Anda di halaman 1dari 13

Menarche pada Remaja Perempuan dan Faktor-faktor

yang Mempengaruhi Terjadinya Menarche


Abstrak: Saat memasuki usia pubertas, tubuh dan pikiran seorang gadis akan mengalami
berbagai macam perubahan. Hormon-hormon yang ada di dalam tubuh mulai merangsang
perkembangan tubuh seorang anak menuju ke arah kedewasaan. Namun, kesadaran dan
pengetahuan remaja perempuan akan hal tersebut masih tergolong rendah, sehingga
terkadang remaja perempuan akan terkejut dan panik ketika melihat perubahan yang terjadi.
Menstruasi merupakan tahap utama pada usia pubertas seorang gadis. Menstruasi pertama
yang dialami oleh seorang gadis disebut sebagai menarche. Lamanya waktu dari satu periode
menstruasi ke periode berikutnya disebut sebagai siklus menstruasi, dimana siklus menstruasi
pada masing-masing individu memiliki lama waktu yang berbeda.Menstruasi yang terjadi
pada masing-masing individu dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Faktor-faktor yang
mempengaruhinya terdiri dari faktor nutrisi, faktor aktivitas fisik, massa lemak, faktor
hormon, faktor lingkungan, dan faktor psikologis.
Kata Kunci: Plasmodium, malaria, malaria berat, splenomegali.
Abstract: In the age of puberty, a girl's body and mind will undergo various changes. The
hormones in her body begin to stimulate her body towards maturity. However, awareness and
knowledge of adolescent girls are still low, and so sometimes adolescent girls become
shocked and panicked when she saw the changes that she found. Menstruation is the main
stage for the girls age of puberty. First period experienced by a girl called menarche. The
length of time of one menstrual period to the next period referred to as the menstrual cycle,
which menstrual cycles in each individual has a different in duration. Menstruation happens
to each individual is influenced by various factors. Factors that influence consisting of
nutritional factors, physical activity factors, fat mass, hormonal factors, environmental
factors, and psychological factors.
Key words: Plasmodium, malaria, severe malaria, splenomegaly.

Pendahuluan
Pada masa awal pubertas, banyak remaja perempuan yang belum atau bahkan tidak
mengetahui pentingnya memiliki pengetahuan mengenai sistem dan proses perkembangan
alat reproduksi. Tidak jarang ketika remaja perempuan mengalami menstruasinya yang
pertama atau sering disebut sebagai menarche, remaja tersebut akan terkejut dan panik saat
melihat adanya bercak merah di pakaian dalamnya. Persepsi yang sering timbul dalam
pikiran remaja perempuan yang mengalami hal tersebut adalah para remaja tersebut sering

mengira mereka terkena penyakit yang berbahaya atau tidak jarang yang mengira bahwa
dirinya sedang berada dalam masa kehamilan, padahal sebenarnya tidak demikian. Timbulnya
persepsi yang salah dalam pikiran para remaja tersebut sering disebabkan karena kurangnya
komunikasi antara anak perempuan dengan orang tuanya, khususnya sang ibu. Kurangnya
komunikasi antara kedua pihak menyebabkan anak perempuan tidak mendapatkan
pengetahuan dari sang ibu yang pernah mengalami menarche seperti yang dialami oleh anak
perempuannya.
Gambaran Kasus
Seorang anak perempuan berusia 12 tahun terkejut saat bangun tidur karena
menemukan adanya bercak merah pada pakaian dalamnya. Ibu dari anak tersebut
menjelaskan bahwa sang anak mulai mendapatkan menstruasi.

Pembahasan
Untuk mengetahui secara jelas mengenai keluhan yang dialami oleh pasien, kita harus
mempunyai pengetahuan tentang keluhan-keluhan yang dialami pasien dan harus memahami
langkah-langkah dalam mendiagnosis keluhan yang dialami pasien. Langkah-langkah yang
dapat dilakukan dalam mendiagnosis keluhan yang dialami pasien dalam kasus tersebut
adalah dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang,
menentukan diagnosis, dan sebagainya.
Anamnesis
Anamnesis atau wawancara medis merupakan tahap awal dari rangkaian pemeriksaan
pasien, baik secara langsung pada pasien yang bersangkutan atau tidak langsung melalui
keluarga ataupun kerabat pasien yang bertujuan untuk mendapatkan informasi secara
menyeluruh dari pasien yang bersangkutan seperti identitas pasien, keluhan utama, riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyait dahulu, riwayat kesehatan keluarga, riwayat pribadi, dan
riwayat sosial-ekonomi-budaya.1Seorang dokter harus melakukan wawancara yang seksama
secara langsung ke pada pasiennya (autoanamnesis) atau keluarga dekatnya (alloanamnesis)
mengenai masalah yang menyebabkan pasien mendatangi pusat pelayanan kesehatan.
Pada pediatri, aspek yang nyata dan paling penting adalah bahwa yang memberikan
informasi mengenai pasien seringkali adalah bukan pasiennya (kecuali bila anak tersebut
berusia 4 sampai 5 tahun), melainkan orang tua pasien yang pada umumnya adalah sebagai
sumber informasi utama.2
Sesuai dengan kasus diatas, data-data anamnesis yang dapat ditanyakan ke pada
pasien maupun orang tua pasien adalah sebagai berikut:

Identitas pasien
Identitas pasien yang dapat diisi pada lembar anamnesis mencakup nama pasien,
umur, jenis kelamin, nama orang tua pasien, pekerjaan, dan alamat tempat tinggal
pasien.1,2 Data-data ini sangat penting dan berkaitan dengan masalah klinik dan
gangguan sistem tubuh.1
Dari hasil anamnesis terhadap pasien, data-data yang diperoleh adalah sebagai
berikut:
-

Nama Pasien
Usia
Jenis Kelamin
Nama Orang Tua

: Nona A
: 12 tahun
: Perempuan
: Ibu B

Keluhan utama
Keluhan utama merupakan keluhan terpenting yang menyebabkan pasien datang ke
dokter atau petugas kesehatan lain untuk meminta pertolongan, dan ditulis secara
singkat beserta lamanya.1,2
Berdasarkan kasus di atas, keluhan utama yang menyebabkan pasien datang ke
dokter adalah dikarenakan sang pasien merasa terkejut setelah menemukan bercak

merah pada pakaian dalamnya setelah bangun tidur.


Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat penyakit sekarang (RPS) adalah riwayat mengenai penyakit pasien saat ini,
yang dimulai dari sejak akhir masa sehat pasien. Biasanya riwayat penyakit sekarang
ditulis secara kronologis ditinjau dari urutan waktu, perkembangan penyakit, dan
perjalanan penyakit serta gambaran dari setiap keluhan. Gambaran keluhan dari suatu
penyakit mencakup lamanya, awal timbulnya keluhan tersebut, perkembangan dari
keluhan, faktor pemicu, gejala-gejala tambahan, dan riwayat pengobatan yang sedang
dijalankan.1,2
Sesuai dengan kasus di atas, hal-hal yang dapat kita tanyakan mengenai
keluhannya adalah mengenai kapan timbulnya keluhan tersebut, bagaimana warna
yang terlihat dari bercak tersebut, bagaimana bau yang ditimbulkan oleh bercak
tersebut, dan apakah pasien mengalami keluhan lain seperti lemas, sakit kepala,
ataupun ada rasa nyeri.
Berdasarkan data yang diberikan pasien, pasien tidak mengalami adanya

keluhan-keluhan tambahan dan semuanya tampak normal.


Riwayat Penyakit Dahulu
Tanyakanlah rincian mengenai penyakit masa lalu yang pernah diderita oleh pasien.
Hal ini sangat berguna bagi dokter dalam membantu untuk menentukan diagnosis dan
penatalaksanaan yang akan diberikan.2

Dari hasil anamnesis, pasien tersebut tidak pernah mengalami sakit apapun

sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit keluarga menggambarkan tentang penyakit-penyakit yang pernah
diderita oleh anggota keluarga lainnya. Penyakit yang diderita oleh seorang anggota
keluarga terkadang dapat diturunkan ke pada anggota keluarga yang lain. Oleh karena
itu, penting untuk mengetahui kondisi kesehatan keluarga pasien.
Dari hasil anamnesis, anggota keluarga pasien semuanya sehat dan tidak ada

yang menderita penyakit.


Riwayat Tumbuh Kembang
Riwayat tumbuh kembang mencakup riwayat kelahiran, proses pertumbuhan dan
perkembangan anak.2 Untuk menanyakan mengenai riwayat tumbuh kembang anak,
kita dapat menanyakan ke pada orang tuanya.
Dari hasil anamnesis, didapatkan bahwa tumbuh kembang anak tersebut

adalah baik dan sesuai dengan umur anak tersebut.


Riwayat Nutrisi
Rincian makanan dan pola makan pasien dapat membantu dalam mendiagnosis
kekurangan energi protein (protein-energy malnutrition) dan kegagalanpertumbuhan.
Selain itu, hal ini dapat membantu dalam menyusun rencana diet untuk rehabilitasi

gizi anak untuk penyakit tertentu.2


Riwayat Imunisasi
Dari anamnesis yang dilakukan, anak tersebut telah mendapatkan imunisasi tepat

waktu sesuai dengan usianya.


Riwayat Personal dan Sosial
Dalam riwayat personal dan sosial, hal yang dapat ditanyakan adalah mengenai
perilaku anak sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam pergaulan
dengan teman-temannya. Selain itu, tanyakan juga mengenai kebiasaan sehari-hari
pasien seperti olahraga, kegiatan yang dilakukan, dan apakah pasien suka
mengonsumsi alkohol ataupun rokok.
Berdasarkan hasil anamnesis, diketahui bahwa hubungan sosial yang terjalin
di dalam keluarga berlangsung dengan baik. Selain itu, pasien juga memiliki
hubungan sosial yang baik dengan teman-temannya. Pasien juga rajin berolahraga,
suka membaca buku, membantu orang tua di rumah, berpergian bersama temantemannya, dan pasien tidak mengonsumsi rokok maupun alkohol.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan keadaan umum
pasien saat berada dalam pemeriksaan. Diagnosis suatu penyakit dapat ditegakkan

berdasarkan gejala klinis yang ditemukan pada saat melakukan pemeriksaan fisik, khususnya
penyakit yang memiliki gejala klinis yang khas.
Pada kasus dalam makalah ini, untuk menegakkan diagnosis dari keluhan remaja
perempuan tersebut, maka pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan antara lain terdiri dari:

Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan umum terhadap penampilan pasien, tinggi dan berat badan dilakukan
ketika pertama kali berjumpa dengan pasien, namun pengamatan terhadap penampilan
pasien akan dapat diperjelas ketika dokter melakukan pemeriksaan fisik.3
Pada kasus di atas, pemeriksaan umum yang dapat dilakukan terhadap anak
perempuan tersebut adalah dengan mengukur tinggi badan dan berat badannya. Berat
badan dan tinggi badan anak berdasarkan umur dapat diperkirakan dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
Berat Badan=8+2 n

Tinggi Badan=80+5 n
n=usiadalam tahun

Selain itu, kita juga dapat memeriksa status gizi anak tersebut dengan
menggunakan pemeriksaan antropometri untuk mengetahui indeks massa tubuh
(IMT). Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:3
IMT =

Berat Badan(kg)
Tinggi Badan(m2 )

Klasifikasi indeks massa tubuh yang dapat digunakan untuk mengetahui status gizi
anak tersebut adalah sebagai berikut:
BB kurang
: IMT < 18,5
BB normal
: 18,5 22,9
BB berlebih
: IMT > 23
- Dengan risko
: 23 24,9
- Obesitas kelas I : 25 29,9
- Obesitas kelas II : > 30

Pemeriksaan Tanda-tanda Vital


Memeriksa tanda-tanda vital yang terdiri dari pemeriksaan denyut nadi, suhu tubuh,
tekanan darah, dan pernapasan. Pemeriksaan tanda-tanda vital memberikan informasi
awal yang penting yang seringkali mempengaruhi arah evaluasi.3

Pemeriksaan ginekologi
Anak perempuan pada umumnya peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi
pada tubuhnya ketika ia berada pada usia remaja. Untuk melakukan pemeriksaan
ginekologi pada pasien usia remaja, sebaiknya pasien ditanyakan apakah ia ingin sang
ibu menemaninya pada proses pemeriksaan atau tidak, jika pasien menjawab tidak,
sebaiknya ada seorang asisten wanita yang menemani dokter saat pemeriksaan.4
Selain itu, sangatlah penting bagi dokter untuk meyakinkan pasien bahwa
mungkin pasien akan merasa malu ataupun tidak nyaman ketika pemeriksaan
berlangsung, namun pemeriksaan tersebut tidak akan menimbulkan rasa sakit dan
tidak merusak himen.4 Dengan kata lain, dokter harus menjelaskan proses
pemeriksaan yang akan dilakukan dengan kata-kata yang mudah dimengerti oleh
pasien sehingga tidak menimbulkan salah persepsi oleh pasien.
Pemeriksaan ginekologi pertama yang dianjurkan untuk dilakukan yaitu ketika
seorang gadis menginjak usia 13 sampai 15 tahun. Pemeriksaan yang dapat dilakukan
adalah dengan melakukan pemeriksaan terhadap panggul. Genitalia eksterna harus
diperiksa dengan pasien berada dalam posisi dorsal litotomi ketika komunikasi sedang
berlangsung antara dokter dengan pasien, oleh karena itu pemeriksa harus
mempertahankan kontak mata dengan pasiennya. Selain itu, pasien juga harus
dipartisipasikan dalam pemeriksaan dengan memberikan pasien cermin sehingga
pasien dapat melihat pemeriksaan yang dilakukan dan izinkan pasien untuk bertanya
sebelum, saat, dan sesudah pemeriksaan. Inspeksi terhadap alat kelamin meliputi
pemeriksaan terhadap rambut pubis, labia mayor dan minor, klitoris, uretra, dan cincin
himen.5
Setelah melakukan pemeriksaan genitalia eksterna, lakukan inspeksi serviks
dan vagina dengan spekulum vagina Huffman-Graves berbilah panjang. Jika
pembukaan himen cukup besar, dapat dilakukan palpasi bimanual dengan satu jari
dalam vagina. Jika tidak, uterus dan ovarium dapat dipalpasi melalui rektum.4
Dari hasil pemeriksaan fisik yang telah dilakukan, tinggi badan pasien yaitu sekitar

140 cm dan berat badan pasien adalah 35 kg. Tanda-tanda vital pasien juga tergolong normal,
dan dari hasil pemeriksaan ginekologi, tidak ditemukan adanya tanda kelainan pada genitalia
pasien.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada anak perempuan tersebut adalah
dengan melakukan pemeriksaan darah yang meliputi pemeriksaan kadar Hb, hitung leukosit,

hitung trombosit, hitung eritrosit, dan laju endap darah (LED). Pemeriksaan darah ini
dilakukan untuk mengetahui apakah anak tersebut mengalami anemia. Selain itu,
pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah dengan pemeriksaan kimia yang meliputi
pemeriksaan besi serum (BS), daya ikat total besi (DIBT), saturasi transferin, dan kadar
feritin serum.
Diagnosis Kerja
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik yang ada, anak perempuan usia 12
tahun tersebut mengalami menarche atau menstruasi pertama.
Diagnosis Banding
Selain diakibatkan oleh menarche, darah yang keluar melalui vagina dapat disebabkan
oleh penyebab lainnya sehingga menimbulkan beberapa diagnosis banding. Diagnosis
banding yang dapat diperkirakan antara lain:6

Vulvovaginitis
Vulvovaginitis merupakan masalah ginekologi yang paling umum terjadi pada anakanak usia prepubertas. Kurang menjaga kebersihan diri dan bahan-bahan kimia
penyebab iritasi (sabun batang, sabun cair, shampoo) adalah penyebab utama dari
vulvovaginitis. Vulvitis mengacu pada gejala pruritus, terbakar, kemerahan, dan ruam.
Vaginitis merupakan peradangan pada vagina, yang bermanifestasi klinik yaitu
keluarnya cairan vagina dengan atau tanpa bau atau pendarahan. Vulvovaginitis yang
bersifat infeksius, di mana terdapat patogen spesifik yang menimbulkan gejala,
mungkin disebabkan oleh patogen dari kotoran maupun saluran pernapasan, yaitu
Escherichia coli, Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus, Haemophilus
influenzae, dan pada kasus yang jarang, Candida spp. Selain itu, Neisseria
gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis juga dapat menyebabkan vulvovaginitis

yang infeksius.
Pendarahan pada Vagina oleh Penyebab Lain
Penyebab lain yang dapat menimbulkan pendarahan vagina selain vulvovaginitis
dapat berupa:
- Benda asing seperti sisa dari pemakaian tisu toilet.
- Kondisi dermatologi seperti lichen sclerosus di mana kondisi ini dicirikan oleh
adanya radang kronik, pruritus yang hebat, dan penipisan serta pemutihan dari
kulit vulva dan perianal. Selain itu petechiae dapat juga ditemukan dan sering
-

dikelirukan sebagai tanda dari pelecehan seksual.


Trauma pada vulva atau vagina merupakan hal yang memprihatinkan. Biasanya
hal ini disebabkan oleh karena kecelakaan seperti jatuh pada pelana sepeda

ataupun tergelincir di kamar mandi yang dapat menimbulkan memar, hematoma,


ataupun luka gores, namun pelecehan fisik dan seksual juga harus dipikirkan.
Secara umum, bila traumanya disebabkan oleh kecelakaan, biasanya tidak
menimbulkan kelainan pada himen, namun bila terdapat luka gores pada himen,
-

khususnya pada bagian belakang, tindakan pelecehan harus dicurigai.


Prolaps uretra merupakan penyebab lain yang berpotensi menyebabkan
pendarahan pada vagina. Hal ini terjadi ketika ujung distal dari uretra mengalami
prolaps sebagian atau menyeluruh. Pasien yang datang mungkin tidak bergejala
atau disertai dengan pendarahan, disuria, atau kesulitan dalam berkemih. Kadar
estrogen yang rendah, trauma, batuk kronik, dan konstipasi diyakini sebagai faktor
yang mempengaruhi hal ini.

Fisiologi Menarche
Haid pertama yang dialami oleh seorang perempuan disebut sebagai menarche
(dibaca: menarki).7 Menarche pada umumnya terjadi sekitar 2 tahun setelah thelarche, pada
usia rata-rata 12,6 tahun. Haid yang pertama pada umumnya bersifat anovulasi dan
diperkirakan durasinya tidak teratur. Ketidakteraturan ini mungkin akan berlangsung selama
2 hingga 5 tahun. Selama fase ini, umpan balik estrogen terhadap hipotalamus mengurangi
sekresi gonadotropin, di mana hal ini akan mengurangi produksi estrogen dan menyebabkan
pendarahan yang dapat berlangsung lama dan berat.5
Pendarahan anovulasi ini biasanya tidak terasa sakit. Ketikasumbu hipotalamushipofisis-gonad matang, siklus ini akan berubah menjadi bersifat ovulasi. Ketika ovulasi
terbentuk, rata-rata panjang siklus menjadi 21 hingga 45 hari.5,7
Lamanya waktu dari satu periode menstruasi ke periode menstruasi berikutnya disebut
sebagai siklus menstruasi. Durasi siklus menstruasi biasanya berlangsung selama 28 hari
(lihat Gambar 1).7,8 Namun siklus menstruasi pada setiap orang memiliki durasi yang
berbeda-beda. Siklus ini ada yang berlangsung selama 24 hari, 28 hari, 30 hari, dan bahkan
ada yang 35 hari.7
Fase-fase Siklus Menstruasi pada Ovarium dan Endometrium

Fase Folikuler dan Proliferasi


Selama fase folikuler yang berlangsung dari hari pertama hingga hari ke-13 ini,
beberapa folikel primer bertumbuh, membentuk vesikel, dan berubah menjadi folikel
sekunder. Hingga pada akhir dari fase folikuler, satu folikel yang ada di dalam satu
ovarium mencapai kematangan dan berubah menjadi folikel de Graaf. Pertumbuhan

folikel dirangsang oleh hormon FSH yang dihasilkan oleh hipofisis anterior dan
seiring dengan pertumbuhannya, sel-sel granulosa akan mensekresikan estradiol
(estrogen utama) dalam jumlah besar. Kadar estradiol dalam darah akan bertambah
pada hari ke 12 dari siklus tersebut.8
Pada saat yang bersamaan, endometrium akan memperbaiki diri dan
berproliferasi dibawah pengaruh estrogen yang dihasilkan oleh folikel yang baru saja
bertumbuh. Estrogen merangsang proliferasi sel-sel epitel, kelenjar-kelenjar, dan
pembuluh darah pada endometrium, menambah lapisan endometrium ini hingga

ketebalannya mencapai 3 sampai 5 mm.9


Fase Ovulasi
Dibawah pengaruh rangsangan FSH, folikel de Graaf bertumbuh menjadi besar dan
akan berubah menjadi tonjolan berdinding tipis pada permukaan ovarium.
Pertumbuhan folikel akan diikuti oleh peningkatan estradiol secara cepat yang akan
merangsang terjadinya pelonjakan LH pada hari ke-13. Pelonjakan LH akan
menyebabkan dinding folikel de Graaf pecah pada hari ke-14 dan melepaskan oosit
sekunder yang dikelilingi oleh zona pellucida dan corona radiata ke dalam tuba

uterina.
Fase Luteal dan Sekresi
Setelah ovulasi, folikel yang kosong dirangsang oleh LH untuk membentuk suatu
bangunan baru yang disebut sebagai korpus luteum. Perubahan struktur ini diikuti
dengan perubahan fungsi di mana korpus luteum berfungsi dalam memproduksi
progesteron. Kadar progesteron dalam darah meningkat pada fase luteal, biasanya 1
minggu setelah terjadinya ovulasi. Kadar progesteron yang tinggi dikombinasikan
dengan estradiol memberikan efek umpan balik negatif terhadap sekresi FSH dan
LH.8
Pada endometrium, progesteron mengubah lapisan endometrium menjadi
menebal, sedangkan estrogen membuat lapisan endometrium menjadi kaya akan
pembuluh darah dan mengisi jaringan-jaringan yang ada dengan glikogen. Glikogenglikogen tersebut dihasilkan oleh kelenjar endometrium yang aktif mensekresikan
glikogen ke dalam lumen uterus untuk memberi makan embrio yang sedang
berkembang sebelum tertanam pada dinding endometrium.9
Kadar estrogen dan progesteron juga mengalami penurunan pada fase luteal
(dimulai pada hari ke-22) dikarenakan korpus luteum mengalami regresi dan berhenti
berfungsi dikarenakan oleh tidak terjadinya fertilisasi dan implantasi.8,9Penurunan
kadar hormon-hormon ovarium mencapai level yang sangat rendah pada hari ke-288
dan merangsang pelepasan prostaglandin uterus yang menyebabkan vasokonstriksi

pembuluh-pembuluh darah endometrium, mengurangi penyediaan darah ke dinding


endometrium. Pengurangan transpor oksigen ke jaringan endometrium mengakibatkan
kematian jaringan
endometrium

dan

pembuluh
darahnya. Sebagai
hasil

akhirnya,

pendarahan melalui
pembuluh

darah

yang telah rusak


membilas jaringan
endometrium yang
mati

ke

dalam

lumen uterus.9

Faktor-faktor

yang

Mempengaruhi
Sumber: Dee Unglaub Silverthorn, 5 editon
th

dapat

Gambar 1.Siklus Menstruasi Normal yang


Berlangsung Selama 28 Hari Ditandai dengan
Perubahan pada Ovarium dan Endometrium.

organ

Terjadinya Menarche
Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi
dimulainya

waktu
kematangan

reproduksi pada wanita.

Beberapa faktor tersebut antara lain:

Nutrisi
Cadangan energi yang adekuat diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan linear
dan pencapaian kematangan reproduksi pada usia pubertas.Status gizi memodulasi
terjadinya gonadarche pada anak perempuan, sebagaimana tercermin dari penemuan
yang memperlihatkan bahwa menarche tertunda terjadi pada anak perempuan kurang
gizi, dan menarche cenderung terjadi pada berat tertentu atau berat "kritis" tubuh
daripada usia yang ditetapkan.10 Untuk itu, kondisi gizi tubuh yang baik akan

mempercepat terjadinya menarche.


Aktivitas Fisik
Efek samping dari tingkat aktivitas fisik pada kesuburan telah diamati lebih dari 40
tahun yang lalu pada atlet wanita yang kompetitif. Sejak saat itu, sejumlah penelitian

menunjukkan bahwa atlet wanita muda mungkin mengalami usia pubertas yang
tertunda. Usia menarche rata-rata dari atlet wanita yang kompetitif dan penari balet

seringkali mengalami penundaan 2 hingga 4 tahun.11


Massa lemak
Beberapa peneliti merekomendasikan bahwa berat terendah atau ambang batas untuk
menarche adalah sekitar 17% lemak sebagai persentase berat badan. Sejalan dengan
itu, kurang lebih 26-28% lemak sebagai persentase dari berat badan dicapai pada
pencapaian pertumbuhan yang khas dan berat terendah sekitar 22% lemak tubuh
sangat penting untuk pemeliharaan atau kelanjutan dari menstruasi pada anak

perempuan yang usianya lebih tua dari 16 tahun.12


Hormon Leptin
Satu faktor yang mungkin berkontribusi terhadap hipogonadisme oleh kelaparan
adalah rendahnya kadar hormon leptin. Leptin merupakan hormon protein yang
dihasilkan oleh jaringan adiposa yang terlibat dalam homeostasis energi.
Hipoleptinemia berhubungan dengan rendahnya kadar LH dan estradiol dan mungkin
juga bekerja secara langsung pada tingkat hipofisis dan ovarium di mana dijumpai

reseptor-reseptor leptin.12
Faktor Lingkungan
Pada dunia yang berkembang, anak-anak dari kelas sosial yang tinggi akan matang
lebih dini dibandingkan dengan anak-anak dari kelas sosial yang rendah, dan gadis
yang tinggal di kota lebih cepat matang dibandingkan dengan gadis yang tinggal di
desa.13
Stress merupakan faktor risiko sosial lain yang mungkin atau tidak
mempercepat terjadinya pematangan. Anak perempuan yang tumbuh pada lingkungan
yang sulit (sebagai contoh, di mana orang tua telah berpisah atau hidup dalam konflik)
memiliki menarche 4 bulan lebih dini dibandingkan dengan anak perempuan yang
tumbuh pada lingkungan yang stabil.13

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada pasien dengan kasus di atas adalah
sebagai berikut:

Medica mentosa
Pada anak yang mengalami menstruasi, dapat kita berikan suplemen zat besi (Fe)
untuk menggantikan besi yang hilang saat menstruasi. 5 Selain itu, bila menstruasinya
disertai dengan rasa nyeri, kita dapat memberikan obat penghilang rasa nyeri seperti
ibuprofen atau asam mefenamat.7

Non-medica mentosa
Dokter dapat memberikan penyuluhan kepada anak perempuan mengenai apa yang
sedang terjadi pada dirinya dan cara menanganinya, seperti menjaga kebersihan diri,
mengganti pembalut setiap 3 atau 4 jam. Selain itu orang tua anak juga harus
diberikan edukasi mengenai apa yang harus dilakukan saat menstruasi pertama kali.

Prognosis
Prognosis untuk pasien yang mengalami menarche biasanya baik.
Komplikasi
Pendarahan hebat saat menstruasi dapat mengarah pada kondisi medis lain, di
antaranya adalah sebagai berikut:

Anemia
Anemia ini dapat ditimbulkan akibat terjadinya menorrhagia di mana terlalu banyak
pendarahan yang terjadi saat menstruasi.7 Sebagian besar kasus anemia hanya berada
dalam kondisi yang ringan, namun anemia dapat menyebabkan kelelahan,

peningkatan denyut jantung, sinkop, sakit kepala.5


Nyeri saat haid
Keluhan ginekologis yang paling umum dari wanita muda adalah nyeri menstruasi,
atau dysmenorrhea, yang berlangsung sejak hari pertama sampai hari ke-3 dari
pendarahan. Pelepasan prostaglandin dan leukotrien dari endometrium yang
berdegenerasi setelah penurunan kadar progesteron menyebabkan peningkatan tonus
uterus dan meningkatkan frekuensi dan dysrhythmia dari kontraksi uterus.5

Kesimpulan
Anak perempuan usia 12 tahun tersebut mengalami menarche atau menstruasi
pertama yang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti nutrisi, hormon, faktor sosial dan
ekonomi, faktor psikologis, dan sebagainya. Mempersiapkan mental anak dalam menghadapi
menstruasi pertamanya sangat penting bagi anak dalam memahami perubahan fisik yang
terjadi pada dirinya dan cara menanganinya. Selain itu, peran orang tua juga sangat penting
dalam membantu anak dalam menghadapi situasi seperti ini.

Daftar Pustaka

1. Abdurrahman N, Markum HMS, Suwondo A, Rani HAA, Harun S, Manurung D, et


al. Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisis. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2005. h. 11-8.
2. Parthasarathy A, Menon PSN, Agarwal RK, Choudhury P, Thacker NC, Ugra D, et. al.
IAP textbook of pediatrics. 4th ed. Mumbai: Jaypee Brothers Medical Publishers;
2009. p. 24-7.
3. Bickley LS, Szilagyi PG. Bates guide to physical examination and history taking. 11 th
ed. China: Lippincott Williams & Wilkins; 2013. p. 114, 17-8.
4. Benson RC, Pernoll ML. Buku saku obstetri dan ginekologi. Edisi ke-9. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2008. h. 14-5.
5. Marcdante KJ, Kliegman RM. Nelson essentials of pediatrics. 7thed. Philadelphia:
Elsevier; 2011. p. 240-1, 244, 510.
6. Hoffman BL, Schorge JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Bradshaw KD, Cunningham
FG. Williams gynecology. 2nd ed. China: McGraw-Hill; 2012. p. 387-9.
7. Priyatna A. Be a smart teenager! (for boys & girls). Jakarta: Elex Media Komputindo;
2009. h. 62, 7, 98, 100.
8. Fox SI. Human physiology. 12th ed. United States: McGraw-Hill; 2011. p. 722-5.
9. Sherwood L. Introduction to human physiology. 8th ed. China: Brooks/Cole Cengage
Learning; 2013. p. 809.
10. Strauss JF, Barbieri RL. Yen & Jaffes reproductive endocrinology: physiology,
pathophysiology, and clinical management. 7th ed. Philadelphia: Elsevier; 2014. p.
391.
11. Brown JE, Isaacs JS, Krinke UB, Lechtenberg E, Murtaugh MA, Sharbaugh C, et. al.
Nutrition through the life cycle. 5th ed. USA: Cengage Learning; 2013. p. 60.
12. Hollins-Martin CJ, van den Akker OBA, Martin CR, Preedy VR. Handbook of diet
and nutrition in the menstrual cycle, periconception, and fertility. Netherlands:
Wageningen Academic Publishers; 2014. p. 264-5.
13. Goldman MB, Troisi R, Rexrode KM. Women & health. 2 nd ed. Philadelphia:

Elsevier; 2012. p. 157.