Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN MELENA

A. Konsep Dasar Penyakit


1.

Pengertian
Melena adalah pengeluaran feses atau tinja yang berwarna hitam seperti ter yang
disebabkan oleh adanya perdarahan saluran makan bagian atas. BAB darah atau biasa disebut
hematochezia ditandai dengan keluarnya darah berwarna merah terang dari anus, dapat
berbentuk gumpalan atau telah bercampur dengan tinja. Sebagian besar BAB darah berasal dari
luka di usus besar, rektum, atau anus. Warna darah pada tinja tergantung dari lokasi perdarahan.
Umumnya, semakin dekat sumber perdarahan dengan anus, semakin terang darah yang keluar.
Oleh karena itu, perdarahan di anus, rektum dan kolon sigmoid cenderung berwarna merah
terang dibandingkan dengan perdarahan di kolon transversa dan kolon kanan (lebih jauh dari
anus) yang berwarna merah gelap atau merah tua.

2.

Tanda dan gejala

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Syok (denyut Jantung, Suhu Tubuh),


Penyakit hati kronis (sirosis hepatis),
Demam ringan 38-39C,
Nyeri di perut,
Hiperperistaltik,
Penurunan Hb dan Hmt yang terlihat setelah beberapa jam,
Peningkatan kadar urea darah setelah 24-48 jam karena pemecahan protein darah oleh bakteri
usus.

3.

Etiologi

a.
b.
c.
d.
e.

Adanya luka atau pendarahan di lambung atau usus.


Tukak lambung .
Wasir.
Disentri.
Minuman beralkohol.

4.

Patofisiologi

Pada gagal hepar sirosis kronis, kematian sel dalam hepar mengakibatkan peningkatan
tekanan vena porta. Sebagai akibatnya terbentuk saluran kolateral dalam submukosa esopagus
dan rektum serta pada dinding abdomen anterior untuk mengalihkan darah dari sirkulasi splenik
menjauhi hepar. Dengan meningkatnya teklanan dalam vena ini, maka vena tersebut menjadi
mengembang dan membesar (dilatasi) oleh darah (disebut varises). Varises dapat pecah,
mengakibatkan perdarahan gastrointestinal masif. Selanjutnya dapat mengakibatkan kehilangan
darah tiba-tiba, penurunan arus balik vena ke jantung, dan penurunan curah jantung. Jika
perdarahan menjadi berlebihan, maka akan mengakibatkan penurunan perfusi jaringan. Dalam
berespon terhadap penurunan curah jantung, tubuh melakukan mekanisme kompensasi untuk
mencoba mempertahankan perfusi. Mekanisme ini merangsang tanda-tanda dan gejala-gejala
utama yang terlihat pada saat pengkajian awal. Jika volume darah tidak digantikan , penurunan
perfusi jaringan mengakibatkan disfungsi seluler. Sel-sel akan berubah menjadi metabolsime
anaerobi, dan terbentuk asam laktat. Penurunan aliran darah akan memberikan efek pada seluruh
sistem tubuh, dan tanpa suplai oksigen yang mencukupi sistem tersebut akan mengalami
kegagalan.
5.

Pemeriksaan diagnosis

a. Laboratorium (pemeriksaan darah)

Hitung darah lengkap: penurunan Hb, Hmt, peningkatan leukosit.

Elektrolit : penurunan kalium serum, peningkatan natrium, glukosa serum dan laktat.
b. Radiologi

Barrium Foloow through.

Barrium enema.
c.

Colonoscopy
Pemeriksaan ini dianjurkan pada pasien yang menderita peradangan kolon.

6.
a.

Penatalaksanaan
Pengaturan diet
Bila terjadi konstipasi berikan makan dengan makanan tinggi serat. Dianjurkan untuk

b.
7.
a.
b.
c.

menghindari susu.
Pengaturan obat-obatan
Komplikasi
Encelofati
Asites
Sirosis Hepatis

B. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian Keperawatan
a. Anamnese
1)
Identitas klien.
2)
Riwayat keperawatan.
3)
Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi
gejala dehidrasi,berat badan menurun. tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan
4)
5)
6)
7)

b.
1)

bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.
Riwayat kesehatan masa lalu.
Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.
Riwayat psikososial keluarga.
Kebutuhan dasar.
Pola eliminasi
Perubahan BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK sedikit atau jarang.
Pola nutrisi
Diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien.
Pola istirahat dan istirahat
Terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
Pola hygiene
Kebiasaan mandi setiap harinya.
Pola aktivitas
Terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.
Pemerikasaan fisik
Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah, kesadaran composmentis sampai

koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernapasan agak cepat.
2)
Pemeriksaan sistematik :

Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat badan

menurun, anus kemerahan.


Perkusi : adanya distensi abdomen.
Palpasi : Turgor kulit kurang elastis
Auskultasi : terdengarnya bising usus.

c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan tinja, darah lengkap.
2. Diagnosa keperawatan
a.
Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output
cairan yang berlebihan.
b.
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake asupan
c.
d.

yang tidak adekuat.


Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
Ansietas berhubungan dengan sakit kritis.

3.
a.

Rencana Keperawatan
Diagnosa 1
Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output
cairan yang berlebihan.
Tujuan dan kriteria hasil:
Devisit cairan dan elektrolit teratasi.Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir

lembab, balance cairan seimbang.


Rencana Tindakan :
Observasi tanda-tanda vital.
Observasi tanda-tanda dehidrasi.
Hitung input dan output cairan (balance cairan).
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi cairan, pemeriksaan lababoratorium

elektrolit.

Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah garam.


b. Diagnosa 2.
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake asupan
yang tidak kuat.
Tujuan dan kriteria hasil:
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi. Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1
porsi yang disediakan, mual, muntah tidak ada.
Rencana Tindakan :

Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi.

Timbang berat badan klien.

Kaji faktor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi.

Lakukan pemeriksaan fisik abdomen (palpasi, perkusi, dan auskultasi).

Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering.

Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.

c. Diagnosa 3
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.

Tujuan dan Kriteria hasil :


Nyeri dapat teratasi. Nyeri dapat berkurang / hilang, ekspresi wajah tenang.
Rencana Tindakan :
Observasi tanda-tanda vital.
Kaji tingkat rasa nyeri.
Atur posisi yang nyaman bagi klien.
Beri kompres hangat pada daerah abdomen.

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi analgetik sesuai indikasi.

d. Diagnosa 4
Ansietas berhubungan dengan sakit kritis.
Tujuan dan kriteria hasil :
Rasa cemas pasien teratasi. Pasien tampak rileks.
Rencana tindakan :

Kaji rasa cemas pasien.

Berikan motivasi pada pasien untuk semangat sembuh.

Berikan penjelasan mengenai sakit yang diderita pasien.

Ciptakan suasana yang menyenangkan bagi pasien


4.
a.
b.
c.

Implementasi Keperawatan
Gunakan deskripsi tindakan untuk menentukan apa yang telah dikerjakan.
Identifikasi alat yang digunakan.
Be ikan kenyamanan, keamanan, dan perhatikan lingkungan selama melalukan tindakan

keperawatan.
d. Catat waktu dan orang yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan tindakan.
e.
Catat semua respoinformasi tentang pasien.
5.

Evaluasi

a. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.


b.

Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh.

c. Rasa nyaman terpenuhi.


d. Rasa cemas pasien teratasi.
REFERENSI

Dongoes. 2000. Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC.


http://hidayat2.wordpress.com/download-askep/ diakses tanggal 23 November 2011 pukul 18.00.
http://yandrifauzan.blogspot.com/ diakses tanggal 23 November 2011 pukul 18.10.
http://ridwankupra.blogspot.com/2013/07/laporan-pendahuluan-melena.html

LP TEORI ASKEP MELENA


Post By. Andy Jmc at Tuesday, July 15, 2014

BAB 1
LANDASAN TEORI
MELENA
1.1 Pengertian
Melena adalah pengeluaran faeses atau tinja yang berwarna hitam seperti ter yang
disebabkan oleh adanya perdarahan saluran makan bagian atas. Warna hematemesis tergantung
pada lamanya hubungan atau kontak antara drah dengan asam lambung dan besar kecilnya
perdarahan, sehingga dapat berwarna seperti kopi atau kemerah-merahan dan bergumpal-gumpal.
Biasanya terjadi hematemesis bila ada perdarahan di daerah proksimal jejunun dan melena dapat
terjadi tersendiri atau bersama-sama dengan hematemesis. Paling sedikit terjadi perdarahan
sebanyak 50-100 ml, baru dijumpai keadaan melena. Banyaknya darah yang keluar selama
hematemesis atau melena sulit dipakai sebagai patokan untuk menduga besar kecilnya
perdarahan saluran makan bagian atas. Hematemesis dan melena merupakan suatu keadaan yang
gawat dan memerlukan perawatan segera di rumah sakit.
1.2 Etiologi
Penyebab perdarahan saluran makan bagian atas :
1)
Kelainan esofagus: varise, esofagitis, keganasan.
2)
Kelainan lambung dan duodenum: tukak lambung dan duodenum, keganasan dan lain-lain.
3)
Penyakit darah: leukemia, DIC (disseminated intravascular coagulation), purpura
trombositopenia dan lain-lain.
4)
Penyakit sistemik lainnya: uremik, dan lain-lain.
5)
Pemakaian obat-obatan yang ulserogenik: golongan salisilat, kortikosteroid, alkohol, dan lailain.
6)
Penting sekali menentukan penyebab dan tempat asal perdarahan saluran makan bagian atas,
karena terdapat perbedaan usaha penanggulangan setiap macam perdarahan saluran makan
bagian atas. Penyebab perdarahan saluran makan bagian atas yang terbanyak dijumpai di
Indonesia adalah pecahnya varises esofagus dengan rata-rata 45-50 % seluruh perdarahan saluran
makan bagian atas (Hilmy 1971: 58 %)
1.3 Diagnosis Melena
Dilakukan anmnesis yang teliti dan bila keadaan umum penderita lamah atau
kesadaran menurun maka dapat diambil aloanamnesis. Perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu,
misalnya hepatitis, penyakit hati menahun, alkoholisme, penyakit lambung, pemakaian obat-obat
ulserogenik dan penyakit darah seperti: leukemia dan lain-lain. Biasanya pada perdarahan
saluran makan bagian atas yang disebabkan pecahnya varises esofagus tidak dijumpai adanya
keluhan rasa nyeri atau pedih di daerah epigastrium dan gejala hematemesis timbul secara
mendadak. Dari hasil anamnesis sudah dapat diperkirakan jumlah perdarahan yang keluar
dengan memakai takara yang praktis seperti berapa gelas, berapa kaleng dan lain-lain.
Pemeriksaan fisik penderita perdarahan saluran makan bagian atas yang perlu
diperhatikan adalah keadaan umum, kesadaran, nadi, tekanan darah, tanda-tanda anemia dan
gejala-gejala hipovolemik agar dengan segera diketahui keadaan yang lebih serius seperti adanya
rejatan atau kegagalan fungsi hati. Disamping itu dicari tanda-tanda hipertensi portal dan sirosis

hepatis, seperti spider naevi, ginekomasti, eritema palmaris, caput medusae, adanya kolateral,
asites, hepatosplenomegali dan edema tungkai.
Pemeriksaan laboratorium seperti kadar hemoglobin, hematokrit, leukosit, sediaan darah
hapus, golongan darah dan uji fungsi hati segera dilakukan secara berkala untuk dapat mengikuti
perkembangan penderita.

1.4 Manifestasi klinik


Gejala-gejala yang ditimbulkan pada pasien melena adalah sebagai berikut:
1)

Gelisah

2)

Suhu badan mungkin meningkat

3)

Nafsu makan berkurang atau tidak ada

4)

Berak yang bercampur darah, lendir, lemak dan berbuih

5)

Rasa sakit di perut

6)

Rasa kembung

7)

Tonus dan turgor kulit berkurang

8)

Selaput lendir dan bibir kering

1.5 Pohon masalah (Web of Caution)


1.6 Pemeriksaan penunjang
1)
Pemeriksaan tinja
Makroskopis dan mikroskopis, ph dan kadar gula jika diduga ada intoleransi gula, biakan kuman
untuk mencari kuman penyebab dan uji resistensi terhadap berbagai antibiotika (pada diare
persisten).
2)
Pemeriksaan darah
Darah perifer lengkap, analisis gas darah dan elektrolit (terutama Na,K,Ca dan Potassium serum
pada diare yang disertai kejang).
3)
Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah untuk mengetahui faal ginjal.
4)
Duodenal intubation, untuk mengetahui kuman penyebab secara kuantitatif dan kualitatif
terutama pada diare kronik.
1)

2)

1.7 Pemeriksaan diagnostik


Pemeriksaan fisik
1. Penurunan berat badan
2. Anemia
3. Demam
Pemeriksaan khusus
1. Colon rektal
2. Rektosigmoideskopi
3. Kolonoskopi

3)

4)
5)

4. Barium enema
5. Foto dada
6. Barium meal
Pemeriksaan laboratorium
1. LED
2. Hipokalsemia
3. Avitaminosis D
4. Serum albumin tinggi
Radiologis
Kolonoskopi
1.8 Penatalaksanaan Melena
Pengobatan penderita perdarahan saluran makan bagian atas harus sedini mungkin dan
sebaiknya diraat di rumah sakit untuk mendapatkan pengawasan yang teliti dan pertolongan
yang lebih baik. Pengobatan penderita perdarahan saluran makan bagian atas meliputi :
1)
Pengawasan dan pengobatan umum
1.
Penderita harus diistirahatkan mutlak, obat-obat yang menimbulkan efek sedatif morfin,
meperidin dan paraldehid sebaiknya dihindarkan.
2.
Penderita dipuasakan selama perdarahan masih berlangsung dan bila perdarahan berhenti
dapat diberikan makanan cair.
3.
Infus cairan langsung dipasang dan diberilan larutan garam fisiologis selama belum tersedia
darah.
4.
Pengawasan terhadap tekanan darah, nadi, kesadaran penderita dan bila perlu dipasang CVP
monitor.
5.
Pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit perlu dilakukan untuk mengikuti keadaan
perdarahan.
6.
Transfusi darah diperlukan untuk menggati darah yang hilang dan mempertahankan kadar
hemoglobin 50-70 % harga normal.
7.
Pemberian obat-obatan hemostatik seperti vitamin K, 4 x 10 mg/hari, karbasokrom (Adona
AC), antasida dan golongan H2 reseptor antagonis (simetidin atau ranitidin) berguna untuk
menanggulangi perdarahan.
8.
Dilakukan klisma atau lavemen dengan air biasa disertai pemberian antibiotika yang tidak
diserap oleh usus, sebagai tindadakan sterilisasi usus. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah
terjadinya peningkatan produksi amoniak oleh bakteri usus, dan ini dapat menimbulkan
ensefalopati hepatik.
2)
Pemasangan pipa naso-gastrik
Tujuan pemasangan pipa naso gastrik adalah untuk aspirasi cairan lambung, lavage (kumbah
lambung) dengan air , dan pemberian obat-obatan. Pemberian air pada kumbah lambung akan
menyebabkan vasokontriksi lokal sehingga diharapkan terjadi penurunan aliran darah di mukosa
lambung, dengan demikian perdarahan akan berhenti. Kumbah lambung ini akan dilakukan
berulang kali memakai air sebanyak 100- 150 ml sampai cairan aspirasi berwarna jernih dan bila
perlu tindakan ini dapat diulang setiap 1-2 jam. Pemeriksaan endoskopi dapat segera dilakukan
setelah cairan aspirasi lambung sudah jernih.
3)
Pemberian pitresin (vasopresin)
Pitresin mempunyai efek vasokoktriksi, pada pemberian pitresin per infus akan mengakibatkan
kontriksi pembuluh darah dan splanknikus sehingga menurunkan tekanan vena porta, dengan

demikian diharapkan perdarahan varises dapat berhenti. Perlu diingat bahwa pitresin dapat
menrangsang otot polos sehingga dapat terjadi vasokontriksi koroner, karena itu harus berhatihati dengan pemakaian obat tersebut terutama pada penderita penyakit jantung iskemik. Karena
itu perlu pemeriksaan elektrokardiogram dan anamnesis terhadap kemungkinan adanya penyakit
jantung koroner/iskemik.
4)
Pemasangan balon SB Tube
Dilakukan pemasangan balon SB tube untuk penderita perdarahan akibat pecahnya varises.
Sebaiknya pemasangan SB tube dilakukan sesudah penderita tenang dan kooperatif, sehingga
penderita dapat diberitahu dan dijelaskan makna pemakaian alat tersebut, cara pemasangannya
dan kemungkinan kerja ikutan yang dapat timbul pada waktu dan selama pemasangan. Beberapa
peneliti mendapatkan hasil yang baik dengan pemakaian SB tube ini dalam menanggulangi
perdarahan saluran makan bagian atas akibat pecahnya varises esofagus. Komplikasi
pemasangan SB tube yang berat seperti laserasi dan ruptur esofagus, obstruksi jalan napas tidak
pernah dijumpai.
5)
Pemakaian bahan sklerotik
Bahan sklerotik sodium morrhuate 5 % sebanyak 5 ml atau sotrdecol 3 % sebanyak 3 ml dengan
bantuan fiberendoskop yang fleksibel disuntikan dipermukaan varises kemudian ditekan dengan
balon SB tube. Tindakan ini tidak memerlukan narkose umum dan dapat diulang beberapa kali.
Cara pengobatan ini sudah mulai populer dan merupakan salah satu pengobatan yang baru dalam
menanggulangi perdarahan saluran makan bagian atas yang disebabkan pecahnya varises
esofagus.
6)
Tindakan operasi
Bila usaha-usaha penanggulangan perdarahan diatas mengalami kegagalan dan perdarahan tetap
berlangsung, maka dapat dipikirkan tindakan operasi . Tindakan operasi yang basa dilakukan
adalah : ligasi varises esofagus, transeksi esofagus, pintasan porto-kaval. Operasi efektif
dianjurkan setelah 6 minggu perdarahan berhenti dan fungsi hari membaik.
1.9 Pengkajian
1)
Riwayat Kesehatan
1. Riwayat mengidap :
Penyakit Hepatitis kronis, cirrochis hepatis, hepatoma, ulkus peptikum
2. Kanker saluran pencernaan bagian atas
3. Riwayat penyakit darah, misalnya DIC
4. Riwayat penggunaan obat-obat ulserogenik
5. Kebiasaan/gaya hidup :
Alkoholisme, kebiasaan makan
2)
Pengkajian Umum
1. Intake : anorexia, mual, muntah, penurunan berat badan.
2. Eliminasi :
a) BAB :
konstipasi atau diare, adakah melena (warna darah hitam, konsistensi pekat, jumlahnya)
b) BAK :
warna gelap, konsistensi pekat
3. Neurosensori :
adanya penurunan kesadaran (bingung, halusinasi, koma).

4.

Respirasi :
sesak, dyspnoe, hipoxia
5. Aktifitas :
lemah, lelah, letargi, penurunan tonus otot
3)
Pengkajian Fisik
1. Kesadaran, tekanan darah, nadi, temperatur, respirasi
2. Inspeksi :
Mata : conjungtiva (ada tidaknya anemis)
Mulut : adanya isi lambung yang bercampur darah
Ekstremitas : ujung-ujung jari pucat
Kulit : dingin
3. Auskultasi :
Paru
Jantung : irama cepat atau lambat
Usus : peristaltik menurun
4. Perkusi :
Abdomen : terdengar sonor, kembung atau tidak
Reflek patela : menurun
5. Studi diagnostik
Pemeriksaan darah : Hb, Ht, RBC, Protrombin, Fibrinogen, BUN, serum, amonoiak, albumin.
Pemeriksaan urin : BJ, warna, kepekatan
Pemeriksaan penunjang : esophagoscopy, endoscopy, USG, CT Scan.

1.10
Diagnosa keperawatan
Dx 1 : Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan abnormal
1)

Tujuan
Pasien menunjukkan status hidrasi yang baik selama perawatan

2)

Kriteria Hasil

1.

Tanda vital yang stabil

2.

Hidrasi adekuat seperti yang ditunjukkan dengan turgor kulit yang normal dan membran
mukosa lembab.

3.

Masukan dan haluaran seimbang

3)

Intervensi

1.

Kaji status hidrasi.


R : Mengetahui status cairan yang dibutuhkan pasien.

2.

Pertahankan cairan parenteral dengan elektrolit dan vitamin


R : Memenuhi kebutuhan cairan selama cairan oral tidak memungkinkan

3.

Ukur masukan dan haluaran setiap 8 jam


R : Memantau keseimbangan masukan dan pengeluaran cairan

4.

Pantau elektrolit
R : Elektrolit seperti natrium dan kalium banyak hilang saat diare

5.

Timbang klien setiap hari karena pada waktu yang sama dengan pakaian dan alat penimbang
sama
R : Penimbangan berat badan tiap hari dapat mendeteksi kehilangan cairan

4)

Evaluasi:

1.

Pasien menunjukkan status hidrasi yang baik selama perawatan

2.

Tanda vital yang stabil

3.

Hidrasi adekuat seperti yang ditunjukkan dengan turgor kulit yang normal dan membran
mukosa lembab.

4.

Masukan dan haluaran seimbang

Dx 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan perubahan
absorpsi
1) Tujuan
Nutrisi terpenuhi selama perawatan sesuai dengan kebutuhan.
2)
Kriteria hasil
1. Pasien dapat mempertahankan berat badan sesuai umur
2. Hasil pemeriksaan laborat dalam batas normal
3)
Intervensi
1. Kaji status nutrisi dan kaji klien dengan mengidentifikasikan makanan yang mengiritasi
R : makanan yang mengandung sarbitol dapat menyebabkan atau memperberat diare,dan
mengkonsumsi gula akan menyebarkan gelembung udara untuk mengurangi distensi lambung.
2. Berikan diet tinggi kalori, protein, dan mineral; rendah zat sisa, lemak dan serat
R : Makanana tinggi serat dan tinggi lemak akan menyebabkan iritasi saluran usus.
3. Berikan dorongan klien untuk mengikuti waktu makan yang telah direncanakan
R : Jadwal makan tepat waktu akan membantu proses pengosongan usus

4.
5.
6.
4)
1.
2.
3.
1)
2)
1.
2.
3)
1.
2.
3.
4.
5.
4)
1.
2.
3.

Pertahankan catatan masukan dan hindari makanan yang telah di rencanakan


R : Muntah dan diare dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi.
Berikan dorongan pada klien untuk makan dengan perlahan, menyunyah dengan baik, dan
menggigit dalam jumlah sedikit
R : Makan terlalu cepat dapat meningkatkan resiko iritasi lambung
Sajikan makanan dengan menarik di ruangan yang berventilasi baik
R : Menambah nafsu makan
Evaluasi:
Nutrisi terpenuhi selama perawatan sesuai dengan kebutuhan.
Pasien dapat mempertahankan berat badan sesuai umur
Hasil pemeriksaan laborat dalam batas normal
Dx 3 : Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan iritasi
Tujuan
Nyeri dapat diturunkan sampai skala yang dapat ditolerir pasien antara skala nyeri 1-2
Kriteria hasil
Pasien menunjukkan perilaku yang lebih rileks
Pasien mengatakan nyeri sudah berkurang
Intervensi
Kaji karakter, intensitas, dan letak nyeri
R : Mengetahui derajat nyeri dan membantu dalam perencanaan intervensi
Kaji ketidakefektifan/efek samping sedatif, analgesik, dan supositoria rektal dan salep
R : Sedatif dan analgetik dapat menurunkan nyeri
Ubah posisi pasien secara teratur dan gosok punggung untuk mengurangi rasa tidak nyaman
R : Posisi yang sama dalam waktu lama dapat menambah nyeri pada area yang menonjol
Berikan aktivitas yang bersifat hiburan dan istirahat yang teratur pada klien
R : Membantu mengalihkan perhatian terhadap keluhan nyeri
Ambulasikan klien dengan bantuan sesuai toleransi Berikan dorongan dan dan ajarkan metode
alternatif penatalaksanaan nyeri
R : Pasien dapat menentukan sendiri teknik alternatif bila nyeri dirasakan berat
Evaluasi:
Nyeri dapat diturunkan sampai skala yang dapat ditolerir pasien antara skala nyeri 1-2
Pasien menunjukkan perilaku yang lebih rileks
Pasien mengatakan nyeri sudah berkurang

Dx 4 : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kebutuhan


perawatan di rumah.
1) Tujuan
Pasien dan keluarga dapat mengerti tentang pencegahan dan perawatan lanjutan di rumah.
2)

Kriteria hasil

1.

Pasien dan keluarga mengatakan mengerti tentang proses penyakit, dan aturan diet

2.

Pasien dapat menggunakan kemampuan koping positif secara sederhana

3.

Pasien dan keluarga dapat merubah gaya hidup dengan makan-makan bergizi tinggi serat

3)

Intervensi

1.

Berikan instruksi dalam penatalaksanaan diet, penekanan makanan untuk dihindari; buahbuahan dan sayuran mentah, alkohol, cokelat, dan makanan yang menghasilkan gas
R : Makanan yang tinggi serat, mengandung gas, dan alkohol dapat merangsang dan mengiritasi
saluran usus

2.

Diskusikan pentingnya mencoba satu jenis makanan baru setiap kali makan
R : Memodifikasi makanan dapat meningkatkan nafsu makan
Diskusikan pentingnya mengindari stres selama waktu makan dan mengunyah makanan dengan
baik dan perlahan
R : Kondisi stress saat makan akan menyebabkan produksi asam lambung meningkat sehingga
timbul perasaan mual dan nyeri perut

3.

Jelaskan hubungan penyebab stres pada proses penyakit dan gejala kekambuhan atau kemajuan
penyakit untuk dilaporkan pada dokter.

4.

Berikan informasi tentang obat-obatan; termasuk nama, dosis, tujuan waktu pemberian, efek
samping, dan interaksi, jelaskan pentingnya untuk menghindari pemakaian obat yang dijual
bebas kecuali bila telah dibicarakan sebelumnya dengan dokter

5.

Berikan dorongan untuk melakukan perjanjian kunjungan tindak lanjut.

4)

Evaluasi:

1.
2.
3.

Nyeri dapat diturunkan sampai skala yang dapat ditolerir pasien antara skala nyeri 1-2
Pasien menunjukkan perilaku yang lebih rileks
Pasien mengatakan nyeri sudah berkurang

1)
2)
1.
2.
3)
1.
2.
3.
4.
5.

Dx 5 : Hipertermi berhubungan dengan respon imun terhadap peradangan pada saluran cerna
Tujuan
Individu dapat mempertahankan suhu tubuh
Kriteria hasil
Suhu dalam batas normal antara 36-37 C.
Kulit hangat
Intervensi
Kaji tanda-tanda vital tiap 4 jam
Pantau asupan dan haluaran
Anjurkan pentingnya peningkatan asupan cairan selama cuaca hangat dan latihan
R : Penggunaan aktivitas berlebih saat cuaca hangat dan saat latihan dapat meningkatkan water
loss yang tidak disadari
Jelaskan perlunya penggunaan pakaian kendur dan penggunaan topi atau payung
Beri kompres hangat

6.

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi obat antipiretik

4)
1.
2.
3.

Evaluasi:
Individu dapat mempertahankan suhu tubuh
Suhu dalam batas normal antara 36-37 C.
Kulit hangat

1.11 Evaluasi
1)
Pasien menunjukkan status hidrasi yang baik selama perawatan.
2)
Tanda vital yang stabil.
3)
Hidrasi adekuat seperti yang ditunjukkan dengan turgor kulit yang normal dan membran
mukosa lembab.
4)
Masukan dan haluaran seimbang.
5)
Nutrisi terpenuhi selama perawatan sesuai dengan kebutuhan.
6)
Hasil pemeriksaan laborat dalam batas normal.
7)
Nyeri dapat diturunkan sampai skala yang dapat ditolerir pasien antara skala nyeri 1-2.
8)
Pasien menunjukkan perilaku yang lebih rileks.
9)
Pasien mengatakan nyeri sudah berkurang.
10) Individu dapat mempertahankan suhu tubuh.
11) Suhu dalam batas normal antara 36-37 C.
12) Kulit hangat.
DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer Arief.(2000). Kapita selekta kedokteran.Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;Jakarta
Inayah.(2004).Asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan system pencernaan.
SelembaMedika;Jakarta.
Carpenito Linda Juall. (1999).Rencana asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan. Penerbit Buku
Kedokteran EGC ; Jakarta
http://andy22061988.blogspot.com/2014/07/lp-teori-askep-melena.html

Anda mungkin juga menyukai