Anda di halaman 1dari 114

PENERAPAN KONSEP

FARMAKOLOGI
DALAM KEPERAWATAN
Untuk Mahasiswa Diploma
Keperawatan

Oleh:

Ns. Nur Falah Setyawati, S.Kep., MPH


0

BAB I
KONSEP DASAR FARMAKOLOGI,
FARMAKODINAMIK, FARMAKOKINETIK

A. Pengantar Farmakologi
Pengobatan dengan menggunakan bahan-bahan dari alam telah berabad-abad lalu dilakukan.
Bagian dari tumbuh-tumbuhan seperti akar-akaran, kulit kayu, dan biji-bijian maupun bagian dari
hewan seperti lemak, hati dan mata menjadi bahan dasar yang diracik untuk menjadi bahan obat.
Penemuan antibiotik pertama kali yaitu penicillin oleh Alexander Fleming (1881-1955) pada tahun
1928 dan dipublikasikan pada tahun 1929, kemudian penemuan ini dikembangkan oleh Howard
Walter Florey dan Ernst Boris Chain pada akhir tahun 1930-an. Setelah masa ini pengobatan
mengalami perkembangan yang pesat sampai dengan saat ini.
Ilmu yang mempelajari tentang obat-obatan adalah Farmakologi. Berasal dari kata
pharmacon yang artinya obat/racun dan logos yang berarti ilmu/pengetahuan. Secara umum
farmakologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari obat dan cara kerjanya pada sistem
biologi, selain itu juga dipelajari asal-usul obat, sifat fisika-kimia, cara pembuatan, efek
biokimiawi dan fisiologi yang ditimbulkan, nasib obat dalam tubuh, dan kegunaan obat dalam
terapi (Priyanto, 2010).
Untuk mempelajari farmakologi ada beberapa istilah dasar yang perlu diketahui.
Tabel 1. Beberapa Istilah yang Berkaitan dengan Dasar Farmakologi
NO
1.

Istilah
Farmakologi klinik

Arti/ Makna
Disiplin dalam bidang kedokteran yang berdasarkan prinsipprinsip ilmiah menyatukan keahlian farmakologi dan keahlian
klinik dengan tujuan akhir untuk meningkatkan manfaat dan
keamanan pemakaian klinik obat (Kelompok kerja Farmakologi
Klinik WHO-Eropa, 1988) dengan kata lain mempelajari dan
mengembangkan cara-cara evaluasi untuk memilih obat yang
memberikan efek pengobatan paling efektif dengan efek samping

2.

Farmakognosi

yang minimal pada pasien.


Mempelajari tentang bagian-bagian tanaman atau hewan yang
dapat digunakan sebagai obat alami yang telah melewati berbagai
macam uji seperti uji farmakodinamik, uji toksikologi dan uji

3.

Farmakologi

biofarmasetika.
Mempelajari penggunaan obat untuk mengobati penyakit atau

Terapeutik

gejalanya. Penggunaan ini berdasarkan atas pengetahuan tentang


khasiat obat dan sifat fisiologi atau mikrobiologinya.

4.

Toksikologi

Pengetahuan tentang efek racun dari obat terhadap tubuh, karena


pada

setiap obat dalam dosis yang tinggi atau

tidak sesuai

dengan dosis atau aturan yang dianjurkan oleh Dokter, dapat


5.

Farmakokinetik

bekerja sebagai racun dan merusak organisme.


Meneliti perjalanan obat, mulai dari saat pemberiannya, sampai
bagaimana absorpsi dari usus, transport dalam darah dan
distrbusinya ketempat kerjanya dan jaringan lain. Singkatnya
farmakokinetika mempelajari segala sesuatu tindakan yang

6.

Farmakodinamik

dilakukan tubuh terhadap obat.


Mempelajari kegiatan obat terhadap organisme hidup, terutama
cara dan mekanisme kerjanya. Singkatnya farmakodinamika

7.

Obat

mencakup semua efek yang dilakukan oleh obat terhadap tubuh.


Obat ialah suatu bahan atau paduan bahan-bahan yang
dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis,
mencegah,

mengurangkan,

menghilangkan,

menyembuhkan

penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah dan


rohaniah pada manusia atau hewan dan untuk memperelok atau
memperindah badan atau bagian badan manusia (Kep. MenKes
8.
9.

Indikasi
Efek samping

RI No.193/Kab/B.VII/71).
Alasan untuk membenarkan pengobatan atau terapi tertentu.
Setiap respon tubuh terhadap obat yang bersifat merugikan/
berbahaya dan tidak diinginkan yang terjadi pada dosis normal
yang biasa digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis,
diagnosis, atau terapi terhadap penyakit, atau untuk memodifikasi

10.

Kontraindikasi

fungsi fisiologis.
Situasi di mana aplikasi obat atau terapi tertentu tidak dianjurkan,

11.

Perhatian/

karena dapat meningkatkan risiko terhadap pasien.


Pemakaian suatu obat harus dilakukan secara hati-hati pada

Peringatan

kondisi tertentu karena dapat terjadi efek atau keadaan yang tidak
diinginkan oleh pasien. Misalnya, peringatan pemakaian pada
kondisi pasien gagal ginjal, hamil atau menyusui atau riwayat
alergi. Selain itu, termasuk peringatan pemakaian obat secara

12.

Interaksi obat

bersamaan atau simultan dengan obat lain.


Situasi di mana suatu zat memengaruhi aktivitas obat, yaitu
meningkatkan atau menurunkan efeknya, atau menghasilkan efek

13.

Toksisitas

baru yang tidak diinginkan atau direncanakan.


Efek yang terjadi akibat penggunaan dosis yang berlebih atau
penggunaan

pada

jangka

waktu

yang

lama

sehingga

menyebabkan akumulasi obat di dalam tubuh atau penumpukkan


14.

Dosis

zat dalam darah akibat dari gangguan metabolisme atau ekskresi.


Takaran obat yang menimbulkan efek farmakologi (khasiat) yang
tepat dan aman bila dikonsumsi oleh pasien.

15.

Onset

Waktu yang dibutuhkan obat sampai konsentrasi efektif tertinggi

16.

Durasi

dicapai.
Lama waktu obat terdapat dalam konsentrasi yang cukup besar

17.

Waktu paruh

untuk menghasilkan suatu respons.


Waktu yang dibutuhkan obat untuk mengurangi setengah dari

18.

Indeks terapi

konsentrasi jumlah awalnya dalam darah.


Perbandingan antara dosis yang menghasilkan efek pada 50%
hewan percobaan (ED 50) dengan dosis yang mematikan 50%
hewan percobaan (LD 50) Indeksterapi merupakan ukuran

19.
20.
21.
22.
23.

keamanan obat.
Sesuatu yang mencegah atau melindungi.
Usaha atau daya menyembuhkan suatu penyakit.
Hanya pada bagian tubuh tertentu saja yang dipengaruhi.
Mempengaruhi tubuh secara umum.
Zat aktif/berkhasiat yang terkandung dalam obat.

Profilaksis
Kuratif
Lokal
Sistemik
Komposisi

B. FASE FARMASETIK/ DISOLUSI


Fase farmasetik adalah fase pertama dari kerja obat. Dalam saluran gastrointestinal, obat-obat
perlu dilarutkan agar dapat diabsorbsi. Obat dalam bentuk padat (tablet atau pil) harus
didisintegrasi menjadi partikel-partikel kecil supaya dapat larut ke dalam cairan, kecuali obat
dalam bentuk cair karena sudah dalam bentuk larutan. Obat berubah menjadi larutan agar dapat
menembus membran biologis. Jika obat diberikan melalui rute subkutan, intramuskular, atau
intravena, maka tidak terjadi fase farmasetik.
Disintegrasi adalah pemecahan atau pil menjadi partikel-partikel yang lebih kecil, dan
disolusi adalah melarutnya partikel-partikel yang lebih kecil ke dalam cairan gastrointestinal untuk
diabsorbsi. Rate limiting adalah waktu yang dibutuhkan oleh sebuah obat untuk berdisintegrasi
dan sampai menjadi siap untuk diabsorpsi oleh tubuh (Kee & Hayes, 1996).
TABLET

DISINTEGRASI

DISOLUSI

Gambar 1. Fase farmasetik pada obat dalam bentuk padat


Secara umum, obat oral dalam bentuk padat akan lebih cepat mengalami disintegrasi dan
absorpsi dalam kondisi asam (pH 1 atau 2) dari pada basa. Kecuali obat-obat dengan entericcoated (selaput enteric), tidak dapat didisintegrasi oleh asam lambung, sehingga disintegrasinya
akan terjadi jika telah berada dalam kondisi basa yaitu di dalam usus halus. Tablet EC (entericcoated) dapat bertahan di dalam lambung untuk jangka waktu lama, oleh karena itu obat-obat
tersebut kurang efektif atau efek mulanya menjadi lambat. Makanan dalam saluran gastrointestinal
dapat mengganggu pengenceran dan absorpsi obat-obat tertentu. Tetapi untuk beberapa obat yang
dapat mengiritasi mukosa lambung, cairan atau makanan diperlukan untuk mengencerkan
konsentrasi obat.

Secara teori obat yang cepat larut akan lebih cepat diabsorpsi dan memiliki onset yang relatif
pendek (efek cepat terlihat). Sehingga bila dibuat urutan kecepatan absorpsi terhadap sediaan obat
adalah sebagai berikut:
larutan---> suspensi---> serbuk---> kapsul---> tablet---> tablet salut (EC).
C. FARMAKOKINETIK
Farmakokinetika merupakan fase farmakologi dimana obat yang masuk ke dalam tubuh akan
mengalami serangkaian peristiwa yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi (ADME)
untuk mencapai kerja obat tersebut. Dapat dikatakan bahwa farmakokinetika mempelajari tentang
pengaruh tubuh terhadap obat (nasib obat dalam tubuh).
Obat yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umumnya mengalami
absorpsi, distribusi, dan pengikatan untuk sampai di tempat kerja dan menimbulkan efek.
Kemudian dengan atau tanpa biotransformasi, obat diekskresi dari dalam tubuh. Seluruh proses ini
disebut dengan proses farmakokinetika dan berjalan serentak seperti yang terlihat pada Gambar 2,
di bawah ini.

Gambar 2. Berbagai proses farmakokinetika obat


1.

Absorpsi dan Bioavailabilitas


Absorpsi merupakan proses penyerapan partikel-partikel obat dari tempat pemberian ke

dalam cairan tubuh melalui absorpsi pasif1, absorpsi aktif2 atau pinositosis3. Absorpsi
menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses penyerapan. Kelengkapan dinyatakan dalam
persen dari jumlah obat yang diberikan. Secara klinik, bioavailabilitas lebih penting.
Bioavailabilitas dinyatakan sebagai jumlah obat dalam persen terhadap dosis, yang
mencapai sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif. Ini terjadi karena untuk obat-obat

tertentu, tidak semua yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi
sistemik. Setelah diabsorpsi, partikel obat melewati lumen usus masuk ke dalam hati melalui
vena porta. Di dalam hati, kebanyakan obat dimetabolisme menjadi bentuk yang tidak aktif
untuk diekskresikan sehingga mengurangi jumlah zat yang aktif. Proses metabolisme ini
disebut metabolisme atau eliminasi lintas pertama (first-pass effect atau first-pass hepatic)
atau eliminasi prasistemik.
Contoh obat yang mengalami efek first pass yaitu, warfarin dan morfin. Jadi istilah
bioavailabilitas menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi sekaligus metabolisme
obat sebelum mencapai sirkulasi sistemik. Eliminasi lintas pertama ini dapat dihindari atau
dikurangi dengan cara pemberian parenteral (misalnya: lidokain), sublingual (misalnya:
nitrogliserin), rektal, atau memberikannya bersama makanan.
Absorpsi obat dipengaruhi oleh aliran darah (sirkulasi), tempat absorpsi, kelarutan, rasa
nyeri, stress, kelaparan, makanan dan pH. Sirkulasi yang buruk akibat syok, obat-obat
vasokonstriksi pembuluh darah, atau penyakit dapat menghambat absorpsi. Latihan dapat
mengurangi aliran darah ke gastrointestinal karena darah lebih banyak dialihkan ke otot.
Kebanyakan obat oral diabsorpsi di usus halus melalui kerja permukaan vili mukosa yang
luas. Obat-obat yang diberikan melalui inhalasi juga diabsorpsi sangat cepat karena epitelium
paru-paru sangat luas.
Rasa nyeri, stres, serta makanan yang padat, pedas dan berlemak dapat memperlambat
pengosongan lambung sehingga obat lebih lama berada di dalam lambung. Kecepatan obat
menembus membran dipengaruhi oleh pH obat dalam larutan dan pH lingkungan obat
berada.
Tabel 2. Proses Absorpsi Obat Dalam Tubuh

1.

2.

3.

Absorpsi Pasif: terjadi melalui difusi (pergerakan dari konsentrasi tinggi


ke konsentrasi rendah), sehingga obat tidak memerlukan energi untuk
menembus membran.
Absorpsi Aktif: membutuhkan carier (pembawa) untuk bergerak melawan
perbedaan konsentrasi, contoh: obat berikatan dengan enzim atau protein
untuk menembus membran.
Pinositosis: membawa obat menembus membran dengan proses menelan.

Obat yang bersifat asam lemah akan mudah menembus membran sel pada suasana asam
(pH lambung), sedangkan obat-obat yang bersifat basa lemah akan mudah menembus
membran sel pada suasana basa (pH usus halus). Obat-obat yang larut dalam lemak dan tidak
bermuatan (non ion) lebih cepat diabsorpsi daripada obat-obat yang larut dalam air dan
bermuatan (ion).
2.

Distribusi

Setelah diabsorpsi, obat akan didistribusi ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah.
Distribusi adalah proses penyebaran obat dari pembuluh darah ke cairan tubuh, jaringan atau
tempat kerjanya. Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi adalah aliran darah (fungsi
kardiovaskuler), afinitas terhadap jaringan, ikatan obat dengan protein plasma, sifat
fisikokimia, dan adanya hambatan fisiologi tertentu, seperti abses atau kanker. Sedangkan
kecepatan distribusi dipengaruhi oleh permeabilitas membran kapiler terhadap molekul obat.
Distribusi obat dibedakan atas 2 fase berdasarkan penyebarannya di dalam tubuh.
Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya
sangat baik (suplai darah lebih banyak atau cepat) misalnya jantung, hati, ginjal, dan otak.
Selanjutnya, distribusi fase kedua jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan yang perfusinya
tidak sebaik organ di atas misalnya otot, visera, kulit, dan jaringan lemak. Distribusi ini baru
mencapai keseimbangan setelah waktu yang lebih lama. Jaringan yang mengalami penurunan
perfusi (misalnya: kontraksi) atau kerusakan perfusi (misalnya: abses) akan mengalami
hambatan dalam distribusi obat.
Obat yang dapat menembus membran adalah obat dalam bentuk bebas (tidak terikat
protein plasma). Karena ketika obat didistribusi di dalam plasma, kebanyakan berikatan
dengan protein (terutama albumin) dalam derajat (persentase) yang berbeda-beda. Sifat
fisikokimia obat akan menentukan jumlah dan kuatnya ikatan dengan protein. Derajat ikatan
obat dengan protein plasma ditentukan oleh afinitas obat terhadap protein, kadar obat, dan
kadar proteinnya sendiri. Pengikatan obat oleh protein akan berkurang pada malnutrisi berat
karena adanya defisiensi protein.
Jumlah atau besarnya obat yang terikat oleh protein plasma dinyatakan dalam persen
(%). Hanya obat bebas (tidak terikat) yang dapat bersifat aktif dan dapat menimbulkan respon
farmakologik. Obat bebas dapat mengalami metabolisme sehingga lebih mudah untuk
diekskresikan. Jika obat bebas berkurang dalam tubuh karena proses ekskresi maka obat yang
terikat protein akan dilepaskan untuk mencapai keseimbangan yang dinamis. Perbandingan
antara obat bebas dengan obat terikat akan menentukan lama kerja obat (durasi). Hal ini yang
digunakan sebagai penentuan besar dosis suatu obat oleh industri farmasi. Jika keseimbangan
antara obat bebas dengan terikat terganggu dapat terjadi toksisitas. Gangguan keseimbangan
dapat terjadi jika 2 obat atau lebih yang memiliki ikatan yang kuat dengan protein plasma
diberikan secara bersama-sama, sehingga obat bebas dalam plasma akan meningkat.
Difusi ke ruang interstisial jaringan terjadi karena celah antar sel endotel kapiler mampu
melewatkan semua molekul obat bebas, kecuali di otak. Sawar darah otak (blood-brain
barrier) dapat menghalangi distribusi obat ke jaringan otak. Plasenta juga dapat menghalangi
obat tertentu dari ibu ke janin, tetapi selektivitasnya tidak sebesar sawar darah otak. Obat
yang sangat lipofil mempunyai afinitas yang tinggi terhadap jaringan, sehingga cenderung
tersimpan di jaringan. Karena jaringan memiliki peredaraan darah yang relatif sedikit,
menyebabkan obat yang terikat dalam jaringan akan didistribusikan lebih lambat. Jika obat-

obat demikian diberikan secara berulang dengan jarak waktu yang dekat akan terjadi
akumulasi dan berpotensi menimbulkan efek toksik.
3.

Biotransformasi / Metabolisme
Biotransformasi atau metabolisme obat ialah proses perubahan struktur kimia obat yang

terjadi dalam tubuh dan dikatalis oleh enzim. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi
lebih polar, artinya lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak sehingga lebih
mudah diekskresi melalui ginjal. Selain itu, pada umumnya obat menjadi inaktif, sehingga
biotransformasi sangat berperan dalam mengakhiri kerja obat. Tetapi, ada obat yang
metabolitnya sama aktif, lebih aktif, atau tidak toksik. Ada obat yang merupakan calon obat
(prodrug) justru diaktifkan oleh enzim biotransformasi ini. Metabolit aktif akan mengalami
biotransformasi lebih lanjut dan/atau diekskresi sehingga kerjanya berakhir.
Sebagian besar biotransformasi berlangsung di bawah pengaruh enzim yang
mendetoksifikasi, mengurai (memecah), dan melepas zat kimia aktif secara biologis. Enzim
yang berperan dalam biotransformasi obat dapat dibedakan berdasarkan letaknya dalam sel,
yakni enzim mikrosom yang terdapat dalam retikulum endoplasma halus (pada isolasi in vitro
membentuk mikrosom), dan enzim non-mikrosom. Kedua macam enzim metabolisme ini
terutama terdapat dalam sel hati, tetapi juga terdapat di sel jaringan lain misalnya ginjal, paru,
epitel, saluran cerna, dan plasma.
Hati sangat penting karena strukturnya yang khusus mengoksidasi dan mengubah
banyak zat toksik. Hati mengurai banyak zat kimia berbahaya sebelum didistribusi ke
jaringan. Penurunan fungsi hati yang terjadi seiring penuaan atau disertai penyakit hati
memengaruhi kecepatan eliminasi obat dari tubuh. Perlambatan metabolisme yang dihasilkan
membuat obat terakumulasi di dalam tubuh, akibatnya klien lebih berisiko mengalami
toksisitas obat.
4.

Ekskresi
Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit

hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau metabolit polar diekskresi lebih
cepat daripada obat larut lemak, kecuali pada ekskresi melalui paru. Obat bebas, yang mudah
larut dalam air difiltrasi di ginjal. Obat-obatan yang masih berikatan dengan protein tidak
dapat difiltrasi oleh ginjal. Setelah ikatan antara obat dan protein lepas maka obat baru dapat
diekskresikan melalui urin.
Ginjal merupakan organ ekskresi yang terpenting. Ekskresi disini merupakan resultan
dari 3 proses, yakni filtrasi di glomerulus, sekresi aktif di tubuli proksimal, dan rearbsorpsi
pasif di tubuli proksimal dan distal. pH urin memengaruhi ekskresi obat. Urin yang asam
meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat basa lemah. Ekskresi obat melalui ginjal
menurun pada gangguan fungsi ginjal sehingga dosis perlu diturunkan atau interval

pemberian diperpanjang. Bersihan kreatinin dapat dijadikan patokan dalam menyesuaikan


dosis atau interval pemberian obat.
Ekskresi obat juga terjadi melalui keringat, liur, air mata, air susu, dan rambut, tetapi
dalam jumlah yang relatif kecil sekali sehingga tidak berarti dalam pengakhiran efek obat.
Liur dapat digunakan sebagai pengganti darah untuk menentukan kadar obat tertentu. Rambut
pun dapat digunakan untuk menemukan logam toksik, misalnya arsen, pada kedokteran
forensik.
D. FARMAKODINAMIK
Farmakodinamika mempelajari efek obat terhadap fisiologi dan biokimia berbagai organ
tubuh serta mekanisme kerjanya. Tujuan mempelajari mekanisme kerja obat ialah untuk meneliti
efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta
spektrum efek dan respon yang terjadi. Pengetahuan yang baik mengenai hal ini merupakan dasar
terapi rasional dan berguna dalam sintesis obat baru.
1.

Mekanisme Kerja Obat


Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu

organisme. Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi dan
fisiologi yang merupakan respons khas untuk obat tersebut. Reseptor obat merupakan
komponen makromolekul fungsional yang mencakup 2 konsep penting. Pertama, bahwa obat
dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh. Kedua, bahwa obat tidak menimbulkan suatu
fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada. Walaupun tidak berlaku bagi
terapi gen, secara umum konsep ini masih berlaku sampai sekarang. Setiap komponen
makromolekul fungsional dapat berperan sebagai reseptor obat, tetapi sekelompok reseptor
obat tertentu juga berperan sebagai reseptor yang ligand endogen (hormon, neurotransmitor).
Substansi yang efeknya menyerupai senyawa endogen disebut agonis. Sebaliknya, senyawa
yang tidak mempunyai aktivitas intrinsik tetapi menghambat secara kompetitif efek suatu
agonis di tempat ikatan agonis (agonist binding site) disebut antagonis.
2.

Reseptor Obat
Struktur kimia suatu obat berhubungan dengan afinitasnya terhadap reseptor dan

aktivitas intrinsiknya, sehingga perubahan kecil dalam molekul obat, misalnya perubahan
stereoisomer, dapat menimbulkan perubahan besar dalam sidat farmakologinya. Pengetahuan
mengenai hubungan struktur aktivitas bermanfaat dalam strategi pengembangan obat baru,
sintesis obat yang rasio terapinya lebih baik, atau sintesis obat yang selektif terhadap jaringan
tertentu. Dalam keadaan tertentu, molekul reseptor berinteraksi secara erat dengan protein
seluler lain membentuk sistem reseptor-efektor sebelum menimbulkan respons.
Reseptor obat yang paling baik adalah protein regulator, yang menjembatani kerja dan
sinyal-sinyal bahan kimia endogen, seperti: neurotransmitter, autacoids, dan hormon.

Kelompok reseptor ini menjembatani efek dari sebagian besar agen terapeutik yang paling
bermanfaat. Kelompok protein lainnya yang telah dikenal jelas sebagai reseptor obat juga
termasuk enzim, yang mungkin dihambat (atau, yang kurang umum, diaktifkan) dengan
mengikat obat (misalnya dihydrofolate reductase, reseptor untuk obat antikanker
methotrexate), protein pembawa/ transport protein (misalnya, Na+/ K+ ATPase, reseptor
membran untuk digitalis, glikosid yang aktif pada jantung) dan protein struktural (misalnya:
tubulin, reseptor untuk colchicine, agen antiinflamasi).
Konsep reseptor mempunyai konsekuensi yang penting untuk perkembangan obat dan
pengambilan keputusan terapeutik dalam praktek klinik. Pada dasarnya reseptor menentukan
hubungan kuantitatif antara dosis atau konsentrasi obat dan efek farmakologi. Afinitas
reseptor untuk mengikat obat menentukan konsentrasi obat yang diperlukan untuk
membentuk kompleks obat-reseptor (drug-receptor complexes) dalam jumlah yang berarti,
dan jumlah reseptor secara keseluruhan dapat membatasi efek maksimal yang ditimbulkan
oleh obat.
Reseptor bertanggung jawab pada selektivitas tindakan obat. Ukuran, bentuk dan
muatan ion elektrik molekul obat menentukan bagaimana kecocokan atau kesesuaian molekul
tersebut akan terikat pada reseptor tertentu diantara bermacam-macam tempat ikatan secara
berbeda. Oleh karena itu, perubahan struktur kimia obat secara mencolok dapat menaikan
atau menurunkan afinitas obat-obat baru terhadap golongan-golongan reseptor yang berbeda,
yang mengakibatkan perubahan-perubahan dalam efek terapi dan toksiknya. Suatu obat
dikatakan spesifik bila kerjanya terbatas pada satu jenis reseptor, dan dikatakan selektif bila
menghasilkan satu efek pada dosis rendah dan efek lain baru timbul pada dosis yang lebih
besar. Obat yang spesifik belum tentu selektif tetapi obat yang tidak spesifik dangan
sendirinya tidak selektif.
Reseptor- reseptor menjembatani kerja antagonis farmakologi. Efek antagonis di dalam
tubuh pasien bergantung pada pencegahan pengikatan molekul agonis dan penghambatan
kerja biologisnya. Beberapa obat bermanfaat sebagai antagonis farmakologis dalam
pengibatan klinik.
3.

Transmisi Sinyal Biologis


Penghantaran sinyal biologis ialah proses yang menyebabkan suatu substansi

ekstraseluler (extracellular chemical messenger) menimbulkan suatu respons seluler


fisiologis yang spesifik. Sistem hantaran ini dimulai dengan pendudukan reseptor yang
terdapat di membran sel atau di dalam sitoplasma oleh transmitor. Kebanyakan messenger ini
bersifat polar. Contoh, transmitor untuk reseptor yang terdapat di membran sel ialah
katekolamin, TRH, LH. Sedangkan untuk reseptor yang terdapat dalam sitoplasma ialah
steroid (adrenal dan gonadal), tiroksin, vitamin D.
4.

Interaksi Obat

Interaksi obat adalah kerja atau efek obat yang berubah, atau mengalami modifikasi
sebagai akibat interaksi obat dengan reseptor, proses kerja obat, atau obat yang lain. Interaksi
ini dapat berbentuk saling menguatkan efek terapi dari obat atau saling bertentangan dengan
efek terapi. Kadang-kadang makanan dapat juga mempengaruhi reaksi obat.
Dalam beberapa kasus, juga terjadi reaksi penggumpalan zat-zat yang tedapat di dalam
obat, hal ini disebut reaksi inkompabilitas obat. Hampir seluruh obat-obatan akan berefek
buruk bila berinteraksi dengan obat lainnya, namun tidak selamanya dapat dihindarkan untuk
memberikan obat yang tidak saling berefek merugikan
a.

Interaksi obat-reseptor
Ikatan antara obat dan reseptor misalnya ikatan substrat dengan enzim, biasanya

merupakan ikatan lemah (ikatan ion, hidrogen, hidrofobik, Van der Waals), dan jarang
berupa ikatan kovalen.
b. Interaksi farmakokinetik
1) Absorbsi: waktu pengosongan lambung, kadar pH
a)

Jika 2 obat atau lebih dipakai secara bersamaan, maka laju absorbsi dari
salah satu atau kedua obat itu dapat berubah.

b) Obat yang satu dapat menghambat, menurunkan atau meningkatkan laju


absorbsi obat yang lain.
c)

Dengan 3 cara:
(1)

memperpendek atau memperpanjang waktu pengosongan

lambung,
(2)

mengubah pH lambung,

(3)

membentuk kompleks obat.

d) Obat-obatan

yang

dapat

meningkatkan

kecepatan

pengosongan

lambung: laksatif, meningkatkan motilitas lambung dan usus halus


sehingga menurunkan absorpsi di usus halus;
e)

Obat-obatan untuk memperpendek waktu pengosongan lambung dan


menurunkan

motilitas

gastrointestinal,

sehingga

menyebabkan

peningkatkan laju absorbsi antara lain obat-obatan narkotik dan


antikolinergik (atropin).
f)

Jika ph lambung menurun, obat asam lemah seperti aspirin akan lebih
cepat diabsorbsi.

g) Susu dan antasid akan meningkatkan pH getah lambung dan


mengurangi absorbsi obat antibiotik antara lain: tetrasiklin, paling tidak
dihindari selama 1 jam sebelum atau 2 jam setelah minum tetrasiklin.
2) Distribusi: ikatan dengan protein.
Dua obat yang berikatan dengan protein dan albumin bersaing untuk
mendapatkan tempat pada protein atau albumin dalam plasma, akibatnya terjadi
penurunan dalam distribusi.

3) Biotransformasi: enzim stimulan dan enzim penghambat.


4) Ekskresi: meningkatkan atau menurunkan ekskresi urin, mengubah pH urin.
c.

Interaksi farmakodinamik
1) Indifference : efek kombinasi sama dengan komponen yang paling aktif.
2) Additive : efek kombinasi sama dengan jumlah efek setiap obat.
3) Synergistic : efek kombinasi lebih besar efek masing-masing.
4) Potentiation : satu obat meningkatkan kerja obat lain.
5) Antagonistic : satu obat menurunkan kerja obat lain.

5.

Antagonisme Farmakodinamika
Secara farmakodinamika dapat dibedakan 2 jenis antagonisme, yaitu antagonisme

fisiologik dan antagonisme pada reseptor. Selain itu, antagonisme pada reseptor dapat bersifat
kompetitif atau nonkompetitif. Antagonisme merupakan peristiwa pengurangan atau
penghapusan efek suatu obat oleh obat lain. Peristiwa ini termasuk interaksi obat. Obat yang
menyebabkan pengurangan efek disebut antagonis, sedang obat yang efeknya dikurangi atau
ditiadakan disebut agonis. Secara umum obat yang efeknya dipengaruhi oleh obat lain
disebut obat objek, sedangkan obat yang mempengaruhi efek obat lain disebut obat
presipitan.
Interaksi pada tingkat reseptor (antagonis pada reseptor), contoh:
Reseptor
Histamin H2

Agonis
Histamin

Antagonis
Simetidin,
Ranitidin,
Nizatidin.

Interaksi fisiologis (antagonis fisiologis) yaitu bekerja pada organ yang organ sama,
dengan reseptor berbeda, contoh:
OBAT A
Antidiabetik

OBAT B
Beta bloker

Efek
Efek obat A meningkat

Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit, terutama berpengaruh pada obat jantung
jantung, transmisi neuromuskular dan ginjal, contoh:
OBAT A
Digitalis

6.

OBAT B
Diuretik, Amfoteresin B

Efek
Hipokalemi oleh obat B,
toksisitas obat A meningkat

Kerja Obat yang tidak Diperantarai Reseptor


Dalam menimbulkan efek, obat tertentu tidak berikatan dengan reseptor. Obat-obat ini

mungkin mengubah sifat cairan tubuh, berinteraksi dengan ion atau molekul kecil, atau
masuk ke komponen sel.
a.

Efek nonspesifik dan gangguan pada membran


1) Perubahan sifat osmotik

2) Osmotik-diuretik (urea, manitol), misalnya, meningkatkan osmolaritas filtrat


glomerulus sehingga mengurangi reabsorpsi air di tubuli ginjal dengan akibat
terjadi efek diuretik.
3) Perubahan sifat asam-basa
4) Kerja ini diperlihatkan oleh oleh antasid dalam menetralkan asam lambung.
5) Kerusakan nonspesifik
6) Zat perusak nonspesifik digunakan sebagai antiseptik dan desinfektan serta
kontrasepsi. Contohnya: detergen merusak intregitas membran lipoprotein.
7) Gangguan fungsi membran
8) Anestetik umum yang mudah menguap misalnya eter, halotan, enfluran, dan
metoksifluran bekerja dengan melarut dalam lemak membran sel di SSP
sehingga eksitabilitasnya menurun.
b. Interaksi dengan molekul kecil atau ion
Kerja ini diperlihatkan oleh kelator (chelating agents) misalnya CaNa2 EDTA
yang mengikat Pb2+ bebas menjadi kelat yang inaktif pada keracunan Pb.
c.

Masuk ke dalam komponen sel


Obat yang merupakan analog purin atau pirimidin dapat berinkoporasi ke
dalam asam nukleat sehingga mengganggu fungsinya. Obat yang bekerja seperti
ini disebut antimetabolit misalnya 6-merkaptopurin atau anti mikroba lain.

7.

Awitan, Onset, Durasi Kerja Obat


a.

Awitan (Mula) kerja obat: Waktu yang dibutuhkan obat sampai suatu respons
muncul setelah obat diberikan.

b. Onset (Puncak) kerja obat: Waktu yang dibutuhkan obat sampai konsentrasi efektif
tertinggi dicapai.
c.

Durasi kerja obat: Lama waktu obat terdapat dalam konsentrasi yang cukup besar
untuk menghasilkan suatu respon.

d. Plateau: Konsentrasi serum darah dicapai dan dipertahankan setelah dosis obat
yang sama kembali diberikan.
e.

Waktu Paruh: Interval waktu yang dibutuhkan utk proses eliminasi tubuh utk
mengurangi konsentrasi obat di dalam tubuh separuhnya.

8.

Efek Obat
Reaksi kerja obat adalah hasil dari reaksi kimia antara zat-zat obat dengan sel-sel tubuh

untuk menghasilkan respon biologis tubuh. Kebanyakan obat bereaksi dengan komponen sel
untuk menstimulasi perubahan biokimia dan fisiologikal sehingga obat menjadi efektif bagi
tubuh. Reaksi ini dapat terjadi secara lokal maupun sistemik di dalam tubuh.

Efek obat yaitu perubahan fungsi struktur (organ)/proses/tingkah laku organisme hidup
akibat kerja obat. Contohnya adalah efek lokal terlihat terjadi pada pemberian obat topikal
pada kulit. Sedangkan pada pemberian obat analgesik, efeknya akan meliputi beberapa
sistem, termasuk diantaranya yaitu sistem saraf (efek sedatif), paru-paru (depresi pernafasan),
gastrointenstinal (konstipasi) walaupun efek yang diharapkan adalah pereda nyeri. Efek
medikasi dapat dimonitor melalui perubahan klinis yang terjadi pada kondisi klien. Secara
umum, peningkatan kualitas pada gejala dan hasil laboratorium menunjukkan efektivitas
medikasi.
a.

Efek Terapeutik
Adalah efek yang diinginkan atau efek tujuan dari medikasi yang diberikan. Efek

tersebut bervariasi berdasarkan bahan dasar obat, lama penggunaan obat, dan kondisi
fisik klien. Beberapa diantaranya juga dipengaruhi interaksi antar obat yang
dikonsumsi. Puncak reaksi obat sangat bervariasi tergantung dari obat yang diberikan
dan cara pemberian yang dilakukan.
b. Efek Merugikan
Adalah efek lain dari obat selain efek terapi yang diinginkan. Efek merugikan ini
dapat merupakan efek lanjutan dari efek terapi, misalnya hipotensi dapat terjadi ketika
pemberian antihipertensi. Beberapa efek yang merugikan ini dapat ditangani
segeraseperti konstipasi, namun ada pula yang memerlukan perhatian lebih, misalnya
depresi pernafasan. Efek ini sering terjadi pada klien yang sangat parah kondisi dan
menerima banyak medikasi.
c.

Efek Samping
Efek merugikan obat dengan skala kecil disebut juga efek samping obat. Banyak

efek samping yang tidak berbahaya dan dapat diabaikan, namun ada pula yang dapat
membahayakan terutama ketika ada obat baru yang diberikan atau ditambahkan
dosisnya. Perawat harus waspada terhadap efek merugikan dari obat ini.
d. Reaksi Hipersensitivitas
Reaksi hipersensitivitas terjadi bila klien sensitif terhadap efek dari pengobatan
yang dilakukan. Hal ini dapat terjadi bila dosis yang diberikan lebih dari kebutuhan
klien sehingga menimbulkan efek lain yang tidak diinginkan. Contohnya adalah ketika
seorang pria dewasa dengan berat badan normal biasanya dapat diberikan meperidin
(sedatif) dengan dosis 75 100 mg, namun pada klien lansia dengan berat badan rendah
akan mengalami durasi reaksi yang lebih lama dan dapat mengalami penurunan
kesadaran dengan dosis meperidin yang sama. Biasanya, dengan menurunkan dosis dan
meningkatkan interval waktu pemberian, maka obat tersebut dapat dikonsumsi dengan
aman.
e.

Reaksi Idiosinkratik
Obat dapat menyebabkan timbulnya efek yang tidak diperkirakan, misalnya reaksi

idiosinkratik, yang meliputi klien bereaksi berlebihan, tidak bereaksi atau bereaksi tidak

normal terhadap obat. Contohnya, seorang anak yang menerima antihistamin menjadi
sangat gelisah atau sangat gembira, bukan mengantuk.
f.

Toleransi
Adalah reaksi yang terjadi ketika klien mengalami penurunan respon/tidak

berespon terhadap obat yang diberikan, dan membutuhkan penambahan dosis obat
untuk mencapai efek terapi yang diinginkan. Beberapa zat yang dapat menimbulkan
toleransi terhadap obat adalah nikotin, etil alkohol, opiat dan barbiturat.
g.

Reaksi Alergi
Adalah akibat dari respon imunologik terhadap medikasi. Tubuh menerima obat

sebagai benda asing, sehingga tubuh akan membentuk antibodi untuk melawan dan
mengeluarkan benda asing tersebut. Akibatnya akan menimbulkan gejala/reaksi alergi
yang dapat berkisar dari ringan sampai berat. Reaksi alergi yang ringan diantaranya
adalah gatal-gatal (urtikaria), pruritus atau rhinitis, dapat terjadi dalam hitungan menit
sampai dengan 2 minggu pada klien setelah mengkonsumsi obat. Reaksi pada kulit
(gatal-gatal, kemerahan, dan lesi) biasanya meningkat setelah klien menghentikan
medikasi terutama obat yang memiliki kegunaan yang sama dengan antihistamin.
Reaksi alergi yang parah dapat mengakibatkan gejala seperti sesak nafas
(wheezing, dispneu), angioedema pada lidah dan orofaring, hipotensi, dan takikardia
segera setelah pemberian obat. Reaksi ini disebut reaksi anafilaktik dan membutuhkan
tindakan medis segera karena dapat berakibat fatal. Tindakan yang dapat dilakukan
adalah menghentikan segera pemberian obat tersebut, segera berikan epinefrin, cairan
infus (normal saline), steroid dan antihistamin.
h. Toksisitas
Atau keracunan obat adalah reaksi yang terjadi karena dosis berlebih atau
penumpukkan zat dalam darah akibat dari gangguan metabolisme atau ekskresi.
Perhatian harus diberikan pada dosis dan tingkat toksik obat, dengan menevaluasi
fungsi ginjal dan hepar. Beberapa obat dapat langsung berefek toksik setelah diberikan,
namun obat lainnya tidak menimbulkan efek toksik apapun selama berhari-hari
lamanya.
Keracunan obat dapat mengakibatkan kerusakan pada fungsi organ. Hal yang
umum terjadi adalah nefrotoksisitas (ginjal), neurotoksisitas (otak), hepatotosisitas
(hepar), imunotoksisitas (sistem imun), dan kardiotoksisitas (jantung). Pengetahuan
tentang efek toksisitas obat akan membantu perawat untuk mendeteksi dini dan
mencegah kerusakan organ secara permanen pada klien.

BAB II
PENGGOLONGAN OBAT

A. PERIHAL OBAT
Tidak ada obat yang sempurna, tetapi jika ada obat baru yang sedang dikembangkan, kita
menginginkan obat tersebut akan menjadi yang terbaik. Untuk mendekati kesempurnaan, obat
harus memiliki sifat tertentu yang menjadikan sebuah obat ideal.
1.

Obat Ideal
a.

Efektif. Obat yang efektif adalah obat yang menimbulkan respon sesuai dengan
tujuannya diberikan. Efektivitas itu merupakan sifat yang penting dimiliki oleh
obat.

b. Aman.

Sebuah obat yang aman didefinisikan sebagai obat yang tidak dapat

menghasilkan efek berbahaya bahkan jika diberikan dalam dosis yang sangat
tinggi dan untuk waktu yang sangat lama. Semua obat memiliki kemampuan untuk
menyebabkan cedera, terutama dengan dosis tinggi dan penggunaan jangka
panjang. Kemungkinan menghasilkan efek samping dapat dikurangi dengan
pemilihan obat dan dosis yang tepat. Namun, risiko efek samping tidak pernah bisa
dihilangkan. Contoh: obat anti kanker (mis., cyclophosphamide, methotrexate),
pada dosis terapi biasa, selalu meningkatkan resiko infeksi yang serius; analgesik
opioid (mis., morfin, meperidin) pada dosis terapi yang tinggi, dapat menyebabkan
depresi pernapasan yang berpotensi fatal; Aspirin dan obat terkait, jika dikonsumsi
berkesinambungan dengan dosis terapi yang tinggi, dapat menyebabkan ulserasi
lambung yang mengancam jiwa, perforasi dan perdarahan.
c.

Selektif. Selektif didefinisikan sebagai obat yang hanya memunculkan respon


sesuai dengan tujuannya diberikan. Sebuah obat selektif tidak akan menghasilkan
efek samping. Tetapi tidak ada obat yang selektif: semua obat menimbulkan efek
samping.

2.

Sifat Tambahan Suatu Obat Ideal


a.

Reversibel. Untuk sebagian besar obat, penting bahwa efeknya bersifat reversibel.
Artinya, secara umum, kita menginginkan tindakan obat mereda dalam jangka
waktu yang tepat. Tetapi untuk beberapa obat, sifat reversibel tidak diinginkan.
Contoh: efek kontrasepsi oral tidak menyebabkan seorang wanita menjadi steril
selamanya; tetapi efek toksik antibiotik terhadap mikroorganisme diharapkan
bertahan selamanya (mikroorganisme tidak resisten).

b. Dapat diprediksi. Akan sangat membantu jika sebelum pemberian obat, kita bisa
tahu dengan pasti bagaimana tubuh pasien yang diberikanobat akan merespon.
Sayangnya, karena setiap pasien unik, akurasi prediksi tidak dapat dijamin. Oleh
karena itu, dalam rangka untuk memaksimalkan peluang menimbulkan respon
yang diinginkan, kita harus menyesuaikan terapi untuk individu.
c.

Mudah dalam pemberian. Sebuah obat yang ideal harus sederhana untuk
dikelola. Rute tersebut harus nyaman dan jumlah dosis per hari harus rendah.

Selain kenyamanan, kemudahan administrasi memiliki dua manfaat lainnya: (1)


dapat meningkatkan kepatuhan pasien dan (2) dapat mengurangi kesalahan
pemberian.
d. Bebas dari interaksi obat. Bila pasien memakai dua atau lebih obat, obat tersebut
dapat berinteraksi. Mereka yang berinteraksi dapat menambah atau mengurangi
respon obat. Sebuah obat yang ideal tidak akan berinteraksi dengan agen lainnya.
Sayangnya, beberapa obat-obatan tidak memiliki interaksi yang signifikan.
Contoh: Efek antibakteri tetrasiklin dapat sangat berkurang karena mengonsumsi
obat bersama suplemen zat besi atau kalsium.
e.

Biaya murah. Sebuah obat yang ideal akan mudah untuk dibeli. Biaya obat dapat
menjadi beban keuangan yang substansial. Secara umum, pengeluaran berlebihan
atau biaya yang mahal menjadi faktor yang signifikan ketika obat harus
dikonsumsi secara berkesinambungan. Contoh: obat-obatan hipertensi, artritis,
atau diabetes harus diminum setiap hari seumur hidup.

f.

Stabil

secara

kimia.

Beberapa

obat

kehilangan

efektivitasnya

selama

penyimpanan. Kehilangan dalam kemanjuran ini hasil dari ketidakstabilan kimia,


stok obat-obatan tertentu harus dibuang secara berkala. Sebuah obat yang ideal
akan mempertahankan aktivitasnya tanpa batas.
g.

Memiliki nama generik yang simpel. Nama generik obat biasanya kompleks dan
karenanya sulit untuk diingat dan diucapkan. Sebagai aturan, nama dagang untuk
suatu obat jauh lebih sederhana daripada nama generiknya. Sebuah obat yang ideal
harus memiliki nama generik yang mudah untuk diingat dan diucapkan. Contoh:
acetaminophen (Tylenol), ciprofloxacin (Cipro), Simvastatin (Zocor).

Obat yang ada saat ini masih jauh dari ideal. Tidak ada obat yang memenuhi semua kriteria obat
ideal: tidak ada obat yang aman; semua obat menimbulkan efek samping; respons terhadap obat
sulit diprediksi dan mungkin berubah sesuai dengan hasil interaksi obat; dan banyak obat yang
mahal, tidak stabil, dan sulit diberikan.

3.

Tujuan Pengobatan
Memberikan manfaat maksimal dengan bahaya minimal. Namun, karena obat tidak ada

yang ideal, sebagai perawat kita harus melatih keterampilan dan kepedulian agar pengobatan
dapat memberikan akibat yang lebih baik daripada berbahaya.
B. PENGGOLONGAN OBAT
1.

Pengertian Obat
Obat adalah zat yang digunakan untuk diagnosis, mengurangi rasa sakit, serta

mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau hewan (Ansel, 1985).

Obat adalah bahan atau panduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka
penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan
kontrasepsi (Undang-Undang Kesehatan No. 23 tahun 1992).
Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/ 1993, obat (jadi) adalah sediaan atau paduanpaduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,
peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.
Obat dalam arti luas ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup,
maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya. Namun untuk seorang
dokter, ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar dapat menggunakan obat untuk maksud
pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit. Selain itu, agar mengerti bahwa
penggunaan obat dapat mengakibatkan berbagai gejala penyakit (Bagian Farmakologi,
Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, 1995).
Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka
penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan
kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005).
Jika disimpulkan obat merupakan benda yang dapat digunakan untuk merawat penyakit,
membebaskan gejala, atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh. Obat merupakan
senyawa kimia selain makanan yang bisa mempengaruhi organisme hidup, yang
pemanfaatannya bisa untuk mendiagnosis, menyembuhkan, mencegah suatu penyakit.
2.

Bahan Obat / Bahan Baku


Semua bahan, baik yang berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat, yang berubah

maupun yang tidak berubah, yang digunakan dalam pengolahan obat walaupun tidak semua
bahan tersebut masih terdapat di dalam produk ruahan. Produk ruahan merupakan tiap bahan
yang telah selesai diolah dan tinggal memerlukan pengemasan untuk menjadi obat jadi.
3.

Penggolongan Obat
Penggolongan obat secara luas dibedakan berdasarkan beberapa hal, diantaranya :
a.

Penggolongan obat berdasarkan jenisnya.

b. Penggolongan obat berdasarkan mekanisme kerja obat.


c.

Penggolongan obat berdasarkan tempat atau lokasi pemakaian.

d. Penggolongan obat berdasarkan cara pemakaian.


e.

Penggolongan obat berdasarkan efek yang ditimbulkan.

f.

Penggolongan obat berdasarkan daya kerja atau terapi.

g.

Penggolongan obat berdasarkan asal obat dan cara pembuatannya.

Sesuai Permenkes No. 917/MENKES/PER/X/1993 tentang Wajib Daftar Obat Jadi,


yang dimaksud dengan golongan obat adalah penggolongan yang dimaksudkan untuk

peningkatan keamanan dan ketetapan penggunaan serta pengamanan distribusi yang terdiri
dari obat bebas, obat bebas terbatas, obat wajib apotek (obat keras yang dapat diperoleh tanpa
resep dokter di apotek, diserahkan oleh apoteker), obat keras, psikotropika dan narkotika.
Untuk obat yang dapat diperoleh tanpa resep dokter maka pada kemasan dan etiketnya tertera
tanda khusus.

a.

Penggolongan Jenis Obat berdasarkan peraturan menteri kesehatan dibagi


menjadi:
1) Obat Bebas

Gambar 3. Logo Obat

Obat bebas sering juga disebut OTC (Over The Counter) adalah obat yang
dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus pada
kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna
hitam. Contoh : Parasetamol, vitamin/multivitamin mis., Livron B pleks,
Sangobion.
Obat bebas ini dapat diperoleh di toko/warung, toko obat, dan apotik.
2) Obat Bebas Terbatas (Daftar W: Warschuwing)

Gambar 4. Logo Obat Bebas

Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi
masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda
peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah
lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam, disertai tanda peringatan dalam
kemasannya.
Tanda peringatan diberi kotak dengan latar belakang berwarna hitam dengan
tulisan dengan warna putih. Berisi petunjuk yang wajib dibaca sebelum obat
digunakan.
Contoh obat : Anti histamin (CTM/ Chlorpheniramine Maleate), Anti mabuk
(Antimo), Antiinfluenza (Noza). Obat bebas terbatas dan obat bebas disebut juga
OTC (Over The Counter).
Obat bebas terbatas ini dapat diperoleh di toko obat, dan apotik tanpa resep
dokter.

Gambar 5. Tanda Peringatan pada Etiket


Obat Terbatas
3) Obat Keras (Daftar G : Gevarlijk : berbahaya)

Gambar 6. Logo Obat

Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep
dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket adalah huruf K dalam lingkaran
merah dengan garis tepi berwarna hitam. Contoh : Anti nyeri (Asam Mefenamat),
semua obat antibiotik (ampisilin, tetrasiklin, sefalosporin, penisilin, dll), serta
obat-obatan yang mengandung hormon (obat diabetes, obat penenang, dll).
Obat keras ini dapat diperoleh di apotik, harus dengan resep dokter. Obatobat ini berkhasiat keras dan bila dipakai sembarangan bisa berbahaya bahkan
meracuni tubuh, memperparah penyakit atau dapat mematikan.
4) Obat Psikotropika dan Narkotika (Daftar O)
a)

Obat-obat ini sama dengan narkoba yang kita kenal dapat menimbulkan
ketagihan dengan segala konsekuensi yang sudah kita tahu.

b) Karena

itu,

obat-obat

ini

mulai

dari

pembuatannya

sampai

pemakaiannya diawasi dengan ketat oleh Pemerintah dan hanya boleh


diserahakan oleh apotek atas resep dokter. Tiap bulan apotek wajib
melaporkan pembelian dan pemakaiannya pada pemerintah.
Psikotropika

Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan
narkotik, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf
pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku (Pasal
1, Undang-Undang Nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika), disertai dengan
timbulnya halusinasi (mengkhayal), ilusi, gangguan cara berpikir, perubahan alam
perasaan dan dapat menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi
(merangsang)bagi para pemakainya.
Psikotropika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan
dan/ atau ilmu pengetahuan. Psikotropika golongan I hanya dapat digunakan untuk
tujuan ilmu pengetahuan. Selain penggunaan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2), psikotropika golongan I dinyatakan sebagai barang terlarang (Pasal 4,
Undang-Undang Nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika).
Psikotropika terbagi dalam empat golongan yaitu:
-

Psikotropika golongan I

Psikotropika golongan II

Psikotropika golongan III

Psikotropika golongan IV
Contoh: Ekstasi (gol.I), Shabu-shabu; Amfetamin (gol.II), Sedatin; Valium;

Diazepam (gol.IV).
Obat psikotropika ini dapat diperoleh di apotek, harus dengan resep dokter.
5) Narkotika

Gambar 7. Logo

Obat narkotika yaitu zat atau obat yang berasal dari tanaman baik sintetis
maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan
dapat menimbulkan ketergantungan (Pasal 1, Undang Undang Nomor 22 tahun
1997 tentang Narkotika). Sedangkan yang dimaksud ketergantungan narkotika
tersebut adalah gejala dorongan untuk menggunakan narkotika secara terus
menerus, toleransi dan gejala putus narkotika apabila penggunaan dihentikan
(Undang Undang Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika).
Narkotika digolongkan menjadi 3 golongan :
Narkotika golongan I, narkotika yang digunakan untuk kepentingan
penelitian, ilmu pengetahuan, dan dilarang diproduksi atau digunakan untuk
pengobatan.

Contohnya: tanaman

Papaver

Somniferum

L.

kecuali

bijinya, opium

mentah, opium masak, candu, jicing, jicingko, tanaman kokain, daun kokain,
kokain mentah, dll.
Narkotika golongan II, narkotika yang dapat digunakan untuk pengobatan
asalkan sudah memiliki ijin edar (nomor regitrasi).
Contohnya: Alfasetilmetadol, Alfameprodina, Alfametadol, Alfaprodina, dll
Narkotika golongan III, narkotika yang dapat digunakan untuk pengobatan
asalkan sudah memiliki ijin edar (nomor regitrasi).
Contohnya: Asetildihidrokodeina, Dekstropropoksifena, Dihidrokodeina, Etil
morfina, dll
Contoh macam-macam narkotika :
a)

Opiod (Opiat)
Bahan-bahan opioida yang sering disalahgunakan:

Morfin

Heroin (putaw)

Codein

Demerol (pethidina)

Methadone

b) Kokain
c)

Cannabis (ganja)

Obat narkotika ini dapat diperoleh di apotik, harus dengan resep dokter.
b.

Penggolongan obat berdasarkan mekanisme kerja obat


Penggolongan obat berdasarkan mekanisme kerja obat dibagi menjadi 5 jenis

penggolongan antara lain :


1) Obat yang bekerja pada penyebab penyakit, misalnya penyakit akibat bakteri
atau mikroba, contoh antibiotik.
2) Obat yang bekerja untuk mencegah kondisi patologis dari penyakit contoh
vaksin, dan serum.
3) Obat yang menghilangkan simtomatik/gejala, meredakan nyeri contoh
analgesik.
4) Obat yang bekerja menambah atau mengganti fungsi zat yang kurang, contoh
vitamin dan hormon.
5) Pemberian plasebo adalah pemberian obat yang tidak mengandung zat aktif,
khususnya pada pasien normal yang menganggap dirinya dalam keadaan
sakit. Contoh aqua pro injeksi dan tablet plasebo.
Selain itu dapat dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya, seperti obat
antihipertensi, kardiak, diuretik, hipnotik, sedatif, dan lain lain.

c.

Penggolongan obat berdasarkan tempat atau lokasi pemakaian


Penggolongan obat berdasarkan tempat atau lokasi pemakaian dibagi menjadi 2

golongan :
1) Obat dalam yaitu obat obatan yang dikonsumsi peroral, masuk pada saluran
gastrointestinal. Contoh tablet antibiotik, antipiretik tablet, obat batuk sirup.
2) Obat luar yaitu obat obatan yang dipakai secara topikal/tubuh bagian luar.
Contoh krim, salep, tetes mata/ hidung/ telinga, suppositoria, dll.
d.

Penggolongan obat berdasarkan cara pemakaian


Penggolongan obat berdasarkan cara pemakaian dibagi menjadi beberapa bagian,

seperti :
1) Oral: obat yang dikonsumsi melalui mulut kedalam saluran cerna. Contoh
tablet, kapsul, serbuk, dll.
2) Sublingual: pemakaian obat dengan meletakkannya dibawah lidah, masuk ke
pembuluh darah, efeknya lebih cepat.
Contoh: obat hipertensi, tablet hisap, hormon-hormon.
3) Parenteral: obat yang disuntikkan melalui kulit ke aliran darah, baik secara
intravena, subkutan, intramuskular, intrakardial. Contoh: injeksi antibiotik,
injeksi vaksin, dll.
4) Perektal: obat yang dipakai melalui rektum, biasanya digunakan pada pasien
yang tidak bisa menelan, pingsan, atau menghendaki efek cepat dan terhindar
dari pengaruh pH lambung, FFE di hati, maupun enzim-enzim di dalam
tubuh. Contoh: diazepam rektal/ stesolid, mikrolax sup., dll
5) Langsung ke organ, contoh intrakardial.
6) Melalui selaput perut, contoh intra peritoneal.
e.

Penggolongan obat berdasarkan efek yang ditimbulkan


Penggolongan obat berdasarkan efek yang ditimbulkan dibagi menjadi 2:
1) Sistemik: obat/zat aktif yang masuk kedalam peredaran darah.
a)

Oral, pemberiannya melalui mulut.

b) Oromukosal, pemberian melalui mukosa di rongga mulut, ada dua


macam cara yaitu :
(1) Sublingual : Obat ditaruh di bawah lidah.
(2) Bucal : Obat diletakkan diantara pipi dan gusi
c)

Injeksi, adalah pemberian obat secara parenteral atau di bawah atau


menembus kulit/selaput lendir. Suntikan atau injeksi digunakan untuk
memberikan efek dengan cepat.
Macam macam jenis suntikan :
(1) Subkutan/hipodermal (s.c): penyuntikan di bawah kulit.
(2) Intra muscular (i.m): penyuntikan dilakukan kedalam otot.

(3) Intra vena (i.v): penyuntikan dilakukan di dalam pembuluh darah.


(4) Intra arteri (i.a): penyuntikan ke dalam pembuluh nadi (dilakukan
untuk membanjiri suatu organ misalnya pada penderita kanker
hati).
(5) Intra cutan (i.c): penyuntikan dilakukan di dalam kulit.
(6) Intra lumbal: penyuntikan dilakukan ke dalam ruas tulang
belakang (sumsum tulang belakang).
(7) Intra peritoneal: penyuntikan ke dalam ruang selaput (rongga)
perut.
(8) Intra cardial: penyuntikan ke dalam jantung.
(9) Intra pleural: penyuntikan ke dalam rongga pleura.
(10) Intra articuler: penyuntikan ke dalam celah celah sendi.
d) Implantasi, Obat dalam bentuk pellet steril dimasukkan di bawah kulit
dengan alat khusus (trocar), digunakan untuk efek yang lama.
e)

Rektal, pemberian obat melalui rectal atau dubur. Cara ini memiliki efek
sistemik lebih cepat dan lebih besar dibandingkan peroral dan baik
sekali digunakan untuk obat yang mudah dirusak asam lambung.

f)

Transdermal, cara pemakaian melalui permukaan kulit berupa plester,


obat menyerap secara perlahan dan kontinue masuk ke dalam sistem
peredaran darah, langsung ke jantung.

2) Lokal: obat/zat aktif yang hanya berefek/menyebar /mempengaruhi bagian


tertentu tempat obat tersebut berada, seperti pada hidung, mata, kulit, dll.
a)

Kulit (percutan), obat diberikan dengan jalan mengoleskan pada


permukaan kulit, bentuk obat salep, cream dan lotion.

b) Inhalasi, obat disemprotkan untuk disedot melalui hidung atau mulut


dan penyerapan dapat terjadi pada selaput mulut, ternggorokkan dan
pernafasan.
c)

Mukosa mata dan telinga, obat ini diberikan melalui selaput/mukosa


mata atau telinga, bentuknya obat tetes atau salep, obat direabsorpsi ke
dalam darah dan menimbulkan efek.

d) Intra vaginal, obat diberikan melalui selaput lendir mukosa vagina,


biasanya berupa obat antifungi dan pencegah kehamilan.
e)

Intra nasal, obat ini diberikan melalui selaput lendir hidung untuk
menciutkan selaput mukosa hidung yang membengkak, contohnya
Otrivin.

f.

Penggolongan obat berdasarkan daya kerja atau terapi


Penggolongan obat berdasarkan daya kerja atau terapi dibagi menjadi 2 golongan:

1) Farmakodinamik: obat-obatan yang bekerja mempengaruhi fisilogis tubuh.


Contoh: hormon dan vitamin.
2) Kemoterapi: obat-obatan yang bekerja secara kimia untuk membasmi
parasit/bibit penyakit, mempunyai daya kerja kombinasi.
g.

Penggolongan obat berdasarkan asal obat dan cara pembuatannya


Penggolongan obat berdasarkan asal obat dan cara pembuatannya dibagi menjadi 2:
1) Alamiah: obat obat yang berasal dari alam (tumbuhan, hewan dan mineral).
a)

Tumbuhan: obat dapat bersumber dari akar, batang, daun, dan biji
tanaman tertentu. Contohnya jamur (antibiotik), kina (kinin), digitalis
(glikosida jantung) dll.

b) Hewan: dapat berupa organ, hormon atau enzim. Contohnya plasenta,


otak menghasilkan serum rabies, kolagen.
c)

Mineral: dapat berupa elemen-elemen organic atau bentuk garamnya.


Contohnya vaselin, parafin, talkum/silikat, alumunium hidroksida,
natrium karbonat, garam inggris, dll.

2) Sintetik: merupakan cara pembuatan obat dengan melakukan reaksi-reaksi


kimia (semisintesis atau sintesis), kelebihan hasil sintesis dibandingkan
dengan alamiah adalah lebih stabil, murni, dan dapat diperoleh dalam jumlah
banyak. Contohnya minyak gandapura dihasilkan dengan mereaksikan
metanol dan asam salisilat.
4.

Penggolongan Obat Tradisional


Penggolongan obat di atas adalah obat yang berbasis kimia modern, padahal juga

dikenal obat yang berasal dari alam, yang biasa dikenal sebagai obat tradisional. Peraturan
Menteri Kesehatan RI No.179/MENKES/Per/VII/ 1976 menyatakan bahwa yang dimaksud
sebagai obat tradisional adalah: obat jadi atau obat terbungkus yang berasal dari alam, baik
tumbuh-tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahanbahan tersebut, yang belum mempunyai data klinis dan dipergunakan dalam usaha
pengobatan berdasarkan pengalaman.
Obat tradisional Indonesia semula hanya dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu obat
tradisional atau jamu dan fitofarmaka. Namun, dengan semakin berkembangnya teknologi,
telah diciptakan peralatan berteknologi tinggi yang membantu proses produksi sehingga
industri jamu maupun industri farmasi mampu membuat jamu dalam bentuk ekstrak. Namun,
sayang pembuatan sediaan yang lebih praktis ini belum diiringi dengan perkembangan
penelitian sampai dengan uji klinik. Saat ini obat tradisional dapat dikelompokkan menjadi 3,
yaitu: jamu, obat ekstrak alam, dan fitofarmaka.
Obat Bahan Alam Indonesia menurut Surat Keputusan Kepala BPPOM RI
No.Hk.00.05.4.2411, Tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan dan Penandaan Obat Bahan

Alam Indonesia tertanggal 2 Maret 2005 adalah obat bahan alam yang diproduksi di
Indonesia.
a.

Jamu (Empirical Based Herbal Medicine)

Gambar 8. Logo Jamu


Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam
bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi
penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional. Pada umumnya, jenis ini
dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur yang disusun dari berbagai
tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar antara 5 10 macam bahkan
lebih.
Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi
cukup dengan bukti empiris. Jamu yang telah digunakan secara turun-menurun selama
berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun, telah membuktikan keamanan dan
manfaat secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu. Contoh: jamu buyung upik,
jamu nyonya menier, jamu kunyit asam, Tolak angin/Antangin.
b. Obat Herbal Terstandar (Scientific Based Herbal Medicine)

Gambar 9. Logo Obat Herbal Terstandar


Adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam
yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral. Untuk melaksanakan
proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah
dengan tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan
pembuatan ekstrak.
Selain proses produksi dengan teknologi maju, jenis ini pada umumnya telah
ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik seperti
standar kandungan bahan berkhasiat, standar pembuatan ekstrak tanaman obat, standar
pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis.
Contoh: Lelap (kaplet salut), Diapet (kapsul), Kiranti sehat datang bulan.
c.

Fitofarmaka (Clinical Based Herbal Medicine)

Gambar 10. Logo Fitofarmaka


Merupakan bentuk obat tradisional dari bahan alam yang dapat disejajarkan
dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang
dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia. Dengan uji klinik akan
lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana
pelayanan kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal
karena manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilmiah. Contoh: nodiar (tablet),
rheumaneer (kapsul), stimuno (sirup), tensigard agromed (kapsul).
5.

Penggolongan Obat Berdasarkan Keamanan Jika Diberikan Selama Kehamilan


a.

Kategori A
Seperti yang diperlihatkan oleh berbagai penelitian yang adekuat dan terkontrol,

makanan dan obat dalam kategori ini tidak berisiko terhadap janin pada trimester
pertama. Selain itu, tidak tampak berisiko pada trimester kedua atau ketiga.
b. Kategori B
Penelitian pada hewan dapat memperlihatkan risiko, dapat juga tidak. Jika
risikonya terlihat pada hewan, tidak begitu halnya pada penelitian manusia. Jika
resikonya tidak terlihat pada hewan, maka tidak terdapat data yang mencukupi tentang
risiko pada wanita hamil.
c.

Kategori C
Efek merugikan terlihat pada hewan, namun belum tersedia cukup data tentang

efeknya pada wanita hamil. Pada situasi klinis tertentu, manfaat dari penggunaan obat
tersebut lebih tinggi dibandingkan kemungkinan risikonya.
d. Kategori D
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari penelitian klinis atau survey
pascapemasaran, terlihat risiko pada janin manusia. Pada situasi klinis tertentu, manfaat
dari penggunaan obat tersebut lebih tinggi dari kemungkinan risikonya.
e.

Kategori X
Risiko terhadap janin manusia telah didokumentasikan dengan jelas pada

penelitian terhadap manusia, hewan, atau survei pasca- pemasaran. Kemungkinan risiko
terhadap janin lebih tinggi dibandingkan potensi manfaatnya pada wanita hamil. Hindari
penggunaan selama kehamilan.
C. OBAT GENERIK

Obat Generik Berlogo (OGB) diluncurkan pada tahun 1991 oleh pemerintah yang ditujukan
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kelas menengah ke bawah akan obat. Jenis obat ini
mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang merupakan obat esensial untuk
penyakit tertentu. Harga obat generik dikendalikan oleh pemerintah untuk menjamin akses
masyarakat terhadap obat. Kemudian pemerintah juga menerbitkan kebijakan kewajiban
penggunaan obat generik bagi institusi layanan medis pemerintah, melalui Permenkes nomor
HK.02.02/Menkes/068/I/2010.

Gambar 11. Logo Obat Generik


Obat paten adalah obat yang baru ditemukan berdasarkan riset dan memiliki masa paten
yang tergantung dari jenis obatnya. Menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2001 tentang Paten,
masa berlaku paten di Indonesia adalah 20 tahun. Setelah berhenti masa patennya, obat paten
kemudian disebut sebagai obat generik. Obat generik ini dibagi lagi menjadi 2 yaitu generik
berlogo dan generik bermerk (branded generic).
Obat Generik adalah obat dengan nama resmi International Non Propietary Names (INN)
yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat berkhasiat yang
dikandungnya (Permenkes nomor HK.02.02/Menkes/068/I/2010). Obat generik bermerek/bernama
dagang (branded generic) adalah obat generik dengan nama dagang yang menggunakan nama
milik produsen obat yang bersangkutan, sedangkan Obat generik berlogo (OGB) adalah obat yang
menggunakan logo lingkaran hijau bergaris-garis putih dengan tulisan Generik di bagian tengah
lingkaran. Logo tersebut menunjukan bahwa OGB telah lulus uji kualitas, khasiat dan keamanan.
Sedangkan garis-garis putih menunjukkan OGB dapat digunakan oleh berbagai lapisan
masyarakat.
Kualitas obat generik tidak berbeda dengan obat bermerek lainnya. Hal ini dikarenakan
proses pembuatannya mengikuti persyaratan dalam Cara Pembutan Obat yang Baik (CPOB) yang
dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI). Selain itu,
obat generik juga harus lulus uji bioavailabilitas/bioekivalensi (BA/BE). Uji ini dilakukan untuk
menjaga mutu obat generik. Studi bioekivalensi (BE) dilakukan untuk membandingkan profil
pemaparan sistematik (darah) yang memiliki bentuk tampilan berbeda-beda (tablet, kapsul, sirup,
salep, dan sebagainya) dan diberikan melalui rute pemberian yang berbeda-beda. Pengujian
bioavailabilitas (BA) dilakukan untuk mengetahui kecepatan zat aktif dari produk obat diserap
oleh tubuh ke sistem peredaran darah.
Harga obat generik lebih murah dari pada obat bermerek lainnya tetapi memiliki kualitas
yang sama baiknya. Hal ini dapat disebabkan karena:

1.

Harga obat generik dikendalikan pemerintah melalu Keputusan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia Nomor HK.03.01/Menkes/ 146/I/2010 Tentang Harga Obat
Generik.

2.

Obat generik dijual dalam kemasan dengan jumlah besar.

3.

Obat generik tidak memerlukan biaya kemasan yang tinggi. Seperti kita ketahui bahwa
perbedaan antara obat bermerek dan obat generik hanya terdapat pada tampilan obat
yang lebih menawan dan kemasan yang lebih bagus sehingga terasa lebih istimewa.
Obat generik kemasannya dibuat biasa, karena yang terpenting bisa melindungi produk
yang ada di dalamnya.

4.

Obat generik tidak memerlukan biaya promosi atau iklan.

D. OBAT ESENSIAL
Obat esensial adalah obat terpilih yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan,
mencakup upaya diagnosis, profilaksis, terapi dan rehabilitasi, yang diupayakan tersedia di
fasilitas kesehatan sesuai dengan fungsi dan tingkatnya (Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 2500/Menkes/SK/XII/2011 tentang Daftar Obat Esensial Nasional 2011).
Kriteria Pemilihan Obat Esensial
Pemilihan obat esensial didasarkan atas kriteria berikut:
1.

Memiliki rasio manfaat - resiko (benefit - risk ratio) yang paling menguntungkan
penderita.

2.

Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas.

3.

Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan.

4.

Praktis dalam penggunaan dan penyerahan yang disesuaikan dengan tenaga, sarana dan
fasilitas kesehatan.

5.

Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh penderita.

6.

Memiliki rasio manfaat - biaya (benefit - cost ratio) yang tertinggi berdasarkan biaya
langsung dan tidak langsung.

7.

Bila terdapat lebih dari satu pilihan yang memiliki efek terapi yang serupa, pilihan
dijatuhkan pada:

8.

a.

Obat yang sifatnya paling banyak diketahui berdasarkan data ilmiah;

b.

Obat dengan sifat farmakokinetik yang diketahui paling menguntungkan;

c.

Obat yang stabilitasnya lebih baik;

d.

Mudah diperoleh;

e.

Obat yang telah dikenal.

Obat jadi kombinasi tetap, harus memenuhi kriteria berikut:


a.

Obat hanya bermanfaat bagi penderita dalam bentuk kombinasi tetap;

b.

Kombinasi tetap harus menunjukkan khasiat dan keamanan yang lebih tinggi dari
pada masing - masing komponen;

c.

Perbandingan dosis komponen kombinasi tetap merupakan perbandingan yang


tepat untuk sebagian besar penderita yang memerlukan kombinasi tersebut;

d.

Kombinasi tetap harus meningkatkan rasio manfaat - biaya (benefit - cost ratio);

e.

Untuk antibiotika kombinasi tetap harus dapat mencegah atau mengurangi


terjadinya resistensi dan efek merugikan lainnya.

BAB III
POSOLOGI

A. BENTUK SEDIAAN OBAT


1.

Aerosol
Adalah sediaan yang dikemas di bawah tekanan, mengandung zat aktif terapeutik yang

dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. Sediaan ini digunakan untuk pemakaian
topikal pada kulit dan juga untuk pemakaian lokal pada hidung (aerosol nasal), mulut
(aerosol lingual) atau paru - paru (aerosol inhalasi).
2.

Inhalasi
Adalah sediaan obat atau larutan atau suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat

yang diberikan melalui saluran napas hidung atau mulut untuk memperoleh efek lokal atau
sistemik.
3.

Pulvis (Serbuk)
Merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan

untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar.


4.

Pulveres
Merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus

menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.


5.

Tablet (Compressi)
Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih

atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih
dengan atau tanpa bahan tambahan. Macam tablet yaitu:
a.

Tablet kempa, paling banyak digunakan, ukuran dapat bervariasi, bentuk serta
penandaannya tergantung desain cetakan.

b.

Tablet cetak, dibuat dengan memberikan tekanan rendah pada massa lembab
dalam lubang cetakan.

c.

Tablet trikurat, tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris. Tetapi
tablet untuk jenis ini sudah jarang ditemukan.

d.

Tablet hipodermik, dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna
dalam air. Dulu untuk membuat sediaan injeksi hipodermik, sekarang diberikan
secara oral.

e.

Tablet sublingual, dikehendaki berefek cepat (tidak dimetabolisme melalui hati).


Digunakan dengan meletakkan tablet di bawah lidah.

f.

Tablet bukal, digunakan dengan meletakkan di antara pipi dan gusi.

g.

Tablet efervescen, tablet larut dalam air. Harus dikemas dalam wadah tertutup
rapat atau kemasan tahan lembab. Pada etiket tertulis tidak untuk langsung
ditelan.

h.

Tablet kunyah, cara penggunaannya dikunyah. Meninggalkan sisa rasa enak di


rongga mulut, mudah ditelan, tidak meninggalkan rasa pahit, atau tidak enak.

6.

Pilulae (PIL)

Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan
dimaksudkan untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet
dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu.
7.

Kapsulae (Kapsul)
Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang

dapat larut. Keuntungan/tujuan sediaan kapsul yaitu:


a.

menutupi bau dan rasa yang tidak enak;

b.

menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari;

c.

lebih enak dipandang;

d.

dapat digunakan untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis (income fisis),
dengan pemisahan antara lain menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian
dimasukkan bersama serbuk lain ke dalam kapsul yang lebih besar;

e.
8.

mudah ditelan.

Lozenges
Lebih dikenal sebagai tablet hisap, adalah sediaan padat yang mengandung satu atau

lebih bahan obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis, yang dapat membuat
tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut.
9.

Solutiones (Larutan)
Merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut.

Biasanya dilarutkan dalam air karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya
tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya. Dapat juga dikatakan sediaan cair yang
mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut, misalnya terdispersi secara molekuler
dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur.
Terbagi atas:
a.

Larutan oral, adalah sediaan cair yang dimaksudkan untuk pemberian oral.
Termasuk ke dalam larutan oral ini adalah:
1) Sirup, Larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi.
2) Elixir, adalah larutan oral yang mengandung etanol sebagai pelarut.

b.

Larutan topikal, adalah sediaan cair yang dimaksudkan untuk penggunaan topikal

c.

pada kulit atau mukosa.


Larutan otik, adalah sediaan cair yang dimaksudkan untuk penggunaan dalam

d.
e.

telinga.
Larutan optalmik, adalah sediaan cair yang digunakan pada mata.
Spirit, adalah larutan mengandung etanol atau hidro alkohol dari zat yang mudah

f.

menguap, umumnya merupakan larutan tunggal atau campuran bahan.


Tingtur, adalah larutan yang mengandung etanol atau hidro alkohol di buat dari
bahan tumbuhan atau senyawa kimia.

10. Suspensi
Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam
fase cair. Jenis suspensi antara lain: suspensi oral (juga termasuk susu/magma), suspensi

topikal (penggunaan pada kulit), suspensi tetes telinga (telinga bagian luar), suspensi
optalmik, suspensi sirup kering.
11. Emulsi
Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan dalam sistem dispersi, fase
cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya, umumnya
distabilkan oleh zat pengemulsi.
12. Krim
Adalah sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau
terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
13. Gel (Jeli)
Adalah sistem semi padat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang
kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan.
14. Pasta
Adalah sediaan semi padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan
untuk pemakaian topikal.
15. Transdermal patch, Plester
Adalah bahan yang digunakan untuk pemakaian luar terbuat dari bahan yang dapat
melekat pada kulit dan menempel pada pembalut.
16. Galenik
Merupakan sediaan yang dibuat dari bahan baku yang berasal dari hewan atau
tumbuhan yang disari.
17. Extractum
Merupakan sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat dari simplisia nabati
atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua
pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga
memenuhi baku yang ditetapkan.
18. Infusa
Merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air
pada suhu 90 0C selama 15 menit.
19. Immunosera (Imunoserum)
Merupakan sediaan yang mengandung imunoglobin khas yang diperoleh dari serum
hewan dengan pemurnian. Berkhasiat menetralkan toksin kuman (bisa ular) dan mengikat
kuman/virus/antigen.
20. Unguenta (Salep)
Merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau
selaput lendir. Dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan
digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar
salep yang cocok.

21. Suppositoria
Merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui
rektal, vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Tujuan
pengobatan yaitu:
a.

penggunaan lokal, memudahkan defekasi serta mengobati gatal, iritasi, dan


inflamasi karena hemoroid;

b.

penggunaan sistemik, aminofilin dan teofilin untuk asma, chlorprozamin untuk anti
muntah, chloral hidrat untuk sedatif dan hipnotif, aspirin untuk analgenik
antipiretik.

22. Guttae (Obat Tetes)


Merupakan sediaan cairan berupa larutan, emulsi, atau suspensi, dimaksudkan untuk
obat dalam atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang
menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang disebutkan
Farmacope Indonesia. Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain: Guttae (obat dalam),
Guttae Oris (tetes mulut), Guttae Auriculares (tetes telinga), Guttae Nasales (tetes hidung),
Guttae Ophtalmicae (tetes mata).
23. Implan atau pelet
Adalah sediaan dengan massa padat steril berukuran kecil, berisi obat dengan
kemurnian tinggi

(dengan atau tanpa eksipien), dibuat dengan cara pengempaan atau

pencetakan. Implan atau pelet dimaksudkan untuk ditanam di dalam tubuh (biasanya secara
sub kutan) dengan tujuan untuk memperoleh pelepasan obat secara berkesinambungan dalam
jangka waktu lama.
24. Injectiones (Injeksi)
Istilah injeksi termasuk semua bentuk obat yang digunakan secara parentral, termasuk
infus. Injeksi dapat berupa larutan, suspensi, atau emulsi. Apabila obatnya tidak stabil dalam
cairan, maka dibuat dalam bentuk kering. Bila akan digunakan sediaan obat kering
ditambahkan aqua steril untuk memperoleh larutan atau suspensi injeksi.
Cara penggunaan obat injeksi adalah dengan merobek jaringan ke dalam kulit atau
melalui kulit atau selaput lendir. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada
pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut.
25. Irigasi
Larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau
rongga - rongga tubuh, penggunaan adalah secara topikal.
Tabel 3. Penggunaan Bentuk Sediaan
Cara Pemberian
Oral

Bentuk Sediaan Utama


Tablet, kapsul, larutan (sulotio),
sirup, eliksir, suspensi, magma,
jeli, bubuk

Sublingual

Tablet, trokhisi dan tablet hisap

Parentral

Larutan, suspensi

Epikutan/transdermal

Salep, krim, pasta, plester, bubuk,


aerosol,

latio,

tempelan

transdermal, cakram, larutan, dan


Konjungtival

solutio
Salep

Intraokular/intraaural

Larutan, suspensi

Intranasal

Larutan, semprot, inhalan, salep

Intrarespiratori

Aerosol

Rektal

Larutan, salep, supositoria

Vaginal

Larutan, salep, busa-busa emulsi,

Uretral

tablet, sisipan, supositoria, spon


Larutan, supositoria

Sumber: Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi (Howard C. Ansel)


B. CARA PEMBERIAN OBAT
Berikut ini adalah cara pemberian obat serta tujuan penggunaannya:
1.

Oral
Obat yang cara penggunaannya masuk melalui mulut. Keuntungannya relatif aman,

praktis, ekonomis. Kerugiannya timbul efek lambat; tidak bermanfaat untuk pasien yang
sering muntah, diare, tidak sadar, tidak kooperatif; untuk obat iritatif dan rasa tidak enak
penggunaannya terbatas; obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat
(penisilin G, insulin); obat absorpsi tidak teratur.
Untuk tujuan terapi serta efek sistematik yang dikehendaki, penggunaan oral adalah
yang paling menyenangkan dan murah, serta umumnya paling aman. Hanya beberapa obat
yang mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus. Pada keadaan pasien muntahmuntah, koma, atau dikehendaki onset yang cepat, pemberian obat melalui oral tidak dapat
dilakukan.
Pemberian obat secara oral dapat dilakukan melalui mulut dan langsung ditelan oleh
klien, obat diletakkan dibawah lidah (sublingual) atau diletakkan di pipi bagian dalam
(buccal) serta ditunggu sampai obat tersebut larut. Pemberian obat secara oral juga dapat
dilakukan melalui selang nasogastrik (NGT).
Pemberian obat melalui oral atau mulut memang merupakan cara termudah dan paling
sederhana. Cara tersebut meminimalkan ketidaknyamanan pada klien dan dengan efek
samping yang paling kecil, serta paling murah dibandingkan dengan cara pemberian yang
lain.
Bila klien tidak dapat menelan air atau cairan lain atau merasa mual dan muntah,
pemberian obat per oral segera dihentikan dan obat diberikan dengan cara lainnya. Jika klien
dipuasakan (NPO Nothing Per Oral) sebelum dilakukan pembedahan, tim medis dapat

memilih obat oral yang dapat diberikan dengan air yang terbatas. Atau obat per oral dapat
ditunda pemberiannya atau diberikan dengan cara yang lain bila klien baru saja selesai
mengalami pembedahan. Hal tersebut dilakukan sampai fungsi saluran pencernaan klien
kembali normal.
Bila klien dilakukan gastric suction atau terpasang NGT dengan tujuan bilas lambung,
pemberian obat per oral dihentikan dan diberikan dengan cara yang lain. Namun, beberapa
dokter kadang tetap menginstruksikan pemberian obat melalui NGT dengan menghentikan
sementara proses bilas lambung, caranya adalah dengan menutup selang NGT minimal
selama 30 menit setelah diberikan obat melalui NGT.
2.

Sublingual
Cara penggunaannya, obat ditaruh di bawah lidah. Dengan cara ini, aksi kerja obat lebih

cepat yaitu setelah hancur di bawah lidah maka obat segera mengalami absorbsi ke dalam
pembuluh darah. Tujuannya agar efek obat lebih cepat karena pembuluh darah bawah lidah
merupakan pusat sakit. Misalnya pada kasus pasien jantung yang mengalami nyeri dada
akibat angina pectoris. Obat yang sering diberikan dengan cara ini adalah nitrogliserin yaitu
obat vasodilator yang mempunyai efek vasodilatasi pembuluh darah. Keuntungan cara ini
obat cepat diabsorpsi serta kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di dinding usus
dan hati dapat dihindari (tidak melalui vena porta). Selain itu cara ini juga mudah dilakukan
dan pasien tidak mengalami kesakitan.
Jika obat diberikan pada pada pasien dengan cara sublingual, pasien diinformasikan
untuk tidak menelan obat. Bila ditelan, obat menjadi tidak aktif oleh adanya proses kimiawi
dengan cairan lambung. Untuk mencegah obat tidak ditelan, maka pasien diberitahu untuk
membiarkan obat tetap di bawah lidah sampai obat menjadi hancur dan terserap. obat
bereaksi dalam satu menit dan pasien dapat merasakan efeknya dalam waktu tiga menit.
3.

Inhalasi
Penggunaannya dengan cara disemprot ke mulut, diinhalasi melalui mesin ventilator,

inhaler-nebulizer atau inhaler sekali pakai. Misalnya obat bronkodilator. Obat untuk inhalasi
dalam bentuk cair dimasukkan kedalam mesin ventilator atau nebulizer dan kemudian akan
dirubah menjadi partikel-partikel gas yang dapat dihirup melalui hidung dan mulut.
Keuntungannya yaitu absorpsi terjadi cepat dan homogen, kadar obat dapat dikontrol,
terhindar dari efek lintas pertama, dapat diberikan langsung pada bronkus. Kerugiannya
yaitu, diperlukan alat dan metoda khusus, sukar mengatur dosis, sering mengiritasi epitel
paru-sekresi saluran nafas, toksisitas pada jantung. Dalam inhalasi, obat dalam keadaan gas
atau uap yang akan diabsorpsi sangat cepat melalui alveoli paru-paru dan membran mukosa
pada perjalanan pernafasan.
4.

Rektal dan pervaginam


Cara penggunaannya melalui rektum dan vagina. Tujuannya mempercepat kerja obat

serta sifatnya lokal dan sistemik. Obat diberikan per-rektal bila pemberian obat secara oral
sulit/tidak dapat dilakukan karena iritasi lambung, terurai di lambung, terjadi efek lintas

pertama. Contoh: asetosal, parasetamol, indometasin, teofilin, barbiturat. Sedangkan obat


yang diberikan pervagina ditujukan untuk langsung ke organ sasaran, misalnya untuk
keputihan atau jamur.
5.

Parenteral
Digunakan tanpa melalui mulut, atau dapat dikatakan obat dimasukkan ke dalam tubuh

selain melalui saluran cerna. Tujuannya tanpa melalui saluran pencernaan dan langsung ke
pembuluh darah. Efeknya cepat dan langsung sampai pada sasaran.
Keuntungannya yaitu dapat untuk pasien yang tidak sadar, sering muntah, diare, yang
sulit menelan/pasien yang tidak kooperatif; dapat untuk obat yang mengiritasi lambung;
dapat menghindari kerusakan obat di saluran cerna dan hati; bekerja cepat dan dosis
ekonomis. Kelemahannya yaitu kurang aman, tidak disukai pasien (nyeri), berbahaya (bekas
tempat suntikan dapat beresiko infeksi).
Pemberian obat melalui parenteral berarti pemberian obat melalui injeksi atau infus.
Dapat diberikan secara intradermal (ID), subkutaneus (SC), intramuskular (IM) / jaringan
intralesional, intravena (IV)/sirkulasi intra-arterial, intraspinal atau melalui ruang intraartikular.
Obat yang diberikan secara parenteral akan diabsorpsi lebih banyak dan bereaksi lebih
cepat daripada obat yang diberikan secara topical atau oral. Pemberian obat parenteral dapat
menyebabkan resiko infeksi bila perawat tidak memperhatikan dan melakukan teknik aseptik
dan antiseptik pada saat pemberian obat. Karena pada pemberian parenteral, obat
diinjeksikan melalui kulit, menembus sistem pertahanan kulit. Komplikasi yang sering terjadi
adalah bila pH, osmolalitas dan kepekatan cairan obat yang diijeksikan tidak sesuai dengan
kondisi tempat penusukkan, serta dapat mengakibatkan merusakan jaringan sekitar tempat
insersi/injeksi. Peralatan yang khusus diperlukan untuk menunjang pemberian obat
parenteral, sehingga membutuhkan biaya yang lebih mahal dibandingkan pemberian obat
dengan cara yang lain.

a.

b.

c.

d.

Gambar 12. Lokasi penyuntikan intramuskular/IM: a. Ventrogluteal, b. Dorsogluteal,


c. Vastus lateralisanak-anak, d. Deltoid (sumber: Kee & Hayes, 1996)

Gambar 13. Lokasi penyuntikan intravena/IV (sumber: Kee & Hayes, 1996)

6.

Topikal/lokal
Pemberian obat secara topikal adalah pemberian obat dengan cara mengoleskan obat

pada permukaan kulit atau membran mukosa, dapat pula dilakukan melalui lubang yang
terdapat pada tubuh.
C. DOSIS OBAT
1.

PENGERTIAN DOSIS

Pengertian umum dosis:


Jumlah obat yang diberikan kepada penderita dalam satuan berat : g, mg, g atau satuan
isi : ml, liter, ui (unit internasional).
a.

DOSIS :

Sejumlah obat yang diberikan satu kali atau selama jangka waktu tertentu.

Dosis adalah takaran obat yang menimbulkan efek farmakologi (khasiat) yang
tepat dan aman bila dikonsumsi oleh pasien.

b. DOSIS AWAL (LOADING DOSE) ATAU DOSIS PERMULAAN (INITIAL


DOSE):
Dosis obat untuk memulai terapi sehingga dapat mencapai konsentrasi terapeutik
dalam tubuh yang menghasilkan efek klinis.
c.

DOSIS PEMELIHARAAN (MAINTENANCE DOSE):


Dosis obat yang diperlukan untuk memelihara - mempertahankan efek klinik atau
konsentrasi terapeutik obat yang sesuai dengan dosis regimen.

d. DOSIS MEDICINALIS = DOSIS LAZIM:


Dosis lazim adalah dosis yang diberikan berdasarkan petunjuk umum pengobatan
yang biasa digunakan, referensinya bisa berbeda-beda, dan sifatnya tidak
mengikat, selagi ukuran dosisnya diantara dosis maksimum dan dosis minimum
obat.
e.

DOSIS TERAPEUTIK = TERAPI

Dosis terapi adalah dosis yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat
menyembuhkan pasien.

Sejumlah obat yang memberikan efek terapeutik pada penderita dewasa.

f.

DOSIS MINIMUM
Dosis minimum adalah takaran dosis terendah yang masih dapat memberikan efek
farmakologis (khasiat) kepada pasien apabila dikonsumsi.

g.

DOSIS MAKSIMUM
Dosis maksimum adalah takaran dosis tertinggi yang masih boleh diberikan
kepada pasien dan tidak menimbulkan keracunan.

h. DOSIS TOXICA = TOKSIK:


Dosis toksik adalah takaran dosis yang apabila diberikan dalam keadaan biasa
dapat menimbulkan keracunan pada pasien. (takaran lebih besar dari dosis
maksimum).
i.

DOSIS LETALIS (LD)

Dosis letalis adalah takaran obat yang apabila diberikan dalam keadaan biasa dapat
menimbulkan kematian pada pasien.

Dosis letal dibagi menjadi 2:


1) Dosis letal 50: takaran dosis yang bisa menyebabkan kematian 50% hewan
percobaan.
2) Dosis letal 100: takaran dosis yang bisa menyebabkan kematian 100% hewan
percobaan.

2.

TUJUAN PENETAPAN DOSIS


Tujuan dari penetapan dosis obat adalah untuk mendapatkan efek terapeutik dari suatu

obat. Namun tidak semua obat bersifat betul-betul menyembuhkan penyakit, banyak
diantaranya hanya meniadakan atau meringankan gejalanya. Oleh karena itu, terapi obat
dapat dibedakan dalam tiga jenis pengobatan, yaitu:
(1) Terapi Kausal, dimana penyebab penyakit ditiadakan, khususnya pemusnahan
mikroorganisme yang merugikan. Contoh: obat kemoterapeutika (antibiotik,
fungisida, obat-obat malaria, dan sebagainya).
(2) Terapi Simptomatis, hanya gejala penyakit yang diobati dan diringankan, misalnya
kerusakan pada suatu organ atau saraf. Contohnya: analgetik pada rematik, obat
hipertensi dan obat jantung.
(3) Terapi Substitusi, obat pengganti zat yang lazim dibuat oleh organ yang sakit.
Misalnya insulin pada penderita diabetes.
3.

FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI OBAT


a.

Faktor Obat
1) Sifat Fisika: daya larut obat dalam air/lemak, kristal/amorf, dsb.
2) Sifat Kimiawi: asam, basa, garam, ester, garam kompleks, pH, pKa.
3) Toksisitas: dosis obat berbanding terbalik dgn toksisitasnya.

b. Cara Pemberian Pada Penderita


Rute pemberian obat, memiliki pengaruh yang berbeda pada absorpsi obat.
c.

Faktor Penderita/ Karakteristik Penderita


1) Umur
-

Usia berdampak langsung pada kerja obat.

Sejumlah perubahan fisiologis yang menyertai masa pertumbuhan dan


penuaan memengaruhi respon terhadap terapi obat.

2) Berat dan Komposisi Badan


-

Ada hubungan langsung antara jumlah obat yang diberikan dan jumlah
jaringan tubuh tempat obat didistribusikan.

Kebanyakan obat diberikan berdasarkan berat dan komposisi tubuh dewasa.


Perubahan komposisi tubuh dapat mempengaruhi distribusi obat secara
bermakna, misalnya pada klien lansia.

Semakin kecil berat badan klien, semakin besar konsentrasi obat di dalam
jaringan tubuhnya, dan efek obat yang dihasilkan makin kuat.

3) Jenis Kelamin
-

Perbedaan hormonal antara pria dan wanita mengubah metabolisme obat


tertentu.

Hormon dan obat saling bersaing dalam biotransformasi karena kedua


senyawa tersebut terurai dalam proses metabolik yang sama.

4) Ras
5) Toleransi
Kemampuan klien untuk berespon terhadap dosis tertentu dari suatu obat
dapat hilang setelah beberapa hari atau minggu setelah pemberian.
Kombinasi obat-obatan dapat diberikan untuk mengurangi atau menunda
terjadinya toleransi obat.
6) Sensitivitas
7) Keadaan Patofisiologi
Kerusakan/gangguan pada hepar, ginjal, jantung, sirkulasi dan kelainan pada
gastrointestinal mempengaruhi respon terhadap obat.
8) Kehamilan dan Laktasi
9) Perbedaan Genetik
-

Susunan genetik mempengaruhi biotransformasi obat.

Pola metabolik dalam keluarga seringkali sama, faktor genetik menentukan


apakah enzim yang terbentuk secara alami ada untuk membantu penguraian
obat, akibatnya ada anggota keluarga sensitiv terhadap suatu obat.

10) Faktor psikologis


-

Sikap seseorang terhadap obat berakar dari pengalaman sebelumnya atau


pengaruh keluarga, anak-anak yang sering melihat orang tuanya minum obat
akan cepat terpengaruh dengan kebiasaan orang tuanya tersebut.

Sebuah obat dapat digunakan untuk mengatasi rasa tidak aman, pada situasi
ini, klien bergantung pada obat sebagai media koping dalam kehidupan.
Sebaliknya jika klien kesal terhadap kondisi fisik mereka, rasa marah dan
sikap bermusuhan dapat menimbulkan reaksi yang diinginkan terhadap obat.

Obat seringkali memberi rasa aman. Penggunaan secara teratur obat tanpa
resep atau obat yang dijual bebas, misalnya vitamin, laksatif dll.

Perilaku perawat saat memberikan obat dapat berdampak secara signifikan


pada respons klien terhadap pengobatan.

11) Diet
-

Interaksi obat dan nutrient dapat mengubah kerja obat atau efek nutrient.
Contoh, vitamin K (terkandung dalam sayuran hijau berdaun), merupakan
nutrient yang melawan efek warfarin natrium (Coumadin), mengurangi
efeknya pada mekanisme pembekuan darah. Minyak mineral menurunkan
absorpsi vitamin larut lemak.

Klien membutuhkan nutrisi tambahan ketika mengonsumsi obat yang


menurunkan efek nutrisi.

Menahan konsumsi nutrient tertentu dapat menjamin efek terapeutik obat.

12) Lingkungan
-

Stres fisik dan emosi yang berat.

Radiasi ion menghasilkan efek yang sama dengan mengubah kecepatan


aktivitas enzim.

Panas dan dingin. Klien hipertensi diberi vasodilator untuk mengontrol


tekanan darahnya. Pada cuaca panas, dosis perlu dikurangi karena suhu yang
tinggi meningkatkan efek obat. Cuaca dingin cenderung meningkatkan
vasokonstriksi, sehingga dosis perlu ditambah.

Klien yang dirawat di ruang isolasi dan diberi obat analgesik memperoleh
efek pereda nyeri lebih kecil dibanding klien yang dirawat di ruang biasa.

4.

PERHITUNGAN DOSIS OBAT


a.

Dosis obat untuk anak


Dosis obat harus diberikan pada pasien untuk menghasilkan efek yang diharapkan.

Efek obat dan kaitannya dengan dosis tergantung dari banyak faktor, antara lain usia,
bobot badan, kelamin, luas permukaan tubuh, berat penyakit dan keadaan daya tahan
tubuh. Respon tubuh anak dan dewasa terhadap obat berbeda karena faktor-faktor
endogen dan eksogen. Parameter-parameter perbedaan anak dan dewasa adalah :

pola ADME (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, Ekskresi);

sensitivitas intrinsik berlainan terhadap bahan obat;

redistribusi dari zat-zat endogen.


Cara menghitung dosis obat untuk anak:
1) Perhitungan dosis individual untuk bayi dan anak jika hanya dosis dewasa
yang diketahui.

a) Berdasarkan Luas Permukaan Tubuh


DA = DD x

KO
1,73 M2

DA

= dosis anak

DD

= dosis dewasa

KO

= luas permukaan tubuh anak dalam m2

1,73 M2 = luas permukaan rata-rata orang dewasa


Luas permukaan tubuh anak atau orang dewasa dapat dihitung dengan 3 cara,
yaitu:
(1) Menurut Wagner melalui persamaan :
LP = 0,09 W 0.73
W = Berat badan dalam Kg

LP = Luas permukaan tubuh dalam M2


(2) Berdasarkan Hasil Perkalian antara tinggi badan (TB) dengan berat
badan (BB)

LPT = Akar dari TB (cm) x BB (Kg)


3600
LPT = Luas permukaan tubuh dalam M2
(3) Berdasarkan Nomogram West
Cara menentukan luas permukaan tubuh berdasarkan nomogram
West adalah:
(a) ukur dan tentukan tinggi badan dalam cm,
(b) ukur dan tentukan berat badan dalam kg,
(c) tarik garis lurus yang menghubungkan tinggi badan (cm) dan
berat badan (kg), titik potong garis yang ditarik dari titik
tinggi badan sampai berat badan dengan garis BSA (M2)
pada nomogram West menunjukkan luas permukaan tubuh.
(Lihat Gambar 13).
b) Berdasarkan BB
Perhitungan dosis anak berdasarkan BB umumnya menggunakan rumus
Clark, yaitu :

DA = w x DD, atau BB (pound) x DD


70
150 pound
Ket:
w = BB dalam kg
DA = Dosis anak
DD = Dosis dewasa

Gambar 13. Skala Nomogram West


c)

Berdasarkan Usia
(1) YOUNG

DA =

n
n + 12

DD (mg) untuk kurang dari 12 thn

(2) COWLING

DA = n (umur pada ultah berikutnya) x DD (mg)


24
(3) DILLING

DA = n
20

x DD (mg)

(4) FRIED

DA = m x DD (mg)
150
Ket:
DA = Dosis anak

DD = Dosis dewasa
n
= umur dalam tahun

= umur dalam bulan

2) Berdasarkan dosis setiap kg BB yang sudah diketahui


Contoh perhitungan dosis obat jika diketahui dosis per berat badan sebagai
berikut:
Berikan eritromisin 125 mg, setiap 6 jam. Berat badan anak 12 kg. Berapa mililiter
yang harus diberikan kepada anak setiap 6 jam? Jika diketahui sediaan eritromisin
(Erytrocin) 125 mg/5 ml. Dosis obat anak: 30-50 mg/kg/hari dalam dosis terbagi 4.
Apakah dosis yang diresepkan aman?
Jawab:
Diketahui: D = 125 mg; T = 125 mg; B = 5 ml;
BB anak = 12 kg
X = D x B
T
= 125 mg x 5 ml = 5 ml
125 mg
Diberikan eritromisin 5 ml, setiap 6 jam.
Keamanan obat:
Parameter obat: 30 mg x 12 kg = 360 mg/hari
50 mg x 12 kg = 600 mg/hari
Perintah dosis: 125 mg x 4 = 500 mg/hari
Dosis berada dalam parameter keamanan.
b. Perhitungan untuk pemberian obat
Rumus dasar yang sering digunakan untuk menghitung dosis obat yang akan
diberikan adalah
X = D

x B

T
Keterangan:
X = jumlah/volume yang harus diberikan
D = dosis/konsentrasi yang diinginkan (atas perintah dokter)
T = dosis/konsentrasi sediaan yang ada (tersedia pada kemasan obat)
B = bentuk sediaan obat/volume dosis tersedia/jumlah diminta
Rumus ini dapat digunakan untuk menghitung
sediaan tablet/kapsul, injeksi ampul/vial, ,
larutan/sirup dll.
Contoh perhitungan dosis obat dengan rumus di atas sebagai berikut:
Soal
1) Berapa banyak tablet furosemide 40 mg harus diberikan untuk memperoleh
dosis 10 mg?

2) Tersedia ampul atropine 0.6 mg/ml. Berapa banyak harus diberikan untuk
memperoleh dosis 900 mcg?
3) Berapa banyak Savlon Concentrate (100%) dibutuhkan untuk membuat 600
ml larutan 5%?
Jawab
1) Gunakan rumus

X =

T
X = jumlah obat
D = dosis yang diinginkan
T = dosis yang tersedia
B = bentuk sediaan
Diketahui: D = 10 mg; T = 40 mg; B = 1 (tablet)
Jawab: X = 10 x 1
40
X = tablet
2) Gunakan rumus

X =

T
X = volume obat
D = dosis yang diinginkan
T = dosis yang tersedia
B = bentuk sediaan
Diketahui: D = 900 mcg; T = 0.6 mg/mL; B = 1 ampul
Konversi satuan: 1 mg = 1000 mcg (microgram)
0.6 mg = 600 mcg
Jawab: X = 900 x 1 = 1.5 mL
600
3) Gunakan rumus X =

T
X = kuantitas obat
D = konsentrasi yang diinginkan
T = konsentrasi yang tersedia
B = jumlah diminta
Diketahui: D = 5%; T = 100%; B = 600 mL
Jawab: X =
c.

5%
100%

x 600 = 30 mL

Pemberian melalui infus


1.

Menghitung kecepatan infus dengan volume tertentu dan waktu yang


ditentukan

Rumus :
Tetes/menit

= VO X k
W X 60

Ket:
VO = volume yang harus diberikan
k = faktor tetesan (tetes/ml infus set)
W = waktu pemberian yang diinginkan

Faktor tetesan merupakan jumlah tetesan permililiter yang terdapat pada


perangkat infus (infus set).
Infus set terbagi menjadi 2 jenis:
1. Perangkat makrodrip: tetesan yang besar permiliter (10-20 tetes/mL).
2. Perangkat mikrodrip: tetesan yang kecil permililiter (60 tetes/mL).

Contoh perhitungan pemberian tetesan infus sebagai berikut:


(1) Berikan 1000 mL D5 NSS untuk diinfuskan selama 12 jam. Tersedia
perangkat makrodrip 10 tetes/mL dan perangkat mikrodrip 60 tetes/mL.
(a) Perangkat makrodrip atau mikrodrip yang akan anda gunakan?
(b) Hitung laju aliran IV dalam tetes per menit sesuai dengan perangkat IV
yang anda pilih.
(2) Berikan 1000 mL D5/ NSS, 1 vial dari MVI (vitamin multiple), dan 10
mEq KCl (Kalium klorida) dalam 10 jam. Tersedia 1000 mL D5/ NSS;
MVI = vial 5 mL; KCl = 20 mEq/20 mL vial; perangkat makrodrip 15
tetes/mL; perangkat mikrodrip 60 tetes/mL.
(a) Berapa milliliter KCl harus disuntikkan ke dalam kantong IV?
(b) Berapa tetes per menit harus diterima klien dengan menggunakan
perangkat makrodrip dan mikrodrip?
Jawaban soal di atas dan caranya adalah sebagai berikut:
(1) Hitung terlebih dahulu jumlah larutan dalam milliliter per jam!
Jumlah larutan
= 1000 mL = 83.33 mL/j
Lama pemberian dlm jam
12 jam
Karena klien mendapat 83 mL/j maka digunakan perangkat mikrodrip, laju
aliran IV-nya adalah:
Milliliter/menit

faktor

tetes

1.389

mL/m

83.34 83 tts/mnt

60

tts/mL

(2) Hitung terlebih dahulu dosis KCl yang harus diinjeksikan ke dalam plabot!
(a) Tersedia dosis KCl: 20 mEq/20 mL vial. Perintah pemberian 10 mEq
KCl.
Dengan rumus perbandingan X = D x B
10 mEq x 20 mL
T
20 mEq
= 10 mL KCl diinjeksikan dalam plabot
(b) Bila menggunakan perangkat makrodrip maka laju aliran IV adalah:
VO X k = 1000 mL X 15 tts/mL
= 25 tts/mnt
W X 60
10 jam X 60
Bila menggunakan perangkat mikrodrip maka laju aliran IV adlh:
1000 mL X 60 tts/mL = 100 tts/mnt
10 jam X 60
2.

Menghitung kecepatan infus sesuai dosis yang diinginkan

Rumus : Tetes/menit =
DO X k
Konsentrasi obat (kandungan/mL)
Keterangan:
DO = dosis obat yang harus diberikan
k

= faktor tetesan (tetes/mL infus set)

d. Pengenceran
Rumus yang umum digunakan :
P1 . V1 = P2 . V2 atau V1 . M1 = V2 . M2 = Persen
Ket :
V = Volume
e.

M = Molaritas

Satuan dosis yang sering digunakan dalam farmakologi


1) mg dan atau g
2) IU atau UI (internasional unit, unit international) merupakan satuan dosis
untuk obat yang sukar dimurnikan atau ditentukan bobotnya, eg : vaksin,
hormon, dll.
3) Persen (%) dalam mL
Yang dimaksud dengan %, ada beberapa macam yaitu :

Persen b/b (bobot per bobot), berarti jumlah gram zat terlarut dalam 100gram
larutan

Persen b/v (bobot per volume), berarti jumlah gram zat terlarut dalam 100ml
larutan

Persen v/v (volume per volume), berarti jumlah ml zat terlarut dalam 100ml
larutan, dan

Persen v/b (volume per bobot), berarti jumlah ml zat terlarut dalam 100 gram
larutan.

Kecuali dinyatakan lain, % yang dimaksud adalah % b/b

mg/mL (untuk sirup atau larutan)

BAB IV
EFEK SAMPING OBAT
A. Masalah dan Kejadian Efek Samping Obat
Setiap obat mempunyai kemungkinan untuk menyebabkan efek samping, oleh karena seperti
halnya efek farmakologik, efek samping obat juga merupakan hasil interaksi yang kompleks antara
molekul obat dengan tempat kerja spesifik dalam sistem biologik tubuh. Kalau suatu efek
farmakologik terjadi secara ekstrim, inipun akan menimbulkan pengaruh buruk terhadap sistem
biologik tubuh.
Pengertian efek samping dalam pembahasan ini adalah setiap efek yang tidak dikehendaki
yang merugikan atau membahayakan pasien (adverse reactions) dari suatu pengobatan. Efek
samping tidak mungkin dihindari/dihilangkan sama sekali, tetapi dapat ditekan atau dicegah
seminimal mungkin dengan menghindari faktor-faktor risiko yang sebagian besar sudah diketahui.
Beberapa contoh efek samping misalnya:
1.

reaksi alergi akut karena penisilin (reaksi imunologik),

2.

hipoglikemia berat karena pemberian insulin (efek farmakologik yang berlebihan),

3.

osteoporosis karena pengobatan kortikosteroid jangka lama (efek samping karena


penggunaan jangka lama),

4.

hipertensi karena penghentian pemberian klonidin (gejala penghentian obat - withdrawal


syndrome),

5.

fokomelia pada anak karena ibunya menggunakan talidomid pada masa awal kehamilan
(efek teratogenik), dsb.

Masalah efek samping obat dalam klinik tidak dapat dikesampingkan begitu saja oleh karena
kemungkinan dampak negatif yang terjadi, misalnya:
1.

Kegagalan pengobatan,

2.

timbulnya keluhan penderitaan atau penyakit baru karena obat (drug-induced disease atau
iatrogenic disease), yang semula tidak diderita oleh pasien,

3.

pembiayaan yang harus ditanggung sehubungan dengan kegagalan terapi, memberatnya


penyakit atau timbulnya penyakit yang baru tadi (dampak ekonomik),

4.

efek psikologik terhadap penderita yang akan mempengaruhi keberhasilan terapi lebih
lanjut misalnya menurunnya kepatuhan berobat, dll.

Sayangnya tidak semua efek samping dapat dideteksi secara mudah dalam tahap awal,
kecuali bila yang terjadi adalah bentuk-bentuk yang berat, spesifik dan jelas sekali secara klinis.
Golongan umur yang terbanyak mengalami efek samping adalah orang tua. Kelompok ini
umumnya menerima jenis obat cukup banyak, sedangkan respons farmakokinetik dan
farmakodinamik tidak sama.

B. Pembagian Efek Samping Obat

Efek samping obat dapat dikelompokkan/diklasifikasi dengan berbagai cara, misalnya


berdasarkan ada/tidaknya hubungan dengan dosis, berdasarkan bentuk-bentuk manifestasi efek
samping yang terjadi, dsb. Namun mungkin pembagian yang paling praktis dan paling mudah
diingat dalam melakukan pengobatan adalah pembagian seperti pada Tabel 3 berikut.
Tabel 4. Jenis-Jenis Efek Samping Obat
1.

Efek samping yang dapat diperkirakan:


- aksi farmakologik yang berlebihan
- respons karena penghentian obat
- efek samping yang tidak berupa efek farmakologik utama

2.

Efek samping yang tidak dapat diperkirakan:


- reaksi alergi
- reaksi karena faktor genetik
- reaksi idiosinkratik

1.

Efek samping yang dapat diperkirakan


a.

Efek farmakologik yang berlebihan


Terjadinya efek farmakologik yang berlebihan (disebut juga efek toksik) dapat

disebabkan karena dosis relative yang terlalu besar bagi pasien yang bersangkutan.
Keadaan ini dapat terjadi karena dosis yang diberikan memang besar atau karena
adanya perbedaan respons kinetik atau dinamik pada kelompok-kelompok tertentu,
misalnya pada pasien dengan gangguan faal ginjal, gangguan faal jantung, perubahan
sirkulasi darah, usia, genetik dsb., sehingga dosis yang diberikan dalam takaran lazim,
menjadi relatif terlalu besar pada pasien-pasien tertentu. Selain itu efek ini juga bisa
terjadi karena interaksi farmakokinetik maupun farmakodinamik antar obat yang
diberikan bersamaan, sehingga efek obat menjadi lebih besar.
Efek samping jenis ini umumnya dijumpai pada pengobatan dengan depresansia
susunan

saraf

pusat,

obat-obat

pemacu

jantung,

antihipertensi

dan

hipoglikemika/antidiabetika. Beberapa contoh spesifik dari jenis efek samping ini


misalnya:

Depresi respirasi pada pasien-pasien bronkitis berat yang menerima pengobatan


dengan morfin atau benzodiazepin.

Hipotensi yang terjadi pada stroke, infark miokard atau kegagalan ginjal pada
pasien yang menerima obat antihipertensi dalam dosis terlalu tinggi.

Bradikardia pada pasien-pasien yang menerima digoksin dalam dosis terlalu


tinggi.

Palpitasi pada pasien asma karena dosis teofilin yang terlalu tinggi.

Hipoglikemia karena dosis antidiabetika terlalu tinggi.

Perdarahan yang terjadi pada pasien yang sedang menerima pengobatan dengan
warfarin, karena secara bersamaan juga minum aspirin.
Semua pasien mempunyai risiko untuk mendapatkan efek samping karena dosis

yang terlalu tinggi ini, dan upaya pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan
perhatian khusus terhadap kelompok-kelompok pasien dengan risiko tinggi tadi
(penurunan fungsi ginjal, penurunan fungsi hepar, bayi dan usia lanjut). Selain itu
riwayat pasien dalam pengobatan yang mengarah ke kejadian efek samping juga perlu
diperhatikan.
b. Gejala penghentian obat
Gejala penghentian obat (gejala putus obat/withdrawal syndrome) adalah
munculnya kembali gejala penyakit semula atau reaksi pembalikan terhadap efek
farmakologik obat, karena penghentian pengobatan. Contoh yang banyak dijumpai
misalnya:

Agitasi ekstrim, takikardi, rasa bingung, delirium dan konvulsi yang mungkin
terjadi pada penghentian pengobatan dengan depresansia susunan saraf pusat
seperti barbiturat, benzodiazepin dan alkohol,

Krisis addison akut yang muncul karena penghentian terapi kortikosteroid,

Hipertensi berat dan gejala aktivitas simpatetik yang berlebihan karena


penghentian terapi klonidin,

Gejala putus obat karena narkotika.


Reaksi putus obat ini terjadi, karena selama pengobatan telah berlangsung adaptasi

pada tingkat reseptor. Adaptasi ini menyebabkan toleransi terhadap efek farmakologik
obat, sehingga umumnya pasien memerlukan dosis yang makin lama makin besar
(sebagai contoh berkurangnya respons penderita epilepsi terhadap fenobarbital/fenitoin,
sehingga dosis perlu diperbesar agar serangan tetap terkontrol). Reaksi putus obat dapat
dikurangi dengan cara menghentikan pengobatan secara bertahap misalnya dengan
penurunan dosis secara berangsur-angsur atau dengan menggantikan dengan obat
sejenis yang mempunyai aksi lebih panjang atau kurang poten, dengan gejala putus obat
yang lebih ringan.
c.

Efek samping yang tidak berupa efek farmakologik utama


Efek-efek samping yang berbeda dari efek farmakologik utamanya, untuk sebagian

besar obat umumnya telah dapat diperkirakan berdasarkan penelitian-penelitian yang


telah dilakukan secara sistematik sebelum obat mulai digunakan untuk pasien. Efekefek ini umumnya dalam derajad ringan namun angka kejadiannya bisa cukup tinggi.
Sedangkan efek samping yang lebih jarang dapat diperoleh dari laporan-laporan
setelah obat dipakai , dalam populasi yang lebih luas. Sebagai contoh misalnya:

Iritasi lambung yang menyebabkan keluhan pedih, mual dan muntah pada obatobat kortikosteroid oral, analgetika-antipiretika, teofilin, eritromisin, rifampisin,
dll.

Rasa ngantuk (drowsiness) setelah pemakaian antihistaminika untuk anti mabok


perjalanan (motion sickness).

Kenaikan enzim-enzim transferase hepar karena pemberian rifampisin.

Efek teratogenik obat-obat tertentu sehingga obat tersebut tidak boleh diberikan
pada wanita hamil.

Penghambatan agregasi trombosit oleh aspirin, sehingga memperpanjang waktu


pendarahan.

2.

Ototoksisitas karena kinin/kinidin, dsb.

Efek samping yang tidak dapat diperkirakan


a.

Reaksi alergi
Alergi obat atau reaksi hipersensitivitas merupakan efek samping yang sering

terjadi, dan terjadi akibat reaksi imunologik. Reaksi ini tidak dapat diperkirakan
sebelumnya, seringkali sama sekali tidak tergantung dosis, dan terjadi hanya pada
sebagian kecil dari populasi yang menggunakan suatu obat. Reaksinya dapat bervariasi
dari bentuk yang ringan seperti reaksi kulit eritema sampai yang paling berat berupa
syok anafilaksi yang bisa fatal.
Reaksi alergi dapat dikenali berdasarkan sifat-sifat khasnya, yaitu:
1) gejalanya sama sekali tidak sama dengan efek farmakologiknya,
2) seringkali terdapat tenggang waktu antara kontak pertama terhadap obat dengan
timbulnya efek,
3) reaksi dapat terjadi pada kontak ulangan, walaupun hanya dengan sejumlah sangat
kecil obat,
4) reaksi hilang bila obat dihentikan,
5) keluhan/gejala yang terjadi dapat ditandai sebagai reaksi imunologik, misalnya
rash (ruam) di kulit, serum sickness, anafilaksis, asma, urtikaria, angio-edema, dll.
Dikenal 4 macam mekanisme terjadinya alergi, yakni:
1) Tipe I. Reaksi anafilaksis: yaitu terjadinya interaksi antara antibodi IgE pada sel
mast dan leukosit basofil dengan obat atau metabolit, menyebabkan pelepasan
mediator yang menyebabkan reaksi alergi, misalnya histamin, kinin, 5-hidroksi
triptamin, dll. Manifestasi efek samping bisa berupa urtikaria, rinitis, asma
bronkial, angio-edema dan syok anafilaktik. Syok anafilaktik ini merupakan efek
samping yang paling ditakuti. Obat-obat yang sering menyebabkan adalah
penisilin, streptomisin, anestetika lokal, media kontras yang mengandung yodium.
2) Tipe II. Reaksi sitotoksik: yaitu interaksi antara antibodi IgG, IgM atau IgA dalam
sirkulasi dengan obat, membentuk kompleks yang akan menyebabkan lisis sel,

Contohnya adalah trombositopenia karena kuinidin/kinin, digitoksin, dan


rifampisin, anemia hemolitik karena pemberian penisilin, sefalosporin, rifampisin,
kuinin dan kuinidin, dll.
3) Tipe III. Reaksi imun-kompleks: yaitu interaksi antara antibodi IgG dengan
antigen dalam sirkulasi, kemudian kompleks yang terbentuk melekat pada jaringan
dan menyebabkan kerusakan endotelium kapiler. Manifestasinya berupa keluhan
demam, artritis, pembesaran limfonodi, urtikaria, dan ruam makulopapular. Reaksi
ini dikenal dengan istilah "serum sickness", karena umumnya muncul setelah
penyuntikan dengan serum asing (misalnya anti-tetanus serum).
4) Tipe IV. Reaksi dengan media sel: yaitu sensitisasi limposit T oleh kompleks
antigen-hapten-protein, yang kemudian baru menimbulkan reaksi setelah kontak
dengan suatu antigen, menyebabkan reaksi inflamasi. Contohnya adalah dermatitis
kontak yang disebabkan salep anestetika lokal, salep antihistamin, antibiotik dan
antifungi topikal. Walaupun mekanisme efek samping dapat ditelusur dan
dipelajari seperti diuraikan di atas, namun dalam praktek klinik manifestasi efek
samping karena alergi yang akan dihadapi oleh dokter umumnya akan meliputi:
a)

Demam.
Umumnya demam dalam derajad yang tidak terlalu berat, dan akan hilang
dengan sendirinya setelah penghentian obat beberapa hari.

b) Ruam kulit (skin rashes).


Ruam dapat berupa eritema, urtikaria, vaskulitis kutaneus, purpura,
eritroderma dan dermatitis eksfoliatif, fotosensitifitas, erupsi, dll.
c)

Penyakit jaringan ikat.


Merupakan gejala lupus eritematosus sistemik, kadang-kadang melibatkan
sendi, yang dapat terjadi pada pemberian hidralazin, prokainamid, terutama
pada individu asetilator lambat.

d) Gangguan sistem darah.


Trombositopenia, neutropenia (atau agranulositosis), anemia hemolitika, dan
anemia aplastika merupakan efek yang kemungkinan akan dijumpai,
meskipun angka kejadiannya mungkin relatif jarang.
e)

Gangguan pernafasan:
Asma akan merupakan kondisi yang sering dijumpai, terutama karena
aspirin. Pasien yang telah diketahui sensitif terhadap aspirin kemungkinan
besar juga akan sensitif terhadap analgetika atau antiinflamasi lain.

b. Reaksi karena faktor genetik


Pada orang-orang tertentu dengan variasi atau kelainan genetik, suatu obat
mungkin dapat memberikan efek farmakologik yang berlebihan. Efek obatnya sendiri
dapat diperkirakan, namun subjek yang mempunyai kelainan genetik seperti ini yang

mungkin sulit dikenali tanpa pemeriksaan spesifik (yang juga tidak mungkin dilakukan
pada pelayanan kesehatan rutin). Sebagai contoh misalnya:

Pasien yang menderita kekurangan pseudokolinesterase herediter tidak dapat


memetabolisme suksinilkolin (suatu pelemas otot), sehingga bila diberikan obat ini
mungkin akan menderita paralisis dan apnea yang berkepanjangan.

Pasien

yang

mempunyai

kekurangan

enzim

G6PD

(glukosa-6-fosfat

dehidrogenase) mempunyai potensi untuk menderita anemia hemolitika akut pada


pengobatan dengan primakuin, sulfonamida dan kinidin.
Kemampuan metabolisme obat suatu individu juga dapat dipengaruhi oleh faktor
genetik. Contoh yang paling populer adalah perbedaan kemampuan metabolisme
isoniazid, hidralazin dan prokainamid karena adanya peristiwa polimorfisme dalam
proses asetilasi obat-obat tersebut.
Berdasarkan sifat genetik yang dimiliki, populasi terbagi menjadi 2 kelompok,
yakni individu-individu yang mampu mengasetilasi secara cepat (asetilator cepat) dan
individu-individu yang mengasetilasi secara lambat (asetilator lambat). Di Indonesia,
65% dari populasi adalah asetilator cepat, sedangkan 35% adalah asetilator lambat. Pada
kelompok-kelompok etnik/sub-etnik lain, proporsi distribusi ini berbeda-beda. Efek
samping umumnya lebih banyak dijumpai pada asetilator lambat daripada asetilator
cepat. Sebagai contoh misalnya:

neuropati perifer karena isoniazid lebih banyak dijumpai pada asetilator lambat,

sindroma lupus karena hidralazin atau prokainamid lebih sering terjadi pada
asetilator lambat.
Pemeriksaan untuk menentukan apakah seseorang termasuk dalam kelompok

asetilator cepat atau lambat sampai saat ini belum dilakukan sebagai kebutuhan rutin
dalam pelayanan kesehatan, namun sebenarnya prosedur pemeriksaannya tidak sulit,
dan dapat dilakukan di Laboratorium Farmakologi Klinik.
c.

Reaksi idiosinkratik
Istilah idiosinkratik digunakan untuk menunjukkan suatu kejadian efek samping

yang tidak lazim, tidak diharapkan atau aneh, yang tidak dapat diterangkan atau
diperkirakan mengapa bisa terjadi. Untungnya reaksi idiosinkratik ini relatif sangat
jarang terjadi. Beberapa contoh misalnya:

Kanker pelvis ginjal yang dapat diakibatkan pemakaian analgetika secara


serampangan.

Kanker uterus yang dapat terjadi karena pemakaian estrogen jangka lama tanpa
pemberian progestogen

sama sekali.

Obat-obat imunosupresi dapat memacu terjadinya tumor limfoid.

Preparat-preparat besi intramuskuler dapat menyebabkan sarkomata pada tempat


penyuntikan.

Kanker tiroid yang mungkin dapat timbul pada pasien-pasien yang pernah
menjalani perawatan

3.

iodium-radioaktif sebelumnya.

Faktor-Faktor Pendorong Terjadinya Efek Samping Obat


Setelah melihat uraian di atas, maka kemudian dapat diidentifikasi faktor-faktor apa saja

yang dapat mendorong terjadinya efek samping obat. Faktor-faktor tersebut ternyata
meliputi:
a.

Faktor bukan obat


Faktor-faktor pendorong yang tidak berasal dari obat antara lain adalah:

1) Intrinsik dari pasien, yakni umur, jenis kelamin, genetik, kecenderungan untuk
alergi, penyakit, sikap dan kebiasaan hidup.
2) Ekstrinsik di luar pasien, yakni dokter (pemberi obat) dan lingkungan, misalnya
pencemaran oleh antibiotika.
b. Faktor obat
1) Intrinsik dari obat, yaitu sifat dan potensi obat untuk menimbulkan efek samping.
2) Pemilihan obat.
3) Cara penggunaan obat.
4) Interaksi antar obat.
4.

Bagaimana Efek Samping Suatu Obat Ditemukan?


Pada pengembangan suatu obat, calon obat mengalami serangkaian uji/penelitian yang

sistematis dan mendalam, untuk mendukung keamanan dan kemungkinan kemanfaatan


kliniknya sebelum digunakan pada manusia.
Dalam tahap praklinik ini, penelitian-penelitian toksikologik, farmakokinetik dan
farmakodinamik mutlak harus dilakukan secara mendalam, untuk menangkap setiap
kemungkinan efek samping yang dapat terjadi. Bila efek samping terlalu berat relatif
terhadap manfaat yang diharapkan, maka calon obat ini dibatalkan.
Efek samping yang terdeteksi pada uji praklinik dan dalam batas yang masih bisa
ditolerir, merupakan pegangan pada waktu melakukan uji klinik. Namun pada waktu
melakukan uji klinik, masih ada kemungkinan untuk menemukan efek samping lain, yang
tidak dapat terdeteksi pada uji sebelumnya, misalnya keluhan mual, gangguan konsentrasi, dll
mungkin tidak akan bisa terdeteksi dari hewan percobaan.
Dari penelitian-penelitian praklinik dan penelitian klinik tahap awal, umumnya akan
terdeteksi jenis-jenis efek samping yang angka kejadiannya cukup tinggi. Identifikasi efek
samping dari suatu obat tidak akan pernah berhenti, walaupun obat telah diijinkan dipakai
pada pasien.

Pemakaian dalam pengobatan harus selalu diikuti dengan studi-studi maupun cara-cara
tertentu untuk menjaring setiap kemungkinan kejadian efek samping. Cara-cara ini terutama
digunakan untuk mencari efek samping yang jarang namun bisa fatal, yang hanya dapat
dideteksi dari populasi pemakai obat yang lebih besar.
Berbagai cara/studi tersebut antara lain adalah:

Penelitian kohort:
Pengamatan dilakukan secara terus menerus terhadap sekelompok pasien yang sedang
menjalani pengobatan, untuk mengevaluasi efek samping yang mungkin terjadi setelah
pemaparan terhadap obat.

Laporan spontan terhadap kecurigaan terjadinya efek samping:


Laporan ini dibuat oleh dokter, apabila mereka menjumpai efek samping atau
kemungkinan efek samping. Laporan dikirim ke Tim khusus yang menangani masalah
efek samping (di Indonesia kepada Tim Monitoring Efek Samping Obat - Departemen
Kesehatan RI), yang akan mengumpulkan dan menganalisis laporan tersebut.

Penelaahan terhadap statistik vital:


Penelaahan dilakukan oleh ahli epidemiologi, untuk melihat apakah ada data yang ganjil
pada pola epidemiologi penyakit.

Penelitian 'case-control':
Merupakan penelitian retrospektif untuk mengetahui besarnya faktor resiko paparan
pemakaian obat dengan kejadian efek samping obat. Dalam penelitian ini individuindividu dengan efek samping tertentu yang diteliti, dan individu-individu dari
kelompok kontrol, dibandingkan secara retrospektif riwayat penggunaan obat yang
dicurigai.
Masing-masing cara mempunyai keunggulan dan kelemahan, namun hasil dari berbagai

macam studi tersebut akan saling melengkapi satu sama lain.


5.

Upaya Pencegahan dan Penanganan Efek Samping


Saat ini sangat banyak pilihan obat yang tersedia untuk efek farmakologik yang sama.

Masing-masing obat mempunyai keunggulan dan kekurangan masing-masing, baik dari segi
manfaat maupun kemungkinan efek sampingnya.
Satu hal yang perlu diperhatikan adalah, jangan terlalu terpaku pada obat baru, di mana
efek-efek samping yang jarang namun fatal kemungkinan besar belum ditemukan. Sangat
bermanfaat untuk selalu mengikuti evaluasi/penelaahan mengenai manfaat dan risiko obat,
dari berbagai pustaka standard maupun dari pertemuan-pertemuan ilmiah.
Selain itu penguasaan terhadap efek samping yang paling sering dijumpai atau paling
dikenal dari suatu obat akan sangat bermanfaat dalam melakukan evaluasi pengobatan.
a.

Upaya pencegahan

Agar kejadian efek samping dapat ditekan serendah mungkin, selalu dianjurkan
untuk melakukan hal-hal berikut:
1) Selalu harus ditelusur riwayat rinci mengenai pemakaian obat oleh pasien pada
waktu-waktu sebelum pemeriksaan, baik obat yang diperoleh melalui resep dokter
maupun dari pengobatan sendiri.
2) Gunakan obat hanya bila ada indikasi jelas, dan bila tidak ada alternatif nonfarmakoterapi.
3) Hindari pengobatan dengan berbagai jenis obat dan kombinasi sekaligus.
4) Berikan perhatian khusus terhadap dosis dan respons pengobatan pada: anak dan
bayi, usia lanjut, dan pasien-pasien yang juga menderita gangguan ginjal, hepar
dan jantung. Pada bayi dan anak, gejala dini efek samping seringkali sulit dideteksi
karena

kurangnya

kemampuan

komunikasi,

misalnya

untuk

gangguan

pendengaran.
5) Perlu ditelaah terus apakah pengobatan harus diteruskan, dan segera hentikan obat
bila dirasa tidak perlu lagi.
6) Bila dalam pengobatan ditemukan keluhan atau gejala penyakit baru, atau
penyakitnya memberat, selalu ditelaah lebih dahulu, apakah perubahan tersebut
karena perjalanan penyakit, komplikasi, kondisi pasien memburuk, atau justru
karena efek samping obat.
b. Penanganan efek samping
Tidak banyak buku-buku yang memuat pedoman penanganan efek samping obat,
namun dengan melihat jenis efek samping yang timbul serta kemungkinan mekanisme
terjadinya, pedoman sederhana dapat direncanakan sendiri, misalnya seperti berikut ini:
1) Segera hentikan semua obat bila diketahui atau dicurigai terjadi efek samping.
Telaah bentuk dan kemungkinan mekanismenya. Bila efek samping dicurigai
sebagai akibat efek farmakologi yang terlalu besar, maka setelah gejala
menghilang dan kondisi pasien pulih pengobatan dapat dimulai lagi secara hatihati, dimulai dengan dosis kecil. Bila efek samping dicurigai sebagai reaksi alergi
atau idiosinkratik, obat harus diganti dan obat semula sama sekali tidak boleh
dipakai lagi. Biasanya reaksi alergi/idiosinkratik akan lebih berat dan fatal pada
kontak berikutnya terhadap obat penyebab. Bila sebelumnya digunakan berbagai
jenis obat, dan belum pasti obat yang mana penyebabnya, maka pengobatan
dimulai lagi secara satu-persatu.
2) Upaya penanganan klinik tergantung bentuk efek samping dan kondisi penderita.
Pada bentuk-bentuk efek samping tertentu diperlukan penanganan dan pengobatan
yang spesifik. Misalnya untuk syok anafilaksi diperlukan pemberian adrenalin dan
obat serta tindakan lain untuk mengatasi syok. Contoh lain misalnya pada keadaan
alergi, diperlukan penghentian obat yang dicurigai, pemberian antihistamin atau
kortikosteroid (bila diperlukan), dll.

PENGGOLONGAN OBAT PADA SALURAN PENCERNAAN


A. Antitukak
Tukak lambung adalah suatu kondisi patologis pada lambung, deudenum, esofagus bagian
bawah, dan stoma gastroenterostomi (setelah bedah lambung).
Tujuan terapi tukak lambung adalah meringankan atau menghilangkan gejala, mempercepat
penyembuhan, mencegah komplikasi yang serius (hemoragi, perforasi, obstruksi), dan mencegah
kambuh.
Golongan dari Antitukak adalah sebagai berikut:
No
1.

Golongan
Antasida

Zat Aktif
(Nama Generik)
Aluminuim Hidroksida
Antasida DOEN

Kode
ICOPIM
7-300
7-309

Magnesium Karbonat

7-301

Magnesium Trisilikat

7-303

Magnesium Hidrotalsit

7-302

Natrium Bikarbonat
2.

Antagonis
Reseptor H2

Cimetidin

Fomatidin

Nizatidin
Ranitidin

3.

Antimuskarinik
yang Selektif

Pirenzepin

4.

Khelator
Senyawa
Kompleks

Trikalium
Disitratobismutat
Sukralfat

5.

Analog
Prostaglandin

dan

Misoprostol

7-308

Brand Name

Dexanta
Promag
Waisan
Simeco
Saclon
Neoglumin
Neomag
Homag
Sanmag
Talsit
Waisan Forte
Antimaag

Sanmetidin
Tagamet
Ulsikur
Facid
Famocid
Gaster
Axid

Graseric
Radin
Rantin
Gastrozepin
Pirenzepin
De-Nol

Inpepsa
Ulcron
Ulcumaag
Cytotec

6.

Penghambat
Pompa Proton

Omeprazole

Lansoprazol

Pantoprazol

Lambuzol
Loklor
Losec
Betalans
Laz
Prosogan
Pantozol

B. Antispasmodik
Antispasmodik merupakan dolongan obat yang memiliki sifat sebagai relaksan otot polos.
Termasuk dalam kelas ini adalah senyawa yang memiliki efek antikolinergik (lebih tepatnya
antimuskarinik) dan antagonis reseptor-dopamin tertentu.
Golongan dari Antipasmodik adalah sebagai berikut:
No

Golongan

1.

Antimuskarinik

2.

Antispasmodik lain

3.

Stimulan Motilitas

Zat Aktif
(Nama Generic)

Kode
ICOPIM

Atropin Sulfat

7-110

Ekstrak Beladona
Hiosin Butilbromida

7-110
7-111

Propantelin Bromida
Mebeverin
Hidroklorida
Cisaprid

Brand Name

7-112

Buskopan
Buskopan Plus
Gitas
ProBanthine

7-511

Duspatalin

C. Antidiare
Golongan dari Antidiare adalah sebagai berikut:
No

Golongan

Zat Aktif
(Nama Generic)

1.

Oralit

Oralit

2.

Adsorben dan Obat


Pembunuh Massa

Kaolin, ringan

Attapulgit

Kode
ICOPIM

7-351

Karbo Absorben
3.

Antimotilitas

Codein
Co-Fenotrop

Brand Name

Alphatrolit
Aqualyte
Bioralit
Neo Diaform
Neo Kaolana
Neo Entrostop
Neo Koniform
Tapulrae
Karbo Absorben
Norit

Lomotil

6-502

4.

Pengobatan
Kronis

Diare

Loperamid
Hidroklorida

7-352

Morfin

6-501

Sulfasalazin

6-105

Kolesteramin
Hidrokortison

Imomed
Lodia
Lomodium

Sulcolon

Questran

6-200

D. Pencahar
Pencahar adalah obat yang digunakan untuk memudahkan pelintasan dan pengeluaran tinja
dari kolon dan rektum. Pencahar umumnya harus dihindari, kecuali bila ketegangan akan
memperparah suatu kondisi (seperti pada angina) atau meningkatkan resiko pendarahan rektal
(seperti pada hemoroid). Pencahar juga bermanfaat pada konstipasi kerena obat, untuk
pengeluaran parasit setelah pemberian antelmenti, serta untuk membersihkan saluran cerna
sebelum pembedahan dan prosedur radiologi. Penyelahgunaan pencahar dapat menyebabkan
hipokalemia dan atonia kolon sehingga tidak berfungsi.
Golongan dari Pencahar adalah sebagai berikut:
No

Golongan

Zat Aktif
(Nama Generic)

Kode
ICOPIM

Brand Name

Metamucil
Mucofalk
Mulax
Dulcolax
Laxamex
Melaxan

Natrium Dokusat
Glyserin

Natrium Pikosulfat

Laxatab
Glyserin Cap
Gajah
Proconsti
Triolax
Laxoberon

1.

Pencahar
Pembentuk Massa

Ishaghula Sekam

7-331

2.

Pencahar Stimulan

Bisakodil

7-319

Dantron

7-319

3.

Pelunak Tinja

Parafin Liquidum

7-321

Laxadin

4.

Pencahar Osmotik

Laktulosa
Magnesium Sulfat

7-339
7-330

Duphalac
Garam
Inggris
Cap Gajah

E. Antihemoroid
Gatal-gatal, rasa nyeri, dan ekskoriasi di anus dan perianus yang lazim dijumpai pada pasien
hemoroid, fistulas, dan proktitis sebaiknya diobati dengan aplikasi salep dan supositoria.
Pembersihan lokal dengan hati-hati maupun penyesuaian diit guna menghindari tinja yang keras,

serta penggunaan pencahar pembentuk massa seperti bran dan diet residu tinggi juga bermanfaat.
Pada proktitis, tindakan-tindakan ini dapat menambah pengobatan dengan kortikosteroid atau
sulfasalazin.

Golongan dari Antihemoroid adalah sebagai berikut:


No

Zat Aktif
(Nama Generic)

Golongan

1.

Sediaan Pelembut

Bismut

2.

Sediaan Kombinasi
dengan
Kortikosteroid

Kortikostreroid

3.

Sklerosan Rektal

Kode
ICOPIM

6-209

Brand Name

Anusol
Rako
Boraginol-N
Anusol HC
Ultraproct
Boraginal-S

F. Obat dengan Gangguan Sekresi Pencernaan


Golongan dari obat dengan gangguan sekresi pencernaan adalah sebagai berikut:
No
1.

2.

Golongan

Zat Aktif
(Nama Generic)

Obat yang Bekerja


pada Kandung
Empedu

Enzim Pencernaan

Kode
ICOPIM

Brand Name

Asam Kenodeoksikolat

7-341

Chenofalk

Asam Ursodeoksikolat

7-703

Pankreatin

7-340

Estazor
Pramur
Urdafalk
Enzymfort
Excelase
Librozym

PENGGOLONGAN OBAT PADA SALURAN PERNAFASAN


N
o
1

Zat Aktif
(Nama Generic)

Golongan
Antiasma
Bronkodilator

&

Kode
ICOPIM

Teofilin

7-412

Aminofilin

7-570

Brand Name

Asmasolon
Amilex
Bronchophylin
Decafil
Aminofusin TPN
Konisma

Astop
Bromosal
Butasal
Astherin
Bintasma
Brasmatic
Bambec
Foradil
Berotec
Berodual Mdi

Serevent Inhaler
Serevent Rotadisk
Erladrine

Natrium Kromoglikat

Atrovent
Atrovent Udv
Combivent
Beclomet
Becotide
Respocort Autohaler
Inflammide
Pulmicort
Pulmicort Respules
Flixotide Inhaler
Flixotide Rotadisk
Intal 5

Nedokromil Natrium

Tylade Syncroner

Ketotifen

Intifen
Nortifen
Profilas
Semprex

Hismanal
Hispral
Lapihis
Betarhin
Cerini
Incidal OD
Alloris
Anhissen
Clarihis
Alpenaso
Gradane
Hisdane
Zadine

Aficitom
Alleron
Chlorophen

Salbutamol

7-571

Terbutalin

7-578

Bambuterol HCL
Eformoterol Fumarat
Fenoterol Hidrobromida
Salmeterol

Kortikosteroid

Efedrin HCL

7-121

Ipratoprium Bromida

7-578

Beklometason Dipropionat

7-606

Budesonid

Flutikason Propionat
3

Kromoglikat

Antihistamin

Akrivastin
Astemizol

Setirizin Hidroklorid

Loratadin

Terfenadin

Azatadin Maleat
Klorfeniramin Maleat

Antimab
Antimo
Dramamine
Cinnipirine
Sturgeron
Tavegyl

Alphahist
Aprocyn
Apeton
Bestalin
Iterax
Meviran

Oxtin
Tinset
Avil

Camergan
Phenergan
Avopreg

6-304

Homoklorsiklizin
Hidroklorid
Deksklorfeniramin Maleat

Biolergy
Histapan
Interhistin
Comtusi
Doxergan
Homoklomin

6-300

Dexteem
Polamec
Polofar

Brompheniramin Maleat

6-304

Deksbromfeniramin
Maleat
Oksatomid

6-304

Drixoral

Oxtin
Tinset

Meviran

Fliumucil
Fluimucil Pediatric
Pectocil
Broncholit
Muciclar
Mucocil
Ambril
Berea
Bronchopront
Codipront
Codipront Cum
Expectorant

Dimenhidrinat

6-305

Sinarizin
Klemastin
Siproheptadin HCL

Hidroksizin Hidroklorid
Mequitazin
Oksatomid
Feniramin Maleat

6-302

Prometazin Hidroklorid

6-911

Prometazin

6-911

Teoklat
Mebhidrolin Napadisilat

Oksomemazin

Mequitazin
5

Mukolitik

Asetilsistein

7-553

Karbosisetein

Ambroxol

Antitusif

Codein

6-502

7
8

Dekongestan
Ekspektoran

7-561

Romilar
Zenidex
Sudafed

Fenilpropanolamin

7-700

Rhinergal

Gliseril Guaiakolat

7-550

Deksbromfeniramin

6-304

Woods Pepermint
Versaldex
Pyril
Drixoral

Tripelenamin

6-305

Etil Morfin

6-502

Neobronco
Piristina
Dionin Cough

Doveri
Pulvis Doveri
Longatin
Mercotine
Neocodin
Peracon

Bredon

Selvigon

Sinecod

Dekstrometorfan

7-548

Pseudoefedrin HCL

Alkaloida
morphin

opium

&

Noscapin

6-502

Isoaminil

7-548

Oksolamin
Pipazetat

7-548

Butamirat

PENGGOLONGAN OBAT PADA ANTIBIOTIKA


Antibiotik adalah zat yang dihasilakn oleh mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat
pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain. Sedangkan antimikroba yaitu obat yang
membasmi mikroba khusunya mikroba yang merugikan manusia. Penggunaan antibiotik
didasarkan pada:
A. Penyebab infeksi
Proses pemberian antibiotik yang paling baik adalah dengan melakukan pemeriksaan
mikrobiologis dan uji kepekaan kuman. Namun pada kenyataannya, proses tersebut tidak dapat
berjalan karena tidak mungkin melakukan pemeriksaan kepada setiap pasien yang datang karena
infeksi, dank arena infeksi yang berat perlu penanganan segera maka pengambilan sample bahan
biologik untuk pengembangbiakan dan pemeriksaan kepekaan kuman dapat dilakukan setelah
dilakukannya pengobatan terhadap pasien yang bersangkutan.
B. Faktor pasien
Faktor pasien yang perlu diperhatikan dalam pemberian antibiotik adalah fungsi organ tubuh
pasien yaitu fungsi ginjal, fungsi hati, riwayat alergi, daya tahan terhadap infeksi (status
imunologis), daya tahan terhadap obat, beratnya infeksi, usia, untuk wanita apakah sedang hamil
atau menyusui dan lain-lain.

C. Fungsi Antibiotika
Antibiotika digunakan untuk mengobati berbagai infeksi akibat kuman atau juga untuk
prevensi infeksi, misalnya pada pembedahan besar. Secara provilaksis juga diberikan kepada
pasien dengan sendi dan klep jantung buatan, juga sebelum cabut gigi.
Mekanisme kerja yang terpenting pada antibiotika adalah perintangan sintesa protein, sehingga
kuman musnah atau tidak berkembang lagi tanpa merusak jaringan tuan rumah. Selain itu,
beberapa antibiotika bekerja terhadap dinding sel dan membran sel. Namun antibiotika dapat
digunakan sebagai non-terapeutis, yaitu sebagai stimulans pertumbuhan pada binatang ternak.

D. Penggunaan Antibiotik untuk Profilaksis


Profilaksis antibiotik diperlukan dalam keadaan sebagai berikut:
1) Untuk melindungi seseorang yang terpajan kuman tertentu.
2) Mencegah endokarditis pada pasien yang mengalami kelainan katup jantung atau defek
septum yang akan menjalani prosedur dengan resiko bakteremia, misalnya ekstraksi
gigi, pembedahan dan lain-lain.
3) Untuk kasus bedah, profilaksis diberikan untuk tindakan bedah tertentu yang sering
disertai infeksi pasca bedah atau yang berakibat berat bila terjadi infeksi pasca bedah.
E. Antibiotik Kombinasi
Antibiotik kombinasi diberikan untuk 4 indikasi utama:
1) Pengobatan infeksi campuran, misalnya pasca bedah abdomen.
2) Pengobatan awal pada infeksi berat yang etiologinya belum jelas, misalnya sepsis,
meningitis purulenta.
3) Mendapatkan efek sinergi.
4) Memperlambat timbulnya resistensi, misalnya pada pengobatan tuberkulosis.
Golongan dari Antibiotik adalah sebagai berikut:
No
1.

Klasifikasi
Penisilin
(6-349)

Zat Aktif
(Nama Generic)

Kode
ICOPIM

Benzatin Penisilin G

6-000

Phenoxymethyl
Penicilline

6-002

Kloksalisin

Flucloxacillin

6-003

Ampicilin

6-004

Brand Name

Prokain Penisilin G
Penadur LA
Fenocin
Ospen
Ven Pee
Meixam
Ikaclox
Orbenin
Alclomex
Floxapen
Dexypen
Kalpicilin
Bimapen

Abdimox
Alphamox
Amobiotic
Bacacil

Amocomb
Ancla
Augmentin
Pivamex
Timentin
Ledercil

Sulbenisilin

Kedacilin

Cefaclor

Capabiotic
Ceclor Cloracef

Cefadroxil

Sefrozil

Alxil
Bidicef
Biodroxil
Cefspan
Ceptik
Comsporin
Cefzil

Sefodizim

Modivid

Cefotaxime

Clacef
Claforan
Clatax
Cefrom

Ceftum
Fortum
Cedax

Broadcef
Elpicef
Rochephin
Anbacim
Cefurox
Cethixim
Cefabiotic
Ospexin
Pralexin
Dardokef
Dofacef
Ceficin
Dynacef
Velocef

Cefazolin

Cefacidal

Sefpodoksim

Banan

Aztreonam
Imipenem

Azactam
Tienam

Amoksisilin

6-004

Bakampisilin
Co Amoksiklav

Pivampisilin
Tikarsilin
Piperasilin
2.

Sefalosporin
(6-059)

6-164

Sefiksim

Sefpirom
Ceftazidime
Seftibutem
Ceftriaxone

Sefuroxime

Cephalexin

6-052

Sefamandol
Cephradin

Antibiotik
Betalaktam

6-059

6-901

3.

4.

Meronem

6-040

Dimeklosiklin
Hidroklorida
Doxycycline

Bimatra
Camicyclin
Combicyclin
Ledermycin

6-043

Minosiklin

6-049

Dotur
Doxin
Dumoxin
Minocin

Oxytetracycline

6-042

Teramycyn

Amikasin

6-069

Gentamisin

6-082

Kanamycin

6-069

Alostil
Amikin
Ethigent
Garabiotic
Garamycin
Kanamycin Meiji

Neomisin Sulfat

7-600

Almocyn

Netromycin C

Dartobcin
Tobryne
Alphathrocin
Bannthrocin
Camitrocin
Aztrin
Mezatrin
Zifin
Abbotic
Clambiotic
Claros
Anbiolid
Ixor
Makrodex
Hypermisin
Osmysin
Rovadin
Negram
Urineg
Impresial
Urinter
Urixin
Akilen
Betaflox
Danoflox
Amanita
Lexinor
Nopratik

Lainnya

Meropenem

Tetrasiklin
(6-040)

Tetrasiklin

Aminoglikosida
(6-638)

Netilmisin

5.

Makrolid
(6-482)

Tobramisin

6-089

Erytromisin

6-030

Azitromisin

Klaritromisin

Roksitromisin

6.

Kuinolon
(6-139)

Spiramisin

6-032

Asam Nalidiksat

6-190

Asam Pipemidat

Ofloksasin

Norfloksasin

Pefloksasin

Baquinor
Bernoflox
Bidiprox
Peflacine

Fleroksasin

Quinodis

Sparfloksasin

Zagam

Levofloksasin

Cravit
Reskuin
Tobyprim
Trisoprim

Abatrim
Bactoprim
Bactricid

Sulcolon
Camicetine
Chloramex
Colme
Biothicol
Comthycol
Corsafen
Albiotin
Ancrocid
Cindala
Biolincom
Lincobiotic
Lincocin
Ladervan

Ciprofloksasin

7.

8.

Sulfonamide
(6-109)
dan
Trimetropim
(6-148)

Antibiotik Lain

Trimetoprim

6-148

Cotrimoksazol

6-193

Sulfadiazin

6-102

Sulfadimidin

6-102

Sulfasalazin

6-105

Linkomisin

6-039

Vankomisin

6-081

Spektinomisin

6-069

Trobicin

Colistine

Kloramfenikol

Tiamfenikol

Klindamisin

Kolistin

BAB V
PERAN KOLABORATIF PERAWAT DALAM PELAKSANAAN
PRINSIP FARMAKOLOGI
A. Pendahuluan
Keberhasilan terapi obat sangat dipengaruhi oleh peran perawat secara kolaboratif dalam
melaksanakan manajemen terapi obat. Manajemen terapi obat dilaksanakan dengan cara
melakukan proses keperawatan secara maksimal.
1.

Peran
Tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai dengen

kedudukan dalam sistem, dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial dari profesi perawat maupun
dari luar profesi keperawatan yang bersifat konstan (Hidayat, A.A, 2007).
Peran dalam pemberian obat :

Independen

Interdependen

Dependen

Peneliti

2.

Proses keperawatan
Proses adalah serangkaian tahapan atau komponen yg mengarah pada pencapaian

tujuan. Sedangkan tujuan adalah maksud spesifik atau tujuan dari proses. Proses keperawatan
merupakan suatu pendekatan untuk pemecahan masalah yang memampukan perawat untuk
mengatur dan memberikan asuhan keperawatan.
3.

Asuhan keperawatan
Suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang diberikan kepada

klien dengan menggunakan proses keperawatan berpedoman pada standar keperawatan,


dilandasi etika dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab keperawatan.
Tugas perawat tidak sekedar memberikan pil untuk diminum atau injeksi obat melalui
pembuluh darah, namun juga mengobservasi respon klien terhadap pemberian obat tersebut.
Oleh karena itu, pengetahuan tentang manfaat dan efek samping obat sangat penting untuk
dimiliki perawat.

Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan mempertahankan dengan
mendorong klien untuk proaktif jika membutuhkan pengobatan. Dengan demikian, perawat
membantu klien membangun pengertian yang benar dan jelas tentang pengobatan,
mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan, dan turut bertanggung jawab dalam
pengambilan keputusan tentang pengobatan bersama tenaga kesehatan lainnya.
Keberhasilan promosi kesehatan sangat tergantung pada cara pandang klien sebagai
bagian dari pelayanan kesehatan, yang juga bertanggung jawab terhadap menetapkan pilihan
perawatan dan pengobatan, baik itu berbentuk obat alternative, diresepkan oleh dokter, atau
obat bebas tanpa resep dokter. Sehingga, tenaga kesehatan terutama perawat harus dapat
membagi pengetahuan tentang obat-obatan sesuai dengan kebutuhan klien.
B. Asuhan Keperawatan dalam Bidang Farmakologi
1. PENGKAJIAN
a. Riwayat medis
Riwayat medis memberi indikasi atau kontraindikasi terhadap terapi obat. Penyakit
atau gangguan membuat klien berisiko terkena efek samping yang merugikan. Contoh,
jika seorang klien mengalami ulkus lambung atau cenderung mengalami perdarahan
maka senyawa yang mengandung aspirin atau antikoagulasi akan meningkatkan
kemungkinan perdarahan.
Masalah kesehatan jangka panjang, misalnya diabetes atau arthritis, yang
membutuhkan pengobatan, memberi perawat informasi tentang tipe obat yang sedang
klien gunakan. Riwayat pembedahan klien dapat mengindikasikan obat yang digunakan.
Contoh, setelah tiroidektomi, seorang klien mungkin membutuhkan penggantian
hormon. Dari riwayat ini, perawat dapat meminta supaya klien diresepkan obat yang
rutin digunakan (contoh, Synthroid dan obat antihipertensi), jika obat-obat tersebut
belum diresepkan saat klien datang.
b. Riwayat alergi
Apabila

klien

memiliki

riwayat

alergi

terhadap

obat,

perawat

harus

menginformasikan anggota tim kesehatan lain. Alergi terhadap makanan juga harus
didokumentasikan dengan cermat karena banyak obat mengandung unsur yang
terkandung dalam sumber makanan. Salah satu contoh adalah kerang. Apabila klien
alergi terhadap kerang maka klien akan sensitif terhadap produk yang mengandung
yodium. Di sebuah rumah sakit, klien mengenakan pita identifikasi yang memuat daftar
alergi obat. Semua alergi harus dicatat pada catatan penerimaan klien, catatan medis,
dan riwayat medis.
c.

Data obat
Perawat mengkaji informasi tentang setiap obat, termasuk kerja, tujuan, dosis

normal, rute pemberian, efek samping, dan implikasi keperawatan dalam pemberian dan
pengawasan obat. Pertanyaan umum yang perlu dipikirkan antara lain : Apakah ini
dosis terkecil yang mungkin diprogramkan (pertanyaan yang berkaitan dengan lansia),

Dapatkah obat tertentu berinteraksi dengan obat lain yang sedang digunakan, dan
Adakah instruksi khusus tentang pemberian obat?
Beberapa sumber seringkali harus dikonsultasikan untuk memperoleh keterangan
yang dibutuhkan. Buku farmakologi, jurnal keperawatan, Physicians Desk Reference,
lembar sisipan obat, dan ahli farmasi merupakan sumber yang berharga. Perawat
bertanggung jawab untuk mengetahui sebanyak mungkin informasi tentang obat yang
diberikan. Banyak mahasiswa keperawatan menyiapkan atau membeli kartu dan/atau
buku yang memuat keterangan obat untuk mereka gunakan sebagai rujukan cepat.
d. Riwayat diet
Riwayat diet memberi keterangan tentang pola makan dan pilihan makanan klien.
Perawat kemudian dapat merencanakan penjadwalan dosis obat yang lebih efektif dan
menganjurkan klien menghindari makanan yang dapat berinteraksi dengan obat.
e.

Kondisi klien terkini


Status fisik dan mental klien yang berkesinambungan dapat menentukan apakah

obat sebaiknya diberikan dan cara pemberian obat. Contoh, perawat memeriksa tekanan
darah sebelum memberi sebuah obat antihipertensi. Apabila klien mual, kemungkinan ia
tidak dapat menelan tablet. Temuan pengkajian dapat juga memberi data dasar dalam
mengevaluasi efek terapi obat.
f.

Persepsi klien atau masalah koordinasi


Klien yang fungsi persepsi dan koordinasinya terbatas kemungkinan sulit

menggunakan obat secara mandiri. Perawat harus mengkaji kemampuan klien dalam
mempersiapkan dosis dan menggunakan obat dengan benar. Apabila klien tidak mampu
menggunakan obat dengan mandiri, perawat dapat mempelajari apakah ada anggota
keluarga atau teman yang dapat membantu.
g.

Sikap klien terhadap penggunaan obat


Sikap klien terhadap obat menunjukkan tingkat ketergantungannya pada obat.

Klien seringkali enggan mengungkapkan perasaannya tentang obat, khususnya jika ia


mengalami ketergantungan obat. Untuk mengkaji sikap klien, perawat perlu
mengobservasi perilaku klien yang mendukung bukti ketergantungan obat.
h. Pengetahuan klien dan pemahaman tentang terapi obat
Pengetahuan klien dan pemahaman tentang terapi obat memengaruhi keinginan
atau kemampuanya dalam mengikuti suatu program pengobatan. Apabila klien tidak
memahami tujuan obat, penjadwalan dosis yang teratur, metode pemberian yang tepat,
efek samping yang mungkin timbul memungkinkan klien tidak mematuhi program
pengobatan. Ketika mengkaji pengetahuan klien tentang sebuah obat, perawat perlu
mengajukan beberapa pertanyaan kepada klien:
1.

Apa guna obat tersebut?

2.

Bagaimana dan kapan Anda menggunakannya?

3.

Apa efek samping yang pernah timbul?

4.

Pernahkah Anda menghentikan penggunaan obat?


5.

Apakah ada hal lain yang tidak Anda pahami dn ingin Anda ketahui tentang obat
tersebut?

Apabila riwayat tingkat kepatuhan klien rendah, perawat sebaiknya juga memeriksa
sumber yang dapat klien manfaatkan untuk membeli obat.
i.

Kebutuhan pembelajaran klien


Dengan mengkaji tingkat pengetahuan klien tentang sebuah obat, perawat

menetapkan instruksi yang klien perlukan. Perawat mungkin perlu menjelaskan kerja
dan tujuan obat, efek samping yang akan timbul, teknik pemberian obat yang benar, dan
cara mengingat jadwal obat. Apabila seorang klien diresepkan suatu obat baru, instruksi
tertentu harus diberikan. Teman atau anggota keluarga mungkin perlu dilibatkan.
Secara singkat pengkajian dapat meliputi,
Data Subjektif

1.

Riwayat kesehatan sekarang

2.

Pengobatan sekarang

3.

Riwayat kesehatan dahulu

4.

Lingkungan klien

5.

Tanyakan obat-obat yang diresepkan,

pemakaian vitamin, pil KB, aspirin/

asetaminofen, antihistamin/ dekongestan, kafein, & nikotin


Data Objektif

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan Fisik

Merupakan data dasar untuk perbandingan yang akan datang.


Pusatkan perhatian pada gejala-gejala dan organ-organ yang kemungkinan besar
terpengaruh oleh terapi obat.
2.

DIAGNOSA
Pengkajian memberi data tentang kondisi klien, kemampuannya dalam menggunakan

obat secara mandiri, dan pola penggunaan obat. Semua ini dapat digunakan untuk
menentukan masalah aktual atau potensial pada terapi obat. Perawat mengelompokkan
batasan karakteristik untuk menegakkan diagnosa keperawatan yang akurat.
Diagnosa keperawatan yang sering berkaitan dengan terapi obat antara lain,
(berdasarkan Nanda International: Diagnosis Keperawatan 2009-2011):
a.

Domain 1: Promosi Kesehatan;

Kelas 2: Manajemen Kesehatan


1) Ketidakefektifan manajemen kesehatan diri
Batasan karakteristik:
Kegagalan untuk mencakupkan kebiasaan pengobatan ke dalam kehidupan seharihari
Kegagalan untuk melakukan tindakan untuk mengurangi faktor risiko
Mengungkapkan kesulitan dalam regimen yang ditetapkan
Mengungkapkan keinginan untuk mengatasi penyakit
Membuat pilihan dalam ketidakefektifan hidup sehari-hari untuk memenuhi tujuan
kesehatan
Faktor yang berhubungan:
a) Kompleksitas regimen terapeutik
b) Kesulitan ekonomi
c) Pola perawatan kesehatan keluarga
d) Kurang pengetahuan
e) Kurang dukungan sosial
2) Ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik keluarga
Batasan karakteristik:
Akselerasi gejala penyakit dari anggota keluarga
Ketidaktepatan aktivitas keluarga untuk memenuhi tujuan kesehatan
Kegagalan untuk melakukan tindakan untuk mengurangi faktor risiko
Kurang perhatian pada penyakit
Mengungkapkan keinginan untuk menangani penyakit
Mengungkapkan kesulitan dengan regimen yang ditetapkan
Faktor yang berhubungan:
a) Kerumitan regimen terapeutik
b) Konflik keputusan
c) Kesulitan ekonomi
d) Banyak tuntutan
e) Konflik keluarga
f) Kerumitan sistem pelayanan kesehatan
b.

Domain 2: Nutrisi;
Kelas 4: Metabolisme
1) Risiko gangguan fungsi hati
Faktor risiko:
a) Medikasi hepatotoksik (mis., asetaminofen, statin)
b) Penyalahgunaan zat (mis., alkohol, kokain)
Kelas 5: Hidrasi
2) Risiko kekurangan volume cairan
Faktor risiko: medikasi (mis., diuretik)

c.

Domain 3: Eliminasi dan Pertukaran;


Kelas 1: Fungsi urinarius
1) Inkontinensia urinarius aliran berlebih
Batasan karakteristik:
Distensi kandung kemih
Volume residu pasca-berkemih tinggi
Nokturia
Terlihat rembesan involunter sedikit volume urin

Melaporkan rembesan involunter sedikit volume urin


Faktor yang berhubungan:
a) Efek samping obat kolinergik
b) Efek samping penyekat saluran kalsium
c) Efek samping obat dekongestan

2) Inkontinensia urinarius dorongan


Batasan karakteristik:
Terlihat tidak mampu mencapai toilet pada waktunya untuk menghindari keluarnya
urin
Melaporkan dorongan berkemih
Melaporkan keluarnya urin involunter dengan kontraksi kandung kemih
Melaporkan keluarnya urin involunter dengan spasme kandung kemih
Melaporkan ketidakmampuan mencapai toilet pada waktunya untuk mengeluarkan
urin
Faktor yang berhubungan:
a) Asupan alkohol
b) Asupan kafein
c) Penggunaan diuretik
Kelas 2: Fungsi gastrointestinal
3) Konstipasi
Batasan karakteristik:
Anoreksia
Perubahan pola defekasi
Penurunan frekuensi
Penurunan volume feses
Distensi abdomen
Feses keras dan berbentuk
Sakit kepala
Mual
Mengejan pada saat defekasi
Tidak dapat mengeluarkan feses
Faktor yang berhubungan: Farmakologis
a) Antasida mengandung aluminium
b) Antikolinergik
c) Antikonvulsan
d) Antidepresan
e) Agens antilipemik
f) Garam bismuth
g) Kalsium karbonat
h) Penyekat saluran kalsium
i) Diuretik
j) Garam besi
k) Kelebihan dosis laksatif
l) Agen antiinflamasi nonsteroid
m) Opiate
n) Fenotiazid
o) Sedatif

p) Simpatomimetik
4) Diare
Batasan karakteristik:
Nyeri abdomen
Sedikitnya 3 kali buang air besar cair per hari
Kram
Bising usus hiperaktif
Ada dorongan
Faktor yang berhubungan: Situasional
a) Efek samping medikasi
b) Penyalahgunaan laksatif
c) Penyalahgunaan alkohol
d) Radiasi
5) Disfungsi motilitas gastrointestinal
Batasan karakteristik:
Tidak ada flatus
Kram abdomen
Distensi abdomen
Nyeri abdomen
Perubahan bising usus (mis., tidak ada, hipoaktif, hiperaktif)
Diare
Mual
Muntah
Faktor yang berhubungan: Agen farmaseutikal (mis., narkotik/opiate, laksatif,
antibiotik, anestesi)
d.

Domain 4: Aktivitas/Istirahat;
Kelas 1: Tidur/Istirahat
1) Insomnia
Batasan karakteristik:
Afek tampak berubah
Tampak kurang bergairah
Pasien menyatakan sulit tertidur
Pasien menyatakan sulit tidur nyenyak
Pasien menyatakan kurang puas tidur (saat ini)
Pasien menyatakan kurang bergairah
Pasien menyatakan sulit tidur kembali setelah terbangun
Pasien menyatakan gangguan tidur yang berdampak pada keesokan hari
Pasien menyatakan bangun terlalu pagi
Faktor yang berhubungan:
a) Konsumsi alkohol
b) Efek obat/ efek samping obat
Kelas 2: Aktivitas/Latihan
2) Hambatan mobilitas fisik
Batasan karakteristik:
Penurunan waktu reaksi
Kesulitan membolak-balik posisi
Dispnea setelah beraktivitas

Pergerakan gemetar
Pergerakan lambat
Pergerakan tidak terkoordinasi
Faktor yang berhubungan: Obat

Kelas 4: Respon kardiovaskuler/pulmonal


3) Risiko perdarahan
Faktor risiko:
Efek samping terkait terapi (mis., pembedahan, pemberian obat, pemberian produk
darah, kemoterapi)
4) Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak
Faktor risiko:
Efek samping terkait terapi (obat)
5) Risiko ketidakefektifan perfusi gastrointestinal
Faktor risiko:
Efek samping terkait terapi (medikasi, anestesia)
6) Risiko ketidakefektifan perfusi ginjal
Faktor risiko:
Efek samping terkait terapi (obat)
e.

Domain 5: Persepsi/Kognisi
Kelas 4: Kognisi
1) Risiko konfusi akut
Faktor risiko:
a) Demensia
b) Medikasi/obat: Anestesia, Antikolinergik, Difenhidramin, Medikasi multipel,
Opioid, Psikoaktif
c) Usia di atas 60 tahun
d) Penyalahgunaan zat
2) Defisiensi pengetahuan
Batasan karateristik:
Perilaku hiperbola
Ketidakakuratan mengikuti perintah
Ketidakakuratan performa uji
Perilaku tidak tepat (mis., histeria, bermusuhan, agitasi, apatis)
Pengungkapan masalah
Faktor yang berhubungan:
a) Keterbatasan kognitif
b) Salah interpretasi informasi
c) Kurang pajanan
d) Kurang minat dalam belajar
e) Kurang dapat mengingat
f) Tidak familier dengan sumber informasi
3) Kerusakan memori
Batasan karakteristik:
Mengalami lupa
Lupa melakukan perilaku pada waktu yang telah dijadwalkan
Ketidakmampuan menentukan apakah perilaku tertentu telah dilakukan

Ketidakmampuan mempelajari informasi baru


Faktor yang berhubungan: gangguan neurologis

Kelas 5: Komunikasi
4) Hambatan komunikasi verbal
Batasan karakteristik:
Tidak ada kontak mata
Tidak bicara
Dispnea
Ketidaktepatan verbalisasi
Pelo
Kesulitan memahami pola komunikasi yang biasa, dll
Faktor yang berhubungan: efek samping obat
f.

Domain 10: Prinsip-prinsip hidup


Kelas 3: Nilai/Keyakinan/Keselarasan atau kesesuaian tindakan
1) Ketidakpatuhan
Batasan karakteristik:
Perilaku menunjukkan individu gagal mematuhi ketetapan
Terjadi perkembangan komplikasi
Terdapat perburukan gejala
Gagal mengalami perkembangan kesehatan
Faktor yang berhubungan:
a) Dorongan motivasi
b) Keyakinan kesehatan
c) Pengaruh kebudayaan
d) Keterampilan penyuluhan dari penyedia layanan kesehatan
e) Biaya
f) Durasi
g) Keterlibatan anggota dalam rencana kesehatan

g.

Domain 11: Keamanan/Perlindungan


Kelas 1: Infeksi
1) Risiko infeksi
Faktor risiko:
prosedur invasif
agen farmasis/obat(mis., imunosupresan)
Kelas 2: Cedera fisik
2) Risiko aspirasi, faktor risiko: pemberian medikasi
3) Risiko jatuh
Faktor risiko: Medikasi
Inhibitor angiotensin-converting enzyme (ACE)
Penggunaan alkohol
Agen antiansietas
Agen antihipertensi
Diuretik
Hipnotik
Narkotik/opiat
Obat penenang
Antidepresan trisiklik

4) Risiko cedera
Faktor risiko:
Eksternal: Zat kimia (mis., racun, polutan, obat, agen farmasis, alkohol, nikotin,
pengawet, kosmetik)
Internal: Disfungsi imun-autoimun
5) Kerusakan membran mukosa oral
Batasan karakteristik:
Lidah berwarna putih
Deskuamasi
Kesulitan bicara
Kesulitan makan
Kesulitan menelan
Rasa tidak nyaman pada mulut
Lesi pada mulut
Nyeri mulut
Ulkus pada mulut
Melaporkan sensasi yang tidak enak di dalam mulut
Stomatitis
Bercak putih
Faktor yang berhubungan:
a) Kemoterapi
b) Iritan kimia (mis., alkohol, obat, penggunaan inhaler atau agen berbahaya lain
secara teratur)
c) Efek samping obat
6) Ketidakefektifan perlindungan
Batasan karakteristik:
Gangguan koagulasi
Anoreksia
Menggigil
Batuk
Penurunan imunitas
Disorientasi
Dispnea
Letih
Imobilitas
Gangguan penyembuhan
Insomnia
Gatal
Respon stres maladaptif
Gangguan neurosensorik
Berkeringat
Ulkus dekubitus
Gelisah
Lemah
Faktor yang berhubungan:
a) Penyalahgunaan alkohol
b) Terapi obat (mis., antineoplastik, kortikosteroid, imun, antikoagulan, trombolitik)

c)

Terapi (radiasi)

7) Kerusakan integritas kulit


Batasan karakteristik:
Kerusakan lapisan kulit
Gangguan permukaan kulit
Invasi struktur tubuh
Faktor yang berhubungan: Eksternal
a) Zat kimia
b) Medikasi
c) Radiasi
8) Risiko trauma vaskuler
Faktor risiko:
a) Kecepatan infus
b) Tempat pemasangan
c) Lama waktu pemasangan
d) Sifat larutan (mis., konsentrasi, iritan kimia, suhu, pH)
3.

PERENCANAAN
Tahap perencanaan dari proses keperawatan ditandai dengan penetapan tujuan atau hasil

yang diharapkan. Kriteria tujuan perencanaan yang efektif yaitu:


Spesifik : berpusat pada klien dan jelas menunjukkan perubahan yang diharapkan
Measurable : dapat diukur (memungkinkan perawat untuk secara objektif mengukur
perubahan dalam status klien
Realistik : memperhtikan sumber yang tersedia untuk mencapai hasil yang diperkirakan
Achievable : menentukan kemajuan dengan kecepatan jelas
Time : menunjukkan kapan respons yang diharapkan harus terjadi
4.

IMPLEMENTASI
Fase penerapan meliputi tindakan keperawatan yang perlu untuk mencapai tujuan yang

telah ditetapkan. Implementasi farmakologi dalam keperawatan dibagi 2, yaitu :


a.

Pemberian obat & pengkajian efek obat terhadap klien (pelajari prinsip pemberian
obat).

b.

Penyuluhan & pengajaran kepada klien.

Meningkatkan kepatuhan klien terhadap aturan terapi obat adalah komponen yang penting
dalam pendidikan kesehatan.
a.

Pendidikan kesehatan

Prinsip : merupakan proses yang terus menerus.


Persiapan :
1) Kaji kebutuhan klien akan pengajaran.
2) Kaji motivasi & minat klien terhadap pengajaran.

Jadilah pendengar & pengamat yang aktif untuk klien.

b. Pengajaran efektif
1) Lingkungan tenang dan bebas dari hal-hal yang dapat mengganggu perhatian.
2) Informasi menarik, sesuai minat dan sesuai dengan pengertian klien.
3) Mengikutsertakan anggota keluarga atau teman dalam rencana pengajaran.
4) Menggunakan media yang melibatkan perangsangan beberapa indera dan
partisipasi aktif klien.
5) Meminta klien dan keluarga untuk mendemonstrasikan kembali yang telah
diajarkan.
c.

Terapi obat yang efektif dan aman hanya dapat dicapai bila pasien
mengetahui seluk beluk pengobatan serta kegunaanya.
Untuk itu sebelum pasien pulang ke rumah, perawat perlu memberikan KIE

kepada pasien maupun keluarga tentang :


1.

Nama obatnya.

2.

Kegunaan obat itu.

3.

Jumlah obat untuk dosis tunggal.

4.

Jumlah total kali minum obat.

5.

Waktu obat itu harus diminum (sebelum atau sesudah makan, antibiotik tidak
diminum bersama susu)

6.

Untuk berapa hari obat itu harus diminum.

7.

Apakah harus sampai habis atau berhenti setelah keluhan menghilang.

8.

Rute pemberian obat.

9.

Kenali jika ada efek samping atau alergi obat dan cara mengatasinya

10. Jangan mengoperasikan mesin yang rumit atau mengendarai kendaraan bermotor
pada terapi obat tertentu misalnya sedatif, antihistamin.
11. Cara penyimpanan obat, perlu lemari es atau tidak
12. Setelah obat habis apakah perlu kontrol ulang atau tidak
d. Pedoman KIE Perawat kepada Pasien atau Keluarga
Kepatuhan terjadi bila aturan pakai obat yang diresepkan serta pemberiannya di
rumah sakit diikuti dengan benar. Jika terapi ini akan dilanjutkan setelah pasien pulang,
penting agar pasien mengerti dan dapat meneruskan terapi itu dengan benar tanpa
pengawasan. Ini terutama penting untuk penyakit-penyakit menahun, seperti asma,
artritis rematoid, hipertensi, TB, diabetes melitus, dan lain-lain.
e.

Mengapa Pasien Tidak Patuh dalam Meminum Obatnya ?

1.

Kurang pahamnya pasien terhadap tujuan pengobatan itu.

2.

Tidak mengertinya pasien tentang pentingnya mengikuti aturan pengobatan yang


ditetapkan sehubungan dengan prognosisnya.

3.

Sukarnya memperoleh obat tersebut di luar rumah sakit.

4.

Mahalnya harga obat.

5.

Kurangnya kepedulian dan perhatian keluarga yang mungkin bertanggungjawab


atas pemberian obat itu kepada pasien.

f.

Faktor-faktor yang sering ditemukan dalam ketidakpatuhan:

1.

Lupa

2.

Kurang pengetahuan

3.

Efek samping

4.

Rendah hati

5.

Depresi

6.

Kurangnya kepercayaan terhadap sistem asuhan keperawatan

7.

Persoalan keluarga

8.

Hambatan bahasa

9.

Tingginya biaya pengobatan

10. Ansietas
11. Kurang motivasi
5.

EVALUASI

Kaji ulang bersama klien & keluarga mengenai kebutuhan untuk perawatan tindak lanjut,
jika dibutuhkan.
Dorong untuk menentukan pilihan-pilihan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
Rujuk klien kepada SDM, sesuai dengan kebutuhan.
Efektivitas pendidikan kesehatan mengenai terapi obat dan pencapaian tujuan dinyatakan
pada tahap evaluasi dari proses keperawatan
Evaluasi yang dilakukan akan tercapai tergantung dari waktu spesifik yang ditentukan
pada pernyataan tujuan
Jika tujuan tidak terpenuhi, perawat perlu menentukan penyebabnya dan mengkaji ulang
sesuai dengan sebabnya

Diperlukan adanya penambahan data untuk pengkajian dan lingkup tujuan baru. Jika
tujuan terpenuhi, maka rencana keperawatan telah selesai
C. PRINSIP PEMBERIAN OBAT
Penatalaksanaan Obat
1.

Penyimpanan Obat

2.

Pemberian Obat: Persiapan dan Pelaksanaan (12 Benar)

3.

Evaluasi

Pemberian Obat 12 benar


1.

Klien yang benar

2.

Obat yang benar

3.

Dosis yang benar

4.

Waktu yang benar

5.

Rute yang benar

6.

Benar pendidikan kesehatan perihal medikasi klien

7.

Benar dokumentasi

8.

Hak klien untuk menolak

9.

Benar pengkajian

10. Benar evaluasi


11. Benar reaksi terhadap makanan
12. Benar reaksi dengan obat lain

1.

Benar klien

a. Memeriksa gelang identifikasi


b. Memeriksa papan nama tempat tidur klien
c. Meminta klien menyebutkan namanya
d. Memeriksa rekam medis, kartu obat/ kardeks klien
e. Membedakan klien dengan dua nama yang sama
2.

Benar obat
Periksa apakah perintah pengobatan lengkap dan sah
Komponen perintah pengobatan:

a.

Tanggal & waktu perintah ditulis

b.

Nama obat

c.

Dosis obat

d.

Rute/cara pemberian

e.

Frekuensi pemberian

f.

Tanda tangan dokter/ pemberi asuhan kesehatan


Ketahui alasan mengapa klien menerima obat tersebut
Periksa label sebanyak 3 kali sebelum memberikan obat-obatan: nama obat, tgl
kadaluarsa
Untuk menghindari kesalahan, lebel obat harus dibaca 3 kali, yaitu:
(1) Pada saat melihat botol/kemasan obat
(2) Sebelum menuang obat/menyiapkan obat
(3) Setelah menuang obat/menyiapkan obat
Hati-hati terhadap obat-obat yang bunyinya/ ejaannya mirip, eg: digoksin & digitoksin;
quinidin & quinin; keflex & kantrex; Demerol & dikumarol; percocet & percodan.
4 kategori perintah pemberian obat
(1) Perintah tetap (standing order)

(2) Perintah satu kali (single order)


(3) Perintah PRN (jika perlu)
(4) Perintah STAT (segera)
3.

Benar dosis

Dosis harus sesuai dengan yang diresepkan pada klien tertentu.

Hitung dosis dengan benar. Jika ragu-ragu, dosis obat harus dihitung kembali dan
diperiksa oleh perawat lain.

Pertimbangan variabel penghitungan dosis:

a.
b.
c.
d.
4.

tersedianya obat & dosis yang diresepkan


BB klien
rasio & proporsi
luas permukaan tubuh
Benar waktu

Saat di mana obat yang diresepkan harus diberikan.

Contoh dosis harian:


b.i.d = 2 kali sehari
t.i.d = 3 kali sehari
q.i.d = 4 kali sehari
q6h = setiap enam jam

Berikan obat pada saat yang khusus. jam sebelum/setelah waktu yang tertulis diresep.

Berikan obat-obat, seperti Kalium dan aspirin yang dapat mengiritasi mukosa lambung
bersama-sama dengan makanan.

Adalah tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien telah dijadualkan untuk
pemeriksaan diagnostik, seperti tes darah puasa yang merupakan kontraindikasi
pemeriksaan obat.

Periksa tanggal kadaluarsa obat.

5.

Benar rute/cara
Rute yang sering digunakan dalam pemberian obat:

Oral : cairan, suspensi, pil, tablet, atau kapsul


Sublingual (di bawah lidah untuk absorpsi vena)
Bukal (antara gusi & pipi)
Topikal (permukaan kulit)
Inhalasi (semprot aerosol)
Instilasi (pada hidung, mata, telinga, rektum/vagina)
4 rute parenteral: intradermal, subkutan, intramuskular, intravena.
6.

Benar pendidikan kesehatan perihal medikasi klien

7.

Benar reaksi dengan obat lain

Misal, pada penggunaan obat seperti chloramphenicol berikan dengan omeprazol pada
penggunaan kronis

8.

Benar reaksi terhadap makanan

Obat memiliki efektivitas jika diberikan pada waktu yang tepat. Jika obat itu harus
diminum sebelum makan (ante cimum atau a.c) untuk memperoleh kadar yang
diperlukan harus diberi satu jam sebelum makan. Misal: tetrasiklin. Sebaliknya ada obat
yang harus diminum setelah makan; indometasin.

9.

Benar pengkajian

memeriksa ttv dan keluhan klien sebelum obat diberikan

Adalah tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien telah dijadualkan untuk
pemeriksaan diagnostik, seperti tes darah puasa yang merupakan kontraindikasi
pemeriksaan obat.

10. Benar evaluasi

melihat efek kerja dari obat yang diberikan dan lihat efek samping yang diharapkan
maupun tidak diharapkan.

11. Benar dokumentasi


a.

Catat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah diberikan

b.

Respon klien terhadap pengobatan


Komponen dokumentasi
Catat informasi segera sesuai tindakan pemberian obat yang telah dilakukan. Meliputi :
nama obat, dosis, rute/cara (tempat pemberian), waktu & tanggal, inisial & tanda tangan
perawat, respon klien terhadap pengobatan.

12. Hak-hak klien dalam pemberian obat


a. Hak klien untuk mengetahui alasan pemberian obat.
b. Hak klien untuk menolak pengobatan.
D. Faktor - faktor yang mengubah respon terhadap obat
1.

Absorpsi
Berhubungan dengan penyerapan terhadap obat. Faktor-faktor yang mempengaruhi

absorpsi obat antara lain :


a) Rute pemberian obat, memiliki pengaruh yang berbeda pada absorpsi obat,
bergantung pada struktur fisik jaringan. Kulit relatif tidak dapat ditembus zat kimia,
sehingga absorpsi menjadi lambat. Membran mukosa dan saluran napas mempercepat
absorpsi akibat vaskularitas yang tinggi pada mukosa dan permukaan kapiler alveolar.
Karena obat yang diberikan peroral harus melewati sistem pencernaan untuk
diabsorpsi, kecepatan absorpsi secara keseluruhan melambat. Injeksi intravena

menghasilkan absorpsi yang paling cepat karena dengan rute ini obat dengan cepat
masuk kedalam sirkulasi sistemik.
b) Daya larut obat, yang diberikan peroral setelah diingesti sangat bergantung pada
bentuk atau preparat obat tersebut. Larutan dan suspensi, yang tersedia dalam bentuk
cair, lebih mudah diabsorpsi daripada tablet atau kapsul. Bentuk dosis padat harus
dipecah terlebih dahulu untuk memajankan zat kimia pada sekresi lambung dan usus
halus. Obat yang asam melewati mukosa lambung dengan cepat. Obat yang bersifat
basa tidak terabsorpsi sebelum mencapai usus halus.
c)

Kondisi di tempat absorpsi, mempengaruhi kemudahan obat masuk kedalam sirkulasi


sistemik. Adanya edema pada membran mukosa memperlambat absorpsi obat karena
obat membutuhkan waktu yang lama untuk berdifusi kedalam pembuluh darah.

d) Perfusi jaringan, memengaruhi cepat lambatnya absorpsi obat. Absorpsi obat


parenteral yang diberikan bergantung pada suplai darah dalam jaringan. Otot memiliki
suplai darah yang lebih banyak daripada jaringan subkutan (SC), obat yang diberikan
melalui intramuskuler (otot) diabsorpsi lebih cepat daripada obat yang disuntikkan
lewat subkutan. Pada beberapa kasus, absorpsi subkutan yang lambat lebih dipilih
karena menghasilkan efek yang dapat bertahan lama. Apabila perfusi jaringan klien
buruk, misalnya pada kasus syok sirkulasi, rute pemberian obat yang terbaik adalah
melalui intravena. Pemberian obat intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat
e)

Kecepatan dan luas absorpsi juga dapat dipengaruhi oleh makanan. Obat oral lebih
mudah diabsorpsi, jika diberikan diantara waktu makan. Misalnya zat besi dapat
mengiritasi saluran cerna dan harus diberikan bersama makanan atau segera setelah
makan. Saat lambung terisi makanan, isi lambung secara perlahan diangkut ke
duodenum, sehingga absorpsi obat melambat. Beberapa makanan dan antasid
membuat obat berikatan membentuk kompleks yang tidak dapat melewati lapisan
saluran cerna, contoh susu menghambat absorpsi zat besi dan tetrasiklin. Beberapa
obat hancur akibat peningkatan keasaman isi lambung dan pencernaan protein selama
makan.

2.

Distribusi
Pengikatan dengan protein merupakan pengubah utama dari distribusi obat dalam tubuh.

Sawar darah otak hanya dapat menerima obat-obatan yang larut dalam lemak. Plasenta dapat
ditembus oleh obat-obatan yang larut dalam lemak maupun air.
3.

Metabolisme/ biotransformasi
Berkaitan dengan fungsi hati dan ginjal, tempat obat di metabolisme. Kematangan dan

mal fungsi pada ke duanya dapat mempengaruhi metabolisme obat.


4.

Ekskresi
Rute utama ekskresi obat adalah ginjal, selain itu empedu, feses, paru-paru, saliva, dan

keringat juga merupakan rute ekskresi obat.


5.

Usia

Bayi dan lansia sensitive terhadap obat-obatan. Dosis bayi dihitung berdasarkan berat
badan dari pada usia biologis/ gestasionalnya.
6.

Berat Badan
Dosis obat diberikan sesuai dengan berat badannya. Ada hubungan langsung antara

jumlah obat yang diberikan dan jumlah jaringan tubuh tempat obat didistribusikan.
Kebanyakan obat diberikan berdasarkan berat dan komposisi tubuh dewasa. Perubahan
komposisi tubuh dapat mempengaruhi distribusi obat secara bermakna, misalnya pada klien
lansia. Semakin kecil berat badan klien, semakin besar konsentrasi obat di dalam jaringan
tubuhnya, dan efek obat yang dihasilkan makin kuat.
7.

Toksisitas
Lebih sering terjadi pada orang-orang yang mempunyai gangguan hati atau ginjal dan

pada orang yang muda dan tua.


8.

Farmakogenetik
Pengaruh faktor genetik terhadap respon obat.

9.

Rute/ cara pemberian


Rute parenteral memiliki efek kerja obat yang lebih cepat dari pada rute oral.

10.

Saat/ waktu pemberian


Ada atau tidak adanya makanan di dalam lambung dapat mempengaruhi kerja beberapa

obat.
11.

Faktor emosional
Sugesti-sugesti mengenai obat dan efek sampingnya dapat mempengaruhi efek obat

terhadap klien.
12.

Adanya penyakit
Gangguan hati, ginjal, jantung, sirkulasi, dan gastrointestinal mempengaruhi respon

terhadap obat.
13.

Riwayat obat
Penggunaan obat yang sama atau berbeda dapat mengurangi atau menambah efek dari

obat.
14.

Toleransi
Kemampuan klien untuk berespon terhadap dosis tertentu dari suatu obat dapat hilang

setelah beberapa hari atau minggu setelah pemberian. Kombinasi obat-obatan dapat diberikan
untuk mengurangi atau menunda terjadinya toleransi obat.
15.

Efek penumpukan
Terjadi jika obat dimetabolisme atau diekskresi lebih lambat dari pada kecepatan

pemberian obat.
16.

Interaksi obat
Efek kombinasi obat dapat lebih besar, sama, atau lemah dari pada efek tunggal.

Beberapa obat mungkin bersaing untuk menempati reseptor yang sama. Reaksi yang
merugikan dapat menyebabkan toksisitas atau komplikasi.

E. IMPLIKASI KEPERAWATAN

Jelaskan apa yang anda ingin kerjakan. Usahakan mendapat kerjasama dari klien.

Berikan waktu bagi klien untuk bekerjasama.


Tunjukkan empati dan perhatian bagi tiap klien, demikian pula teknik yang tepat.

Hilangkan kecemasan. Dorong klien untuk menyatakan perasaannya.

Letakkan klien dalam posisi yang diperlukan.

Pergunakan jarum dan tabung suntik dengan ukuran yang sesuai untuk klien.

Berikan obat hanya melalui rute yang diperintahkan.

Periksa kulit sebelum memberikan setiap suntikan.

Jangan memberikan suntikan subkutan atau intramuskular pada daerah yang mengalami

peradangan, edema, atau mempunyai lesi (tahi lalat, tanda lahir, parut).
Ganti tempat suntikan untuk meningkatkan absorpsi obat. Catat tempat suntikan.

Jangan berikan suntikan IM pada tempat dorsogluteal pada anak-anak. Lebih baik

memilih vastus lateralis.


Isi kolom cairan dengan jumlah cairan yang dipakai bersama obat jika klien diawasi

asupan dan keluarannya. Berikan hanya cairan yang diperbolehkan dalam diet.
Amati klien terhadap reaksi yang tidak diinginkan, dan laporkan tanda pertama dengan

segera.
Nilai kemampuan klien untuk menelan sebelum memberikan obat-obat peroral

Pergunakan teknik aseptik sewaktu memberikan obat. Teknik steril digunakan dalam

rute parenteral
Berikan obat-obat pada tempat yang sesuai

Tetaplah bersama klien sampai obat-obat oral telah ditelan


DAFTAR PUSTAKA

1.
2.

Ansel, Howard C. 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi (Edisi 4). Jakarta: UI Press
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2004. SK: Keputusan Kepala
Badan Pengawas Obat Dan Makanan Tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan Dan

3.

Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia (PDF). Jakarta 17 Mei 2004


Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. 2008. Efek

4.

Samping Obat. Proseding Kuliah Farmakologi Klinik (PDF).


Ganiswara, S.G., Setiabudi, R., Suyatna, F.D., Purwantyastuti, Nafrialdi (Editor).1995.

5.

Farmakologi dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FK UI. Jakarta


Herdman, T. H. 2011. Diagnosis keperawatan: definisi dan klasifikasi 2009-2011. Alih

6.

bahasa, Made S., Dwi, W., Estu T. Editor, Monica E. Jakarta: EGC
Kee, Joyce L. dan Hayes, Evelyn R. 1996. Farmakologi : pendekatan proses

7.

keperawatan. Jakarta: EGC


No name. 2010. Biografi Alexander Fleming. Diunduh pada tanggal 30 Desember 2013

8.

terdapat pada http://info-biografi.blogspot.com/2010/04/biografi-alexander-fleming.html


Priyanto. 2010. Farmakologi Dasar untuk Mahasiswa Farmasi & Keperawatan. Edisi II.
Jakarta: Leskonfi

9.

Rahmmasari, Dian. 2013. Macam Macam Obat Narkotik Dan Pisikotropika (Artikel).
Diunduh

pada

tanggal

Januari

2014

terdapat

pada

http://dianrahmmasari.blogspot.com/2013/05/macam-macam-obat-narkotik-dan.html
10. Sanjoyo, Raden. (Tidak ada tahun). Obat (Biomedik Farmakologi) (Artikel). Diunduh
pada 28 mei 2012 terdapat pada http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id
11. Tambayong, Jan. 2001. Farmakologi untuk Keperawatan. Jakarta: Widya Medika
12. Tanzil, Sutomo. 2009. Chapter 3: Farmakodinamik dalam Kumpulan Kuliah
Farmakologi, Eds.2. Staf Pengajar Departemen Farmakologi, Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC

FORMAT PENUGASAN PRAKTEK


MATA AJAR FARMAKOLOGI

OLEH :
Koordinator MA. Farmakologi

AKADEMI KEPERAWATAN YARSI SAMARINDA


2013 / 2014
TATA CARA PENGISIAN FORMAT PENUGASAN FARMAKOLOGI & TATA
TERTIB PENGUMPULAN TUGAS
1. Pada TUGAS FARMAKOLOGI 1, setiap minggu mahasiswa wajib
menuliskan tiga jenis obat yang berbeda.
Keterangan :
a. Nama obat & Isi obat : tuliskan nama obat yang diberikan pada pasien &
kandungan dari obat tersebut.
b. Indikasi : obat diberikan untuk mengatasi masalah/ keadaan apa pada
pasien.
c. Kontraindikasi : obat tidak boleh diberikan pada keadaan bagaimana
pada pasien.
d. Interaksi obat : obat tersebut dapat berinteraksi dengan apa saja.
e. Farmakokinetik : proses kerja obat (absorpsi, distribusi, metabolisme,
eliminasi).
f. Farmakodinamik : respon fisiologis & biologis obat (onset, waktu
mencapai puncak, lama kerja).
g. Efek samping : efek samping pada pemberian obat.
h. Perhatian perawat : intervensi perawat terhadap pemberian obat.
2. TUGAS FARMAKOLOGI 2, setiap minggu dikumpulkan satu askep (sesuai
format). TUGAS FARMAKOLOGI 2 wajib dikonsultasikan dengan CI atau
dosen pembimbing minimal satu kali sebelum diimplementasikan.
3. Pada TUGAS FARMAKOLOGI 3, mahasiswa wajib menuliskan seluruh
tindakan pemberian obat yang dilakukan berdasarkan pasien yang diberikan
asuhan keperawatan.
4. TUGAS FARMAKOLOGI 4 harus ditandatangani oleh CI Klinik atau KARU
atau perawat ruangan yang sedang bertugas pada shift yang bersamaan dengan
mahasiswa dinas. Tanda tangan harus diminta oleh mahasiswa setiap selesai
melaksanakan target pencapaian.
5. Penugasan paling lambat dikumpulkan 1 hari setelah masa dinas diselesaikan.

6. Penilaian seluruh penugasan adalah 20% dari total nilai kelulusan.


7. Bila mahasiswa tidak mengumpulkan penugasan pada waktu yang telah
ditentukan, maka penilaian akan dikurangi.
Samarinda, Maret 2014
Koordinator MA. Farmakologi

Ns. Nur Falah Setyawati, S.Kep., MPH

TUGAS FARMAKOLOGI 1.
No
1.

IDENTIFIKASI OBAT
NAMA OBAT & ISI OBAT

2.

INDIKASI

3.

KONTRAINDIKASI

4.

INTERAKSI OBAT

5.

FARMAKOKINETIK

6.

FARMAKODINAMIK

INFORMASI

7.

EFEK SAMPING

8.

PERHATIAN PERAWAT

TUGAS FARMAKOLOGI 1.
No
1.

IDENTIFIKASI OBAT
NAMA OBAT & ISI OBAT

2.

INDIKASI

3.

KONTRAINDIKASI

INFORMASI

4.

INTERAKSI OBAT

5.

FARMAKOKINETIK

6.

FARMAKODINAMIK

7.

EFEK SAMPING

8.

PERHATIAN PERAWAT

TUGAS FARMAKOLOGI 1.
No
1.

IDENTIFIKASI OBAT
NAMA OBAT & ISI OBAT

2.

INDIKASI

3.

KONTRAINDIKASI

4.

INTERAKSI OBAT

5.

FARMAKOKINETIK

6.

FARMAKODINAMIK

7.

EFEK SAMPING

INFORMASI

8.

PERHATIAN PERAWAT

TUGAS FARMAKOLOGI 2. ASUHAN KEPERAWATAN KOLABORATIF


PENGKAJIAN
NAMA PASIEN: _________________________________________________________
USIA: __________________________________________________________________
R.RAWAT: _____________________________________________________________
TGL: ___________________________________________________________________
DIAGNOSA MEDIS: _____________________________________________________
DATA SUBJEKTIF
1. Riwayat kesehatan sekarang
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________

________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
2. Pengobatan sekarang
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
3. Riwayat kesehatan dahulu
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
4. Lingkungan klien
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
5. Obat-obat yang dikonsumsi tanpa resep dan rutin
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan laboratorium
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
2. Pemeriksaan diagnostik

________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
3. Pemeriksaan fisik
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
4. gejala-gejala efek samping/ pengaruh obat akibat terapi
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
DIAGNOSA KEPERAWATAN
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
PERENCANAAN
A. Tujuan
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
B. Kriteria hasil
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________

________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
IMPLEMENTASI
(Buatlah materi pembelajaran untuk pasien dan keluarga mengenai terapi obat yang
diberikan kepada pasien. Sertakan media yang anda gunakan.)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
______________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
EVALUASI

________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________

Mengetahui,

(CI klinik/ dosen pembimbing)

TUGAS FARMAKOLOGI 2. ASUHAN KEPERAWATAN KOLABORATIF


PENGKAJIAN
NAMA PASIEN: _________________________________________________________
USIA: __________________________________________________________________
R.RAWAT: _____________________________________________________________
TGL: ___________________________________________________________________
DIAGNOSA MEDIS: _____________________________________________________
DATA SUBJEKTIF
6. Riwayat kesehatan sekarang

________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
7. Pengobatan sekarang
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
8. Riwayat kesehatan dahulu
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
9. Lingkungan klien
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
10. Obat-obat yang dikonsumsi tanpa resep dan rutin
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
DATA OBJEKTIF
5. Pemeriksaan laboratorium
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________

________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
6. Pemeriksaan diagnostik
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
7. Pemeriksaan fisik
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
8. gejala-gejala efek samping/ pengaruh obat akibat terapi
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
DIAGNOSA KEPERAWATAN
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
PERENCANAAN
C. Tujuan
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
D. Kriteria hasil

________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
IMPLEMENTASI
(Buatlah materi pembelajaran untuk pasien dan keluarga mengenai terapi obat yang
diberikan kepada pasien. Sertakan media yang anda gunakan.)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
______________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________

EVALUASI
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________

Mengetahui,

(CI klinik/ dosen pembimbing)

TUGAS FARMAKOLOGI 2. ASUHAN KEPERAWATAN KOLABORATIF


PENGKAJIAN
NAMA PASIEN: _________________________________________________________
USIA: __________________________________________________________________
R.RAWAT: _____________________________________________________________
TGL: ___________________________________________________________________
DIAGNOSA MEDIS: _____________________________________________________
DATA SUBJEKTIF

11. Riwayat kesehatan sekarang


________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
12. Pengobatan sekarang
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
13. Riwayat kesehatan dahulu
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
14. Lingkungan klien
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
15. Obat-obat yang dikonsumsi tanpa resep dan rutin
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
DATA OBJEKTIF
9. Pemeriksaan laboratorium
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________

________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
10. Pemeriksaan diagnostik
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
11. Pemeriksaan fisik
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
12. gejala-gejala efek samping/ pengaruh obat akibat terapi
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
DIAGNOSA KEPERAWATAN
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
PERENCANAAN
E. Tujuan
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
F. Kriteria hasil

________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
IMPLEMENTASI
(Buatlah materi pembelajaran untuk pasien dan keluarga mengenai terapi obat yang
diberikan kepada pasien. Sertakan media yang anda gunakan.)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
______________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________

EVALUASI
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
_____________________________________________________________________
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________

Mengetahui,

(CI klinik/ dosen pembimbing)

TUGAS FARMAKOLOGI 3: DOKUMENTASI PEMBERIAN OBAT


N
O
1.
2.

TINDAKAN PEMBERIAN OBAT


Hari/ Tgl/ Waktu
Nama obat

3.

Dosis obat

4.

Rute pemberian

5.

Nama pasien/ R.Rawat

6.
7.

Usia
Tanda-tanda Vital

8.

Keluhan

9.

Evaluasi

10.

Nama/paraf pemberi obat

TUGAS FARMAKOLOGI 3: DOKUMENTASI PEMBERIAN OBAT


N
O
1.
2.

TINDAKAN PEMBERIAN OBAT


Hari/ Tgl/ Waktu
Nama obat

3.

Dosis obat

4.

Rute pemberian

5.

Nama pasien/ R.Rawat

6.
7.

Usia
Tanda-tanda Vital

8.

Keluhan

9.

Evaluasi

10.

Nama/paraf pemberi obat

TUGAS FARMAKOLOGI 3: DOKUMENTASI PEMBERIAN OBAT


N
O
1.
2.

TINDAKAN PEMBERIAN OBAT


Hari/ Tgl/ Waktu
Nama obat

3.

Dosis obat

4.

Rute pemberian

5.

Nama pasien/ R.Rawat

6.
7.

Usia
Tanda-tanda Vital

8.

Keluhan

9.

Evaluasi

10.

Nama/paraf pemberi obat

TUGAS FARMAKOLOGI 3: DOKUMENTASI PEMBERIAN OBAT


N
O
1.
2.

TINDAKAN PEMBERIAN OBAT


Hari/ Tgl/ Waktu
Nama obat

3.

Dosis obat

4.

Rute pemberian

5.

Nama pasien/ R.Rawat

6.
7.

Usia
Tanda-tanda Vital

8.

Keluhan

9.

Evaluasi

10.

Nama/paraf pemberi obat

TUGAS FARMAKOLOGI 3: DOKUMENTASI PEMBERIAN OBAT


N
O
1.
2.
3.

TINDAKAN PEMBERIAN OBAT


Hari/ Tgl/ Waktu
Nama obat
Dosis obat

4.

Rute pemberian

5.

Nama pasien/ R.Rawat

6.
7.

Usia
Tanda-tanda Vital

8.

Keluhan

9.

Evaluasi

10.

Nama/paraf pemberi obat

TUGAS FARMAKOLOGI 3: DOKUMENTASI PEMBERIAN OBAT


N
O
1.
2.

TINDAKAN PEMBERIAN OBAT


Hari/ Tgl/ Waktu
Nama obat

3.

Dosis obat

4.

Rute pemberian

5.

Nama pasien/ R.Rawat

6.
7.

Usia
Tanda-tanda Vital

8.

Keluhan

9.

Evaluasi

10.

Nama/paraf pemberi obat

TUGAS FARMAKOLOGI 3: DOKUMENTASI PEMBERIAN OBAT


N
O
1.
2.

TINDAKAN PEMBERIAN OBAT


Hari/ Tgl/ Waktu
Nama obat

3.

Dosis obat

4.

Rute pemberian

5.

Nama pasien/ R.Rawat

6.
7.

Usia
Tanda-tanda Vital

8.

Keluhan

9.

Evaluasi

10.

Nama/paraf pemberi obat

TUGAS FARMAKOLOGI 3: DOKUMENTASI PEMBERIAN OBAT


N
O
1.
2.

TINDAKAN PEMBERIAN OBAT


Hari/ Tgl/ Waktu
Nama obat

3.

Dosis obat

4.

Rute pemberian

5.

Nama pasien/ R.Rawat

6.
7.

Usia
Tanda-tanda Vital

8.

Keluhan

9.

Evaluasi

10.

Nama/paraf pemberi obat

TUGAS FARMAKOLOGI 3: DOKUMENTASI PEMBERIAN OBAT


N
O
1.
2.
3.

TINDAKAN PEMBERIAN OBAT


Hari/ Tgl/ Waktu
Nama obat
Dosis obat

4.

Rute pemberian

5.

Nama pasien/ R.Rawat

6.
7.

Usia
Tanda-tanda Vital

8.

Keluhan

9.

Evaluasi

10.

Nama/paraf pemberi obat

TUGAS FARMAKOLOGI 3: DOKUMENTASI PEMBERIAN OBAT


N
O
1.
2.

TINDAKAN PEMBERIAN OBAT


Hari/ Tgl/ Waktu
Nama obat

3.

Dosis obat

4.

Rute pemberian

5.

Nama pasien/ R.Rawat

6.
7.

Usia
Tanda-tanda Vital

8.

Keluhan

9.

Evaluasi

10.

Nama/paraf pemberi obat

TARGET PEMBERIAN OBAT


NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

RUTE PEMBERIAN

TARGET

PER-ORAL
TRANSDERMAL
TOPIKAL
INSTILASI (MATA, HIDUNG, TELINGA)
SUPOSITORIA REKTAL & VAGINA
SELANG NGT (NASO GASTRIK TUBE)
AEROSOL/ NEBULIZER
INTRADERMAL/ INTRAKUTAN
SUBKUTAN
INTRAMUSKULAR
INTRAVENA LANGSUNG
INTRAVENA TIDAK LANGSUNG

PENCAPAIAN
Min. 7x
Sedapatnya
Min. 3x
Min. 2x
Min. 2x
Min. 1x
Min. 2x
Min. 2x
Min. 3x
Min. 5x
Min. 3x
Min. 7x

TANGGAL PENCAPA