Anda di halaman 1dari 35

ANALISIS PERIODE DOMINAN DAN Vs30 TERHADAP KERENTANAN TANAH

MENGGUNAKAN METODE MIKROTREMOR


Studi kasus Kota Sorong, Papua Barat
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
Diajukan sebagai syarat melengkapi nilai mata kuliah Pratek Kerja Lapangan
Program Studi Geofisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
Oleh :
Ridho Fauza Majbur
140710110022

PROGRAM STUDI GEOFISIKA


FAKULTAS METEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2015

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL

ANALISIS PERIODE DOMINAN DAN Vs30


TERHADAP KERENTANAN TANAH
MENGGUNAKAN METODE MIKROTREMOR

PENYUSUN

RIDHO FAUZA MAJBUR

NPM

140710110022

Jatinangor, Februari 2015

Menyetujui,
Kasubbid Mitigasi dan Gempa Bumi
Pembimbing

Dr.Ir. Sri Hidayati


196708121994032002

Mengetahui,
Ketua Program Studi Geofisika
FMIPA UNPAD

Dr. Asep Harja, M.Si.


NIP. 196904191995121001

Abstrak

Telah dilakukan penelitian mikrotremor pada daerah sorong, papua barat. Daerah sorong
merupakan wilayah yang mempunyai sebuah sesar aktif, yaitu sesar sorong yang sewaktuwaktu dapat menimbulkan gempa yang akan berdampak pada wilayah sekitar sumber gempa
atau sesar sorong tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui indeks kerentanan
seismik, nilai Vs30 berdasarkan nilai frekuensi dominan yang didapat dan dapat
memperkirakan bahaya yang akan timbul akibat adanya aktivitas seismik pada daerah sorong,
papua barat. Pengukuran dilakukan 30menit untuk setiap titik pengukuran. Data yang
terekam pada pengukuran mikrotremor ini berupa data amplifikasi (A) dan frekuensi
dominan (fo). Data ini kemudian dianalisis menggunakan metode Horzontal to Vertical to
Spectral Ratio (HVSR). Data frekuensi dominan, periode dominan dan nilai Vs30 dapat
ditampilkan dalam bentuk peta guna melihat sebaran nilai pada daerah penilitian. Pemetaan
dapat dilakukan dengan menggunakan software global mapper dan mapinfo.

Kata kunci : mikrotremor, Vs30, HVSR.

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu upaya pengurangan risiko bencana gempabumi pada suatu daerah adalah
dengan menggali dan menganalisis seluruh potensi bahaya gempabumi secara lengkap.
Pemahaman terhadap potensi bahaya gempabumi secara tidak langsung akan meningkatkan
kapasitas kita dalam menghadapi bahaya yang kemungkinan ditimbulkannya. Untuk itu
kajian mengenai potensi bahaya gempabumi di suatu daerah sangatlah penting untuk
dilakukan. Salah satu upaya untuk mengetahui potensi bahaya gempabumi di suatu daerah
adalah dengan melakukan pengukuran mikrotremor untuk mendapatkan periode dominan
serta amplifikasi pada daerah yang mempunyai potensi bahaya gempabumi.
Tingkat kerusakan akibat gempabumi umumnya dipengaruhi oleh magnitudo dan
jarak pusat gempabumi. Namun pada beberapa kasus gempabumi yang telah terjadi, ternyata
tingkat kerusakan akibat gempabumi tidak regular seperti yang diperkirakan. Pada beberapa
kasus ada daerah-daerah tertentu yang tingkat kerusakannya diatas kewajaran. Beberapa
kasus gempabumi yang telah terjadi menunjukkan bahwa kerusakan lebih parah terjadi pada
dataran alluvial dibandingkan dengan daerah perbukitan [1]. Banyak daerah dengan populasi
yang besar berada pada soft sediment (seperti di daerah lembah dan muara) yang struktur
tanahnya cenderung memperkuat gelombang seismik [2]. Litologi yang lebih lunak
cenderung akan memberikan respon periode getaran yang panjang (frekuensi rendah) dan
mempunyai resiko yang lebih tinggi bila digoncang gelombang gempabumi karena akan
mengalami penguatan yang lebih besar dibandingkan dengan batuan yang lebih kompak.
Fenomena ini biasanya disebut site effect atau site amplification [3].
Tingkat kerusakan dan bahaya gempabumi ternyata juga sangat dipengaruhi oleh
kondisi geologi lokal atau efek tapak lokal. Contoh kasus fenomena efek tapak lokal adalah
gempabumi Bantul 27 Mei 2006 dan gempabumi Michoacan, Mexico 19 September 1985.
Gempabumi Bantul, 2006 magnitudonya relatif kecil namun mengakibatkan lebih dari 6.000
orang meninggal dunia dan 1.000.000 orang kehilangan tempat tinggal [4]. Gempabumi
Michoacan juga menimbulkan kerusakan parah, meskipun jarak antara pusat gempabumi
dengan kota Michoacan lebih dari 100 kilometer. Gempabumi Bantul dan Michoacan menjadi
sangat merusak disebabkan oleh kondisi geologi lokal. Graben Bantul merupakan cekungan
yang berisi material lepas produk erupsi Gunungapi Merapi [5], sementara Kota Michoacan
dibangun di atas bekas rawa. Ketebalan lapisan sedimen kedua kota ini memicu terjadinya

resonansi gelombang gempabumi, sehingga menimbulkan amplifikasi getaran gempabumi


[6].
Daryono (2011) [5] telah melakukan penelitian tentang indeks kerentanan seismik
berdasarkan mikrotremor pada setiap satuan bentuk lahan di zona Graben Bantul. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata indeks kerentanan seismik berdasarkan
mikrotremor pada setiap satuan bentuklahan berubah mengikuti satuan bentuklahan. Dari
penelitian tersebut juga didapatkan beberapa faktor yang mempengaruhi indeks kerentanan
seismik antara lain jenis material penyusun bentuklahan, ketebalan sedimen dan kedalaman
muka airtanah. Daryono (2009) [7] juga telah melakukan penelitian tentang efek tapak lokal
di Graben Bantul berdasarkan pengukuran mikrotremor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
zona kerusakan parah akibat gempabumi Bantul, 2006 yang terkonsentrasi di sepanjang sesar
Opak tidak disebabkan oleh reaktivasi sesar seperti yang diprediksi oleh para ahli ilmu
kebumian sebelumnya, tetapi merupakan cerminan adanya fenomena efek tapak lokal
di Graben Bantul.
Kota Sorong merupakan salah satu kota di Provinsi Papua Barat yang sangat strategis
karena merupakan pintu keluar masuk Provinsi Papua. Kota ini merupakan kota industri,
perdagangan dan jasa karena kota ini dikelilingi oleh kabupaten lain yang memiliki kekayaan
alam yang melimpah. Luas wilayah Kota Sorong mencapai 1.105,00km2 atau sekitar 1.13%
dari total luas wilayah Papua Barat. Secara geografis, Kota Sorong berada pada koordinat
13151' Bujur Timur dan 0 54' Lintang Selatan . Berdasarkan Sensus Penduduk 2010,
jumlah penduduk kota Sorong (Angka Sementara) adalah 190.341 berdasarkan data tersebut
Kota Sorong merupakan daerah yang cukup padat penduduknya. Keadaan topografi kota
sorong sangat bervariasi dari Pegunungan , lereng-lereng , dataran rendah hingga daerah
timur merupakan Hutan lindung maupun Hutan Wisata.
Berdasarkan kasus-kasus gempabumi yang telah dijelaskan diatas, untuk keperluan
pengetahuan tentang potensi bahaya serta perencanaan pembangunan infrastruktur penting di
daerah Sorong, kajian potensi bahaya gempabumi penting dilakukan, salah satunya dengan
penelitian efek tapak lokal melalui pengukuran mikrotremor.

Gambar 1.2 . Peta DEM ( digital Elevation model Kota Sorong)


Berdasarkan peta percepatan tanah (PGA) yang disusun oleh tim revisi gempa tahun
2010 daerah kota sorong masuk dalam kategori menengah dengan percepatan tanah sekitar
0,5 sampai 0,8 gal

Gambar 1.3. Peta Zonasi Gempa indonesia (Tim revisi gempa 2010)
PGA atau Peak Ground analysis adalah peta percepatan tanah di batuan dasar , peta
ini dikembangkan melalui metode PSHA ( Probability Seismic hazard analysis ) yang dapat
dijadikan dasar sebagai peta gempa di suatu wilayah PGA biasanya dinyatakan sebagai

percepatan maksimum batuan dasar untuk menyatakan keadaan paling parah apabila suatu
wilayah di guncang gempa.
Perkembangan tentang tanggap Gempa bumi telah banyak dilakukan penelitian oleh
negara-negara didunia termasuk indonesia , dulu penelitian gempa bumi banyak difokuskan
pada metode PSHA (probabilistic seismic hazard analysis) maupun DSHA ( deterministic
seismic hazard analysis) yaitu hanya menganalisis percepatan batuan di batuan dasar dari
sumber-sumber yang telah diketahui maupun sumber-sumber yang tidak diketahui, semua
arah penelitian tentang dampak gempa bumi ramai-ramai dilakukan oleh banyak negara
setelah kejadian gempa bumi yang terjadi di Meksiko yang telah dijelaskan sebelumnya.
Lapisan tanah pada suatu daerah umumnya memiliki frekuensi dominan, apabila
terjadi guncangan gempa dengan frekuensi yang sama dengan frekuensi tanah maka akan
menyebabkan resonansi, resonansi pada tanah dapat menyebabkan amplifikasi (penguatan)
gelombang gempa hingga beberapa kali lipat, walau tidak semua daerah dapat mengalami
amplifikasi terkadang pada daerah tertentu gelombang gempa juga dapat mengalami
deamplifikasi, oleh sebab itu daerah yang diguncang dengan kekuatan gempa yang sama
belum tentu menghasilkan efek yang sama pada daerah yang berbeda tergantung dari
karateristik tanah pada masing-masing daerah yang dikenal dengan Site effect/efek tapak
lokal. Site effect/ efek tapak lokal pada kota meksiko yang menyebabkan gelombang gempa
mengalami amplifikasi hingga beberapa kali lipat karena karateristik lapisan tanah meksiko
yang lunak dan tebal.
Indonesia merupakan negara yang berada pada tiga lempengan aktif dan banyaknya
sesar yang masih aktif serta daerah dengan lapisan sedimen yang cukup tebal dan lunak,
resiko gempa bumi di negara ini dapat menyebabkan skenario terburuk. Berdasarkan alasanalasan tersebut untuk itulah efek tapak lokal perlu dikaji lebih lanjut terutama dalam
keperluan mitigasi bencana gempabumi.

Kerusakan yang disebabkan oleh gempa bumi dapat diakibatkan oleh keadaan geologi
setempat yang dapat mempengaruhi gerakan tanah (Nakamura,2010) keadaan geologi sangat
erat kaitannya dengan kondisi litologi batuan apakah batuan tersebut relatif lebih lunak atau
keras, berdasarkan dua hal diatas penulis mempertimbangkan perlunya analisis Periode
dominan untuk mengestimasi efek karateristik tanah terhadap guncangan gempa di Kota
sorong, nilai Periode dominan akan didukung oleh data Vs30 atau kecepatan gelombang
seismik pada kedalaman 30 meter untuk menentukan jenis klasifikasi tanah di lokasi
penelitian berdasarkan klasifikasi tanah yang diklasifikasikan oleh zhao tahun 2004.

1.1.2

Potensi Kegempaan daerah Penelitian


Teori tentang Tektonika lempeng telah lama di kemukakan oleh ahli geologi salah satu

diantaranya ialah Alfred Wegener tahun 1912 dalam bukunya The Origin of continents and
Ocean dalam bukunya ia menyatakan bahwa lempeng bumi saling bergerak satu sama lain
bahwa bumi dulunya merupakan satu kesatuan yang utuh yang dengan waktu jutaan lamanya
bumi bergerak hingga membentuk satuan-satuan yang lebih kecil. Bukti kebenaran teori
tektonika lempeng banyak dikemukakan oleh para ilmuwan diantaranya ialah kesamaan garis
pantai antara benua amaerika selatan dengan benua afrika, kemudian Wegener juga
mengajukan bukti dokumentasi fosil mesosaurus dapat ditemukan di kedua sisi benua
tersebut diyakini bahwa mesosaurus tidak mungkin menyebrangi samudra yang luas ini.
Bukti selanjutnya, jajaran pegunungan yang terpotong oleh samudera. Pergerakan lempeng
umumnya dibagi menjadi tiga, yang pertama ialah pergerakan secara konvergen. Pergerakan
konvergen ialah pergerakan lempeng dimana 2 lempeng saling bergerak saling mendekat satu
sama lain, lempeng yang lebih tipis akan menunjam kebawah terhadap lempeng yang lebih
tebal. Biasanya terbentuk antara pergerakan lempeng benua dan samudra. Pergerakan kedua
yaitu pergerakan lempeng secara divergen, yaitu pergerakan antar lempeng yang relatif saling

menjauh. Pergerakan lempeng yang saling menjauh pada lapisan samudra akan membentuk
Sea floor spreading/pemekaran lantai samudra ini terjadi karena daerah yang mengalami
divergensi akan diisi oleh material dari mantel bumi ke atas sehingga daerah ini dikenal
sebagai daerah weakzone dengan susunan batuan yang lebih muda ditengah dan batuan lebih
tua dipinggir. Pergerakan lempeng yang ketiga ialah pergerakan lempeng secara transform
dimana lempeng tersebut saling bergerak bergesekan tanpa terjadinya kehancuran litosfer.
Indonesia terletak dari kegiatan tiga lempeng besar yang aktif diantaranya ialah
lempeng Indo Australia, lempeng Eurasia serta lempeng Circum Pasific yang relatif bergerak
satu sama lain. Lempeng indo Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai
Sumatra, Jawa dan Nusa tenggara sedangkan di dengan pasific berada di Utara irian dan
Maluku utara.

Gambar 1.4 . Seismic hazard map of indonesia oleh USGS

Dari peta seismic hazard map yang dikeluarkan oleh USGS kita dapat menyimpulkan
bahwa daerah-daerah yang berada dilingkung subduksi seperti pulau Sumatra, Jawa dan NTT
memiliki nilai percepatan PGA yang relatif tinggi yaitu sekitar 2.5-9.8 m/s2 hal ini berarti
bahwa pergerakan antar lempeng ( zona subduksi) akan berasosiasi dengan percepatan tanah
di batuan dasar yang relatif lebih cepat, ketika terjadi pelepasan energi yang mengakibatkan
gempabumi maka daerah-daerah tersebut akan sangat rawan di guncang oleh gempa.
Beberapa Sesar-sesar di indonesia juga dapat mengakibatkan terjadinya gempa bumi .
Tabel dibawah ini akan menunjukan beberapa sesar aktif dengan besar Magnituda
yang dapat dihasilkan .

Tabel 1. Sumber gempa fault untuk daerah jawa dan sekitarnya ( Tim revisi gempa 2010)

Tabel 2. Sumber gempa fault untuk daerah sulawesi dan sekitarnya ( Tim revisi gempa, 2010)

Tabel 3. Sumber gempa fault untuk daerah sulawesi dan sekitarnya ( Tim revisi gempa, 2010)
Berdasarkan data-data diatas maka tidak berlebihan apabila kita menyatakan bahwa
negara Indonesia memiliki aktivitas pergerakan tektonik yang sangat tinggi yang dapat
memicu terjadinya gempa bumi.

Gambar 1.5. Seismicity map of indonesia Mw>4 (Rahmat Putra, et all)

1.2 Identifikasi Masalah


Identifikasi masalah pada penelitian ini ialah bagaimana menentukan peta rawan
bencana gempa bumi daerah kota Sorong yang didasarkan oleh karateristik tanah setempat
(Local site effect ) melalui perhitungan frekuensi dominan melalui metode HVSR dan
penentuan site class berdasarkan data Vs30.

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan Penelitian ini ialah mendapatkan peta rawan Gempa bumi di kota Sorong
berdasarkan Kajian frekuensi dan periode dominan dan Vs30.

1.4

Batasan Masalah
Penentuan mikrozonasi daerah Rawan gempa hanya didasarkan pada karateristik

tanah setempat tanpa memperhitungkan PGA ( peak Ground Acceleration) berupa percepatan
tanah di batuan dasar

1.5

Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian yang dilakukan berupa data Mikrotremor yang dimbil oleh

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dikota Sorong sebanyak 56 titik untuk
mendapatkan frekeunsi dominan dengan software Geopsy dan HV eksplorer kemudian data
tersebut dilengkapi dengan data dari USGS untuk mencover daerah penelitian.

1.6

Daerah Penelitian
Daerah penelitian ini berada di kota Sorong dengan batas koordinat Bujur 131.212494

- 131.304169 dan lintang -0.804167 (-0.895833).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Tinjauan Geologi
Tatanan tektonik wilayah Papua telah banyak diulas oleh ahli geologi seperti Dow et

al (1985), Smith (1990) dan Mark cross. Konfigurasi tektonik pulau Papua pada saat ini
berada pada bagian tepi utara lempeng Australia yang berkembang akibat adanya pertemuan
antaralempeng Australia yang bergerak ke utara dengan lempeng Pasifik yang bergerak ke
barat. Tektonik Papua dapat dibedakan menjadi 2 yaitu bagian kepala burung dibagian barat
dan bagian badan burung di bagian timur. Daerah kepala burung mengalami kompresi
keselatan sejak jaman Oligosen. Kompresi ini merupakan hasil interaksi konvergen miring
(oblique) antara Lempeng Benua Indo-Australia dan Lempeng Samudera Pasifik-Caroline
(Dow & Sukamto, 1984).
Daerah Kota sorong dipapua berada di daerah kepala burungbersebelahan dengan
kabupaten sorong dan kabupaten manokwari yang terdiri dari rentang pegunungan yang
tinggi,daerah kapur, cekungan intramontana serta hamparan besar daratan aluvial rendah
gabungan antara pantai dengan muara Sesar sorong merupakan salah satu dari struktur
geologi yang utama sebagai batas utama antara lempengan samudra pasifik dengan lempeng
benua Australia selatan

yang ditunukan oleh pegunungan Tohkiki yang menunjukan

kelurusan timur barat sepanjang 150 kilometer sepanjang jalur patahan Sorong (modern
quartenary research in souteast asia)\
Citra dibawah menggambarkan zona patahan sesar sorong dengan menggunakan Peta
DEM ( digital elevation Model) untuk menggambarkan Pola kelurusan sesar Sorong

Gambar 2.1. Perkiraan zona Patahan sesar Sorong melalui citra DEM
Pulau Papua dalam bahasan ini yakni daerah kepala Burung merupakan bagian dari
margin Utara blok benua Australia dan bagian selatan lempeng pasifik, keduanya dipisahkan
masing-masing oleh 2 patahan yang berkelurusan kearah Timur barat yakni Yapen Fault pada
zona timur Irian jaya dan Sorong Fault zona patahan di zona kepala burung . Stratigrafi
daerah kota Sorong dibagi menjadi beberapa satuan batuan maupun formasi antara lain :

2.2

Tinjauan Geofisika

2.2.1 Teori tentang Gelombang


Gelombang merupakan fenomena alam dimana terjadi perpindahan energi dari suatu
sumber

ke titik-titik lain. Gelombang seismik adalah gelombang yang merambat di

permukaan bumi maupun di dalam bumi yang bersala dari sumber seismik seperti Gempa
Bumi maupun kejadian alam lain seperti

Aktivitas gunung api,Longsor,badai maupun

sumber yang dibuat sendiri seperti ledakan untuk keperluan eksplorasi. Pada umumnya
gelombang dibagi menjadi 2 yaitu gelombang Body dan Gelombang Permukaan. Gelombang
body merupakan gelombang yang merambat kedalam Bumi sedangkan gelombang
permukaan merupakan gelombang yang menjalar di permukaan bumi ketika ada gangguan
seismik . Gelombang Body / gelombang badan pada umumnya dibagi menjadi 2 yaitu
gelombang P (primer) dan gelombang S (sekunder) , gelombang p merupakan gelombang
kompresi yang merupakan pulsa-pulsa bergantian antara gaya pemampatan dan peregangan
yang bergerak searah dengan jalan gelombang atau biasa disebut dengan gelombang tipe
longitudinal , Gelombang ini dapat merambat pada medium gas,cair maupun padat, efek dari
pemampatan dan peregangan ini akan menyebabkan perubahan volume dan densitas dari
mediu yang dilewatinya .Gelombang P merupakan gelombang dengan kecepatan tertinggi
diantara gelombang-gelombang seismik yaitu berkisar 6km/s yang merambat pada bagian
atas dan gelombang pertama yang tercatat di stasiun gempa oleh karena itu gelombang ini
dinamakan sebagai gelombang Primer (P).

Gambar 2.2. Gelombang longitudinal dengan arah rambat sejajar dengan arah gelombang
(sumber : http://www.geo.mtu.edu/UPSeis/waves.html)
Gelombang badan yang kedua adalah gelombang S (Shear wave) gerak gelombang ini
yaitu adalah gelombang yang arah rambatnya tegak lurus dengan arah gelombang dan hanya
bisa menjalar pada medium yang padat, gelombang S terdiri dari gelombang SV (shear
vertical ) dan SH ( Shear Horizontal). Gerak partikel gelombang SV tegak lurus terhadap ray
dan terletak pada bidang vertikal yang juga mengandung Ray sedangkan gerak gelombang
SH juga tegak lurus terhadap ray tapi terletak pada bidang horizontal atau sejajar dengan
permukaan bumi ,gelombang ini memiliki kecepatan rambat lebih rendah dibanding dengan
gelombang P yaitu 3.5 oleh karena itu gelombang S adalah gelombang yang terekam setelah
gelombang P

Gambar 2.3. Gelombang S dengan arah rambat tegak lurus dengan arah gelombang
(Sumber : http://www.geo.mtu.edu/UPSeis/waves.html)
Tipe gelombang diatas (Gelombang badan ) dapat dipantulkan dan dibiaskan oleh
medium-medium didalam bumi . Gelombang jenis kedua merupakan jenis gelombang

permukaan yang dibagi menjadi gelombang Love dan gelombang Rayleigh . Gelombang ini
merambat sejajar dengan permukaan medium . Tipe pertama dari gelombang permukaan
yaitu gelombang love, gelombang ini terbentuk karena adanya interferensi gelombanggelombang pantul .Gelombang SH pada suatu lapisan dengan permukaan bumi.Gerak partikel
medium ketika dilewati gelombang love sama dengan gelombang SH, namun amplitudonya
berkurang terhadap kedalaman

Gambar 2.4. Ilustrasi gerak partikel pada suatu medium ketika dilewati Gelombang love.
Gerak partikelnya sejajar dengan permukaan bumi dan tegak lurus terhadap arah rambat
gelombang (sumber :http://www.geo.mtu.edu/UPSeis/waves.html )
Tipe gelombang kedua permukaan adalah gelombang rayleigh .gelombang ini
terbentuk akibat interferensi gelombang-gelombang pantul P dan SV yang sudut datangnya
melebihi sudut kritis. Gerak partikel medium ketika dilewati gelombang ini membentuk elips
yang merupakan kombinasi dari gerak partikel gelombang P dan SV, seperti gelombang Love
gelombang ini akan turun/berkurang terhadap kedalaman.

Gambar 2.5. Ilustrasi gerak partikel pada suatu medium ketika dilewati gelombang. Gerak
partikel seperti gulungan berbentuk elips ( sumber : http://www.geo.mtu.edu/UPSeis/waves.html)
Gelombang Permukaan bersifat dispersif , yaitu kecepatan gelombangnya akan
tergantung pada frekuensi . Semakin besar frekuensinya maka semakin kecil kecil
kecepatanya dan penetrasi kedalama akan semakin dangkal dan sebaliknya .Efek fempa bumi
berupa goyangan yang terjadi pada permukaan bumi biasanya disebabkan oleh gelombang
permukaan yakni gelombang love dan gelombang rayleigh karena dua gelombangtersebut
merambat pada permukaan maka efek gelombang permukaan akan lebih dominan dibanding
gelombang body yang relatif lebih dalam penetrasinya.

2.2.2 HVSR ( Horizontal to Vertical Spectral ratio)


Horizontal to vertical spectral ratio di perkenalkan oleh Yukata NAKAMURA dalam
papernya CLEAR IDENTIFICATION OF FUNDAMENTAL IDEA OF NAKAMURAS
TECHNIQUES AND ITS APPLICATIONS , metode tentang perkembangan mikrotrmor
sebenarnya telah banyak dikembangkan untuk mengestimasi karateristik dinamik dari lapisan
permukaan sejak 1950, namun terori tentang sumber gelombang mikrotremor mengalami
ketidadakpastian apakah gelombang yang dihasilkan adalah gelombang bodi atau gelombang
permukaan, Nakamura mengembangkan metoda HVSR (Horizontal vertical to spectral ratio)
untuk mengestimasi nilai frekuensi dan amplifikasi keadaan geologi setempat dengan
membandingkan spektrum horizontal dengan spektrum vertikalnya untuk mendapatkan nilai
frekuensi dominan pada suatu daerah ( nilai amplifikasi tidak serta merta mencerminkan
kondisi batuan karena pada beberapa kasus nilai suatu daerah dapat mengalami
deamplifikasi , oleh karena itu penulis tidak menyertakan faktor amplifikasi dalam penentuan
karateristik tanah) melalui gelombang SH ( gelombang badan). Berdasarkan contoh yang

diberikan oleh Nogoshi dan Igarashi (1971) pengukuran microtremors di Hakodate, japan
berdasarkan analisa spektrum menunjukan bahwa energi dari gelombang rayleigh tidak
muncul di puncakan dari H/V dari gelombang Rayleigh dan amlitudo hampir bernilai nol
untuk komponen horizontal dan bermnilai nol untuk komponen vertikal dari gelombang
rayleigh dengan kata lain gelombang rayleigh tidak dapat mencerminkan sumber gelombang
yang dihasilkan microtremors.
Berdasarkan penelitian lain seperti Bonnefoy-cludet et al . (2006b) berdasarkan
tinjauan pustaka gelombang microtremor dibangkitkan oleh gelombang love dan gelombang
rayleigh dengan proporsi tertentu namun Konno Ohmaci (1998) menjelaskan HVSR yang
dikenalkan oleh Nakamura dapat merepresentasikan karateristik dinamik tanah setempat
( Santosa dan Sungkono).
Penulis menetapkan Metoda HVSR untuk menentukan nilai frrekuensi dominan
karena hanya membutuhkan biaya yang lebih sedikit dibandingkan dengan metode Boring
dan dapat diaplikasikan di area yang memiliki aktivitas seismik yang rendah bahkan tidak
ada
Metode HVSR dinyatakan dalam notasi matematika yakni :

Dengan :

S M (w)

= fungsi transfer untuk lapisan sedimen

H SN (w)2 = komponen horizontal berarahan utara selatan


H WE (w)2= komponen horizontal berarahan barat timur
Vs

= komponen vertical

Untuk pencarian periode dominan digunakan persamaan gelombang biasa yaitu frekuensi
berbanding terbalik dengan frekuensi dominan :

Fo = 1 / To
Dengan :

Fo = frekuensi dominan
To = periode dominan

Periode dominan menggambarkan keadaan tanah (kondisi tanah) apabila diguncang


gempa semkain besar periodanya akan semakin besar tingkat kerawanan suatu daerah apabila
diguncang oleh gempa.

2.2.3 Vs30 ( Kecepatan Gelombang S pada pada ketebalan sedimen 30 m )


Vs30 adalah kecepatan gelombang S (Shear), parameter ini lumrah digunakan dalam
dunia teknik sipil untuk menentukan tahanan tanah sebagai pondasi bangunan oleh karena
itulah biasanya kedalaman yang ditetapkan sedalam 30 meter karena berhubungan dengan
pembuatan pondasi bangunan untuk teknik sipil. Zhao merumuskan hubungan antara
frekuensi dominan dengan Vs30 yakni :
TVs30 = 120m/Vs30
Dengan :

TVs30 = Perioda dominan

Berdasarkan hubungan antara periode dan frekuensi maka akan didapatkan hubungan :
Vs30 = f x 120m
Dengan f merupakan frekuensi dominan.
Dari persamaan diatas kita bisa mendapatkan nilai frekuensi dominan dari data Vs30
dan mendapatkan nilai Vs30 dari data frekuensi dominan . Pada ketinggian yang tinggi
dengan kemiringan lereng curam dan elevasi tinggi nilai Vs30 relatif lebih kecil karena
daerah

ini

didomniasi

batuan

keras

dibandingkan

dengan

batuan

sedimenya

(Wakamatsu,dkk.2006). Peta siteClass / kelas tanah Berdasarkan Peta Vs30 penulis


menetapkan berdasarkan klasifikasi yang dilakukan oleh NEHRP.

Site Class

Soil Profile Name

Average Properties in Top 100 feet


(as per 2000 IBC section 1615.1.5)
Soil Shear Wave Velocity, Vs
Feet/second

Meters/second

Hard Rock

Vs > 5000

Vs > 1524

Rock

2500 < Vs< 5000

762 <Vs< 1524

Very dense soil and soft


rock

1200 < Vs < 2500

366 < Vs< 762

Stiff soil profile

600 < Vs< 1200

183 < Vs< 366

Soft soil profile

Vs < 600

Vs < 183

2.2.4 Penghalusan data


Penghalusan data yang diolah dengan software Geopsy ini dilakukan dengan prinsip
yang dilakukan oleh Konno dan Omachi :

Dimana :

b = koefisien bandwith
f = frekuensi
fc = center frequency

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1

Daerah Penelitian
Daerah penelitian pada penelitian ini dibatasi di Kota Sorong seusai akuisisi data

mikrotremor yang dilakukan oleh Pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi dari bujur
131.212494 hingga 131.304169

dan lintang antara -0.804167 hingga -0.895833, titik

pengkuruan yang dilakukan oleh PVMBG dilakukan disepanjang jalan Kota Sorong dekat
dengan pantai.

3.2

Waktu dan Titik Pengukuran


Waktu pengukuran yang dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan mitigasi bencana

Geologi dilaksanakan pada tahun 2012 bulan november tanggal 10 sampai tanggal 12 , titik
Pengukuran dilakukan sebanyak 102 titik namun data yang bisa disajikan hanya berjumlah 56
titik.

Gambar 3.1 data Pengukuran titik Pengukuran Mikrotremor Kota Sorong sebanyak 56 titik.
Selanjutnya untuk mencover daerah penelitian maka data titik pengukuran dilengkapi
dengan data dari USGS data disajikan dalam peta dibawah ini.

Data Pengukuran mikrotemor berdasarkan pengukuran langsung sebanyak 56 titik


kemudian data dari USGS ( United States Geological Survey) sebanyak 154 titik , jadi total
titik pengukuran sebanyak 200 titik.

3.3
1.

Peralatan Pengolahan Data


Geopsy yang dikembangkan oleh Marc Wathelet Copyright 2002 -2011 software ini
merupakan open source yang dapat diunduh langsung di internet.

2.

HV-Explorer merupakan software kerjasama antara Georisk Project Indonesia-Jerman.

3.

Software yang dikembangkan oleh Golden surfer.

4.

Global Mapper 11.

5.

Microsoft Excel 2010.

6.

Notepad.

7.

Notepad++.

3.4

Pengolahan data

3.4.1

Persiapan Data
Pengolahan data pada penelitian ini meliputi beberapa tahap antara yakni,

pengelompokan data sesuai stasiun pengukuran, misal kelompok stasiun 01, stasiun 02 dan
seterusnya kelompok data tersebut dirubah formatnya dari format keluaran alat ke .SAF
dengan DM2SAF yang dikeluarkan oleh georisk project Indonesia German agar dapat dibaca
didalam software geopsy, masukan sinyal satupersatu kedalam Geopsy dengan mengklik
import Signal,

Gambar 3.2. Contoh signal yang dimasukan kedalam Geopsy titik S001 dan tampilan grafik
titik / stasiun S001 pada software Geopsy
Setelah semua sinyal tiap stasiun telah dimasukan kedalam Geopsy lalu pilih menu
edit unlock lock table edition kemudian pilih view > set data fields klik add pilih Filename
pada kolom Data field klik pada titlefile kemudian akan muncul Filename setelah pilih
OK maka filenames akan muncul pada tabel, apabila filename tidak sesuai yang diinginkan
Misal S001 maka kita bisa merubahnya dengan pilih Edit > Set headers dan ikuti persamaan
dibawah :
Name = mid(FileName, 18, 4)

18 dapat kita ubah hingga penamaan nya seusai, angka 4 menggambarkan banyaknya
karakter pada nama tersebut yaitu S001 ( 4 karakter) setelah kita memilih Apply maka
perintah akan muncul ditabel, kemudian pilih File > Save dan beri nama lapangan yang akan
kita olah contoh : Sorong_HV.gpy
Pengolahan data diatas belum terdiri dari informasi koordinat untuk tiap titiknya
untuk memberi kordinat siapkan informasi koordinat terlebih dahulu di notepad dengan
urutan :
S001 394837

9051225

.
.
Sn

Xn

Yn

Kemudian masuk ke geopsy lagi pilih Edit > Set Receivers pilih load koordinat , masukan
data berformat .txt yang telah dibuat dinotepad pilih UTM dan klik OK maka informasi
koordinat akan tampil ditabel
3.4.2

Pemprosesan H/V
Pemprosesan H/V dengan software geopsy untuk data singlestation dilakukan dengan

tahap buka Geopsy pilih H/V tool Buton kemudian pada menu select pilih auto hal ini
dilakukan dengan memilih Number Of windows Secara otomatis karena semakin besar
jendela hasil pengolahan nya akan semakin baik, kemudian pada output pilih alamat directory
untuk menempatkan hasil pengolahan dengan software Geopsy

Gambar 3.3 . Pemprosesan H/V dengan Geopsy


Gambar 12. H/V prosesing dengan softwaregeopsy pada stasiun S01 f0 = frekuensi dominan
A0 = amplifikasi
Namun dalam kasus ini penulis tidak menggunakan picking secara otomatis seperti
yang dilakukan langkah-langkah diatas , pemilihan frekuensi dominan dilakukan dengan HVeksplorer dengan melakukan picking secara manual melalui pertimbangan geologi daerah
penelitian ,dengan mengoverlay titik-titik pengukuran kedalam peta geologi regional daerah
penelitian , Pemilihan frekuensi dominan dengan memilih peak (puncak grafik) dengan
asumsi daerah dengan tingkat litologi lebih keras ( Batuan beku) memiliki periode lebih
rendah ( frekuensi tinggi) dibandingkan dengan daerah dengan litologi lebih lunak (Periode
tinggi)

Gambar 3.4. Manual Picking dengan H-V eksplorer

Kemudian setelah semua titik dilakukan picking seperti langkah diatas pilih menu Grid
kemudian Save Grid kemudian hasil Grid ini kita export kedalam surfer sebanyak 56 titik
dan dengan metode kriging , data diatas dilengkapi dengan data dari USGS yang telah
dirubah kedalam bentuk frekuensi dominan maupun periode dominan dengan persamaan
Zhao yakni :
Frekuensi dominan = Vs30 / 120m (Zhao,2004)
Persamaan diatas digunakan untuk merubah Vs30 kedalam frekuensi dominan untuk keluaran
dari USGS dan frekuensi dominan kedalalm Vs30 hasil dari pengukuran langsung , jumlah
total titik penelitian sebanyak 200 titik dengan 56 titik dari Pengukuran langsung dan 144
titik diambil dari USGS dan hasil pengolahan data dibagi menjadi 3 peta , yaitu Peta Periode
dominan, peta Frekuensi dominan dan Peta Vs30.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Peta Frekuensi dominan

Gambar 4.1 Peta frekuensi Dominan


Pada peta frekuensi dominan Kota Sorong penulis membagi besarnya nilai frekuensi
menjadi 3 zona yaitu zona dengan frekuensi tinggi, zona frekuensi sedang dan zona frekuensi
rendah. Frekuensi tinggi berkisar antara 8 11Hz, frekuensi sedang berkisar antara 4.5 - 8Hz
dan frekuensi rendah berkisar antara 0.5 4Hz. Daerah penelitian didominasi oleh sebaran
frekuensi rendah hingga sedang yang ditunjukan oleh warna ungu dan hijau. Dan pada
beberapa titik terlihat nilai frekuensi tinggi (warna merah) sedangkan frekuensi rendah yang

terlihat mendominasi sebenarnya adalah daerah laut karena letak daerah penelitian yang
berada di pinggir pantai. Frekuensi tinggi menyatakan bahwa daerah didominasi oleh lapisan
sedimen keras, yaitu sedimen tipis dengan batuan keras dibawahnya (batuan beku). Kota
sorong didominasi oleh daerah dengan tingkat frekuensi rendah hingga frekuensi sedang,
daerah dengan sebaran frekuensi rendah diduga sebagai daerah dengan lapisan sedimen tebal
dan lunak yang rawan guncangan gempa. Namun untuk menentukan daerah/zona yang rawan
diguncang oleh gempa kita membutuhkan parameter lain, seperti data Vs30.

4.2 Peta Periode dominan

Gambar 4.2 Peta Periode Dominan

Peta periode dominan kota sorong didominasi oleh periode rendah hingga sedang,
perioda dominan menggambarkan bagaimana keadaan

suatu lapisan sedimen (top soil)

apabila diguncang gempa, semakin besar nilai perioda akan semakin rawan guncangan
gempa, nilai periode rendah antara 0.1 0.8 detik yang menyebar luas pada daerah penelitian
diduga sebagai hard soil dan medium soil berdasarkan tabel yang dikeluarkan oleh NEHRP.
Berdasarkan data geologi kota Sorong didominasi oleh satuan batun gunung api Dore yang
terdiri dari lava, breksi lava, tufa, andesitan sampai basalan dan batuan gunung api klastika,
satuan batuan ultramafik yang didominasi oleh batuan sepertinit, formasi kemum yang
didominasi oleh batusabak, filit dan argilit, kuarsit, batupasir litik, granit dalam sesar sorong,
bancuh. Berdasarkan uraian diatas daerah penelitian didominasi oleh satuan batuan beku dan
sedikit batu sedimen. Dari nilai perioda kota Sorong secara umum merupakan daerah dengan
nilai perioda dominan yang relatif kecil dan tidak terlalu rawan guncangan karna terdiri dari
satuan bataun beku dan hanya pada beberapa titik yang menunjukkan nilai perioda yang
tinggi. Daerah dengan nilai perioda tinggi ini diperkirakan merupakan daerah pinggir pantai.

4.3

Peta Vs30

Gambar 4.3 Peta Vs30


Peta Vs 30 menggambarkan Sebaran kecepatan Gelombang S setebal 30 meter dari
permukaan tanah nilai Vs30 berasosiasi dengan site class NEHRP (National Earthquake
Hazard Reduction Program). Pada daerah penelitian sebaran nilai Vs30 didominasi oleh kelas
I, kelas II dan kelas III yaitu rock, very dense rock and soft rock, dan stiff soil dengan rentang
kecepatan antara 183 1110 m/s. Daerah kota sorong berdasarkan nilai Vs30 merupakan
daerah dengan tingkat kerawanan rendah hingga sedang terhadap gempa bumi, sedangkan
daerah dengan site class IV tersebar luas pada bagian lautan pada daerah kota sorong.
Berdasarkan 3 peta yaitu peta frekuensi dominan, perioda dominan dan peta Vs30 kota
sorong daerah Kota Sorong berada pada tingkat kerwanan rendah hingga sedang terhadap
bahaya gempa bumi.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan
Setelah dilakukan penelitian mikrotremor, kota Sorong, Papua Barat merupakan

daerah dengan klasifikasi tingkat rendah hingga sedang untuk kerawanan terhadap bencana
gempa bumi. Dengan tingkat kerwanan yang didapatkan tersebut perlu kiranya perhatian
akan potensi bencana yang ditimbulkan oleh gempabum. Selain itu kota Sorong juga berada
pada wilayah sesar aktif Sorong yang sewaktu-waktu dapat menjadi sumber gempa yang
menimbulkan bahaya.
5.2

Saran
Perhitungan PGA (peak Ground Atenuation)

atau percepatan batuan dasar pada

daerah penelitian harus ditambahkan untuk mendukung agar penelitian ini lebih
komprehensif.

DAFTAR PUSTAKA

Amri CH. Dkk .1990. Peta Geologi Regional lembar Sorong Irian Jaya
Bartstra.1998. Bird Head Approaches. Rotterdram : A.A Balkema
Development Seismic Hazard Map Of indonesia. Tim Revisi Peta Gempa .2010
Konno, K, and Omachi, T.,1998, Ground-motion charateristic estimated from spectral ratio
between horizontal and vertical components of microtremors, Bull.seism.Soc.Am.88,n0 ,,228
-241
Nakamura, Y., 1989, A method for dynamic charateristics estimation od subsurface using
microtremor on the ground surface, Quatrely Reports of the Railway Technical Research
Institute, Tokyo,30,25-33
Nakamura Y., 2000, Clear Identification of fundamental idea of Nakamuras Technique and
its aplication,12WCEE
Rahmat Putra et al.,2012, Seismic Hazard Analysis for Indonesia, Journal of natural disaster
Science, Vol 33 Number 2, pp 59-70
Zhao, J.X., and Xu,H.,2012, Calibration of a Combined Site Parameter of Vs30 and Bedrock
depth

for

Ground

Motion

Universiti,Chengdu,Siehuan, China.

Records

From

Japan,

Soutwest

Jiatong

Situs Web
Vs30
Http://earthquaqe.usgs.gov/hazard/apps/vs30/predefined.php
Site clasification :
www.seis.utah.edu/urban/nehrp.shtml

Ilustrasi Gelombang :
http://www.geo.mtu.edu/UPSeis/waves.html