Anda di halaman 1dari 65

PENANGANAN IKAN DI KAPAL

Thursday, November 07, 2013 Penanganan Hasil Perikanan, Pengolahan Hasil Perikanan No comments
Produk perikanan merupakan salah satu jenis pangan yang perlu mendapat perhatian terkait dengan keamanan
pangan. Mengingat di satu sisi, Indonesia merupakan negara maritim terbesar di Asia Tenggara sehingga sektor
perikanan memegang peranan penting dalam perekonomian nasional. Terutama dalam penyediaan lapangan
kerja, sumber pendapatan nelayan dan sumber devisa negara. Selain itu, produk perikanan juga merupakan
sumber protein hewani yang dibutuhkan oleh manusia. Namun di sisi lain, produk perikanan dapat menjadi
media perantara bagi bakteri patogen dan parasit yang dapat menginfeksi manusia.
Penanganan ikan di atas kapal adalah segala upaya terhadap hasil tangkapan di kapal mulai dari tindakan awal
sampai dengan penyimpanan yang bertujuan menjaga mutu ikan sesuai dengan standar yang diinginkan. Mutu
ikan tidak dapat diperbaiki tetapi hanya dapat dipertahankan. Kerusakan atau penurunan mutu ikan dapat terjadi
segera setelah ikan mengalami kematian, peristiwa ini terjadi karena mekanisme pertahanan normal ikan terhenti
setelah ikan mengalami kematian. Adapun penyebab kerusakan ikan adalah bakteri, ensim dan reaksi kimia
yang terdapat didalam tubuh ikan maupun lingkungan dimana ikan berada. Untuk menjaga mutu ikan hasil
tangkapan, maka perlu penanganan yang baik sejak ikan diangkat dari alat tangkap, selama penyimpanan, dan
pembongkarannya, sehingga ikan dapat sampai dikonsumen dengan mutu yang baik dan aman untuk
dikonsumsi.
PENANGANAN IKAN DIATAS DEK
Lantai geladak dan setiap alat yang di pakai dalam penanganan ikan segar harus di bersihkan sebelum di pakai.
Setelah dinaikkan ke kapal, jika keadaan memungkinkan ikan segera disiangi (dikeluarkan isi perut dan
insangnya) kemudian dicuci bersih dengan air laut. Umumnya penyiangan hanya di lakukan terhadap ikan-ikan
yang berukuran besar; ikan-ikan kecil seperti lemuru dan kembung tidak praktis untuk di siangi di kapal.
Pencucian dilakukan dengan menggunakan air laut. Sisa-sisa darah dan sisa-sisa isi perut dihilangkan, demikian
pula lendir-lendir yang ada. Selanjutnya jika keadaan memungkinkan, ikan disortir menurut jenis dan ukurannya
dan masing-masing disimpan di palka secara terpisah, baik didalam peti-peti maupun menggunakan rak yang
terpisah.

Pencucian Ikan Hasil Tangkapan

Selama bekerja di geladak, ikan perlu di lindungi dari sinar matahari dan hujan, misalnya dengan memasang
tenda. Ikan yang bertumpuk banyak karena menunggu disiangi dapat di tutup dengan terpal basah. Geladak
harus di cuci bersih setelah pekerjaan pencucican ikan selesai sebelum hasil tangkapan yang lain dinaikkan ke
kapal.

PENYIMPANAN DI PALKA
Palkah untuk menyimpan ikan segar harus dibersihkan sebelum dimasuki ikan. Pekerjaan mengangkut ikan ke
dalam palka harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak melukai ikan; melemparkan atau menuangkan ikan
kedalam palkah atau menginjak ikan adalah praktek yang tidak baik.
Penyusunan ikan di palka dapat dilakukan dengan 4 cara, yaitu dengan menimbun (bulking), dengan bersusun
lapis menggunakan rak / sekat datar (shelfving), dengan menggunakan peti-peti (boxing), dan dengan
merendam ikan di dalam air dingin.

Penampang Palka Pada Kapal Ikan

A. Menimbun Ikan di Palka (Bulking)


Yang dimaksud dengan menimbun ialah menumpuk ikan di lantai palka tanpa menggunakan penyekat datar atau
peti. Cara ini pada umumnya dilakukan dikapal ikan yang kecil dan palkanya rendah. Dasar palka terlebih dahulu
dilapisi es setebal +15 cm (atau lebih tebal jika dinding palka tidak diisolasi). Ikan ditumpuk di atas lapisan es itu
setebal 10-12 cm; di atasnya diberi lapisan es lagi, kemudian lapisan ikan; demikian seterusnya sampai tingginya
cukup; lapisan paling atas adalah lapisan es.
Tinggi timbunan ikan sebaiknya tidak melebihi 60 cm. Penimbuanan yang lebih tinggi lagi dapat merusak ikan
pada lapisan yang di bawah, karena menerima tekanan yang cukup besar. Biasanya setiap 1 ton ikan yang
disimpan di palka dengan cara penimbunan memerlukan ruang palka yang bervolume 2- 2,5 m3

Penyimpanan Ikan Dalam Palka Dengan Cara Menimbun

B. Menyimpan Bersusun Lapis (Shelfing)


Cara penyimpanan ini umumnya di lakukan di kapal ikan yang palkanya cukup besar dengan tinggi palka >140
cm. Palka disiapkan dengan konstruksi khusus: di lengkapi dengan rak-rak vertikal dan horisontal yang hidup
(dapat di lepas). Sekat-sekat vertikal berjarak 1 meter atau kurang, sedangkan sekat-sekat horisontal berjarak

20-35 cm. Biasanya rak-rak itu disusun membujur, di sisi kiri dan kanan, sedang ditengah-tengahnya dipakai
sebagai lorong. Ikan disusun di atas rak-rak horisontal dengan diselimuti es. Ikan yang besar di susun
membujur.
Pemakaian rak-rak di palka ini dapat menghasilkan ikan yang lebih baik karena ikan tidak terlalu banyak
menerima tekanan, tetapi diperlukan penanganan yang lebih banyak dan di perlukan ruangan yang lebih besar.
Tiap 1 ton ikan memerlukan ruang palkah 3-4,5 m3 tergantung dari ukuran ikan.
C. Menyimpan Ikan Di Palka Dengan Peti (Boxing)
Peti untuk menyimpan ikan di kapal umumnya dibuat dari kayu atau plastik yang dirancang dengan ukuran yang
disesuaikan dengan kemampuan manusia setempat, yaitu 20-30 kg. Ukuran yang labih besar dirancang untuk
diangkut oleh 2 orang. Peti dari plastik lebih mudah dibersihkan. Peti kayu hendaknya dibuat dari papan yang
diserut halus dan dengan sudut-sudut yang mudah di bersihkan.

Cool Box Yang Ditempatkan di Kapal

Ikan di susun di dalam peti dengan di campur dan di selimuti es. Karena peti-peti itu akan di tumpuk di palka,
maka pengisian ikan /es tidak boleh melebihi permukaan peti agar ikan tidak tertekan peti diatasnya. Dengan
cara penyimpanan ini, tiap 1 ton ikan memerlukan ruang palka 2,5 - 3 m3.
D. Merendam Ikan Dalam Air Dingin
Palka ikan dibangun berupa tangki-tangki khusus untuk menampung air laut yang di dinginkan. Ikan direndam di
dalam tangki-tangki tersebut sampai saat dibongkar di pelabuhan. Jika dilakukan dengan baik, cara ini
menghasilkan ikan dengan mutu yang lebih baik; pendinginan berlangsung lebih cepat, ikan tidak menerima
tekanan. Ikan-ikan besar seperti tuna dan ikan-ikan kecil seperti lemuru dan kembung dapat diperlakukan
dengan cara ini.

Air laut didinginkan dengan mesin pendingin yang sudah mulai dijalankan sejak kapal meninggalkan pelabuhan
menuju daerah penangkapan, dengan maksud agar air sudah cukup dingin pada waktu hasil tangkapan pertama
dinaikkan. Sering kali tangki-tangki diisi dengan sejumlah es sebelum kapal meninggalkan pelabuhan.

Description:

OPTIMASI PENGGANTIAN FLUIDA KERJA FREON-22


DENGAN HIDROKARBON PADA SISTEM PENDINGIN RUANG
MUAT KAPALIKAN (STUDI KASUS KM. MINA JAYA KAPAL
IKAN 512GT)
Optimasi penggantian fluida kerja (refrigeran) Freon-22 pada sistem pendingin ruang muat kapal ikan dilakukan untuk
pemilihan terhadap refrigeran hidrokarbon berkenaan dengan usaha untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan yang
diakibatkan penggunaan refrigeran halocarbon (R-22). Penelitian ini dilakukan dengan analisa termodinamika sehingga
ditemukan secara teknis bahwa refrigeran hidrokarbon murni R-290 (dan dengan hidrokarbon campuran MC-22 dan HCR22) memiliki sifat teknis yang lebih baik ditentukan dengan koefisien prestasi (COP) yang lebih tinggi yaitu sekitar 3,00
3,25 lebih baik dari R-22 yaitu 2,09 , analisa secara ekonomi di peroleh hasil bahwa penggantian dengan refrigeran
hidrokarbon dapat menghemat sekitar 40% jumlah refrigeran yang digunakan sekaligus juga dapat memperpanjang umur
kompresor dikarenakan pengurangan kegiatan kerja lebih/paksa pada kompresor. Penelitian ini juga telah dilakukan analisa
terhadap sifat flammability (kemampuan terbakar) refrigeran Hidrokarbon dimana prosedur kerja dan standar penggunaan
refrigeran ini harus dilakukan oleh pihak yang berkompeten dan berpengalaman. Hasil dari penelitian ini disarankan untuk
dijadikan acuan sebagai bahan pertimbangan dalam penggantian/penggunaan refrigeran hidrokarbon pada sistem pendingin
ruang muat kapal ikan ataupun ruang muat kapal-kapal lainnya

1.

Ir. Alam Baheramsyah, M.Sc

2.

Dr. Lahar Baliwangi, ST., M

Figure 67 Proposed layout and flow plan for 800 kg/h medium and small shrimp
processing plant

Figure 68 Flow chart for processing medium and small shrimp

scale ~ 1 : 100

Figure 69 Proposed layout and flow plan for 2 t/day hand-peeling shrimp processing
plant

Figure 70 Flow chart for processing large shrimp

Figure 71 Flow chart for whole fish freezing

Figure 72 Proposed layout for whole fish freezing

PERANCANGAN SISTEM PENDINGIN IKAN PADA KAPAL NELAYAN


DENGAN KAPASITAS 2 TON

Wiwik Yuningsih
Source: OAI
ABSTRACT Luasnya lautan di Negara Indonesia membuat sebagian besar penduduk sekitar pantai memilih
hidup sebagai nelayan. Ikan adalah termasuk komoditi yang tidak tahan lama dan mudah rusak jika ditempatkan
diruang yang terbuka. Penyebab kerusakan diantaranya adalah aktifitas mikroorganisme dan bakteri yang ada
dalam daging ikan tersebut, dimana pada suhu kamar bakteri dan mikroorganisme dapat berkembangbiak
dengan cepat. Oleh karena itu para nelayan selalu membawa es untuk digunakan mendinginkan ikan tersebut
agar tetap segar paling tidak hasil tangkapan tersebut masih bagus dan segar sampai ke TPI (Tempat
Pelelangan Ikan) untuk dijual. Cara ini kadangkala tidak efektif dan efisian karena untuk membawa es dibutuhkan
waktu yang lama (12 jam) sehingga es cepat mencair. salah satu cara untuk mempertahankan mutu dan
kesegaran ikan dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi refrigerasi yaitu dengan menurunkan suhu ikan
secepat mungkin agar aktifitas bakteri pembusuk dapat terhambat. Dan atas dasar itulah penulis mengambil
judul tugas Perancangan Sistem Pendingin Ikan Pada Kapal Nelayan Dengan Kapasitas 2 Ton yang digunakan
untuk mendinginkan ikan hasil tangkapan. Adapun tujuan perencanaan ini adalah untuk mendapatkan desain
dari refrigerator yang berbentuk box untuk mendinginkan ikan hasil tangkapan dan untuk mengetahui dimensi
komponen mesin refrigerator yang berbentuk box pendingin dengan kapasitas 2 ton. Dalam Perancangan Sistem
Pendingin Ikan Pada Kapal Nelayan Dengan Kapasitas 2 Ton dengan data sebagai berikut: Sistim refrigerasi
adalah Vapor Compression Refrigeration Sistem., Data ruang pendingin untuk panjang = 2 m, lebar = 1,5 m,
tinggi = 1 m, temperatur luar ruangan 27 C, temperatur dalam ruangan -2 C, bahan ruangan = bahan dinding
Aluminium ditempel penyekat, bahan pelapis kayu keras dan fiber glass, Aluminium ditempel penyekat,
refrigerant yang digunakan adalah R-22, dimana data kompresor adalah: jenis kompresor torak, beban
pendinginan = 70,776 kW , daya kompresor = 1,68 kW. Jenis Kondensor tabung berpendingin air, susunan pipa
horizontal, bahan pipa tembaga tipe-K, diameter luar pipa = 0,0095 m, diameter dalam pipa = 0,0078 m tebal
pipa = 0,00089 m, jumlah pipa 42, panjang pipa 2,49 m, luas permukaan panas = 3,12 m2.Untuk evaporator jenis
evaporator kering Susunan pipa, staggered (zig-zag), bahan pipa tembaga tipe-K, diameter luar pipa =
0,0095,diamiameter dalam pipa = 0,0078 m, tebal pipa = 0,00089 m, jumblah pipa 42, panjang pipa = 11,11 m,
luas permukaan panas = 13,92 m2, untuk katup ekspansi yang digunakan adalah katup termostatis.

Refrigeration is a process whereby heat is removed and rejected, and this can be
achieved by any of the following methods:
Vapour compression
Vapour absorption
Air cycle
Thermoelectric
The most widely used is the vapour compressions system and only in exceptional
circumstances would another method be contemplated in a modern fish processing
installation. Even applications which apparently do not use this method, such as chilling
with ice or freezing with a cryogenic liquid, are indirect uses of the vapour compression
system, since such a system would have been used to make the ice or liquify the gas.
Vapour absorption is still used in some domestic refrigerators and there has been a
revival of interest in this system for some commercial applications since it can be
operated from a waste heat source. The absorption system does not require mechanical
power, therefore, there is no requirement for an electrical supply of direct drive engine.
The only requirement is an input of heat, therefore, this type of refrigeration system may
be considered for limited applications in situations where a heat source is cheaper or
more readily available than an electrical or mechanical drive.
The air cycle system is inherently safe and is now almost exclusively used for cabin
cooling in aircraft.
The thermoelectric cooling system is confined to use with applications which require very
small refrigeration effects, such as instrument cooling and laboratory use.
Other methods have been used, but they either have not been suitable for commercial
operations or have now become obsolete for a variety of other reasons.
Cryogenic refrigeration, as mentioned above, is an indirect application of the vapour
compression system and liquid nitrogen and liquified or solid carbon dioxide cryogenic
systems have a limited application in fish processing.
A high purity fluorocarbon refrigerant, R12, is also used in immersion or spray cooling
systems, but again there is only a limited use in the fishing industry.
3.1.1.2 Refrigerants:
Although there are a wide range of refrigerants available, many have properties which
suit them for special purpose applications only. The refrigerants listed in Table 12 are
those commonly used in the fish industry. and a number of secondary refrigerants, such
as ethyl alcohol, methyl alcohol, glycol solutions and salt/sugar solutions, have also a
limited use.

The choice of refrigerant is usually based on technical requirements, but other


considerations, such as safety, high costs or import controls, may result in a compromise
choice being made.
Table 12 Refrigerants
Designation
Primary

Chemical name

Trade names

R12

Dichlorodifluoromethane

Freon 12, Arcton 12, Iceon 12

R22

Chlorodifluoromethane

Freon 22, Arcton 22, Iceon 22

R502 Azeotrope of R22 and R115


(Chloropentafluoroethane)

Freon 502, Arcton 502, Iceon 502

R717 Anhydrous ammonia


Secondar
y

Calcium chloride brine


Sodium chloride brine
Trichloroethylene

Triklone A
(Triklone is a trade mark of INEOS
Chlor Limited)

The cost of refrigerants depends on the unit quantity (size of cylinder) and the quantity
(weight) ordered. The costs listed in Table 13 are 1983 UK values for the quantities and
unit containers specified. Initial costs may also include an additional deposit for the
refrigerant containers.
Many of the physical properties of a refrigerant are important to the design engineer and
this information is now readily available in suppliers catalogues and in text books. Only
some of their attributes and likely applications are, therefore, given in the following
notes.
i.

Refrigerant 12 has a relatively low latent heat value and this is an advantage in
small machines since the higher flow rates required allow for better control. R12
is usable down to lower temperatures, but below -29.8C negative pressures will
prevail on the low pressure side of the system with potential problems resulting
from leaks of air and moisture. R12 is completely miscible with oil at all likely
operating temperatures, therefore, oil return systems are relatively
uncomplicated.

Figure 9 Basic mechanical refrigeration system


Refrigeration is therefore a continuous process with the refrigerant changing from liquid
to gas, to liquid, as heat is added and lost.
Four basic systems using mechanical refrigeration are used for fish freezing and cold
storage, and these are shown diagrammatically in Figures 10, 11, 12 and 13, with notes
on the type of application where they are likely to be used.
i.

Dry expansion system: Used in all the small installations and in installations
where there are not likely to be problems with refrigeration distribution or the
temperature fluctuations induced by the cycling of the thermostatic expansion
valve.

Figure 10 Dry expansion system

ii.

Flooded system with natural circulation: The flooded system gives a better heat
transfer than the dry expansion system since there is more liquid present in the
cooler. A flooded system also ensures better refrigerant distribution, therefore,
they are appropriate when there are a number of parallel circuits for the
refrigerant flow.
The reservoir in a natural circulation system is situated above the coolers,
therefore, it is not suitable for widely separated multiple units.
The most appropriate application likely in fish freezing is with horizontal plate
freezers which are single units with a number of parallel circuits formed by the
freezer plates.

Figure 11 Diagram of natural convection flooded refrigeration system


iii.

Flooded system with pump circulation: Pump circulation allows a flooded system
to be used with its advantage in good heat transfer and refrigerant distribution, in
a multiple unit system with the low-temperature liquid reservoir situated, if
necessary, away from the immediate vicinity of the coolers.
An example of this kind of application is a number of vertical plate freezer units
supplied from a common liquid receiver sited in a separate engine room.

Figure 12 Flooded refrigeration system with pump circulation

iv.

Secondary refrigerant system: This has all the advantages of a pump-circulated


flooded system without the need to have a pipework and cooler system suitable
for the higher refrigerant pressures. The system would therefore be appropriate
when there is a high potential for leaks such as on a fishing vessel. The primary
refrigerant is confined to the condenser unit and heat exchanger only, and this
may be located in a separate engine room.
A secondary system also avoids the potential problems that may result from
having a large charge of a volatile refrigerant in a working space such as a
factory floor or in a cold store (Figure 13).

Figure 13 Diagram of secondary refrigeration system


3.1.2.5 Refrigeration, instrumentation and controls:
In order to regulate the flow of refrigerant, maintain design operating conditions and
allow equipment to be operated safely and economically, a number of controls are used
with refrigeration systems.
The complexity of a control system usually relates to the size of the plant, ranging from
no more than a capillary throttling device to regulate refrigerant flow in a small hermetic
system to complex, computer-based control systems for the more recently installed
large, multiple unit systems.
Some of the controls used for the size of plant more likely in the fishing industry are
listed below. A brief indication is given of the requirement. function. whether spares are
advisable and the likely cost.
i.

Pressure gauges

Pressure gauges are used to indicate plant-operating conditions and they are therefore
useful for routine inspections and, also, when fault-finding. Gauges are normally
positioned at the compressor to indicate pressures on the high and low pressure sides of
the system with additional gauges, as necessary, to indicate the intermediate pressure in
a two-stage system and the delivery pressure of the compressor lubricating oil pump. An

additional gauge may be used in a larger system to indicate the pressure at the
evaporator and, also, the pump delivery pressure when a secondary refrigerant is used.
To cover all these requirements, three different pressure ranges may be required, and
although they are not essential for the plant operation, spares should be available since
a reliable gauge would help to reduce both operational and maintenance costs.
The cost of gauges will vary between US$ 5 and US$ 25.
ii.

Temperature gauges

Like pressure gauges, temperature gauges, or pocket thermometers, are used to


monitor plant-operating conditions and to assist with fault-finding. Thermometers used
with the refrigeration compressor are used to monitor temperatures at the same
positions as the refrigerant pressure gauges since both readings are normally required
to assess the plant-operating condition.
Additional temperature gauges are also helpful to measure cooling water temperature,
the temperature of a secondary refrigerant or the temperature of a low pressure, primary
refrigerant, liquid reservoir.
Dial gauges are also used to monitor the temperature in air-blast freezers, but for cold
stores a recording thermometer is advisable since this information is often required for
checking later.
Dial thermometers cost between US$ 15 and US$ 25.
Steam thermometers cost between US$ 3 and US$ 8.
Circular chart recorders cost about US$ 350.
At least two temperature ranges are required to cover all these requirements, and the
availability of spares is not normally critical since thermometers can usually be
interchanged without breaking into the system, or a hand-held thermometer, used in an
appropriate way, can be substituted.

Figure 19 Pressure and temperature measurement


iii.

Refrigerant flow

Control of refrigerant flow is probably the most important control to be exercized in a


refrigeration system. The following are four examples of control likely to be used:
a. Hand expansion valve: A valve which accurately controls the flow of refrigerant to
exactly match the refrigeration load. Hand expansion would only be used when
the refrigeration load is constant or the inertia of the system means that changes
would only be small and progress slowly; a large cold store with constant
attendance is the type of application suited to this method.
Hand expansion valves are often fitted in parallel with other control devices so
that they can be manually operated in the case of a failure. Cost US$ 30-60,
depending on size.
b. Thermostatic expansion valve: This is an automatic device which gives a
modulated control of refrigerant flow and it is the most widely used method with a
variety of individual designs to suit particular requirements. The valve senses
pressure and temperature at the evaporator and uses the information to supply
only sufficient liquid refrigerant to match the evaporator's requirement.
Thermostatic expansion valves (tev) are made in a wide range of sizes and
models and the following list will, therefore, only give an approximate indication of
the likely cost.
US$ 15 for tev with capacity of 1000 kcal/h
US$ 50 for tev with capacity of 9 000 kcal/h
US$ 135 for tev with capacity of 90 000 kcal/h
US$ 150 for tev with capacity of 165 000 kcal/h
A spare valve should always be available, but the installation of a hand expansion bypass can be used for a short time in an emergency.
c. Low side level control: This can be a mechanical or electrical device which is
used to control the level of liquid in the low pressure receiver of a flooded primary
refrigerant system or the primary refrigerant level in the heat exchanger of a
secondary refrigeration system.
The level control is essential to the operation of the system, therefore, a spare
should be available or, depending on the type used, spares for the more
vulnerable parts should be held. Cost US$ 200-350.
d. High pressure level control: This is a mechanical or electrical device which is
designed to maintain a constant level in a high-pressure liquid receiver. In a
correctly charged flooded system this will ensure the correct level of refrigerant in
the low-pressure receiver or heat exchanger. This type of control also ensures
that the condenser is always empty of liquid refrigerant and thereby operates at
its design capacity.

iv.

Safety devices

Safety devices come into two categories: those for protecting the equipment and those
for the environment. Most small units operate without safety devices since replacement
costs are low and irreparable damage less likely. Also, with smaller units, simplicity is
always desirable. Larger units, however, from about 20 hp and upwards, would have one
or more of the following devices:
a. High pressure cut-out: This limits the pressure in the condenser and other parts
of the high pressure side of this system thus avoiding the possibility of damage
and overheating of the refrigerant oil. Cost US$ 15-75.
b. Low pressure cut-out: This limits the minimum pressure at which the evaporator
and other parts of the low pressure side of the system operate. Low pressures
can be damaging to the machine and also give rise to excessive leakage into the
system when the pressure is unnecessarily operated below atmospheric. Cost
US$ 15-75.
c. Oil pressure cut-out: This ensures that the compressor is not operated if for some
reason lubricating oil is not being circulated at the required rate. Cost US$ 50-75.
d. Motor overload: This device can protect both the drive motor and the refrigeration
equipment if there is an excessively high load on the compressor, a blockage or
ceasure.
v.

Capacity control

Capacity control of a refrigeration system can be achieved in many ways and the
following list gives some of the methods likely to be used in fish freezing and cold
storage:
Off-loading of cylinders in a multicylinder compressor .
By-passing from de 1 i very to suction at the compressor
On/off-cycling of the compressor by either a temperature or pressure-sensing device,
Speed control of the drive motor either by electrical or mechanical means ,
A qualified person should be consulted on whether this requirement is necessary and on
the choice of method used.

Figure 20 Batch air-blast freezer with side loading and unloading

Figure 21 Batch-continuous air-blast freezer with counterflow air circulation

Figure 22 Batch-continuous air-blast freezer with crossflow air circulation


This allows the produce to be quickly loaded into the freezer rather than have delays
while waiting for full loads. The number of trolleys and the loading interval are selected
to ensure that when the freezer is fully loaded a new trolley will be exchanged with one
which has been in for the necessary freezing time and, thereafter, a one out and one in
system is operated. This loading arrangement also ensures that the refrigeration
demand is more uniformly spread than would be the case for a batch freezer (Figure 23).
A batch-continuous freezer layout and airflow arrangement should be designed to
ensure that a new load of warm fish is not placed upstream of a partially frozen load.
ii.

Trolleys, pallets, shelves

Trolleys are more mobile but take up more space on the factory floor. Pallet loads can be
moved directly from the freezer to a cold store for temporary storage without the need for
taking expensive equipment out of service.
Fixed shelves within the freezer are not recommended since the freezer door must be
left open during loading. This may take a considerable time and result in an unnecessary
high ingress of heat and water vapour with the air entering the freezer. With a fixed shelf
arrangement some of the air-blast freezer's versatility will also be lost.
iii.

In-line or spiral continuous freezers

Spiral freezers are designed to reduce the floor space requirement of the freezer but
they, in turn, require a higher roof clearance and in some cases this may be equally
critical. Spiral freezers also tend to distort the shape of some products due to the
curvature of the belt path. In line freezers have been built with a multi-belt operation in
order to reduce the floor space (Figure 26). Transfer of partially frozen fish from one belt
to another. however, may be difficult and result in breakage or distortion of the product.
This transfer, however, is achieved with some degree of success in a semi-fluidized

freezer with some products by ensuring that the wet product does not adhere to the first
belt (Figure 27).

Figure 23 The effect on temperature and refrigeration capacity when loading a batch airblast freezer

Figure 24 Continuous belt air-blast freezer with crossflow air circulation(also constructed
with countercurrent series flow air circulation)

Figure 25 Continuous air-blast freezer with the belt arranged in a spiral

Figure 26 A triple-belt air-blast freezer

Figure 27 Semi-fluidized flow freezer with double belt

3.2.4 Vertical plate freezers


3.2.4.1 General:
The vertical plate freezer (VPF) is ideally suited for bulk freezing of fish. and although
originally designed for freezing fish at sea. it is now also used extensively on land mainly
for freezing seasonal fish which are frozen in bulk for processing throughout the year.

Figure 37 Twenty-station vertical plate freezer with top unloading arrangement


The product is loaded into spaces formed by refrigerated plates which form the stations
of a vertical plate freezer unit. The plates are hydraulically closed thereby slightly
compacting the product to a preset block thickness and also improving the contact
between the fish and the plate surfaces.
After freezing, the cold refrigerant is turned off and a hot refrigerant supply is circulated
through the plates to defrost them and break the bond between the plates and the
product. This defrost procedure only takes a few minutes and, when complete, the
hydraulic system is operated to open the plates and raise the blocks to the top of the
freezer ready for removal.
Since the product is frozen into a symmetrical block, it is ideally suited for palletizing to
give good utilization of cold storage space. The product can be frozen unwrapped and
stored without packaging or frozen in paper or plastic bags which are inserted between
the plates before loading the fish. Unwrapped products may, however, be glazed or
inserted into cartons after freezing.
3.2.4.2 Freezer size:
The size of a VPF unit depends on the plate size, plate spacing and the number of
stations.
A plate widely used has dimensions of 1 120 x 558 mm which produces full-sized blocks
measuring 1 060 x 520 mm. Other plate sizes available from the same manufacturer
give block dimensions of 1 180 x 490 mm and 800 x 806 mm. Other standard sizes may,

however, be available from other manufacturers. The provision of a non-standard plate


size will be expensive since this may require a special die to extrude the plate sections.
The standard block thicknesses produced in VPF are 50 mm, 75 mm and 100 mm, and
by means of special adaptors it is possible to have more than one standard spacing in
the same unit.
Any number of stations can be supplied up to a limit of about 30, but manufacturers will
normally only supply five or six standard sizes. Special requirements, such as small units
for freezing trials or laboratory use, can, however, be made on request.
When selecting the number of stations per freezer unit, account should be taken of the
likely pattern of fish supplies. Unit sizes should be selected so that they are likely to be
completely filled during each cycle, thus avoiding the possibility of freezing partial loads
or having freezers waiting for further supplies to complete a load.
Overall dimensions and weights for a full standard range is given in Table 33.
Table 33 Vertical plate freezers Dimensions and shipping data (uncrated)

PENGERTIAN REFRIGERASI
Apa Yang Dimaksud Dengan Refrigasi - Mesin
Pendingin

Refrigerasi adalah produksi atau pengusahaan dan pemeliharaan tingkat suhu dari
suatu bahan atau ruangan pada tingkat yang lebih rendah dari pada suhu lingkungan
atau atmosfir sekitarnya dengan cara penarikan atau penyerapan panas dari bahan atau
ruangan tersebut.

Refrigrasi dapat dikatakan juga sebagai sebagai proses pemindahan panas dari suatu
bahan atau ruangan ke bahan atau ruangan lainnya (Ilyas, 1993), sedangkan menurut
Hartanto (1985) pendinginan atau refrigerasi adalah suatu proses penyerapan panas
pada suatu benda dimana proses ini terjadi karena proses penguapan bahan pendingin
(refrigeran).

Menurut Arismunandar dan Saito (2005) refrigerasi adalah usaha untuk


mempertahankan suhu rendah yaitu suatu proses mendinginkan udara sehingga dapat
mencapai temperatur dan kelembaban yang sesuai dengan kondisi yang dipersyaratkan
terhadap kondisi udara dari suatu ruangan tertentu, faktor suhu dan temperatur sangat
berperan dalam memelihara dan mempertahankan nilai kesegaran ikan.

Refrigrasi memanfaatkan sifat-sifat panas (thermal) dari bahan refrigerant selagi bahan
itu berubah keadaan dari bentuk cairan menjadi bentuk gas atau uap da sebaliknya dari
gas kembali menjadi cairan (Ilyas, 1993).

PRINSIP DASAR REFRIGRASI MEKANIK

1. Gambaran Umum Refrigerasi Mekanik

Prinsip dasar dari refrigerasi mekanik adalah proses penyerapan panas dari dalam suatu
ruangan berinsulasi tertutup kedap lalu memindahkan serta mengenyahkan panas keluar
dari ruangan tersebut.

Proses merefrigerasi ruangan tersebut perlu tenaga atau energi. Energi yang paling
cocok untuk refrigerasi adalah tenaga listrik yaitu untuk menggerakkan kompresor pada
unit refrigerasi (Ilyas, 1993 ).

2. Proses Yang Berlangsung Dalam Sistem Refrigerasi

Dalam suatu sistem refrigrasi mekanik, berlangsung beberapa proses fisik yang
sederhana. Jika ditinjau dari segi termodinamika, seluruh proses perubahan itu terlibat
tenaga panas, yang dikelompokkan atas panas laten penguapan, panas sensibel, panas
laten pengembunan dan lain sebagainya.

Menurut Sofyan Ilyas (1993), suatu siklus refrigrasi secara berurutan berawal dari
pemampatan, melalui pengembunan (kondensasi), pengaturan pemuaian dan berakhir
pada penguapan (evaporasi).

Satu siklus refrigrasi kompresi uap adalah sebagai berikut:

Pemampatan (kompresi). Uap refrigeran lewat panas bersuhu dan tekanan rendah yang
berasal dari proses pengupan dimampatkan oleh kompresor menjadi uap bersuhu dan
bertekanan tinggi agar kemudian mudah diembunkan, uap kembali menjadi cairan
didalam kondensor.

Pengembunan (kondensasi). Proses pengembunan adalah proses pengenyahan atau


pemindahan panas dari uap refrigeran bersuhu dan bertekanan tinggi hasil pemampatan
kompresor ke medium pengembun di luar kondensor.

Pemuaian. Pemuaian adalah proses pengaturan kesempatan bagi refrigeran cair untuk
memuai agar selanjutnya dapat menguap di evaporator.

Penguapan (evaporasi), pada proses ini, refrigeran cair berada dalam pipa logam
evaporator mendidih dan menguap pada suhu tetap, walaupun telah menyerap sejumlah
besar panas dari lingkungan sekitarnya yang berupa zat alir dan pangan dalam ruangan
tertutup berinsulasi. Panas yang diserap dinamakan panas laten penguapan.

KOMPONEN SISTEM REFRIGERASI

1. Komponen Utama Sistem Refrigrasi

Komponen pokok adalah komponen yang harus ada / dipasang dalam mesin refrigerasi.
Menurut Hartanto (1985) komponen pokok tersebut meliputi :

Kompresor, kondensor, tangki penampung (receiver tank), katup ekspansi dan


evaporator. Masing-masing komponen dalam sistem kompresi uap mempunyai sifat-sifat
yang tersendiri (Stoecker,1989).

a. Kompresor

Kompresor merupakan jantung dari suatu sistem refrigerasi mekanik, berfungsi untuk
menggerakkan sistem refrigerasi agar dapat mempertahankan suatu perbedaan tekanan
antara sisi tekanan rendah dan sisi tekanan tinggi dari sistem (Ilyas, 1993).

Kompresor refrigerasi yang paling umum adalah kompresor torak (reciprocating


compressor), sekrup (screw), sentrifugal, sudu (vane). (Stoecker, 1989).

Menurut Hartanto (1985) berdasarkan cara kerjanya kompresor dapat dibedakan


menjadi dua, yaitu kompresor torak dan kompresor rotary.

1) Kompresor torak

Kompresor torak yaitu kompresor yang kerjanya dipengaruhi oleh gerakan torak yang
bergerak menghasilkan satu kali langkah hisap dan satu kali langkah tekan yang
berlainan waktu. Kompresor torak lebih banyak digunakan pada unit mesin pendingin
berkapasitas besar maupun kecil seperti lemari es, cold storage, collroom.

Kontruksi kompresor torak silinder ganda


2) Kompresor rotary

Kompresor rotary yaitu kompresor yang kerjanya berdasarkan putaran roller pada
rumahnya, prinsip kerjanya adalah satu putaran porosnya akan terjadi langkah hisap dan
langkah tekan yang bersamaan waktunya, kompresor rotary terdiri dua macam yaitu
kompresor rotary dengan pisau / blade tetap.

Kompresor rotary dengan dua buah blade

Berdasarkan kontruksinya, kompresor terdiri dari :

1) Kompresor tertutup

Kompresor jenis ini banyak digunakan pada unit mesin refrigerasi yang kecil. Kompresor
tertutup dibedakan dua macam yaitu kompresor hermetik dan kompresor semi hermetik

a) Kompresor hermetik

Kompresor yang di bangun dengan tenaga penggeraknya (motor listrik) dalam satu
tempat tertutup. Jenis kompresor hermetik yang sering digunakan adalah kompresor
hermetik torak pada lemari es dan kompresor hermetik rotary pada air conditioner.

b) Kompresor semi hermetik

Kompresor yang bagian rumah engkolnya dibangun menjadi satu dengan motor
listriknya sebagai tenaga penggerak. Pada kompresor ini tidak diperlukan penyekat poros
sehingga dapat dicegah terjadinya kebocoran gas refrigeran.

2) Kompresor terbuka

Kompresor yang dibangun terpisah dengan motor penggeraknya. Jenis ini banyak
digunakan pada unit refrigerasi yang berkapasitas besar seperti pabrik es, coldstrorage.
Pada kompresor terbuka salah satu porosnya keluar dari kompresor untuk menerima
putaran dari tenaga penggeraknya.

a. Kondensor

Pengembun atau kondensor adalah bagian dari refrigerasi yang menerima uap refrigeran
tekanan tinggi yang panas dari kompresor dan mengenyahkan panas pengembunan itu
dengan cara mendinginkan uap refrigerant tekanan tinggi yang panas ke titik embunnya
dengan cara mengenyahkan panas sensibelnya.

Pengenyahan selanjutnya panas laten menyebabkan uap itu mengembun menjadi cairan.
(Ilyas,1993)

Jenis- jenis kondensor yang kebanyakan dipakai adalah sebagai berikut:

1) Kondensor pipa ganda (Tube and Tube)

Jenis kondensor ini terdiri dari susunan dua pipa koaksial, dimana refrigeran mengalir
melalui saluran yang berbentuk antara pipa dalam dan pipa luar, dari atas ke bawah.

Sedangkan air pendingin mengalir di dalam pipa dalam dengan arah yang berlawanan
dengan arah aliran refrigeran.

Kondensor pipa ganda (Tube and Tube Condensor )


Keterangan :
a.
b.
c.
d.
f.
g.

Uap
Air
Air
Cairan

refrigeran
pendingin
pendingin
keluare.
bentuk

refrigeran
Sirip
Tabung

1) Kondensor tabung dan koil ( Shell and Coil )

Tabung

masuk
keluar
masuk
luar
bunga
dalam

Kondensor tabung dan koil adalah kondensor yang terdapat koil pipa air pendingin di
dalam tabung yang di pasang pada posisi vertikal. Tipe kondensor ini air mengalir dalam
koil, endapan dan kerak yang terbantuk dalam pipa harus di bersihkan dangan bahan
kimia atau detergen.

2) Kondensor pendingin udara

Kondensor pendingin udara adalah jenis kondensor yang terdiri dari koil pipa pendingin
yang bersirip pelat (tembaga atau aluminium).

Udara mengalir dengan arah tegak lurus pada bidang pendingin, gas refrigeran yang
bertemperatur tinggi masuk ke bagian atas dari koil dan secara berangsur mencair
dalam alirannya ke bawah.

3) Kondensor tabung dan pipa horizontal (Shell and Tube)

Kondensor tabung dan pipa horizontal adalah kondensor tabung yang di dalamnya
banyak terdapat pipa pipa pendingin, dimana air pendingin mengalir dalam pipa pipa
tersebut.

Ujung dan pangkal pipa terikat pada pelat pipa, sedangkan diantara pelat pipa dan tutup
tabung dipasang sekat untuk membagi aliran air yang melewati pipa pipa.

Kondensor

selubung

dan

tabung

(Shell

and

Tube

condenser)

Keterangan :
1. Saluran air pendingin keluar
2. Saluran air pendingin masuk
3. Pelat pipa
4. Pelat distribusi
5. Pipa bersirip
6. Pengukur muka cairan
7. Saluran masuk refrigeran
8. Tabung keluar refrigeran
9. Tabung
Kondensor yang sering digunakan pada kapal-kapal ikan adalah kondensor jenisshell and
tube. Kondensor ini terbuat dari sebuah silinder besar yang di dalamnya terdapat
susunan pipa-pipa untuk mengalirkan air pendingin.
Tangki penampung (receiver tank)

Tangki penampung (Receiver) adalah tangki yang digunakan untuk


refrigerant cair yang berasal dari pengeluaran kondensor (Ilyas,1993).

menyimpan

Namun, apabila temperatur air pendingin didalam kondensor relatif rendah, dan
temperatur ruang mesin di manatangki penampung cairan dipasang lebih tinggi, kadang

- kadang cairan refrigeran yang terjadi di dalam kondensor tidak dapat mengalir dengan
mudah.

Dalam hal ini, bagian atas kondensor harus dihubungkan dengan bagian atas penerima
cairan oleh penyama tekanan (Arismunandar dan Saito, 2005).

Menurut Ilyas (1993), sebagai tempat refrigeran, receiver mempunyai empat fungsi
yaitu :

1. Menyimpan refrigeran cair selama operasi dan untuk maksud servis.


2. Meningkatkan perubahan dalam muatan refrigeran dan volume cairan, yakni
pemuaian dan penyusutan refrigeran karena perubahan suhu.
3. Sebagai tempat penyimpanan refrigeran bilamana sistem refrigerasi dimatikan
untuk tujuan perbaikan dan pemeliharaan serta pada saat sistem akan dimatikan
dalam jangka waktu yang lama.
Pada receiver dilengkapi dengan sebuah gelas penduga untuk melihat kapasitas freon
dalam sistem dan juga dilengkapi dengan katup keamanan sebagai pengaman untuk
mengatasi tekanan yang berlebihan dalam sistem.

Receiver

a. Katup Ekspansi

Katup ekspansi dipergunakan untuk mengekspansikan secara adiabatik cairan refrigeran


yang bertekanan dan bertemperatur tinggi sampai mencapai tingkat keadaan tekanan
dan temperatur rendah.

Pada waktu katup ekspansi membuka saluran sesuai dengan jumlah refrigeran yang
diperlukan oleh evaporator, sehingga refrigeran menguap sempurna pada waktu keluar
dari evaporator (Arismunandar & Saito, 2005).

Apabila beban pendingin turun, atau apabila katup ekspansi membuka lebih lebar, maka
refrigeran didalam evaporator tidak menguap sempurna, sehingga refrigeran yang
terhisap masuk kedalam kompresor mengandung cairan.

Jika jumlah refrigeran yang mencair berjumlah lebih banyak atau apabila kompresor
mengisap cairan, maka akan terjadi pukulan cairan (Liquid hammer) yang dapat
merusak kompresor. (Arismunandar & Saito, 2005)
Menurut Hartanto (1985), katup ekspansi berdasarkan cara kerjanya terdiri dari :
1) Katup ekspansi manual / tangan
Berfungsi untuk mengontrol arus refrigerant supaya tepat mengimbangi beban refrigrasi.
Alat ini hanya digunakan kalau beban refrigrasi konstan yang menunjukkan bahwa
perubahan kecil dan berkembang lambat.

Sering dipasang paralel dengan alat kontrol lain sehingga system dapat tetap
dioperasikan jika katup yang lain dalam keadaan rusak (Ilyas,1993).

Katup Ekspansi Manual

2) Katup ekspansi automatik

Katup yang cara kerjanya berdasarkan tekanan dalam evaporator. Cara kerja katup ini
adalah pada waktu mesin pendingin tidak bekerja, katup ekspansi tertutup karena
tekanan dalam evaporator lebih besar daripada tekanan pegas katup yang telah diatur.

Setelah mesin bekerja, uap didalam evaporator akan terhisap oleh kompresor sehingga
tekanan didalam evaporator berkurang. Setelah tekanan didalam evaporator lebih
rendah daripada tekanan pegas maka pegas akan mengembangkan diafragma dan
mendorong katup sehingga membuka.

3) Katup ekspansi thermostatis (thermostatic expantion valve)

Katup ini bertugas mengontrol arus refrigran yang dioperasikan secara mengindera oleh
suhu dan tekanan di dalam evaporator dan mensuplai refrigeran sesuai kebutuhan
evaporator.

Operasi katup ini dikontrol oleh suhu bulb kontrol dan oleh tekanan didalam evaporator
(Ilyas,1993).

Katup Ekpansi Thermostatik

a. Evaporator

Evaporator berguna untuk menguapkan cairan refrigeran, penguapan refrigeran akan


menyerap panas dari bahan / ruangan, sehingga ruangan disekitar menjadi dingin.

Menurut Arismunandar dan Saito (2005), penempatan evaporator dibedakan menjadi


empat macam sesuai dengan keadaan refrigeran didalamnya, yaitu :

1) Evaporator kering (dry expantion evaporator)

2) Evaporator setengah basah

3) Evaporator basah (flooded evaporator), dan

4) Sistem pompa cairan

Pada evaporator kering, cairan refrigeran yang masuk kedalam evaporator sudah dalam
keadaan campuran cair dan uap, sehingga keluar dari evaporator dalam keadaan uap
kering, karena sebagian besar dari evaporator terisi uap maka penyerapan kalor tidak
terlalu besar jika dibandingkan dengan evaporator basah.

Namun, evaporator kering tidak memerlukan banyak refrigeran, disamping itu jumlah
minyak pelumas yang tertinggal didalam evaporator sangat kecil (Arismunandar dan
Saito ,2005) .

Evaporator jenis ekspansi kering

Pada evaporator jenis setengah basah, kondisi refrigeran diantara evaporato jenis
ekspansi kering dan evaporator jenis basah.

Pada evaporator basah terdapat sebuah akumulator untuk menampung refrigeran cair
dan gas, dari akumulator tersebut bahan pendingin cair mengalir ke evaporator dan
menguap didalamnya.

Sisa refrigeran yang tidak sempat menguap di evaporator kembali kedalam akumulator,
didalam akumulator refrigeran cair berada dibawah tabung sedangkan yang berupa gas
berada diatas tabung.

Evaporator jenis ekspansi basah

Berdasarkan kontruksinya evaporator dibedakan menjadi tiga (Hartanto, 1985) yaitu:

1) Evaporator permukaan datar (evaporator plate)

Evaporator ini merupakan sebuah plat yang diberi saluran bahan pendingin atau pipa
yang dililitkan pada plat. Evaporator jenis ini banyak digunakan pada freezeratau contact
freezer dan proses pemindahan panas menggunakan sistem konduksi.

2) Evaporator bare

Jenis ini merupakan pipa yang dikontruksi melingkar atau spiral yang diberi rangka
penguat dan dipasang pada dinding ruang pendingin. Jenis banyak digunakan pada cold
storage, palkah-palkah ikan dikapal, dan rak air garam.

3) Evaporator sirip

Evaporator ini merupakan pipa yang diberi plat logam tipis atau sirip-sirip yang berfungsi
untuk memperluas permukaan evaporator sehingga dapat menyerap panas lebih
banyak.

Sirip-sirip ini harus menempel erat pada evaporator. Proses pemindahan panas dilakukan
dengan sistem secara tiupan dan banyak digunakan pada AC (air conditioner),pendingin
ruangan (cool room.)

2. Komponen Bantu

Komponen bantu adalah komponen yang dipasang pada instalasi mesin refrigerasi yang
gunanya untuk memperlancar aliran refrigeran sehingga mesin refrigerasi dapat bekerja
lebih sempurna.

Penggunaan alat bantu disesuaikan dengan besar kecilnya kapasitas, jenis refrigeran
yang digunakan dan kegunaan mesin refrigerasi tersebut (Hartanto,1985).

a. Oil Separator

Suatu alat yang digunakan untuk memisahkan minyak pelumas yang ikut termampatkan
oleh kompresor dengan uap refrigeran.

Oli yang ikut bersama refrigeran harus dipisahkan karena jika hal ini terjadi terusmenerus, maka dalam waktu singkat kompresor akan kekurangan minyak pelumas
sehingga pelumasan kurang baik, disamping itu minyak pelumas tersebut akan masuk
kedalam kondensor dan kemudian ke evaporator sehingga akan mengganggu proses
perpindahan kalor (Arismunandar dan Saito, 2005). Oil separator dipasang diantara
kompresor dan kondensor.

Oil separator

Filter and drier

Alat ini digunakan untuk menyaring kotoran dan menyerap kandungan air yang ikut
bersama refrigeran pada instalasi mesin refrigerasi.

Alat ini merupakan suatu tabung yang didalamnya terdapat bahan pengering (desicant)
dansaringan kotoran dan penahan agar bahan pengering tidak terbawa oleh aliran
refrigeran yang dipasang pada kedua ujung tabung tersebut (Hartanto, 1985).

c. Indikator (gelas penduga)

Merupakan alat yang digunakan untuk melihat aliran cairan refrigeran pada mesin
pendingin. Alat ini dipasang pada saluran cairan refrigerant bertekanan tinggi
antarareceiver dan katup ekspansi.

d. Alat pengukar panas ( heat excahnger)

Heat exchanger merupakan suatu alat penukar panas yang gunanya untuk menambah
kapasitas mesin refrigerasi dengan cara menyinggungkan antara saluran cairan
refrigeran yang bertekanan tinggi dari receiver tank dengan saluran uap refrigeran

bertekanan rendah dari evaporator sehingga terjadinya perpindahan panas dari cairan
refrigeran bertekanan tinggi ke uap refrigeran yang akan dihisap oleh kompresor.

Sehingga cairan refrigeran bertekanan tinggi mengalami penurunan tekanan sebelum


mengalir ke katup ekspansi karena penurunan temperatur. (Hartanto, 1985)

e. Kran Selenoid (selenoid valve)

Kran selenoid adalah kran yang digerakkan dengan ada dan tidaknya aliran listrik, kran
ini pada umunya dipasang pada saluran cairan bahan pendingin bertekanan tinggi atau
sebelum katup ekspansi (Hartanto,1985).

f. Akumulator

Akumulator berfungsi untuk menampung sementara refrigeran berwujud cair yang belum
sempat menjadi uap di evaporator.

Sebelum masuk ke kompresor refrigeran berbentuk cair dan uap dipisahkan di


akumulator, agar kompresor tidak menghisap cairan refrigeran yang dapat menyebabkan
kompresor rusak.

Pada mesin refrigerasi sistem evaporator basah peranan akumulator sebagai komponen
pokok dan dipasang setelah katup ekspansi, namun pada evaporator sistem kering
akumulator sebagai komponen bantu dan dipasang diantara evaporator dan kompresor.

Akumulator
3. Alat Kontrol dan Pengaman

Sistem refrigrasi memerlukan sejumlah kontrol guna mempertahankan kondisi operasi


dan mengatur arus refrigerant agar peralatan bekerja aman da ekonomis (Ilyas,1993).

Menurut Hartanto (1985), berdasarkan kegunaannya komponen kontrol terbagi atas 2


macam alat pengontrol :

a. Alat ukur (non pneumatic)

Alat ini hanya dapat digunakan untuk mengetahui keadaan pengoperasian mesin
pendingin, antara lain :

1) Manometer

Alat ini digunakan untuk mengukur tekanan pada mesin refrigerasi yang pada umumnya
dipasang pada :

saluran pengeluaran (discharge) kompresor, saluran pengisapan (suction) kompresor,


saluran minyak pelumas, kondensor, tangki penampung dan akumulator (pada
evaporator basah).

2) Thermometer
Thermometer digunakan untuk mengukur temperatur, pada mesin refrigerasi biasanya
digunakan untuk mengukur temperatur ruang pendingin, media pendingin (masuk dan
keluar) kondensor, refrigeran pada saluran hisap dan keluar kompresor dan sebagainya.

b. Alat Pengaman

Alat ini digunakan untuk mengamankan mesin pendingin apabila terjadi keadaan
pengoperasian yang tidak sesuai dengan yang dinginkan, jenis alat pengaman yang
sering digunakan dapat berbentuk saklar dan katup atau keran. Adapun jenisnya antara
lain:

1) Saklar tekanan tinggi ( High Pressure Control / HPC)

Adalah saklar listrik yang kerjanya dipengaruhi oleh keadaan refrigerant didalam mesin
pendingin yang bertekanan tinggi, alat ini dapat mematikan kompresor secara automatik
apabila tekanan pengeluaran kompresor terlalu tinggi (lebih tinggi dari batas tekanan
yang telah ditentukan).

2) Saklar tekanan rendah ( low pressure control / LPC)

Pada prinsipnya alat ini merupakan suatu saklar automatik yang bekerja berdasarkan
tekanan hisap dari kompresor, apabila tekanan hisap kompresor terlalu rendah (lebih
rendah dari tekanan yang telah ditentukan), maka alat ini akan memutuskan aliran listrik
ke motor penggerak kompresor sehingga kompresor akan mati.

Apabila tekanan penghisapannya naik sesuai dengan yang ditentukan maka secara
automatik akan menghidupkan kompresor kembali.

3) Saklar tekanan minyak pelumas (oil pressure control)

Alat kontrol yang dapat mematikan kompresor secara automatik apabila tekanan minyak
pelumas pada kompresor terlalu rendah.

Pada alat ini terdapat dua buah diafragma yang masing-masing kerjanya dipengaruhi
oleh tekanan minyak pelumas dan tekanan penghisapan kompresor, oleh karena itu alat
ini selalu dihubungkan dengan saluran pelumasan dan saluran penghisapan kompresor.

4) Saklar temperatur (thermostat)

Alat yang dapat mematikan kompresor secara automatik apabila temperatur ruangan
yang didinginkan sudah mencapai pada temperatur yang dikehendaki.

Alat ini menggunakan tabung perasa (sensor bulb) yang ditempatkan pada ruang
pendingin untuk mendeteksi temperatur ruangan pendingin, apabila suhu diruang
pendingin sudah sesuai dengan yang ditentukan maka thermostat akan mematikan
kompresor.

Penulis :

Lutfi Jauhari

(Widyaiswara BPPP Tegal)

DAFTAR PUSTAKA

Arismunandar, W. dan Heizo Saito. 2002. Penyegaran Udara. PT. Pradnya Paramita,
Jakarta.

Dossat, RJ. 1976 Principle of Refrigeration

Handoko, K. 1981. Teknik Lemari Es. PT. Ichtiar Baru, Jakarta.

Hartanto, B. 1982. Teknik Mesin Pendingin. BKPI, Tegal.

Holman, J.P. 1988. Perpindahan Panas (Heat Transfer). Erlangga, Jakarta.

Ilyas, S. 1983 Teknologi Refrigerasi Hasil Perikanan Jilid I, Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. CV. Paripurna, Jakarta.

________,1993. Teknologi Refrigerasi Hasil Perikanan Jilid II, Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. CV. Paripurna, Jakarta.

Stoecker, W.F. dan Jerold, J.W. 1994. Refrigerasi dan Pengkondisian Udara Edisi kedua. PT.
Erlangga, Jakarta.

Sumanto. 2001. Dasar - dasar Mesin Pendingin. Andi, Yogjakarta.

Komponen Utama Sistem Refrigerasi Primer


Komponen Utama & Prinsip Kerja Sistem Refrigerasi Primer
MIFTAHURRIZQI ( XI TPTU )
A. Pengantar Sistem Refrigerasi
Salah satu aspek yang paling penting dari rekayasa lingkungan termal adalah
refrigerasi. Refrigerasi merupakan suatu proses penarikan panas/ kalor dari suatu
benda/ ruangan sehingga temperatur tenda/ruangan tersebut lebih rendah dari
temperatur lingkungannya. Sesuai dengan konsep kekekalan energi, panas tidak
dapat dimusnahkan, tetapi dapat dipindahkan ke suatu bahan/benda lain yang akan
menyerap kalor. Jadi refrigerasi akan selalu berhubungan dengan proses-proses
aliran panas dan proses-proses perpindahan panas.
Untuk mempelajari refrigerasi dengan baik, dibutuhkan pengetahuan tentang bahan
dan energi, temperatur, tekanan, panas dan akibat-akibatnya serta subyek-subyek
yang lain yang berhubungan dengan fungsi dari suatu sistem refrigerasi, terutama
termodinamika dan perpinadahan panas.
Sistem refrigerasi pada dasarnya dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Sistem refrigerasi mekanik: dimana akan ditemui adanya mesin-mesin
penggerak/dan alat mekanik lain, berikut yang termasuk dalam sistem refrigerasi
mekanik adalah:
a)
Refrigerasi sistem kompresi uap.
b)
Refrigerasi siklus udara.
c)
Refrigerasi temperatur ultra rendah/ Kriogenik.
d)
Refrigerasi siklus sterling.
2. Sistem refrigerasi non mekanik, dimana tanpa menggunakan mesin-mesin
penggerak/dan alat mekanik lain. Berikut yang termasuk sistem refrigerasi non
mekanik adalah sebagai berikut:
a)
Refrigerasi thermoelektrik.
b)
Refrigerasi absorbsi.
c)
Refrigerasi steam jet.
d)
Refrigerasi magnetic.
e)
Heat pipe.
Penerapan-penerapan refrigerasi pada dasarnya hampir meliputih seluruh aspek
kehidupan kita sehari-hari. Industri refrigerasi dan tata udara berkembang pesat dan
bervariasi. Salah satu penggunaan dasar dari refrigerasi adalah pembuatan es. Saat
ini refrigerasi sangat penting artinya dalam bidang produksi, pengolahan dan
distribusi makanan, juga untuk mencapai kegiatan industri yang efesien baik alat dan
hasil yang produksi maupum para sumber daya manusianya yang bekerja lebih
efektif.
Pada dasarnya, penerapan refrigerasi dibagi dalam 5 kelompok bidang yaitu:
1)
Refrigerasi Domestik.
Refrigerasi domestik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dari yang lain, dimana
yang utama akan dipelajari tentang penggunaan lemari es dan freezer di rumah
tangga. Tetapi bagaimanapun juga karena unit-unit pelayanannya sangat luas,
refrigerasi domestik mewakili suatu bagian dari industri refrigerasi. Unit domestik
biasanya berbentuk kecil, yang mempunyai daya antara 35 W sampai 375 W dan dari
jenis kompresor hermetic, walaupun pada saat ini sudah mulai dikembangkan dengan
menggunakan system lain selai kompresi uap.
2)
Refrigerasi Industri/Komersial.

Refrigerasi industri sering dikacaukan dengan Refrigerasi komersil karena


pembagian antara ke dua bidang tersebut tidak jelas. Tetapi sebagai gambaran
umum, biasanya Refrigerasi industri lebih besar dari pada Refrigerasi komersil dan
membutuhkan seorang atau lebih yang benar-benar ahli untuk dapat
mengoperasikannya, sebagai contoh misalnya pabrik es, pabrik pengepakan
makanan yang besar (daging,ikan,ayam,makanan beku dll), pabrik susu, pabrik bir,
pabrik anggur, pabrik minyak, dan berbagai industry lain seperti industry
penyulingan minyak, industry kimia, industry semen,pabrik karet, bahkan industry
kontruksi sipil/bangunan, industry tekstil, pabrik kertas, industry logam dan lain-lain.
3)
Refrigerasi Transportasi.
Sesuai dengan namanya, system ini mempelajari Refrigerasi yang digunakan pada
bidang transportasi seperti kapal, truk, kereta api, pesawat terbang baik untuk jarak
jauh maupun untuk pengiriman local dan lain-lain.
4)
Sistem Refrigerasi Kompresi Uap Sederhana.
Sistem kompresi uap merupakan dasar system refrigerasi yang terbanyak digunakan,
dengan komponen utamanya adalah kompresor, kondensor, alat ekspansi (Throttling
Device), dan evaporator.
B. Sistem Refrigerasi Kompresi Uap
Aplikasi sistem refrigerasi kompresi uap paling banyak digunakan pada peralatan
industri maupun peralatan rumah tangga seperti sistem tata udara atau AC, kulkas,
freezer, ice maker, dispenser, dsb. Sistem ini memiliki nilai performansi yang tinggi,
komponennya tidak banyak, sederhana, serta mudah dalam perawatannya.
1.Kompresi
Merupakan proses yang terjadi pada kompresor yang menekan refrigeran atau freon
secara reversibel dan isentropik. Kerja atau usaha yang diberikan pada refrigeran
akan menyebabkan kenaikan pada tekanan sehingga temperatur refrigeran akan lebih
besar dari temperatur lingkungan atau refrigeran mengalami fasa superheat.
2.Kondensasi
Merupakan proses pelepasan kalor refrigeran superheat ke lingkungan sehingga
fasanya berubah dari uap menjadi cair jenuh tetapi tekanan dan temperaturnya masih
tetap tinggi. Media pengembun refrigeran pada kondensor bisa berupa udara (air
cooled condenser), air (water-cooled condenser) atau campuran udara dan air
(evaporative condenser).
3.Ekspansi
Merupakan proses penurunan secara adiabatis pada tekanan dan temperatur
sehingga nilainya lebih rendah dari temperatur lingkungan. Beberapa alat ekspansi
diantaranya pipa kapiler, katup ekspansi manual, Thermostatic Expansion Valve
(TXV), Automatic Expansion Valve (AXV), Electronic Expansion Valve (EXP), dan lain
sebagainya.
4.Evaporasi

Setelah refrigeran diekspansikan secara irreversibel adiabatik menjadi cairan jenuh,


refrigeran akan memiliki tekanan dan temperatur rendah sehingga akan menerima
sejumlah kalor dari lingkungan yang didinginkan dan refrigeran berubah seluruhnya
menjadi uap jenuh yang kemudian masuk ke kompresor untuk disirkulasikan kembali.
Pembagian evaporator berdasarkan bentuk koilnya yaitu pipa telanjang (bare tube),
permukaan pelat (Plate Surface), dan bersirip (finned). Berdasarkan konstruksinya
dibedakan menjadi shell & tube, Shell & coil, dan Bondelot. Sedangkan pembagian
evaporator berdasarkan ekspansi langsung yaitu Tipe ekspansi kering (dry expansion
type) dan tipe banjir (flooded type).
Siklus refrigerasi kompresi uap memiliki dua keuntungan.
1.
Sejumlah besar energi panas diperlukan untuk merubah cairan menjadi uap,
dan oleh karena itu banyak panas yang dapat dibuang dari ruang yang disejukkan.
2.
Sifat-sifat isothermal penguapan membolehkan pengambilan panas tanpa
menaikan suhu fluida kerja ke suhu berapapun didinginkan. Hal ini berarti bahwa laju
perpindahan panas menjadi tinggi, sebab semakin dekat suhu fluida kerja mendekati
suhu sekitarnya akan semakin rendah laju perpindahan panasnya.
C. Komponen Sistem Refrigerasi Kompresi Uap
Komponen yang ada di sistem refrigerasi kompresi uap terdapat dua jenis komponen,
taitu komponen utama dan komponen pendukung. Dalam komponen utama hanya
ada empat komponen yang tidak bisa dihilangkan salah satunya.
a)
Komponen Utama Sistem Refrigerasi Kompresi Uap
1.1.
Kompresor
Fungsi dan cara kerja kompresor torak
Kompresor merupakan jantung dari sistem refrigerasi. Pada saat yang sama
komrpesor menghisap uap refrigeran yang bertekanan rendah dari evaporator dan
mengkompresinya menjadi uap bertekanan tinggi sehingga uap akan tersirkulasi.
Kebanyakan kompresor-kompresor yang dipakai saat ini adalah dari jenis torak. Jika
torak bergerak turun dalam silinder, katup hisap terbuka dan uap refrigeran masuk
dari saluran hisap ke dalam silinder. Pada saat torak bergerak ke atas, tekanan uap di
dalam silinder meningkat dan katup hisap menutup, sedangkan katup tekan akan
terbuka, sehingga uap refrigean akan ke luar dari silinder melalui saluran tekan
menuju ke kondensor.
Kebocoran katup kompresor dan terbakarnya motor kompresor
Beberapa masalah pada kompresor adalah bocornya katup terkabarnya motor
kompresor. Jika katup tekan bocor torak menghisap uap dari saluran hisap, sebagian
uap yang masih tertinggal disaluran tekan akan terhisap kembali ke dalam silinder,
sehingga mengakibatkan efisiensinya berkurang. Hal yang sama juga dapat terjadi
bila katup hisap bocor torak menekan uap ke saluran tekan, sebagian uap di alam
silinder akan tertekan kembali ke saluran hisap.
Untuk mencegah kebocoran torak terhadap dinding silinder, biasanya dipasang
cincin torak. Jika cincin ini aus atau pecah, refrigeran dapat bocor sehingga tekanan
tekan akan lebih rendah dan menyebabkan kekurangan efisiensi. Jika motor
kompresor terbakar, terutama untuk jenis hermetik dan semi hermetik, dan jika
rifrigeran yang dipakai adalah CFC dan HCFC, maka akan timbul asam yang bersifat
korosif.
Pengecekan kompresor

Beberapa tes sederhana dapat dilakukan untuk mengetahui jika ada kebocoran yang
nyata dalam kompresor. Pertama jika saluran hisap disumbat, maka saluran hisap
kompresor akan vakum/hampa udara. Jika katup hisap atau katup tekan atau torak
bocor, refrigeran yang akan dipompa oleh kompresor tak akan sebesar yang
dikehendaki. Tes kebocoran yang lain diperlihatkan jika kompresor dapat
mempertahankan vakum yang dapat dicapai.
Jika kompresor dimatikan, tekanan hisap diamati apakah turun dengan nyata. Jika
katup hisap atau katup tekan torak bocor, tekanan bisap akan turun. Tes yang sama
dapat dilakukan dengan mengamati tekanan tekan. Jika saluran tekan disumbat,
kompresor akan mempertahankan tekanan tersebut. Jika katup tekan bocor tekanan
tekan akan turun.
Gambar 1. Kompresor
1.2.
Kondensor
Kondensor gambar 5 juga merupakan salah satu komponen utama dari sebuah mesin
pendingin. Pada kondensor terjadi perubahan wujud refrigeran dari uap super-heated
(panas lanjut) bertekanan tinggi ke cairan sub-cooled (dingin lanjut) bertekanan
tinggi. Agar terjadi perubahan wujud refrigeran (dalam hal ini adalah pengembunan/
condensing), maka kalor harus dibuang dari uap refrigeran.
Kalor/panas yang akan dibuang dari refrigeran tersebut berasal dari :
1. Panas yang diserap dari evaporator, yaitu dari ruang yang didinginkan
2. Panas yang ditimbulkan oleh kompresor selama bekerja
Jelas kiranya , bahwa fungsi kondensor adalah untuk merubah refrigeran gas menjadi
cair dengan jalan membuang kalor yang dikandung refrigeran tersebut ke udara
sekitarnya atau air sebagai medium pendingin/condensing.
Gas dalam kompresor yang bertekanan rendah dimampatkan/dikompresikan menjadi
uap bertekanan tinggi sedemikian rupa, sehingga temperatur jenuh pengembunan
(condensing saturation temperature) lebih tinggi dari temperatur medium
pengemburan (condensing medium temperature). Akibatnya kalor dari uap
bertekanan tinggi akan mengalir ker medium pengembunan, sehingga uap refrigean
akan terkondensasi.
Gambar 2. Kondensor
1.3.
Katup Ekspansi
Setelah refrigeran terkondensasi di kondensor, refrigeran cair tersebut mausk ke
katup ekspansi yang mengontrol jumlah refregean yang masuk ke evaporator. Ada
banyak jenis katup ekspansi, tiga diantaranya adalah pipa kapiler, katup ekspansi
otomatis, dan katup ekspansi termostatik.
1.3.1.
Pipa Kapiler (capillary tube)
Katup ekspansi yang umum digunakan untuk sistem refrigerasi rumah tangga adalah
pipa kapiler. Pipa kapiler adalah pipa tembaga dengan diameter lubang kecil dan
panjang tertentu. Besarnya tekanan pipa kapiler bergantung pada ukuran diameter
lubang dan panjang pipa kapiler. Pipa kapiler diantara kondensor dan evaporator

Refrigeran yang melalui pipa kapiler akan mulai menguap. Selanjutnya berlangsung
proses penguapan yang sesungguhnya di evaporator. Jika refrigeran mengandung
uap air, maka uap air akan membeku dan menyumbat pipa kapiler. Agar kotoran tidak
menyumbat pipa kapiler, maka pada saluran masuk pipa kapiler dipasang saringan
yang disebut strainer.
Ukuran diameter dan panjang pipa kapiler dibuat sedemikian rupa, sehingga
refrigeran cair harus menguap pada akhir evaporator. Jumlah refrigeran yang berada
dalam sistem juga menentukan sejauh mana refrigeran di dalam evaporator berhenti
menguap, sehingga pengisian refrigeran harus cukup agar dapat menguap sampai
ujung evaporator.
Bila pengisian kurang, maka akan terjadi pembekuan pada sebagian evaporator. Bila
pengisian berlebih, maka ada kemungkinan refrigeran cair akan masuk ke kompresor
yang akan mengakibatkan rusaknya kompresor. Jadi sistem pipa kapiler
mensyaratkan suatu pengisian jumlah refrigeran yang tepat.
Gambar 3. Pipa Kapiler
1.3.2.
Katup Ekspansi Otomatis (Automatic Expansion Valve AXV)
Sistem pipa kapiler sesuai digunakan pada sistem-sistem dengan beban tetap
(konstan) seperti pada lemari es atau freezer, tetapi dalam beberapa keadaan, untuk
beban yang berubah- ubah dengan cepat harus digunakan katup ekspansi jenis
lainnya.
Beberapa katup ekspansi yang peka terhadap perubahan beban, antara lain adalah
katup ekspansi otomatis (AXV) yang menjaga agar tekanan hisap atau tekanan
evaporator besarnya tetap konstan.
Bila beban evaporator bertambah maka temperatur evaporator menjadi naik karena
banyak cairan refrigeran yang menguap sehingga tekanan di dalam saluran hisap (di
evaporator) akan menjadi naik pula.
Akibatnya bellow akan bertekan ke atas hingga lubang aliran refrigeran akan
menyempit dan ciran refrigeran yang masuk ke evaporator menjadi berkurang.
Keadaan ini menyebabkan tekanan evaporator akan berkurang dan bellow akan
tertekanan ke bawah sehingga katup membuka lebar dan cairan refrigeran akan
masuk ke evaporator lebih banyak. Demikian seterusnya.
Gambar 4. Automatic Expansion Valve
1.3.3.
Katup Ekspansi Termostatik (Thermostatic Expansion Valve TXV)
Jika AXV bekerja untuk mempertahankan tekanan konstan di evaporator, maka katup
ekspansi termostatik (TXV) adalah satu katup ekspansi yang mempertahankan
besarnya panas lanjut pada uap refrigeran di akhir evaporator tetap konstan, apapun
kondisi beban di evaporator.
Cara kerja TXV adalah sebagai berikut :
Jika beban bertambah, maka cairan refrigran di evaporator akan lebih banyak
menguap, sehingga besarnya suhu panas lanjut dievaporator akan meningkat. Pada
akhir evaporator diletakkan tabung sensor suhu (sensing bulb) dari TXV tersebut.
Peningkatan suhu dari evaporator akan menyebabkan uap atau cairan yang terdapat
ditabung sensor suhu tersebut akan menguap (terjadi pemuaian) sehingga
tekanannya meningkat. Peningkatan tekanan tersebut akan menekan diafragma ke
bawah dan membuka katup lebih lebar.

Hal ini menyebabkan cairan refrigeran yang berasal dari kondensor akan lebih banyak
masuk ke evaporator. Akibatnya suhu panas lanjut di evaporator kembali pada
keadaan normal, dengan kata lain suhu panas lanjut di evaporator di jaga tetap
konstan pada segala keadaan beban.
Gamba 5. Thermostatic Expansion Valve
1.4.
Evaporator
Pada evaporator, refrigeran menyerap kalor dari ruangan yang didinginkan.
Penyerapan kalor ini menyebabkan refrigeran mendidih dan berubah wujud dari cair
menjadi uap (kalor/panas laten). Panas yang dipindahkan berupa :
1. Panas sensibel (perubahan tempertaur)
Temperatur refrigeran yang memasuki evaporator dari katup ekspansi harus demikian
sampai temperatur jenuh penguapan (evaporator saturation temparature). Setelah
terjadi penguapan, temperatur uap yang meninggalkan evaporator harus pupa
dinaikkan untuk mendapatkan kondisi uap panas lanjut (super-heated vapor)
2. Panas laten (perubahan wujud)
Perpindahan panas terjadi penguapan refrigeran. Untuk terjadinya perubahan wujud,
diperlukan panas laten. Dalam hal ini perubahan wujud tersebut adalah dari cair
menjadi uap atau mengupa (evaporasi). Refrigeran akan menyerap panas dari ruang
sekelilingnya.
Adanya proses perpindahan panas pada evaporator dapat menyebabkan perubahan
wujud dari cair menjadi uap. Kapasitas evaporator adalah kemampuan evaporator
untuk menyerap panas dalam periode waktu tertentu dan sangat ditentukan oleh
perbedaan temperatur evaporator (evaporator temperature difference).
Perbedaan tempertur evaporator adalah perbedaan antara temperatur jenus
evaporator (evaporator saturation temperature) dengan temperatur substansi/benda
yang didinginkan. Kemampuan memindahkan panas dan konstruksi evaporator
(ketebalan, panjang dan sirip) akan sangat mempengaruhi kapaistas evaporator.
Gambar 6. Evaporator
b)

Komponen Pendukung Sistem Refrigerasi Kompresi Uap


2.1.
Filter Dryer
Filter dryer berfungsi untuk menyaring refrigeran dari kotoran dan mengeringkan
refrigeran dengan cara menyerap uap air yang terkandung dalam refrigeran. Filter
dryer dipasang pada liquid line atau sebelum TXV dan sight glass.
Gambar 7. Filter Dryer
2.2.
Acumulator
Akumulator upaya untuk melindungi kompresor dari refrigeran cair pada baris hisap.
Hal ini dicapai dengan menggunakan perangkap terbalik. Namun pada saat yang
sama dapat jebakan minyak entrained dalam refrigeran. Hal ini akhirnya bisa
menahan muatan seluruh minyak yang akan menyebabkan kegagalan kompresor.
Untuk mengatasi masalah ini lubang kecil ini terletak di bagian bawah perangkap
terbalik. Sebuah Efek Venturi terjadi dan setiap minyak yang terjebak tersedot melalui
lubang dan terbawa oleh hisap uap dikembalikan ke kompresor bah tempatnya.
Gambar 8. Accumulator
2.3.
Sight Glass

Sight glass berfungsi untuk melihat fasa refrigeran apakah yang melewati sight glass
benar-benar cair dan untuk melihat cukup atau tidaknya refrigeran yang mengalir
didalam sistem.
Gambar 9. Sight Glass
2.4.
Selenoid Valve
Selenoid valve berfungsi untuk menghentikan atau meneruskan cairan refrigeran
dalam sistem refrigerasi dengan menggunakan prinsip elektromagnetik. Jika
dipasang pada liquid line, akan menjaga refrigeran terperangkap disisi tekanan tinggi
dan menurunkan kerja kompresor saat awal dijalankan.
Gambar10. Selenoid Valve
2.5.
Hand Valve
Hand valve berfungsi sebagai buka tutup aliran yang dilakukan secara manual. Selain
itu hand valve berfungsi sebagai alat ekspansi untuk menurunkan tekanan aliran
fluida yang digunakan.
Gambar 11. Hand Valve
2.6.
High Low Pressure Gauge
High Low Pressure Gauge adalah alat untuk mengukur tekanan dan temperatur yang
menggunakan jarum dan sensor aliran Refrigeran.
2.6.1.
Low Pressure gauge
Adalah alat pengukur tekanan rendah di pasang pada suction line yang mana
keluaran dari evap menuju kompressor.
Gambar 12. Low Pressure Gauge
2.6.2.
High Pressure gauge
Alat pengukur tekanan dan temperatur tinggi yang mana mengukur tekanan dan laju
aliran pada suatu dalam sistem tersebut. Di pasa pada discharge line super heat.
Gambar 13. Low Pressure Gauge
2.7.
High Low Pressure Control
2.7.1.
Low Pressure Control
Low Pressure Control digunakan sebagai pengontrol temperatur sekaligus pula
sebagai alat pengaman. Bila digunakan sebagai pengaman, LPC ini akan
memutuskan rangkaian dan menghentikan kompresor pada saat tekanan hisap
(suction pressure) menjadi terlalu rendah. Hal ini bisa disebabkan unit pendingin
kekurangan refrigerant, bocor terjadinya bunga es yang tebal di evaporator. Bila
tekanan dari saluran hisap ini kembali normal, LPC akan menutup rangkaian dan
kompresor akan bekerja kembali. Beberapa LPC dilengkapi dengan reset manual
untuk menjaga adanya short cycling karena gangguan pada sistem.

Low Pressure Control dapat pula digunakan sebagai alat pengontrol kompresor
pada saat tekanan refrigerant meningkat atau menghentikan kompresor pada saat
tekanan hisap meningkat. Jenis ini disebut : Reverse Acting Low Pressure Control,
jenis ini biasa digunakan sebagai alat pengaman pada unit dengan suhu yang rendah
yang menggunakan electric depost, untuk memutuskan elemen pemanas (electric
heater) setelah pencairan bunga es (depost) selesai. Jenis ini dapat juga digunakan
sebagai alat kontrol Forced Draft Cooled Fan pada "Cool Rooms", on dan off pada
saat temperatur "Cool Rooms" terlalu tinggi.
Gambar 14. Low Pressure Control
2.7.2.
High Pressure Control
HPC biasanya digunakan sebagai alat pengaman kompresor pada saat terjadi
gangguan tekanan yang berlebihan. HPC akan menghentikan kompresor pada saat
tekanan pada saluran tekan terlalu tinggi. Hal ini dilakukan untuk melindungi katupkatup kompresor dan juga untuk melindungi motor dari beban yang berlebihan.
Bila tekanan saluran tekan (discharge) meningkat melebihi tekanan yang diizinkan,
HPC akan terbuka dan memutuskan rangkaian sehingga kompresor berhenti. Bila
tekanan turun kembali ke harga normal, HPC tertutup dan kompresor bekerja kembali.
Beberapa jenis HPC dilengkapi dengan tombol reset manual sehingga kompresor
tidak dapat bekerja kembali sebelum tombol reset ditekan. Hal ini digunakan sebagai
pengaman. Jadi Anda jangan melakukan reset sebelum mengetahui penyebab
terjadinya tekanan lebih pada saluran tekan.
HPC biasa digunakan pada sistem komersial dan juga industri. Karena suhu
kondensing dan tekanan kondensing untuk bermacam-macam refrigerant berlainan,
maka cut in dan cut out pressure tergantung dari refrigerant yang digunakan, jenis
kondensor dan ambient temperatur dari sistem. Disamping untuk mengontrol
kompresor, HPC dapat juga digunakan sebagai pengontrol Fan Condensor, pompa air
condensor dan selenoid valve. Reverse acting HPC akan menutup kontaknya pada
saat tekanan meningkat. Sedangkan HPC akan membuka kontaknya pada saat
tekanan meningkat. Reverse acting HPC digunakan untuk menjaga suhu condensing
yang minimum. Sistem pengontrolan ini biasanya diterapkan pada area dimana
ambient temperatur di bawah condensing temperatur.
Gambar 15. High Pressure Control
c)
Komponen Kelistrikan
3.1.
MCB
MCB bekerja dengan cara pemutusan hubungan yang disebabkan oleh aliran listrik
lebih dengan menggunakan electromagnet/bimetal. cara kerja dari MCB ini adalah
memanfaatkan pemuaian dari bimetal yang panas akibat arus yang mengalir untuk
memutuskan arus listrik. Kapasitas MCB menggunakan satuan Ampere (A), Kapasitas
MCB mulai dari 1A, 2A, 4A, 6A, 10A, 16A, 20A, 25A, 32A dll. MCB yang digunakan
harus memiliki logo SNI pada MCB tersebut.
Cara mengetahui daya maximum dari MCB adalah dengan mengalikan kapasitas dari
MCB tersebut dengan 220v ( tegangan umum di Indonesia ). Contoh Untuk MCB 6A
mempunyai kapasitas menahan daya listrik sebesar : 6A x 220v = 1.200 Watt
Beberapa kegunaan MCB :
1. Membatasi Penggunaan Listrik
2. Mematikan listrik apabila terjadi hubungan singkat ( Korslet )

3. Mengamankan Instalasi Listrik


4. Membagi rumah menjadi beberapa bagian listrik, sehingga lebih mudah untuk
mendeteksi kerusakan instalasi listrik
Cara menentukan penyebab MCB turun cara menyentuh bagian putih dari MCB,
apakah panas atau tidak.
1. Apabila tidak panas,
kemungkinan ada bagian instalasi yang korslet, biasanya bila instalasi yang korslet
tersebut telah di perbaiki, MCB langsung dapat dinyalakan. Jika sesudah beberapa
menit MCB tersebut tetap tidak bisa dinyalakan kembali, artinya MCB tersebut sudah
rusak
2.
Apabila panas
Itu menandakan MCB mengalami kelebihan beban dalam waktu yang cukup lama,
tunggu beberapa menit baru menyalakan MCB tersebut, biasanya apabila langsung di
nyalakan, MCB akan langsung turun kembali, hal ini disebabkan oleh BiMetal yang
memuai dan membutuhkan waktu untuk kembali ke bentuk semula. Bila sesudah
beberapa menit, MCB tersebut tetap tidak bisa dinyalakan, artinya MCB tersebut
sudah rusak
Gambar 16. MCB
3.2.
TDR
Kontaktor timer adalah kontaktor yang digunakan sebagai relai penunda waktu yang
fungsinya untuk memindahkan kerja dari rangkaian pengontrol kerangkaian tertentu
yang bekerja secara otomatis. Misal dari star ke delta secara otomatis. Prinsipnya
sama saja dengan kontaktor, hanya saja memiliki waktu tunda operasi. Kontaktor
timer ini memiliki kontak NO dan juga kontak NC, seperti pada magnetik kontaktor,
hanya bekerjanya berdasarkan delay waktu yang telah ditentukan. Biasanya kontaktor
timer ini disebut timer/TDR.
Gambar 17. Timer Delay relay
TDR dengan Waktu Tunda Hidup (On Delay)
Timer ini bekerja dari normalnya dengan tunda waktu sesuai dengan setting yang
diberikan.
Untuk NO, setelah koil dari kontaktor diberi daya, kontak NO masih tetap terbuka
hingga beberapa waktu tertentu, misalnya 5 detik. Setelah 5 detik, kontak akan
otomatis berubah status dari terbuka (off) menjadi tertutup (on) dan akan tetap
tertutup selama kontaktor mendapat catu daya. Jika catu daya diputus, maka
kontaktor akan kembali terbuka.
Untuk NC, setelah koil dari relay diberi catu, kontak NC masih tetap tertutup hingga
beberapa waktu tertentu, misalnya 5 detik. Setelah 5 detik, kontak akan otomatis
berubah status dari tertutup (off) menjadi terbuka (on) dan akan tetap terbuka selama
relay mendapat catu daya. Jika catu daya diputus, maka relay akan kembali tertutup.
TDR dengan Waktu Tunda Mati (Off Delay)
Timer ini bekerjanya berkebalikan dengan timer On Delay, saat kontaktor magnit
mendapat tegangan dan aktif, maka kontak akan langsung aktif juga, namun setelah
tegangan hilang dan kontaktor magnit tidak aktif, maka kontak yang aktif tadi akan
menjadi tidak aktif setelah waktu yang ditentukan.

Untuk NO, setelah koil dari relay diberi catu, kontak NO akan berubah status menjadi
tertutup dan akan tetap tertutup selama koil diberi catu. Saat catu daya diputus,
kontak akan tetap tertutup hingga beberapa waktu tertentu, misalnya 5 detik. Setelah
5 detik, kontak akan otomatis berubah status dari tertutup menjadi terbuka.
Untuk NC, setelah koil dari relay diberi catu, kontak NC akan berubah status menjadi
terbuka dan akan tetap terbuka selama koil diberi catu. Saat catu daya diputus,
kontak akan tetap terbuka hingga beberapa waktu tertentu, misalnya 5 detik. Setelah
5 detik, kontak akan otomatis berubah status dari terbuka menjadi tertutup.
3.3.
CONTACTOR
Magnetic Contactor (MC) adalah sebuah komponen yang berfungsi sebagai
penghubung/kontak dengan kapasitas yang besar dengan menggunakan daya
minimal. Dapat dibayangkan MC adalah relay dengan kapasitas yang besat.
Umumnya MC terdiri dari 3 pole kontak utama dan kontak bantu (aux. contact). Untuk
menghubungkan kontak utama hanya dengan cara memberikan tegangan pada koil
MC sesuai spesifikasinya.
Komponen utama sebuah MC adalah koil dan kontak utama. Koil dipergunakan untuk
menghasilkan medan magnet yang akan menarik kontak utama sehingga terhubung
pada masing masing pole.
Untuk aplikasi yang lebih, MC mempunyai beberapa accessories. Dan yang paling
banyak dipergunakan adalah kontak bantu. Jika kontak bantu yang telah tersedia
kurang bisa dilakukan penambahan di samping atau depan. Pneumatic Timer juga
sering dipakai dalam wiring sebuah system, misalnya pada Star Delta Starter.
Gambar 18. Magnetic Contactor
3.4.
AMPERE METER
Amperemeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kuat arus listrik yang ada
dalam rangkaian tertutup. Amperemeter biasanya dipasang berderet dengan elemen
listrik. Cara menggunakannya adalah dengan menyisipkan amperemeter secara
langsung ke rangkaian.
Gambar 19. Amperemeter
3.5.
VOLT METER
Volt Meter merupakan alat/perkakas untuk mengukur besar tegangan listrik dalam
suatu rangkaian listrik. Voltmeter disusun secara paralel terhadap letak komponen
yang diukur dalam rangkaian. Alat ini terdiri dari tiga buah lempengan tembaga yang
terpasang pada sebuah bakelite yang dirangkai dalam sebuah tabung kaca atau
plastik. Lempengan luar berperan sebagai anode sedangkan yang di tengah sebagai
katode. Umumnya tabung tersebut berukuran 15 x 10cm (tinggi x diameter).
Gambar 20. Voltmeter
3.6.
TERMOSTAT
Thermostat berfungsi untuk mempertahankan temperatur di dalam media yang
didinginkan agar tetap konstan dengan menjalankan dan menghentikan kompresor
secara otomatis. Pada thermostat ini dilengkapi dengan bulb yang berfungsi sebagai
sensor perubahan temperatur, jika temperatur yang diinginkan telah tercapai maka
bulb terisi dengan fluida tersebut mengirimkan sinyal untuk memutuskan arus listrik
sehingga kompresor berhenti bekerja.

Gambar 21. Termostat


D. Siklus Refrigerasi Kompresi Uap
Siklus refrigerasi komp[resi uap ditunjukkan dalam Gambar 1 dan 2 dan dapat dibagi
menjadi tahapan-tahapan berikut :
1 2. Cairan refrigeran dalam evaporator menyerap panas dari sekitarnya, biasanya
udara, air atau cairan proses lain. Selama proses ini cairan merubah bentuknya dari
cair menjadi gas, dan pada keluaran evaporator gas ini diberi pemanasan berlebih/
superheated gas.
2 3. Uap yang diberi panas berlebih masuk menuju kompresor dimana tekanannya
dinaikkan. Suhu juga akan meningkat, sebab bagian energi yang menuju proses
kompresi dipindahkan ke refrigeran.
3 4. Superheated gas bertekanan tinggi lewat dari kompresor menuju kondenser.
Bagian awal proses refrigerasi (3-3a) menurunkan panas superheated gas sebelum
gas ini dikembalikan menjadi bentuk cairan (3a-3b). Refrigerasi untuk proses ini
biasanya dicapai dengan menggunakan udara atau air. Penurunan suhu lebih lanjut
terjadi pada pekerjaan pipa dan penerima cairan (3b - 4), sehingga cairan refrigeran
didinginkan ke tingkat lebih rendah ketika cairan ini menuju alat ekspansi.
4 1. Cairan yang sudah didinginkan dan bertekanan tinggi melintas melalui
peralatan ekspansi, yang mana akan mengurangi tekanan dan mengendalikan aliran
menuju evaporator.
Gambar 22. Gambaran skematis siklus refrigerasi kompresi uap
Gambar 23. Gambaran skematis siklus refrigerasi termasuk perubahan tekanannya
E. Refrigeran
Refrigeran adalah zat kerja utama yang digunakan untuk menyerap dan mengalirkan
kalor dalam sistem refrigerasi. Semua refrigeran menyerap kalor pada temperatur dan
tekanan rendah selama evaporasi dan melepaskan kalor pada temperatur dan
tekanan tinggi selama proses kondensasi. Fluida kerja yang disirkulasi di dalam
siklus refrigerasi disebut refrigeran primer, dan fluida kerja yang disirkulasi di luar
siklus refrigerasi disebut refrigeran sekunder.
Syarat-syarat refrigeran antara lain tekanan penguapan harus cukup tinggi, tekanan
pengembunan yang tidak terlalu tinggi, mempunyai titik didih dan titik beku yang
rendah,kalor/panas laten penguapan yang tinggi, volume spesifik lebih kecil,
koefisien kinerja tinggi, konduktivitas termal yang tinggi viskositas yang rendah,
konstanta dielektrik yang kecil, nilai tahanan listriknya besar, tidak korosif terhadap
logam, tidak beracun, tidak berwarna dan tidak berbau, tidak mudah terbakar atau
meledak, dapat bercampur dengan minyak pelumas kompresor, mempunyai struktur
kimia yang stabil, mudah dideteksi jika terjadi kebocoran, harganya murah, dan
ramah lingkungan.
Refrigeran Halokarbon dan Dampaknya Terhadap Lingkungan
Refrigeran yang termasuk dalam kelompok halokarbon mempunyai satu atau lebih
atom dari tiga atom halogen, klorin, fluorin dan bromin.
Chlorofluorocarbon (CFC)

Refrigeran halokarbon yang paling banyak dipakai adalah refrigeran CFC terutama
CFC12 yang diperkenalkan pada tahun 1931, telah digunakan secara luas pada
sistem refrigerasi mulai dari water chiller sampai refrigerator, AC mobil serta perlatan
pengkondisi udara pada alat-alat transportasi dan penyimpanan produk. Senyawa
CFC termasuk dalam kelompok zat yang merusak ozon karena mempunyai nilai ODP
yang tinggi. Ozone Depleting Potential (ODP) adalah potensi suatu zat untuk merusak
lapisan ozon.
Hydrochlorofluorocarbon (HCFC)
Refrigeran HCFC mulai diperkenalkan sebagai refrigeran transisi pengganti CFC Hal
ini disebabkan karena refrigeran HCFC ini masih dapat menyebabkan kerusakan
ozon, tetapi nilai ODP-nya lebih kecil dibandingkan CFC serta masih mengandung
gas-gas rumah kaca yang dapat menyebabkan pemanasan global. Jenis refrigerant
ini adalah HCFC-22 (R-22) yang mempunyai temperatur buang yang tinggi dan
keterbatasan untuk larut dalam pelumas mineral yang digunakan pada sistem
refrigerasi CFC12 sehingga membutuhkan penggantian kompresor.
Hydroflurocarbon (HFC)
Refrigeran alternatif baru yang dikembangkan selanjutnya adalah refrigeran HFC.
Refrigeran HFC (seperti HFC 134a) ini mempunyai sifat termodinamika yang hampir
sama dengan CFC12. Refrigeran ini mempunyai nilai ODP nol sehingga tidak
merusak ozon, tetapi masih mengandung gas gas rumah kaca yang dapat
meningkatkan pemanasan global. Dari segi penggunaan refrigeran HFC ini
membutuhkan minyak pelumas yang berbeda dengan minyak pelumas yang dipakai
pada sistem refrigerasi CFC. Jadi refrigeran ini tidak dapat langsung diterapkan pada
sistem refrigerasi CFC karena membutuhkan penggantian kompresor.
Refrigeran Hidrokarbon sebagai Refrigeran Pengganti yang Ramah Lingkungan
Penggunaan refrigeran yang ramah lingkungan mutlak diperlukan untuk menjaga
kelangsungan alam, sehingga benar-benar ramah lingkungan. Salah satu refrigeran
alami yang sedang dikembangkan adalah refrigeran hidrokarbon yang menjadi topik
pembahasan pada penelitian ini. Dalam pemilihan hidrokarbon sebagai alternatif
pengganti CFC dan HCFC hal-hal yang harus diperhatikan adalah titik didih pada
tekanan normal (Normal Boiling Point), kapasitas volumetrik refrigerasi dan efisiensi
energi.
Titik didih ini harus diperhatikan untuk menjamin tekanan operasi yang hampir sama
dengan CFC dan HCFC untuk menghindari keperluan peralatan tekanan tinggi seperti
kompresor. Semakin tinggi titik didih normalnya, kapasitas refrigerasi volumetrik
harus dipertimbangkan untuk menentukan jenis dan ukuran kompresor yang
digunakan. Efisiensi energi ditentukan pemakaian daya listrik kompressor.
Kelebihan dan Kekurangan
Refrigeran Hidrokarbon Kelebihan refrigeran HC antara lain:
a. Tidak diperlukan perubahan peralatan utama yang sudah ada atau pembelian
peralatan baru.
b. Hidrokarbon biasa dipakai dengan pelumas mineral maupun sintetis.
c. Hidrokarbon tidak menyebabkan kerusakan ozon dan pemanasan global karena
ODP yang dimiliki nol dan GWPnya kecil.

d. Hidrokarbon tersedia diseluruh dunia tanpa hak paten, sehingga diproduksi secara
bebas di negara manapun termasuk Indonesia, tidak seperti refrigeran sintetis yang
hanya diproduksi oleh perusahaan tertentu.
e. Kebutuhan hidrokarbon kurang dari separuh dibandingkan CFC. Adapun
kelemahan hidrokarbon adalah mudah terbakar, sehingga diperlukan adanya aturan
penggunaan yang harus dipenuhi dan prosedur penggantian yang aman.
a)
Jenis-Jenis Refrigeran
Dari jenisnya refrigeran dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1.1.
Refrigeran alami
Refrigeran yang dapat ditemukan dialam, namun demikian masih deperlukan pabrik
untuk penambangannya dan pemurniannya.contoh refrigeran alami :
Hidrocarbon (HC) ;
Carbondioksida (CO2) ;
Amonia (NH3) ;
Jenis refrigeran ini tidak mengandung chlor oleh sebab itu refriigeran ini tidak
merusak lapisan ozon (ODP=0).
Beberapa jenis refrigeran alami, sebagai berikut :
REFRIGERANT ODP
R-11 1
R-12 1
R-22 0,056
R-134a 0
HC, CO2, NH3 0
Tabel 1. Data Refrigeran dengan nilai ODPnya
1.2.
Refrigeran sintetik
Refrigeran sintetik tidak terdapat dialam, namun dibuat oleh manusia dari unsurunsur kimia. Yang termasuk kedalam kelompok refrigeran sintetik adalah :
1. Refrigeran CFC ( Chol-Fluor-Carbon )
2. Refrigeran HCFC ( Hydro-Chol-Fluor-Carbon)
1.3.
Persyaratan Refrigeran
1.
Tekanan penguapannya harus cukup tinggi
2.
Tekanan pengembunan yang tidak terlampau batas
3.
Kalor laten penguapan harus tinggi
4.
Volume spesifik (fasa gas) yang cukup kecil
5.
Koefisien prestasi harus cukup tinggi
6.
Konduktifitas thermal yang tinggi
7.
Viskositas yang rendah dalam fasa cair maupun gas
8.
Konstanta dielekra harus kecil
9.
Stabil dan tidak bereaksi dengan material yang dipakai
10. Tidak beracun dan berbau
11. Harus mudah terdeteksi
12. Mudah diperoleh dan harganya terjangkau
13. Ramah lingkungan

1.4.
Pengisian Refrigeran
Pengisian refrigeran ke dalam sistem harus dilakukan dengan baik dan jumlah
refrigeran yang diisikan sesuai/ tepat dengan takaran. Kelebihan refrigeran dalam
sistem dapat menyebabkan temperatur evaporasi yang tinggi akibat dari refrigeran
tekanan yang tinggi.
Selain itu dapat menyebabkan kompresor rusak akibat kerja kompresor yang terlalu
berat, dan adanya kemungkinan liquid suction. Sebaliknya bila jumlah refrigeran yang
diisikan sedikit, dengan kata lain kurang dari yang ditentukan, maka sistem akan
mengalami\ kekurangan pendinginan.sebaik mungkin dan karena Proses pengisian
refrigeran ke dalam sistem ada beberapa cara, diantaranya yaitu :
1.
Mengisi sistem berdasarkan berat refrigeran.
2.
Mengisi sistem berdasarkan banyaknya bunga es yang terjadi di evaporator.
3.
Mengisi sistem berdasarkan temperatur dan tekanan.