Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

PENENTUAN KELARUTAN ELEKTROLIT SECARA


KONDUKTOMETRI

Disusun Oleh :
Kelompok 2
Kelas C
1.

Michael Hutapea

1307114141

2.

Ewith Riska Rachma

1307113269

3.

Masroah Tuljannah

1307113580

PROGRAM SARJANA TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS RIAU
2014

BAB I. TEORI
1.1

Tujuan Percobaan

1.

Menentukan konsentrasi asam basa secara konduktometri

2.

Menetukan konstanta sel konduktansi

3.

Menentukan kelarutan AgCl secara konduktometri

1.2

Dasar Teori
Titrasi konduktometri merupakan salah satu dari sekian banyak macam

macam titrasi. Didalam titrasi konduktometri ini tidak terlalu berbeda jauh dari
titrasi titrasi yang lainya, yang membedakan biasanya hanya terdapat bagaimana
cara untuk mengetahui titik ekivalen dari larutan itu. Titik ekivalen dapat kita
ketahui dari daya hantar dari larutan yang kita ukur, jika daya hantar sudah
konstan berarti titrasi sudah mencapai ekivalen dan titrasi ini juga tidak perlu
menggunakan indikator.
1.2.1

Konduktometri
Konduktometri merupakan prosedur titrasi, sedangkan konduktansi

bukanlah prosedur titrasi. Metode konduktansi dapat digunakan untuk mengikuti


reaksi titrasi jika perbedaan antara konduktansi cukup besar sebelum dan sesudah
penambahan reagen. Tetapan sel harus diketahui. Berarti selama pengukuran yang
berturut-turut jarak elektroda harus tetap. Hantaran sebanding dengan konsentrasi
larutan pada temperatur tetap, tetapi pengenceran akan menyebabkan hantarannya
tidak berfungsi secara linear lagi dengan konsentrasi (Khopkar, 2003).
Konduktometri merupakan metode analisis kimia berdasarkan daya hantar
listrik suatu larutan. Daya hantar listrik (G) suatu larutan bergantung pada jenis
dan konsentrasi ion di dalam larutan. Daya hantar listrik berhubungan dengan
pergerakan suatu ion di dalam larutan ion yang mudah bergerak mempunyai daya
hantar listrik yang besar. Daya hantar listrik (G) merupakan kebalikan dari
tahanan (R), sehingga daya hantar listrik mempunyai satuan ohm-1 . Bila arus
listrik dialirkan dalam suatu larutan mempunyai dua elektroda, maka daya hantar

listrik (G) berbanding lurus dengan luas permukaanelektroda (A) dan berbanding
terbalik dengan jarak kedua elektroda
G = l/R = k (A / l)
dimana k adalah daya hantar jenis dalam satuan ohm -1 cm -1. Daya
Hantar Ekivalen (Equivalen Conductance) . Kemampuan suatu zat terlarut untuk
menghantarkan arus listrik disebut daya hantar ekivalen (^) yang didefinisikan
sebagai daya hantar satu gram ekivalen zat terlarut di antara dua elektroda dengan
jarak kedua electroda 1cm. Yang dimaksud dengan berat ekuivalen adalah berat
molekul dibagi jumlah muatan positif atau negatif. Contoh berat ekivalen BaCl2
adalah BM BaCl2 dibagi dua. Volume larutan (cm3) yang mengandung satu gram
ekivalen zat terlarut diberikan oleh
V = 100 / C
dengan C adalah konsentrasi (ekivalen per cm-3), bilangan 1000 menunjukkan 1
liter = 1000 cm3. Volume dapat juga dinyatakan sebagai hasil kali luas (A) dan
jarak kedua elektroda (1).
V= l A
Dengan l sama dengan 1 cm
V = A = 100 / C
Substitusi persamaan ini ke dalam persamaan G diperoleh,
G = 1/R = 1000k/C
Daya hantar ekivalen (^) akan sama dengan daya hantar listrik (G) bila 1 gram
ekivalen larutan terdapat di antara dua elektroda dengan jarak 1 cm.^ = 1000k/C
Daya hantar ekivalen pada larutan encer diberi simbol yang harganya tertentu
untuk setiap ion.
1.2.2

Konduktivitas(Hantaran)
Konduktivitas suatu larutan elektrolit, pada setiap temperatur hanya

bergantung pada ion-ion yang ada, dan konsentrasi ion-ion tersebut. Ini sebagian
besar disebabkan oleh berkurangnya efek-efek antar-ionik untuk elektrolit-

elektrolit kuat dan oleh kenaikan derajat disosiasi untuk elektrolit-elektrolit lemah
(Bassett, J. dkk., 1994).
Untuk mengukur konduktivitas suatu larutan, larutan ditaruh dalam sebuah
sel, yang tetapan selnya telah ditetapkan dengan kalibrasi dengan suatu larutan
yang konduktivitasnya diketahui dengan tepat, misal, suatu larutan kalium klorida
standar. Sel ditaruh dalam satu lengan dari rangkaian jembatan Wheatstone dan
resistansnya diukur (Bassett, J. dkk., 1994).
Bila konsentrasi dinyatakan dalam normalitas, maka harus dikalikan faktor
1000. nilai d/a =S merupakan faktor geometri selnya dan nilainya konstan untuk
suatu sel tertentu sehingga disebut tetapan sel (Khopkar, 2003).
Konduktivitas suatu larutan elektrolit pada setiap temperatur hanya
bergantung pada ion-ion yang ada, dan konsentrasi ion-ion tersebut. Bila larutan
suatu elektrolit diencerkan, konduktivitas akan turun karena lebih sedikit ion
berada per cm3 larutan untuk membawa arus. Jika semua larutan itu ditaruh antara
dua elektrode yang terpisah 1 cm satu sama lain dan cukup besar untuk mencakup
seluruh larutan, konduktans akan naik selagi larutan diencerkan. Ini sebagian
besar disebabkan oleh berkurangnya efek-efek antar-ionik untuk elektrolitelektrolit kuat oleh kenaikan derajat disosiasi untuk elektrolit-elektrolit lemah
(Basset, J. dkk, 1994: 236).
Metode konduktansi dapat digunakan untuk mengikuti reaksi titrasi jika
perbedaan antara konduktansi cukup besar sebelum dan sesudah penambahan
reagen. Tetapan sel harus diketahui. Berarti selama pengukuran yang berturutturut tahanan sehingga I = EL. Satuan dari hantaran (konduktansi) adalah mho
(Khopkar, jarak elektroda harus tetap, tetapi pengenceran akan menyebabkan
hantarannya tidak berfungsi secara linear lagi dengan konsentrasi. Menurut
hukum Ohm I = E / R, dimana I adalah arus dalam ampere, E adalah tegangan
dalam volt, dan R adalah tahanan dalam ohm. Hukum ini berlaku bila difusi dan
reaksi elektroda tidak terjadi. Konduktansi sendiri didefinisikan sebagai kebalikan
dari tahanan sehingga I = EL. Satuan dari hantaran (konduktansi) adalah mho
(Khopkar, 1990: 373).

1.2.2.1 Konduktivitas Elektrik


Pengukuran konduktivitas elektrik adalah penentuan konduktivitas spesifik
dari larutan. Konduktivitas spesifik adalah kebalikan dari tahanan untuk 1 cm 3
larutan. Pemakaian cara untuk pengukuran ini antara lain mendeteksi pengotoran
air karena zeolit atau zat kimia., seperti limbah industri, pengolahan air bersih dan
lain-lain. Karena ada relevansi antara konduktivitas dengan konsentrasi suatu
larutan, maka untuk menentukan konsentrasi larutan dapat dilakukan dengan cara
mengukur konduktivitas larutan tersebut. Dalam hal itu hubungan antara
konsentrasi dan konduktivitas larutan telah ditentukan (Sinaga, 2010).
Larutan asam, basa dan garam dikenal sebagai elektrolit yang dapat
menghantarkan arus listrik atau disebut konduktor listrik. Konduktivitas listrik
ditentukan oleh sifat elektrolit suatu larutan, konsentrasi dan suhu larutan.
Pengukuran konduktivitas suatu larutan dapat dilakukan dengan pengukuran
konsentrasi larutan tersebut, yang dinyatakan dengan persen dari berat, part per
million (ppm) atau satuan lainnya.
Jika harga konduktivitas dari bermacam konsentrasi larutan elektrolit
diketahui, maka untuk menentukan konsentrasi larutan tersebut dapat dilakukan
dengan mengalirkan arus melalui larutan dan mengukur resistivitas atau
konduktivitasnya. Gambar 1.2 menunjukkan grafik hubungan antara konduktivitas
dan konsentrasi untuk beberapa jenis larutan pada suhu tertentu.

Gambar 1.2 Grafik Hubungan Konduktivitas dengan Konsentrasi


(Sumber: Sinaga, 2010)

Elemen pertama pada pengukuran konduktivitas listrik berbentuk


konduktivitas sel yang terdiri atas sepasang elektroda yang luas permukaannya
ditetapkan dengan teliti. Konduktivitas yang diukur dengan sel konduktivitas
dinyatakan dengan rumus:
..(1.8)
dimana;
k = konduktivitas (mho/cm)
C = konduktansi (mho)
A = Luas elektroda (cm3 )
l = Jarak antara elektroda (cm)
Dari persamaan (1.8) suatu konduktansi dengan nilai 1 mho dapat
dinyatakan sebagai kemampuan hantar dari zat cair yang berukuran luas
penampang 1 cm2 dan jarak 1 cm atau volume zat cair sebesar 1 cm3 untuk arus 1
ampere dengan tegangan 1 volt. Jika arus yang dapat dihantarkan lebih besar lagi,
maka konduktansinya lebih besar pula. Jika pada suatu resistor dialirkan arus yang

membesar, maka tahanan atau resistansinya akan mengecil. Hal ini berarti bahwa
konduktivitas adalah kebalikan dari dari resistansi, mho = 1/ohm (Sinaga, 2010).
Tabel 1.1. Konduktivitas berbagai material
Material
Kuarsa
Belerang
Mika
Parafin
Karet
Porcelain
Kaca
Barkelit
Air Destilasi
Tanah Pasir
Tanah Rawa
Air segar
Germanium
Air Laut
Tellurium
Carbon
Graphite
Besi Tuang
Mercury
Chrome
Constantan
Silikon
Perak
Timah Hitam
Timah
Posfor
Kuningan
Seng
Tungsten
Duralumin
Alumunium
Emas
Tembaga
Perak
Nb3, (Al-Ge)

Tipe
Isolator
Isolator
Isolator
Isolator
Isolator
Isolator
Isolator
Isolator
Isolator
Isolator Lemah
Isolator Lemah
Iaolator Lemah
Semi Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Konduktor
Super Konduktor

.S/m
10-17
10-15
10-15
10-15
10-15
10-10
10-12
10-9
10-4
10-3
10-2
10-2
2
5
5 x 102
3 x 104
105
106
106
106
2,26 x 106
2 x 106
3 x 106
5 x 106
9 x 106
1,0 x 107
1,1 x 107
1,7 x 107
1,8 x 107
3 x 107
3,5 x 107
4,2 x 107
5,7 x 107
6,1 x 107

(Sumber: Sinaga, 2010)


Dalam satuan Sistem Internasional (SI), satuan mho diganti dengan
Siemens. Untuk suatu konduktivitas, mho/cm sama dengan mikro siemens per
centimeter (S/cm). Namun karena pada SI satuan panjang yang digunakan adalah
dalam satuan meter maka satuan konduktivitas adalah mikro siemens per meter,
S/cm = 100 S/m.
Pada peralatan ukur konduktivitas di industri, luas permukaan elektroda
dapat lebih ataupun kurang dari 1 cm dan jaraknya dapat lebih jauh ataupun lebih

dekat dari 1 cm. Hubungan satuan antara elektroda-elektroda dengan sel


konduktivitas standar disebut dengan konstanta sel (K). Hal itu dapat diturunkan
dengan persamaan :
(1.9)

..
(1.10)
Jarak l dan A besarnya tetap, sehingga l/A merupakan tetapan yang disebut
sebagai konstanta sel. Jika l/A = F, maka C=K/F. F adalah konstanta sel dengan
satuan 1/cm atau cm-1 . Konstanta sel berkisar antara 0,01 sampai 100 untuk sel
konduktivitas.
Untuk konstanta sel tertentu memilliki daerah ukur konduktivitas, seperti
yang tercantum pada tabel 1.2 di bawah ini.
Tabel 1.2. Konstanta sel dan rentang ukur konduktivitas
Konstanta
sel
0,01
0,10
1,00
10,00
100,00

Rentang Ukur
Konduktivitas
Mikro (mho)
1-200
100-2000
1000-5000
5000-200.000
100.000-2.000.000

(Sumber: Sinaga, 2010)


1.2.3

Elektrolit kuat dan Elektrolit Lemah


Daya hantar listrik larutan elektrolit bergantung pada jenis dan

konsentrasinya. Beberapa larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik


dengan baik meskipun konsentrasinya kecil, larutan ini dinamakan elektrolit kuat.
Sedangkan larutan elektrolit yang mempunyai daya hantar lemah meskipun
konsentrasinya tinggi dinamakan elektrolit lemah.

Beberapa larutan elektrolit dapat mengahantarkan listrik dengan baik.


Larutan ini dinamakan elektrolit kuat, beberapa elektrolit yang lain dapat
menghantarkan listrik tetapi kurang baik. Dari uraian di atas kita dapat golongkan
larutan elektrolit menjadi dua macam, yaitu elektrolit kuat dan elektrolit lemah.
Larutan elektrolit kuat adalah larutan yang dapat menghantarkan arus
listrik dengan baik. Hal ini disebabkan karena zat terlarut akan terurai sempurna
(derajat ionisasi = 1) menjadi ion-ion sehingga dalam larutan tersebut banyak
mengandung ion-ion. Sebagai contoh larutan NaCl. Jika padatan NaCl dilarutkan
dalam air maka NaCl akan terurai sempurna menjadi ion Na+ dan Cl-.
Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang dapat menghantarkan arus
listrik dengan lemah. Hal ini disebabklan karena zat terlarut akan terurai sebagian
(derajat ionisasi << 1) menjadi ion-ion sehingga dalam larutan tersebut sedikit
mengandung ion.
Tabel 1.3. Perbandingan larutan elektrolit dan larutan non elektrolit
Larutan Elektrolit
1. Dapat Mengantarkan Listrik
2. Terjadi prose ionisasi (terurai
menjadi ion-ion)
3. Lampu dapat menyala terang
atau redup dan ada gelembung
gas
Contoh: garam dapur (NaCl)
Cuka dapur
(CH3COOH)
Air accu (H 2SO4)
Garam
Magnesium(MgCl2)

Larutan Non Elektrolit


1. Tidak dapat menghantarkan
listrik
2. Tidak terjadi proses ionisai
3. Lampu tudak menyala dan
tidak ada gelembung
Contoh: Larutan Gula
Larutan Alkohol
Larutan Glukosa
Larutan Urea

(Sumber: Sinaga, 2010)

1.2.4

Pengukuran Daya Hantar Listrik


Pengukuran daya hantar memerlukan sumber listrik, sel untuk menyimpan

larutan dan jembatan (rangkaian elektronik) untuk mengukur tahanan larutan.


1.

Sumber listrik
Hantaran arus DC (misal arus yang berasal dari batrei) melalui larutan

merupakan proses faradai, yaitu oksidasi dan reduksi terjadi pada kedua elektroda.
Sedangkan arus AC tidak memerlukan reaksi elektro kimia pada elektrodaelektrodanya, dalam hal ini aliran arus listrik bukan akibat proses faradai.
Perubahan karena proses faradai dapat merubah sifat listrik sel, maka pengukuran
konduktometri didasarkan pada arus nonparaday atau arus AC.
2. Tahanan Jembatan
Jembatan Wheatstone merupakan jenis alat yang digunakan untuk
pengukuran daya hantar.
3.

Sel
Salah satu bagian konduktometer adalah sel yang terdiri dari sepasang

elektroda yang terbuat dari bahan yang sama. Biasanya elektroda berupa logam
yang dilapisi logam platina untuk menambah efektifitas permukaan elektroda.
Titrasi Konduktometri Metode konduktometri dapat digunakan untuk menentukan
titik ekivalen suatu titrasi, berupa beberapa contoh titrasi konduktometri dibahas
berikut, Titrasi asam kuat- basa kuat Sebagai contoh lrutan HCl dititrasi ole
NaOH. Kedua larutan ini adalah penghantar listrik yang baik. Kurva titrasinya
ditunjukkan pada gambar di bawah ini. daya hantar H+ turun sampai titik ekivalen
tercapai. Dalam hal ini jumlah H+ makin berkurang di dalam larutan, sedangkan
daya hantar OH- berrtambah setelah titik ekivalen (Te) tercapai karena jumlah
OH- di dalam larutan bertambah. Jumlah ion Cl- di dalam larutan tidak berubah,
karena itu daya hantar konstan dengan penambahan NaOH. Daya hantar ion Na+
bertambah secara perlahan-lahan sesuai dengan jumlah ion Na+.

BAB II. PERCOBAAN


2.1.

Alat-alat yang digunakan


Konduktometri
Gelas kimia
Buret
Statip
Erlenmeyer
Corong
Pipet tetes

2.2.

Bahan-bahan yang dipakai


AgNO3 0.1N
NaOH 1N
HCl 1 N
Aquades

2.3.

Prosedur percobaan
Persiapan bahan
1) Larutan NaOH 0.1 N 30 ml disiapkan dengan cara pengenceran yang
teliti dari larutan induk NaOH 1 N.
2) Larutan HCl 0.1 N 10 ml disiapkan dengan cara pengenceran yang
teliti dari larutan induk HCl 1 N.
3) Larutan AgNO3 0.001 N 15 ml disiapkan dengan pengenceran yang
teliti dari larutan induk AgNO3 0.1 N.
Titrasi asam-basa secara konduktometri
1) 10 ml HCl 0.1 N dimasukkan kedalam Erlenmeyer, diencerkan dengan
100 ml aquadest.
2) Elektroda konduktometri dicelupkan ke dalam larutan HCl untuk
mengukur tahanan.
3) Titrasi dengan larutan NaOH 0.1 N.
4) Pada 5 kali penambahan pertama, tiap kali penambahan gunakan 1ml
NaOH, kemudian pada saat 20 kali penambahan selanjutnya, tiap kali

penambahan gunakan 0.5 ml NaOH sampai volum penambahan 15 ml.


Lima kali penambahan selanjutnya, tiap kali penambahan gunakan 1
ml NaOH sampai volum penambahan 20 ml. Setiap kali penambahan
NaOH, ukur tahanannya.
Menentukan kelarutan AgCl secara konduktometri
1) Larutan AgCl jenuh dibuat dengan cara 5 ml AgNO3 0,1 N direaksikan
dengan HCl 0,1 N di dalam gelas piala 100 ml. Endapan AgCl yang
terbentuk disaring dan dicuci sampai bebas dari asam.
2) Endapan AgCl dilarutkan sampai menghasilkan larutan jenuhnya.
3) Ukur tahanan dari KNO3 0,01 N; AgNO3 0,01 N; AgCl jenuh dan
aquadest.
4) Percobaan/pengukuran triplo dilakukan.

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN


4.1

Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan:

1.

Titik ekivalen seharusnya terjadi pada saat kelebihannya ion Na + yang


membuat daya hantar semakin meningkat.

2.

Suatu larutan dengan konsentrasi yang berbeda akan mempunyai hantaran


jenis yang berbeda, karena volume larutan dengan konsentrasi berbeda
mengandung ion yang berbeda.

3.
4.2
1.

Tahanan AgNO3 0,01 N rata-rata adalah


Saran
Praktikan lebih teliti dalam melakukan percobaan, khususnya pengukuran

daya hantar.
2.

Alat yang digunakan seharusnya diperiksa kerusakannya agar mengurangi

ketidakberhasilan dalam praktikum.

BAB V. TUGAS/JAWABAN PERTANYAAN

BAB VI. DAFTAR PUSTAKA


Basset. J, dkk, 1994, Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik,
Penerbit: Buku Kedokteran EGC, jakarta, hal: 809 866.
Khopkar. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press. Jakarta

Khopkar, S.M., (2003),Konsep Dasar KimiaAnalitik,TerjemahanA.saptorahardjo,


Edisi pertama, UI Press, Jakarta.
Nugroho, Arya. 2010. Larutan Elektrolit. (http ://jawigo .blogspot. com/2010

03/larutan- elektrolit.html) diakses pada 24 Maret 2011


Sinaga. 2010. Studi Flowmeter Magnetik.

( repository. usu.ac.id/bitstream /

123456789/18269/3/Chapter%20II.pdf.) diakses pada 25 Maret 2011

Lampiran dan Perhitungan

Membuat larutan AgNO3 0.1 N dari padatannya


0.1 N=

gr 1000
Mr V

0.1 N=

gr 1000
170 V

gr= 0,17 gram

Membuat larutan KNO3 0.1 N dari padatannya


0.1 N=

gr 1000
Mr V

0.1 N=

gr 1000
101 V

gr= 1.01 gram

Membuat larutan NaOH 0.1 N dari padatannya

0.1 N=

gr 1000
Mr V

0.1 N=

gr 1000
40 V

gr= 0.4 gram

Membuat larutan HCl 0.1 N dari padatannya


V1.M1 = V2.M2
1000.1 = V210
V2=

1 ml

Membuat larutan AgNO3 0.01 N dari larutan induknya

V1.M1

= V2.M2

1000.01 = V20.1
V2 = 10 ml

Membuat larutan KNO3 0.01 N dari larutan induknya


V1.M1

= V2.M2

1000.01 =V20.1
V2= 10 ml