Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN

PRAKTIKUM GEOFISIKA I
METODE GEOLISTIK

Nama
: RACKA PUTRA PRANDIKA
NPM
: 140710120031
Hari, Tanggal Praktikum: Rabu, 17 Desember 2014
Waktu
: 07.00 11.30 WIB
Asisten Praktikum
: A. Ramos, Salim, Tiffany

LABORATORIUM GEOFISIKA
PROGRAM STUDI GEOFISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014

LEMBAR PENGESAHAN
PRAKTIKUM GEOFISIKA I
LAPORAN

METODE GEOLISTRIK

Nama
: RACKA PUTRA PRANDIKA
NPM
: 140710120031
Hari, Tanggal Praktikum: Rabu, 17 Desember 2014

Waktu
Asisten Praktikum

Laporan

: 07.00 11.30 WIB


: A. Ramos, Salim, Tiffany

Jatinangor,

Intisari
Geolistrik merupakan ilmu yang mempelajari sifat mineral bumi dalam
menghantarkan arus listrik. Banyak sekali manfaat dari metoda geolistrik ini,
diantaranya untuk mengetahui struktur, stratigrafi, sedimentologi, muka air tanah,
aquifer, instrusi air asin, struktur geologi, pertambangan, arkeologi, geothermal,
dan minyak. Maka, kita sebagai mahasiswa program studi geofisika perlu
mengetahui dan memahami semua konfigurasi yang ada pada metode geolistrik.
Praktikan juga perlu mengetahui dan memahami cara pengambilan data dengan
mapping menggunakan metode wenner dan juga memahami cara pengolahan data
geolistrik dengan 2D maka dilakukan praktikum mengenai Metode Geolistrik
ini.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
1. Memahami konfigurasi Wenner dan Schlumberger
2. Dapat menggunakan resistivitymeter Naniura
3. Memahami pengolahan data 1D menggunakan pencocokan kurva
4. Memahami cara pengambilan data dengan cara mapping menggunakan
konfigurasi wenner
5. Memahami cara pengolahan data geolistrik metode resistivitas 2d dengan
software Res2DINV
1.2 Peralatan
1. Elektroda arus dan tegangan
Sebagai alat penghubung dari kabel ke bumi
2. Resistivitymeter naniura
Sebagai alat untuk mengambil data beda potensial
3. Voltmeter
Sebagai alat untuk menghitung beda potensial
4. Amperemeter
Sebagai alat untuk menghitung besarnya tegangan arus
5. Accumulator
Sebagai sumber arus yang akan diinjeksikan
6. Kalkulator dan alat tulis
Sebagai alat untuk menghitung besarnya Rho semu dan menulis
7. Kabel penghubung
Sebagai alat untuk menghubungkan arus dari alat naniura dengan
elektroda
8. Kertas bilog
Sebagai alat untuk menggambar dan mencocokan kurva
9. Tabel data pengukuran

Sebagai data yang akan diolah


10. Laptop / PC
Sebagai alat untuk menjalankan software Res2DINV

BAB II
TEORI DASAR
2.1 Pendahuluan
Metode Geolistrik adalah salah satu metode geofisika yang mempelajari
sifat kelistrikan dalam bumi dan bagaimana mendeteksinya dipermukaan bumi.
Dalam hal ini meliputi pengukuran potensial, arus dan medan elektromagnetik
yang terjadi, baik secara alamiah maupun akibat injeksi arus kedalam bumi.
Metode ini bertujuan untuk pencarian mineral, penelitian panas bumi,penentuan
kedalaman lapisan overbuden batubara dan pencarian sumber air (akuiver) yang
diperkirakan prospek.
Metode Geolistrik dilakukan dengan cara mengirim arus dan mengukur
tegangan atau potensial yang terbaca dipermukaan, sehingga diperoleh resistivitas
atau tahanan jenis antar lapisan batuan di bawah permukaan bumi, dan juga
ketebalan masing-masing lapisan batuan tersebut. Metode geolistrik mempunyai
banyak macam, termasuk didalamnya potensial diri, arus telurik, elektromagnetik,
induksi polarisasi, dan resistivity (tahanan jenis).
Metode Geolistrik secara garis besar dibagi menjadi 2 macam, yaitu :
1. Geolistrik yang bersifat pasif
Dimana energi yang dibutuhkan telah ada terlebih dahulu sehingga tidak
diperlukan adanya injeksi/pemasukan arus terlebih dahulu. Geolistrik macam ini
disebut Self Potensial (SP).
2. Geolistrik yang bersifat aktif
Dimana energi yang dibutuhkan ada karena penginjeksian arus ke dalam
bumi terlebih dahulu. Geolistrik macam ini ada 2 metode, yaitu metode
resistivitas (tahanan jenis) dan polarisasi terimbas (Induced Polarization).
Tiap-tiap media mempunyai sifat yang berbeda terhadap aliran listrik yang
melaluinya, hal ini tergantung pada tahanan jenisnya. Pada metode ini, arus listrik
diinjeksikan ke dalam bumi melalui dua buah elektroda arus dan beda potensial.
Dari hasil pengukuran arus dan beda potensial untuk setiap jarak elektroda

kemudian dapat diturunkan harga variasi harga hambatan jenis masing-masing


lapisan bawah permukaan bumi, dibawah titik ukur (sounding point).
Metode ini lebih efektif bila dipakai untuk eksplorasi yang sifatnya relatif
dangkal. Metode ini jarang memberikan informasi lapisan kedalaman yang lebih
dari 1000 atau 1500 feet. Oleh karena itu, metode ini jarang digunakan untuk
eksplorasi hidrokarbon, tetapi lebih banyak digunakan untuk bidang engineering
geology seperti penentuan kedalaman

batuan dasar, pencarian reservoar air,

eksplorasi geothermal, dan juga untuk geofisika lingkungan.


Jadi metoda resistivitas ini mempelajari tentang perbedaan resistivitas
batuan dengan cara menentukan perubahan resistivitas terhadap kedalaman.
Setiap medium pada dasarnya memiliki sifat kelistrikan yang dipengaruhi oleh
batuan penyusun/komposisi mineral, homogenitas batuan, kandungan mineral,
kandungan air, permeabilitas, tekstur, suhu dan umur geologi.
2.1.1 Konfigurasi Geolistrik
Metode geolistrik terdiri dari berbagai konfigurasi misalnya konfigurasi
wenner, schlumberger, pole to pole, pole dipole dan lain sebagainya. Setiap
konfigurasi mempunyai metode perhitungannya sendiri untuk mengetahui nilai
ketebalan dan tahanan jenis batuan dibawah permukaan.
Konfigurasi Elektroda Schlumberger

Gambar 1. Skema Konfigurasi Schlumberger

Pada konfigurasi Schlumberger ini MN digunakan sebagai elektroda


potensial dan AB digunakan sebagai elektroda arus. Pada konfigurasi ini nilai

MN<AB, bisa kita lihat pada persamaan 1 dan 2 maka kita dapatkan nilai Ksnya
adalah

Umumnya metode Schlumberger ini dilakukan dengan jarak elektroda AB dibuat


10 kali atau lebih terhadap jarak elektron MN. Namun metode ini dapat dilakukan
dengan jarak AB < 10 MN asal jarak L > 4l.

Konfigurasi Elektroda Wenner

Gambar 2. Skema konfigurasi Wenner

Konfigurasi Wenner digunakan pada jarak yang sama antara elektroda.


Dalam konfigurasi ini AM = MN = NB. Pada konfigurasi ini persamaan
relativitasnya menjadi

Dengan Kw = 2 a
Pada konfigurasi ini, jarak antar elektroda a harus seragam untuk setiap
pengukuran. Bila jarak elektroda AB 12 m, maka jarak elektroda MN 4 m dan
demikian seterusnya. Sedangkan menurut referensi yang diperoleh konfigurasi
Wenner-Schlumberger adalah konfigurasi dengan sistem aturan spasi yang

konstan dengan catatan faktor n untuk konfigurasi ini adalah perbandingan jarak
antara elektroda C1-P1 atau C2-P2 dengan spasi antara P1-P2 seperti pada
Gambar 3. Jika jarak antar elektroda potensial (P1 dan P2) adalah a maka jarak
antar elektroda arus(C1 dan C2) adalah 2na + a. Proses penentuan resistivitas
menggunakan 4 buah elektroda yang diletakkan dalam sebuah garis lurus (Sakka,
2001).

Gambar 3. Pengaturan Elektroda konfigurasi Wenner Schlumberger

Cara pengukuran metode resistivitas yang biasa digunkan dalam akuisisi


data lapangan memiliki fungsi yang berbeda beda. Disini akan dibahas tentang
Lateral Mapping dan Vertical Sounding seperti yang sudah diberitahukan
sebelumnya.
a. Lateral Mapping
Pada lateral mapping cara ini digunakan untuk mengetahui kecenderungan
harga resistivitas di suatu areal tertentu. Setiap titik target akan dilalui beberapa
titik pengukuran. Ilustrasinya ditunjukkan pada gambar 4.

Gambar 4. Teknik akuisisi Lateral mapping

Gambar diatas menunjukkan skema akuisisi data secara mapping dengan


menggunakan konfigurasi Wenner. Untuk pengukuran pertama ( n=1), spasi antar
elektroda dibuat sama besar a. Setelah pengukuran pertama dilakukan, elektroda
selanjutnya digeser ke kanan sejauh a ( C1 bergeser ke P1, P1 bergeser ke P2, P2
bergeser C1 ) sampai jarak maksimum yang diinginkan.
b. Vertical Sounding
Cara ini digunakan untuk mengetahui distribusi harga resistor di bawah
suatu titik sounding di permukaan bumi. Cara ini sering disebut sounding 1-D
sebab resolusi yang dihasilkan hanya bersifat vertical. Ilustrasi ditujukkan oleh
gambar 5.

Gambar 5. Teknik akuisisi vertical Sounding

Pada skema ini akuisisi data secara sounding dengan menggunakan


konfigurasi Schlumberger, pengukuran pertama dilakukan dengan jarak antar
spasi C1-P1 dan C2-P2 adalah a. Dari pengukuran tersebut diperoleh satu titik
pengukuran kedua (n-2) sampai kedalaman atau jarak yang diinginkan.
2.1.2 Resistivity Meter
Resistivity meter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur
geolistrik tahanan jenis. Sedangkan alat untuk mengukur geolistrik Induced
Polarization (IP) adalah IP Meter. Beberapa contoh model alat resistivity meter,
yaitu Resistivity Meter Naniura NRD22, Resisitivity Meter Naniura 300HF, dan
Res&IP Meter Supersting R8 Multichannel.

Resisitivity Meter Naniura NRD300HF dan Naniura NRD22 merupakan


alat geolistrik konvensional yang masih menggunakan 1 channel. Data yang
diperoleh dari alat ini yaitu nilai beda potensial (V) dan arus (I). data V dan I ini
kemudian diolah untuk mendapatkan harga tahanan jenis semu (apparent).
Resistivity Meter NRD22 dan NRD300HF banyak digunakan untuk pengukuran
sounding 1D, sedangkan untuk 2D sangat jarang dilakukan karena harus membuat
dahulu geometri pengukuran (stacking chart), tabel akuisisi, membuat format
konversi data lapangan ke format data software (dilakukan secara manual).
Spesifikasi Resistivity Meter Naniura NRD300HF terdiri dari dua bagian, yaitu :
Pemancar (Transmitter)

Catu daya : 12 V, minimal 6 AH

Daya keluar : 300 W

Tegangan keluar : 500 V

Arus keluar : 2000 mA

Ketelitian arus : 1 mA

Sistem pembacaan : Digital

Catu daya digital meter : 9 V, baterai kering

Penerima (Receiver)

Impedansi maksimum : 10 M Ohm

Batas ukur : 0,1 mV

Ketelitian : 0,1 mV

Kompensator kasar : 10 x putar

Kompensator halus : 1 x putar

Catudaya digital meter : 3 V

Massa : 5,5 kg
Salah satu alat resisitivity meter lainnya yaitu geolistrik multichannel 28

electroda Res&IP Meter Supersting R8 merupakan alat yang bisa digunakan untuk
mengukur geolistrik tahanan jenis 1D/2D/3D/4D dan geolistrik IP 2D/3D/4D.

Data pengukuran yang diperoleh alat ini sudah merupakan harga tahanan jenis
semu (apparent) yang tersimpan di memori alat. Res&IP Meter Supersting R8
Multichannel terdiri dari 1 switch box, 28 elektroda, bentangan kabel maksimal
945 m.
Bebepara kelebihan pengukuran resistivity 2D/3D dan IP 2D/3D dengan
alat geolistrik Res&IP Meter,yaitu :

Pengukurannya relatif lebih cepat dibandingkan menggunakan Resistivity


Meter singel channel. Pengukuran dengan panjang lintasan 810 945 m
dan 28 elektroda dengan 3 konfigurasi membutuhkan waktu sekitar 1,5
jam.

Tidak perlu melakukan konversi data secara manual karena telah ada
softwarenya.

Hasil pengukuran bisa langsung dilihat di lapangan.

2.2 Pencocokan Kurva


Teknik pencocokan kurva adalah mencocokan kurva tahanan jenis semu
hasil pengukuran lapangan dengan kurva tahanan jenis semu hasil pengukuran
lapangan dengan kurva tahanan jenis semu yang dihitung secara teoritis. Struktur
berlapis mempunyai tahanan jenis dan ketebalan lapisan yang sangat banyak
variasinya, sehingga kita perlu kurva tahanan jenis semu teoritis (stardar atau
baku). Struktur berlapis yang mempunyai vvariasi yang sangat banyak jua.
Pemilihan kurva bantu yang paling cocok dengan kurva tahanan jenis yang
diperoleh di lapangan, memerlukan waktu yang lama karena variasi kurva baku
yang banyak tersebut. Dua hal itulah yang merupakan kendala-kendala dalam
penggunaan pencocokan kurva.
Untuk menghindari kendala kendala tersebut, digunakan teknik Curve
Matching struktur medium 2 lapis yang terdiri 2 kurva baku dan 4 kurva bantu.
Hal ini dapat dilakukan karena struktur banyak lapis dapat dianggap sebagai
struktur 2 lapis yang setiap lapisannya dapat diwakili oleh 1 atau kombinasi
banyak lapis. Terdapat 2 jenis kurva baku, yaitu kurva baku struktur 2 lapis yang

menurun

( 2< 1 )

dan naik

( 2> 1 ) .Sedangkan 4 tipe kurva bantu

tersebut adalah :
a. Kurva bantu tipe H
Tipe ini lengkungnya berbentuk pinggan ( minimum ditengah ). Dibentuk
oleh 2 lengkung baku, yaitu depan menurun dan belakang naik. Dan
terjadi seperti ada 3 lapisan dengan

1 > 2 < 3 . Dalam struktur 2 lapis,

dianggap lapisan bawah lebih resistan. Sehingga arus mengalir pada


lapisan semu rapat arus berbanding terbalik terhadap tahanan jenisnya.
b. Kurva bantu tipe A
Kurva ini mencerminkan harga yang selalu naik. Dibentuk oleh 2 kurva
baku, yaitu depan naik dan belakang turun. Sama seperti kurva bantu tipe
H, tipe A ini terjadi seperti ada 3 lapisan dengan

1 < 2 < 3 .

c. Kurva bantu tipe K


Lengkung kurva ini berbentuk bell (maksimum di tengah ). Dibentuk 2
lengkung baku, yaitu depan naik dan belakang turun. Seperti 3 lapisan
dengan

1 <2 > 3 .

d. Kurva bantu tipe Q


Kurva ini mempunyai harga selalu turun. Dibentuk oleh 2 kurva baku,
yaitu depan turun dan belakang juga turun. Seperti 3 lapis dengan
1 > 2 > 3 .
Adapun langkah langkah interpretasi dengan kurva matching konfigurasi
Schlumberger adalah :
a) Plot data lapangan pada kertas transparan dengan skala log log
dengan absis AB/2 ( setengah jarak elektroda arus ) dan ordinat a
( tahanan jenis semu ).
b) Matchingkan lengkung data lapangan dengan lengkung baku. Cari
lengkung baku yang paling cocok ( 2/1 ).
c) Plot titik silang P1 ( titik potong garis a /1 =1 dan AB/2 =1 ) pada
kertas data lapangan. Titik P1 mempunyai arti yang penting karena

ordinatnya adalah harga tahanan jenis lapisan pertama dan absisnya


adalah kedalaman lapisan pertama.
d) Tentukan tahanan jenis lapisan kedua yaitu 2 = 1 x 2/1.
e) Pilih lengkung bantu yang cocok dengan pola lengkung data. Lalu
letakkan pusat lengkung bantu berhimpit dengan titik silang P1 lalu
pilih harga sama dengan 2/1.
f) Plot lengkung bantu diatas lembar data lapangan dengan garis putus
putus.
g) Ganti lengkung bantu dengan lengkung baku. Telusurkan pusat
lengkung baku diatas garis putus putus yang telah dibuat sampai
match dengan data di belakang data yang telah di interpretasi.
h) Setelah cocok catat harga 3/2 , plot titik kedua P2 pada kertas data
( letak pusat lengkung baku ).
i) Koordinat titik P2 memberikan harga kedalaman lapisan kedua (absis )
dan tahanan jenis 2 (ordinat).
j) Tentukan tahanan jenis lapisan ketiga 3 = 2 x 3/2.
k) Bila masih ada data yang belum diinterpretasi, langkah selanjutnya
sama seperti 10 poin diatas. Diteruskan hingga data terakhir yang
merupakan kedalaman lapisan terakhir ( dasar).
Perlu diketahui bahwa diantara keempat jenis tipe lengkung bantu yang
ada, lengkung bantu tipe H merupakan lengkung bantu yang paling mudah
penggunaannya, karena harga h2/h1 dapat diperoleh langsung dengan menarik
garis sejajar sumbu ordinatnya, dan harga h tidak perlu dikoreksi. Sedangkan tipe
A, K dan Q memerlukan koreksi untuk menentukan ketebalannya. Harga
ketebalan merupakan harga h dikalikan dengan faktor koreksi.
2.3 Konfigurasi Wenner 2D
Dalam survey geolistrik akan diperoleh nilai beda potensial, kuat arus dan
nilai tahanan jenis batuannya. Tahanan jenis batuan yang didapat secara langsung
merupakan tahanan jenis semu yang memerlukan suatupengolahan data lebih
lanjut untuk mendapatkan tahanan jenis sebenarnya untuk tiap-tiap lapisan.
Tahanan jenis sebenarnya digambarkan sebagai penampang 1D pada setiap
stasiun. Kemudian dari penampang 1D tersebut dapat dikembangkan menjadi
penampang 2D dengan metode mapping dengan cara korelasi tiap-tiap stasiun.

1. Metoda Tahanan Jenis 1-D


Teknik ini disebut juga dengan metoda sounding, biasanya digunakan
untuk menentukan perubahan atau distribusi tahahan jenis kearah vertikal medium
bawah permukaan dibawah suatu titik sounding. Pengukurannya adalah dengan
cara memasang elektroda arus dan potensial yang diletakkan dalam satu garis
lurus dengan spasi tertentu. Kemudian spasi elektroda ini diperbesar secara
gradual (Gambar 8). Selanjutnya memplot harga tahanan jenis semu hasil
pengukuran versus spasi elektroda pada grafik log-log. Survei ini berguna untuk
menentukan letak dan posisi kedalaman benda anomali di bawah permukaan.
(Virgo, 2003). Konfigurasi elektroda yang dipakai pada metoda ini adalah
konfigurasi Wenner, Wenner-Schlumbeger dan Dipole-Dipole. Sedangkan hasil
pengolahan data metoda 1-D ini dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 8. Teknik pengukuran metoda tahanan jenis 1-D (Virgo, 2003)

Gambar 9. Contoh distribusi nilai tahanan jenis dari hasil pengolahan data metoda 1-D (Virgo,
2007)

2. Metoda Tahanan Jenis 2-D


Metode ini disebut juga dengan metoda mapping, digunakan untuk
menentukan distribusi tahanan jenis semu secara vertikal per kedalaman.
Pengukurannya dilakukan dengan cara memasang elektroda arus dan potensial
pada satu garis lurus dengan spasi tetap, kemudian semua elektroda dipindahkan
atau digeser sepanjang permukaan sesuai dengan arah yang telah ditentukan
sebelumnya (Gambar 10). Untuk setiap posisi elektroda akan didapatkan harga
tahanan jenis semu. Dengan membuat peta kontur tahanan jenis semu akan
diperoleh pola kontur yang menggambarkan adanya tahanan jenis yang sama
(Loke, 2000). Konfigurasi elektroda yang dipakai pada metoda ini adalah
konfigurasi Wenner, Wenner-Schlumbeger dan Dipole-Dipole. Sedangkan hasil
pengolahan data metoda 1-D ini dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 10. Susunan elektroda dan urutan pengukuran geolistrik tahanan jenis 2-D (Loke, 2000)

Gambar 11. Contoh distribusi nilai tahanan jenis dari hasil pengolahan data metoda 2-D (Virgo,
2007)

2.4 Pengolahan Data Resistivitas 2D


2.4.1

Resistivity 2D

Metode ini merupakan gabungan dari lateral mapping dan vertikal


sounding. Digunakan untuk menentukan didtribusi tahanan jenis semu secara
vertikal per-kedalaman. Pengukurannya dilakukan dengan cara memasang
elektroda arus dan potensial pada satu garus lurus dengan spasi tetap, kemudian
elektroda dipindah atau digeser sepanjang permukaan sesuai dengan arah yang
telah dilakukan/ditentukan sebelumnya. Untuk setiap posisi elektroda akan
didapatkan harga tahanan jenis semu. Dengan membuat peta kontur tahanan jenis
semu. Dengan membuat peta kontur tahanan jenis semu akan diperoleh pada
kontur yang menggambarkan adanya tahanan jenis yang sama.

2.4.2

Software Res2DINV

Res2DINV adalah program komputer secara otomatis menentukan model


resistivity 2 dimensi (2D) untuk bawah permukaan dari data hasil survey
geolisrik. Model 2D menggunakan program inverse, yang terdiri dari sejumlah
kotak persegi. Susunan dari kotak-kotak ini terikat oleh distribusi dari titik datum
dalam psuedosection. Distribusi uuran dari kotak secara otomatis dihasilkan dari
program maka jumlah kotak tidak akan melebihi jumlah datum paint.
Subroutine

dari permodelan maju digunakan untuk menghitung nilati

resistivitas semu dan teknik optimasi least squares non linier digunakan untuk
survey menggunakan wenner, wenner-schlumberger, Dipole-dipole, pole-pole.
Selain survey normal dilakukan degnan elektroda-elektroda dipermukaan tanah,
program ini juga mendukung survey under water dan cros-borehole.

Cara pengolahan data


1. Dicari nilai
a=k

dengan persamaan

V
I

2. Untuk memudahkan perhitungan gunakan Ms.Excel dengan format kolom


sebagai berikut

3. Nilai yang diperoleh dipindahkan kedalam .txt

Untuk nilai x,n, dengan memberikan comment

Baris 1 : Nama lintasan pengukuran.

Baris 2 : Spasi elektroda terkecil

Baris 3 :

Jenis konfigurasi (Wenner = 1, Pole-pole = 2, Dipole-

dipole = 3, Pole- dipole = 6, Wenner Schlumberger = 7).

Baris 4 : Jumlah total titik data.

Baris 5 :

Jenis lokasi-x untuk titik-titik data. Masukan angka 0

jika lokasi elektroda pertama dalam konfigurasi digunakan untuk


mengukur titik data. Masukkan 1 jika titik data terletak pada titik
tengah konfigurasi.

Baris 6 :

Tanda untuk data IP (masukan 0 untuk data tahanan

jenis)

Baris 7 :

Lokasi-x, spasi elektroda, faktor seperasi elektorada n

dan nilai tahanan

jenis pada titik data pertama.

Baris 8 :

Lokasi-x, spasi elektroda, n, nilai tahanan jenis semu

pada titik data kedua.

Baris 9 : Dan seterusnya.

Untuk mengakhiri input data, ketikkan 4 angka 0 pada empat baris


terakhir.

BAB III
PENGOLAHAN DATA
3.1 Wenner 1D
3.1.1

Tabel data

3.1.2

Hasil Pengolahan IPI2win

3.2 Schlumberger 1D
3.2.1

tabel data

3.2.2

hasil pengolahan IPI2win

3.3 Wenner 2D
3.3.1
no

a(m)

1
2
3
4
5
6
7
8

45
40
35
30
25
20
15
10

tabel data

switch box
arus
volt
I1
V1
28
19
28
20
28
21
28
22
28
23
28
24
28
25
28
26

V2
10
12
14
16
18
20
22
24

arus
I2
1
4
7
10
13
16
19
22

I (mA)

k
282.6
251.2
219.8
188.4
157
125.6
94.2
62.8

1
225
265
154
314
202
286
276
349

V (mV)
2
226
266
153
315
203
288
277
350

1
31.6
42.2
31.4
73.4
55.5
109.9
140.6
255.3

2
31.4
42.6
31
73.1
54.1
110
140.8
277.2

9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

5
40
35
30
25
20
15
10
5
40
35
30
25
20
15
10
5
40
35
30
25
20
15
10
5
35
30
25
20
15
10
5
35
30
25
20
15
10
5
35
30
25

28
27
27
27
27
27
27
27
27
26
26
26
26
26
26
26
26
25
25
25
25
25
25
25
25
24
24
24
24
24
24
24
23
23
23
23
23
23
23
22
22
22

27
19
20
21
22
23
24
25
26
18
19
20
21
22
23
24
25
17
18
19
20
21
22
23
24
17
18
19
20
21
22
23
16
17
18
19
20
21
22
15
16
17

26
11
13
15
17
19
21
23
25
10
12
14
16
18
20
22
24
9
11
13
15
17
19
21
23
10
12
14
16
18
20
22
9
11
13
15
17
19
21
8
10
12

25
3
6
9
12
15
18
21
24
2
5
8
11
14
17
20
23
1
4
7
10
13
16
19
22
3
6
9
12
15
18
21
2
5
8
11
14
17
20
1
4
7

31.4
251.2
219.8
188.4
157
125.6
94.2
62.8
31.4
251.2
219.8
188.4
157
125.6
94.2
62.8
31.4
251.2
219.8
188.4
157
125.6
94.2
62.8
31.4
219.8
188.4
157
125.6
94.2
62.8
31.4
219.8
188.4
157
125.6
94.2
62.8
31.4
219.8
188.4
157

245
233
222
210
222
234
295
215
197
232
235
217
167
249
224
208
185
218
253
163
240
200
229
217
266
228
220
206
209
226
285
194
253
262
245
181
270
253
224
284
542
332

246
234
221
207
223
234
297
216
196
231
235
216
167
247
223
209
187
218
252
162
240
202
230
217
267
230
219
206
209
228
284
195
254
262
245
182
267
253
256
284
545
340

426
38.4
43.7
48.9
64.6
85.4
152.7
170.2
384.7
39.4
46.3
52.6
51.5
81.2
130.2
158.7
337.5
35.7
48.6
38.4
68.4
71.9
112.9
164.4
507
44.4
51.9
59.3
73.5
106.2
212.4
362.7
47.5
61
72.3
65.3
124
200.5
849
50.9
123.9
105.3

426
38.3
41.9
49.6
63.8
86.7
153.6
171.5
349.6
40
46.8
53.5
49.6
83.3
111.6
160.1
337
35.9
48.5
38.7
68.2
71.3
111.9
154.6
509
44.2
51.9
59.6
73.3
106.1
212.3
363.5
48.1
61.1
72.4
65.6
124.8
201.1
821
64.4
126.5
95.6

51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92

20
15
10
5
30
25
20
15
10
5
30
25
20
15
10
5
30
25
20
15
10
5
25
20
15
10
5
25
20
15
10
5
25
20
15
10
5
20
15
10
5
20

22
22
22
22
21
21
21
21
21
21
20
20
20
20
20
20
19
19
19
19
19
19
18
18
18
18
18
17
17
17
17
17
16
16
16
16
16
15
15
15
15
14

18
19
20
21
15
16
17
18
19
20
14
15
16
17
18
19
13
14
15
16
17
18
13
14
15
16
17
12
13
14
15
16
11
12
13
14
15
11
12
13
14
10

14
16
18
20
9
11
13
15
17
19
8
10
12
14
16
18
7
9
11
13
15
17
8
10
12
14
16
7
9
11
13
15
6
8
10
12
14
7
9
11
13
6

10
13
16
19
3
6
9
12
15
18
2
5
8
11
14
17
1
4
7
10
13
16
3
6
9
12
15
2
5
8
11
14
1
4
7
10
13
3
6
9
12
2

125.6
94.2
62.8
31.4
188.4
157
125.6
94.2
62.8
31.4
188.4
157
125.6
94.2
62.8
31.4
188.4
157
125.6
94.2
62.8
31.4
157
125.6
94.2
62.8
31.4
157
125.6
94.2
62.8
31.4
157
125.6
94.2
62.8
31.4
125.6
94.2
62.8
31.4
125.6

512
411
488
456
448
417
407
246
276
342
270
288
263
197
297
265
241
283
174
277
217
250
385
366
356
333
390
337
344
306
219
355
258
323
229
307
246
307
287
288
271
359

513
412
493
458
450
421
406
247
277
344
270
289
263
197
295
265
241
284
174
277
218
258
391

189.8
188.6
343.6
756
101
114.8
138.6
123.2
202
596
156.3
81.6
209.6
101.5
217
164
49.3
75.1
61.6
132.3
170
460
121.4
123.6
159.1
260.5
637
92.4
14.1
130.4
63.4
321.8
62
110.7
23.3
198.4
444
104.9
144.5
196.8
74.7
125.4

190.6
189.1
346.5
760
101
115.9
138.6
123.7
202.5
601
157
81.8
209.6
101.2
218.2
163.6
49.3
76.4
61.2
132.3
116.5
467
96.9

93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117

15
10
5
20
15
10
5
15
10
5
15
10
5
15
10
5
10
5
10
5
10
5
5
5
5

14
14
14
13
13
13
13
12
12
12
11
11
11
10
10
10
9
9
8
8
7
7
6
5
4

3.3.2

11
12
13
9
10
11
12
9
10
11
8
9
10
7
8
9
7
8
6
7
5
6
5
4
3

menghitung

8
10
12
5
7
9
11
6
8
10
5
7
9
4
6
8
5
7
4
6
3
5
4
3
2

semu

V
k
I

semu=
Dimana:
V

= beda potensial (Volt)

= kuat arus (Ampere)

= konstanta konfigurasi

Rho
1
39.6896

2
39.2638

Rho
rata rata
39.4767

5
8
11
1
4
7
10
3
6
9
2
5
8
1
4
7
3
6
2
5
1
4
3
2
1

94.2
62.8
31.4
125.6
94.2
62.8
31.4
94.2
62.8
31.4
94.2
62.8
31.4
94.2
62.8
31.4
62.8
31.4
62.8
31.4
62.8
31.4
31.4
31.4
31.4

371
327
230
218
260
177
247
265
252
248
218
223
206
256
318
230
383
281
304
316
174
202
341
384
302

126.1
246
373.3
67.6
192.5
131
386
115.4
165.2
386.4
101.6
143.8
283.9
119
220
205.5
21.9
406
207
533
127
327.2
516
542
424

40.0024150
9
44.8163636
4
44.04
43.1361386
1
48.2637762
2
47.9873913
45.9393696
3
54.5975510
2
41.3994849
8
43.2669369
4
43.8702857
1
45.6855855
9
45.8386324
8
48.7604745
8
49.7142325
6
61.3176649
7
42.6606896
6
43.3052766
45.6674654
4
48.4161676
6
40.9587148
6
54.75375
47.9151923
1
57.2837837
8

9
40.2297
7
44.5346
4
43.7207
6
41.8408
9
47.9722
2
47.8821
7
49.7376
54.3756
1
41.1152
1
41.6724
9
45.1431
9
44.9174
9
46.5364
1
48.7175
8
49.8620
4
56.0073
5
43.4978
4
43.7729
4
46.6638
9
46.6299
4
42.3582
2
47.1422
4

5
40.1160
9
44.6755
43.8803
8
42.4885
1
48.118
47.9347
8
47.8384
8
54.4865
8
41.2573
5
42.4697
1
44.5067
4
45.3015
4
46.1875
2
48.7390
3
49.7881
3
58.6625
1
43.0792
6
43.5391
1
46.1656
8
47.5230
5
41.6584
7
50.948

48.1066

48.0109

56.5871
7

56.9354
7

41.1368807
3
42.2224505
9
44.3838036
8
44.745
45.1532
46.4418340
6
47.5775115
2
59.8488721
8
42.8031578
9
44.4452727
3
45.1946601
9
44.1703349
3
44.2656637
2
46.8025263
2
58.7050515
5
41.2667984
2
43.8641221
4
46.3310204
1
45.3131491
7
43.2622222
2
49.7683794
5
119.011607
1
39.3937323
9
43.0678228
8
49.7954819

41.3673
4
42.3027
8
45.0066
7
44.6141
7
44.3330
7
45.8303
5
44.7413
8
59.8599
3
42.2398
3
44.6482
2
45.4233
44.0501
4
43.8360
5
46.9452
1
58.5328
2
41.6235
4
43.9360
3
46.3951
45.2712
1
44.0305
6
49.9173
1
100.700
8
49.8419
7
43.7295
4
44.1447

41.2521
1
42.2626
1
44.6952
4
44.6795
8
44.7431
3
46.1360
9
46.1594
5
59.8544
42.5214
9
44.5467
5
45.3089
8
44.1102
4
44.0508
6
46.8738
7
58.6189
4
41.4451
7
43.9000
8
46.3630
6
45.2921
8
43.6463
9
49.8428
5
109.856
2
44.6178
5
43.3986
8
46.9700

3
46.5603125
43.2265693
4
44.2173770
5
52.0578947
4
42.4741071
4
43.2220623
5
42.7718918
9
47.1765853
7
45.9623188
4
54.7204678
4
109.062666
7
44.4833333
3
100.097946
8
48.5345177
7
45.8841750
8
19.4324528
3
38.5399170
1
41.6632508
8
44.4652873
6
44.9915523
5
49.1981566
8
57.776
49.5059740
3
42.4157377

1
46.6654
2
43.2359
7
44.1383
4
52.1048
42.2853
3
43.2216
2
42.8772
4
47.1762
8
45.9097
5
54.8587
2
109.551
1
44.4380
6
100.097
9
48.3910
7
46.4507
1
19.3850
6
38.5399
2
42.2352
1
44.1765
5
44.9915
5
33.5605
5
56.8364
3
38.9087

9
46.6128
7
43.2312
7
44.1778
6
52.0813
5
42.3797
2
43.2218
4
42.8245
7
47.1764
3
45.9360
3
54.7895
9
109.306
9
44.4607
100.097
9
48.4627
9
46.1674
4
19.4087
5
38.5399
2
41.9492
3
44.3209
2
44.9915
5
41.3793
5
57.3062
2
44.2073
3
42.4157
4

42.0989325
8
49.1273273
3
51.2866666
7
43.0468842
7
5.14813953
5
40.1427451
18.1804566
2
28.4634366
2
37.7286821
7
43.0461919
5
9.58454148
5
40.5847557
56.6731707
3
42.9167426
7
47.428223
42.9133333
3
8.65527675
3
43.8725348
2
32.0178436
7
47.2440367
50.9635652
2
38.9475229
4
69.7442307
7
46.4790960
5
49.0704453

42.0989
3
49.1273
3
51.2866
7
43.0468
8
5.14814
40.1427
5
18.1804
6
28.4634
4
37.7286
8
43.0461
9
9.58454
1
40.5847
6
56.6731
7
42.9167
4
47.4282
2
42.9133
3
8.65527
7
43.8725
3
32.0178
4
47.2440
4
50.9635
7
38.9475
2
69.7442
3
46.4791
49.0704

4
41.0214339
6
41.1688888
9
48.9232258
1
43.9023853
2
40.4961435
43.2740776
7
43.7882812
5
43.4465408
8
28.0552173
9
3.59091383
8
45.3679715
3
42.7618421
1
52.9626582
3
45.8367816
1
50.8617821
8
47.5143695
44.3197916
7
44.0847682
1

3.3.3

5
41.0214
3
41.1688
9
48.9232
3
43.9023
9
40.4961
4
43.2740
8
43.7882
8
43.4465
4
28.0552
2
3.59091
4
45.3679
7
42.7618
4
52.9626
6
45.8367
8
50.8617
8
47.5143
7
44.3197
9
44.0847
7

hasil Res2DINV

Menggunakan topografi

BAB IV
HASIL dan INTERPRETASI
4.1 Geolistrik 1D
Wenner

Schlumberger

95.7

45.3

92.7

47

5.85

26.9

15

41.4

4.1.1 Interpretasi
Pada hasil pengolahan data geolistrik satu dimensi ini, terlihat pada bagian
bawah permukaan Lapangan Merah Unpad memiliki 4 lapisan, yang pertama
adalah lapisan yang paling atas, memiliki Rho bernilai 92.7
kedua memiliki Rho bernilai 47

. m , pada lapisan

. m , pada lapisan ketiga memiliki Rho 5.85

. m dan pada lapisan yang paling bawah memiliki Rho 26.9 . m .

Dari tabel harga resistivitas tanah/batuan diatas, menunjukan bahwa


kemungkinan jenis tanah lapisan pertama adalah tanah lanauan, pasiran karena
memiliki Rho 92.7

.m

yang termasuk rentang 15-150

. m . Untuk

lapisan kedua juga dapat diperkirakan tanah lanauan, pasiran karena memiliki Rho
47

.m

yang termasuk dalam rentang 15-150

. m . Sedangkan untuk

lapisan ketiga dapat diprediksi terdapat batuan lempung lanauan dan tanah
lanauan basah lembek, karena memiliki Rho 5.85

. m yang terdapat dalam

rentan 3-15 . m .
92.7

47

5.85

26.9

Tanah
lanauan / air
permukaan
Tanah lanauan

tanah lanauan
basah lembek

4.1.2 Analisa
Dari gambar perbandingan antara metode geolistrik menggunakan
konfigurasi wenner dan konfigurasi schlumberger diatas, terlihat perbedaan yang
sangat significant. Terlihat dari tebal lapisan yang diperoleh dari kedua
konfigurasi tersebut. pada konfigurasi wenner, terlihat lapisan yang ketiga,
memiliki tebal yang sangat besar yaitu 16.5 meter, sedangkan pada konfigurasi
schlumberger ketebalan 5.85 meter.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa konfigurasi wenner dan schluberger
sangatlah berbeda. Konfigurasi wenner dikhususkan untuk survey horizontal
(mapping) sedangkan konfigurasi schlumberger digunakan untuk survey vertikal
(vertical sounding). Dan pada kasus ini yang terbaik digunakan adalah konfigurasi
schlumberger.
4.2 Geolistrik 2D
4.2.1 Interpretasi

Pada tampilan diatas terlihat hasil dari pengolahan data menggunakan


res2DINV. Dari data tersebut terlihat bahwa rentang Rho pada lapangan merah
adalah dari 10.2 . m hingga 207 . m .

Nilai resistivitas dan jenis batuan


No
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Citra warna

Resistivitas

Jenis batuan

.m
10 - 12

Lempung lanauan & tanah

12 - 20

lanauan basah lembek


Lempung lanauan & tanah

20 - 30
30 - 45
45 - 60
60 - 90
90 - 130
130 >

lanauan basah lembek


Tanah lanauan, pasiran
Tanah lanauan, pasiran
Tanah lanauan, pasiran
Tanah lanauan, pasiran
Tanah lanauan, pasiran
Batuan dasar berkekar terisi

tanah lembab
Sehingga dari tabel diatas terlihat bahwa ada 3 jenis batuan yang ada di
lapangan berah, lanauan basah lembek, lanauan pasiran dan batuan dasar berkekar
terisi tanah lembab. Pada bawah permukaan tanah lapangan merah ini, tidak
terdapat suatu anomaly yang menarik, tidak adanya air tanah dan lain sebagainya,
hanya terdapat tanah lanauan kering dan basah. Dalam gambar juga terlihat suatu
lapisan tipis (garis merah) yang memiliki Rho rendah yang dihimpit oleh lapisan
yang memiliki Rho tinggi. Hal ini sejalan dengan data geolistrik 1D yang pernah
dilakukan sebelumnya.

4.2.2 Analisa
Dari data diatas hasil pengolahan data menggunakan res2DIV ini terlihat
bahwa terdapat 3 lapisan yang signifikan. Nilai RMS yang didapatkan 3.2%, nilai
ini sudah cukup kecil menimbang toleransi terbesar error RMS adalah 10%. Hal
ini dapat dikarenakan adanya penghapusan data datum yang jelek sehingga nilai
RMS yang didapatkan bisa menjadi kecil.
Nilai iterasi yang digunakan pada pengolahan data menggunakan
Res2DIV ini juga sangat sedikit, yaitu 5 kali iterasi. Hal ini karena pada saat
iterasi yang dilakukan dari 4 dan 5, nilai RMS sudah tidak berubah, sehingga
iterasi yang selanjutnya sudah tidak efisien lagi.

BAB V
KESIMPULAN
Pada praktikum mengenai geolistrik ini, praktikan sudah dapat
memahami

konfigurasi

Wenner

dan

Schlumberger

hingga

melakukan

pengambilan data geolistrik menggunakan konfigurasi Wenner dan Schlumberger.


Kedua konfigurasi ini sangat lah berbeda, dan memiliki kelebihannya masingmasing.
Pada praktikum ini juga, praktikan sudah dapat menggunakan
resistivitymeter Naniura untuk pengambilan data geolistrik. Praktikan juga
mampu memahami pengolahan data 1D menggunakan pencocokan kurva dari
data yang telah didapat di lapangan.
Praktikan juga sudah memahami cara pengambilan data dengan cara
mapping menggunakan konfigurasi wenner dan memahami cara pengambilan data
vertical sounding menggunkaan konfigurasi schlumberger.Praktikan juga sudah
dapat memahami cara pengolahan data geolistrik metode resistivitas 2d dengan
software Res2DINV, hingga cara menginterpretasi data dari hasil pengolahan dan
pengambilan data yang telah dilakukan di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA
Telford, W.M. Gedaart. L.P, Sherif, RE. 1990. Applied Geophysics,
Cambridge: New York
Rieke III, H.H. and Chilingarian, G.V. 1974. Compaction of Argillaceous
Sediments. Amsterdam, The Netherlands: Elsevier Scientific Publishing Company.
Schlumberger. 1985. Log Interpretation Charts, 1985 edition. Sugar
Land, Texas: Schlumberger.
http://qurniawulansari.wordpress.com/category/geophysics/geolistrikzone/
https://aimanyongki.wordpress.com/category/metode-geolistrik/
http://arifpanduwinata.blogspot.com/2012/06/metode-tahanan-jenisgeolistrik.html