otak karena perdarahan ataupun sumbatan dengan gejala
dan tanda sesuai bagian otak yang terkena, yang dapat sembuh sempurna, sembuh
dengan cacat, atau berakibat kematian (Junaidi, 2006).
Stroke adalah cedera vascular akut pada otak yang disebabkan oleh sumbatan
bekuan darah, penyempitan pembuluh darah, sumbatan dan penyempitan, atau
3

pecahnya pembuluh darah. Semua ini menyebabkan kurangnya pasokan darah yang
memadai dengan gejala tergantung pada tempat dan ukuran kerusakan (feigin,2006).
2.2 Patofisiologi Stroke
Otak merupakan organ tubuh yang paling kompleks dan berperan penting bagi
kesehatan dan kehidupan yang baik. Ukurannya relatif lebih kecil dibandingak bagian
tubuh yang lain. Beratnya hanya 1,5 kg atau sekitar 2 % dari berat total tubuh kita.
Namun organ ini menerima hampir seperlima dari total oksigen dan pasokan darah.
Nutrisi yang kita makan sangat diperlukan untuk menjaga agar otak tetap bekerja
dengan optimal. Otak bergantung total pada pasokan darahnya. Intrupsi sekitar 7-10
detik saja sudah dapat menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada
bagian otak yang terkena (feigin, 2006).
Otak mendapatkan banyak pasokan darah. Ada aliran darah konstan yang
membawa neuronutrient(nutrisi penting untuk saraf) seperti asam amino,vitamin dan
mineral. Neuronutrient bersama oksigen dan glukosa akan menyediakan energi untuk
otak. Gangguan aliran darah selama satu atau dua menit dapat menurunkan fungsi
otak. Jika gangguan berlangsung lebih lama, maka kerusakan permanen di otak akan
terjadi.
Stroke adalah penyakit gangguan fungsional otak berupa kematian sel-sel saraf
neurologic akibat gangguan aliran darah pada otak yang secara spesifik terjadi karena
terhentinya aliran darah ke otak mengakibatkan suplai darah yang membawa nutrisi
berkurang sehingga terjadi kematian jaringan. Kematian jaringan yang terjadi dapat
menimbulkan kelainan fungsi pada tubuh sesuai dengan bagian otak yang mengalami
kematian.
2.3. Etiologi Stroke
Gangguan suplai darah ke otak merupakan penyebab terjadinya stroke.
Gangguan suplai darah ini di sebabkan oleh adanya penyumbatan dan pecahnya
pembuluh darah di otak. Berdasarkan penyebab ini stroke di kelompokan menjadi 2
macam yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik:
1. Stroke iskemik
Stroke iskemik adalah stroke yang di sebabkan oleh terjadinya
penyumbatan pada arteri yang mengarah ke otakyang mengakibatkan suplai
oksigen ke otak mengalami gangguan sehingga otak kekurangan oksigen.
Sumabatan ini akibat oleh adanya plak yang terbentuk akibat proses
aterosklerotik.
Aterosklerosis adalah kondisi dimana terjadi penumpukan timbunan lemak
dan kolestrol yang disebut plak dalam pembuluh dara. Penumpukan plak tersebut
menyebabkan dinding dalam arteri menjadi kasar dan tidak rata. Lama kelamaan
4

plak tersebut membesar dan menghambat aliran darah sehingga daerah tersebut
kekurangan oksigen dan berakhir pada kematian jaringan atau infark.
2.

Stroke hemoragik
Stroke hemoragik adalah stroke yang di sebabkan oleh pecahnya pembuluh
darah di otak yang menghambat aliran darah normal dan darah merembes ke
daerah sekitarnya kemudian merusak daerahnya tersebut.
Factor terjadinya stroke:
1. Factor yang tidak dapat dikontrol
a. Umur
b. Jenis Kelamin
2. Factor resiko yang dapat dikontrol
a. Hipertensi
b. Diabetes mellitus
c. Kolesterol
d. Obesitas
e. Merokok
f. Stress

2.4. Tanda dan Gejala Stroke


Gejala awal stroke sering tidak diketahui oleh penderitanya. Stroke sering
muncul secara tiba-tiba, serta berlangsung cepat. Beberapa gejala awal terjadinya
stroke adalah:
1) Nyeri kepala disertai menurunnya kesadaran, bahkan koma.
2) Kelemahan atau kelumpuhan pada lengan, tungkai, atau salah satu sisi tubuh.
3) Mendadak seluruh badan lemas dan terkulai tanpa hilang kesadaran (drop attack)
atau disertai hilangan kesadaran sejenak(sinkop).
4) Gangguan pengelihatan (mata kabur) pada satu atau dua mata.
5) Gangguan keseimbangan berupa vertigo dan sempoyongan.
6) Rasa baal pada wajah atau anggota badan satu atau dua sisi.
7) Kelemahan atau kelempuhan wajah atau anggota badan satu atau dua sisi.
8) Kehilangan sebagian atau seluruh kemampuan bicara(afasia).
9) Gangguan daya ingat atau memori baru (amnesia).
10) Gangguan orientasi tempat, waktu, dan orang.
11) Gangguan menelan cairan atau makan padat (disfagia).
Berdasarkan lokasi terjadinya lesi, gejala stroke dibagi menjadi atas:
1) Bagian saraf pusat, yaitu kelemahan otot (hemiplagia), kaku, dan menurunnya
fungsi sensorik
2) Batang otak, terdapat 12 saraf cranial.
Gejala adalah lidah melemah, kemampuan membau, mengecap, mendengar,
melihat secara parsial atau keseluruhan menjadi menurun, serta kemampuan
reflex, ekspresi wajah, pernapasan, dan detak jantung menjadi tergantung.
5

3) Cerebral cortex
Gangguan yang terjadi adalah afasia, apraksia, daya ingat menurun, hemiparase,
dan kebingungan.
4) Cerebrum
Gangguan yang terjadi adalah adanya gerakan tangkas diiringi dengan tanda-tanda
gangguan upper motor neuron (UMN) seperti meningkatnya tonus otat pada sisi
yang lumpuh dan refleks tendon serta refleks patologis positif pada sisi yang
lumpuh.
5) Cerebelum
Gangguan keseimbangan, gangguan ketangkasan gerakan disertai dengan tandatanda seperti menurunnya tonus otot dan refleks tendon pada sisi terganggunya
gerakan tangkas secara refleks patologis negatif.
2.5. Anatomi dan Fisiologi Otak
Otak adalah organ vital yang terdiri dari 100-200 miliyar sel aktif yang saling
berhubungan dan bertanggung jawab atas fungsi mental dan intelektual kita. Otak
terdiri dari sel-sel otak yang disebut neuron.
Otak merupakan organ yang sangat mudah beradaptasi meskipun neuronneuron di otak mati tidak mengalami regenerasi, kemampuan adaptif atau plastisitas
pada otak dalam situasi tertentu bagian-bagian otak dapat mengambil alih fungsi dari
bagian-bagian yang rusak. Sehingga bagian-bagian otak separti belajar kemampuan
baru . ini merupakan mekanisme paling penting yang berperan dalam pemulihan
stroke (feigin, 2006).
Otak merupakan bagian utama dari sistem saraf, dengan komponen bagiannya
adalah :
1) Cerebrum
Cerebrum merupakan bagian otak yang terbesar yang terdiri dari hemisfer kanan
dan kiri dan tersusun dari korteks.
Korteks ditandai dengan sulkus(celah) dan girus.
Cerebrum dibagi menjadi beberapa lobus, yaitu :
a) Lobus frontalis
Lobus frontalis berperan sebagai pusat fungsi intelektual yang lebih tinggi,
seperti kemampuan berfikir abstrak dan nalar, bicara (area broca di hemisfer
kiri), pusat penghidu, dan emosi. Bagian ini mengandung pusat pengontrolan
gerak volunter di gyrus presentalis (area motorik primer) dan terdapat area
asosiasi motorik (area premotor). Pada lobus ini terdapat daerah broka yang
mengatur ekspresi bicara, lobus ini juga mengatur gerakan sadar, perilaku
sosial, berbicara, motivasi dan inisiatif.

b) Lobus temporalis
Lobus temporalis berfungsi untuk mengatur daya ingat verbal, visial,
pendengaran dan berperan dalam pembentukan dan perkembangan emosi.
c) Lobus parientalis
Lobus parietalis merupakan daerah pusat kesadaran sensorik di gyrus
postsentralis (area sensorik primer) untuk rasa raba dan pendengaran.
d) Lobus oksipitalis
Lobus occipitalis berfungsi untuk pusat pengelihatan dan area asosiasi
pengelihatan, menginterpretasi dan memproses rangsangan pengelihatan dari
nervus optikus dan mengasosiasikan rangsangan ini dengan informasi saraf
lain dan memori.
e) Lobus limbik
Lobus limbik berfungsi untuk mengatur emosi manusia, memori emosi dan
bersama hipotalamus menimbulkan perubahan melalui pengendalian atas
susunan endokrin dan susunan otonom.
2) Cerebelum
Cerebelum adalah strutur kompleks yang mengandung lebih banyak neuron
dibandingkan otak secara keselurahan. Memiliki peran koordinasi yang penting
dalam fungsi motorik yang didasarkan pada informasi somatosensori yang
diterima, inputnya 40 kali lebih banyak dibandingkan output. Cerebelum terdiri
dari tiga bagian fungsional yang berbeda yang meneriman dan menyampaikan
informasi ke bagian lain dari sistem saraf pusat.
Cerebelum merupakan pusat koordinasi untuk keseimbangan dan tonus
otot. Mengendalikan kontraksi otot-otot volunter secara optimal. Bagian-bagian
dari cerebelum adalah lobus anterior, lobus medialis dan lobus fluccolonodularis.
3) Brain Stem
Brainstem adalah batang otak, berfungsi untuk mengatur seluruh proses
kehidupan yang mendasar. Berhubungan dengan diensefalon diatasnya dan
medulla spinalis dibawahnya. Struktur-struktur fungsional batang otak yang
penting adalah jaras asenden dan desenden traktus longitudinalis antara medulla
spinalis dan bagian-bagian otak, anyaman sel saraf dan 12 pasang saraf cranial.
Secara garis besar brainstem terdiri dari 3 segmen yaitu mesensefalon ,
pons dan medula oblongata.
2.6. Metode Bobath
Metode Bobath pada
didasarkan

atas

inhibisi

awalnya memiliki

konsep

perlakuan

yang

aktivitas abnormal reflex dan pembelajaran kembali

gerak normal, melalui penanganan manual dan fasilitasi. Dengan perkembangan


7

ilmu

dan teknologi, maka konsep bobath juga mengalami

dimana konsep bobath terkini adalah :Pendekatan

perkembangan

problem solving dengan cara

pemeriksaan dan tindakan secara individual yang diarahkan pada tonus otot, gerak
dan fungsi akibat lesi pada system saraf pusat.
1. Tujuan Intervensi Bobath
Tujuan dari intervensi metode bobath adalah optimalisasi fungsi
dengan peningkatan kontrol postural dan gerakkan selektif melalui fasilitasi,
sebagaimana

yang

dinyatakan

oleh IBITA tahun 1995.The

goal

of

treatment is to optimize function by improving postural control and selective


movement trought fasilitation(IBITA 1995).
2. Prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam intervensi bobath.
1). Pola Gerakan
a) Gerakan yang ada dalam suatu pola yang telah dikontrol oleh
system persarafan, yaitu saraf pusat (bukan gerakan perotot)
b) Gerakan yang dilakukan untuk meningkatkan aktivitas anak
dilakukan berdasarkan pada pola gerakan dan perkembangam normal.
c) Dilakukan pada gerakan yang dikarenakan oleh
Perkembangan pola gerakan yang abnormal.
Kompensasi /adaptasi terhadap abnormalitas.
d) Tujuan penerapan Bobath
- Seluruh gerakan diajarkan dalam kondisi yang normal atau
kondisi yang mendekati normal.
- Meningkatkan kualitas dari gerakan.
e) Harus memahami pola -pola gerakan yang abnormal untuk
menimbulkan lebih banyak pola gerakan yang normal.
2). Komponen Gerakan
a). Tonus postural yang normal untuk menahan gravitasi bila
bagian lainbergerak.
b). Gerakan yang responsive dan efektif hanya terjadi pada
penanganan yang benar.
c). Penanganan untuk menormalisasi postural, meningkatkan
sikap dari gerakan, meningkatkan keterampilan

dan meningkatkan

adaptasi terhadap rangsang.


3). Konsep / prinsip kerja terapibobath, meliputi ;
a) Fasilitasi
Suatu bentuk bantuan yang diberikan untuk memudahkan
pasien dalam melaksanakan aktivitasnya sehari - hari, hal ini dapat
dilakukan dengan teknik posisioning.Fasilitasi adalah salah satu
cara yang menggunakan kontrol sensory dan proprioceptive
untuk mempermudah gerakan. Pemberian fasilitasi adalah bagian
8

dari satu proses belajar secara aktif (IBITA 1997) dimana individu
memungkinkan untuk

mengatasi

atau

satu tugas fungsional. Pemberian fasilitasi

menyelesaikan

inersia,

inisiatif, melanjutkan

digunakan untuk membantu individu dalam pemecahan masalah,


memungkinkan

dia

untuk

melakukan gerakan yang sebaik

mungkin selama bekerja. Memberikan kinerja fasilitasi terhadap


performance bisa ditingkatkan dengan pengulangan dalam latihan.
b) Stimulasi
Merupakan suatu bentuk pemberian rangsangan yang terdiri dari dua
bentuk antara lain ;
Stimulasi verbal (dengan aba -aba, suara/bunyi - bunyian)
Stimulasi non
verbal(menggunakan rangsang taktil
dan propioseption)
c) Stability
Merupakan salah satu bagian dari teknik

terapi yang bertujuan

untuk membentuk stability untuk mengurangigerakan

yang

abnormal. Stabilisasi yang diberikan antara lain postural stability


dan proximal stability.
3. Aplikasi metode Bobath pada pasienstroke
Pada prinsipnya bentuk latihan dengan pendekatan metode bobath
bersifat individual,

tergantung

problem yang

di temukan

pada

pemeriksaan. Langkah awal dalam terapi latihan bobath yaitu dengan


aktifasi core stability(otot abdominal, otot para spinal,otot pelvic floor).
Otot-otot tersebut merupakan otot yang memberikan stabilitas yang utama
pada postur. Dengan stabilitas postur yang adekuat,

maka

fungsi

mobilitas dari ekstremitas menjadi lebih mudah.


Beberapa bentuk latihan dalam pendekatan metode bobath yang umum
diberikan pada pasien stroke,diantaranya :

4. Latihan fungsional sehari-sehari


Gangguan fungsi otak yang timbul pada kasus stroke antara lain adalah
gangguan koordinasi, gangguan keseimbangan, gangguan kontrol postur,
gangguan sensasi dan gangguan reflek gerak. Adanya permasalahan tersebut
diatas
kompensasi

menyebabkan
yang

kompensasi

meningkat

gerakan

meningkat,

dengan

akan menurunkan kemampuan


latihan aktif core stability
keterampilan motorik (motor skill) sehingga pasien akan mengalami gangguan
proximal hamstring
Latihan aktiasi core stability

maka

aktifasi extensor trunk

fungsional aktivitas

sehari-hari.

Pada

pasien dengan kompensasi gerak

yang tinggi termasuk adanya spastisitas akan mengalami kesulitan untuk


melakukan fungsional aktivitas sehari-hari dengan pola yang tepat. Tingkat
spastisitas yang tinggi akan mengakibatkan ketidak mampuan pasien
dalam mempertahankan postur, gerakan motorik dan pada akhirnya
mengganggu kemampuan fungsional aktivitas sehari-hari.
Latihan fungsional sehari-hari atau sering disingkat ADL (activity
daily living), perlu diberikan untuk meningkatkan kemandirian pasien stroke.
Beberapa

aktivitas fungsional yang diberikan tentu saja memerlukan

penyesuaian dengan kemampuan pasienstroke. Awali latihan dengan kegiatan


yang sederhana akan tetapi merupakan kegiatan yang rutin dilakukan oleh
pasien

stroke

sebelum

mengalami serangan stroke, seperti aktivitas

mengenakan baju, mandi, naik turun tangga dan libatkan yang merupakan
kegemaran pasien stroke.

10

BAB III
LAPORAN KASUS
A. ASSESMENT
I. ANAMNESIS UMUM
a. DATA KLIEN
Nama
Jenis Kelamin
Tanggal Lahir
Alamat
Agama
Pekerjaan
Tanggal Masuk
Diagnose Medis
II.

: Tn. Doli H Nasution


: Laki-laki
: 15 September 1958
: komp. Merapi No. 35, chevron duri , Pekanbaru
: Islam
: Pegawai Swasta
: 21 Juli 2014
: stroke iskemik dengan hemiplegi dextra

ANAMNESIS KHUSUS
a. Keluhan Utama
: sulit melangkahkan klaki saat berjala pada sisi kanan,
kelemahan pada ekstremitas atas dan bawah sebelah kanan.
pembahasannya
b. Riwayat Penyakit Sekarang : sejak kurang lebih 4 minggu sebelum masuk
rumah sakit pasien sering lupa, semakin lama semakin pasien sering lupa
nama anak dan kegiatan yang baru dilakukan disertai nyeri kepala terutama
malam hari. Dirawat di rumah sakit pekanbaru selama kurang lebih 6 hari
namun tidak ada perubahan penderita umroh. Selama umroh kondisi
semakin menurun., omongan tidak nyambung dan tidak jelas bicara
semakin tak jelas, sering terbolak-balik dan tidak nyambung di rujuk ke
RSCM.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
d. Riwayat Keluarga

: hipertensi
: tidak ada

B. PEMERIKSAAN
I. PEMERIKSAAN FISIK
a. Vital Sign
Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Denyut nadi
: 80 detak/menit
Pernafasan
:18 x/menit
b. Inspeksi
menggunakan kursi roda, flexi head + rotasi kanan, ekstremitas atas (shoulder
kanan drop dan protraksi, flexi elbow, hand supinasi, flexi wrist, flexi phalank,
oedem pergelangan tangan), ekstremitas bawah (lemah pada tungkai kanan,
terdapat oedem tungkai bawah kanan).
11

c. Palpasi
Oedem pada tungkai bawah kanan dan pergelangan tangan kanan.
d. Auskultasi
(tidak melakukan)
II.

PEMERIKSAAN KHUSUS
a. Gait AnalysisPadaSisiKanan :
Upper limb : scapula protraksi, shoulder adduksi dan internal rotasi, elbow
fleksi dengan supinasi lengan bawah, wrist fleksi dan ulnar deviasi, jari
fleksi dan adduksi.
Trunk
: rotasi back ke kanan dengan fleksi lateral ke kanan.
Lower limb : pelvic backward ke kanan, hip ekstensi , adduksi dan internal

III.

rotasi, ankle plantar fleksi dan eversi.


Fase heel strike : tidak ada
Fase foot-flat
: ada
Fase midstance
: ada
Fase Heel-off
:tidak ada
Fase toe-off : tidak ada
Fase swing (acceleration-midswing) : 10%
Tidak adanya fleksi knee
TES KHUSUS
Asworth scale
: elbow dextra :3
Manual Muscle Test:
2222 5555
2222 5555
Indeks Bartel : 10 ( ketergantungan sedang )
Tes resiko Jatuh : 85 (resiko jatuh tinggi)

C. HIPOTESA
Berdasarkan pemeriksaan diatas bahwa terjadi pula jalan pola jalan yang tidak
normal, dikarenakan menurunnya postural control dan postural tone. Postural
tone di pengaruhi oleh core stability, balance dan selective movement yang
menurun. dengan menurunnya postural tone akan mempengaruhi postural
control.
D. DIAGNOSA
Gangguan berjalan karena penurunan postural tone dan core stability akibat pasca
stroke iskemik.
E. PLANNING
Konsep bobath untuk meberikan fasilitasi dan stimulasi Meningkatkan
fungsi, postural control, dan selective movement dengan fasilitasi terus

menerus.
Latihan di tempat tidur
12

Latihan keluar dari tempat tidur


Latihan di luar tempat tidur : duduk di kursi, belajar berdiri, belajar berjalan.
Latihan duduk
Latihan berdiri
Latihan berjalan

F. INTERVENSI
Goal
Untuk
mensti
mulasi

Potition
- Berbaring

Pattern/Movement
- External-internal rotasi hip.
- External-abduksi+flexi knee.
- External-abduksi+flexi knee-flexi hip
secara vertical.
- Flexi hip + flexi knee + rotasi pelvic
dextra.
- Pegang lutut kanan dengan tangan kiri
saling mendekat dan sebaliknya
- Pegang kedua lutut dengan kedua
tangan dekatkan kepala dengan lutut
- Posisi side lying lalu lakukan gerakan
rotasi pelvic
- Letakkan kedua tangan dibawah
kepala kemudian dekatkan kedua
tangan, tekuk kedua kaki lalu
dekatkan siku ke lutut
- Kedua kaki ditekuk, lalutangan yang
sehat digunakan sebagai support
untuk bangun keposisi duduk
- Kaki dilipat kebelakang,
menggunakan tangan yang
sakitsebagai support sedangkan
tangan satunya digunakan untuk
meraih sesuatu ditambah dengan
rotasi trunk kearah yang sakit
- Juntaikan kaki kebawah lalu letakkan
telapak kaki sampai seluruh telapak
terkena lantai.
- Ayunkan pinggul kearah depan untuk
persiapan berdiri kemudian

13

Technique
Bobath

- Duduk

bungkukan badan dan bersiap berdiri.


- Latihan weight bearing
- Mengajarkan teknik dan pola jalan
yang baik dan benar

- Berdiri
- Berjalan

G. EVALUASI
Setelah melakukan latihan selama 5 hari pasien mengalami peningkatan
berupa keseimbangan yang membaik, berdiri 1 kaki di papan pijakan, saat
berjalan, saat naik tangga dan pada tangan sudah mampu melakukan ekstensi

sendiri tetapi tidak full rom dan gerakan tanpa melawan grafitasi.
Pada ekstremitas bawah dan atas pada sisi kanan, pasien sudah melakukan
gerakan yang benar tetapi ketika pasien libur latihan selama 2 hari pasien
sudah lupa lagi atau sudah mengalami penurunan untuk melakukan gerakan
yang baik dan benar sehingga gerakan yang dilakukan lebih menurun dari
latihan sebelumnya. Selain itu mulai terjadi penurunan keseimbangan saat
posisi duduk ke berdiri, saat kaki yang sehat ditaruh di papan pijakan, saat
berjalan, saat naik tangga, dan pada tangannya.
no.

Sebelum

Saat sakit

Setelah terapi

11
Ketergantungan

14
Ketergantungan

sedang

ringan

sakit
1

Index bartel

20
mandiri

14

2.

Penilaian
resiko

jatuh

pasien dewasa

0
Tidak

85
Resiko tinggi

45
Resiko rendah

beresiko

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Gait pada pasien post stroke
Pasien dengan kondisi stroke akan mengalami banyak gangguan-gangguan
yang bersifat fungsional. Kelemahan ekstremitassesisi, control tubuh yang buruk serta
ketidak stabilan pola berjalan merupakan aspek-aspek pada pasien post stroke yang
tak terpisahkan.
Pola jalan penderita stroke antara lain:
1. Fase menapak (stance phase)
a. Terbatasnya fleksi hip dan dorsofleksi ankle
b. Terbatasnya control fleksi-ekstensi lutut pada lingkup gerak sendi 0-15o (dapat
berubah hiperekstensi lutut atau fleksi lutut yang berlebih)
c. Terlalu besarnya terbatasnya geseran horizontal pelvis
d. Terbatasnya plantar fleksi ankle saat toe off

15

e. Terlalu besarnya gerakan pada sisi sehat berupa pelvis tilt kearah bawah dan
geseran horizontal lateral kearah sisi sakit.

Gambar 2.1 Fase Menapak pada Pasien post stroke Sumber: Jones, 1996
2. Fase mengayun (Swing phase)
a. Terbatasnya fleksi lutut saat akan mengayun
b. Terbatasnya fleksi hip
c. Terbatasnya ekstensi lutut dan dorsofleksi ankle saat heel strike

Gambar 2.2 Fase Mengayun pada Pasien post stroke Sumber: Jones, 1996
Menurut Knutson dan richards, ada 3 tipe jalan penderita hemiplegia, yaitu:
1.

Type I
16

a. Hiperaktif Stretch Refleks


b. Gangguan jalan sedang
c. Hiperekstensi lutut saat menapak
d. Mampu berjalan cukup jauh
2.

Type II
a. Sangat minim aktivitas control motorik
b. Hiperekstensi lutut yang ekstrem
c. Terbatasnya fleksi lutut
d. Tidak adanya aktivitas calf muscle dan tibialis anterior
e. Kemampuan jalannya bervariasi
f. Kebanyakan memerlukan splint

3.

Type III
a. Sangat berlebihan
b. Stereo type
c. Disorganisasi saat fase menapak dan mengayun

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan
Stroke adalah gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh
penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu. Terapi latihan dapat
dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan penderita stroke. Beberapa
manfaat dari metode terapi bobath dan feldenkrais bagi penderita stroke adalah dapat
memberikan stimulasi atau rangsangan pada somatosensorisnya secara aktif agar
pasien dapat merasakan gerakan yang benar dari tubuhnya dan memberikan fasillitasi
untuk mempermudah gerakannya.
5.2. Saran
Menurut kelompok kami dengan adanya laporan ini di harapkan pasien terus
berlatih sampai dapat menjalankan ADL dengan normal, melihat kemajuan yang
dicapai diharapkan pasien mempunyai motivasi yang tinggi, keyakinan, dan
semangat dalam berlatih. selain itu pada keluarga pasien diberi pengertian supaya
tetap membantu dan memberi dorongan yang positif, supaya pasien mendapatkan

17

kesempatan untuk mencapai peningkatan, serta memperhatikan jadwal kontrol ke


fisioterapis dan memperhatikan anjuran anjuran yang di berikan fisioterapis

18