Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FISIKA FARMASI INSTRUMENTAL DAN BIOKIMIA (FA 3113)

PERCOBAAN VII
ANALISIS KARBOHIDRAT

Tanggal Percobaan : 7 Oktober 2014


Tanggal Pengumpulan : 14 Oktober 2014

Oleh :
Cahyani Kesuma Suryaloka (10712045)
Kelompok F

Asisten :
Sofia F. (20713015)

LABORATORIUM FARMAKOKIMIA
PROGRAM STUDI SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI
SEKOLAH FARMASI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014

PERCOBAAN VII
ANALISIS KARBOHIDRAT

I.

Tujuan
1. Menentukan keberadaan karbohidrat dalam sampel dengan uji
kualitatif yaitu uji Molisch, uji Seliwanoff, uji Fehling, uji Iodin, dan
hidrolisis asam
2. Menentukan kadar glukosa dalam sampel dengan metode reaksi
enzimatik

II.

Teori Dasar
Karbohidrat merupakan senyawa yang memiliki struktur dasar

polihidroksi aldehida dan keton atau senyawa-senyawa yang bisa di


hidrolisis menjadi senyawa-senyawa tersebut (Smith, 2010). Rumus
molekular dari senyawa karbohidrat ditulis dengan C n(H2O)n. Karbohidrat
diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Monosakarida
Monosakarida merupakan karbohidrat paling sederhana yang
memiliki tiga sampai tujuh atom karbon dengan gugus karbonil
pada bagian ujung rantai atau di sebelah bagian ujung rantai
karbon.
2. Disakarida
Disakarida mengandung dua monosakarida yang dihubungkan
dengan ikatan glikosida. Senyawa ini mengandung dua gugus
alkoksi (gugus OR) berikatan dengan karbon yang sama. Ikatan
glikosida

yang

menghubungkan

kedua

monosakarida

dapat

diorientasikan ke dua arah (-sheet dan -sheet).


3. Polisakarida
Polisakarida mengandung tiga atau lebih monosakiarida yang
digabungkan. Tiga jenis polisakarida yang ada di alam adalah
selulosa, pati, dan glikogen, masing-masing terdiri dari glukosa
yang berulang dan dihubungkan dengan ikatan glikosida.
Uji kualitatif karbohidrat bertujuan untuk menentukan keberadaan
suatu senyawa dalam larutan sampel, sedangkan uji kuantitatif bertujuan
untuk menentukan kadar sampel. Terdapat banyak jenis uji kualitatif

karbohidrat, diantaranya adalah uji Iodin, uji Molisch, uji Fehling, uji
Seliwanoff, hidrolisis asam, dan lain-lain. Uji ini memanfaatan reaksi
pembentukan kompleks, reduksi, oksidasi, hidrolisis, dan lain-lain untuk
menentukan keberadaaan suatu senyawa karbohidrat. Sedangkan salah
satu uji kuantitatif karbohidrat dapat dilakukan dengan metode reaksi
enzimatik yang memanfaatkan pengubahan glukosa menjadi suatu
kromofor sehingga dapat menyerap cahaya dan dapat dibaca nilai
absorbansinya pada alat spektrofotometer.

III.

Alat dan Bahan


Alat :
1. Gelas kimia
2. Pipet
3. Penangas
4. Tabung reaksi
5. Kertas litmus
6. Spektrofotometri visibel
7. Gelas ukur
Bahan :
1. KI
2. Iodin
3. Akuades
4. CuSO4.5H2O
5. Sodium potasium tartrat
6. NaOH
7. Reagen Fehling
8. -naftol
9. Etanol
10.
Reagen Molisch
11.
H2SO4
12.
Reagen Selwanoff
13.
Resorcinol
14.
HCl
15.
Sukrosa
16.
Glukosa
17.
Reagen GOD-PAP
18.
Amilum

IV.

Cara Kerja
A. Uji Kualitatif Karbohidrat
1. Uji Iodin

PtkreabdumHsnigh
TK a e b m u un dg i ar en a mk s a i s A i n dg i- m s i a l s a i rn u g t a t na b a u m n ig l u d m i t a 2 m 0 b t ae ht e k s a dn a n t a b u n g r e a k s i B
d ei ns gi ad ne n 3 g - a4 n t el at er su t r a e n a g el un k I o s d a i n 2 0 t e t e s

RPK eedad gu eatan tbaFubenuhgnligrnegraekAaskiysABai nddgiipcaanm a ps ku ar kn ahn in1 g m al r e a g e n F e h lin g A d a n 1 m l F e h lin g B s e r ta


md iteaknmgd abi n dh uknnayg dC1eu0nSgOa n 2 m l a r u ta n sg ul k r o s a

2. Uji Fehling

TK aedb u n a g t ar eb aku n sg i rAB e akd i ts ai m d ib p ahan k asank an1 0 t e t e s l a r u t a n sg ul uk kr o s a


dp anad a d aii t ar m b enah d k i and i h 2 h ti en t ge gs a r e 4 ag5 en M o l i s c h

3. Uji Molisch

4. Uji Seliwanoff

TK a e b d u u n a g t a r eb au k n s g i rAB e a d k i ts a i m d ib p a a h n k a a s n k a d n e n g a n
2p a m d a l r a e i ar g m e ne n S d e i dl i i w h a s n e o l a f fm d a a 6n - 28 t e t e s
sgm u l ue k nk r oi t s a

TKeDiT aabldbuuknaungkgt aarrebneauapknkesgsinirAaBAemaddkbi tstaihamdm inbpbarahenhkaakgasnekn a1dnFmle pnhagldHCli an ga2i0re nt ce et er s 3Na O H d a n t a b u n g


3mepMr e MaddnkaasdniadeBn5tiihad5mlpsi mlteal a mrlbauu arntuahg1ntka0ransenmeuaakkdmrsenoiiisltgua am n 3 7 t e t e s Na O H

5. Hidrolisis Asam

D i bs iu ap tk l a nr u l t a r nu tsa t nam n b dp l ae rnl kd oe n g a n m e nl ai rm u bat k a ng 15 0 0 ,m1 gm g l us ka mo s pa e dl adal a lma m 1 01 0 0


m le nr eg a g u e n a kG a On Da i- rP aA k P u adad el as m l a b u v o l u m e t r i k

B. Uji kuantitatif karbohidrat

L a ru ta n bs tlam n dpk aeorl d im a s u k a n k e d a l m k u v e t k e m u d ia n d iu k ur a b s o rb a n s in y a p a d p a n ja n g e lo m b a n g 5 0 n m (5 0 -5 2 0 n m )


p a d a l t s p e k tro f to m e t r
V.

Perhitungan dan Pengolahan Data


A. Uji Kualitatif Karbohidrat
No
.
1.

Uji

Hasil Pengamatan

Uji Iodin

Reagen Iodin

Reagen Iodin

ditambahkan ke dalam

ditambahkan ke dalam

larutan glukosa

larutan amilum

menghasilkan warna

menghasilkan warna

coklat muda agak

biru tua kehitaman.

oranye.

2.

Uji
Fehling

3.

Reagen Fehling

Reagen Fehling

ditambahkan ke dalam

ditambahkan ke dalam

larutan glukosa tidak

larutan sukrosa tidak

membentuk endapan

membentuk endapan

setelah dipanaskan pada

setelah dipanaskan

suhu 100oC

pada suhu 100oC

Reagen Molisch

Reagen Molisch

ditambahkan ke dalam

ditambahkan ke dalam

larutan glukosa dan

larutan sukrosa dan

dipanaskan kemudian

dipanaskan kemudian

ditambahkan H2SO4

ditambahkan H2SO4

terbentuk cincin warna

terbentuk cincin warna

ungu kecoklatan.

ungu kecoklatan.

Uji
Molisch

4.

Uji
Seliwano
ff

5.

Reagen Seliwanoff

Reagen Seliwanoff

ditambahkan ke dalam

ditambahkan ke dalam

larutan sukrosa dan

larutan glukosa dan

dipanaskan muncul

dipanaskan muncul

warna merah

warna bening

Larutan amilum

Larutan sukrosa

ditambahkan asam HCl

ditambahkan asam HCl

encer kemudian di

encer kemudian di

panaskan dan

panaskan dan

ditambahkan NaOH.

ditambahkan NaOH.

Ditambahkan pereaksi

Ditambahkan pereaksi

Fehling dan tidak muncul

Fehling dan tidak

endapan merah selama

muncul endapan merah

reaksi

selama reaksi

Hidrolisis
Asam

B. Uji Kuantitatif
Menggunakan metode reaksi enzimatik, pelarut yang digunakan
adalah reagen GOD-PAP
Penimbangan glukosa larutan sampel = 0,5 gram
Larutan glukosa sampel = 500,01 mg/dL

Larutan glukosa standar = 100 gram/dL


Dilakukan pengukuran menggunakan alat spektrofotometer :
Absorbansi larutan blanko = tidak diperoleh karena larutan berubah
warna pink yang menandakan adanya pengotor
Absorbansi larutan sampel = 0,647
Absorbansi larutan standar = 0,146
Perhitungan :
Kadar glukosa dalam sampel bisa dihitung melalui perbandingan one-point method
A sampel
A standar

0,647
0,146

kadar sampel
100 mg/dL

kadar sampel
kadar standar

Kadar sampel = 443,1507 mg/dL


Kadar glukosa sampel dari hasil percobaan adalah 443,1507 mg/dL.
Galat =

VI.

|443,1507500,01
|100 =11,4
500,01

Diskusi
Karbohidrat terdapat pada semua tumbuhan dan hewan dan penting

bagi kehidupan. Molekul senyawa ini memiliki rumus umum Cn(H2O)n.


Karbohidrat dari segi struktur organik dapat didefinisikan sebagai
polihidroksialdehida,

polihidroksiketon, atau zat yang memberikan

senyawa tersebut jika dihidrolisis. Berdasarkan strukturnya karbohidrat


digolongkan menjadi monosakarida, oligosakarida, atau polisakarida.
Ketiga golongan karbohidrat ini berkaitan satu dengan lainnya lewat
hidrolisis.

Monosakarida

(kadang

disebut

gula

sederhana)

ialah

karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis menjadi senyawa yang lebih


sederhana lagi. Polisakarida mengandung banyak unit monosakarida,
ratusan bahkan ribuan. Disakarida mengandung dua unit monosakarida
yang bertautan (Harold, Hard et al., 2003). Karbohidrat dibagi menjadi
beberapa jenis yaitu monosakarida, disakarida, dan polisakarida.
1. Monosakarida

Monosakarida juga diklasifikasikan berdasarkan jumlah atom


karbon. Suatu monosakarida enam karbon dikenal sebagai heksosa,
suatu monosakarida lima karbon dikenal sebagai pentosa dan
sebagainya. Suatu monosakarida yang mengandung enam atom
karbon dan kelompok fungsional aldehida dikenal sebagai suatu
aldohexose. Glukosa adalah suatu aldoheksosa, fruktosa adalah suatu
ketoheksosa.
Sebagian besar monosakarida dikenal sebagai heksosa, karena
terdiri atas 6-rantai atau cincin karbon. Atom-atom hidrogen dan
oksigen terikat pada rantai atau cincin ini secara terpisah atau
sebagai gugus hidroksil (-OH). Tiga jenis heksosa penting adalah
glukosa, galaktosa, dan fruktosa. Ketiga macam monosakarida ini
mengandung jenis dan jumlah atom yang sama, yaitu 6 atom karbon,
12 atom hidrogen, dan 6 atom oksigen. Perbedaannya hanya terletak
pada cara penyusunan atom-atom hidrogen dan oksigen di sekitar
atom-atom karbon. Perbedaan dalam susunan atom inilah yang
menyebabkan perbedaan dalam tingkat kemanisan, daya larut, dan
sifat lain ketiga monosakarida tersebut. Monosakarida yang terdapat
di alam pada umumnya terdapat dalam bentuk isomer dekstro (D).
Gugus hidroksil ada karbon nomor 2 terletak di sebelah kanan.
Struktur kimianya dapat berupa struktur terbuka atau struktur cincin.
Jenis heksosa lain yang kurang penting dalam ilmu gizi adalah
manosa. Monosakarida yang mempunyai lima atom karbon disebut
pentosa, seperti ribosa dan arabinosa.

Gambar 1. Karbohidrat Monosakarida

Sumber :
http://rcastly.files.wordpress.com/2014/03/monosakarida.png
2. Disakarida
Senyawanya terbentuk dari 2 molekul monosakarida yg sejenis
atau tidak. Disakarida dapat dihidrolisis oleh larutan asam dalam air
sehingga terurai menjadi 2 molekul monosakarida. Contoh dari
senyawa disakarida antara lain sukrosa, maltosa, trehalosa, dan
laktosa. Sukrosa mengandung monosakarida glukosa dan fruktosa,
maltosa mengandung monosakarida glukosa dan glukosa, dan
laktosa mengandung monosakarida glukosa dan galaktosa.

Gambar 2. Karbohidrat Disakarida


Sumber : http://4.bp.blogspot.com/-77itRYh7uZw/UG1kGWuUEI/AAAAAAAABDY/XM1h_EOCfZQ/s1600/disakarida.gif
3. Polisakarida
Polisakarida mengandung banyak unit monosakarida terkait
bersama-sama. Senyawa ini terdiri dari gabungan molekul- molekul
monosakarida yang banyak jumlahnya, senyawa ini bisa dihidrolisis
menjadi banyak molekul monosakarida. Polisakarida merupakan jenis
karbohidrat yang terdiri dari lebih 6 monosakarida dengan rantai
lurus/cabang.
Pati ditemukan dalam biji-bijian, glikogen ditemukan dalam otot
dan selulosa ditemukan dalam tanaman, kapas dan kertas. Semua
terbuat dari molekul glukosa terhubung dalam susunan yang
berbeda.

Gambar 3. Karbohidrat Polisakarida


Sumber : http://2.bp.blogspot.com/P6acRDPmoiY/UIzhipe9rtI/AAAAAAAAA-c/Cn6ynAyxydg/s1600/fig-6.png
Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber biokalori dalam
bahan makanan, disamping itu juga sebagai bahan pengental atau GMC
pada teknologi makanan sebagai bahan penstabil, bahan pemanis
(sukrosa, glukosa, fruktosa) dan bahan bakar, misalnya pada glukosa dan
pati dan sebagai penyusun struktur sel, misalnya selulosa dan khitin.
(Sudarmadji, 1996)
Dalam percobaan di atas, dilakukan uji kualitatif dan uji kuantitatif
pada larutan amilum, sukrosa, dan glukosa. Uji kualitatif yang dilakukan
meliputi uji Iodin, uji Fehling, uji Seliwanoff, uji Molisch, dan hidrolisis
asam. Uji kualitatif ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan suatu
senyawa. Sedangkan uji kuantitatif yang dilakukan menggunakan metode
reaksi enzimatik glukosa bertujuan untuk menentukan kadar sampel
glukosa. Berikut ini adalah beberapa pembahasan pada uji yang dilakukan
selama percobaan.
A. Uji Kualitatif
1. Uji Iodin
Uji Iodin digunakan untuk mendeteksi kerberadaan amilum
pada suatu larutan. Warna biru kehitaman yang muncul di
sebabkan karena terjadinya molekul amilum-Iodin kompleks.
Amilum mengantung polimer -amilosa dan amilopektin yang

membentuk kompleks dengan Iodin untuk memberikan warna biru


kehitaman (Zulfikar, A. 2010). Berikut ini adalah gambar suatu
kompleks antara amilum dengan iodin :

Gambar 4. Kompleks Amilum dengan Iodin


Sumber : http://chemwiki.ucdavis.edu/
Pada percobaan di atas dilakukan pengujian dua larutan
sampel yaitu larutan yang berisi amilum dan larutan yang berisi
glukosa. Reagen Iodin dibuat dengan melarutkan 2 gram KI dalam
50 ml air, kemudian ditambahkan dengan 1 gram Iodin, setelah
itu diencerkan dengan air hingga 100 ml dan dikocok hingga larut.
Namun pada percobaan tidak dilakukan pembuatan reagen
karena reagen sudah tersedia dalam laboratorium. Pada tabung
reaksi A dimasukkan 20 tetes larutan amilum kemudian ditetesi
dengan reagen Iodin. Diamati perubahan warna yang terjadi dan
dicatat. Warna yang muncul adalah warna biru tua. Pada tabung
reaksi B dimasukkan 20 tetes larutan glukosa kemudian ditetesi
dengan reagen Iodin. Diamati perubahan warna yang terjadi dan
dicatat. Warna yang muncul adalah warna coklat muda agak
oranye. Hal itu membuktikan bahwa uji Iodin pada larutan amilum
mendeteksi adanya senyawa amilum pada larutan karena reaksi
pembentukan kompleks antara iodin dengan amilum dan tidak
mendeteksi senyawa amilum pada larutan glukosa karena tidak
terdapat kompleks yang terbentuk.
2. Uji Fehling

Uji Fehling adalah uji untuk membuktikan adanya gula


pereduksi.

Gula

kemampuan

pereduksi

untuk

adalah

mereduksi

gula

yang

senyawa-senyawa

mempunyai
penerima

elektron. Hal ini disebabkan karena adanya gugus aldehida


(aldosa)

atau

gugus

keton

(ketosa)

bebas.

Aldosa

mudah

teroksidasi menjadi asam aldonat, sedangkan ketosa hanya dapat


bereaksi dalam suasana basa. Ciri utama dari gula pereduksi
adalah umumnya memiliki struktur hemiasetal dan memiliki
gugus aldehid dalam strukturnya. Contoh dari gula pereduksi
adalah semua glukosa, fruktosa, galaktosa, laktosa, maltosa, dan
lain-lain. Sedangkan yang bukan gula pereduksi adalah sukrosa
dan pati. Dengan prinsip berdasarkan reduksi Cu 2+ menjadi Cu+
yang mengendap sebagai Cu2O berwarna merah bata (Zulfikar, A.
2010). Reaksi yang terjadi adalah :

Gambar 5. Proses Reaksi Uji Fehling


Sumber : http://www.cfs.purdue.edu/FN/fn453/ld_carbo.html
Percobaan di atas dilakukan dengan pengujian dua sampel
yaitu menggunakan sampel larutan glukosa dan larutan sukrosa.
Terdapat dua reagen Fehling, reagen Fehling A dibuat dengan
melarutkan 34,64 gram CuSO4.5H2O dalam 500 ml air. Reagen
Fehling B dibuat dengan melarutkan 173 gram sodium potassium
tartrat dan 65 gram NaOH dalam 500 ml air. Namun pada
percobaan tidak dilakukan pembuatan reagen karena reagen
sudah tersedia dalam laboratorium. Pada kedua tabung reaksi
dimasukkan 1 ml reagen Fehling A dan 1 ml reagen Fehling B.

Kemudian pada tabung reaksi A dimasukkan 2 ml larutan glukosa


dan pada tabung reaksi B dimasukkan 2 ml larutan sukrosa.
Kedua tabung tersebut dipanaskan hingga titik didih (100 oC) dan
ditunggu hingga membentuk suatu deposit atau endapan merah
Cu2O. Hasil yang diperoleh adalah tidak terbentuk endapan merah
pada reaksi larutan sampel glukosa dan larutan sampel sukrosa.
Glukosa merupakan suatu gula pereduksi yang mengandung
gugus aldosa sehingga dapat mereduksi senyawa Cu 2+. Pada
percobaan. Dalam larutan uji glukosa tidak terbentuk suatu
endapan merah dapat disebabkan karena suhu pemanasan yang
tidak tepat sehingga tidak terjadi reaksi secara sempurna,
kemudian pembuatan reagen yang kurang tepat ketika proses
penimbangannya juga dapat mengakibatkan reaksi tidak dapat
terjadi.
Sukrosa dan pati tidak menunjukkan warna merah bata alias
tidak bereaksi dikarenakan sukrosa dan pati bukanlah gula
pereduksi dan sukrosa sendiri tidak mempunyai gugus OH bebas
yang reaktif, karena keduanya sudah saling terikat (Winarno,
1984)
Pada larutan sukrosa tidak dapat terbentuk endapan berwarna
merah bata. Hal ini dapat disebabkan karena gugus aldosa pada
struktur sukrosa tidak dalam keadaan bebas, tetapi terkunci pada
ikatan glikosida dengan struktur fruktosanya.
3. Uji Molisch
Uji

Molisch

(monosakarida,

merupakan
disakarida,

uji

spesifik

polisakarida),

untuk
asam

karbohidrat
nukleat

dan

glikoprotein. Uji ini efektif untuk berbagai senyawa yang dapat di


dehidrasi menjadi furfural atau substitusi furfural oleh asam sulfat
pekat. Senyawa furfural akan membentuk kompleks dengan naftol yang dikandung pereaksi Molisch dengan memberikan
warna ungu pada larutan.

Gambar 6. Proses Reaksi Uji Molisch


Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Molisch's_test
Percobaan di atas dilakukan dengan pengujian dua sampel
yaitu menggunakan sampel larutan glukosa dan larutan sukrosa.
Reagen Molisch dibuat dengan melarutkan 50 mg -naftol dalam
50 ml etanol. Namun pada percobaan tidak dilakukan pembuatan
reagen karena reagen sudah tersedia dalam laboratorium. Pada
tabung reaksi A ditambahkan larutan glukosa 10 tetes kemudian
ditambahkan 2 tetes reagen Molisch. Pada tabung reaksi B
ditambahkan larutan sukrosa 10 tetes kemudian ditambahkan 2
tetes reagen Molisch. Kedua tabung reaksi dipanaskan hingga
45oC, setelah itu diteteskan 20 tetes H 2SO4 di sisi tabung reaksi
pada lemari asam. Pada tabung reaksi A terbentuk cincin
berwarna ungu dan pada tabung reaksi B terbentuk cincin
berwarna ungu. Hal tersebut membuktikan bahwa larutan glukosa
dan

sukrosa

dapat

didehidrasi

oleh

H2SO4 pekat.

Hal

ini

disebabkan oleh reaksi hidrolisis oleh asam sulfat pekat yang


memecah ikatan glikosida pada karbohidrat, kemudian kabohidrat
tersebut membentuk senyawa monosakarida yang nantinya akan
terdehidrasi

membentuk

senyawa

furfural

dan

turunannya

(pentosa akan berubah menjadi furfural, sedangkan heksosa akan


menjadi 5-hidroksimetilfurfural). Senyawa-senyawa furfural inilah
yang kemudian akan bereaksi dengan -naftol membentuk suatu
kompleks yang menyebabkan warna ungu pada larutan uji.

Cincin

kemerahan

itu

terbentuk

dari

reaksi

dehidrasi

karbohidrat oleh asam sulfat (asam organik pekat). H2SO4 pekat


berfungsi untuk menghidrolisis ikatan

pada sakarida untuk

menghasilkan furfural. Furfural ini kemudian bereaksidengan


reagent Molisch, -naphthol membentuk cincin yang berwarna
ungu kemerah-merahan (Rahayu Anny et al., 2005). Maka dapat
disimpulkan bahwa dari kedua larutan uji mengandung senyawa
karbohidrat.
4. Uji Seliwanoff
Uji ini memiliki prinsip berdasarkan konversi fruktosa menjadi
asam levulinat dan hidroksimetil furfural oleh asam hidroklorida
panas

dan

terjadi

kondensasi

hidroksimetilfurfural

dengan

resorsinol yang menghasilkan senyawa berwarna merah, reaksi ini


spesifik untuk ketosa. Sukrosa yang mudah dihidrolisis menjadi
glukosa dan fruktosa akan memberikan reaksi positif dengan uji
seliwanoff yang akan memberikan warna jingga pada larutan.
Dehidrasi fruktosa oleh HCl pekat menghasilkan hidroksi metil
furfural

dengan

penambahan

resorsinol

akan

megalami

kondensasi membentuk senyawa kompleks berwarna merah


jingga menjadi dasar dari uji Seliwanoff (Sumardjo, 2006).

Gambar 7. Proses Reaksi Uji Molisch


Sumber : http://pendidikanbio.blogspot.com/2014_04_01_archive.html

Percobaan di atas dilakukan dengan pengujian dua sampel


yaitu menggunakan sampel larutan glukosa dan larutan sukrosa.
Reagen Seliwanoff dibuat dengan melarutkan 0,5 gram resorcinol
dalam 1000 ml HCl 3 M. Namun pada percobaan tidak dilakukan
pembuatan

reagen

karena

reagen

sudah

tersedia

dalam

laboratorium. Pada tabung reaksi A dimasukkan 2 ml reagen


Seliwanoff kemudian ditambahkan dengan 2 ml larutan glukosa.
Pada tabung reaksi B dimasukkan 2 ml reagen Seliwanoff
kemudian ditambahkan 2 ml larutan sukrosa. Kedua tabung reaksi
didihkan selama 6-8 menit. Warna yang muncul pada tabung
reaksi A yang berisi larutan glukosa adalah warna bening dan
pada tabung reaksi B yang berisi larutan sukrosa adalah warna
merah. Hal ini membuktikan bahwa glukosa tidak mengandung
struktur ketosa karena tidak terbentuk warna merah.
Sedangkan sukrosa menghasilkan warna merah karena bentuk
disakarida

sukrosa

dapat terhidrolisis menjadi glukosa

dan

fruktosa. Fruktosa memiliki struktur ketosa yang dapat bereaksi


dengan reagen Seliwanoff sehingga dapat memunculkan warna
merah ketika percobaan dilakukan.
5. Hidrolisis Asam
Metode

kimiawi

dilakukan

menggunakan asam-asam

dengan

organik,

cara

yang

hidrolisis

sering

pati

digunakan

adalah H2SO4, HCl, dan HNO3. Pemotongan rantai pati oleh


asam

lebih

tidak

teratur

dibandingkan

dengan

hasil

pemotongan rantai pati oleh enzim. Hasil pemotongan oleh


asam

adalah

campuran dekstrin, maltosa dan glukosa,

sementara enzim bekerja secara spesifik sehingga hasil hidrolisis


dapat dikendalikan (Assegaf, 2009).
Percobaan di atas dilakukan dengan pengujian dua sampel
yaitu menggunakan sampel larutan glukosa dan larutan amilum.

Pada tabung reaksi A dimasukkan 1 ml HCl encer 3 M dan


ditambahkan dengan 5 ml larutan sukrosa. Pada tabung reaksi B
dimasukkan 1 ml HCl encer 3 M dan ditambahkan dengan 5 ml
larutan amilum. Kedua tabung reaksi dipanaskan pada air
mendidih selama 10 menit, kemudian kedua larutan asam
dinetralisasi dengan larutan NaOH encer 3 M dan diuji dengan
kertas litmus untuk memastikan bahwa larutan sudah bersifat
netral atau cenderung basa. Pada tabung reaksi A ditambahkan
20 tetes NaOH dan pada tabung reaksi B ditambahkan 37 tetes
NaOH. Penambahan senyawa basa pada reaksi ini bertujuan untuk
memperoleh suasana netral cenderung basa dimana pereaksi
Fehling dapat bekerja secara maksimal. Setelah itu dari kedua
tabung reaksi, diambil 2 ml untuk dilakukan uji Fehling. Pada
tabung reaksi yang berisi larutan amilum dan larutan sukrosa
tidak terbentuk endapan merah. Seharusnya terdapat endapan
merah yang terbentuk karena setelah proses hidrolisis amilum
akan menghasilkan suatu senyawa aldosa yang bereaksi dengan
reagen Fehling.

Proses hidrolisis yang terjadi pada sukrosa atau

disakarida lebih mudah dibandingkan dengan amilum karena


strukturnya yang sederhana dan hanya memiliki satu ikatan
glikosida dan ikatan hidrogen, sedangkan amilum merupakan
senyawa polisakarida sehingga memiliki struktur yang lebih
kompleks dibandingkan dengan monosakarida seharusnya dapat
dihidrolisis menjadi suatu monosakarida-monosakarida namun
membutuhkan waktu yang lama karena polisakarida amilum
mengandung kurang lebih ratusan ikatan glikosida.
Pada

uji

Fehling

larutan

sukrosa

dan

amilum

tidak

menunjukkan adanya endapan merah dapat disebabkan karena


suhu pemanasan yang kurang tepat sehingga rekasi tidak dapat
berjalan dengan baik dan tidak dapat menghasilkan suatu
endapan warna merah.

B. Uji Kuantitatif
Dalam percobaan di atas

dilakukan pengukuran kuantitatif

karbohidrat menggunakan metode reaksi enzimatik. Prinsip dari


percobaan ini adalah mengukur absorbansi larutan standar yang
sudah diketahui kadarnya kemudian dibandingkan dengan larutan
sampel maka akan diperoleh kadar dari larutan sampel. Untuk
mengukur absorbansi dari larutan glukosa standar maupun larutan
glukosa dibutuhkan kromofor untuk menyerap cahaya sehingga
dapat diukur menggunakan alat spektrofotometer. Maka glukosa
tersebut akan diubah menjadi suatu kromofor yang dapat menyerap
cahaya.
Reaksi perubahan glukosa tersebut adalah dengan mengoksidasi
D-glukosa pada larutan sampel dan larutan standar oleh enzim
glucose oxidase sehingga menjadi D-glukonat dan H2O2.

Gambar 8. Proses Reaksi Oksidasi Glukosa


Sumber : http://www.worthington-biochem.com/gop/
Hidrogen

peroksida

aminoantipirin

dan

yang terbentuk
p-hidroksibenzoat

akan bereaksi dengan 4membentuk

quinoneimin,

reaksi ini dikatalis oleh peroksidase.

Gambar 9. Proses Pembentukan Quinoneimin


Sumber : http://www.google.com/patents/EP0091810A2?cl=en

Quinoneimin dalam larutan akan memberikan warna pink hingga


merah. Secara organoleptik, warna larutan sampel memberikan
warna yang lebih pekat dari larutan standar sementara blanko tidak
mengalami perubahan warna. Quinoneimin ini merupakan suatu
kromofor atau suatu molekul yang dapat menyerap cahaya sehingga
tingkat absorbansinya dapat dilihat pada alat spektrofotometer.
Pada percobaan di atas dilakukan uji kuantitatif karbohidrat
larutan sampel. Pertama glukosa standar dilarutkan di dalam 100 ml
reagen untuk mengoksidasi glukosa menjadi kromofor, kemudian
glukosa sampel ditimbang dan dilarutkan dalam 100 ml reagen untuk
mengoksidasi glukosa menjadi kromofor, serta disiapkan larutan
blanko yang berisi air akuades biasa. Sampel yang dibuat pada
percobaan memiliki kadar 0,5001%. Ketiga tabung reaksi diinkubasi
selama beberapa waktu pada suhu 37 oC. Proses inkubasi dilakukan
karena reaksi enzimatis membutuhkan waktu hingga terbentuk suatu
produk yang lebih sempurna serta pada suhu 37oC proses reaksi
enzimatik berlangsung secara maksimal.
Kemudian

satu

per

satu

diukur

absorbansinya

pada

alat

spektrofotometer dengan dimasukkan ke dalam kuvet. Absorbansi


dilakukan pada panjang gelombang 500nm. Namun karena blanko
yang digunakan muncul warna pink yang menandakan adanya
pengotor di dinding tabung reaksi sehingga larutan blanko tidak
digunakan.
Hasil yang diperoleh dari percobaan adalah untuk larutan standar
absorbansi yang diperoleh adalah 0,146 sedangkan absorbansi
larutan sampel adalah 0,647. Sehingga diperoleh nilai kadar sampel
yang sudah diukur dengan spektrofotometer adalah 443,15 mg/dL,
galat yang diperoleh adalah 11,4 %. Galat yang diperoleh dapat
disebabkan karena penimbangan sampel yang kurang teliti atau alat
penimbang

yang

kurang

peka,

dapat

juga

disebabkan

ketika

pengukuran absorbansi, alat spektrofotometri yang digunakan kurang


akurat dan terdapat pengotor sehingga nilai yang diperoleh kurang
tepat.

VII.

Kesimpulan
1. Berdasarkan percobaan, pada uji Iodin, larutan uji amilum
mengandung senyawa amilum dan larutan uji glukosa tidak
mengandung senyawa amilum. Pada uji Fehling, larutan uji
glukosa dan sukrosa tidak mengandung senyawa glukosa. Pada uji
Molisch, larutan sukrosa dan glukosa mengandung senyawa
karbohidrat. Pada uji Seliwanoff, larutan uji sukrosa mengandung
senyawa ketosa dan larutan uji glukosa tidak mengandung
senyawa ketosa. Sedangkan pada hidrolisis asam, larutan uji
amilum dan sukrosa tidak mengandung glukosa hasil hidrolisis.
2. Penentuan kadar glukosa dalam sampel menggunakan metode
reaksi enzimatik adalah 443,1507 mg/dL dan galat yang diperoleh
adalah 11,4 %.

VIII. Daftar Pustaka


Assegaf F. 2009. Prospek Produksi Bioetanol Bonggol Pisang (Musa
paradisiaca

L.)

Menggunakan

Metode

Hidrolisis

Asam

dan

Enzimatis. Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni. Purwokerto.


Fessenden. 1986. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Harold, Hard et al. 2003. Organic Chemistry: A Short Course. Belmon:
Brooks/Cole.
Rahayu Anny et al. 2005. Analisis Karbohidrat, Protein, dan Lemak
pada Pembuatan Kecap Lamtoro Gung (Leucaena leucocephala)
terfermentasi Asepergillus oryzae. Bioteknologi. 2 (1): 14-20
Sudarmadji, Slamet et al. 1996. Prosedur Analisis Bahan Makanan
dan Pertanian. Yogyakarta: Penerbit Liberty.
Sumardjo, Damin. 2006. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah
Mahasiswa

Kedokteran dan Program Strata 1 Fakultas

Bioeksakta. Jakarta: EGC.


Winarno, F.G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta. Gramedia Pustaka
Utama.
Zulfikar. 2008. Kimia Kesehatan. Jakarta : Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah

Kejuruan.