Anda di halaman 1dari 6

MANAJEMEN PERPAJAKAN

(Pemilihan Sumber Pembiayaan)

OLEH :

KELOMPOK 3
BIGGITA RIZA ARBIPRANA

(1406315001)

I MADE ARSA WIJAYA

(1406315002)

GEDE AGUS WIDIARSANA

(1406315013)

NI PUTU AYU DEWI

(1406315019)

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

Pemilihan sumber pembiayaan

Sumber dan bentuk pendanaan akan menentukan komposisi penggunaan hutang dan
modal sendiri, yang hasilnya dapat memaksimumkan nilai perusahaan dan meningkatkan
kemakmuran pemegang saham.

Pertama, menghimpun dana dengan menerbitkan hutang jangka pendek berupa


pinjaman dari pihak ketiga, dan hutang jangka panjang seperti obligasi. Dengan
menerbitkan obligasi berarti obligor mendapat penghasilan berupa bunga, dan
perusahaan dibebankan pembayaran bunga. Hampir semua perusahaan di Indonesia

mendanai usahanya dengan hutang.


Kedua, penerbitan ekuitas berupa saham yang merupakan bukti kepemilikan
perusahaan, dimana perusahaan harus memberikan return yang memuaskan bagi
pemodal berupa dividen. Keputusan pendanaan dengan ekuitas akan mempengaruhi
kebijakan perusahaan atas dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham.
Perusahaan juga cenderung menentukan dividen dalam jumlah yang tidak terlalu
besar supaya tidak perlu menurunkan pembayaran dividen jika laba turun dan dapat
dengan mudah menaikkan dividen jika laba meningkat.

5.1 Dampak dari menahan laba (pendanaan internal).


Ada tiga alasan yang berkaitan dengan pajak untuk beranggapan bahwa investor
mungkin lebih menyukai pembagian dividen yang rendah daripada yang tinggi.
1. Pertumbuhan laba mungkin dianggap menghasilkan kenaikan harga saham, dan
keuntungan modal yang pajaknya rendah akan menggantikan dividen yang pajaknya
lebih tinggi.
2. Pajak atas keuntungan tidak dibayarkan sampai saham terjual. Karena adanya efek
nilai waktu, satu dolar pajak yang dibayarkan di masa mendatang mempunyai biaya
efektif yang lebih rendah daripada satu dolar yang dibayarkan hari ini.
3. Jika selembar saham dimiliki seseorang sampai meninggal sama sekali tidak ada
pajak keuntungan modal yang terutang, ahli waris yang menerima saham itu dapat
menggunakan nilai saham pada hari kematian sebagai dasar biaya mereka, dengan
demikian mereka terhindar dari pajak keuntungan modal.
Karena adanya keuntungan keuntungan pajak ini, para investor mungkin lebih suka
perusahaan menahan sebagian besar laba perusahaan. Jika demikian maka para investor akan

mau membayar lebih tinggi untuk perusahaan yang pembagian dividennya rendah daripada
perusahaan sejenis yang pembagian dividennya tinggi.

5.2 Dampak dari pendanaan melalui modal (equity


financing) dan distribusi laba (distributing dividend).
Penerbitan saham mengisyaratkan adanya pengembalian yang diharapkan oleh
pemodal. Terkait dengan unsur pajak dalam dividen, kebijakan atas pembayaran dividen yang
tinggi akan merendahkan harga saham karena dividen dikenakan pajak yang tinggi daripada
keuntungan modal. Bagi perusahaan yang membagikan dividen, apapun bentuknya (dividen
tunai dan dividen saham), bukan merupakan pengurang beban pajak perusahaan.
Pengembalian yang diharapkan investor tidak hanya berupa dividen saja melainkan juga
keuntungan modal. Pajak atas keuntungan modal dapat ditunda hingga penjualan saham yang
sesungguhnya (ketika direalisasi).
Selain itu, dengan menjual saham untuk merealisir keuntungan modal, pemodal
membayar biaya transaksi tertentu dan (seharusnya) membayar pajak. Tetapi dengan
menerima dividen (tidak perlu membayar biaya transaksi), pemodal justru hanya membayar
pajak. Hal ini dapat menyebabkan pajak atas keuntungan modal lebih kecil dari dividen.

5.3 Dampak dari pendanaan melalui utang (debt


financing) terutama oleh pemegang sahamnya.
Keputusan pendanaan menjadi relevan dalam keadaan ada pajak. Hal ini dikarenakan
bunga yang dibayar oleh perusahaan merupakan pengurang pajak penghasilan (tax
deductibility of interest payment). Dengan memasukkan unsur pajak, kebanyakan pakar
keuangan setuju bahwa hutang memiliki dampak positif atas penilaian total perusahaan
(Horne dan Wlchowicz, 2007). Hutang digunakan untuk pendanaan maupun investasi seperti
pembelian aktiva tetap yang memiliki tax shield atau perlindungan pajak, karena depresiasi
aktiva tetap yang merupakan dana non cash dapat digunakan untuk mengurangi beban pajak
yang ditanggung perusahaan.
Sedangkan, pembayaran bunga hutang merupakan biaya pengurang pajak perusahaan
yang berhutang. Berbeda dengan dividen yang merupakan non deductible expense, akibatnya
jumlah total dana yang tersedia untuk membayar para pemilik hutang dan pemegang saham
akan lebih besar jika hutang digunakan, sehingga bunga hutang juga disebut perlindungan
pajak. Semakin besar jumlah hutang semakin besar pula keuntungan perlindungan pajak dan
semakin besar nilai perusahaan, jika semua hal lain dianggap tetap. Namun, jika penghasilan
3

kena pajak jumlahnya kecil atau negatif, keuntungan perlindungan pajak dari hutang akan
berkurang atau bahkan tidak ada. Selain itu, jika perusahaan bangkrut dan dilikuidasi,
penghematan pajak di masa depan yang berhubungan dengan hutang akan hilang. Hal ini
membuat keuntungan perlindungan pajak atas hutang, menjadi tidak pasti.

5.4 Anjak Piutang (Factoring) dan Sewa Guna Usaha


(Leasing)
Sewa guna usaha (leasing) adalah suatu kontrak antara lessor (pemilik barang modal)
dengan lessee (pemakai barang modal). Lessee dapat diberikan hak opsi (option right) untuk
membeli barang modal tersebut pada akhir masa kontrak.
Pajak merupakan beban bagi perusahaan, oleh karena itu pajak yang dibayar oleh
perusahaan harus seminimal mungkin. Salah satu strategi meminimalkan pajak perusahaan
adalah dalam pemilihan sumber pendanaan dalam pengadaan aktiva tetap. Dalam pengadaan
aktiva tetap, perusahaan bisa memperolehnya melalui sewaguna usaha dengan hak opsi
(leasing), atau dengan membeli secara langsung. Dari kedua alternatif di atas, timbul biaya
yang berbeda. Biaya tersebut akan menghasilkan pendapatan kena pajak yang berbeda, yang
membuat pajak perusahaan menjadi berbeda.
Anjak piutang (Factoring) adalah suatu transaksi keuangan sewaktu suatu perusahaan
menjual piutangnya (misalnya tagihan) dengan memberikan suatu diskon.
Ada tiga perbedaan antara anjak piutang dan pinjaman bank.
Pertama, anjak piutang adalah pada nilai piutang, bukan kelayakan kredit perusahaan.
Kedua, anjak piutang bukanlah suatu pinjaman, melainkan pembelian suatu aset (piutang).
Terakhir, pinjaman bank melibatkan dua pihak, sedangkan anjak piutang melibatkan tiga
pihak.
Tiga pihak yang terlibat dalam anjak piutang adalah penjual, debitur, dan pihak yang
membiayai (factor). Penjual adalah pihak yang memiliki piutang (biasanya untuk layanan
yang diberikan atau barang yang dijual) dari pihak kedua, debitur. Penjual selanjutnya
menjual satu atau lebih tagihannya dengan potongan atau diskon ke pihak ketiga, suatu
lembaga keuangan khusus untuk mendapatkan uang dalam bentuk kas. Debitur akan
membayar langsung ke perusahaan pembiayaan dengan jumlah penuh sesuai nilai tagihan.
Manfaat Anjak Piutang adalah:

Menurunkan biaya produksi


4

Memberikan fasilitas pembayaran di muka

Meningkatkan daya saing perusahaan klien

Meningkatkan kemampuan perusahaan klien memperoleh laba

Menghindari kerugian karena kredit macet

Mempercepat proses ekonomi

DAFTAR PUSTAKA
http://indraputrabintan.blogspot.com/2012/04/kebijakan-dividen.html#.VEBpK2eSxMc