Anda di halaman 1dari 49

BAGIAN ANESTESI

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

REFERAT
JANUARI 2015

TERAPI CAIRAN

Oleh :
Achmad Fauzy Abdullah, S. Ked.
10542 0149 09
Pembimbing :
dr. Hasnih, Sp. An.

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ANESTESI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015

LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:


Nama

: Achmad Fauzy Abdullah, S. Ked.

Stambuk

: 10542 0149 09

Judul Referat

: Terapi Cairan

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian


Anestesi Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Januari 2015


Pembimbing

dr. Hasnih, Sp. An.

ii
2

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena segala limpahan rahmat dan
hidayah-Nya serta segala kemudahan yang diberikan dalam setiap kesulitan
hamba-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan Referat ini dengan judul Terapi
Cairan. Syukur Alhamdulillah ya Allah. Tugas ini ditulis sebagai salah satu syarat
dalam menyelesaikan Kepaniteraan Klinik di Bagian Anestesi.
Berbagai hambatan dialami dalam penyusunan tugas Referat ini. Namun
berkat bantuan saran, kritikan, dan motivasi dari pembimbing serta teman-teman
sehingga tugas ini dapat terselesaikan.
Penulis sampaikan rasa hormat dan terima kasih banyak kepada
dr.Hasnih, Sp. An, selaku pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu
dengan tekun dan sabar dalam membimbing, memberikan arahan dan koreksi
selama proses penyusunan tugas ini hingga selesai.
Penulis menyadari bahwa Referat ini masih jauh dari yang diharapkan oleh
karena itu dengan kerendahan hati penulis akan senang menerima kritik dan saran
demi perbaikan dan kesempurnaan tugas ini.
Semoga Referat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis secara
khusus.
Makassar, Januari 2015

Penulis

iii
3

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL .....................................................................................

LEMBAR PENGESAHAN ..............................................................................

ii

KATA PENGANTAR ........................................................................................

iii

DAFTAR ISI .....................................................................................................

iv

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................

A. Latar Belakang ............................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................

A. Cairan Tubuh ...............................................................................................

B. Jenis Cairan .................................................................................................

10

C. Elektrolit ...................................................................................................... 15
D. Gangguan Keseimbangan Air dan Elektrolit ..............................................

16

E. Definisi Terapai Cairan ...............................................................................

18

F. Tujuan Terapi Cairan ................................................................................... 18


G. Resusitasi Cairan .........................................................................................

19

H. Terapi Caiaran Resusitasi dan Rumatan ...................................................... 20


I. Teknik Pemberian .......................................................................................

22

J. Terapi Cairan Preoperatif ............................................................................

22

K. Terapi Cairan Intraoperatif ..........................................................................

23

L. Terapi Cairan Postoperatif ..........................................................................

23

M. Komplikasi ..................................................................................................

24

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................

45

iv

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Air merupakan komponen utama dari seluruh cairan yang berada dalam
tubuh. Tubuh terdiri atas 60 % air, sementara 40 % sisanya merupakan zat
padat seperti protein, lemak, dan mineral. Jumlah cairan tubuh berbeda-beda
tergantung dari usia, jenis kelamin, dan banyak atau sedikitnya lemak tubuh.
Proporsi cairan tubuh menurun dengan pertambahan usia, dan pada wanita
lebih rendah dibandingkan pria karena wanita memiliki lebih banyak lemak
dibanding pria, dan lemak mengandung sedikit air. Sementara neonatus atau
bayi sangat rentan terhadap kehilangan air karena memiliki kandungan air
yang paling tinggi dibandingkan dengan dewasa.1
Dengan makan dan minum tubuh mendapatkan air, elektrolit serta
nutrien-nutrien yang lain. Dalam waktu 24 jam jumlah air dan elektrolit yang
masuk setara dengan jumlah yang keluar. Pengeluaran cairan dan elektrolit
dari tubuh dapat berupa urin, tinja, keringan dan uap air pada saat bernapas.
Dengan terapi cairan kebutuhan akan air dan elektrolit akan terpenuhi. Selain
itu terapi cairan juga dapat digunakan untuk memasukkan obat dan zat
makanan secara rutin atau juga digunakan untuk menjaga keseimbangan asam
basa.1
Selain untuk mempertahankan atau memenuhi kebutuhan cairan dan
elektrolit,

penderita

yang

akan/sedang

menjalani

masa

pascabedah

memerlukan tambahan pemberian cairan untuk mengganti asupan cairan


selama pasien dipuasakan, mengganti kehilangan darah, kehilangan cairan ke
rongga ketiga, dan kehilangan cairan lambung, dll. Tiga prinsip utama yang
harus dipenuhi untuk melakukan terapi cairan yaitu memenuhi kebutuhan
normal per hari, koreksi keku-rangan atau kehilangan cairan, dan koreksi
kekurangan atau kehilangan elektrolit. Koreksi tidakperlu dilakukan sampai
mencapai nilai normal, namun cukup sampai masuk ke batas kompensasi

karena selanjutnya akan diatasi oleh mekanisme homeostasis tubuh. Hal ini
bertujuan menghindari penyulit iatfogenik akibat terapi yang berlebihan.8
Pemenuhan kebutuhan normal cairan adalah untuk mengganti cairan
yang normalnya keluar melalui ginjal, saluran cerna, paru-paru dan keringat
(lihatTabel 8-7). Rata-rata kebutuhan cairan 30-40 mL/kgBB/24 jam. Bila
pasien tidak dapat minum, cairari diberikan melalui infus atau pipa lambung.
Dalam perhitungan pemberian cairan selain dihitung jumlah cairan, juga
dihitung kebutuhan elektrolit terutama natrium dan kalium. Kebutuhan
natrium harian yaitu 2-4 mEq/ kgBB/hari sedangkan kebutuhan kalium harian
sebesar 1-2 mEq/kgBB/hari. Pada hari pertama atau kedua pascabedah
biasanya tidak diperlukan pemberian kalium kecuali jika hasil pemeriksaan
laboratorium menunjukkan hipokalemia.8
Pada saat lahir, kandungan air mengisi sekitar 75% berat badan
manusia, saat menginjak usia 1 bulan mencapai 65% berat badan, sedangkan
saat dewasa pada pria mencapai 60% berat badan dan 50% berat badan pada
wanita. Air dalam tubuh terbagi kedalam dua kelompok besar, yaitu yang
berada pada ruang interselular, serta yang berada pada ruang ekstraselular.
Ekstraselular dibagi lagi menjadi cairan intravaskuler dan cairan interstisial.1
Terapi cairan dibutuhkan pada keadaan tertentu, saat kebutuhan akan
air serta nutrisi-nutrisi tersebut tidak dapat terpenuhi secara peroral. Misalnya
pada kasus pasien yang harus puasa dalam jangka waktu lama, karena
pembedahan saluran cerna, dan dibutuhkan juga pada kondisi pasien dengan
perdarahan masif, syok hipovolemik, anoreksia berat, mual muntah tak
berkesudahan, serta kondisi-kondisi lainnya. Hampir seluruh pasien yang
menjalani prosedur pembedahan membutuhkan akses vena serta terapi cairan
intravena. Pemeliharaan volume intravaskuler agar tetap pada batas normal
sangatlah penting dalam periode perioperatif. Penilaian volume intravaskuler
serta penggantian dari cairan dan elektrolit yang hilang selama prosedur
pembedahan sedang berlangsung harus dapat dilakukan dengan tepat.
Kesalahan dalam penggantian cairan dapat menyebabkan morbiditas yang
cukup bermakna atau bahkan sampai kematian. Mengingat akan hal tersebut,

maka penulis akan mencoba menguraikan tentang terapi cairan dalam referat
ini.1
Tujuan umum pemberian cairan dan elektrolit adalah mengganti atau
mempertahankan volume cairan intravaskular, interstisial, dan intraselular;
mempertahankan keseimbangan air, elektrolit, dan komponen darah; atau
mempertahankan kadar protein darah. Sedangkan tujuan khususnya adalah
mempertahankan beban pra-jantung (beban hulu, preload) serta curah jantung
(cardiac output). Dengan demikian, oksigenasi dan perfusi jaringan dapat
menjamin keseimbangan metabolisme sel.8
Pembedahan memicu gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
puasa sebelum pembedahan, terjadi kehilangan banyak cairan melalui saluran
cerna (muntah, dilatasi lambung atau usus, diare), perdarahan, atau
berpindahnya cairan ke rongga ketiga (peritonitis, ileus obstruksi). Masalah
keseimbangan cairan dan elektrolit pada saat pembedahan bertambah rumit
jika terdapat komorbid, misalnya penyakit ginjal, jantung, dan masalah paruparu.8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Cairan Tubuh1,8
Air adalah pelarut (solven) terpenting dalam komposisi cairan makhluk
hidup. Persentase air tubuh total (Total Body Water) terhadap berat badan
berubah sesuai umur, menurun cepat pada awal kehidupan. Pada saat lahir,
TBW 78% berat badan. Pada beberapa bulan pertama kehidupan, TBW turun
cepat mendekati kadar dewasa 55-60 % berat badan pada saat usia 1 tahun.
Pada masa pubertas, terjadi perubahan TBW selanjutnya. Karena lemak
mempunyai kadar air yang lebih rendah, persentase TBW terhadap berat
badan lebih rendah pada wanita dewasa yang mempunyai lebih banyak lemak
tubuh (55%) daripada laki-laki, yang mempunyai sedikit lemak. Seluruh
cairan tubuh didistribusikan ke dalam kompartemen intraselular dan
kompartemen ekstraselular.
Tubuh manusia terdiri dari zat padat dan zat cair. Distribusi cairan
tubuh manusia dewasa:
1. Zat padat

: 40% dari berat badan

2. Zat cair

: 60% dari berat badan

Zat cair (60% BB), terdiri dari:


a. Cairan intrasel

: 40% dari BB

b. Cairan ekstrasel
- cairan intravaskuler
- cairan interstisial

: 20% dari BB, terdiri dari:


: 5% dari BB
: 15% dari BB

c. Cairan transselular (1-3% BB), terdiri dari:


- LCS, sinovial, gastrointestinal dan intraorbital
Intraselular (40%)
Interstitial
(15%)

Cairan Tubuh
(60%)
Ekstraselular (20%)

Intravaskular
(5%)

Cairan yang terkandung di antara sel disebut cairan intraselular. Pada


orang dewasa, sekitar dua pertiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di
intraselular (sekitar 27 liter rata-rata untuk dewasa laki-laki dengan berat
badan sekitar 70 kilogram), sebaliknya pada bayi hanya setengah dari berat
badannya merupakan cairan intraselular. Cairan intraseluler terlibat dalam
proses metabolik yang menghasilkan energi yang berasal dari nutrien-nutrien
dalam cairan tubuh.
Cairan yang berada di luar sel disebut cairan ekstraselular. Cairan
ekstraseluler berperan dalam mempertahankan sistem sirkulasi, mensuplai
nutrient ke dalam sel, dan membuang zat sisa yang bersifat toksik. Jumlah
relatif cairan ekstraselular berkurang seiring dengan usia. Pada bayi baru lahir,
sekitar setengah dari cairan tubuh terdapat di cairan ekstraselular.
Cairan ekstraselular adalah deficit cairan dalam ruang ini adalah biasa
dalam populasi dirawat di rumah sakit sebagai contoh obstruksi cairan cerna
atai muntah, kehilangan cairan termasuk isotonik, maka intravascular dan
cairan interstitial hilang. Cairan intraselular tidak akan memberikan
kompensasi efektif karena perubahan osmolaritas tidak ditandai. Kristaloid
isotonik adalah pilihan lebih disukai.9

Cairan ekstraselular dibagi menjadi :


1. Cairan Interstitial
Cairan yang mengelilingi sel termasuk dalam cairan interstitial, sekitar
11- 12 liter pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk dalam volume
interstitial.
2. Cairan Intravaskular

Merupakan

cairan

yang

terkandung

dalam

pembuluh

darah

(contohnya volume plasma). Rata-rata volume darah orang dewasa sekitar


5-6L dimana 3 liternya merupakan plasma, sisanya terdiri dari sel darah
merah, sel darah putih dan platelet.
3. Cairan transeluler
Merupakan cairan yang terkandung diantara rongga tubuh tertentu
seperti serebrospinal, perikardial, pleura, sendi sinovial, intraokular dan
sekresi saluran pencernaan. Pada keadaan sewaktu, volume cairan
transeluler adalah sekitar 1 liter, tetapi cairan dalam jumlah banyak dapat
masuk dan keluar dari ruang transeluler.
Tabel 1. Komposisi cairan intrasel (CIS) dan Cairan Ekstrasel (CES)8
Natrium
Kalium
Klorida
Bikarbonat
Fosfat
Protein

CIS (mEq/L)
20
150
3
10
110 115
75

CES (mEq/L)
135 145
15
98 110
20 25
5
10

Dalam cairan tubuh terlarut elektrolit. Elektrolit yang terpenting


dalam:

Ekstrasel
Intrasel

: Na+ dan Cl: K+ dan PO4-

Non elektrolit:

BM kecil
BM besar

: Glukosa
: Protein

Cairan intravaskuler (5% BB) bila ditambah eritrosit (3% BB)


menjadi darah. Jadi volume darah sekitar 8% dari berat badan. Jumlah
darah bila dihitung berdasarkan estimated blood volume (EBV) adalah:

Neonatus
= 90 ml/kg BB
Bayi
= 80 ml/kg BB
Anak dan dewasa = 70 ml/kg BB

Bayi

mempunyai

cairan ekstrasel lebih besar dari intrasel.

Perbandingan ini akan berubah sesuai dengan perkembangan tubuh,


sehingga pada dewasa cairan intrasel dua kali cairan ekstrasel.
Ginjal berfungsi mengatur jumlah cairan tubuh, osmolaritas cairan
ekstrasel, konsentrasi ion-ion penting dan keseimbangan asam basa.
Fungsi ginjal sempurna setelah anak mencapai umur satu tahun, sehingga
komposisi cairan tubuh harus diperhatikan pada saat terapi cairan.
1. Kebutuhan Air dan Elektrolit setiap hari
a. Dewasa:
Air

: 30-35 ml/kg, kenaikan 1 derajat Celcius ditambah 10-5%

Na+: 1,5 mEq/kg (100 mEq/hari atau 5,9g)


K+ : 1 mEq/kg (60 mEq/hari atau 4,5g)
b. Bayi dan anak:
Air

0-10 kg

: 4 ml/kg/jam (100 ml/kg)

10-20 kg

: 40 ml + 2 ml/kg/jam setiap kg di atas 10 kg (1000

ml + 50 ml/kg di atas 10 kg)

>20 kg

: 60 ml + 1 ml/kg/jam setiap kg di atas 20 kg (1500

ml + 20 ml/kg di atas 20 kg)


Na+
K+

: 2 mEq/kg
: 2 mEq/kg

Cairan masuk:

Minum

: 800-1700 ml

Makanan

: 500-1000 ml

Hasil oksidasi : 200-300 ml

Hasil metabolisme:
- Anak

- Balita

- Dewasa

: 5 ml/kg/hari

: 2-14 tahun

= 5-6 ml/kg/hari

: 7-11 tahun

= 5-7 ml/kg/hari

: 5-7 tahun

= 8-8,5 ml/kg/hari
= 8 ml/kg/hari

Cairan keluar:

- Urin

: normal > 0,5-1 ml/kg/jam

- Feses

: 1 ml/hari

- Invisble loss : - dewasa : 15 ml/kg/hari


- anak : {30-usia (tahun)} ml/kg/hari
Proses pergerakan cairan tubuh antar kompertemen dapat berlangsung
secara:
a. Osmosis
Osmosis adalah bergeraknya molekul (zat terlarut) melalui
membran semipermeabel (permeabel selektif) dari larutan berkadar
lebih rendah menuju larutan berkadar lebih tinggi hingga kadarnya
sama. Seluruh membran sel dan kapiler permeable terhadap air,
sehingga tekanan osmotik cairan tubuh seluruh kompartemen sama.
Membran semipermeabel ialah membran yang dapat dilalui air
(pelarut), namun tidak dapat dilalui zat terlarut misalnya protein.
Perpindahan cairan tubuh dipengaruhi oleh:

Tekanan hidrostatik

Tekanan onkotik = mencapai keseimbangan

Tekanan osmotik
Gangguan kesimbangan cairan tubuh umumnya menyangkut

extracell fluid atau cairan ekstrasel. Tekanan hidrostatik adalah tekanan


yang mempengaruhi pergerakan air melalui dinding kapiler. Bila
albumin rendah maka tekanan hidrostatik akan meningkat dan tekanan
onkotik akan menurun sehingga cairan intravaskuler akan didorong
masuk ke interstisial yang berakibat edema.
Tekanan onkotik atau tekanan osmotik koloid adalah tekanan
yang mencegah pergerakan air. Albumin menghasilkan 80% dari
tekanan onkotik plasma, sehingga bila albumin cukup pada cairan
intravaskuler maka cairan tidak akan mudah masuk ke interstisial.
Tekanan osmotik plasma darah ialah 285+ 5 mOsm/L. Larutan
dengan tekanan osmotik kira-kira sama disebut isotonik (NaCl 0,9%,
Dekstrosa 5%, Ringer laktat). Larutan dengan tekanan osmotik lebih

rendah disebut hipotonik (akuades), sedangkan lebih tinggi disebut


hipertonik.
b. Difusi
Difusi ialah proses bergeraknya molekul lewat pori-pori. Larutan
akan bergerak dari konsentrasi tinggi ke arah larutan berkonsentrasi
rendah. Tekanan hidrostatik pembuluh darah juga mendorong air
masuk berdifusi melewati pori-pori tersebut. Jadi difusi tergantung
kepada perbedaan konsentrasi dan tekanan hidrostatik.
c. Pompa Natrium Kalium
Pompa natrium kalium merupakan suatu proses transpor yang
memompa ion natrium keluar melalui membran sel dan pada saat
bersamaan memompa ion kalium dari luar ke dalam. Tujuan dari
pompa natrium kalium adalah untuk mencegah keadaan hiperosmolar
di dalam sel.
2. Faktor-faktor modifikasi kebutuhan cairan
Kebutuhan ekstra / meningkat pada :

Demam ( 12% tiap kenaikan suhu 1C )

Hiperventilasi

Suhu lingkungan tinggi

Aktivitas ekstrim

Setiap kehilangan abnormal ( ex: diare, poliuri, dll )

Kebutuhan menurun pada :

Hipotermi ( 12% tiap penurunan suhu 1C )

Kelembaban sangat tinggi

Oligouri atau anuria

Aktivitas menurun / tidak beraktivitas

Retensi cairan ( ex: gagal jantung, gagal ginjal, dll )

B. Jenis Cairan5,6,7
Cairan intravena ada tiga jenis:
1. Cairan Kristaloid

Misal : NaCl 0,9%, Lactate Ringer, Ringers solution, 5% Dextrose

Cairan yang mengandung zat dengan BM rendah (< 8000 Dalton)


dengan atau tanpa glukosa.

Tekanan onkotik rendah, sehingga cepat terdistribusi ke seluruh ruang


ekstraselular.

2. Cairan Koloid
Misal : a. Albumin
b. Plasma protein fraction : plasmanat
c. Koloid sintetik : dextran, hetastarch

Cairan yang mengandung zat dengan BM tinggi (> 8000 Dalton),


misal: protein

Tekanan onkotik tinggi, sehingga sebagian besar akan tetap tinggal di


ruang intravaskuler.

3. Cairan khusus

Digunakan untuk koreksi atau indikasi khusus, seperti NaCl 3%,


Bicnat, Manitol

Cairan Kristaloid
Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler (CES =
CEF). Cairan kristaloid bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali cairan
koloid) ternyata sama efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk
mengatasi defisit volume intravaskuler. Waktu paruh cairan kristaloid di ruang
intravaskuler sekitar 20-30 menit.
1. Ringer Laktat
Cairan paling fisiologis jika sejumlah volume besar diperlukan.
Banyak digunakan sebagai replacement therapy, antara lain untuk syok
hipovolemik, diare, trauma, luka bakar. Laktat yang terdapat di dalam RL
akan dimetabolisme oleh hati menjadi bikarbonat untuk memperbaiki
keadaan seperti metabolik asidosis.
Kalium yang terdapat di dalam RL pula tidak cukup untuk
maintenance sehari-hari, apalagi untuk kasus defisit kalium. RL juga tidak

10

mengandung glukosa sehingga bila akan dipakai sebagai cairan


maintenance harus ditambah glukosa untuk mencegah terjadinya ketosis.
2. Ringer
Komposisinya mendekati fisiologis tetapi bila dibandingkan dengan
RL ada beberapa kekurangan, seperti:

Kadar Cl- terlalu tinggi, sehingga bila dalam jumlah besar dapat
menyebabkan asidosis dilusional dan asidosis hiperkloremia.

Tidak mengandung laktat yang dapat dikonversi menjadi bikarbonat


untuk memperingan asidosis.

Dapat digunakan pada keadaan dehidrasi dengan hiperkloremia,


muntah-muntah dan lain-lain.

3. NaCl 0,9% (normal saline)


Dipakai sebagai cairan resusitasi (replacement therapy) terutama
pada kasus:

Kadar Na+ yang rendah


Keadaan di mana RL tidak cocok untuk digunakan seperti pada

alkalosis, retensi kalium


Cairan pilihan untuk kasus trauma kepala
Dipakai untuk mengencerkan sel darah merah sebelum transfusi
Tetapi ia memiliki beberapa kekurangan yaitu:

Tidak mengandung HCO3Tidak mengandung K+


Kadar Na+ dan Cl- relatif lebih tinggi sehingga dapat terjadi asidosis
hiperkloremia, asidosis delusional dan hipernatremia.

4. Dextrose 5% dan 10%


Digunakan sebagai cairan maintenance pada pasien dengan
pembatasan intake natrium atau cairan pengganti pada pure water deficit.
Penggunaan perioperatif untuk:

Berlangsungnya metabolisme
Menyediakan kebutuhan air

11

Mencegah hipoglikemia
Mempertahankan protein yang ada, dibutuhkan minimal 100g

karbohidrat untuk mencegah dipecahnya kandungan protein tubuh


Menurunkan level asam lemak bebas dan keton
Mencegah ketosis, dibutuhkan minimal 200g karbohidrat
Cairan infus mengandung dextrose, khususnya dextrose 5% tidak

boleh diberikan pada pasien trauma kapitis (neuro trauma). Dextrose dan
air dapat berpindah secara bebas ke dalam sel otak. Sekali berada dalam
sel otak, dextrose akan dimetabolisme dengan sisa air yang menyebabkan
edema otak.
5. Darrow
Digunakan pada defisiensi kalium untuk mengantikan kehilangan
harian, kalium banyak terbuang (diare, diabetik asidosis).
Cairan Koloid
Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut
plasma substitute atau plasma expander. Di dalam cairan koloid terdapat
zat/bahan yang mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik
yang menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama (waktu paruh 3-6
jam) dalam ruang intravaskuler. Oleh karena itu koloid sering digunakan
untuk

resusitasi

cairan

secara

cepat

terutama

pada

syok

hipovolemik/hermorhagik atau pada penderita dengan hipoalbuminemia berat


dan kehilangan protein yang banyak (misal luka bakar).
Yang termasuk golongan ini adalah:
1. Albumin
2. Bloood product: RBC
3. Plasma protein fraction: plasmanat
4. Koloid sintetik: dextran, hetastarch
Berdasarkan tujuan pemberian cairan, ada 3 jenis:
1. Cairan rumatan (maintenance)

Cairan bersifat hipotonis: 5% Dextrose, 5% Dextrose in 0,25 NS dan


5% Dextrose in 0,5 NS

12

2. Cairan pengganti (replacement)

Cairan bersifat isotonis: RL, NaCl 0,9%, koloid

3. Cairan khusus

Cairan bersifat hipertonis: NaCl 3%, Manitol 20%, Sodium bicarbonas


(Bicnat).

Kristaloid dibanding Koloid


Resusitasi dengan kristaloid akan menyebabkan ekspansi ke ruang
interstisial,

sedangkan

koloid

yang

hiperonkotik

akan

cenderung

menyebabkan ekspansi ke volume intravaskuler dengan menarik cairan dari


ruang interstitial. Koloid isoonkotik akan mengisi ruang intravaskuler tanpa
mengurangi volume interstisial.
Secara

fisiologis

kristaloid

akan

lebih

menyebabkan

edema

dibandingkan koloid. Pada keadaan permeabilitas yang meningkat, koloid ada


kemungkinan akan merembes ke dalam ruang interstisial dan akan
meningkatkan tekananan onkotik plasma. Peningkatan tekanan onkotik plasma
ini dapat menghambat kehilangan cairan dari sirkulasi.
Keunggulan koloid terhadap respons metabolik adalah meningkatkan
pengiriman oksigen ke jaringan (DO2) dan konsumsi oksigen (VO 2) serta
menurunkan laktat serum. DO2 dan VO2 dapat menjadi indikator untuk
mengetahui prognosis pasien.

13

Tabel 2. Perbandingan Kristaloid dan Koloid7


Kristaloid
Keunggulan 1. Lebih mudah tersedia dan
murah.
2. Komposisi serupa dengan
plasma (Ringer asetat/ringer
laktat)
3. Bisa disimpan di suhu kamar
4. Bebas dari reaksi anafilaktik
5. Komplikasi minimal

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kekurangan

1. Edema bisa mengurangi


1.
ekspansibilitas dinding dada
2.
2. Oksigenasi jaringan terganggu 3.
karena bertambahnya jarak
kapiler dan sel
3. Memerlukan volume
4. kali lebih banyak

Koloid
Ekspansi volume plasma
tanpa ekspansi interstisial
Ekspansi volume lebih
besar
Durasi lebih lama
Oksigenasi jaringan lebih
baik.
Gradien O? alveolararterial lebih sedikit
Insiden edema paru
dan/atau edema sistemik
lebih rendah
Anafilaksis
Koagulopati
Albumin bisa
memperberat depresi
miokard pada pasien syok
(mungkin dengan
mengikat kalsium,
mengurangi kadar ion Ca+
+
)

Efek terhadap Volume Intravaskuler


Antara ruang intravaskuler dan interststial dibatasi oleh dinding kapiler
yang permiabel terhadap air dan elektrolit tetapi impermeabel terhadap makro
(protein plasma). Cairan dapat melewati dinding kapiler akibat adanya tekanan
hidrostatik. Bila tekanan onkotik menurun maka tekanan hidrostatik lebih
besar, sehingga akan mendorong cairan dari intervaskuler ke interstisial.
Efek kristaloid terhadap volume intravaskuler jauh lebih singkat
dibanding koloid. Ini karena kristaloid dengan mudah didistribusi ke cairan
ekstraseluler, hanya sekitar 20% elektrolit yang diberikan akan tinggal di
ruang intravaskuler. Waktu paruh intravaskuler yang lama sering dianggap
sebagai sifat koloid yang menguntungkan. Hal ini akan merugikan jika terjadi
hemodilusi yang berlebihan atau terjadi hipovolemia yang tidak sengaja,
khususnya pada pasien penyakit jantung.

14

Kristaloid akan menyebabkan terjadinya hipovolemia pasca resusitasi.


Resusitasi dengan kristaloid dan koloid sampai saat ini masih kontroversi.
Untuk menentukan apakah diberikan kristaloid, harus dilihat kasus per kasus.
Efek terhadap Volume Interstitial
Pasca syok hemoragik akan terjadi perubahan cairan interstitial. Pada
syok terjadi defisit cairan interstitial, pendapat lain yang menyatakan volume
cairan interstitial meningkat pasca syok hemoragik. Kedua pendapat yang
bertentangan ini mungkin bias diterima, karena pada syok hemoragik dini
dapat terjadi defisit cairan interstitial sedangkan pada syok hemoragik lanjut
atau syok septik akan terjadi perubhan permeabilitas kapiler sehingga volume
cairan interstitial meningkat. Pada keadaan volume cairan interstitial
berkurang maka kristaloid lebih efektif untuk mengantikan defisit volume
dibanding koloid.
Distribusi koloid berbeda antara volume intravaskuler dan interstitial.
Jika volume cairan interstitial bertambah, maka garam hipertonik atau albumin
25% akan lebih efektif, karena cairan interstitial akan berpindah ke ruang
intravaskuler. Pada pemberian koloid dapat terjadi reaksi-reaksi yang tidak
diinginkan, seperto gangguan hemostasis yang berhubungan dengan dosis.
Pada umumnya pemberian koloid maksimal adalah 33 ml/kg BB.
C. Elektrolit
Gangguan elektrolit yang sering mengancam kehidupan pada pasien
keadaan kritis adalah kalium, natrium, kalsium, magnesium dan fosfat.
Urgensi terapi tergantung pada keadaan klinis, bukan kadar absolut (absolute
electrolyte value).
1. Kalium
b. Kalium penting untuk mempertahankan membran potensial elektrik.
c. Gangguan kadar kalium terutama mempengaruhi system
kardiovaskuler, neuromuskuler dan gastrointestinal.
d. Kadar normal: 3,5-5,5 mEq/L.
2. Natrium

15

a. Natrium penting dalam menentukan osmolaritas darah, berperan pada


regulasi volume ekstrasel.
b. Gangguan natrium mempengaruhi neuronal dan neuromuscular
junction.
c. Kadar normal: 135-145 mg/L.
3. Kalsium
a. Kalsium berfungsi untuk kontraski otot, transmisi impuls saraf, sekresi
hormone, pembekuan darah, pembelahan dan pergerakan sel dan
penyembuhan luka.
b. Kadar kalsium sebaiknya dinilai dari ionized calcium.
c. Kadar normal: 1-1,25 m.mol/L.
4. Fosfat
a. Berperan dalam metabolism energy
5. Magnesium
a. Berfungsi untuk transver energy dan stabilitas elektrik.
D. Gangguan Keseimbangan Air dan Elektrolit
1. Gangguan Keseimbangan Cairan
Kehilangan cairan dapat menyebabkan gangguan keseimbangan
cairan

yang

mengakibatkan

dehidrasi,

misalnya

pada

keadaan

gastroenteritis, demam tinggi, pembedahan, luka bakar, dan penyakit lain


yang menyebabkan input dan output tidak seimbang.
a. Dehidrasi
Adalah keadaan dimana kurangnya cairan tubuh dari jumlah
normal akibat kehilangan cairan, asupan yang tidak mencukupi atau
kombinasi keduanya. Dehidrasi sering dikategorikan sesuai dengan
kadar konsentrasi serum dari natrium menjadi isonatremik (130-150
mEq/L), hiponatremik (<139 mEq/L) atau hipernatremik (>150
mEq/L). Dehidrasi isonatremik merupakan yang paling sering terjadi
(80%), sedangkan dehidrasi hipernatremik atau hiponatremik sekitar 510% dari kasus.
Dehidrasi dibedakan atas :

16

Dehidrasi hipotonik
Terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium
lebih banyak dari darah (kehilangan cairan hipertonis). Secara garis
besar terjadi kehilangan natrium yang lebih banyak dibandingkan
air yang hilang. Karena kadar natrium serum rendah, air di
kompartemen

intravaskular

ekstravaskular,

sehingga

berpindah

menyebabkan

ke

kompartemen

penurunan

volume

intravaskular.

Kadar Na < 130 mmol/L

Osmolaritas < 275 mOsm/L

Letargi, kadang-kadang kejang

Dehidrasi isotonic
Terjadi ketika kehilangan cairan hampir sama dengan
konsentrasi natrium terhadap darah. Kehilangan cairan dan natrium
besarnya relatif sama dalam kompartemen intravaskular maupun
kompartemen ekstravaskular.
-

Na dan osmolaritas serum normal

Dehidrasi hipertonik
Terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium
lebih sedikit dari darah (kehilangan cairan hipotonis). Secara garis
besar terjadi kehilangan air yang lebih banyak dibandingkan
natrium yang hilang. Karena kadar natrium tinggi, air di
kompartemen
intravaskular,

ekstraskular
sehingga

berpindah

meminimalkan

ke

kompartemen

penurunan

volume

intravaskular.
-

Na > 150 mmol/L

Osmolaritas > 295 mOsm/L

Haus, iritabel, bila Na > 165 mmol/L dapat terjadi kejang

Kehilangan cairan melalui diare


Kehilangan Na menyebabkan hipovolemia

17

Kehilangan H20 menyebabkan dehidrasi


Kehilangan HCO3 menyebabkan asidosis metabolik
Kehilangan K menyebabkan hipokalemi
Kehilangan cairan melalui muntah
Hipokloremi
Hipokalemi
Alkalosis metabolic
Gangguan keseimbangan air dan Na
Keadaan lain yang mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit
Gastroenteritis, DHF, Difteri, Tifoid, Hiperemesis gravidarum,
Sectio cesar, Histerektomi, Kistektomi, Apendektomi, Splenektomi,
Gastrektomi, Reseksi usus, Perdarahan intraoperatif, Ketoasidosis
Diabetikum.
E. Definisi Terapi Cairan2,3,4
Terapi cairan ialah tindakan untuk memelihara, mengganti cairan tubuh
dalam batas-batas fisiologis dengan cairan infus kristaloid (elektrolit) atau
koloid (plasma ekspander) secara intravena.
Terapi cairan ini dilakukan pada pasien-pasien dengan keadaan-keadaan
seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Selain itu khususnya dalam
pembedahan dengan anestesia yang memerlukan puasa sebelum dan sesudah
pembedahan, maka terapi cairan tersebut berfungsi untuk mengganti defisit
cairan saat puasa sebelum dan sesudah pembedahan, mengganti kebutuhan
rutin saat pembedahan dan mengganti perdarahan yang terjadi.
F. Tujuan Terapi Cairan
Pemberian cairan intravena adalah untuk memulihkan volume sirkulasi
darah. Pada syok, tujuan resusitasi cairan adalah untuk memulihkan perfusi
jaringan dan pengiriman oksigen ke sel (DO2) agar tidak terjadi iskemia
jaringan

yang

berakibat

gagal

organ.

Dalam

terapi

cairan

perlu

dipertimbangkan distribusi diferensial air, garam, dan protein plasma. Volume

18

cairan pengganti yang diperlukan untuk mengembalikan volume sirkulasi


darah ditentukan oleh ruang distribusi cairan pengganti, yang tergantung kadar
koloid dan NA+ cairan pengganti.
Formula efek cairan dalam mengekspansi plasma volume (PV)
PV = Volume infus (PV/Vd)
PV

= Perubahan yang diharapkan

Vd

= Volume distribusi cairan infus

PV : 5% dari BB

ECF: 20% dari BB

Rumus di atas berlaku bila tidak ada syok: syok, sepsis atau hipoksemia
yang berkepanjangan, sebab keadaan tersebut akan mengganggu kemampuan
membran kapiler untuk membatasi perpindahan transvaskuler protein serum.
G. Resusitasi Cairan
Kristaloid :
- NaCl 0,9%
- Lactate Ringer

: maksimal 15 ml/kg
: dapat sampai 5L

Koloid :
- 6% HES 0,5 dalam NaCl
- 6% HES 0,5 dalam larutan berimbang

: maksimal 15 ml/kg
: maksimal 33 ml/kg

HES BM 130.000 dan derajat substitusi 0,4 adalah ideal.


Koloid pada umumnya: maksimal 20 ml/kg
Resusitasi berhasil bila:
-

Central venous pressure : 8-12 mmHg


Mean arterial pressure : 65 mmHg
Urine output : 0,5 ml/kg/jam
Central venous (superior vena cava) or mixed venous oxygen

saturation: 70%
Cardiac Index : 2,5 L/min/m2
Normal mental status

H. Terapi Cairan Resusitasi dan Rumatan


1. Terapi Cairan Resusitasi
Terapi cairan resusitasi ditujukan untuk menggantikan kehilangan
akut cairan tubuh atau ekspansi cepat dari cairan intravaskuler untuk

19

memperbaiki perfusi jaringan. Misalnya pada keadaan syok dan luka


bakar.
Terapi cairan resusitasi dapat dilakukan dengan pemberian infus
Normal Saline (NS), Ringer Asetat (RA), atau Ringer laktat (RL) sebanyak
20 ml/kg selama 30-60 menit. Pada syok hemoragik bisa diberikan 2-3 l
dalam 10 menit.
Larutan plasma ekspander dapat diberikan pada luka bakar,
peningkatan sirkulasi kapiler seperti MCI, syok kardiogenik, hemoragik
atau syok septik. Koloid dapat berupa gelatin (hemaksel, gelafunin,
gelafusin), polimer dextrose (dextran 40, dextran 70), atau turunan kanji
(haes, ekspafusin).
Jika syok terjadi :
Berikan segera oksigen
Berikan cairan infus isotonic RA/RL atau NS
Jika respon tidak membaik, dosis dapat diulangi
Pada luka bakar :
24 jam pertama :
2-4 ml RL/RA per kg tiap % luka bakar
1/2 dosis diberikan 8 jam pertama, 1/2 dosis berikut 16 jam kemudian
Sesuaikan dosis infus untuk menjaga urin 30-50 ml/jam pada dewasa
Jika respon membaik, turunkan laju infus secara bertahap
Pertimbangan dalam resusitasi cairan :
a. Medikasi harus diberikan secara iv selama resusitasi
b. Perubahan Na dapat menyebabkan hiponatremi yang serius. Na serum
harus dimonitor, terutama pada pemberian infus dalam volume besar.
c. Transfusi diberikan bila hematokrit < 30
d. Insulin infus diberikan bila kadar gula darah > 200 mg%
e. Histamin H2-blocker dan antacid sebaiknya diberikan untuk menjaga
pH lambung 7,0
2. Terapi Cairan Rumatan

20

Terapi rumatan bertujuan memelihara keseimbangan cairan tubuh


dan nutrisi. Diberikan dengan kecepatan 80 ml/jam. Untuk anak gunakan
rumus 4:2:1, yaitu :
4 ml/kg/jam untuk 10 kg pertama
2 ml/kg/jam untuk 10 kg kedua
1 ml/kg/jam tambahan untuk sisa berat badan
Terapi rumatan dapat diberikan infus cairan elektrolit dengan
kandungan karbohidrat atau infus yang hanya mengandung karbohidrat
saja. Larutan elektrolit yang juga mengendung karbohidrat adalah larutan
KA-EN, dextran + saline, DGAA, Ringer's dextrose, dll. Sedangkan
larutan rumatan yang mengandung hanya karbohidrat adalah dextrose 5%.
Tetapi cairan tanpa elektrolit cepat keluar dari sirkulasi dan mengisi ruang
antar sel sehingga dextrose tidak berperan dalam hipovolemik.
Dalam

terapi

rumatan

cairan

keseimbangan

kalium

perlu

diperhatikan karena seperti sudah dijelaskan kadar berlebihan atau


kekurangan dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya. Umumnya
infus konvensional RL atau NS tidak mampu mensuplai kalium sesuai
kebutuhan harian. Infus KA-EN dapat mensuplai kalium sesuai kebutuhan
harian.
Pada pembedahan akan menyebabkan cairan pindah ke ruang ketiga,
ke ruang peritoneum, ke luar tubuh. Untuk menggantinya tergantung besar
kecilnya pembedahan, yaitu :
6-8 ml/kg untuk bedah besar
4-6 ml/kg untuk bedah sedang
2-4 ml/kg untuk bedah kecil

I. Teknik Pemberian 2
Untuk pemberian terapi cairan dalam waktu singkat dapat digunakan
vena-vena dipunggung tangan, sekitar daerah pergelangan tangan, dan daerah

21

cubiti. Pada pasien anak kecil dan bayi sering digunakan daerah punggung
kaki, depan mata kaki dalam atau pada daerah kepala. Pada pasien neonatus,
dapat juga digunakan akses vena umbilikaslis.
Penggunaan jarum anti karat atau kateter vena berbahan plastic anti
trombogenik pada vena perifer biasanya perlu diganti tiap 1-3 hari untuk
menghindari infeksi dan macetnya tetesan. Pemberian cairan infus lebih lama
dari 3 hari, sebaiknya menggunakan kateter berukuran besar dan panjang yang
ditusukan pada vena femoralis, vena cubiti, vena subklavia, vena jugularis
eksterna atau interna yang ujungnya sedekat mungkin dengan atrium kanan
atau di vena cava inferior atau superior.
J. Terapi Cairan Preoperatif
Defisit cairan karena persiapan pembedahan dan anestesi (puasa,
lavement) harus diperhitungkan dan sedapat mungkin segera diganti pada
masa pra-bedah sebelum induksi. Setelah dari sisa defisit yang masih ada
diberikan pada jam pertama pembedahan, sedangkan sisanya diberikan pada
jam kedua berikutnya. Kehilangan cairan di ruang ECF ini cukup diganti
dengan ciran hipotonis seperti garam fisiologis, Ringer Laktat dan Dextrose.
Pada penderita yang karena penyakitnya tidak mendapat nutrisi yang cukup
maka sebaiknya diberikan nutrisi enteral atau parenteral lebih dini lagi.
Penderita dewasa yang dipuasakan karena akan mengalami pembedahan
(elektif) harus mendapatkan penggantian cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam
lama puasa. Defisit karena perdarahan atau kehilangan cairan (hipovolemik,
dehidrasi) yang seringkali menyertai penyulit bedahnya harus segera diganti
dengan melakukan resusitasi cairan atau rehidrasi sebelum induksi anestesi.

22

Tabel 3. Pengganti deficit prabedah


Usia
Dewasa
Anak
Bayi
Neonatum

Jumlah kebutuhan
(ml/Kg/jam)
1,5 2
24
46
3

K. Terapi Cairan Intraoperatif


Jumlah penggantian cairan selama pembedahan dihitung berdasarkan
kebutuhan dasar ditambah dengan kehilangan cairan akibat pembedahan
(perdarahan, translokasi cairan dan penguapan atau evaporasi). Jenis cairan
yang diberikan tergantung kepada prosedur pembedahannya dan jumlah darah
yang hilang :
1. Pembedahan yang tergolong kecil dan tidak terlalu traumatis misalnya
bedah mata (ekstrasi, katarak) cukup hanya diberikan cairan rumatan saja
selama pembedahan.
2. Pembedahan dengan trauma ringan misalnya: appendektomi dapat
diberikan cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar
ditambah 4 ml/kgBB/jam untuk pengganti akibat trauma pembedahan.
Total yang diberikan adalah 6 ml/kgBB/jam berupa cairan garam seimbang
seperti Ringer Laktat atau Normosol-R.
3. Pembedahan dengan trauma sedang diberikan cairan sebanyak 2
ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 8 ml/kgBB/jam untuk
pembedahannya. Total 10 ml/kgBB/jam.
L. Terapi Cairan Postoperatif
Terapi cairan pasca bedah ditujukan terutama pada hal-hal di bawah ini:
1. Pemenuhan kebutuhan dasar/harian air, elektrolit dan kalori/nutrisi.
Kebutuhan air untuk penderita di daerah tropis dalam keadaan basal
sekitar 50 ml/kgBB/24 jam. Pada hari pertama pasca bedah tidak
dianjurkan pemberian kalium karena adanya pelepasan kalium dari
sel/jaringan yang rusak, proses katabolisme dan transfusi darah. Akibat

23

stress pembedahan, akan dilepaskan aldosteron dan ADH yang cenderung


menimbulkan retensi air dan natrium. Oleh sebab itu, pada 2-3 hari pasca
bedah tidak perlu pemberian natrium. Penderita dengan keadaan umum
baik dan trauma pembedahan minimum, pemberian karbohidrat 100-150
mg/hari cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan kalori dan dapat
menekan pemecahan protein sampai 50% kadar albumin harus
dipertahankan melebihi 3,5 gr%. Penggantian cairan pasca bedah cukup
dengan cairan hipotonis dan bila perlu larutan garamisotonis. Terapi cairan
ini berlangsung sampai penderita dapat minum dan makan.
Mengganti kehilangan cairan pada masa pasca bedah:
-

Akibat demam, kebutuhan cairan meningkat sekitar 15% setiap


kenaikan 1C suhu tubuh

2. Adanya pengeluaran cairan lambung melalui sonde lambung atau muntah.


-

Penderita dengan hiperventilasi atau pernapasan melalui trakeostomi


dan humidifikasi.

3. Melanjutkan penggantian defisit cairan pembedahan dan selama


pembedahan yang belum selesai. Bila kadar hemoglobin kurang dari 10 gr
%, sebaiknya diberikan transfusi darah untuk memperbaiki daya angkut
oksigen.
4. Koreksi terhadap gangguan keseimbangan yang disebabkan terapi cairan
tersebut. Monitoring organ-organ vital dilanjutkan secara seksama meliputi
tekanan darah, frekuensi nadi, diuresis, tingkat kesadaran, diameter pupil,
jalan nafas, frekuensi nafas, suhu tubuh dan warna kulit.
M. Komplikasi
Sistemik :

Kelebihan / kekurangan cairan tubuh

Kelainan elektrolit

Ketidakseimbangan asam-basa

Kelainan gula darah

Emboli udara

24

Lokal : Flebitis dan infeksi local


TRANSFUSI
1. Definisi dan tujuan tranfusi darah
Tranfusi darah adalah suatu rangkain proses pemindahan darah
donor ke dalam sirkulasi dari resipien sebagai upaya pengobatan. Bahkan
sebagai upaya untuk menyelamatkan kehidupan. Berdasarkan asal darah
yang diberikan tranfusi dikenal 1. Homologous tranfusi (berasal dari darah
orang lain), 2. Autologous tranfusi (berasal dari diri sendiri).6,2
Tujuan tranfusi darah adalah :
a. Mengembalikan dan mempertahankan volume yang normal peredaran
b.
c.
d.
e.

darah
Menggantikan kekurangan komponen seluler atau kimia darah
Meningkatkan oksigenasi jaringan
Memperbaiki fungsi homeostasis
Tindakan terapi khusus

2. Tranfusi darah dalam klinik


Dasar pemikiran penggunaan komponen darah: (1)lebih efisien,
ekonomis, memperkecil reaksi transfusi, (2)lebih rasional, karena (a)darah
terdiri dari komponen seluler maupun plasma yang fungsinya sangat
beragam, serta merupakan materi biologis yang bersifat multiantigenik,
sehingga pemberiannya harus memenuhi syarat- syarat variasi antigen
minimal dan kompatibilitas yang baik, (b) transfusi selain merupakan live
saving therapy tetapi juga replacement therapy sehingga darah yang
diberikan haruslah safety blood. Kelebihan terapi komponen dibandingkan
dengan terapi darah lengkap: (1)disediakan dalam bentuk konsentrat
sehingga mengurangi volume transfusi, (2)resiko reaksi imunologik lebih
kecil, (3)pengawetan, (4)penularan penyakit lebih kecil, (5)aggregate
trombosit dan leukosit dapat dihindari, (6)pasien akan memerlukan
komponen yang diperlukan saja, (7)masalah logistic lebih mudah,
(8)pengawasan mutu lebih sederhana.4,8
3. Indikasi Tranfusi darah
Secara garis besar Indikasi Tranfusi darah adalah :

25

a. Untuk mengembalikan dan mempertahankan suatu volume peredaran


darah yang normal, misalnya pada anemia karena perdarahan, trauma
bedah, atau luka bakar luas.
b. Untuk mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah,
misalnya pada anemia, trombositopenia, hipotrombinemia, dan lainlain.
Keadaan yang memerlukan Tranfusi darah :
a. Anemia karena perdarahan, biasanya digunakan batas Hb 7-8 g/dL.
Bila telah turun hingga 4,5 g/dL, maka penderita tersebut telah sampai
kepada fase yang membahayakan dan tranfusi harus dilakukan secara
hati-hati.
b. Anemia haemolitik, biasanya kadar Hb dipertahankan hingga penderita
dapat mengatasinya sendiri. Umumnya digunakan patokan 5g/dL. Hal
ini dipertimbangkan untuk menghindari terlalu seringnya tranfusi
darah dilakukan.
c. Anemia aplastik
d. Leukimia dan anemia refrekter
e. Anemia karena sepsis
4. Prosedur pelaksanaan tranfusi darah
Banyak laporan mengenai kesalahan tatalaksana tranfusi, misalnya
kesalahan pemberian darah milik pasien lain
SEDIAAN DARAH UNTUK TRANFUSI
1.

Macam-macam komponen darah


Untuk kepentingan tranfusi, tersedia berbagai produk darah, seperti yang
tercantum dalam table 3.1.

26

Tabel 4. Karakteristik darah dan komponen-komponen darah

27

28

29

30

2.

Tranfusi Eritrosit
Eritrosit adalah komponen darah yang paling sering ditransfusikan.
Eritrosit

diberikan

untuk

meningkatkan

kapasitas

oksigen

dan

mempertahankan oksigenasi jaringan.1 Transfusi sel darah merah


merupakan komponen pilihan untuk mengobati anemia dengan tujuan
utama adalah memperbaiki oksigenisasi jaringan.2Pada anemia akut,
penurunan nilai Hb dibawah 6 g/dl atau kehilangan darah dengan cepat
>30% - 40% volume darah, maka umumnya pengobatan terbaik adalah
dengan transfusi sel darah merah(SDM).2,3Pada anemia kronik seperti

31

thalassemia atau anemia sel sabit, transfusi SDM dimaksudkan untuk


mencegah komplikasi akut maupun kronik. SDM juga diindikasikan pada
anemia

kronik

yang

tidak

responsive

terhadap

obat-

obatan

farmakologik.1,6
Transfusi SDM pra- bedah perlu dipertimbangkan pada pasien yang
akan menjalani pembedahan segera (darurat), bila kadar Hb < 6g/dL>Ada
juga yang menyebutkan, jika kadar Hb <10gr/dl,>3Transfusi tukar
merupakan jenis transfusi darah yang secara khusus dilakukan pada
neonatus, dapat dilakukan dengan darah lengkap segar, dapat pula dengan
sel darah merah pekat(SDMP) / mampat(SDMM). 9.4
Transfusi tukar ini diindikasikan terutama pada neonatus dengan
ABO incompatibility atau hiperbilirubinemia yang tidak memberikan
respon adekuat dengan terapi sinar. Indikasi yang lebih jarang adalah
DIC/pengeluaran toksin seperti pada sepsis. 8,9
Biasanya satu/ dua volume darah diganti. 3Faktor-faktor lain yang
perlu dipertimbangkan dalam memberikan transfusi selain kadar Hb
adalah: (1)Gejala, tanda, dan kapasitas vital dan fungsional penderita,
(2)Ada atau tidaknya penyakit kardiorespirasi atau susunan saraf pusat,
(3)Penyebab dan antisipasi anemia, (4)Ada atau tidaknya terapi alternatif
lain.1 Pedoman untuk transfusi pada anak dan remaja serupa dengan pada
dewasa (lihat tabel 3.2) Untuk neonatus, tidak ada indikasi transfusi
eritrosit yang jelas disepakati, biasanya, pada neonatus eritrosit diberikan
untuk mempertahankan Hb, berdasarkan status klinisnya4,3
Pilihan produk eritrosit untuk anak dan remaja adalah suspensi
standar eritrosit yang dipisahkan dari darah lengkap dengan pemusingan
dan disimpan dalam antikoagulan/medium pengawet pada nilai hematokrit
kira-kira 60%. Dosis biasa adalah 10 15 ml/Kg, tetapi volume transfusi
sangat bervariasi, tergantung pada keadaan klinis (misalnya perdarahan
terus menerus atau hemolisis). Untuk neonatus, produk pilihan adalah
konsentrat PRC (Ht 70 90%) yang diinfuskan perlahan-lahan (2 4 jam)
dengan dosis kira-kira 15 ml/KgBB.5,7
Text Box: Kebutuhan darah (ml)= BB(kg)x6x(Hb target-Hb tercatat)
Dibagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta, dosis tranfusi

32

didasarkan atas makin anemis seorang resipien, maka sedikit jumlah darah
yang diberikan per et mal dalam suatu seri tranfusi darah dan makin
lambat pula jumlah tetesan yang diberikan, untuk menghindari komplikasi
gagal jantung. Di bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta,
dosis

yang

dipergunakan

untuk

menaikkan

Hb

adalah

dengan

menggunakan modifikais rumus empiris sebagai berikut:


Bila yang digunakan sel darah merah pekat (packed red cells), maka
kebutuhannya adalah 2/3 dari darah lengkap, menjadi:
BB (kg) x 4 x (Hb diinginkan - Hb tercatat)
Untuk anemia yang bukan karena perdarahan, maka teknis
pemberiannya adalah dengan tetesan. Makin rendah Hb awal makin
lambat tetesannya dan makin sedikit volume sel darah merah yang
diberikan. Jika menggunakan packed red cells untuk anemia, lihat tabel 3.3
Tabel 5. Dosis PRC untuk transfuse

3.

Tranfusi Suspensi Trombosit


Suspensi trombosit dapat diperoleh dari 1 unit darah lengkap segar
donor tunggal, atau dari darah donor dengan cara/ melalui tromboferesis.
Komponen ini masih mengandung sedikit sel darah merah, leukosit, dan
plasma. Komponen ini ditransfusikan dengan tujuan menghentikan
perdarahan karena trombositopenia, atau untuk mencegah perdarahan yang
berlebihan pada pasien dengan trombositopenia yang akan mendapatkan
tindakan invasive.8,7

33

Indikasi transfusi trombosit pada anak dan bayi dapat dilihat pada
tabel 3.4 berikut ini.
Anak-anak dan remaja

Trombosit <10x109/L dan perdarahan


Trombosit <10x109/L dan prosedur invasif
Trombosit <20x109/L dan kegagalan sumsum tulang dengan faktor

risiko perdarahan tambahan


Defek trombosit kumulatif dan perdarahan atau prosedur invasive

Bayi berusia < 4 bulan

Trombosit <100x109/L dan perdarahan


Trombosit <50x109/L dan prosedur invasif
Trombosit <20x109/L dan secara klinis stabil
Trombosit <100x109/L dan secara klinis tidak stabil
(Tabel 3. 4. Indikasi transfusi trombosit pada anak)
Transfusi trombosit harus diberikan kepada penderita dengan angka

trombosit <50x109/L, jika ada perdarahan atau direncanakan untuk


mengalami prosedur invasif. Penelitian pada penderita trombositopenia
dengan gagal sumsum tulang menunjukkan bahwa perdarahan spontan
meningkat tajam jika trombosit turun menjadi <20>9/L. Dengan alasan ini
maka banyak dokter anak menganjurkan transfusi trombosit profilaksis
untuk mempertahankan trombosit >20 x109/L pada anak dengan
trombositopenia karena gagal sumsum tulang. Pemberian komponen ini
sebagai profilaksis pada pasien tanpa perdarahan terutama menjadi
kontroversi bidang onkologi pediatric. Angka tersebut juga menimbulkan
kontroversi karena banyak ahli memilih transfusi pada batas 5-10x109/L
untuk penderita tanpa komplikasi. Meskipun demikian, transfusi dengan
komponen ini mutlak diperlukan oleh pasien leukemia akut yang sedang
menjalani kemoterapi, dan mengalami trombositopenia berat (trombosit
<>2 , dengan perkiraan setiap unit trombosit akan dapat meningkatkan
jumlah trombosit sebesar 10.000/m2. 1,2,3
4.
Tranfusi Plasma Segar Beku (fresh frozen plasma)

34

Plasma segar beku adalah bagian cair dari darah lengkap yang
dipisahkan kemudian dibekukan dalam waktu 8 jam setelah pengambilan
darah. Hingga sekarang, komponen ini masih diberikan untuk defisiensi
berbagai faktor pembekuan. (Bila ada/ tersedia, harus diberikan faktor
pembekuan yang spesifik sesuai dengan defisiensinya).3,4
Plasma beku segar ditransfusikan untuk mengganti kekurangan
protein plasma yang secara klinis nyata, dan defisiensi faktor pembekuan
II, V, VII, X dan XI. Kebutuhan akan plasma beku segar bervariasi
menurut faktor spesifik yang akan diganti.3,6
Komponen ini dapat diberikan pada trauma dengan perdarahan hebat
atau renjatan (syok), penyakit hati berat, imunodefisiensi tanpa
ketersediaan preparat khusus, dan pada bayi dengan enteropati disertai
kehilangan protein (protein losing enteropathy). Meskipun demikian,
penggunaan komponen ini sekarang semakin berkurang. Dan bila
diperlukan, maka dosisnya 20-40 ml/ kgBB/hari.
Indikasi lain transfusi plasma beku segar adalah sebagai cairan
pengganti selama penggantian plasma pada penderita dengan purpura
trombotik trombositopenik atau keadaan lain dimana plasma beku segar
diharapkan bermanfaat, misalnya tukar plasma pada penderita dengan
perdarahan dan koagulopati berat. Transfusi plasma beku segar tidak lagi
dianjurkan untuk penderita dengan hemofilia A atau B yang berat, karena
sudah tersedia konsentrat faktor VIII dan IX yang lebih aman. Plasma
beku segar tidak dianjurkan untuk koreksi hipovolemia atau sebagai terapi
pengganti imunoglobulin karena ada alternatif yang lebih aman, seperti
larutan albumin atau imunoglobulin intravena. 1Pada neonatus, transfusi
plasma beku segar memerlukan pertimbangan khusus. Indikasi transfusi
plasma beku segar untuk neonatus meliputi: (1)Mengembalikan kadar
eritrosit agar mirip darah lengkap untuk kepentingan transfusi masif,
misalnya pada transfusi tukar atau bedah jantung; (2)Perdarahan akibat
defisiensi vitamin K; (3)Koagulasi intravaskuler diseminata (DIC) dengan
perdarahan; (4)Perdarahan pada defisiensi faktor koagulasi kongenital bila
terapi yang lebih spesifik tidak tersedia atau tidak memadai.6,8

35

Pedoman transfusi FFP pada anak, dapat dilihat pada tabel 3.6
berikut.
Bayi, anak dan remaja:
Defisiensi faktor pembekuan darah yang berat dan perdarahan
Defisiensi faktor pembekuan dan prosedur invasif
Pembalikan darurat efek warfarin
Koagulopati pengenceran dan perdarahan
Penggantian protein antikoagulan (antitrombin-III, Protein C, dll)
Cairan pengganti tukar plasma untuk purpura trombotik
5.

trombositopenik
Konsentrat faktor VIII (faktor anti hemofilia A)
Komponen ini merupakan preparat kering yang mengandung
konsentrat faktor VIII, prokoagulan, yang diperoleh dari kumpulan
(pooled) plasma dari sekitar 2000-30.000 donor. Hasil dimurnikan dengan
teknik monoclonal, dan dilakukan penonaktifan virus melalui misalnya
pemanasan (heattreated). Pengemasan dalam botol berisi 250 dan 1.000

unit. Dosis pemberian sama dengan kriopresipitat. 1,4


6.
Kompleks faktor IX
Komponen ini disebut juga kompleks protrombin, mengandung
faktor pembekuan yang tergantung vitamin K, yang disintesis di hati,
seperti faktor VII, IX, X, serta protrombin. Sebagian ada pula yang
mengandung proteinC. Komponen ini biasanya digunakan untuk
pengobatan hemofilia B. Kadang diberikan pada hemofilia yang
mengandung inhibitor faktor VIII dan pada beberapa kasus defisiensi
faktor VII dan X. Dosis yang dianjurkan adalah 80-100 unit/kgBB setiap
24 jam.2,3
7.
Albumin
Albumin merupakan protein plasma yang dapat diperoleh dengan
cara fraksionisasi Cohn. Larutan 5% albumin bersifat isoosmotik dengan
plasma, dan dapat segera meningkatkan volume darah. Komponen ini
digunakan juga untuk hipoproteinemia (terutama hipoalbuminemia), luka
bakar hebat, pancreatitis, dan neonatus dengan hiperbilirubinemia. Dosis
disesuaikan dengan kebutuhan, misal pada neonatus hiperbilirubinemia
perlu 1-3g/kgBB dalam bentuk larutan albumin 5%.6,7
8.
Imunoglobulin

36

Komponen ini merupakan konsentrat larutan materi zat anti dari


plasma, dan yang baku diperoleh dari kumpulan sejumlah besar plasma.
Komponen yang hiperimun didapat dari donor dengan titer tinggi terhadap
penyakit seperti varisela, rubella, hepatitisB, atau rhesus. Biasanya
diberikan untuk mengatasi imunodefisiensi, pengobatan infeksi virus
tertentu, atau infeksi bakteri yang tidak dapat diatasi hanya dengan
antibiotika dan lain-lain. Dosis yang digunakan adalah 1-3 ml/kgBB.8,9
9.
Transfusi darah autologus
Transfusi jenis ini menggunakan darah pasien sendiri, yang
dikumpulkan terlebih dahulu, untuk kemudian ditransfusikan lagi.
Hal ini sebagai pilihan jika pasien memiliki zat anti dan tak ada
satu pun golongan darah yang cocok, juga jika pasien berkeberatan
menerima donor orang lain. Meski demikian, tetap saja tidak lepas
sama sekali dari efek samping dan reaksi transfusi seperti
terjadinya infeksi.4,5

KOMPLIKASI TRANFUSI DARAH


1. Reaksi transfusi darah secara umum
Apabila terjadi reaksi transfusi, maka langkah umum yang pertama
kali dilakukan adalah menghentikan transfusi, tetap memasang infus untuk
pemberian cairan NaCl 0,9% dan segera memberitahu dokter jaga dan
bank darah.6,9
2.

Reaksi Transfusi Hemolitik Akut


Reaksi transfusi hemolitik akut (RTHA) terjadi hampir selalu karena
ketidakcocokan golongan darah ABO (antibodi jenis IgM yang beredar)
dan sekitar 90%-nya terjadi karena kesalahan dalam mencatat identifikasi
pasien atau unit darah yang akan diberikan.2,3
Gejala dan tanda yang dapat timbul pada RTHA adalah demam
dengan atau tanpa menggigil, mual, sakit punggung atau dada, sesak
napas, urine berkurang, hemoglobinuria, dan hipotensi. Pada keadaan yang

37

lebih berat dapat terjadi renjatan (shock), koagulasi intravaskuler


diseminata (KID), dan/atau gagal ginjal akut yang dapat berakibat
kematian.2,3
Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan tindakan sebagai
berikut:
a. Meningkatkan perfusi ginjal,
b. Mempertahankan volume intravaskuler,
c. Mencegah timbulnya DIC.2,3
3. Reaksi Transfusi Hemolitik Lambat
Reaksi transfusi hemolitik lambat (RTHL) biasanya disebabkan oleh
adanya antibodi yang beredar yang tidak dapat dideteksi sebelum transfusi
dilakukan karena titernya rendah. Reaksi yang lambat menunjukkan
adanya selang waktu untuk meningkatkan produksi antibodi tersebut.
Hemolisis yang terjadi biasanya ekstravaskuler.2,9
Gejala dan tanda yang dapat timbul pada RTHL adalah demam,
pucat, ikterus, dan kadang-kadang hemoglobinuria. Biasanya tidak terjadi
hal yang perlu dikuatirkan karena hemolisis berjalan lambat dan terjadi
ekstravaskuler, tetapi dapat pula terjadi seperti pada RTHA. Apabila
gejalanya ringan, biasanya tanpa pengobatan. Bila terjadi hipotensi,
renjatan, dan gagal ginjal, penatalaksanaannya sama seperti pada RTHA.6,9
4. Reaksi Transfusi Non-Hemolitik
a. Demam
Demam merupakn lebih dari 90% gejala reaksi transfusi.
Umumnya ringan dan hilang dengan sendirinya. Dapat terjadi karena
antibodi resipien bereaksi dengan leukosit donor. Demam timbul
akibat aktivasi komplemen dan lisisnya sebagian sel dengan
melepaskan pirogen endogen yang kemudian merangsang sintesis
prostaglandin dan pelepasan serotonin dalam hipotalamus. Dapat pula
terjadi demam akibat peranan sitokin (IL-1b dan IL-6). Umumnya
reaksi demam tergolong ringan dan akan hilang dengan sendirinya.
b. Reaksi Alergi

38

Reaksi alergi (urtikaria) merupakan bentuk yang paling sering


muncul, yang tidak disertai gejala lainnya. Bila hal ini terjadi, tidak
perlu sampai harus menghentikan transfusi. Reaksi alergi ini diduga
terjadi akibat adanya bahan terlarut di dalam plasma donor yang
bereaksi dengan antibodi IgE resipien di permukaan sel-sel mast dan
eosinofil, dan menyebabkan pelepasan histamin. Reaksi alergi ini tidak
berbahaya, tetapi mengakibatkan rasa tidak nyaman dan menimbulkan
ketakutan pada pasien sehingga dapat menunda transfusi. Pemberian
antihistamin dapat menghentikan reaksi tersebut.
c. Reaksi anafilaktik
Reaksi yang berat ini dapat mengancam jiwa, terutama bila timbul
pada pasien dengan defisiensi antibodi IgA atau yang mempunyai IgG
anti IgA dengan titer tinggi. Reaksinya terjadi dengan cepat, hanya
beberapa menit setelah transfusi dimulai. Aktivasi komplemen dan
mediator kimia lainnya meningkatkan permeabilitas vaskuler dan
konstriksi otot polos terutama pada saluran napas yang dapat berakibat
fatal. Gejala dan tanda reaksi anafilaktik biasanya adalah angioedema,
muka merah (flushing), urtikaria, gawat pernapasan, hipotensi, dan
renjatan.
Penatalaksanaannya adalah :
a) Menghentikan transfusi dengan segera,
b) Tetap infus dengan NaCl 0,9% atau kristaoid,
c) Berikan antihistamin dan epinefrin.
Pemberian dopamin dan kortikosteroid perlu dipertimbangkan.
Apabila terjadi hipoksia, berikan oksigen dengan kateter hidung atau
masker atau bila perlu melalui intubasi.2,3
5. Efek samping lain dan resiko lain transfuse
a. Komplikasi dari transfusi massif
Transfusi massif adalah transfusi sejumlah darah yang telah
disimpan, dengan volume darah yanglebih besar daripada volume
darah resipien dalam waktu 24 jam. Pada keadaan ini dapat terjadi

39

hipotermia bila darah yang digunakan tidak dihangatkan, hiperkalemia,


hipokalsemia dan kelainan koagulasi karena terjadi pengenceran dari
trombosit dan faktor- faktor pembekuan. Penggunaan darah simpan
dalam waktu yang lama akan menyebabkan terjadinya beberapa
komplikasi diantaranya adalah kelainan jantung, asidosis, kegagalan
hemostatik, acute lung injury.3,5
b. Penularan penyakit Infeksi
1)

Hepatitis virus
Penularan virus hepatitis merupakan salah satu bahaya/ resiko
besar pada transfusi darah. Diperkirakan 5-10 % resipien transfusi
darah menunjukkan kenaikan kadar enzim transaminase, yang
merupakan bukti infeksi virus hepatitis. Sekitar 90% kejadian
hepatitis pasca transfusi disebabkan oleh virus hepatitis non A non
B. Meski sekarang ini sebagian besar hepatitis pasca transfusi ini
dapat dicegah melalui seleksi donor yang baik dan ketat, serta
penapisan virus hepatitis B dan C, kasus tertular masih tetap
terjadi. Perkiraan resiko penularan hepatitis B sekitar 1 dari

200.000 dan hepatitis C lebih besar yaitu sekitar 1:10.000. 2,3


2) AIDS (Acquired Immune Deficiency syndrome)
Penularan retrovirus HIV telah diketahui dapat terjadi melalui
transfusi darah, yaitu dengan rasio 1:670.000, meski telah
diupayakan penyaringan donor yang baik dan ketat.
3) Infeksi CMV
Penularan CMV terutama berbahaya bagi neonatus yang lahir
premature atau pasien dengan imunodefisiensi. Biasanya virus ini
menetap di leukosit danor, hingga penyingkiran leukosit
merupakan cara efektif mencegah atau mengurangi kemungkinan
infeksi virus ini. Transfusi sel darah merah rendah leukosit
merupakan hal terbaik mencegah CMV ini.2,3
4) Penyakit infeksi lain yang jarang
Beberapa penyakit walaupun jarang, dapat juga ditularkan
melalui transfusi adalah malaria, toxoplasmosis, HTLV-1,
mononucleosis infeksiosa, penyakit chagas (disebabkan oleh

40

trypanosoma cruzi), dan penyakit CJD ( Creutzfeldt Jakob


Disease).
Pencemaran

oleh

bakteri

juga

mungkin

terjadi

saat

pengumpulan darah yang akan ditransfusikan. Pasien yang


terinfeksi ini dapat mengalami reaksi transfusi akut, bahkan
sampai mungkin renjatan. Keadaan ini perlu ditangani seperti pada
5)

RTHA ditambah dengan pemberian antibiotic yang adekuat.


GVHD(Graft versus Host disease)
GVHD merupakan reaksi/ efek samping lain yang mungkin
terjadi pada pasien dengan imunosupresif atau pada bayi
premature. Hal ini terjadi oleh karena limfosit donor bersemai
(engrafting) dalam tubuh resipien dan bereaksi dengan antigen
penjamu. Reaksi ini dapat dicegah dengan pemberian komponen
SDM yang diradiasi atau dengan leukosit rendah.7,8

PEMERIKSAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN TRANFUSI


DARAH
Untuk mengetahui jenis pemeriksaan yang harus dilakukan sebelum
transfusi dan hal-hal yang kemungkinan akan terjadi setelah transfusi,
haruslah diketahui beberapa unsur yang ada di dalam darah yang akan
ditransfusikan.Unsur penting yang harus diketahui karena mempunyai unsur
antigenik adalah:5,6
1. Eritrosit:
Untuk eritrosit, diperlukan pemeriksaan penggolongan darah
menggunakan sistem ABO, Rhesus (Rh), MNS dan P, Kell, Lutheran,
Duffy, Kidd, Lewis, dan lain-lain.
2. Leukosit dan Trombosit:
Walaupun sifat antigenik pada leukosit dan trombosit relatif lemah,
tetapi saat ini menjadi penting sekali di bidang transplantasi organ, karena
bersifat antigen jaringan.
3. Serum:
Sifat antigeniknya lemah, tetapi kadang dapat menimbulkan reaksi
transfusi 5,6,9 Transfusi darah yang ideal haruslah mempunyai sifat

41

antigeni darah donor yang cocok seluruhnya terhadap antigen resipien. Hal
ini sangat sulit dalam pelaksanaannya. Untuk keperluan praktis, umumnya
secara rutin dilakukan pengujian sebagai berikut:
a. Golongan darah donor dan resipien dalam sistem ABO dan Rhesus,
untuk menentukan antigen eritrosit. Menentukan golongan Rhesus
dilakukan dengan meneteskan complete anti D pada eritrosit yang
diperiksa (lihat tabel 5.1).5

b. Cross match
Setelah golongan darah ditentukan, kemudian dilakukan cross
match dari darah donor dan resipien yang bersangkutan. Ada dua
macam cross match, yaitu major cross match (serum resipien ditetesi
eritrosit donor), dan minor cross match (serum donor ditetesi eritrosit
resipien). Cross match yang lengkap haruslah dalam tiga medium,
yaitu:
a. NaCl Fisiologis
b. Enzim (metode enzim)
c. Serum Coombs (metode Coombs tidak langsung)

42

Semua pemeriksaan harus dilakukan dalam tabung serologis dan


setiap hasil yang negatif harus dipastikan secara mikroskopis. Untuk
pemeriksaan yang lengkap tersebut diperlukan waktu 2 jam. Dalam
keadaan darurat dapat dikerjakan cross match dalam NaCl fisiologis
pada gelas obyek. Bahayanya adalah tidak dapat ditentukan adanya
incomplete antibody dalam darah resipien atau donor, sehingga risiko
reaksi transfusi makin besar.9,7
c. Pemeriksaan lain terhadap infeksi. Misalnya lues, malaria, hepatitis,
dan HIV
LUKA BAKAR
Penentuan jumlah cairan
Untuk melakukan resusitasi dengan cairan kristaloid dibutuhkan tiga
sampai empat kali jumlah defisit intravaskuler. 1L cairan kristaloid akan
meningkatkan volume intravaskuler 300ml. Kristaloid hanya sedikit
meningkatkan cardiac outout dan memperbaiki transpor oksigen.6
Penatalaksanaan dalam 24 jam pertama
Resusitasi syok menggunakan Ringer laktat atau Ringer asetat,
menggunakan beberapa jalur intravena. Pemberian cairan pada syok atau
kasus luka bakar >25-30% atau dijumpai keterlambatan >2jam. Dalam <4 jam
pertama diberikan cairan kristaloid sebanyak 3[25%(70%x BBkg)] ml. 70%
adalah volume total cairan tubuh, sedangkan 25% dari jumlah minimal
kehilangan cairan tubuh yang dapat menimbulkan gejala klinik sindrom syok.3
Pada resusitasi cairan tanpa adanya syok atau kasus luka bakar luas <2530%, tanpa atau dijumpai keterlambatan <2jam. Kebutuhan dihitung
berdasarkan rumus Baxter: 3-4 ml/kgBB/ % luas LB.3
Metode Parkland merupakan metode resusitasi yang paling umum
digunakan pada kasus luka bakar, menggunakan cairan kristaloid. Metode ini
mengacu pada waktu iskemik sel tubulus ginjal < 8 jam sehingga lebih tepat
diterapkan pada kasus luka bakar yang tidak terlalu luas dan tanpa
keterlambatan.2,3,4
Pemberian cairan menurut formula Parkland adalah sebagai berikut:

43

Pada 24 jam pertama : separuh jumlah cairan diberikan dalam 8 jam


pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada bayi, anak, dan
orang tua, kebutuhan cairan adalah 4 ml. Bila dijumpai cedera inhalasi
maka kebutuhan cairan 4ml ditambah 1% dari kebutuhan. Bila dijumpai
hipertermia, kebutuhan cairan ditambah 1% dari kebutuhan.

Penggunaan zat vasoaktif (Dopamin atau Dobutamin) dengan dosis 3


mg/kgBB dengan titrasi atau dilarutkan dalam 500ml Glukosa 5%, jumlah
teteasan dibagi rata dalam 24 jam.

Pemantauan untuk menilai sirkulasi sentral melalui tekanan vena sentral


(minimal 6-12cmH2O) dan sirkulasi perifer (sirkulasi renal). Jumlah
produksi urin melalui kateter, saat resusitasi (0,5-1ml/kgBB/jam) dan
hari1-2 (1-2 ml/kgBB/jam). Jika produksi urin <0,5ml/kgBB/jam maka
jumlah cairan ditingkatkan 50% dari jam sebelumnya. Jika produksi urin
>1ml/kgBB/jam maka jumlah cairan dikurangi 25% dari jam sebelumnya.

Pemeriksaan fungsi renal (ureum, kreatinin) dan urinalisis (berat jenis dan
sedimen)

Pemantauan sirkulasi splangnikus dengan menilai kualitas dan kuantitas


cairan lembung melalui pipa nasogastrik. Jika <200ml tidak ada gangguan
pasase lambung, 200-400ml ada gangguan ringan, >400ml gangguan
berat.10

Penatalaksanaan 24 jam kedua

Pemberian cairan yang mengandung glukosa dan dibagi rata dalam 24


jam. Jenis cairan yang dapat diberikan adalah Glukosa 5% atau 10% 15002000ml. Batasi Ringer laktat karena dapat memperberat edema interstisial.

Pemantauan sirkulasi dengan menilai tekanan vena pusat dan jumlah


produksi urin (1-2ml.kgBB/jam). Jika jumlah cairan sudah mencukupi
namun produksi urin
<1-2ml/kgBB/jam, berikan vasoaktif sampai 5mg/kgBB.

Pemantauan analisa gas darah, elektrolit.10

Penatalaksanaan setelah 48 jam

44

Cairan diberikan sesuai kebutuhan maintenance

Pemantauan sirkulasi dengan menilai produksi urin (3-4ml/kgBB/jam),


hemoglobin dan hematokrit.10

DAFTAR PUSTAKA
1.

Soenarjo, Jatmiko HD. Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan


Terapi Intensif Fakultas Kedokteran UNDIP/RSUP Dr. Kariadi. Semarang:
Ikatan Dokter Spesialis Anestesi dan Reanimasi (IDSAI) Cabang Jawa
Tengah; 2010.p.259-64.

2.

Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Edisi kedua. Bagian


Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jakarta. 2009; 133-9.

3.

Sunatrio. Resusitasi Cairan. Media Aesculapius. Jakarta; 2000.

4.

Leksana E. Terapi Cairan dan Elektrolit. SMF/Bagian Anestesi


dan Terapi Intensif. Fakultas Kedokteran Universitas Dipenogoro. Semarang.

5.

Sunatrio S. Terapi Cairan Kristaloid dan Koloid untuk Resusitasi


Pasien kritis. Second Fundamental Course on Fluid Therapy. PT. Widatra
Bhakti. Jakarta; 2003.

6.

Ramelan S, Gatot D, Transfusi Darah Pada Bayi dan Anak dalam


Pendidikan Kedokteran berkelanjutan (Continuing Medical Education)
Pediatrics Updates, 2005, Jakarta, IDAI cabang Jakarta, halaman: 21-30.

7.

Sjamsuhidajat, R. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta: EGC.


2010.

8.

9.

Graber, A Mark. Terapi Cairan, Elektrolit dan Metabolik Edisi 3.


Farmedia. Jakarta: 2010.
British Journal of Hospital Medicine, April 2007, Vol 68, No 4.

45